Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MATA KULIAH BIOEKOLOGI MOLUSKA

EKOLOGIS GASTROPODA

Oleh : Erika Kurniawati S 26010112130086 Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ekologi merupakan hubungan antara beberapa organisme ataupun kelompok organisme terhadap lingkungannya dalam suatu ekosistem, organisme berinteraksi satu sama lain (biotik) dengan lingkungan fisik (abiotiknya). Misalnya sungai merupakan perairan lotik dimana didalamnya terjadi pertumbuhan dan pergerakan organisme. Gastropoda merupakan hewan yang tubuhnya lunak, berjalan menggunakan kaki perut. Hewan ini banyak ditemui disekitar perairan sungai, yang sering dijumpai diperairan sungai contohnya seperti siput dan keong, ada juga gastropoda yang ditemui diperairan estuari dan pantai. Keanekaragaman hayati yang tinggi telah diketahui berpusat di daerahdaerah tropis di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki daerah pesisir yang luas, dan karenanya keanekaragaman

biota pantai yang tinggi pula. Meskipun demikian, informasi dan penelitian mengenai biota tersebut, khususnya untuk gastropoda masih kurang. Ekologi dan keanekaragaman gastropoda di daerah pantaidan perairan laut dangkal di Sulawesi Utara sangat bervariasi. Gastropoda memiliki sifat infauna atau semi-infauna yang mendiami habitat berpasir dan berlumpur di kawasan pesisir sebagai penyusun komunitas makrozoobentos. Gastropoda ini juga merupakan salah satu komponen utama dikomunitas sedimen lunak di kawasan pesisir.

Gastropoda mempunyai bentuk dan ukuran cangkang yang bervariasi. Variasi bentuk cangkang ini sangat penting dalam menentukan jenis-jenis gastropoda. Gastropoda masuk kedalam kelompok Moluska., berdasarkan karakteristik yang dimiliki seperti kaki dan cangkang. Gastropoda merupakan hewan yang sukses hidup di lingkungan akuatik. Gastropoda hidup pada semua tipe perairan yaitu air tawar, estuari dan perairan laut. Gastropoda laut terdistribusi dari daerah intertidal, perairan laut dangkal dan ada yang mendiami perairan laut dalam. Faktor fitoplankton, biologi yang mempengaruhi zat organik kehidupan gastropoda dan makluk adalah hidup

zooplankton,

tersuspensi

dilingkungannya. Gastropoda mendapatkan makanan dengan cara deposit feeder. Faktor biologi lain yang berpengaruh adalah komposisi jenis hewan yang merupakan makanan bagi hewan bentos dan predator. Faktor fisik diantaranya: pasang surut, kedalaman, kecepatan arus, warna, kekeruhan dan kecerahan air.

1.2 Tujuan 1. Mengetahui tingkah laku atau pola kebiasaan gastropoda 2. Mengetahui cara adaptasi dari gastropoda 3. Mengetahui asosiasi makhluk hidup pada habitat gastropoda 4. Mengetahui distribusi dari gastropoda 5. Mengetahui peran ekologis dari gastropoda

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pola Kebiasaan atau Tingkah Laku Gastropoda Pada waktu makan, hewan Gastropoda harus mengeluarkan bagian- bagian berdaging dari tubuhnya. Hal ini berarti bahwa bagian-bagian yang terbuka ini harus tahan terhadap kekeringan. Karena itu, hewan tersebut hanya aktif jika pasang-naik dan tubuhnya terendam air. Ini berlaku bagi seluruh hewan baik pemakan tumbuhan, pemakan bahan-bahan tersaring, pemakan detritus, maupun predator. Dalam suatu habitat alami yang ditempati populasi suatu spesies, kerapatannya dapat berubah-ubah sejalan dengan waktu, namun masih dalam batas-batas tertentu. Tinggi rendahnya kerapatan populasi diduga disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang menyebabkan adanya peningkatan populasi adalah natalitas dan imigrasi, kalaupun ada mortalitas dan emigrasi tentu jumlahnya lebih kecil dari natalitas dan imigrasi. Berdasarkan hasil penelitian Wells et al., (2003), Terebralia palustris dan Telescopium telescopium mempunyai tingkah laku lebih aktif pada saat spring tide (pasang tinggi dan surut rendah) dari pada neap tide (pasang rendah dan surut tinggi). Hal tersebut dikarenakan pada saat neap tide, gastropoda tersebut cenderung untuk berlindung dari kekeringan dan bersembunyi di dalam lumpur atau di bawah perakaran mangrove. Tingkah laku tersebut merupakan salah satu pola adaptasi gastropoda terhadap adanya perubahan suhu (suhu tinggi) dan kondisi kering (Bay et al., 1986 in Wells et al., 2003).

