Anda di halaman 1dari 189

1

COVER INSTRUMEN AKREDITASI

PUSKESMAS

DISUSUN OLEH

TIM AKREDITASI PUSKESMAS

DINAS KESEHATAN PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2011

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

DAFTAR ISI
Halaman

1.

MANAJEMEN PUSKESMAS

3 23 41 62 81 131 167

2. PROMOSI KESEHATAN 3. KESEHATAN LINGKUNGAN 4. GIZI MASYARAKAT 5. P2M 6. KIA- KB 7. PENGOBATAN DASAR DAN KEGAWAT DARURATAN

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

INSTRUMEN I
MANAJEMEN PUSKESMAS
Kab./Kota Puskesmas Status Nama Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Parameter : 1.1. Visi, Misi dan Fungsi Puskesmas dirumuskan dengan jelas, sehingga pelaksanaan program puskesmas dan keterkaitannya dengan program pembangunan kesehatan secara menyeluruh. Definisi Operasional (DO) : Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, penyelenggara upaya kesehatan, penanggungjawab sebagian penyelenggaraan upaya pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas (konsep wilayah) sesuai dengan kemampuannya. Visi Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas harus mengacu pada visi pembangunan kesehatan Kabupaten/Kota yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta wilayah kerja puskesmas setempat. Misi Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional yaitu (1). Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya, (2). Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya, (3). Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, (4). Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya. Skor 0 1. 2. 3. 4. 5. : .. Tidak ada Visi, Misi Puskesmas Ada Visi, Misi tetapi tidak ada Strategi dan Langkah-langkah pencapaian visi & misi Ada Visi, Misi ada Strategi dan Langkah-langkah mencapai visi misi Puskesmas tetapi tidak ada keterkaitan dengan Visi, Misi Dinas Kesehatan Kab/Kota Ada Visi, Misi, ada keterkaitan dengan Visi, Misi Dinas Kesehatan Kab/Kota, tetapi dirumuskan sendiri oleh Kepala Puskesmas Ada Visi, Misi, ada keterkaitan dengan Visi, Misi Dinas Kesehatan Kab/Kota, dan dirumuskan oleh Kepala puskesmas beserta seluruh petugas puskesmas Point 4 ditambah diketahui dan dipahami oleh seluruh staf puskesmas

Catatan : Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

Cara Pembuktian : Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara (W)

Ada Dokumen Visi, Misi, Tujuan, Fungsi Puskesmas Buku Pedoman Kerja Puskesmas Kebijakan Dinas Kesehatan Kab./Kota (Renstra) SK atau buku Panduan Puskesmas Lainnya Lihat Penyajian Visi, Misi dan Tujuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas Kepala Puskesmas/Kepala Tata Usaha atau Tenaga Lainnya Petugas tahu dan mampu menjelaskan Visi, Misi, strategi/langkahlangkah dan tujuan penyelenggaraan pelayanan kesehatan oleh Puskesmas.

1.2.

Dalam penyelenggaraan pelayanan puskesmas perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yang baik, agar upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat berkualitas. Definisi Opersional (DO) : Penyelenggaraan upaya kesehatan puskesmas terdiri upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu ditunjang oleh manajemen Puskesmas yang baik, sehingga menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Manajemen Puskesmas adalah Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh Puskesmas membentuk fungsi-fungsi manajemen. Ada tiga fungsi manajemen puskesmas yakni Perencanaan, Penggerakan/Pelaksanaan dan Pengendalian, Pengawasan dan Pertanggungjawaban. Semua fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan sehingga menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Skor 0 1. 2. 3. 4. 5. : .. Tidak ada Dokumen Perencanaan, dokumen Lokmin/Lokbul dan dokumen Evaluasi Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP) Dokumen Perencanaan saja yang ada Dokumen Perencanaan, dan dokumen Lokmin /Lokbul saja Dokumen Perencanaan, dan dokumen Hasil Kinerja saja Dokumen Perencanaan, dokumen Lokmin /Lokbul dan dokumen Penilaian Kinerja Puskesmas tetapi tidak ada Jadwal Kegiatan /PKP Ada Dokumen Perencanaan, ada dokumen Lokmin, dokumen Evaluasi Kinerja Puskesmas dan dilengkapi dengan POA

Catatan ;

Dokumen Perencanaan, Dokumen Hasil Pelaksanaan Lokmin/Lokbul (Notulen, Daftar Hadir dsb), Dokumen Hasil PKP Observasi (O) Lihat POA manajemen (ada POA/jadwal P1,P2 dan P3) Wawancara (W) - Kepala Puskesmas/Kepala Tata Usaha/Petugas Lainnya. - Petugas tahu dan mampu menjelaskan proses penyusunan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

Cara Pembuktian Dokumen (D)

5 perencanaan, Pelaksanaan Lokmin/Lokbul dan Proses Penyusunan Penilaian Kinerja Puskesmas Dalam Upaya penyelenggaraan kegiatan di puskesmas, Puskesmas wajib mempunyai buku/standar/pedoman yang menunjang kegiatan pelayanan di puskesmas agar dapat dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku dan dapat dipertanggung jawabkan. Definisi Operasional Standar/Pedoman pelayanan puskesmas adalah acuan yang digunakan oleh puskesmas dalam menyelenggarakan kegiatan di puskesmas, meliputi : 1. Undang -Undang ttg Kesehatan no 36 tahun 2009 2. Standar /pedoman Kebijakan Dasar Penyelenggaraan Puskesmas 3. Standar/pedoman tentang perencanaan puskesmas 4. Standar/ pedoman bangunan di puskesmas 5. Standar/ pedoman peralatan di puskesmas 6. Standar/ pedoman manajemen puskesmas (P1, P2 dan P3) 7. Standar/ pedoman Ketenagaan di puskesmas 8. Standar/ pedoman Pengobatan Dasar di puskesmas 9. Standar/ pedoman Pengelolann Kesehatan lingkungan /limbah 10. Standar/ pedoman teknis upaya kesehatan perorangan 11. Standar/ pedoman teknis upaya kesehatan masyarakat 12. Standar/ pedoman Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) 13. Standar /pedoman tentang pengaturan Keuangan Puskesmas 14. Standar/ pedoman perhitungan satuan biaya pelayanan puskesmas 15. Standar/pedoman Upaya pokok dan upaya pengembangan di puskesmas Skor 0 1. 2. 3. 4. 5. : .. Tidak ada buku pedoman /stndar di puskesmas Ada < 20 % dari yang disebutkan di Definisi Operasional Ada, antara 20 % < 40% dari Definisi Operasional Ada, antara 40 % < 60% dari Definisi Operasional Ada, antara 60 % < 80 % dari Definisi Operasional Ada, antara 80 % - 100 % dari Definisi Operasional.

1.3

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

Tersedia Dokumen / Buku Pedoman lihat Dokumen /catat Kepala Puskesmas/Kepala Tata Usaha/ Petugas Puskesmas Lainnya

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

STANDAR 2 ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Parameter : 2.1 Fungsi Puskesmas bisa berjalan dengan baik, apabila dilengkapi dengan struktur organisasi dengan uraian tugas yang jelas bagi setiap petugas Definisi Opersional (DO) : Struktur organisasi adalah bagan yang memperlihatkan tata hubungan kerja antara bagian dan garis kewenangan antara kepala puskesmas dan petugas lainnya yang ditetapkan oleh Ka. Dinas Kesehatan kab./Kota atau Bupati/Walikota. Skor 0 1. 2. 3. = Tidak ada struktur organisasi Ada struktur organisasi tetapi tidak ada SK Penetapan Ada struktur organisasi, ada SK penetapan, tidak ada pembagian tugas kepada setiap petugas Ada struktur organisasi, ada SK penetapan , ada pembagian tugas setiap petugas sesuai SK penetapan, tetapi tidak ada uraian tugas secara rinci per petugas di puskesmas Ada struktur organisasi, ada SK penetapan, ada pembagian tugas dan ada uraian tugas yang jelas setiap petugas di puskesmas dari Kepala puskesmas, namun belum dilaksanakan sesuai uraian tugas. Ada struktur organisasi, ada SK penetapan, ada pembagian tugas dari Bupati atau Walikota, ada pembagian tugas, ada uraian tugas setiap petugas dari Kepala puskesmas, sudah dilaksanakan oleh setiap petugas.

4.

5.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) 2.2

Bagan /Ghant Chart Struktur organisasi puskesmas Melihat struktur organisasi , dokumen uraian tugas semua petugas, SK penetapan struktur organisasi. Kepala Puskesmas/Kepala Tata Usaha dan Petugas Lainnya

Untuk membuat perencanaan puskesmas salah satu data yang dipakai adalah data hasil kegiatan puskesmas tahun lalu (dari penilaian kinerja) yang dibuat secara benar dengan memperhatikan permasalahan kesehatan di wilayah kerjanya.

Definisi Opersional (DO) : - Perencanaan puskesmas adalah suatu proses kegiatan yang urut yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan memanfaatkan sumber daya tersedia secara berhasil guna dan berdaya guna. - Perencanaan puskesmas diartikan sebagai proses penyusunan rencana kegiatan puskesmas pada tahun yang akan datang yang dilakukan secara sistematis untuk mengatasi masalah atau sebagian masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya - Langkah-langkah perencanaan : a. Tahap persiapan : Pengumpulan data, pengolahan data, analisa dan penetapan masalah. b. Analisa situasi gambaran pelayanan kesehatan di puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

7 c. Menyusun Rencana Usulan Kegiatan (RUK) d. Mengajukan Usulan Kegiatan e. Menyusun rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) / POA Skor 0 1 2 3 = Tidak tersedia dokumen perencanaan Tersedia dokumen perencanaan, tanpa melalui tahapan langkah2 perencanaan Tersedia dokumen perencanaan melalui tahapan langkah2 perencanaan, tidak ada data hasil analisa tahun lalu Tersedia dokumen perencanaan, melalui tahapan perencanaan, ada data analisa tahun lalu, akan tetapi tidak ada konsistensi dengan perencanaan atau kegiatan yang dilaksanakan tahun tersebut atau tahun berjalan. Tersedia dokumen perencanaan, melalui tahapan, ada data analisa tahun lalu, ada konsistensi dengan kegiatan yang dilaksanakan akan tetapi tidak ditindak lanjuti dengan penyusunan RUK, RPK dan POA Tersedia dokumen perencanaan, melalui tahapan, ada data analisa tahun lalu, ada konsistensi dengan kegiatan yang dilaksanakan dan ditindak lanjuti dengan penyusunan RUK, RPK dan POA

. Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen (D)

Observasi (O)

Wawancara (W)

Ada dokumen perencanaan puskesmas lengkap dengan 4 tahapan yaitu Tahap Persiapan, Analisis Situasi, Penyusunan Rencana Usulan Kegiatan (RUK), Penyusunan Rencana Pelaksana Kegiatan (RPK) dan Laporan SP3 Melihat usulan /perencanaan program (upaya wajib dan upaya pengembangan). Tabel/Format tahap-tahapan penyusunan RUK, tabel identifikasi masalah, prioritas masalah s/d pemecahan masalah dan Format RPK yg sudah jadi apa sesuai dengan permasalahan program atau tidak. - Kepala Puskesmas/Kepala Tata Usaha/Tim Penyusun Perencanaan - Petugas tahu dan mampu menjelaskan proses penyusunan perencanaan beserta tahapannya

2.3

Untuk mengevaluasi hasil kegiatan di puskesmas, di laksanakan lokakarya mini bulanan dan lokakarya mini tribulan secara rutin dan terstruktur Definisi Operasional (DO) Lokakarya Mini puskesmas dibagi 2 yaitu : (1) Lokakarya bulanan (lokbul) dalah pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di puskesmas yang dihadiri oleh seluruh staf di puskesmas, puskesmas pembantu dan bidan desa dengan keluaran rencana kerja bulan yang akan datang. (2) Lokakarya mini tribulanan yaitu pertemuan yang diselenggarakan / dilaksanakan tiap tiga bulan dengan melibatkan lintas sektor/tokoh masyarakat Untuk dapat melaksanakan Lokakarya Mini dengan baik perlu perencanaan yang : 1. Tertulis dan terstruktur 2. Pelaksanaannya teratur setiap bulan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

8 3. 4. Ada penjadwalan perkegiatan termasuk lokakarya mini tribulanan Ada Plan of Action yang jelas dan rinci

Skor 0 1. 2. 3. 4. 5.

= . Tidak ada perencanaan lokakarya mini Ada perencanaan lokakarya mini tetapi tidak tertulis Perencanan sudah tertulis, tetapi belum dilengkapi jadwal /POA Perencanaan sudah ada, ada jadwal tetapi pelaksanaannya tidak teratur sesuai Jadwal Perencanaan sudah ada, ada jadwal, pelaksanaannya teratur(hari/, tanggal/ minggunya tetap) ,tetapi catatan hasil hasil kegiatan tidak lengkap. Perencanaan sudah ada, ada jadwal, pelaksanaannya teratur, catatan hasil hasil kegiatan lengkap.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O)

Wawancara (W)

Buku Notulen lokmin, Jadwal / absensi, bukti surat menyurat Lihat buku notulen, lengkap apabila memuat tentang materi, hasil evaluasi kegiatan perprogram, ada identifikasi masalah, problem solving ada kesepakatan dan Rencana Tindak Lanjut. Salah seorang staff tahu dan mampu menjelaskan proses pelaksanaan lokmin bulanan/ lokmin tribulanan di puskesmas

2.4

Agar pelaksanaan penilaian Kinerja puskesmas terselenggara dengan baik dan benar, harus tersedia data data dan informasi yang akurat dan lengkap. Definisi Operasional (DO) Penilaian kinerja puskesmas adalah suatu upaya untuk melakukan penilaian hasil kerja / Prestasi Puskesmas. Syarat utama untuk menilai kinerja puskesmas yaitu tersedianya data dan informasi yang akurat, tepat waktu dan mutakhir secara periode teratur. Data yang dikumpulkan merupakan hasil kegiatan yang dilaksanakan oleh puskesmas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan di puskesmas dan jejaringannya. Data dan Informasi dapat diperoleh melalui Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3), Profil puskesmas, laporan tahunan, laporan Keuangan, Laporan LPPO, Data lintas sektor serta laporan-laporan lain yang masih berlaku di Puskesmas. Pencatatan dan Pelaporan mencakup : 1. Data umum dan demogafi wilayah kerja Puskesmas 2. Data Kegiatan Pelayanan Kesehatan Puskesmas yang dilakukan baik di dalam dan diluar Gedung Puskesmas serta pelayanan kesehatan di Jejaring wilayah kerja Puskesmas. 3. Data Sumber Daya (Ketenagaan, Obat dan bahan habis pakai, Peralatan, Sumber Pembiayaan, Sarana dan Prasarana) 4. Data Peran Serta Masyarakat 5. Data Sekolah dan Kesehatan lingkungan di wilayah kerja Puskesmas 6. Data hasil pengukuran/ penilaian mutu pelayanan puskesmas, dll

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

Skor 0 1. 2. 3. 4. 5.

................. Tidak tersedia data Tersedia data, tidak lengkap, dan belum direkap perkegiatan Tersedia data, lengkap, belum direkap perkegiatan Tersedia data lengkap, sudah direkap perkegiatan tetapi belum dianalisa Tersedia data lengkap, sudah direkap perkegiatan sudah dianalisa tapi belum divisualisasikan Tersedia data lengkap, sudah direkap perkegiatan diolah dan divisualisasikan

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D)

Observasi (O)

Wawancara (W)

Data semua kegiatan di Puskesmas lengkap dan sudah diolah/direkap /perkegiatan sesuai Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas (SP3) Laporan Keuangan, Laporan LPPO, Data lintas sektor serta laporan-laporan lain yang masih berlaku di Puskesmas. Buku Pedoman/Panduan SP3 Buku Panduan PKP Profil dan Laporan Tahunan Puskesmas Lihat kualitas datanya lengkap dan benar, teratur, tepat waktu, ada rekapitulasi dari setiap kegiatan yang dilaksanakan. Terintegrasi satu data dengan data lainnya yang terkait. Kepala Puskesmas /ka TU/Petugas administrasi, Koordinator SP3, dan Pemegang program terkait, tahu dan ampui menjelaskan proses Penilaian Kinerja Puskesmas (PKP), Sistem Pencatatan Pelapporan Puskesmas (SP3)

2.5

Tersedia kartu status pasien (klien)/Rekam Medik yang berkunjung ke puskesmas sebagai dokumen pencatatan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di dalam gedung dan dokumen pencatatan kegiatan pelayanan luar gedung (promotif, preventif) sesuai dengan sistem pencatatan program.

Definisi Operasional (DO) Rekam Medik adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. (SK Men Pan No. 135 thn 2002 atau Permenkes RI Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 ttg Rekam Medis Rekam Medik Puskesmas meliputi : Isi rekam medis Identitas Pasien : nama, umur, alamat, jenis kelamain Tanggal/ Waktu : pelayanan Anamnesa Pemeriksaan Fisik / Penunjang medic Diagnosa Pengobatan dan/atau Tindakan Pelayanan lain yang diberikan kepada pasien Persetujuan tindakan bila diperlukan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

10 Nama dan Tanda Tangan oleh Pemeriksa yang memberikan pelayanan kesehatan Pencatatan progam : sistem pencatatan yang sesuai dengan juknis sistem pencatatan dan pelaporan program dasar pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di puskesmas (upaya kesehatan wajib : 6 program), antara lain dokumen pencatatan pemberantasan penyakit, pelayanan KIA- Gizi, Kesehatan lingkungan, Promkes dan Upaya Pengembangan sesai program yang dilaksanakan.

Skor = ................. 0 1. 2. 3. 4. Tidak tersedia Rekam Medik pasien dan dokumen pencatatan program. Tersedia Rekam Medik pasien dengan kelengkapan variabel dibawah 50% tetapi tidak tersedia dokumen pencatatan program Tersedia Rekam Medik pasien dan dokumen pencatatan program dengan kelengkapan variabel antara 50% < 70%. Tersedia Rekam Medik pasien dan dokumen pencatatan program dengan kelengkapan variabel antara 70% < 80% Tersedia Rekam Medik pasien dan dokumen pencatatan program dengan kelengkapan variabel antara 70% < 80% disertai cara penyimpanan dokumen yang dapat mempermudah pencarian dokumen Tersedia Rekam Medik pasien dan dokumen pencatatan program dengan kelengkapan variabel 80% < 100% disertai cara penyimpanan dokumen yang dapat mempermudah pencarian dokumen

5.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

Ada Family Folder / Kartu Status Pasien dan Pencatatan Program Lihat Rekam Medik /Kartu Status Pasien secara acak minimal 5 status pasien dalam wakt 10 menit Dokter Pemeriksa/Petugas Rekam Medik/ petugas kes lainnya tahu dan mampu menjelaskan proses pengisian Rekam Medik atau Status Pasien

2.6

Tersedianya dokumentasi pelaporan yang menjadi kewajiban rutin puskesmas, meliputi laporan hasil kegiatan antara lain cakupan pelayanan kesehatan program, laporan morbiditas, laporan sumber daya puskesmas dll.

Definisi Operasional (DO) Laporan Puskesmas : adalah laporan yang harus disampaikan puskesmas pada periode tertentu (mingguan,bulanan, triwulanan, tahunan), antara lain laporan SP3, laporan program pelayanan imunisasi, P2M, surveilans, KIA-Gizi, KB, Promkes, Kesling, pelayanan kesehatan khusus dan inventori data puskesmas Skor = ................. 0 Tidak tersedia dokumentasi pelaporan puskesmas. 1. Tersedia dokumentasi laporan SP3 dengan kelengkapan laporan < 50% 2. Tersedia dokumentasi laporan SP3 dgn kelengkapan laporan antara 50% < 70% 3. Tersedia dokumentasi laporan SP3 dgn kelengkapan laporan antara 70% < 80% 4. Tersedia dokumentasi laporan SP3 dengan kelengkapan laporan antara 70% < 80% yang berisikan angka yang sama dgn laporan yang disampaikan pengelola program di puskesmas (imunisasi, P2M, surveilans, KIA-Gizi, Kesling, pelayanan kesehatan khusus)ke dinkes kabkota dalam periode waktu laporan yang sama. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

11 5. Tersedia dokumentasi laporan SP3 dgn kelengkapan laporan diatas 80% yang berisikan angka yang sama dgn laporan yg disampaikan pengelola program di puskesmas (imunisasi, P2M, surveilans, KIA-Gizi, Kesling, pelayanan kesehatan khusus)ke dinkes kabkota dalam periode waktu laporan yang sama

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) 2.7

Ada Laporan SP3 Ada Laporan Program Lihat laporan per-bulan sampai terakhir bulan Petugas tahu dan mampu menjelaskan proses dan alur pelaporan

Tersedia penyajian data untuk manajeman kesehatan di wilayah kerja puskesmas, yang di sajikan ditempat tertentu yang memungkinkan setiap orang petugas puskesmas/ orang tertentu dapat melihat dan mengetahui perkembangan pembangunan kesehatan di walayah kerja puskesmas. Definisi Operasional (DO) Penyajian data : penyajian data hasil capaian pelayanan maupun perkembangan penyakit pada periode waktu tertentu (bulanan/triwulanan/tahunan) sebagai gambaran capaian kinerja pembangunan kesehatan di WKP puskesmas. Data yang disajikan antara lain meliputi data :

Skor 0 1. 2. 3.

Data Umum dan Kependudukan Data Kesakitan Data Kematian Data Upaya Pelayanan Kesehatan Data Perilaku Masyarakat Data Sumber Daya Kesehatan (Tenaga, Sarana Prasarana, Kefarmasian/Obat, Keuangan dll) = ............. Tidak tersedia penyajian data Tersedia penyajian data namun tidak ditempatkan di media/tempat yang memungkinkan orang mudah mengetahuinya. Tersedia penyajian data dan ditempatkan di media/Tempat yang memungkinkan orang mudah mengetahuinya (publikasi). Tersedia penyajian yang mencakup data hasil pelayanan kesehatan, angka kesakitan, faktor risiko kesakitan, sarana prasaran kesehatan, serta sudah ditempatkan di media yang memungkinkan orang mudah mengetahuinya. Point 3, akan tetapi Tidak tersedia Dokumen Perencanaan kegiatan puskesmas (respon puskemas), yang disusun berdasarkan hasil telaahan data capaian pelayanan kesehatan puskesmas yang datanya telah dipublikasikan Point 3, dan Tersedia dokumentasi perencanaan kegiatan puskesmas (respon puskemas), yang disusun berdasarkan hasil telaahan data capaian pelayanan kesehatan puskesmas yang datanya telah dipublikasikan

4.

5.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

12 Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

Ada Profil Kesehatan Puskesmas Ada Laporan Tahunan Lihat Bagan Penyajian Data dan Informasi Petugas tahu dan mampu menjelaskan proses penyajian data dan informasi kesehatan

STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Manajemen puskesmas yang terdiri dari Perencanaan Puskesmas, dilanjutkan dengan minilokakarya puskesmas dan diakhiri oleh evaluasi kinerja puskesmas dipimpin oleh kepala puskesmas dan dilaksanakan oleh sebuah tim penyusun yang ditetapkan oleh kepala puskesmas Parameter : 3.1 Adanya pembagian tugas yang jelas kepada tim penyusun perencanaan puskesmas sesuai dengan kualifikasi yang memadai. Definisi Operasional (DO) : Perencanaan puskesmas dilaksanakan oleh tim perencanaan puskesmas yang kualifikasinya tertinggi untuk setiap kegiatan yang ada, setiap anggota tim mempunyai uraian tugas yang jelas Skor 0 1. 2. 3. 4. 5. = ................ Tidak ada tim penyusun perencanaan puskesmas Ada penyusun perencanaan tetapi bukan tim perencanaan puskesmas Ada tim penyusun perencanaan tidak di lengkapi dengan Surat Tugas Ada tim penyusun perencanaan, dilengkapi dengan Surat Tugas tetapi tidak mempunyai uraian tugas Ada tim penyusun perencanaan, ada Surat Tugas, mempunyai uraian tugas, tetapi belum dilaksanakan sesuai uraian tugas. Ada tim penyusun perencanaan, ada surat tugas, ada uraian tugas, dan sudah dilaksanakan.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara (W)

Dokumen perencanaan puskesmas, ada SK tim, lengkap dengan uraian tugas/pembagian tugas, ada POA / Jadwal Kegiatan, ada sertifikat atau bukti penunjang lainnya Lihat bukti hasil Kegiatan , SK, Surat Tugas Pimpinan puskesmas, salah satu anggota tim

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

13 3.2 Adanya pembagian tugas yang jelas kepada setiap petugas yang ditunjuk sebagai tim penyusun evaluasi kinerja puskesmas Definisi Operasional (DO) Agar evaluasi/penilaian kinerja puskesmas dapat dilakukan secara efektif dan efesien maka harus : 1. 2. 3. Ada pembagian tugas penilaian Ada uraian tugas yang jelas bagi setiap petugas yang ditunjuk Penanggung jawab adalah petugas yang kompeten atau pernah mendapat pelatihan khusus tentang penilaian kiner puskesmas.

Tim evaluasi kinerja di puskemas terdiri dari : Tim Penilaian Kinerja Puskesmas, Tim Jaminan Mutu, Tim Akreditasi Puskesmas dsb. Skor 0 1 2 3 4 5 = .............. Tidak ada tim evaluasi kinerja Puskesmas Ada penyusun evaluasi kinerja puskesmas tetapi bukan tim Ada tim penyusun evaluasi kinerja puskesmas, tetapi tidak di lengkapi dengan Surat Keputusan Ada tim penyusun evaluasi kinerja puskesmas, dilengkapi dengan Surat Keputusan tetapi tidak mempunyai uraian tugas Ada tim penyusun evaluasi kinerja puskesmas, mempunyai SK, mempunyai uraian tugas, tetapi belum dilaksanakan. Ada tim penyusun evaluasi kinerja puskesmas, ada SK, ada uraian tugas, dan sudah dilaksanakan.

Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

Dokumen penilaian kinerja, SK tim dan uraian tugas dan Jadwal Lihat dokumen hasil evaluasi kinerja puskesmas (hasil PKP, Laporan Tahunan, Profil) SK, Uraian Tugas, Jadwal/POA Pimpinana puskesmas / salah seorang anggota Tim

STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Dalam melaksanakan kegiatan di puskesmas, Puskesmas perlu didukung oleh fasilitas dan peralatan yang memadai serta siap pakai untuk menunjang penyelenggaraan kegiatan. Parameter : 4.1 Tersedia Fasilitas ruangan yang diperlukan untuk kegiatan administrasi dan kegiatan pelayanan kesehatan di puskesmas Definisi Operasional (DO) : Fasilitas ruangan : Ruangan untuk melaksanakan pelayanan ke pengunjung puskesmas dan Ruangan untuk administrasi Lengkap : tersedia o Ruang pendaftaran Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

14 o o o o o o o o o o o o o o Ruang Unit Gawat Darurat Ruang Rekam Medik Ruang Balai Pengobatan umum Ruang Pengobatan Gigi Ruang pelayanan KIA KB Ruang program lainnya (Upaya wajib dan Upaya Pengembangan) Ruang administrasi ( pencatatan dan peloporan termasuk TU) Ruang laboratorium Sederhanan Ruang Obat Ruang konseling terpadu Ruang Tunggu Ruang Kamar mandi/WC utk puskesmas DTP ada Ruang Perawatan, ada Dapur PONED ada Ruang Persalinan

Skor = .. 0 1 2 3 4 5 Tidak ada fasilitas /ruangan di puskesmas Ada kurang 20 % dari yang disebutkan di Definisi Operasional Ada, antara 20 % < 40% dari Definisi Operasional Ada, antara 40 % < 60% dari Definisi Operasional Ada, antara 60 % < 80 % dari Definisi Operasional Ada, antara 80 % - 100 % dari Definisi Operasional.

Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) 4.2

Bagan Peta Ruangan Lihat ruangan Pimpinana puskesmas / salah seorang petugas

Salah satu sumberdaya yang diperlukan untuk membantu kelancaran kegiatan pelayanan kesehatan di puskesmas adalah tersedianya peralatan dan berfungsi di puskesmas Definisi Operasional (DO) : Peralatan Puskesmas :adalah semua alat yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan program/pelayanan kesehatan di puskesmas al : 1. Poliklinik Set 5. Sanitarian Kit 2. Minor Surgery Set 6. Dental Kit 3. KIA : 7. Dental Unit a. Bidan Kit 8. Laboratorium Set b. Partus Set 9. Nutrition Kit c. Implant Kit 10. KIE Kit (Paket Penyuluhan) d. IUD Kit 11. Emergency Kit 4. Immunisasi Kit 12. Radiologi Unit Skor 0 1 2 = Tidak ada peralatan di puskesmas Ada kurang dari 20 % dari yang disebutkan di Definisi Operasional Ada, antara 20 % < 40% dari Definisi Operasional

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

15 3 4 5 Ada, antara 40 % < 60% dari Definisi Operasional Ada, antara 60 % < 80 % dari Definisi Operasional Ada, antara 80 % -100 % dari Definisi Operasional.

Catatan : Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Buku inventaris peralatan Lihat daftar inventaris barang Pimpinana puskesmas / salah seorang petugas

STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDURE Untuk menjamin penyelenggaraan proses manajemen kesehatan di puskesmas, Pelayanan kesehatan di puskesmas dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang tertulis dan berlaku yang ditetapkan oleh Kepala Puskesmas. Parameter : 5.1 Tersedianya Prosedure yang terkait dengan proses Manajemen perencanaan puskesmas yang menyangkut tentang procedure perencanaan program, perencanaan alat, perencanaan obat, perencanaan tenaga dsb Definisi Opersional : Kebijakan atau Presedur yang dimaksud adalah : 1. Prosedure /alur pelayanan pengunjung mulai masuk sampai pengunjung tersebut pulang 2. Prosedure Kepegawaian 3. Prosedure Keuangan 4. Prosedure Perencanaan 5. Prosedure Penilaian Kinerja Puskesmas 6. Prosedure Penyusunan Laporan Tahunan 7. Prosedure sarana dan prasarana 8. Prosedure pelayanan laboratorium Skor = ................ 0 1 2 3 4 5 Tidak ada Prosedure di puskesmas Ada kurang 20 % dari yang disebutkan di Definisi Operasional Ada, antara 20 % < 40% dari Definisi Operasional Ada, antara 40 % < 60% dari Definisi Operasional Ada, antara 60 % < 80 % dari Definisi Operasional Ada, antara 80 % -100 % dari Definisi Operasional.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O)

Ada prosedure yang tertulis Lihat bundle Prosedure

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

16 Wawancara (W) Pimpinana puskesmas / salah seorang petugas

5.2

Sebagai bagian dari manajemen puskesmas, pelaksanaan lokakarya mini dilaksanakan melalui pertemuan pembahasan dengan lintas program (bulanan) dan lintas sektor (tribulanan) sesuai dengan prosedur yang berlaku (effectiveness) Definisi Operasional (DO) ; Mini lokakarya akan dilaksanakan dengan baik bila : 1. Ada kebijakan pelaksanaan yang ditetapkan oleh pimpinan puskesmas 2. Ada prosedur tetap tertulis yang disepakati bersama-sama 3. Ada pelaksanaan yang dilakukan sesuai protap Skor = .............. 0 1 2 3 4 Tidak protap pelaksanaan lokakarya mini bulanan & tribulanan puskesmas Ada lokakarya mini bulanan & tribulana protap penilaian kinerja puskesmas tetapi tetapi tidak tertulis Ada lokakarya mini bulanan & tribulanaprotap PKP tertulis tetapi belum tertulis sesuai tahapan Ada prosedur tetap , tertulis, menyebutkan tahapan lokakarya mini bulanan & tribulana, belum dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap Ada prosedur tetap, tertulis, menyebutkan tahapan lokakarya mini bulanan & tribulanan, dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap, belum di sahkan oleh ka. Puskesmas Ada prosedur tetap , tertulis, menyebutkan tahapan lokakarya mini bulanan & tribulanan puskesmas, sudah dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap dan disahkan oleh Ka. Puskesmas

Catatan / Komentar :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) 5.3

Kebijakan dan protap pelaksanaan lokmin Lihat Dokumen sesuai DO Petugas puskesmas

Pelaksanaan penilaian kinerja puskesmas berdasarkan tahapan yang jelas dan terlaksana tepat waktu untuk kesinambungan program Definisi Operasional (DO) : Penilaian kinerja puskesmas harus dilaksanakan dgn adanya prosedure yang berlaku di : 1. Tertulis dan ditetapkan oleh pimpinan puskesmas 2. Ada prosedure tetap yang menjadi penunjangnya 3. Dilaksanakan tepat waktu yaitu setiap awal bulan januari tahun berikutnya 4. Ada tahapan-tahapan secara rinci tentang tata laksana penilaian Skor = ............

0 Tidak protap pelaksanaan penilaian kinerja puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

17 1 2 3 4 5 Ada protap penilaian kinerja puskesmas tetapi tetapi tidak tertulis Ada protap PKP tertulis tetapi belum tertulis sesuai tahapan Ada prosedur tetap , tertulis, menyebutkan tahapan2 pelaksanaan penilaian, belum dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap Ada prosedur tetap, tertulis, menyebutkan tahapan2 pelaksanaan penilaian, dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap, belum di sahkan oleh ka. Puskesmas Ada prosedur tetap , tertulis, menyebutkan tahapan2 pelaksanaan penilaian, sudah dilaksanakan sesuai tahapan dalam protap dan disahkan oleh Ka. Puskesmas

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

= = =

Protap tertulis ditanda tangani Ka Puskesmas, Uraian Tugas, Jadwal Ada SK tim, ada dokumen PKP Pimpinan Puskesmas

STANDAR 6.

PROGRAM PENDIDIKAN DAN PENGEMBANGAN STAF

Manajemen puskesmas yang terdiri dari Perencanaan Puskesmas, dilanjutkan dengan minilokakarya puskesmas dan diakhiri oleh evaluasi kinerja puskesmas dan dilaksanakan oleh sebuah tim penyusun sesuai dengan kualifikasi yang memadai. Parameter : 6.1 Tim penyusun perencanaan puskesmas telah mendapat pelatihan atau orientasi khusus tentang penyusunan perencanaan dan penilaian kinerja puskesmas (tehnical competency) Definisi Operasional (DO) : Pelaksanaan pelatihan/ orientasi materi perencanaan diadakan pada masa persiapan baik penyusunan perencanaan tingkat puskesmas, lokakarya mini puskesmas maupun evaluasi kinerja puskesmas. Orientasi ini dianggap telah memenuhi keperluan kesamaan pengertian para anggota tim bila ada acuan misalnya kebijaksanaan Dinkes kabupaten maupun Provinsi, serta adanya strategi untuk mengukur apakah materi orientasi telah dihayati oleh setiap anggota tim penyusun Skor 0 1 2 3 4 5 = .................. Belum pernah ikut pelatihan atau orientasi Bukan pelatihan/ orientasi, hanya pemberitahuan lisan saja Ada pelatihan/orientasi tetapi belum semua anggota tim Ada pelatihan/ Orientasi dipimpin langsung oleh kepala puskesmas diikuti oleh semua anggota tim Pelatihan /Orientasi dipimpin oleh Ka. Puskesmas, diikuti semua anggota tim, dengan memperhatikan kebijakan Dinkes K/K atau Provinsi Poin 4 + dan tim mampu menyusun perencanaan puskesmas sesuai tahapan perencanaan.

Catatan / Komentar :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

18 Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) = Laporan rapat/ SK /sertifikat pelatihan/ surat tugas Observasi (O) = Lihat dokumen Perencanaan Wawancara (W) = Tim penyusun perencanaan Tenaga puskesmas telah mendapat pelatihan atau orientasi khusus tentang: Keuangan Kepegawaian Inventarisasi Sarana Prasarana Komputerisasi (IT) Rekam Medik Manajemen Puskesmas/P2KT Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas Skor 0 1 2 3 4 5 = Belum ada tenaga puskesmas yang pernah ikut pelatihan Bukan pelatihan, hanya pemberitahuan lisan saja Orientasi dipimpin langsung oleh kepala puskesmas Ada pelatihan / orientasi tetapi belum semua, dibawah 50% pelatihan Ada pelatihan / orientasi tetapi belum semua, 50% - 70% pelatihan Ada pelatihan / orientasi tetapi belum semua, diatas 70% - 100% pelatihan

6.2

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) = Observasi (O) = Wawancara (W) STANDAR 7. =

Laporan rapat/ SK /sertifikat pelatihan/ surat tugas Lihat dokumen Perencanaan/dokumen rekapitulasi tenaga yg pernah mendapatkan pelatihan tersebut diatas Tim penyusun perencanaan

EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU

Dalam pelaksanaan manajemen puskesmas, yang berupa penyusunan perencanaan puskesmas, Lokakarya Mini Puskesmas dan evaluasi Kinerjanya dilakukan secara terstruktur tidak hanya pada proses perencanaannya tetapi juga pada proses pelaksanaannya, demi untuk menjamin mutu manajemen puskesmas serta pengendalian, pengawasan, penilaian secara keseluruhan Parameter : 7.1 Ada data hasil pembinaan secara terus menerus pelaksanaan program jaminan mutu di puskesmas (continuity) Definisi Operasional (DO) Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan adalah suatu proses upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu pelayanan kesehatan yang diselenggarakan berdasarkan standar yang telah ditetapkan serta menentukan dan melaksanakan cara pemecahan masalah mutu sesuai dengan kemampuan yang ada dan menilai hasil yang dicapai guna menyusun saran tindaklanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kepuasan pelanggan merupakan indikator mutu suatu pelayanan kesehatan, sehingga pelayanan kesehatan harus diselenggarakan dengan orientasi pada pemenuhan harapan dan kebutuhan pelanggan. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

19 Data yang berisi inventarisasi kegiatan pelayanan puskesmas dalam rangka peningkatan mutu puskesmas : 1. Lengkap dan benar 2. Teratur disusun setiap bulan/ tribulanan 3. Ada analisis 4. Ada Rencana Tindak Lanjut Skor = .............. 0 1 2 3 4 5 Tidak ada data pelaksanaan jaminan mutu di puskesmas Ada data tetapi tidak direkap dalam suatu laporan Ada data dan direkap dalam suatu laporan Ada data dan direkap dalam suatu laporan tetapi tidak ada analisa Sudah ada analisa tetapi tidak ada tindak lanjut Sudah ada analisa dan tindak lanjutnya.

