Anda di halaman 1dari 12

PERILAKU PERTAHANAN DIRI DAN REPRODUKSI KUCING DAN CAPUNG

Dosen Pengampu Ibu Najda Rifqiyati, M.Si.

Disusun oleh :

Lely Listyawati Nadia Naufinisa Setyo Prabowo Dis Setia Eka Putra Riza Tirosyada Shofwatul Mala M. Fadlul Wasik

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA


2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perilaku merupakan bentuk respon terhadap kondisi internal dan eksternal. Suatu respon dikatakan perilaku jika respon tersebut telah berpola, yakni memberikan respon tertentu yang sama terhadap stimulus tertentu. Perilaku juga dapat diartikan sebagai aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu stimulus. Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis (perilaku bawaan lahir atau innate behavior), dan karena akibat proses belajar atau pengalaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Dari berbagai hasil kajian yang telah dilakukan, diketahui bahwa terjadinya suatu perilaku dapat disebabkan oleh keduanya, yaitu genetis dan lingkungan (proses belajar), sehingga terjadi suatu perkembangan sifat (Campbell, 2004). Perilaku hewan merupakan bentuk strategi adaptasi bagi keberlangsungan hidup hewan yang meliputi semua gerakan motorik dan semua sensasi yang dialami oleh hewan sebagai respon atas perubahan internal dan lingkungan eksternal. Terdapat beragam jenis perilaku pada hewan. Diantara perilaku yang menarik untuk dipelajari adalah perilaku reproduksi dan perilaku mempertahankan diri untuk keberlangsungan hidup. Kucing termasuk hewan mamalia yang digolongkan karnivora. Perilaku-perilaku yang dimiliki kucing cukup menarik untuk dipelajari, sehingga kita dapat mengerti maksud dari perilakuperilaku tersebut. Kucing memiliki perilaku yang unik dan berbeda dengan mamalia lainnya. Begitu juga perilaku hewan aertebrata, mereka memiliki perilaku tersendiri dan berbeda dari hewan lainnya termasuk perilaku kawin dan perahanan diri. Capung merupakan serangga predator yang hidup di sekitar daerah perairan dan termasuk ordo odonata. Perilaku kawin capung sangat unik begitu juga perilaku pertahanan diri mereka yang sangat menaik untuk diteliti dan dipelajari. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perilaku pertahanan diri dan reproduksi mamalia (kucing)? 2. Bagaimana perilaku pertahanan diri dan reproduksi avertebrata (capung)? C. Tujuan 1. Mengetahui perilaku pertahanan diri dan reproduksi mamalia (kucing) 2. Mengetahui perilaku pertahanan diri dan reproduksi avertebrata (capung)

BAB II PEMBAHASAN

I. Perilaku Pertahanan Diri dan Reproduksi Mamalia A. Mekanisme pertahanan diri kucing Kucing adalah binatang berkaki empat yang termasuk hewan karnivora (bintang pemakan daging). Kucing telah berbaur dengan kehidupan manusia paling tidak sejak 6000 tahun Sebelum Masehi. Bahkan orang Mesir kuno sejak tahun 3500 SM telah menggunakan kucing utuk menjauhkan tikus atau hewan pengerat lain di lumbung yang menyimpan hasil panen. Saat ini kucing merupakan salah satu hewan peliharaan terpopuler di dunia. Ayat Al-Quran mengenai penciptaan hewan, termasuk mamalia adalah :

Artinya: "Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. An-Nur : 45) Klasifikasi dari kucing adalah sebagai berikut : Kingdom : Animalia

Filum : Chordata Kelas : Mamalia Ordo : Karnivora Famili : Felidae Genus : Felis Spesies: Felis domesticus (www.eol.org/Felis-domesticus) Adapun perilaku-perilaku yang termasuk pertahanan diri kucing, antara lain:

1. Berkelahi Kucing yang sedang berkelahi menegakkan rambut tubuh dan

melengkungkan punggung agar mereka tampak lebih besar. Serangan biasanya terdiri dari tamparan di bagian wajah dan tubuh dengan kaki depan yang kadang disertai gigitan. Luka serius pada kucing akibat perkelahian jarang terjadi karena pihak yang kalah biasanya akan lari setelah mengalami beberapa luka di wajah. Jantan yang aktif biasanya sering terlibat banyak perkelahian sepanjang hidupnya. Hal ini tampak pada berbagai luka di bagian wajah, seperti hidung atau telinga. 2. Membedakan musuh dan mangsa ketika malam hari Penglihatan kucing di malam hari sangatlah kuat. Kucing dapat dengan mudah membedakan warna hijau, biru dan merah, meskipun dalam kegelapan malam. Kelopak mata kucing terbuka di malam hari ketika terkena sedikit cahaya. Lapisan mata yang disebut iris membuat pupil mata membesar hingga 90%, sehingga mereka lebih mudah melihat cahaya. Disaat mendapat cahaya yang lebih terang, sistem bekerja berlawanan untuk melindungi retina. Pupil mengecil dan berubah menjadi garis tipis. Alasan lain kenapa kucing bisa melihat dalam gelap juga karena ada selsel batang lebih banyak dibandingkan dengan sel-sel kerucut di retinanya. Berkat selsel batang ini, kucing dapat membedakan musuh ataupun mangsa dengan mudah di malam hari. 3. Menjilati bulu-bulunya Kucing yang sedang menjilati dirinya sendiri berarti sedang mandi. Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing. Benjolan ini bengkok mengkerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Dan ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih. Permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya. Pada kulit kucing juga terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia. 4. Menandai daerah kekuasaan Meskipun memiliki reputasi sebagai hewan penyendiri, kucing biasanya dapat membentuk koloni liar tetapi tidak menyerang dalam kelompok seperti singa. Setiap kucing memiliki daerahnya sendiri (jantan yang aktif secara seksual memiliki

daerah terbesar, sedang jantan steril memiliki daerah paling kecil) dan selalu terdapat daerah "netral" dimana para kucing dapat saling mengawasi atau bertemu tanpa adanya konflik teritorial atau agresi. Di luar daerah netral ini, penguasa daerah biasa akan mengejar kucing asing, diawali dengan menatap, mendesis, hingga menggeram, dan bila kucing asing itu tetap tinggal, biasanya akan terjadi perkelahian singkat. Kucing adalah binatang yang memiliki daerah kekuasaan. Adalah kebiasaan kucing jantan untuk menentukan luas dan menandai daerah kekuasaan mereka. Biasanya si kucing akan menandai wilayahnya dengan melakukan spraying yaitu menandainya dengan menyemprotkan urin. Yang buruk adalah spraying ini tidak hanya dilakukan di luar rumah, melainkan juga di dalam rumah. 5. Makan rumput Kucing yang makan rumput berarti sedang mual. Setelah makan rumput, biasanya kucing itu akan muntah. Hal ini merupakan bentuk pertahanan kucing dari proses metabolisme dalam tubuh yang terganngu. Sehingga pencernaan menjadi normal. 6. Gerak reflek kucing Kucing yang terjatuh dari tempat yang tinggi akan bisa bangun dan tetap baikbaik saja. Hal ini terjadi karena kucing punya sistem keseimbangan dan koordinasi yang luar biasa. Sistem inilah yang membuat kucing ketika jatuh akan menyadari dalam posisi apa dia jatuh. Ketika kucing jatuh dalam posisi terbalik, dia akan segera memutar posisi tubuh sehingga kakinya ada di sebelah bawah dan bersiap untuk mendarat. Tentu saja kucing tidak sembarangan merenggangkan kakinya. Ketika posisi kakinya sudah berada di sebelah bawah, kucing akan merenggangkan kakinya supaya angin menahan jatuh tubuhnya. Dan saat menyentuh tanah, kucing akan langsung menekuk kakinya untuk mengecilkan efek jatuhnya Saat kucing kaget maka dia akan menunjukkan perilaku pertahanan diri seperti menegakkan ekor dan posisi tubuh akan sedikit keatas terutama bagian kaki belakang dan pinggulnya (http://www.buzzle.com/articles/cat-behavior.html). Terkadang kucing akan memperlihatkan perilaku yang diam seperti malas dan tidak melakukan apa-apa. Hal seperti itu menunjukkan kucing sedang stress. Perilaku stress kucing berbeda-beda, ada yang diam saja atau ada yang bertingkah

liar dan berlari-larian taka da tujuan. Kucing stress cenderung sulit untuk makan dan kondisi seperti itu bisa membuat kucing mejadi kurus dan bila dalam kondisi lama bisa membuat kucing mati.