Kelompok hewan bertubuh lunak ini dijumpai dari daerah pinggiran pantai hingga laut dalam dan banyak menempati daerah terumbu karang. Sebagian membenamkan diri dalam sedimen, beberapa dapat dijumpai menempel pada tumbuhan laut seperti mangrove, lamun dan alga (Dharma, 1998). 2.2 Adaptasi Gastropoda Adaptasi hewan Gastropoda diperlukan untuk tetap dapat hidup di lingkungan di mana setiap saat keadaan atau kondisi lingkungan tersebut dapat berubah-ubah. Adaptasi hewan-hewan tersebut mencakup daya tahan Gastropoda terhadap kehilangan air, pemeliharaan keseimbangan panas tubuh dan adaptasi terhadap tekanan mekanik. Untuk menghindari kehilangan air, kebanyakan Gastropoda operkulumnya akan menutup rapat celah cangkang. Ketika pasang-turun mereka masuk ke dalam cangkang, lalu menutup celah menggunakan operkulum sehingga kehilangan air dapat dikurangi. Organisme intertindal termasuk Gastropoda juga mengalami keterbukaan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim dan memperlihatkan adaptasi tingkah laku dan struktur tubuh untuk menjaga keseimbangan panas internal. Mekanisme pada hewan bercangkang keras seperti Mollusca dalam mengatasi kehilangan panas adalah dengan memperluas cangkang dan memperbanyak ukiran pada cangkang. Ukiran-ukiran tersebut berfungsi sebagai sirip radiator sehingga memudahkan hilangnya panas. Hilangnya panas dapat diperbesar pula jika Gastropoda tersebut mempunyai warna cangkang yang terang karena organisme yang berwarna gelap biasanya mendapat panas melalui absorbsi. Hewan Gastropoda yang cangkangnya berukir dan berwarna terang, panas akan diradiasikan (dipantulkan) dari ukiran cangkangnya, sedangkan hewan

Gastropoda yang bercangkang mulus dan berwarna gelap, panas akan mudah diserap. Hewan Gastropoda juga perlu beradaptasi untuk mempertahankan diri dari pengaruh pukulan ombak. Gerakan ombak mempunyai pengaruh yang berbeda pada pantai berbatu dan pada pantai berpasir. Kebanyakan Gastropoda beradaptasi terhadap serangan ombak dengan jalan mempertebal cangkang, lebih tebal dibandingkan dengan individu yang sama yang terdapat di daerah subtindal dan nengurangi ukiran tubuh yang amat mudah pecah bila terpukul ombak. Sebagian dari gastropoda hidup di daerah mangrove, memiliki adaptasi spasial yakni dengan cara hidup di atas permukaan substrat yang berlumpur atau tergenang air, hidup menempel pada akar atau batang dan hidup membenamkan diri didalam lumpur dengan cara menggali lubang (infauna). Perilaku hidup seperti ini merupakan bentuk adaptasi terhadap perubahan temperatur dan berbagai faktor lingkungan lainnya yang akibat oleh adanya pasang surut di daerah mangrove (Susiana, 2011). 2.3 Asosiasi dari habitat Gastropoda Fauna yang ditemukan di pantai antara lain kerang, ikan-ikan kecil, dan zooplankton lainnya tidak begitu mengganggu kehidupan Gastropoda walaupun ada persamaan dalam hal makanan. Faktor yang menyebabkan keseimbangan ekologis tersebut karena ekosistem tersebut boleh dikatakan masih alami memungkinkan makanan yang mereka butuhkan tersedia cukup banyak sehingga Gastropoda dapat hidup bersama dengan hewan-hewan tersebut. Selain itu gastropoda juga dapat berasosiasi pada ekosistem lamun dan mangrove. Gastropoda sangat menyukai hidup pada kedua ekosistem tersebut karena kondisi