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) 7.2

= = =

Laporan proses kegiatan atau data kegiatan contohnya kegiatan survey kepuasan pelanggan di puskesmas Hasil kegiatan, direkap dianalisa dan ditindak lanjuti Pimpinan Puskesmas /TU

Terumuskannya permasalahan kegiatan selama satu tahun dalam laporan tahunan puskesmas sesuai permasalahan kesehatan di wilayah kerja (effectivness) Definisi Operasional (DO) ; Yang dimaksud perumusan permasalahan kegiatan yang lengkap adalah : 1. Meliputi seluruh kegiatan yang ada di puskesmas 2. Meliputi seluruh tahapan yang ada yaitu : pengumpulan data, identifikasi masalah, dan cara-cara untuk mengatasi masalah yang ada Skor = ................ 0 1 2 3 4 5 Tidak ada laporan tahunan laporan tahunan ada tapi permasalahan di puskesmas selama 1 thn tidak disebutkan hanya laporan rutin saja Permasalahan sudah ada yang dilaporkan, tetapi urutan proritas masalah tidak jelas Permasalahan sudah ada yang dilaporkan, urutan prioritas masalah ada tetapi analisanya tidak ada Permasalahan sudah ada yang dilaporkan, prioritas masalah disebutkan, analisanya ada, tindak lanjut permasalahan tidak ada Permasalahan sudah ada yang dilaporkan, prioritas masalah disebutkan, analisanya ada, termasuk tindak lanjut kegiatan

Catatan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

20

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) = Observasi (O) = Wawancara (W) = 7.3

Data-data puskesmas Lihat dokumen Pimpinan Puskesmas

Terdesiminasikannya hasil evaluasi kinerja puskesmas kepada masyarakat, lintas sektoral terkait (interpersonal relationship) Definisi Operasional (DO) : Yang dimaksud dengan desiminasi hasil evaluasi adalah : 1. Hasil evaluasi sudah disosialisasikan pd staf puskesmas sendiri secara luas. 2. Ada selebaran tertulis serta ceramah2 tentang hasil pencapaian Hasil kinerja puskesmas. Skor = ................... 0 1 2 3 4 5 Tidak ada evaluasi hasil kinerja puksesmas Ada evaluasi hasil kinerja tetapi tidak dianalisa dan tidak disosialisasikan pada staf puskesmas Ada Evaluasi hasil kinerja, dianalisa, disosialisasikan ke staf tetapi tidak dilaporkan/disosialisasikan pd masyarakat / sektor terkait Ada Evaluasi kinerja puskesmas dianalisa, dilaporkan pd masyarakat tertentu saja Sudah dilaporkan sudah didesiminasikan secara luas ke masyarakat tetapi tidak ada umpan balik Sudah ada desiminasi luas, ada umpan balik./ usul saran dari masyarakat/ lintas sektor ada upaya Tindak Lanjut

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) = Observasi (O) = Wawancara (W) =

Laporan hasil evaluasi, rapat2 selebaran/edaran Lihat dokumen hasil sosialisasi Tokoh masyarakat yg ikut aktif menyusun PTP puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

21

Lembar Rangkuman REKOMENDASI MANAJEMEN

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

22

LAMBAR Rangkuman NIlai manajemen

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

23

INSTRUMEN 2

PROMOSI KESEHATAN (PROMKES)


Kab./Kota Puskesmas Status Nama Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

Promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat agar mereka dapat menolong diri sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung kebijakan publik yang berwawasan kesehatan. Promosi kesehatan Puskesmas adalah upaya Puskesmas melaksanakan pemberdayaan kepada masyarakat untuk mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan setiap individu, keluarga serta lingkungannya secara mandiri dan mengembangkan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat. STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN. Upaya promosi kesehatan di Puskesmas secara operasional dilakukan agar masyarakat mampu berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bentuk pemecahan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya maupun yang berpotensi mengancam kesehatannya, secara mandiri. Disamping itu petugas Puskesmas diharapkan menjadi teladan bagi masyarakat untuk melakukan PHBS. Strategi dasar utama promosi kesehatan adalah (1) Gerakan Pemberdayaan Masyarakat (2) Bina Suasana dan (3) Advokasi serta dijiwai semangat kemitraan. Berdasarkan strategi dasar tersebut promosi kesehatan dikembangkan sesuai sasaran, kondisi Puskesmas dan tujuan upaya promosi kesehatan. Parameter : 1.1. Setiap petugas Puskesmas memahami falsafah (Visi dan Misi Promosi Kesehatan), pengertian, tujuan dan strategi Promosi kesehatan Definisi Operasional ( DO) : Visi Promosi Kesehatan adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS. Misi Promosi Kesehatan adalah : 1. Memberdayakan individu, keluarga, dan kelompok-kelompok dalam masyarakat, baik melalui pendekatan individu dan keluarga, maupun melalui pengorganisasian dan penggerakan masyarakat. 2. Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat. 3. Mengadvokasikan para pengambil keputusan dan penentu kebijakan serta pihak-pihak lain yang berkepentingan (stekeholders) dalam rangka: Mendorong diberlakukanya kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang berwawasan kesehatan. Mengintegrasikan promosi kesehatan, khususnya pemberdayaan masyarakat, dalam program-program kesehatan. Meningkatkan kemitraan sinergis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta antara pemerintah dengan masyarakat (termasuk LSM) dan dunia usaha. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

24

Meningkatkan investasi dalam bidang promosi kesehatan pada khususnya dan bidang kesehatan pada umunya.

Tujuan : meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk hidup bersih dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk mendorong terbentuknya kemampuan tersebut. Strategi : 1. Gerakan Pemberdayaan, 2. Bina Suasana, 3. Advokasi Strategi tersebut dilaksanakan melalui Kemitraan dengan berbagai pihak yang terkait dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Skor = . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Petugas promkes tidak dapat menjelaskan visi & misi promkes Petugas promosi kesehatan puskesmas dapat menjelaskan visi & misi promkes Ada penjelasan lisan dari petugas : perawat dan bidan Ada penjelasan lisan dari petugas : perawat, bidan dan sanitarian Ada penjelasan lisan dari petugas : perawat, bidan, sanitarian, dan petugas gizi, Ada penjelasan lisan dari petugas promkes, perawat, bidan, sanitarian, petugas gizi,dan petugas puskesmas lainnya

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Buku Pedoman Pelaksanaan Promkes di Puskesmas yang berisi informasi dasar tentang promosi kesehatan di Puskesmas yang idikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kepmenkes 585/2007). SK tentang ruang lingkup kegiatan Promkes Puskesmas berdasarkan Pedoman Promkes di Puskesmas. Ada dokumen/laporan pertemuan/buku catatan tentang falsafah (Visi Misi) / tujuan promosi kesehatan. Observasi (O) : Telaah dokumen/laporan pertemuan pembahasan falsafah (visi dan misi serta tujuan promkes) Wawancara (W) : Petugas promkes dan petugas kesehatan lainnya di Puskesmas.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

25 STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN. Upaya promosi kesehatan di Puskesmas dikelola dalam kesatuan manajemen Puskesmas yang meliputi aspek perencanaan, penggerakkan pelaksanaan dan monitoring evaluasi. Pengelola promosi kesehatan di Puskesmas adalah tenaga pejabat fungsional penyuluh (minimal terampil). Parameter : 2.1. Upaya promosi kesehatan di Puskesmas perlu direncanakan agar terlaksana secara efektif serta mencapai tujuan yang diharapkan. Definisi Operasional (DO) Perencanaan promosi kesehatan terdiri dari perencanaan tahunan (menyatu dalam Perencanaan Tahunan Puskesmas PTP) serta Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan. Disamping itu apabila diperlukan dibuat rencana yang bersifat khusus/ insidental. Skor = 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada perencanaan promosi kesehatan tahunan maupun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan. Ada perencanaan promosi kesehatan tahunan. Ada perencanaan promosi kesehatan tahunan maupun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan sebanyak 1-5 bulan. Ada perencanaan promosi kesehatan tahunan maupun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan sebanyak 6-8 bulan. Ada perencanaan promosi kesehatan tahunan maupun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan sebanyak 9-11 bulan. Ada perencanaan promosi kesehatan tahunan maupun Rencana Pelaksanaan Kegiatan Bulanan sebanyak 12 bulan.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Dokumen Perencanaan Tahunan Promosi Kesehatan dan Kegiatan Bulanan Promosi Kesehatan di Puskesmas. Observasi (O : Wawancara (W) : Petugas promkes Puskesmas, Kepala Puskesmas. 2.2.

Rencana

Kegiatan promosi kesehatan Puskesmas dikelola dan dilengkapi dengan Administrasi pencatatan agar dapat dimonitor apakah kegiatan tersebut telah dilaksanakan dengan sebaik-baiknya Definisi Operasional (D.O) : Administrasi pengelolaan yang berhubungan dengan promosi kesehatan di Puskesmas meliputi; pencatatan/register, jadwal kegiatan, jadwal pelaksanaan, dsb. 1. Kegiatan pengkajian penyuluhan kelompok dalam gedung 2. Register KIP/K 3. Catatan pengkajian dan pembinaan PHBS institusi kesehatan 4. Register penyuluhan kelompok oleh petugas di masyarakat 5. Register kunjungna rumah 6. Catatan pembinaan dan pengkajian strata posyandu

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

26 7. Catatan pembinaan dan pengkajian strata desa siaga aktif 8. Catatan pembinaan PHBS rumah tangga

Skor : . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan pencatatan kegiatan promosi kesehatan di Puskesmas. Ada kegiatan pencatatan/register tetapi hanya 1 jenis dari 8 pencatatan diatas Ada kegiatan pencatatan/register 2 jenis Ada kegiatan pencatatan/register 3 4 jenis Ada kegiatan, ada pencatatan/register, 5 6 jenis Ada kegiatan, pencatatan/register 7 8 jenis

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Buku pencatatan/data tentang kegiatan Promkes Puskesmas. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes dan petugas kesehatan lainnya di Puskesmas. 2.3. Setiap kegiatan promkes harus ditindak-lanjuti dengan laporan kegiatan promkes secara berkesinambungan. Defnisi Operasional (D.O.) : Laporan kegiatan promkes harus dibuat setiap kali melakukan kegiatan termasuk pembahasan, tindak lanjut dan penanggung jawabnya. Skor : . 0 1 2 3 = = = = Tidak ada laporan pelaksanaan program promkes Ada laporan tetapi tidak teratur

Ada laporan secara teratur


Ada laporan secara teratur dan ada petugas bertanggung jawab membuat visualisasi hasil kegiatan promkes minimal 1 jenis laporan dari 8 pencatatan/register

Ada laporan secara teratur dan ada petugas bertanggung jawab membuat visualisasi hasil kegiatan minimal 2 jenis laporan dari 8 pencatatan/register Ada laporan secara teratur dan ada petugas bertanggung jawab membuat visualisasi hasil kegiatan promkes lebih dari 3 jenis laporan dari 8 pencatatan/register

Catatan :

Pembuktian (C.P.) : Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

27 Dokumen (D) : Arsip laporan kegiatan ; jadwal, protap kegiatan dalam gedung dan luar gedung dan laporan tahunan. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes dan petugas kesehatan lainnya di Puskesmas.

STANDAR 3.

STAF DAN PIMPINAN.

Promosi kesehatan di Puskesmas dilaksanakan oleh semua tenaga kesehatan yang dikoordinir oleh seorang petugas promkes dan dapat menjaga hubungan yang baik dengan sesama staf serta dengan pimpinan Puskesmas. Parameter : 3.1. Petugas promosi kesehatan Puskesmas adalah tenaga Jabatan Fungsional Penyuluh (minimal tenaga Jabatan Penyuluh Terampil) yang memiliki tugas dan kewenangan sesuai dengan SK Menpan, atau tenaga kesehatan lain yang sudah dilatih tentang kepromkesan yang ditugaskan oleh kepala Puskesmas. Definisi Operasional - Jabatan fungsional penyuluh kesehatan masyarakat adalah pelaksana teknis fungsional di bidang penyuluhan kesehatan masyarakat di instansi / unit pelayanan kesehatan di lingkungan Kementerian Kesehatan dan instansi lain di luar Kementerian Kesehatan. - Jabatan fungsional penyuluh kesehatan masyarakat terampil pendidikan minimal D3 kesehatan dengan pangkat serendah-rendahnya pengatur golongan II/C. - Tenaga Kesehatan lain yang ditunjuk sebagai tenaga Promkes, sudah dilatih tentang Promosi Kesehatan dan mendapat STTPL. Skor : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada petugas yang khusus menangani kegiatan promosi kesehatan Ada tenaga yang khusus menangani promkes namun bukan tenaga jafung Ada tenaga promkes yang memenuhi syarat untuk menjadi tenaga jafung, belum pelatihan jafung Ada tenaga promkes yang memenuhi syarat untuk menjadi tenaga jafung, sudah pelatihan jafung/ promkes namun belum diangkat jafung Ada tenaga jabatan fungsional penyuluh kesehatan masyarakat dan dilatih tentang Promkes tapi belum pernah naik pangkat. Ada tenaga jabatan fungsional penyuluh kesehatan masyarakat dan dilatih tentang Promkes dan sudah pernah naik pangkat

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : SK Jafung/Surat penunjukan kepala Puskesmas, SK naik pangkat jafung, STTPL, uraian tugas (tugas pokok promkes dan tugas tambahannya adalah program pengembangan bukan program wajib) yang ditandatangani oleh Ka. Puskesmas. Observasi (O) : Wawancara (W) : Tenaga promkes Puskesmas, Kepala Puskesmas. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

28

3.2. Kegiatan promkes puskesmas dilaksanakan oleh tenaga kesehatan terampil promkes yang telah dilatih tentang pengembangan masyarakat serta metode dan media promkes Definisi Operasional (D.O) : Tenaga kesehatan terampil promkes adalah tenaga yang bukan jafung penyuluh kesehatan masyarakat, tetapi sudah mengikuti pelatihan pengembangan masyarakat serta metode dan media promosi kesehatan masyarakat, atau sarjana D3/S1 kesehatan masyarakat. Skor : 0 1 = = Tidak ada tenaga kesehatan yang turut serta melaksanakan promkes Ada tenaga kesehatan yang turut serta melaksanakan promkes tetapi belum pernah dilatih tentang pengembangan masyarakat serta metode dan media promosi kesehatan masyarakat Ada tenaga kesehatan yang turut serta melaksanakan promkes sudah pernah dilatih tentang pengembangan masyarakat atau metode dan media promosi kesehatan masyarakat Ada tenaga promkes yang sudah dilatih dengan pengembangan masyarakat serta metode dan media promosi kesehatan masyarakat Ada tenaga D3 pendidikan kesehatan masyarakat Ada tenaga S1 pendidikan kesehatan masyarakat (SKM)

3 4 5

= = =

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen ( D) : Sertifikat, Ijazah, STTPL, Uraian tugas (tugas pokok/ tugas tambahan) yang ditanda-tangani kepala puskesmas Observasi (O) : Wawancara (W) : Tenaga kesehatan terampil promkes, tenaga jafung promkes, Kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

29

STANDAR 4.

FASILITAS DAN PERALATAN

Promkes Kesehatan di Puskesmas dapat berjalan dengan baik dan lancar (effective end efficient) bila tersedia Fasilitas serta Peralatan yang cukup/ memadai. Parameter : 4.1 Klinik KIP/K : tempat untuk pelayanan penyuluhan individual sekaligus sebagai tempat pengelolaan promkes puskesmas, perlu disediakan agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Definisi Operasional (DO): Ruang yang diperlukan untuk kegiatan KIP/K sekaligus sebagai tempat pengelolaan promkes kesehatan di puskesmas yang dilengkapi dengan peralatan penyuluhan dan peralatan kantor yang diperlukan. Untuk Puskesmas dengan Tempat Tidur (DTP) kegiatan KIP/K dilakukan juga di samping tempat tidur pasien (bed side teaching) Skor : 0 1 = = Tidak ada ruang khusus KIP/K maupun ruang untuk pengelolaan promkes Ada ruang pengelolaan promkes tetapi tidak khusus untuk ruang KIP/K dan tanpa peralatan penyuluhan (sesuai standar dalam buku Pedoman Pelaksanaan promkes di PuskesmasKepmenkes 585/2007) serta tanpa peralatan kantor (mesin ketik, lemari file) Ada ruang khusus untuk ruang KIP/K dan pengelolaan promkes tetapi tanpa peralatan penyuluhan (sesuai standar dalam buku Pedoman Pelaksanaan promkes di Puskesmas Kepmenkes 585/ 2007) serta peralatan kantor (mesin ketik, lemari file) Ada ruang khusus untuk ruang KIP/K sekaligus untuk pengelolaan promkes namun belum dilengkapi dengan peralatan kantor (mesin ketik, lemari file) serta peralatan penyuluhan belum sesuai standar dalam buku Pedoman Pelaksanaan promkes di Puskesmas Kepmenkes 585/2007. Ada ruang khusus untuk ruang KIP/K sekaligus untuk pengelolaan promkes dilengkapi dengan peralatan kantor (mesin ketik, lemari file) serta peralatan penyuluhan namun belum sesuai standar dalam buku Pedoman Pelaksanaan promkes di Puskesmas Kepmenkes 585/2007. Ada ruang khusus untuk ruang KIP/K sekaligus untuk pengelolaan promkes dilengkapi dengan peralatan penyuluhan (sesuai standar dalam buku Pedoman Pelaksanaan promkes di Puskesmas Kepmenkes 585/2007) serta peralatan kantor (mesin ketik, lemari file).

Catatan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

30 Cara Pembuktian (CP): Dokumen (D) : Inventaris peralatan penyuluhan sesuai dengan Buku pedoman Promkes Puskesmas (Kepmenkes 585/ 2007) yaitu : flipchart & stands, OHP atau multi media player (contoh infokus), Amplifier & wireless, Kamera foto, megaphone, Portable generator, tape/ cassette recorder/ player dan papan informasi. Dan ada daftar infentaris sarana dan prasarana. Observasi (O) : Inspeksi ruangan KIP/K Wawancara (W) : Tenaga jafung promkes, kepala puskesmas. 4.2. Tempat penyimpanan sarana/media promkes perlu disediakan agar tidak mudah rusak. (Safety, efficiency) Definisi Operasional (D.O.): Ruang atau lemari khusus untuk penyimpanan sarana/ media promkes yang disimpan secara tertata baik dengan ventilasi yang cukup /tidak lembab sehingga peralalan promkes dapat bertahan lebih baik. Skor : .. 0 1 2 = = = Belum ada ruang atau lemari khusus penyimpanan sarana/ media promkes dan penanggung jawabnya Ada ruang atau lemari tetapi tidak khusus penyimpanan sarana/ media promkes dan penanggung jawabnya Ada ruang atau lemari khusus penyimpanan sarana/ media promkes tidak tertata baik walau ventilasi cukup baik / tidak lembab dan penanggung jawabnya. Ada ruang atau lemari khusus penyimpanan sarana/ media promkes yang disimpan tidak tertata baik namun ventilasi tidak cukup baik / lembab dan penanggung jawabnya Ada ruang atau lemari khusus penyimpanan sarana/ media promkes yang disimpan secara tertata baik namun ventilasi tidak cukup baik / lembab dan penanggung jawabnya. Ada ruang atau lemari khusus penyimpanan sarana/ media promkes yang disimpan secara tertata baik dengan ventilasi cukup, tidak lembab dan ada penanggung jawabnya

Catatan ;

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Inventaris alat/ruangan, ada tempat khusus penyimpanan alat alat promkes, dan penanggungjawabnya. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas 4.3. Pemanfaatan semua sarana/ peralatan/ media promkes secara optimal merupakan hal yang sangat diperlukan untuk keberhasilan promkes di puskesmas. Definisi Operasional (D.O.) : Pemanfaatan/ penggunaan peralatan/ media baik cetak maupun elektronik seoptimal mungkin sesuai dengan ketersediaan alat/media yang ada untuk mendukung keberhasilan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

31 promkes di Puskesmas yang dilengkapi dengan protap penggunaan peralatan, penggunaan media elektronik dan cetak.

Skor : 0 1 = = Tidak ada kegiatan promkes kelompok dalam gedung dan luar gedung Ada kegiatan promkes dalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/ K dan Bed Side Teaching untuk Puskesmas DTP) belum menggunakan peralatan/ media dengan benar dan belum melaksanakan kegiatan promkes di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah) secara terjadwal, tercatat dan dievaluasi hasilnya secara berkala Ada kegiatan promkes dalam gedung (penyuluhan kelompok dengan menggunakan peralatan/ media dengan benar, KIP/ K dan Bed Side Teaching untuk Puskesmas DTP) belum melaksanakan kegiatan promkes di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah) secara terjadwal, tercatat dan dievaluasi hasilnya secara berkala. Ada kegiatan promkes dalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/ K dan Bed Side Teaching untuk Puskesmas DTP dengan menggunakan peralatan/ media secara benar,) belum melaksanakan kegiatan promkes di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah) secara terjadwal, tercatat dan dievaluasi hasilnya secara berkala. Ada kegiatan promkes dalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/ K dan Bed Side Teaching untuk Puskesmas DTP) dan melaksanakan kegiatan promkes di luar gedung (penyuluhan kelompok) dengan menggunakan peralatan/ media secara benar, tetapi belum melaksanakan kunjungan rumah secara terjadwal, tercatat dan dievaluasi hasilnya secara berkala. Ada kegiatan promkes dalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/ K dan Bed Side Teaching untuk Puskesmas DTP) dan melaksanakan kegiatan promkes di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah) dengan menggunakan peralatan/ media dengan benar secara terjadwal, tercatat dan dievaluasi hasilnya secara berkala.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.): Dokumen (D) : Buku pencatatan tentang pemanfaatan peralatan/ media elektronik maupu cetak sesuai jadwal kegiatan Promkes, Protap penggunaan peralatan penyuluhan/media elektronik dan cetak. Hasil evaluasi penggunaan peralatan/media promkes puskesmas Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes, petugas kesehatan yang melaksanakan promkes, kepala puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

32

STANDAR 5. KEBIJAKSANAAN DAN PROSEDUR Adanya kebijakan dan prosedur tertulis tentang tata cara promkes yang baik sesuai dengan kelompok sasaran serta dikomunikasikan kepada seluruh petugas dalam memberikan arah terhadap pelaksanaan promkes yang lebih efektif. Parameter : 5.1. Kegiatan promkes dilaksanakan sesuai tata cara atau prosedur tetap yang baku sehingga promkes dapat terlaksana secara efektif (Effectiveness, Efficiency). Definisi Operasional (D.O.) Promkes di Puskesmas dilaksanakan dengan mengacu pada buku pedoman promkes puskesmas (kepmenkes 585/2007) Skor: 0 1 = = Tidak ada kegiatan promkes baik di dalam gedung maupun di luar gedung. Kegiatan Promkes meliputi kegiatan didalam gedung (penyuluhan kelompok), tetapi belum melaksanakan KIP/K dan bed side teaching untuk Puskesmas DTP, pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan institusi kesehatan, dan belum melaksanakan kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok , kunjungan rumah, pengkajian/pembinaan PHBS di berbagai tatanan utamanya di tatanan rumah tangga, kegiatan pemberdayaan menuju desa siaga aktif, pembinaan UKBM utamanya pembinaan Posyandu) Kegiatan Promkes meliputi kegiatan didalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/K dan bed side teaching untuk Puskesmas DTP) tetapi belum melaksanakan pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan institusi kesehatan, dan belum melaksanakan kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah, pengkajian/pembinaan PHBS di berbagai tatanan utamanya di tatanan rumah tangga, kegiatan pemberdayaan menuju desa siaga aktif, pembinaan UKBM utamanya pembinaan Posyandu) Kegiatan Promkes meliputi kegiatan didalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/K dan bed side teaching untuk Puskesmas DTP , pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan institusi kesehatan), tetapi belum melaksanakan kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah, pengkajian/pembinaan PHBS di berbagai tatanan utamanya di tatanan rumah tangga, kegiatan pemberdayaan masyarakat menuju desa siaga aktif, pembinaan UKBM utamanya pembinaan Posyandu) Kegiatan Promkes meliputi kegiatan didalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/K dan bed side teaching untuk Puskesmas DTP , pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan institusi kesehatan), dan kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah, pengkajian/pembinaan PHBS di berbagai tatanan utamanya di tatanan rumah tangga tetapi belum melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat menuju desa siaga aktif,

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

33 pembinaan UKBM utamanya pembinaan Posyandu). Kegiatan Promkes meliputi kegiatan didalam gedung (penyuluhan kelompok, KIP/K dan bed side teaching untuk Puskesmas DTP, pengkajian dan pembinaan PHBS di tatanan institusi kesehatan), dan kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah, pengkajian/pembinaan PHBS di berbagai tatanan utamanya di tatanan rumah tangga, pemberdayaan masyarakat menuju desa siaga aktif, pembinaan UKBM utamanya pembinaan Posyandu,)

Cara Pembuktian (C.P.): Dokumen (D) : Buku Pedoman promkes kesehatan untuk petugas Puskesmas, protap kegiatan promkes dalam Gedung (penyuluhan Kelompok, KIP/K, pengkajian dan pembinaan PHBS di Institusi Kesehatan ), protap kegiatan di luar gedung (penyuluhan kelompok, kunjungan rumah, pengkajian dan pembinaan PHBS di berbagai Tatanan, pemberdayaan Masyarakat menuju Desa Siaga Aktif, pembinaan Pos Yandu dan UKBM lainnya).Protap pelimpahan tugas promkes bila petugas promkes berhalangan. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas 5.2. Topik promkes meliputi masalah utama yaitu penyakit yang paling banyak ( 10 besar penyakit di Puskesmas) maupun penyakit yang bukan masalah di wilayah kerja Puskesmas tersebut namun berpotensi terjadi di wilayah tsb. dan perlu diwaspadai oleh seluruh masyarakat. Definisi Operasional : Topik promkes utama adalah masalah 10 besar penyakit yang paling banyak di wilayah kerja puskesmas bersangkutan. Promkes lebih di arahkan kepada masalah perilaku penyebab timbulnya penyakit tersebut. Skor : .. 0 1 = = Belum ada topik promkes Ada promkes cuma 1 topik masalah utama di masyarakat di wilayah kerja Puskesmas, penyakit yang bukan masalah dan berpotensi terjadi di wilayah puskesmas Promkes meliputi 2 topik masalah utama di masyarakat di wilayah kerja Puskesmas, penyakit yang bukan masalah dan berpotensi terjadi di wilayah puskesmas Promkes meliputi 3 topik masalah utama di masyarakat di wilayah kerja Puskesmas, penyakit yang bukan masalah dan berpotensi terjadi di wilayah puskesmas Promkes meliputi 4 topik masalah utama di masyarakat di wilayah kerja Puskesmas, penyakit yang bukan masalah dan berpotensi terjadi di wilayah puskesmas Meliputi lebih dari > 5 topik masalah utama di masyarakat, penyakit yang bukan masalah dan berpotensi terjadi di wilayah puskesmas, termasuk penyakit yang cenderung meningkat (penyakit jantung dan pembuluh darah, TBC, ISPA, malaria, HIV/AIDS dll) dengan aspek pencegahannya

Catatan :
Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

34

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Laporan promkes, data sepuluh besar penyakit. Observasi (O) : Kegiatan promkes Wawancara (W) : Kepala puskesmas, petugas promkes,

5.3. Kegiatan promkes dilaksanakan dengan mempertimbangkan upaya tindak lanjut. Definisi Operasional (D.O.) : Rencana tindak lanjut dari setiap kegiatan promkes termasuk umpan balik sasaran penyuluhan. Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada rencana tindak lanjut Ada tindak lanjut tetapi tidak direncanakan Ada rencana tindak lanjut dan pelaksanaannya Ada tindak lanjut tetapi tidak semua kegiatan promkes Ada tindak lanjut untuk semua kegiatan promkes Ada tindak lanjut untuk semua kegiatan promkes serta ada umpan balik dari sasaran penyuluhan.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Rencana Tindak Lanjut, laporan kegiatan terkait dengan umpan balik dari sasaran penyuluhan. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

35

STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Pembinaan dan pengembangan staf dapat dilakukan dengan pembinaan teknis sehari -hari, pelatihan maupun pendidikan. Parameter : 6.1. Pengembangan staf dilaksanakan oleh petugas jafung promkes terampil atau petugas kesehatan yang sudah dilatih tentang promkes. Untuk kesinambungannya diperlukan adanya pembinaan dan pengembangan petugas pelaksana secara berkesinambungan. Definisi Operasional (DO): Pengembangan staf dalam promkes dilakukan untuk menjaga mutu pelaksana agar sesuai dengan perkembangan jaman. Pengembangan staf dilakukan oleh puskesmas dengan cara: pelatihan tentang pengelolaan promkes, teknis promkes. Rutin : Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak pernah ada kegiatan pembinaan dan pengembangan. Ada kegiatan pembinaan pengembangan melalui pertemuan - pertemuan tetapi tidak rutin. Ada kegiatan pembinaan dan pengembangan staf pelaksana secara rutin di Puskesmas. Ada pembinaan berupa pertemuan rutin dengan pembina dari dalam dan luar Puskesmas (Dinkes Kab/ Kota, Provinsi atau Pusat). Ada pembinaan rutin berupa diskusi antar Puskesmas yang dilakukan oleh Kab/ Kota. Ada kegiatan pelatihan dan pembinaan rutin dan penghargaan terhadap kinerja Promkes dari interen Puskesmas, Kab/ Kota, Provinsi dan Pusat.

Catatan / Komentar :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Laporan pertemuan pembinaan dan pengembangan staf, laporan hasil pelatihan, Ijasah D3 Kesehatan, Surat Tugas Pelatihan, STTPL, Piagam Penghargaan. Observasi (O) : Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas 6.2. Adanya penyebarluasan metoda dan teknik promkes kepada staf lainnya Definisi Operasional (DO): Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

36 Hasil pelatihan petugas puskesmas tentang metoda dan teknik promkes disebarluaskan pada saat lokmin secara rutin (1 tahun 4 kali) dan dilaksanakan secara berkala (3 bulan sekali).

Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada penyebarluasan metode dan teknik promkes Ada penyebarluasan metode dan teknik promkes kepada staf 1 kali setahun Ada penyebarluasan metode dan teknik promkes kepada staf 2 kali setahun Ada penyebarluasan metode dan teknik promkes kepada seluruh staf 3 kali setahun Ada penyebarluasan metode dan teknik promkes kepada seluruh staf 4 kali setahun tetapi tidak dievaluasi Ada penyebarluasan metode dan teknik promkes kepada seluruh staf 4 kali setahun dan dievaluasi

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Laporan kegiatan penyebarluasan hasil Pelatihan (Notulen). Observasi : Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas 6.3. Pengembangan dan Pembinaan Staf lebih lanjut dapat dilaksanakan dengan pendidikan dan pelatihan berkelanjutan yang dapat ditunjang oleh Puskesmas. Definisi Operasional (DO): Pendidikan dan Pelatihan berkelanjutan yang berhubungun dengan Pendidikan/ Promosi kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan petugas Promkes dan ada upaya puskesmas untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam hal promkes dalam bentuk usulan pelatihan ke tingkat lebih atas termasuk menganggarkannya Skor : . Tidak ada kegiatan pendidikan/pelatihan staf pelaksana Ada pendidikan/pelatihan oleh kabupaten/kota/provinsi tetapi sangat jarang (diatas satu tahun satu kali). 2 = Ada pendidikan/pelatihan oleh kabupaten/kota/provinsi rutin setiap tahun 3 = Ada pendidikan/pelatihan ke tingkat kabupaten/kota/provinsi setiap enam bulan Sekali 4 = Ada pendidikan dan pelatihan ke tingkat kabupaten/kota/provinsi atau pusat dan ada usulan/rencana pelatihan/pendidikan ke kabupaten/kota/provinsi secara tertulis. 5 = Ada pendidikan dan pelatihan ke tingkat kabupaten/kota/provinsi atau pusat serta ada usulan/rencana pendidikan/pelatihan Promosi Kesehatan termasuk Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011 0 1 = =

37 penganggaran oleh puskesmas secara tertulis

Catatan / Komentar :

Cara Pembuktian (C.P.): Dokumen (D) : Surat Tugas, STTPL, Rencana Diklat Promkes, surat usulan. Observasi :Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Evaluasi dan pemantauan Promosi Kesehatan Masyarakat dilaksanakan untuk mengetahui pelaksanaan, proses dan hasil kegiatan tersebut agar dapat dilakukan langkah-langkah pembenahan apabila diperlukan. Parameter : (Dimensi mutu) 7.1. Pemantauan/ monitoring kegiatan dilakukan secara berkala untuk melihat apakah input, proses dan output sudah sesuai dengan yang direncanakan. Definisi Operasional (D.O.): Pemantauan/ Monitoring kegiatan promosi yang dilakukan secara berkala (tribulanan, 6 bulanan, dsb) sesuai dengan rencana monitoring. Kegiatan monitoring dilaksanakan dengan menggunakan instrumen (pencatatan sederhana/komplek sesuai dengan yang diinginkan) dan hasilnya di tindak lanjuti. Skor : 0 1 2 3 4 = = = = = Tidak ada kegiatan pemantauan/monitoring Ada kegiatan pemantauan/monitoring tetapi tanpa menggunakan instrumen/ pencatatan monitoring, tidak rutin dilakukan. Ada kegiatan pemantauan/monitoring dengan pencatatan/instrumen dilakukan secara tidak rutin. Ada kegiatan pemantauan/monitoring dengan menggunakan instrumen, dilakukan secara berkala dan rutin. Ada kegiatan pemantauan/monitoring dengan menggunkan instrumen, dilakukan secara rutin, ada pengolahan/ analisa hasil pemantauan/monitoring dan kemudian dibuatkan rekomendasi/ feedback namun belum ditindak lanjuti Ada kegiatan pemantauan/monitoring dengan menggunakan instrumen dilaksanakan secara rutin, ada pengolahan/ analisa hasil pemantauan/monitoring dan kemudian dibuatkan rekomendasi/ feedback dan ditindak lanjuti.

Catatan / Komentar :

Cara Pembuktian (CP): Dokumen (D) : Instrumen monitoring, laporan hasil monitoring, rekomendasi hasil monitoring, dan tindak lanjut hasil monitoring, protap kegiatan pemantauan promkes. Observasi (O) : Pelaksanaan kegiatan Wawancara (W): Petugas promkes, kepala puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

38

7.2. Evaluasi Kegiatan promkes puskesmas untuk melihat dampak atas dilaksanakannya kegiatan promkes. Definisi Operasional (D.O.): Evaluasi/ penilaian kegiatan promkes dilakukan pada akhir tahun kegiatan, atau sesuai dengan waktu yang direncanakan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan instrument, chek list, daftar tilik.

Skor : 0 1 2 3 4 = = = = = Tidak ada kegiatan evaluasi/penilaian Ada kegiatan evaluasi/penilaian tetapi tanpa menggunakan instrumen/pencatatan evaluasi, tidak rutin dilakukan Ada kegiatan evaluasi/penilaian dengan pencatatan/instrumen, dilakukan secara tidak rutin Ada kegiatan evaluasi/penilaian dengan menggunakan instrumen dilakukan setiap akhir tahun. Ada kegiatan evaluasi/penilaian dengan menggunakan instrumen dilakukan setiap akhir tahun, ada pengolahan/analisis hasil evaluasi/penilaian dan kemudian dibuatkan rekomendasi/feedback Ada kegiatan evaluasi/penilaian dengan menggunakan instrumen dilakukan setiap akhir tahun, ada pengolahan/analisis hasil evaluasi/penilaian dan kemudian dibuatkan rekomendasi/feedback dan ada tindak lanjut.

Catatan

Cara Pembuktian (C.P.): Dokumen (D) : Instrumen evaluasi/penilaian, laporan hasil evaluasi/penilaian, rekomendasi hasil dan tindak lanjut serta protap evaluasi/penilaian program promkes. Observasi (O) : Pelaksanaan kegiatan Wawancara (W) : Petugas promkes, kepala puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

39

LEMBAR :

REKOMENDASI PROMKES

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

40

Lembar : NILAI PROMKES

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

41

INSTRUMEN 3

KESEHATAN LINGKUNGAN
Kab./Kota Puskesmas Status Nama Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

Puskesmas sebagai sarana pelayanan umum, wajib memelihara dan meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar persyaratan, untuk memberikan jaminan keselamatan dan kesehatan kerja kepada pasien, staf puskesmas serta masyarakat yang tinggal di sekitar puskesmas yang kemungkinan dapat terkena dampak pencemaran lingkungan puskesmas. STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Setiap Puskesmas dalam mewujudkan Paradigma Sehat bukan sekedar melaksanakan upaya pelayanan kuratif dan rehabilitative, tetapi perlu menekankan pentingnya upaya preventif dan promotif dengan mengupayakan penyehatan lingkungan Puskesmas agar terjamin kesehatan dan keselamatan pasien, pengunjung, pegawai, dan masyarakat sekitarnya. Parameter : 1.1 Ada kebijakan upaya kesehatan lingkungan Definisi Operasional ( DO) : 1. Kebijakan: adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. 2. Kebijakan upaya kesehatan lingkungan ditetapkan oleh pimpinan puskesmas yang menyatakan komitmen dan tanggungjawab, termasuk dalam hal penganggaran 3. Kebijakan harus sesuai dengan visi dan misi 4. Kebijakan disusun oleh pimpinan puskesmas melibatkan seluruhstaf 5. Pimpinan puskesmas mengkomunikasikan kebijakan upaya kesehatan lingkungan puskesmas kepada seluruh staf, pengunjung (pasien). Skor = ............ 0 1 2 = = = Tidak ada kebijakan tertulis Ada kebijakan tertulis yang ditetapkan pimpinan puskesmas Kebijakan tidak mendukung/berpihak kepada peningkatkan upaya kesling

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

42 3 4 5 = = = Kebijakan mendukung/berpihak kepada peningkatkan upaya kesling Kebijakantersebut hanya disebarluaskan kepada seluruh staf. kebijakan disebarluaskan kepada seluruh staf dan pengunjung/pasien (leaflet, brosur, poster,dibingkai)

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. Ada kebijakan mendukung upaya kesling b. Undangan pertemuan c. Daftar hadir d. Notulen e. Leaflet/brosur/poster Pimpinan puskesmas

STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Setiap Puskesmas wajib mempunyai upaya kesehatan lingkungan yang dilengkapi uraian tugas Parameter : 2.1. Ada upaya kesehatan Lingkungan dalam bagan organisasi Puskesmas yang menggambarkan kedudukan, wewenang, tanggungjawab, dan hubungan kerja. Definisi Operasional (D.O.) : 1. Upaya Kesehatan Lingkungan Puskesmas adalah segala upaya untuk penyehatan dan pemeliharaan lingkungan Puskesmas sehingga tidak mengganggu kesehatan manusia dan lingkungan sekitarnya 2. Bagan organisasi adalah bagan yang dapat memperlihatkan alur komunikasi dan garis kewenangan dlm kegiatan Puskesmas antara Pimpinan dan staf Puskesmas. 3. Uraian tugas: adalah ringkasan aktivitas-aktivitas yang terpenting dari suatu jabatan, termasuk didalamnya tugas dan tanggungjawab 4. Ada perencanaan tertulis program penyehatan lingkungan Puskesmas 5. Sasaran dan target program penyehatan lingkungan Puskesmas sesuai dengan kondisi dan situasi wilayah setempat Skor : ................. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada upaya kesehatan lingkungan Ada upaya kesehatan lingkungan dalam bagan organisasi puskesmas Ada upaya kesehatan lingkungan dalam bagan organisasi puskesmas tetapi Tidak ada uraian tugas lengkap Ada upaya kesehatan lingkungan dalam bagan organisasi puskesmas ada uraian tugas lengkap Ad. 3 Ada perencanaan, target dan sasaran program belum ditindak lanjuti Ada perencanaan, target dan sasaran program sudah ditindak lanjuti

Catatan : Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

43

Cara Pembuktian : Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. SK penetapan struktur organisasi puskesmas b. Uraian tugas upaya kesling c. Target dan sasaran sesuai PKP Pimpinan puskesmas, petugas kesehatan lingkungan

2.2. Ada pedoman kerja tertulis yang digunakan sebagai acuan program upaya kesehatan Lingkungan. Definisi Operasional : Pedoman Kerja adalah ketentuan teknis dan manajemen kesehatan lingkungan berupa pedoman dan peraturan perundang-undangan berlaku. Daftar Pedoman Kerja di Puskesmas: 1. UU No. 36/2009 tentang Kesehatan 2. UU No. 7/1996 tentang Pangan 3. UU No. 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup 4. Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air PMK 416/1990 5. Persyaratan Kesling Hotel PMK 80/1990 6. Tatalaksana pengawasan kualitas air minum PMK 736/2010 7. Pedoman teknis analisis dampak kesling KMK 876/2001 8. Pengelolaan Pestisida KMK 1350/2001 9. Persyaratan Kesling Kerja Perkantoran dan Industri KMK 1405/2002 10. Persyaratan Hygiene dan Sanitasi Jasaboga KMK 715/2003 11. Pedoman Pengendalian Dampak Pencemaran Udara KMK 1407/2002 12. Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan KMK 942/2003 13. Persyaratan hygiene dan sanitasi rumah makan dan restoran KMK 1098/2003 14. Persyaratan Kesling Rumah Sakit KMK 1204/2004 15. Modul Sterilisasi dan Pengelolaan limbah di Puskesmas, Depkes RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2000 16. Pedomam Penyelenggaraan Kesling Puskesmas KMK 1428/2006 17. Pedoman Penyelenggaraan Kesling di Lingkungan Sekolah KMK 1429/2006 18. Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis masyarakat KMK 852/2008 19. Pedoman Pelaksanaan Klinik sanitasi, Depkes RI, 2007 20. Pedoman Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat, SKB 34/2005 Depdagri & Depkes 1138/2005 21. Pedoman Penyelenggaraan Hygiene Sanitasi Depot Air Minum, Depkes RI, 2006 22. Protap (SOP) Monitoring Kualitas kesehatan Lingkungan di Lingkungan Kerja pada Sarana Kesehatan, Depkes RI, 2001 23. Persyaratan Kualitas Air Minum PMK 492/2010 24. Petunjuk Singkat Penyehatan Makanan Bagi pengusaha dan Masyarakat, Depkes RI, 1989 25. Pola pengawasan Tepat Pengelolaan Makanan, Depkes RI, 1992 26. Petunjuk Teknis Desain Pengelohan Air, Seri Pertama, Depkes RI, 2007 27. Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2002 28. Pemeriksaan Cholinesterase Darah Dengan Tintometer Kit, Depkes RI, 1992 29. Persyaratan Kesling Tempat Tempat Umum, Depkes RI, 1993 30. Persyaratan Kesling Kolam Renang dan pemandian Umum PMK 061/1991 31. Pedoman Pengendalian pencemaran Udara Ambien yang Berhubungan dengan kesehatan Masyarakat, Depkes RI, 1994 Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

44 32. Pedoman Umum Pengamanan dampak Radiasi Keputusan Dirjen PPM & PL HK.00.06.6.655, Depkes RI, 2000 33. Pedoman Umum Pengawasan pencemaran Limbah Industri, Depkes RI, 1988 34. Petunjuk Pengukuran Kualitas Udara, Depkes RI, 1988 35. Pedoman Teknis Upaya Kesehatan Kerja Bagi Perajin Industri Kecil, Depkes RI, 1993 36. Pedoman Teknis Perbaikan Kualitas Air, Depkes RI, 1992 37. Pedoman Teknis Pengendalian Faktor Risiko Kesehatan Lingkungan di sekolah, Depkes RI, 2004 38. Juklak/Juknis Pengawasan Kualitas Air Aspek Kimia Air Minum dan Air Bersih, Depkes RI, 1993 39. Pedoman umum program pariwisata sehat, Depkes RI, 1999 40. Pedoman Umum Sarana dan bangunan Umum, Depkes RI, 2002 41. Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum, KMK 288/2003 42. Pedoman Pembinaan dan pengembangan UKS, Diknas, 2002 43. Peraturan perundangan yang terkait dengan kesehatan lingkungan lainnya 44. Perda setempat Skor : ................. = Tidak ada pedoman kerja upaya kesehatan 00-00 lingkungan 1 = Ada pedoman kerja upaya kesehatan lingkungan 10 15 jenis 2 = Ada pedoman kerja upaya kesehatan lingkungan 16 20 jenis 3 = Ada pedoman kerja upaya kesehatan lingkungan 21 25 jenis 4 = Ada pedoman kerja upaya kesehatan lingkungan 26 30 jenis 5 = Ada pedoman kerja upaya kesehatan lingkungan > 31 jenis Catatan :

Dokumen (D)

Observasi (o) Wawancara (W)

Juklak/Juknis, : Pedoman, SOP, Keputusan Menteri Kesehatan (KMK), Peraturan Menteri Kesehatan (PMK), Undang-undang, Peraturan Bupati/Walikota setempat dan peraturan perundangan yang terkait dengan kesling lainnya Lihat dokumen /buku Petugas : Kesling Petugas kesehatan lingkungan

2.3. Ada perencanaan kerja tahunan program kegiatan kesehatan lingkungan Definisi Operasional : 1. Perencanaan adalah merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang terhadap hal-hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, maka harus dilakukan secara sistematik, terorganisir dan dapat dilaksanakan sesuai kemampuan yang ada. 2. Puskesmas wajib membuat perencanaan kerja tahunan kegiatan kesehatan lingkungan, dalam rangka implementasi kebijakan puskesmas 3. Penyusunan rencana kerja tahunan meliputi: 1) Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan 2) Tujuan/Sasaran/target/indikator tiap jenis kegiatan 3) Jadwal pelaksanaan kegiatan 4) Tenaga yang akan melaksanakan kegiatan 5) Pencatatan dan pelaporan 6) Evaluasi kegiatan 7) Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

45 8) Pembiayaan untuk setiap jenis kegiatan Skor : ............... 0 = Tidak ada perencanaan kerja tahunan 1 = Ada perencanaan, memenuhi kriteria 1 4 2 = Ada perencanaan, memenuhi kriteria 1 5 3 = Ada perencanaan, memenuhi kriteria 1 6 4 = Ada perencanaan, memenuhi kriteria 1 7 5 = Ada perencanaan, memenuhi kriteria 1 8 Cara Pembuktian Dokumen (D) : a. Dokumen perencanaan b. Dokumen pencatatan & pelaporan c. Dokumen Evaluasi kegiatan Petugas Kesehatan LIngkungan

Observasi (O) Wawancara (W) 2.4.