Gambar 1. Posisi pertahanan diri kucing saat kaget dan ketakutan.

B. Perilaku Reproduksi Kucing Masa birahi kucing (estrus) adalah masa dimana kucing betina mau menerima kucing jantan untuk mengawininya. Masa birahi ini adalah sekitar 3-6 hari, walaupun terkadang ada kucing yang masa birahinya 10 hari. Pada periode pra estrus (1-2 hari) kucing betina biasanya manja dan meminta perhatian yang lebih. Periode kedua estrus, kucing betina sudah mau menerima pejantan untuk mengawininya. perkawinan dapat berulang pada interval waktu 15-30 menit. Perkawinan dapat terjadi beberapa kali dalam sehari. Tanda-tanda birahi kucing betina dari perilakunya. Kucing ini biasanya tampak lebih genit dengan menggeliatkan tubuhnya.Frekuensi untuk menjilati tubuhnya meningkat, terutama membersihkan alat kelamin. Perilaku lain, kucing ini menyodorkan tubuh bagian belakang ketika dipegang atau dibelai. kucing betina tersebut akan sering sekali mengeluarkan suara-suara yang tidak lain adalah untuk menjawab panggilan atau ajakan kucing jantan dan melalui suara tersebut juga seekor kucing betina berusaha menunjukkan ketertarikannya pada kucing jantan tersebut. Selain itu, ciri-ciri seekor kocing betina yang sedang panas dapat pula ditandai dengan seringnya ia mengeluarkan suara atau menimbulkan keributan. Menurut subjektivitas penulis, ada perbedaan mendasar yang terdapat pada dua kondisi suara kucing. Kucing yang lapar memiliki suara yang nyaring dan bersih (tidak bersuara berat), kucing yang sedang lapar cenderung memiliki suara datar, dalam artian frekuensi dan loudness suara tidak banyak berubah. Sedangkan pada kondisi ingin kawin, kucing cenderung bermain dengan frekuensi dan loudness

suara untuk menarik lawan jenisnya sehingga penulis sekaligus pendengar merasakan sensasi suara yang cepat berubah, nyaring dan terasa berat. Adapun perilaku seekor kucing betina yang sedang panas ini kadang-kadang harus pula diperhatikan oleh para pemiliknya. Beberapa ciri-ciri atau karakteristik yang dapat menandakan bahwa seekor kucing betina sedang panas yaitu bahwa kucing betina tersebut akan sering sekali mengeluarkan suara-suara yang tidak lain adalah untuk menjawab panggilan atau ajakan kucing jantan dan melalui suara tersebut juga seekor kucing betina berusaha menunjukkan ketertarikannya pada kucing jantan tersebut. Selain itu, ciri-ciri seekor kucing betina yang sedang panas dapat pula ditandai dengan seringnya ia mengeluarkan suara atau menimbulkan keributan. Dan ciri-ciri terakhir yaitu bahwa seekor kucing betina yang sedang panas akan terlihat gelisah dan kucing ini akan sangat sering menggeliat atau mengguling-gulingkan tubuhnya di lantai (http://kittykrafty.com/perilaku-seksual-kucing/). Mekanisme kawin, mula-mula kucing jantan dan kucing betina yang akan kawin akan berkejaran terlebih dahulu. Si jantan akan mengejar si betina sambil mengeluarkan suara (mengeong), si betina akan merespon dengan mengeluarkan suara juga. Apabila sudah cukup untuk merespon dan si betina mau, maka si jantan akan menaiki si betina sambil menggigit leher si betina. Kemudian sambil menggosok- gosok perut si betina maka kawinlah si kucing. Siklus Estrus Kucing : 1. Anestrus Perlakuan sifatnya adalah Kucing jantan tidak tertarik pada betina begitu juga sebaliknya kucing betina tidak tertarik pada kucing jantan. Terjadi pada awal musim hujan. 2. Proestrus Pada tahap ini kucing betina akan berguling-guling serta menggosokaan badannya di lantai atau di tanah. Dan akan memanggil kucing jantan walau begitu si kucing betina ini masih memperbolehkan penjantan untuk menyentuhnya. Tahap ini berlangsung sekitar beberapa jam, namun untuk beberapa indukan bisa sampai 2 hari. 3. Estrus Tahap ini berlangsung selama kira kira satu minggu. pada tahap inilah si kucing betina benar-benar akan mengajakanya untuk kawin. Perkawinannya sendiri

