Anda di halaman 1dari 4

Al Ulum Vol.51 No.

1 Januari 2012 halaman 37-40

37

CYBERCOUNSELING : SEBUAH INOVASI DALAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING BERBASIS INTERNET Ali Rachman* ABSTRAK Perkembangan kemajuan bidang teknologi dan informasi membawa dampak dalam berbagai kehidupan, baik secara individu maupun kelompok. Kemajuan teknologi ini menuntut individu untuk mampu merancang, membuat dan menggunakan serta melaksanakan teknologi dalam kerja sehari-hari, tak terkecuali dalam pelaksanaaan Bimbingan dan Konseling di sekolah. Pelaksanaan layanan Konseling disekolah yang dilaksanakan oleh para konselor sekolah mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi. Layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan dukungan teknologi informasi dapat dilaksanakan dengan berbagai cara, antara lain melaksanakan layanan konseling, mengolah data dan sistem administrasi. Layanan konseling berbasis teknologi informasi dapat dilaksanakan dengan menggunakan multimedia yang menggambarkan suatu proses konseling. Salah satu layanan dalam bimbingan konseling yang dapat digunakan adalah konseling online (cybercounseling) dalam membantu klien dalam mengatasi masalahnya. Kata kunci : Cybercounseling, Layanan Bimbingan Konseling, Internet PENDAHULUAN Internet, yang merupakan kependekan dari kata Interconnection Networking merupakan suatu jaringan yang menghubungkan komputer di seluruh dunia tanpa dibatasi oleh jumlah unit menjadi satu jaringan yang bisa saling mengakses satu sama lain (Wahyono, 2005). Internet menyebabkan hampir tidak ada batasan lagi bagi setiap negara di dunia untuk saling berhubungan, berkomunikasi, dan bersaing satu sama lain. Keunggulan internet yang menawarkan kemudahan berkomunikasi setiap saat, kapan, dan dimana saja menyebabkan membengkaknya pengguna internet. Internet akan menjadi sebuah media pelayanan yang tanpa batas ruang dan waktu, mudah dan cepat diakses siapapun. Peluang ini, telah menjadi kesempatan dan tantangan para profesional dalam bidang apapun untuk hadir dalam dunia tanpa batas melebarkan sayap jaringan pelayanan seluasluasnya dengan berbagai kemudahan. Konseling sebagai sebuah layanan profesional tentunya dituntut beradaptasi dengan dunia baru dunia informasi internet dengan berbagai peluang pelayanan yang luas. Bill Gates, mendiskripsikan bagaimana dunia website telah membentuk gaya hidup, gaya kerja, dan teknologi telah merembes dalam berbagai aspek kehidupan. Teknologi komputer telah dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Lebih dari 75% ruang kelas di AS, telah memanfaatkan teknologi komputer dengan mayoritas penggunaan akses internet (Wall, 2000). Teknologi komputer telah menjadi raksasa masa depan sejak tahun 1970-an dan 1980-an dengan pengembangan lebih lanjut microcomputer. Sejak saat itu kehadiran komputer telah mengubah perwajahan sosial masyarakat dari abad industri menjadi abad informasi. Dalam rentang tahun itu pula para praktisi telah mengembangkan berbagai aktivitas konseling berbasis aplikasi komputer seperti: intervensi konseling, testing psikologis, bimbingan karir, pengelolaan data dan program evaluasi (Alpert, Pulvino, & Lee (1984), dalam Granello, 2000).

______________________________ * Tenaga Pengajar Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Unlam Banjarmasin
Cybercounseling : Sebuah Inovasi Dalam Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Internet (Ali Rachman)