: :

Ada anggaran biaya untuk melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan. Definisi Operasional (D.O) : Anggaran biaya adalah biaya yang dialokasikan untuk operasional kegiatan upaya kesehatan lingkungan tahunan Puskesmas Skor : ................. 0 = Tidak ada anggaran biaya 1 = Ada anggaran biaya, tetapi tidak untuk semua kegiatan program upaya kesling 2 = Ada anggaran untuk semua kegiatan upaya kesehatan lingkungan 3 = Ad. 2, Realisasi kegiatan dan anggaran < 50% 4 = Ad. 2, Realisasi kegiatan dan anggaran 51% - 90% 5 = Ad. 2, Realisasi kegiatan dan anggaran >91% Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. Anggaran/biaya operasional b. Perencanaan kerja tahunan c. Laporan kegiatan d. Laporan keuangan Petugas kesehatan lingkungan

2.5. Ada pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas Definisi Operasional (D.O) : 1. Pencatatan adalah rekapitulasi data kesehatan lingkungan yang telah dilaksanakan program kesehatan lingkungan 2. Pelaporan adalah analisis hasil pelaksanaan kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas yang dilakukan oleh program kesehatan lingkungan dikaitkan dengan target/indikator 3. Laporan lengkap berupa laporan bulanan, triwulan dan tahunan dilihat dari jenis laporan dan kelengkapannya 4. Ditindaklanjuti jika diinformasikan kepada pihak terkait untuk mendapatkan dukungan dan pemecahan masalah Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

46

Skor : .. 0 = Tidak ada pencatatan dan tidak ada pelaporan 1 = Ada pencatatan tidak ada pelaporan 2 = Ada pencatatan dan ada pelaporan tidak lengkap 3 = Ada pencatatan dan ada pelaporan lengkap 4 = Ad. 3, tidak ditindak lanjuti 5 = Ad. 3, ditindaklanjuti Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : a. Pencatatan(SP3) ,data primer b. Laporan bulanan, triwulan, tahunan c. Daftar hadir d. Notulen rapat Observasi (O) : -Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan

STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Petugas kesehatan lingkungan mempunyai kualifikasi sesuai ketentuan Parameter : 3.1. Ada kualifikasi tenaga kesehatan lingkungan, atas dasar pendidikan, pengalaman dan ketrampilan sesuai tugas dan jabatan atau profesinya. Definisi Operasinal (D.O) : 1. Sanitarian/ahli kesehatan lingkungan: adalah tenaga professional di bidang kesehatan lingkungan yang memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan lingkungan air, udara, tanah, makanan dan vector penyakit pada kawasan perumahan, tempat-tempat umum, tempat kerja, industri, transportasi dan matra.(KMK 373/2007 tentang Standar Profesi Sanitarian) 2. Kualifikasi pendidikan profesi sanitarian adalah Sekolah Pembantu Penilik Hygiene (SPPH), Akademi Kontrolir Kesehatan (AKK), Akademi Penilik Kesehatan (APK), Akademi Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi (APK-TS), Pendidikan Ahli Madya Kesehatan Lingkungan (PAM-KL), atau lulusan Pendidikan Tinggi yang menyelenggarakan Kesehatan Lingkungan. 3. Jabatan fungsional sanitarian terdiri dari sanitarian ahli dan sanitarian terampil: a. Sanitarian ahli terdiri dari: sanitarian muda/gol. III/c-d sanitarian pertama/gol. III/a-b b. Sanitarian Terampil terdiri dari: sanitarian penyelia/gol. III/c-d sanitarian pelaksana lanjutan/gol. III/a-b sanitarian pelaksana/gol. II/b-d sanitarian pelaksana pemula/gol. II/a Skor = ............. 0 = Pelaksana kesling bukan sanitarian. 1 = Pelaksana keslingsanitarian terampil/pelaksana pemula, pelaksana Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

47 2 3 4 5 = = = = Pelaksana kesling sanitarian terampil/pelaksana lanjutan Pelaksana kesling sanitarian terampil/penyelia Pelaksana kesling sanitarian ahli/pertama Pelaksana kesling sanitarian ahli/muda

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara (W)

: a. Ijazah b. SK Jabatan Fungsional c. SK/Surat Tugas (dokumen kepegawaian) d. Kurikulum vitae : : Petugas kesehatan lingkungan

STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Tersedia fasilitas dan peralatan yang diperlukan untuk kegiatan pengawasan kesehatan lingkungan. Parameter : 4.1. Tersedia peralatan monitoring kualitas kesehatan lingkungan Definisi Operasinal (D.O) : 1. Monitoring kualitas kesehatan lingkungan: adalah pengamatan secara berkala terhadap parameter lingkungan yang berpotensi menimbulkan dampak atau diduga ada hubungannya dengan kejadian penyakit dan gangguan kesehatan 2. Puskesmas harus memiliki Peralatan monitoring kualitas kesehatan lingkungan sesuai pedoman dan kriteria: A. Peralatan monitoring vector: 1. lalat/flygrill; 2. mirror inspection, perangkap monitor kecoa B. Peralatan monitoring tanah: 3. soil test kit C. Peralatan monitoring limbah cair: 4. thermometer, 5. DO meter, 6. pH meter, D. Peralatan monitoring air minum / air bersih: 7. pH meter, 8. comparator (sisa klor, Fe, Mn, NO3/NO2,pH). E. Peralatan monitoring udara: 9. sanitarian test kit, 10. sound lever meter, 11.lux meter, 12.anemometer, 13. hygrometer. F. Peralatan kualitas kesehatan lingkungan lainnya yang terkait 3. Peralatan kualitas kesehatan lingkungan harus berfungsi dengan baik (tidak dalam keadaan rusak) Skor = ............. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

48 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Puskesmas tidak memiliki peralatan monitoring kualitas kesling Punya 3 jenis peralatan monitoring kesling Punya 4- 6 jenis peralatan monitoring kesling Punya 7-9 jenis peralatan monitoring kesling Punya 10 -12 jenis peralatan monitoring kesling Punya>12 jenis peralatan monitoring kesling

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Peralatan monitoring kualitas lingkungan secara fisik dalam kondisi baik dan dapat dioperasionalkan. : Ruangan kerja / Lapangan : Petugas kesehatan lingkungan

4.2 Tersedia fasilitas sanitasi puskesmas yang memenuhi syarat kesehatanbaik secara kualitas maupun secara kuantitas. Definisi Operasional (D.O.) : A. Fasilitas sanitasi adalah fasilitas yang digunakan oleh pengunjung/karyawan puskesmas al meliputi (6 jenis) yaitu : 1. Kamar Mandi dan Jamban 2. Air Bersih 3. sarana pembuangan air limbah 4. sarana pengelolaan sampah 5. wastafel/tempat cuci tangan pakai sabun (CRPS) 6. fasilitas sanitasi dan keamanan lainnya (water tower, tabung pemadan kebakaran, genset) B. Fasilitas memenuhi syarat apabila : Kamar mandi dan Jamban: 1. Kamar mandi dan jamban harus terpisah antara laki-laki dan wanita 2. Tersedia air yang cukup dan sabun 3. Selalu terpelihara dan dalam keadaan bersih 4. Ada himbauan, slogan atau peringatan untuk memelihara kebersihan 5. Bebas dari perindukan vector 6. Jumlah Kamar mandi sesuai standar sesuai KMK 1428/2006 Yaitu: Jumlah kamar mandi dan jamban Non Rawat Inap: Bagi Karyawan : 1 Kamar Mandi & Jamban untuk 15 orang Bagi pengunjung : 1 Kamar Mandi & Jamban untuk 40 orang Jumlah kamar mandi dan jambanRawat Inap: Bagi Karywan : 1 Kamar Mandi & Jamban untuk 15 orang Bagi pengunjung : 3 Kamar Mandi & Jamban untuk 10 orang Air bersih: o Jumlah air bersih : PKM NRawat Inap : 15 - 20 liter/orang/hari PMK Rawat Inap : 15 - 20 liter/orang/hari (ditambah dengan 40-60 lt/org/hr) o Kualitas Air Bersih memenuhi syarat fisik, kimia dan bakteriologi sesuaiPMK 416/1990 o Sumber air bersih harus bebas dari sumber pencemar fisik, kimia dan biologis Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

49 Persyaratan sarana pembuangan air limbah, pengelolaan sampah, wastafel / tempat cuci tangan, dan fasilitas lainnya sesuai dengan KMK 1428/2006

Skor : ............... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak tersedia fasilitas sanitasi Tersedia fasilitas sanitasi (hanya 2 jenis) dan belum memenuhi syarat kesehatan. Tersedia fasilitas sanitasi (ada 3 sd 4 jenis ) dan blm memenuhi syarat kesehatan Tersedia fasilitas sanitasi (ada 5 sd 6 jenis ) dan belum memenuhi syarat kesehatan Tersedia fasilitas sanitasi 70 % dari 6 jenis fasilitas sanitasi, memenuhi syarat kesehatan Ada fasilitas sanitasi > 70% dari 6 jenis fasilitas sanitasi, memenuhi syarat kesehatan

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : : Dokumen (D) : a. Ratio fasilitas sanisati sesuai pengunjung /karyawan b. Hasil pemeriksaan laboratorium kualitas air bersih Observasi (O) : Ruangan kerja / Lapangan Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan 4.3. Tersedia fasilitas/sarana pembuangan air limbah medis Definisi Operasional (D.O) : 1. Sarana pembuangan air limbah medis adalah sarana pengolahan limbah cair Puskesmas yang biasanya meliputi proses pengolahan fisik, biologik dan atau kimia agar kualitas effluent limbah cair tersebut memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku sebelum dibuang ke badan air. 2. Tangki septik adalah tempat penampungan dan pengolahan limbah cair dengan proses biologik anaerob yang dikategorikan sebagai Unit kerja Pengolahan Air Limbah (IPAL) sederhana 3. Effluent adalah limbah cair yang keluar dari sarana pengolahan limbah cair dan akan dibuang ke tanah resapan atau badan air 4. KepMen LH Nomor 58 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit 5. Limbah cair adalah semua bahan buangan yang berbentuk cair yang kemungkinan mengandung mikroorganisme pathogen, bahan kimia beracun, dan radioaktivitas 6. Diambil secara rutin apabila limbah cair yang dihasilkan oleh puskesmas diperiksa setahun sekali dalam 3 tahun terakhir 7. Ditindaklanjuti apabila hasil pemeriksaan laboratorium air limbah tidak memenuhi syarat, dilakukan upaya perbaikan terhadap sarana tersebut

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

50

Skor : ............... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada fasilitas/sarana pembuangan air limbah medis Ada fasilitas pembuangan air limbah, tetapi tidak pernah diambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium Ada fasilitas pembuangan air limbah, diambil sampel untuk pemeriksaan lab, tetapi tidak rutin Ada fasilitas pembuangan air limbah, diambil sampel untuk pemeriksaan lab, dan dilaksanakan secara rutin Ada fasilitas pembuangan air limbah, diambil sampel untuk pemeriksaan lab, dilaksanakan secara rutin tetapi hasilnya tidak ditindak lanjuti Ada fasilitas pembuangan air limbah, diambil sampel untuk pemeriksaan lab, dilaksanakan secara rutin hasilnya ditindak lanjuti

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : a. Ada fasilitas/sarana pembuangan air limbah medis b. Dokumen hasil pemeriksaan laboratorium air limbah c. Dokumen upaya tindaklanjut (jika tdk memenuhi kesehatan) Observasi (O) : Lapangan Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan

syarat

4.4. Tersedia wadah/kontainer/kantong plastik/safety box untuk pengelolaan limbah medis padat yang memenuhi syarat kesehatan Definisi Operasional (D.O) : 1. Wadah/container/kantong plastic/safety box adalah tempat yg dipergunakan untuk menyimpan sampah medis padat sementara sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir 2. Limbah medis padat adalah limbah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, farmasi atau sejenisnya, pengobatan, yang menggunakan bahan beracun, infeksius, berbahaya 3. Limbah padat non medis adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan di luar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya 4. Sesuai standar jika wadah/container/kantong plastic/safety box memenuhi ketentuan/syarat-syarat sesuai peraturan yang berlaku(Kepmenkes 1204/Menkes/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit).

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

51 5. Pemusnahan secara aman adalah pemusnahan yang dilakukan sesuai pedoman/standar antara lain dengan melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang mempunyai izin khusus dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Skor : ................ 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada wadah sesuai standar Ada wadah plastiK bukan berwarna kuning untuk limbah infeksius, tidak ada wadah untuk limbah benda tajam Ada wadah plastik warna kuning tidak ada peringatan infeksius, tidak ada symbol infeksius, ada wadah untuk limbah benda tajam, tetapi bukan safety box Ada wadah plastik warna kuning ada peringatan infeksius, tidak ada symbol infeksius, ada wadah untuk limbah benda tajam, tetapi bukan safety box Ada wadah plastik warna kuning ada peringatan infeksius, ada symbol infeksius, ada wadah untuk limbah benda tajam, tetapi bukan safety box Ada wadah plastik warna kuning ada peringatan infeksius, ada symbol infeksius, ada wadah untuk limbah benda tajam, berupa safety box

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : a. Ada wadah limbah infeksius warna kuning, b. Ada wadah limbah infeksius dengan peringatan limbah infeksius c. Ada wadah limbah infeksius dengan simbul infeksius d. Ada wadah limbah benda tajam(safety box) denganperingatan limbah infeksius e. Ada wadah limbah benda tajam (safety box) dengan simbulinfeksius Observasi (O) : Lapangan Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan 4.5. Ada proses manajemen faktor risiko kegiatan klinik sanitasi di puskesmas Definisi Operasional (D.O.) : 1. Konseling: adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien 2. Ruang konseling: adalah ruang khusus atau ruang terpadu yang dipergunakan untuk sarana konseling pasien/klien penyakit berbasis lingkungan 3. Penyakit berbasis lingkungan: adalah penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang tidak memenuhi syarat 4. Pasien: adalah orang yang menderita penyakit berbasis lingkungan 5. Klien: adalah pasien lama atau orang sehat yang berkunjung ke ruang konseling, untuk mendapatkan penjelasan teknis sarana kesehatan lingkungan 6. Ada analisis data: apabila ada data tabel, grafik, peta factor risiko Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

52 7. Klinik sanitasi merupakan proses manajemen factor risiko kesehatan lingkungan yang dilakukan di dalam gedung dan di luar gedung puskesmas terhadap pasien/klien penyakit berbasis lingkungan untuk mengetahui gambaran factor risiko kesehatan lingkungan 8. Tindaklanjut adalah berupa perbaikan sarana sanitasi pasien/klien

Skor : ............... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada proses manajemen factor risiko Ada manajemen factor risiko dan ada konseling Ada manajemen factor risiko dan ada konseling, tidak ada kunjungan lapangan Ada manajemen factor risiko dan ada konseling, ada kunjungan lapangan, tidak ada pengolahan data Ada manajemen factor risiko dan ada konseling, ada kunjungan lapangan, ada pengolahan data, namun belum ditindak lanjuti Ada manajemen factor risiko dan ada konseling, ada kunjungan lapangan, ada pengolahan data, ditindak lanjuti

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. Register pasien/klien b. Tabel, grafik, peta faktor risiko c. Berita acara perbaikan sarana sanitasi pasien/klien d. Dokumentasi Ruangan kerja / Lapangan Petugas kesehatan lingkungan

STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Tersedia kebijakan, peraturan, ketentuan tertulis, dan pedoman tertulis yang diterapkan untuk mencapai kondisi kesehatan lingkungan yang optimal di Puskesmas. Parameter : 5.1. Ada standar operasional prosedur (SOP) /Instruksi Kerja terhadap fasilitas sanitasi puskesmas dan di tempat yang mudah dilihat. Definisi Operasional (D.O) : 1. Setiap fasilitas sanitasi puskesmas wajib dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP)/Instruksi Kerja yang berkaitan dengan upaya kesehatan lingkungan 2. Dapat berupa SOP mengenai : a) Tata cara pengambilan sampel air b) Tata cara pengambilan sampel makanan c) Mekanisme kerja Klinik Sanitasi Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

53 d) Pelaksanaan Inspeksi Sanitasi e) Pengelolaan limbah medis f) Tata cara pembuatan kompos g) Penggunaan peralatan pengawasan kualitas lingkungan h) Penatalaksanaan keracunan pangan 3. SOP harus dikomunikasikan/ditempel di tempat yang mudah dilihat

Skor 0 1 2 3 4 5

: .................. = Tidak ada SOP = Ada 1 SOP = Ada 2 SOP = Ada 3 - 4 SOP = Ada 5 SOP = Ada > 5 SOP

Catatan :

Cara pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Dokumen SOP Observasi (O) : -Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan 5.2. Ada kebijakan, ketentuan tertulis pengelolaan limbah medis padat. Definisi Operasional (D.O.) : 1. Kebijakan adalah ketentuan tertulis pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah medis Puskesmas berupa pedoman dan SOP dalam pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pembuangan dan pemusnahan limbah medis padat di Puskesmas yang mengacu pada: a. Pedoman Pengelolaan Limbah Medis dan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1428/Menkes/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas b. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit c. Modul Sterilisasi dan Pengelolaan limbah di Puskesmas, Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2000 2. Pengelolaan limbah medis meliputi: a. Pemilahan limbah medis padat b. Pengumpulan limbah medis padat c. Pengangkutan limbah medis padat d. Pemusnahan limbah medis padat dilakukan dengan insinerator. e. MOU dengan pihak pengelola limbah medis yang sudah mempunyai legal aspek 3. Prosedur adalah serangkaian tindakan atau operasi yang harus dijalankan sesuai standar agar selalu memperoleh hasil yang sama 4. Ditindaklanjuti seluruhnya apabila pengelolan limbah medis yang dilakukan dimulai sejak timbulnya limbah sampai pemusnahan limbah tersebut secara aman sesuai prosedur 5. Ditindak lanjuti sebagian apabila ada proses pengelolaan limbah medis yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

54 Skor : ............ 0 = Tidak ada kebijakan 1 = Ada kebijakan, tidak ada prosedur pengelolaan limbah padat 2 = Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, disosialisasikan 3 = Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah belum ditindak lanjuti 4 = Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah sudah ditindak lanjuti sebagian 5 = Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah sudah ditindak lanjuti seluruhnya Catatan :

namun belum disosialisasikan disosialisasikan disosialisasikan

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : a. dokumen kebijakan pengelolaan limbah medis padat b. Daftar hadir c. Notulen rapat d. Prosedur pengelolaan limbah medis padat e. MOU dengan pihak ketiga Observasi (O) : Ruang kerja/Lapangan Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan 5.3. Ada kebijakan yang diterapkan dalam kegiatan pengelolaan limbah cair. Definisi Operasional (D.O.) : 1. Kebijakan adalah ketentuan tertulis pelaksanaan kegiatan pengelolaan limbah medis cair Puskesmas berupa pedoman dan SOP dalam pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pembuangan dan pemusnahan limbah medis cair di Puskesmas yang mengacu pada: a. Pedoman Pengelolaan Limbah Medis dan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1428/Menkes/SK/XII/2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas b. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1404/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit c. Modul Sterilisasi dan Pengelolaan limbah di Puskesmas, Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2000 2. Pengelolaan limbah medis meliputi: a. Pemilahan limbah medis cair b. Pengumpulan limbah medis cair c. Pengangkutan limbah medis cair d. Pemusnahan limbah medis cairdilakukan dengan insinerator. e. MOU dengan pihak pengelola limbah medis yang sudah mempunyai legal aspek 6. Prosedur adalah serangkaian tindakan atau operasi yang harus dijalankan sesuai standar agar selalu memperoleh hasil yang sama 7. Ditindaklanjuti seluruhnya apabila pengelolan limbah medis yang dilakukan dimulai sejak timbulnya limbah sampai pemusnahan limbah tersebut secara aman sesuai prosedur 8. Ditindak lanjuti sebagian apabila ada proses pengelolaan limbah medis yang dilakukan tidak sesuai dengan prosedur Skor : ............ 0 1 = = Tidak ada kebijakan Ada kebijakan, tidak ada prosedur pengelolaan limbah padat

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

55 2 3 4 5 = = = = Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, belum disosialisasikan Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah disosialisasikan Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah disosialisasikan , ditindaklanjuti sebagian Ada kebijakan, ada prosedur pengelolaan limbah padat, sudah disosialisasikan , ditindaklanjuti seluruhnya

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : a. dokumen kebijakan pengelolaan limbah medis padat, Daftar hadir, Notulen rapat b. Prosedur pengelolaan limbah medis padat c. MOU dengan pihak ketiga Observasi (O) : Ruang kerja/Lapangan Wawancara (W) : Petugas kesehatan lingkungan 5.4 Ada ketentuan tertulis tentang larangan merokok di lingkungan puskesmas Definisi Operasional (D.O) : 1. Larangan merokok adalah himbauan/ajakan untuk tidak merokok yang ditetapkan oleh pimpinan puskesmas bagi semua orang yang berada di lingkungan puskesmas. 2. Larangan merokok ini harus disebarluaskan agar diketahui dan dipatuhi semua karyawan dan pengunjung puskesmas yang ditempelkan secara jelas ditujukan kepada semua orang termasuk karyawandan pengunjung puskesmas 3. Sosialisasi dilakukan secara rutin apabila sosialisasi tersebut dilakukan setiap 3 bulan pertahun 4. Sosialisasi dilakukan secara rutin apabila sosialisasi tersebut tidak dilakukan setiap 3 bulan pertahun Skor 0 1 2 3 4 5 ............. = Tidak ada ketentuan tertulis = Ada ketentuantertulis, tidak disebarluaskan = Ada ketentuantertulis, disebarluaskan = Ada ketentuan tertulis, disebarluaskan, ada sosialisasi namun tidak rutin = Ada ketentuan tertulis, disebarluaskan, ada sosialisasi rutin = Ada ketentuan tertulis, disebarluaskan, ada sosialisasi rutin, kegiatan tercantum dalam perencanaan

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. SK larangan tidak merokok b. Poster / stiker dilarang merokok c. Dokumen perencanaan Lapangan Petugas kesehatan lingkungan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

56 STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Petugas kesehatan lingkungan berhak mendapatkan kesempatan pengembangan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan melalui pendidikan dan pelatihan. Parameter : 6.1. Ada pengembangan kompetensi petugas kesehatan lingkungan dalam bentuk pendidikan lanjutan, pelatihan, dan pertemuan ilmiah. Definisi Operasional (D.O.) : 1. Pertemuan Ilmiah adalah pertemuan (seminar, workshop, lokakarya) yg pernah diikuti oleh petugas kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan kesehatan lingkungan 2. Pendidikan Lanjutan adalah jenjang pendidikan formal lanjutan yg diikuti oleh staf kesehatan lingkungan dan berkaitan dengan program kesehatan lingkungan. 3. Pelatihan adalah Pelatihan yg pernah diikuti yg berkaitan dgn kesehatan lingkungan yg diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan/ pihak lain yang mempunyai kemampuan menyelenggarakan pelatihan baik diklat teknis dan diklat fungsional. Skor : ............... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Petugas kesling belum pernah mengikuti pendidikan lanjutan, pelatihan, dan pertemuan ilmiah Petugas kesling mengikuti pertemuan ilmiah Petugas kesling mengikuti pelatihan teknis bidang kesling Petugas kesling mengikuti pelatihan & pertemuan ilmiah. Ad. 3, dan mengikuti pendidikan lanjutan bukan bidang kesling Ad. 3, mengikuti pendidikan lanjutan bidang kesling

Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ijazah, Sertifikat dan Makalah, Jadwal pertemuan. : -: Petugas kesehatan lingkungan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

57 STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Adanya kebijakan tentang pelaksanaan evaluasi dan pengendalian mutu kegiatan kesehatan lingkungan di Puskesmas. Parameter : 7.1. Ada evaluasi kinerja program upaya kesehatan lingkungan diluar gedung puskesmas Definisi Operasional (D.O) : 1. Evaluasi kinerja adalah laporan/mengenai gambaran kecenderungan cakupan program kesehatan lingkungan di wilayah kerja puskesmas dalam kurun waktu 1 tahun dibandingkan dengan target cakupan 2. Jangkauan pengawasan sarana kesling adalah persentase pengawasan sarana kesehatan lingkungan yang diperiksa dibandingkan dengan jumlah sarana yang ada atau terdaftar di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun 3. Efektifitas pengawasan sarana kesling adalah persentase pengawasan sarana kesehatan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatandibandingkan dengan jumlah sarana yang diperiksa di wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu satu tahun 4. Ruang lingkup cakupan upaya kesehatan lingkungan antara lain: 1) Cakupan Pengawasan Rumah Sehat 2) Cakupan Pengawasan Sarana Air Bersih 3) Cakupan Pengawasan Jamban 4) Cakupan Pengawasan SPAL (Sarana Pembuangan Air Limbah) 5) Cakupan Pengawasan tempat pengelolaan sampah akhir (TPA) 6) Cakupan Pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU) 7) Cakupan Pengawasan Tempat Pengolahan Makanan (TPM) 8) Cakupan Pengawasan Perusahaan Industri Rumah Tangga (PIRT) 9) Cakupan pengawasan Paparan Pestisida 10) Cakupan Kegiatan Klinik Sanitasi Skor :..................... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada evaluasi kinerja upaya kesling Ada evaluasi jangkauan pengawasan sarana kesling, belum dianalisis Ada evaluasi jangkauan pengawasan sarana kesling, sudah dianalisis Ada evaluasi efektifitas pengawasan sarana kesling, belum dianalisis Ada evaluasi efektifitas pengawasan sarana kesling, sudah dianalisis Ad. 2, dan Ad. 4

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara

a. Dokumen perencanaan program kesling b. LaporanSP3 c. Data analisis jangkauan pengawasan d. Data analisis efektifitas pengawasan e. Dokumen tindakan lanjut pengawasan : Ruang kerja/lapangan Petugas Kesehatan Lingkungan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

58 7.2 Ada laporan kinerja upaya kesehatan lingkungan Definisi Operasional (D.O) : Laporan upaya kesehatan lingkungan dibuat secara berkala bulanan, triwulan dan tahunan Ditindaklanjuti adalah ada upaya perbaikan dan peningkatan pengawasan dan pembinaan yang dilakukan untuk mencapai target dan tujuan program upaya kesling Skor : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan. Ada laporan tahunan, tidak dilaksanakan secara rutin. Ada laporan tahunan, dilaksanakan secara rutin Ad. 2, tetapi tidak di analisis. Ad. 2, tetapi belum ditindak lanjuti. Ad.2, Sudah ditindak lanjuti.

Catatan :

Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W) 7.3

: :

a. Arsip laporan SP3kesling , 2 tahun terakhir b. Laporan tahunan kesling, 2 tahun terakhir c. Grafik, Tabel, pemetaan factor risiko kesling Petugas kesehatan lingkungan

Ada audit sanitasi puskesmas secara berkala untuk pengendalian mutu Definisi Operasional (D.O) : 1. Audit sanitasi: adalah proses observasi terhadap parameter kesehatan lingkungan 2. Audit sanitasi dilaksanakan secara berkala minimal 6 (enam) bulan sekali 3. Sasaran audit sanitasi adalah persyaratan kesehatan lingkungan puskesmas di dalam gedung dan di luar gedung/sekitar gedung puskesmas 4. Instrumen audit sanitasi menggunakan instrument inspeksi sanitasi (IS) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RINomor 1428/Menkes/SK/XII/2006 tentang PedomanPenyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas 5. Acuan Audit sanitasi puskesmas adalah Keputusan Menteri Kesehatan RINomor 1428/Menkes/SK/XII/2006 tentang PedomanPenyelenggaraan Kesehatan Lingkungan Puskesmas Skor 0 1 2 3 4 5 : ............... = Tidak ada audit sanitasi puskesmas = Ada audit sanitasi puskesmas, tidak dilaksanakan secara berkala = Ada audit sanitasi puskesmas, dilaksanakan secara berkala = Ad. 2, hasilnya sudah dianalisis = Ad. 3, tetapi belum dilakukan tindakan perbaikan = Ada audit sanitasi puskesmas, dilaksanakan secara berkala, hasilnya dianalisis dan sudah dilakukan tindakan perbaikan

Catatan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

59 Cara Pembuktian (C) : Dokumen (D) : :

Observasi (O) Wawancara (W) 7.4

: :

a. Data audit sanitasi puskesmas b. Instrumen audit sanitasi c. Jadwal audit sanitasi puskesmas d. Analisis data e. Dokumen tindakan perbaikan sanitasi Ruang kerja/lapangan Petugas kesehatan lingkungan

Setiap usaha dan/atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi UKL-UPLwajib membuat SPPL, termasuk puskesmas Definisi Operasional (D.O) : 1. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yangtidak berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 2. Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut SPPL, adalah pernyataan kesanggupan dari penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup atas dampak lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatannya di luar usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau UKL-UPL. 3. Dilaksanakan secara rutin jika, dilaksanakan pemantauan dan pengelolaan sekali dalam kurun waktu satu tahun 4. PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2010 tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup Dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup Dan Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Dan Pemantauan Lingkungan Hidup. 5. Pemantauan dan pengelolaan lingkungan dilakukan secara rutin apabila dilaksanakan setahun sekali dalam 3 tahun terakhir 6. Pemantauan dan pengelolaan lingkungan dilakukan secara tidak rutin apabila dilaksanakan tidak setahun sekali dalam 3 tahun terakhir Skor : ................. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada dokumen UKL UPL atau SPPL Ada dokumen UKL UPL atau SPPL Ad. 1, tidak dilakukan pemantauan dan pengelolaan lingkungan Ad. 1, dilakukan pemantauan dan pengelolaan lingkungan, tetapi tidak rutin Ad. 1, dilakukan pemantauan dan pengelolaan lingkungan, secara rutin Ad. 4, tidak ada pengaduan dari masyarakat

Catatan :

Cara Pembuktian (C) Dokumen (D)

: :

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

a. Dokumen UKL UPL b. Dokumen SPPL c. Laporan pemantauan/pengelolaan lingkungan 3 tahun terakhir Ruang kerja/lapangan Petugas kesehatan lingkungan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

60

Lembar

REKOMENDASI KESLING

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

61

lembar NILAI KESLING

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

62

INSTRUMEN 4

PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT DI PUSKESMAS


Kab./Kota Puskesmas Status Nama Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

Upaya pembinaan gizi masyarakat sebagaimana disebutkan di dalam Undang-undang No.36 tahun 2009 bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses, mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan dan teknologi. STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Pembinaan Gizi Masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat terutama ibu hamil, bayi dan balita serta usia produktif. Parameter : 1.1 Tujuan dan upaya pembinaan gizi masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan pembangunan kesehatan di wilayah puskesmas sebagaimana tertuang dalam Visi dan Misi puskesmas Definisi Operasional Ada Tujuan dan upaya pembinaan gizi yang mendukung Visi dan Misi Puskesmas diketahui oleh petugas, dan dievaluasi URAIAN Tujuan Kegiatan Program Gizi yg dilaksanakan Diketahui oleh petugas Dievaluasi Skor 0 = 1 = 2 3 4 = = = PENJELASAN Tujuan program gizi tertuang dalam strategi puskesmas Sesuai masalah dan kebutuhan puskesmas . sesuai dengan kegiatan yang diluncurkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota. Yaitu Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan petugas lain (KIA, Promkes, surveilan, pengelola obat) Dilakukan penilaian minimal setahun sekali

: .. Tidak ada tujuan dan upaya Tidak ada tujuan, ada kegiatan sesuai dengan alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota , diketahui oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Tidak ada tujuan, ada kegiatan sesuai dengan alokasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota , diketahui oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan oleh petugas lain Ada tujuan, ada kegiatan sesuai alokasi Dinas Kesehatan Kab/kota dan sesuai dengan masalah / kebutuhan puskesmas, diketahui hanya oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG). Ada tujuan, ada kegiatan sesuai alokasi Dinas Kesehatan Kab/kota dan sesuai dengan masalah / kebutuhan puskesmas, diketahui oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan petugas lain

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

63 5 = Ada tujuan, ada kegiatan sesuai alokasi Dinas Kesehatan Kab/kota dan dan sesuai dengan masalah / kebutuhan puskesmas, diketahui oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) ,petugas lain, dan di evaluasi :

Catatan

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) :

Wawancara (W)

: Lihat dokumen master plan puskesmas Lihat dokumen kegiatan gizi di puskesmas Lihat dokumen kegiatan dari Kab/Kota (juknis) Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) , petugas lain (KIA, Promkes, Surveilan, pengelola obat)

1.2

Upaya pembinaan gizi masyarakat dilaksanakan dengan kerjasama Lintas Sektor. Definisi Operasional Kerjasama Lintas Sektor meliputi seluruh unsur manajemen ( perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi ) URAIAN Perencanaan Pelaksanaan PENJELASAN Adanya rencana kegiatan gizi yang melibatkan Lintas Sektor Ada kegiatan gizi yang melibatkan Lintas Sektor misalnya : Kegiatan Pemantauan Pertumbuhan melibatkan TP PKK Kegiatan PMT Pemulihan melibatkan TP PKK, Pertanian Dll Pemantauan kegiatan yang melibatkan Lintas Sektor misalnya Supervisi terpadu (Pembinaan ke posyandu, kunjungan rumah kasus gizi buruk) Evaluasi hasil kegiatan gizi pada forum Lintas Sektor misalnya Rakor kecamatan, Rapat tingkat desa/ kelurahan (minggon),Rapat khusus Hasil evaluasi ditindak lanjuti bersama

Monitoring

Evaluasi Tindak lanjut Skor 0 1 2 3 4 5 = = = = = =

: . Tidak ada kerjasama Lintas Sektor Kerjasama hanya pada salah satu unsur manajemen Kerjasama yang dilakukan meliputi 2 unsur manajemen kerjasama yang dilakukan meliputi 3 unsur manajemen Kerjasama yang dilakukan meliputi semua unsur manajemen Kerjasama yg dilakukan meliputi semua unsur manajemen disertai tindak lanjut :

Catatan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

64 Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D)

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Lihat POA kegiatan gizi Lihat Jadwal kegiatan gizi Lihat / cek undangan rapat (arsip surat masuk dan surat keluar) Periksa laporan hasil kegiatan (hasil supervisi, monev dll) Cek bahan/ materi rapat, Cek notulen Tenaga Pelaksana Gizi (TPG)

STANDAR 2 : ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Upaya pembinaan gizi di Puskesmas dikelola dalam kesatuan manajemen Puskesmas yang meliputi aspek perencanaan, penggerakkan pelaksanaan dan monitoring evaluasi. Pengelola upaya pembinaan gizi di Puskesmas adalah tenaga pelaksana gizi Parameter : 2.1 Agar upaya pembinaan gizi di Puskesmas terlaksana secara efektif serta mencapai tujuan , maka sebagai acuannya Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) membuat perencanaan Definisi Operasional Perencanaan upaya pembinaan gizi meliputi rencana pelaksanaan kegiatan dalam tahun berjalan, rencana kebutuhan Obat Program Gizi (Vit-A, Tab Fe, Mineral Mix, Taburia ), rencana kebutuhan KMS/ buku KIA dan rencana kebutuhan biaya untuk menunjang tugas pokok yang diketahui oleh kepala puskesmas. Uraian Lengkap Penjelasan Rencana yang dibuat mencakup rencana pelaksanaan, obat program, KMS/Buku KIA, kebutuhan biaya. Dokumen rencana diketahui oleh ka Puskesmas Rencana yang dibuat mencakup semua butir diatas, tetapi tidak diketahui oleh kepala puskesmas atau Rencana yang dibuat tidak mencakup semua butir diatas tetapi diketahui oleh kepala puskesmas Seluruh kegiatan yang direncanakan telah dilaksanakan sesuai waktu yang dijadwalkan Seluruh kegiatan yang direncanakan telah dilaksanakan tetapi ada pergeseran waktu ATAU Bila ada satu atau lebih kegiatan yang tidak dilaksanakan Kepala puskesmas melakukan penilaian terhadap pelaksanaan rencana yang telah dibuat oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) sekurang-kurangnya satu tahun sekali

Tidak lengkap

Pelaksanaan ssesuai pelaksanaan belum sesuai Dievaluasi

Skor : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada perencanaan Ada perencanaan , tidak lengkap, pelaksanaan belum sesuai Ada perencanaan , tidak lengkap , pelaksanaan sesuai Ada perencanaan , lengkap , pelaksanaan belum sesuai Ada perencanaan , lengkap, pelaksanaan sesuai Ada perencanaan , lengkap, pelaksanaan sesuai dan dievaluasi

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

65 Catatan :

Cara pembuktian : Dokumen : Lihat/ cek dokumen rencana kegiatan, dokumen hasil kerja, laporan tahunan, dan catatan hasil evaluasi yang dibuat oleh kepala Puskesmas Wawancara : Kepala puskesmas dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) 4.2 Kegiatan perbaikan gizi di puskesmas dikelola dan dilengkapi dengan administrasi berupa dokumen pencatatan yang akan digunakan sebagai bahan pelaporan

Definisi Operasional Administrasi pencatatan yang berhubungan dengan kegiatan perbaikan gizi di Puskesmas meliputi; pemantauan pertumbuhan , distribusi kapsul Vitamin-A , distribusi Tablet Fe , ASI Eksklusif dan balita gizi buruk mendapat perawatan. Minimal untuk satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan Uraian Pencatatan Penjelasan Catatan dalam bentuk buku/ disket atau perangkat lainnya meliputi hasil pemantauan pertumbuhan, distribusi Vitamin-A , distribusi tablet Fe, ASI Eksklusif dan balita gizi buruk mendapat perawatan. Sesuai standar Pencatatan tsb terdiri dari Pemantauan pertumbuhan meliputi S.K,D ,N, BGM dan 2 T Distribusi Vitamin-A untuk bayi dan Anak dan ibu nifas Distribusi tablet Fe untuk ibu hamil ASI Eksklusif minimal pemantauan individu tiap bulan /kohort ASI Balita gizi buruk mendapat perawatan (daftar nama balita gizi buruk lama dan baru , tanggal lahir , tanggal ditemukan, BB, TB, intervensi yang diberikan, perkembangan BB) Lengkap Bila ada semua catatan sebagaimana dimaksud pada butir diatas untuk satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan Kurang Ada pencatatan untuk tahun berjalan sampai dengan 1 bulan sebelum lengkap penilaian akreditasi Ada pencatatan hanya untuk satu tahun sebelumnya atau Tidak lengkap Ada pencatatan hanya beberapa bulan pada tahun berjalan Skor : . 0 1 2 3 4 5 = Tidak ada pencatatan = Ada pencatatan tidak sesuai standar dan tidak lengkap = Ada pencatatan tidak sesuai standar, kurang lengkap, = Ada pencatatan , sesuai standar, tidak lengkap = Ada pencatatan sesuai standar , kurang lengkap = Ada pencatatan sesuai standar dan lengkap, Catatan / Keterangan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

66 Cara pembuktian : Dokumen : Lihat/ cek dokumen pencatatan kegiatan perbaikan gizi tahun lalu dan tahun yang sedang berjalan Wawancara : Kepala puskesmas dan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) 2.3 Kegiatan perbaikan gizi di puskesmas dikelola dan dilengkapi dengan administrasi berupa dokumen laporan Definisi Operasional Administrasi pelaporan yang berhubungan dengan kegiatan perbaikan gizi di puskesmas dibuat secara rutin, dikirim tepat waktu dan arsipnya lengkap minimal untuk satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan Uraian Pelaporan Penjelasan Laporan bulanan hasil pemantauan pertumbuhan, distribusi Vitamin-A , distribusi tablet Fe, ASI Eksklusif, dan balita gizi buruk mendapat perawatan (PMT) Ada arsip laporan untuk satu tahun sebelumnya dan tahun berjalan yang ditandatangani oleh kepala puskesmas. Ada arsip laporan lengkap, tapi tidak diketahui oleh kepala puskesmas, atau Ada laporan tidak lengkap. Laporan sebagaimana dimaksud pada butir diatas, dibuat setiap bulan. Dikirim ke kabupaten/kota setiap tanggal 5 bulan berikutnya.

