Anda di halaman 1dari 67

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) DI SMP

NEGERI 2 JAMBO AYE KABUPATEN ACEH UTARA

Skripsi

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: Nurjani

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM-BANDA ACEH 2013

LEMBAR PERSETUJUAN SIDANG

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn) DI SMP NEGERI 2 JAMBO AYE KABUPATEN ACEH UTARA

Skripsi

Oleh: Nama NIM Jurusan/Program Studi : Nurjani : 1006101130023 : PPKn

disetujui,

Pembimbing I,

Pembimbing II

Drs. M. Nasir Basyah, M.Si NIP. 195608121984031003

Drs. M. Yusuf Nafi, M.Pd NIP. 194504021964101001

ii

iii

iv

ABSTRAK Kata Kunci: Metode Demonstrasi, Minat Belajar Siswa. Penelitian ini mengkaji tentang: Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. Rumusan masalah: (1) Bagaimana penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran, (2) Bagaimana dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa, dan (3) Apa kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran. Tujuan penelitian: (1) Untuk mengetahui penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran, (2) Untuk mengetahui dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa, (3) Untuk mengetahui kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. Subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan instrumen wawancara, dan setelah data terkumpul melalui wawancara langsung dengan informan, selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Metode demonstrasi sangat efektif diterapkan dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), (2) Penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan (3) Guru mengalami kendala dalam menerapkan metode demonstrasi seperti terbatasnya waktu dan sumber belajar. Simpulan: (1) Penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran sudah sangat efektif karena dapat memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, (2) Dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa adalah sangat positif, dimana siswa menjadi lebih semangat dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), dan (3) Kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran adalah terbatasnya waktu dan sulitnya menemukan bahan-bahan pelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan. Saran: (1) Diharapkan kepada pihak sekolah agar dapat melengkapi fasilitas belajar yang lebih lengkap untuk mendukung proses belajar mengajar agar dapat berjalan secara lebih efektif dan (2) Diharapkan kepada guru agar dapat lebih meningkatkan kualitas mengajar mereka, sehingga dapat lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar kepada siswa dalam proses pembelajaran.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis ucapkan ke hadhirat Allah SWT yang telah memberikan limpahan taufik dan hidayahNya, sehingga telah dapat

menyelesaikan penulisan skripsi ini. Salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari alam kebodohan ke alam yang berilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Suami Bani Amin dan anak-anak tercinta yang senantiasa memberikan doa dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan Kualifikasi Guru dalam Jabatan ini. 2. Bapak Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Ketua Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan para dosen yang telah mengasuh penulis selama dalam pendidikan. 3. Bapak Drs. M. Nasir Basyah, M.Si sebagai Pembimbing I dan bapak Drs. M. Yusuf Nafi, M.Pd sebagai Pembimbing II yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengarahkan penulis. 4. Teman- teman mahasiswa Kualifikasi Guru dalam Jabatan Kelas Lhokseumawe yang telah memberi dorongan moril kepada penulis.

vi

Akhirnya, penulis mengharapkan saran dan sumbangsih dari para pembaca sekalian yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan penulisan skripsi ini di masa yang akan datang.

Baktiya, 01 Juli 2013

Penulis

Nurjani

vii

DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR .. DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN .. BAB I PENDAHULUAN . 1. 1.Latar Belakang Masalah 1. 2. Rumusan Masalah 1. 3. Tujuan Penelitian 1. 4. Manfaat Penelitian 1. 5. Pertanyaan Penelitian .... 1. 6. Defenisi Istilah BAB II LANDASAN TEORETIS .... 2. 1. Hakekat Metode dalam Proses Pembelajaran 2. 2. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Proses Pemb belajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) 2. 3. Minat Belajar Siswa 2. 4. Fungsi Minat Belajar dalam Proses Pembelajaran ... 2. 5. Beberapa Keunggulan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar ... BAB III METODE PENELITIAN .. 3. 1. Pendekatan dan Jenis Penelitian . 3. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian . 3. 3. Subjek Penelitian .. 3. 4. Teknik Pengumpulan Data .. 3. 5. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 4.1. Prosedur Penelitian . 4.2. Hasil Penelitian . 4.3. Pembahasan .. BAB V PENUTUP 5. 1. Simpulan 5. 2. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .. .. .. .. i ii iv v 1 1 4 5 5 6 6 8 8 10 21 25 33 37 37 38 39 39 40 41 41 41 47 53 53 53 55 57

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pedoman Wawancara Lampiran 2. Daftar Informan

57 58 59

. ..

Lampiran 3. Surat Keputusan Penetapan Pembimbing Skripsi

Lampiran 4. Surat Izin Penelitian dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Lampiran 5. Surat Izin Penelitian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara 61 60

Lampiran 6. Surat Keterangan Telah Mengadakan Penelitian dari Kepala SMP Negeri 2 Tanah Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. Lampiran 7. Biodata Penulis . 62 63

ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Keberhasilan proses pembelajaran antara lain ditentukan oleh metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam penyampaian materi ajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Namun demikian, perlu diperhatikan oleh guru bahwa penerapan metode mengajar tertentu harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya dalam Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP). Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan proses pembelajaran oleh guru, guru harus memahami karakteristik setiap metode pembelajaran yang akan diterapkan. Sesuai dengan tingkat perkembangan intelegensi peserta didik, dalam menyerap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru daya serap peserta didik cenderung variatif. Oleh karena itu, Rostiyah (1989:1) mengatakan bahwa: Guru harus memiliki strategi agar peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien yang mengena pada tujuan pembelajaran yang diharapkan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan menguasai berbagai teknik penyajian materi pembelajaran yang sering disebut dengan metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar merupakan strategi pembelajaran yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Sebelum guru menerapkan suatu metode dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu guru harus sudah memahami karakteristik dari setiap metode pembelajaran yang diterapkan tersebut. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Sagala (2003:201) bahwa: Setiap metode pembelajaran yang digunakan bertalian dengan tujuan belajar yang ingin dicapai. Oleh karena itu, dalam rangka mendorong keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar guru seharusnya mengerti akan fungsi dan langkah- langkah penerapan metode pembelajaran tersebut. Dalam perumusan tujuan, guru perlu merumuskannya dengan jelas dan terukur. Metode mengajar yang digunakan oleh guru dalam setiap kali pertemuan setelah melalui seleksi sesuai dengan kompetensi pembelajarran. Salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru dalam rangka meningkatkan minat belajar siswa adalah metode demonstrasi. Metode demonstrasi menurut Sagala (2003:210) adalah: Pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata dan tiruannya. Pada kegiatan proses belajar mengajar (PBM) menunjukkan aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar rendah dan bersifat pasif yaitu cenderung hanya sebagai penerima saja. Siswa kelihatan tidak bersemangat banyak yang mengantuk dan kurang memperhatikan materi yang disampaikan guru. Siswa kurang berminat selama mengikuti proses pembelajaran, siswa kurang berani mengemukakan pendapatnya bila diberi pertanyaan oleh guru.

xi

Proses kegiatan belajar mengajar didominasi dengan kegiatan mencatat di papan tulis dan ceramah. Melihat kondisi siswa ini menunjukkan bahwa minat belajar siswa masih rendah. Minat belajar siswa ditunjukkan dengan adanya perasaan senang, perhatian dan adanya aktivitas yang merupakan akibat dari rasa senang dan perhatian. Banyak hal yang menyebabkan kondisi di atas terjadi, misalnya berasal dari diri pribadi siswa sendiri dan dari luar pribadi siswa sendiri yang kemudian dapat mempengaruhi minat belajar siswa ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Beberapa contoh yang berasal dari dalam pribadi siswa misalnya: siswa mengalami masalah pribadi yang bisa menurunkan minat belajarnya, atau yang berasal dari luar pribadi siswa misalnya: metode pembelajaran hanya ceramah dan mencatat di papan tulis atau bahkan bisa berasal dari guru sendiri sebagai pemberi materi pelajaran. Minat belajar siswa penting untuk ditingkatkan karena mempermudah proses belajar serta untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Minat merupakan alat motivasi yang pokok karena proses belajar akan berjalan lancar kalau disertai minat. Menurut Sardiman (2006:95) minat dapat dibangkitkan dengan cara-cara sebagai berikut: Menggunakan berbagai macam metode mengajar, membangkitkan adanya suatu kebutuhan, memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Selanjutnya, menurut Soekidjo (2003:59) bahwa: Dalam proses penyampaian materi pendidikan kepada sasaran pendidikan, di samping

xii

kurikulum, maka metode dan alat pendidikan turut memegang peranan penting karena bagaimanapun pandainya seorang pendidik dalam usahanya mengubah tingkah laku, tidak terlepas dari metode dan alat bantu pendidikan yang digunakan. Metode dan alat bantu pendidikan yang baik akan mempermudah proses belajar dan mengajar. Dalam proses pembelajaran, guru pada umumnya hanya menerapkan metode ceramah yang menyebabkan siswa menjadi malas dalam belajar. Demikian halnya kondisi pembelajaran pada SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara, dimana guru pada umumnya hanya menerapkan metode pembelajaran konvensional dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara.

