Anda di halaman 1dari 5

A. Pengertian Korosi Korosi adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan lingkungannya.

Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian. Korosi merupakan proses elektrokimia yang terjadi pada logam dan tidak dapat dihindari karena merupakan suatu proses alamiah. Berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya korosi, yaitu: sifat logam, yang meliputi perbedaan potensial, ketidakmurnian, unsur paduan, perlakuan panas yang dialami, dan tegangan, serta faktor lingkungan yang meliputi udara, temperatur, mikroorganisme. Korosi adalah suatu peristiwa di mana reaksi terjadi di antara logam dengan lingkungannya. Reaksi tersebut dengan mudah terjadi karena tingkat keadaan yang sedemikian rupa ingin merubah keadaan dirinya ke bentuk lain. Hasil yang di peroleh dari reaksi adalah bentuk dan keadaan logam tersebut cocok dengan lingkungan tersebut. (Kennet dan Chamberlain, 1991)

B. Jenis-jenis Korosi: Berbagai macam korosi dapat terjadi dengan cepat apabila pengendalian lingkungan dan pencegahan tidak dilakukan dengan baik yang akan memperparah keadaan. Korosi yang mungkin terjadi pada lingkungan tersebut adalah korosi galvanis, korosi merata, korosi sumuran, dan korosi celah. 1. Korosi Merata (Uniform/ General Corrosion) Korosi merata adalah jenis korosi dimana pada korosi tipe ini laju korosi yang terjadi pada seluruh permukaan logam atau paduan yang terpapar atau terbuka ke lingkungan berlangsung dengan laju yang hampir sama. Hampir seluruh permukaan logam menampakkan terjadinya proses korosi. Dampak Uniform Corrosion:

Karena korosi terjadi pada permukaan logam secara merata, sehingga terjadi pengikisan permukaan logam, akibat permukaan bereaksi dengan lingkungan dan menjadi produk karat (merata). Yang kemudian ketebalan logam berkurang. Dampaknya terhadap material / benda kerja yang terkorosi merata:

Kekuatan dan ketangguhan Material/benda kerja berkurang. Material terdegradasi secara lambat (penuaan), hingga akhirnya kembali menjadi bentu bijih. Menurunkan nilai estetika daripada benda kerja. Produk korosi menimbulkan pencemaran lingkungan.

Gambar 1 Korosi Seragam Cara pengendalian dari korosi seragam adalah : Dengan melakukan pelapisan dengan cat atau dengan material yang anodik. Melakukan inhibitas dan cathodic protection. lebih

2. Korosi Galvanis (Korosi Dwi Logam/ Bimetalic Corrosion) Korosi Galvanik atau biasa disebut juga dengan Two Metal Corrosion adalah korosi yang terjadi akibat adanya pertemuan atau kontak antara dua logam yang berbeda di dalam medium elektrolit. Korosi yang timbul tersebut disebabkan karena perbedaan potensial kedua pasangan logam tersebut. Perbedaan potensial antara dua logam berbeda yang terkontak ketika tercelup ke dalam medium elektrolit akan menyebabkan aliran elektron diantara kedua logam tersebut. Aliran elektron inilah yang menyebabkan reaksi korosi berlangsung. Logam

yang mempunyai resistensi korosi lebih rendah (less corrosion-resistant metal) akan meningkat laju korosinya jika dikopel atau disambungkan dengan bahan yang resistansinya lebih tinggi (more resistant metal). Logam yang resistansinya lebih rendah akan menjadi anodik, sedangkan yang lebih tinggi resistansinya akan menjadikatodik. Biasanya katoda atau logam katodik mengalami korosi sangat sedikit atau tidak sama sekali dalam kopel semacam ini, karena melibatkan aliran arus dan logam-logam yang berbeda. Bentuk korosi ini disebut sebagai korosi galvanis atau korosi dua logam, dengan batasan bahwa korosi galvanis hanya diperuntukkan apabila terjadi perbedaan bahan secara makro.

Gambar 2 Korosi Galvanik Pengendalian korosi galvanic adalah : Hindari pemakaian 2 jenis logam yang berbeda pergunakan logam yang lebih anodik dengan rasio yang lebih besar dibanding logam katodik Lapisi pada pertemuan dua logam yang berbeda jenis Gunakan logam ketiga yang lebih anodic

3. Korosi Celah (Crevice Corrosion) Korosi celah adalah korosi lokal yang terjadi pada celah diantara dua komponen baik logam dengan non-logam maupun logam dengan logam. Mekanisme tejadinya korosi celah ini diawali dengan terjadi korosi merata diluar dan didalam celah, sehingga terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen.

Pada suatu saat oksigen (O2) didalam celah habis, sedangkan oksigen (O2) didalam celah masih banyak, akibatnya permukaan logam yang berhubungan dengan bagian luar menjadi katoda dan permukaan logam didalam celah menjadi anoda sehingga terbentuk celah yang terkorosi.

Gambar 3 Korosi Celah

Cara pengendalian korosi celah : Hindari pemakaian sambungan paku keling atau baut, gunakan sambungan las. Gunakan gasket non absorbing. Usahakan menghindari daerah dengan aliran udara.

4. Korosi Sumuran (Pitting Corrosion) Korosi sumuran adalah korosi lokal yang terjadi pada permukaan yangn terbuka akibat pecahnya lapisan pasif. Terjadinya korosi sumuran ini diawali dengan pembentukan lapisan pasif di permukaannya, pada antar muka lapisan pasif dan elektrolit terjadi penurunan pH, sehingga terjadi pelarutan lapisan pasif secara perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah sehingga terjadi korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena lokasi terjadinya sangat kecil tetapi dalam, sehingga dapat menyebabkan peralatan (struktur) patah mendadak.

Gambar 4. Korosi Sumuran Cara pengendalian korosi sumuran adalah : Hindari permukaan logam dari cacat goresan. Perhalus permukaan material. Hindari variasi yang sedikit pada komposisi material. (Utomo, 2009) C. Referensi Budi Utomo. Jenis Korosi Dan Penanggulangannya. Kapal, Vol. 6, No.2, Juni 2009. Trethewey, Kenneth R.1991. Korosi : untuk mahasiswa sains dan rekayasa / Kenneth R. Trethewey, John Chamberlain ; alih bahasa Alex Tri Kantjono Widodo. Jakarta : Gramedia.