Lengkap Tidak lengkap

Secara Rutin Dikirim Tepat waktu Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = =

Tidak ada laporan Ada laporan, tidak lengkap Ada laporan, tidak lengkap, dikirim tidak tepat waktu Ada laporan, tidak lengkap, dikirim tepat waktu Ada laporan, lengkap, dikirim tidak tepat waktu Ada laporan, lengkap, dikirim tepat waktu

Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen : Lihat / cek dokumen /arsip pelaporan, surat pengantar pengiriman laporan Wawancara : Tenaga Pelaksana Gizi (TPG)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

67 STANDAR 3 : STAF DAN PIMPINAN Program perbaikan gizi di Puskesmas dikoordinir oleh seorang Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) , bekerjasama dengan lintas program (bidan, perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya yang ada di puskesmas) dan dipimpin oleh kepala puskesmas Parameter : 3.1. Pengelola Program Gizi Puskesmas adalah tenaga yang mempunyai kemampuan teknis /manajerial bidang gizi yang ditugaskan oleh kepala puskesmas untuk mengkoordinir (menjadi koordinator) kegiatan perbaikan gizi di wilayah puskesmas yang biasa disebut Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Definisi Operasional Tenaga yang mempunyai kemampuan teknis /manajerial bidang gizi adalah tenaga yang mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai standar , berpengalaman , dan telah mengikuti pelatihan teknis Uraian Latar belakang pendidikan sesuai standar Berpengalaman Penjelasan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas mempunyai kualifikasi pendidikan D-1 Gizi/ D-3 Gizi/D-4 Gizi/S-1 Gizi Sudah bekerja di Puskesmas atau di institusi yang memberikan pelayanan gizI Pelatihan yang diikuti dapat berupa pelatihan teknis /fungsional, magang, seminar atau lokakarya

Pelatihan

Skor = . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Latar belakang pendidikan tidak sesuai standar, tidak berpengalaman Latar belakang pendidikan tidak sesuai standar, berpengalaman Latar belakang pendidikan sesuai standar, tidak berpengalaman, tidak pernah ikut latihan Latar belakang pendidikan sesuai standar, tidak berpengalaman, pernah ikut latihan Latar belakang pendidikan sesuai standar, berpengalaman, tidak pernah ikut latihan Latar belakang pendidikan sesuai standar, berpengalaman, pernah ikut latihan

Catatan :

Cara Pembuktian Dokumen = Lihat / cek ijazah, SK pengangkatan Pegawai, sertifikat pelatihan, surat keterangan bukti kerja Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

68 3.2 Kepala Puskesmas bertanggung jawab terhadap kelancaran tugas dan kegiatan program perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas yang dikoordinir oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG). Definisi Operasional (DO) : Kepala puskesmas bertanggung jawab terhadap kelancaran tugas dan kegiatan program perbaikan gizi : artinya mengesahkan/ menetapkan uraian tugas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan secara berkala memantau pelaksanaan dan hasil kerja Tenaga Gizi Puskesmas Uraian Disahkan/ditetapkan Penjelasan Ada dokumen Uraian Tugas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) yang ditandatangani oleh kepala puskesmas Tugas yang dilaksanakan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan hasilnya sesuai ,di tandatangani oleh kepala puskesmas rutin setiap bulan Tugas yang dilaksanakan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan hasilnya sesuai, tapi tidak setiap bulan di tandatangani oleh kepala puskesmas Tugas yang dilaksanakan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan hasilnya tidak semuanya sesuai, di tandatangani oleh kepala puskesmas

Dipantau setiap bulan

Dipantau tidak setiap bulan Tidak ipantau

Skor 0 1 2 3 4 5 = = = = = =

: Tidak ada Uraian Tugas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Ada Uraian Tugas, tidak disahkan / ditetapkan oleh kepala puskesmas Ada uraian tugas , disahkan/ ditetapkan oleh kepala puskesmas Ada Uraian Tugas, disahkan/ ditetapkan oleh kepala puskesmas, tidak dipantau setiap bulan Ada Uraian Tugas, disahkan/ ditetapkan oleh kepala puskesmas, dipantau tidak setiap bulan Ada Uraian Tugas, disahkan/ditetapkan oleh kepala puskesmas, dipantau rutin setiap bulan

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen = Uraian Tugas Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) , Buku catatan kegiatan TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG), arsip laporan bulanan Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan kepala puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

69 3.3 Agar kegiatan yang dilaksanakan oleh TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) sesuai dengan tupoksinya , maka sebagai pemimpin dalam hal ini kepala puskesmas harus melakukan pembinaan untuk perbaikan kinerja TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) tsb. Definisi operasional : Pembinaan utk perbaikan kinerja TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) adalah pembinaan yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan melalui pertemuan lintas program di puskesmas dan atau pembinaan langsung (perorangan) Uraian Rutin Tidak Rutin Berkesinambungan Penjelasan Pembinaan yang dilakukan secara teratur/berkala sekurangkurangnya tiga bulan sekali Pembinaan dilakukan secara tidak teratur dan atau diadakan sewaktu-waktu Materi pembinaan ke- II dan seterusnya dilakukan berdasarkan hasil pembinaan sebelumnya (mengevaluasi hasil /melihat tindak lanjut pembinaan sebelumnya) bila diperlukan ditambah dengan hal-hal penting lain Materi pembinaan ke- II dan seterusnya tidak ada hubungannya dengan hasil pembinaan yang dilakukan sebelumnya TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG) melakukan tidak lanjut hasil pembinaan

Tidak Berkesinambungan Ditindak Lanjuti

Skor = . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada pembinaan Ada pembinaan , tidak rutin ,tidak berkesinambungan Ada pembinaan, tidak rutin , berkesinambungan Ada pembinaan, tidak rutin, berkesinambungan, ditindak lanjuti Ada pembinaan , rutin , berkesinambungan, tidak ditindak lanjuti Ada pembinaan rutin, berkesinambungan, ditindak lanjuti

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen = Buku catatan, dokumen pencatatan tentang pembinaan kepala puskesmas kepada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan kepala puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

70 STANDAR 4 : FASILITAS dan PERALATAN Upaya pembinaan gizi Masyarakat di puskesmas dilaksanakan didalam dan diluar gedung puskesmas . Agar upaya tsb dapat dilaksanakan dengan baik ,dan sesuai dengan rencana perlu dilengkapi dengan fasilitas , peralatan dan obta program gizi yang cukup (sesuai kebutuhan) Parameter 4.1 Pelayanan gizi di dalam gedung puskesmas memerlukan ruangan yang nyaman untuk melakukan konseling, penyuluhan kelompok, dan deteksi dini tumbuh kembang balita. Definisi operasional : Ruangan yang nyaman untuk melakukan konseling , penyuluhan kelompok, dan deteksi dini tumbuh kembang balita di puskesmas adalah ruangan yang bersih, ada ventilasi , cukup untuk menyimpan meja dan 2 kursi serta rak atau lemari untuk menyimpan peralatan Uraian Ruangan bersih Ruangan cukup luas Ruangan ada ventilasi Skor :. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada ruang khusus Ada ruangan khusus , ada meja dan 2 kursi, tetapi kotor, tidak ada ventilasi ,sempit Ada ruangan khusus kotor , ada meja dan 2 kursi, tidak ada ventilasi , cukup luas Ada ruangan khusus bersih, ada meja dan 2 kursi, tdk ada ventilas, sempitt Ada ruangan khusus ,bersih, ada meja dan 2 kursi , ada ventilasi, sempit Ada ruangan khusus, bersih, ada meja & 2 kursi, ada ventilasi dan cukup luas Penjelasan Tersedia tempat sampah dan tidak ada sampah yang berceceran Cukup untuk satu meja tulis, dua kursi, dan 1 rak/ lemari untuk menyimpan alat /arsip Ada sirkulasi udara

Catatan :

Cara Pembuktian : Observasi = Ruang konseling , ruang deteksi dini tumbuh kembang balita , ruang penyuluhan Kelompok, Jadwal Konseling Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan Kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

71 4.2 Pelayanan gizi di dalam gedung puskesmas memerlukan peralatan yang lengkap untuk melakukan konseling, penyuluhan kelompok, dan deteksi dini tumbuh kembang balita. Definisi operasional Peralatan yang lengkap untuk melakukan konseling , penyuluhan kelompok, dan deteksi dini tumbuh kembang balita, di puskesmas adalah peralatan meja dan 2 kursi, Antropometri, media KIE, APE (SIDTK Kit ) Uraian Alat Antropometri Media KIE Penjelasan Alat antropometri ( timbangan bayi, timbangan detecto, alat ukur panjang dan tinggi badan), Lingkar Lengan Atas Media KIE ( food model, kit konseling menyusui, leaflet konseling, KMS/Buku KIA ) APE (SIDTK Kit) Pencatatan /Pelaporan ( Buku pencatatan , formulir antropometri WHO-2005) dan standar

APE (SIDTK Kit) Pencatatan Pelaporan

Skor : 0 1 2 3 4 5 : Tidak ada peralatan : Ada alat tapi tidak lengkap : Hanya salah satu jenis alat yang lengkap : ada 2 kelompok /jenis alat yang lengkap : Ada 3 kelompok /jenis alat yang lengkap : Semua peralatan ada, lengkap sesuai DO dan Berfungsi

Catatan :

Cara pembuktian : Dokumen : daftar inventaris peralatan, catatan alat (terbaru dan tahun berjalan) Observasi : Peralatan yang ada untuk konseling, deteksi dini tumbuh kembang dan penyuluhan kelompok Wawancara : Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan kepala puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

72 4.3 Suplementasi obat program merupakan salah satu pelayanan gizi yang dilaksa nakan didalam dan diluar gedung puskesmas memerlukan dukungan ketersediaan obat program sesuai dengan kebutuhan Definisi operasional Ketersediaan obat program gizi yang sesuai kebutuhan artinya vitamin-A untuk bayi , anak balita dan ibu nifas serta tablet Fe untuk ibu hamil selalu tersedia di puskesmas dan posyandu dengan jumlah sesuai kebutuhan masing-masing kelompok sasaran Uraian Kapsul Vitamin-A untuk bayi Kapsul Vitamin-A untuk anak balita Kapsul Vitamin-A untuk ibu nifas Tablet tambah Penjelasan Jumlah kapsul Viatmin-A yang tersedia di puskesmas dan di seluruh posyandu dalam 1 tahun sesuai dengan jumlah bayi 6 11 bulan + 10 % untuk stock Jumlah kapsul Viatmin-A yang tersedia di puskesmas dan di seluruh posyandu dalam 1 tahun adalah 2 kapsul X jumlah anak (12 59 bulan + 10 % untuk stock Jumlah kapsul Viatmin-A yang tersedia di puskesmas dalam 1 tahun adalah 2 kapsul X jumlah ibu nifas + 10 % untuk stock Jumlah tablet tambah darah yang tersedia di puskesmas dalam 1 tahun adalah 3 sase x jumlah ibu hamil

Skor : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Puskesmas tidak mempunyai persediaan obta program gizi Tersedia semua obat program gizi tapi tidak sesuai dengan kebutuhan Tersedia hanya satu jenis obat prog gizi yang sesuai dengan kebutuhan kelp sasaran Tersedia 2 jenis obat program gizi yang sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran Tersedia 3 jenis obat prog gizi yang sesuai dengan kebutuhan kelompk sasaran Semua obat program gizi tersedia sesuai dengan kebutuhan kelompok sasaran

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen = Catatan stock obat program gizi, data sasaran ibu hamil, bayi (6-11 bulan), anak balita (12 59 bulan), ibu nifas Observasi = Stock obat program yang ada di puskesmas Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan Kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

73 STANDAR 5 : KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Ada kebijakan teknis dan prosedur tertulis tentang tata cara pelayanan gizi kepada masyarakat yang ditetapkan oleh kepala puskesmas berdasarkan pedoman /acuan yang ditetapkan oleh pusat, provinsi dan atau kabupaten/kota dan disosialisasikan kepada seluruh petugas serta dievaluasi Parameter : 5. 1 Pelayanan gizi dipuskesmas dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang berlaku Definisi Operasional Kebijakan pelayanan gizi yang berlaku di puskesmas ditetapkan oleh kepala puskesmas dan disosialisasikan kepada seluruh petugas puskesmas : Uraian Penjelasan Ditetapkan oleh Kepala Dokumen tertulis tentang kebijakan pelayanan gizi Puskesmas ditandatangani oleh kepala puskesmas Disosialisasikan kepada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG), dan dua petugas lain ( KIA, seluruh petugas Promkes, Surveilans atau pengelola obat ) yang diwawancarai puskesmas mengetahui kebijakan pelayanan gizi yang berlaku di puskesmas Disosialisasikan ke Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan satu petugas lain ( KIA, sebagian petugas Promkes, Surveilans atau pengelola obat ) yang diwawancarai mengetahui kebijakan pelayanan gizi yang berlaku di puskesmas Hanya disosialisasikan Hanya Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) yang mengetahui kepada Tenaga kebijakan pelayanan gizi yang berlaku di puskesmas Pelaksana Gizi (TPG) Tidak disosialisasikan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan dua petugas lain ( KIA, Promkes, Surveilans atau pengelola obat ) yang diwawancarai tidak mengetahui kebijakan pelayanan gizi yang berlaku di puskesmas Skor = .. 0 = Tidak ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas 1 = Ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas tetapi tidak disahkan oleh kepala puskesmas 2 = Ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas disahkan , tetapi tidak disosialisasikan 3 = Ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas disahkan , tetapi hanya disosialisasikan kepada petugas gizi 4 = Ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas disahkan , hanya disosialisasikan kepada sebagian petugas 5 = Ada kebijakan tertulis yang berlaku di puskesmas disahkan , dan disosialisasikan kepada seluruh petugas Catatan / Keterangan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

74 Cara Pembuktian : Dokumen = Dokumen kebijakan puskesmas, notulen rapat Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) , petugas lain (KIA, Promkes, Surveilans, pengelola obat) 5. 2. Puskesmas harus mempunyai protap pelayanan gizi tertulis yang disahkan oleh kepala puskesmas Definisi Operasional Protap pelayanan gizi adala protap yang mencakup semua pelayanan gizi yang ada di puskesmas , disahkan oleh kepala puskesmas dan dievaluasi Uraian Penjelasan

Ada semua protap Protap Konseling, Penyuluhan, Deteksi Dini Tumbuh kembang Balita pelayanan gizi dan , Tata laksana Gizi Buruk, dan Suplementasi obat program gizi disahkan oleh kepala puskesmas Dievaluasi Protap dievaluasi minimal 1 tahun sekali Skor : .. 0= 1 = 2= 3= 4= 5= Tidak ada protap pelayanan gizi Ada protap , tapi tidak disahkan oleh kepala puskesmas Ada 1 protap , disahkan oleh kepala puskesmas Ada 3 protap , disahkan oleh kepala puskesmas Ada semua protap dan disahkan oleh kepala puskesmas Ada semua protap , disahkan oleh kepala puskesmas dan dievaluasi

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen = Buku Pedoman Kerja TENAGA PELAKSANA GIZI (TPG), Buku Pedoman Tata Laksana Gizi Buruk, Buku Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita, Buku Pedoman Distribusi Obat Program Gizi Dokumen Protap yang ada dan disahkan oleh kepala puskesmas Wawancara = Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) Puskesmas / kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

75 STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Ada kegiatan pengembangan staf oleh pimpinan puskesmas yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan , keterampilan dan kemampuan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas melalui pembinaan, orientasi, pelatihan dan pendidikan. Parameter : 6.1. Adanya pembinaan kepada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas untuk meningkatkan kualitas pelayanan gizi Definisi Operasional : Pengembangan staf dilakukan oleh pimpinan puskesmas kepada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas untuk menjaga kualitas pelayanan gizi di wilayah puskesmas (dalam dan luar gedung) yang dilakukan melalui pembinaan secara terarur oleh pimpinan puskesmas. URAIAN Pembinaan kegiatan gizi PENJELASAN Pembinaan yang dilakukan pimpinan puskesmas kepada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) agar terampil dalam melakukan kegiatan pelayanan kegiatan gizi di wilayah kerja puskesmas. Pembinaan dilakukan oleh pimpinan puskesmas disertai analisa terhadap semua hasil kegiatan pelayanan gizi. Pembinaan yang dilakukan oleh pimpinan puskesmas pada waktu tertentu baik sebelum maupun setelah melakukan kegiatan dan dilakukan secara teratur. (satu kali dalam satu bulan)

Pembinaan rutin dan teratur Skor 0 1 2 3 4 5 = = = =

: Tidak pernah ada pembinaan oleh pimpinan puskesmas Ada pembinaan pimpinan puskesmas tetapi dilakukan secara umum Ada kegiatan pembinaan staf tetapi tidak rutin (tidak teratur, kadang-kadang). Ada kegiatan pembinaan staf secara rutin tetapi tidak meliputi semua kegiatan pelayanan gizi. = Ada pembinaan staf oleh pimpinan puskesmas tidak disertai dengan analisa kegiatan. = Ada pembinaan staf oleh pimpinan puskesmas disertai dengan analisa kegiatan dan dilakukan secara teratur.

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) Observasi (O Wawancara (W)

: : : : Notulen , catatan Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas Pimpinan Puskesmas, Tenaga Gizi Puskesmas,

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

76 6.2 Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas telah mendapatkan orientasi atau pelatihan dalam melaksanakan kegiatan pelayanan gizi.

URAIAN Orientasi/ pelatihan Pengumpulan , pengolahan dan analisa data Kebijakan kab/kt Rutin Skor = 0 = 1 = 2 3 4 5 = = = =

PENJELASAN Orientasi/ pelatihan pada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas dilakukan untuk menilai kinerja Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskemas. Orientasi pada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas meliputi pengumpulan data gizi, mengolah dan melakukan analisa secara sederhana dan tepat waktu. Orientasi Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas mengacu pada kebijakan program gizi dari kab/ kota atau provinsi Orientasi dilakukan setiap tahun minimal 1 kali setahun.

Tidak ada orientasi/ pelatihan bagi Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas Ada orientasi pada Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas dilakukan secara umum dan lisan Ada orientasi kepada petugas tetapi belum semua staf Ada orientasi kepada petugas tetapi tidak mengacu kepada kebijakan Kab/kota Ada orientasi kepada petugas mengacu pada kebijakan dari kab/ kota atau Provinsi Ada orientasi dan sudah mengacu pada kebijakan dilakukan secara rutin :

Catatan

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: : : : Surat Undangan, Laporan Hasil Pertemuan. Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas, Kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

77 STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Parameter : 7.1 Adanya upaya pemantauan pencapaian hasil cakupan kegiatan pelayanan gizi dan dibandingkan dengan standar pencapaian yang telah ditetapkan. Definisi Operasional (DO) : Pemantauan adalah pengawasan secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatan gizi untuk menentukan besarnya input yang diberikan, proses kegiatan yang berjalan dan output yang dicapai. URAIAN Pemantauan PENJELASAN Dapat dilakukan dengan melihat pencatatan dan pelaporan Hasil Kegiatan pemantauan ada Tindak lanjut pemantauan dalam bentuk Umpan balik, Supervisi dan Bimbingan tehnis. Dilakukan pada saat pelaksanaan maupun setelah selesai kegiatan pelayanan gizi Untuk menentukan bentuk kegiatan yang tepat Pengumpulan, pengolahan dan analisa data gizi yang telah dikerjakan oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) puskesmas dilakukan tepat waktu. (pelaporan ke Kab/Kota setiap tgl 5 bulan berikutnya)

Evaluasi

Tepat waktu

Skor : .. 0 = Tidak ada kegiatan pemantauan 1 = Ada kegiatan pemantauan tetapi tanpa menggunakan instrumen/ pencatatan monitoring, tidak rutin dilakukan 2 = Ada kegiatan pemantauan dengan instrumen dilakukan secara tidak rutin. 3 = Ada kegiatan pemantauan dengan menggunakan instrumen, dilakukan secara berkala dan rutin 4 = Ada pemantauan dengan instrumen dilaksanakan rutin ada pengolahan/ analisa hasil pemantauan ,ada umpan balik 5 = Ada pemantauan dengan instrumen, rutin ada umpan balik secara rutin dan ada tindak lanjut Catatan :

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: : :

: Laporan hasil pemantauan, catatan hasil monitoring, catatan penyerahan laporan Pimpinan Puskesmas, Tenaga Gizi Puskesmas,

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

78

7.2

Ada Evaluasi Kegiatan pelayanan gizi untuk melihat dampak kegiatan pelayanan gizi. Definisi Operasional (DO) : Evaluasi adalah proses untuk mengukur efektif dan efisiensi serta dampak kegiatan pelayanan gizi yang dilakukan untuk memperbaiki perencanaan, memperoleh masukan untuk mengukur keberhasilan program Skor 0= 1 = 2= 3= 4= 5= : Tidak ada evaluasi hasil kegiatan gizi di puskesmas Ada evaluasi hasil kegiatan tetapi tidak menggunakan instrumen, tidak rutin Ada evaluasi hasil kegiatan tidak menggunakan instrumen dan dilakukan rutin Ada evaluasi hasil kegiatan menggunakan instrumen dilaksanakan rutin, tetapi tidak ada tindak lanjut Ada evaluasi hasil dan menggunakan instrumen, rutin dan ada tidak lanjut Ada evaluasi hasil kegiatan, menggunakan instrumen ,rutin ada tindak lanjut umpan balik.

Catatan /Keterangan :

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) : : :

: Notulen rapat, laporan hasil rapat, perencanaan tahun sebelumnya. Pimpinan Puskesmas, Tenaga Gizi Puskesmas,

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

79

LEMBAR REKOMENDASI GIZI

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

80

LEMBAR NILAI GIZI

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

81

INSTRUMEN 5 PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR


Kab./Kota Puskesmas Status Nama Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

Puskesmas bertanggung jawab untuk mencegah, mengendalikan penyakit dan menanggulangi kejadian luar biasa penyakit yang terjadi di wilayah kerjanya dengan cara memonitor ( melaksanakan surveillans ), melakukan tindakan pencegahan ( a.l. Program Immunisasi dan Surveillans khusus PDI ) dan penanggulangan dengan cara pengobatan dan lain-lain. STANDAR 1 : FALSAFAH DAN TUJUAN P2 PENYAKIT MENULAR Kegiatan pencegahan dan pengendalian penyakit dilaksanakan secara terpadu dan menyeluruh, baik didalam maupun diluar Puskesmas dengan tujuan untuk mencegah secara dini terjadinya penyebaran penyakit dengan melakukan pemantauan penyakit secara terus menerus. Kegiatan pengendalian penyakit dilakukan secara terus-menerus dan sistematik dengan tujuan menurunkan,mengurangi kejadian kesakitan agar tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat melalui serangkaian kegiatan program yang terpadu dan menyeluruh Parameter 1.1. Tujuan Program P2ML dan P2BB tertuang dalam buku pedoman program. Definisi Operasional : Program-program P2ML dan P2BB di puskesmas memiliki buku pedoman (juklak,juknis) Program. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak satu pun program memiliki buku pedoman Hanya satu program yang memiliki buku pedoman. Ada dua program yang memiliki buku pedoman Ada tiga program yang memiliki buku pedoman Ada empat program yang memiliki buku pedoman Lebih atau sama dengan 5 program memiliki buku pedoman

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Buku pedoman (juklak,juknis). : : Kepala Puskesmas dan petugas P2M

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

82 1.2. Program P2 TB memiliki target penemuan kasus baru Definisi Operasional : Target penemuan kasus baru dihitung berdasarkan 107/100.000 penduduk wilayah kerja puskesmas. SKOR : . 0 = 1 = Tidak memiliki target dan sasaran Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota namun tidak terdokumentasikan Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota dan terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak tepat. Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas secara tepat dan terdokumentasikan

2 = 3 = 4 = 5 =

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen Program P2 TB. Kepala Puskesmas dan petugas

1.3.

Program P2 ISPA memiliki target penemuan kasus baru pada bayi dan balita Definisi Operasional : Target penemuan kasus baru dihitung berdasarkan rumus 1o% dari penduduk bayi dan balita wilayah kerja puskesmas. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki target dan sasaran Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota namun tidak terdokumentasikan Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota dan terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak tepat. Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas secara tepat dan terdokumentasikan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 ISPA. : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

83 1.4. Program P2 DIARE memiliki target penemuan kasus baru Definisi Operasional : Target penemuan kasus baru dihitung berdasarkan 411/1000 penduduk bayi dan balita wilayah kerja puskesmas. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki target dan sasaran Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota namun tidak terdokumentasikan Memiliki target berdasarkan distribusi dari kab/kota dan terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak tepat. Memiliki target hasil penghitungan puskesmas namun tidak terdokumentasikan Memiliki target hasil penghitungan puskesmas secara tepat dan terdokumentasikan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 DIARE. : : Kepala Puskesmas dan petugas

1.5.

Program P2 Kusta memiliki tujuan menurunkan angka kecacatan TK 2 pada kasus baru kusta melalui penemuan dini kasus diantaranya dengan melakukan kontak survei pada setiap kasus baru. Definisi Operasional : Kontak survei dilakukan pada setiap kasus baru dengan menggunakan format kontak survei P2 Kusta dan ada kegiatan tindak lanjut terhadap kasus baru yang ditemukan. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki format kontak survey Melakukan kegiatan kontak survei kasus baru kusta tanpa melakukan pencatatan Melakukan kegiatan kontak survei kasus baru kusta tercatat namun bukan dalam format kontak survei kasus baru kusta Melakukan kegiatan kontak survei pada kasus baru kusta diantara kasus yang ada, tercatat dalam format kontak survei kasus baru kusta Melakukan kegiatan kontak survei pada seluruh kasus baru yang ada, tercatat dalam format kontak survei kasus baru kusta Melakukan kegiatan kontak survei pada seluruh kasus baru yang ada, tercatat dalam format kontak survei disertai tindak lanjut.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

84 Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen Program P2 Kusta. Kepala Puskesmas dan petugas

1.6.

Program P2 DBD mempunyai tujuan mencegah munculnya kasus DBD melalui kegiatan 3 (tiga) M dan pengamatan jentik Definisi Operasional : Terdapat kegiatan : - 3 (tiga) M oleh masyarakat - Pengamatan jentik oleh masyarakat. - Pengamatan jentik dilakukan pada saat ada kasus DBD SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan 3 (tiga) M dan pengamatan jentik Ada kegiatan pengamatan jentik ketika ada kasus DBD Ada kegiatan pengamatan jentik berkala oleh puskesmas Ada kegiatan pengamatan jentik oleh masyarakat Ada kegiatan 3 (tiga) M oleh masyarakat Ada kegiatan 3 (tiga) M dan pengamatan jentik oleh masyarakat

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 DBD : : Kepala Puskesmas dan petugas

1.7.

Tercegahnya kejadian rabies pada manusia melalui tatalaksana luka gigitan hewan penular rabies (HPR) sesuai dengan pedoman tatalaksana luka gigitan HPR. Definisi Operasional : Program P2 Rabies memiliki pedoman tatalaksana gigitan hewan penular rabies mengacu ke buku pedoman pelaksanaan program penanggulangan rabies di Indonesia, direktorat Jenderal PP-PL Depkes RI

SKOR : 0 = Tidak memiliki buku pedoman 1 = Ada buku pedoman tatalaksana 2 = Ada pedoman tatalaksana perawatan luka yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota 3 = Ada pedoman tatalaksana perawatan luka yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota yang terpampang di ruang pemeriksaan/tindakan 4 = Ada petunjuk tatalaksana perawatan luka yang dibuat oleh puskesmas 5 = Ada pedoman tatalaksana perawatan luka yang dikeluarkan oleh puskesmas yang terpampang di ruang pemeriksaan/tindakan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

85 Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 Rabies : : Kepala Puskesmas dan petugas

Khusus daerah endemis Malaria 1.8. Program Malaria bertujuan menurunkan angka kesakitan pada manusia dengan pemutusan transmisi penularan melalui tatalaksana kasus malaria sesuai pedoman. Definisi Operasional : Program P2 Malaria bisa menjelaskan tatalaksana kasus dan memiliki pedoman tatalaksana kasus SKOR : . 0 = Tidak ada kegiatan P2 Malaria 1 2 3 4 5 = = = = = Belum memiliki buku pedoman penatalaksanaan kasus Memiliki pedoman tatalaksana kasus Memiliki tatalaksana kasus namun petugas belum bisa menjelaskan tatalaksana kasus Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus meskipun tidak memiliki pedoman Petugas mampu menjelaskan dan memiliki pedoman tatalaksana kasus.

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Buku pedoman, alur tatalaksana, Dokumen kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Kegiatan pengendalian penyakit menular langsung maupun bersumber binatang dilawali dengan perencanaan program, pencatatan pelaksanaan kegiatan, pelaporan dan evaluasi. Parameter : 2.1 Puskesmas memiliki dokumen perencanaan kegiatan Program P2ML dan P2BB*) Definisi Operasional : Seluruh kegiatan program P2ML (ISPA, Diare, TB, Kusta) dan P2BB (Zoonosis dan Arbovirosis) yang ada di puskesmas tercantum dalam dokumen perencanaan puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

86 SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada perencanaan puskesmas Tidak ada perencanaan namun ada kegiatan programP2ML dan P2BB Ada perencanaan, yang meliputi 3 program Ada perencanaan, yang meliputi 4 program Ada perencanaan, yang meliputi 5 program Ada perencanaan, yang meliputi >5 program

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan puskesmas : : Kepala Puskesmas dan petugas P2M

2.2. Perencanaan kegiatan P2 TB di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.3. Prencanaan kegiatan P2 Diare di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

87 Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.4. Perencanaan kegiatan P2 ISPA di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.5. Perencanaan kegiatan P2 ISPA di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

88 2.6. Perencanaan kegiatan P2 DBD di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.7.

Perencanaan kegiatan P2 Zoonosis (Rabies, Leptospirosis, Pes, Antrax, Flu Burung) di puskesmas Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

89 2.8. Perencanaan kegiatan P2 Malaria di puskesmas (khusus daerah endemis) Definisi Operasional Perencanaan dibuat dan terdapat unsur sasaran,target, lokasi, waktu, pelaksana, dan biaya Skor : 0 = Tidak ada perencanaan 1 = Ada perencanaan 2 = Ad.1. dengan sasaran dan target 3 = Ad.2. lokasi, waktu 4 = Ad.3. pelaksana 5 = Ad.4. biaya Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen perencanaan kegiatan : : Kepala Puskesmas dan petugas

Parameter : Pencatatan dan pelaporan 2.9. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 TB di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kegiatan penemuan kasus dan pengobatan kasus TB dengan menggunakan Form Surveilans TB (01,02,03,04, 05,06,09,10) Skor : 0 = Tidak ada kegiatan program TB 1 = Ada kegiatan program TB 2 = Ada kegiatan TB, namun tidak memiliki form surveilans TB 3 = Ada kegiatan TB, memiliki form surveilans TB terisi tidak lengkap 4 = Ada kegiatan TB, memiliki form surveilans TB terisi lengkap dan terlaporkan 5 = Ada kegiatan TB, memiliki form surveilans TB terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan TB : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

90

2.10. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 ISPA di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kegiatan penemuan kasus dan tatalaksana Pneumonia dalam Form pencatatan dan pelaporan P2 ISPA Skor : 0 = Tidak ada kegiatan program P2 ISPA 1 = Ada kegiatan program ISPA 2 = Ada kegiatan ISPA, namun tidak memiliki form P2 ISPA 3 = Ada kegiatan ISPA, memiliki form P2 ISPA terisi tidak lengkap 4 = Ada kegiatan ISPA, memiliki form P2 ISPA terisi lengkap dan terlaporkan 5 = Ada kegiatan ISPA, memiliki form P2 ISPA terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 ISPA : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.11.

Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 DIARE di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kegiatan penemuan kasus dan tatalaksana DIARE dalam Form pencatatan dan pelaporan P2 DIARE Skor : 0 = Tidak ada kegiatan program P2 DIARE 1 = Ada kegiatan program P2 DIARE 2 = Ada kegiatan P2 DIARE, namun tidak memiliki form P2 DIARE 3 = Ada kegiatan P2 DIARE, memiliki form P2 DIARE terisi tidak lengkap 4 = Ada kegiatan P2 DIARE, memiliki form P2 DIARE terisi lengkap dan terlaporkan 5 = Ada kegiatan P2 DIARE, memiliki form P2 DIARE terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 DIARE : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.12. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 KUSTA di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kegiatan penemuan kasus dan tatalaksana KUSTA dalam Form pencatatan dan pelaporan P2 KUSTA

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

91

Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan program P2 KUSTA Ada kegiatan program P2 KUSTA Ada kegiatan P2 KUSTA, namun tidak memiliki form P2 KUSTA Ada kegiatan P2 KUSTA, memiliki form P2 KUSTA terisi tidak lengkap Ada kegiatan P2 KUSTA, memiliki form P2 KUSTA terisi lengkap dan terlaporkan Ada kegiatan P2 KUSTA, memiliki form P2 KUSTA terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 KUSTA : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.13. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 DBD di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kasus DBD dan kegiatan pemantauan jentik berkala Skor : 0 = Tidak ada kegiatan program P2 DBD 1 = Ada kegiatan program P2 DBD 2 = Ada kegiatan P2 DBD, namun tidak memiliki form pencatatan dan pelaporan 3 = Ada kegiatan P2 DBD, memiliki form pencatatan dan pelaporan, terisi tidak lengkap 4 = Ada kegiatan P2 DBD memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 DBD , terisi lengkap dan terlaporkan 5 = Ada kegiatan P2 DBD memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 DBD , terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 DBD : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.14. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 Zoonosis di puskesmas Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kasus Zoonosis

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

92

Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan program P2 Zoonosis Ada kegiatan program P2 Zoonosis Ada kegiatan P2 Zoonosis, namun tidak memiliki form pencatatan dan pelaporan Ada kegiatan P2 Zoonosis, memiliki form pencatatan dan pelaporan, terisi tidak lengkap Ada kegiatan P2 Zoonosis memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 Zoonosis , terisi lengkap dan terlaporkan Ada kegiatan P2 Zoonosis memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 Zoonosis , terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 Zoonosis : : Kepala Puskesmas dan petugas

2.15. Pencatatan dan pelaporan kegiatan P2 Malaria di puskesmas (Khusus daerah endemis) Definisi Operasional Pencatatan dan pelaporan yaitu tercatat dan terlaporkannya kasus Malaria dalam form P2 Malaria Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan program P2 Malaria Ada kegiatan program P2 Malaria Ada kegiatan P2 Malaria, namun tidak memiliki form pencatatan dan pelaporan Ada kegiatan P2 Malaria, memiliki form pencatatan dan pelaporan, terisi tidak lengkap Ada kegiatan P2 Malaria memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 Malaria , terisi lengkap dan terlaporkan Ada kegiatan P2 Malaria memiliki form pencatatan dan pelaporan P2 Malaria , terisi lengkap dan terlaporkan tepat waktu

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen pencatatan dan pelaporan P2 Malaria : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

93

STANDAR 3. STAF dan PIMPINAN Kepala puskesmas bertanggung jawab atas`kegiatan P2ML dan P2BB di wilayah kerjanya yang dibantu oleh para pelaksana program sesuai dengan kualifikasinya. 3.1. Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas terselenggaranya pengendalian penyakit diwilayah kerjanya. Definisi Operasional : Terdapatnya pembagian tugas sesuai dengan kompetensi sumber daya yang ada SKOR : 0 1 2 3 4 5 .. = Ada pembagian tugas = Petugas memiliki tugas lebih dari 3 Program tanpa surat tugas = Petugas memiliki tugas 3 Program dengan 1-2 program disertai ada surat tugas = Petugas memiliki tugas 3 Program dan semuannya ada surat tugas = Petugas memiliki tugas 2 Program dan hanya 1 program ada surat tugas = Petugas memiliki tugas 2 Program dan ada surat tugas untuk ke 2 program

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen penugasan . Kepala Puskesmas

3.2.

