Anda di halaman 1dari 7

1

MAKALAH PEMBERANTASAN PENYAKIT MALARIA (P2M)

Disusun oleh : Ahyar Mahasin 2011.003/4A

AKADEMI PEREKAM MEDIK DAN INFORMATIKA KESEHATAN APIKES CITRA MEDIKA SURAKARTA SURAKARTA 2013

A. PENDAHULUAN Malaria adalah penyakit menular yang menyerang manusia, burung, kera, dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat, yang disebabkan oleh infeksi Protozoa dari genus plasmodium dan mudah dikenali dari gejala meriang (panas dingin menggigil ) serta demam berkepanjangan. Penyakit malaria memiliki 4 jenis plasmodium, dan masing-masing disebabkan oleh spesies parasit yang berbeda. Gejala tiap-tiap jenis biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Malaria adalah penyakit yang bersifat cepat maupun lama prosesnya, malaria disebabkan oleh parasit malaria / protozoa genus plasmodium bentuk aseksual yang masuk kedalam tubuh manusia ditularkan oleh nyamuk malaria (anopheles) betina (WHO 1981) ditandai dengan demam, muka nampak pucat dan pembesaran organ tubuh manusia. Parasit malaria pada manusia yang menyebabkan malaria adalah plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium ovale dan plasmodium malariae. Parasit malaria yang terbanyak di Indonesia adalah plasmodium falciparum dan plasmodium vivax atau campuran keduanya, sedangkan plasmodium ovale dan malariae pernah ditemukan di sulawesi, irian jaya dan negara timor leste. Proses penyebaran penyakit ini dimulai dari nyamuk malaria yang mengandung parasit malaria menggigit manusia sampai pecahnya sizon darah atau timbulnya gejala demam. Proses penyebaran ini akan berbeda dari setiap jenis parasit malaria yaitu antara 9-40 hari ( WHO 1997). B. KEADAAN DAN MASALAH Malaria termasuk penyakit yang ikut bertanggung-jawab terhadap tingginya angka kematian di banyak negara dunia. Diperkirakan, sekitar 1,5-

2,7 juta jiwa melayang setiap tahunnya akibat penyakit ini. Walau sejak 1950 malaria telah berhasil dibasmi di hampir seluruh benua Eropa, Amerika Tengah dan Selatan, tapi di beberapa bagian benua Afrika dan Asia Tenggara, penyakit ini masih menjadi masalah besar. Sekitar seratus juta kasus penyakit malaria terjadi setiap tahunnya, satu persen diantaranya berakibat fatal. Seperti kebanyakan penyakit tropis lainnya, malaria merupakan penyebab utama kematian di negara berkembang. Penyebaran malaria juga cukup luas di banyak negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 1995, diperkirakan 15 juta penduduk Indonesia menderita malaria, 30 ribu di antaranya meninggal dunia. Morbiditas (angka kesakitan) malaria sejak tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Di Jawa dan Bali terjadi peningkatan: dari 18 kasus per 100 ribu penduduk (1998) menjadi 48 kasus per 100 ribu penduduk (2000). Peningkatan terjadi terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta (Kulon Progo). Di luar Jawa dan Bali, peningkatan terjadi dari 1.750 kasus per 100 ribu penduduk (1998) menjadi 2.800 kasus per 100ribu penduduk (2000): tertinggi di NTT, yaitu 16.290 kasus per 100 ribu penduduk. Pemerintah menilai wilayah pantai selatan yang merupakan habitat nyamuk Anopheles sp, tidak mungkin memberantas nyamuk itu sampai habis. Karena perubahan iklim global meningkatkan populasi nyamuk secara drastis. Yang bisa dilakukan hanyalah menekan populasi nyamuk dengan, misalnya menebar ikan di persawahan. Selain itu, adanya lonjakan KLB juga disebabkan, kendurnya pemantauan populasi nyamuk oleh petugas kesehatan, lantaran sudah lama tidak ada kasus malaria. Masyarakat pun menjadi lengah. Sementara itu, krisis ekonomi membuat kemampuan menyediakan insektisida untuk menyemprot nyamuk juga menjadi terbatas, sehingga timbul KLB pertama pada Juli 2001. KLB kedua terjadi lebih dikarenakan selama bulan Puasa dan Lebaran, banyak penduduk yang merantau pulang kampung. Penduduk yang merantau di daerah endemis, seperti Lampung, Riau atau Kalimantan, pulang membawa parasit dan menularkannya ke penduduk desa.

Memang, cepatnya pertumbuhan penduduk, migrasi, sanitasi yang buruk dan daerah yang terlalu padat, memudahkan penyebaran penyakit ini. Pembukaan lahan-lahan baru serta perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) telah memungkinkan kontak antara nyamuk dengan manusia yang bermukim di daerah itu. Selain itu, perubahan iklim, perubahan lingkungan seperti penelantaran tambak, genangan air di bekas galian pasir juga penebangan hutan bakau, juga mempercepat penyebaran penyakit malaria. Hal itu diperparah dengan perpindahan penduduk dari daerah endemis ke daerah bebas malaria dan sebaliknya. Hasil analisis Geographic Health Information System yang dikembangkan di enam provinsi termasuk Jawa Tengah, menunjukkan seluruh Jawa Tengah berpotensi terjadi KLB malaria. Didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah daerah endemik malaria mulai mencanangkan Gerakan Berantas Kembali (Gebrak) Malaria secara komprehensif dan terpadu. C. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan program : Tujuan program ini adalah meningkatkan mutu dan pemerataan kualitas pelayanan pencegahan dan pemberantasan penyakit, menanggulangi kejadian luar biasa, dan penanggulangan bencana akibat penyakit menular.

