Anda di halaman 1dari 34

SANKSI DALAM PERKARA PERSEKONGKOLAN TENDER BERDASARKAN UU NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN

USAHA TIDAK SEHAT

DR. Anna Maria Tri Anggraini, S.H., M.H. Komision r NIK. 1.!".!!19

Semua pendapat atau pandangan dalam makalah ini merupakan tanggung jawab pribadi penulis dan bukan merupakan pandangan atau pendapat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Anggota Komisi ataupun Sekretariat KPPU. All pinions and !iews e"pressed in the paper are personal responsibilit# o$ 'usiness &ompetition (KPPU), (embers o$ &ommission, or the Se%retariat o$ &ommission.

the author and not ne%essaril# those &ommission $or the Super!ision o$

)akarta, *++,

ABSTRAK

Penerapan sanksi dalam persekongkolan tender merupakan salah satu bentuk penegakan -ukum Persaingan. .embaga #ang berwenang menerapkan sanksi tersebut adalah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sebelum menjatuhkan sanksi administrati$, KPPU harus membuktikan semua unsur/unsur #ang terkandung dalam Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444, #akni meliputi pelaku usaha, bersekongkol, pihak lain, mengatur dan5atau memenangkan tender, dan persaingan usaha tidak sehat. 0amun demikian, KPPU han#a memiliki otoritas menjatuhkan sanksi administrati$ terhadap pelaku usaha baik #ang terlibat langsung maupun pihak lain dalam proses tender. KPPU tidak memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi administrati$ terhadap pihak lain dari unsur pemerintah. .embaga tersebut han#a dapat memberikan rekomendasi pada atasan pejabat pemerintah #ang terlibat agar menjatuhkan hukuman administrati$ pemerintah #ang terlibat dalam persekongkolan tender. 6alam hal ini, perlu dipertimbangkan bahwa KPPU tidak han#a dapat memberikan rekomendasi kepada atasan pejabat #ang bersangkutan, melainkan juga memberikan sanksi administrati$ #ang di%antumkan dalam diktum5amar putusan. Pembebanan besarn#a denda5ganti rugi memerlukan pedoman pelaksanaan, karena itu perlu dibentuk pedoman untuk menetapkan ukuran mengenai besaran nilai denda5ganti rugi tersebut. 6alam perkara #ang megakibatkan kerugia negara, dapat dikenakan sanksi pidana. Penerapan sanksi pidana han#a dapat dilakukan oleh badan #ang berwenang melakukan pen#idikan seperti kepolisian dan kejaksaan.

LEMBAR PERN#ATAAN ORISINALITAS

Kertas kerja Komisi ini adalah -asil kar#a sa#a sendiri, dan Seluruh sumber baik #ang dikutip maupun dirujuk 2elah sa#a n#atakan dengan benar

67. Anna (aria 2ri Anggraini, S.-., (.-.

KATA PENGANTAR

Penulis mengu%ap s#ukur kepada 2uhan 8ang (aha 9sa atas selesain#a penulisan Kertas Kerja Komisi ini. Penelitian #ang berjudul Sanksi 6alam Perkara Persekongkolan 2ender 'erdasarkan UU 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktik (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat ini dibuat dalam rangka menampung kreati!itas dan memperka#a wawasan lembaga dalam membahas dan mengkaji isu/isu #ang berkaitan dengan persaingan usaha maupun isu lain #ang dapat memperkuat lembaga serta berguna bagi KPPU dalam mendukung !isi dan misin#a. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengu%apkan terima kasih kepada: 3. 'apak ;r. (uhammad ;<bal #ang telah memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreati!itas dalam membahas isu/isu #ang berkaitan dengan persaingan usaha khususn#a di bidang hukum= *. ini. Akhirn#a, penulis berharap agar hasil Kertas Kerja ini berman$aat bagi semua pihak #ang bermaksud mendalami kajian hukum terhadap sanksi dalam perkara persekongkolan tender. Penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran guna men#empurnakan penulisan dan hasil penelitian ini. >ebb# Kristantri, sebagai sta$ khusus #ang membantu penulisan

)akarta, *1 September *++, Penulis,

Anna (aria 2ri Anggraini

DA$TAR ISI
hal )U6U...............................................................................................................i A'S27AK.........................................................................................................ii .9('A7P9708A2AA0 7;S;0A.;2AS........................................................iii KA2A P90?A02A7........................................................................................i! 6A>2A7 ;S;......................................................................................................! 6A>2A7 2A'9.............................................................................................. !i 'A' ; : P906A-U.UA0 A. .atar 'elakang (asalah...............................................................3 '. Perumusan (asalah.................................................................... @ &. 2ujuan Penulisan......................................................................... @ 6. Kerangka Konsepsional............................................................... @ 9. Sistematika Penulisan.................................................................. A 'A' ;; : KA);A0 K 0S9PS; 2902A0? P97S9K 0?K .A0 290697 '976ASA7KA0 -UKU( P97SA;0?A0 USA-A A. (ekanisme Pengadaan 'arang dan )asa...................................B '. .arangan Persekongkolan 2ender (enurut -ukum Persaingan....................................................................3+ &. (etode Penelitian......................................................................3@ 3. b#ek Penelitian...................................................................3@ *. 6ata......................................................................................3C @. &ara Penarikan KesimpulanDDDDDDDDDDDDDD 31 'A' ;;; : A0A.;S;S -AS;. P909.;2;A0 2902A0? SA0KS; 6A.A( P97S9K 0?K .A0 290697 A. Pembuktian Unsur/Unsur dalam Persekongkolan 2ender........ 3A '. Sanksi dalam Persekongkolan 2ender.....................................** 'A' ;E : K9S;(PU.A0 6A0 SA7A0 A. Kesimpulan.................................................................................*1 '. Saran......................................................................................... *A 6A>2A7 PUS2AKA

DA$TAR TABEL

hal 2abel @.3 Putusan/Putusan Perkara Persekongkolan2enderDDDDDD...D*3

BAB I PENDAHULUAN

A. La%ar B &a'ang Masa&a( ;stilah persekongkolan di semua kegiatan mas#arakat hampir selalu berkonotasi negati$. -al ini terlihat dari berbagai kamus #ang selalu mengartikan sebagai permu$akatan atau kesepakatan untuk melakukan kejahatan. 3 6emikian pula menurut 'la%kFs .aw 6i%tionar#, persekongkolan atau conspiracy dide$inisikan sebagai pen#atuan (maksud) antara dua orang atau lebih #ang bertujuan untuk men#epakati tindakan melanggar hukum atau kriminal melalui upa#a kerjasama.* 2ermasuk dalam tindakan ini adalah persekongkolan penawaran tender, #ang seringkali dianggap sebagai akti!itas #ang dapat menghambat upa#a pembangunan negara. Pandangan ini disebabkan bahwa pada hakekatn#a persekongkolan atau konspirasi bertentangan dengan keadilan, karena tidak memberikan kesempatan #ang sama kepada seluruh penawar untuk mendapatkan Akibat ob#ek barang dan5atau jasa tender, #ang ditawarkan #ang pen#elenggara. adan#a persekongkolan penawar

mempun#ai iktikad baik menjadi terhambat untuk masuk pasar, dan akibat lebih jauh adalah ter%iptan#a harga #ang tidak kompetiti$. Persekongkolan penawaran tender (bid rigging) termasuk salah satu perbuatan #ang dianggap merugikan negara, karena terdapat unsur manipulasi harga penawaran, dan %enderung menguntungkan pihak #ang terlibat dalam persekongkolan. 'ahkan di )epang, persekongkolan penawaran tender dan kartel dianggap merupakan tindakan #ang se%ara serius memberikan pengaruh negati$ bagi ekonomi nasional.@ Bid rigging dalam industri konstruksi merupakan salah satu akar pen#ebab korupsi di kalangan kaum politikus dan pejabat negara. -al ini akan mengakibatkan kerugian, karena mas#arakat pemba#ar
1

2im Pen#usun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan 'ahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia ()akarta: 'alai Pustaka, 344A), h. B4@. * 'la%kFs .aw 6i%tionar#, >i$th 9dition (St. Paul (inn.: Gest Publishing, 34,4), h. *B+. @ KaHuhiko 2akeshima (&hairman >air 2rade &ommission o$ )apan), The Lessons from Experience of Antimonopoly Act in Japan and the Future of Competition La s and !olicies in East Asia, disajikan dalam 2he *nd 9ast Asia &on$eren%e on &ompetition .aw and Poli%ie (2oward 9$$e%ti!e ;mplementation o$ &ompetition Poli%ies in 9ast Asia), 'ogor, @/C (ei *++1.