1.2. Rumusan Masalah 1. Bagaimana penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ? 2. Bagaimana dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ? 3. Apa kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ?

xiii

1.3. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. 2. Untuk mengetahui dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. 3. Untuk mengetahui kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis Secara teoritis hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran terhadap penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam rangka meningkatkan minat belajar siswa. 2. Manfaat praktis a. Bagi guru Bagi guru hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam menerapankan metode demonstrasi untuk meningkatkan minat belajar siswa. b. Bagi siswa Bagi siswa hasil penelitian ini dapat bermanfaat dalam rangka meningkatkan minat belajar mereka.

xiv

c. Bagi peneliti Bagi peneliti lainnya hasil penelitian ini nantinya dapat menambah pengetahuan dalam rangka penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran.

1.5. Pertanyaan Penelitian 1. Apakah guru pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ? 2. Apakah melalui penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ? 3. Apakah guru mengalami kendala dalam menerapkan metode demonstrasi di dalam proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ?

1.6. Defenisi Istilah 1. Metode demonstrasi Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Aswan (2006:90) adalah: Cara penyajian materi pembelajaran dengan memperagakan atau menunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun tiruan yang disertai denganpenjelasan lisan. Metode demonstrasi dalam penelitian ini dimaksudkan adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu

xv

peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata dan tiruannya. 2. Minat belajar siswa Al-Mighwar (2006:113) mengatakan bahwa: Minat adalah perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut, atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu pada suatu pilihan tertentu. Cita- cita merupakan perwujudan dari minat yang berkaitan dengan masa depan yang direncanakan oleh seseorang dalam menentukan pilihannya. Minat belajar dalam penelitian ini dimaksudkan adalah keinginan siswa untuk belajar dalam rangka meningkatkan prestasi belajar mereka.

xvi

BAB II LANDASAN TEORETIS

2.1. Hakekat Metode dalam Proses Pembelajaran Metode berasal dari bahasa Yunani metos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Oleh karena itu, Wahab (2007:36) mengatakan bahwa: Metode dianggap sebagai cara atau prosedur yang keberhasilannya terlihat dalam belajar atau sebagai alat yang menjadikan mengajar menjadi efektif. Selanjutnya, Surachmad dalam Djamarah dan Aswan (2006:53) mengatakan bahwa: Dalam kegiatan belajar mengajar metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik apabila tidak menguasai satupun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan oleh para ahli psikologi dan ahli pendidikan.

Ditambahkan Surachmad dalam Djamarah dan Aswan (2006:89) bahwa: Penentuan dan pemilihan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti anak didik, tujuan, situasi, fasilitas, dan guru. Menurut Wahab (2007:36) metode yang baik memiliki beberapa sifat, yaitu: 1. Harus teliti atau cermat dan sungguh- sungguh. 2. Adanya kejujuran siswa, guru, dan penulis. 3. Artistik, guru dituntut untuk memiliki rasa kesesuaian dan ketidak sesuaian. 4. Bersifat pribadi, dimana metode tersebut harus merupakan sesuatu yang sudah disusun dan dikembangkan guru yang jauh dari basa basi atau sekedar kegiatan rutin. 5. Metode harus berhubungan dengan pengalaman siswa. 6. Metode yang berhasil tidak nampak dan sulit digambarkan meliputi guru dan siswa karena metode adalah suatu proses bukan tindakan.

xvii

Menurut Sudjana (1989:76) metode adalah: Cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam hal ini, metode ditetapkan oleh guru dengan berpedoman pada tujuan pembelajaran dan bahan ajar yang akan diajarkan. Oleh karena itu, metode pembelajaran pada hakekatnya merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang berfungsi untuk membantu efesiensi dalam proses belajar mengajar. Lebih lanjut, Rusman (2011:6) mengatakan bahwa: Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode adalah suatu cara kerja yang bersistem untuk memudahkan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan serta dalam pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti anak didik, tujuan, situasi, fasilitas, dan guru. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Metode pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran di kelas, kemampuan yang dimiliki peserta didik akan sangat ditentukan salah satunya oleh penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal dalam proses belajar mengajar guru sebaiknya tidak hanya menguasai satu metode saja, akan tetapi perlu

xviii

menguasai metode lainnya karena dalam proses pembelajaran diperlukan metode bervariasi agar suasana belajar yang efektif. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar banyak menggunakan jenis metode yang bisa digunakan oleh pendidik dalam menerangkan materi ajar kepada siswa. Masing- masing jenis metode memiliki kemampuan sendiri- sendiri dalam mengungkapkan dan menggambarkan bahan ajar yang disampaikan guru. Begitu pula kualitas efeknya terhadap pemahaman siswa yang ditimbulkan. Menurut Edgar Dale dalam Wibawa (1993:16) bahwa: Pengalaman langsung diperlukan untuk membantu siswa belajar memahami, mengingat, dan menerapkan berbagai simbol abstrak. Kegiatan belajar akan terasa lebih mudah bila menggunakan materi yang terasa bermakna bagi siswa ataupun mempunyai relevansi dengan pengalamannya.

2.2. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Dalam rangka upaya meningkatkan minat belajar siswa, guru sedapat mungkin dalam proses pembelajarannya menerapkan sejumlah metode untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kedudukan metode dalam proses pembelajaran menurut Djamarah dan Aswan (2006:73) sebagai: Alat motivasi ekstrinsik, strategi pembelajaran, dan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal ini, motivasi ekstrinsik menurut Sardiman (1988:90) adalah: Motif- motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar untuk membangkitkan gairah belajar seseorang. Namun

xix

demikian, dalam penerapan metode oleh guru dalam proses pembelajaran harus memperhatikan kondisi dan suasana kelas serta tujuan pembelajaran. Sesuai dengan tingkat perkembangan intelegensi peserta didik, dalam menyerap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru daya serap peserta didik cenderung variatif. Oleh karena itu, Rostiyah (1989:1) mengatakan bahwa: Guru harus memiliki strategi agar peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien yang mengena pada tujuan pembelajaran yang diharapkan. Salah satu langkah yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan menguasai berbagai teknik penyajian materi pembelajaran yang sering disebut dengan metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar merupakan strategi pembelajaran yang digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan pembelajaran akan menjadi sulit dicapai oleh guru tanpa adanya penerapan metode pembelajaran. Oleh karena itu, metode pembelajaran harus dapat menunjang upaya pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam hal ini guru harus memperhatikan nilai strategis, efektifitas, pemilihan, dan kegunaan metode pembelajaran, serta faktor- faktor yang mempengaruhinya. Menurut Surachmad (1990:97) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penerapan suatu metode dalam proses pembelajaran, yaitu: (1) Peserta didik, (2) Tujuan pembelajaran,(3) Situasi belajar,(4) Fasilitas belajar, dan(5) Kompetensi guru. Dari sekian banyak metode yang dapat diterapkan oleh guru dalam proses pembelajaran, salah satunya adalah metode demonstrasi.

