Anda di halaman 1dari 16

PENGENALAN PEMADAM KEBAKARAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA

Sebagai Laporan atas Seminar yang Diikuti Pada Tanggal 13 Desember 2012

Oleh: IKHWAN SETIAWAN (10320047)


UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA FAKULTAS EKONOMI PRODI AKUNTANSI S1 SEMESTER V (PAGI)

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan BAB II PEMBAHASAN A. Profil DPK-PB DKI Jakarta 1. Struktur Organisasi 2. Visi & Misi 3. Tugas dan Fungsi B. Api dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) 1. Definisi Api 2. Metode Pemadaman Kebakaran 3. Klasifikasi Pembakaran 4. Klasifikasi Alat Pemadam Api Ringan (APAR) C. Kendala Petugas Pemadam Kebakaran 1. Kendala yang Dialami Petugas Pemadam Kebakaran 2. Alternatif Pemecahan Masalah D. Potensi Ancaman Bahaya Kebakaran 1. Bangunan Menengah dan Tinggi 2. Bangunan Prototipe Ruko (Rumah dan Kantor) 3. Kawasan Tempat Hiburan 4. Kawasan Industri dan Pergudangan 5. Lingkungan Pemukiman Tak Tertata/Kumuh BAB III KESIMPULAN

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bahaya kebakaran adalah bahaya yang tidak dapat diduga kapan akan datang. Aktivitas-aktivitas penghuni bangunan dan berbagai peralatan yang digunakan dapat menjadi penyebab kebakaran. Bangunan perlu dilengkapi proteksi kebakaran, sarana penanggulangan kebakaran dan fasilitas penyelamatan jiwa, seperti alat pemadam kebakaran, sistem alarm kebakaran, sprinkler otomatis, tangga darurat yang kedap asap, pintu darurat yang tahan api serta tempat evakuasi. Fasilitas tersebut tidak hanya harus disiapkan, tetapi juga perlu diperhatikan persyaratan teknis dan standar mutu serta perawatannya. Sarana tersebut apabila tidak dirawat dapat tidak berfungsi sama sekali apabila terjadi kebakaran. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mempunyai tanggung jawab atas keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya. Unit pelaksana Pemerintah Provinsi yang betanggung jawab dan punya kewenangan atas faktor keamanan dan keselamatan bangunan serta penghuninya dari ancaman bahaya kebakaran adalah Dinas Pemadam Kebakaran. Tanggung jawab dan kewenangan ini merupakan salah satu fungsi utama dalam penyelenggaraan pemerintahan oleh aparatur dalam memberikan pelayanan, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tugas pokok Dinas Pemadam Kebakaran tidak hanya memadamkan kebakaran tetapi juga melaksanakan usaha-usaha pencegahan kebakaran dan penyelamatan jiwa. Tugas pokok ini dituangkan dalam visi Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta, yaitu "terciptanya rasa aman masyarakat dari kebakaran dan bencana lainnya". Pelaksanaan visi dituangkan dalam misi. Salah satu misi tersebut adalah memberikan pelayanan prima dalam bidang pencegahan, pemadaman dan penyelamatan. Pencegahan kebakaran merupakan hal yang penting, karena mencegah lebih baik dari pada menanggulangi. Pelaksanaan fungsi pencegahan kebakaran oleh Dinas Pemadam kebakaran Provinsi DKI Jakarta, dilaksanakan oleh Subdinas Pencegahan, Subdinas Pertisipasi Masyarakat dan Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Pemadam Kebakaran. Sebagai salah satu bagian dari Dinas Pemadam Kebakaran yang paling mungkin berhubungan langsung dengan masyarakat, Subdinas partisipasi masyarakat bertugas melaksanakan kegiatan penyuluhan kebakaran sebagai pemberdayaan masyarakat. Menyadari begitu beratnya tugas-tugas dan tantangan yang dihadapi jajarannya, lembaga DPK-PB tentu tidak akan berhasil menjalankan misinya secara maksimal tanpa

dukungan dan partisipasi masyarakat. Dan masyarakat sendiri baru dapat memberikan partisipasinya apabila mereka sudah memiliki pengetahuan yang memadai mengenai ancaman bahaya kebakaran secara menyeluruh. Untuk itu, perlu bagi masyarakat dari semua kalangan, baik pelajar, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum, untuk mengikuti Seminar Pengenalan Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana yang secara rutin diadakan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta.

