Anda di halaman 1dari 23

#

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Peternakan puyuh petelur di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat, seiring dengan adanya program peningkatan produksi ternak untuk memenuhi kebutuhan protein hewani, serta penganekaragaman pangan dan gizi masyarakat. Puyuh petelur yang berkembang dan dibudidayakan di Indonesia adalah spesies Cortunix-cortunix japonica, yang dikenal dengan puyuh Jepang (Japanese Quail). Banyak penelitian yang telah dilakukan sebagai upaya untuk mengatur sistem reproduksi ternak sebagai upaya peningkatan produksi. Pada umumnya pengaturan reproduksi menggunakan hormon. Mengingat adanya efek samping dari penggunaan hormon, maka kita perlu mulai beralih pada bahan bahan alami misalkan dari tumbuhan yang mempunyai fungsi seperti hormone (Phytohormone). !alah satu alternatif adalah menggunakan daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) yang diduga mengandung senyawa aktif yang menyerupai hormone steroid ("gil, #$$#). %aun katuk dipenuhi senyawa fitokimia berkhasiat obat. !edikitnya mengandung tu&uh senyawa aktif yang dapat merangsang sintesis hotmon hormon steroid (seperti progesterone, astradiol, terstosteron, glukokortikoid) dan senyawa eikosanoid (diantaranya prostaglandin, prostasiklin, tromboksan, lipoksin, leukotrien). %aun katuk akan digunakan sebagai salah satu bahan pakan dalam penyusunan formulasi pakan yang diharapkan dapat berfungsi mengatur sistem reproduksi yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi. 'asil penelitian yang telah dilakukan oleh !ubekti (())*) menun&ukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung daun katuk sebesar $+ dalam ransum se,ara nyata dapat meningkatkan dewasa kelamin ayam petelur. Pemberian dosis daun katuk se,ara tepat dapat mengatur pertumbuhan folikel o-arium karena adanya phytohormon yang menyebabkan ter&adinya perkembangan folikel folikel dewasa (yol ). .er&a Phytohormon (steroid) dalam daun katuk akan disertai dengan peningkatan kadar estradiol dalam darah, yang akan berpengaruh pada peningkatan ke,epatan lipogenesis dan sintesis kuning

telur dari lemak. /ingginya estradiol dalam darah &uga akan merangsang peningkatan sekresi hormon 0' dan merangsang ter&adinya o-ulasi (!enior dan 1unningham, #$23), merangsang pertumbuhan dan perkembangan anatomi saluran telur dan kelen&arnya dan merangsang perkembangan, sekresi dan mobilisasi garam kalsium untuk pembentukan kerabang. Pada akhirnya akan meningkatkan produksi telur. %ari latar belakang diatas maka perlu dilakukan sebuah penelitian untuk mengka&i potensi phytohormon dalam daun katuk terhadap perkembangan folikel o-arium dan produksi telur, yang dapat digunakan sebagai a,uan dalam mana&emen produksi telur puyuh. 'ipotesa spesifik pada penelitian ini adalah pemberian daun katuk dalam ransum sampai dosis tertentu akan meningkatkan perkembangan folikel o-arium, penampilan reproduksi puyuh dan produksi telur puyuh. 1.2 Perumusan Masalah %aun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr) mengandung senyawa aktif yang menyerupai hormone steroid (phytohormon), adanya kadar zat yang diduga mirip dengan ker&a steroid yg akan menyebabkan peningkatan kadar estradiol dalam darah, sehingga akan berpengaruh pada peningkatan ke,epatan lipogenesis dan sintesis kuning telur dari lemak. /ingginya estradiol dalam darah akan merangsang peningkatan sekresi hormon 0' dan merangsang ter&adinya o-ulasi, merangsang pertumbuhan dan perkembangan anatomi saluran telur dan kelen&ar serta merangsang perkembangan, sekresi dan mobilisasi garam kalsium untuk pembentukan kerabang telur. Pada akhirnya akan meningkatkan produksi telur. %aun katuk akan digunakan sebagai salah satu bahan pakan dalam penyusunan formulasi pakan yang dapat berfungsi mengatur sistem reproduksi dan meningkatkan produksi telur.