substrat yang sangat cocok dan terdapat banyak nutrien untuk mencukupi kebutuhan makanan organisme tersebut. Tomascik et al., (1997) dalam Syari (2005) menjelaskan bahwa gastropoda (keong) adalah salah satu kelas dari Moluska yang diketahui berasosiasi dengan baik terhadap ekosistem lamun. Komunitas Gastropoda merupakan komponen yang penting dalam rantai makanan di padang lamun, dimana Gastropoda merupakan hewan dasar pemakan detritus (detritus feeder) dan serasah dari daun lamun yang jatuh dan mensirkulasi zat-zat yang tersuspensi di dalam air guna mendapatkan makanan. Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Kebanyakan avertebrata ini hidup menempel pada akar-akar mangrove, atau di lantai hutan mangrove. Sejumlah avertebrata tinggal di dalam lubang-lubang di lantai hutan mangrove yang berlumpur. Melalui cara ini mereka terlindung dari perubahan temperatur dan faktor lingkungan lain akibat adanya pasang surut di daerah hutan mangrove karena mangrove mampu menyediakan substrat sebagai tempat berkembang biak yang sesuai, dan sebagai penyedia pakan maka dapat mempengaruhi kondisi perairan sehingga menjadi lebih baik (Odum, 1993). 2.4 Distribusi Gastropoda Kondisi lingkungan perairan sangat mempengaruhi pola sebaran dan distribusi jenis moluska di suatu perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis gastropoda ditemukan tersebar secara mengelompok dan beberapa jenis lainnya tersebar secara acak. Distribusi gastropoda di zonasi hutan mangrove biasanya dibagi ke dalam 3 mikrohabitat, yaitu akar, batang, dan

substrat. Hasil pola distribusi menunjukkan bahwa jenis gastropoda terbanyak terdapat pada mikrohabitat substrat, kemudian pada mikrohabitat akar, dan pada mikrohabitat batang. Hewan gastropoda ini biasanya hidup di daerah terumbu karang dan merupakan jenis hewan indopasifik yang mampu hidup diperairan bakau tropis. Umumnya jenis ini ditemukan sangat dekat dengan genangan air dan mampu bertahan pada rantang kadar garam air yang tinggi, yaitu pada garam 15 34 ppt dan bentuknya seperti kristal yang muncul di permukaan. Hewan ini sering ditemukan dalam jumlah berlimpah didaerah pertambakan yang berbatasan dengan hutan mangrofve, juga pada sungai yang dekat dengan daerah pertambakan. Gastropoda banyak ditemukan didaerah pertambakan yang dekat dengan mulut sungai dan dapat hidup pada kadar garam 1 2 ppt, juga hewan ini lebih bahyak membenamkan diri dalam lupur yang kaya bahan organik dari pada diatas subrat lumpur. Odum (1971) dalam Syamsurisal (2011) menjelaskan distribusi hewan

makrozoobenthos sangat ditentukan oleh sifat fisika, kimia dan biologi perairan. Sifat fisika yang berpengaruh langsung terhadap hewan

makrozoobentos adalah kedalaman, kecepatan arus, kekeruhan, substrat dasar dan suhu perairan. Sedangkan sifat kimia yang berpengaruh langsung adalah derajat keasaman dan kandungan oksigen terlarut. Ditambahkan oleh krebs (1978) dalam Ashari (1998) dalam Syamsurisal (2011) bahwa faktor biologi perairan yang mempengaruhi komunitas hewan bentos adalah kompetisi (persaingan ruang hidup dan makanan), predator (pemangsa) dan tingkat produktivitas primer. Masing-masing factor biologi tersebut dapat berdiri

sendiri akan tetap ada kalanya factor tersebut saling berinteraksi dan bersama-sama mempengaruhi kominitas pada suatu perairan. 2.5 Peran Ekologis Gastropoda Salah satu habitat dari gastropoda adalah hutan mangrove dan secara ekologis gastropoda memiliki peranan yang besar dalam kaitannya dengan rantai makanan komponen biotik di kawasan hutan mangrove, karena disamping sebagai pemangsa detritus, gastropoda juga berperan dalam merobek atau memperkecil serasah yang jatuh. Gastropoda merupakan organisme yang memiliki pergerakan lambat dan cenderung menetap pada suatu ekosistem, namun gastropoda dapat dijadikan sebagai indikator ekologis untuk mengetahui kondisi ekosistem. Hal ini dikarenakan gatropoda merupakan organisme yang hidup cenderung menetap di dasar perairan sehingga tidak memiliki kemampuan untuk berpindah apabila kondisi ekosistem mengalami perubahan. Sifat gastropoda yang cenderung menetap menyebabkan gastropoda menerima setiap perubahan yang terjadi baik perubahan lingkungan maupun dari dalam mangrove itu sendiri. Pratiwi et al., (2004) dalam Rakhmanda (2011), hewan yang hidup di dasar perairan adalah makrozoobentos. Makrozoobentos merupakan salah satu kelompok terpenting dalam ekosistem perairan sehubungan dengan

