Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Produk Sejarah Islam adalah peradaban yang dibentuk melalui evolusi sejarah.

Bahkan wajah Islam yang ada di seluruh belahan dunia merupakan hasil dari produk sejarah. Karena itu, kaitannya dengan produk sejarah Islam inilah sasaran penelitian agama semakin luas. Sejarah Islam yang tumbuh mulai dari masa kekhalifahan sampai berkembang di seluruh kawasan dunia adalah kaya akan persoalan-persoalan keagamaan yang perlu diteliti dari sisi sejarah. Islam sebagai produk sejarah perlu kepada pendekatan arkeologis. Karena, untuk mengungkap sejarah tidak cukup menganalkan dokumen-dokumen serta perkataan yang dijadikan sumber sejarah primer. Bahkan untuk meneliti dan megggali keotentikan sebuah sejarah yang berkenaan dengan bentuk-bentuk peninggalan, tidak bisa mengabaikan pendekatan ini. Pendekatan arkeologis sangat dibutuhkan seorang peneliti dalam membantu untuk mempertajam analisis yang diperlukan ketika mendeteksi sebuah rentang masa, kurun, periode atau sisi lainnya.

Ajaran I Islam sebagai objek studi dapat dibedakan ke dalam tiga aspek:: Islam sebagai sumber (mashdar) , yaitu pengkajian Islam yang berpusat kepada isi kandungan materi Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw, yang kedudukan sebagai sumber utama ajaran Islam. Apa saja dimensi kehidupan manusia yang hendak dikaji oleh setiap orang dalam sudut pandang Islam, maka bahan bedah materinya adalah Al-Quran dan Sunnah. Kedua sumber ini adalah landasan asasi bagi setiap pihak yang ingin
1

mengkaji ajaran Islam. Islam sebagai pemikiran , yaitu mengkaji Islam yang telah mengalami pengembagan dengan berpusat pada hasil olah-pikir para ulama dan cendikiawan muslim tentang masalah tertentu, sebagai perluasan pemahaman terhadap keumuman konsep Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Pengkajian dalam aspek ini diwakili oleh ilmu fikih, ushul fikih, ilmu kalam, ushuluddin, tasawuf, dan sebagainya. Islam sebagai pengamalan, yaitu pengkajian Islam yang lebih terfokus pada pengejewatahan/aplikasi nilai-nilai keIslaman dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari. Pengkajian dalam aspek ini diwakili oleh ilmu tarbiyah (pendidikan), ilmu dakwah, ilmu seni, ilmu kedokteran, iptek modern, dan sebagainya.

BAB II PEMBAHASAN ISLAM SEBAGAI WAHYU DAN PRODUK SEJARAH A. Islam sebagai Wahyu Islam biasanya didefinisikan sebagai berikut: al-Islam wahyu ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammad Salallahu alaihi wassalam lisaadati al-dunya wa al akhirah [Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat]. Jadi, inti Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam, yaitu : wahyu yang berbetuk alQuran, dan wahyu yang bernetuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw [M.Atho Mudzhar, 1998:19]. Menurut M.Atho Mudzhar, bahwa tujuan studi Quran, bukan mempertanyakan kebenaran al-Quran sebagai wahyu, tetapi misalnya mempertanyakan: bagaimana cara membaca al-Quran, kenapa cara membacanya begitu, ada berapa jenis bacaan, siapa yang menggunakan jenis bacaan tertentu, apa kaitannya dengan bacaan sebelumnya, apa sesusungguhnya yang melatarbelakangi lahirnya suatu ayat [asbabul nuzul], dan apa maksud ayat itu. Maka lahirlah misalnya tafsir mauduI yang merupakan salah satu bentuk jawaban terhadap pertanyaan tersebut [M.Atho Mudzhar, 1998:19]. Pertanyaan selanjutnya, apabila
3

pada zaman dulu ayat dipahami begitu, apakah sekarang masih harus dipahami sama ataukah perlu pemahaman baru yang disesuai dengan perkembangan kehidupan sekarang atau dapat dikatakan kontekstual dengan realitas. Menurut M.Atho Mudzhar, mengenai nasikh-mansukh, orang juga masih terus berbeda pendapat. Meskipun kita ambil pendapat bahwaperbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah ayat yang dimansukh. Menurut beberapa pendapat, bahwa pada awalnya jumlah ayat yang dimansukh adalah 115 ayat, kemudian turun menjadi 60 ayat, sekarang turun lagi menjadi 16 ayat. Itu merupakan persoalan yang penting untuk dikaji dan diteliti [M.Atho Mudzhar, 1998:19-20]. Kajian ini lebih pada penelitian teks dan sejarah. Ilmu tafsir, dengan metode yang digunakan dalam menafsirkan al-Quran, yaitu : metode ijmali [global], metode tahlili [analisis], metode muqarin [komporatif], dan metode maudhui [tematik], telah digunakan mufasirin. Perkembangan selanjutnya, muncul studi tekstual dan kontekstual dan sekarang ada juga yang mulai menggunakan studi hermeneutika al-Quran. Kemudian orang bertanya, apa hermeneutika al-Quran itu dan bagaimana penerapannya dalam Islam? Memang istilah ini baru, yang kemungkinan besar istilah ini belum dikenal oleh para mufasir terdahulu [lihat : M.Atho Mudzhar, 1998:20]. Sekarang ini, mulai terlihat penafsiran terhadap al-Quran mulai menghadapi babak baru. Tetaptnya setelah ilmu penafsisran teks atau lazim disebut dengan hermeneutika, diadopsi oleh sebagian kalangan umat Islam. Studi Quran
4