BAB II. TINJAUAN PUSTA A

2.1 Daun

atuk (Sauropus androgynus (L.) Merr)

%aun katuk merupakan tanaman semak yang selain tumbuh liar di hutan dan ladang &uga ditanam dipekarangan rumah sebagai pagar. %aunnya berbentuk bulat telur dengan dasar membulat atau merun,ing. 4arna daun hi&au tua dibagian atas dan hi&au muda dibagian bawah. Bunganya dua ma,am, yaitu bunga &antan dan betina. Buahnya berwarna putih dengan diameter #,25 ,m dan tinggi #,(5 ,m (Ba,ker and Bakhuizen -an den Brink, #$6*). %aun katuk mengandung senyawa aktif yang beker&a pada otot polos (smoth muscle) yang akti-itasnya serupa dengan oksitosin. !enyawa aktif tersebut diduga serupa dengan hormon steroid ("gil, #$$#). Menurut !uprayogi (()))) bahwa senyawa aktif daun katuk mampu meningkatkan populasi sel sel sekretoris di kelen&ar ambing (diindikasikan oleh total %7") yang diikuti dengan peningkatan aktifitas sintesis sel sel sekretoris tersebut (diindikasikan oleh total 87"). /idak hanya sebagai pelan,ar "!I daun katuk &uga kaya senyawa yang dapat meningkatkan mutu dan &umlah sperma, termasuk membangkitkan -italitas seksual. "gusta et al. (#$$2) melaporkan bahwa komponen kimia utama daun katuk adalah Monomethyl succinate (15'9:3); ( Phenylmalonic acid (1$'9:3); ( methyl-cylopentanol acetyat (19'#3:(); !en"oic acid (12'6:(); ( Pyrrolidinone (13'27:) dan Methylpyroglutamate (16'$7:*). 'asil penelitian lain menun&ukkan bahwa ransum yang mengandung $+ daun katuk se,ara nyata dapat memper,epat dewasa kelamin (!ubekti, ())*). 'al ini disebabkan adanya senyawa aktif yang terkandung dalam daun katuk tersebut. Penelitian 'ushof et al (#$$2) melaporkan bahwa kandungan karotin (<itamin ") dari daun katuk paling tinggi &ika dibandingkan sayuran lain di Indonesia, seperti bayam, daun ketela, daun singkong dan kangkung. .andungan karoten, -itamin 1, kalsium, fosfor dan zat besi akan berpengaruh terhadap produksi telur dan kualitas telur. %ari kandungan karoten yang tinggi diharapkan akan dapat mempengaruhi warna telur (meningkatkan skor kuning telur) sehingga akan disukai konsumen.

2.2 Masak

elam!n "a#a Pu$uh

%ewasa kelamin pada puyuh betina ditandai oleh saat puyuh tersebut mulai bertelur (o-iposisi) untuk pertama kalinya. /ernak puyuh umumnya men,apai dewasa kelamin pada umur 5 sampai 6 minggu, setelah itu akan memasuki masa bertelur atau masa produksi. %ewasa kelamin dipengaruhi oleh program pemberian ,ahaya, kualitas dan kuantitas ransum serta kondisi kesehatan pada periode sebelum bertelur (8asyaf, #$92). Peningkatan pan&ang sinar matahari dapat menstimulir tahapan dewasa kelamin pada ayam dara, karena sinar matahari yang lebih pan&ang akan diterima oleh mata dan diteruskan melalui syaraf optikus kepada hipothalamus sehingga menyebabkan disekresikannya suatu faktor dari hipothalamus yang akan menstimulir sekresi =!' dan 0' dari hipofisa anterior, kemudian hormon hormon tersebut menggertak proses proses yang berperan dalam ter,apainya dewasa kelamin (7asheim et al., #$2$). Penelitian tentang produksi telur pada ayam menun&ukkan bahwa ayam ayam muda yang diperlambat dewasa kelaminnya menghasilkan ukuran telur pertama yang lebih besar (4ah&u, #$99). Induksi yang menyebabkan diper,epatnya dewasa kelamin menyebabkan ayam terlalu dini masak kelamin yang berakibat menurunkan prosentase produksi telur (0ilburn, #$$)). :-arium unggas petelur membentuk susunan atau hirarki folikel prao-ulasi dan tersusun men&adi kelompok folikel dalam berbagai ukuran dan tingkat kematangan yang berbeda. Pada umumnya kelompok folikel yang besar (0>=? Large #ello$ %ollicle) membentuk susunan folikel prao-ulasi (the preo&ulatory hierarchy) yang terdiri atas 5 sampai 2 folikel atau kuning telur yang besar untuk proses pematangan dan persiapan o-ulasi yang dipengaruhi oleh peran hormon =!' dan 0'. !elama perkembangan reproduksi, &umlah 0>= sangat peka terhadap waktu masak kelamin, pakan dan bobot badan. Masak kelamin dini pada unggas ditemukan adanya peningkatan &umlah 0>= ('o,king et al., #$99) dan lebih banyak tingkatan folikel (8enema et al., #$99) bila dibandingkan dengan unggas yang terlambat masak kelamin.