hanya berlangsung sekitar 5-10 menit. Setelah kawin betina akan menjilati kemaluannya dalam rangka untuk membersihakan diri. Dan ini terjadi berulang-ulang. Dan pada tahap ini juga si kucing betina akan sensitif. Setelah bersetubuh dengan pejantannya dia akan bertindak agresif dan marah-marah terhadap pasangannya. 4. Interestrus Pada tahap ini agak berbeda. Tahap ini terjadi jika dia tidak dikawinkan atau tidak menemukan kucing jantannya. Berlangsung selama seminggu namun kemudian akan terulang lafi ke tahap Estrus lagi. 5. Metestrus Tahapan ini terjadi jika betina berhasil dikawini namun tidak hamil.

II.

Perilaku Pertahanan Diri dan Reproduksi Avertebrata A. Perilaku Reproduksi Capung. Capung termasuk dalam kingdom Animalia, filum Arthropoda, klas Insecta, dan ordo Odonata. Ordo Odonata dibagi ke dalam dua subordo yaitu Zygoptera dan Anisoptera. Capung jantan yang siap kawin memiliki suatu kebiasaan untuk menguasai suatu areal. Capung jantan umumnya berwarna cerah atau mencolok daripada betina. Warna yang mencolok pada capung jantan ini membantu menunjukkan areal teritorialnya pada jantan lain. Perkelahian antara capung-capung jantan sering terjadi dalam memperebutkan areal masing-masing. Bila ada satu ekor capung betina terbang mendekati salah satu wilayah, maka jantan penghuni akan mencoba mengawininya (Susanti, 1998) Sebelum melakukan kopulasi, capung jantan memindahkan sperma dari lubang kelamin primer pada ruas abdomen kesembilan ke lubang kelamin sekunder betina. Ketika kopulasi, leher capung betina atau protoraks dipegang dengan tungkai capung jantan dan sepasang capung ini terbang menggunakan tandem yang biasanya digunakan untuk hinggap. Capung betina membengkokkan abdomen ke depan hingga mencapai lubang kelamin sekunder pada jantan.

Sebelum memindahkan sperma, capung jantan membersihkan sisa sperma dari jantan sebelumnya yang terdapat pada capung betina. Kopulasi berlangsung selama beberapa menit atau beberapa jam tergantung jenis spesies (Mauludina dkk, 2013). Oviposisi adalah menempatkan telur pada posisi dan habitat yang cocok. Tempat meletakkan telur tiap spesies serangga berbeda-beda. Untuk serangga herbivora kebanyakan langsung meletakkan telurnya pada tanaman pangan untuk perkembangan keturunannya. Beberapa parasit ada yg meletakkan telurnya di mana saja dan ada beberapa yg di kehendaki seperti pada tanah atau air (Mauludina dkk, 2013). Perilaku oviposisi pada capung berbeda setiap jenis,
Gambar 3. Posisi kawin capung jarum saat terutama capung jenis anisoptera dan zygoptera. Capung betina anisoptera Wong, Pleret, dekat Bantul). meletakkan telurnya meletakkan telur (Sungai denganGajah terbang rendah air dan

meletakkan telurnya dengan cara menyelamkan ujung abdomen yang berisi telur ke air secara terus menerus dan berpindah di setiap bagian air. Capung jenis zygoptera (capung jarum) melakukan oviposisi saat selesai kawin dengan jantan dan melepaskan ujung abdomen yang menempel pada kelamin sekunder jantan kemudian meluruskan kembali abdomennya. Bersama dengan jantan yang masih menjepit leher betina keduanya turun ke permukaan air dan si betina mencelupkan ujung abdomennya yang berisi telur yang telah terbuahi ke dalam air.

