Anda di halaman 1dari 44

Luka bakar

Pembimbing : Dr. Hans Marpaung Sp. B FICS RSU Prof. Boloni

PENDAHULUAN
Luka bakar merupakan salah satu kondisi yang

paling hebat ditemui dalam dunia kedokteran. Cedera ini mengenai semua aspek pasien, mulai dari fisik hingga ke psikologis. Luka bakar merupakan tantangan untuk staf medis dan paramedis. Manajemen yang benar memerlukan pendekatan multidisiplin yang terampil untuk semua masalah yang dihadapi oleh pasien luka bakar.

ANATOMI DAN FISIOLOGI KULIT


Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi

otot dan mempunyai peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ektoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat.

Epidermis

Epidermis adalah lapisan luar kulit yang

tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk, mengandung sel melanosit, Langerhans dan Merkel. Fungsi epidermis ialah proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans).

Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan

yang paling atas sampai yang terdalam):


Stratum Korneum Stratum Lusidum Stratum Granulosum

Stratum Spinosum
Stratum Basale

Dermis
Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis

dan menghubungkannya dengan jaringan subkutis. Dermis terdiri dari dua lapisan:
Lapisan papiler; tipis : mengandung jaringan ikat jarang.

Lapisan retikuler; tebal : terdiri dari jaringan ikat padat.

Fungsi dermis ialah sebagai struktur penunjang,

mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi.

Subkutis
Merupakan lapisan di bawah dermis atau

hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Pada lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Fungsi subkutis atau hipodermis ialah melekatkan ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber.

Gambar. Struktur histologi kulit

FUNGSI KULIT
Pelindung atau proteksi

Penerima rangsang
Pengatur panas atau thermoregulasi Pengeluaran (ekskresi) Penyimpanan Penyerapan terbatas Penunjang penampilan

DEFINISI LUKA BAKAR


Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan

jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan oleh sumber panas, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, dan radiasi. Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal seperti syok, infeksi, ketidak seimbangan elektrolit (inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan.

ETIOLOGI
Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena

panas, listrik ataupun zatkimia.


Luka Bakar Termal (Thermal Burns) Luka Bakar Kimia (Chemical Burns) Luka Bakar Listrik (Electrical Burns) Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)

Pada luka bakar terjadi perubahan lokal berupa

nekrosis koagulatif pada epidermis, dermis dan jaringan di bawahnya, dengan kedalaman tergantung pada temperatur bahan dan durasi Berdasarkan gambaran histologis, pada luka bakar terdapat tiga zona yaitu zona koagulasi, zona stasis, dan zona hiperemia. pajanan.

Gambar. Zona luka bakar Jackson dan efeknya terhadap resusitasi adekuat dan inadekuat

Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan

endotel dan epitel akibat cedera termis yang melepaskan mediator-mediator proinflamasi dan berkembang menjadi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), kondisi ini hampir selalu berlanjut dengan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS).

Masalah pada luka bakar berdasarkan kronologi

dibagi menjadi:
Fase akut

: deteriorasi airway, breathing, circulation; berlangsung selama 0-48 jam (72 jam) Fase subakut : SIRS dan MODS, berlangsung sampai 21 hari. Fase lanjut : jaringan parut (hipertrofik, keloid, kontraktur), berlangsung sampai 8-12 bulan.

KLASIFIKASI LUKA BAKAR


Berdasarkan kedalamannya
Luka bakar derajat I (superficial burns) terbatas hanya sampai lapisan epidermis Gejalanya berupa kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis, nyeri, hangat pada perabaan dan pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini, fungsi kulit masih utuh. Contoh dari luka bakar derajat 1 adalah bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama atau tersiram air panas.

Gambar. Luka bakar derajat I

Luka bakar derajat II ( partial thickness burns)

kedalamannya mencapai batas dermis.

Luka bakar derajat II superficial ini tampak

eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan ditandai adanya bulla berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas dindingnya meningkat. Setelah penyembuhan, luka bakar ini dapat memiliki sedikit perubahan warna kulit dalam jangka waktu yang lama.

