Anda di halaman 1dari 76

OTOSKLEROSIS

Posted by: rhezvolution on: March 19, 2009


In: Medical 1 Comment

Proses pendengaran ialah salah satu fungsi yang penting dalam kehidupan. Saat ini, banyak gangguan yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mendengar, salah satunya adalah otosklerosis. Dalam penelitian, kelainan ini terdapat pada masyarakat dalam jumlah yang signifikan. Otosklerosis merupakan salah satu penyebab umum tuli konduktif pada orang dewasa. Kelainan disebabkan karena gangguan autosomal dominan yang terjadi pada wanita maupun pria. Pasien mengalami gejala-gejala pada akhir usia belasan atau awal 20an.Kelainan ini merupakan penyakit labirin tulang, dimana terbentuk suatu daerah otospongiosis {tulang lunak} terutama di depan dan didekat kaki stapes menjadi terfiksasi. Otosklerosis cukup lazim terjadi yaitu pada hampir dari 10% populasi. Namun, hanya presentase kecil yang kemudian bermanifestasi secara klinis sebagai gangguan pendengaran. Pasien perlu dinilai secara cermat, baik melalui pemeriksaan audiologik maupun dengan pemeriksaan otologik. Definisi Otosklerosis adalah penyakit primer dari tulang-tulang pendengaran dan kapsul tulang labirin. Proses ini menghasilkan tulang yang lebih lunak dan berkurang densitasnya (otospongiosis). Gangguan pendengaran disebabkan oleh pertumbuhan abnormal dari spongy bone-like tissue yang menghambat tulang- tulang di telinga tengah, terutama stapes untuk bergerak dengan baik. Pertumbuhan tulang yang abnormal ini sering terjadi di depan dari fenestra ovale, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Normalnya, stapes yang merupakan tulang terkecil pada tubuh bergetar secara bebas mengikuti transmisi suara ke telinga dalam. Ketika tulang ini menjadi terfiksasi pada tulang sekitarnya, getaran suara akan dihambat menuju ke telinga dalam sehingga fungsi pendengaran terganggu. Etiologi Penyebab dari otosklerosis masih belum diketahui dengan jelas. Pendapat umum menyatakan bahwa otosklerosis adalah diturunkan secara autosomal dominan. Ada juga bukti ilmiah yang menyatakan adanya infeksi virus measles yang mempengaruhi otosklerosis. Hipotesis terbaru menyatakan bahwa otosklerosis memerlukan kombinasi dari spesifik gen dengan pemaparan dari virus measles sehingga dapat terlihat pengaruhnya dalam gangguan pendengaran. Beberapa berpendapat bahwa infeksi kronik measles di tulang merupakan predisposisi pasien untuk terkena otosklerosis. Materi virus dapat ditemukan di osteoblas pada lesi sklerotik. Epidemiologi Ras Beberapa studi menunjukan bahwa otosklerosis umumnya terjadi pada ras Kaukasian. Sekitar setengahnya terjadi pada populasi oriental. Dan sangat jarang pada orang negro dan suku Indian Amerika. Populasi multiras yang termasuk Kaukasian memiliki resiko peningkatan insiden terhadap otosklerosis. Faktor Keturunan Otosklerosis biasanya dideskripsikan sebagai penyakit yang diturunkan secara autosomal dominant dengan penetrasi yang tidak lengkap (hanya berkisar 40%). Derajat dari penetrasi berhubungan dengan distribusi dari lesi otosklerotik lesi pada kapsul tulang labirin.

Gender Otosklerosis sering dilaporkan 2 kali lebih banyak pada wanita disbanding pria. Bagaimanapun, perkiraan terbaru sekarang mendekati ratio antara pria:wanita 1:1. Penyakit ini biasanya diturunkan tanpa pengaruh sex- linked, jadi rasio 1:1 dapat terjadi. Ada beberapa bukti yang menyatakan bahwa perubahan hormonal selama kehamilan dapat menstimulasi fase aktif dari otosklerosis, yang menyebabkan peningkatan gambaran klinis kejadian otosklerosis pada wanita. Onset klinik selama kehamilan telah dilaporkan sebanyak 10% dan 17%. Risiko dari peningkatan gangguan pendengaran selama kehamilan atau pemakaian oral kontrasepsi pada wanita dengan otosklerosis adalah sebesar 25 %. Penjelasan lain yang mungkin akan peningkatan prevalensi otosklerosis pada wanita adalah bilateral otosklerosis tampaknya lebih sering pada wanita dibanding pria (89% dan 65 %). Memiliki dua telinga yang terkena kelihatan akan meningkatkan kunjungan ke klinik. Sejarah keluarga Sekitar 60% dari pasien dengan klinikal otosklerosis dilaporkan memiliki keluarga dengan riwayat yang sama. Usia Insiden dari klinikal otosklerosis meningkat sesuai bertambahnya umur. Evidence mikroskopik terhadap otospongiosis ditemukan pada autopsi 0,6 % individu yang berumur kurang dari 5 tahun. Pada pertengahan usia, insiden ditemukannya adalah 10 % pada orang kulit putih dan sekitar 20% pada wanita berkulit putih. Baik aktif atau tidak fase penyakitnya, terjadi pada semua umur, tetapi aktivitas yang lebih tinggi lebih sering terjadi pada mereka yang berumur kurang dari 50 tahun. Dan aktivitas yang paling rendah biasanya setelah umur lebih dari 70 tahun. Onset klinikal berkisar antara umur 15-35 tahun, tetapi manifestasi penyakit itu sendiri dapat terjadi paling awal sekitar umur 6 atau 7 tahun, dan paling lambat terjadi pada pertengahan 50-an. Predileksi Menurut data yang dikumpulkan dari studi terhadap tulang temporal, tempat yang paling sering terkena Otosklerosis adalah fissula ante fenestram yang terletak di anterior jendela oval (80%-90%). Tahun 1985, Schuknecht dan Barber melaporkan area dari lesi otosklerosis yaitu: 1. tepi dari tempat beradanya fenestra rotundum 2. dinding medial bagian apeks dari koklea 3. area posterior dari duktus koklearis 4. region yang berbatasan dengan kanalis semisirkularis 5. kaki dari stapes sendiri. Patofisiologi Patofisiologi dari otosklerosis sangat kompleks. Kunci utama lesi dari otosklerosis adalah adanya multifokal area sklerosis diantara tulang endokondral temporal. Ada 2 fase patologik yang dapat diidentifikasi dari penyakit ini yaitu: 1. Fase awal otospongiotic Gambaran histologis: terdiri dari histiosit, osteoblas, osteosit yang merupakan grup sel paling aktif. Osteosit mulai masuk ke pusat tulang disekitar pembuluh darah sehingga menyebabkan pelebaran lumen pembuluh darah dan dilatasi dari sirkulasi. Perubahan ini dapat terlihat sebagai gambaran kemerahan pada membran timpani. Schwartze sign berhubungan dengan peningkatan vascular dari lesi yang mencapai daerah permukaan periosteal. Dengan keterlibatan osteosit yang semakin banyak, daerah ini menjadi kaya akan substansi dasar amorf dan kekurangan struktur kolagen yang matur dan menghasilkan pembentukkan spongy bone . Penemuan histologik ini dengan pewarnaan Hematoksilin dan Eosin dikenal dengan nama Blue Mantles of Manasse. 2. Fase akhir otosklerotik Fase otosklerotik dimulai ketika osteoklas secara perlahan diganti oleh osteoblas dan tulang sklerotik yang lunak dideposit pada area resorpsi sebelumnya. Ketika proses ini terjadi pada kaki stapes akan menyebabkan fiksasi kaki stapes pada fenestra ovale sehingga pergerakan stapes terganggu dan oleh sebab itu transmisi suara ke koklear terhalang. Hasil akhirnya adalah terjadinya tuli konduktif

Jika otosklerosis hanya melibatkan kaki stapes, hanya sedikit fiksasi yang terjadi. Hal seperti ini dinamakan biscuit footplate. Terjadinya tuli sensorineural pada otosklerosis dihubungkan dengan kemungkinan dilepaskannya hasil metabolisme yang toksik dari luka neuroepitel, pembuluh darah yang terdekat, hubungan langsung dengan lesi otosklerotik ke telinga dalam. Semuanya itu menyebabkan perubahan konsentrasi elektrolit dan mekanisme dari membran basal. Kebanyakan kasus dari otosklerosis menyebabkan tuli konduktif atau campur. Untuk kasus dari sensorineural murni dari otosklerosis itu sendiri masih kontroversial. Kasus sensorineural murni karena otosklerosis dikemukakan oleh Shambaugh Sr. tahun 1903. Tahun 1967, Shambaugh Jr. menyatakan 7 kriteria untuk mengidentifikasi pasien yang menderita tuli sensorineural akibat koklear otosklerosis: 1. Tanda Schwartze yang positif pada salah satu/ke dua telinga 2. Adanya keluarga yang mempunyai riwayat otosklerosis 3. Tuli sensorineural progressive pendengaran secara simetris, dengan fiksasi stapes pada salah satu telinga 4. Secara tidak biasa adanya diskriminasi terhadap ambang dengar untuk tuli sensorineural murni 5. Onset kehilangan pendengaran pada usia yang sama terjadinya fiksasi stapes dan berjalan tanpa etiologi lain yang diketahui 6. CT-scan pada pasien dengan satu atau lebih kriteria yang menunjukan demineralisasi dari kapsul koklear 7. Pada timpanometri ada fenomena on-off. Diagnosis Anamnesa: kehilangan pendengaran dan tinnitus adalah gejala yang utama. Penurunan pendengaran berlangsung secara progressif dengan angka kejadian bervariasi, tanpa adanya penyebab trauma atau infeksi.. Tinnitus merupakan variasi tersering sebanyak 75 % dan biasanya berlangsung menjadi lebih parah seiring dengan derajat tingkat penurunan pendengaran. Umumnya, dizziness dapat terjadi. Pasien mungkin mendeskripsikan seperti vertigo, pusing yang berputar, mual dan muntah. Dizziness yang hanya diasosiasikan dengan otosklerosis terkadang menunjukan proses otosklerosis pada telinga dalam. Adanya dizziness ini sulit untuk dibedakan dengan kausa lain seperti sindrom Menieres. Pada 60% kasus, riwayat keluarga pasien yang terkena otosklerosis dapat ditemukan. Pemeriksaan Fisik: Membran timpani biasanya normal pada sebagian besar kasus. Hanya sekitar 10% yang menunjukan Schwartze Sign. Pemeriksaan garputala menunjukan kesan tuli konduktif. ( Rinne negatif ) Pada fase awal dari penyakit tuli konduktif didapat pada frekuensi 256 Hz. Adanya proses fiksasi stapes akan memberikan kesan pada frekuensi 512 Hz. Akhirnya pada frekuensi 1024 Hz akan memberi gambaran hantaran tulang lebih kuat daripada hantaran udara. Tes Weber menunjukan lateralisasi ke arah telinga yang memiliki derajat conduting hearing loss lebih besar. Pasien juga akan merasa lebih baik dalam ruangan yang bising (Paracusis Willisi). Pemeriksaan Penunjang: Kunci penelusuran secara objektif dari otosklerosis didapat dari audiogram. Gambaran biasanya konduktif, tetapi dapat juga mixed atau sensorineural. Tanda khas dari otosklerosis adalah pelebaran airbone gap secara perlahan yang biasanya dimulai dari frekuensi rendah. Adanya Carharts Notch adalah diagno sis secara abstrak dari otosklerosis , meskipun dapat juga terlihat pada gangguan konduktif lainnya. Carharts notch adalah penurunan dari konduksi tulang sebanyak 10-30 db pada frekuensi 2000Hz, diinduksi oleh adanya fiksasi stapes. Carharts notch akan menghilang setelah stapedektomy. Maksimal conductive hearing loss adalah 50 db untuk otosklerosis, kecuali adanya kombinasi dengan diskontinuitas dari tulang pendengaran. Speech discrimination biasanya tetap normal.

Pada masa pre klinik dari otosklerosis, tympanometri mungkin menunjukan on-off effect, dimana ada penurunan abnormal dari impedance pada awal dan akhir eliciting signal. Ketika penyakit berlanjut, adanya on-off ini memberi gambaran dari absennya reflek stapedial. Gambaran timpanogram biasanya adalah tipe A dengan compliance yang rendah. Walaupun jarang, gambaran tersebut dapat juga berbentuk kurva yang memendek yang dirujuk ke pola tipe As. Fine cut CT scan dapat mengidentifikasi pasien dengan vestibular atau koklear otosklerosis, walaupun keakuratannya masih dipertanyakan. CT dapat memperlihatkan gambaran tulang-tulang pendengaran, koklea dan vestibular organ. Adanya area radiolusen didalam dan sekitar koklea dapat ditemukan pada awal penyakit ini, dan gambaran diffuse sclerosis pada kasus yang lebih lanjut. Hasil yang negative bukan berarti non diagnostik karena beberapa pasien yang menderita penyakit ini mempunyai kemampuan dibawah dari metode CT paling canggih sekali. Diagnosis Banding Otosklerosis terkadang sulit untuk dibedakan dengan penyakit lain yang mengenai rangkaian tulang-tulang pendengaran atau mobilitas membran timpani. Malahan, diagnosis final sering ditunda sampai saat bedah eksplorasi. 1. Fiksasi kepala malleus, menyebabkan gangguan konduktif yang serupa dan dapat terjadi pada konjugasi dari fiksasi stapes. Inspeksi menyeluruh terhadap seluruh tulang adalah penting dalam operasi stapes untuk menghindari adanya lesi yang terlewatkan seperti itu 2. Congenital fixation of stapes, dapat terjadi karena abnormalitas dari telinga tengah dan harus dipertimbangkan pada kasus gangguan pendengaran yang stabil semenjak kecil. Congenital stapes fixation dapat pula terjadi pada persambungan dengan abnormalitas: membran timpani yang kecil, partial meatal atresia atau manubrium yang memendek 3. Otitis Media Sekretoria Kronis, dengan otoskop dapat menyerupai otosklerosis, tetapi timpanometri dapat mengindikasi adanya cairan di telinga tengah pada otitis media 4. Timpanosklerosis, dapat menimpa satu atau lebih tulang pendengaran. Gangguan konduktif mungkin sama dengan yang terlihat pada otosklerosis. Adanya riwayat infeksi, penemuan yang diasosisasikan dengan myringosklerosis dan penurunan pendengaran yang stabil dibanding progressif adalah tipikal untuk timpanosklerosis 5. Osteogenesis imperfecta (van der Hoeve de Kleyn Syndrome), adalah kondisi autosomal dominan dimana terdapat defek dari aktivitas osteoblast yang menghasilkan tulang yang rapuh dan bersklera biru. Sebagai tanbahan, terdapat fraktur tulang multiple dan sekitar setengah dari pasien ini memiliki fiksasi stapes. Respon jangka pendek dari operasi stapes pada pasien ini sama dengan yang terlihat pada otosklerosis. Tetapi progresif sensorineural hearing loss post operasi lebih sering terjadi. Penatalaksanaan 90% pasien hanya dengan bukti histologis dari otosklerosis adalah simptomatik karena lesi barlangsung tanpa fiksasi stapes atau gangguan koklear. Pada pasien yang asimptomatik ini, penurunan pendengaran progressif secara konduktif dan sensorineural biasanya dimulai pada usia 20. Penyakit akan berkembang lebih cepat tergantung pada faktor lingkungan seperti kehamilan. Gangguan pendengaran akan berhenti stabil maksimal pada 50-60 db. Amplifikasi Alat Bantu dengar baik secara unilateral atau bilateral dapat merupakan terapi yang efektif. Beberapa pasien yang bukan merupakan kandidat yang cocok untuk operasi dapat menggunakan alat bantu dengar ini.

Terapi Medikamentosa Tahun 1923 Escot adalah orang pertama yang menemukan kalsium florida untuk pengobatan otosklerosis. Hal ini diperkuat oleh Shambough yang memprediksi stabilasi dari lesi otosklerotik dengan penggunaan sodium florida. Ion florida membuat komplek flourapatit. Dosis dari sodium florida adalah 20-120 mg/hari. Brooks menyarankan penggunaan florida yang dikombinasi dengan 400 U vitamin D dan 10 mg Calcium Carbonate berdasar teori bahwa vit D dan CaCO3 akan memperlambat lesi dari otosklerosis. Efek samping dapat menimbulakan mual dan muntah tetapi dapat diatasi dengan menguarangi dosis atau menggunakan enteric-coated tablets. Dengan menggunakan regimen ini, sekitar 50 % menunjukan symptom yang tidak memburuk, sekitar 30 % menunjukan perbaikan. Terapi Bedah Pembedahan akan membutuhkan penggantian seluruh atau sebagian dari fiksasi stapes. Seleksi pasien Kandidat utama stapedectomy adalah yang mempunyai kehilangan pendengaran dan menganggu secara sosial, yang dikonfirmasi dengan garputala dan audiometric menunjukan tuli konduktif atau campur. Speech discrimination harus baik. Secara umum, pasien dengan penurunan pendengaran lebih dari 40 db dan Bone conduction lebih baik dari Air Conduction pada pemeriksaan garputala akan memperoleh keuntungan paling maksimal dari operasi. Pasien harus mempunyai resiko anaestesi yang minimal dan tidak memiliki kontraindikasi. Indikasi Bedah 1. tipe otosklerosis oval window dengan berbagai variasi derajat fiksasi stapes 2. Otosklerosis atau fiksasi ligamen anularis oval window pada otitis media kronis (sebagai tahapan prosedur) 3. Osteogenesis imperfekta 4. beberapa keadaan anomali kongenital 5. timpanosklerosis di mana pengangkatan stapes diindikasikan (sebagai tahapan operasi) Prognosis Pemeriksaan garpu tala preoperative menentukan keberhasilan dari tindakan bedah, diikuti dengan alat-alat bedah dan teknik pembedahan yang digunakan ikut menentukan prognosis. DAFTAR PUSTAKA 1. Boies, L.R. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Cetakan ke III . 1997. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC 2. Staf Pengajar Ilmu Penyakit THT FKUI. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tengorok Kepala Leher. Edisi ke 5 Cetakan ke2. 2002. Jakarta: Balai Penerbit FKUI 3. University of Minnesotta. Departement of Otolaryngology Health-Related Library. Otosclerosis. http://www.med.umn.edu/otol/library/otoscler.htm.diakses (6 Maret 2009). 4. Waits, Rachel. Otosclerosis. http://hubel.sfasu.edu/courseinfo/SL99/Otosclerosis.html. (6 Maret 2009)

Otosklerosis DEFINISI Otosklerosis adalah suatu penyakit dimana tulang-tulang di sekitar telinga tengah dan telinga dalam tumbuh secara berlebihan sehingga menghalangi pergerakan tulang stapes (tulang telinga tengah yang menempel pada telinga dalam), akibatnya tulang stapes tidak dapat menghantarkan suara sebagaimana mestinya. Penyakit ini biasanya mulai timbul pada akhir masa remaja atau dewasa awal.