B. TUJUAN Penulisan makalah ini secara umum bertujuan untuk menjabarkan berbagai

pengetahuan yang didapat penulis dari seminar yang diikuti pada hari kamis, tanggal 13 Desember 2012, mengenai "Pengenalan Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana" yang diselenggarakan oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta. Mengingat banyaknya materi yang disampaikan pada seminar tersebut dan ketidaksiapan serta keterbatasan penulis terutama dalam hal waktu, maka makalah ini hanya akan membahas beberapa poin penting diantaranya: Profil DPK-PB DKI Jakarta, Api dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), Kendala Petugas Pemadam Kebakaran, serta Potensi Ancaman Bahaya Kebakaran. Dilihat dari beberapa poin penting yang akan dibahas, maka tujuan penulisan makalah ini secara rinci adalah sebagai berikut: Untuk mengetahui Profil Dinas Pemadam Kebakaran dan penanggulangan Bencana DKI Jakarta. Untuk mengetahui penjelasan umum mengenai api dan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Untuk mengetahui kendala apa saja yang biasa dialami oleh petugas pemadam kebakaran. Untuk mengetahui potensi ancaman bahaya kebakaran di berbagai kawasan/lingkungan di wilayah DKI Jakarta.

BAB II PEMBAHASAN A. PROFIL DINAS PEMADAM KEBAKARAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA (DPK-PB) DKI JAKARTA 1. Struktur Organisasi

KEPALA DINAS

SEKRETARIAT SUB BAGIAN PROGRAM DAN ANGGARAN SUB BAGIAN KEPEGAWAIAN

SUB BAGIAN KEUANGAN

SUB BAGIAN UMUM

BIDANG PENCEGAHAN KEBAKARAN

BIDANG OPERASI

BIDANG PENANGULANGAN BENCANA

BIDANG SARANA

BIDANG PERTISIPASI MASYARAKAT

Sekretariat Dinas Sekretariat merupakan unit kerja lini staf yang mendukung fungsi dinas dalam bidang administrasi yang meliputi kepegawaian, logistik dan keuangan. Bidang pencegahan Kebakaran Bidang pencegahan Kebakaran merupakan unit kerja lini staf dalam pelaksanaan upaya pencegahan kebakaran dan keselamatan jiwa pada bangunan. Tugas pokok Bidang pencegahan Kebakaran adalah melakukan upaya pengendalian bahaya kebakaran pada setiap tahapan penyelenggaraan bangunan, dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan

pembangunan, pemanfaatan bangunan. Bidang Operasi Bidang operasi merupakan unsur unit kerja lini staf sebagai pendukung bagi keberhasilan suatu operasi pemadaman kebakaran dan penyelamatan. Tugas pokok bidang operasi meliputi penyiapan data pendukung operasi, membantu pimpinan dinas dalam fungsi pengendalian

operasi , penyiapan rancana operasi dan penyiapan bantuan tenaga atau personil untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran dan penyelamatan jiwa. Bidang Sarana Bidang sarana merupakan unsur unit kerja lini staf yang mempunyai tugas pokok menyiapkan dan mengelola sarana untuk mendukung operasi pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana. Kegiatan Bidang Sarana ini mulai dari proses penyusunan rencana pengadaan, distribusi dan pengendalian sarana operasi. Bidang Penanggulangan Bencana Bidang Penanggulangan Bencana merupakan unsur unit kerja lini yang dipersiapkan untuk melaksanakan tugas penanggulangan bencana. Kegiatan Bidang ini meliputi hal-hal yang terkait dengan kebencanaan, mulai dari kegiatan pra-bencana, kegiatan pada saat kejadian bencana dan kegiatan setelah (pasca) kejadian bencana. Di dalamnya juga termasuk melakukan kegiatan dalam rangka mitigasi atau pengurangan risiko akibat bencana. Bidang Partisipasi Masyarakat Bidang Partimas merupakan unsur unit kerja lini yang disiapkan untuk melaksanakan tugas pembinaan dan pengembangan peran serta masyarakat dalam pencegahan dan