xx

Efektif tidaknya suatu penerapan metode dalam proses pembelajaran harus menjadi perhatian utama dari seorang guru agar dapat mencapai tujuan. Keefektifan berasal dari kata dasar efektif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:284) kata efektif mempunyai arti: Ada efek, pengaruh atau akibat, selain itu efektif juga dapat diartikan dapat membawa hasil, atau berhasil guna. Menurut Hani Handoko (2003:7) efektivitas merupakan: Kemampuan untuk memilih tujuan atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Keefektifan bisa diartikan tingkat keberhasilan yang dapat dicapai dari suatu cara atau usaha tertentu sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Efektivitas pembelajaran merupakan suatu konsep yang lebih luas untuk mencakup berbagai faktor di dalam maupun di luar diri seseorang. Faktorfaktor yang mempengaruhi keefektifan dalam pembelajaran, yaitu

kemampuan guru dalam menggunakan metode pembelajaran. Dimana metode pembelajaran dipengaruhi oleh faktor tujuan, siswa, situasi, fasilitas, dan pengajar itu sendiri. Menurut Sadiman dalam Trianto (2009:20) keefektifan pembelajaran adalah: Hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Untuk mengetahui keefektifan mengajar dapat dilakukan dengan memberikan tes, karena dengan hasil tes dapat dipakai untuk mengevaluasi berbagai aspek proses pengajaran. Menurut Soemosasmito dalam Trianto (2009:20) menyatakan bahwa: Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif apabila memenuhi beberapa persyaratan utama keefektifan pembelajaran, yaitu:

xxi

1. Presentasi waktu belajar siswa yang tinggi dicurahkan terhadap KBM. 2. Rata-rata perilaku melaksanakan tugas yang tinggi di antara siswa. 3. Ketepatan antara kandungan materi ajaran dengan kemampuan siswa (orientasi keberhasilan belajar) diutamakan. 4. Mengembangkan suasana belajar yang akrab dan positif, mengembangkan struktur kelas yang mendukung butir(b), tanpa mengabaikan butir (d).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keefektifan pembelajaran adalah tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Keefektifan dari penggunaan metode pembelajaran resitasi dalam

pembelajaran ekonomi dapat dilihat dari tingkat kemandirian belajar dan hasil belajar ekonomi. Jika tingkat kemandirian belajar dan hasil belajar ekonomi yang menggunakan metode pembelajaran resitasi lebih tinggi dari yang tidak menggunakan metode pembelajaran resitasi, maka metode pembelajaran resitasi dikatakan efektif. Menurut Sanjaya (2006:26) metode demonstrasi adalah: Metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Djamarah (2005:25) mengatakan metode demonstrasi adalah: Suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Roestiyah (2008:28) mengatakan metode demonstrasi adalah: Cara mengajar dimana seorang instruktur/atau tim guru menunjukkan, memperlihatkan suatu proses sehingga seluruh siswa dalam kelas dapat melihat, mengamati mendengar ataupun merasakan proses yang dipertunjukkan guru tersebut.

xxii

Selanjutnya menurut Sagala (2006) bahwa metode demonstrasi adalah: Pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya. Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metode demonstrasi adalah suatu cara guru mengajar, dengan mempertunjukkan atau memperlihatkan kepada siswa tentang suatu proses atau cara kerja suatu benda secara nyata ataupun tiruan untuk mencapai tujuan pengajaran dan dengan harapan siswa dapat

memahamibahkan biasa melakukannya sendiri. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Dalam strategi pembelajaran, metode demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri. Tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi menurut Sagala (2006:26) adalah: Untuk memperlihatkan suatu proses suatu peristiwa sesuai meteri pelajaran, cara pencapaiannya, dan kemudahan untuk dipahami oleh siswa dalam pengajaran di kelas. Dengan penerapan metode demonstrasi, peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan pengamatan suatu benda yang sedang terlihat dalam proses serta dapat mengambil demostrasi kesimpulan-kesimpulan diharapkan setiap yang diharapkan. pembelajaran dari Dalam hal-hal metode yang

didemonstrasikan itu dapat dilihat dengan mudah oleh murid dan melalui prosedur yang benar dan dapat pulah dimengerti yang diajarkan.

xxiii

Menurut Daradjat dalam Martiningsih (2005:25) manfaat psikologis pedagogis dari metode demonstrasi adalah : (1) Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan, (2) Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari, dan (3) Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. Langkah-langkah menggunakan metode demonstrasi menurut Martiningsih (2005:25) adalah sebagai berikut: 1. Langkah pembukaan. Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya: a. Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang akan didemonstrasikan. b. Mengemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa. c. Mengemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi. 2. Langkah pelaksanaan demonstrasi: a. Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsng siswa untuk berpikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki, sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi. b. Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan. c. Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi seluruh siswa. d. Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu. 3. Langkah mengakhiri demonstrasi. Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan: a. Memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. b. Melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi tersebut.

xxiv

Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan, demikian juga dengan metode demonstrasi. Menurut Sagala (2006:26) metode demonstrasi memiliki kelebihan-kelebihan antara lain: 1. Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. 2. Dapat membimbing peserta didik kearah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. 3. Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek. 4. Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau menerangkan karena murid mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya. 5. Karena gerakan dan proses dipertunjukkan, maka tidak merupakan keterangan-keterangan yang banyak. 6. Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.

Menurut Sanjaya (2006:26) sebagai suatu metode pembelajaran demostrasi memiliki beberapa kelebihan, antara lain: 1. Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang diajarkan. 2. Proses pembelajaran akan lebih menarik sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi. 3. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih meyakini kebenaran materi pelajaran.

Kelemahan metode demonstrasi menurut Sagala (2006;26), antara lain: 1. Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-kadang terjadi perubahan yang tidak terkontrol. 2. Untuk mengadakan demonstrasi diperlukan alat-alat yang khusus, kadang-kadang alat itu sukar didapat.

xxv

3.

Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan oleh siswa. 4. Tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas. 5. Memerlukan banyak waktu, sedangkan hasilnya kadang-kadang sangat minimum. 6. Kadang-kadang proses yang didemonstrasikan di dalam kelas akan berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau yang sebenarnya. 7. Memerlukan ketelitian dan kesabaran yang tinggi.

Menurut Sanjaya (2006:28) metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, di antaranya: 1. Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai demonstrasi bisa gagal, sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. 2. Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal jika dibandingkan dengan metode ceramah. 3. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Disamping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.

Menurut Sagala (2006:28) ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode demonstrasi, antara lain: 1. Tentukan terlebih dahulu hasil yang ingin dicapai. 2. Guru mengarahkan demonstrasi itu sedemikian rupa, sehingga siswa memperoleh pengertian dari gambaran yang benar, pembentukan sikap dan kecakapan yang kritis. 3. Pilih dan kumpulkan alat-alat demonstrasi yang akan digunakan. 4. Usahakan agar seluruh murid dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi itu sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama. 5. Berikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang landasan teori dari yang didemonstrasikan. 6. Sedapat mungkin bahan pelajaran yang didemonstrasikan adalah halhal bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.

xxvi

7. Menetapkan garis-garis besar/langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.

Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Aswan (2006:90) adalah: Cara penyajian materi pembelajaran dengan memperagakan atau

menunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun tiruan yang disertai

denganpenjelasan lisan. Diharapkan, dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga dapat membentuk pengertian siswa dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006:91) menambahkan bahwa: Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang hal- hal yang berhubungan dengan proses mengatur, sesuatu, bekerjanya, mengerjakan atau menggunakan, komponen- komponen pembentuk, membandingkan, dan mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Menurut Syah (2002:208) bahwa: Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006:102) mengatakan bahwa: Metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk

memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.