PENYEBAB Otosklerosis merupakan suatu penyakit keturunan dan merupakan penyebab tersering dari tuli

konduktif progresif pada dewasa yang gendang telinganya normal. Jika pertumbuhan berlebih ini menjepit dan menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf yang menghubungkan telinga dalam dengan otak, maka bisa terjadi tuli sensorineural.

GEJALA Tuli dan telinga berdenging (tinnitus).

DIAGNOSA Untuk mengetahui beratnya ketulian bisa dilakukan pemeriksaan audiometri/audiologi. CT scan atau rontgen kepala dilakukan untuk membedakan otosklerosis dengan penyebab ketulian lainnya.

PENGOBATAN Pengangkatan tulang stapes dan menggantinya dengan tulang buatan bisa mengembalikan pendengaran penderita. Ada 2 pilihan prosedur, yaitu:

Stapedektomi (pengangkatan tulang stapes dan penggantian dengan protese) Stapedotomi (pembuatan lubang pada tulang stapes untuk memasukkan protese).

Jika penderita enggan menjalani pembedahan, bisa digunakan alat bantu dengar.

Otosklerosis

Ikhtisar Klinik Dokter Tanya Jawab

Apa Yang Dimaksud Dengan Otosklerosis?


Otosklerosis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan pertumbuhan tulang yang abnormal di telinga tengah yang dapat menyebabkan ketulian. Telinga tengah adalah bagian sebelah dalam dari telinga yang terletak di antara gendang telinga dan telinga dalam. Kondisi ini biasanya terjadi pada kedua telinga. Penderita otosklerosis memiliki tulang seperti rongga (sponge) yang abnormal yang tumbuh di telinga tengah, mencegah tulang-tulang pendengaran di dalam telinga untuk bergetar sebagai respon terhadap gelombang suara. Penyebab otosklerosis masih belum diketahui, tetapi kemungkinan dapat disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit ini cenderung terjadi pada anggota keluarga dan dapat diturunkan. Otosklerosis dapat memburuk secara perlahan. Kondisi ini tidak memerlukan perawatan sampai seseorang mengalami gangguan pendengaran yang berat. Otosklerosis dapat menyebabkan berbagai jenis gangguan pendengaran, tergantung pada struktur telinga mana yang

terkena. Otokslerosis biasanya mengenai tulang terakhir dalam jalur pendengaran, tulang sanggurdi, yang terletak pada pintu masuk telinga dalam. Kondisi ini akan mengganggu gelombang suara yang akan dihantarkan ke telinga dalam. Otosklerosis biasanya menyebabkan tuli konduktif, ketulian yang disebabkan oleh karena masalah pada telinga luar atau tengah. Spesialisasi Medis dan Fokus Klinik

Otolaringologi (THT) Pediatri Neurotologi Otolaringologi Pediatri Audiologi Otologi

Apa Saja Gejala-Gejala Otosklerosis? Tanda dan gejala Otosklerosis yang mungkin timbul:

Menunjukkan gejala-gejala Tuli

Apa Yang Menyebabkan Otosklerosis? Penyebab Otosklerosis tidak diketahui atau masih dalam penelitian medis. Apa Yang Dapat Meningkatkan Resiko Otosklerosis? Risiko terjangkit Otosklerosis meningkat bila Anda:

Adalah keturunan Kaukasia Memiliki sejarah keluarga yang menderita Tuli Sedang hamil

Komplikasi Apa Saja Yang Bisa Disebabkan Oleh Otosklerosis? Otosklerosis dapat menyebabkan komplikasi sebagai berikutnya:

Kerusakan syaraf Mungkin memiliki resiko yang lebih tinggi untuk Tuli

Bagaimana Cara Untuk Mencegah Otosklerosis? Otosklerosis dapat dicegah bila Anda:

Minum air yang terfluorida

Perawatan Apa Saja Yang Tersedia Untuk Otosklerosis? Penanganan dan pengobatan Otosklerosis dapat berbeda tergantung pada kondisi pasien dan penyakit yang dideritanya. Pilihan pengobatan adalah:

Alat Bantu Dengar Stapedektomi

1. Pengertian Faringitis a. Faringitis adalah suatu sindrom inflamasi dari faring atau tonsil yang disebabkan oleh beberapa grup mikroorganisme yang berbeda. Faringitis dapat menjadi bagian dari infeksi saluran napas atas atau infeksi lokal didaerah faring. b. Infeksi saluran napas atas adalah infeksi yang disebabkan mikroorganisme di struktur saluran napas atas yang tidak berfungsi untuk pertukaran gas, termasuk rongga hidung, faring dan laring, yang dikenal dengan ISPA antara lain pilek, faringitis atau radang tenggorokan, laringitis dan influenza tanpa komplikasi. c. Faring atau tenggorok adalah rongga yang menghubungkan antara hidung dan rongga mulut ke laring. Radang faring pada bayi dan anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil, sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. Penyakit ini sering ditemukan pada bayi dan anak, dapat berupa tonsilofaringitis akut atau kronik. e. Faringitis merupakan peradangan dinding yang dapat disebabkan oleh virus (4060%), bakteri (5-40%), alergi, trauma dan toksin. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibatkan kematian. Radang tenggorokan karena infeksi harus ditangani dengan menyembuhkan sumbernya. Kalau infeksinya karena gigi, maka giginya yang ditangani. Demikian juga amandel dan sinusitis, jika radang tenggorokannya diobati, namun gigi, amandel atau sinusitis sebagai sumber infeksi tidak ditangani, maka akan percuma. Radang tenggorokannya akan kembali lagi dan berulang terus. Selain kuman, radang tenggorokan juga dapat terjadi karena virus, yaitu saat pilek dan flu. Namun, radang tenggorokan akibat pilek dan flu akan hilang dengan sendirinya, seiring sembuhnya penyakit tersebut. Flu ringan dapat berlomba dengan daya tahan tubuh. Artinya, kalau daya tahan tubuh bagus, dia akan membuat pagar sendiri sehingga tidak selalu perlu antibiotik. Tapi kalau lebih dari seminggu radang tenggorokan yang menyertai flu tidak hilang, apalagi jika ditambah suara serak, bisa dikategorikan serius. Radang bisa turun ke pita suara. Alergi tidak dapat diobati karena sudah merupakan bawaan dari lahir. Cara yang paling baik untuk menghindari reaksi alergi adalah dengan menghindari penyebabnya dan meningkatkan atau menjaga daya tahan tubuh. Semakin bagus daya tahan tubuh, semakin rendah kadar kepekaan yang menyebabkan reaksi alergi. 2. Jenis-jenis Faringitis Infeksi saluran pernapasan akut adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan terutama paru-paru, termasuk penyakit tenggorokan dan telinga. Infeksi saluran pernapasan akut diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu infeksi saluran pernapasan

akut berat (pneumonia berat) ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada saat inspirasi, infeksi saluran pernapasan akut sedang (pneumonia) ditandai dengan frekuensi pernapasan cepat yaitu umur di bawah 1 tahun ; 50 kali/menit atau lebih cepat dan umur 1-4 tahun; 40 kali/menit atau lebih. Sedangkan infeksi saluran pernapasan akut ringan (bukan pneumonia) ditandai dengan batuk pilek tanpa napas cepat dan tanpa tarikan dinding dada Secara umum, Jenis faringitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Faringitis akut ditandai secara klinis oleh adanya nyeri tenggorok mulut berbau, nyeri menelan, kadang disertai otalgia (sakit di telinga), demam tinggi. b. Faringitis kronis ditandai secara klinis oleh nyeri tenggorok. Nyeri tenggorok biasanya lebih ringan dibandingkan nyeri yang berkaitan dengan infeksi yang dikemukakan diatas. Dapat ditemukan perasaan gatal dengan sering berdahak. Dinding faring posterior kemerahan dan seringkali mempunyai gambaran cobblestone (batu kerikil) karena hipertrofi limfoid. Infeksi saluran pernapasan atas digolongkan ke dalam penyakit yang bukan pneumonia, (Lidianti, 2007) yang terdiri antara lain : a. Rhinitis Rhinitis dapat disebabkan oleh bakteri ataupun virus, tapi lebih banyak rhinitis dikarenakan adanya suatu alergi yang kemudian dapat diikuti dengan bakteri atau rhinitis allergy atau pilek alergi adalah gejala alergi yang terjadi pada bagian hidung. Umumnya timbul penyakit ini pada musim penghujan karena cuaca dingin. Diagnosa penyakit ini seperti : hidung pilek/beringus, badan panas atau merasa tidak enak badan disertai pusing kepala. Penyebab pilek alergi atau rhinitis allergy ini ada bermacam-macam, antara lain : karena tubuh tidak kuat di udara dingin, debu di lingkungan sekitar (rumah), polusi udara dan serbuk sari bunga. b. Faringitis Faringitis (dalam bahasa latin; pharyngitis), adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. Infeksi saluran napas atas akut seperti faringitis merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering dijumpai. Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau kuman, disebabkan daya tahan yang lemah. Secara khusus, jenis faringitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Faringitis Akut 1) Faringitis viral Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan menimbulkan faringitis. Gejala dan tanda faringitis viral adalah demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, sulit menelan. Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxschievirus, dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak. Epsteiin Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa diseluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual, dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.

Penatalaksanaan pada penderita adalah istirahat dan minum yang cukup disertai kumur dengan air hangat. Analgetika jika perlu dan tablet isap. Anti virus metisoprinol diberikan infeksi herpes simpleks dengan dosis 60-100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang dewasa dan pada anak < 5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari. 2) Faringitis bakterial Infeksi grup A Streptokokus beta hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut pada orang dewasa 15% dan pada anak 30%. Gejala dan tanda yang tampak adalah nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi, jarang disertai batuk. Pada pemeriksaan tonsil tampak tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membengkak, kenyal, nyeri pada penekanan. Terapi yang diberikan adalah antibiotik, berupa penicillin G banzatin 50.000 U/kgBB, IM dosis tunggal, atau amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali/ hariselama 10 haridan pada dewasa 3x500mg selama 6-10 hari atau eritromisisn 4x500mg/hari. Dapat juga diberikan kortikosteroid sebagai antinflamasi yaitu deksamethason 8-16 mg, IM 1 kali, pada anak 0,08-0,3 mg/kgBB, IM 1 kali. 3) Faringitis fungal Candida dapat tumbuh pada mukosa rongga mulut dan faring. Gejala dan tanda adalah keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis. Pembiakan jamur ini dilakukan dalam agar saboraud dekstrosa. Terapi yang diberikan adlan nystatin 100.000-400.000 2 kali/hari dan pemberian analgetika. 4) Faringitis gonorea Hanya dapat ditemukan pada pasien yang melakukan kontak orogenital. Terapi yang dapat diberikan adalah sefalosporin generasi ke-3. Ceftriakson 250 mg, IM. b. Faringitis kronik Terdapat 2 bentuk yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik atrofi. Faktor predisposisi proses radang kronik di faring ini ialah rhinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh rokok, minum alkohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu. Faktor lain penyebab terjadinya faringitis kronik adalah pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat. 1) Faringitis kronik hiperplastik Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior faring. Tampak kelenjar limfa dibawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Pada pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata, bergranular. Gejala yang muncul biasanya adalah tenggorokan menjadi kering dan gatal dan akhirnya batuk beriak. Terapi yang dapat diberikan adalah dengan terapi lokal menggunakan kaustil faring dengan menggunakan zat kimia larutan nitras argenti atau dengan listrik (electrocauter). Pengobatan simtomatis diberikan obat kumur atau tablet isap. 2) Faringitis kronik atropi Sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis atrofi udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembabannya, sehingga menimbulkan rangsangan serta infeksi pada faring. Gejala dan tanda yang sering muncul adalah tenggorok terasa kering, tebal, serta bau mulut. Pada pemeriksaan tampak mukosa faring ditutupi oleh lendir yang kental dan

bila diangkat tampak mukosa kering. Pengobatan ditujukan pada rinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atropi ditambahkan dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut. c. Faringitis spesifik 1) Faringitis Luetika Treponema palidum dapat menyebabkan infeksi di daerah faring. Dibagi dalam 3 stadium, yaitu pada stadium promer, pada lidah, palatum mole, tonsil dan posterior faring berbentuk keputihan. Bila infeksi terus menerus maka akan timbul ulkus didaerah faring seperti ulkus genitalia yang tidak nyeri. Pada stadium sekunder terdapat eritema pada dinding faring yang menjlar ke arah laring. Pada stadium tertier terdapat guma,pada tonsil dan palatum. Guma pada dinding posterior dapat menyebar ke vertebra servikal dan dapat menyebabkan kematian. Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan serologis. 2) Faringitis Tuberkulosis Merupakan proses sekunder dari TB paru. Cara infeksi eksogen, yaitu kontak dengan septum yang mengandung kuman atau inhalasi kuman melalui udara. Infeksi endogen yaitu dengan penyebaran melalui darah pada TB miliaris. Bila infeksi timbul secara hematogen, maka lesi timbul pada kedua sisi dan sering ditemukan pada posterior faring, arkus faring anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole, dan palatum durum. Gejala keadaan umum pasien buruk karena anoreksi dan odinofagia. Pasien mengeluh nyeri hebat di tenggorok, nyeri telinga, dan pembesaran KGB servikal. Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan BTA, foto thoraks dan biopsi jaringan terinfeksi. Terapi sesuai dengan terapi untuk TB paru. (http://klinikhuda.blogspot.com/2009/01/faringitis. htmldiakses tgl 13 Juli 2010) 3. Etiologi Faringitis Etiologi infeksi saluran pernapasan akut terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan ricketsia. Bakteri penyebab antara lain genus streptokokus, staphylococcus, pneumococus, hemofilus, bordetella dan korinebakterium. Virus penyebab antara lain golongan miksovirus, adnevirus, koronovirus, pikornavirus. Disamping itu faktor-faktor berikut adalah faktor beresiko untuk berjangkitnya atau mempengaruhi timbulnya infeksi saluran pernapasan akut, yaitu ; gizi kurang, berat badan lahir rendah, tidak mendapat ASI memadai, polusi udara, kepadatan tempat tinggal, imunisasi tidak memadai, defisiensi vitamin A, tingkat sosial ekonomi rendah, tingkat pendidikan ibu rendah, dan tingkat pelayanan kesehatan rendah. Gejala umum yang sering terjadi pada penyakit Faringitis yaitu : batuk, sesak nafas, nyeri dada, suara serak, influenza dan kadang disertai demam. Ada tiga penyebab radang tenggorokan yang gejalanya dapat berupa rasa sakit di bagian tersebut, susah menelan, susah bernapas, batuk, dan demam. Ada kalanya terjadi pembengkakan di leher. Penyebabnya adalah infeksi, iritasi atau alergi. Sekitar 90% dari kasus radang tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga disebabkan oleh virus. Bakteri menjadi penyebab dari 10% kasus sisanya. Pada 10% kasus sisanya bakteri penyebab radang tenggorokan tersering adalah Streptokokus. Gejala infeksi bakteri ini adalah tenggorokan yang berwarna merah daging dan tonsil yang mengeluarkan cairan. Untuk mendiagnosis bakteri ini sebagai penyebab secara pasti adalah dengan melakukan usap tenggorok untuk kemudian di kultur serta dilakukan pemeriksaan darah. a. Infeksi

