Anda di halaman 1dari 4

Artikel yang Terkait dengan Nilai Etika dengan Tema Tindak Kekerasan dan Asusila dalam Dunia Pendidikan

Updated: Sun, 24 Nov 2013 14:56:27 GMT | By Tribun News Berita Nasional News Feed

Oknum Guru Diduga Lecehkan Siswi SD

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Sejumlah orangtua yang hendak melakukan aksi di Sekolah Dasar Negeri kawasan Jalan Natakusuma, Pontianak Kota mengurungkan niatnya. Mereka hanya memberikan laporan kepada Wakil Kepala Sekolah terkait adanya dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum Guru terhadap siswi di sekolah tersebut. DS, satu di antara orangtua siswi mengatakan pihaknya hanya memberikan informasi dan keterangan terkait dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru berinisial KS. "Kita mendatangi sekolah dan memberikan keterangan dan kita lapor ke wakil kepala. Sebenarnya ingin menyampaikan ini kepada kepala Sekolah, namun Kepala Sekolah sedang tidak berada di tempat," ungkap DS. Menurut DS, berdasarkan keterangan dari anaknya yang duduk kelas V, anaknya mendapatkan perlakuan tidak wajar dan tidak menyenangkan yaitu dicium dan tubuhnya disentuh oleh oknum guru tersebut. "Saya dapat informasi ini beberapa hari lalu, anak saya menceritakan kejadiannya bahwa dia dicium-cium oleh guru tersebut," katanya. Anak-anak lainnya juga ada yang diperlakukan sama yaitu dipeluk, dipegang-pegang. "Saya dapat informasi bukan hanya anak saya saja sehingga kami sebagai orangtua mempertanyakan hal ini kepada pihak sekolah untuk ditindaklanjuti," ujarnya. "Saya memastikan kepada anak saya. Saya tanya kamu diapakan, katanya dipegang dadanya. Anak-anak lainnya juga diperlakukan sama dan ini dilakukan saat les yang diberikan guru tersebut seusai jam sekolah," ujarnya. Ia menambahkan, berhubung Kepala Sekolah sedang di luar kota, maka hal tersebut akan diputuskan setelah Kepala Sekolah datang. "Kita dapat informasi Kepala Sekolah sedang di Batam sehingga kita menunggu kepala sekolah datang. Kalau tidak ada tindaklanjut kepala sekolah akan saya laporkan ke pihak berwajib," katanya. Berdasarkan pengakuan satu diantara siswa, DW yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oknum guru tersebut, dirinya digendong-gendong dan dicium oleh oknum guru tersebut. "Bapak itu pegang-pegang dan juga mencium bukan saya saja tapi yang lainnya juga dipegang- pegang," ujarnya. Hal senada diungkapkan siswi lainnya AD (11). "Digendong sama dipegang-pegang saat les," ungkapnya. Wakil Kepala SDN tersebut, GM Umar Kusumayadi mengatakan sekolah baru mendapatkan informasi tersebut setelah beberapa orangtua murid mendatangi sekolah. Ada dua orangtua yang datang ke sekolah melaporkan kejadian tersebut pada Jumat (22/11), dan Sabtu (23/11) ada lima orang yang mendatangi sekolah menginformasikan hal tersebut. Karena dugaan perbuatan pelecehan seksual seperti diinformasikan para orangtua siswi tersebut, sehingga pihak sekolah dan guru-guru lainnya tidak mengetahui kejadian tersebut.

"Saat ini kita masih menunggu Kepala Sekolah yang masih berada di Batam mengikuti Diklat dan kemungkinan akan ada hari Senin besok. Tentunya terkait laporan ini pihak sekolah akan mengambil langkah-langkah," ujarnya. Ia menegaskan Kepala Sekolah akan memanggil yang bersangkutan dan akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Pontianak terkait adanya laporan tersebut. Umar menuturkan, saat beberapa orangtua siswi tersebut datang ke sekolah, guru yang dimaksud tidak sedang mengajar karena ada halangan yaitu ada keluarga yang meninggal sehingga meminta izin. Menurutnya, pihaknya telah menghubungi yang bersangkutan. "Saya kroscek ternyata kejadian sudah lama dan sudah pernah dipanggil Kepala Sekolah dan kita bingung cerita muncul sekarang," ujarnya. Ia menjelaskan adanya laporan sekitar September dan guru yang bersangkutan pernah dipanggil Kepala Sekolah untuk menjelaskan hal tersebut. "Beliau terlalu dekat dengan anak-anak merasa disayang sehingga dianggap keliru ada anak perasaan sensitif. Tidak semua anak dipeluk bisa menerima ada perasaan halus tidak bisa diterima," katanya. (isf/yun)