xxvii

Namun demikian, metode demonstrasi memiliki kelebihan dan kelemahan seperti metode- metode pembelajaran lainnya. Menurut Djamarah dan Aswan (2006:91) kelebihan dan kelemahan dari metode demonstrasi adalah sebagai berikut: a. Kelebihan metode demonstrasi 1. Dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, sehingga akan dapat emnghindari verbalisme (pemahaman secara kata- kata atau kalimat). 2. Menjadikan siswa lebih mudah memahami tentang materi pembelajaran yang diajarkan. 3. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik. 4. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri. b. Kelemahan metode demonstrasi 1. Penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran memerlukan keterampilan khusus dari guru karena tanpa pemahaman yang maksimal dari guru dapat menyebabkan pelaksanaan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran menjadi tidak efektif. 2. Fasilitas pembelajaran seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik. 3. Penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang, disamping memerlukan waktu yang cukup panjang dan terpaksa mengambil waktu pelajaran lain. Metode demonstrasi sebagai salah satu metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mempermudah penyampaian materi ajar kepada siswanya. Menurut Sagala (2003:210) metode demonstrasi bertujuan untuk: Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses pembelajaran serta dapat mengambil kesimpulan- kesimpulan yang diharapkan. Oleh karena itu, setiap langkah pembelajaran yang didemonstrasikan tersebut dapat

xxviii

dilihat dengan mudah oleh siswa dan dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang benar dan mudah dimengerti materi ajarnya. Dalam demonstrasi, terutama dalam rangka mengembangkan sikapsikap guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih berhati- hati dan memerlukan kompetensi untuk membelajarkan siswa. Hal ini diperlukan karena setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, demikian juga halnya dengan metode demonstrasi. Kelebihan metode demonstrasi menurut Sagala (2003:211) adalah sebagai berikut: 1. Perhatian peserta didik dapat dipusatkan kepada hal- hal yang dianggap penting oleh guru, sehingga hal yang penting tersebut dapat diamati secara teliti. 2. Dapat membimbing peserta didik ke arah berpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama. 3. Ekonomis dalam penggunaan waktu pembelajaran. 4. Dapat mengurangi kesalahan- kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan karena peserta didik mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya. 5. Ekonomis dalam penjelasan guru, sehingga tidak harus menjelaskan materi pembelajaran secara detail. 6. Dapat menjelaskan karagu- raguan peserta didik dalam proses pembelajaran. Sementara itu, kelemahan metode demonstrasi menurut Sagala (2003:212) adalah sebagai berikut: 1. Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati secara keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, dan kadang- kadang terjadi perubahan yang tidak terkontrol. 2. Sulitnya memperoleh alat- alat khusus yang diperlukan dalam demonstrasi. 3. Peserta didik terkadang kurang memperhatikan hal- hal yang didemonstrasikan. 4. Terkadang tidak semua hal dapat didemonstrasikan di dalam kelas. 5. Demonstrasi memerlukan waktu yang banyak, sedangkan hasil yang diperoleh tidak maksimal.

xxix

6. Terkadang proses yang didemonstrasikan tidak sesuai dengan hal yang sebenarnya. 7. Kurang adanya ketelitian dan kesabaran pada saat demonstrasi berlangsung. Namun demikian, menurut Sagala (2003:212) ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan- kelemahan dari metode demonstrasi, yaitu: 1. Guru harus menentukan terlebih dahulu kompetensi yang ingin dicapai dari proses pembelajaran. 2. Guru harus mengarahkan proses demonstrasi, sehingga peserta didik memperoleh pengertian dan gambaran yang benar serta pembentukan sikap dan kecakapan praktis. 3. Pilih dan kumpulkan alat- alat demonstrasi yang akan dilaksanakan. 4. Usahakan agar seluruh peserta didik dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi, sehingga dapat memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama. 5. Berikan pengertian yang jelas tentang landasan teori dari hal- hal yang didemonstrasikan dan hindari pemakaian istilah yang tidak dipahami oleh peserta didik. 6. Sedapat mungkin materi pelajaran yang didemonstrasikan merupakan hal- hal yang bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan seharihari. 7. Tetapkan garis- garis besar langkah- langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.

2.3. Minat Belajar Siswa Secara bahasa (1990:583) minat berarti: Kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Sedangkan pengertian minat secara istilah telah banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya yang dikemukakan Sardiman (2006:76) bahwa minat diartikan

xxx

sebagai: Suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhankebutuhannya sendiri. Sedangkan menurut Pasaribu dan

Simanjuntak (1983:13) mengartikan minat sebagai: Suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya. Selanjutnya menurut Daradjat, dkk (1995:15) mengartikan minat adalah: Kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan sesuatu hal yang berharga bagi orang. Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli seperti yang dikutip di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan seseorang terhadap obyek atau sesuatu kegiatan yang digemari yang disertai dengan perasaan senang, adanya perhatian, dan keaktifan berbuat. Setiap siswa mempunyai minat dan kebutuhan masing- masing, misalnya siswa di perkotaan berbeda minat dan kebutuhannya dengan siswa yang tinggal di pedesaan. Oleh karena itu, menurut Sagala (2003:152) bahwa: Materi ajar dan cara penyajiannya sedapat mungkin disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa tersebut karena sesuatu yang menarik minat dan memenuhi kebutuhan siswa akan dapat menarik perhatian mereka, sehingga menjadi bersungguh- sungguh dalam belajarnya. Memang guru menyadari bahwa tidak semua tindakannya dapat memenuhi minat dan kebutuhan siswa. Dalam hal ini, minat dan cita- cita sangat berbeda dalam implementasinya. Al-Mighwar (2006:113) mengatakan bahwa: Minat adalah perasaan, harapan, pendirian, prasangka, rasa takut, atau kecenderungan lain

xxxi

yang mengarahkan individu pada suatu pilihan tertentu. Cita- cita merupakan perwujudan dari minat yang berkaitan dengan masa depan yang direncanakan oleh seseorang dalam menentukan pilihannya. Dengan demikian, hal- hal yang bukan menjadi objek minat dan cita- cita dari seseorang cenderung dikesampingkan. Minat atau cita- cita siswa sekolah menengah yang memasuki usia masa remaja awal tentang sekolah banyak sipengaruhi oleh minat orang tua dan kelompoknya. Ane Rose dalam Al-Mighwar (2006:116) menyatakan bahwa: Pola pendidikan orang tua yang dialami anak sejak masa kanak- kanak akan mempengaruhi pola kebutuhannya, kemudian berpengaruh pula terhadap jenis jabatan yang akan dipilihnya kelak. Hal yang dikeluhkan oleh siswa sekolah menengah pada umumnya adalah masalah sekolah sekolah, pekerjaan rumah, kursus- kursus wajib, makan di kantin, dan manajemen sekolah. Mereka bersikap kritis terhadap guru- guru dan cara mengajarnya. Pada umumnya, siswa sekolah menengah menurut Al-Mighwar (2006:104) bahwa: Siswa lebih menaruh minat pada pelajaran- pelajaran yang nantinya akan bermanfaat dalam bidang pekerjaan yang dipilihnya. Di antara siswa ada yang tidak berminat terhadap pendidikan, bahkan membenci sekolah. Hal ini menurut Al-Mighwar (2006:104) terdapat pada: (1) Siswa yang orang tuanya memiliki cita- cita tinggi yang tidak realistis terhadap prestasi akademiknya, (2) Siswa yang kurang diterima oleh temanteman sekelasnya, dan (3) Siswa yang matang lebih awal fisiknya jauh lebih

xxxii

besar dibandingkan teman- teman sekelasnya dan selalu dijadikan contoh oleh gurunya. Selanjutnya, Al-Mighwar (2006:105) menunjukkan ciri- ciri siswa yang kurang menyenangi pendidikan ini adalah sebagai berikut: Berprestasi rendah, bekerja di bawah kemampuannya dalam setiap mata pelajaran atau dalam mata pelajaran yang tidak disukainya, membolos dan berusaha memperoleh izin dari orang tuanya untuk berhenti sekolah sebelum waktunya, dan berhenti sekolah di kelas terakhir tanpa merasa perlunya ijazah. Menurut Dalyono (2001:56) bahwa: Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar dan juga datang dari hati sanubari. Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi. Menurut Djamarah dan Aswan (2006:167) bahwa: Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar, dimana anak didik yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya. Proses belajar akan berjalan lancar apabila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan belajar anak didik dalam kurun waktu tertentu. Melihat dari pendapat di atas, maka minat penting untuk ditingkatkan karena mempermudah proses belajar siswa dan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari

xxxiii

sebelumnya. Minat merupakan variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita- cita yang diharapkan seperti yang dikemukakan Effendi (1995:15) bahwa: Belajar dengan minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Dengan demikian, aktivitas belajar siswa perlu disertai dengan minat belajar yang tinggi, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka. Minat belajar yang tinggi akan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran.