Al Ulum Vol.51 No.1 Januari 2012 halaman 37-40

38

Pada masa 1990-an akses dan penggunaan internet telah merambah dari ruang lingkup akademik dan menjadi bagian aktivitas yang memasyarakat. Pada masa ini cybercounseling dan berbagai topik psikologi disajikan pada para konsumen web browser. Beberapa pendidik konselor telah mencetak situsnya seperti ICN (International Counseling Network), CESNET (Counselor educators and Supervisors Network), dan COUNSGRAD (Counseling Graduateds) telah menjadi media komunikasi yang populer di AS. (Granello, 2000). The American Counseling Association (ACA) dan National Board for Certified Counselor (NBCC) menyatakan ...Cybercounseling is likely to become an emerging area for the profession (Bloom, 1997; Lee, 1998 dalam Coursol & Lewis, 2000). METODE PENULISAN Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah library research dengan menggunakan analisis teori-teori cybercounseling, mengkaji kelebihan dan kelemahannya, serta bagaimana penerapannya dalam praktik bimbingan konseling. PEMBAHASAN Kelebihan dan Kelemahan Konselor dalam menggunakan Cybercounseling Jumlah pengguna internet di Indonesia berdasarkan data dari Google.com/adplanner per Mei 2010 telah mencapai 38 juta orang. Untuk di kawasan Asia, Indonesia masuk dalam 5 besar pengguna Internet terbanyak bersama dengan China, Jepang, India dan Korea Selatan. (Acep Syaripudin, 2010). Di Indonesia penggunaan internet oleh sekolah dan siswa juga mengalami peningkatan. Potensi ini tentunya menjadi peluang dan tantangan profesi konseling untuk

memanfaatkan teknologi internet menjadi media pelayanan bimbingan dan konseling yang luas, cepat, mudah, murah, tanpa batas ruang dan waktu. Namun disisi lain membutuhkan kesiapan konselor yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap positif dalam memanfaatkan teknologi internet menjadi basis pelayanan bimbingan konseling. Untuk menggunakan cybercounseling, tentunya diperlukan komputer atau laptop yang memiliki jaringan internet yang dapat digunakan sebagai media layanan proses konseling, menggunakan cybercounseling artinya konselor bersama klien tidak hadir secara fisik pada ruang dan waktu yang sama. Pada kenyataannya proses ini, memang memiliki berbagai keuntungan maupun kelemahan. Keuntungan itu pada dasarnya terletak pada keluasan, tidak terbatas ruang dan waktu, mudah, cepat, klien mengekpresikan dengan bebas, dapat bersifat anonim, memungkinkan konseling kelompok, dsb. Kelemahan terletak pada ekpresi emosional yang sulit tertangkap, keterbatasan ruang lingkup layanan utamanya pemantauan treatmen, mendasarkan pada informasi klien saja, jalinan emosional yang merupakan kekuatan terapi lemah, kekuatan kesepakatan kontrak konseling lemah, dan kehangatan hubungan yang sulit dibangun. Kekuatan treatmen dalam konseling on-line pada dasarnya kemamuan, kecakapan, dan keteguhan diri dalam self help. Tentunya tidak semua klien memiliki kecakapan itu. (Love, 2000). Untuk mendukung agar cybercounseling bisa terlaksana ini tentunya menuntut kemampuan konselor untuk menggunakan teknologi komputer yang terkait dengan layanan konseling sebagaimana yang dinyatakan Technology Standards for School Counselors, yaitu: 1) Memahami dan familiar dengan teknologi terkini dalam bidang pendidikan.

Cybercounseling : Sebuah Inovasi Dalam Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Internet (Ali Rachman)

Al Ulum Vol.51 No.1 Januari 2012 halaman 37-40

39

2) Memiliki ketrampilan dasar dalam komputer, dan lancar dalam mendemonstrasikan teknologi. 3) Menguasai dan menggunakan fasilitas internet dalam aktivitas bimbingan. 4) Secara nyata mengimplikasikan peluangpeluang teknologi. 5) Bertindak sebagai pengguna teknologi yang terdidik dan obyektif. 6) Memegang kodek etik dan aturan hukum pemanfaatan teknologi. 7) Mekontruksi aktivitas bimbingan dengan menggunakan teknologi. 8) Menggunakan database untuk memonitor dan mengikuti perkembangan siswa. 9) Berkontribusi terhadap pengembangan perencanaan teknologi di sekolah tempat bekerja. 10) Mengenali pengembang teknologi baik skala nasional, wilayah, pemerintahan maupun swasta. (Bloom &Walz, 2000). Menyiapkan calon Konselor yang berkemampuan dalam cybercounseling Tidak diragukan konseling on-line akan menjadi bentuk konseling masa depan yang pasti akan datang. Potensi cyber (dunia maya) telah membuka bentuk komunikasi baru yang tanpa batas. Hampir seluruh aktivitas profesional saat ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi ini sehingga banyak kita kenal istilah Cyberspace, Cybermedia, CyberMall, Cybercounseling dan sebagainya. Cybercounseling merupakan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan klien. Klien dapat memperoleh informasi dalam ruang lingkup yang luas, cepat, dengan keefektifan dan efisiensi komunikasi. Perkembangan ini membawa profesi konseling dalam posisi layanan yang terbuka, interdipenden dan interconnected. Diversifikasi kebutuhan konseling akan semakin lebar, target populasi layanan semakin luas dan bervariasi, tujuan konseling semakin