2.% Pr&#uks! Telur Masa bertelur yang ekonomis pada puyuh berlangsung selama kurang lebih satu tahun, dengan total produksi #5) sampai *)) butir per tahun, dengan rata rata besarnya clutch #( sampai () butir (4oodard et al., #$2*). Menurut 8asyaf (#$$() di Indonesia sering didapati puyuh yang terlambat men,apai dewasa kelamin, yaitu umur 6 sampai 9 minggu dan mempunyai produksi telur rendah, yaitu kurang dari #9) butir per tahun. 'al ini disebabkan karena faktor tatalaksana pemeliharaan, terutama pakan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas dan faktor genetik. Bibit yang terdapat di Indonesia mempunyai kualitas genetik rendah terutama akibat inbreeding. 'asil penelitian 4oodard et al. (#$2*) mendapatkan bahwa pola produksi telur puyuh mirip dengan ayam ($hite leghorn), namun tingkat produksi lebih rendah, dengan pun,ak produksi hanya men,apai 2) persen. Pun,ak produksi pada puyuh di,apai pada 6 minggu pertama masa produksi. /ingkat produksi telur pada unggas sangat dipengaruhi oleh faktor 'reeding( )eeding dan management. =aktor pakan yang sangat berpengaruh terhadap produksi telur meliputi kualitas, dalam hal ini kandungan protein dan energi; kuantitas yaitu &umlah pemberian dan konsumsi serta efisiensi penggunaan pakan yaitu &umlah pakan yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu satuan produk (@ilespie, #$92).

BAB III. TUJUAN DAN MAN'AAT PENELITIAN %.1 Tu(uan Penel!t!an Penelitian ini bertu&uan untuk membuktikan dan mengka&i penggunaan nutrisi yang berbasis daun katuk yang mengandung phytohormon untuk meningkatkan perkembangan folikel o-arium, penampilan reproduksi dan produksi telur puyuh. %.2 Man)aat Penel!t!an 'asil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk A %iaplikasikan pada perusahaan peternakan puyuh dalam memelihara puyuh petelur, sebagai upaya memperbaiki efisiensi pakan dan efiensi usaha. Memberikan sumbangan pikiran untuk pengembangan ilmu peternakan, terutama dalam hal reproduksi ternak puyuh dan upaya perbaikan kualitas produknya. !umbangan pemikiran bagi industri peternakan puyuh serta memperluas pemahaman dan minat beternak puyuh.

BAB I*. MET+DE PENELITIAN ,.1 . L&kas! #an -aktu Penel!t!an Penelitian ini akan dilakukan di kandang puyuh petelur Politeknik 7egeri Jember, laboratorium Produksi /ernak Politeknik 7egeri Jember, yang akan dilakukan selama 9 bulan. ,.2. .an/angan Penel!t!an Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental di lapangan yang menggunakan 8an,angan ",ak 0engkap (Complete *ondomi"ed +esign). Perlakuan yang diberikan adalah kadar tepung daun katuk, yakni P) A pemberian pakan tanpa daun katuk (kelompok kontrol), P# A pemberian pakan dengan daun katuk 3+, P( A pemberian pakan dengan daun katuk 9+ dan P* A pemberian pakan dengan daun katuk #(+, masing masing perlakuan terdiri dari 5 ulangan dengan setiap ulangan terdiri dari () ekor puyuh. ,.%. P&"ulas! #an Sam"el Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelompok puyuh betina umur sehari (%:B) sebanyak ()) ekor, yang diperoleh dari peternakan pembibitan puyuh di kota Pare, .abupaten .ediri. ,.,. *ar!a0el Penel!t!an ,.,.1 las!)!kas! *ar!a0el <ariabel yang terdapat dalam penelitian ini antara lain A <ariabel bebas atau -ariable tidak tergantung yakni kadar tepung daun katuk <ariabel tergantung (dependent -ariable) meliputi produksi telur, efisiensi produksi, perkembangan organ reproduksi, masak kelamin <ariabel kendali meliputi bangsa ternak puyuh, umur, kondisi pakan dan lingkungan