pajak harus memba#ar beban bia#a konstruksi #ang tinggi. C 6emikian pula di ;ndonesia, persekongkolan tender mengakibatkan kegiatan pembangunan #ang berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan 'elanja 0egara (AP'0) dikeluarkan se%ara tidak bertanggung jawab, dan pemenang tender #ang bersekongkol mendapatkan keuntungan jauh di atas harga normal, namun kerugian tersebut dibebankan kepada mas#arakat luas.1 Pemerintah ;ndonesia saat ini berusaha mewujudkan pen#elenggaraan negara #ang bersih, sebagai upa#a mewujudkan sistem pemerintahan #ang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, sehingga menimbulkan kewibawaan di sektor lainn#a terutama dalam hal penegakan hukum. Salah satu upa#a mewujudkan keinginan tersebut, pemerintah menetapkan Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@ tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan 'arang5)asa Pemerintah. Pembentukan peraturan ini bertujuan agar pengadaan barang5jasa instansi Pemerintah dapat dilaksanakan dengan e$ekti$ dan e$isien, dengan prinsip persaingan sehat, transparan, terbuka, dan perlakuan #ang adil dan la#ak bagi pihak, sehingga hasiln#a dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi $isik, keuangan maupun man$aatn#a bagi kelan%aran tugas Pemerintah dan pela#anan mas#arakat.A Pasal 3+ Keputusan Presiden tersebut men#atakan, bahwa panitia pengadaan wajib dibentuk untuk semua pengadaan dengan nilai di atas 7p. 1+.+++.+++,/ (lima puluh juta rupiah), artin#a bahwa semua pengadaan pro#ek di atas nilai tersebut harus dilakukan melalui penawaran umum. Ketentuan ini men#ebabkan ban#akn#a pro#ek/pro#ek #ang harus dilakukan dengan %ara melakukan penawaran tender, sehingga makin besar pula kemungkinan terjadin#a persekongkolan penawaran tender. (engingat dampak #ang ditimbulkan dari tindakan persekongkolan tender sangat signi$ikan bagi pembagunan ekonomi nasional dan iklim persaingan #ang sehat, pengaturan masalah penawaran tender tidak han#a diatur dalam Undang/ undang tentang Pengadaan 'arang dan5)asa, tetapi juga diatur dalam Undang/ undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan
C

0aoki katani, 7egulations on 'id 7igging in )apan, 2he United States and 9urope, !acific "im La # !olicy Journal, (ar%h, 3441, h. *13. 1 Persekongkolan 2ender Pemerintah Kian Parah, $uara Karya, 3, ktober *++3. A Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@ tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan 'arang5)asa Pemerintah, bagian (enimbang. .ihat pula Pasal @ tentang Prinsip 6asar Pengadaan 'arang5)asa.

Persaingan Usaha 2idak Sehat. Pembahasan ini akan menitik/beratkan pada kajian #uridis tentang )San'si *a&am P r'ara P rs 'ong'o&an T n* r B r*asar'an UU Nomor 5 Ta(+n 1999 % n%ang Larangan Pra'%i' Mono,o&i *an P rsaingan Usa(a Ti*a' S (a%). Penulis tertarik melakukan kajian ini karena berdasarkan laporan #ang masuk ke KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), lebih dari separuh laporan tersebut berkaitan erat dengan persekongkolan penawaran tender. 'ahkan, tidak jarang perkara #ang dihadapi oleh KPPU dapat dikategorikan sebagai kasus korupsi #ang melibatkan lembaga maupun oknum pemerintah #ang mengakibatkan kerugian negara triliunan rupiah. B. P r+m+san Masa&a( 'erdasarkan permasalahan berikut: 3. -al/hal apa saja #ang harus dibuktikan dalam perkara persekongkolan tenderI *. Sanksi apakah #ang dapat dikenakan terhadap pihak/pihak #ang terkait dalam persekongkolan tenderI -. T+.+an P n+&isan 'erkaitan dengan permasalahan #ang akan dikaji, berikut dikemukakan tujuan penelitian: 3. Untuk memberikan gambaran dan analisis mengenai hal/hal #ang harus dibuktikan dalam perkara persekongkolan tender. *. Untuk memberikan gambaran dan analisis mengenai sanksi apakah #ang dapat dikenakan terhadap pihak/pihak #ang terkait dalam perkara persekongkolan tender. D. K rang'a Kons ,siona& Salah satu substansi UU 0omor 1 2ahun 3444 adalah larangan terhadap persekongkolan dalam kegiatan tender. >alsa$ah #ang terkandung dalam kegiatan tender adalah men%iptakan persaingan usaha #ang sehat dan jujur. 6alam kegiatan tender, melekat unsur moral dan etika, bahwa pemenang tender uraian tersebut di atas, dikemukakan beberapa

tidak dapat diatur, sehingga diperoleh harga terendah melalui penawaran terbaik pemenang tender., Persekongkolan dalam kegiatan tender merupakan perbuatan #ang dilakukan oleh peserta tender untuk memenangkan satu peserta tender melalui persaingan semu.B leh karena itu, tender kolusi$ tidak terkait dengan struktur pasar dan tidak terdapat unsur persaingan. Persekongkolan dalam kegiatan tender merupakan perbuatan #ang mengutamakan aspek perilaku, berupa perjanjian untuk bersekongkol #ang dilakukan se%ara diam/diam. 6alam persekongkolan tender, penawar menentukan perusahaan tertentu #ang harus mendapat pekerjaan melalui harga kontrak #ang diharapkan. 4 Ke%enderungan tersebut terdapat di semua negara termasuk ;ndonesia, seperti tender arisan di beberapa pro#ek lembaga atau instansi pemerintah.3+ Persekongkolan dalam kegiatan tender merupakan praktik persaingan usaha tidak sehat, karena pelaku usaha #ang seharusn#a bersaing dalam kegiatan tender, melakukan kesepakatan tertentu guna memenangkan salah satu penawar dalam tender. Se%ara sederhana, hal tersebut merupakan kesepakatan untuk men#amarkan persaingan, pengaturan pemenang tender melalui pengelabuhan penawaran harga, bahkan %nited &ations Conferences on Trade and 'e(elopment )%&CTA'* men#atakan, bahwa +Collusi(e tendering is inherently anti competiti(e, since it contra(enes the (ery purpose of in(iting tenders, hich is to procure goods and ser(ices on the most fa(orable prices and dalam kegiatan tender mengakibatkan proses conditions---+.. Persekongkolan persaingan terhambat, hambatan untuk masuk ke pasar bersangkutan, bia#a tinggi, dan hilangn#a barang berkualitas. 6i samping itu, kondisi pasar selalu
7. Sh#am Khemani, A Frame or/ for the 'esign and Implementation of Competition La and !olicy, 3st edition, (Gashington, 6.&.: 2he Gorld 'ank Gashington, 6.&. and rganiHation $or 9%onomi% &o/ peration and 6e!elopment ( 9&6) Paris, 344B), p. *@. 8 Sutrisno ;wantono, >iloso$i #ang (elatar/belakangi 6ikeluarkann#a UU 0omor 1 2ahun 3444, dalam 9mm# 8uhassarie dan 2ri -arnowo, ed., !roceeding 01102 %ndang3undang &o45.666 dan K!!%, %et. 3 ()akarta: Pusat Pengkajian -ukum bekerjasama dengan Pusdiklat (ahkamah Agung 7;, dan Konsultan -ukum 98 7uru dan 7ekan, *++@), h. A. 9 A. (. 2ri Anggraini, Larangan !ra/ti/ 7onopoli dan !ersaingan Tida/ $ehat2 !er se Illegal atau "ule of "eason, %et. 3, ()akarta: Pas%asarjana >akultas -ukum Uni!ersitas ;ndonesia, *++@), h. @AC. 3+ Sutrisno ;wantono, Filosofi yang 7elatar3bela/angi 'i/eluar/annya %% &o- 45.666, p. &it., h. A. 11 Knud -ansen et. Al., %ndang3undang &omor 4 Tahun .6662 %ndang3undang Larangan !ra/ti/ 7onopoli dan !ersaingan %saha Tida/ $ehat , %et. ;; ()akarta: 'eutsche 8esselschaft fur Technische 9usammenarbeit )8T9* bekerjasama dengan P2 Katalis, *++*), h. @3@/@3C.
7

dikendalikan oleh pelaku usaha #ang sama dengan identitas berbeda, sehingga tidak terdapat pemerataan kesempatan bagi pelaku usaha lain.3* Penelitian ini menggunakan beberapa batasan istilah #ang terkait dengan persekongkolan dalam tender, #akni sebagai berikut:

1. Pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan hokum, baik
#ang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum #ang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wila#ah hukum 0egara 7epublik ;ndonesia, baik sendiri maupun bersama/sama melalui perjanjian men#elenggarakan berbagai kegiatan usaha ekonomi.3@ *. Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang, dan atau jasa #ang dilakukan dengan %ara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.

3. Persekongkolan atau konspirasi usaha adalah bentuk kerjasama #ang


dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar #ang bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha #ang bersekongkol.3C Konsep persekongkolan selalu melibatkan dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama. Pembentuk UU memberi tujuan persekongkolan se%ara limitati$, #aitu untuk menguasai pasar bagi kepentingan pihak/pihak #ang bersekongkol.