Infeksi yang menyebabkan radang tenggorokan bisa bersumber dari 3 hal, yakni kesehatan mulut dan gigi, amandel sebagai sumber infeksi, dan sinusitis. Kurang menjaga kebersihan bagian mulut, khususnya gigi, dapat menyebabkan radang tenggorokan. Gigi yang busuk atau berlubang menjadi tempat berkumpulnya kuman. Kuman inilah yang kemudian masuk ke dalam tenggorokan dan menyebabkan infeksi. Untuk mencegahnya, harus rajin menjaga kebersihan mulut dan gigi. Kalau ada gigi yang busuk atau berlubang, harus langsung ditangani. Misalnya, ditambal atau dicabut. Infeksi pada amandel juga dapat menyebabkan terjadinya radang tenggorokan. Amandel sebenarnya sangat berfungsi pada anak usia 4 10 tahun karena ia merupakan bagian dari pertahanan tubuh. Terutama pernapasan bagian atas. Amandel yang sudah tidak berfungsi lagi akan menjadi tempat berkumpulnya kuman sehingga menyebabkan infeksi pada tenggorokan. Sumber ketiga penyebab infeksi tenggorokan adalah sinusitis. Setiap orang punya beberapa pasang organ yang disebut sinus paranasal, ada di pipi, di dekat mata, di dahi, dan di dekat otak. Jika organ ini meradang, itu yang disebut sinusitis. Pada orang dengan sinusitis kronis, lendir akan terus-menerus mengalir di belakang tenggorokan dan hidung. Hal ini menimbulkan iritasi ke tenggorokan dan menyebabkan radang. b. Iritasi Iritasi juga bisa menjadi biang keladi radang tenggorokan. Hal ini disebabkan makanan yang masuk, yaitu makanan yang terlalu pedas, terlalu asam, terlalu panas atau dingin, dan makanan-makanan yang terlalu bergetah. Makanan bergetah, contohnya buahbuahan. Jadi, tidak semua buah-buahan aman, khususnya pada mereka yang punya alergi, karena justru dapat membuat iritasi pada tenggorokan. Untuk mencegahnya, sebaiknya tidak makan buah-buahan dalam jumlah terlalu banyak. Iritasi juga sering terjadi pada mereka yang bekerja di lingkungan pabrik. Instalasi zat kimia yang di hirup bisa menyebabkan iritasi dan radang pada tenggorokan. Oleh sebab itu, penting sekali memakai masker. c. Alergi Sementara alergi merupakan reaksi hipersensitif bagi orang yang memilikinya. Alergi dapat disebabkan bermacam hal, seperti makanan dan minuman, obat-obatan tertentu, cuaca, dan debu. Zat yang menyebabkan alergi disebut allergen. Jika allergen masuk ke dalam tubuh penderita alergi, tubuh pun akan mengeluarkan zat-zat yang menyebabkan alergi. Akibatnya, timbul reaksi-reaksi tertentu, seperti gatal-gatal atau batuk-batuk. Alergi terhadap suatu makanan dapat menyebabkan reaksi sakit pada tenggorokan. Selain itu, radang tenggorokan sering dialami mereka yang alergi terhadap jenis buah-buahan tertentu dan olahannya, misalnya jus. Hati-hati, tidak semua jus aman bagi orang-orang yang mengalami radang tenggorokan berulang karena alergi. Sering batuk dan sakit tenggorokan. Paling sering justru pada jus tomat. Minyak goreng bekas juga sering menjadi penyebab alergi dan mengakibatkan radang tenggorokan. Orang yang alergi terhadap minyak goreng bekas harus selalu mengganti minyak setiap kali akan menggoreng. 4. Patofisiologi Faringitis Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula lapisan tapi menjadi

menebal dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih dan abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan lomfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak. Seperti orang dewasa, infeksi pada anak menyebabkan inflamasi dan pembengkakan saluran napas yang bermakna. Pada kenyataannya, anak-anak yang mengalami ISPA mungkin memperlihatkan gejala klinis yang lebih dramatis karena saluran napas atas jauh lebih sempit sehingga resistensi terhadap arus udara tinggi walaupun pembengkakan dan sumbatan jalan napas tidak mencolok. Batuk yang terdengar pada anak yang mengidap faringitis mungkin seperti menyalak, serak dan stridor. Terapi untuk anak-anak yang menderita faringitis derajat ringan-sampai-sedang antara lain vaporizer, terapi oksigen. Mereka yang menderita faringitis derajat sedang-sampai berat dapat diobati dengan pemberian glukokortikoid intramuskular atau nebulizer. Inflamasi epiglottis dapat menyebabkan sumbatan total jalan napas, kecemasan yang bermakna dan kematian. Anak-anak cenderung duduk telungkup dan dapat berguling. Untuk anak-anak yang menderita epiglotitis, perlu dirawat di rumah sakit dan mungkin memerlukan tindakan intubasi atau trakeostomi. Sekitar 90% kasus faringitis disebabkan virus. Sisanya disebabkan bakteri dan kandidiasis fungal (jarang terjadi, biasanya pada bayi). Juga dapat disebabkan iritasi akibat polusi senyawa kimia. Pada faringitis akibat virus, virus berusaha menembus selsel mukosa yang melapisi nasofaring dan bereplikasi dalam sel-sel ini. Gangguan pada penderitaseringnya disebabkan oleh 0leh sel-sel dimana virus berimplikasi. Umumnya sembuh dengan sendirinya, tidak perlu pengobatan spesifik, dan jarang menimbulkan komplikasi. Virus Epstein-barr, herpes simplex, measle dan common coald. Bakteri penyebab faringitis yang paling umum adalah kelompok A streptokokus. Ada banyak strain; paling berbahaya strain B-hemolitik (GABHS). Bakteri lain yang juga umum adalah Corynebacterium diphtheria, Chlamydia pneumonia dan stafilokokus. Jika tidak ditangani dalam 9 hari, infeksi oleh GABHS beresiko menimbulkan demam rematik. Corynebacterium diphtheria tidak terlalu invasive dan tetap terlokalisir pada permukaan saluran permukaan saluran pernapasan. Hanya lisogenik corynebacterium diphtheria tidak terlalu terlokalisasir pada permukaan sluran peranafasan. Hanya lisogenik Corynebacterium diphtheria bakteriofag pembawa gen toksik yang menyebabkan difteria. Kerusakan pada faring disebabkan oleh toksin tersebut, yang membunuh sel-sel mukosa dan Adenosine Diphosphate (ADP) Ribosylating Alongation Factor II. Toksin juga dapat merusak jantung dan saraf. Bakteri ini telah dieradikasi di Negara-negara maju sejak dilakukannya program vaksinasi anak, tetapi masih dilaporkan dinegara-negara dunia ketiga dan makin meningkat dibeberapa daerah di eropa timur. Antibiotic efektif dalam tahap awal, tapi penyembuhan biasanya lamban. Sedangkan Chlamydia pnemoniae menyebabkan sekitar 5% infeksi, dengan onset sub akut dan faringitis. Penderita sering mengalami pola bifasik, tetapi membaik sebelum berkembang menjadi bronchitis atau pneumonia. Organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi dapat mengakibatkan faringitis. Pada stadium

awal, terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mulamula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsilia, perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak bahwa folikel limfoid atau bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak. Tekanan dinding lateral jika tersendiri disebut faringitis lateral. Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsilia, hanya faring saja yang terkena. 5. Tanda-tanda Bahaya pada Faringitis Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. 1. Mengeluh rasa kering / gatal pada tenggorok. 2. Malaise dan sakit kepala 3. Suhu tubuh meningkat 4. Nyeri 5. Disfagia 6. Suara parau Proses peradangan menyertai laring 7. Batuk 8. Edema Faring Berdasarkan besar kecilnya anak makamanifestasi klinis penderita faringitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Anak yang lebih kecil a. Demam b. Malaise umum c. Anoreksia d. Sakit tenggorok sedang e. Sakit kepala f. Hiperemia ringan sampai sedang 2. Anak yang lebih besar a. Demam(dapat mencapai 400C) b. Sakit kepala c. Anoreksia d. Disfagia e. Nyeri abdomen f. Muntah g. Faring edema, merah ringan 1) Hiperemia tonsil dan faring dapat meluas ke palatum lunak dan uvula 2) Sering menimbulkan eksudat folikuler yang menyebar dan menyatu membentuk pseudomembran pada tonsil 3) Kelenjar servikal membesar dan nyeri tekan Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan

tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. Tanda- tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris : a. Tanda-tanda klinis pada sistem respiratorik adalah tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau hilang, grunting expiratoir dan wheezing b. Pada sistem cardial adalah tachycardia, bradycardiam, hipertensi, hipotensi dan cardiac arrest c. Pada sistem cerebral adalah gelisah, mudah terangsang, sakit kepala, bingung, pepil bendung, kejang dan coma d. Pada hal umum adalah letih dan berkeringat banyak. Berdasarkan penyebabnya, manifestasi klinis faringitis dapat dibagi dua, tetapi ada banyak tanda dan gejala yang tumpang tindih dan sulit dibedakan antara satu bentuk faringitis dengan yang lain. 1. Faringtis Virus a. Tanda awal: Demam, malaise, anoreksia dengan nyeri tenggorokan sedang b. Suara parau, batuk dan rinitis c. Pada kasus berat dapat terbentuk ulkus kecil pada palatum lunak dan dinding faring posterior. d. Eksudat. 2. Faringitis Steptokokus a. Pada anak umur lebih dari 2 tahun: Nyeri kepala, nyeri perut, muntah. b. Demam 40oC kadang tidak tampak c. Pembesaran tonsil dan tampak eksudat dan eritema faring d. Disfagia e. Kemerahan difus pada tonsil dan dinding penyangga tonsil dengan bintik-bintik petekie palatum lunak, limfadenitis atau eksudasi folikuler. Tanda-tanda laboratoris : a. Hypoxemia b. Hypercapnia c. Acydosis (metabolik dan atau respiratorik) Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah : tidak bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor dan gizi buruk, sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah : kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari setengah volume yang biasanya diminumnya), kejang, kesadaran menurun, stridor, wheezing. 6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyakit Faringitis a. Pendidikan ibu Orang dengan tingkat pendidikan formalnya lebih tinggi cenderung akan mempunyai pengetahuan yang lebih dibandingkan orang dengan tingkat pendidikan formal yang lebih rendah, karena akan lebih mampu dan mudah memahami arti serta pentingnya kesehatan. Tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran akan pentingnya arti kebutuhan bagi diri dan lingkungan yang dapat mendorong kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Para ibu yang tidak pernah bersekolah mengalami kematian balita 35% dibandingkan dengan ibu yang pernah bersekolah, tetapi tidak menyelesaikan sekolah dasarnya. Perbedaan itu menjadi sangat mencolok, mencapai 97% dibandingkan para ibu yang

berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya. Pendidikan adalah salah satu jalan menjadikan perempuan sebagai agen perubahan, bukan sekedar penerima pasif program pemberdayaan. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang memungkinkan perempuan memiliki independensi ekonomi. Hal ini membuat perempuan memiliki suara dalam rumah tangga maupun di masyarakat, antara lain dalam mengatur pembagian harta keluarga seperti makanan, biaya kesehatan, pendidikan dan sebagainya. Perempuan juga memiliki sumber penghasilan di tangannya, cenderung membelanjakan penghasilan itu untuk kesejahteraan anak-anaknya sebagai generasi penerus bangsa. Seringkali ibu yang mempunyai balita terjangkit ISPA harus belajar melakukan praktik kontrol infeksi di rumah. Teknik pencegahan penyakit ISPA hampir menjadi sifat kedua bagi perawat yang melakukannya tiap hari. Namun, ibu yang mempunyai balita terjangkit ISPA kurang menyadari faktor-faktor yang meningkatkan penyebaran infeksi atau caracara untuk mencegah penularannya. Perawat harus mengajarkan ibu yang mempunyai bayi terjangkit ISPA tentang infeksi dan teknik untuk mencegah atau mengontrol penyebarannya. b. Pengetahuan Ibu Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan yang di cakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkat : 1) Tahu (Know), diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh materi yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. 2) Memahami (Comprehension), diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. 3) Aplikasi (Application), adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sekarang 4) Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi yang ada kaitannya satu sama lain 5) Sintesis (Syntesis), menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk melakukan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru 6) Evaluasi (Evaluation), ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi / penilaian terhadap suatu materi atau objek. Ditengah-tengah kesibukannya menyelesaikan tugas rutinnya itu, ibu masih dibebani untuk merawat dan mengasuh anak. Sulit bagi ibu memisahkan pekerjaan itu dalam waktu terpisah. Keterbatasan tenaga dan waktu membuat ibu harus melaksanakan tugas ganda bersamaan. Biasanya sambil memasak di dapur, seorang ibu juga harus mengasuh anaknya. Ketika tangannya sibuk mengolah masakan untuk keluarganya, anak yang masih balita biasa tetap berada di pangkuannya. Kalau tidak digendong, anaknya yang belum bisa di apih, ditidurkan di dipan yang terletak di dapur. Sementara asap dari kompor terus mengeluarkan asap. Ruangan dapur dipenuhi gas dari alat masak yang sebenarnya berbahaya bagi anak. Anak yang berada di dapur bersama ibunya tidak bisa menghindari dari kepungan asap. Dengan berjalannya waktu, akumulasi asap yang

dihisap anak semakin besar. Tanpa disadari sang ibu, anak itu telah terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut. c. Gaya Hidup Banyak kegiatan, kebiasaan dan cara pelaksanaan kesehatan yang mengandung faktor risiko; berbagai stress akibat krisis kehidupan dan perubahan gaya hidup juga merupakan faktor risiko. Cara pelaksanaan dan perilaku sehat dapat berakibat positif ataupun negatif terhadap kesehatan. Cara pelaksanaan kesehatan berpotensi memberikan efek negatif dapat termasuk sebagai faktor risiko; antara lain yaitu makan yang berlebihan atau nutrisi yang buruk, kurang tidur dan istirahat, dan kebersihan pribadi yang buruk. Kebiasaan lain yang menyebabkan seseorang beresiko menderita sakit antara lain kebiasaan merokok atau minum minuman alkohol atau penyalahgunaan obat. Selain itu dapat disebabkan karena : 1) Iritasi Iritasi dapat disebabkan oleh debu, asap, atau kekeringan udara yang berlebihan 2) Alergi Drip postnasal yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi faring. 3) Trauma a) Penyalahgunaan Vokal Berteriak, menyanyi berlebihan atau bentuk lain penyalahgunaan vokal dapat menimbulkan nyeri tenggorok demikian juga suara parau. b) Benda Asing Mula timbul nyeri tenggorok yang mendadak dapat disebabkan oleh adanya benda asing. Liur yang mengalir dan kesukaran menelan sering ditemukan. c) Luka Bakar Faring dapat mengalami luka oleh makanan atau minuman yang panas, atau oleh karena asam atau basa d) Asap Anak-anak dapat mengalami iritasi faring akibat asap rokok berat dirumah. Faringitis dapat terjadi setelah inhalasi yang berkaitan dengan kebakaran. d. Status Gizi Makanan adalah kebutuhan hidup yang sangat penting diantara kebutuhan pokok hidup manusia dan pemenuhannya tidak dapat ditunda-tunda lagi. Makanan adalah bahan yang menyebabkan tubuh manusia dapat bekerja, kalau kita umpamakan maka tubuh manusia itu bagaikan sebuah mesin, dimana dalam kegiatannya diperlukan energi. Energi dibutuhkan untuk bernapas, berjalan, berdiri serta untuk tumbuh kembang. Manusia mendapatkan energi dari makanan yang dimakan Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia. Ada hubungan erat antara tingkat keadaan gizi dengan konsumsi makanan. Tingkat keadaan gizi optimal akan tercapai apabila konsumsi gizi makanan pada seseorang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh mereka. Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi. Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu. Sebagai contoh pada gondok endemik merupakan keadaan yang seimbang pemasukan dan pengeluaran yodium dalam tubuh.

Status gizi buruk balita ditetapkan berdasarkan atas salah satu hal berikut : 1) Perbandingan berat badan dari umur atau berat badan jatuh pada daerah garis merah pada KMS 2) Anak yang dalam tiga kali penimbangan berturut-turut berat badannya tidak mengalami peningkatan 3) Balita yang dalam pemeriksaan ditemukan menderita xeroptalmia (kurang vitamin A). 4) Balita yang mempunyai pembesaran kelenjar thyroid akibat kekurangan unsur yodium yang diperlukan untuk hormon thyroid. 5) Balita yang menderita anemia, dimana keadaan akibat kadar Hb kurang, akibat kekurangan salah satu zat pembentuk (zat besi, asam folat, vitamin B12). balita yang mengalami kekurangan gizi juga bisa dipengaruhi oleh kekurangan zat gizi yang diterima dari ibu yang menyusuinya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka balita tersebut akan mengalami kurang gizi yang mempunyai konsekuensi kurang menguntungkan dalam kehidupan berikutnya. e. Status Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun. Imunisasi adalah suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang sudah dilemahkan atau bibit penyakit tersebut diharapkan tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada suatu saat nanti digunakan untuk melawan kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh imunisasi adalah suatu prosedur untuk meningkatkan derajat imunitas seseorang terhadap kuman pathogen tertentu. Hal ini dimaksudkan agar orang yang diberikan imunisasi tertentu akan kebal terhadap penyakit yang disebabkan oleh kuman pathogen sesuai dengan jenis vaksin yang diberikan. Imunisasi terdiri atas imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah suntikan ke dalam tubuh anak kuman yang sudah dimatikan atau di perlemah, suntikan ini akan merangsang tubuh mengembangkan daya tahan tubuhnya dengan memproduksi antibodi yang memiliki ketahanan sampai seumur hidup. Sedangkan imunisasi pasif yaitu suntikan yang berasal dari serum atau darah binatang, imunisasi ini memiliki ketahanan sementara. Imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi yang sangat efektif untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi serta balita dari jenis-jenis penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, beberapa faktor yang menyebabkan anak tidak bisa dilindungi dari penyakit-penyakit berbahaya adalah ketidaktahuan para orang tua tentang adanya vaksin dan kurangnya kesadaran betapa kerugian yang bisa diderita oleh anak jika sakit Pertusis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi tenggorok dengan bakteri Bordetella pertusis.Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi pada usia 2,4 dan 6 bulan. Pertusis terjadi dalam wadah tiap 3 sampai 5 tahun. Sebelum imunisasi tersedia, banyak bayi dan anak mati karena pertusis. Biasanya pertusis mulai seperti pilek saja dan ingus, kecapaian dan adakalanya demam ringan. Kemudian timbulnya batuk, biasanya bertubi-tubi, diikuti dengan rejan. Adakalanya orang muntah setelah batuk Pertusis mungkin parah sekali bagi anak kecil, yang mungkin membiru atau berhenti bernafas sewaktu batuk dan mungkin harus dibawa ke rumah sakit. Anak yang lebih besar dan orang dewasa mungkin mengalami penyakit yang lebih ringan dengan batuk yang berkelanjutan selama berminggu-minggu, tanpa memperhatikan perawatan. Pertusis ditularkan kepada orang lain melalui tetesan (dari batuk atau bersin). Tanpa perawatan,

orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada orang lain selama sampai 3 minggu setelah batuk mulai. Waktu antara eksposur dan penyakit biasanya antara 7 sampai 10 hari, tetapi mungkin berkelanjutan sampai 3 minggu. Vaksin DPT ini tidak memberi perlindungan seumur hidup terhadap pertusis, dan perlindungan ini adakalanya tidak lengkap. Anak-anak harus diimunisasikan pada usia 2,4 dan 6 bulan. Di indonesia saat ini, imunisasi menjadi salah satu program pelayanan kesehatan yang sedang di galakkan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena adanya pergeseran pelayanan kesehatan dari yang bersifat promotif ke preventif. Pengembangan Program Imunisasi (PPI) dilakukan dalam bentuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan imunisasi massal seperti Pekan Imunisasi Nasional (PIN), Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), Program Eliminasi Tetanus Neonatorum (ETN) dan lain sebagainya. Tujuan akhir dari PPI tersebut adalah tercapainya Universal Child Immunization (UCI) pada tahun 2002 f. Lingkungan Lingkungan yang sehat merupakan suatu persyaratan untuk memelihara tubuh sehat, kelembaban yang rendah dapat mengeringkan selaput lendir hidung dan mulut yang berpengaruh pada masalah pernapasan, keadaan perumahan adalah salah satu faktor yang memerlukan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan seperti dikemukakan oleh WHO bahwa perumahan yang tidak cukup dan terlalu sempit mengakibatkan pula tingginya kejadian penyakit dalam masyarakat. Hubungan rumah yang terlalu sempit dan kejadian penyakit diantaranya mempengaruhi kebersihan udara, karena rumah terlalu sempit maka ruangan-ruangan akan kekurangan oksigen sehingga akan menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh karena mudahnya perpindahan bibit penyakit dari manusia yang satu ke manusia yang lain, sehingga memudahkan terjadinya penyakit seperti penularan penyakit saluran pernapasan. Rumah sehat harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan yaitu : kebutuhan fisiologis, suhu ruangan antara 18-20 c, penerangan siang dan malam baik terutama penerangan listrik, pertukaran hawa baik dengan luas seluruh ventilasi adalah 15 % dari luas lantai, dan mempunyai isolasi suara, kebutuhan psikologis (keindahan, jaminan kebebasan, privasi, ruangan berkumpul keluarga, dan ruang tamu), terhindar dari kecelakaan serta dari penyakit (luas kamar tidur 5 m2 per kapita perluas lantai). . Lingkungan fisik tempat dimana seseorang bekerja atau tinggal dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit tertentu. Polusi udara, air dan suara dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit. Lingkungan fisik rumah dapat menyebabkan risiko bagi individu terutama anak khususnya balita. Tempat tinggal yang tidak bersih, sistem penghangat atau pendingin ruangan yang buruk dan lingkungan yang padat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit. Konflik atau masalah lain dalam keluarga mungkin dapat menjadi stressor yang menyebabkan individu atau seluruh keluarga mengalami peningkatan risiko terjadinya penyakit 7. Penatalaksanaan a. Untuk Faringitis Akut Jika di duga atau ditunjukkan adanya penyebab bakterial, pengobatan dapat mencakup pemberian Agens antimicrobial untuk streptokukus group A, penisilin merupakan obat pilihan. Untuk pasien alergi terhadap penisilin atau yang mempunyai organisme resisten terhadap eritromisin digunakan sefalosporin. Antibiotik di berikan selama sedikitnya 10 hari untuk menghilangkan streptokokus group A dari orofaring.

Diet cair atau lunak diberikan selama tahap akut penyakit, tergantung pada nafsu makan pasien dan tingkat rasa tidak nyaman yang terjadi bersama proses menelan. Kadang tenggorok sakit sehingga cairan tidak dapat di minum dalam jumlah yang cukup dengan mulut. Pada kondisi yang parah, cairan diberikan secara intravena. Sebaliknya, pasien didorong untuk memperbanyak minum sedapat yang ia lakukan dengan minimal 2 sampai 3 liter sehari. b. Untuk Faringitis Kronik Didasarkan pada penghitungan gejala, menghindari pemajanan terhadap iritan, dan memperbaiki setiap gangguan saluran napas atas, paru atau jantung yang mungkin mengakibatkan terhadap batuk kronik. Kongesti nasal dapat dihilangkan dengan sprei nasal / obat-obatan yang mengandung epinefrin sulfat (Afrin) atau fenilefrin hidroklorida (Neo-Synphrine). Jika terdapat riwayat alergi, salah satu medikasi dekongestan antihistamin seperti Drixarol/ Dimentapp, diminum setiap 4-6 jam. Malaise secara efektif dapat dikontrol dengan aspirin / asetaminofen. c. Pada Anak-anak Bila anak menjadi gelisah, rewel, sulit tidur, lemah atau lesu karena gejala radang tenggorokan ini, kita dapat membantu meredakan gejalanya. Tidak harus selalu dengan obat, mungkin dengan tindakan yang mudah dan sederhana bisa membantu menenangkan anak. 1) Nyeri menelan : Banyak minum air hangat, obat kumur, lozenges, paracetamol untuk meredakan nyeri 2) Demam Banyak minum, paracetamol, kompres hangat atau seka tubuh dengan air hangat. 3) Hidung tersumbat dan berair (meler) Banyak minum hangat, anak diuap dengan baskom air hangat, tetes hidung NaCl. Dalam beberapa kasus, radang tenggorokan karena virus baru sembuh setelah 2 minggu. Yang diperlukan adalah kesabaran dan pengawasan orang tua terhadap gejala anak. Bawalah anak ke dokter bila gejala terlihat makin berat; anak tampak sulit bernapas, kebiruan pada bibir atau kuku, anak tampak gelisah atau justru sangat mengantuk, atau anak batuk/demam berkepanjangan. Karena hampir seluruh kasus disebabkan oleh virus, maka antibiotik biasanya tidak dipergunakan. Infeksi oleh virus (misalnya batuk-pilek, radang tenggorokan) sama sekali tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, tubuh akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh. Penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan karena akan membuat menjadi resisten dan antibiotik menjadi tidak mempan untuk melawan infeksi saat dibutuhkan, terutama pada anak-anak

Pharyngitis
October 21, 2012 | By Adhika Rifqi Pangestika

Latar Belakang Faring atau tenggorokan adalah struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi bagian nasal, oral, dan laring. Nasofaring terletak di sebelah posterior hidung dan di atas palatum mole. Orofaring memuat fasial, atau palatin, tonsil. Laringofaring memanjang dari tulang hyoid ke kartilago krikoid. Pintu masuk laring dibentuk oleh dibentuk oleh epiglotis. Adenoid atau tonsil faring terletak dalam langit-langit nasofaring. Tenggorok dikelilingi oleh tonsil, adenoid, dan jaringan limfoid lainnya. Struktur ini merupakan penghubung penting ke nodus limfa dagu menjaga tubuh dari serangan organisme yang memasuki hidung dan tenggorok. Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif. Berbagai jenis gangguan bisa saja terjadi pada tenggorokan / faring. Gangguan yang terjadi pada tenggorokan pada umumnya berupa peradangan tenggorokan (faringitis). Radang pada tenggorokan biasanya disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Bakteri penyebab faringitis adalah kelompok betahemolitik streptokokkus A. Mycoplasma dan Chlamydia. Selain itu, faringitis juga dapat terjadi karena menghirup bahan-bahan kimia yang secara langsung menyebabkan iritasi pada tenggorokan. Radang tenggorokan / faringitis banyak dialami oleh orang yang tinggal atau bekerja di tempat yang berdebu, atau lingkungan yang sangat kering, penggunaan suara yang berlebihan, makanan yang dapat mengiritasi tenggorokan misal mengonsumsi alkohol, atau batuk yang menetap, atau alergi. Infeksi jalan nafas atas merupakan kondisi umum yang mengenai kebanyakan hewan pada waktu tertentu. Beberapa dari kondisi tersebut adalah akut, dengan gejala yang berlangsung lama atau terjadi secara berulang. Jarang pasien dengan kondisi ini membutuhkan perawatan intensif. Faringitis merupakan suatu peradangan pada faring atau tenggorokan dan merupakan radang tenggorokan yang paling sering. Bila tidak ada komplikasi, gejala-gejala faringitis akut menjadi ringan dan tenggorokan kembali normal setelah 4-5 hari. Faringitis kronik merupakan lanjutan dari faringitis akut yang tidak tertegakan diagnosanya. Pada umumnya faringitis akut maupun kronik disebabkan oleh virus atau bakteri. Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esofagus setinggi servikal ke-6. Keatas faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan esofagus. Panjang dinding posterior faring pada hewan dewasa kurang lebih 14 cm, bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lender, fasia faringobasiler pembungkus otot dan sebagian fasia bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring, dan laringofaring (hipofaring). Unsur-unsur faring meliputi mukosa, palut lender (mucosa blanket) dan otot. Bentuk mukosa faring bervariasi, tergantung letaknya. Pada nasofaring karena fungsinya untuk respirasi, maka mukosanya

bersilia, sedangkan epitelnya torak berlapis yang mengandung sel goblet. Di bagian bawahnya, yaitu orofaring dan laringofaring, karena fungsinya untuk saluran cerna, epitelnya gepeng berlapis dan tidak bersilia. Di sepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam sistem retikuloendotelial. Oleh karena itu, faring dapat disebut juga daerah pertahanan tubuh di depan. Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernapasan yang dihisap melalui hidung. Di bagian atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak di atas silia dan bergerak sesuai dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lender ini berfungsi untuk menangkap partikel kotoran yang terbawa oleh udara yang dihisap. Palut ini mengandung enzim lisozim yang penting untuk proteksi. Otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkuler) dan memanjang (longitudinal). Otot-otot yang sirkuler terdiri dari muskulus konstriktor faring superior, media dan inferior. Otot-otot ini terletak di sebelah luar, berbentuk kipas dengan tiap bagian bawahnya menutup sebagian otot bagian atasnya dari belakang. Kerja otot konstriktor untuk mengecilkan lumen faring. Otot-otot ini dipersarafi nervus fagus, otot-otot yang longitudinal adalah muskulus stilofaring dan muskulus palatofaring. Muskulus stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan menarik rahang, sedangkan muskulus palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan menaikkan bagian bawah faring dan laring. Jadi kedua otot ini bekerja sebagai elevator. Kerja kedua otot ini penting pada waktu menelan. Muskulus stilofaring dipersarafi oleh nervus IX sedangkan muskulus palatofaring dipersarafi oleh nervus X.

Definisi & Etiologi Faringitis (dalam bahasa Latin; pharyngitis) adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok. Radang ini bisa disebabkan oleh virus atau kuman, disebabkan daya tahan yang lemah. Pengobatan dengan antibiotika hanya efektif apabila karena terkena kuman. Kadangkala makan makanan yang sehat dengan buah buahan yang banyak, disertai dengan vitamin bisa menolong. Faringitis dibedakan menjadi dua, yakni faringitis akut dan kronis. Faringitis akut, radang tenggorok yang masih baru, dengan gejala nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk. Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok. Faringitis akut adalah sindroma inflamasi yang terjadi pada faring yang disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme seperti virus dan bakteri. Faringitis dapat merupakan gejala infeksi umum dari saluran nafas bagian atas atau merupakan suatu infeksi lokal yang spesifik di faring. Faringitis adalah peradangan yang terjadi pada faring. Faringitis akut merupakan peradangan tenggorok yang paling sering terjadi. Faringitis akut/berat sering disebut sebagai strep throat, karena pada umumnya disebabkan oleh bakteri streptokokus. Istilah faringitis akut digunakan untuk menunjukkan semua infeksi akut pada faring, termasuk tonsilitas (tonsilofaringitis) yang berlangsung hingga 14 hari. Faringitis merupakan peradangan akut membran mukosa faring dan

struktur lain di sekitarnya, karena letaknya yang sangat dekat dengan hidung dan tonsil jarang terjadi hanya infeksi lokal faring atau tonsil. Infeksi pada daerah faring dan sekitarnya ditandai dengan keluhan nyeri tenggorok. Berbagai bakteri dan virus dapat menjadi etiologi faringitis, baik faringitis sebagai manifestasi tunggal maupun sebagai bagian dari penyakit lain. Virus merupakan etiologi terbanyak faringitis akut, terutama pada hewan yang masih muda. Streptococcus beta hemolitikus grup A adalah bakteri penyebab terbanyak faringitis/tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% (di luar kejadian epidemik) dari penyebab faringitis akut pada hewan muda sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-10% kasus. Faringitis streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA) adalah infeksi akut orofaring dan/atau nasofaring oleh SBHGA. Beberapa penyebab dari faringitis, yaitu:

Virus

1. Rhinovirus 2. Coronavirus 3. Virus influenza 4. Virus parainfluenza 5. Adenovirus 6. Herpes simplex virus tipe 1 dan 2 7. Coxsackievirus A 8. Cytomegalovirus 9. Virus Epstein-Barr 10. HIV

Bakteri

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Streptococcus pyogenes, merupakan penyebab terbanyak pada faringitis akut Streptococcus grup A, merupakan penyebab terbanyak pada hewan muda Streptococcus grup C dan G Neisseria gonorrheae Corynebacterium diphtheria Corynebacterium ulcerans Yersina enterocolitis Treponema pallidum Vincent angina, merupakan mikroorganisme anaerobik dan dapat menyebabkan komplikasi yang berat, seperti abses retrofaringeal dan peritonsilar 10. Arcanobacteri haemoliticum 11. Mycoplasma pneumoniae

Penyebab faringitis yang bersifat noninfeksi, yaitu sleep apnea, GERD, dan alergi. Alergi menyebabkan hyperplasia limfoid, obstruksi nasal, dan keluarnya mucus hidung yang dapat mengiritasi faring

Patogenesis Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan kemudian cendrung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak. Penyebab faringitis akut dapat bervariasi dari organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi. Organisme yang ditemukan termasuk streptococcus, pneumococcus dan basillus influenza, diantara organisme yang lainnya. Pada stadium awal, terdapat hyperemia, edema, dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mucus dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hyperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning, atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya tonsil, perhatian biasanya difokuskan pada faring, dan tampak bahwa folikel atau bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan membengkak. Terkenanya dinding lateral, jika tersendiri, tersebut sebagai faringitis lateral. Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya tonsil, hanya faring saja yang terkena. Bakteri S. pyogenes memiliki sifat penularan yang tinggi dengan droplet udara yang berasal dari pasien faringitis. Droplet ini dikeluarkan melalui batuk dan bersin. Jika bakteri ini hinggap pada sel sehat, bakteri ini akan bermultiplikasi dan mensekresikan toksin. Toksin ini menyebabkan kerusakan pada sel hidup dan inflamasi pada orofaring dan tonsil. Kerusakan jaringan ini ditandai dengan adanya tampakan kemerahan pada faring. Periode inkubasi faringitis hingga gejala muncul yaitu 24-72 jam. Beberapa strain dari S. pyogenes menghasilkan eksotoksin eritrogenik yang menyebabkan bercak kemerahan pada kulit pada leher, dada, dan lengan. Bercak tersebut terjadi sebagai akibat dari kumpulan darah pada pembuluh darah yang rusak akibat pengaruh toksin.

Hemolitik, Staphylococcus, bakteri, atau virus Masuk ke dalam tubuh Mekanisme pertahanan tubuh menurun

Menyerang faring Faringitis Pada infeksi faringitis, virus atau bakteri secara langsung menginisiasi mukosa pada rongga tenggorokan, menyebabkan suatu respon inflamasi lokal dengan gambaran inflamasi seperti kalor, dolor, rubor, tumor, dan functiolaesa. Beberapa virus, seperti rhinovirus dapat mengiritasi mukosa rongga tenggorokan. Streptococcus infeksi/peradangan ditandai oleh pelepasan dan invasi toksin ekstraseluler lokal dan protease. Hampir semua penyebab inflamasi ini adalah virus. Invasi bakteri mungkin sekunder. Laryngitis biasanya disertai rhinitis atau nasofaringitis. Infeksi mungkin berkaitan dengan perubahan suhu mendada, defisiensi diet, malnutrisi, dan tidak ada imunitas. Laryngitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laryngitis umum terjadi pada musim dingin dan mudah ditularkan. Ini terjadi seiring dengan menurunnya daya tahan tubuh dari host serta prevalensi virus yang meningkat. Laryngitis ini biasanya didahului oleh faringitis dan infeksi saluran nafas bagian atas lainnya. Hal ini akan mengakibatkan iritasi mukosa saluran nafas atas dan merangsang kelenjar mucus untuk memproduksi mucus secara berlebihan sehingga menyumbat saluran nafas. Kondisi tersebut akan merangsang terjadinya batuk hebat yang bisa menyebabkan iritasi pada laring. Dan memacu terjadinya inflamasi pada laring tersebut. Inflamasi ini akan menyebabkan nyeri akibat pengeluaran mediator kimia darah yang jika berlebihan akan merangsang peningkatan suhu tubuh.

Prognosis Prognosis penyakit ini umumnya baik bila penyakit cepat diketahui dan diterapi dengan tepat dan dapat sembuh dengan sempurna. Akan tetapi bila pasien datang terlambat dan penyakit sudah berlanjut maka prognosis akan kurang baik.

Gejala & Tanda Gejala faringitis biasanya sakit tenggorokan, ketidaknyamanan menelan, demam, pembengkakan kelenjar getah bening di leher, nyeri sendi atau nyeri otot Tidak ada pengobatan khusus untuk faringitis virus. Dalam beberapa kasus sakit tenggorokan (misalnya, pada mononukleosis menular), kelenjar getah bening di leher dapat menjadi membengkak, dan anti-inflammatory seperti prednisone dianjurkan untuk mempermudah pernapasan dan menelan.

Epidemiologi Faringitis terjadi lebih sering pada hewan-hewan muda daripada dewasa. Sekitar 15-30% faringitis diderita oleh hewan-hewan muda dan sekitar 10% diderita oleh hewan dewasa. Penyebab tersering dari faringitis ini yaitu Streptococcus grup A, karena itu sering disebut faringitis GAS (Group A Streptococcus). Bakteri penyebab tersering yaitu Streptococcus pyogenes. Sedangkan, penyebab virus tersering yaitu rhinovirus dan adenovirus. Masa infeksi GAS paling sering yaitu pada akhir musim gugur hingga awal musim semi atau bagi yang beriklim tropis, pada musim hujan yang notabene udaranya sangat lembab dan dingin. Setiap tahunnya hewan-hewan muda memberikan kontribusi mengalami infeksi saluran nafas atas (termasuk di dalamnya faringitis akut) tiap tahunnya. Namun penyakit faringitis akut ini tidak sampai membuat angka mortalitas hewan-hewan muda ini tinggi. Faringitis dapat menyerang semua jenis hewan, entah itu ternak, satwa liar, hewan kesayangan, maupun unggas, dengan variasi gejala klinisnya. Faringitis akut mengenai kedua jenis kelamin dalam komposisi yang sama. Sebenarnya faringitis akut mengenai semua usia, namun yang sering menyerang pada hewan muda.