,.,.2 De)!n!s! +"eras! *ar!a0el Penampilan produksi meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan kon-ersi pakan Perkembangan folikel o-arium pada saat masak kelamin, dengan ,ara mengamati perkemabangan hirarki folikel, dari =# sampai =5 Masak .elamin adalah waktu pertama kali unggas bertelur Poduksi telur adalah &umlah produksi telur pada saat men,apai 5+ 'en %ay ,.,.% Mater! Penel!t!an Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi formulasi pakan puyuh periode starter dan periode layer, -aksin dan -itamin. ,.,., Peralatan Penel!t!an Peralatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah kandang puyuh, tempat pakan, dan tempat minum, dan seperangkat alat analisa proksimat ,.,.1 Pr&se#ur Pengum"ulan Data Puyuh umur sehari dipelihara dalam kandang indukan. Pakan starter sesuai perlakuan diberikan sampai umur *5 hari se,ara ad li'itum demikian pula pemberian air minum. Pemanas diberikan sampai umur #3 hari. Puyuh dipindahkan dalam kandang sesuai kelompok perlakuan pada umur #3 hari, pemberian pakan dilakukan sesuai kelompok perlakuan. !etelah dikelompokkan puyuh ditempatkan pada kandang baterai. Perlakuan mulai diberikan mulai puyuh berumur (# hari sampai masak kelamin. Pada awal penelitian bobot puyuh ditimbang dan selan&utnya setiap minggu sekali ditimbang untuk mengetahu pertambahan bobot badan. .onsumsi pakan ditimbang setiap hari dengan menimbang pakan. Morfologi :-arium puyuh diamati pada saat masak kelamin dengan ,ara melakukan pembedahan pada ternak. !aat masak kelamin ditentukan apabila pada &umlah pemberian dikurangi sisa

kelompok berlakuan sudah ada puyuh yang bertelur. Pengamatan produksi telur dilakukan berdasarkan 'en %ay Produ,tion (+) selama ( minggu produksi. ,.,.2 Tekn!k Anal!s!s Data Cntuk mengetahui adanya pengaruh yang bermakna dilakukan analisis data menggunakan analisis <arian !atu "rah (C&i =). Bila terdapat perbedaan yang bermakan dilakukan dengan C&i Beda 7yata /erke,il ( Least Signi)icant +i))erence) untuk mengetahui dera&at beda antar kelompok perlakuan (!ud&ana, #$$().

#)

BAB *. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Umur Masak Pertama 8ataan umur dan bobot badan saat masak kelamin serta bobot telur pertama dengan masing masing tingkat pemberian daun katu pada pakan dapat dilihat pada /abel #. %ari tabel tersebut terlihat bahwa tingkat pemberian daun katu pada pakan se,ara nyata meningkatkan umur masak kelamin (PD).)5). Penundaan masak kelamin ini disebabkan karena pemberian daun katu mendorong la&u pertumbuhan termasuk alat reproduksi. Cmur masak kelamin tertunda *.6( hari pada tingkat pemberian daun katu 3+, 3.6( hari pada tingkat pemberian pakan 9+ dan 2.2$ hari pada tingkat pemberian pakan #(+ bila dibandingakan kontrol. Cmur masak kelamin pada perlakuan P) dan P# tidak menun&ukkan perbedaan yang nyata (PD).)5). 'asil ini didukung oleh hasil penelitian yang telah dilakukan oleh !ubekti (())*) menun&ukkan bahwa pemberian ransum yang mengandung daun katuk sebesar $+ dalam ransum se,ara nyata dapat meningkatkan dewasa kelamin ayam petelur. /abel #. 8ataan Cmur Masak .elamin, Bobot Badan saat Masak .elamin, Bobot /elur Pertama !aat Masak .elamin dengan Penambahan %aun .atu pada Pakan
Perlakuan /ingkat Pemberian %aun .atu Cmur Masak .elamin ('ari) Bobot Badan Masak .elamin (gram) Bobot /elur Pertama (gram)

elam!n3 B&0&t Ba#an Masak

elam!n #an B&0&t Telur

P) P# P(

)+ 3+ 9+

32.#2 #.9*5 , 33.5) *.*$# b, 3*.)) *.#6( ab

#36.(5 6.9$b, #32.5# #).36b #53.*9 5.##b

9.3( (.)) 9.3* (.)# $.(* #.93

P* #(+ *$.*9 #.2(( a #6$.#* 5.3$a 2.*9 #.*# .eterangan A /anda 'uruf yang berbeda pada kolom yang sama menun&ukkan perbedaan yang sangat nyata (PD).)5) Bobot badan saat masak kelamin sangat dipengaruhi oleh tingkat pemberian daun katu pada pakan (PD).)5). Bobot badan puyuh dengan pemberian pakan dengan daun katu #(+ mempunyai bobot badan tertinggi yakni #2$.#*