4. Pasar bersangkutan adalah pasar #ang terkait dengan jangkauan atau


daerah pemasaran tertentu oleh pelaku usaha atas barang dan atau jasa #ang sama atau sejenis atau substitusi dari barang, dan atau jasa tersebut.31 Penguasaan pasar merupakan perbuatan #ang diantisipasi dalam persekongkolan, termasuk dalam kegiatan tender.3A

5. Persekongkolan dalam kegiatan tender menurut pengertian di beberapa


0egara merupakan perjanjian beberapa pihak untuk memenangkan pesaing dalam suatu kegiatan tender.3,
0ingrum 0. Sirait, -ukum Persaingan, :u/um !ersaingan di Indonesia2 %% &o- 45.666 tentang Larangan !ra/te/ 7onopoli dan !ersaingan %saha Tida/ $ehat , %et. ; ((edan: Pustaka 'angsa Press, *++C), h. **. 13 Pasal 3 angka 1 UU 0omor 1 2ahun 3444 14 Pasal 3 angka B UU 0omor 1 2ahun 3444 15 Pasal 3 angka 3+ UU 0omor 1 2ahun 3444. 16 8akub Adi Krisanto, Analisis Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444 dan Karakteristik Putusan tentang Persekongkolan 2ender, Jurnal :u/um Bisnis, !ol. *C 0o. *, *++1, h. C*. 17 KPPU/7;, !edoman !asal 00 tentang Larangan !erse/ong/olan Tender, *++1, h. 3+.
12

6. 2ender adalah tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong suatu


pekerjaan, untuk mengadakan barang/barang atau untuk men#ediakan jasa.3B Pengertian tender men%akup tawaran untuk mengajukan harga untuk memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan, mengadakan barang dan atau jasa, mmebeli suatu barang dan atau jasa, menjual suatu barang dan atau jasa.34

7. 'arang adalah setiap benda, baik berujud maupun tidak berujud, baik
bergerak maupun tidak bergerak #ang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau diman$aatkan oleh konsumen atau pelaku usaha.*+ Sedangkan barang tidak berujud diartikan sebagai jasa.*3

8. )asa adalah setiap la#anan #ang berbentuk pekerjaan atau prestasi #ang
diperdagangkan dalam mas#arakat untuk diman$aatkan oleh konsumen atau pelaku usaha.** E. Sis% ma%i'a P n+&isan 'ab ;: Pendahuluan 'agian5'ab ini menjelaskan mengenai latar belakang penulisan kertas kerja, perumusan masalah, tujuan, dan sistematika penulisan. 'ab ;;: Kerangka Konsepsi dan (etode Penelitian 'agian5'ab ini menjelaskan kajian konsepsi #ang merupakan dasar dari persekongkolan tender meliputi mekanisme maupun alasan terhadap larangan persekongkolan tender, serta metode penelitian penulisan. 'ab ;;;: Pembahasan -asil Penelitian 'ab ini menjelaskan tentang hal/hal atau unsur/unsur apa saja #ang harus dibuktikan dalam perkara persekongkolan tender
Penjelasana Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. KPPU/7;, !edoman !asal 00 tentang Larangan !erse/ong/olan Tender, p. &it., h. ,. 20 Pasal 3 angka 3A UU 0omor 1 2ahun 3444. .ihat pula Pasal 3 angka 33 Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@. 21 Pasal 3 angka 3 Undang/undang tentang )asa Konstruksi 22 Pasal 3 angka 3, UU 0omor 1 2ahun 3444. .ihat pula Pasal 3 angka 3*, 3@ dan 3C Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@.
19 18

serta sanksi apakah #ang dapat dikenakan terhadap pihak/pihak terkait dengan perkara tersebut, dengan mangambil lima %ontoh perkara #ang telah diputuskan oleh KPPU. 'ab ;E: Kesimpulan dan Saran 'agian ini menjelaskan mengenai kesimpulan dari penelitian dan rekomendasi terhadap pihak/pihak terkait dalam perkara/ perkara persaingan usaha.

BAB II KA/IAN KONSEPSI TENTANG PERSEKONGKOLAN TENDER DAN METODE PENELITIAN


A. M 'anism P nga*aan Barang *an /asa Sistem pengadaan barang dan jasa pada umumn#a menggunakan mekanisme penawaran #ang terbuka, sesuai dengan prinsip persaingan sehat. Penawaran tender #ang mengesampingkan prinsip tersebut akan mengakibatkan ine$isiensi, tidak e$ekti$, non akuntabilitas serta tidak tepat sasaran #ang dituju. leh karena itu, dalam proses tender harus mengedepankan prinsip keterbukaan, sehingga pelaku usaha memperoleh akses tanpa diskriminasi atas pelaku usaha tertentu dalam menjalankan sistem perekonomian. Salah satu akti!itas #ang dilarang dalam penawaran tender adalah persekongkolan penawaran tender. .arangan persekongkolan penawaran tender diatur dalam Pasal ** Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444. Ketentuan tersebut men%akup penawaran pada 'adan Usaha (ilik 0egara ('U(0) dan perusahaan swasta. Penjelasan Pasal ** men#atakan, bahwa tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan dan5atau untuk pengadaan barang/barang atau pen#ediaan jasa. 2ender ditawarkan oleh pengguna barang dan jasa kepada pelaku usaha #ang memiliki kredibilitas dan kapabilitas berdasarkan alasan e$ekti!itas dan e$isiensi. Adapun alasan/alasan lain pengadaan barang dan jasa adalah, pertama, memperoleh penawaran terbaik untuk harga dan kualitas. Kedua, memberi kesempatan #ang sama bagi semua pelaku usaha #ang memenuhi pers#aratan untuk menawarkan barang dan jasan#a. Ketiga, menjamin transparansi dan akuntabilitas pengguna barang dan jasa kepada publik, khususn#a pengadaan barang5jasa di lembaga atau instansi pemerintah. Pengertian tender tersebut men%akup tawaran mengajukan harga untuk:*@ 3. memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan= *. mengadakan barang dan jasa= @. membeli suatu barang dan jasa C. menjual suatu barang dan jasa.
*@

Pedoman Pasal ** tentang .arangan Persekongkolan 2ender, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), )akarta, *++1.

Pengertian tender se%ara umum adalah akti!itas mengajukan tawaran harga untuk memborong suatu pekerjaan barang5jasa dengan mengumpulkan terlebih dahulu peminatn#a #ang diin$ormasikan melalui pengumuman resmi, media %etak, dan bila memungkinkan melalui media elektronik. Penawaran diajukan se%ara tertulis dengan perin%ian harga #ang dilampirkan di dalamn#a, dan dilengkapi dengan pers#aratan lainn#a untuk memenuhi kelengkapan prakuali$ikasi. Adapun #ang dimaksud dengan tender penjualan adalah penawaran harga oleh peserta tender untuk suatu pekerjaan, barang dan atau jasa #ang akan dijual. Sedangkan tender pembelian adalah penawaran harga oleh peserta tender untuk suatu pekerjaan, barang dan atau jasa #ang akan dibeli.*C 'erdasarkan de$inisi tersebut, maka %akupan dasar penerapan Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444 adalah tender atau tawaran mengajukan harga #ang dapat dilakukan melalui: a. tender terbuka b. tender terbatas %. pelelangan umum d. pelelangan terbatas 6alam pelaksanaan tender, peserta tender harus menempuh beberapa tahapan, #akni tahap prakuali$ikasi pas%akuali$ikasi. Prakuali$ikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta pemenuhan pers#aratan tertentu lainn#a dari pen#edia penawaran.
*1

barang dan5atau jasa sebelum memasukkan

Pas%akuali$ikasi adalah proses untuk melakukan kompetensi dan

kemampuan usaha serta pemenuhan pers#aratan tertentu dan lainn#a dari pen#edia barang5jasa setelah memasukkan penawaran. Adapun metode pen#ampaian penawaran pen#ediaan barang dan jasa dapat memilih salah satu dari tiga metode pen#ampaian, dan metode pen#ampaian dokumen tersebut harus di%antumkan dalam dokumen lelang #ang meliputi metode satu sampul, metode dua sampul, dan metode dua tahap. 2ender #ang bertujuan untuk memperoleh pemenang dalam iklim #ang kompetiti$ harus terdiri dari dua atau lebih pelaku usaha, sehingga ide dasar
*C

Pro%eedings, 7angkaian .okakar#a 2erbuka -ukum Kepailitan dan Gawan%ara -ukum 'isnis lainn#a, UU 0o. 1 2ahun 3444 dan KPPU, %etakan ;, *++@, h. 3@B. *1 Pasal 3C Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@, .0 0omor 3*+ 2ahun *++@.