2.4. Fungsi Minat Belajar dalam Proses Pembelajaran Minat belajar adalah sesuatu keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan yang disengaja yang akhirnya melahirkan rasa senang dalam perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan. Minat terdiri dari banyak unsur, yaitu perhatian, perasaan, dan motif . 1. Perhatian Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan baik, dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam belajar. Menurut Suryabrata (2002:14) perhatian adalah: Banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Kemudian Sumanto (1984:32) berpendapat bahwa: Perhatian adalah pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertentu kepada suatu obyek, atau

pendayagunaan kesadaran untuk menyertai suatu aktivitas.

xxxiv

Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi. Oleh karena itu, sebagai seorang guru harus selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya, sehingga mereka mempunyai minat terhadap pelajaran yang diajarkannya. Orang yang menaruh minat pada suatu aktivitas akan memberikan perhatian yang besar. Ia tidak segan mengorbankan waktu dan tenaga demi aktivitas tersebut. Oleh karena itu, seorang siswa yang mempunyai perhatian terhadap suatu pelajaran, ia pasti akan berusaha keras untuk memperoleh nilai yang bagus yaitu dengan belajar. 2. Perasaan Unsur yang tak kalah pentingnya adalah perasaan dari anak didik terhadap pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Menurut Suryabrata (2002:66) perasaan didefinisikan sebagai: Gejala psikis yang bersifat subjektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal dan dialami dalam kualitas senang atau tidak dalam berbagai taraf. Setiap aktivitas dan pengalaman yang dilakukan akan selalu diliputi oleh suatu perasaan, baik perasaan senang maupun perasaan tidak senang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menganggap, mengingat-ingat atau memikirkan sesuatu. Selanjutnya, menurut Winkel (1983:30) perasaan merupakan: Aktivitas psikis yang di dalamnya subjek menghayati nilai-nilai dari suatu objek. Perasaan sebagai faktor psikis non intelektual, yang khusus berpengaruh

xxxv

terhadap semangat belajar. Jika seorang siswa mengadakan penilaian yang agak spontan melalui perasaannya tentang pengalaman belajar di sekolah, dan penilaian itu menghasilkan penilaian yang positif maka akan timbul perasaan senang di hatinya akan tetapi jika penilaiannya negatif maka timbul perasaan tidak senang. Perasaan senang akan menimbulkan minat, yang diperkuat dengan sikap yang positif. Sedangkan perasaan tidak senang akan menghambat dalam mengajar, karena tidak adanya sikap yang positif, sehingga tidak menunjang minat dalam belajar. 3. Motif Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Sardiman (2006:73) motif dapat dikatakan sebagai: Daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan kreativitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Selanjutnya, menurut Suryabrata (2002:32) motif adalah: Keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu guna mencari suatu tujuan. Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya. Dalam hal ini, motivasi sebagai dasar penggeraknya yang mendorong seseorang untuk belajar dan minat merupakan potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu tertentu. Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat apa-

xxxvi

apa yang telah disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Oleh karena itu, guru harus bisa membangkitkan minat anak didik, sehingga anak didik yang pada mulanya tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan karena seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Dan segala sesuatu yang menarik minat orang tertentu selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu membangkitkan minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. Jadi motivasi merupakan dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar seseorang sehingga ia berminat terhadap sesuatu objek, karena minat adalah alat motivasi dalam belajar. Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan usaha yang gigih serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan. Jika seorang siswa memiliki rasa ingin belajar, maka ia akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya. Elizabeth B. Hurlock menulis tentang fungsi minat bagi kehidupan anak sebagaimana yang ditulis oleh Wahid (1998:109) sebagai berikut:

xxxvii

1. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita- cita. Sebagai contoh anak yang berminat pada olah raga, maka citacitanya adalah menjadi olahragawan yang berprestasi, sedangkan anak yang berminat pada kesehatan fisiknya maka cita-citanya menjadi dokter. 2. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat. Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya untuk belajar kelompok di tempat temannya meskipun suasana sedang hujan. 3. Prestasi selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas. Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan diberi pelajaran, akan tetapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan jumlah pengetahuan yang berbeda. Hal ini terjadi karena berbedanya daya serap mereka dan daya serap ini dipengaruhi oleh intensitas minat mereka. 4. Minat yang terbentuk sejak kecil/masa kanak- kanak sering terbawa seumur hidup karena minat membawa kepuasan. Minat menjadi guru yang telah membentuk sejak kecil sebagai misal akan terus terbawa sampai hal ini menjadi kenyataan. Apabila ini terwujud, maka semua suka duka menjadi guru tidak akan dirasa karena semua tugas dikerjakan dengan penuh sukarela dan apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi obsesi yang akan dibawa sampai mati.

Dalam hubungannya dengan pemusatan perhatian, menurut Gie (2004:57) minat mempunyai peranan dalam: Melahirkan perhatian yang serta merta memudahkan terciptanya pemusatan perhatian, dan mencegah gangguan perhatian dari luar. Oleh karena itu, minat mempunyai pengaruh yang besar dalam belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan sebaik- baiknya karena tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan apabila bahan pelajaran itu menarik minat siswa, maka ia akan mudah dipelajari dan disimpan karena adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar. Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force, yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat

xxxviii

kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun belajar berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran. Mereka hanya tergerak untuk mau belajar, tetapi sulit untuk terus tekun karena tidak ada pendorongnya. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil yang baik dalam belajar seorang siswa harus mempunyai minat terhadap pelajaran, sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar. Proses interaksi antara siswa dengan gurunya akan menghasilkan persepsi siswa mengenai sosok guru yang di kenalnya. Siswa menganggap guru sebagai figur yang menarik dan menyenangkan, sehingga hal ini akan meningkatkan minat siswa untuk mengikuti mata pelajaran yang diampunya. Dalam hal ini, Djamarah dan Aswan (2006:166) mengatakan bahwa: Minat merupakan rasa senang dan ketertarikan pada suatu hal yang ditimbulkan dari hasil interaksi yang diimplementasikan melalui partisipasi aktif dalam suatu kegiatan, seperti memberikan perhatian yang lebih besar terhadap gurunya terutama ketika mengikuti pelajaran. Siswa akan lebih termotivasi jika dalam dirinya tumbuh minat yang kuat. Lebih lanjut, Baharuddin (2007:138) mengatakan bahwa: Suatu kegiatan akan menghasilkan sesuatu yang positif jika disertai oleh perasaan positif. Menurut Djamarah dan Aswan (2006:166) minat berarti: Kecenderungan yang menetap dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Menurut Sujanto (2004:92) minat sebagai: Sesuatu pemusatan perhatian yang tidak sengaja yang terlahir

xxxix

dengan penuh kemauannya dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa minat merupakan pemusatan perhatian. Witherington dalam Buchori (1991:135) berpendapat bahwa: Minat merupakan kesadaran seseorang terhadap suatu obyek, seseorang, soal, atau situasi yang bersangkutan dengan dirinya. Selanjutnya, minat harus dipandang sebagai suatu sambutan yang sadar dan kesadaran itu disusul dengan meningkatnya perhatian terhadap suatu obyek. Hal ini menunjukkan adanya unsur perhatian di dalam minat seseorang terhadap sesuatu. Menurut Djaali (2007:121) minat adalah: Rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada sesuatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Pernyataan tersebut mengidentifikasikan bahwa orang yang berminat akan ada rasa tertarik. Tertarik dalam hal tersebut merupakan wujud dari rasa senang pada sesuatu. Slameto (1995:57) berpendapat bahwa: Minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang. Beberapa pendapat di atas menunjukkan adanya unsur perasaan senang yang menyertai minat seseorang. Melihat beberapa pendapat dari para ahli di atas, dapat diketahui ciriciri adanya minat pada seseorang dari beberapa hal, antara lain: adanya perasaan senang, adanya perhatian, adanya aktivitas yang merupakan akibat dari rasa senang, dan perhatian. 1. Perasaan senang.

xl

Menurut Ahmadi (1991:36) perasaan adalah: Peryataan jiwa yang sedikit banyak bersifat subyektif dalam merasakan senang atau tidak senang. Sementara itu, menurut Suryabrata (2002:66) perasaan adalah: Gejala psikis yang bersifat subyektif yang umumnya berhubungan dengan gejalagejala mengenal dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai taraf. Penilaian subjek terhadap sesuatu objek membentuk perasaan subjek yang bersangkutan. Oleh karena itu, perasaan pada umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenai, artinya perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, membayangkan, mengingat atau memikirkan sesuatu. 2. Perhatian. Menurut Suryabrata (2002:14) bahwa perhatian adalah: Pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek atau banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang dilakukan. Selanjutnya, menurut Baharudin (2007:178) bahwa perhatian merupakan: Pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada suatu sekumpulan objek. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian merupakan pemusatan yang ditujukan kepada suatu objek. 3. Aktivitas. Menurut Ali (1996:26) bahwa aktivitas adalah: Keaktifan atau kegiatan. Aktivitas yang dimaksud adalah keaktifan atau partisipasi langsung dalam suatu kegiatan. Pendapat ini didukung oleh Suryabrata (2002:72) bahwa aktivitas adalah: banyak sedikitnya orang menyatakan diri dan

xli

menjelmakan perasaan dan pikiran- pikirannya dalam tindakan yang spontan. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas merupakan perilaku yang aktif dalam melakukan tindakan yang merupakan penjelmaan dari perasaan.