dengan menggunakan hermeneutika dari sisi keilmuan, mungkin sah-sah saja. Tapi bagi sebagian kalangan umat Islam, sah-sah saja itu menjadi tidak sah. Persoalannya, hermeneutika bukan orisinal ciptaan umat, tetapi penafsiran dengan gaya hermeneutika merupakan tradisi Yunani yang kemudian diadopsi oleh Kristen dan mereka menggunakannya untuk mengatasi persoalan yang dihadapi teks Bible. Hal inilah yang menjadikan sebagian umat Islam belum menerima studi Quran dengan menggunakan hermeneutika. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam studi al-Quran adalah studi interdisipliner mengenai al-Quran. Sebab al-Quran selain berbicara mengenai keimanan, ibadah, aturanaturan, juga berbicara tentang sebagian isyarat-isyarat ilmu pengetahuan. Maka ilmu-ilmu seperti sosiologi, botani dan semacamnya perlu dipelajari, untuk memahami ayat-ayat alQuran. Persoalan utamanya adalah bagaimana kaitan antara ilmu al-Quran dengan ilmu-ilmu lain dan di sinilah dibutuhkan studi interdisipliner. Selanjutnya, Islam sebagai wahyu yang dicerminkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad saw. Dalam perkembangan hadis, ada hadis shahih, hadis mutawatir, hadis mashur dan hadis ahad. Menurut M.Atho Mudzhar [1998:20], bahwa wilayah-wilayah inilah antara lain yang dapat dijadikan kajian dan penelitian. Pendapat Fazlur Rahman, yang menyarankan penggunaan pendekatan historical criticism terhadap hadis. Menurut M.Atho Mudzhar, mungkin metode ini

tidak dapat dilakukan oleh pribadi-pribadi, tetapi sangat mungkin dapat dilakukan oleh kelompok. Kita mengetahui dalam sejarah adanya upaya untuk pemalsuan hadis. Imam Bukhari, Imam Muslim atau Imam Malik mengumpulkan dan melakukan mencatat hadis dengan upaya hati-hati. Imam Muslim, dalam pengantarnya mengatakan bahwa tadinya hadis yang dikumpulkan ada 300.000 [tiga ratus ribu] buah, tetapi setelah selesai menjadi 6.000 buah hadis. Pertanyaannya, dari mana Hadis sebanyak itu dan sudah meresap kemana saja sisanya itu, sehingga tinggal 6.000 ? Pertanyaan dan persoalan-persoalan seperti ini merupakan wilayah yang dapat dilakukan kajian-kajian hermeneutika dan historical criticism terhadap hadis [lihat : M.Atho Mudzhar, 1998:21]. Kita dapat meneliti matan hadis, rijalul hadis atau perawi hadis tertentu dan dapat meneliti buku-buku syarah hadis tertentu. Begitu juga ilmu yang sudah baku yang membahas persoalan hadis adalah Ilmu Hadis Riwayah dan Ilmu Hadis Dirayah perlu terus dikaji dan dikembangkan. Pengertian Islam Sebagai Wahyu

B.Pengertian Akal Dan Wahyu Akal dan Wahyu dalam Islam Akal adalah kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Materi aql dalam alQuran terulang sebanyak 49 kali, kecuali satu, semuanya datang dalam bentuk kata kerja seperti dalam bentuk taqilun atau yaqilun. Kata kerja taqilun terulang sebanyak 24 kali dan yaqilun
6

sebanyak 22 kali, sedangkan kata kerja aqala, naqilu dan yaqilu masing-masing satu kali (Qardawi, 1998: 19). Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan ibnu Taimiyah (2001: 18). Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda) sebab lafadz akal mencakup tentang cara berfikir yang benar dan mencakup pula tentang cara berfikir yang salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara berpikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syara. Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Hukum Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah juga menyinggung mengenai kesesuaian nash al-Quran dengan akal, jika ada pemikiran yang bertentangna dengan akal maka akal tersebutlah yang salah karena mengikuti cara berpikir yang salah Definisi Akal Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Dalam penelitian ini, yang dimaksud dengan akal adalah gabungan dari dua pengertian di atas, yang disampaikan oleh ibn Taimiyah dan menurut kamus, yakni daya pikir untuk memahami sesuatu, yang di dalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang didapat oleh akal bisa salah atau bisa benar. Untuk selanjutnya, dalam penelitian ini hanya terbatas pada penggunaan kata akal. Akal secara bahasa dari mashdar Yaqilu, Aqala, Aqlaa,jika dia menahan dan memegang erat apa yang dia ketahui. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Kata akal, menahan, mengekang, menjaga dan semacam nya adalah lawan dari kata melepas, membiarkan, menelantarkan, dan semacamnya. Keduanya nampak pada jisim yang nampak untuk jisim yang nampak, dan terdapat pada hati untuk ilmu batin, maka akal adalah menahan dan memegang erat ilmu, yang mengharuskan untuk mengikutinya. Karena inilah
7