Kepala puskesmas bertanggungjawab dalam pengendalian penyakit Flu Burung (H5N1) Definisi Operasional : Kepala puskesmas pernah mengikuti sosialisasi penyakit Flu Burung (H5N1) dan Swine Flue (H1N1) serta mensosialisasikan kepada staf puskesmas SKOR : .. 0 = Belum pernah mendapat sosialisasi 1 = Pernah mendapat sosialisasi 2 = Pernah mendapat sosialisasi dan mensosialisasikan kepada seluruh staf puskesmas 3 = Pernah mendapat sosialisasi dan mensosialisasikan kepada seluruh staf puskesmas dan menunjuk salah satu petugas sebagai pengelola program Flu Burung 4 = Pernah mendapat sosialisasi dan mensosialisasikan kepada seluruh staf puskesmas dan menunjuk salah satu petugas pengelola program Flu Burung disertai surat tugas 5 = Pernah mendapat sosialisasi dan mensosialisasikan kepada seluruh staf puskesmas dan menunjuk salah satu petugas pengelola program Flu Burung disertai surat tugas dan mensosialisasikan ke masyarakat. Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Dokumen pertemuan/kegiatan, surat tugas . : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

94

Catatan :

3.3. Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 TB Definisi Operasional : Petugas P2 TB memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas SKOR : .. 0 = Tidak ada petugas P2 TB 1 = Ada petugas P2TB mempunyai surat penugasan atau uraian tugas 2 = Ada petugas P2TB mempunyai surat penugasan dan uraian tugas 3 = Ada petugas P2TB mempunyai surat penugasan , uraian tugas dan dokumen perencanaan 4 = Ada petugas P2TB mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan mempunyai pencatatan dan pelaporan 5 = Ada petugas P2TB mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . surat tugas dan uraian tugas Kepala Puskesmas dan petugas program

3.4. Petugas P2 TB memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas TB memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3, belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ijazah, Sertfikat, : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

95

Catatan :

3.5. Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 ISPA Definisi Operasional : Petugas P2 ISPA memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas. SKOR : .. 0 = Tidak ada petugas P2 ISPA 1 = Ada petugas P2 ISPA mempunyai surat penugasan atau uraian tugas 2 = Ada petugas P2 ISPA mempunyai surat penugasan dan uraian tugas 3 = Ada petugas P2 ISPA mempunyai surat penugasan, uraian tugas dan dokumen perencanaan 4 = Ada petugas P2 ISPA mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan dan mempunyai pencatatan dan pelaporan 5 = Ada petugas P2 ISPA mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, mempunyai pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . surat tugas dan uraian tugas Kepala Puskesmas dan petugas program

3.6. Petugas P2 ISPA memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas P2 ISPA memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3, belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ijazah, Sertfikat. : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

96

Catatan :

3.7.

Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 Diare Definisi Operasional : Petugas P2 Diare memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas SKOR : .. 0 = Tidak ada petugas P2 Diare 1 = Ada petugas P2 DIare mempunyai surat penugasan atau uraian tugas 2 = Ada petugas P2 Diare mempunyai surat penugasan dan uraian tugas 3 = Ada petugas P2 Diare mempunyai surat penugasan, uraian tugas dan dokumen perencanaan 4 = Ada petugas P2 Diare mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan dan mempunyai pencatatan dan pelaporan 5 = Ada petugas P2 Diare mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, mempunyai pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . Kepala Puskesmas dan petugas program

3.8. Petugas P2 Diare memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas P2 Diare memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3 tapi belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ijazah, Sertfikat. : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

97

Catatan :

3.9. Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 Kusta Definisi Operasional : Petugas P2 Kusta memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas SKOR : .. 0 = Tidak ada petugas P2 Kusta 1 = Ada petugas P2 Kusta mempunyai surat penugasan atau uraian tugas 2 = Ada petugas P2 Kusta mempunyai surat penugasan dan uraian tugas 3 = Ada petugas P2 Kusta mempunyai surat penugasan, uraian tugas dan dokumen perencanaan 4 = Ada petugas P2 Kusta mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan dan mempunyai pencatatan dan pelaporan 5 = Ada petugas P2 Kusta mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, mempunyai pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . Kepala Puskesmas dan petugas program

3.10. Petugas P2 Kusta memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas P2 Kusta memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3 tapi belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ijazah, Sertfikat. : : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

98

Catatan :

3.11. Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 Zoonosis Definisi Operasional : Petugas P2 Zoonosis memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada petugas P2 Zoonosis Ada petugas P2 oonosis mempunyai surat penugasan atau uraian tugas Ada petugas P2 Zoonosis mempunyai surat penugasan dan uraian tugas Ada petugas P2 Zoonoosia mempunyai surat penugasan, uraian tugas dan dokumen perencanaan Ada petugas P2 Zoonoosis mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan dan mempunyai pencatatan dan pelaporan Ada petugas P2 Zoonoosis mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, mempunyai pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . Kepala Puskesmas dan petugas program

3.12. Petugas P2 Zoonosis memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas P2 Zoonosis memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3 tapi belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) : Ijazah, Sertfikat. Observasi (O) : Wawancara (W) : Kepala Puskesmas dan petugas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

99

Catatan :

3.13. Kepala Puskesmas bertanggung jawab dan menkoordinir Kegiatan P2 Malaria (khusus daerah endemis) Definisi Operasional : Petugas P2 Malaria memiliki surat tugas, uraian tugas, perencanaan, pencatatan dan pelaporan yang diketahui oleh kepala puskesmas SKOR : .. 0 = Tidak ada petugas P2 Malaria 1 = Ada petugas P2 Malaria mempunyai surat penugasan atau uraian tugas 2 = Ada petugas P2 Malaria mempunyai surat penugasan dan uraian tugas 3 = Ada petugas P2 Malaria mempunyai surat penugasan, uraian tugas dan dokumen perencanaan 4 = Ada petugas P2 Malaria mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan dan mempunyai pencatatan dan pelaporan 5 = Ada petugas P2 Malaria mempunyai surat penugasan, uraian tugas, dokumen perencanaan, mempunyai pencatatan dan pelaporan dan diketahui oleh kepala puskesmas Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Dokumen program . Kepala Puskesmas dan petugas program

3.14. Petugas P2 Malaria memiliki tenaga pelaksana program yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan tugas dan jabatannya Definisi Operasional : Petugas P2 Malaria memiliki pendidikan minimal D3 dan telah mengikuti pelatihan program yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Provinsi. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak memiliki pendidikan D3, dan belum pelatihan Pendidikan belum D3, dan telah mengikuti pertemuan program Pendidikan belum D3, tapi telah pelatihan program Pendidikan D3 tapi belum mendapat pelatihan dan belum pernah mengikuti pertemuan tingkat Kab./Kota Pendidikan D3, dan telah mengikuti pertemuan di tingkat kabupaten/kota Pendidikan D3, dan telah pelatihan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

100 Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Ijazah, Sertfikat. : : Kepala Puskesmas dan petugas

STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN. Kegiatan Pengendalian Penyakit di Puskesmas dilengkapi sarana sesuai dengan Pedoman berupa format pelaporan, alat diagnostik, obat. Parameter 4.1 Pelayanan Program TB Definisi Operasional (DO) Pelayanan TB terdiri atas format pencatatan dan pelaporan, laboratorium program P2 TB dan obat TB. SKOR : .. 0 = Tidak ada kegiatan program P2 TB 1 = Ada Kegiatan program TB dengan format pencatatan, pelaporan 2 = Ad.1. ada kegiatan laboratorium namun belum untuk Program P2 TB 3 = Ad.2. Ada kegiatan laboratorium untuk P2 TB namun tenaga belum terlatih 4 = Ad.3. tenaga terlatih 5 = Ad.4. kecukupan obat TB Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan TB, sertifikat pelatihan lab. fasilitas lab. Dokumen obat : Format pencatatan,pelaporan, sarana lab. : Kepala Puskesmas dan petugas

4.2

Pelayanan Program ISPA Definisi Operasional (DO) Fasilitas pelayanan ISPA terdiri atas format pencatatan dan pelaporan, timer untuk pemeriksaan tarikan nafas dan obat. SKOR : .. 0 = Tidak ada kegiatan program P2 ISPA 1 = Ada Kegiatan program P2 ISPA 2 = Ad.1. dengan format pencatatan, pelaporan 3 = Ad.2. memiliki timer 4 = Ad.3. obat 5 = Ad.4. kecukupan obat

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

101 Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan P2 ISPA, sertifikat pelatihan tatalaksana kasus, timer , Dokumen obat : Format pencatatan,pelaporan, : Kepala Puskesmas dan petugas

4.3

Pelayanan Program Diare Definisi Operasional (DO) Fasilitas pelayanan Diare terdiri atas format pencatatan dan pelaporan, oralit,zinc, antibiotika, infus. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan program P2 Diare Ada Kegiatan program P2 Diare Ad.1. dengan format pencatatan, pelaporan Ad.2. tersedia oralit dan antibiotika Ad.3. tersedia infuse Ad.4. zinc

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan P2 Diare, sertifikat pelatihan tatalaksana kasus, Dokumen obat : Format pencatatan,pelaporan, obat : Kepala Puskesmas dan petugas

4.4

Pelayanan Program Kusta Definisi Operasional (DO) Pelayanan Kusta terdiri atas format pencatatan dan pelaporan, MDT. SKOR : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada kegiatan program P2 Kusta Ada Kegiatan program P2 Kusta Ad.1. dengan format pencatatan dan pelaporan tidak lengkap Ad.1. dengan format pencatatan dan pelaporan lengkap Ad.3. tersedia MDT Ad.4. tenaga terlatih

Cara Pembuktian : Dokumen (D) : Dokumen kegiatan P2 Kusta, Dokumen obat Observasi (O) : Format pencatatan,pelaporan, obat Wawancara (W) : Kepala Puskesmas dan petugas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

102

Catatan :

4.5 Pelayanan Program P2 Malaria (khusus daerah endemis) Definisi Operasional (DO) Pelayanan P2 Malaria terdiri atas format pencatatan dan pelaporan, laboratorium untuk pemeriksaan Malaria, obat. SKOR : .. 0 = Tidak ada kegiatan program P2 Malaria 1 = Ada Kegiatan program Malaria dengan format pencatatan, pelaporan 2 = Ad.1. ada kegiatan laboratorium namun belum untuk pemeriksaan Malaria 3 = Ad.1. dengan tenaga laboratorium terlatih namun perlu dukungan dukungan laboratorium dari puskesmas lain 4 = Ad.1 dengan dukungan lab. dan tenaga terlatih 5 = Ad.4. kecukupan obat Malaria Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan P2 Malaria, sertifikat pelatihan lab. fasilitas laboratorium, Dokumen obat : Format pencatatan,pelaporan, sarana lab. : Kepala Puskesmas dan petugas

STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Kepala puskesmas menulis atau menunjukkan buku pedoman atau jklak/juknis dan SOP pelayanan program P2ML dan P2BB Parameter 5.1 Puskesmas memiliki buku pedoman/juklak/juknis Definisi Operasional (DO) SOP pelayanan program P2ML dan P2BB tertuang dalam buku pedoman/juklak/juknis. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak satu pun program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis Hanya satu pun program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis Ada dua program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis Ada tiga program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis Ada empat program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis Lebih atau sama dengan program membuat SOP pelayanan program P2ML dan P2BB sesuai buku pedoman / juklak/juknis

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

103

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Ada SOP, ada Buku pedoman/juklak/juknis : : Kepala Puskesmas dan petugas

5.2

P2 TB memiliki alur pencegahan dan pengendalian TB Paru Definisi Operasional : Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus dan memiliki alur tatalaksana tertuang didalam pedoman P2 TB SKOR : . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada buku pedoman Ada buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, tetapi tidak mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, dan mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana kasus TB Paru Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana kasus TB Paru serta terpampang di ruang pemeriksaan

yang

CARA PEMBUKTIAN Dokumen (D) = Dokumen program P2 TB, tata laksana kasus dan alur tata laksana kasus Observasi (O) = Wawancara = Kepala Puskesmas dan pelaksana program Catatan :

5.3

P2 ISPA melakukan tatalaksana kasus ISPA sesuai dengan Pedoman


Definisi Operasional : Petugas Program P2 ISPA mampu menjelaskan tatalaksana dan memiliki pedoman tatalaksana ISPA SKOR : .

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

104 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada buku pedoman Ada buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, tetapi tidak mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, dan mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana kasus ISPA Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana Kasus ISPA serta terpampang di ruang pemeriksaan

CARA PEMBUKTIAN Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara Catatan :

= = =

Dokumen program P2 ISPA, tata laksana kasus dan alur tata laksana kasus Kepala Puskesmas dan pelaksana program

5.4

Pencegahan kecacatan (POD) dilakukan melalui pemeriksaan kepada setiap kasus saat pengambilan obat (DOT) kusta setiap bulan, untuk kasus kusta PB 6 kali, kusta MB 9 kali.. Definisi Operasional : Setiap bulan/obat habis, kasus diperiksa ulang dan hasilnya dimasukkan kedalam kartu pemeriksaan pencegahan cacat yang harus di isi secara lengkap. SKOR : .. 0 = Tidak memiliki format POD 1 2 3 4 5 = = = = = Melakukan kegiatan POD hanya pada saat pertama kasus dating Melakukan kegiatan POD kurang dari setengah dari yang seharusnya (PB 6 kali dan MB 9 kali) tidak terisi lengkap Melakukan kegiatan POD kurang dari setengah dari yang seharusnya (PB 6 kali dan MB 9 kali) terisi lengkap. Melakukan kegiatan POD lebih dari setengah dari yang seharusnya (PB 6 kali dan MB 9 kali) tidak terisi lengkap Melakukan kegiatan POD lebih dari setengah dari yang seharusnya (PB 6 kali dan MB 9 kali) terisi lengkap.

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 Kusta, Format POD (prevention of disability). : : Kepala Puskesmas dan petugas P2 Kusta

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

105 5.5 Terkendalinya Diare melalui kegiatan program yang terorganisir Definisi Operasional : Petugas Program P2 Diare mampu menjelaskan tatalaksana dan memiliki pedoman tatalaksana kasus SKOR : . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada buku pedoman Ada buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, tetapi tidak mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, dan mempunyai buku pedoman Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana kasus P2 Diare Petugas mampu menjelaskan tatalaksana kasus, mempunyai buku pedoman, dan mempunyai alur tata laksana Kasus P2 Diare serta terpampang di ruang pemeriksaan

Cara Pembuktian Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara Catatan :

= = =

Dokumen program P2 Diare, tata laksana kasus dan alur tata laksana kasus Kepala Puskesmas dan pelaksana program

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen Program P2 Diare : : Kepala Puskesmas dan petugas P2 Diare

5.6

P2 DBD memiliki alur pencegahan dan pengendalian kasus DBD Definisi Operasional : Kegiatan program dilakukan sesuai dengan alur pengendalian yang tertuang didalam pedoman P2 DBD SKOR : . 0 = Tidak ada buku pedoman 1 = Ada buku pedoman 2 = Ada buku pedoman namun tidak ada alur pengendalian 3 = Ada alur pengendalian namun tidak ada buku pedoman 4 = Ada alur pengendalian DBD dan buku pedoman 5 = Ada buku pedoman dan alur pengendalian DBD yang terpampang di ruang pemeriksaan.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

106

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Pencatatan dan pelaporan program, Buku pedoman, alur penegendalian DBD : : Kepala Puskesmas dan petugas

Catatan :

Khusus daerah endemis Malaria 5.7 Kasus klinis malaria ditatalaksana sesuai alur tatalaksana malaria Definisi Operasional : Kasus klinis malaria wajib dilakukan pemeriksaan laboratorium SKOR : 0 = Tidak ada kegiatan pemeriksaan laboratorium 1 = Ada kegiatan laboratorium namun tidak memadai baik tenaga maupun sarana 2 = Ada kegiatan laboratorium dengan dukungan laboratorium puskesmas lain 3 = Ada kegiatan laboratorium dengan sarana memadai namun belum ada tenaga terlatih 4 = Ada kegiatan laboratorium dengan tenaga terlatih namun belum sarana belum mendukung 5 Ada kegiatan laboratorium dengan tenaga dan sarana memadai Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Buku pedoman, alur tatalaksana, Dokumen kegiatan ,sertifikat, atau bukti telah mengikuti pelatihan : Ruangan lab, paralatan lab. Untuk pemeriksaan malaria : Kepala Puskesmas dan petugas

STANDAR 6. PENDIDIKAN dan PENGEMBANGAN STAF Pengembangan kemampuan Pengelola Program P2ML dan PPBB di puskesmas melalui pendidikan berkelanjutan, pelatihan, on the job training, pertemuan (seminar, workshop, studi banding. PARAMETER : 6.1 Program pendidikan atau pelatihan bagi pelaksana Program P2ML dan PPBB Definisi Operasional (DO) : Pendidikan atau pelatihan yang diikuti oleh petugas program P2ML dan P2 BB dalam 2 tahun terakhir baik di tingkat kab/kota maupun provinsi. Skor = .. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

107 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada petugas yang mengikuti pendidikan atau pelatihan dalam 2 tahun terakhir Ada petugas yang mengikuti pendidikan atau pelatihan dalam 2 tahun terakhir sesuai permintaan kab/kota Ada petugas yang mengikuti pendidikan atau pelatihan atas keinginan pelaksana program Kepala puskesmas mengajukan petugas untuk mengikuti pendidikan atau pelatihan Kepala puskesmas merencanakan kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi pelaksana program Kepala puskesmas bersama seluruh petugas pelaksana program mengadakan pelatihan secara mandiri

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: : :

Ijazah, Sertikat, buku hasil kegiatan Kepala Puskesmas dan petugas

6.2

Kepala Puskesmas membina kemampuan petugas pelaksana program P2 ML dan P2 BB Definisi Operasional (DO) : Adanya pertemuan rutin yang mengkaji pelaksanaan program P2 ML dan P2 BB SKOR : . 0 = Tidak ada pertemuan rutin 1 = Ada pertemuan namun tidak rutin yang membahas pelaksanaan kegiatan 2 = Ada pertemuan rutin yang membahas pelaksanaan kegiatan 3 = Ada pertemuan namun tidak rutin berupa pembinaan ketrampilan pelaksanaan program 4 = Ada pertemuan rutin berupa pembinaan ketrampilan pelaksanaan program dan baru sebagian program yang terbina 5 = Semua program telah mendapat pembinaan ketrampilan pada pertemuan rutin Cara Pembuktian Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Buku hasil rapat, laporan kegiatan program : : Kepala Puskesmas dan petugas P2M

STANDAR 7. EVALUASI dan PENGENDALIAN MUTU Program P2ML dan PPBB harus melaksanakan evaluasi dan kegiatan pengendalian mutu program melalui pemantauan hasil kegiatan terhadap target yang ditetapkan disetiap bulan/triwulan/tahunan dan pertemuan rutin yang dipimpin oleh kepala puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

108 PARAMETER 7.1. Kepala puskesmas mengikuti rapat koordinasi lintas program dan lintas sektor tingkat kecamatan Definisi Operasional Kepala puskesmas menyampaikan permasalahan kesehatan diwilayah kerja puskesmas pada rapat koordinasi (Rakor) tingkat kecamatan. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Belum pernah mengikuti Rakor Pernah mengikuti rapat Rakor Mengikuti rapat koordinasi dan mendapat giliran 1 (satu) kali menyampaikan situasi kondisi masalah kesehatan Mengikuti rapat koordinasi dan mendapat giliran 2 (dua) kali menyampaikan situasi kondisi masalah kesehatan Mengikuti rapat koordinasi dan mendapat giliran 3 (tiga-lima) kali menyampaikan situasi kondisi masalah kesehatan Mengikuti rapat koordinasi dan mendapat 4 (empat) kali menyampaikan situasi kondisi masalah kesehatan

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Ada dokumentasi laporan rapat koordinasi Rakor : : Kepala Puskesmas

7.2. Kepala Puskesmas menkoordinasi pengendalian penyakit di wilayah kerja puskesmas Definisi Operasional : Puskesmas menyelenggarakan Loka Karya Mini (LOKMIN) SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Belum pernah mengadakan LOKMIN LOKMIN 1 kali per tahun LOKMIN 2 kali per tahun LOKMIN 3 kali per tahun LOKMIN 4 kali per tahun Ada rencana tindak lanjut hasil LOKMIN

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Ada dokumentasi hasil LOKMIN : : Kepala Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

109 7.3. Program P2 ML dan P2 BB menyampaikan analisis situasi program dalam LOKBUL (loka karya bulanan) yang dipimpin kepala puskesmas Definisi Operasional LOKBUL merupakan media menyampaikan perkembangan program. SKOR : . 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Belum pernah ada LOKBUL 1-3 kali dalam setahun dan hanya sebagian program presentasi program 4-6 kali dalam setahun dan hanya sebagian program presentasi program 7-9 kali dalam setahun dan sebagian besar program presentasi program 10-12 kali dalam setahun dan sebagian besar program presentasi program 10-12 kali dalam setahun dan semua program presentasi program

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Catatan rapat : : Kepala Puskesmas dan petugas P2M

7.4. Petugas program P2 TB melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap triwulan Ada laporan program, tidak setiap triwulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

110 7.5. Petugas program P2 ISPA melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap bulan Ada laporan program, tidak setiap bulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

7.6. Petugas program P2 Diare melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap bulan Ada laporan program, tidak setiap bulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

111 7.7. Petugas program P2 Kusta melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap triwulan Ada laporan program, tidak setiap triwulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap triwulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

7.8. Petugas program P2 DBD melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap bulan Ada laporan program, tidak setiap bulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

112 7.9. Petugas program P2 Malaria melakukan rencana tindak lanjut melalui pengolahan dan analisa data. (khusus daerah endemis) Definisi Operasional Hasil kegiatan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan ada rencana tindak lanjut. SKOR : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan program Ada laporan program setiap bulan Ada laporan program, tidak setiap bulan ada penyajian tabel/grafik/map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik /map Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik/map dan dilakukan analisa, Ada laporan program, setiap bulan disajikan dalam bentuk tabel/grafik dan dilakukan analisa, disertai rencana tindak lanjut

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) Catatan :

: Dokumen kegiatan program, hasil analisa dan tindak lanjut : Display tabel/grafik : Kepala Puskesmas dan petugas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

113 B. PROGRAM IMUNISASI STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Kegiatan pelayanan Imunisasi di Puskesmas ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian anak secara bermakna, karena penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti Campak, Polio, Tetanus Neonatorum, Hepatitis B, Diphteri, Pertusis, Tetanus dan TBC. Parameter 1.1. Ada tujuan program imunisasi URAIAN Tujuan Umum PENJELASAN Turunnya angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) 1. Tercapainya target UCI desa/kelurahan minimal 80% 2. Persentase bayi 0-11bulan yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap minimal 80% 3. 90% Ibu hamil memperoleh imunisasi TT lengkap ( 2x) 4. Semua anak SD kelas 1 memperoleh imunisasi DT dan Campak, kelas 2 dan kelas 3 memperoleh imunisasi TT.

Tujuan Khusus

Definisi Operasional Tujuan Program Imunisasi : Adalah Pengelola imunisasi Puskesmas dapat menyebutkan tujuan umum dan tujuan khusus (4 poin) Skor : .............. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak dapat menjelaskan tujuan umum dan khusus Dapat Menjelaskan tujuan umum saja Dapat Menjelaskan tujuan umum dan 1 poin tujuan khusus Dapat menjelaskan tujuan umum dan 2 poin tujuan khusus Dapat menjelaskan tujuan umum dan 3 poin tujuan khusus Dapat menjelaskan tujuan umum dan 4 poin tujuan khusus

Catatan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D )

: : Salah satu dokumen di puskesmas 1. Keputusan menteri Kesehatan 1611/ Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman penyelenggaraan imunisasi atau 2. Keputusan menteri Kesehatan No. 482 / Menkes/SK/IV/2010 tentang Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional , Universal Child Immunization 2010-2014 (GAIN UCI 2010-2014) atau 3. Buku Pedoman Imunisasi TT pada wanita usia subur, Tahun 2009 atau 4. Buku Pedoman Bulan Imunisasi Anak Sekolah, tahun 2002

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

114 Observasi ( O ) Wawancara ( W ) : Terdapat pada salah satu dokumen atau menunjukan juknis imunisasi : Pimpinan Puskesmas atau pengelola program imunisasi dapat menunjukan atau menyebutkan tujuan program imunisasi pada salah satu dokumen tersebut diatas atau juknis imunisasi

STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Kegiatan imunisasi di Puskesmas mempunyai ruang lingkup mulai dari perencanaan program (antara lain penetapan sasaran, kebutuhan logistik, jadwal kegiatan), pencatatan (antara lain kohor bayi, kohor ibu hamil, pencatatan stok vaksin, pencatatan grafik suhu), pelaporan (antara lain laporan cakupan yang dikirim tiap bulan ke Kab/Kota), dan evaluasi (antara lain PWS, cakupan). Parameter : 2.1. Perencanaan tentang kegiatan imunisasi di Puskesmas. Definisi Opersional Perencanaan kegiatan imunisasi : Adalah perencanaan tertulis tentang kegiatan imunisasi di Puskesmas yang memuat variabel : 1. Jumlah Sasaran 2. Waktu pelaksanaan 3. Lokasi 4. Logistik (vaksin, alat suntik, safety box) 5. Pelaksana (dokter/bidan/perawat) Skor : ................ 0 = Tidak ada perencanaan tertulis 1 = Ada perencanaan tertulis, direncanakan sendiri oleh pengelola program tanpa dikonsultasikan dan disyahkan oleh Kepala Puskesmas 2 = Ada perencanaan tertulis, yang memuat 5 variabel pada DO tanpa disyahkan oleh Kepala Puskesmas 3 = Ada perencanaan tertulis yang memuat 5 variabel pada DO disyahkan oleh Kepala Puskesmas 4 = Ada perencanaan tertulis yang memuat 5 variabel pada DO, disyahkan oleh Kepala Puskesmas dan telah disosialisasikan di lokbul Puskesmas sebelum pelaksanaan program dimulai atau dilaksanakan 5 = Ada perencanaan tertulis yang memuat 5 variabel pada DO, disyahkan oleh Kepala Puskesmas dan telah disosialisasikan di lokmin Puskesmas sebelum pelaksanaan program dimulai atau dilaksanakan Catatan /Keterangan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D ) Observasi ( O ) Wawancara (W) : : :

: Ada dokumen perencanaan, buku lokbul, lokmin, absensi notulen pertemuan Melihat dokumen perencanaan yang memuat 5 variabel Pimpinan Puskesmas atau pengelola program immunisasi.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

115 2.2. Pencatatan stok vaksin Definisi Operasional (DO) Pencatatan vaksin adalah setiap pemasukan dari Dinas Kesehatan Kab./Kota dan pengeluaran vaksin berdasarkan permintaan/usulan Bidan Desa, Bidan Koordinator Puskesmas dan UPS (unit pelayanan swasta) yang dicatat pada Buku Stok Vaksin di Puskesmas. Meliputi pencatatan : 1. Mencantumkan tanggal masuk dan keluar 2. Mencantumkan keterangan VVM vaksin 3. Mencantumkan Expire Date (tanggal daluarsa) 4. Mencantumkan Nomor Batch vaksin 5. Ada 7 buku stock vaksin Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = Tidak ada buku pencatatan stock vaksin Hanya mencantumkan 1 poin Hanya mencantumkan 2 poin Hanya mencantumkan 3 poin Hanya mencantumkan 4 poin Hanya mencantumkan 5 poin

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen ( D ) Observasi ( O ) Wawancara (W)

: : :

Buku Stok Vaksin Melihat kelengkapan pencatatan Buku Stok Vaksin Kepala Puskesmas atau Pengelola Imunisasi

2.3

Sistem pencatatan program imunisasi


Definisi Opersional : pencatatan program imunisasi : Adalah pencatatan tentang kegiatan program imunisasi di Puskesmas yang memuat variabel : 1. Pencatatan sasaran bayi (0 11 bulan) pada format kohor bayi atau pada buku kuning 2. Pencatatan ibu hamil pada format kohor ibu hamil atau pada buku merah 3. Pencatatan vaksin pada buku stok vaksin untuk semua antigen (BCG, DPT-HB, Polio, Campak, HB Uniject, TT dan DT) 4. Pencatatan suhu lemari es pada buku grafik suhu atau register pencatatan suhu harian SKOR : . 0 = Tidak ada pencatatan kegiatan program imunisasi 1 = Hanya ada 1 jenis pencatatan 2 = Hanya ada 2 jenis pencatatan 3 = Hanya ada 3 jenis pencatatan 4 = Ada 4 jenis pencatatan kegiatan 5 = Ada 4 jenis pencatatan kegiatan program imunisasi dan diisi lengkap

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

116

Catatan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D ) Obervasi ( O ) Wawancara ( W ) : : : Ada dokumen pencatatan Melihat dokumen pencatatan Pengelolaan program immunisasi

2.4 Laporan rutin cakupan yang dikirim tiap bulan ke Kab./Kota Definisi Operasional Laporan cakupan bulanan :Adalah laporan hasil cakupan program imunisasi yang dilaporkan tiap bulan ke Kab/Kota meliputi semua antigen (BCG, DPT-HB 1,2,3, Polio 1,2,3,4, Campak, HBUniject 0 7 hari, TT1,TT2,TT3,TT4 dan TT5) Skor = .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada laporan. Laporan diatas tanggal 10 pada bulan berikutnya memuat atau tidak memuat semua antigen Laporan tanggal 6 10 pada bulan berikutnya tidak memuat semua antigen Laporan sebelum tanggal 5 bulan berikutnya tidak memuat semua antigen Laporan tanggal 6 10 pada bulan berikutnya memuat semua antigen Laporan sebelum tanggal 5 pada bulan berikutnya memuat semua antigen

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: Ada dokumen laporan : Melihat dokumen laporan : Kepala Puskesmas atau Pengelola Program Imunisasi

STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan program imunisasi dan dalam pelaksanaannya dapat dibantu oleh pengelola imunisasi dan tenaga kesehatan lainnya. Kepala Puskesmas memberikan tugas untuk melaksanakan pelayanan imunisasi kepada tenaga kesehatan : Dokter, Bidan, dan Perawat yang sudah mempunyai kompetensi dalam memberikan pelayanan imunisasi (Technical Competence). Catatan : Kompetensi (Technical Competence) adalah perawat yang sudah mendapatkan pelatihan program imunisasi yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Dinas Kesehatan Provinsi atau Kementerian Kesehatan yang dibuktikan dengan sertifikat pelatihan.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

117 Parameter : 3.1. Tenaga pelaksana imunisasi Definisi Operasional (DO) Seluruh tenaga kesehatan dokter, bidan, dan perawat yang sudah mempunyai kompetensi (Technical Competence) dan ditugaskan oleh Kepala Puskesmas Skor = 0 1 2 3 = = = = Belum ada petugas imunisasi yang kompeten Ada petugas imunisasi namun belum kompeten Ada petugas imunisasi yang kompeten namun belum mempunyai surat tugas Ada Petugas imunisasi yang mempunyai kompetensi mempunyai surat tugas namun belum dilengkapi uraian tugas Ada Petugas imunisasi yang kompeten mempunyai surat tugas dengan uraian tugas namun belum disyahkan oleh Kepala Puskesmas Ada Petugas imunisasi yang kompeten mempunyai surat tugas dengan uraian tugas disyahkan oleh Kepala Puskesmas

4 = 5 =

Cara Pembuktian : Dokumen ( D ) Observasi ( O ) Wawancara ( W ) : Sertifikat dan surat tugas, uraian tugas : : Kepala Puskesmas , dan petugas pelaksana imunisasi

STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Kegiatan imunisasi di Puskesmas dilengkapi peralatan imunisasi yang lengkap sesuai dengan standar WHO yaitu : lemari es khusus tempat penyimpanan vaksin, alat suntik, safety box, thermometer alat pengukur suhu, freeze tag alat indikator vaksin terpapar suhu beku, vaccine carier dan thermos. Parameter 4.1 Peralatan pelayanan imunisasi Definisi Operasional (DO) Peralatan yang digunakan dalam pelayanan imunisasi yang sudah memenuhi standar dari WHO yaitu : 1. Lemari es khusus tempat penyimpanan vaksin adalah lemari es yang buka tutup atas bawah. 2. Alat suntik adalah alat suntik sekali pakai atau ADS (auto disable syringe) 3. Safety box adalah tempat menyimpan alat suntik yang sudah dipakai. 4. Thermometer adalah alat pengukur suhu lemari es yang mempunyai skala antara 50oC s.d + 50oC 5. Freeze Tag adalah alat indikator vaksin terpapar suhu beku yaitu bila tanda V vaksin tidak terpapar suhu beku dan X vaksin terpapar suhu beku. 6. Vaccine carier adalah alat untuk membawa vaksin dari Kabupaten/Kota 7. Thermos adalah alat untuk membawa vaksin dari Puskesmas ke Posyandu

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

118 SKOR 0 1 2 3 4 5 = = = = = = = ............. Tidak memenuhi poin 1 s.d 7 Memenuhi poin 1 sd 4 ditambah poin 6 Memenuhi poin 1 s.d. 4 ditambah salah satu poin 6 dan 7 Memenuhi poin 1 s.d. 5 ditambah salah satu poin 6 Memenuhi poin 1 s.d. 5 ditambah salah satu poin 6 dan 7 Memenuhi poin 1 s.d. 7 peralatan standar WHO

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen ( D ) Observasi ( O ) Wawancara ( W )

: Daftar inventaris imunisasi : Melihat semua kelengkapan alat poin 1 s.d. 7 : Kepala Puskesmas dan pengelola imunisasi.

STANDAR 5 KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Kepala Puskesmas menuliskan atau menunjukan buku pedoman atau Kepmenkes RI tentang SOP (standar operasional prosedur) imunisasi. Parameter 5.1 SOP (standar operasional prosedur) imunisasi Definisi Operasional SOP imunisasi adalah standar operasional kerja berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI, terdiri atas 1. Keputusan menteri Kesehatan 1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman penyelenggaraan imunisasi atau 2. Keputusan menteri Kesehatan No. 482/Menkes/SK/IV/2010 tentang Gerakan Akselerasi Imunisasi Nasional , Universal Child Immunization 2010-2014 (GAIN UCI 2010-2014) atau 3. Buku Pedoman Imunisasi TT pada wanita usia subur, tahun 2009 atau 4. Buku Pedoman Bulan Imunisasi Anak Sekolah, tahun 2002 SKOR 0 1 2 3 4 5 : .. Tidak ada SOP berdasarkan buku pedoman dan Kepmenkes 1611/2005 ttg pedoman penyelenggaraan imunisasi Ada SOP berdasarkan buku buku pedoman poin 3 dan 4 Ada SOP berdasarkan buku buku pedoman poin 1 Ada SOP berdasarkan buku buku pedoman poin 1 dan 2 Ada SOP berdasarkan buku buku pedoman poin 1 dan 2 ditambah salah satu poin 3 atau 4 Ada SOP berdasarkan buku buku pedoman poin 1 sd 4

= = = = = =

Catatan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

119

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Melihat buku pedoman dan Kepmenkes Observasi ( O ) : Wawancara ( W ) : Kepala Puskesmas atau pengelola imunisasi

STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Pengembangan kemampuan Pengelola Imunisasi dan Pelaksana Imunisasi di Puskesmas di lakukan melalui upaya pelatihan, on the job training, work shop imunisasi, studi banding Parameter : 6.1. Pengembangan kemampuan Pengelola Imunisasi Definisi Operasional (DO) Pengembangan kemampuan Pengelola Imunisasi adalah pengembangan kemampuan petugas pengelola imunisasi Puskesmas yang berlatar belakang pendidikan bisa dari pendidikan umum atau pendidikan kejuruan kesehatan yang telah di berikan pelatihan oleh tingkat Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Dinas Kesehatan Provinsi atau Kemenkes yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas. Skor : .. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada petugas Pengelola Imunisasi Ada petugas pengelola imunisasi, tetapi tidak mempunyai surat penunjukan dari Ka. Puskesmas atau Dinas Kesehatan Kab./Kota Ada petugas petugas pengelola imunisasi, mempunyai surat penunjukan dari Ka. Puskesmas atau Dinkes Kab./Kota namun belum pernah dilatih Ada petugas petugas pengelola imunisasi, tidak mempunyai surat penunjukan dari Ka. Puskesmas atau Dinkes Kab./Kota dan terlatih Ada petugas pengelola imunisasi sudah mendapat pelatihan dan mendapat surat penunjukan dari Kepala Puskesmas dan Dinkes kab./Kota Ada petugas petugas pengelola imunisasi, dan mendapat pelatihan dalam waktu 2 tahun terakhir serta mendapat surat penunjukan dari Ka. Puskesmas atau Dinkes Kab./Kota

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D ) Observasi ( O ) Wawancara ( W ) : : :

: surat tugas, undangan dan sertifikat lihat dokumen Pengelola Imunisasi Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

120 6.2. Pengembangan kemampuan Pelaksana Imunisasi Definisi Operasional (DO) : Pengembangan kemampuan Pelaksana Imunisasi adalah pengembangan kemampuan petugas Pelaksana Imunisasi yang berlatar pendidikan kesehatan (dokter, bidan, perawat) yang telah di berikan pelatihan oleh tingkat Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Dinas Kesehatan Provinsi atau Kemenkes yang ditunjuk oleh Kepala Puskesmas. Skor : ................ 0 1 = = Tidak ada petugas Pelaksana Imunisasi Ada Petugas Pelaksana Imunisasi yang belum mendapatkan pelatihan dan tidak bisa menunjukan surat tugas dari Ka Puskesmas / Ka. Dinas Kes Kab./Kota Ada Petugas Pelaksana Imunisasi yang belum mendapatkan pelatihan dan bisa menunjukan surat tugas dari Ka Puskesmas/Ka. Dinas Kes Kab./Kota Ada Petugas Pelaksana Imunisasi yang mendapatkan pelatihan tidak bisa menunjukan sertifikat dan tidak bisa menunjukan surat tugas dari Kepala Puskesmas/ Ka. Dinas Kes. Kab./Kota Ada Petugas Pelaksana Imunisasi yang mendapatkan pelatihan tidak bisa menunjukan sertifikat tapi bisa menunjukan surat tugas dari Kepala Puskesmas/Ka. Dinas Kes. Kab./Kota Ada Petugas Pelaksana Imunisasi yang mendapatkan pelatihan dengan menunjukan sertifikat dan menunjukan surat tugas dari Kepala Puskesmas/Ka. Dinas Kes. Kab./Kota

2 3

= =

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen : Surat tugas, sertifikat pelatihan Observasi : lihat dokumen Wawancara : Kepala Puskesmas atau Pengelola Imunisasi STANDAR 7 EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Kegiatan evaluasi pelaksanaan Imunisasi (Desa/Kelurahan UCI) di puskesmas mulai dari input, proses dan out put (Pencapaian Desa/Kelurahan UCI) 7.1 Laporan penetapan status Desa/Kelurahan UCI/Non UCI Definisi Operasional (DO) Laporan penetapan status Desa/Keluarahan UCI/Non Uci adalah tersedianya dokumen laporan pencapaian target UCI berdasarkan cakupan BCG, DPT-HB 3, Polio 4 dan Campak dalam periode I tahun minimal 80 %. Skor :

0 1 2

= = =

Tidak ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI Ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI 2 tahun terakhir Ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI 2 tahun terakhir namun belum dievaluasi

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

121 3 4 5 = = = Ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI 2 tahun dievaluasi, belum ditindak lanjuti Ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI 2 tahun dievaluasi dan ditindak lanjuti Ada laporan pencapaian desa/kelurahan UCI dan Non UCI 2 tahun dievaluasi, ditindak lanjuti serta untuk rencana tindak lanjut pertemuan lokbul atau lokmin terakhir sudah terakhir sudah terakhir sudah dibahas pada

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D ) Obervasi ( O ) Wawancara ( W ) 7.2. : : :

: Arsip laporan pencapaian UCI desa 2 tahun terakhir, Notulen lokbul/lokmin Display pemetaan Desa UCI Kepala Puskesmas atau Pengelola Imunisasi

PWS (pemantauan wilayah setempat) imunisasi Definisi Operasional (DO) : PWS adalah alat evaluasi hasil cakupan pelayanan imunisai tiap Desa/Kelurahan berupa grafik batang dengan menggunkan indikator akses ( DPT-HB1 ) indikator kualitas/perlindungan (BCG, DPT-HB3, Polio 4 campak) dan indikator manajemen program (drop Out DPT-HB1Campak) dibuat setiap bulan. SKOR 0 1 2 3 4 5 = = = = = = : Tidak ada laporan PWS Ada laporan PWS tidak tiap bulan tidak dilakukan analisa Ada laporan PWS tidak tiap bulan dilakukan analisa Ada laporan PWS tiap bulan tidak dilakukan analisa Ada laporan PWS tiap bulan dan dilakukan analisa tidak ada tindak lanjutnya Ada laporan PWS tiap bulan dan dilakukan analisa serta tindak lanjutnya

Catatan :

Cara Pembuktian ( C.P ) Dokumen ( D ) : Observasi ( O ) : Wawancara ( W ) :

: Laporan PWS, hasil analisa dan tindak lanjut Display grafik PWS Kepala Puskesmas atau Pengelola Imunisasi

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

122 C. SURVEILANS EPIDEMIOLOGI KESEHATAN Penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan merupakan rangkaian kegiatan pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus-menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya Tujuan penyelenggaraan system surveilans epidemiologi kesehatan adalah tersedia data dan informasi epidemiologi sebagai dasar manajemen kesehatan untuk pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan dan peningkatan kewaspadaan serta respon kejadian luar biasa yang cepat dan tepat. Standar 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Parameter 1.1. Tersedia Buku Pedoman sebagai acuan puskesmas dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan. Definisi Operasional : Tersedia pedoman yang berkaitan dengan penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan yang menjadi pedoman petugas melaksanakan kegiatan surveilans. Buku pedoman penyelenggaraan surveilans epidemiologi meliputi : 1. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1116/MenKes/SK/VIII/2003, tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan 2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1479/MenKes/SK/X/2003, tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu 3. Pedoman Penyelidikan dan Penaggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit Menular dan Keracunan. (Kementrian Kesehatan RI,Dirjen PP dan PL) 2010. 4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1501/Menkes/Per/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangan

Skor : .. 0 = Tidak ada buku pedoman penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan 1 = Tersedia buku pedoman penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan tetapi bukan buku pedoman seperti tercantum dalam definisi operasional 2 = Tersedia salah satu pedoman 3 = Tersedia 2 (dua) pedoman 4 = Tersedia 3 (tiga) pedoman 5 = Tersedia 4 (empat) pedoman Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Tersedia buku pedoman Observasi ( O ) : Melihat buku pedoman Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas Puskesmas

Surveilans

atau Kepala

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

123

STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Parameter 2.1. Sistem Pelaporan Definisi Operasional : Sistem Pelaporan adalah pelaporan surveilans epidemiologi yang didokumentasikan, terdiri atas : 1. Dokumen C1/Zero reporting C1 2. Dokumen STP KLB/Zero reporting STP KLB 3. Dokumen STP Puskesmas/Zero reporting STP Puskesmas 4. Dokumen W2 /Zero reporting W2 Skor 0 = 1 = 2 = 3 = 4 = 5 =

Tidak memiliki dokumen Tersedia 1 dokumen Tersedia 2 dokumen Tersedia 3 dokumen Tersedia dokumen point 1 sampai dengan 4 Tersedia dokumen point 1 sampai dengan 4 dilaporkan tepat waktu

Cara Pembuktian (CP) Dokumen ( D ) : Tersedia dokumen atau pedoman Observasi ( O ) : Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans Puskesmas 2.2. Investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB)

atau Kepala

Definisi Operasional : KLB penyakit menular termasuk keracunan pangan dilakukan investigasi dalam kurun waktu satu tahun. Skor : 0 1 2 3 4 5 = = = = = = KLB tidak dilakukan investigasi 10 % KLB dilakukan investigasi 11 % - 29 % KLB dilakukan investigasi 30% - 55% KLB dilakukan investigasi 56% -79% KLB dilakukan investigasi 80% KLB dilakukan investigasi atau tidak terjadi KLB

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : 1. Dokumen laporan investigasi 2. Dokumen laporan mingguan penyakit Observasi ( O ) : 1. Melihat trend penyakit mingguan (ada KLB/tidak ada KLB) 2. Dokumen penyakit tertentu yang dapat dikategorikan sebagai KLB seperti : Satu kasus Difteri Lima kasus Campak klinis dalam kurun waktu satu bulan di wilayah kerja puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

124 Satu kasus Polio Satu Kasus TN Satu Kasus Rabies Keracunan Satu kasus DSS Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans Puskesmas 2.3. Konfirmasi Laboratorium Klinis Campak

atau

Kepala

Definisi Operasional : Pengambilan specimen serologis Campak klinis 20% dalam 1 tahun diperiksa di Lab Nasional (PT. Bio Farma) Skor 0 : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 : Catatan

Tidak dilakukan pemeriksaan serologis di Lab Nasional 1% - 5% kasus Campak Klinis diperiksa serologis di Lab Nasional 6% - 10% kasus Campak Klinis diperiksa serologis di Lab Nasional 11% - 15% kasus Campak Klinis diperiksa serologis di Lab Nasional 16% - 19% kasus Campak Klinis diperiksa serologis di Lab Nasional 20% kasus Campak Klinis diperiksa serologis di Lab Nasional

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Dokumen hasil pemeriksaan Observasi ( O ) : Melihat dokumen Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans atau Kepala Puskesmas STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Parameter 3.1. Petugas Surveilans Definisi Operasional : Pegawai yang ditugaskan Kepala Puskesmas bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan. Skor 0 :

Tidak ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan. 1 : Ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan, tetapi tidak dilengkapi dengan surat tugas dan uraian tugas 2 : Ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan tetapi tidak dilengkapi dengan surat tugas dan tetapi mempunyai uraian tugas 3 : Ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan dilengkapi dengan surat tugas, tetapi tidak mempunyai uraian tugas. 4 : Ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan dilengkapi dengan surat tugas dan uraian tugas. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

125 5 : Ada petugas Puskesmas yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan dilengkapi dengan surat tugas dan uraian tugas serta dilakukan evaluasi setiap tahun.