##

gram dan terendah pada tingkat pemberian daun katu )+ yakni sebesar #36.(5 gram. Menurut 8asyaf (#$$() berat badan yang optimal pada saat men,apai umur dewasa kelamin adalah #5) gram, sedangkan umur men,apai dewasa kelamin yaitu sekitar 3( hari. Cntuk men,apai berat badan dan umur men,apai dewasa kelamin yang optimal diperlukan konsumsi protein yang tinggi. =aktor faktor lain yang mempengaruhi masak kelamin selain pakan adalah sistem pen,ahayaan dan sistem perkandangan. Penambahan daun katu dalam pakan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot telur pertama puyuh (PE).)5). Bobot telur pertama kelompok puyuh yang mendapat pakan daun katu #(+ lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok puyuh yang mendapat pakan daun katu )+.. Meskipun ada ke,enderungan ter&adi peningkatan bobot telur, namun peningkatan tersebut diperkirakan karena pengaruh -ariasi indi-idu. :rgan reproduksi ternak puyuh yang masak kelamin dini masih belum siap untuk menghasilkan telur sehingga bobot telur pertama yang dihasilkan lebih ke,il bila dibandingkan dengan ternak puyuh masak kelamin lambat. Masak kelamin dini akan menurunkan bobot telur, terutama akibat meningkatnya bobot badan saat masak kelamin (!ummers dan 0esson, #$9*). 1.2 M&r)&l&g! +4ar!um Saat Masak elam!n

8ataan Jumlah folikel besar (Large #ello$ %ollicle F 0>=), !edang (Medium #ello$ %ollicle F M>=) dan .e,il (Small #ello$ %ollicle F !>=) dapat dilihat pada /abel (. %ari tabel tersebut terlihat bahwa &umlah 0>= terbanyak ada pada tingkat pemberian pakan dengan penambahan daun katu #(+, dan berbeda se,ara nyata (PD).)5). Jumlah optimum dari 0>= berhubungan dengan pan&ang periode bertelur. Menurut 8obinson et al., (())#) &umlah optimum 0>= pada ayam petelur adalah enam sampai delapan, untuk mendapatkan produksi telur yang tinggi. Pada puyuh &umlah optimum 0>= menurut hasil pengamatan pada penelitian ini adalah lima. %ari hasil pembatasan pakan terlihat bahwa pemberian pakan dengan penambahan daun katu #(+ meningkatkan &umlah 0>=, hal ini diduga karena pemberian daun katu akan meningkatkan estradiol dalam darah sehingga merangsang hormon 0' untuk o-ulasi telur.

#(

/abel (. 8ataan Jumlah =olikel saat Masak .elamin dengan Penambahan %aun .atu pada Pakan Jumlah =olikel /ingkat Pemberian %aun .atu )+ 3+ 9+ #(+ /araf 7yata GG

Besar *.)a *.(a *.3a 3.6b (0arge >ellow =olli,le) !edang (.3 (.) *.) (.9 7! (Medium >ellow =olli,le) .e,il ##.3 #).9 2.3 #( 7! (!mall >ellow =olli,le) .eterangan A /anda 'uruf yang berbeda pada kolom yang sama menun&ukkan perbedaan yang nyata (PD).)5); 7! A tidak nyata 0=> F diameter kuning telur E #) mm, M>= F diameter kuning telur 5 #) mm, !>= F diameter kuning telur D 5 mm Penambahan daun katu pada pakan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap &umlah folikel yang ke,il (!>=) dan &umlah folikel medium (M>=). Jumlah !>= paling banyak terdapat pada tingkat pemberian daun katu pada pakan #( + dan terendah pada perlakuan pemberian daun katu 9+.

@ambar #. 8ataan Jumlah =olikel Puyuh pada !aat Masak .elamin dengan Penambahan %aun .atu pada Pakan 1.% Perkem0angan +rgan .e"r&#uks! Saat Masak elam!n

