Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kuliah Stratifikasi Kota Dalam penyusunan tugas kuliah ini, penulis tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaikan tugas kuliah ini sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas kulih ini. Dalam penyusunan tugas kuliah ini, penulis berharap semoga tugas kuliah ini dapat bermanfaat bagi penulis selaku penyusun maupun kepada rekan mahasiswa umumnya.

Makassar, 16 Mei 2013 Penyusun

HASANUDDIN SAPPA NIM : 1242045035

Daftar Isi
KATA PENGANTAR Daftar Isi Stratifikasi Kota
a. Pengertian Kota b. Ciri Ciri Kota D. Perbedaan antara desa dan kota

1 2 3
5 5 6

Kesimpulan Saran Daftar Pustaka

8 8 9

STRATIFIKASI KOTA

KLASIFIKASI KOTA
Kota adalah keseluruhan unsur-unsur bangunan, jalan dan sejumlah manusia di suatu tempat tertentu. Unsur-unsur ini merupakan suatu kesatuan, dan saling terkait antara satu dengan lain. Keterkaitan ini memberikan corak dalam kehidupan manusianya, yaitu dalam cara hidupnya dan sikap mentalnya. (Sandy, 1978). Kota sendiri merupakan suatu proses pertumbuhan. Jadi sebelum unsur-unsur bangunan, jalan dan sejumlah manusia di atas mencapai tingkat tertentu maka wilayah tersebut belum bisa disebut kota. Batasan jumlah penduduk bermacam-macam yang digunakan. Parameter jumlah penduduk C. Doxiadis mengemukakan sebagai berikut ( dalam Bintarto, 1984):

Tabel 1. Perkotaan Menurut Jumlah Penduduk Oleh Doxiadis Kelompok 1. Dwelling group Jumlah Penduduk 40

2. Small neighborhood 250 3. Neighborhood 4. Small town 5. Town 6. Large city 7. Metropolis 8. Conurbation 9. Megalopolis 10. Urban region 11. Urban continent 1.500 9.000 50.000 300.000 2.000.000 14.000.000 100.000.000 700.000.000 5.000.000.000

12. Ecumenepolis

30.000.000.000

(Sumber: Bintarto, 1984) Doxiadis melalukan pembagian jenis kota dari perkalian jumlah penduduknya. Sebagian perkembangan pemukiman didasarkan dari pertambahan jumlah penduduk sekitar enam kali jumlah penduduk jenis sebelumnya,contoh dari Neigborhood ke Small Town, dari Small Town ke Town dan selanjutnya ke Large City. Ada juga pertambahan penduduk sampai tujuh kali untuk mencapai tingkatan aglomerasi berikutnya contohnya, dari Metropolis ke Conurbation, dan dari Megalopolis ke Urban Region. Tidak diketahui apakah kenaikan jumlah penduduk dari batas bawah berarti jenis pemukimannya meningkat, misalnya pemukiman dengan jumlah penduduk 100 akan masuk dwelling group atau sudah masuk dalam small neighborhood. Pembagian jenis pemukiman dari jumlah penduduk menurut N.R. Saxena menjawab ketidak pastian dalam pembagian Doxiadis. Saxena membagi dalam empat kelompok besar, namun jika ditinjau secara matematis maka pertambahan penduduk tidak terlalu jelas alasannya. Dari Infant town ke kelompok Adolescent township pertambahannya empat kali lipat. Sedangkan ke kelompok selanjutnya, kelompok Adolescent town, pertambahannya 16 kali dan ke kelompok terakhir, kelompok Metropolis hanya sepuluh kali. Berikut ini tabel perkotaan menurut jumlah penduduk oleh Saxena Tabel 2. Perkotaan Menurut Jumlah Penduduk oleh Saxena Kelompok 1. Infant town Jumlah Penduduk 5.000 - 10.000

2. - Adolescent township10.000 - 50.000 - Mature township - Specialized township 3. - Adolescent town100.000 - 1.000.000 Mature town

- Specialized town - Adolescent city 4. Metropolis (Sumber: Bintarto, 1984) Lebih dari 10.000.000