penanggulangan kebakaran serta penanggulangan bencana. Selain itu, Bidang Partimas juga berperan dalam upaya mempublikasikan kebijakan pemerintah serta hal-hal terkait dengan penyelenggaraan pelayanan dalam bidang kebakaran dan penanggulangan bencana.

2. Visi & Misi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta memiliki visi dan misi sebagai berikut: Terciptanya Rasa Aman Masyarakat dari Kebakaran dan Bencana Lain Sedangkan misi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI Jakarta adalah: Memberikan Pelayanan Prima dalam Bidang Pencegahan, Pemadaman, dan

Penyelamatan. Meningkatkan Ketahanan Lingkungan bersama Masyarakat. Meningkatkan Kerjasama dengan Instansi Terkait.

3. Tugas dan Fungsi Tugas: Melaksanakan pencegahan, pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana.

Fungsi: a. Menyusun, dan melaksanakan rencana kerja dan anggaran; b. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pencegahan, pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana; c. Melaksankan upaya pencegahan, pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana; d. Pertolongan pertama dan penyelamatan pada kebakaran dan kejadian bencana termasuk pelaksanaan pelayanan ambulans darurat dan/atau evakuasi; e. Pengawasan dan pengendalian peredaran barang dan bahan yang mudah terbakar; f. Pengadaan, pemeliharaan, perawatan dan pemanfaatan sumber air dan/atau bahanbahan lain, prasarana dan sarana pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana; g. Memberdayakan masyarakat di bidang usaha pencegahan, pemadaman kebakaran, dan penanggulangan bencana; h. Pemegang komando dan koordinasi dalam operasi pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana; i. j. Penelitian dan pengujian bahan kebakaran di laboraturium; Menyelidiki sebab-sebab kebakaran atau bencana lain bekerjasama dengan instansi terkait; k. Pengoordinasian dan bimbingan teknis upaya pencegahan, pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana pada instansi pemerintah, swasta, dan/atau masyarakat; l. Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dan/atau tenaga bantuan pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana; m. Monitoring dan evaluasi ketersediaan dan kelaikan sistem proteksi kebakaran dan penyelamatan jiwa pada gedung/kantor pemerintah/swasta/masyarakat; n. Standarisasi prasarana dan sarana pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana baik pemerintah, masyarakat maupun swasta; o. Menegakkan peraturan perundang-undangan di bidang kebakaran dan penanggulangan bencana;

p. Penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan, dan perawatan prasarana dan sarana pemadaman kebakaran dan penanggulangan bencana; q. Memberikan dukungan teknis kepada masyarakat dan perangkat daerah; r. Mengelola kepegawaian, keuangan, barang, dan ketatausahaan dinas pemadam kebakaran dan penanggulangan bencana; s. Pelaporan, dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi.

B. API DAN ALAT PEMADAM API RINGAN (APAR) 1. Definisi Api Api adalah suatu reaksi kimia berupa oksidasi dari benda benda yang mudah terbakar, yang diikuti oleh suatu pelepasan energi didalam bentuk panas dan cahaya. Beberapa teori dikembangkan untuk menjelaskan tentang pembakaran dan