#*

'asil pengamatan pengaruh pembatasan pakan terhadap perkembangan organ reproduksi puyuh saat masak kelamin (bobot o-arium dan bobot o-idu,t) dapat dilihat pada /abel * di bawah ini. /abel *. 8ataan Bobot :-arium dan Bobot :-idu,t saat Masak .elamin dengan Penambahan %aun .atu pada Pakan /araf 7yata :-arium 2.)) 2.9( 6.*) 9.3) GG :-idu,t 2.#) 2.9( 6.3) 2.(( 7! .eterangan A /anda 'uruf yang berbeda pada kolom yang sama menun&ukkan perbedaan yang nyata (PD).)5); 7! A tidak nyata )+ Penambahan daun katu pada pakan memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot o-arium (PD).)5) akan tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata. Bobot o-arium tertinggi diperoleh pada perlakuan denganpemberian daun katu #(+, hal ini diduga karena daun katu akan meningkatkan estrogen dalam tubuh yang akan merangsang perkembangan organ reproduksi terutama o-arium. Bobot o-idu,t (saluran telur) dan bobot o-arium selama perlakuan se,ara umum meningkat seiring dengan meningkatnya umur hewan, hal ini sesuai dengan hasil penelitian 'o,king (#$$() dan 'o,king (#$$*). 1.% Pr&#uks! Telur #an &n4ers! Pakan saat Pr&#uks! Bobot :rgan /ingkat Pemberian %aun .atu 3+ 9+ #(+

Produksi telur merupakan salah satu tolok ukur penting pada peternakan puyuh. Beberapa faktor dapat mempengaruhi produksi telur, antara lain adalah pakan. 'asil penelitian ini menun&ukkan bahwa pembatasan pakan pada masa pertumbuhan dapat meningkatkan produksi telur pada awal produksi serta menurunkan ko-ersi pakan pada masa awal produksi. Produksi telur, konsumsi pakan dan kon-ersi pakan pada awal produksi dapat dilihat pada /abel 3. Perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap produksi telur. Produksi telur tertinggi diperoleh pada perlakuan dengan penambahan daun katu pada pakan 3+ yakni sebesar 65.3)+ sedangkan produksi telur terendah pada perlakuan dengan penambahan daun katu pada pakan #(+. 'al tersebut terlihat bahwa makin meningkatnya pemberian daun katu pada

#3

pakan pakan akan mengakibatkan makin meningkatnya produksi telur, akan tetapi pemberian daun katu semakin tinggi akan menurunkan produksi telur. /ingkat produksi telur pada unggas sangat dipengaruhi oleh faktor 'reeding( )eeding dan management. =aktor pakan yang sangat berpengaruh terhadap produksi telur meliputi kualitas, dalam hal ini kandungan protein dan energi; kuantitas yaitu &umlah pemberian dan konsumsi serta efisiensi penggunaan pakan yaitu &umlah pakan yang dibutuhkan untuk mendapatkan satu satuan produk (@ilespie, #$92). /abel 3. 8ataan .onsumsi Pakan, Produksi /elur dan .on-ersi Pakan Pada "wal Produksi dengan Penambahan %aun .atu pada Pakan Perlakuan
/ingkat Pemberian %aun .atu

.onsumsi .umulatif (gram?ekor)

Produksi /elur (+ 'en %ay)

.on-ersi Pakan

*36.32 39.$9 a 3.62).#2a P) )+ *5).)3 55.3)b 3.*# ).)9a P# 3+ a *3*.3$ 5).9* 3.9().)9a P( 9+ **5.*# *$.2#a 5.93).#(b P* #(+ .eterangan A /anda 'uruf yang berbeda pada kolom yang sama menun&ukkan perbedaan yang nyata (PD).)5)

Pengaruh

pembatasan

pakan

pada

masa

pertumbuhan

ternyata

menun&ukkan adanya perbedaan yang nyata (PD).)5) terhadap kon-ersi pakan (perbandingan antara konsumsi pakan dan berat telur yang dihasilkan) pada masa produksi awal. .on-ersi pakan terbaik ada pada perlakuan P# sedangkan terendah ada pada perlakuan P3. %apat di&elaskan bahwa efisiensi pakan pada perlakuan P# adalah yang terbaik bila dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan P( dan P*. 'al ini disebabkan pada puyuh yang diberi pakan daun katu 3+ dan 9+ pada perlakuan P( dan P* menghasilkan telur yang lebih sedikit akan tetapi mengkonsumsi pakan sama banyaknya dengan perlakuan P# sehingga pada akhirnya akan diperoleh kon-ersi pakan yang lebih tinggi. .on-ersi pakan yang tinggi menun&ukkan efisiensi pakan yang semakin rendah. BAB *I ESIMPULAN DAN SA.AN

#5

2.1

es!m"ulan #. Penambahan daun katu pada pakan pakan pada puyuh petelur mempengaruhi saat masak kelamin dan bobot badan saat masak kelamin (PD).)5), akan tetapi tidak berpengaruh pada bobot awal telur. (. Penambahan daun katu pada pakan se,ara nyata (PD).)5) mempengaruhi morfologi o-arium puyuh (Large #ello$ %ollicle F 0>=) pada saat masak kelamin. *. Penambahan daun katu pada pakan memberikan pengaruh yang nyata (PD).)5) terhadap produksi telur dan kon-ersi pakan pada awal produksi.