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Surat Tugas dari Kepala Puskesmas, uraian tugas Observasi ( O ) : Melihat surat tugas dan uraian tugas Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans atau Kepala Puskesmas

Standar 4 & 5 tidak ada


STANDAR 6. PENDIDIKAN DAN PENGEMBAGAN STAF Parameter : 6.1. Pertemuan Staf Definisi Operasional : Dilaksanakan pertemuan staf puskesmas yang membahas masalah penyakit (menular/tidak menular), dilakukan 3 (tiga) kali dalam 3 bulan terakhir ada rekomendasi dan tindak lanjut Skor 0 : 1 : 2 3 : :

Tidak pernah dilaksanakan pertemuan staf puskesmas Dilaksanakan pertemuan staf tetapi hanya membahas masalah penyakit (menular / tidak menular ) Dilaksanakan pertemuan staf puskesmas membahas masalah penyakit (menular/ tidak menular ), tetapi hanya dilakukan 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan terakhir Dilaksanakan pertemuan staf puskesmas membahas masalah penyakit (menular / tidak menular) tetapi hanya dilakukan 3 (tiga) kali dalam 3 bulan terakhir, tetapi tidak ada rekomendasi dan tindak lanjut Dilaksanakan pertemuan staf puskesmas membahas masalah penyakit (menular dan tidak menular ) dilakukan 3 (tiga) kali dalam 3 bulan terakhir tetapi tidak ada rekomendasi dan tindak lanjut Dilaksanakan pertemuan staf puskesmas yang membahas masalah penyakit (menular/ tidak menular) dilakukan 3 (tiga) kali dalam 3 bulan terakhir dan ada rekomendasi dan tindak lanjut

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Notulen hasil pertemuan staf Observasi O ) : Lihat notulen Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas Puskesmas

surveilans

atau

Kepala

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

126 STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Parameter : 7.1. Evaluasi Definisi Operasional : Tersedia dokumen evaluasi semester dan tahunan penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan, seperti surveilans penyakit, surveilans factor resiko (terutama yang menjadi masalah kesehatan setempat serta ada tindak lanjut) Skor 0 : 1 : 2 : 3 : 4 : 5 :

Tidak Tersedia dokumen evaluasi Tersedia dokumen evaluasi tetapi tidak rutin setiap semester dan setiap tahun Tersedia dokumen evaluasi semester Tersedia 2 (dua) dokumen evaluasi semester dan tahunan Tersedia 2 (dua) dokumen evaluasi semester dan tahunan dan ada tindak lanjut Tersedia 2 (dua) dokumen evaluasi semester dan tahunan dan ditindal lanjuti

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Dokumen evaluasi Observasi ( O ) : Lihat dokumen evaluasi Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans atau Kepala Puskesmas 7.2. Diseminasi Definisi Operasional : Dilakukan diseminasi informasi ( dalam bentuk pertemuan atausektor atau dalam bentuk surat umpan balik) tentang penyelenggaraan surveilans kesehatan minimal 4 (empat) kali dalam satu tahun kepada Lintas program atau Lintas sektor Skor 0 1

= Tidak dilakukan diseminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan kepada lintas program atau lintas sektor = Dilakukan desiminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan kepada lintas program /lintas sektor tetapi tidak rutin setiap tahun = Dilakukan desiminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan kepada lintas program/ lintas sektor sebanyak 1 (satu) kali dalam kurun waktu satu tahun = Dilakukan diseminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kepada lintas program / lintas sektor sebanyak 2 (dua) kali dalam kurun waktu satu tahun = Dilakukan diseminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kepada lintas program / lintas sektor sebanyak 3 (tiga) kali dalam kurun waktu satu tahun. = Dilakukan diseminasi informasi tentang penyelenggaraan surveilans epidemiologi kepada lintas program / lintas sektor sebanyak 4 (empat ) kali dalam kurun waktu satu tahun

Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen ( D ) : Dokumen Diseminasi informasi (notulen, bulletin, surat umpan balik) Observasi ( O ) : Melihat dokumen Wawancara ( W ) : Wawancara dengan petugas surveilans atau Ka. Puskesmas Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

127

Rekomendasi p2m

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

128

REKOMENDASI IMUNISASI

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

129

REKOMENDASI SURVEILANS

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

130

Nilai

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

131

INSTRUMEN 6

PELAYANAN KESEHATAN KELUARGA


Kab./Kota Puskesmas Status Penilai : : : :

Non DTP, DTP, DTP Poned

A.

PELAYANAN KESEHATAN IBU DAN BAYI BARU LAHIR

STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Falsafah Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah tercapainya derajat pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang optimal (komprehensif, integrative dan berkesinambungan) melalui pelayanan kesehatan bagi Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang berkualitas, termasuk pelayanan kedaruratan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Tujuannya adalah menyelamatkan ibu pada masa kehamilan, persalinan dan nifas serta bayi yang baru dilahirkan melalui kegiatan peningkatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir serta penanganan komplikasinya. Parameter : 1.1. Ada informasi tertulis yang mengatur pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang mencakup pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir. Definisi Operasional : Informasi tertulis yg dimaksud adalah dokumen tentang kebijakan & rencana strategi puskesmas (rencana kerja) sebagai dasar pelaksanaan pelayanan kesehatan keluarga yg meliputi ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Skor = . 0 = Tidak ada dokumen tentang kebijakan dan strategi pelaksanaan pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir 1 = Tersedia dokumen tentang kebijakan, tetapi belum ada strategi pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir 2 = Tersedia dokumen ttg kebijakan, strategi tetapi belum ada tujuan kegiatan pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir 3 = Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, dan ada rencana kerja saja 4 = Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, ada rencana kerja dan sudah dilaksanakan 5 = Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, dibuat rencana kerja tahunan, sudah dilaksanakan dan selalu dievaluasi Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

132 Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Rencana tahunan puskesmas yang di syahkan oleh kepala puskesmas Rencana kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Laporan penyelenggaraan pertemuan sosialisasi rencana kerja lengkap (Daftar hadir, jadwal, notulen) : Pelaksana Pelayanan : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/Dokter) -

Observasi (O) Wawancara (W) 1.2.

Puskesmas mampu memberikan pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, dan bayi baru lahir sesuai dengan standar pelayanan.

Definisi Operasional :
Puskesmas mampu melayani sesuai standar adalah puskesmas memberikan pelayanan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir meliputi pemeriksaan kehamilan (ANC), persalinan dan kunjungan nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai dengan Pedoman Pelayanan Kebidanan dan Neonatal Dasar dan Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) yang dilaksanakan oleh dokter/bidan. Skor 0 1 2 3 4 5 : .. : : : : : : Tidak ada pemeriksaan/pelayanan ibu hamil ( ANC), persalinan dan Nifas, dan bayi baru lahir di Puskesmas Puskesmas hanya mampu memberikan 2 jenis pelayanan (ANC, nifas) saja tetapi tidak sesuai dengan standar Puskesmas memberikan pelayanan ANC, persalinan dan Nifas dan bayi baru lahir tetapi tidak sesuai standar Puskesmas hanya mampu memberikan 2 jenis pelayanan (ANC, nifas) saja sesuai standar Puskesmas mampu memberikan 3 jenis pelayanan (ANC, nifas, bayi baru lahir) sesuai standar Puskesmas mampu memberikan 4 jenis pelayanan ANC, persalinan, Nifas dan bayi baru lahir sesuai standar

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Adanya buku pedoman Pelayanan Kebidanan dan Neonatal Dasar - Adanya buku Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) - Adanya jadwal pelayanan di KIA - Ada pencatatan hasil pelayanan (Kartu Ibu, register, kohort ibu) Observasi (O) : Pelaksanaan pelayanan dan RR Wawancara (w) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

133 1.3. Puskesmas mampu mendeteksi dan menyediakan pelayanan kasus kegawat daruratan pada Ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan Bayi baru lahir, serta mampu mendeteksi, dan menangani serta merujuk kasus-kasus komplikasi obstretri dan neonatal. Definisi Operasional : Yang dimaksud adalah Puskesmas mampu menyediakan, melaksanakan pelayanan kegawat daruratan obstetri dan neonatal 24 jam oleh tenaga (dokter dan bidan) terampil dalam menanggulangi kegawatdaruratan ibu dan bayi di tingkat pelayanan dasar. (PONED) Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : Tidak ada deteksi risiko tinggi kebidanan dan neonatal dan penanganan serta rujukan kasus-kasus komplikasi obstetri dan neonatal Hanya melaksanakan deteksi Risiko tinggi/Komplikasi obstetric-neonatal Ada pelayanan deteksi Risiko Tinggi/ komplikasi obstetri neonatal, tidak melakukan penanganan dan hanya merujuk Ada pelayanan deteksi Risiko Tinggi/ komplikasi obstetri neonatal, dan melakukan penanganan dan rujukannya selama < 12 jam Ada pelayanan deteksi Risiko Tinggi/ komplikasi obstetri neonatal, penanganan dan rujukannya selama 12 jam - < 24 jam Ada pelayanan deteksi Risiko Tinggi/ komplikasi obstetri neonatal, penanganan dan rujukannya selama 24 jam

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Jadwal Pelayanan, jadwal jaga, laporan hasil pelayanan SPO pelayanan gawat darurat Alur rujukan Observasi (O) : Pelaksanaan pelayanan kegawat daruratan obstetri Neonatal Wawancara (W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter)

1.4.

Pusksemas mempunyai jaringan kerja dan rujukan, baik dengan unit pelayanan dibawahnya (Pustu, Polindes) maupun dengan dengan unit pelayanaan di tingkat Kabupaten/Kota (RSU serta dengan Puskesmas lainnya. Definisi Operasional : Jaringan kerja adalah suatu tatanan kerjasama dalam pelaksanaan program kesehatan ibu dan bayi baru lahir dengan sektor di luar kesehatan yang terkait misalnya BKKBN, Depag, Pemerintah setempat. Dalam pelaksanaannya diperlukan kesepakatan kerja dama, pertemuan koordinasi lintas sektor tersebut, Jaringan rujukan merupakan system pelimpahan tanggung jawab secara timbal balik dengan unit kesehatan yang lebih tinggi, setingkat atau dibawah puskesmas. Sistem tersebut harus dilengkapi dengan alat penunjang agar dapat berfungsi dengan baik, antar lain : tatalaksana baku yang disepakati semua pihak (tertulis), kesiapan transportasi, donor darah (berjalan), asuransi kesehatan (tabulin sdt.).

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

134 Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : . Puskesmas tidak mempunyai jaringan kerja dan rujukan . Puskesmas hanya mempunyai jaringan kerja di wilayahnya, tidak ada rujukan. Puskesmas hanya mempunyai salah satu rujukan saja, tetapi tidak mempunyai jaringan kerja. Puskesmas hanya mempunyai jaringan kerja dan rujukan ke bawah. Puskesmas mempunyai jaringan kerja dan rujukan kebawah dan horizontal. Puskesmas mempunyai jaringan kerja dan rujukan balik kebawah dan keatas horizontal maupun vertical.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Dokumen kerjasama dengan LS/LP - Adanya dokumen pencatatan rujukan dan umpan balik hasil rujukan - Alur Rujukan - Adanya formulir rujukan - Adanya dokumen rujukan balik Observasi (O) : Perencanaan kerjasama pelaksanaan program KIA dengan LS/LP & rujukan Wawancara : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter) (W)

STANDAR 2 . ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Pelayanan kesehatan Ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan Bayi baru lahir dilaksanakan dengan menggunakan perangkat administrasi dan dikelola sesuai dengan sistem pengelolaan. Parameter : 2.1 Puskesmas melaksanana pencatatan & pelaporan secara lengkap sesuai dengan pedoman. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan puskesmas harus dilengkapi dengan perangkat administrasi baku adalah puskesmas mempunyai system pencatatan dan pelaporan sesuai dengan (Kartu Ibu , Kohort ibu, Partograf, PWS ) SIMPUS Perangkat administrasi baku seperti : format pencatatan, KMS Ibu, Kartu Ibu, partograf, PWS-KIA, register kohort ibu/ bayi, format laporan seperti LB3 dalam (system Informasi Puskesmas) SIMPUS, serta buku pedoman Pencatatan dan Pelaporan (information) Pihak terkait : Bidan Koordinator, Bidan Desa, Pembina Desa, BPS, Fasilitas Kesehatan Swasta, Aparat Desa/Kecamatan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

135 Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : Puskesmas tidak mempunyai pencatatan dan pelaporan administrasi. Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan, namun tidak diisi lengkap dan pelaporan tidak dikirim Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi tidak lengkap dan dikirim tidak tepat waktu Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi tidak dianalisa dan diumpan balikan dikirim tepat waktu Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi dengan lengkap dianalisa dikirim tepat waktu namun tidak diumpan balikan Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi dengan lengkap dan benar serta di analisa diumpan balikan pada pihak terkait dan dikirim tepat waktu.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Hasil pencatatan dan pelaporan program sesuai buku SIMPUS(SP3) serta format format laporan yang telah diisi & bukti kirim laporan Observasi (O) : Dokumen laporan Wawancara (W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter)

2.2. Adanya pertemuan rutin yang dilaksanakan di Puskesmas untuk membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir di wilayah kerjanya. Skor 0 1 : : : .. Tidak ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir di wilayah kerjanya. Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir di wilayah kerjanya 1 2 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir di wilayah kerjanya 3 5 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di wilayah kerjanya 6 8 k ali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir di wilayah kerjanya 9 11 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan programpelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di wilayah kerjanya 12 kali/setahun

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

136

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Ada rencana kegiatan pertemuan rutin - Ada undangan, rencana pembahasan, daftar hadir, - Adanya notulen hasil pertemuan dan rencana tindak lanjut Ada laporan hasil pertemuan rutin / rapat tentang programpelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, ada jadwal. Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter)

Observasi (O)

Wawancara (W)

STANDAR 3 . STAF DAN PIMPINAN. Kegiatan Pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dikoordinir oleh Pimpinan Puskesmas dan diselenggarakan oleh tenaga Bidan Puskesmas. Parameter : 3.1 Pimpinan Puskesmas bertanggung jawab dan mengkoordinir dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, baik di dalam maupun di luar gedung. Definisi Operasional : Yang dimaksud pimpinan bertanggung jawab dan mengkoordinir kegiatan pelayanan adalah pimpinan yang terlibat langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian serta tindak lanjut (termasuk memberikan uraian tugas yang jelas dan tertulis bagi staf) programpelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di wilayah kerjanya. Skor 0 1 2 : : : : . Tidak ada mekanisme dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian Pelayanan Kesehatanibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir. Adanya mekanisme dalam perencanaan dan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir sesuai standar. Adanya mekanisme dalam perencanaan dan pelaksanaan Pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir sesuai standar, tetapi tidak ada mekanisme pemantauan, penilaian dan tindak lanjut. Adanya mekanisme dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan Pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir sesuai standar, ada pemantauan tetapi tidak ada mekanisme penilaian dan tindak lanjut. Adanya mekanisme dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian Pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, sesuai standar,ada pemantauan dan mekanisme penilaian tetapi tidak ada tindak lanjut Adanya koordinasi dalam mekanisme perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, penilaian dan tindak lanjut Pelayanan Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir, sesuai standar.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

137

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Adanya dokumen perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian program Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir yang masuk/ tercantum dalam rencana tahunan puskesmas. (capaian indikator KIA ) - Uraian Tugas dari masing-masing staf yang dikeluarkan oleh Kepala Puskesmas. - Notulen hasil evaluasi dan tindak lanjut Adanya proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian program Kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir. Pimpinan Puskesmas (Dokter)

Observasi (O)

Wawancara (W) 3.2

Tenaga pengelola pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah tenaga keperawatan Lulusan D3 Kebidanan dalam melaksanakan pelayanan program Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan tenaga pengelola KesehatanIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah tenaga keperawatan berpendidikan Bidan dengan lulusan D3. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : Tidak ada pengelola dan pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Pengelola pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir oleh tenaga perawat / D1 Kebidanan 25 % Pengelola pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah lulusan D3 Kebidanan 50 % Pengelola pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah lulusan D3 Kebidanan. 75 % Pengelola pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah lulusan D3 Kebidanan 100% Pengelola pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah lulusan D3 Kebidanan

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - SK penempatan bidan sebagai pelaksana pelayanan Kesehatan bu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir - SIB dan SIPB Observasi (O) : Pelayanan di KIA Wawancara (W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/perawat) Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

138 STANDAR 4 . FASILITAS DAN PERALATAN Dalam melaksanakan kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, Puskesmas harus dilengkapi dengan fasilitas kesehatan sesuai standar Untuk dapat melaksanakan kegiatan pelayanan. Parameter : 4.1. Adanya ruangan dan fasilitas yang memadai untuk dapat melaksanakan kegiatan pemeriksaan kesehatan ibu dan ruang persalinan normal; Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan ruangan memadai adalah ruangan yang terdiri dari ruangan ANC, persalinan, Nifas dan ruangan untuk melakukan proses alat bekas pakai baik secara steriliasi atau DTT (disinfeksi tingkat tinggI). DTT adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikro organisme kecuali endospora bakteri dengan cara merbus atau secara kimiawi Sterilisasi adalah tindakan untuk menghilangkan semua mikro organisme (bakteri, jamur, parasit dan virus) termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrumen. Strerilisasi dapat menggunakan Oven/autoklaf/Kimia Skor : 0 : Tidak tersedia ruangan yang memadai dan fasilitas peralatan sesuai kebutuhan 1 : Adanya ruangan pelaksanaan kegiatan pelayanan yang tidak memadai. 2 : Adanya ruangan yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan yang tidak dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan peralatan 3 : Adanya ruangan yang memadai untuk pelaksanaan kegiatan pelayanan yang dilengkapi dengan fasilitas penyimpanan peralatan, tetapi tidak dilengkapi dengan instrument sterilisasi. 4 : Adanya ruangan ANC yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang, adanya ruangan pertolongan persalinan yang tidak dilengkapi dengan Gynaecology Bed dan mempunyai alat sterilisasi Instrument 5 : Adanya ruangan ANC yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang, adanya ruangan pertolongan persalinan yang memadai yang dilengkapi dengan Gynaecology Bed dan saran prasarana penunjang serta ada ruangan/ area alat sterilisasi Instrument. Catatan : Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) : : : - Adanya daftar inventarisasi alat untuk pelayanan KIA - Adanya kartu pemeliharaan alat, jadwal kalibrasi alat - Adanya ruangan kerja - Kondisi peralatan yang ada Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan / dokter)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

139 4.2. Penyediaan obatobatan untuk pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir dilaksanakan sesuai dengan standar. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan penyediaan obat sesuai standar, kebutuhan dan jadwal adalah tersedianya obat sesuai dengan jenis obat, kuantitas dan kualitas (penyimpanan) serta tersedia secara berkesinambungan . Skor 0 1 2 : : : : .. Tidak tersedia obat-obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Tersedianya obat obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir Jenis dan jumlah tidak sesuai kebutuhan Tersedianya obat obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai Jenis, jumlahnya tidak sesuai dan tidak berkesinambungan. Tersedianya obat obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai jenis dan jumlahnya tidak sesuai dan berkesinambungan. Tersedianya obat obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai Jenis dan jumlahnya, tetapi tidak berkesinambungan. Tersedianya 0 obat obatan untuk Pelayanan KesehatanIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai Jenis dan jumlahnya, dan berkesinambungan.

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) Dokumen (D) : - Adanya renacana usulan kebutuhan obat-obatan - Adanya daftar obat yang tersedia - Adanya dokumen penerimaan dan pemakaian obatobatan Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Tersedianya obat-obatan untuk Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir sesuai dengan kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Observasi (O)

Wawancara (W) :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

140

STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDURE Ada informasi tertulis yang mengatur pelaksanaan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang mencakup : kebijakan dan prosedur tetap di puskesmas di wilayah kerja puskesmas (di luar dan di dalam gedung puskesmas). Sehingga kegiatan ini dapat mencapai tujuan yang diinginkan sesuai denga situasi dan kondisi setempat. Parameter : 5.1. Adanya kebijakan yang mengatur pelaksanaan pelayanan di tingkat puskesmas yang diwujudkan dalam prosedur tetap pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam dan di luar gedung puskesmas disertai rencana tindak lanjutnya. Definisi Operasional : Informasi tertulis yang dimaksud adalah dokumen tentang Standar Prosedur Opearsional (SPO) pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang dilaksanakan di dalam dan di luar gedung puskesmas beserta rencana tindak lanjutnya melalui rujukan maupun pelayanan perawatan kesehatan masyarakat. Skor 0 : . : Tidak ada SPO dan rencana tindak lanjut pelayanan program pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam maupun di luar gedung puskesmas. : Ada SPO dan pelayanan ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir hanya di dalam gedung puskesmas saja : Ada Prosedur Tetap pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di luar gedung puskesmas : Ada Prosedur Tetap pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, tetapi tidak ada tindak lanjut : Ada Prosedur Tetap dan rencana tindak lanjut pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, tetapi belum dimengerti oleh pelaksana program : Ada 0 Prosedur Tetap dan rencana tindak lanjut pelayanan bagi seluruh kasus Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, dimengerti oleh pelaksana program pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, yang di sahkan oleh kepala puskesmas.

1 2 3 4

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : SPO untuk setiap pelayanan program, pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir di dalam maupun di luar gedung Puskesmas Observasi (O) : SPO Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas & Bayi Baru Lahir yang telah di syahkan oleh Kepala Puskesmas. Wawancara(W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

141 STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Pembinaan dan pengembangan staf kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir dilaksanakan secara berkelanjutan, dan disesuaikan dengan kondisi setempat. Parameter : 6.1. Adanya mekanisme dan pelaksanaan pembinaan teknis dan administratif berkelanjutan baik oleh pimpinan Puskesmas maupun oleh bidan koordinator terhadap bidan pembina wilayah ( Bidan Desa / Bidan Kelurahan). Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan pembinaan teknis adalah proses pembinaan yang dilakukan oleh dokter atau bikor dalam pelaksanaan pelayanan KIA (pertolongan persalinan, pemasangan IUD, PI dll) dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kompetensi petugas. Pembinaan administrative adalah proses pembinaan dalam hal kemampuan manajerial pengelolaan KIA (p1,P2 dan P3) Berkesinambungan : Pemberian yang terus menerus berdasarkan masalah yang ditemukan. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : . Tidak terlaksana pembinaan administratif dan teknis berkelanjutan secara berkesinambungan. Terlaksana pembinaan administratif saja. Terlaksana pembinaan teknis saja dan tidak berkesinambungan Terlaksana pembinaan teknis saja dan berkesinambungan Terlaksana pembinaan administratif dan teknis berkelanjutan tetapi tidak berkesinambungan Terlaksana 0 pembinaan teknis dan administrative berkelanjutan secara berkesinambungan (berdasarkan masalah)

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : -

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Analisa hasil pelayanan kegiatan KIA baik kualitas maupun kuantitas - Rencana program pengembangan staf - Jadwal pembinaan administratif dan teknis. - Hasil pembinaan baik administatif maupun teknis Pelaksanaan kegiatan pembinaan (administratif dan teknis) Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

142 6.2. Adanya program pendidikan/pelatihan yang disusun untuk para staf yang berkaitan dengan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih baik. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan program pendidikan/pelatihan adalah rencana pendidikan/pelatihan teknis medis pelayanan kesehatan bagi pengelola Pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir (APN, Asfiksia, BBLR, PI, IUD dll) Skor 0 : 1 2 3 : : : : . Tidak ada rencana program pendidikan/pelatihan teknis medis bagi seluruh petugas pelayanan KesehatanIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir Ada rencana pendidikan/pelatihan bagi seluruh petugas pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, tetapi tidak tertulis Ada rencana pendidikan/pelatihan bagi seluruh petugas pelayanan Kesehatan ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, secara tertulis Ada rencana pendidikan/pelatihan tertulis dan pendidikan/pelatihan teknis medis tertulis bagi seluruh petugas pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir, tertulis dan terealisasi 50% Ada rencana pendidikan/pelatihan teknis medis bagi seluruh petugas pelayanan KesehatanIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir terealisasi > 50% Terealisasinya 0 rencana pendidikan/pelatihan program dan teknis medis bagi seluruh petugas pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Terealisasi 100%

4 5

: :

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Adanya dokumen tertulis tentang rencana program pendidikan/pelatihan bagi staf. - Dokumen program pengembangan staf (pendidikan/pelatihan) untuk staf pemberi pelayanan KIA (dalam bentuk usulan ke dinas di tdd ka.pusk) - AdanyA sistem seleksi untuk staf yang akan mengikuti pendiddikan/pelatihan (masa kerja, dedikasi,jabatan) - Dokumen pelaksanaan program dan evaluasi ( adanya daftar staf yang telah mengikuti pelatihan (dok surat tugas dan sertifikat/ijazah pelatihan ) Adanya daftar staf yang mengikuti pendidikan/pelatihan. Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

143 STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Untuk mencapai hasil pelayanan kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir yang bermutu diperlukan mekanisme penilaian dan peningkatan mutu pelayanan yang terintegrasi dengan Manajemen Puskesmas. Parameter : 7.1. Ada pemantauan terus menerus pada pelaksanaan kegiatan Pelayanan kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir melalui pemantauan PWS KIA serta tindak lanjutnya. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan PWS adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Kegiatan PWS KIA terdiri dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dari pihak/instansi terkait untuk tindak lanjut. Skor 0 1 2 3 : : Tidak ada pelaksanaan kegiatan pemantauan pelaksanaan kegiatan Pelayanan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir serta tindaklanjutnya. : Pemantauan dilaksanakan tidak terus menerus kegiatan Pelayanan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir dan tidak dianalisis. : Pemantauan dilaksanakan terus menerus kegiatan PelayananIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir tetapi tidak dilakukan analisis. : Pemantauan dilaksanakan terus menerus dan analisis terhadap hasil cakupan kegiatan PelayananIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir namun masih analisis indikator tunggal. : Pemantauan dan analisis dilaksanakan terus menerus terhadap hasil cakupan program kegiatan PelayananIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir dan menggunakan analisis continum of care (berkelanjuatan) : 0 Pemantauan dilaksanakan dan analisis terus menerus terhadap hasil cakupan program kegiatan PelayananIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir dan menggunakan analisis continum of care (berkelanjuatan) disertai tindak lanjut ( PWS sebagai indicator membuat scoring dll) dan diumpan balikan

Catatan / Keterangan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Observasi (O) : Wawancara (W) :

Adanya data hasil kegiatan PWS KIA Dokumen hasil kegiatan & analisis PWS KIA di tempat pelayanan. Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

144 7.2. Adanya mekanisme pengendalian mutu kegiatan pelayanan Kesehatan Ibu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan pengendalian mutu kegiatan Pelayanan KesehatanIbu hamil, Ibu bersalin, Ibu nifas dan Bayi Baru Lahir adalah dilaksanakannya Audit Maternal Perinatal (AMP Medik dan Sosial), Analisis hasil kegiatan setahun termasuk penggunaan media KIE dan Quality Assurance serta Supervisi terhadap pelaksana program di tingkat desa (pustu, Polindes) AMP Medik adalah : Suatu kegiatan untuk mengidentifikasi faktor medik/Pelayanan Kesehatan yang berpengaruh kepada kesakitan dan kematian Ibu maupun perinatal : Suatu kegiatan untuk mengidentifikasi faktor sosial yang berpengaruh Kesakitan dan kematian Ibu maupun Perinatal

AMP Sosial adalah

Skor 0 1 2 3 4 : : : : :

: .. Tidak ada kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan, AMP medik dan sosial , serta supervise ke tingkat desa. Hanya terlaksana kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan. Terlaksananya kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan AMP medik. Terlaksananya kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan AMP medik dan sosial. Terlaksananya kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan AMP medik dan sosial serta Supervisi ke tingkat desa disertai rekomendasi namun belum di tindaklanjut Terlaksananya 0 kegiatan Analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan AMP medik dan Sosial, serta Supervisi ke tingkat desa disertai dengan rekomendasi dan dan tindak lanjut dari hasil rekomendasi (pembelajaran)

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Adanya jadwal pelaksanaan AMP Adanya hasil Analisis dampak kegiatan setahun berjalan, AMP medik dan Sosial, QA serta Supervisi. - Hasil survey kepuasan pelanggan - Hasil analis dari kegiatan KIA sesuai program KIA - Tersedianya data satu hasil analisis (Analisis kegiatan setahun berjalan, AMP medic dan sosial, QA serta supervisi) Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan)

Observasi (O)

Wawancara (W) :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

145

B. PELAYANAN KESEHATAN BAYI, BALITA DAN ANAK PRA SEKOLAH STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN
Falsafah Pelayanan Kesehatan Bayi, Balita, dan Anak Pra Sekolah adalah tercapainya derajat pelayanan Kesehatan Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah yang optimal (komprehensif, integratif dan berkesinambungan) melalui pelayanan kesehatan bagi Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah yang berkualitas dengan memperhatikan hak dan kepentingan anak untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Tujuan Program Kesehatan Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah adalah terpenuhinya kebutuhan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar bagi bayi, balita dan anak pra sekolah termasuk penanganan kesakitan, deteksi dini dan pemantauan serta stimulasi pertumbuhan/perkembangan anak. Parameter : 1.1. Adanya informasi tertulis yang mengatur pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah.

Definisi Operasional : Informasi tertulis yg dimaksud adalah dokumen tentang kebijakan & rencana strategi puskesmas (rencana kerja) sebagai dasar pelaksanaan pelayanan kesehatan keluarga yg meliputi kesehatan bayi, balita dan anak prasekolah untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Skor = . 0 1 2 3 4 = = = = = Tidak ada dokumen tentang kebijakan dan strategi pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah. Tersedia dokumen tentang kebijakan, tetapi belum ada strategi pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi tetapi belum ada tujuan kegiatan pelaksanaan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita, dan anak pra sekolah, dan ada rencana kerja saja Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita, dan anak pra sekolah, ada rencana kerja dan sudah dilaksanakan Tersedia dokumen tentang kebijakan, strategi dan tujuan kegiatan pelayanan kesehatan Ibu bayi, balita dan anak pra sekolah, dibuat rencana kerja tahunan, sudah dilaksanakan dan selalu dievaluasi

Catatan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

146 Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Rencana tahunan puskesmas yang disahkan oleh Kepala Puskesmas - Rencana kegiatan pelayanan Kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah - Laporan penyelenggaraan pertemuan sosialisasi rencana kerja lengkap (daftar hadir, jadwal, notulen) : Pelaksana Pelayanan : Petugas pelaksana pelayanan KIA (Dokter, Bidan, Perawat)

Observasi (O) Wawancara (W)

1.2

Puskesmas mampu memberikan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah sesuai dengan standar Definisi Operasional : Puskesmas mampu memberikan pelayanan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah yang meliputi pelayanan MTBM, MTBS, Imunisasi, SDIDTK, serta penjaringan kesehatan anak pra sekolah sesuai dengan pedoman/standar yang ada yang dilaksanakan oleh dokter/bidan/perawat/tenaga kesehatan lainnya. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : . Tidak ada pelayanan MTBM dan MTBS, SDIDTK dan penjaringan kesehatan anak pra sekolah Ada pelayanan MTBM dan MTBS, tidak ada pelayanan SDIDTK, belum ada penjaringan kesehatan anak pra sekolah. Ada pelayanan MTBM dan MTBS dan SDIDTK, belum ada pelayanan kesehatan anak pra sekolah di dalam dan di luar gedung Ada pelayanan MTBM/MTBS dan SDIDTK, sudah ada pelayanan kesehatan anak pra sekolah di dalam gedung. Ada pelayanan MTBM/MTBS dan SDIDTK, sudah ada pelayanan kesehatan anak pra sekolah di dalam dan di luar gedung. Ada 0 ruang pelayanan MTBM dan MTBS, pelayanan poli tumbuh kembang, sudah ada pelayanan kesehatan anak pra sekolah di dalam dan di luar gedung

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : - Pedoman standar pelayanan - Ada SOP - Modul/formulir MTBS, SDIDTK Observasi (O) - Ada jadwal pelayanan Wawancara (W) : Pelayanan kesehatan di ruangan : Petugas pemberi pelayanan penanganan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

147 STANDAR 2. ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah dilaksanakan dengan menggunakan perangkat administrasi dan dikelola sesuai dengan sistem pengelolaan sesuai standar. Parameter : 2.1 Puskesmas melaksanakan pencatatan & pelaporan secara lengkap sesuai dengan pedoman.

Definisi Operasional : Yang dimaksud melaksanan pencatatan dan pelaporan sesuai standar adalah puskesmas harus dilengkapi dengan perangkat administrasi baku yaitu sistem pencatatan dan pelaporan sesuai dengan (Kartu Bayi , Kohort Bayi dan Balita, Formulir MTBM/MTBS, Formulir SDIDTK, PWS) SIMPUS. Perangkat administrasi baku seperti : format pencatatan, KMS Bayi, Kartu Bayi, PWS-KIA, register kohort bayi dan balita, formulir MTBM/MTBS dan SDIDTK, format laporan seperti LB3 dalam (system Informasi Puskesmas) SIMPUS, serta buku pedoman Pencatatan dan Pelaporan Pelaporan tepat waktu : sesuai pedoman SP3 Pihak terkait : Bidan Koordinator, Bidan Desa, Pembina Desa, BPS, Fasilitas Kesehatan Swasta, Aparat Desa/Kecamatan Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : Puskesmas tidak mempunyai pencatatan dan pelaporan administrasi. Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan, namun tidak diisi lengkap dan pelaporan tidak dikirim Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi tidak lengkap dan dikirim tidak tepat waktu Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi tidak dianalisa dan diumpan balikan dikirim tepat waktu Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi dengan lengkap dianalisa dikirim tepat waktu namun tidak diumpan balikan Puskesmas mempunyai pencatatan dan pelaporan yang diisi dengan lengkap dan benar serta di analisa diumpan balikan pada pihak terkait dan dikirim tepat waktu.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Hasil pencatatan dan pelaporan program sesuai buku SIMPUS(SP3) serta format format laporan yang telah diisi & bukti kirim laporan Observasi (O) : Dokumen laporan Wawancara (W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter/perawat)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

148 2.2 Adanya pertemuan rutin yang dilaksanakan di Puskesmas untuk membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah terintegrasi di wilayah puskesmas. Definisi Operasional : Ada pembahasan hasil pelaksanaan pelayanan kesehatan antara pimpinan dan staf puskesmas minimal 1 kali sebulan. Pembahasan dilakukan khusus materi bayi, balita dan APRAS dan terintegrasi dgn program lain. Skor 0 1 2 3 4 5 = = = = = = : . Tidak ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah di wilayah kerjanya. Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah di wilayah kerjanya 1 2 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah di wilayah kerjanya 3 5 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dana anak pra sekolah di wilayah kerjanya 6 8 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah di wilayah kerjanya 9 11 kali/setahun Ada pertemuan rutin membahas pelaksanaan program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah di wilayah kerjanya rutin setiap bulan (12 kali/setahun)

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : - Ada rencana kegiatan pertemuan rutin - Ada undangan, rencana pembahasan, daftar hadir, - Adanya notulen hasil pertemuan dan rencana tindak lanjut Ada laporan hasil pertemuan rutin / rapat tentang program pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah Petugas pelaksana pelayanan KIA (bidan/dokter/perawat)

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

149 STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Pengelolaan program dan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah dilaksanakan oleh tenaga medis yang profesional dan kompeten yang dibantu oleh petugas non medis dibawah koordinasi dan tanggung jawab pimpinan puskesmas. Parameter : 3.1 Penanggungjawab program dan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah adalah petugas medis dan keperawatan (perawat dan bidan) sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan kompetensi. Definisi Operasional Yang dimaksud dengan penanggung jawab kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah adalah pelaksana/koordinator pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak prasekolah di Puskesmas yang berlatar belakang pendidikan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensinya. Skor 0 1 2 : : : :.. Tidak ada penanggungjawab program dan pelayanan. Penanggungjawab program dan pelayanan adalah tenaga kesehatan lainnya. Penanggungjawab program dan pelayanan adalah tenaga keperawatan (Bidan/ Perawat) dengan kualifikasi pendidikan minimal D 3 belum ditetapkan secara tertulis. Penanggungjawab program dan pelayanan adalah tenaga keperawatan (Bidan/ Perawat) dengan kualifikasi pendidikan minimal D 3 telah ditetapkan secara tertulis. Penanggungjawab program dan pelayanan adalah tenaga kesehatan dengan kualifikasi pendidikan S1 kesehatan belum ditetapkan secara tertulis. 0Penanggungjawab program dan pelayanan adalah tenaga kesehatan dengan kualifikasi pendidikan S1 kesehatan telah ditetapkan secara tertulis.