Tanggapan

Aspek moralitas merupakan bagian integral yang harus dimiliki oleh guru. Aspek ini tercakup dalam dua kompetensi guru, yaitu kompetensi sosial dan kepribadian. Guru yang bermoral tentu memiliki kompetensi kepribadian dan sosial yang tinggi serta berintegritas. Guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengembangkan kepribadian atau karakter siswa. Penguasaan kompetensi kepribadian yang memadai dari guru akan sangat membantu upaya pengembangan karakter siswa. Dengan menampilkan sebagai sosok guru (digugu dan ditiru) yang bisa dipercaya (digugu) dan ditiru, secara psikologis siswa akan merasa yakin dengan apa yang sedang dibelajarkan gurunya. Misalkan, ketika guru hendak membelajarkan tentang kasih sayang kepada siswa, tetapi di sisi lain secara disadari atau tanpa disadari, gurunya sendiri malah cenderung bersikap tidak senonoh, mudah marah, dan sering bertindak kasar, maka yang akan melekat pada siswanya bukanlah sikap kasih sayangnya, melainkan sikap tidak senonohnya itulah yang lebih berkesan dan tertanam dalam sistem pikiran dan keyakinan siswanya.

Begitu pula dalam masyarakat lebih sensitif lagi, apabila ada guru melakukan tindakan tercela, asusila, atau pelanggaran norma-norma yang berlaku di masyarakat, pada umumnya masyarakat akan cepat mereaksi. Hal ini tentu dapat berakibat terhadap merosotnya wibawa guru yang bersangkutan dan kepercayaan masyarakat terhadap guru tersebut, institusi sekolah tempat guru mengajar. Tindakan amoral yang dilakukan oknum guru di Bandarlampung mudah-mudahan menjadi pembelajaran bagi guru atau pendidik lain untuk meningkatkan keempat aspek kompetensi yang harus dimiliki guru, terutama aspek kepribadian dan sosial yang menyangkut interaksinya dengan masyarakat umum. Berharap pendidikan di Indonesia semakin maju. Nilai Etika yang Dilanggar Melanggar etika profesi sebagai guru seharusnya menjadi teladan untuk muridnya, memberikan pengetahuan tidak hanya materi menyangkut sekolah tetapi juga etika dan moral dimasyarakat Guru merupakan orang tua kedua yang seharusnya memberikan rasa aman dan pengetahuan bukannya ancaman, kekerasan, pelecehan seksual Pada saat melakukan aksinya kebanyakan guru melakukan ancaman sampai kekerasan agar muridnya mau dan tidak melapor ke orang lain yang menjadi korban ketakutan dan trauma sehingga bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak yang dikhawatirkan anak menjadi menyimpang karena kecewa dengan dirinya Perlakuan asusila dan kekerasan pada murid tidak hanya mempengaruhi segi psikologinya tapi juga fisiknya. Contohnya bila dilakukan coitus pada anak yang belum cukup matang organ reproduksinya akan mempengaruhi dari struktur anatomi bahkan bisa terjadi kelainan karena perdarahan dan penyakit, bila sudah matang bisa menyebabkan kehamilan yang nantinya juga mempengaruhi fisik dan mentalnya lebih jauh lagi -karena maraknya kejadian tindakan asusila dan kekerasan bisa membuat kekhawatiran pada anak, sekolah dianggap tidak aman dan tidak menyenangkan yang berakibat anak jadi malas sekolah sehingga pendidikannya terlantar
Opini dari: Mustofa Abi Hamid

Kekhawatiran juga berdampak pada orang tua murid karena sekolah yang merupakan tempat menuntut ilmu dan tempat yang aman untuk anaknya Kejadian ini biasanya juga mencoreng nama baik tidak hanya profesi guru tapi juga dunia pendidikan pada umumnya Ayat-ayat Al-Quran yang Berhubuungan dengan Nilai Etika Al Isra ayat 32 Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Al Quran : (25) Al Furqaan : Ayat 66-69 "Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina (QS. 25:66-69)" QS. Al Zaljalah : 7-8 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) Nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya juga. (QS. Asy Syuura [42] ; 40)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.