Anda di halaman 1dari 4

Pada saat ini, indonesia bukan sebagai negera berkembang lagi melainkan sudah menjadi negara miskin.

Indonesia digolongkan sebagai negara miskin karena penghasilan dan kualitas rakyatnya yang jauh dari kata berkecukupan. Kemiskinan berdampak pada aspek kehidupan lainnya yaitu kebutuhan pangan. Adanya kemiskinan dari suatu wilayah selalu diimbangi dengan kelaparan atau gizi buruk. Apabila gizi buruk tersebut dialami oleh balita akan mempengaruhi perkembangan sel otaknya. Akibatnya, kualitas Sumber Daya Manusia SDM juga berkurang. Oleh karena itu, kemiskinan merupakan permasalahan yang rumit dan kompleks serta mempengaruhi ketahanan, kemajuan, dan kemunduran suatu negara. Menurut Amartya Sen, kemiskinan adalah ketidakmampuan manusia yang ditandai pendidikan rendah, tak berpengetahuan, tak berketerampilan, dan ketidakberdayaan. Selain itu, ditandai ketiadaan kebebasan, keterbatasan ruang partisipasi, yang menghalangi warga untuk terlibat proses pengambilan keputusan publik kemiskinan secara konvesional adalah pendapatan yang kurang, distribusi pendapatan yang tidak merata sehingga menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar seharihari. Parameter pendapatan yang rendah bahkan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi. Parameter kemiskinan setiap negera berbeda-beda. Garis kemiskinan di indonesia yaitu pendapatan seseorang minimal Rp 5.000 per hari. Sedangkan, Bank Dunia menetapkan garis kemiskinan yaitu pendapatan seseorang harus Rp 20.000 per hari. Upah minimum Indonesia masih sangat rendah dan belum bisa mengimbangi upah minimum dunia. Visi pembangunan kesehatan seperti yang diktakan Menkes yaitu mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan, meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata dan mandiri, menjamin tersedianya sumber daya kesehtaan yang bermutu dan berkeadilan, menata pemerintahan kesehatan yang baik, pembiayaan kesehatan yang terjangkau, ketersediaan obat, manajemen kesehatan yang transparan. Kemiskinan digolongan menjadi tiga jenis, yaitu 1. Kemiskinan ekonomi Yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya Sumber Daya Manusia, terbatasnya lapangan pekerjaan, dan upah minimum yang sangat rendah. Manusia kurang memiliki sumber daya seperti pendidikan, ketrampilan, dan keahlian. Kemampuan seperti itu bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan meningkatkan taraf kesejahteraan. Pada umumnya, orang yang tidak memiliki kemampuan bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Kemudian, terbatasnya lapangan pekerjaan menyebabkan banyaknya pengangguran di usia produktif. Hal ini merupakan bom waktu bagi Indonesia karena mereka hanya menjadi beban negara tanpa bisa mengembangan kemampuannya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Sedangkan, bagi PRT yang telah bekerja menerima gaji dengan upah yang sangat rendah. Mereka menerima gaji sebesar Rp 5.000Rp 15.000 per hari. Padahal, untuk menuju kesejahteraan seseorang harus berpenghasilan minimal Rp 20.000 per harinya. Berdasarkan tingkat kebutuhan, kemiskinan ekonomi terbagi menjadi dua, yaitu a. Kemiskinan ekonomi absolut yaitu seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan minimumnya yaitu kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Kemiskinan ekonomi relatif yaitu seseorang yang sudah memenuhi kebutuhan minimum, tetapi kebutuhan seperti pendidikan dan kesehatan tidak terpenuhi. 2. Kemiskinan Sosial Yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kurangnya akses atau jaringan sosial untuk mengembangkan produktivitas yang ada didalam diri seseorang. Permasalahan pada kemiskinan sosial yaitu terbatasnya kesempatan. 3. Kemiskinan politik Yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh rendahnya sistem sosial dan politik di Indonesia. Penentuan alokasi penggunaan sumber daya di dunia politik. Tidak mudah mendapatkan suatu jabatan di bidang politik. Ada dua cara untuk mengakses sistem sosial dan politik yaitu melalui cara formal (partai) dan informal (loby, KKN) Terdapat dua faktor penghambat untuk terbebas dari kemiskinan yaitu faktor eksternal (struktural) yang meliputi birokrasi, fasilitas, dan peraturan yang mendiskriminatif dan faktor internal (kultural) yang meliputi tingkat pendidikan dan kebudayaan.

b.