Diagnosa Banding a. Mononukleus infeksiosa b. Tonsilitis difteri c. Scarlet fever d. Angina agranulositosis e. Tonsilitis kronis

Pencegahan & Pengobatan Beberapa pencegahan dan perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi faringitis antara lain:

Istirahat yang cukup Berkumur dengan air garam hangat beberapa kali sehari Memperbanyak minum Menghindari makanan yang dapat menyebabkan iritasi seperti makanan berminyak atau berlemak

Minum antibiotik, dan jika diperlukan dapat minum analgesik Tindakan pencegahan dilakukan dengan menghindari pemakaian pelembab udara yang berlebihan.

Pengobatan terhadap faringitis dapat mengurangi resiko demam reumatik, menurunkan durasi gejala, dan mengurangi resiko penularan penyakit. Pada faringitis dengan penyebab bakteri, dapat diberikan antibiotic, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Penicillin benzathine, diberikan secara IM dalam dosis tunggal Penicillin, diberikan secara oral Eritromycine Penicillin profilaksis, yaitu penicillin benzathine G, diindikaasikan pada pasien dengan resiko demam reumatik berulang Jika pasien, alergi terhadap Penicillin berikan Cephalophrime atau Clindamycine Antibiotik diberikan selama 10 hari untuk Streptococcus grup A Pemberian cairan intravena perlu diberikan pada kondisi parah Antipiretik untuk menurunkan panas

Sedangkan pada penyebab viris, pengobatan ditujukan untuk mengobati gejala, kecuali pada penyebab virus influenza dan HSV. Beberapa obat yang dapat digunakan yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Amantadine Rimantadine Oseltamivir Zanamivir, dapat digunakan untuk penyebab virus influenza A dan B Acyclovir, digunakan untuk penyebab HSV

Faringitis yang disebabkan oleh virus biasanya ditangani dengan istirahat yang cukup, karena penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Selain itu, dibutuhkan juga mengkonsumsi air yang cukup. Gejala biasanya membaik pada keadaan udara yang lembab. Untuk menghindari infeksi dari jamur maka diberikan solusi dengan nystatin 100.000 IU 2 kali sehari. Tanaman obat yang dapat digunakan untuk perawatan dan pengobatan faringitis / radang tenggorokan mempunyai efek sebagai anti radang (anti inflamasi), antibiotik, antibakteri, anti infeksi, anti histamin / anti alergi, dan meredakan rasa sakit (analgesik). Beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk faringitis, antara lain:

Sambiloto (Andrographis paniculata Nees), sebagai anti-radang (anti-inflamasi), menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan bengkak (anti-swelling), menurunkan panas (antipiretik). Pegagan (Centella asiatica Urban), akan memberikan efek sejuk, sebagai anti-infeksi, anti-bakteri, penurun panas (antipiretik), anti toksik, diuretik. Lidah Buaya (Aloe vera L), sebagai anti-radang (anti-inflamasi), meredakan rasa sakit (analgetik). Daun Sambung Nyawa, sebagai anti-radang, menghilangkan bengkak (antiswelling)

Daun Dewa (Gynura pseudo-china DC), sebagai anti-radang, meredakan rasa sakit (analgetik), membuyarkan bekuan darah, menghilangkan bengkak (anti-swelling). Semanggi Gunung (Hydrocotyle sibthorpioides Lam) sebagai anti-radang (antiinflamasi), menghilangkan bengkak (anti-swelling), antibiotika, penurun panas (antipiretik), menetralisir racun (detoxificans).

Ilmu Penyakit & Anatomi, Fisiologi THT (Telinga Hidung Tenggorokan)


TELINGA Anatomi Secara anatomi dari fungsi telinga dibagi atas: - Telinga luar - Telinga tengah - Telinga dalam a. Telinga luar Ialah bagian telinga yang terdapat sebelah luar membran timpani. Terdiri dari: * Daun telinga (aurikel) * Meatus acusikus eksterna liang telinga luar * Membrana timpani Daun telinga merupakan suatu lempengan tulang rawan yang berlekuk-lekuk ditutupi oleh kulit dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot dan ligamentum. Liang telinga luar 2/3 bagian dalam dibentuk oleh tulang. Kulit yang melapisi tulang rawan liang telinga luar sangat longgar dan mengandung banyak folikel rambut, kelenjar serumen dan kelenjar sebasea. Gendang telinga dan kulit liang telinga bagian dalam mempunyai sifat membersihkan sendiri yang disebabkan oleh migrasi lapisan keratin epithelium dari membran timpani keluar, kebagian tulang rawan. Membran timpani terdiri 3 lapisan, yaitu: o Lapisan squamosa o Lapisan mukosa o Lapisan fibrosa terdiri serat melingkar dan serat radial

Bagian membran timpani sebelah atas disebut pars flacida (membran shrapnel) bagian yang lebih besar disebelah bawah disebut pars tensa membran timpani. b. Telinga rengah Terdiri dari: o Membran timpani o Cavum timpani o Tulang-tulang pendengaran o Tuba eustachius o Sel-sel mastoid Cavum timpani terbagi atas: - Epitimpani - Mesotimpani - Hypotimpani Tulang-tulang pendengaran terbagi atas: - Maleus (palu) Stapes (sanggurdi) - Incus (landasan) Tuba eustachius: 2/3 bagian terdiri dari tulang rawan kearah nasofaring dan 1/3 terdiri dari tulang. Pada anak-anak tuba lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dari tuba orang dewasa. c. Telinga dalam terdiri dari:

Koklea (rumah siput) 3 buah kanalis semi sirkuler:

- Anterior - Posterior - Lateral

Fisiologi Pendengaran Seseorang dapat mendengar melalui getaran yang dialirkan melalui udara atau tulang langsung ke koklea. Aliran suara melalui udara lebih baik dibandingkan dengan aliran suara melalui tulang. Getaran suara ditangkap oleh daun Telinga yang dialirkan ke liang telinga dan mengenai membran timpani sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain. Gangguan Fisiologi Telinga: I. Tuli dibagi atas tuli konduktif, tuli syaraf (sensori neural deafness), serta tuli campur (mixed deafness). II. Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli konduktif, sedangkan gangguan telinga dalam menyebabkan tuli syaraf, mungkin tuli koklea dan tuli retrokoklea. Tuli konduktif Penyebab Telinga luar: v Atresia liang telinga (atresia = keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tertutup secara congenital). v Serumen obturan. v Otitis eksterna cryrcumsripta. v Osteoma liang talinga. Penyebab Telinga tengah: v Tuba katar v Sumbatan tuba eustachius v Otitis media v Otosklerosis v Timpani skelerosis v Hemotimpani v Dislokasi tulang pendengaran Tuli sensori neural (perseptif)

Dibagi menjadi tuli sensori neural coklea atau retrokoklea. Penyebabnya: Tuli sensori neural coclea - Aplasia (kongenital) - Labirintitis oleh bakteri/virus - Intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal atau alkohol. - Trauma kapitis - Trauma akustik - Pemaparan bising - Presbicusis Tuli sensori neural retrokoklea - Neuroma akustik - Tumor sudut pons serebellum - Cidera otak - Perdarahan otak Presbikusis ialah penurunan kemampuan mendengar pada usia lanjut. Pemeriksaan pendengaran dilakukan dengan: 1. Garpu tala (512, 1024 ds 20448 Hz) 2. Tes bisik 3. Audiometer nada murni. - Secara fisiologis telinga dapat mendengar nada murni antara 20 18.000 Hz. - Pendengaran sehari-hari efektif antara 500 2000 Hz. Pemeriksaan pendengaran dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan garpu tala dan kuantitatif dengan menggunakan audiometer.

Tes Penala * Merupakan tes kualitatif terdiri dari: 1. Tes Rhinne: Tes ini membandingkan hantaran melalui udara dan hantaran tulang pada Telinga yang diperiksa 2. Tes Weber: Tes pendengaran untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan telinga kanan. 3. Tes Schwabach: Tes membandingkan antara hantaran tulang orang yang diperiksa dengan pemeriksa. Tes Bisik Pemeriksaan ini bersifat semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Kelaninan pada Telinga 1. Telinga luar a. Kongenital: - Atresia liang telinga dan mikrotia - Fistula prearikuler - Lop ear (bats ear) b. Kelinan daun telinga: - Hematoma - Perikondritis (cauliflower ear) - Pseudokista c. Kelainan liang telinga: - Cerumen obturans/keratosis obturans - Benda asing: hidup: serangga (terapi minyak kelapa).

- mati: Kacang-kacangan, karet, padi dll. - Otitis eksterna: Penyebab: Jamur, alergi, virus - Trauma ringan - Berenang Otitis eksterna akut terbagi atas: a. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel bisul). b. Otitis eksterna difusa c. Otomikosis Infeksi kronik liang telinga: * Keratosis abturans * Kolesteatoma eksterna * Otits eksterna maligna: Terjadi pada orang tua dan penderita DM. 2. Kelainan telinga tengah a. Gangguan fungsi tuba eustachius Tuba eustachius adalah saluran yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring. Fungsi tuba adalah: - Untuk ventilasi - Drainase secret - Menghalangi masuknya secret dari NF (nasofaring) ketelinga tengah. Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah selalu sama dengan tekanan udara luar. Gangguan fungsi tuba dapat terjadi pada beberapa hal seperti: o Tuba terbuka abnormal, pada penyakit-penyakit kronik seperti rhinitis antropi dan faringitis.

o Myoklonus palatal o Palatokisis o Obstruksi tuba b. Barotrauma (Aerotitis) Adalah keadaan dimana terjadi perubahan tekanan yang tiba-tiba diluar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang menyebabkan tuba gagal untuk membuka. c. Otitis media Ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan selsel mastoid. Otitis media akut (OMA) Otitis media supuratif Otitis media supuratif kronik (OMSK) Otitis media Otitis media serosa akut (Barotrauma) Otitis media non supuratif (Otitis media serosa) Otitismedia serosa kronik (blue ear) 1. Otitis media akut (OMA) Otitis media akut terjadi karena factor pertahanan tubuh terganggu.

Sumbatan tuba eustachius merupakan factor penyebab pertama dari otitis media. Infeksi saluran napas atau juga factor pencetus terjadinya OMA. Pada bayi terjadi OMA dipermudah oleh tuba eustachius lebih pendek, lebar dan agak horizontal letaknya. Gejala klinik OMA o Keluhan utama: a. Pada bayi: Demam tinggi (39,50c) - Anak gelisah - Sukar tidur (tiba-tiba menjerit waktu tidur) - Diare - Kejang-kejang b. Pada anak-anak: Nyeri didalam telinga - Demam - Riwayat batuk pilek sebelumnya c. Pada orang dewasa: Gangguan pendengaran (rasa penuh) Terapi:

AB Analgetik Antipiretik Decongestan

Komplikasi:

OMSK Meningitis Abses subperiostal

2. Otitis media supuratif kronik (OMSK) Infeksi kronis ditelinga dengan perforasi membran timpani dan secret yang keluar dan telinga tengah terus menerus atau hilang timbul.

Beberapa factor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah: Terapi yang terlambat diberikan Terapi yang tidak adekuat Virulensi kuman tinggi Daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) Higiene kurang Letak perforasi:

Penting untuk menentukan jenis OMSK Perforasi MT dapat ditemukan ditemukan:

- Daerah sentral disebut perforasi sentral (pars tensa) - Daerah marginl disebut perforasi marginal (didaerah tepi) - Daerah atik disebut perforasi atik (fars flacida) Jenis OMSK: Dibagi atas 2 jenis, yaitu: a. OMSK tipe benigne = tipe mukosa = tipe aman. b. OMSK tipe maligna = tipe tulang = tipe berbahaya. Terapi: * Memerlukan waktu yang lama. * Serta harus berulang-ulang, untuk secret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh kembali. Keadaan ini disebabkan beberapa hal: a. Adanya perforasi membran timpani yang permanen, sehingga telinga tengah berhubungan dengan dunia luar. b. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung dan sinus paranasal. c. Sudah terbentuk jaringan patologik yang irreversible dalam rongga mastoid.

d. Gizi dan Higiene kurang Prinsip terapi OMSK tipe benigna - Konservatif atau dengan medika mentosa. Prinsip terapi OMSK tipe maligna - Pembedahan yaitu mastoidektomi.
OMSK Benigna 1. Perforasi Sentral OMSK Maligna - Marginal

- Asik 2. Sekret - Banyak - Profus 3. Proses radang Mukosa - Sedikit - Foetor - Mukosa - Tulang 4. Kolesteatoma 5. Komplikasi HIDUNG Anatomi Untuk mengetahui penyakit dan kelainan hidung perlu mengetahui tentang anatomi hidung. Hidung terdiri dari:

Tidak ada Jarang

Ada Berbahaya dan fatal

Hidung bagian luar Rongga hidung

Hidung bagian luar - Berbentuk pyramid - Dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan. Rongga hidung (cavum nasi)

Berbentuk terowongan dari depan kebelakang Dipisahkan oleh septum di bagian tengah menjadi cavum nasi kanan dan kiri Cavum nasi mempunyai 4 buah dinding, yaitu: - Dinding medial - Dinding lateral - Dinding inferior - Dinding superior Dinding medial hidung yaitu septum nasi, septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan, pada dinding lateral terdapat 4 buah konka yaitu; a. Konka inferior Terbesar dan paling bawah letaknya b. Konka media Lebih kecil, letaknya ditengah c. Konka superior Kecil, dibagian atas d. Konka suprema Terkecil dan rudimenter Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sempit yang disebut meatus. Ada 3 meatus, yaitu: Meatus inferior terletak diantara konka superior dengan dasar hidung dengan rongga hidung. Meatus medius terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga hidung. Meatus superior merupakan ruang diantara konka superior dan konka media. Dinding superior merupakan merupakan dasar rongga hidung dengan superior atau atap hidung sangat sempit. Fisiologi Hidung Fungsi hidung ialah untuk: 1. Jalan napas: Inspirasi - Ekspirasi 2. Alat mengukur kondisi udara (air conditioning)

Fungsinya untuk mempersiapkan udara akan masuk ke dalam alveolus paru. Fungsi ini dilakukan dengan cara mengatur kelembaban udara dan mengatur suhu. 3. Penyaring udara Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri. 4. Sebagai indera penghidu 5. Untuk respirasi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Hidung tersumbat akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang sehingga suara sengau. 6. Proses bicara Hidung membantu proses pembentukan kata-kata. Kata dibentuk oleh lidah, bibir, dan palatum mole. 7. Refleks Nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernapasan. Pemeriksaan hidung Dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan hidung yaitu dengan cara: 1. Pemeriksan hidung luar Dilakukan dengan cara inspeksi dan palpasi, kelainan yang mungkin ditemukan adalah: a. Kelainan congenital: Agenesis hidung - Atresia nares anterior - Kista dermoid b. Radang: Selulitis - Infeksi spesifik c. Kelainan bentuk: Hidung pelana d. Kelainan akibat trauma

e. Tumor: Hemagioma - Basalioma 2. Rhinoskopy anterior Pemeriksaan rongga hidung dari depan dengan memakai speculum hidung. Alat-alat yang digunakan ialah:

Lampu kepala Spekulum hidung Pinset

3. Rhinoskopy posterior * Pemeriksaan rongga hidung dari belakang * Alat-alat yang digunakan ialah: - Lampu kepala - Cermin laring kecil (kaca nasofaring) - Spatel lidah - Lampu spiritus 4. Nasoendoskop Pemeriksaan dengan menggunakan endoskop. Polip Hidung Polip hidung ialah massa yang lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat didalam rongga hidung. Polip dapat berasal dari: Sinus ethmoid - Sinus maksilla Bisa unilateral ataupun bilateral Ethiologi

o Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. o Infeksi seringkali ditemukan bersamaan adanya polip Gejala klinik: o Obstruksi nasi (sumbatan hidung) adalah gejala utama o Hipomia (kekurangan daya penciuman) atau anosmia (tidak ada penciuman sama sekali) o Nyeri kepala o Rhinorrea (keluarnya cairan dari rongga hidung) o Bersin atau iritasi di hidung, jika penyebabnya adalah alergi. Terapi: - Polip kecil Secara konservatif - Polip besar ekstraksi polip (polipektomi) Benda Asing Benda asing di hidung dapat berupa: Beda mati - Benda hidup Benda mati seperti: Manik-manik - Potongan mainan - Karet penghapus Benda hidup seperti: Lintah - Larva (myasis hidung) Gejala benda asing Terdapat secret mukopurulent yang banyak dan berbau busuk dirongga hidung, kanan atau kiri tempat adanya benda asing. Terapi:

Ekstraksi benda asing. Kelainan Septum 1. Septum Deviasi Bentuk septum normal ialah lurus ditengah rongga hidung. Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, tetapi bila deviasi itu cukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung sehingga mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi. Etiologi: - Trauma - Ketidak simbangan pertumbuhan tulang rawan Gejala klinis: - Sumbatan hidung: bisa unilateral atau bilateral - Nyeri dikepala atau disekitar mata - Penciuman bisa terganggu - Merupakan factor predisposisi terjadinya sinusitis. Terapi: * Jika keluhan sangat mengganggu dilakukan tindakan operatif * Tindakan operatif ada 2, yaitu: - SMR (Sub Mukosa Resection). - Septoplasti 2. Hematoma Septum Hematoma septum adalah kumpulan darah diantara perikondrium dan tulang rawan septum dan akibat trauma. Gejala klinis: o Sumbatan hidung dan rasa nyeri

o Pada pemeriksaan ditemukan pembengkakan unilateral atau bilateral pada septum bagian depan, licin atau berwarna merah. Pembengkakan dapat keluar kedinding lateral hidung hinggga menyebabkan obstruksi total. Terapi: * Drainase dengan insisi * Pemasangan tampon untuk fiksasi * Antibiotik untuk mencgah terjadinya infeksi sekunder. Komplikasi: - Abses septum - Deformitas hidung keluar seperti hidung pelana. 3. Abses Septum o Disebabkan oleh trauma yang kadang tidak disadari oleh penderita. o Seringkali didahului oleh hematoma, kemudian trinfeksi kuman dan menjadi abses. Gejala: Obstruksi nasi yang progresif Rasa nyeri berat Demam Sakit kepala Terapi: * Merupakan kasus darurat yang komplikasinya dapat menyebabkan nekrose tulang rawan septum. * Dilakukan insisi dan drainase untuk mengeluarkan nanah. * AB dan analgetik * Pasang tampon (2 hari) Komplokasi:

Destruksi tulang rawan septum Perforasi septum Hidung pelana Intrakranial Septikemia Catatan: Cara penanggulangan septum pada anak-anak: - Melakukan pemijatan pada hidung minimal 3 menit untuk pembekuan darah/posisi duduk/ berdiri. - Kalau gagal, pasang tampon 2 (10 15 menit) - Gagal lagi, pasang tampon anterior (2 3 hari) - Gaal, lakukan penjepitan pembuluh darah. Mimisan = epistaksis adalah semua darah yang keluar dari hidung. Septikemia adalah masuknya kuman kedalam pembuluh darah. Alergi Hidung Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas. Manifestasi klinik suatu reaksi alergi tergantung pada 2 faktor, yaitu: 1. Organ sasaran (lokasi dan jenis) 2. Alergen penyebab (seperti konsentrasi dengan cara msuk). Berdasarkan cara masuknya, alergi di bagi atas: 1. Alergi Inhalan: Masuk bersama dengan udara pernapasan (hirup). Seperti: debu rumah, bulu binatang, jamur. 2. Alergi ingestan: Masuk bersama saluran cerna, berupa makanan, seperti: susu, telur, coklat, ikan, udang. 3. Alergi injektan: Masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa seperti bahan kosmetik, perhiasan.