pelaksanaan tender berupa perolehan harga terendah dengan kualitas terbaik dapat ter%apai. 6i sisi lain, persekongkolan dalam kegiatan tender dapat mengakibatkan terbentukn#a tender kolusi$ #ang bertujuan untuk meniadakan persaingan dan menaikkan harga. (ekanisme #ang diberikan oleh UU 0omor 1 2ahun 3444 terhadap Keputusan Presiden (Keppres) 0omor B+ 2ahun *++@ merupakan ketentuan normati$ #ang melarang pelaku usaha bersekongkol dengan pihak lain guna mengatur dan atau menentukan pemenang tender #ang dapat mengakibatkan persaingan pelaksanaan usaha tender tidak sehat.*A .arangan tersebut #ang men%akup dari proses prosedur se%ara keseluruhan diawali

peren%anaan, pembukaan penawaran, sampai dengan penetapan pemenang tender. (ekanisme tersebut merupakan pa#ung hukum UU 0omor 1 2ahun 3444 terhadap Keppres 0omor B+ 2ahun *++@, meskipun Keppres tersebut tidak menempatkan UU 0omor 1 2ahun 3444 sebagai salah satu landasan hukumn#a.*, B. Larangan P rs 'ong'o&an T n* r m n+r+% H+'+m P rsaingan 6e$inisi persekongkolan (conspiracy) dalam 'la%kFs .aw 6i%tionar# adalah sebagai berikut: +a combination or confederacy bet een t o or persons for the purpose of committing, by their ;oint efforts, some unla ful or criminal act, or some act, hich is innocent in itself, but becomes unla ful hen done concerted action of the conspirators, or for the purpose of using criminal or unla ful means to the commission of an act not in itself unla ful+-0< 6e$inisi tersebut menegaskan bahwa persekongkolan harus dilakukan oleh dua pihak atau lebih #ang bertujuan untuk melakukan suatu tindakan atau kegiatan kriminal atau melawan hukum se%ara bersama/sama. 2ermasuk dalam hal ini adalah persekongkolan dalam penawaran tender, baik untuk pengadaan barang dan atau jasa di sektor publik maupun di perusahaan swasta, karena dianggap dapat menghambat upa#a pembangunan suatu negara. Selain itu, persekongkolan atau konspirasi dalam penawaran tender dianggap bertentangan dengan rasa keadilan mas#arakat karena tidak memberi kesempatan #ang sama
*A *,

Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. 6alam salah satu konsiderann#a, Keppres B+ 2ahun *++@ merujuk pada UU 0omor 1 2ahun ?arner, Blac/=s La 'ictionary, >i$th 9dition (St. Paul (inn.: Gest Publishing, 34,4), h. *1B.

3444.
*B

kepada seluruh pelaku usaha untuk mendapat ob#ek barang dan jasa #ang ditawarkan oleh pengguna barang dan jasa. Konsekuensi persekongkolan dalam tender adalah menghambat pelaku usaha #ang beriktikad baik untuk masuk ke pasar bersangkutan dan men#ebabkan harga tidak kompetiti$. Pasal 3 angka B UU 0omor 1 2ahun 3444 menetapkan, bahwa persekongkolan atau konspirasi usaha sebagai bentuk kerjasama #ang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pelaku usaha lain dengan maksud untuk menguasai pasar bersangkutan bagi kepentingan pelaku usaha #ang bersekongkol. Sedangkan Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444 menetapkan, bahwa pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat. 6alam kedua rumusan tersebut terdapat kesamaan, bahwa persekongkolan harus melibatkan dua pihak atau lebih untuk melakukan kerjasama dan memenuhi dua kondisi, #aitu pihak/pihak #ang berpartisipasi dan kesepakatan untuk bersekongkol. Adapun perbedaan atau ketidak/selarasan kedua pasal tersebut di atas adalah, bahwa Pasal 3 angka B memberi tujuan persekongkolan limitati$ berupa penguasaan pasar bagi kepentingan pihak/pihak #ang bersekongkol. Sedangkan Pasal ** tidak mens#aratkan unsur penguasaan pasar, karena tender kolusi$ tidak terkait dengan struktur pasar. Perbedaan lainn#a adalah bahwa dalam Pasal 3 angka B tidak men#ebutkan adan#a pihak lain, sedangkan Pasal ** men#atakan kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam persekongkolan. Adapun siapakah #ang dimaksud dengan pihak lain menurut ketentuan tersebut, perlu dilakukan kajian lebih lanjut. .arangan persekongkolan tender dalam Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444 menunjukkan, bahwa ketentuan ini mengenal unsur perilaku pelaku usaha #ang saling men#esuaikan (concerted action) dalam kegiatan tender. 6i samping itu, penerapan -ukum Persaingan Usaha harus ditujukan kepada the actual and or potential business conduct of firms in a gi(en mar/et and not on the absolute or relati(e si>e of the firms- Artin#a, pengawasan #ang dilakukan oleh otoritas persaingan usaha harus lebih di$okuskan untuk menilai segi/segi beha(ior

practice, seperti haln#a dengan tender kolusi$, dan bukan diarahkan pada segi struktur pasar seperti dalam kegiatan merger.*4 Praktik persekongkolan telah meluas di kalangan dunia usaha, terutama pelaku usaha #ang melakukan transaksi bisnis dengan pemerintah melalui persekongkolan dalam kegiatan tender. Praktik tersebut merupakan bagian dari praktik perburuan rente ekonomi dalam sistem ekonomi politik #ang buruk, #ang mengakibatkan ine$isiensi dan ekonomi bia#a tinggi. (elemahn#a ekonomi ;ndonesia karena hutang dan anggaran belanja negara #ang tidak e$isien disebabkan oleh persekongkolan tender dalam pengadaan barang dan jasa, khususn#a barang dan jasa pemerintah. Praktik persekongkolan dalam kegiatan tender terkait pula dengan praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme (KK0) #ang meluas di ;ndonesia, baik di masa lalu maupun sekarang. (engingat dampak #ang signi$ikan atas praktik persekongkolan tender, UU 0omor 1 2ahun 3444 se%ara tegas menetapkan dua jenis sanksi #ang dapat dikenakan terhadap pelaku usaha #ang melanggar ketentuan tersebut, khususn#a terhadap ketentuan Pasal **, Pasal *@, dan Pasal *C, #aitu sanksi administrati$ dan sanksi pidana, berupa pidana pokok dan pidana tambahan. Ketentuan Pasal C, a#at (3) UU 0omor 1 2ahun 3444 men#atakan, bahwa KPPU berwenang untuk menjatuhkan sanksi berupa tindakan administrati$ terhadap pelaku usaha #ang melanggar ketentuan UU 0omor 1 2ahun 3444. Sedangkan ketentuan a#at (*) menetapkan bentuk/bentuk tindakan administrati$, termasuk pelanggaran terhadap pasal/pasal tersebut di atas. Adapun sanksi pidana #ang dikenakan adalah denda antara lima mil#ar sampai dengan duapuluh lima mil#ar rupiah, atau kurungan pengganti denda selama lima bulan. Selanjutn#a, sanksi terhadap pelanggaran ketentuan Pasal C3 UU 0omor 1 2ahun 3444 adalah apabila pelaku usaha menolak bekerjasama dalam pen#elidikan atau pemeriksaan dengan an%aman pidana denda sebesar satu mil#ar sampai dengan lima mil#ar rupiah. @+ Ketentuan Pasal C4 undang/ undang tersebut men#atakan, bahwa pidana pokok tersebut dapat disertai dengan pidana tambahan berupa pen%abutan ijin usaha atau larangan menduduki jabatan 6ireksi atau Komisaris sekurang/kurangn#a dua tahun, dan selama lima tahun bagi pelaku usaha #ang terbukti melakukan pelanggaran
*4

>iros ?a$$ar, .ima 2ahun KPPU: ;su -ukum Persaingan Usaha dan Penegakann#a, Jurnal :u/um Bisnis, !ol. *C, 0o. @, *++1, h . *B. @+ Pasal CB a#at (* dan @) UU 0omor 1 2aun 3444

undang/undang, penghentian kegiatan atau tindakan tertentu #ang merugikan orang lain.@3 6alam menegakkan sanksi/sanksi tersebut dibutuhkan koordinasi e$ekti$ dengan pihak/pihak terkait, seperti Polri, Kejaksanaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi. -al ini mengingat bahwa praktik persekongkolan dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah kadangkala mengandung unsur korupsi. Selain itu, KPPU sebagai lembaga pengawas persaingan, tidak memiliki otoritas untuk menghukum (pejabat) pemerintah atau panitia lelang #ang terkait dengan penawaran tender. -. M %o* P n &i%ian 1. O01 ' P n &i%ian Penelitian tentang Sanksi dalam Perkara Persekongkolan 2ender 'erdasarkan UU 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat merupakan suatu penelitian #uridis/normati$. Sebagai suatu penelitian #uridis normati$, maka penelitian ini berbasis pada analisis norma hukum, baik hukum dalam arti la as it is ritten in the boo/s as it is (dalam peraturan perundang/undangan), maupun hukum dalam arti la

decided by ;udge through ;udicial process (putusan/putusan lembaga #udisial).@* 6engan demikian ob#ek #ang dianalisis adalah norma hukum, baik dalam peraturan perundang/undangan #ang se%ara konkrit ditetapkan oleh hakim, maupun Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam perkara/perkara #ang diputuskan di lembaga pengawas tersebut. Pemahaman #ang mendalam mengenai norma/norma serta pengaturan tentang persaingan usaha #ang sehat dikaji dengan mendasarkan Undang/ undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat. .arangan persekongkolan se%ara khusus diatur dalam Pasal ** sampai dengan Pasal *C undang/undang tersebut. Undang/ undang ini juga se%ara implisit men#iratkan tentang metode pendekatan hukum #ang digunakan oleh KPPU untuk men#elidiki kasus/kasus pelanggaran terhadap ketentuan hukum persaingan. ?una melengkapi kajian #uridis terhadap kasus #ang terjadi di lapangan, ditinjau pula peraturan pelaksanaan #ang lain di
@3 @*