maka lafadz akal dimuthlakkan pada berakal dengan ilmu.Syaikh AlAlbani berkata, Akal menurut asal bahasa adalah At Tarbiyyah yaitu sesuatu yang mengekang dan mengikatnya agar tidak lari kekanan dan kekiri. Dan tidak mungkin bagi orang yang berakal tersebut tidak lari ke kanan dan kiri kecuali jika dia mengikuti kitab dan sunnah danmengikatdirinyadenganpemahamansalaf. Al Imam Abul Qosim Al Ash bahany berkata, akal ada dua macam yaitu : thabii dan diusahakan. Yang thabii adalah yang datang bersamaan dengan yang kelahiran, seperti kemampuan untuk menyusu, makan, tertawa bila senang, dan menangisbilatidaksenang. Kemudian seorang anak akan mendapat tambahan akal di fase kehidupannya hingga usia 40 tahun. Saat itulah sempurna akalnya, kemudian sesudah itu berkurang akalnya sampai ada yang menjadi pikun. Tambahan ini adalah akal yang diusaha kan. Adapun ilmu maka setiap hari juga bertambah, batas akhir menuntut ilmu adalah batas akhir umur manusia, maka seorang manusia akan selalu butuh kepada tambahan ilmu selama masih bernyawa, dan kadang dia tidak butuh tambahan akal jika sudah sampai puncaknya. Hal ini menunjukan bahwa akal lebih lemah dibanding ilmu, dan bahwasanya agama tidak bisa dijangkau dengan akal, tetapi agama dijangkau dengan ilmu. Pemuliaan Islam Terhadap Akal Islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, diantara hal yang menunjukan perhatian dan penghormatan islam kepada akala dalah: Islam memerintahkan manusiauntukmenggunakanakaldalamrangkamendapatkanhal-hal yangbermanfaatbagikehidupannya.
8

Islam mengarahkan kekuatan akal kepada tafakkur (memikirkan) dan merenungi (tadabbur) ciptaan-ciptaan Allah dan syariat-syariatnya sebagaimana dalam firmanNya, Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadiaan) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) benar dan waktu yang telah ditentukan, Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rum) Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal,(AlBaqarah:184), Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jumat, maak bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagi mana jika kamu mengetahui. (QS.Jumuah:9). Islam melarang manusia untuk taklid buta kepada adat istiadat dan pemikiranpemikiran yang bathil sebagaimana dalam firman Allah, Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami, (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk? (QS.AlBaqarah:170). 3.Islam memerintahkan manusia agar belajar dan menuntut ilmu sebagaimana dalam firman Allah, Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama.(QS. At Taubah : 122). Islam memerintahkan manusia agar memuliakan dan menjaga akalnya, dan melarang dari segala hal yang dapat merusak aka lseperti khomr, Allah
9

berfirman, Hai, orang-orang yang beriman sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Al Maidah.90). Ruang Lingkup Akal Dalam Islam Meskipun islam sangat memperhatikan dan memuliakan akal, tetapi tidak menyerahkan segala sesuatu kepada akal, bahkan islam membatasi ruang lingkup akal sesuai dengan kemampuannya, karena akal terbatas jangkauannya, tidak akan mungkin bisa menggapai hakekat segala sesuatu. Maka Islam memerintahkan akal agar tunduk dan melaksanakan perintah syari walaupun belum sampai kepada hikmah dan sebab dari perintah itu. Kemaksiatan yang pertama kali dilakukan oleh makhluk adalah ketika Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena lebih mengutamakan akalnya yang belum bisa menjangkau hikmah perintah Allah tersebut dengan membandingkan penciptaannya dengan penciptaan Adam, Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah..(QS.Shaad;76). Karena inilah islam melarang akal menggeluti bidang-bidang yang diluar jangkauannya seperti pembicaraan tentang Dzat Allah,hakekat ruh,dan yang semacamnya, Rasulullah bersabda, Pikirkanlah nikmat-nikmat Allah,janganlah memikirkan tentang Dzat Allah.Allah berfirman, Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah,Roh itu termasuk urusan Tuhanku,dan tidaklah Allah kamu diberi kita pengetahuan untuk melainkan

sedikit.(QS.AlIsra:85).