Gambar. Luka bakar derajat II A

Gambar. Luka bakar derajat IIB

Luka bakar derajat III (full-thickness)

Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh

dermis dan epidermis sampai ke lemak subkutan. ditandai dengan eskar yang keras, tidak nyeri, dan warnanya hitam, putih atau merah ceri Tidak ada sisa epidermis ataupun dermis sehingga luka harus sembuh dengan reepitelisasi dari tepi luka.

Gambar. Luka bakar derajat III

`Luka bakar derajat IV

Luka bakar derajat ini hingga mencapai

organ di bawah kulit seperti otot, dan tulang.

Gambar. Luka bakar derajat IV

Gambar. Penampang kedalaman luka bakar

Berdasarkan Luas Permukaan Luka Bakar


Luka bakar juga dapat dinilai berdasarkan luas total

permukaan tubuh. Presentase luka bakar pada orang dewasa menurut wallace: Rule of Nines Sebuah metode taksiran luas permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa, membagi tubuh menjadi bagian-bagian dari 9 persen atau kelipatan 9 persen.

Kepala dan leher

9%

Lengan

18 %

Badan Depan

18 %

Badan Belakang

18 %

Tungkai

36 %

Genitalia/perineum

1%

Total

100 %

Gambar. Rule of nine

Presentase luka bakar pada bayi dan anak: Lund-

Browder Merupakan metode paling akurat untuk menentukan luas luka bakar, dan harus digunakan untuk mengevaluasi semua pasien pediatrik yang mengalami luka bakar. Pada anak anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

Gambar. Modifikasi Rule Of Nine untuk anak

Rule of Palms
Permukaan telapak tangan pasien mewakili sekitar 1

persen dari total permukaan tubuh dan berguna untuk memperkirakan area dari luka bakar kecil.

Gambar. Rule of Palms

Penilaian Kedalaman Luka Bakar


Pada pemeriksaan langsung, ada empat unsur

yang harus dinilai-perdarahan pada tusukan jarum, sensasi, penampilan, dan pucatnya kulit saat diberi tekanan.
Perdarahan test

Sensasi test
Penampilan dan pucatnya kulit saat diberi tekanan

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lab darah

Hitung jenis Kimia darah Analisa gas darah dengan carboxyhemoglobin Analisis urin Creatinin Phosphokinase dan myoglobin urin ( Luka bakar akibat listrik) Pemeriksaan factor pembekuan darah ( BT, CT)
Radiologi
Foto thoraks : untuk mengetahui apakah ada kerusakan

akibat luka bakar inhalasi atau adanya trauma dan indikasi pemasangan intubasi CT scan : mengetahui adanya trauma
Tes lain : dengan fiberoptic bronchoscopy untuk

pasien dengan luka bakar inhalasi.

PENATALAKSANAAN
Prehospital
membebaskan pasien dari pajanan atau sumber

dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kemudian lepaskan semua bahan yang dapat menahan panas (pakaian, perhiasan, logam) Air suhu kamar dapat disiramkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian, namun air dingin tidak boleh diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan vasokonstriksi.

Inhospital
Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti

penanganan pada luka akibat trauma yang lain, yaitu dengan ABC (Airway Breathing Circulation) yang diikuti dengan pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey sekunder

Airway & Breathing :


stridor (mengorok) suara serak dahak berwana jelaga (black sputum) gagal napas bulu hidung yang terbakar bengkak pada wajah.

Circulation
Pemberian cairan intravena yang adekuat : cairan

kristaloid (ringer laktat, NaCl 0,9%/normal Saline)

Analgetik
Pada luka bakar yang mengenai jaringan epidermis

akan menghasilkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Dalam kontrol rasa sakit digunakan terapi farmakologi dan non farmakologi. Terapi farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan NSAID.
Antimikroba
Pemberian antimikroba ini dapat secara topikal atau

sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam bentuk salep atau cairan untuk merendam. Contoh antibiotik yang sering dipakai :
Salep : Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate,

Povidone-iodine, Bacitracin (biasanya untuk luka bakar grade I),

Perawatan Luka Bakar


Tujuan dari semua perawatan luka bakar agar luka

segera sembuh rasa sakit yang minimal. Setelah luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup.
fungsi: pertama dengan penutupan luka akan melindungi luka

dari kerusakan epitel dan meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur Kedua, luka harus benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi pasien tidak hipotermi. Ketiga, penutupan luka diusahakan semaksimal mungkin agar pasien merasa nyaman dan meminimalkan timbulnya rasa sakit.