Arie Siswanto, :u/um !ersaingan %saha ()akarta: ?halia ;ndonesia, *++*), h. 41/4A. 7onald 6workin, Legal "esearch (6aedalus: Spring, 34,@), h. *1+.

bidang hukum persaingan, antara lain adalah Keppres 0omor B+ 2ahun *++@ tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan 'arang dan atau )asa Pemerintah beserta ke/empat amandemen/amandemenn#a, dan Pedoman Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. 2. Da%a 'erdasarkan jenis dan bentukn#a, data #ang diperlukan dalam penelitian ini adalah data sekunder #ang diperoleh melalui studi kepustakaan. 6ata kepustakaan digolongkan dalam dua bahan hukum, #aitu bahan/bahan hukum primer dan bahan/bahan hukum sekunder. 'ahan/bahan hukum primer meliputi produk lembaga legislati$.@@ 6alam hal ini, bahan #ang dimaksud adalah Undang/ undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat. .arangan persekongkolan tender diatur dalam Pasal ** sampai dengan Pasal *C Undang/undang tersebut. Undang/undang ini juga se%ara implisit men#iratkan tentang metode pendekatan hukum #ang #ang digunakan oleh KPPU untuk men#elidiki perkara/perkara pelanggaran terhadap ketentuan hukum persaingan. ?una melengkapi kajian #uridis terhadap kasus #ang terjadi di lapangan, ditinjau pula peraturan pelaksanaan #ang lain di bidang hukum persaingan, antara lain adalah Pedoman Pasal ** Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444, serta Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@, Keputusan Presiden 0omor A3 2ahun *++C, Keputusan Presiden 0omor @* 2ahun *++1, Peraturan Presiden 0omor ,+ 2ahun *++1, dan Peraturan Presiden 0omor B 2ahun *++A. 'ahan/bahan hukum lainn#a adalah Putusan/putusan KPPU #ang berkaitan dengan masalah persekongkolan tender. Putusan tersebut antara lain adalah Putusan 0omor +,5KPPU/.5*++3 tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 'akalan Sapi ;mpor di )awa 2imur, Putusan 0omor +B5KPPU/.5*++C tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 2inta Sidik )ari Pemilu 2ahun *++C, Putusan 0omor +C5KPPU/.5*++1 tentang Persekongkolan 2ender dalam .elang ?ula ;legal, dan Putusan 0omor +A5KPPU/.5*++1 tentang Persekongkolan 2ender (ulti 8ears di Propinsi 7iau. Sedangkan bahan hukum

@@

9nid &ampbell, et. al., Legal "esearch, 7aterials and 7ethods (S#dne#: 2he .aw 'ook &ompan# .imited, 34BB), h. 3.

sekunder meliputi tulisan/tulisan, makalah dalam jurnal, dan majalah ilmiah tentang hukum persaingan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan di beberapa tempat, seperti perpustakaan Pas%asarjana Uni!ersitas ;ndonesia, >akultas -ukum Uni!ersitas 2risakti, maupun perpustakaan KPPU, serta mengakses data melalui internet. 6ata hasil penelitian ini dianalisis se%ara kualitati$, artin#a data kepustakaan dianalisis se%ara mendalam, holistik, dan komprehensi$. Penggunaan metode analisis se%ara kualitati$ didasarkan pada pertimbangan, #aitu pertama data #ang dianalisis beragam, memiliki si$at dasar #ang berbeda antara satu dengan lainn#a, serta tidak mudah untuk dikuantitati$kan. Kedua, si$at dasar data #ang dianalisis adalah men#eluruh (comprehensi(e) dan merupakan satu kesatuan bulat (holistic). -al ini ditandai dengan keaneka ragaman datan#a serta memerlukan in$ormasi #ang mendalam (indepth information).@C -. -ara P nari'an K sim,+&an -asil penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan metode dedukti$, artin#a adalah metode menarik kesimpulan #ang bersi$at khusus dari pern#ataan/pern#ataan #ang si$atn#a umum. (etode ini dilakukan dengan %ara menganalisis pengertian atau prinsip/prinsip umum, antara lain mengenai prinsip tentang penawaran umum dan persekongkolan tender dari aspek -ukum Persaingan Usaha. Adapun kajian terhadap prinsip #ang si$atn#a umum tersebut akan dianalisis se%ara khusus dari aspek Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat beserta peraturan pelaksanaan lainn#a.

@C

&hai Podhista, 2heoreti%al, 2erminologi%al, and Philosophi%al ;ssue in Jualitati!e 7esear%h, dalam Attig, et. al. A Field 7anual on $elected ?ualitati(e"esearch 7ethods (2hailand: ;nstitute $or Population and So%ial 7esear%h, (ahidol Uni!ersit#, 3443), h. ,.

BAB III ANALISIS HASIL PENELITIAN TENTANG SANKSI DALAM PERSEKONGKOLAN TENDER
A. P m0+'%ian Uns+r3+ns+r *a&am P rs 'ong'o&an T n* r 6alam memutuskan perkara persekongkolan tender, KPPU menggunakan dasar hukum Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. 'erdasarkan Pasal ** tersebut, dapat dikatakan bahwa ketentuan tentang persekongkolan tender terdiri atas beberapa unsur, #akni unsur pelaku usaha @1, bersekongkol, adan#a pihak lain, mengatur dan menentukan pemenang tender, serta persaingan usaha tidak sehat. ;stilah pelaku usaha diatur dalam Pasal 3 angka 1 UU 0omor 1 2ahun 3444.@A Adapun istilah bersekongkol diartikan sebagai kerjasama #ang dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiati$ siapapun dan dengan %ara apapun dalam upa#a memenangkan peserta tender tertentu.@, 6i samping itu, unsur bersekongkol dapat pula berupa: 3. kerjasama antara dua pihak atau lebih= *. se%ara terang/terangan maupun diam/diam melakukan tindakan pen#esuaian dokumen dengan peserta lainn#a= @. membandingkan dokumen tender sebelum pen#erahan= C. men%iptakan persaingan semu= 1. men#etujui dan atau mem$asilitasi terjadin#a persekongkolan= A. tidak menolak melakukan suatu tindakan meskipun mengetahui atau sepatutn#a mengetahui bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk mengatur dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu= 7. pemberian kesempatan eksklusi$ oleh pen#elenggara tender atau pihak terkait se%ara langsung maupun tidak langsung kepada pelaku usaha #ang mengikuti tender, dengan %ara melawan hukum.@B

@1

Pasal 3 angka 1 UU 0omor 1 2ahun 3444 men#atakan, bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik #ang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum #ang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wila#ah hukum negara 7;, baik sendiri maupun bersama/sama melalui perjanjian, men#elenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi. @A Pasal 3 angka C UU 0omor 1 2ahun 3444 men#atakan, bahwa pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik #ang berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum #ang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wila#ah hukum negara 7epublik ;ndonesia, baik sendiri maupun bersama/sama melalui perjanjian, men#elenggarakan berbagai kegiatan usaha dalam bidang ekonomi. @, Pedoman KPPU tehadap Pasal ** tentang .arangan Persekongkolan 6alam 2ender, h. B. @B .ihat Pedoman Pasal ** tentang .arangan Persekongkolan dalam 2ender oleh KPPU, *++1, hal. B.

Kerjasama antara dua pihak atau lebih dengan diam/diam biasan#a dilakukan se%ara lisan, sehingga membutuhkan pengalaman dari lembaga pengawas persaingan guna membuktikan adan#a kesepakatan #ang dilakukan se%ara diam/diam. 6alam penawaran tender #ang dikuasai oleh kartel akan semakin mempersulit upa#a pen#elidikan ini, ke%uali terdapat anggota #ang berkhianat membongkar adan#a persekongkolan tersebut. Adan#a unsur pihak lain menunjukkan bahwa persekongkolan selalu melibatkan lebih dari satu pelaku usaha. Pengertian pihak lain dalam hal ini meliputi para pihak #ang terlibat, baik se%ara horisontal maupun vertikal dalam proses penawaran tender. Pola pertama adalah persekongkolan horisontal, #akni tindakan kerjasama #ang dilakukan oleh para penawar tender, misaln#a mengupa#akan agar salah satu pihak ditentukan sebagai pemenang dengan %ara bertukar in$ormasi harga serta menaikkan atau menurunkan harga penawaran. 6alam kerjasama sema%am ini, pihak #ang kalah diperjanjikan akan mendapatkan sub kontraktor dari pihak #ang menang. 0amun demikian, KPPU kadangkala menemukan unsur pihak lain #ang bukan merupakan pihak #ang terkait langsung dalam proses penawaran tender, seperti pemasok atau distributor barang dan atau jasa bersangkutan. 'erikut adalah %ontoh persekongkolan horisontal dalam kasus #ang melibatkan beberapa perusahaan #ang beroperasi di bidang pengadaan jasa konstruksi min#ak bumi. Perkara ini berawal dari penawaran tender pengadaan pipa casing dan tubing #ang dilakukan oleh perusahaan tersebut dengan menetapkan pers#aratan baru, sehingga tidak semua peserta tender #ang biasan#a dapat ikut serta dalam penawaran memenuhi pers#aratan.@4 Pers#aratan tersebut antara lain mengharuskan para penawar ( bidders) memiliki semua items, #ang terdiri dari high grade dan lo grade, padahal tidak semua penawar memiliki kedua $asilitas tersebut, sehingga penawar #ang memenuhi pers#aratan han#a mengarah pada dua perusahaan besar, meskipun pada akhirn#a salah satu dari kedua perusahaan mengundurkan diri sebagai penawar. 'erkaitan dengan hal ini, perusahaan min#ak bumi sebagai pelaksana tender (P2/&P;) mengemukakan alasan, bahwa pers#aratan itu merupakan kebijakan untuk melakukan e$isiensi se%ara men#eluruh, guna menekan tingkat persediaan
@4

Putusan 0omor +35KPPU/.5*+++ tentang Persekongkolan Penawaran 2ender Pengadaan Pipa &asing dan 2ubing.