.esimpulan pada penelitian ini adalah A

2.2 Saran Penambahan daun katu pada pakan sebanyak #( + pada masa pertumbuhan.memberikan susunan morfologi o-arium yang terbaik untuk mana&emen pakan puyuh

#6

DA'TA. PUSTA A "gil, M. #$$#. Pengaruh pemberian infuse daun katuk ( Sauropus androgynus) terhadap aktifitas enzim !@P/, !@:/ dan !@@/ tikus putih betina. =akultas =armasi Cni-ersitas "irlanggan. !urabaya. "gusta, "., M. '"rapini dan 1hairul. #$$2. "nalisa kandungan kimia ekstrak daun katuk (Sauropus androgynus (0.) Merr) dengan 1@M!. 4arta /umbuhan :bat, *(*)A*# *3 Ba,ker, 1. ". %an 8. 1. Bakhuizen -an den bbrink Jr. #$6*. =lora of Ja-a. <ol I. 7. <. P. 7oordhooff. @roningen. /he 7etherlands. @illespie, J.8. #$92. ,nimal -utrition and %eeding. %elmar Publisher In,. "lbany, 7ew >ork. 'afez, H.!.H. ())). *eproduction in %arm ,nimal. 0ippin,ott 4ilhams I 4ilkins, " 4alters .luwers 1ompany, C!". 'o,king, P.M. #$$(. @eneti, and Hn-ironmental 1ontrol of :-arian =un,tion in /urkeys at !eJual Maturity. !ritish Poult. Sci., ** A 3*2 K 339. 'o,king, P.M. #$$*. Hffe,ts of Body 4eight at !eJual Maturity and the %egree an "ge of 8estri,tion during rearing on :-arium =olli,ular 'ierar,hy of Broiler Breeder =emales. British Poult. !,i., *3 A 2$* 9)#. 'ushof, P.J.M., 1 Lu, P. <an de Bo-enkamp, Muhilal and 1. H. 4est. #$$2. "ppli,ation of -alidated mathoed for the determination of pro-itamin " ,arotenoids in Indonesian foods of different maturity and origin. J. "gri,. =ood 1hem.35A##23 ##2$. 8asyaf, M. #$92. Pengelolaan Produ si .elur. Penerbit .anisisus, >ogyakarta. 8asyaf, M.. #$$(. Memelihara !urung Puyuh. Penerbit .anisisus, >ogyakarta. 8obinson, =.H. #$$$. Management for 1ontrol of :-arian %e-elopment in Broiler Breeders. http/00$$$.mids.net0ross'reeders0usa0tech011.23.html ("kses A Mei ())*) !enior, B.H. and =. 1unningham. #$23. :estradiol and luteinizing hormone during o-ulatory ,y,le of the hen. J. endocrinology. 6)A()# ()(. !ubekti3 !., ". "priyantono, ". !uprayogi dan 4. @. Piliang. ())*. Pengaruh pemberian daun katuk untuk peningkatan kandungan -itamin " dalam kuning telur ayam lokal. Jurnal Pengembangan Peternakan /ropis. !pe,ial HditionA 62 2(.

#2

!ud&ana, #$$(. Metode Statisti a. Penerbit /arsito. Bandung. !uprayogi, ". #$$5. !tudies on the Biologi,al Hffe,t of !auropus androgynus (0.) MerrA Hffe,t on Milk Produ,tion and the Possibilities of Indu,ed Pulmonary %isoeder in 0a,tating !heep. @eorge "ugust. Cni-ersitat @ottingen Institut fur /ierphysiologie und /ierernahrung. 4ah&u, J. #$99. Ilmu 7utrisi Cnggas. @ad&ah Mada Cni-ersity Press, >ogyakarta. 4oodard, ".H., "bplanalp, '., 4.: 4ilson and P. <ohra. #$2*. Japanese Quail 4us'andry in .he La'oratory (Coturnix-coturnix japonica). %epartment of 1alifornia, %a-is, 1".