menyuruh

memaksimalkan

kemampuan akal yang diberikan pada kita. Salah satu cara, Ia menganjurkan pada

10

kita untuk menuntut ilmu setinggi tingginya demi kemajuan umat bersama. Bahkan pernah dikatakan dalam suatu hadits bahwa ada tiga peninggalan yang mampu menolong manusia untuk terhindar dari api neraka yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh. Dengan kata lain, Allah hendak mengatakan bahwa ilmu sangatlah penting untuk kita, sebagai umat islam, bukan hanya penting untuk kehidupan dunia, tetapi juga kehidupan akhirat. Ilmu yang bermanfaat itu dapat kita bawa hingga keakhirat kelak. Firman Allah dalam QS. Ali Imran : 110, Kamu adalah umat yang paling baik (khaira ummah, umat pilihan), yang dilahirkan untuk kepentingan manusia; menyuruh mengerjakan yang benar dan melarang membuat salah, serta beriman kepada Allah. Sekranya orang-orang keturunan Kitab itu beriman, sesungguhnya itu baik untuk mereka. Sebahagian mereka beriman, tetapi kebanyakannya orang-orang yang

jahat.Sebenarnya umat yang menjadi pengamal wahyu Allah (Islam) memiliki identitas (ciri, sibghah) yang jelas di antaranya menguasai ilmu pengetahuan. Dalam mewujudkan keberadaannya ditengah masyarakat mereka menjadi innovator dan memiliki daya saing serta memiliki imajinasi yang kuat disamping kreatif dan memiliki pula inisiatif serta teguh dalam prinsip (istiqamah, consern), bahkan senantiasa berfikir objektif dan mempunyai akal budi. C. Definisi Wahyu Wahyu sendiri dalam al-Quran disebut dengan kata al-wahy yang memiliki beberapa arti seperti kecepatan dan bisikan. Wahyu adalah nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan cara cepat dari Allah ke dalam dada nabi-nabiNya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadz al-Quran (as- Shieddiqy: 27). Untuk selanjutnya, dalam penelitian ini hanya terbatas pada
11

penggunaan kata wahyu. Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul melalui mimpi dan sebagainya. Wahyu adalah sesuatu yang dimanifestasikan, diungkapkan. Ia adalah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan penegasan atas kebenaran. Setiap gagasan yang di dalamnya ditemukan kebenaran ilahi adalah wahyu, karena ia memperkaya pengetahuan sebagai petunjuk bagi manusia (Haque, 2000: 10). Allah sendiri telah memberikan gambaran yang jelas mengenai wahyu ialah seperti yang digambarkan dalam alQuran surat al-Maidah ayat 16 yaitu: Dengan Kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka kejalan yang lurus Pengertian wahyu dalam penelitian di sini adalah kitab al-Quran yang di dalamnya merupakan kumpulan-kumpulan dari wahyu yang membenarkan wahyu-wahyu sebelumnya (taurat, injil, zabur) dan diturunkan oleh Allah hanya kepada Nabi Muhammad SAW selama hamper 23 tahun (Haque,2000:19). Wahyu, menurut Kamus AlMufrd tf Ghara`ibi`l-Qur`n, makna aslinya adalah al-Isyaratu`s-sarah. Artinya, isyarat yang cepat yang dimasukkan kedalam hati seseorang atau ilqun fi`r-rau`i, maksudnya yang disampaikandalamhati.

D. Fungsi Wahyu 1.Wahyu merupakan sumber pokok ajaran Islam. 2.Wahyu sebagai landasan berpikir. Semua produk pemikiran (ilmu, teori, konsep dan

gagasan) tidak boleh lepas dari wahyu,baik makna tersirat maupun tersurat.

12

3.Wahyu sebagai landasan berbuat, bersikap, berperilaku dalam semua segi kehidupan.

Akal dan wahyu kalau diletakkan secara fungsionalis, maka keduanya saling memiliki fungsi. Akal memiliki fungsi untuk memahami wahyu, karena wahyu ditulis dengan bahasa Arab, dan tidak setiap orang dapat memahami teks Arab. Wahyu (Al Quran sebagai hudan, untuk memahami hudan diperlukan akal. Wahyu memiliki fungsi mengarahkan kerja akal dan memberikan informasi kandungan wahyu yangg memerlukan bukti empiris, bahkan dengan observasi, eksperimen, penyelidikan dan penelitian, yang ini semua dikerjakan dengan akal pikiran. E. Islam Sebagai Wahyu Islam biasanya didefinisikan sebagai berikut: al-Islam wahyu ilahiyun unzila ila nabiyyi Muhammad Salallahu alaihi wassalam lisaadati al-dunya wa al akhirah (Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai pedoman untuk kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat). Jadi, inti Islam adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam, yaitu : (1) wahyu yang berbetuk al- Quran, dan (2) wahyu yang bernetuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw1.Sebagai mana sudah disinggung diatas, bahwa agama mengandung dua kelompok ajaran, Pertama, ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para Rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab suci itu memerlukan penjelasan tentang arti dan cara pelaksanaannya. Penjelasan para pemuka atau pakar agama membentuk ajaran agama kedua.
1 Pendidikan Islam,Terj.Hasan Langgung(Jakarta:Bulan Bintang,1979)hlm.25