Sasaran program :

1. Menurunnya angka kesakitan Malaria 2. Terbebasnya Kabupaten Sukoharjo dari penyakit malaria 3. Tersedianya data dan informasi penyakit tidak menular 4. Berkembangnya sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa, pencegahan dan penanggulangan bencana secara terpadu dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat

D. POKOK KEGIATAN DAN PETAHAPAN SETIAP TAHUN

Pokok kegiatan masyarakat bersama pemerintah yang dilakukan secara keseimbangan untuk mencegah dan menanggulangi penyakit malaria, terutama dalam memberantas jentik nyamuk, sehingga penularan penyakit malaria dapat dicegah atau dibatasi dengan menjaga kebersihan di lingkungannya masingmasing, sehingga bebas dari jentik nyamuk. Ada 2 pokok kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam menangani penyakit malaria : 1. Pemberantasan secara langsung : Sasaran penggerakan pemberantasan sarang nyamuk di Desa/ kelurahan adalah keluarga yaitu dilaksanakannya pemberantasan sarang nyamuk di rumah-rumah secara terus-menerus. Kegiatan rutin penggerakan

pemberantasan sarang nyamuk meliputi : a. Kunjungan rumah berkala sekurang-kurangnya tiap 3 bulan (untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik) oleh kader di Tingkat RT/RW, Kader Dasawisma atau tenaga lain sesuai kesepakatan masyarakat setempat. Pelaksanaan kegiatan kunjungan rumah berkala ini dibimbing oleh Kader Tingkat Desa/Kelurahan (kader inti) yang telah dilatih oleh petugas Puskesmas. b. Penyuluhan kelompok masyarakat oleh kader dan tokoh masyarakat, di posyandu, masyarakat. c. Kerja bakti pemberantasan sarang nyamuk dan kebersihan lingkungan secara berkala. d. Penyemprotan (pengasapan) e. Abatisasi Perlu dilakukan abatisasi yaitu masyarakat harus menabur bubuk abate ke tempat-tempat penyimpanan air, seperti bak penyimpanan air, kolam ikan yang ada di sekeliling rumah dan sebagainya, manfaat dari tempat ibadah dan di tempat pertemuan-pertemuan

kegiatan abatasi ini adalah untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang bersarang dan tidak mudah berkembang biak. Dapat juga dengan Program 3 M Plus adalah tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk dengan cara : a. Menguras tempat-tempat penampungan air seperti : bak mandi / WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lain-lain seminggu sekali. b. Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lain-lain. c. Mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar / di luar rumah yang dapat menampung air hujan. 2. Pemberantasan Secara Tidak Langsung dengan Penyuluhan dan Pemantauan Penggerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk. Penyuluhan kepada masyarakat luas dilaksanakan melalui media masa seperti : TV, radio, bioskop, surat kabar, majalah dan sebagainya. Pemantauan pemberantasan jentik nyamuk di Desa dipantau secara berkala minimal 3 bulan sekali setiap tingkat Kecamatan dan Kabupaten/Kodya. Pemantauan dilaksanakan antara lain dengan melakukan Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) pada sejumlah sampel rumah. Sebagai indikator kebersihan pemberantasan nyamuk yang digunakan adalah Angka Bebas Jentik (ABJ) yaitu persentase rumah yang tidak ditemukakan jentik.

E. KEBUTUHAN SUMBER DAYA

Kebutuhan

sumber

daya

manusia

masih

sangat

kurang

karena

perkembangan penyakit semakin meningkat, seharusnya dapat diimbangi dengan perilaku sehat masyarakat sekitar. Sehingga dapat meminimalisir

terjadinya penyakit menular yang disebabkan oleh lingkungan yang kumuh atau kotor.

F. PENUTUP

Malaria adalah penyakit yang menyerang manusia, burung, kera dan primata lainnya, hewan melata dan hewan pengerat yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus plasmodium. Morbiditas (angka kesakitan) malaria sejak tiga tahun terakhir

menunjukkan peningkatan.

Hasil analisis Geographic Health Information

System yang dikembangkan di enam provinsi termasuk Jawa Tengah, menunjukkan seluruh Jawa Tengah berpotensi terjadi KLB malaria. Didukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah daerah endemik malaria mulai mencanangkan Gerakan Berantas Kembali (Gebrak) Malaria secara komprehensif dan terpadu. Saran : Disarankan agar pemerintah dapat memperhatikan kondisi rakyat kecil yang sangat rentan terkena penyakit malaria sebelum terjadi kejadian luar biasa (KLB).