4. Alergi kontaktan: Masuk melalui pembuluh darah dan kulit yang bersifat local. Contoh: bedak. Rhinitis Alergi Berdasarkan sifat berlangsungnya rhinitis alergi dibedakan dalam dua macam, yaitu: 1. Rhinitis alergi musiman (tidak terdapat di Indonesia). 2. Rhinitis alergi sepanjang tahun. Gejala penyakit ini timbul terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Etiologi penyebab yang paling sering ialah: - Alergi inhalan (terutama pada orang dewasa). - Alergi ingestan: sering penyebab pada anak-anak. Faktor-faktor yang mempercepat gejala adalah seperti: - Asap rokok - Bau yang merangsang - Perubahan cuaca - Kelembaban yang tinggi Gejala klinis: - Gejala yang khas ialah: Terdapatnya serangan bersin berulang. - Rhinorre (ingus) yang encer dan banyak - Hidung tersumbat - Hidung dan mata gatal Diagnosis: Pada rhinoskopi anterior tampak: - Mukosa basah/banyak - Basah - Warna pucat atau livid

- Banyak secret yang encer. Terapi: 1. Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan alergi penyebabnya (avoidance) dan eliminasi. 2. Simptomatis: * Medikamentosa: Anti histamine dengan atau tanpa decogestan. * Operatif * Imunoterapi: Pemberian alergen mulai dari dosis rendah dosis tertinggi sa mpai dosis maksimal. Komplikasi: - Polip hidung - Otitis media terutama pada anak-anak - Sinusitis paranasal Rhinitis Vasomotor: Gangguan vasomotor adalah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Penyebabnya diduga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor: o Obat-obatan seperti: Ergotamin, chlorpromazine, obat anti hipertensi dan obat vasokontriktor tropical. o Faktor fisik: Iritasi atau asap rokok - Udara dingin - Kelembaban udara yang tinggi - Bau yang merangsang o Faktor endokrin: Kehamilan, pubertas

- Pemakaian pil anti hamil - Hipotiroidisme o Faktor psikis: rasa cemas, tegang Gejala klinis: - Obstruksi nasi bergantian kiri dan kanan - Rhinorre kental atau encer Diagnosis: Pemeriksaan RA tampak: * Edema mukosa/mukosa inferior * Konka merah tua atau pucat/disebabkan oleh rhinitis alergika. * Sekret murkoid sedikit. Terapi: 1. Menghindari penyebab 2. Pengobatan simptomatis/pemberian antistamin. 3. Operasi (memotong syaraf yang ada pada hidung) 4. Neurektomi N. Vidianus. Rhinitis Medikamentosa. Adalah kelinan hidung berupa gangguan respon normal vacasomotor, sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor tropical dalam waktu dan berlainan sehigga menyebabklan sumbatan hidung yang menetap. Gejala-gejala: - Hidung tersumbat terus menerus dan berair. - Konka edem dengn secret yang berlebihan. Terapi:

1. Hentikan pemakaian obat tetes atau obat semprot hidung. 2. Pemakaian kotikosterid secara bertahap 3. Decongestan oral 4. Operasi Konkatomi Sinus Paranasal Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala, sehingga terbentuk rongga didalam tulang. Ada 4 pasang sinus paranasal yang besar, yaitu: 1. Sinus maxilla kiri dan kanan. 2. Sinus frontalis kiri dan kanan. 3. Sinus ethmoid kiri dan kanan 4. Sinus sphenoid kira dan kanan Semua sinus mempunyai muara kedalam rongga hidung. 1. Sinus maksila o Merupakan sinus paranasal terbesar (antrum high more) o Berbentuk segitiga. o Perlu diperhatikan anatomi sinus maksila adalah:

Dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas yaitu premolar (P1 dan P2) molar (M1 dan M2) gigi taring (C) dan gigi molar (M3). Sinusitis maksila dapat menimbulkan komplikasi ke orbita. Ostium maksila terletak lebih tinggi dari dsinus sehingga drainase kurang baik.

2. Sinus frontal - Sinus frontal kiri dan kanan tidak simetris - Drainase sinus frontal melalui ostiumnya di resesus frotal. 3. Sinus ethmoid

* Sinus ethmoid berongga nenyerupai sarang tawon. * Berdasarkan letaknya sinus ethmoid dibagi menjadi a. Sinus ethmoid anterior yang bermuara di meatus medius. b. Sinus ethmoid posterior yang bermuara di meatus superior. * Sel-sel sinus ethmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak letaknya dibawah perlekatan konka media. * Sel-sel sinus ethmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya. Letaknya diposterio superior dari perlekatan konka media. 4. Sinus sphenoid * Terletak didalam os sphenoid di belakang sinus ethmoid posterior. Fungsi sinus paranasal Fungsi sinus paranasal antara lain: 1. Sebagai pengatur kondisi udara (air condition) Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara inspirasi. 2. Sebagai penahan suhu Sinus paranasal bekerja sebagai penahan panas, melindungi orbita dan fossa serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. 3. Membantu keseimbangan kepala Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. 4. Membantu resonansi suara Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada waktu bersin atau membuang ingus. 5. Membantu produksi mucus. Pemeriksaan Sinus Paranasal Untuk mengetahui kelainan sinus paranasal dilakukan pemeriksaan antara lain:

1. Inspeksi Apakah ada pembengkakan pada muka. 2. Palpasi Apakah ada nyeri pada pipi, nyeri ketuk, nyeri tekan di dasar sinus frontal. 3. Transiluminasi Hanya dapat dipakai untuk memeriksa sinus maksila dan sinus frontal. 4. Pemeriksaan radiologist Foto polos sinus paranasal dengan 3 posisi yaitu waters.PA dan lateral. 5. Sinuskopi Pemeriksaan kedalam sinus maksila menggunakan endoskopi. Sinusitis Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang terkena dapat dibagi menjadi sinusitis maksila, sinusitis ethmoidalis, sinusitis frontalis dan inusitis sphenoid. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut pensinusitis. Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila kemudian sinusitis ethmoidalis, sinusitis frontal dan sinusitis sphenoid. Sinus maksila disebut juga antrum highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena: 1. Merupakan sinus paranasal terbesar. 2. Letak ostimunnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran secret (drainase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia. 3. Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (poses alveolaris) sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila. 4. Ostium sinus maksila teletak di meatus medius di sekitar meatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. Klasifikasi: 1. Sinusitis akut:

Terjadi oleh penyumbatan di daerah meatus medius oleh infeksi, obstruksi mekanik, alergi dan penyebaran infeksi gigi. Penyebab: a. Rhinitis akut b. Infeksi faring seperti faringitis, adenoiditis. c. Infeksi gigi molar (M1, M2, M3) premolar (P1, DAN P2) d. Berenang dan menyelam e. Trauma (perdarahan mukosa sp) f. Barotrauma Faktor predisposisi: - Obstruksi mekanik: Deviasi septum, benda asing, polip dan tumor rongga hidung, rhinitis kronis, dan rhinitis alergi. - Lingkungan polusi - Udara dingin dan kering Gejala-gejala: Terbagi: o Gejala sistemik: Demam dan rasa lesu o Gejala local : Sekret kental dan berbau - Obstruksi nasi - Nyeri pada sinus yang terkena - Nyeri alih Terapi: o Medika mentosa: * AB selama 10 14 hari * Decongestan local (obat tetes hidung)

* Analgetik 2. Sinusitis sub akut Yaitu gejala klinis sama dengan sinusitis akut, tetapi tanda-tanda radang akut sudah reda. 3. Sinusitis kronis Sulit disembuhkan dengan pengebatan medika mentosa. Harus disesuaikan factor penyebab dan factor predisposisi. Gejala: - Gejala-gejala hidung dan nasofaring: berupa secret dihidung dan nasofaring. - Gejala faring: Rasa tidak nyaman ditenggorokan. - Gejala Telinga: Pendengaran terganggu oleh tersumbatnya tuba eustakhius. - Nyeri kepala. - Gejala muka: penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. - Gejala saluran napas: batuk dan kadang-kadang terdapat komplikasi diparu berupa bronchitis, bronchiectasi atau asma bronchial. - Gejala saluran cerna: gastroenteritis oleh mucopus yang tertelan. Terapi: * AB untuk mengatasi infeksi * Operatif : -Caldwell-Luc * Fess (Besf) Komplikasi: o Osteomilitis dan abses subperiostal o Kelainan orbita o Kelainan intracranial o Kelainan paru

Epistaksis Epistaksis bukan merupakan suatu penyakit, melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan. Etiologi: a. Lokal: Trauma: Ringan: Mengeluarkan ingus - Bersin-bersin - Mengorek hidung - Hebat: Terpukul - Jatuh - Kecelakaan lalu lintas - Iritasi jaringan yang merangsang - Benda asing di hidung - Trauma pada pembedahan b. Infeksi: Rhinitis - Sinusitis - Spesifik: lupus, sipilis, lepra c. Neoplasma: Hemangioma - Karsinoma - Angiofibroma d. Kelainan congenital: Teleangiektasi - Hemoragik herediter e. Sistemik: * Penyakit kardiovaskuler, hipertensi, arteriosclerosis. * Kelainan darah: trombositofenia

- Hemofilia - leukemia f. Infeksi sistemik: * DHF * Demam tifoid * Influensa * Morbili g. Perubahan tekanan atmosfir: Caison Disease (penyelam) h. Gangguan endokrin: Wanita hamil - menopause i. Sumber peradangan dapat berasal dari bagian anterior atau bagian posterir hidung. Epistaksis Anterior: o Berasal dari septum bagian depan atau a.ethmoid anterior. o Terutama pada anak-anak. o Biasanya dapat berhenti sendiri (spontam). o Mudah diatasi. Epistaksi Posterior: o Berasal dari a.sphenopalatina dan a.ethmoid posterior. o Perdarahan biasanya hebat. o Jarang berhenti sendiri. o Sering ditemukan pada orang tua dengan penyakit kardiovaskuler. Penatalaksanaan Tiga pinsip utama dalam menanggulangi epistaksi yaitu;

1. Menghentikan pendarahan. 2. Mencegah komplikasi. 3. Mencegah berulangnya epistaksis Kalau ada syok perbaiki dulu keadaan umum pasien. FARING DAN LARING * Pemeriksaan faring Faringoskopy. Alat-alat yang digunakan: lampu kepala. - Spatel lidah. * Pemeriksaan laring: Laringoskopy. Terdiri dari 2 jenis, yaitu: - Laringoskopy directa (langsung). - Laringoskopy inderecta (tidak langsun). A. Rongga Faring Anatomi Anatomi o Kantong fibromuskular. o Bentuk seperti corong. o Dari dasar tengkorak Dinding faring dibentuk oleh: o Selaput lendir. o Fasia faringo basiler. o Pembungkus otot. o Sebagian fasia bukofaringeal.

Unsur faring meliputi: o Muksa. o Palut lender. o Otot. Faring terdiri atas: o Nasofaring. o Orofaring. o Laringofaring (hipofaring). 1. Nasofaring

Batas-batas:

- Superior: dasar tengkorak. - Inferior: palatum mole. - Anterior: rongga hidung. - Posterior: vertebra servikal

Struktur nasofaring:

- Adenoid. - Jaringan limfa pada dinding nasofaring. - Resesus faring fossa rosenmuleri. - Muara tuba eustakhius. - Tonus tubarius. - Koana (pintu masuk rogga mulut ke nasofaring). 2. Orofaring (mesofaring)

Batas-batas:

- Superior: palatum mole. - Interior: tepi atas epiglotis. - Anterior: rongga mulut. - Posterior: vertebra servikal.

Struktur penting di orofaring.

- Dinding posterior faring. - Tonsilplatina. - Fossa tonsil. - Arkus anterior dan posterior. - Uvula. - Tonsil lingual (lidah). - Foramen sekum. 3. Laringofaring (hipofaring).

Batas-batas:

- Superior:tepi atas epiglottis. - Anterior: laring. - Inferior: esophagus. - Posterior: vertebra servikal.

Struktur penting:

- Valekuta atau kantong pil (pil pocket). - Epiglotis. Fungsi faring: o Untuk respirasi.

o Membantu pada waktu menelan. o Resonansi sura. o Untuk artikulasi. Fungsi menelan: Terdiri dari 3 fase proses menelan, yaitu: o Fase oral. Bolus makanan faring (voluntary / disadari.) o Fase faringeal. Transfer bolus makanan faring (involuntary / tidak disadari). o Fase esofageal. Bolus makanan esophagus lambung. Kelainan-Kelainan Faring 1. Hipertropi adenoid

Adenoid terdiri dari:

- jaringan limfoid pada dinding posterior nasofaring. - Termasuk cincing waldeyer (berperan sbg daya tahan tubuh dengan membentuk sel limfoid, berperan dalam 6 thun). * Adenoid. * Tonsil palatina. * Tonsil lingualis. * Lateral faringeal band. - Hilang pada umur 14 tahun. - Dapat menyebabkan obstruksi

Akibat-akibat hipertropi adenoid (akibat infeksi daerah oral/yang berulang-ulang).

~ Sumbatan koana: - Facies adenoid. - Faringitis dan bronchitis. - Gangguan ventilasi/drainase sinus paranasal. ~ Sumbatan tuba eustakhius. - Otitis media akut residif. - Otitis media kronis. - Ketulian.

Gejala umum:

~ Gangguan tidur. ~ Tidur ngorok. ~ Retardasi mental. ~ Pertumbuhan fisik kurang.

Terapi: Operasi.

2. Tonsilitis

Terbagi atas 2, yaitu:

* Tonsilitis akut. * Tonsilitis knonis.

Tonsilitis akut:

~ Penyebab: - Golongan strptokokus B hemolitikus. - Streptokokus viridaus. - Streptokokus pyogenes.

~ Bentuk: - Tonsilitis folikularis (berbentuk merah dan kotoran brwarna putih folikel). - Tonsilitis lakunaris (warna keputihan, ditutupi kotoran-kotoran). ~ Gejala-gejala: - Suhu badan 400c. - Lesu. - Nyeri sendi. - Odinofagi (sakit menelan). - Anoreksia (tidak ada nafsu makan). - Otalgia (sakit telinga). ~ Terapi: - AB. - Antipiretik + analgetik. ~ Konplikasi - OMA. - Abses peritonsilar. - Abses parafaring. - Bronkhitis.

Tonsilitis kronis:

~ Penyebab: tonsillitis akut. ~ Faktor prediposisi: - Rangsangan yang menahun. - Pengaruh cuaca.

- Pengobatan tidak adekuat. - Hygiene mulut yang buruk. ~ Gejala-gejala: - Tenggorokan terasa terhalang. - Tenggorokan kering. - Pernapasan berbau. ~ Terapi: - Lokal (obat kumur atau isap). - Operasi. B. Rongga Laring Bagian terbawah saluran napas atas. Bata-batas: * Atas: rongga laring aditus laring. * Bawah: rongga laring kaudal kartilago krokoid. Fisiologi laring: Fungsi: o Proteksi (epiglottis). o Batuk. o Respirasi. o Sirkulasi. o Menelan. o Emosi. o Fonasi (pembentukan suara).

Kelainan faring: 1. Epiglotitis ~ Usia: Terutama anak dan dewasa muda. ~ Penyebab: bakteri. ~ Gejala: demam tinggi (400c), sesak napas, sakit menelan, not potaos voice. ~ Pemeriksaan: radiology. ~ Terapi: - Antibiotik. - Analgetik/antipiretik. - Anti implamasi/bengkak (kortikosteroid). - Trakeostomi. - Rawat RS. 2. Tumor laring (orang dewasa). 3. Cought (pada ank). 4. Nodul pita suara. Obstruksi Saluran Napas Atas (OSNA) Osna apapun penyebabnya yang menyebabkan obstruksi saluran napas mulai hidung sampai laring. Penyebab: o Tumor: jinak, ganas. o Benda asin. o Infeksi: Polip, tonsil, piglotitis. o Inflamasi: edema laring (orang tua), nodul pita suara.