Untuk mengatasi masalah kemiskinan dan mewujudkan kemajuan bangsa diperlukan peran serta dari pemerintah, seluruh lapisan masyarakat, dan tenaga kesehatan. Selain itu, perlu adanya tindakan nyata seperti yang akan dibahas pada kasus-kasus berikut. Kondisi sehat yang komprehensif tidak akan tercapai apabila keterse.diaan dan distribusi SDM atau tenaga kesehatan hanya berkutat pada kawasan atau daerah yang tergolong maju serta mengabaikan kesehatan di daerah teringgal, terpencil, kepulauan maupun perbatasan. Kesehatan di daerah tertinggal menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat (basic need) KASUS 1 Pada kasus, kondisi di perbatasan indonesia dengan negara tetangga yang kondisi sosial ekonominya lebih buruk dari pada indonesia. Permasalahan yang timbul di daerah perbatasan tersebut dipengaruhi oleh faktor kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dan ketahanan nasional. a. Faktor kemiskinan terlihat dari tingginya angka buta aksara. Untuk mengatasinya diadakan pelatihan membaca kepada seluruh lapiran masyarakat yang mengalami buta aksara. Hambatan dari program ini adalah adanya penolakan dari orang dewasa. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan kemantapan tujuan dan konsep dari program tersebut. Selain itu, dilakukan pendekatan personal oleh sarjana kesehata mengenai betapa pentingnya pendidikan, khususnya menulis dan membaca. Tokoh agama atau tokoh masyarakat setempat juga bisa menyukseskan program ini dengan cara membina masyarakat buta aksara secara berkesinambungan b. Faktor Ekonomi tersirat pada akibat yang ditimbulkannya yaitu kematian ibu, bayi, dan balita. Hal ini menandakan kurangnya asupan gizi pada ibu hamil, bayi, dan balita. Perekonomian dan daya beli rendah mendukung terjadinya gizi buruk. Untuk mengatasinya, dengan memberikan suatu pelatihan ketrampilan atau keahlian kepada masyarakat. Para perempuan diajarkan cara menjahit dan menyulam. Para laki-laki diajarkan cara bercocok tanam dan beternak yang benar. Para pemuda diajak berpikir untuk menganalisa,

merencanakan, dan melaksanakan segala potensi yang terdapat di daerah tersebut. Dengan begitu masyarakat memiliki pekerjaan dan berpotensi untuk mandiri. Memanfaatkan kekayaan alam sehingga menghasilkan uang. Kemudian, uang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan menekan angka kematian pada ibu, bayi, dan balita c. Faktor Kesehatan terlihat dari perilaku masyarakat yang sangat buruk Membaiknya kesehatan dipengaruhi oleh lingkungan 45%, perilaku masyarakt 30%, kesehatan 20%,, dan keturunan 5% (notoatmojo, 2003) Terbatasnya dana dan waktu yang hanya tiga bulan, program peningkatan kesehatan dimulai dari hal yang kecil dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Menyosialisasikan Program Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tindakan nyatanya yaitu kerja bakti membersihkan saluran air secara rutin, pemanfaatan air bersih dan penampungan air, dan kebiasaan mencuci tangan yang benar. Selain itu, peningkatan gizi masyarakat dengan cara mengoptimalkan kinerja petani dan peternak di daerah setempat sehingga daerah tersebut bisa mandiri dalam mencukupi kebutuhannya. d. Faktor prasarana dan sarana tersirat dari tidak adanya fasilitas kesehatan Sarjana kesehatan dapat meminta bantuan dari stake holders setempat misalnya tokoh masyarakat, kelurahan, kecamatan, dan Dinas Kesahatan. Bantuan bisa berupa moral dan materil untuk kemajuan daerah tersebut. e. Faktor Keamanan dan pertahanan nasional