Luka bakar derajat I


tidak perlu di balut, pemberian salep antibiotik untuk

mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bisa gol. NSID (ibuprofen, acetaminofen)
Luka bakar derajat II (superfisial )
Perlu perawatan luka setiap harinya, luka diolesi

dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan dibalut lagi dengan perban elastik
Luka bakar derajat III dan IV
Perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok kulit (early

exicision and grafting ) setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas dengan sendirinya Pada luka bakar yang luas (>80% TBSA), akan timbul kesulitan mendapatkan donor kulit. Untuk itu telah dikembangkan metode baru yaitu dengan kultur keratinocyte.

Penggantian Darah
pemberian sel darah merah dalam 48 jam pertama

tidak dianjurkan, kecuali terdapat kehilangan darah yang banyak dari tempat luka. Setelah proses eksisi luka bakar dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan
Nutrisi
Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat

dilakukan dengan beberapa metode yaitu : oral, enteral dan parenteral. Perhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar perlu perhatian khusus karena kurangnya asupan kalori akan berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga meningkatkan resiko morbiditas dan mortalitas

Eskarotomi
Eskarotomi dilakukan pada aspek medial dan lateral

dari ekstremitas dan memperluas panjang dari kontriksi eskar. Insisi dibuat baik menggunakan pisau bedah atau arus listrik frekuensi tinggi, Setelah kompresi pembuluh darah yang berkepanjangan, eskarotomi dapat menyebabkan suatu cedera reperfusi pada ekstrimitas dengan hiperemia reaktif dan edema dari otot-otot kompartemen. Dalam kasus ini, fasciotomy diperlukan untuk mengembalikan perfusi ke ekstremitas.

Gambar. Ekskarotomi dan faciotomi

Early Exicision and Grafting (E&G)


Dengan metode ini eschar diangkat secara operatif dan

kemudian luka ditutup dengan cangkok kulit (autograft atau allograft), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelipas dengan sendirinya. E&G dilakukan setelah 37 hari setelah terjadi luka, Istilah graft biasanya mengacu ke salah satu baik autograft atau allograft. Autograft adalah jenis graft yang menggunakan kulit dari daerah lain tubuh pasien sendiri jika cukup tersedia kulit yang tidak rusak, dan jika pasien cukup sehat untuk menjalani operasi tambahan yang diperlukan. Allograft menggunakan kulit yang diperoleh dari manusia lain. Donor kulit dari mayat dibekukan, disimpan dan siap digunakan sebagai allograft. Kulit yang diambil dari hewan (biasanya babi) disebut xenograft.

Gambar. Split thickness skin grafting

KOMPLIKASI
Syok hipovolemik

Udem laring
Keracunan gas CO SIRS (systemic inflammatory respone syndrome) MOF (Multi Organ Failure) Kontraktur

PROGNOSIS
Ditentukan oleh beberapa faktor :
penderita ( usia, gizi, jenis kelamin, dan kelainan

sistemik) faktor trauma ( jenis, luas, kedalaman luka bakar, dan trauma penyerta) faktor penatalaksanaan (prehospital and inhospital treatment).
Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia

yang sangat muda dan usia lanjut.

KESIMPULAN
Luka bakar dapat disebabkan kontak dengan

sumber panas seperti : api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka bakar di klasifikasikan berdasarkan : kedalaman, luas permukaan, dan derajat berat dan ringannya luka bakar. Penentua luas luka bakar melalui 3 cara yaitu : rull of nine, lund and bowder, serta rule of palm Prognosis luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas luka bakar dan adanya komplikasi seperti infeksi dan kecepatan pengobatan medikamentosa.