13

Ajaran dasar agama, karena merupakan wahyu dari Tuhan, bersifat Absolut,mutlak benar, kekal, tidak pernah berubah, dan tidak bisa diubah. Sedangkan penjelasan ahli agama terhadap ajaran dasar agama,karena hanya merupakan penjelasasn dan hasil pikiran, tidak absolut, tidak mutlak benar, dan tidak kekal. Bentuk ajaran agama ynag kedua ini bersifat relatif, nisbi, berubah, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.2 M.Atho Mudzhar, mengatakan bahwa kajian Hadis sama dengan kajian terhadap al-Quran yang merupakan kibat yang masih berisfat universal penjelasannya membutuhkan studi interdisipliner, dalam hadist pun usaha ini perlu dilakukan. Katakan saja, Hadis mengenai psikologi, pendidikan, iptek dan sebagainya yang perlu dikelompokan dan dibandingkan dengan hasil penemuan ilmu modern. Sebagai contoh, mengenai hadis idza waqaa al-dzubabu fi inai ahadikum falyaqmishu (artinya: ketika sadar lalat terjatuh ke dalam bejanamu, maka benamkanlah). Hadis ini diterangkan dalam kitab Subulu al-Salam, bahwa pada sayap kanan mengandung ini dan pada sayap kiri mengandung itu. Penjelasan terhadap hadis ini memerlukan satu upaya untuk mencoba mengadakan studi interdispliner barangkali memerlukan ilmu tentang serangga terhadap hadis tersebut,

untuk membuktikan secara emperik

terhadap pernyataan Hadis tersebut. F. Islam sebagai Produk Sejarah dan Sasaran Penelitian Perlu ditegaskan bahwa ternyata ada bagian dari Islam yang merupakan produk sejarah. Peristiwa gerakan hijrah yang dilakukan Nabi merupakan sebuah metamorfosis dari suatu

2 Ibid, hal. 58-59

14

"gerekan" menjadi "negara". Gerakan ini berasal dari tiga belas tahun sebelumnya, Nabi Saw melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis; di mana Islam menjadi jalan hidup individu, di mana Islam "memanusia", dan manusia kemudian "memasyarakat". Dengan melalui hijrah, masyarakat itu bergerak secara linear menuju negara. Maka, melalui hijrah gerakan itu "menegara", dan Madinah adalah wilayahnya. Nabi melakukan penataan negara tersebut, dengan: Pertama, membangun infrastruktur negara dengan mesjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antara dua komunitas yang berbeda yaitu "Quraisy" dan "Yatsrib" yang menjadi dan dikenal dengan komunitas "Muhajirin" dan "Anshar" tetapi menyatu sebagai komunitas agama. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui Piagam Madinah. Keempat, merancang sistem negara melalui konsep jihad fi sabilillah [ Dengan dasar ini, negara dan masyarakat Madinah yang dibangun oleh Nabi Saw merupakan negara dan masyarakat yang kuat dan solid. Kemudian, peristiwa hijrah telah menciptakan keberagaman penduduk Madinah. Penduduk Madinah tidak terdiri dari atas suku Aus, Khazraj, dan Yahudi, tetapi Muhajirin Quraisy dan suku-suku Arab lain yang datang dan hidup bersama mereka di Madinah. Nabi menghadapi realitas pluralitas, karena struktur masyarakat Madinah yang baru dibangun terdapat beragam agama yaitu Islam, Yahudi, Kristen, Sabi'in dan Majusi, dan ada juga
15

golongan yang tidak bertuhan [atheis] dan bertuhan banyak [polytheists]. Struktur masyarakat yang pluralistik ini dibangun oleh Nabi di atas fondasi ikatan iman dan akidah yang tentu lebih tinggi nilai ikatannya dari solidaritas kesukuan [ashabiyah] dan afiliasi lainnya. Selain itu, klasifikasi masyarakat pada saat itu didasarkan atas keimanan, dan mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok, yaitu: mu'minun, munafiqun, kuffar, mushrikun dan Yahudi [Akram Dhiyauddin Umari, 1999:77], dengan kata lain bahwa masyarakat di Madinah pada saat itu merupakan bagian dari komunitas FM-UIIAA-FKA-07 ada ayat al-Quran yang dimansukh dan ada masyarakat yang majemuk atau plural. Peristiwa hijrah itu sendiri merupakan produk sejarah yang memang perlu dikaji dan diteliti. Konsep "Piagam Madinah" [Mitsaq al-Madinah], dianggap sebagai konstitusi tertulis pertama dalam sejarah kemanusian. Piagam ini tidak hanya sangat maju pada masanya, tetapi juga menjadi satu-satunya dokumen penting dalam perkembangan kebiasaan konstitusional dan hukum dalam dunia Islam [Nurchalis Madjid, hlm. 51., dan Ahmad Hatta, 1995:10]. Selain itu, dalam dokumen Piagam itulah, dikatakan bahwa "umat manusia untuk pertama kalinya diperkenalkan, antara lain, kepada wawasan kebebasan, terutama dibidang agama dan ekonomi, serta tanggung jawab sosial dan politik, khususnya pertahanan secara bersama. Dalam Piagam tersebut juga menempatkan hak-hak individu yaitu kebebasan memeluk agama,
16