pemadaman. Dari teori-teori tersebut dibuat suatu transisi dari ilmu ukur bidang gambar bersegitiga, yang dikenal sebagai segitiga api. Unsur unsur Segitiga Api terdiri dari : a. Oksigen Di dalam udara normal terdapat sumber O2 sebanyak 21 %, dan hanya diperlukan sekitar 16% atau beberapa bahan bakar yang berisi 02 untuk dapat menyokong pembakaran. b. Panas Untuk mencapai suatu penyalaan diperlukan sumber sumber panas yang antara lain seperti: mata hari, permukaan permukaan panas, Bunga api dan bunga api listrik, gesekan aksi kimia, Energi Listrik, serta pemampatan gas gas dan lain-lain. c. Bahan Keadaan fisik dari bahan bahan yang mudah terbakar, seperti: Gas gas: Gas alam, Propane, Butane, Hidrogen, Acetylene, Co, dan lain lainnya. Cairan: Bensin, Minyak tanah, Turpentine, Alcohol, Minyak Ikan, Laut, Cat, Pernis, Minyak zaitun, dan lain lain . Padat: Batu bara, Kayu, Kertas, Pakaian, Lilin, Gemuk, Kulit, Plastik, gula, Padi, Jerami/rumput kering, gabus, dan lain lain.

2. Metode Pemadaman Kebakaran Berdasarkan teori segitiga api, terdapat 3 metode pemadaman kebakaran: a. Pindahkan bahan bakar Pemindahan bahan bakar untuk memadamkan api adalah efektif tetapi tidak selalu praktis atau memungkinkan. b. Menghilangkan Oksigen Proses api menjadi kecil atau menyelimuti akan memadamkan melalui pemisahan O2 dari hal hal utama lain yang membuat suatu api. c. Menurunkan Temperatur Suatu metode yang sudah terkenal digunakan adalah metode pemadaman kebakaran dengan pendinginan atau memadamkan ,diamana pengendalian temperature termasuk penyerapan panas karena akibat pendingunan bahan bakar sampai pada titik tertentu dimana panas berhenti untuk mengeluarkan cukup uap yang mudah menyala.

3. Klasifikasi Pembakaran Tipe alat pemadam kebakaran yang berbeda diperuntukkan untuk kelas kebakaran yang berbeda. Berikut klasifikasi pembakaran menurut sumbernya: a. Api kelas A: Yaitu kebakaran bahan padat kecuali logam misalnya, kertas, kayu, plastik, karet, dan lain-lain. b. Api kelas B: Yaitu kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar, misalnya, bensin, minyak tanah, solar, gas. c. Api kelas C: Yaitu kebakaran yang disebabkan oleh listrik . d. Api kelas D: Yaitu kebakaran yang disebabkan dari bahan logam misalnya titanium, almunium magnesil dan lain-lain.

4. Klasifikasi Alat Pemadam Api Ringan (APAR) Alat pemadam api ringan (APAR) biasanya berbentuk tabung berwarna merah berukuran sedang dan memiliki selang yang tidak terlalu panjang. Sejalan dengan klasifikasi

pembakaran diatas maka Alat Pemadam Api Ringan (APAR) berikut:

juga diklasifikasikan sebagai

a. Kategori A - APAR jenis ini berisi air bertekanan. Efektif apabila digunakan untuk memadamkan api pada benda-benda sejenis kayu, kertas, dan kain. Jangan menggunakannya untuk Kebakaran bahan cair mudah terbakar karena kebakaran bisa meluas, dan jangan menggunakannya untuk memadamkan kebakaran peralatan listrik karena air adalah penghantar arus listrik yang baik. b. Kategori B APAR jenis ini diisi dengan gas CO2 bertekanan tinggi. Lebih efektif apabila digunakan untuk memadamkan api pada minyak dan cairan lain yang mudah terbakar. CO2 tidak Efektif untuk Mematikan Kebakaran Kelas A Karena Tidak Mampu Menggeser Keberadaan Oksigen untuk Mematikan Kebakaran sehingga Kebakaran dapat Kembali Membara dan Menyala. c. Kategori C - APAR jenis ini berisikan Dry Chemical Powder. Efektif apabila digunakan untuk memadamkan api yang melibatkan alat-alat elektrikal. Apabila di tabung tertulis BC, maka berarti tabung itu efektif apabila digunakan untuk memadamkan kebakaran pada cairan yang mudah terbakar dan juga pada alat-alat elektrikal. d. Kategori D - Untuk memadamkan api karena bahan metal. Tapi kelas ini jarang digunakan.