2.5. Beberapa Keunggulan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahan dalam

meningkatkan minat belajar siswa, sehingga guru diharapkan dapat menerapkannya sedemikian rupa agar efektif diterapkan dalam proses belajar mengajar. Demikian halnya dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran. Menurut Muhibbin Syah (2002:208) metode

demonstrasi adalah: Metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan. Menurut Djamarah (2002:102), metode demonstrasi adalah: Metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran. Menurut Darwin Syah (2007:152), metode demonstrasi adalah: Cara yang digunakan dalam penyajian pelajaran dengan cara meragakan bagaimana membuat,

mempergunakan serta mempraktekan suatu benda atau alat baik asli maupun tiruan atau bagaimana mengerjakan sesuatu perbuatan atau tindakan yang mana dalam meragakan disertai dengan penjelasan lisan.

xlii

Metode demonstrasi merupakan cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya ataupun tiruan. Sebagai metode penyajian, metode demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Manfaat psikologis dari metode demonstrasi adalah menurut Muhibin Syah (2002:209) adalah sebagai berikut: (1) Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan pada materi pelajaran, (2) Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari, dan (3) Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa. Menurut Darwin Syah (2007:152) ada beberapa dasar pertimbangan dalam pemilihan metode demonstrasi sebagai berikut: (1) Mendapatkan gambaran yang jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan mengatur sesuatu proses pembelajaran, membuat sesuatu, atau menggunakan komponenkomponen sesuatu, (2) Membandingkan suatu cara mengajar dengan cara lain, (3) Mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu, dan (4) Ingin

menunjukkan suatu keterampilan. Sementara itu, Menurut S. Nasution dalam Muhibbin Syah (2002:210) yang secara khusus menyoroti manfaat metode demonstrasi dengan menggunakan alat peraga berpendapat, bahwa metode ini dapat: (1) Menambah aktivitas belajar siswa karena ia turut melakukan kegiatan peragaan pembelajaran, (2) Menghemat waktu belajar di kelas, (3)

xliii

Menjadikan hasil yang mantap dan permanen, (4) Membangkitkan minat dan aktivitas belajar siswa, dan (5) Memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar siswa meningkat dengan indikasi kegiatan pembelajaran membuat siswa merasa senang, perhatian siswa juga menjadi terpusat pada kegiatan pembelajaran, siswa menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena proses pembelajaran menjadi lebih

menyenangkan sehingga penyampaian materi dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Minat belajar siswa meningkat maka diharapkan prestasi belajar siswa juga akan mengalami peningkatan. Selain itu, pembelajaran dengan metode demonstrasi terbukti mampu meningkatkan perhatian, perasaan senang dan aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran perbaikan sistem kopling. Hal ini

menunjukkan bahwa penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran pemeliharaan sistem kopling memberikan kesan yang mendalam bagi siswa. Perhatian siswa tertuju pada kegiatan pembelajaran dan mampu memberikan gambaran langsung tentang sistem kopling. Kemampuan guru dalam penggunaan metode pembelajaran khususnya metode demonstrasi hendaknya ditingkatkan agar siswa lebih berminat dalam mengikuti proses pembelajaran. Selanjutnya, kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode ceramah dan Tanya jawab belum mampu memberikan peningkatan minat

xliv

belajar yang signifikan. Siswa kurang berminat dalam mengikuti proses pembelajaran sistem kopling. Perhatian siswa hanya tertuju pada guru dan papan tulis. Aktivitas siswa hanya mencatat dan mendengarkan penjelasan. Siswa hanya sebagai penerima dan seringkali penjelasan guru kurang dapat diserap dengan baik oleh siswa. Masih banyak siswa yang bermain HP, berbicara sendiri dan membuat gaduh suasana pada saat proses pembelajaran berlangsung. Sehingga perlu variasi dalam proses pembelajaran salah satunya dengan penggunaan metode pembelajaran demonstrasi.

xlv

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian Dalam suatu penelitian diperlukan adanya suatu pendekatan penelitian untuk memudahkan peneliti dalam melaksanakan prosedur penelitian. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Arikunto (2003:23) yang mengatakan bahwa: Pendekatan adalah metode atau cara mengadakan penelitian, juga menunjukkan jenis dan tipe penelitian. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kualitatif untuk menentukan variabel yang akan diteliti. Menurut Moleong (2006:6) penelitian kualitatif adalah: Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Selanjutnya, menurut Syaodih (2006:13) bahwa: Penelitian kualitatif merupakan jenis pendekatan yang menghasilkan penemuan- penemuan yang tidak dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur- prosedur statistik atau cara- cara lain dari kuantifikasi (pengukuran). Jenis penelitian ini adalah deskriptif karena hanya ingin mendeskripsikan tentang: Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. Hal ini sebagaimana dikatakan

xlvi

oleh Arikunto (2003:310) bahwa: Penelitian deskripsi tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, akan tetapi hanya menggambarkan suatu variabel, gejala, atau keadaan. Juga, Sudjana (2005:52) mengatakan bahwa: Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian suatu kondisi, suatu pemikiran, atau suatu peristiwa pada masa sekarang ini yang bertujuan untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta, sifat, dan hubungan antara fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini, peneliti ingin menggambarkan secara lebih jelas tentang Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara dan yang menjadi sumber datanya adalah dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara. SMP Negeri 2 Jambo Aye terletak di Jalan Tgk. Chik Ditunong Gampong Tanjong Ara Pantonlabu Kabupaten Aceh Utara dinegerikan pada 20 November 1984 yang terdiri dari 15 ruang dengan jumlah guru tetap 17 orang terdiri dari 6 orang pria dan 11 orang wanita dan guru tidak tetap 18 orang terdiri dari 5 orang pria dan 13 orang wanita serta pegawai tetap 4 orang yang terdiri dari 3 orang pria dan 1 orang wanita dan pegawai tidak tetap 4 orang terdiri dari 2 orang pria dan 2 orang wanita. Saat ini SMP

xlvii

Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara memiliki jumlah siswa sebanyak 422 orang siswa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini: Tabel 2. Keadaan Siswa SMP Negeri 2 Jambo Aye Aceh Utara Kelas Kelas Paralel Laki-laki Perempuan Jlh Siswa VII 5 78 72 150 VIII 5 52 60 112 IX 5 82 78 160 Total: 15 212 210 422 Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara

Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan, yaitu mulai tanggal 5 Februari 2013 sampai 5 Maret 2013. 3.3. Subjek Penelitian Suatu penelitian harus memiliki subjek yang akan diteliti. Subjek dalam penelitian ini adalah guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara yang berjumlah 2 orang. Sementara itu, yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah: Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara.

3.4. Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh data dalam penelitian ini digunakan instrumen wawancara. Menurut Moleong (2006:186) wawancara adalah: Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keteranganketerangan lisan melalui bercakap- cakap dengan maksud tertentu yang

xlviii

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban/keterangan pada peneliti. Oleh karena itu, wawancara secara mendalam dilakukan dengan kedua guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara untuk memperoleh informasi tentang: Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara.

3.5. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul melalui wawancara langsung dengan informan, selanjutnya data dianalisis secara kualitatif. Menurut Miles dan Huberman dalam Salim (2006:20) menyebutkan ada tiga langkah analisis data kualitatif, yaitu: 1. Reduksi data. Reduksi, yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti pada proses dan pernyataanpernyataan yang perlu dijaga, sehingga tetap berada di dalamnya. 2. Penyajian data. Penyajian data dimaksudkan, dimana peneliti mengembangkan sebuah informasi deskripsi untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan dalam bentuk teks naratif. 3. Penarikan kesimpulan/verifikasi. Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir dalam proses analisis data.

xlix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan surat pengantar dari pihak Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, kemudian peneliti meneruskan surat dari fakultas tersebut ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara untuk meminta izin penelitian ke SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara sesuai dengan permasalahan penelitian ini. Setelah keluarnya surat izin dari dinas ini peneliti selanjutnya menemui kepala sekolah untuk mendapatkan izin pengumpulan data dari sekolah tersebut. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan (tanggal 05 Februari-05 Maret 2013) melalui wawancara langsung yang dilakukan secara mendalam dengan 2 orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang menjadi informan dalam penelitian ini.