persatuan dan kesatuan, persaudaraan [al-ukhuwwah] antar agama, perdamaian dan kedamaian, toleransi, keadilan [al-'adalah], tidak membeda-bedakan [diskriminasi] dan menghargai kemajemukan". Konsep Piagam Madinah ini merupakan produk sejarah. Konsep tentang Khulafa al-Rasyidin adalah merupakan produk sejarah, karena nama itu muncul belakangan. Teologi Syiah, Mutazilah adalah merupakan bagian dari wajah Islam produk sejarah. Seluruh bangunan sejarah Islam klasik, tengah dan modern, sebagai produk sejarah. Orang dapat berkata, andaikan Islam tidak berhenti di Spanyol, Islam di Eropa akan berkembang sampai saat ini dan andaikan Islam terus bertahan di Spanyol, sejarahnya akan lain lagi. Demikian juga perkembangan filsafat Islam, kalam, fiqh, ushul fiqh produk sejarah. Tasawuf dan akhlak sebagai ilmu juga merupakan produk sejarah Islam. Akhlak sebagai nilai bersumber dari wahyu, tetapi sebagai ilmu yang disistematisasir akhlak adalah produk sejarah. Kebudayaan Islam klasik, tengah, modern, arsitektur Islam, seni lukis, musik, bentuk-bentuk masjid Timur Tengah, Indonesia, Cina adalah produk sejarah, dll. Semuanya dapat dan perlu dijadikan sasaran penelitian. Demikian juga Seni dan metode baca al-Quran yang berkembang di Indonesia adalah merupakan produk sejarah [lihat : M.Atho Mudzhar, 1998:23]. Demikian, banyak bangunan pengetahuan kita tentang Islam, sebenarnya merupakan produk sejarah. Maka karena itu, semuanya dapat dan perlu dijadikan sebagai sasaran penelitian.

17

Menurut Fazlur Rahman, dalam mengkaji karya-karya, kita perlu mengetahui metodependekatan yang digunakan dalam menulis karya-karyanya. Fazlur Rahman, sering menyebutkan dua istilah metode dalam buku-bukunya yaitu Historico critical method dan Hermeneutic method. Kedua istlah tersebut merupakan "kata kunci" adalah : 1. Historico critical method [metode kritik sejarah], merupakan sebuah pendekatan kesejarahaan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta obyektif secara utuh dan mencari nilai-nilai [values] tertentu yang terkandung di dalamnya. Jadi, yang ditekankan oleh metode ini adalah pengungkapan nilai-nilai yang terkandung dalam sejumlah data sejarah, bukan presitiwa sejarah itu sendiri. Jikalau data sejarah dipaparkan sebatas kronologinya, maka model semacam ini dinamakan pendekatan kesejarahan. 2. Hermeneutic method yaitu metode untuk memahami dan menafsirkan teks-teks kuno seperti kitab suci, sejarah, hukum juga dalam bidang filsafat. Metode ini diperlukan untuk melakukan interpretasi terhadap teks kitab suci, penafsiran terhadap teks-teks sejarah yang menggunakan bahasa yang rumit, atau bahasa hukum yang padat juga memerlukan upaya penafsiran, agar mudah dipahami.

G. Islam Sebagai Produk

Sejarah Islam adalah peradaban yang dibentuk melalui evolusi sejarah. Bahkan wajah Islam yang ada di seluruh belahan dunia merupakan hasil dari produk sejarah. Karena itu,
18

kaitannya dengan produk sejarah Islam inilah sasaran penelitian agama semakin luas. Sejarah Islam yang tumbuh mulai dari masa kekhalifahan sampai berkembang di seluruh kawasan dunia adalah kaya akan persoalan-persoalan keagamaan yang perlu diteliti dari sisi sejarah. Islam sebagai produk sejarah perlu kepada pendekatan arkeologis. Karena, untuk mengungkap sejarah tidak cukup menganalkan dokumen-dokumen serta perkataan yang dijadikan sumber sejarah primer. Bahkan untuk meneliti dan megggali keotentikan sebuah sejarah yang berkenaan dengan bentuk-bentuk peninggalan, tidak bisa mengabaikan pendekatan ini. Pendekatan arkeologis sangat dibutuhkan seorang peneliti dalam membantu untuk mempertajam analisis yang diperlukan ketika mendeteksi sebuah rentang masa, kurun, periode atau sisi lainnya. Ruang lingkup studi Islam yang merupakan produk sejarah misalnya tentang fiqih/mazhab, tasawuf/sufi, filsafat/kalam, seni/arsitektur Islam, budaya/tradisi Islam. Bangunan pengetahuan kita pada wilayah Islam tersebut adalah produk sejarah yang dapat dijadikan sasaran penelitian. Studi Al-Quran Tujuan studi Al-Quran bukan mempertanyakan kebenaran Al-Quran sebagai wahyu , tetapi misalnya mepertanyakan: bagaimana cara membaca Al-Quran, kenapa cara membacanya begitu, berapa macam jenis bacaan itu, siapa yang menggunakan jenis-jenis bacaan itu, apa kaitannya dengan bacaan sebelumnya, apa sesungguhnya yang melatar belakangi lahirnya suatu ayat, apa maksud ayat itu. Maka lahirlah misalnya tafsir maudhui yang merupakan salah satu bentuk jawaban terhadap pertanyaan-petanyaan tersebut di atas. Pertanyaan selanjutnya, kalau dahulu dipahami begitu, apakah sekarang masih harus dipahami sama ataukah perlu pemahaman baru. Satu hal yang patut diperhatikan dalam studi Al-Quran, yaitu studi interdisipliner mengenai Al-Quran. Sebab Al-Quran selain berbicara mengenai keimanan, ibadah, aturan-aturan, juga berbicara tentang sebagian isyarat-isyarat ilmu pengetahuan. Maka
19