C. KENDALA PETUGAS PEMADAM KEBAKARAN 1. Kendala yang Dialami Petugas Pemadam Kebakaran Kendala atau Permasalahan yang biasanya dialami oleh pihak Pemadam Kebakaran adalah sebagai berikut: a. Jalan - Lalin (Lalu Lintas) Keadaan Jalanan diwilayah Jakarta ini tidak bisa ditentukan. Kemacetan sudah bukan barang baru bagi warga Jakarta tak terkecuali pertugas pemadam kebakaran, terutama di jamjam berangkat dan pulang kerja. b. Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Kurangnya kesadaran masyarakat dilingkungan tersebut. Hal yang biasa terjadi adalah kemarahan masyarakat di lingkungan tersebut terhadap petugas pemadam kebakaran yang disebabkan telatnya datang ke TKP. c. Sumber Air Sulitnya mencari sumber air di wilayah Jakarta. Mungkin kita semua sudah paham tentang keadaan fisik di wilayah jakarta ini. Semua permukaan tanah sudah banyak yang tertutup dari pada yang terbuka, sehingga penyerapan air dalam tanah itu sangat sulit. Yang ada hanyalah kali, empang dan laut saja. Padahal hampir semua kali di Jakarta berisikan air berkualitas buruk. d. Adanya penelpon gelap Sering terjadi adanya penelpon gelap yang membuat bingung petugas untuk menanggapinya apakah benar terjadi kebakaran diwilayah tersebut. e. Kekurangan karyawan Kurangnya karyawan karena unit yang bertambah tidak diikuti dengan penambahan tenaga kerja karena tidak ada rekrutmen dari pemerintah.

2. Alternatif Pemecahan Masalah Dari pemasalahan-permasalahan diatas, didapat beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dapat digunakan untuk membantu petugas dalam menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut, diantaranya: a. Jalan - Lalin (Lalu Lintas) Petugas berkoordinasi dengan SATLANTAS agar perjalan ke TKP berjalan dengan lancar dan tidak mengalami kemacetan. Selain itu petugas juga diperbolehkan melalui jalur khusus busway untuk mempercepat perjalanan. b. Tempat Kejadian Perkara (TKP) Pemberitahuan kepada masyarakat dengan situasi yang dihadapi petugas saat itu. c. Sumber air

Petugas dapat memperoleh sumber air dengan cara berikut: Dengan cara STATIS, yaitu pencarian sumber air dengan cara roling atau bergantian. Dengan cara DINAMIS, yaitu pencarian sumber air dengan cara terhubung satu sama lain. d. Penelpon gelap Pengantisipasinya hanya perlu bukti lebih banyak lagi dengan landasan jika benar-benar terjadi kebakaran minimal ada 8-10 penelpon dengan nama dan alamat TKP yang sama. e. Kekurangan karyawan Pengajuan rekrutmen kepada pemerintah DKI jakarta.

D. POTENSI ANCAMAN BAHAYA KEBAKARAN 1. Bangunan Menengah dan Tinggi Kawasan bangunan menengah dan tinggi biasanya berfungsi sebagai pusat kegiatan perkantoran, perdagangan, pusat perbelanjaan/mall, hotel, dan apartemen. Oleh karena itu bangunan menengah dan tinggi identik dengan tempat berkumpulnya banyak orang, bahkan bisa mencapai ratusan sampai ribuan orang dalam satu bangunan. Bangunan menengah adalah bangunan 5 sampai dengan 8 lantai dengan ketinggian di atas 14 meter sampai dengan 40 meter. Sedangkan bangunan tinggi adalah bangunan 9 lantai ke atas dengan ketinggian lebih dari 40 meter. Jenis bangunan ini tersebar di 5 wilayah kota, dengan konsentrasi di kawasan segitiga emas (Jl.M.H, Thamrin, Jl. Gatot Subroto, Jl. Jend. Sudirman). Sampai saat ini jumlah bangunan menengah yang terdata di dinas pemadam kebakaran dan

Penanggulangan Bencana Provinsi DKI Jakarta mencapai 466 bangunan sedangkan untuk bangunan tinggi mencapai 535 bangunan.