#9

Lam"!ran 1. PE.S+NALIA PENELITIAN #. .etua Penelitian a. 7ama b. Pangkat?@ol?7IP ,. Jabatan =ungsional d. Jurusan ?Politeknik e. Bidang .eahlian f. 4aktu Penelitian (. "nggota Penelitian a. 7ama b. Pangkat?@ol?7IP ,. Jabatan =ungsional d. Jurusan ?Politeknik e. Bidang .eahlian f. 4aktu Penelitian A Ir. !u,i 4ulandari, M!i A Penata ?III d? #*( )5* 5#3 A 0ektor A Peternakan?Politeknik 7egeri Jember A 7utrisi /ernak A 9 &am?minggu A Ir. 8osa /ri 'ertamawati, M!i A Penata ?III ,?#*( #*3 #$) A 0ektor A Peternakan?Politeknik 7egeri Jember A 8eproduksi /ernak A #( &am?minggu

#$

Lam"!ran 2. D&kumentas!

eg!atan Penel!t!an

Pengamatan +rgan .e"r&#uks! Pu$uh #alam "elaksanaan "enel!t!an

Struktur '&l!kel +4ar!um $ang #!amat!

+4ar!um Pu$uh $ang D!amat!

()

Lam"!ran 1. DA'TA. .I-A5AT HIDUP PENELITI #. .etua Penelitian #. 7ama 0engkap (. Cmur?&enis kelamin?agama *. "lamat (Bagian, =akultas, dll) 3. Pangkat?@olongan?7IP 5. Jabatan Pokok 6. .esatuan?Perguruan /inggi 2. "lamat .antor 9. 8iwayat Pendidikan /inggi 7o 7ama Pendidikan /empat . # ( !ar&ana Peternakan Magister IPB C7"I8 A 8osa /ri 'ertamawati, Ir, M!i A *6 th.?wanita?Islam A Program !tudi Peternakan Politeknik 7egeri Jember A Penata ?IIId1? #*( #*3 #$) A 0ektor A Politeknik 7egeri Jember A Jl. Mastrip P: B:L #63 Jember /ahun %ari #$92 ())# !ampai #$$( ())3 Bidang !pesialis Produksi /ernak Ilmu Biologi 8eproduksi /itel?I&azah? %iploma Ir?!# M!i?!(

$. Pengalaman Penelitian 7o. /'7 JC%C0 PH7H0I/I"7 #. #$$$

(. *.

())# ())3

3.

())3

!CMBH8 BI">" Pemanfaatan 0imbah .ulit .opi %P*M sebagai !umber Pakan Berserat untuk Meningkatkan Performans dan Menurunkan .adar 0emak "bdominal "yam Broiler Periode =inisher Pengaruh !umber 0emak Jenuh dan %P*M /ak Jenuh terhadap .adar 0emak "yam Broiler Pengaruh Pembatasan Pakan Mandiri /erhadap Perkembangan :rgan 8eproduksi dan Penampilan Produksi Puyuh Pengaruh penambahan ,spergillus %ue 0ike niger dalam pakan ayam broiler berbasis kulit kopi

.et. .etua

"nggota .etua

"nggota

Jember, (5 Maret ())6 Ir. 8osa /ri ', M!i

(#

(. "nggota Penelitian a. 7 a m a b. @ol.?pangkat?7IP ,. Jabatan =ungsional d. Jurusan?Prog. !tudi e. Perguruan /inggi f. Bidang .eahlian g. Jen&ang Pendidikan !#, 0ulus /h. #$$( !(, 0ulus /h. ())3 A Ir. !u,i 4ulandari, M!i A III %?Penata?#*( )5* 5#3 A 0ektor A Peternakan A Politeknik Pertanian 7egeri Jember A 7utrisi /ernak A Institut Pertanian Bogor Institut Pertanian Bogor

=akultas Peternakan Pas,asar&ana,7utrisi /ernak

Pengalaman Penel!t!an #. Pemanfaatan .ulit .opi sebagai !umber Pakan Berserat @una Menurunkan .adar 0emak "bdominal dan Meningkatkan Performans "yam Broiler Periode =inisher (%P3M, #$$$) (. Pengaruh Pemuasaan terhadap Performans dan .adar .olesterol Puyuh Pedaging (Mandiri, ()))) *. Peran %aun .atuk (Sauropus androgynus (L.) sebagai Pakan /ernak 8uminansia Berkualitas (Mandiri).())) Jember, (5 Maret ())5 "nggota Peneliti

Ir. !u,i 4ulandari, M!i 7IP. #*( )5* 5#3

((

(*

!ummers, J.%., %. !pratt and J.0. "tkinson. #$$#. %elaying seJual maturity of pullets by nutrient restri,tion at the onset of produ,tion. Can. J. ,nimal Sci. 2# A #(#5 #((#.