berorientasi pada perkembangan dalam konteks atau sistem untuk jangka panjang, strategi intervensi akan banyak bernuansa teknologi dan lingkup layanan menjadi semakin luas dan beragam. Kecenderungan ini menuntut konseling untuk mengembangkan diversifikasi respon, program dan strategi intervensi, ragam layanan profesional dan kompetensi konselor yang harus dipersiapkan. Cara-cara alternatif perwujudan pembekalan kompetensi konselor dalam menggunakan cybercounseling antara lain dengan menyusun mata kuliah mandiri tentang Aplikasi Komputer dalam Konseling dan mengintegrasikan dalam mata kuliah yang relevan serta memberikan kursus-kursus dan pelatihan singkat kepada konselor di sekolah dalam penggunaan teknologi agar konseling online (cybercounseling) dapat berjalan. PENUTUP Kemajuan perkembangan teknologi dan komunikasi dengan menggunakan komputer khususnya internet dengan segala keunggulannya membuka peluang dalam pemanfaatannya pada layanan bimbingan konseling, khususnya dalam layanan bimbingan konseling yang dilakukan oleh konselor di dunia pendidikan. Konseling on-line (cybercounseling) merupakan suatu perkembangan yang baru dalam pemberian layanan bimbingan konseling menggunakan internet, yang sangat potensial menjadi trend dan cara baru dalam pelayanan bimbingan konseling. Seiring dengan tersedianya berbagai fasilitas jaringan internet maupun intranet di masyarakat dan sekolah, peningkatan kepemilikan dan kecakapan kemampuan siswa dalam mengakses internet, serta kebutuhan pelayanan konseling secara lebih luas, maka konselor perlu memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam pemanfaatan teknologi komputer dalam konseling.

Cybercounseling : Sebuah Inovasi Dalam Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Internet (Ali Rachman)

Al Ulum Vol.51 No.1 Januari 2012 halaman 37-40

40

Selama ini proses pembekalan calon konselor berkaitan dengan kemampuan ini, masih belum optimal terlaksana. Mata kuliah komputer masih merupakan materi dasar yang berifat pengenalan dan aplikasi dasar. Oleh karenanya perlu disusun kurikulum dan pembelajaran dalam mata kuliah mandiri yang relevan, maupun mata kuliah yang terintegrasi berbasis internet, kursus dan pelatihan dalam membekali calon konselor dan konselor disekolah agar memiliki kemampuan dalam menggunakan layanan konseling on line (cybercounseling). DAFTAR PUSTAKA Bloom, John & Walz, Garry. (Eds)., 2000, Cybercounseling & Cyberlearning: Stretegies and Resources for The Millennium, Alexandria: CAPS Press. Coursol, Diane & Lewis, Jacqualine, 2004, Counselor Preparation For Cyber World: Curriculum Design and Development. Dalam Bloom, John & Walz, Garry. (Eds). Cybercounseling & Cyberlearning: An Encore (hlm. 19-34). Alexandria: CAPS Press. Granello, Paul, 2000, Historical Context: The Relationship of Computer Technologies and Counseling. Dalam Bloom, John & Walz, Garry. (Eds). Cybercounseling & Cyberlearning: Stretegies and Resources for The Millennium (hlm. 3-16). Alexandria: CAPS Press. Love, Jeffrey S., 2000, Cybercounseling vs. Cyberpolice. Dalam Bloom, John & Walz, Garry. (Eds). Cybercounseling & Cyberlearning: Stretegies and Resources for The Millennium (hlm. 339-360). Alexandria: CAPS Press.

Syaripudin, Acep dkk., 2010, Internet Sehat, Creative Commons, Internet Sehat.Org
Wahyono, Teguh, 2005, Serba Serbi Blogger Mengelola Situs Pribadi Murah Meriah, Gaya Media : Yogyakarta.

Wall, E. Janet, 2000, Technology-Delivered Assesment: Power, Problems, and Promise. Dalam Bloom, John & Walz, Garry. (Eds). Cybercounseling & Cyberlearning: Stretegies and Resources for The Millennium (hlm. 237-254). Alexandria: CAPS Press.

Cybercounseling : Sebuah Inovasi Dalam Layanan Bimbingan Konseling Berbasis Internet (Ali Rachman)