(in(entory le(el), bia#a pengadaan (procurement cost), dan laman#a pengadaan (cycle time) barang. Proses penawaran tersebut tetap dilaksanakan, karena pihak #ang tidak memiliki $asilitas lengkap tetap dapat melakukan penawaran dengan dari pers#aratan, bahwa mereka harus mendapatkan supporting letter

perusahaan #ang memenuhi pers#aratan lengkap. 0amun adan#a pers#aratan ini diman$aatkan oleh mereka untuk melakukan kerjasama, dengan %ara melakukan pertemuan rahasia dengan agenda saling bertukar in$ormasi, #akni di satu sisi penawar harus menunjukkan harga penawaran agar mendapatkan supporting letter dari penawar #ang memiliki $asilitas lengkap. 2indakan ini bertentangan dengan Pasal ** Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444, #akni ketentuan tentang persekongkolan, sehingga KPPU memerintahkan P2/&P; untuk menghentikan kegiatan tersebut. Pola #ang /edua adalah persekongkolan tender se%ara !ertikal, artin#a bahwa kerjasama tersebut dilakukan antara penawar dengan panitia pelaksana tender. 6alam hal ini, biasan#a panitia memberikan berbagai kemudahan atas pers#aratan/pers#aratan bagi seorang penawar, sehingga dia dapat memenangkan penawaran tersebut. Kasus seperti ini pernah terjadi dalam perkara penawaran tender pengadaan sapi bakalan kereman #ang dilaksanakan 6inas Peternakan Pemerintah Propinsi )awa 2imur. Perkara mengenai pengadaan sapi bakalan kereman impor #ang melibatkan Koperasi Pribumi ;ndonesia (K P;), didasarkan pada Putusan 0omor ,5KPPU/.;5*++3 adalah bermula dari pengumuman tender se%ara terbuka di berbagai media massa oleh panitia pen#elenggara. Sejak awal penda$taran sampai diputuskann#a pemenang tender, panitia telah mengis#aratkan bahwa pro#ek tersebut dimenangkan oleh K P;. 7eka#asa tersebut terlihat dari beberapa %ara, antara lain membolehkan K P; mengikuti pelelangan meskipun tidak memiliki 2anda 6a$tar 7ekanan (267), tidak memenuhi pers#aratan administrati$ maupun s#arat lainn#a, seperti pengalaman impor sapi dari Australia, dan keterlambatan kehadiran K P; pada saat berlangsungn#a penawaran. (eskipun tidak memenuhi pers#aratan tersebut, K P; bersama/sama dengan Pejabat 6inas Peternakan dan beberapa anggota 6P76 melakukan perjalanan ke Australia, untuk melakukan sur!e# atas kondisi sapi #ang akan diimpor ke ;ndonesia. Pada akhirn#a, panitia menunjuk K P; sebagai pelaksana dari pro#ek pengadaan sapi

impor tersebut, meskipun koperasi tersebut tidak memenuhi pers#aratan 7KS (7en%ana Kerja dan S#arat/s#arat) pada penawaran lelang terdahulu, seperti pemilikan kandang berkapasitas 1+++ ekor sapi, pengalaman impor sapi dan sebagain#a. Penunjukan ini dilakukan han#a berdasarkan rapat di antara panitia lelang, Satuan Petugas (Satgas), dan Kepala 6inas Peternakan. (ereka melakukan penunjukan langsung melalui 0egosiasi -arga dan 2eknis, #ang isin#a antara lain mengesampingkan pers#aratan administrasi maupun teknis. Semua $akta #ang disertai dengan bukti/bukti #ang mendukung di atas mengarah pada terjadin#a persekongkolan #ang didasarkan Pasal ** Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktek (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat. Pola /etiga adalah persekongkolan horisontal dan (erti/al, #akni persekongkolan antara panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan dengan pelaku usaha atau pen#edia barang dan jasa. Persekongkolan ini dapat melibatkan dua atau tiga pihak #ang terkait dalam proses tender, misaln#a tender $ikti$ #ang melibatkan panitia, pemberi pekerjaan, dan pelaku usaha #ang melakukan penawaran se%ara tertutup. Sebagai %ontoh jenis tender ini adalah 2ender Pro#ek 7ulti @ears di 7iau.C+ 6ugaan bermula dari adan#a penawaran tender pro#ek multi years #ang terdiri dari 4 paket pekerjaan, oleh Pemerintah di 'idang Prasarana )alan Propinsi 7iau dengan dana Anggaran Pendapatan dan 'elanja 6aerah 2ahun *++C. Panitia mem$asilitasi bidder tertentu dengan %ara mengundurkan waktu pengembalian dokumen penawaran, serta mem$asilitasi para bidder lainn#a untuk melakukan kerja sama semu dengan %ara mengundurkan waktu pengembalian dokumen prakuali$ikasi. Atas beberapa kegiatan #ang dilakukan panitia tender, pejabat #ang bersangkutan dengan beberapa bidder dikenakan Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. Unsur Pasal ** selanjutn#a adalah mengatur dan atau menentukan pemenang tender. Unsur ini diartikan sebagai suatu perbuatan para pihak #ang terlibat dalam proses tender se%ara bersekongkol, #ang bertujuan untuk men#ingkirkan pelaku usaha lain sebagai pesaingn#a dan5atau untuk memenangkan peserta tender tertentu dengan berbagai %ara. Pengaturan
C+

Putusan Perkara 0omor +A5KPPU/;5*++1 tentang Persekongkolan 2ender Pro#ek (ulti 8ears di 7iau.

dan5atau penentuan pemenang tender tersebut meliputi, antara lain menetapkan kriteria pemenang, pers#aratan teknik, keuangan, spesi$ikasi, proses tender, dan sebagain#a. Pengaturan dan penentuan pemenang tender dapat dilakukan se%ara horisontal maupun !ertikal, artin#a baik dilakukan oleh para pelaku usaha atau panitia pelaksana. Unsur #ang terakhir dari ketentuan tentang persekongkolan adalah terjadin#a persaingan usaha tidak sehat.C3 Unsur ini menunjukkan, bahwa persekongkolan menggunakan pendekatan rule of reason, karena dapat dilihat dari kalimat Dsehingga dapat mengakibatkan terjadin#a persaingan usaha tidak sehat. Pendekatan rule of reason merupakan suatu pendekatan hukum #ang digunakan lembaga pengawas persaingan untuk mempertimbangkan $aktor/ $aktor kompetiti$ dan menetapkan la#ak atau tidakn#a suatu hambatan perdagangan. Artin#a untuk mengetahui apakah hambatan tersebut bersi$at men%ampuri, mempengaruhi, atau bahkan mengganggu proses persaingan.C* 2abel di bawah ini adalah %ontoh perkara #ang diputuskan KPPU berkaitan dengan persekongkolan tender. Putusan/putusan perkara ini meliputi Putusan 0omor +,5KPPU/.5*++3 tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 'akalan Sapi ;mpor di )awa 2imur, Putusan 0omor +B5KPPU/.5*++C tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 2inta Sidik )ari Pemilu 2ahun *++C, Putusan 0omor +C5KPPU/.5*++1 tentang Persekongkolan 2ender dalam .elang ?ula ;legal, dan Putusan 0omor +A5KPPU/.5*++1 tentang Persekongkolan 2ender (ulti 8ears di Propinsi 7iau.

Ta0 & 4.1


C3 C*

.ihat Pasal 3 angka A Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444. 9. 2homas Sulli!an dan )e$$re# .. -arrison, %nderstanding Antitrust and Its Economic Implications (0ew 8ork: (atthew 'ender K &o., 344C), p. B1.