Potensi terjadinya kebakaran: Pada kawasan bangunan menengah dan tinggi terdapat potensi besar akan terjadinya kebakaran. Jika terjadi kebakaran, besar kemungkinan keselamatan jiwa penghuni akan terancam karena beberapa hal, seperti: kobaran api dan asap menjalar ke atas, jalan keluar/sarana exit terbatas, penghuni tidak memahami jalur/rute jalan keluar.

Penanggulangannya relatif lebih sulit karena faktor ketinggiannya, transportasi peralatan dan petugas, koordinasi dan komunikasi antar sektor, pengendalian asap dan panas dalam ruangan.

2. Bangunan Prototipe Ruko (Rumah dan Kantor) Ruko biasanya merupakan bangunan yang tersusun dan bergandeng (kopel); terdiri dari 2 (dua) sampai 5 (lima) lantai. Atapnya dibuat datar, terbuat dari beton betulang dan sekaligus merupakan lantai teratas yang terbuka. Masing-masing unit ruko terpisah secara penuh dari bawah ke atas dengan dinding penyekat. Masing-masing unit tersedia 1 buah tangga yang menghubungkan lantai dasar sampai lantai teratas, yang biasanya disediakan bukan menuju lantai atap. Pada lantai atap setiap pemilik Ruko membuat pagar pembatas yang tinggi. Masingmasing unit Ruko biasanya menggunakan "Rolling Door" ditambah dengan pintu lipat dari bahan logam. Dan Bangunan Prototipe Ruko ini seringkali dialihfungsikan dari peruntukan semula, tanpa izin dari pihak yang berwenang.

Potensi terjadinya kebakaran: Jika terjadi kebakaran, kemungkinan jatuhnya korban jiwa sangat besar karena hal-hal berikut: Petugas pemadam kebakaran sulit memasuki lokasi karena terhalang Rolling Door. Penghuni sulit keluar karena jalan menuju keluar terhalang kobaran, dan mati karena pengaruh asap dan terbakar.

3. Kawasan Tempat Hiburan Tempat hiburan seperti bioskop, teater, Pubs, karaoke, tarian, dan lain-lain tersebar di lima wilayah kota, baik yang ada di dalam hotel-hotel maupun yang berdiri sendiri-sendiri. Bahan-bahan interior dan tata ruangnya biasanya mengutamakan keindahan den cenderung mengabaikan aspek bahaya kebakaran. Bersuasana temaram, redup dan mendekati gelap, bising dan sangat padat pengunjung. Pengunjung dalam suasana eforia, terkadang dalam kondisi setengah sadar (mabuk) dan cenderung mengabaikan kemungkinan datangnya bahaya.

Potensi terjadinya kebakaran: Pada suatu kebakaran awal, penghuni mungkin tidak mendengar tanda

peringatan/alarm karena suara bising. Kobaran api akan cepat menjadi besar karena tidak terkendali. Pengunjung dalam jumlah besar/padat akan berdesakan atau saling bertabrakan mencari jalan keluar karena ruangan sangat sempit dan gelap. Potensi terjadinya kepanikan massal sangat besar. Berpotensi besar menimbulkan korban jiwa yang mati di tempat.

4. Kawasan Industri dan Pergudangan Kawasan industri, baik besar maupun menengah, tersebar di beberapa wilayah DKI Jakarta, seperti di Pulogadung, Cakung, Semper, Sunter, Cengkareng, Rawa buaya, Kapuk muara dan Kamal. Selain itu terdapat pula sejumlah kegiatan industri rumah tangga yang berlokasi di daerah-daerah pemukiman.

Potensi terjadinya kebakaran: Kebakaran dapat dipicu oleh proses produksi, kelalaian manusia, kurang

memperhatikan aspek keselamatan, peralatan proteksi kebakaran yang tidak lengkap atau tidak siap atau prosedur tidak jelas. Keberadaan bahan-bahan berbahaya merupakan salah satu ancaman bahaya baik bagi karyawan maupun petugas pemadam kebakaran. Pada industri dengan jumlah karyawan massal, seperti garment dan mainan anak-anak, kemungkinan besar akan menimbulkan jatuhnya korban jiwa.