Pembagian kota dari jumlah penduduk bukan saja terbatas pada kedua pendapat di atas ini. Pembagian kota juga dilakukan oleh beberapa negara untuk menentukan jenis kota. Di Jepang batasan kota adalah jumlah penduduk di atas 30.000 jiwa, di negeri Belanda 20.000, untuk India, Belgia dan Yunani angka 5.000 menjadi batasan kota. Sedangkan Meksiko dan Amerika Serikat menggunakan angka 2.500. Demikian seterusnya hingga yang paling kecil di Islandia sebesar 300 jiwa dan lebih. Demikian dikemukakan Noel P. Gist dan L.A. Halbert dalam Bintarto (1983). Penggunaan jumlah penduduk lebih bertujuan untuk membedakan antara apa yang disebut kota dan apa yang disebut desa. Pembagian ini tidak menunjukan kepadatan, perbedaan budaya, perbedaan pemanfaatan teknologi. Pembagian selain dari angka ini disebut pembagian non-numerik. (Bintarto, 1983:37). Jadi selain pembagian kota secara numerik juga bisa dilakukan dari segi lainnya seperti bangunan dan jalanan. Bangunan dan jalan pun menjadi suatu tolok ukur dalam pembatasan daerah kota atau urban. Pembatasan ini menghasilkan kawasan terbangun, jenis penggunaan tanah perkotaan (sebagai lawan dari pedesaan). Sandy (1978) mengemukakan model perkotaan berdasarkan antara lain jaringan jalan dan kawasan terbangun, baik yang teratur maupun yang tidak teratur (terencana). Kajian kawasan terbangun dengan jaringan jalan menghasilkan persebaran perkotaan atau urban sprawl. Jadi dilihat dari berbagai ukuran perkotaan merupakan suatu proses dengan perubahan yang terus menerus terjadi. Perubahan inilah satu-satunya yang konsisten dalam perkotaan. Klasifikasi dan pemahaman atas proses perubahan ini yang menjadi perhatian para peneliti perkotaan. Perubahan kota, sejak terbentuknya, jika diukur dari jumlah penduduk, selalu mengalami perubahan yang bertingkat, dalam ukuran kecil melalui proses pelebaran, penambahan atau pembongkaran. Perubahan seperti ini bisa dilihat sebagai suatu cerminan proses urbanisasi dimana struktur kota secara menyeluruh tidak terpengaruhi (Hall, 1998)

SEJARAH PERTUMBUHAN KOTA-KOTA


Pusat-pusat daerah pertanian yang subur dan luas telah banyak menarik berbagai spesialisasi dan perdagangan dan juga dari masyarakat daerah lain yang kurang subur atau gersang. Akibat lanjutnya ialah terciptanya pekerjaan yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan, pembuatan alat-alat pertanian, perencanaan irigasi dsb. Pusat-pusat urban yang selanjutnya disebut kota ini yang muncul melalui proses tersebut di atas disebut pusat urban primer, karena mengikuti suatu proses ekologis yang berlangsung secara alamiah (natural). Sedangkan pusat-pusat urban sekunder, yakni pusat-pusat urban yang yang segera muncul di wilayah lain yang biasanya berdekatan dengan pusat urban primer. Gideon Sjoberg (The Pre Industrial City,1960) mengemukakan adanya adanya tiga tingkatan organisasi manusia menuju kepada terbentuknya pusat-pusat urban, yaitu: 1. Pre-urban feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya kota-kota. 2. Pre-industrial feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya industri. 3. Modern industrial feudal, yakni masyarakat feodal dengan industri maju. Drs. J.H. De Goode (dalam J.W. Schoorl:Modernisasi,1981). Mengemukakan bahwa perkembangan kota-kota dapat dipandang sebagai fungsi dari faktor-faktor: 1. Jumlah penduduk keseluruhan. 2. Penguasaan atas alam lingkungan . 3. Kemajuan teknologi, dan 4. Kemajuan dalam organisasi sosial

KOTA DAN PERKEMBANGANNYA


N.Daljoeni, yang mengutip Grunfield, merumuskan kota sebagai suatu pemukinan dengan kepadatan penduduk yang lebih besar daripada kepadatan wilayah nasional, dengan struktur mata pencaharian non agraris dan tata guna lahan yang beraneka ragam , serta dengan pergedungan yang berdirinya berdekatan. Dari segi fisik, kota adalah suatu pemukiman dengan perumahan yang relatif rapat dan sarana prasarana serta fasilitas-fasilitas yang relatif memadai guna memenuhi kebutuhan penduduknya.