Pada daerah perbatasan harus ada pengamanan yang mencakup hubungan bilateral indonesia dengan negara perbatasan tersebut. tujuannya menghindari adanya klaim untuk merugikan salah satu negara. Pengamanan terdapat pertahanan nasional diwujudkan dengan semangat pemahaman ideologi dan nasionalisme Indonesia.

layanan kesehatan serta SDM kesehatan yang merata, peningkatan mutu SDM kesehatan, tersedianya jaminan kesehatan maupun tersedianya upaya pendidikan dan promosi kesehatan untuk mengembangkan kesadaran masyrakat dalam mewujudkan perilaku hidup sehat demi tercapainya pningkatan derajat kesehatan masyarakat yang mandiri. Kasus 2 Penghasilan pendudukan yang Rp 10.000 per hari tergolong penduduk yang miskin. Peran kepala puskesmas dalam mengatasi kemiskinan di daerah tersebut adalah membuat suatu kebijaksanaan dengan mengadakan penyuluhan mengenai peningkatan taraf hidup. Selain itu, kepala puskesmas, tenaga kesehatan, dan karyawan melakukan 17 kegiatan puskesmas secara berkesinambungan, yaitu Usaha Pelayanan Rawat Jalan, Usaha Kesejahteraan Ibu dan Anak,

Usaha Keluarga Berencana, Usaha Kesehatan Gigi, Usaha Kesehatan Gizi, Usaha Kesehatan Sekolah, Usaha Kesehatan Lingkungan, Usaha Kesehatan Jiwa, Usaha Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular, Usaha Kesehatan Olahraga, Usaha Kesehatan Lanjut Usia, Usaha Kesehatan Mata, Usaha Kesehatan Kerja, Usaha Pencatatan dan Pelaporan serta Usaha Laboratorium Kesehatan Masyarakat.

Apabila semua program tersebut telah terlaksanakan, tentunya permasalahan yang terdapat pada kasus bisa terselesainya. Solusi dari semua permasalahan tersebut telah dipaparkan ke dalan program-program puskesmas. KASUS 3

Tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan, baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan maupun tidak, yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. (www. Kebijijio.pdf) perekonomian di kecamatan XY sudah mulai berkembang karena mayoritas masyarakatnya sudah mempunyai mata pencaharian yaitu bertani dan bercocok tanam jagung. Namun, yang belum dimaksimalkan adalah penggunaan pendapatan mereka. Kebanyakan dari mereka menggunakan uangnya untuk membeli rokok. Padahal, rokok hanya menimbulkan kerugian yaitu dapat merusak paru-paru, impotensi, darah tinggi, dan menghabiskan uang. Semestinya, uang tersbut bisa digunakan lebih bijak, misalnya untuk kebutuhan sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Untuk mengatasinya dibutuhkan penyuluhan tentang pengelolaan keuangan yang baik dan bahaya merokok. Sedangkan, Bagi masyarakat yang buta aksara bisa dilakukan pelatihan membaca dan menulis oleh tenaga kesehatan yang tersedia Sarana dan prasaran kesehatan yang minim bisa meminta bantuan kepada aparat setempat. Kemudian untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan diadakan sebuah penyuluhan mengenai kesehatan dan cara hidup bersehat. Tentunya, kegiatan seperti ini tidak akan optimal bila hanya dilaksanakan oleh satu perawat dan satu bidan saja. Untuk itu dibutuhkan para tenaga kesehatan yang mau mengabdikan hidupnya untuk masayarakat, terlebih lagi di daerah pedesaan

Keseimpulan Untuk menuju kesejahteraan dan memerangi kemiskinan dibutuhkan kerja sama dari segala aspek kehidupan yang meliputi aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Selain itu, dibutuhkan SDM yang ahli di setiap bidang. Pendistribusian SDM juga dibutuhkan untuk pemerataan pembangunan dan kesejahteraan. Tercapainya ideologi tersebut akan menjadikan Indonesia lebih maju dan sejahtera serta tidak dipandang sebelah mata oleh negara lainnya.