4 5

: :

Catatan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D) : Observasi (O) : Wawancara (W) :

Adanya dokumen penanggungjawab program dan pelayanan. Adanya surat tugas /SK sebagai penanggung jawab Adanya sertifikat kompetensi Adanya dokumen kepegawaian Adanya dokumenrasi kepegawaian sebagai penanggungjawab Petugas penanggungjawab program dan pelayanan.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

150 3.2 Tersedia uraian tugas untuk penanggung jawab program/pelayanan, pengelola dan pemberi pelayanan. Definisi operasional : Yang dimaksud dengan uraian tugas adalah serangkaian kegiatan dalam pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah sesuai dengan kompetensi dan keahlian masing-masing yang ditetapkan oleh pimpinan terkait. Skor 0 1 2 3 : : : : : . Tidak ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan. Ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan yang belum ditetapkan secara tertulis dan tidak diketahui oleh seluruh staf. Ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan yang belum ditetapkan secara tertulis dan diketahui oleh seluruh staf. Ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan yang telah ditetapkan secara tertulis oleh kepala puskesmas dan tidak diketahui oleh seluruh staf. Ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan yang telah ditetapkan secara tertulis oleh kepala puskesmas dan diketahui oleh seluruh staf. 0Ada uraian tugas untuk penanggung jawab program dan pelayanan yang telah ditetapkan secara tertulis oleh Kepala Puskesmas, diketahui oleh seluruh staf dan Dinas Kesehatan Kab./Kota

4 5

: :

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Uraian tugas untuk penanggungjawab program dan pelayanan, Surat tugas Penanggung Jawab Observasi (O) : Dokumen uraian tugas. Wawancara (W) : Petugas penanggungjawab program dan pelayanan.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

151 STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Dalam pelaksanaan kegiatan program kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah, puskesmas harus dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang sesuai standar pelayanan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan efektif dan efisien. Parameter : 4.1 Dalam pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah diperlukan ruang, peralatan medis, dan obat-obatan. Definisi Operasional Yang dimasksud dengan ruangan pelayanan adalah ruangan khusus pelayanan kesehatan bayi dan balita, ruang MTBS dan ruang/poli pelayanan tumbuh kembang. Yang dimaksud dengan peralatan/alat bantu adalah peralatan/alat bantu baik medis maupun non medis yang diperlukan dalam pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah sesuai dengan standar. Yang dimaksud dengan obat-obatan adalah segala jenis obat-obat yang digunakan bagi bayi, balita dan anak pra sekolah sesuai dengan standar (MTBS). Skor 0 1 2 : : : : Tidak ada ruang pelayanan kesehatan khusus, peralatan medis/alat bantu, dan obat-obatan bagi bayi, balita dan anak pra sekolah. Tidak ruangan pelayanan khusus, ada peralatan medis/alat bantu, ada obatobatan bagi bayi, balita dan anak pra sekolah namun belum lengkap. Ada ruangan pelayanan kesehatan khusus (terpisah dengan penderita dewasa), ada peralatan medis/alat bantu dan obat bagi bagi bayi, balita dan anak pra sekolah akan tetapi tidak lengkap. Ada ruangan pelayanan kesehatan (terpisah dengan penderita dewasa), peralatan medis/alat bantu tidak lengkap dan obat-obatan lengkap bagi bayi, balita dan anak pra sekolah. Ada ruangan KIA dan MTBS, peralatan medis/alat bantu dan obat-obatan yang lengkap bagi bayi, balita dan anak pra sekolah. 0 Ada ruangan KIA dan MTBS, ruang/poli tumbuh kembang, peralatan medis dan obat-obatan lengkap bagi bayi, balita dan anak pra sekolah.

4 5

: :

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Observasi (O) : -

Daftar inventaris ruangan dan peralatan medis, obat dan fasilitas yang ditanda tangani oleh kepala puskesmas.

Wawancara (W)

Adanya daftar obat yang tersedia, ditanda tangani oleh kepala puskesmas - Adanya ruangan pelayanan tersendiri khusus untuk anak - Alat yang tersedia, obat yg tersedia Penanggungjawab Dokumen inventaris ruangan dan peralatan medis, obat dan fasilitas laboratorium.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

152 STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Pelayanan kesehatan bayi dan anak pra sekolah harus dilaksanakan mengikuti standar pelayanan yang berlaku sesuai dengan perundang-undangan dengan mengacu kepada kebijakan lokal dan pusat. Parameter : 5.1. Tersedianya dan dipahaminya kebijakan dan standar prosedur pelayanan kesehatan bayi, balita, dan anak pra sekolah yang sesuai dengan kebijakan dan pedoman baik di dalam gedung maupun diluar gedung. Definisi Operasional : Informasi tertulis yang dimaksud adalah dokumen tentang Prosedur Tetap pelayanan Kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah yang dilaksanakan di dalam dan di luar gedung puskesmas beserta rencana tindak lanjutnya melalui rujukan maupun pelayanan perawatan kesehatan masyarakat. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : :.. Tidak ada kebijakan dan prosedur. Ada kebijakan dan standar prosedur tidak tertulis. Ada kebijakan dan standar prosedur tertulis yang tidak lengkap. Ada kebijakan dan standar prosedur tertulis yang lengkap dan ditetapkan oleh kepala puskesmas. Ada kebijakan dan standar prosedur tertulis yang lengkap dan ditetapkan oleh kepala puskesmas telah dilaksanakan akan tetapi belum dievaluasi. 0Ada kebijakan dan standar prosedur tertulis, lengkap dan ditetapkan oleh kepala puskesmas, telah dilaksanakan serta dievaluasi.

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Dokumen kebijakan dan standar prosedur pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah baik di dalam maupun di luar gedung Adanya SPO pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekilah yang mengacu kepada standar /pedoman dan disahkan oleh kepala puskesmas Observasi (O) : Adanya dokumen pelaksanaan SPO Adanya dokumen evaluasi SPO Wawancara (W) : Pelaksana pelayanan.(dokter/bidan/perawat/tenaga non medis)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

153 STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF DAN PROGRAM PENDIDIKAN Pembinaan dan pengembangan staf program kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah dilaksanakan secara berkelanjutan yang sesuai dengan standard dan kemajuan teknologi serta kebutuhan, harapan dan tuntunan masyarakat. Parameter : 6.1 Adanya mekanisme dan pelaksanaan pembinaan teknis dan administratif berkelanjutan baik oleh pimpinan Puskesmas maupun oleh bidan koordinator terhadap bidan pembina wilayah ( Bidan Desa / Bidan Kelurahan). Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan pembinaan teknis adalah proses pembinaan yang dilakukan oleh dokter atau tenaga keperawatan (bidan & perawat) dalam pelaksanaan pelayanan KIA (MTBM, MTBS, SDIDTK, Imunisasi, Penjaringan anak pra sekiolah dll) dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan kompetensi petugas. Pembinaan administrative adalah proses pembinaan dalam hal kemampuan manajerial pengelolaan KIA (P1,P2 dan P3) Berkesinambungan : Pemberian pembinaan yang terus menerus berdasarkan masalah yang ditemukan. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : . Tidak terlaksana pembinaan administratif dan teknis berkelanjutan secara berkesinambungan. Terlaksana pembinaan administratif saja tetapi tidak berkesinambungan Terlaksana pembinaan administratif dan berkesinambungan Terlaksana pembinaan teknis saja tetapi tidak berkesinambungan Terlaksana pembinaan teknis dan berkesinambungan Terlaksana 0 pembinaan teknis dan administratif yang berkesinambungan

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : -

Observasi (O) : Wawancara (W) :

Analisa hasil pelayanan kegiatan program KIA baik kualitas maupun kuantitas Rencana program pengembangan staf Jadwal pembinaan administratif dan teknis. Hasil pembinaan baik administatif maupun teknis Pelaksanaan kegiatan pembinaan (administratif dan teknis) Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan/ Perawat)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

154 6.2 Adanya program pendidikan/pelatihan yang disusun untuk para staf yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah.

Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan program pendidikan/pelatihan adalah rencana pendidikan/pelatihan teknis medis dan non medis dalam pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah bagi pengelola program kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah (MTBM, MTBS, SDIDTK, Imunisasi, Penjaringan anak pra sekolah, dll) Skor 0 1 2 3 : : : : : Tidak ada rencana program pendidikan/pelatihan teknis medis bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah Ada rencana pendidikan/pelatihan bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah, tetapi tidak tertulis Ada rencana pendidikan/pelatihan bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah, tertulis Ada rencana pendidikan/pelatihan tertulis dan pendidikan/pelatihan teknis medis tidak tertulis bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah, tertulis dan terealisasi < 50% Ada rencana pendidikan/pelatihan teknis medis bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah yang terealisasi > 50% Terealisasinya 0 rencana pendidikan/pelatihan program dan teknis medis bagi staf pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah (100%)

4 5

: :

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : - Adanya dokumen tertulis tentang rencana program pendidikan/pelatihan bagi staf. - Dokumen program pengembangan staf (pendidikan/pelatihan) untuk staf pemberi pelayanan KIA (dalam bentuk usulan ke dinas di tdd ka.pusk) - Adanya sistem seleksi untuk staf yang akan mengikuti pendiddikan/pelatihan (masa kerja, dedikasi, jabatan) - Dokumen pelaksanaan program dan evaluasi ( adanya daftar staf yang telah mengikuti pelatihan (dok surat tugas dan sertifikat/ijazah pelatihan ) Adanya daftar staf yang mengikuti pendidikan/pelatihan. Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / bidan / perawat / tenaga non medis)

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

155

STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU


Untuk mencapai hasil pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah yang bermutu, diperlukan mekanisme penilaian dan peningkatan mutu pelayanan yang terintegrasi dengan Manajemen Puskesmas. Parameter : 7.1 Ada pemantauan terus menerus pada pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah melalui pemantauan PWS KIA serta tindak lanjutnya. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan PWS adalah alat manajemen untuk melakukan pemantauan program KIA di suatu wilayah kerja secara terus menerus, agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat. Kegiatan PWS KIA terdiri dari pengumpulan, pengolahan, analisis dan interprestasi data serta penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dari pihak/instansi terkait untuk tindak lanjut. Skor 0 1 2 3 : :.. Tidak ada pelaksanaan kegiatan pemantauan pelaksanaan kegiatan Pelayanan bayi, balita dan anak pra sekolah serta tindaklanjutnya. : Pemantauan dilaksanakan tidak terus menerus terhadap kegiatan pelayanan bayi, balita dan anak pra sekolah tetapi tidak dianalisis. : Pemantauan dilaksanakan terus menerus terhadap kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah tetapi tidak dilakukan analisis. : Pemantauan dilaksanakan terus menerus dan analisis terhadap hasil cakupan kegiatan Pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah namun masih analisis indikator tunggal. : Pemantauan dan analisis dilaksanakan terus menerus terhadap hasil cakupan program kegiatan Pelayanan kesehatan bayi, balita dana anak pra sekolah dan menggunakan analisis continuum of care (berkelanjuatan) : 0 Pemantauan dilaksanakan dan analisis terus menerus terhadap hasil cakupan program kegiatan Pelayanan kesehatan bayi, balita dana anak pra sekolah dan menggunakan analisis continuum of care (berkelanjutan) disertai tindak lanjut ( PWS sebagai indikator membuat skoring, dll) dan diumpanbalikkan.

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Observasi (O) Wawancara (W) : :

Adanya data hasil kegiatan PWS KIA Dokumen hasil kegiatan & analisis PWS KIA di tempat pelayanan. Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / bidan)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

156 7.2. Adanya mekanisme pengendalian mutu kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita dan anak pra sekolah. Definisi Operasional : Yang dimaksud dengan pengendalian mutu kegiatan pelayanan kesehatan bayi, balita dana anak pra sekiolah adalah dilaksanakannya Otopsi Verbal (OV) kematian bayi dan balita, analisis hasil kegiatan setahun termasuk penggunaan media KIE dan Quality Assurance serta supervisi terhadap pelaksana program di tingkat desa (pustu, polindes, BPS) Otopsi Verbal kematian bayi dan balita adalah cara penentuan kematian pada bayi dan balita melalui penelusuran kasus dengan wawancara kepada orang yang mengetahui riwayat sakit dengan menggunakan formulir OV. Skor 0 1 2 3 4 : : : : : : Tidak ada kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan, otopsi verbal, serta supervisi ke tingkat desa/BPS. Hanya terlaksana kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan. Terlaksananya kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan otopsi verbal. Terlaksananya kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan otopsi verbal serta pembahasannya. Terlaksananya kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan otopsi verbal serta supervisi ke tingkat desa/BPS disertai rekomendasi namun belum di tindaklanjut Terlaksananya 0 kegiatan analisis hasil kegiatan selama satu tahun berjalan dan otopsi verbal, serta supervisi ke tingkat desa/BPS disertai dengan rekomendasi dan dan tindak lanjut dari hasil rekomendasi (pembelajaran)

Catatan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) Adanya catatan kegiatan otopsi verbal Adanya hasil analisis dampak kegiatan setahun berjalan, Otopsi verbal, penjaminan mutu serta Supervisi. - Hasil survey kepuasan pelanggan Observasi (O) : - Hasil analis dari kegiatan KIA sesuai program KIA - Tersedianya data hasil analisis (analisis kegiatan setahun berjalan, otopsi verbal, penjaminan mutu serta supervisi) Wawancara (W) : Petugas pelaksana pelayanan KIA (dokter / Bidan) : -

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

157 C. PELAYANAN KELUARGA BERENCANA

STANDAR 1 : FALSAFAH DAN TUJUAN Falsalah pelayanan KB adalah terpenuhinya kesehatan dan hak reproduski perorangan dalam pengaturan kehamilan, yang berarti setiap kehamilan diinginkan dan berlangsung pada keadaan dan saat yang tepat. Tujuan pelayanan KB adalah menyediakan pelayanan kontrasepsi berbagai macam cara (sistem kafetaria) secara paripurna, mulai dari konseling pra dan pasca pelayanan, pelayanan kontrasepsi sampai dengan pelayanan penanganan efek samping dan komplikasi serta rujukannya, dengan mutu pelayanan yang terjamin serta berorientasi kepada kebutuhan klien. Parameter : 1.1 Pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan prinsip dasar falsafah dan tujuan pelayanan KB dalam memberikan pelayanan kepada klien.

Definisi Operasional (D.O) :


Prinsip dasar falsafah dan tujuan pelayanan KB adalah esensi dari falsafah dan tujuan pelayanan KB seperti disebutkan di atas. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : .. Semua pelaksana pelayanan KB tidak memahami dan tidak menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB. 10% pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB. 25% pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB. 50% pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB. 75% pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB. Semua pelaksana pelayanan KB memahami dan menerapkan falsafah serta tujuan pelayanan KB.

Catatan / : III. Pembuktian (C.P) :

II.

Cara Pembuktian (C.P) :


: Standar /pelayanan Standar Prosedour Operasional (SPO) tentang hal tersebut Observasi (O) : Pelaksanaan pelayanan KB Wawancara (W) : Pelaksana pelayanan KB dari seluruh provider yang memberikan Dokumen (D)

Pelayanan KB

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

158 1.2. Pasangan usia subur (PUS) mendapat informasi tentang manfaat ber KB dan pengaruhnya terhadap kesehatan ibu, keadaan dan saat yang tepat untuk hamil, hak untuk memilih cara pelayanan KB yang diinginkannya, serta hak untuk mendapat pelayanan KB berkualitas. Definisi Operasional (D.O) : Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB paripurna seperti yang disebutkan pada tujuan pelaksanaan KB di atas. Skor 0 1 2 3 4 5 IV. : : : : : : : . PUS tidak mendapat informasi tersebut. PUS mendapat 10%-<25% informasi tersebut. PUS mendapat 25%-< 50% informasi tersebut. PUS mendapat 50%-<60% informasi tersebut. PUS mendapat 60%-<75% informasi tersebut. PUS mendapat 75 % informasi tersebut .

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) :


Dokumen (D) : Observasi (O) WawancaraW) : : Jumlah sasaran PUS Jumlah cakupan PUS yang ber KB dan diberikan informasi di sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas, Pustu, BPS, Polindes/Poskesdes). Catatan hasil pelayanan KB, brosur, leaflet, lembar balik ABPK (alat bantu pengambilan keputusan ber KB). Lapangan Pelaksana pelayanan KB Klien

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

159

STANDAR 2 : ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Pelayanan KB di Puskesmas dilaksanakan dengan sistem administrasi dan pengelolaan administratif yang tertib. Parameter : 2.1 Ada skema struktur organisasi yang menyebutkan penanggungjawab dan pelaksanan pelayanan KB, serta petunjuk bagi klien tentang tempat, waktu dan biaya pelayanan KB secara transparan. Definisi Operasional (D.O) : Struktur organisasi dan petunjuk bagi klien: cukup jelas. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : .. Tidak ada struktur organisasi dan petunjuk bagi klien tentang tempat, waktu, dan biaya pelayanan KB secara transparan. Ada struktur organisasi saja. Ada struktur organisasi dan petunjuk bagi klien tentang tempat pelayanan KB. Ada struktur organisasi dan petunjuk bagi klien tentang tempat dan waktu pelayanan KB. Ada struktur organisasi dan petunjuk bagi klien tentang tempat,waktu dan biaya pelayanan KB . Ada struktur organisasi dan petunjuk bagi klien tentang tempat, waktu, dan biaya pelayanan KB yang mudah terlihat oleh klien.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) :


Dokumen (D) : Struktur organisasi pelayanan KB - Adanya jadwal pelayanan KB - Adanya daftar tarif pelayanan KB (Retribusi Puskesmas). Gedung Puskemas - Pelayanan KB di puskesmas Petugas Puskesmas, klien

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

160 STANDAR 3. STAF DAN PIMPINAN Pelayanan KB dikelola oleh dokter puskesmas (dokter Ka. Puskesmas atau dokter fungsional Puskesmas) sebagai pimpinan pelayanan , yang dibantu oleh bidan puskesmas dan bidan di desa sebagai staf dan pelaksana pelayanan KB di wilayah puskesmas. Parameter : 3.1 Pimpinan pelayanan KB satu orang dokter, yang dibantu minimal oleh satu orang bidan puskesmas dan masing-masing seorang bidan untuk desa-desa yang berada di luar jangkauan puskesmas dan pustu.

Definisi Operasional (D.O) : Pimpinan dan staf pelayanan KB: cukup jelas. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : . Tidak ada pimpinan dan staf untuk pelayanan KB. Ada staf pelayanan KB namun tidak ada pimpinan (Dokter) . Ada dokter sebagai pimpinan dan seorang bidan sebagai staf pelayanan KB. Ada dokter sebagai pimpinan, seorang bidan puskesmas dan bidan di 25% desa yang berada di luar jangkauan puskesmas dan pustu. Ada dokter sebagai pimpinan, seorang bidan puskesmas dan bidan di 50% desa yang berada di luar jangkauan puskesmas dan pustu. Ada dokter sebagai pimpinan, paling sedikit seorang bidan puskesmas dan seorang bidan di tiap desa yang berada di luar jangkauan puskesmas dan pustu. III.

Catatan :

buktian (C.P) Cara Pembuktian (C.P) :


Dokumen (D) : - Struktur oraganisasi - Surat tugas - Uraian tugas - Daftar jumlah bidan di wilayah kerja Puskesmas : Lapangan : Dokter, bidan puskesmas, bidan di desa.

Observasi (O) Wawancara (W)

STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Pelayanan KB dilaksanakan dengan menggunakan fasilitas dan peralatan yang memenuhi standar (Buku pedoman panduan praktis pelayanan kontrasepsi/BP3K ). Parameter : 4.1 Tersedianya ruang pelayanan KB yang bersih alatan sesuai dengan standar.

dan memungkinkan privasi klien, serta per

Definisi Operasional (D.O) :


Fasilitas peralatan dan sarana prasaran yang lengkap sesuai standar adalah yang mendukung pelayanan KB di tingkat puskesmas . Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

161 Skor : . 0 1 2 3 4 5 : : : : : : Tidak ada ruang yang memenuhi syarat dan tidak ada peralatan untuk pelayanan KB yang memenuhi standar. Ada ruang untuk pelayanan KB yang kotor dan tidak menjamin privasi, dengan peralatan pelayanan KB yang sangat kurang. Ada ruang untuk pelayanan KB yang kotor, menjamin privasi, tetapi peralatan pelayanan KB yang kurang lengkap. Ada ruang untuk pelayanan KB yang bersih tetapi tidak menjamin privasi, dengan peralatan pelayanan KB yang kurang lengkap. Ada ruang untuk pelayanan KB yang bersih dan menjamin privasi dengan peralatan pelayanan KB yang kurang lengkap. Ada ruang untuk pelayanan KB yang bersih dan menjamin privasi dengan peralatan pelayanan KB yang lengkap.

Catatan / Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W) : Inventaris ruangan PKM

Daftar inventarisasi alat untuk pelayanan KB


: Ruangan pelayanan KB Peralatan pelayanan KB : Pelaksana pelayanan KB

STANDAR 5 : KEBIJAKAN DAN PROSEDUR Pelayanan KB di puskesmas dilaksanakan dengan mengacu kepada Standar Prosedur Operasional (SPO) yang ditetapkan. Parameter : 5.1 Adanya Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan KB yang memenuhi standar dan diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Definisi Operasional (D.O) : Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan KB yang memenuhi standar dapat dilihat pada buku Pedoman Baku Klinis Pelayanan KB. (BP3KB) Skor : 0 1 2 3 4 5 : : : : : : Tidak ada Standar Prosedur Operasional (SPO) pelaksanaan pelayanan KB. Ada Standar Prosedur Operasional (SPO) yang tidak memenuhi standar dan tidak diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Ada Standar Prosedur Operasional (SPO) walaupun tidak memenuhi standar tetapi diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Ada Standar Prosedur Operasional (SPO) yang memenuhi standar tetapi tidak selalu diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Ada Standar Prosedur Operasional (SPO) yang memenuhi standar dan selalu diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Ada Standar Prosedur Operasional (SPO) yang memenuhi standar dan selalu diterapkan dalam pelaksanaan pelayanan sehari-hari serta dievaluasi.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

162

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Pedoman pelayanan KB, Daftar tilik kepatuhan, Standar Prosedure Operasional (SPO) pelayanan Dokumen kebijakan dan standar prosedur pelayanan. - Adanya SPO pelayanan KB yang telah disyahkan oleh Kepala Puskesmas yang mengaju pada buku pedoman - Hasil penyeliaan fasilitatif KB dalam kepatuhan penggunaan SPO - Laporan evaluasi SPO Pelaksana pelayanan KB

Observasi (O) Wawancara (W)

: :

STANDAR 6 : PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN STAF Pembinaan dan pengembangan staf dalam pelaksanaan pelayanan KB dilakukan secara berkelanjutan. Parameter 6.1 Adanya pembinaan secara teratur dan pelatihan bagi pelaksana pelayanan KB dari dokter Puskesmas (Dokter Ka. Puskesmas atau dokter fungsional Puskesmas) dan Tim Jaminan Mutu Kabupaten/Kota. Definisi Operasional (D.O) : Pembinaan dan pelaksanaan pelayanan KB adalah kegiatan pemantauan dan penilaian pelaksanaan pelayanan KB dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan. Pelatihan adalah kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan komunikasi interpersonal bagi pelaksana pelayanan. Skor 0 1 2 3 4 5 : : : : : : : .. Tidak ada pembinaan dan pelatihan berkelanjutan sama sekali. Ada pembinaan hanya sekali saja oleh dokter puskesmas. Ada pembinaan tidak teratur oleh dokter puskesmas. Ada pembinaan secara teratur oleh dokter puskesmas Ada pembinaan secara teratur oleh dokter puskesmas serta ada pelatihan tapi tidak terencana Ada pembinaan secara teratur oleh doker puskesmas ada pelatihan yang terencana.

V. Catatan : VI. VII.

Pembuktian (C.P) : Cara Pembuktian (C.P) :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

163 Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen : Laporan pembinaan, pelatihan/orientasi Adanya program pembinaan dan pelatihan / orientasi Adanya jadwal pembinaan dilengkapi dengan absen Adanya rencana tindaklanjut hasil pembinaan Adanya hasil pembinaan dan pelatihan yang telah dilaksanaan (evaluasi program). Observasi : ----

STANDAR 7 : EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU Evaluasi dan kegiatan pengendalian mutu pelayanan KB merupakan bagian dari mekanisme pengendalian mutu pelayanan kesehatan di puskesmas dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pelayanan KB. Parameter 7.1 Adanya mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan kesehatan di puskesmas secara integrative/terpadu, karena pelayanan KB merupakan salah satu bagian dari pelayanan kesehatan ibu, sehingga dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Definisi Operasional (D.O) : Yang dimaksud dengan pengendalian mutu kegiatan Pelayanan KB adalah dilaksanakannya Audit Medik Pelayanan Keluarga Berencana (AMP KB) , Analisis hasil kegiatan setahun termasuk penggunaan media KIE serta Supervisi terhadap pelaksana program KB disarana pelayanan kesehatan (Puskesmas, Pustu, Polindes/Poskesdes, BPS, RB ). AMP KB adalah : Suatu kegiatan untuk mengidentifikasi faktor medik/Pelayanan KB yang berpengaruh kepada kejadian kesakitan (komplikasi ). Analisis hasil kegiatan setahun adalah : Analisis kegiatan Cakupan program Keluarga Berencana setahun berjalan dikaitkan dengan indikator dampak terhadap kejadian kesakitan (komplikasi). Skor 0 1 2 : : : : .. Tidak ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu. Ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan KB yang berdiri sendiri dan kurang efektif dalam meningkatkan pelayanan KB. Ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan KB yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan pokok lainnya, namun kurang efektif dalam meningkatkan pelayanan KB. Ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan KB yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan pokok lainnya, cukup efisien namun kurang efektif dalam meningkatkan pelayanan KB. Ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan KB yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan pokok lainnya, cukup efektif namun kurang efisien dalam meningkatkan pelayanan KB. Ada mekanisme evaluasi dan pengendalian mutu pelayanan KB yang terintegrasi dengan pelayanan kesehatan pokok lainnya, cukup efektif dan efisien dalam meningkatkan pelayanan KB.

Catatan :
Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

164 Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) Observasi (O) Wawancara (W)

: : :

Dokumen pemantauan, rapat Adanya cek list / instrument pemantauan mutu pelayanan KB Pelayanan Pimpinan dan Pelaksana pelayanan KB

Lembar Rekomendasi KIA _ KB

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

165

LEMBAR NILAI

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

166

INSTRUMEN 7 PENGOBATAN DASAR PENYAKIT DAN PELAYANAN GAWAT DARURAT


Kab./Kota Puskesmas Status Penilai : : : : Non DTP, DTP, DTP Poned

STANDAR 1. FALSAFAH DAN TUJUAN Pengobatan Penyakit dan Pelayanan Gawat Darurat merupakan pelayanan medik dasar (termasuk pelayanan keperawatan) yang komprehensif, holistik, terpadu, dan berkesinambungan harus disediakan dan diberikan kepada individu, baik klien maupun pasien secara profesional sesuai standar profesi yang telah ditentukan dengan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran serta memanfaatkan kemampuan dan fasilitas yang ada secara optimal. Tujuan Pengobatan Penyakit adalah untuk menghilangkan penyakit atau gejalanya, dilakukan oleh tenaga medis dengan cara teknologi khusus untuk keperluan tersebut, dengan cara menghentikan proses perjalanan penyakit yang diderita, mengurangi penderitaan seseorang karena penyakit, mencegah serta mengurangi kecacatan, dan merujuk penderita ke fasilitas diagnosa dan pelayanan yang lebih canggih bila diperlukan. Sedangkan tujuan Pelayanan Gawat Darurat adalah : terselenggaranya pelayanan secara cepat, tepat, aman, profesional ramah dan sabar kepada pasien dengan problem medis yang mendadak (cito) dan segera harus dilayani serta terselenggaranya kegiatan administrasi dan pencatatan pasien yang terdapat di UGD dan memberikan surat pengantar apabila pasien yang dirujuk ke unit lain di puskesmas atau ke rumah sakit. Parameter : 1.1 Setiap pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat harus diberikan sesuai dengan standar yang telah disusun oleh perhimpunan profesi dan standar atau pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan. Definisi Operasional : 1. Buku Standar yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan adalah buku Standar Pelayanan Medis yang disusun oleh IDI, diterbitkan tahun 1993 dan telah direvisi pada tahun 1997. 2. Buku Standar maupun Pedoman Lainnya yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan diantaranya adalah :. a. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007, yang dikeluarkan oleh Depkes RI tahun 2007. b. Buku Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas berdasarkan Gejala yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia 2005. c. Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas, Kepmenkes RI No.279/Menkes/SK/IV/2006, Depkes RI,tahun 2006. d. Pedoman Kegiatan Perawat Kesehatan Masyarakat di Puskesmas, Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, Direktorat Bina Pelayanan Medik, Depkes RI, tahun 2006.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

167 e. f. Daftar Obat Esensial Nasional 2008 yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia, tahun 2008. Pedoman Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yang dikeluarkan oleh Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, Ditjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI, tahun 2006. Pedoman Informasi Obat bagi Pengelola Obat di Puskesmas, Depkes RI, tahun 2006. Pedoman Pengeloaan Obat di Puskesmas (dilengkapi judulnya) Peraturan Pemerintah No 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian

g. h. i.

3. Pelayanan medik dasar menyongsong milenium III dikeluarkan oleh direktorat Pelayanan Medik Dasar, DitJen Pelayanan Medik, tahun 2001 Skor = .. 0 1 2 = Tidak ada standar pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat. = Ada semacam standar pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat yang dibuat sendiri oleh Puskesmas. = Ada sebagian standar maupun pedoman pelayanan lainnya yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan dan diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, belum disosialisasikan di lingkungan Puskesmas. = Ada sebagian standar maupun pedoman pelayanan lainnya yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan dan diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas. = Ada buku standar maupun pedoman pelayanan lainnya, lengkap yang disusun oleh perhimpunan profesi atau dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan dan diberlakukan Kepala Puskesmas sebagai pedoman dan acuan oleh semua tenaga kesehatan, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas. = Ada buku standar maupun pedoman pelayanan lainnya, lengkap yang disusun oleh perhimpunan profesi atau dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan dan diberlakukan Kepala Puskesmas sebagai pedoman dan acuan oleh semua tenaga kesehatan, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas dan dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Sesuai dokumen pada D.O. di atas; surat edaran sosialisasi di semua lingkungan Puskesmas dan Bukti Penerimaannya Observasi (O) : buku buku pedoman seperti tersebut pada D.O. Notulen lokmin Wawancara (W) : Koordinator dan tenaga pelaksana penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi masyarakat, KIA dan KB, serta imunisasi, kesehatan lingkungan, pemberantasan dan pencegahan penyakit menular, pengobatan dan kegawat daruratan.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

168

1.2. Bila pengobatan tidak berhasil karena memerlukan penanganan spesialistik, maka dilakukan upaya rujukan medis ke institusi kesehatan yang lebih mampu, baik secara horizontal (antar Puskesmas) maupun vertikal (dokter spesialis atau Rumah Sakit) sesuai pedoman pelayanan rujukan yang telah diberlakukan kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas . Definisi Operasional : 1. Standar Pelayanan Medis yang telah diberlakukan sesuai dengan D.O. pada parameter 1.1 2. Kelompok Kerja Teknis (Pokja teknis pengobatan dan Keperawatan) adalah dokter, dokter gigi, Tenaga Keperawatan (perawat dan Bidan) dan sebagai tenaga Puskesmas tersebut. Skor = ............... 0 1 2 3 4 5 = Tidak ada ketentuan / pedoman rujukan medis. = Ada ketentuan / pedoman rujukan medis tertulis yang diberlakukan oleh kepala puskesmas, belum disosialisasikan di lingkungan Puskesmas. = Ada ketentuan / pedoman rujukan medis tertulis yang diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan puskesmas. = Ada ketentuan / pedoman rujukan tertulis yang diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas dan dilaksanakan . = Ada ketentuan / pedoman rujukan tertulis yang diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas dan dilaksanakan dan dievaluasi. = Ada ketentuan / pedoman rujukan tertulis yang diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, telah disosialisasikan di lingkungan Puskesmas dan dilaksanakan ,dilakukan evaluasi dan dtindaklanjuti .

Catatan/Keterangan : Keterangan : tersedianya pedoman untuk kasus kasus apa saja yang perlu dirujuk dan tidak perlu / tidak bisa ditangani oleh puskesmas; mengacu kepada standar pelayanan medis; ditambah dengan alur rujukan dengan parameter yang jelas. Catatan Penilai :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Ketentuan / pedoman rujukan yang diberlakukan Kepala Puskesmas, arsip surat rujukan, laporan rujukan, dokumen dokumen, seperti yang tercantum pada DO di parameter 1.1. Observasi (O) : buku buku pedoman dan dokumen dokumen rujukan, serta protap / alur rujukan pasien (sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah diakses/dilihat oleh setiap petugas). Wawancara (W) : Pada dokter, perawat, bidan, tenaga kesehatan, maupun Kepala Puskesmas.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

169

STANDAR 2 ADMINISTRASI DAN PENGELOLAAN Agar pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang diselenggarakan berjalan dengan baik, bermutu, efektif dan efisien, maka pelayanan harus didukung dengan suatu organisasi dan manajemen yang baik. Parameter : 2.1 Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan tugas dan fungsi yang jelas, diberlakukan oleh kepala Puskesmas, dan mengadakan pertemuan secara berkala serta tindak lanjutnya. Definisi Operasional : 1. Kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) adalah kelompok tenaga kesehatan yang keanggotaannya terdiri dari dokter, dokter gigi, dan tenaga keperawatan, serta tenaga kesehatan lainnya. Pokja Pengobatan dan Keperawatan ini merupakan bagian dari tim perencanaan tingkat Puskesmas. 2. Fungsi dan Tugas Pokja Pengobatan dan Keperawatan adalah : a. Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan pengobatan dasar penyakit di dalam dan di luar lingkungan puskesmas dan pelayanan gawat darurat di dalam lingkungan puskesmas. b. Membahas permasalahan dan penyebab yang timbul di bidang pelayanan pengobatan dan pelayanan gawat darurat, baik di dalam maupun di luar puskesmas yang berkaitan dengan etika profesi, mencari pemecahan permasalahannya dan evaluasi hasil penanggulangan permasalahan tersebut. c. Menyusun, memantau dan memberi saran tindak lanjut mengenai kebijakan / ketentuan / SOP pelayanan medik dasar yang secara operasional harus dilaksanakan oleh semua tenaga kesehatan Puskesmas. d. Manajemen kasus dan QA berkesinambungan. e. Mempersiapkan, memfasilitasikan dan memantau serta memberi saran tindak lanjut kegiatan yang berhubungan dengan akreditasi pelayanan pengobatan dasar penyakit. 3. Pertemuan berkala : pertemuan yang dilakukan minimal 1 (satu) bulan sekali dan bertujuan untuk berbagi ilmu pengetahuan dan keterampilan membahas dan mencari pemecahan permasalahan pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat, serta meningkatkan mutu pelayanan pengobatan dasar penyakit secara efisien, efektif, dan merata. 4. Organisasi kelompok kerja teknis (Pokja pengobatan dan keperawatan) sejajar dengan unit fungsional lainnya bertanggung jawab langsung pada Kepala Puskesmas. Skor = ................ 0 = Tidak ada kelompok kerja teknis (Pokja pengobatan dan keperawatan) 1 = Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan fungsi dan tugas terbatas, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas dan mengadakan pertemuan tidak teratur, tidak ada tindak lanjutnya. 2 = Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan fungsi dan tugas terbatas, diberlakukan oleh kepala Puskesmas dan mengadakan pertemuan secara tidak teratur, ada tindak lanjutnya. 3 = Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan fungsi dan tugas terbatas, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas dan mengadakan pertemuan secara berkala, tidak ada tindak lanjutnya.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

170 4 = Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan fungsi dan tugas terbatas, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas dan mengadakan pertemuan secara berkala, serta tindak lanjutnya. Ada kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) dengan fungsi dan tugas lengkap, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas dan mengadakan pertemuan secara berkala, serta tindak lanjutnya.

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : SK Pokja, Bagan organisasi kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan), perencanaan, maupun program kerja kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan), POA, pelaksanaan program, notulen, dan kehadiran rapat-rapat anggota kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan), komunikasi berupa surat-surat atas ke bawah atau bawah ke atas. Observasi (O) : Wawancara (W) : Kepala Puskesmas, ketua serta anggota kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan) tenaga kesehatan lainnya. 2.2 Perencanaan tahunan kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan bagi pelayanan pengobatan dan gawat darurat, dibuat berdasarkan metoda konsumsi dan dibandingkan dengan pola penyakit. Definisi Operasional : 1. Buku petunjuk perencanaan yang dipakai, antara lain : Buku Pedoman Pengelolaan Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan yang diterbitkan Departemen Kesehatan 2003 atau yang diterbitkan baru. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas berdasarkan gejala, Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Depkes RI, 2005. 2. Perencanaan tahunan berdasarkan metoda konsumsi, yaitu berdasarkan analisa pemakaian tahun lalu dan perkiraan pola penyakit tahun yang akan datang. 3. Tim Perencanaan kebutuhan obat terpadu terdiri dari lintas program dan ditetapkan dengan SK Kepala Puskesmas. 4. Perencanaan tahunan berdasarkan pola penyakit, yaitu berdasarkan penyakit dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Skor = ................