peranannya sebagai organisme kunci dalam jaring makanan. Selain itu tingkat keanekaragaman yang terdapat di lingkungan perairan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran. Hewan bentos seringkali digunakan sebagai petunjuk bagi penilaian kualitas air. Jika ditemukan limpet air tawar, kijing, kerang, cacing pipih, siput memiliki operkulum dan siput tidak beroperkulum yang hidup di perairan tersebut maka dapat digolongkan kedalam perairan

yang berkualitas sedang. Makrobentos memiliki peranan ekologis dan struktur spesifik dihubungkan dengan makrofita air yang merupakan materi autochthon. Karakteristik dari masing-masing bagian makrofita akuatik ini bervariasi, sehingga membentuk substratum dinamis yang komplek yang membantu pembentukan interaksi-interaksi makroinvertebrata terhadap kepadatan dan keragamannya sebagai sumber energi rantai makanan pada perairan.

BAB III KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah tentang Ekologis Gastropoda adalah sebagai berikut : 1. Gastropoda mengeluarkan bagian- bagian berdaging dari tubuhnya pada saat makan dan mempunyai tingkah laku lebih aktif pada saat spring tide (pasang tinggi dan surut rendah) dari pada neap tide (pasang rendah dan surut tinggi). 2. Adaptasi gastropoda yang dilakukan untuk menghindari kehilangan air adalah dengan cara operkulumnya akan menutup rapat celah cangkang, dalam mengatasi kehilangan panas adalah dengan memperluas cangkang dan memperbanyak ukiran pada cangkang serta masih banyak cara lainnya. 3. Gastropoda lebih sering berasosiasi dengan ekosistem lamun dan mangrove karena pada kedua ekosistem tersebut menyediakan kebutuhan substrak dan nutrien untuk kelangsungan hidup gastropoda. 4. Distribusi gastropoda dibagi dalam 3 mikrohabitat yaitu, substrat, akar dan batang. 5. Peran ekologis dari gastropoda adalah bahwa gastropoda merupakan organisme yang sangat penting dalam proses rantai makanan dan juga sebagai bioindikator suatu ekosistem.

DAFTAR PUSTAKA

Dharma , B . 1988. Indonesian Shells . Jakarta : Sarana Graha Odum , E. P. 1993 . Dasar - dasar Ekologi. Terjemahan Tjahjono Samingan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Rakhmanda, A. 2011. Estimasi Populasi Gastropoda di Sungai Tambak Bayan Yogyakarta. Manajamen Sumberdaya Perikanan. Jurnal Ekologi Perairan Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM No. 1 : 1-7. Susiana. 2011. Diversitas dan Kerapatan Mangrove, Gastropoda dan Bivalvia di Estuari Perancak,Bali. Manajemen Sumberdaya Perairan. Universitas Hassanudin. Makassar Syamsurisal. 2011. Studi beberapa Indeks Komunitas Makrozoobentos di Hutan Mangrove Kelurahan Coppo Kabupaten. Manajemen Sumberdaya Perairan. Universitas Hassanudin, Makassar. Syari, I.A., 2005. Asosiasi Gastropoda di Ekosistem Padang Lamun Perairan Pulau Lepar Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Wells, F.E. and S.M. Slack-Smith. 1981. Zonation of molluscs in a mangrove swamp in the Kimberley, Western Australia. Proc. of Malacology. Departmen of Malacology, 9: 265-274.

LAMPIRAN

Gastropoda di ekosistem Sungai

A Keterangan :

A. Sulcospira sulcospira B. Sulcospira testudinaria Gastropoda di ekosistem Mangrove

C. Sulcospira sp. D. Cepaea nemoralis

A Keterangan : A. Cerithidea cingulata B. Nerita planospira Gastropoda di ekosistem Lamun

C. Telescopium telescopium D. Littorina scabra

A Keterangan : A. Cerithium granosum B. Strombus sp.

C. Lambis lambis D. Strombus canarium