Belum ada kesepakatan mengenai rumusan yang lengkap dan tepat mengenai kota. Drs. J.H. De Goode mengajukan sejumlah ciri yang dipandang sangat menentukan watak khas kehidupan kota, misalnya: a. Peranan besar yang dipegang oleh sektor sekunder (industri) dan tersier (jasa) dalam kehidupan ekonomi. b. Jumlah penduduk yang relatif besar. c. Heterogenitas susunan penduduknya. d. Kepadatan penduduk yang relatif besar.

A. Definisi Kota
A. Menurut MENTERI DALAM NEGERI RI dalam PerMenDagri No. 4/1980; yaitu : 1.KOTA adalah suatu wilayah yang mempunyai batas administrasi wilayah 2. KOTA adalah lingkungan kehidupan yang mempunayi ciri non-agraris B. Secara GEOGRAFIS KOTA adalah suatu bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsure-unsur alami dan non-alami dengan gajala pemusatan penduduk tinggi, corak kehidupan yang heterogen, sifat penduduknya individualistis dan materialistis.

2 CIRI FISIK KOTA Ciri Fisik Kota - Adanya sarana ekonomi, Gedung pemerintahan, Alun-alun, Tempat parker, Sarana rekreasi, Sarana olah raga, Komplek perumahan

3 KLASIFIKASI KOTA A. Menurut Jumlah Penduduk 1. Kota Kecil =penduduknya antara 20.000-50.000 jiwa 2. Kota sedang =penduduknya antara 50.000-100.000 jiwa 3. Kota besar =penduduknya antara 100.000-1.000.000 jiwa

4. Metropolitan =penduduknya antara 1.000.000-5.000.000 jiwa 5. Megapolitan =penduduknya lebih dari 5.000.000 jiwa B. Menurut tingkat perkembangan 1. Tahap eopolis adalah tahap perkembangan desa yang sudah teratur dan masyarakatnya merupakan peralihan dari pola kehidupan desa kea rah kehidupan kota. 2. Tahap polis adalah suatu daerah kota yang sebagian penduduknya masih mencirikan sifat-sifat agraris. 3. Tahap metropolis adalah suatu wilayah kota yang ditandai oleh penduduknya sebagaian kehidupan ekonomi masyarakat ke sector industri. 4. Tahap megapolis adalah suatu wilayah perkotaan yang terdiri dari beberapa kota metropolis yang menjadi satu sehingga membentuk jalur perkotaan. 5. Tahap tryanopolis adalah suatu kota yang ditandai dengan adanya kekacauan pelayanan umum, kemacetan lalu-lintas, tingkat kriminalitas tinggi. 6. Tahap necropolis (Kota mati) adalah kota yang mulai ditinggalkan penduduknya.

a. Pengertian Kota Seperti halnya desa, kota juga mempunyai pengertian yang bermacam-macam seperti pendapat beberapa ahli berikut ini. i. Wirth Kota adalah suatu wilayah yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orangorang yang heterogen kedudukan sosialnya. ii. Max Weber Kota adalah wialyah yang apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya dipasar lokal. iii. Dwigth Sanderson Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. b. Ciri Ciri Kota Menurut konsep Sosiologik yang disebut kotacenderung bersifat individualistik. Tipe masyarakat kota diantaranya mempunyai ciri-ciri : a). Netral Afektif Masyarakat Kota memperlihatkan sifat yang lebih mementingkanRasionalitas dan sifat rasional.Mereka tidak mau mencampuradukan hal-hal yang bersifat emosional atau yang menyangkut perasaan pada umumnya dengan hal-hal yang bersifat rasional, itulah sebabnya tipe masyarakat itu disebut netral dalam perasaannya. b). Orientasi Diri Manusia dengan kekuatannya sendiri harus dapat mempertahankan dirinya sendiri, pada umumnya dikota tetangga itu bukan orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan kita