ilmu-ilmu seperti sosiologi, botani, dan semacamnya, perlu dipelajari untuk memahami ayat-ayat Al-Quran dengan ilmu-ilmu lain. Di sini di butuhkan studi interdisipliner. Potret Islam Selama ini masyarakat sudah mengenal Islam, tetapi belum jelas potret Islam yang telah dikenal tersebut. Misalnya mengenal Islam dalam potret yang ditampilkan oleh Iqbal dengan nuansa filosofis dan sufistiknya. Islam yang ditampilkan oleh Fazlur Rahman yang bernuansa historis dan filosofis. Demikian pula, Islam yang ditampilkan oleh pemikir-pemikir Iran lainnya. Kenyataan tersebut memperlihatkan adanya dinamika internal di kalangan umat Islam untuk menerjemahkan Islam dalam upaya merespon berbagai masalah umat yang mendesak. Titik tolak dan tujuan mereka sama, yakni ingin menunjukkan konstribusi Islam sebagai salah satu alternatif dalam memecahkan berbagai masalah umat. Selain itu, kenyataan tersebut menunjukkan bahwa Islam merupakan sebuah agama yang dapat dilihat dari sisi mana saja, dan setiap sisinya akan senantiasa memancarkan cahaya yang terang. Dari berbagai sumber kepustakaan tentang Islam yang ditulis oleh para tokoh tersebut, dapat diketahui bahwa Islam memiliki karakteristik yang khas yang dapat dikenali melalui konsepsinya dalam berbagai bidang, seperti bidang teologi, ibadah, muamalah yang di dalamnya mencakup masalah pendidikan, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik, lingkungan hidup, kesehatan, dan sejarah.

Islam Sebag

Islam sebagai objek studi dapat dibedakan ke dalam tiga aspek:: Islam sebagai sumber (mashdar) , yaitu pengkajian Islam yang berpusat kepada isi kandungan materi Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw, yang kedudukan sebagai
20

sumber utama ajaran Islam. Apa saja dimensi kehidupan manusia yang hendak dikaji oleh setiap orang dalam sudut pandang Islam, maka bahan bedah materinya adalah AlQuran dan Sunnah. Kedua sumber ini adalah landasan asasi bagi setiap pihak yang ingin mengkaji ajaran Islam. Islam sebagai pemikiran , yaitu mengkaji Islam yang telah mengalami pengembagan dengan berpusat pada hasil olah-pikir para ulama dan cendikiawan muslim tentang masalah tertentu, sebagai perluasan pemahaman terhadap keumuman konsep Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Pengkajian dalam aspek ini diwakili oleh ilmu fikih, ushul fikih, ilmu kalam, ushuluddin, tasawuf, dan sebagainya. Islam sebagai pengamalan, yaitu pengkajian Islam yang lebih terfokus pada pengejewatahan/aplikasi nilai-nilai keIslaman dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari. Pengkajian dalam aspek ini diwakili oleh ilmu tarbiyah (pendidikan), ilmu dakwah, ilmu seni, ilmu kedokteran, iptek modern, dan sebagainya.

H. Sejarah Intelektual Islam

Perkembangan pemikiran islam mempunyai sejarah yang panjang dalam arti seluasluasnya. Tradisi pemikiran dikalangan umat islam berkembang seiring dengan kemunculan islam itu sendiri. Dalam kontek masyarakat Arab sendiri, di mana islam lahir dan pertama kali berkembang di sana, kedatangannya lengkap dengan tradisi keilmuannya. Sebab masyarakat Arab pra islam belum mempunyai sistem pengembangan pemikiran secara sistematis.

Pada masa awal perkembangan islam, sistem pendidikan dan pemikiran yang sistematis belum terselenggara karena ajaran islam tidak diturunkan sekaligus. Namun demikian isyarat Alquran sudah cukup jelas meletakkan fondasi yang kokoh terhadap pengembangan ilmu dam pemikiran,sebagaimana terlihat pada ayat yang pertama diturunkan yaitu suatu perintah untuk
21

membaca dengan nama Allah ( al-Alaq:1 ). Dalam kaitan itu dapat dipahami mengapa proses pendidikan islam pertama kali berlangsung di rumah yaitu Darul Arqam. Ketika masyarakat Islam telah terbentuk, maka pendidikan Islam dapat diselenggarakan di mesjid. Proses pendididkan pada kedua tempat tersebut dilakukan dalam lingkaran besar atau disebut Halaqah.

Dalam mengguanakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution, dilihat dari segi perkembangannya, sejarah intelektua Islam dapat dikelompokkan ke dalam tiga masa yaitu masa klasik, yaitu tahun 650-1250 M. dan masa modern yaitu sejak tahun 1800-sampai sekarang.