P+%+san3,+%+san P r'ara P rs 'ong'o&an T n* r


No 3 Uns+r3+ns+r 1ang *i0+'%i'an Pelaku usaha P r'ara No !"5KPPU3 L52!!1 Koperasi Pribumi )awa 2imur P r'ara No !65KPPU3 L52!!7 P2 (ustika ;ndra (as, P2 (ulti (ega Ser!i%e, P2 Senorotan Perkasa P r'ara No !75KPPU3 L52!!5 P2 Angels Produ%ts. P2 'ina (uda Perkasa, Sukamto 9$$end# P r'ara No !85KPPU3 L52!!5 P2 Gaskita Kar#a, P2 6uta ?raha ;ndah, P2 -utama Kar#a, P2 Pembngunan Perumahan, P2 Adhi Kar#a, P2 ;staka Kar#a, P2 -arap Panjang, P2 Anisa Putri 7agil, P2 (odern Gid#a 2e%hni%al Panitia mem$asilitasi para terlapor untuk meme/ nangkan tender Panitia, 6inas Permukiman dan Prasarana Gila#ah Propinsi 7iau Panitia mem$asilitasi para pemenang tender di masing/ masing paket pekerjaan

'ersekongkol

Pemberian kesempatan eksklusi$ oleh Panitia

Pihak lain

Kadin Peternakan )awa 2imur

(em$asilitasi tindakan meskipun mengetahui atau sepatutn#a mengetahui 'iro .ogistik KPU, Sukamto 9$$end#

Panitia mem$asilitasi tindakan, adan#a persaingan semu Panitia dari Kejaksaan, P2 (a!ira Aprisindo, P2 'alai (andiri Prasarana ('aleman) Penunjukan langsung 'aleman sbg pelaksana jasa pra lelang, Panitia mem$asilitasi peserta tender tertentu (enutup kesempatan penawar lain,

(engatur dan5atau menentukan pemenang tender

(engubah 7KS

Persaingan usaha tidak sehat

(enutup peserta tender lain

Panitia mengubah pers#aratan spesi$ikasi tender, mem$asilitasi pertemuan para peserta untuk pertukaran in$ormasi (enutup kesempatan penawar lain, merugikan negara

(enutup kesempatan penawar lain, merugikan negara

B. San'si *a&am P rs 'ong'o&an T n* r Undang/undang 0omor 1 2ahun 3444 han#a memberikan kewenangan kepada KPPU untuk menerapkan sanksi administrati$ terhadap pihak/pihak #ang melanggar ketentuan undang/undang tersebut. 'erdasarkan hasil pemeriksaan perkara/perkara mengenai persekongkolan tender, maka unsur pelaku usaha dapat dikategorikan menjadi dua ma%am, #akni pihak terlapor, #ang merupakan peserta tender, dan pihak lain, #ang bukan peserta tender tetapi mendukung terjadin#a persekongkolan tersebut. 6engan demikian pihak lain selain meliputi pelaku usaha (selain peserta tender), termasuk pula panitia tender. Pada perkara persekongkolan tender Pro#ek (ulti 8ears di 7iau dan tender Pengadaan 'akalan Sapi ;mpor di )awa 2imur, KPPU menjatuhkan sanksi administrati$ kepada pelaku usaha selaku peserta tender. KPPU tidak memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi kepada pihak lain #akni Panitia tender, karena di kedua perkara tersebut, panitia adalah Pemerintah 6aerah setempat. Kewenangan KPPU han#a sebatas memberikan rekomendasi kepada atasan pejabat (panitia) #ang bersangkutan untuk menjatuhkan sanksi administrati$ kepada mereka. Putusan KPPU #ang memberikan rekomendasi pada atasan pejabat tersebut di atas han#a mengikat tetapi tidak memiliki kekuatan hukum eksekusi apapun. -al ini karena si$at putusan adalah declaratoir. 7ekomendasi pemeriksaan dan penjatuhan sanksi administrati$ terhadap ketua panitia tender merupakan langkah inisiati$ KPPU untuk mengantisipasi tidak adan#a (berwenangn#a) penjatuhan putusan condemnatoir. 'erkaitan dengan tiadan#a kewenangan KPPU untuk menjatuhkan putusan atau sanksi #ang bersi$at condemnatoir, terdapat gagasan baru untuk mempertimbangkan agar putusan dimaksud dapat dikenakan terhadap panitia tender #ang notabene adalah pejabat pemerintah, selaku pihak lain dalam tender. -al ini mengingat, bahwa hampir semua pengadaan barang dan5atau jasa pemerintah dilakukan dan atau dibawah pengawasan langsung pejabat bersangkutan. leh karena itu, setiap pejabat pemerintah #ang sekaligus merupakan Panitia tender seharusn#a dianggap bertanggung jawab atas terselenggaran#a tender dengan mempertimbangkan prinsip/prinsip persaingan usaha #ang sehat.C@

C@

Gawan%ara dengan Susanti Adi, -akim Agung, )akarta, 3* September *++,.

6alam putusan perkara persekongkolan tender Pengadaan 2inta Sidik )ari Pemilu .egislati$ *++C, KPPU merekomendasikan agar pengguna barang diperiksa dan dijatuhi sanksi administrati$. 0amun dalam putusan declaratoirn#a, KPPU tidak men#atakan bahwa pengguna barang #ang bersangkutan melakukan pelanggaran atas Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. 7ekomendasi ini berbeda dengan dua putusan perkara persekongkolan tender lainn#a, di mana rekomendasi diberikan atas dasar pelanggaran terhadap Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. 7ekomendasi tanpa adan#a pern#ataan pelanggaran merupakan %a%at hukum. Sedangkan dalam perkara persekongkolan tender .elang ?ula ilegal dan tender Pengadaan 2inta Pemilu .egislati$ 2ahun *++C, KPPU menjatuhkan sanksi administrati$ kepada pelaku usaha peserta tender serta pihak lain. 6alam .elang ?ula ;legal, Sukamto 9$$end# #ang merupakan wakil P2 'ina (uda Perkasa se%ara sengaja mengundurkan diri untuk mem$asilitasi Angels Produ%ts agar memenangkan tender. 6alam tender pengadaan 2inta Sidik )ari Pemilu .egislati$ 2ahun *++C dilakukan dengan %ara pertemuan antara para anggota beberapa konsorsium guna meminta dukungan pasokan tinta dan melakukan pengaturan harga. Para anggota konsorsium juga saling mempertukarkan in$ormasi mengenai harga dan membagi pekerjaan di antara mereka, bahkan mengikut sertakan pihak lain, #akni (elina Ala#droes sampai selesain#a pekerjaan. 6alam hal ini, P2 (ustika ;ndra (as dianggap sebagai pelaku usaha #ang berkedudukan sebagai peserta tender, dan ketujuh konsorsium terkait dengan tender merupakan pihak lain. 6emikian pula P2 (ulti (ega Ser!i%e, P2 Senorotan Perkasa, P2 0ugraha Kar#a, P2 2ri%ipta Adimandiri, P2 8anaprima -astapersada, P2 0ugraha Kar#a shinda, P2 >ul%omas )a#a, P2 Gahgo ;nternational &orporation, dan P2 .ina Permai Sakti sebagai para pelaku usaha peserta tender. Sedangkan para anggota konsorsium merupakan pihak lain #ang bukan sebagai peserta tender. Sanksi administrati$ #ang dijatuhkan terhadap pelaku usaha tersebut (baik peserta tender maupun pihak lain) di atas adalah memerintahkan untuk menghentikan kegiatan #ang merupakan tindak lanjut dari persekongkolan tender, #akni dengan memerintahkan pemenang tender untuk menghentikan kegiatan pembangunan jalan selambat/lambatn#a @+ hari sejak diteriman#a petikan Putusan KPPU, memerintahkan pelaku usaha untuk memba#ar ganti

rugi, memerintahkan pelaku usaha untuk memba#ar denda satu mil#ar rupiah, dan atau melarang pelaku usaha mengikuti atau terlibat dalam tender sejenis selama jangka waktu tertentu. Putusan KPPU #ang berisi sanksi administrati$ disebut dengan condemnatoir atau putusan #ang bersi$at menghukum. Sedangkan putusan #ang isin#a men#atakan bahwa pelaku usaha tertentu se%ara sah dan me#akinkan melanggar Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444 disebut putusan declaratoir atau bersi$at menerangkan. 6alam hal putusan KPPU berupa denda dan atau ganti rugi, maka para pihak #ang dijatuhi putusan tersebut wajib memba#ar ke Kas 0egara. 0amun dalam hal putusan KPPU memerintahkan untuk menghentikan kegiatan, atau melarang pelaku usaha mengikuti atau terlibat dalam tender sejenis selama jangka waktu tertentu, maka menimbulkan masalah dalam memintakan eksekusi ke Pengadilan 0egeri. -al ini mengingat bahwa putusan #ang dapat dimintakan eksekusi adalah putusan #ang berujud pembebanan denda dan atau ganti rugi. Putusan/putusan tersebut mengikat dan harus dilaksanakan oleh pelaku usaha terkait dengan perkara setelah berkekuatan hukum tetap. Apabila dalam jangka waktu @+ hari setelah putusan berkekuatan hukum tetap, namun pelaku usaha tidak melaksanakann#a, maka KPPU melakukan permohonan penetapan eksekusi ke Pengadilan 0egeri. )ika kemudian para pelaku usaha tidak juga melakukan putusan tersebut, maka KPPU akan men#erahkan putusan penetapan eksekusi tersebut kepada Polri (pen#idik), guna melakukan pen#idikan atas ketidak/patuhan para pelaku usaha tersebut.

BAB I9 KESIMPULAN DAN SARAN

A.