5. Lingkungan Pemukiman Tak Tertata/Kumuh Lingkungan pemukiman tak tertata (kumuh) tersebar pada 87 kelurahan di lima wilayah DKI Jakarta. Bangunan biasanya dibuat dari bahan seadanya dan mudah terbakar. Jarak antar rumah sangat rapat dan penempatannya tidak teratur. Penduduknya padat dengan tingkat kesadaran terhadap bahaya kebakaran rendah. Jalan lingkungan sempit, berupa gang-gang

panjang dan banyak belokan, kalaupun terdapat jalan lingkungan biasanya disalahgunakan untuk parkir kendaraan. Dan terakhir, sumber air di lingkungan ini biasanya langka atau jauh dari lokasi.

Potensi terjadinya kebakaran: Statistik DAMKAR & PB membuktikan tingginya potensi kebakaran di lingkungan ini. Jika terjadi kebakaran umumnya sulit dikendalikan dan cenderung membesar dan meluas. Mobil pemadam kebakaran sulit mendekati lokasi kebakaran dan sulit memperoleh pasokan air untuk pemadaman. Suasana di lokasi begitu kacau dan gaduh, seperti: sebagian masyarakat yang menonton, mengamankan barang-barang dan banyak juga yang menghambat kelancaran operasional petugas karena tindakan-tindakan mereka yang tidak koperatif terhadap petugas pemadam kebakaran.

BAB III KESIMPULAN 1. Dalam menjalankan fungsi-fungsinya, organisasi DPK-PB memiliki beberapa bagian, yang meliputi 1 sekretariat dengan 4 Sub bagian dan 5 Bidang, yaitu Bidang pencegahan Kebakaran, Bidang Operasi, Bidang Sarana, Bidang Penanggulangan Bencana, Bidang Partisipasi Masyarakat. Visi Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta, yaitu "terciptanya rasa aman masyarakat dari kebakaran dan bencana lainnya". Pelaksanaan visi dituangkan dalam misi. Selain itu, DPK-PB DKI Jakarta juga memiliki tugas dan fungsi tersendiri. 2. Api adalah suatu reaksi kimia berupa oksidasi dari benda benda yang mudah terbakar, yang diikuti oleh suatu pelepasan energi didalam bentuk panas dan cahaya. Unsur unsur Segitiga Api terdiri dari Oksigen, Panas, dan Bahan. Alat pemadam api ringan (APAR) biasanya berbentuk tabung berwarna merah berukuran sedang dan memiliki selang yang tidak terlalu panjang. Sejalan dengan klasifikasi pembakaran maka Alat Pemadam Api Ringan (APAR) diklasifikasikan sebagai berikut: Kategori A - berisi air bertekanan Kategori B diisi dengan gas CO2 Kategori C - berisikan Dry Chemical Powder Kategori D - Untuk memadamkan api karena bahan metal.

3. Kendala atau Permasalahan yang biasanya dialami oleh pihak Pemadam Kebakaran adalah sebagai berikut: Keadaan Jalanan (Lalu Lintas) yang tidak bisa ditentukan, kurangnya kesadaran masyarakat dilingkungan tempat kejadian perkara (TKP), sulitnya mencari sumber air, adanya penelpon gelap, dan kekurangan karyawan. 4. Potensi ancaman bahaya kebakaran berbeda-beda tergantung lingkungannya. Secara garis besar terdapat 5 (lima) lingkungan/kawasan yang memiliki potensi ancaman bahaya kebakaran, yaitu: Bangunan Menengah dan Tinggi, Bangunan Prototipe Ruko (Rumah dan Kantor), Kawasan Tempat Hiburan, Kawasan Industri dan Pergudangan, serta Lingkungan Pemukiman Tak Tertata/Kumuh. Kelima lingkungan ini tentunya memiliki karakteristik yang berbeda sehingga terdapat cara yang berbeda dalam usaha pencegahan kebakaran maupun tindak penanggulangan kebakaran pada masingmasing kawasan.