Gejala menurut Jackson, dibagi atas IV grade: ~ Grade I 1. Pasien masih sadar tetapi sudah sesak napas. 2. Pernapasan cuping hidun g (+). 3. Retraksi suprasternal. ~ Grade II 1. Pasien sudah kesadaran menurun dan gelisah. 2. Retraksi interkostal (+) dan retraksi intra abdomn. ~ Grade III 1. Pasien mulai tidak sadar dan gelisah. 2. Pernapasan mulai satu-satu. ~ Grade IV Pasien tidak sadar dan pernapasan satu-satu sampai meninggal. Indikasi trakeostomi: 1. Grade I (-) 2. Grade II (-) Tondakan/terapi: 1. Trakeostomi. 2. Cricotiroitomi. 3. Kalau ada benda asing Henlich maneuver. ~ Pasien dipukul punggungnya. ~ Menekan perut. 4. Refleks batuk/muntah.

Terkena Radang Telinga??? Waspada Tuli!!!


Hygiena Kumala Suci, dr. 16/11/2007 Kesehatan Umum 17

Sering saat kita sedang flu atau radang tenggorokan, tiba-tiba saja telinga terasa nyeri dan pendengaran jadi berkurang. Memang seiring dengan sembuhnya penyakit yang mendasarinya, fungsi telinga akan membaik dengan sendirinya, tetapi kadang kala radang ini berkembang dan menyebabkan tuli permanent pada anda. Hal ini tentu tidak diinginkan apalagi radang telinga ini lebih beresiko terjadi pada anak kecil. Radang telinga atau otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dan rongga mulut), antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. Hampir 70 % anak-anak pernah mengalami radang telinga dan tidak sedikit yang mengalami gangguan pendengaran akibat penanganan yang terlambat. Telinga secara garis besar terbagi menjadi tiga area, yaitu :

1.

telinga luar yang terdiri dari daun telinga, liang telinga dan gendang telinga. Fungsi dari bagian ini adalah menangkap suara dan menghantarkannya ke dalam telinga. 2. telinga tengah yang terdiri dari tulang-tulang pendengaran, tuba eustachius, aditus ad antrum (lubang yang menghubungkan telinga tengah dengan antrum mastoid). Fungsi dari bagian ini adalah menghantarkan bunyi ke telinga dalam dan menyeimbangkan tekanan antara telinga, rongga mulut dan lingkungan luar. 3. telinga dalam yang terdiri dari rumah siput (cochlea) dan vestibuler. Fungsi bagian ini adalah menangkap bunyi yang dihantarkan untuk diterjemahkan di otak dan mengatur keseimbangan.

Bila terjadi proses radang pada telinga tengah tentu akan terjadi gangguan dalam penghantaran bunyi/suara ke telinga dalam, akibatnya anda seperti menjadi tuli. Radang telinga ini disebabkan oleh terganggunya fungsi tuba eustachius pada telinga tengah. Penyebab gangguan itu antara lain : 1. perubahan tekanan udara yang tiba-tiba 2. alergi 3. infeksi, baik infeksi primer yaitu berasal dari telinga itu sendiri atau infeksi sekunder yang berasal dari tempat lain. Biasanya infeksi dari rongga mulut dan rongga hidung yang paling sering. 4. sumbatan pada telinga Akibat gangguan pada tuba eustachius di telinga tengah, tekanan pada telinga tengah menjadi negative, akibatnya cairan telinga yang seharusnya dialirkan ke rongga mulut melalui tuba eustachius menjadi terhambat dan menumpuk di telinga tengah. Cairan yang menumpuk inilah yang menganggu proses penghantaran suara dari telingan luar ke telinga dalam, akibatnya anda menjadi tuli untuk sementara. Bila penyebab diatasi maka fungsi tuba kembali membaik dan fungsi pendengaran kembali normal, tetapi bila terjadi infeksi pada telinga tengah karena cairan ini menjadi media tumbuhnya kuman, maka akan terjadi proses radang pada telinga yang bila tidak diatasi dengan benar dapat menyebabkan tuli permanen. Radang telinga dapat dibagi menjadi : 1. radang telinga supuratif yang terdiri dari radang telinga supuratif akut dan radang telinga supuratif kroni 2. radang telinga non supuratif yang terdiri dari radang telinga serosa akut dan radang telinga serosa kronik Radang telinga supuratif akut (otitis media akut/OMA) Penyebab tersering dari OMA adalah infeksi saluran pernafasan atas seperti flu atau sakit tenggorokan (faringitis). OMA lebih beresiko pada anak kecil dan bayi karena tuba eustachius yang lebih pendek, lebar dan mendatar sehingga kuman mudah masuk dari mulut ke telinga. Selain itu letak adenoid pada anak kecil dekat dengan lubang tuba di pangkal hidung, jadi bila ada infeksi maka adenoid membesar dan menutup lubang tuba. Tambahan pula pertahanan tubuh anak kecil masih rentan, jadi infeksi mudah menyebar. Semakin sering sang anak terkena infeksi saluran nafas bagian atas maka semakin besar resiko terkena OMA. Kuman penyebab utama pada OMA adalah bakteri piogenik seperti streptokokus hemolitikus, stafilokokus aereus, dan pneumokokus. Perubahan mukosa telinga tengah selama OMA terjadi dapat dikategorikan menjadi 5 stadium yaitu : 1. stadium oklusi yang ditandai dengan gambaran tarikan/ retraksi pada gendang telinga dan penumpukan cairan mungkin telah terjadi. Biasanya penderita mengeluh rasa penuh pada telinga.

2. stadium hiperemis (stadium presupurasi) dimana tampak gambaran gendang telinga yang memerah dan bengkak serta pembuluh darah sekitar yang melebar. Cairan yang terbentuk masih jernih jadi sulit untuk dilihat. Pada tahap ini mulai timbul rasa nyeri pada telinga. 3. stadium supurasi dimana terjadi bengkak yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel permukaan sehingga terbentuk cairan yang purulen (seperti nanah) di gendang telinga. Pada stadium ini pasien tampak sangat kesakitan, nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga yang bertambah hebat. Pada stadium ini harus dilakukan pengobatan yang tepat bahkan miriongotomi (pengirisan pada gendang telinga agar ada lubang untuk mengeluarkan cairan yang terbentuk) bila perlu, untuk mencegah pecahnya gendang telingan akibat tekanan cairan purulen yang kuat. 4. stadium perforasi. Stadium ini terjadi bila pengobatan tidak adekuat atau terlambat dimana gendang telinga pecah dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Pada stadium ini kondisi penderita akan membaik, suhu badan turun dan tenang. 5. stadium resolusi, bila pecahnya gendang telinga tidak parah mungkin terjadi proses penyembuhan, akan tetapi bila daya tahan tubuh kurang maka dapat berkembang menjadi radang telinga supuratif kronik. Gejala utama pada OMA biasanya rasa nyeri di telinga selain suhu tubuh yang tinggi, pendengaran yang berkurang atau rasa penuh di telinga. pada anak-anak dapat terlihat dari sikap yang gelisah, sulit tidur kejang-kejang, hilang kesembangan atau mungkin memegang telinga yang sakit. Pengobatan pada OMA ini tergantung dari sradium penyakit pada saat itu. Pada stadium oklusi, pengobatan bertujuan untuk membuka tuba eustachius sehingga cairan yang ada dapat dialirkan ke rongga mulut. Obat yang diberikan berupa tetes hidung yang mengandung HCl efedrin. Obat diteteskan di hidung dengan posisi kepala menengadah agar obat dapat masuk liang tuba yang ada di pangkal hidung. Selain itu juga diberikan antibiotika untuk menghilangkan bakteri penyebab. Pada stadium presupurasi diberikan antibiotika, obat tetes hidung dan analgesic untuk menghilangkan nyeri. Bila gendang telinga tampak membengkak dan merah sebaiknya dilakukan miringotomi untuk mencegah pecahnya gendang telinga sehingga resiko tuli mengecil. Pada stadium supurasi dilakukan pemberian antibiotika dan miringotomi selama gendang telinga masih utuh. Pada stadium perforasi dilakukan pemberian obat cuci telinga dan antibiotika adekuat. Sehingga nanah berkurang dan diharapkan gendang telinga dapat menutup kembali. Bila tidak terjadi resolusi pada gendang telinga, maka akan terjadi pengeluaran cairan / nanah secara terus menerus atau hilang timbul dari telinga tengah dan dapat terjadi gangguan pendengaran / tuli. Kondisi ini bila berlangsung lebih dari 2 bulan akan disebut otitis media supuratif kronik.

Radang telinga supuratif kronik (otitis media supuratif kronik/ OMSK) OMSK merupakan kelanjutan dari OMA yang tidak sembuh. OMSK adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi (berlubangnya) gendang telinga dan cairan yang keluar terus menerus atau hilang timbul. Cairan yang keluar dapat berupa encer, kental, bening atau nanah. Kondisi ini yang biasa disebut congek atau tuli pada masyarakat. OMA dapat berkembang menjadi OMSK karena beberapa factor yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. terapi yang terlambat diberikan terapi yang tidak tepat virulensi kuman yang tinggi daya tahan tubuh pasien yang rendah kebersihan buruk

Berdasarkan keganasannya, maka OMSK dapat dibagi menjadi : 1. OMSK tipe jinak dimana peradangan hanya terbatas pada mukosa saja dan tidak megenai tulang. Lubang perforasi berada di tengah gendang telinga. OMSK jenis ini tidak menimbulkan komplikasi yang berbahaya 2. OMSK tipe ganas dimana peradangan mengenai tulang dan disertai koleastoma. Lubang perforasi terletak marginal/tepi atau atik. Ini OMSK yang berbahaya dan dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Selain perforasi terdapat juga nanah pada belakang telinga, polip / jaringan granulasi pada telinga luar yang berasal dari telingan dalam, kolesteatom pada telinga tengah, dan cairan berbentuk nanah dan berbau khas. Terapi pada OMSK tipe jinak biasanya dengan obat-obatan, obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan miringoplasti (operasi penambalan gendang telinga yang berlubang) selain itu sumber infeksi harus dilenyapkan terlebih dahulu. Sedangkan untuk OMSK tipe ganas harus dilaksanakan pembedahan sesegera mungkin berupa mastoidektomi dengan atau tanpa miringoplasti. Radang telinga serosa akut (otitis media serose/barotrauma) Otitia media serosa akut adalah keadaan terbentuknya cairan di telinga tengah secara tibatiba yang disebabkan gangguan pada fungsi tuba eustachius. Cairan yang terbentuk biasanya encer dan jernih. Barotrauma ini lebih sering terjadi pada dewasa. Hal ini dapat terjadi akibat ; 1. 2. 3. 4. sumbatan tuba, dalam hal ini disebabkan perubahan tekanan yang tiba-tiba. virus yang berasal dari infeksi saluran pernafasan atas alergi yang biasanya berasal dari saluran pernafasan atas idiopatik / tidak diketahui sebabnya

Gejala yang khas dan menonjol pada penyakit ini adalah pendengaran yang berkurang, selain itu juga adanya keluhan rasa tersumbat pada telinga atau suara sendiri terdengar lebih keras dari suara luar pada telinga yang terkena. Karena penyebab radang telinga adalah virus maka tidak terdapat rasa nyeri pada telinga.

Pengobatan yang diberikan dapat berupa obat-obatan seperti vasokonstriktor local (tetes hidung), anti histamine dan perasat valsava atau miringotomi. Radang telinga serosa kronik (otitis media serosa kronik/glue ear) Glue ear adalah keadaan timbulnya cairan pada telinga tengah secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan gejala-gejala pada telinga yang berlangsung lama. Glue ear lebih sering terjadi pada anak-anak terutama usia 5-8 tahun. Cairan yang terbentuk kental seperti lem. Biasanya terjadi akibat OMA yang tidak sembuh sempurna, infeksi virus, keadaan alergi atau gangguan mekanis pada tuba. Gejala utama adalah tuli yang nyata karena secret yang kental. Gendang telinga terlihat utuh namun tertarik/retraksi, suram, kuning kemerahan, atau keabu-abuan. Terapi yang harus diberikan adalah miringotomi dengan pemasangan pipa grommet untuk mengeluarkan secret. Selain itu juga diberikan dekongestan tetes hidung serta kombinasi antihistamin- dekongestan per oral. Bial selama tiga bulan tidak terdapat hasil, dapat dilakukan tindakan pembedahan. Terlepas dari apapun jenis radang telinga yang anda derita, deteksi dini dan pengobatan yang tepat dan efisien merupakan hal yang harus dilakukan demi mencegah komplikasi yang dapat timbul. Penanganan yang tepat terutama pada anak-anak dapat mencegah tuli permanent yang tentu mengganggu masa depan mereka.

OTALGIA OTALGIA suatu gejala yang sangat lazim terjadi dan bisa dilukiskan sebagai rasa nyeri terbakar,berdenyut atau menusuk. Ia bisa ringan atau sangat hebat,atau konstan,intermiten atau sementara. Pada keadaan terakhir,biasanya sensasi ini dilukiskan sebagai nyeri tajam yang menusuk.Otalgia dapat primer maupun sekunder. Primer menggambarkan nyeri telinga akibat kelainan atau penyakit yang mengenai telinga,dan selalu disertai abnormalitas otoskopi.sekunder menggambarkan nyeri yang dialihkan ke telinga dan tidak disertai dengan abnormalitas otoskopi. Sedikitnya 50% dari semua nyeri yang dialami di telinga orang dewasa bersifat sekunder. Penilaian penomena ini mudah bila mengingat bahwa persarafan sensoris telinga terdiri dari saraf otak ke V,VII,IX,X dan pleksus servikalis (CI-3), ( Dr. Petns,adrianto penerbit buku kedokteran, penyakit telinga hidung dan tenggorokan) OTALGIA adalah suatu peradangan yang menimbulkan nyeri pada telinga dapat dilihat dengan melakukan inspeksi telinga bagian luar dan gendang telinga (membran timpani). Cedera yang terjadi pada daun telinga (pinna/aurikula) yang disertai hematoma dapat diketahui dari riwayat penyakitnya. Perikondritis daun telinga merupakan komplikasi yang jarang terjadi dan disebabkan oleh trauma, biasanya disebabkan oleh pseudomonas aeruginosa ( dr.jonathan oswam, petunjuk penting pada penyakit telinga hidung dan tenggorok) PENYEBAB Lokal Telinga luar a. Infeksi perikondritis Otitis eksterna Miringitis bulosa

1. (i)

Herpes zoster otikus b. Trauma hematoma subperikondrial Trauma oleh alat c. Tumor tumor jinak osteoma Tumor ganas karsinoma Sel skuamosa d. Lain-lain serumen keras Keratosis obturans (ii) Telinga tengah,mastoid dan tulang tmporal a. Infeksi sumbatan tuba eustachius Otitis media supuratif akut Otitis media sekretoria Mastoiditis akut Otitis media supuratif kronis b. Trauma barotrauma Trauma kepala c. Tumor tumor jinak - neuroma akustik tumor jinak karsinoma sel skuamosa d. Lain-lain bells palsy 2. (i) (ii) (iii) (iv) (v) Nyeri alih Rongga mulut dan nasofaring Gigi abses akar gigi Lidah karsinoma Tonsil tonsilitis akut Laring dan hipofaring Karsinoma Leher Artritis spina servikal Limpadenitis postaurikular Mediastinum benda asing di esofagus Lain-lain Sinusitis Disfungsi sendi temporomandibular

DIAGNOSIS 1. Anamnesis (i) Mulai timbulnya (ii) Lama keluhan (iii) Keluhan bertambah (iv) Keluar cairan dari telinga (otore) (v) Kurang dengar (vi) Vertigo (vii) Baru menderita infeksi saluran nafas atas (viii) Trauma 2. Pemeriksaan (i) Demam (ii) Telinga (iii) Hidung (iv) Orofaring dan rongga mulut

(v) (vi) (vii) 3. (i) (ii) (iii) (iv) (v)

Laring dan hipofaring Fungsi nervus fasial Leher Pemeriksaan penunjang Hematlogi Jumlah leukosit dan laju endap darah Gula darah Radiologi Foto mastoid Foto sinus paranasal Foto vertebra servikal Ortopantomogram Foto sendi temporomandibular Bakteriologi asupan mulut Audiometri Audiometri nada murni Timpanometri Pembedahan biopsi Pemeriksaan penunjang dipilih sesuai dengan hasil pemeriksaan klinik (victoria moore-gillon nicholas stafford, segi praktis telinga hidung tenggorok)