B. Perilaku Pertahanan diri Capung. Capung terlihat pola pertahanan diri saat mempertahankan daerah territorial atau tempat hinggapnya dari capung lain. Saat capung hinggap pada suatu tempat maka jika ada capung lain yang tidak dikenalinya maka dia akan terbang untuk mengusirnya. Perilaku ini terlihat pula saat musim kawin, dimana

Gambar 4. Capung jantan yang sedang melindungi capung betina yang sedang meletakkan telur. (Sungai Babarsari, Sleman)

pejantan akan menunjukkan daerah kekuasaannya dengan warnanya yang terang dan bila ada pejantan lain akan di usir, dan bila ada betina yang masuk wilayahnya maka akan dikawini. Saat musim kawin pejantan terutama jenis anisoptera akan terlihat lebih agresif dan sensitif terhadap serangga lain ataupun capung jantan pengganggu yang masuk ke daerah teritorialnya. Capung jantan akan mencengkram bagian belakang kepala capung betina. Kemudian capung betina akan membengkokkan ujung perutnya menuju alat kelamin jantan yang sebelumnya sudah terisi sel-sel sperma. Keadaan ini membentuk posisi yang menarik seperti lingkaran yang disebut roda perkawinan (Nanao, 1996). Capung jantan akan mengawini satu betina dan proses kopulasi bisa berlangsung beberapa jam ataupun beberapa menit tergantung jenis capung tersebut.

Setelah selesai kawin maka yang dilakukan selanjutnya oleh capung betina adalah oviposisi atau meletakkan telur di air. Beberapa jenis capung, pejantan akan menjaga betinanya yang sedang meletakkan telur dari gangguan serangga atau capung lain yaitu dengan cara terbang diatas capung betina yang sedang meletakkan telur di air (pada jenis anisoptera). Pejantan melakukan penjagaan terhadap si betina dengan berpatroli diatasnya. Sedangkan pada capung jenis zygoptera pejantan akan melindungi betina dengan meletakkan telur bersamasama yaitu tanpa melepaskan jepitannya kepada si betina sehingga pejantan ikut turun ke permukaan air dan menjepit leher betina yang sedang meletakkan telur.

BAB III PENUTUP Kesimpulan 1. Adapun perilaku-perilaku yang termasuk pertahanan diri kucing, antara lain: Berkelahi, Membedakan musuh dan mangsa ketika malam hari, Menjilati bulubulunya, Menandai daerah kekuasaan, Makan rumput , Gerak reflek kucing 2. Perilaku Reproduksi Kucing: Mekanisme kawin, mula-mula kucing jantan dan kucing betina yang akan kawin akan berkejaran terlebih dahulu. Si jantan akan mengejar si betina sambil mengeluarkan suara (mengeong), si betina akan merespon dengan mengeluarkan suara juga. Apabila sudah cukup untuk merespon dan si betina mau, maka si jantan akan menaiki si betina sambil menggigit leher si betina. Kemudian sambil menggosok- gosok perut si betina maka kawinlah si kucing. 3. Ketika kopulasi, leher capung betina atau protoraks dipegang dengan tungkai capung jantan dan sepasang capung ini terbang menggunakan tandem yang biasanya digunakan untuk hinggap.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, 2004. Biologi Jilid III. Jakarta : Erlangga. Mauludina, Septi dkk. 2013. Perilaku Serangga (Oviposisi, Orientasi Dan Migrasi). Malang : Fakultas Pertanian UNBRA. Nanao, Jun & Nanao-Kikaku. 1996. Seri Misteri Alam 3. PT Elex Media Komputindo. Susanti, S. 1998. Mengenal Capung. Puslitbang Biologi LIPI: Bogor. http://www.buzzle.com/articles/cat-behavior.html pada jam 22.45 hari Minggu 8 Desember 2013 http:// www.eol.org/Felis domesticus Diakses 10 Desember 2013 Pukul 21.30 WIB. http://kittykrafty.com/perilaku-seksual-kucing/ Diakses 22 Desember 2013 Pukul 22.30 WIB.