4.2. Hasil Penelitian 4.2.1. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Proses Pembelajaran

Sehubungan dengan pertanyaan penelitian pertama, yaitu apakah guru selalu menerapkan metode mengajar dalam setiap proses pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Jambo Aye Kabupaten Aceh Utara ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini

diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Ya, guru selalu menerapkan metode mengajar dalam proses pembelajaran. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kedua, yaitu metode mengajar apakah yang sering digunakan oleh guru dalam setiap proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Bentuk metode mengajar yang sering diterapkan guru dalam proses pembelajaran adalah diskusi, kelompok, dan demonstrasi dan Zul menjawab bahwa: Bentuk metode mengajar yang sering diterapkan guru dalam proses pembelajaran adalah bentuk teori, pembentukan kelompok, dan demonstrasi. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian ketiga, yaitu apakah guru menguasai semua metode mengajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Ya, menguasai metode mengajar dalam proses pembelajaran dan Zul menjawab bahwa: Tidak semua menguasai metode mengajar dalam proses pembelajaran. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian keempat, yaitu apakah guru pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Ya, pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses

li

pembelajaran dan dapat menyenangkan siswa. Dengan demikian, terlihat bahwa guru pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kelima, yaitu bagaimana guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Strategi penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran adalah dengan membagi siswa dalam kelompok dan Zul menjawab bahwa: Strategi penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran adalah dengan memperlihatkan suatu gambar dari suatu kejadian. Menurut peneliti sebaiknya penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran harus memperhatikan materi dan kompetensi yang hendak dicapai dari pelajaran tersebut.

4.2.2. Dampak Penerapan Metode Demonstrasi terhadap Minat Belajar Siswa

Sehubungan dengan pertanyaan penelitian pertama, yaitu bagaimana minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat menyenangkan dan Zul menjawab bahwa: Penerapan metode demonstrasi

lii

dalam proses pembelajaran dapat menarik minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kedua, yaitu apa upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: LN menjawab bahwa: Membuat diskusi kelompok, selanjutnya perkelompok mempresentasikan ke depan dan Zul menjawab bahwa: Praktek dalam melakukan sebuah permasalahan. Contoh:

Menerapkan hukum atau memutuskan suatu perkara pada pengadilan. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian ketiga, yaitu apakah melalui penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Minat belajar siswa semakin kreatif, efektif, dan menyenangkan dan Zul menjawab bahwa: Ya, minat belajar siswa meningkat dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Sehubungan dengan pertanyaan penelitian keempat, yaitu bagaimana peningkatan minat belajara siswa pada mata pelajaran PKn setelah guru menerapkan metode demonstrasi dalam setiap proses pembelajaran ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa:

liii

Peningkatan minat belajar siswa melalui penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) amat menarik dan Zul menjawab bahwa: Peningkatan minat belajar siswa melalui penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran

Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tertarik. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kelima, yaitu apakah menurut guru penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran efektif digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Ya, efektif penerapan metode demonstrasi untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

4.2.3. Kendala Guru Menerapkan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Sehubungan dengan pertanyaan penelitian pertama, yaitu apakah guru pernah mengalami kendala menerapkan metode domonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Pernah mengalami kendala dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

liv

Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kedua, yaitu kendala seperti apakah yang pernah bapak/ibu alami menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Bentuk kendala yang dialami guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah waktunya terbatas dan Zul menjawab bahwa: Bentuk kendala yang dialami guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah banyak menghabiskan waktu. Hal ini berarti bahwa penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran memerlukan waktu yang banyak. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian ketiga, yaitu apakah bentuk kendala yang dialami guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn tersebut bersifat internal atau eksternal ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Kendala yang dialami dalam menerapkan metode demonstrasi secara internal adalah suasana tidak tenang dalam belajar, sedangkan secara eksternal adalah sukar dalam mencari bahan. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian keempat, yaitu bagaimana upaya guru untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan

lv

Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN dan Zul menjawab bahwa: Membuat anak lebih kreatif untuk mencari bahan-bahan tambahan dalam materi pelajaran. Sehubungan dengan pertanyaan penelitian kelima, yaitu apakah upaya tersebut efektif untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? Dari dua orang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang diwawancarai dalam penelitian ini diperoleh jawaban sebagai berikut: LN menjawab bahwa: Upaya guru untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) efektif dan Zul menjawab bahwa: Upaya guru untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) tidak begitu efektif. Hal ini berarti bahwa di antara kedua guru Pendidikan Kewarganegaraan tersebut terjadinya pertentangan pendapat tentang upaya mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses

pembelajaran.

4.3. Pembahasan 4.3.1. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Proses Pembelajaran Dari hasil penelitian pertanyaan pertama sampai kelima ditemukan bahwa guru selalu menerapkan metode mengajar dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, ditemukan bahwa bentuk metode mengajar yang sering diterapkan guru dalam proses pembelajaran adalah teori, diskusi, kelompok,

lvi

dan demonstrasi. Guru menguasai metode mengajar dalam proses pembelajaran, tetapi tidak semuanya. Guru pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran dan dapat menyenangkan siswa. Strategi penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran adalah dengan membagi siswa dalam kelompok dan memperlihatkan suatu gambar dari suatu kejadian. Metode pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran di kelas, kemampuan yang dimiliki peserta didik akan sangat ditentukan salah satunya oleh penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal dalam proses belajar mengajar guru sebaiknya tidak hanya menguasai satu metode saja, akan tetapi perlu menguasai metode lainnya karena dalam proses pembelajaran diperlukan metode bervariasi agar suasana belajar yang efektif. Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Aswan (2006:90) adalah: Cara penyajian materi pembelajaran dengan memperagakan atau

menunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya maupun tiruan yang disertai

denganpenjelasan lisan. Diharapkan, dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran proses penerimaan siswa terhadap materi pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga dapat membentuk pengertian siswa dengan baik dan sempurna. Selanjutnya, Djamarah dan Aswan (2006:91) menambahkan bahwa: Metode demonstrasi baik

lvii

digunakan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang hal- hal yang berhubungan dengan proses mengatur, sesuatu, bekerjanya, mengerjakan atau menggunakan, komponen- komponen pembentuk, membandingkan, dan mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu. Dengan demikian, hasil wawancara peneliti dengan informan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan dapat terjawab.

4.3.2. Dampak Penerapan Metode Demonstrasi terhadap Minat Belajar Siswa

Dari hasil penelitian pertanyaan pertama sampai kelima ditemukan bahwa minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) melalui penerapan metode demonstrasi sangat menyenangkan dan menarik. Upaya guru untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah dengan membuat diskusi kelompok dan perkelompok mempresentasikan ke depan. Selanjutnya dengan praktek dalam melakukan sebuah permasalahan. Contoh: Menerapkan hukum atau memutuskan suatu perkara pada pengadilan. Minat belajar siswa meningkat, semakin kreatif, efektif, dan menyenangkan dengan penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Peningkatan minat belajar siswa melalui penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) amat menarik. Penerapan metode

lviii

demonstrasi untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sangat efektif. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Sedangkan pengertian minat secara istilah telah banyak dikemukakan oleh para ahli, di antaranya yang dikemukakan Sardiman (2006:76) bahwa minat diartikan sebagai: Suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat lixymbo-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhankebutuhannya sendiri. Sedangkan menurut Pasaribu dan

Simanjuntak (1983:13) mengartikan minat sebagai: Suatu motif yang menyebabkan individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya. Selanjutnya menurut Daradjat, dkk (1995:15) mengartikan minat adalah: Kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan sesuatu hal yang berharga bagi orang. Proses belajar akan berjalan apabila disertai minat. Minat merupakan alat motivasi yang utama yang dapat membangkitkan kegairahan belajar anak didik dalam kurun waktu tertentu. Melihat dari pendapat di atas, maka minat penting untuk ditingkatkan karena mempermudah proses belajar siswa dan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Minat merupakan variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi atau cita- cita yang diharapkan seperti yang dikemukakan Effendi (1995:15) bahwa: Belajar dengan

lix

minat akan lebih baik dari pada belajar tanpa minat. Oleh karena itu, guru dalam proses pembelajaran harus mampu meningkatkan minat belajar siswa secara optimal.