oleh karena itu setiap orang dikota terbiasa hidup tanpa menggantungkan diri pada orang lain, mereka cenderung untuk individualistik. c). Universalisme Berhubungan dengan semua hal yang berlaku umum, oleh karena itu pemikiran rasional merupakan dasar yang sangat penting untuk Universalisme. d). Prestasi Mutu atau prestasi seseorang akan dapat menyebabkan orang itu diterima berdasarkan kepandaian atau keahlian yang dimilikinya. e). Heterogenitas Masyarakat kota lebih memperlihatkan sifat Heterogen, artinya terdiri dari lebih banyak komponen dalam susunan penduduknya.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN Faktor yang mempengaruhi perkembangan kota Faktor Alamiah : Lokasi, Fisiografi, Kekayaan alam Faktor Sosial : Penduduk, Kebijaksanaan pemerintah, Faktor Kebijaksanaan Pemerintahan Kesimpulan Manusia menjalani kehidupan didunia ini tidaklah bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri, dalam artian butuh bantuan dan pertolongan orang lain , maka dari itu manusia disebut makhluk social. Oleh karena itu kehidupan bermasyarakat hendaklah menjadi sebuah pendorong atau sumber kekuatan untuk mencapai cita-cita kehidupan yang harmonis, baik itu kehidupan didesa maupun diperkotaan. Tentunya itulah harapan kita bersama, tetapi fenomena apa yang kita saksikan sekarang ini, jauh sekali dari harapan dan tujuan pembangunan Nasional negara ini, kesenjangan Sosial, yang kaya makin Kaya dan yang Miskin tambah melarat , mutu pendidikan yang masih rendah, orang mudah sekali membunuh saudaranya (dekadensi moral ) hanya karena hal sepele saja, dan masih banyak lagi fenomena kehidupan tersebut diatas yang kita rasakan bersama, mungkin juga fenomena itu ada pada lingkungan dimana kita tinggal. Sehubungan dengan itu, barangkali kita berprasangka atau mengira fenomena-fenomena yang terjadi diatas hanya terjadi dikota saja, ternyata problem yang tidak jauh beda ada didesa, yang kita sangka adalah tempat yang aman, tenang dan berakhlak (manusiawi), ternyata telah tersusupi oleh kehidupan kota yang serba boleh dan bebas itu disatu pihak masalah urbanisasi menjadi masalah serius bagi kota dan desa, karena masyarakat desa yang berurbanisasi ke kota

menjadi masyarakat marjinal dan bagi desa pengaruh urbanisasi menjadikan sumber daya manusia yang produktif di desa menjadi berkurang yang membuat sebuah desa tak maju bahkan cenderung tertinggal. Saran saran Pembangunan Wilayah perkotaan seharusnya berbanding lurus dengan pengembangan wilayah desa yang berpengaruh besar terhadap pembangunan kota. Masalah yang terjadi di kota tidak terlepas karena adanya problem masalah yang terjadi di desa, kurangnya sumber daya manusia yang produktif akibat urbanisasi menjadi masalah yang pokok untuk diselesaikan dan paradigma yang sempit bahwa dengan mengadu nasib dikota maka kehidupan menjadi bahagia dan sejahtera menjadi masalah serius. Problem itu tidak akan menjadi masalah serius apabila pemerintah lebih fokus terhadap perkembangan dan pembangunan desa tertinggal dengan membuka lapangan pekerjaan dipedesaan sekaligus mengalirnya investasi dari kota dan juga menerapkan desentralisasi otonomi daerah yang memberikan keleluasaan kepada seluruh daerah untuk mengembangkan potensinya menjadi lebih baik, sehingga kota dan desa saling mendukung dalam segala aspek kehidupan.

Referensi Ahmadi, Abu, Drs. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineke Cipta. Kosim, H, E. 1996. Bandung: Sekolah Tinggi Bahasa Asing YapariMarwanto, 12 November 2006. Jangan bunuh desa kami. Jakarta:Kompas http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/06/perbedaan-antara-desa-dan-kota.html http://www.scribd.com/doc/38961188/Perbedaan-Kota-Dan-Desa