1. OTITIS EKSTERNA AKUTA Otitis eksterna akuta dapat berupa peradangan difus dan dapat pula merupakan sesuatu furunkel. Furunkel adalah suatu pembengkakan yang sangat sensitif dan nyeri didalam liang telinga (meatus) bagian luar ( diliang bagian meatus tulang yang tidak didapati folikel rambut). Gangguan pendengaran hanya terasa bila didapati sumbatan pada liang oleh adanya pembengkakan atau cairan, dan demam baru terjadi jika infeksi telah menyebar sampai ke daerah didepan telinga,misalnya karena selulitis atau erisipelas. Kelenjar getah bening yang membesar dan nyeri teraba didaerah didepan atau dibelakang telinga,tetapi bersifat suporfisial, berbeda dengan otitis media akuta yang nyeri tekannya baru terasa pada penekanan kuat . daun telinga terasa nyeri bila digerakkan dan ini juga tidak didapati pada otitis media akuta. Cairan yang keluar kental dan jumlahnya sedikit,berbeda dengan otitis media akuta dimana cairannya bersifat mukoid.( harold ludman MB,FRCS, petunjuk penting pada penyakit telinga hidung dan tenggorokan) Otitis eksterna bisa juga karena kelainan dermatologi, seperti dermatitis alergika atau seboreika dan psoriasis Pada pemeriksaan fisik,meatus tampak hiperemi dan adematosa. Keselruhan panjang meatus bisa membengkak serta bisa tak mungkin memasang spekulum karena nyeri hebat. Membran timpani bisa tersembunyi dari pandangan karena edema yang jelas atau sekret yang banyak. Harus diusahakan mengaspirasinya,jika mungkin. Jika membran tympani tak dapat dilihat,maka pasien harus melakukan kunjungan ulang setelah terapi empiris, sehingga status membran dapat dievaluasi. Hanya dalam cara ini dapat dilakukan pembedaan eksterna dan otitis media. (SeTH R.thaller, Mark S. Granick penyakit telinga hidung tenggorok) Penyebab (i) Infeksi Bakteri otitis eksterna difus Otitis eksterna sirkumskripta (furunkel) Otitis eksterna malignaBeda

dan mastoiditis akut frunkel Nyeri mendadak Tidak demam Tidak ada keluhan sistemik Membran timpani normal, Kalau dapat dilihat Rasa nyeri maksimal Pada palpasi tragus Tidak terdapat sulkus postaurikular Pemeriksaan Jumlah leukosit normal penunjang Audiometri nada murni Normal atau tuli konduktif 10-15 dB Foto mastoid lateral Mungkin tampak sel mastoid berselubung karena edema jaringan lunak postaurikular tetapi pada foto sub-mentovertikal Tampak sel udara mastoid normal terapi Tampon gliserin/ichtyol Anti biotik sistemik Insisi dan drainase Kadang-kadang diperlukan Mastoiditis akut Nyeri bertambah setelah menderita otitis media Demam Badan merasa lemah Membran timpani merupakan tanda otitis media Rasa nyeri maksimal di segitiga MacEwen dan di sel udara mastoid ukus Postaurikular utuh Jumlah leukosit meninggi Audiometri nada murni : tuli konduktif 30-40 dB Foto mastoid : tampak perselubungan seluruh mastoid, Atau sel udara mastoid tidak tampak Bila belum terbentuk Abses diberikan antibiotik perenteral selama 24 jam Mastoidektomi kortikal segera dilakukan bila terbentuk abses atau setelah 24 jamdiberi antibiotik tidak ada perbaikan

anamnesis pemeriksaan

b.virus

c. jamur

miringitis bulosa herpes zoster otikus (sindrom ramsay hunt) herpes simpleks candida albicans aspergillus niger

Non infeksi Terlokalisasi alergi (terhadap antibiotik topikal) Iradiasi b. Penyakit kulit yang menyeluruh Eksim Psoriasis Otitis eksterna seboroika on nicholas stafford, segi praktis telinga hidung tenggorok) (ii) a. 2. OTITIS EKSTERNA MALIGNA Otitis eksterna maligna salah satu dari beberapa infeksi telinga yang mengancam nyawa. Ia disebabkan oleh pseudomonas aeruginosa. Otitis eksterna maligna tampak dimulai sebagai otitis eksterna. Khas ia timbul pada pasien yang mempunyai resistensi yang rendah, yaitu pasien diabetes tua dan terimunosupresi. Otitis eksterna maligna ditandai oleh nyeri hebat,tanda diagnostik paling jelas pada pemeriksaan fisik adalah jaringan granulasi yang

terletak pada sambungan meatus acusticus oxternus tulang dan tulang rawan. Sekitar 50% pasien yang menderita otitis eksterna maligna menderita keterlibatan nervus facialis. Penyakit ini berlanjut ke neuropati beberapa saraf otak. Akibat penyakit ini bisa fatal. (SeTH R.thaller, Mark S. Granick penyakit telinga hidung tenggorok) 1. Gambaran klinik (i) Terdapat pada pasien tua dengan diabetes atau pasien dengan kelainan imunologik. (ii) Pada kebanyakan pasien ditemukan kuman pneusomonas pyocyaneus. (iii) Otitis eksterna yang disebabkan oleh bakteri dengan adanya jaringan granulasi diliang telinga luar (iv) Pad akeadaan lanjut terjadi perikondritis daun telinga dan osteitis dengan nekrosis didasar tengkorak (v) Sebagai komplikasi dapat terjadi trombosis sinus lateralis, apesitis petrosus, meningitis, abses serebri dan ruptur arteri karotis (vi) Pada keadaan lanjut biasa terdapat kelumpuhan saraf otak, misalnya saraf wajah ( nervus fasial), sindrom fosa jugulare, denagn kelumpuhan saraf otak yang multipel angka kematian 80%. 2. Pengobatan (i) Pada keadaan dini Dirawat dirumahsakit Pembersihan telinga berulang dan jaringan granulasi dikeluarkan Diberi gentamisin topikal serta disuntik gentamicin dan carbenicilin (ii) Pada keadan lanjut, apabila tidak tampak respon setelah pengobatan dengan antibiotik selama 72 jam Eksisi luas pada tulang rawan, jaringan lunak dan tulang yang terinfeksi Dilakukan mastoidektomi apabila pada pemeriksaan radiologik terdapat mastoiditis (iii) Pemberian antibiotik diteruskan sampai sekurang-kurangnya satu bulan. 3. Diagnosis banding dari granulasi yang berdarah diliang telinga luar (i) Otitis eksterna bakterial (ii) Otitis eksterna maligna (iii) Penyakit granulomatosis, seperti tuberkulosis,granuloma wegener (iv) Karsinoma sel skuamosa (v) Tumor glomus (victoria moore-gillon nicholas stafford, segi praktis telinga hidung tenggorok) 3. MASTOIDITIS AKUTA Mastoiditis akuta disebabkan oleh hancurnya dinding tulang-tulang tipis diantara sel-sel udara mastoid (cellulae mastoidea), suatu proses yang membutuhkan waktu 2-3 minggu. Selama tengga waktu tersebut, sejak timbulnya otitis media akuta,terjadi pengeluaran cairan yang kontinyu dan yang semakin banyak melalui lubang perforasi gendang. Bila seorang pasien menderita nyeri beberapa hari setelah membran timpani secara meyakinkan menunjukan keadaan normal maka padanya tidak akan terjadi mastoiditis. Kesulitan timbul bila penderita otitis media akuta dianggap sudah sembuh padahal kondisinya masih belum memuaskan, kadang-kadang karena pemakaian anti biotik sistemik sangat minimal. Matoiditis harus dicurugai bila keluarnya cairan terus menerus berlangsung selama lebih dari 10 hari secara kontinyu, lebih-lebih bila si penderita selama ini merasa kurang sehat. Radiografi mastoid kadang-kadang dapat membantu. Mastoiditis hanya dapat disingkirkan bila secara radiologi menunjukkan aerasi yang jernih dan normal pada sistem sel mastoid. Otitis eksterna dapat memberikan gambaran yang kabur apda sistem sel karena terjadinya edema pada jaringan lunak sekitar mastoid. Pembengkakkan klasik dibelakang telinga disertai pergeseran daun telinga kebawah menunjukkan suatu abses subperiosteal, yang lebih

cenderung dianggap sebagai komplikasi ketimbang tanda dari mastoiditis. Dengan mengadakan erosi terhadap dinding atik bagian luar, abses subperiosteal akan menyebabkan pembengkakkan dibagian dalalm liang telinga. Kontras dengan suatu furunkel yang selalu timbul dibagian luar liang telinga. Apabila dengan pemeriksaaan radiologik mastoid masih meragukan, sebaiknya dipertimbangkan melakukan eksplorasi secara bedah. (Harold ludman MB,FRCS, petunjuk penting pada penyakit telinga hidung dan tenggorok) A. Tes laboratorium Contoh nanah harus diambil untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas antibiotika. Pemeriksaan audiometri akan menunjukan tuli konduktif; roentgenogram akan menunjukkan perkabutan difus sel-sel mastoid. B. Terapi Pasien dirumahsakitkan dan harus diberi infus IV untuk pemberian antibiotika penisilin dosis besar, karena organisme penyebabnya mungkin streptococcus -hemoliticus atau pneumococcus. H. Influenza harus juga dicakup sampai didapat hasil kultur. Terapi medis tambahan serupa untuk otitis media supurativa akuta. Bila perforasi membran timpani kecil dan drainase tidak tampak adekuat atau pada pasien yang jarang dengan membrana timpani yang utuh dan menonjol, harus dilakukan insisi miringotomi yang besar pada membran timpani. Bila terjadi abses subperiosteal yang segera tidak menyembuh, ia harus diinsisi dan didrainase. Biasanya mastoiditis akan sembuh total dengan terapi medis atau dengan tindakan bedah minor yang disebutkan, dan hanya kadang-kadang diperlukan mastoidektomi. ( Dr. Petns,adrianto penerbit buku kedokteran, penyakit telinga hidung dan tenggorokan) 4. OTITIS MEDIA SEKRETORIA Nyeri sementara merupakan ciri khas Glue Ear.karena adanya efusi, membran timpani tampak abnormal. Secara klasik dijumpai injeksi dengan pembuluh-pembuluh darah radial yang jelas,yang kalau kurang teliti dapat didiagnosis secara salah sebagai otitis media. Warnanya dapat kekuning-kuningan, atau kadang-kadang biru. Anak tampak sehat dan afebris, tetapi biasanya disertai gangguan pendengaran selama beberapa waktu. (Harold ludman MB,FRCS, petunjuk penting pada penyakit telinga hidung dan tenggorok) 5. BAROTRAUMA OTITIK (AEROTITIS) Barotrauma atau aerotitis media merupakan perdarahan akut atau efusi serosa ke dalam ruangan telinga tengah sekunder terhadap perubahan akut dalam tekanan atmosfir. Hal ini bisa karena perjalanan dengan pesawat udara atau penyelaman scuba. Secara spesifik aerotitis menunjukan fenomena yang timbul bila ada efusi akut cairan serosa atau benar-benar pecahnya pembuluh darah kecil (hemotimpanum) didalam ruangan telinga tengah, akibat perubahan tekanan mendadak didalam kabin pesawat udara bertekanan. Telinga tak berhasil menyesuaikan diri dengan relatif hampa udara yang tercipta didalam ruangan telinga tengah oleh perubahan tekanan ini. Pasien hampir selalu mempunyai riwayat infeksi saluran pernafasan atas yang berhubungan. Nyeri yang timbul dengan barotrauma biasanya digambarkan cepat dan menyiksa. Pasien juga mengeluh sensasi tekanan yang jelas. Mungkin ada tuli konduktif yang menyertai. Pada pemeriksaan, mungkin ada perubahan warna membran timpani akibat efusi serosa atau perdarahan kecil serta pembuluh darah terdistensi yang menunjukkan hemotimpanum. (SeTH R.thaller, Mark S. Granick penyakit telinga hidung tenggorok) Tekanan atmosfer yang meningkat dengan tiba-tiba dapat menyebabkan berbagai kelainan pada telinga Otitis media sekretori (dengan atau tanpa hemotimpanum)

Perforasi membran timpani Tulang pendengaran pecah(rusak) Ruptur membran labirin Tuli sensorineural Disfungsi vestibular (victoria moore-gillon nicholas stafford, segi praktis telinga hidung tenggorok) 6. MIRINGITIS BULOSA Miringitis bulosa terdiri dari nyeri telinga serta gelembung hemoragik dikulit meatus akustikus eksternus dan pada membran timpani. Terdapat bukti bahwa miringitis bulosa dapat disebabkan oleh berbagai agen, seperti mycomplasma pneumoniae dan berbagai virus yang berhubungan dengan coomon cold, influenza dan morbili. Penyakit ini sembuh sendiri dengan nyeri yang mereda serta gelembung mengering dan menghilang setelah beberapa hari. Tidak terdapat demam, eksudat purulen atau tuli tanpa infeksi bakteri sekunder. a. terapi kecuali terjadi infeksi bakteri sekunder, tidak diindikasikan pemberian antibiotika. Umumnya pemecahan bullae tidak menghilangkan nyeri. Dapat diberikan analgesik sesuai kebutuhan. ( Dr. Petns,adrianto penerbit buku kedokteran, penyakit telinga hidung dan tenggorokan) Gambaran klinik (i) sering bersama dengan epidemi influensa (ii) anak dan dewasa muda yang terkena (iii) nyeri telinga hebat dan terdapat bula yang hemoragik dimembran timpani (iv) bila bula pecah terdapat sekret serosa yang berdarah (serosanguineus) diliang telinga (v) tuli hanya terjadi apabila terbentuk efusi ditelinga tengah (10%) (vi) dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri pada bula. (victoria moore-gillon nicholas stafford, segi praktis telinga hidung tenggorok)

ASUHAN KEPERAWATAN OTALGIA A. PENGKAJIAN a. Identitas klien Keluhan utama Biasanya klien mengeluh adanya nyeri hebat, apalagi jika daun telinga disentuh. Adanya sekret yang keluar dari telinga, kadang-kadang disertai bau yang tidak sedap. Terjadi pembengkakan pada liang telinga. Terjadi gangguan pendengaran dan kadang-kadang disertai demam. Telinga juga terasa gatal. b. Riwayat penyakit sekarang Tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan, apakah tiba-tiba atau perlahan-lahan, sejauh mana keluhan dirasakan, apa yang memperberat dan memperingan keluhan dan apa usaha yang telah dilakukan untuk mengurangi keluhan. c. Riwayat penyakit dahulu Tanyakan pada klien dan keluarganya ; apakah klien dahulu pernah menderita sakit seperti ini ? apakah sebelumnya pernah menderita penyakit lain, seperti panas tinggi, kejang ?, apakah klien sering mengorek-ngorek telinga sehingga terjadi trauma ?, apakah klien sering berenang ? Apakah klien saat dilahirkan cukup bulan, BBLR, apakah ibu saat hamil mengalami infeksi, dll .d. Riwayat penyakit keluarga Apakah ada diantara anggota keluarga klien yang menderita penyakit seperti klien saat ini dan apakah keluarga pernah menderita penyakit DM.

B. PEMERIKSAAN FISIK a. Inspeksi Inspeksi liang telinga, perhatikan adanya cairan atau bau, pembengkakan pada MAE, warna kulit telinga, apakah terdapat benda asing, peradangan, tumor. Inspeksi dapat menggunakan alat otoskopik (untuk melihat MAE sampai ke membran timpany). Apakah suhu tubuh klien meningkat. b. Palpasi Lakukan penekanan ringan pada daun telinga, jika terjadi respon nyeri dari klien, maka dapat dipastikan klien menderita otitis eksterna sirkumskripta. C. DATA SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF Data subjektif Klien mengeluh pendengarannya berkurang, sering keluar sekret yang berbau. Klien mengeluh telinganya sakit/nyeri atau terasa gatal. Klien mengatakan terjadi trauma pada telinganya (karena jatuh, berolahraga, dll). Klien sering berenang dan mengorek telinganya. 2. Data objektif Klien berespons kesakitan saat daun telinganya disentuh. Klien tampak menggaruk-garuk telinganya atau meringis kesakitan. Klien sering mendekatkan telinganya kepada perawat saat perawat berbicara. Tampak sekret yang berbau. Adanya benjolan atau furunkel pada telinga atau filamen jamur yang berwarna keputihputihan. Liang telinga tampak sempit, hyperemesis dan edema tanpa batas yang jelas. D. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL Nyeri (akut/kronis) b/d trauma, infeksi atau demam sekunder terhadap kecelakaan, infeksi oleh jamur / virus / bakteri , ditandai dengan : (i) Klien mengeluh telinganya sakit/ nyeri,gatal. (ii) Klien tampak menggaruk-garuk telinganya,meringis kesakitan. (iii) Klien berespon kesakitan saat telinganya disentuh. (i) Terdapat benjolan,edema,furunkel,filamen jamur pada telinga. (v) Klien demam ( pada OED ). Intervensi keperawatan: Kaji tingkat nyeri klien / demam klien. Lakukan pembersihan telinga secara teratur dan hati-hati. Beri penyuluhan kepada klien tentang penyebab nyeri dan penyakit yang dideritanya / demamnya. Lakukan aspirasi secara steril (bila terjadi abses) untuk mengeluarkan nanahnya, jika dinding furunkelnya tebal, dilakukan insisi kemudian dipasang drainage untuk mengalirkan nanah. Berikan kompres dingin bila demam. Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik dan antibiotik dosis tinggi (pada OEM). Gangguan komunikasi verbal yang berhubungan dengan kesukaran memahami orang lain (kurangnya pendengaran), sekunder terhadap penumpukkan serumen/sekret pada liang telinga, jaringan granulasi yang subur, edema pada liang telinga, ditandai dengan : Klien mengeluh pendengarannya berkurang. Intervensi Keperawatan : Identifikasi metode alternatif dan efektif untuk berkomunikasi, menggunakan tulisan atau isyarat tangan dengan cara menunjuk (gerakan pantomin). Kurangi kebisingan lingkungan.

1. a. b. c. d.

(i) (ii) (iii) (iv) (v) (vi)

a. b.

c. Perawat atau keluarga berbicara lebih keras serta menggunakan gerak tubuh. d. Usahakan saat berbicara selalu berhadapan dengan klien. Resiko gangguan konsep diri berhubungan dengan terjadinya ketulian, pengeluaran sekret yang banyak dan berbau, sekunder terhadap tanda-tanda infeksi : jamur, bakteri, virus, alergi, penumpukkan serumen, penutupan liang telinga oleh jaringan granulasi yang subur atau furunkel yang membesar. Intervensi Keperawatan : o Dorong individu untuk mengekspresikan perasaan, khususnya mengenai pandangan, pemikiran dan perasaan sesesorang. o Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah, penanganan, perkembangan dan prognosa kesehatan. o Berikan informasi yang akurat kepada klien dan perkuat informasi yang sudah ada. o Berikan dorongan untuk pilihan pemecahan masalah. o Perjelas berbagai kesalahan konsep individu mengenai diri, perawatan atau pemberi perawatan. o Hindari kritik negatif. o Beri privacy dan suatu keamanan lingkungan. o Bersihkan dan keluarkan serumen/sekret. o Pasang tampon yang mengandung antibiotik. penito, Lynda Juall, 2000, Buku saku Diagnosa Keperawatan Edisi VIII, EGC, Jakarta.)