4.3.3. Kendala Guru Menerapkan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Dari hasil penelitian pertanyaan pertama sampai kelima ditemukan bahwa guru pernah mengalami kendala menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Bentuk kendala yang dialami guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah waktunya terbatas karena banyak menghabiskan waktu. Kendala yang dialami dalam menerapkan metode demonstrasi secara internal adalah suasana tidak tenang dalam belajar, sedangkan secara eksternal adalah sukar dalam mencari bahan. Upaya guru untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah dengan membuat anak lebih kreatif untuk mencari bahan-bahan tambahan dalam materi pelajaran. Upaya guru untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran Pendidikan

Kewarganegaraan (PKn) efektif walaupun kadang tidak begitu efektif. Metode pembelajaran mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran di kelas, kemampuan yang dimiliki peserta didik akan sangat ditentukan salah satunya oleh penggunaan metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Agar tujuan

lx

pembelajaran dapat tercapai secara maksimal dalam proses belajar mengajar guru sebaiknya tidak hanya menguasai satu metode saja, akan tetapi perlu menguasai metode lainnya karena dalam proses pembelajaran diperlukan metode bervariasi agar suasana belajar yang efektif. Dalam pelaksanaan kegiatan belajar banyak menggunakan jenis metode yang bisa digunakan oleh pendidik dalam menerangkan materi ajar kepada siswa. Masing- masing jenis metode memiliki kemampuan sendiri- sendiri dalam mengungkapkan dan menggambarkan bahan ajar yang disampaikan guru. Begitu pula kualitas efeknya terhadap pemahaman siswa yang ditimbulkan. Menurut Edgar Dale dalam Wibawa (1993:16) bahwa: Pengalaman langsung diperlukan untuk membantu siswa belajar memahami, mengingat, dan menerapkan berbagai abstrak. Kegiatan belajar akan terasa lebih mudah bila menggunakan materi yang terasa bermakna bagi siswa ataupun mempunyai relevansi dengan pengalamannya. Pada akhirnya, penerapan suatu metode dalam proses pembelajaran harus disesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran itu sendiri agar tidak mengalami kendala dalam penerapannya. Dengan demikian pertanyaan yang diajukan

sebelumnya dalam penelitian ini terjawab dengan adnya hasil penelitian ini, sehingga penelitian ini dapat diterima.

lxi

BAB V PENUTUP

5.1. Simpulan Berdasarkan analisis hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Penerapan metode demonstrasi oleh guru dalam proses pembelajaran sudah sangat efektif karena dapat memotivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. 2. Dampak penerapan metode demonstrasi terhadap minat belajar siswa adalah sangat positif, dimana siswa menjadi lebih semangat dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). 3. Kendala guru dalam menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran adalah terbatasnya waktu dan sulitnya menemukan bahanbahan pelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan.

5.2. Saran Atas dasar simpulan di atas, maka penulis menyarankan sebagai berikut: 1. Diharapkan kepada pihak sekolah agar dapat melengkapi fasilitas belajar yang lebih lengkap untuk mendukung proses belajar mengajar agar dapat berjalan secara lebih efektif.

lxii

2. Diharapkan kepada guru agar dapat lebih meningkatkan kualitas mengajar mereka, sehingga dapat lebih mudah dalam menyampaikan materi ajar kepada siswa dalam proses pembelajaran.

lxiii

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Banda Aceh: FKIP Unsyiah. Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian. (Suatu pendekatan praktis). Jakarta: Rineka Cipta. Al- Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Petunjuk bagi orang tua dan guru. Bandung: Pustaka Setia. Ahmadi, Abu. 1991. Psikologi Umum. Bandung: Mandar Maju. Ali, Muhammad. 1996. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo. Baharuddin. 2007. Psikologi Pendidikan Refleksi Teoritis Terhadap Fenomena. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Buchori. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT. Aksara Baru. Balai Bahasa. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi II). Jakarta: Balai Pustaka. Daradjat, Zakiah, dkk. 1995. Metode Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Efendi. 1995. Filsafat Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Gie, The Liang. 2004. Cara Belajar yang Baik Bagi Mahasiswa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Moleong, J. Lexy. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Pasaribu dan Simanjuntak. 1983. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito. Rostiyah, N.K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

lxiv

Rusman. 2011. Model Model Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sujanto, Agus. 2004. Psikologi Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Slameto. 1995. Belajar dan Faktor Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Sagala, Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Sardiman, A.M. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Cet.2. Jakarta: Rajawali Press. Soekidjo, Notoatmodjo. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya. Sudjana, Nana. 1989. Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Balai Pustaka. Surachmad, Winarno. 1990. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar. Dasar dan teknik metodologi pengajaran. Bandung: Tarsito. Suyabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sumanto, Wasty. 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara. Syah, Muhibbin. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Syaodih, Nana. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya. Salim. 2006. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Wahab, Abdul Aziz. 2007. Metode dan Model Model Mengajar IPS. Bandung: Alfabeta.

Wibawa, Basuki. 1993. Media Pengajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
Winkel, W.S. 1983. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia. Wahid, Abdul. 1998. Menumbuhkan Minat dan Bakat Anak. Jakarta: Pustaka Pelajar.

lxv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Identitas Pribadi Nama NIM Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat

: Nurjani : 1006101130023 : Meunasah Bujok, 1 Juni 1965 : Perempuan : Islam : Jl. Seuneudon, Desa Meunasah Bujok, Baktiya, A. Utara

2. Identitas Orang Tua Nama Ayah Nama Ibu 3. Identitas Keluarga Nama Suami Agama Alamat

: Abdul Gani : Ainsyah : Bani Amin : Islam : Jl. Seuneudon, Desa Meunasah Bujok, Baktiya, A. Utara

4. Riwayat Pendidikan SD Negeri Pantee Breuh, tamat tahun 1978 SMP Negeri 1 Tanah Jambo Aye, tamat tahun 1982 SMA Negeri 1 Tanah Jambo Aye, tamat tahun 1985 D-II PKK FKIP Unsyiah, tamat tahun 1988 S1 PPKn FKIP Unsyiah, masuk tahun 2010 Demikianlah DAFTAR RIWAYAT HIDUP ini saya buat dengan sebenarbenarnya agar dapat dipergunakan di mana perlu.

Baktiya, 01 Juli 2013

Nurjani

lxvi

PEDOMAN WAWANCARA

A. Penerapan Metode Demonstrasi dalam Proses Pembelajaran 1. Apakah bapak/ibu guru selalu menerapkan metode mengajar dalam proses pembelajaran PKn ? 2. Metode mengajar apakah yang sering bapak gunakan dalam proses pembelajaran PKn ? 3. Apakah bapak/ibu guru menguasai semua metode mengajar yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran PKn ? 4. Apakah bapak/ibu guru pernah menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? 5. Bagaimana bapak/ibu menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? B. Dampak Penerapan Metode Demonstrasi terhadap Minat Belajar Siswa 1. Bagaimana minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn ? 2. Apa upaya yang bapak/ibu lakukan untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? 3. Apakah melalui penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? 4. Bagaimana peningkatan minat belajaran siswa pada mata pelajaran PKn setelah bapak/ibu guru menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran ? 5. Apakah menurut bapak/ibu guru penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran efektif digunakan untuk meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran PKn ? C. Kendala Guru Menerapkan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran 1. Apakah bapak/ibu guru pernah mengalami kendala menerapkan metode domonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? 2. Kendala seperti apakah yang pernah bapak/ibu alami menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? 3. Apakah kendala yang bapak/ibu alami menerapkan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn tersebut bersifat internal atau eksternal ? 4. Bagaimana upaya bapak/ibu untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ? 5. Apakah upaya tersebut efektif untuk mengatasi kendala penerapan metode demonstrasi dalam proses pembelajaran PKn ?

lxvii