Pada masa klasik lahir para ulama madz hab seperti imamn Hambali, Hanafi, Iman Syafii, dan Iman Malik. Selain itu, lahir pula para filosuf muslim seperti Al-Kindi, tahun 801 M. seorang filosuf muslim pertama. Selain Al-Kindi, pada itu lahir pula para filosuf besar seperti Al-Razi lahir tahun 865 M, Al-Farabi lahir tahun 870 M. Dia dikenal sebagai pembangun aguing sistem filsafat. Pada abad berikutnya lahir pula filosuf agung Ibnu Miskawaih pada tahun 930 M. pemikirannya yang terkenal tentang pendidikan akhlak kemudian Ibnu Sina tahun 1037. Ibnu Bajjah, 1138 M. Ibnu Rasyid 1126 M. dll. Pada masa pertengahan yaitu tahun 1250-1800 M. dalam catatan sejarah pemikiran Islam masa ini merupakan fase kemunduran karena filsafat mulai dijauhkan dari umat Islam sehingga ada kecenderungan akal dipertentangkan dengan wahyu,.iman dengan Ilmu, dunia dengan akhirat. Pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.

Pemikiran yang berkembang saat itu adalah pemikiran dikotomis antara agama dengan lmu dan urusan dunia dengan urusan akhirat. Titik kulminasinya adalah ketika para ulama sudah mendekat kepada para penguasa, sehingga fatwa-fatwa mereka tidak lagi diikuti oleh umatnya dan kondisi umat menjadi carut marut kehilangan figur pemimpin yang dicintai umatnya.

22

I. Nilai-Nilai Islam Dalam Budaya Indonesia

Di zaman modern, ada satu fenomena yang menarik untuk kita simak bersama yaitu semangat dan pemahaman sebagian generasi muda umat Islam khususnya Mahasiswa PTU dalam mempelajari dan mengamalkan ajaran Islam. Mereka berpandangan bahwa Islam yang benar adalah segala sesuatu yang ditampilkan oleh Nabi Muhammad Saw. Secara utuh termasuk nilai-nilai budaya Arabnya. Kita sepakat bahwa Nabi Muhammad Saw. Itu adalah Rasul Allah. Kita tahu Islam itu lebih dari beliau, dan yang menginkari kerasulannya adalah kafir.

Nabi Muhammad Saw. Adalah seorang Rasul Allah dan harus diingat bahwa beliau adalah orang Arab. Dalam kajian budaya sudah barang tentu apa yang ditampilkan dalam perilaku kehidupannya terdapat nilai-nilai budaya lokal. Sedangkan nilai-nilai Islam itu bersifat universal. Maka dari itu sangat dimungkingkan apa yang dicontoh oleh Nabi dalam hal muamalah ada nuansa-nuansa budaya yang dapat kita aktualisasikan dala kehidupn modern dan disesuaikan dengan muatan budaya lokal masing-masing. Contohnya dalam cara berpakaian dan cara makan. Dalam ajaran Islam sendiri meniru budaya satu kaum boleh-boleh saja sepanjang tidak bertengtangan dengan nilai-nilai dasar Islam. Apalagi yang ditirunya adalah panutan suci Nabi Muhammad Saw, namun yang tidak boleh adalah menganggap bahwa nilai-nilai budaya Arabnya dipandang sebagai ajaran Islam.

Dalam perkembangan dakwah Islam melalui bahasa budaya, sebagaimana dilakukan oleh para Wali di tanah jawa. Karena kehebatan para wali Allah dalam mengemas ajaran Islam dengan bahasa budaya setempat, sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai Islam telah masuk dan menjadi tradisi dalam kehidupan sehari hari mereka.

23

BAB III

PENUTUP

A. PEMIKIRAN PENULIS

Menurut saya pembahasan kali ini yang bisa kita ambil yaitu pengkajian Islam yang lebih terfokus pada pengejewatahan/aplikasi nilai-nilai keIslaman dalam praktek kehidupan nyata sehari-hari. Pengkajian dalam aspek ini diwakili oleh ilmu tarbiyah (pendidikan), ilmu dakwah, ilmu seni, ilmu kedokteran, iptek modern, dan sebagainya.

Maka kita percaya bahwa wahyu itu terdiri atas dua macam, yaitu : wahyu yang berbetuk alQuran, dan wahyu yang bernetuk hadis, sunnah Nabi Muhammad saw [M.Atho Mudzhar, 1998:19]. Perkembangan pemikiran islam mempunyai sejarah yang panjang dalam arti seluasluasnya. Tradisi pemikiran dikalangan umat islam berkembang seiring dengan kemunculan islam itu sendiri. Dalam kontek masyarakat Arab sendiri, di mana islam lahir dan pertama kali berkembang di sana, kedatangannya lengkap dengan tradisi keilmuannya.

24

Daftar Pustaka
M. Anis Hatta,From: http://www.hidayatullah. com/2001/ 06/ kajut3.shtml., 7 Maret 2001 Noel J. Coulson, Conflicts and Tensions in Islamic Law (The University of Chicago Press, Chicago, 1969).

Muhammad Muslehuddin, Philosophy of Islamic Law and the Orientalists (Islamic Publications Ltd., Pakistan, 1977).

25