K sim,+&an 'erdasarkan uraian dalam bab/bab sebelumn#a, maka dikemukakan

kesimpulan berikut: 3. 6alam pemeriksaan perkara/perkara persekongkolan tender, KPPU harus membuktikan unsur/unsur #ang terkandung dalam Pasal ** UU 0omor 1 2ahun 3444. Unsur tersebut meliputi pelaku usaha, bersekongkol, pihak lain, mengatur dan5atau menentukan pemenang tender, dan persaingan usaha tidak sehat. Unsur pihak lain dapat meliputi panitia tender maupun pelaku usaha #ang tidak terlibat se%ara langsung dalam penawaran tender. Unsur bersekongkol dan mengatur dan5atau menentukan pemenang seringkali tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena unsur bersekongkol dalam UU 0omor 1 2ahun 3444 mengandung pengertian #ang luas. Sedangkan pembuktian unsur persaingan usaha tidak sehat menunjukkan, bahwa KPPU harus membuktikan adan#a dampak atas persekongkolan tersebut. 6ampak tersebut dapat berupa menghalangi pelaku usaha tertentu lainn#a, atau bahkan berdampak kerugian pada pelaku usaha se%ara khusus, dan sekaligus kerugian terhadap negara, jika terdapat unsur korupsi. Proses pembuktian ini akan memerlukan waktu dan tenaga ekstra, karena paing tidak se%ara ekonomis harus ada bukti adan#a kerugian material. Sedangkan akti!itas persekongkolan itu sendiri hampir dapat dipastikan merugikan pihak/pihak terkait, baik pesaingn#a maupun bagi negara. *. KPPU han#a dapat menerapkan sanksi administrati$ terhadap pihak/pihak #ang terkait dengan persekongkolan tender. Apabila pihak lain adalah panitia tender dari unsur pemerintah terbukti mendukung persekongkolan, KPPU tidak dapat menjatuhkan sanksi administrati$, melainkan han#a dapat memberikan rekomendasi kepada atasan pejabat bersangkutan untuk menjatuhkan sanksi administrati$. Sanksi tersebut si$atn#a mengikat tetapi tidak dapat dimintakan eksekusi ke Pengadilan

0egeri. Sedangkan terhadap pihak lain dari unsur pelaku usaha, KPPU memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi administrati$, berupa denda dan atau ganti rugi, seperti haln#a terhadap para pelaku usaha terlapor. Sanksi administrati$ tersebut dapat dimintakan eksekusi ke Pengadilan 0egeri. 0amun demikian, dalam hal KPPU menerapkan sanksi #ang bukan berujud denda dan atau ganti rugi, maka hal ini tidak dapat dimintakan eksekusi ke Pengadilan 0egeri. B. Saran 'erdasarkan uraian tersebut di atas, dikemukakan beberapa saran sebagai berikut: 3. Perlu dilakukan kajian dan amandemen dalam penerapan pendekatan hukum #ang digunakan dalam persekongkolan, mengingat persekongkolan hampir dipastikan membawa dampak #ang merugikan bagi pesaing khususn#a, dan bagi negara, jika perkara tersebut melibatkan Anggaran Pendapatan 'elanja 0egara (AP'0) dan atau Anggaran Pendapatan dan 'elanja 6aerah (AP'6). *. 6alam menerapkan sanksi administrati$ atas perkara/perkara

persekongkolan, perlu dipertimbangkan penerapan sanksi administrati$ terhadap pihak lain #ang melibatkan panitia dari unsur pemerintah, artin#a KPPU tidak han#a memberikan rekomendasi kepada atasan pejabat #ang bersangkutan, melainkan juga memberikan sanksi administrati$ #ang di%antumkan dalam diktum5amar putusan. @. Perlu dibentuk suatu pedoman untuk menetapkan ukuran mengenai nilai (jumlah) besaran denda dan5atau ganti rugi atas perkara/perkara persekongkolan tender, mengingat sampai saat ini denda dan ganti rugi #ang ditetapkan oleh KPPU sangat !ariati$ berkaitan dengan nilai5besarann#a.

DA$TAR PUSTAKA

Siswanto, Arie. *++*. :u/um !ersaingan %saha. )akarta: ?halia ;ndonesia. &ampbell, 9nid, et. al., 34BB. Legal "esearch, 7aterials and 7ethods- S#dne#: 2he .aw 'ook &ompan# .imited. 6workin, 7onald. 34,@. Legal "esearch. 6aedalus: Spring. >iros ?a$$ar. *++1. ALima Tahun K!!%2 Isu :u/um !ersaingan %saha dan !enega/annya+- Jurnal :u/um Bisnis, !ol. *C, 0o. @. ?arner. Blac/=s La Publishing. 'ictionary. 34,4. >i$th 9dition. St. Paul (inn.: Gest

-ansen, Knud. et. Al., *++*. %ndang3undang &omor 4 Tahun .6662 %ndang3 undang Larangan !ra/ti/ 7onopoli dan !ersaingan %saha Tida/ $ehat . &et. ;;. )akarta: 'eutsche 8esselschaft fur Technische 9usammenarbeit )8T9* bekerjasama dengan P2 Katalis. Keputusan Presiden 0omor B+ 2ahun *++@ tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan 'arang5)asa Pemerintah (.0 0omor 3*+ 2ahun *++@). Khemani, 7. Sh#am. 344B. A Frame or/ for the 'esign and Implementation of Competition La and !olicy. 3st edition, (Gashington, 6.&.: 2he Gorld 'ank Gashington, 6.&. and rganiHation $or 9%onomi% &o/ peration and 6e!elopment ( 9&6) Paris. KPPU/7;. *++1. !edoman !asal 00 tentang Larangan !erse/ong/olan Tender. katani, 0aoki. 3441. 7egulations on 'id 7igging in )apan, 2he United States and 9urope, !acific "im La # !olicy Journal, (ar%h. Pedoman Pasal ** tentang .arangan Persekongkolan 2ender, *++1. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), )akarta. Persekongkolan 2ender Pemerintah Kian Parah. *++3. $uara Karya, 3, ktober. Pro%eedings. *++@. "ang/aian Lo/a/arya Terbu/a :u/um Kepailitan dan Ba ancara :u/um Bisnis lainnya2 %% &o- 4 Tahun .666 dan K!!% . &etakan ;. Putusan 0omor +35KPPU/.5*+++ tentang Persekongkolan Penawaran 2ender Pengadaan Pipa &asing dan 2ubing. Putusan 0omor +,5KPPU/.5*++3 tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 'akalan Sapi ;mpor di )awa 2imur.

Putusan 0omor +B5KPPU/.5*++C tentang Persekongkolan 2ender dalam Pengadaan 2inta Sidik )ari Pemilu 2ahun *++C. Putusan 0omor +C5KPPU/.5*++1 tentang Persekongkolan 2ender dalam .elang ?ula ;legal. Putusan Perkara 0omor +A5KPPU/;5*++1 tentang Persekongkolan 2ender Pro#ek (ulti 8ears di 7iau. Sirait, 0. 0ingrum. *++C. :u/um !ersaingan di Indonesia2 %% &o- 45.666 tentang Larangan !ra/te/ 7onopoli dan !ersaingan %saha Tida/ $ehat , %et. ;. (edan: Pustaka 'angsa Press. Sulli!an, 9. 2homas dan )e$$re# .. -arrison, 344B. %nderstanding Antitrust and Its Economic Implications. 0ew 8ork: (atthew 'ender K &o. Sutrisno ;wantono. *++@. >iloso$i #ang (elatar/belakangi 6ikeluarkann#a UU 0omor 1 2ahun 3444. dalam 9mm# 8uhassarie dan 2ri -arnowo, ed., !roceeding 01102 %ndang3undang &o- 45.666 dan K!!%, %et. 3. )akarta: Pusat Pengkajian -ukum bekerjasama dengan Pusdiklat (ahkamah Agung 7;, dan Konsultan -ukum 98 7uru dan 7ekan. 2akeshima, KaHuhiko. @/C (ei *++1. (&hairman >air 2rade &ommission o$ )apan), The Lessons from Experience of Antimonopoly Act in Japan and the Future of Competition La s and !olicies in East Asia . 6isajikan dalam 2he *nd 9ast Asia &on$eren%e on &ompetition .aw and Poli%ie (2oward 9$$e%ti!e ;mplementation o$ &ompetition Poli%ies in 9ast Asia), 'ogor. 2im Pen#usun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan 'ahasa. 344A. Kamus Besar Bahasa Indonesia- )akarta: 'alai Pustaka. 2ri Anggraini, A. (. *++@. Larangan !ra/ti/ 7onopoli dan !ersaingan Tida/ $ehat2 !er se Illegal atau "ule of "eason. &et. 3. )akarta: Pas%asarjana >akultas -ukum Uni!ersitas ;ndonesia. Undang/Undang 0omor 1 2ahun 3444 tentang .arangan Praktik (onopoli dan Persaingan Usaha 2idak Sehat. 8akub Adi Krisanto. *++1. Analisis !asal 00 %% &omor 4 Tahun .666 dan Kara/teristi/ !utusan tentang !erse/ong/olan Tender. Jurnal :u/um Bisnis, !ol. *C 0o. *.