0 = Tidak tersedia perencanaan tahunan. 1 = Tersedia perencanaan tahunan, buku petunjuk perencanaan tidak tersedia. 2 = Tersedia perencanaan tahunan, tapi perhitungan perencanaan tidak berdasarkan buku petunjuk perencanaan. 3 = Tersedia perencanaan tahunan berdasarkan buku petunjuk perencanaan tetapi tim perencanaan belum terpadu. 4 = Tersedia perencanaan tahunan secara terpadu berdasarkan buku petunjuk perencanaan, dengan menggunakan metoda konsumsi, dan SK tim perencanaan dari Kepala Puskesmas. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

171 5 = Tersedia perencanaan tahunan secara terpadu berdasarkan buku petunjuk perencanaan, dengan menggunakan metoda konsumsi dan dibandingkan dengan pola penyakit dan SK/SP (Surat Perintah/Penugasan) panitia perencanaan kebutuhan obat terpadu dari Kepala Puskesmas. Catatan/Keterangan : Keterangan : perencanaan kebutuhan obat berdasarkan LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat). Catatan penilai :

Cara pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Semua dokumen pada DO diatas harus tersedia Observasi (O) : Berkas (arsip) dokumen perencanaan tahunan dan SK Kepala Puskesmas yang mencakup perencanaan tahunan di dalamnya. Wawancara (W) : Kepala Puskesmas dan tim perencanaan kebutuhan obat terpadu. 2.3 Adanya pengelolaan rekam medik yang dilaksanakan berdasarkan peraturan, buku petunjuk dan pedoman tertulis . Definisi Operasional : 1. Buku Petunjuk adalah Buku Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Rekam Medik / Medical Record yang diterbitkan Departemen Kesehatan. 2. Permenkes RI Nomor 269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis (Bab II Pasal 3 : isi rekam medis untuk pasien rawat jalan, isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari)dan isi rekam medis untuk pasien gawat darurat) isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana kesehatan sekurang-kurangnya memuat : a. identitas pasien b. tanggal dan waktu c. hasil anamnesis : mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat penyakit d. hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik e. diagnosis f. rencana penatalaksanaan g. pengobatan dan / tindakan h. pelayanan lain yang diberikan kepada pasien i. untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik dan j. persetujuan tindakan bila diperlukan isi rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari sekurang-kurangnya memuat : a. poin A sd poin j RM pasien Rawat jalan sama dgn diatas ditambah c. catatan observasi klinis dan hasil pengobatan d. hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik e. Ringkasan pulang (discharge summary) f. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yg memberikan pelayanan kesehatan. g. pelayanan lain yang diberikan oleh tenaga kesehatan tertentu dan i. untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik dan j. persetujuan tindakan bila diperlukan Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

172 isi rekam medis untuk pasien gawat darurat sekurang-kurangnya memuat : a. identitas pasien b. kondisi saat pasien tiba disarana pelayanan kesehatan c. identitas pengantar pasien d. tanggal dan waktu e. hasil anamnesis, mencakup sekurang kurangnya keluhan dan riwayat penyakit. f. hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik g. diagnosis h. pengobatan dan atau tindakan i. ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan UGD dan rencana tindak lanjut j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan tertentu yg memberikan pelayanan kesehatan. k. sarana transportasi yg digunakan pasien yg akan dipindahkan ke sarana lain dan l. pelayanan lain yg telah diberikan kepada pasien. 3. Pedoman Tertulis adalah Buku Pedoman Penyelenggaraan Rekam Medik yang diberlakukan sendiri oleh Kepala Puskesmas sebagai ketentuan pelaksanaan dari buku petunjuk teknis tersebut, memuat prosedur, alur dokumen, formulir format baku, dan lain sebagainya. 4. Buku Pedoman Penyelenggaraan Rekam Medik harus diberlakukan dengan keputusan tertulis oleh Kepala Puskesmas. 5. Rekam Medik (termasuk Rekam Medik Keperawatan) = setiap catatan mengenai pasien. Buku Petunjuk harus diberlakukan dengan SK Kepala Puskesmas. Penjelasan skor 3,4,5, dengan gradasi pelaksanaan dari ketentuan pedoman tertulis. Yang disebut atau dimaksudkan sebagian kecil, besar dan semua didasarkan pada kegiatan kegiatan : a. Penerimaan / pencatatan data sosial pasien. b. Pencatatan data data pelayanan. c. Pengolahan data (coding, indexing). d. Pelaporan. e. Penyimpanan / pengambilan kembali. Keterangan : Kegiatan a & b = melaksanakan sebagian kecil ketentuan RM Kegiatan a,b,c,d = melaksanakan sebagian besar ketentuan RM Kegiatan a,b,c,d,e = melaksanakan semua ketentuan RM. Skor = ............. 0 = Tidak ada rekam medik (RM). 1 = Ada rekam medik, tidak ada buku petunjuk, tidak ada pedoman tertulis. 2 = Ada rekam medik, ada buku petunjuk, ada pedoman tertulis tetapi ketentuan dalam pedoman tertulis belum dilaksanakan. 3 = Ada rekam medik, ada buku petunjuk, ada pedoman tertulis baru sebagian kecil ketentuan dalam pedoman tertulis dilaksanakan. 4 = Ada rekam medik, ada buku petunjuk, ada pedoman tertulis baru sebagian besar ketentuan dalam pedoman tertulis sudah dilaksanakan. 5 = Ada rekam medik, ada buku petunjuk, ada pedoman tertulis semua ketentuan dalam pedoman tertulis sudah dilaksanakan. Catatan/Keterangan :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

173 Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen (D) : Dokumen pada DO di atas dan dokumen rekam medik pasien. Observasi (O) : Berkas dokumen rekam medik. Wawancara(W) : Petugas rekam medik.

STANDAR 3.

STAF DAN PIMPINAN

Agar pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat di puskesmas dapat efektif, efisien, dan manusiawi, maka pelayanan harus dilakukan oleh tenaga profesional, etis, dan berdedikasi tinggi. Parameter : 3.1 Jenis dan kualifikasi tenaga pelaksana pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat memenuhi persyaratan sesuai yang dibutuhkan. Definisi Operasional : - Pelatihan PPGD/BCLS adalah Pelatihan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang diselenggarakan oleh ikatan profesi atau institusi kesehatan sesuai materi pelatihan yang diakui oleh Kementrian Kesehatan. - ALS Pilihan - ATLS (Advanced Trauma Life Support) adalah training yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari. Penyelenggara Komisi Trauma, Ikatan Ahli Bedah Indonesia (Sekretariat di Bagian Bedah FKUI-RSCM / FKUNPAD-RSHS) untuk menanggulangi penderita gawat darurat akibat trauma. Target training adalah dokter umum di rumah sakit, dokter umum (Puskesmas) di daerah rawan kecelakaan, kasus trauma. - ACLS (Advanced Cardiac Life Support) adalah training yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari Penyelenggara Perhimpunan Kardiologi Indonesia (PERKI) dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita ditujukan untuk menanggulangi penderita gawat darurat akibat kelainan / penyakit jantung. - APLS (Advanced Pediatric Life Support) adalah training yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Target training adalah dokter umum di rumah sakit dan Puskesmas (optional). Skor = ............... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Belum ada tenaga yang mendapatkan pelatihan PPGD. Hanya perawat atau bidan yang telah mendapatkan pelatihan PPGD Hanya perawat dan bidan yang telah mendapatkan pelatihan PPGD Semua dokter telah mendapatkan Pelatihan PPGD Semua dokter dan perawat telah mendapatkan Pelatihan PPGD Semua dokter , perawat dan bidan telah mengikuti Pelatihan PPGD. (Khusus bagi dokter + ALS Pilihan: ATLS, ACLS, APLS )

Catatan /Keterangan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

174 Cara Pembuktian ( C.P ) : Dokumen (D) : 1. Daftar dan jenis kualifikasi ketenagaan, sertifikat pelatihan, surat tugas. 2. Pola kebutuhan tenaga kesehatan yang diberlakukan oleh Puskesmas. Observasi (O) :Tenaga pelaksana pelayanan pengobatan dasar penyakit (dokter umum, perawat, atau bidan). Wawancara : Kepala Puskesmas, dokter, perawat, dan bidan. 3.2 Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat diwajibkan seorang dokter umum, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas secara tertulis, diketahui oleh semua unsur, dan dilaksanakan. Definisi Operasional : sudah jelas Skor : .............. 0 1 2 = = = Tidak ada penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat. Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat adalah tenaga kesehatan lainnya. Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat adalah perawat D-III atau SPK, belum ditetapkan oleh Kepala Puskesmas secara tertulis, diketahui oleh semua unsur dan dilaksanakan. Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat adalah perawat D-III atau SPK, ditetapkan secara tertulis, diketahui oleh semua unsur dan dilaksanakan. Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat adalah seorang dokter umum, belum ditetapkan oleh Kepala Puskesmas secara tertulis, diketahui oleh semua unsur dan dilaksanakan. Penanggung jawab pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat adalah seorang dokter umum, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas secara tertulis, diketahui oleh semua unsur dan dilaksanakan.

Catatan /Komentar :

Cara Pembuktian ( CP ) Dokumen (D) : 1. Fungsi, wewenang, tanggung jawab, serta uraian tugas penanggung jawab. 2. Surat ketetapan Kepala Puskesmas mengenai penanggung jawab pelayanan medik dasar. 3. Surat tugas penanggung jawab. 4. Surat edaran sosialisasi nama dan kualifikasi penanggung jawab pelayanan medik ke semua unit kerja. 5. Laporan laporan kegiatan berkala penanggung jawab pelayanan medik ke Kepala Puskesmas / Kepala Dinas Kesehatan. Observasi (O) : Berkas dokumen SK Kepala Puskesmas, surat tugas penanggung jawab, berkas pelaksanaan sosialisasi (daftar hadir, jadwal, dan notulen), dan laporan laporan kegiatan berkala pelayanan medik dasar. Wawancara (W) : Penanggung jawab (dokter umum, perawat, atau bidan ); karyawan Puskesmas; Kepala Puskesmas. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

175 3.3 Koordinator dan masing masing staf pelayanan pengobatan dasar penyakit dan gawat darurat mempunyai wewenang, tanggung jawab, serta uraian tugas yang rinci, tertulis, dan dilaksanakan. Definisi Operasional : - Koordinator dan staf pelayanan pengobatan dan gawat darurat adalah koordinator dan Staf yang ada di BP dan Gawat Darurat - Sebagian staf adalah masih ada staf yang belum mempunyai tugas, wewenang, tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis Skor : ................ 0 = Koordinator dan masing masing staf pelayanan pengobatan dasar penyakit dan gawat darurat tidak mempunyai pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, serta uraian tugas tidak tertulis. Koordinator dan sebagian staf pelayanan pengobatan dasar penyakit dan gawat darurat mempunyai wewenang dan tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis, belum dilaksanakan. Koordinator dan sebagian staf pelayanan pengobatan dasar penyakit dan gawat darurat mempunyai pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis, dan dilaksanakan. Koordinator dan sebagian staf pelayanan pengobatan dasar penyakit dan gawat darurat mempunyai pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis, dilaksanakan dan ada evaluasi. Koordinator dan semua staf pelayanan pengobatan dan gawat darurat mempunyai pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis, dan dilaksanakan. Koordinator dan semua staf pelayanan pengobatan dan gawat darurat mempunyai pembagian tugas, wewenang, tanggung jawab, serta uraian tugas tertulis, dilaksanakan dan dievaluasi.

3 =

4 =

5 =

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : Fungsi, wewenang, tanggung jawab, dan uraian tugas tertulis yang diberlakukan Kepala Puskesmas; surat tugas dari Kepala Puskesmas. Observasi (O) : Pelaksanaan tugas disesuaikan dengan bukti- bukti dokumen/laporan kegiatan staf. Wawancara (W) : Kepala Puskesmas, koordinator dan semua staf.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

176 3.4 Petugas Pengelola Obat di Puskesmas Definisi Operasional : 1. Tenaga teknis kefarmasian : tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. 2. 3. Tenaga Apoteker: cukup jelas Yang dimaksud dengan pelatihan adalah minimal telah mengikuti pelatihan manajemen pengelolaan obat Puskesmas, dibuktikan dengan sertifikat atau dokumen terkait (surat tugas, surat undangan

Skor : .............. 0 1 2 3 = Pengelolaan obat di puskesmas dilaksanakan oleh tenaga non farmasi. = = = Pengelolaan obat dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian belum terlatih Pengelolaan obat dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian yang sudah mengikuti pelatihan pengelolaan obat Pengelolaan obat dilakukan oleh apoteker yang belum mengikuti pengelolaan obat. Pengelolaan obat dilakukan oleh pengelolaan obat. pelatihan

4 = 5 =

apoteker yang telah mengikuti pelatihan

Pengelolaan obat dilakukan oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian yang telah mengikuti pelatihan pengelolaan obat.

Catatan /Keterangan :

Cara Pembuktian : D : Fungsi, wewenang, tanggung jawab, dan uraian tugas tertulis yang diberlakukan Kepala Puskesmas; surat tugas dari Kepala Puskesmas O : Ijazah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian dan dokumen pd poin 3 Pelaksanaan tugas disesuaikan dengan bukti- bukti dokumen/laporan kegiatan staf W : Kepala Puskesmas dan Pengelola Obat

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

177 STANDAR 4. FASILITAS DAN PERALATAN Fasilitas, sarana dan prasarana harus tersedia agar kegiatan penegakan diagnosa, pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat serta rehabilitasi dapat dilaksanakan secara tepat, cepat, aman, efektif, efisien, dan manusiawi sesuai dengan peraturan yang berlaku. Parameter : 4.1. Adanya pemantauan keberadaan dan kondisi fisik fasilitas peralatan medik maupun non medik sebagai salah satu upaya efisiensi, keselamatan dan keamanan, serta efektifitas penggunaan fasilitas peralatan. Definisi Operasional : Pemantauan keberadaan dan kondisi fisik fasilitas peralatan di setiap ruangan dilaksanakan oleh petugas non medis yang bertanggung jawab dalam tugas inventarisasi barang medik maupun non medik melalui pengisian KIR (Kartu Inventaris Ruangan) yang harus selalu ada di setiap ruangan sesudah secara berkala melihat jumlah, jenis, dan kondisi ruangan serta fasilitas peralatan. Skor : ..................... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Semua ruangan tidak mempunyai KIR Sebagian besar ruangan mempunyai KIR, jumlah dan kondisi tidak sesuai, tidak ditandatangani oleh kepala Puskesmas. Sebagian besar ruangan mempunyai KIR, jumlah dan kondisi tidak sesuai dengan peralatan, ditandatangani oleh kepala Puskesmas. Sebagian besar ruangan mempunyai KIR, jumlah dan kondisi peralatan sesuai, ditandatangani oleh kepala Puskesmas. Semua ruangan mempunyai KIR, jumlah dan kondisi peralatan sesuai, tidak ditandatangani oleh kepala Puskesmas. Semua ruangan mempunyai KIR, jumlah dan kondisi peralatan sesuai, ditandatangani oleh kepala Puskesmas.

Catatan/keterangan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Fungsi, wewenang, tanggung jawab, dan uraian tugas tertulis yang diberlakukan Kepala Puskesmas; surat tugas dari Kepala Puskesmas Adanya KIR yang tergantung di dinding masing-masing ruangan. Observasi (O) : Mengamati jumlah dan kondisi peralatan yang ada di ruangan dan disesuaikan dengan yang ada di KIR. Wawancara (W) : Kepala Puskesmas dan penanggung jawab ruangan

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

178 4.2. Peralatan yang dipergunakan pada pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat harus sesuai dengan syarat syarat sterilitas dan keamanan . Definisi Operasional : sudaj jelas Skor : .............. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada alat sterilisasi maupun SOP pemakaian alat sterilisasi. Ada alat sterilisasi, tidak ada SOP pemakaian alat sterilisasi Ada alat sterilisasi, ada SOP pemakaian alat sterilisasi secara tertulis, disosialisasikan dan sebagian dilaksanakan, tidak dievaluasi. Ada alat sterilisasi, ada SOP pemakaian alat sterilisasi secara tertulis, disosialisasikan dan sebagian dilaksanakan, dievaluasi secara berkala. Ada alat sterilisasi, ada SOP pemakaian alat sterilisasi secara tertulis, disosialissikan dan dilaksanakan, tidak dievaluasi. Ada alat sterilisasi, ada SOP pemakaian alat sterilisasi, secara tertulis, disosialisasikan dan dilaksanakan, dievaluasi secara berkala dan ditindaklanjuti.

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : Dokumen SOP pemakaian alat sterilisasi dan catatan hasil kegiatan sterilisasi. Observasi (O) : Peralatan medis laboratorium, alat sterilisator. Wawancara (W) : Petugas laboratorium, perawat, bidan. 4.3 Di Puskesmas tersedia sarana dan prasarana pengelolaan obat Definisi Operasional : a. Luas gudang obat harus sesuai dengan jumlah obat yangersedia (observasi : obat mudah dicari, tidak bertumpuk, obat tidak bersentuhan langsung dengan plafon b. Loket obat tidak terlalu sempit, mempunyai ruang gerak leluasa dan mempunyai meja untuk bekerja. c. Tersedia sarana penyimpanan obat di gudang obat: rak dan/atau lemari, palet (apabila dibutuhkan), sesuai kebutuhan d. Tersedia sarana penyimpanan obat di loket obat : lemari yang berkunci sesuai kebutuhan e. Di loket obat tersedia meja untuk menyiapkan obat f. Gudang obat mempunyai ventilasi yang cukup, atau Kipas Angin /AC bagi gudang yg tidak mempunyai ventilasi g. Gudang obat mempunyai penerangan yang cukup h. Pintu, jendela dan langit2 Gudang obat berteralis dengan kondisi yang kokoh i. Penataan obat sudah sesuai aturan (berdasarkan bentuk sediaan dan disusun alfabetis, atau berdasarkan fungsi obat) j. Gudang obat hanya menyimpan obat dan perbekalan kesehatan k. Tersedia SOP pengelolaan obat (SOP penyimpanan & SOP distribusi obat) l. Tersedia ruangan untuk PIO (Pelayanan Informasi Obat)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

179 Skor : ............... 0 = 1 = 2 = 3 = 4 = 5 = tidak ada yang tersedia ruangan pengelolaan obat tersedia 1 - 2 item tersedia 3 - 4 item tersedia 5 - 6 item tersedia 7 - 9 item tersedia 10 12 item

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian : D : SOP pengelolaan obat (SOP penyimpanan & SOP distribusi obat) O : Peninjauan langsung ke lapangan untuk melihat : ruang penyimpanan obat di gudang dan loket obat, penerangan & ventilasi di gudang, sarana penyimpanan obat, kondisi gudang obat W : Kepala Puskesmas dan pengelola obat

STANDAR 5. KEBIJAKAN DAN PROSEDURE Ada kebijakan / ketentuan yang mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan kebijakan ini dijabarkan dalam prosedur tetap tertulis diketahui oleh semua staf dan dilaksanakan, dievaluasi secara periodik untuk penyempurnaan sesuai pengembangan IPTEK dan ditindaklanjuti. Parameter : 5.1. Ada kebijakan/ ketentuan perundang-undangan dan Standar Prosedur Operasional (SPO) pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat yang mengacu pada peraturan perundang undangan yang berlaku, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi serta ditindaklanjuti . Definisi Operasional : 1. Lengkap apabila kebijakan dan prosedur tetap sudah meliputi pelayanan pengobatan dasar penyakit , rujukan medis, pelayanan gawat darurat, laboratorium, serta pelayanan rehabilitasi (jika melakukan pelayanan ). Kebijakan dan prosedur pelayanan tersebut di atas dijabarkan secara tertulis. 2. Tidak lengkap : apabila belum semua SPO dalam poin 1 tersedia. 3. SPO (Standar Prosedur Operasional) adalah prosedur tetap yang terdiri dari SPO pelayanan medik keilmuan (SPO Medis) dan SPO administrasi / manajerial pelayanan medik. a. SPO medis adalah prosedur yang antara lain berisi : - Tanggung jawab dokter. - Batasan tindakan medis. - Protokol medis, antara lain untuk kasus kasus tertentu yang mengancam jiwa, khususnya pada kelompok resiko tinggi (ibu hamil, ibu bersalin, ibu menyusui, bayi, dan balita) dan kelompok rentan (orang tua, masyarakat di bawah garis kemiskinan).

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

180 b. SPO administrasi manajerial pelayanan medik antara lain : pengaturan pemeriksaan penegakan diagnosa melalui laboratorium, pengaturan pasien mendapatkan pengobatan, prosedur konsultasi dan lain sebagainya. Skor = .................. 0 = Tidak ada kebijakan dan Standar Prosedure Operasional (SOP) 1 = Kebijakan ada tetapi SOP dalam proses penyusunan. 2 = Ada kebijakan dan SOP tertulis namun belum lengkap, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi. 3 = Ada kebijakan dan SOP tertulis tidak lengkap, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, sudah dievaluasi 4 = Ada kebijakan dan SOP tertulis lengkap, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi. 5 = Ada kebijakan dan SOP tertulis lengkap, diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, dan sudah dievaluasi Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : 1. Buku kumpulan kebijakan / ketentuan, prosedur tertulis yang ditetapkan/ditandatangani oleh Kepala Puskesmas 2. Surat edaran ke semua staf tentang adanya dan pemberlakuan kebijakan maupun prosedur tetap. 3. Laporan kegiatan pelayanan di cek dengan kebijakan maupun prosedur tetap pelayanan tersebut. Observasi (O) : Berkas dokumen dokumen di atas. Wawancara (W) : Menanyakan kepada Kepala Puskesmas dan semua staf tentang keberadaan dan pemahaman mengenai langkah-langkah dari SPO yang diberlakukan atau mengenai kebijakan sampai dengan realisasi pelaksaanaannya. 5.2. Adanya standar prosedur operasional (SPO) rujukan medis ditandatangani oleh kepala puskesmas, diketahui oleh semua staf, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti. Definisi Operasional : 1) Rujukan medik adalah : Rujukan yang pada dasarnya menyangkut masalah pelayanan medik perorangan yang antara lain meliputi : a) Rujukan kasus : untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operasi dan lain lain jantung, pemberian alat / obat bantuan hidup dasar). b) Rujukan Bahan (spesimen) intuk pemeriksaan laboratorium klinik yang lebih lengkap c) Mendatangkan atau mengirimkan tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk melakukan tindakan atau memberi pelayanan pengobatan sesuai dengan keahliannya, sehingga meningkatkan pelayanan setempat.

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

181 2) SPO rujukan medis terdiri dari a) SPO medis penanganan pasien sebelum dan selama dirujuk (dalam perjalanan), termasuk penanganan keselamatan nyawa pasien (pembebasan jalan napas, napas buatan, pijat jantung, pemebrian alat/obat bantuan hidup dasar) b) SPO administrasi dan manajemen pelayanan rujukan, antara lain: pencatatan pada formulir rujukan, persiapan transportasi dan komunikasi pada institusi pelayanan yang dituju, persiapan perawat pendamping pasien bila diperlukan dan lain- lain Skor = .............. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada SPO tentang rujukan medis. Ada SPO rujukan medis tertulis, sudah ditandatangani oleh kepala puskesmas. Ada kebijakan dan SPO tertulis tidak lengkap, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi dan ditindaklanjuti. Ada kebijakan dan SPO tertulis tidak lengkap, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, serta sudah dievaluasi dan ditindak lanjuti. Ada kebijakan dan SPO tertulis lengkap, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi dan ditindaklanjuti. Ada kebijakan dan SPO tertulis lengkap, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan serta sudah dievaluasi dan ditindak lanjuti.

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : 1. Buku kumpulan kebijakan / ketentuan dan prosedur tertulis yang ditetapkan/ditandatangani oleh Kepala Puskesmas 2. Surat edaran ke semua staf tentang adanya dan pemberlakuan kebijakan maupun prosedur tetap rujukan medik. 3. Laporan kegiatan pelayanan rujukan di cek dengan kebijakan maupun prosedur tetap pelayanan tersebut. Observasi (O) : Berkas dokumen dokumen di atas. Wawancara (W) : Menanyakan kepada Kepala Puskesmas dan staf mengenai keberadaan dan pemahaman langkah langkah SPO rujukan medik atau mengenal kebijakan sampai dengan realisasi pelaksanaannya. 5.3. Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan pengobatan dasar penyakit dan pelayanan gawat darurat harus ada perjanjian kerja sama (SPK) dengan rumah sakit yang terdekat (dalam hal ini RS berfungsi sebagai pembina teknis medis, pengembangan staf dan program pendidikan ). Definisi Operasional : 1) SPO Lengkap : ada SPO tentang Pembinaan Teknis Medis, Pengembangan staf, Program pendidikan. 2) Tidak lengkap apabila hanya ada 1 (satu) SPO dari 3

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

182 Skor : ................. 0 = Belum ada perjanjian kerjasama antara Dinas Kesehatan dengan RS 1 = Ada SPK, belum ada SPO 2 = Ada SPK dan SPO, belum disosialisasikan. 3 = Ada SPK dan SPO , sudah disosialisasikan, belum dilaksanakan 4 = Ada SPK dan SPO , sudah disosialisasikan, sudah dilaksanakan, belum dievaluasi. 5 = Ada SPK dan SPO, sudah disosialisasikan,sudah dilaksanakan dan sudah dievaluasi. Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (CP) : Dokumen (D) : 1. Surat Perjanjian Kerja sama (SPK) antara Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan RS terdekat perihal pembinaan teknis medis , pengembangan staf puskesmas dan program pendidikan 2. Bukti sudah melaksanakan sosialisasi ke semua staf melalui rapat atau surat edaran ( notulen,daftar hadar, surat edaran) 3. Bukti pelaksanaan berupa laporan tertulis kegiatan, POA, dll. Observasi (O) : Berkas dokumen dokumen di atas. Wawancara (W) : Menanyakan kepada Kepala Puskesmas dan staf mengenai keberadaan dan pemahaman langkah-langkah dari SOP yang diberlakukan atau mengenai kebijakan sampai dengan realisasi pelaksanaannya. 5.4. Ada Standar Prosedur Operasional tetap mengenai evaluasi dan pengendalian mutu diberlakukan oleh Kepala Puskesmas, diketahui oleh semua staf, dilaksanakan, dievaluasi dan ditindak lanjuti (Quality). Definisi Operasional : 1) Standar Prosedure Operasional (SPO) adalah suatu perangkat instruksi/langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. 2) Quality Assurance (QA) adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengukur dan memperbaiki pelayanan melalui pengukuran tertulis, dilanjutkan dengan koreksi atau perbaikan dari kekurangan kekurangan yang ditemukan dan selanjutnya dimonitor hasil dari perbaikan tersebut. 3) Quality Assurance dilaksanakan untuk 7 PKD (Pelayanan Kesehatan Dasar) ialah ANC, ISPA, Imunisasi, Diare, Balita KEP / Anemia, Bumil KEK anemia. Skor : .................... 0 = Tidak ada SPO 1 = SPO dalam proses penyusunan atau tidak tertulis, dan belum dilaksanakan. 2 = Ada SPO dan Pengendalian Mutu (QA), tidak tertulis, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi dan ditindak lanjuti. 3 = Ada SPO dan Pengendalian Mutu (QA), tidak tertulis, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, serta sudah dievaluasi dan ditindak lanjuti. 4 = Ada SPO dan Pengendalian Mutu (QA), tertulis, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, tetapi belum dievaluasi dan ditindak lanjuti. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

183 5 = Ada SPO dan Pengendalian Mutu (QA), tertulis, ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, disosialisasikan, sudah dilaksanakan, serta sudah dievaluasi dan ditindak lanjuti. Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : 1. Buku kumpulan kebijakan / ketentuan dan prosedur tertulis yang diberlakukan oleh Kepala Puskesmas. 2. Surat edaran ke semua staf tentang adanya dan pemberlakuan kebijakan maupun prosedur tetap jaminan mutu. 3. - Laporan hasil kegiatan jaminan mutu. - Laporan pembahasan pelaksanaan program jaminan mutu. - POA pemecahan permasalahan. - Laporan monitoring pelaksanaan pemecahan permasalahan. - Laporan monitoring secara berkala pelaksanaan QA. Observasi (O) : Dokumen kebijakan / ketentuan peningkatan mutu pelayanan; laporan laporan kegiatan jaminan mutu (pembahasan pelaksanaan, pemecahan masalah, pelaksanaan pemecahan masalah); berkas dokumen monitoring berkala pelaksanaan QA. Wawancara (W) 5.5 : Pimpinan Puskesmas, tim QA, seluruh staf, kordinator Pelayanan.

Penggunaan obat generik di Puskesmas Definisi Operasional : Penggunaan obat generik, yaitu sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI, NO. HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan Pemerintah. Laporan penggunaan obat generik Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kab/Kota dibuktikan dengan adanya arsip di Puskesmas Data yang dievaluasi : 1 tahun terahir Skor : .................. 1 2 3 4 5 6 = = = = = = Obat generik yang digunakan di Puskesmas < 90 % Obat generik yang digunakan di Puskesmas <95 % Obat generik yang digunakan di Puskesmas 95 - <100 %, tidak membuat laporan penulisan obat generik Puskesmas Obat generik yang digunakan di Puskesmas 95 - <100 %, membuat laporan penulisan obat generik Puskesmas Obat generik yang digunakan di Puskesmas 100 %, tapi tidak membuat laporan penulisan obat generik Puskesmas Obat generik yang digunakan di Puskesmas 100 %, membuat laporan penulisan obat generik Puskesmas

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

184 Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian (CP) : - Dokumen (D) : 1. Tersedia Permenkes No. HK.02.02/Menkes/068/I/2010 tentang kewajiban menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan kesehatan Pemerintah. 2. Tersedia laporan penulisan obat generik di Puskesmas - Observasi (O) : 1. Gudang obat untuk melihat jenis obat yang tersedia, apakah semua generik atau tidak. 2. Buku penerimaan obat di gudang, dilihat apakah semua obat yang masuk obat generik. 3. LPLPO (lembar pemakaian dan permintaan obat), untuk melihat apakah obat yang diterima dari Dinkes Kab/Kota obat generik atau tidak - Wawancara (W) : Ka PKM, pengelola obat, penulis resep di BP 5.6 Puskesmas selalu membuat PWS indikator peresepan 1. Presentasi penggunaan antibiotika untuk kasus ISPA non pnemonia 20 % 2. Presentasi penggunaan antibiotika untuk kasus Diare non spesifik 20 % 3. Presentasi penggunaan injeksi untuk kasus myalgia 20 % 4. Rata-rata jumlah obat yang diresepkan tidak lebih dari 3 jenis 5. Point 1 3 dilaporkan ke Dinkes Kab/Kota setiap triwulan Definisi Operasional : PWS (pemantauan wilayah setempat), yaitu laporan 3 kasus (ISPA non pneumoni, Diare Non Spesifik, Myalgia) yang harus dilaporkan oleh puskesmas setiap triwulan ke Dinkes Kab/Kota Skor : .............. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = tidak pernah membuat PWS indikator peresepan ada 1 item, tapi bukan item 5 ada 2 item ada 3 item ada 4 item ada 5 item

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian : Dokumen (D)

Tersedia Laporan triwulan untuk 3 kasus penyakit diatas (minimal 1 tahun terahir) Ada buku pencatatan ke tiga kasus penyakit diatas tersedia data : jumlah rata-rata jenis obat yang diresepkan per pasien Observasi (O) : ----Wawancara (W) : Ka. Puskesmas, petugas BP, Pengelola obat Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

: -

185 5.7 Adanya dokumen tertulis mengenai cara : penerimaan dan pengeluaran/distribusi obat. Definisi Operasional : dokumen tertulis mengenai penerimaan dan pengeluaran obat : SPO penerimaan dan SPO pengeluaran obat Dokumentasi yang harus dimiliki oleh puskesmas : 1. Laporan pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) 2. Buku pemakaian/ pengeluaran obat harian 3. Buku rekapitulasi pemakaian/ pengeluaran obat bulanan yang diisi lengkap 4. Surat bukti barang keluar ( SBBK dari Dinas Kesehatan Kab./Kota) 5. SBBK sub unit 6. Kartu stok yang diisi aktif dengan mencantumkan ED dan & bet 7. Buku penerimaan obat 8. Jadwal permintaan obat ke dinas kesehatan kab./kota 9. Jadwal pendistribusian obat ke sub unit Skor : ................. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = tidak tersedia dokumen tersedia 1 - 2 dokumen tersedia 3 - 4 dokumen tersedia 5 6 dokumen tersedia 7 - 8 dokumen tersedia 9 dokumen

Catatan/Keterangan :

Cara Pembuktian : Dokuman = - Arsip LPLPO (Bulanan/Triwulan) - Buku pemakaian dan pengeluaran obat harian (Bulanan) - Buku rekapitulasi pemakaian dan pengeluaran obat bulanan (Bulanan) - Arsip SBBK dari Dinas Kesehatan Kab/Kota (Bulanan/Triwulan tergantung jadwal distribusi obat dari Dinas Kesehatan Kab/Kota) - Arsip SBBK sub Unit (Bulanan/Triwulan tergantung jadwal distribusi obat dari Puskesmas) Kartu stok - Buku penerimaan obat (Bulanan/Triwulan tergantung jadwal distribusi obat dari Dinas Kesehatan Kab/Kota) - Jadwal permintaan obat rutin ke Dinas Kesehatan kab/kota (Bulanan/Triwulan) - Jadwal pendistribusian obat rutin ke sub unit (Bulanan/Triwulan) - SPO penerimaan dan SPO pengeluaran obat Observasi = --Wawancara = Ka, PKM, pengelola obat, penulis resep di BP

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

186 STANDAR 6. PENGEMBANGAN STAF PROGRAM PENDIDIKAN Adanya sistim pengembangan staf dan program pendidikan dalam rangka upaya peningkatan mutu pelayanan sesuai dengan kebutuhan, harapan dan tuntutan masyarakat serta selalu mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Parameter : 6.1. Kepala Puskesmas, koordinator dan staf Puskesmas secara aktif selalu mengikuti kegiatan kegiatan dan pelatihan yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat (antara lain : pelatihan PPGD atau Basic Life Support / BLS, ALS Optional, dll) Definisi Operasional : Kegiatan maupun pelatihan secara aktif / diikuti, apabila kegiatan maupun pelatihan pelatihan sering dilaksanakan kontinyu minimal 1 (satu) tahun sekali. Kegiatan maupun pelatihan disebut tidak aktif diikuti apabila jarang dilaksanakan dengan pelaksanaan minimal 2 (dua) Tahun sekali. Sebagian staf adalah tidak semua staf mengikuti pelatihan Skor : ............... 0 1 = = Tidak ada kegiatan maupun pelatihan yang diikuti. Adanya kegiatan kegiatan dan pelatihan secara aktif/diikuti yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang hanya diikuti oleh sebagian staf. Adanya kegiatan kegiatan dan pelatihan secara aktif/diikuti yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang hanya diikuti oleh koordinator. Adanya kegiatan kegiatan dan pelatihan secara aktif/diikuti yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang diikuti koordinator dan sebagian staf di pelayanan gawat darurat. Adanya kegiatan kegiatan dan pelatihan secara aktif/diikuti yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang diikuti oleh koordinator dan semua staf di pelayanan gawat darurat Adanya kegiatan kegiatan dan pelatihan secara aktif/diikuti yang berhubungan dengan pengobatan penyakit dan pelayanan gawat darurat yang diikuti oleh Kepala Puskesmas, koordinator dan semua staf di pelayanan gawat darurat

Catatan/keterangan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (O) : Leaflet / brosur kegiatan seminar, simposium, kongres, rapat kerja, lokakarya, pelatihan pelatihan maupun keterampilan, dan lain lain. 2) Surat tugas mengikuti kegiatan / pelatihan di atas. 3) Sertifikat, makalah makalah. : Berkas dokumen dokumen di atas. Kepala Puskesmas, koordinator, dan staf. 1)

Observasi (O) Wawancara (W) :

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

187 STANDAR 7. EVALUASI DAN PENGENDALIAN MUTU

Adanya penilaian pelayanan, kemudian memperbaiki segala kekurangan yang ditemukan dan selanjutnya dimonitor hasil perbaikan tersebut, hasil monitoring perbaikan ditindaklanjuti, kegiatan penilaian dan perbaikan dilaksanakan secara berulang dan berkesinambungan. Parameter : 7.1. Jaminan mutu (QA) dilaksanakan secara berkesinambungan (Quality, Continuity). Definisi Operasional : sudah jelas

Skor : ........... 0 = Jaminan mutu tidak dilaksanakan. 1 = Jaminan mutu dilaksanakan, tidak dievaluasi. 2 = Jaminan mutu dilaksanakan, dievaluasi belum selesai. 3 = Jaminan mutu dilaksanakan, dievaluasi, tidak ada pembahasan masalah hasil evaluasi. 4 = Jaminan mutu dilaksanakan, dievaluasi, ada pembahasan masalah hasil evaluasi, tidak ada tindak lanjutnya. 5 = Jaminan mutu dilaksanakan, dievaluasi, ada pembahasan masalah hasil evaluasi, ada tindak lanjutnya Catatan :

Cara Pembuktian (C.P) : Dokumen (D) : Ada dokumen hasil pelaksanaan jaminan mutu, ada dokumen daftar hadir dan notulen rapat evaluasi dan rapat pembahasan masalah hasil jaminan mutu, serta ada dokumen tindak lanjutnya. Observasi (O) : Berkas dokumen dokumen di atas. SK Tim Jaminan Mutu dari Kepala Puskesmas Wawancara (W) : Kepala Puskesmas, Tim Jaminan Mutu, dan Staf. 7.2. Ada evaluasi atau jajak pendapat keluhan ketidakpuasan pasien dan masyarakat dalam hal pelayanan pengobatan dan kegawatdaruratan, dilakukan berkala dan ditindaklanjuti. Definisi Operasional : 1) Ketidakpuasan pasien dan masyarakat adalah dalam hal : a. Kebersihan dan kenyamanan, ruang pemeriksaan dan pengobatan, ruang gawat darurat, ruang pemeriksaan laboratorium, ruang pemeriksaan radiologi (bila ada), ruang rawat (bila ada), ruang suntik, toilet, ruang tunggu. b. Kemudahan dan kelancaran dalam mendapatkan pelayanan. c. Keramahan pemberi pelayanan. d. Kemudahan mendapatkan informasi mengenai prosedur pemeriksaan, pengobatan, tarif, jenis jenis pelayanan, pelayanan rujukan, dan lain lain. e. Kemudahan mendapatkan pembebasan biaya pengobatan bagi pasien tidak mampu. 2) Dilakukan berkala sesuai perencanaan yang telah diberlakukan sesuai kebijakan,minimal setiap 6 (enam) bulan. 3) Ditindaklanjuti apakah ada pertemuan membahas pemecahan permasalahan dan selanjutnya dilaksanakan pemecahan permasalahan tersebut berupa perbaikan perbaikan pelayanan maupun perbaikan administratif. Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

188 Skor : ............. 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Tidak ada evaluasi. Tidak ada rencana untuk dilaksanakan evaluasi. Ada evaluasi, waktu evaluasi tidak teratur, tidak ditindaklanjuti. Ada evaluasi, waktu evaluasi tidak teratur, ditindaklanjuti. Ada evaluasi secara berkala, tidak ditindaklanjuti. Ada evaluasi secara berkala, ditindaklanjuti.

Catatan :

Cara Pembuktian (C.P ) : Dokumen (D) : - Surat surat keluhan, pengisian formulir surat keluhan. - Daftar hadir dan notulen rapat pembahasan keluhan pasien dari surat surat keluhan maupun secara lisan. - Laporan hasil pemeriksaan permasalahan keluhan pasien. - Hasil survei jajak pendapat keluhan pasien dan masyarakat. Observasi (O) : Adanya kotak saran dan isi kotak saran (surat / keluhan keluhan dari masyarakat). Wawancara (W) : Pimpinan, kelompok kerja teknis (Pokja Pengobatan dan Keperawatan), tim QA, staf. 7.3. Evaluasi hasil pemeriksaan laboratorium sangat penting dilaksanakan dengan menginformasikan secara utuh hasil pemeriksaan laboratorium kepada koordinator pelayanan medis, untuk dibahas dalam rapat kelompok kerja teknis (Pokja teknis medis) / Tim QA maupun mini lokakarya untuk melihat tinggi rendahnya frekuensi penyakit tertentu / kelainan tertentu pada pasien maupun untuk mengetahui sejauh mana dokter menjalankan prosedur medik sesuai standar yang diberlakukan (Quality). D.O. : 1. Pembahasan hasil laboratorium hanya pada kasus kasus khusus, dengan resiko tinggi, pada kaum rentan, menimbulkan akibat yang merugikan pasien. 2. Nama orang yang tercantum di hasil laboratorium seharusnya dirahasiakan, ada sistem pengkodean dan sistem pemeriksaan di laboratorium 3. - Penyampaian kumpulan hasil pemeriksaan laboratorium secara berkala dilakukan setiap 1 bulan. - Penyampaian kumpulan hasil pemeriksaan laboratorium tidak berkala ialah penyampaian yang tidak teratur, kadang kadang setiap bulan, kadang kadang lebih dari 1 bulan.

Skor : .......... 0 1 2 3 4 5 = = = = = = Ada buku pencatatan hasil laboratorium, tetapi pencatatan tidak lengkap Ada buku pencatatan hasil laboratorium, secara lengkap Melakukan atau melaksanakan Pemantapan Mutu Internal (PMI) terhadap sebagian pemeriksaan laboratorium. Melakukan atau melaksanakan PMI untuk seluruh pemeriksaan laboratorium Melakukan evaluasi terhadap hasil PMI oleh penanggung jawab laboratorium Melakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap hasil PMI oleh penanggung jawab laboratorium dan buku pencatatan laboratorium divalidasi setiap hari oleh koordinator pemeriksa atau penanggung jawab laboratorium

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011

189

Catatan /Keterangan :

Cara Pembuktian (C.P.) : Dokumen (D) : - Buku pencatatan laboratorium - Dokumen / buku Pemantapan Mutu Internal (PMI) - Bukti telah dilakukan tindak lanjut. Observasi (O) : Ruang Laboratorium, grafik PMI. Wawancara (W) : Petugas laboratorium. Penanggung jawab laboratorium Koordinator hematologi, kimia klinik, Urinalis, Microbiologi (kalau ada)

Instrumen akreditasi puskesmas-diskes Jabar 2011