Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH METODOLOGI STUDI ISLAM

SUATU METODE PENELITIAN HADIS

Dosen Pembimbing: Dra.Hj.Siti Nurjanah, M. Ag.


DISUSUN OLEH: NAMA: IKE ARUMNINGTIAS PRODI: PBS( PERBANKAN SYARIAH ) KELAS: C

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN ) JURAI SIWO METRO T.A:2012

KATA PENGANTAR

Assalamu`alaikum Wr..Wb

Bissmilahirrahmanirrahiim. Segala puji syukur selalu kita panjatkan atas ke hadiran Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunianya , sehingga kami dapat menyelesaikan laporan makalah ini yang berjudul Suatu Metode Penelitian Hadis denag sebaik baiknya . Semoga makalah ini menjadi acuan dalam kegiatan belajar mengajar.Namun demikian kami kembali keterbatasan dalam peyusunan makalah ini,untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak demi menyempurnakan bahan ajaran ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua .

Wassalamualaikum Wr..Wb

Metro,10 November 2012 Penyusun

Ike Arumningtias

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................................i KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii DAFTAR ISI.................................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................1

A. Latar Belakang..............................................................................................1 B. Rumusan Masalah ........................................................................................6 C. Tujuan dan Manfaat.....................................................................................6

BAB II

PEMBAHASAN .............................................................................................7 A. B. C. D. E. Takhrij Al-Hadis dan Metode-Metodenya ...........................................7 Sejarah Takhrij Hadis ..........................................................................16 Pengertian dan Sejarah Kritik Hadis ....................................................18 Upaya Penyelamatan Hadis .................................................................21 Penerimaan dan Periwayatan Hadis ....................................................22

BAB III KESIMPULAN ...............................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Ucapan,kepribadian dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.Merupakan pegangan dan uswah (tauladan) bagi Muslimin . Selain itu, sejarah perjuangannya pun dijadikan motivasi bagi umat nahi mungkar . Oleh karna itu, siapa saja yang ingin mengetahui manhaj (metodologi) keberhasilan perjuangan , karakteristik , dan pokok-pokok ajaran Nabi Muhammad SAW, maka hal itu dapat dipelajari secara rinci dalam al-Sunnah al- Nabawiyah. Hadis Nabi Muhammad SAW. Selain sebagai sumber ajaran islam yang kedua setelah al-quran ,juga berfungsi sebagai sumber sejarah dakwah ( perjuangan ) Rasululloh.Hadis juga mempunyai fungsi penjelas bagi al-quran , menjelaskan yang global , mengkhususkan yang umum, dan menafsirkan ayat-ayat alquran.Memposisikan al-hadis secara struktur sebagai sumber ajaran islam kedua atau secara fungsional sebagai badyan terhadap al-quran merupakan suatu keniscayaan .Nabi Muhammad SAW.Dalam kabukan pula sebagai medium alquran ,tetapi beliau adalah mediator the first interpreter ( al-mufassir al-awwal ) al-quran, Dengan demikian tidaklah berlebihan jika imam AlJauzaiberkesimpulan bahwa al-quran lebih membutuhkan kepada hadis dari pada sebaliknya.Namun, pendapat tersebut dibantah oleh Muhammad AlGhazali.Menurutnya al-quran sebagai sumber pertama dan umat dalam islam untuk melaksanakan berbagai ajaran , baik usul maupun yang furu , maka alquran haruslah berfungsi sebagai penentu hadis yang dapat diterima dan bukan sebaliknya. Namun, kenyataan hadis mempunyai kewenangan menetapkan hukum yang tidak terdapat dalam al-quran .Kewenangan hadis menetapkan hokum baru telah menjadi kesepakatan ulama: di antara ulama yang menyatakan hal tersebut adalah Al-Syawkani dan Muhammad Syuhudi Islam ,mereka mengatakan bahwa ada nya kewenangan hadis dan kemandiriannya dalam menetapkan hukum merupakan keharusan agama yang tidak dapat dipungkiri.Orang yang menentang kewenangan dan kemandirian hadis hanyalah orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang agama islam .Baik hadis maupun Al-quran berasal dari sumber yang satu dan perbedaan antara kedeuanya hanyalah dalam bentuk, bukan dalam isi .Perbedaan kedua kelas wahyu ini adalah dalam hal bagaimana keduanya digunakan dalam kepastiannya.

Hadis selain memuat bahasa agama, yakni pesan-pesan ilahi,tetapi hadis juga mengandung bahasa insani, yaitu hadis yang muncul karena pengaruh lingkungan , kebudayaan masyarakat setempat atau karena kehendak zaman dan tuntutan tusas kenabian. Hadis dalam bentuk terakhir,mayoritas memiliki kemandirian dalam mengungkapkan dan menyelesaikan masalah yang di hadapi Nabi Muhammad SAW. Konsensus ulama al-hadis mengatakan bahwa hadis yang menjadi objek penelitian adalah al-hadis ahad ( baik yang mashur maupun yang aziz), sedangkan hadis mutawatir tidak diragukan lagi kesahihannya berasal dari Nabi Muhammad SAW.Dengan demikian, tujuan umum penelitian hadis adalah untuk menulai apakah secara historis sesuatu yang disebut sebagai hadis nabi itu besarbesar dapat dipertanggungjawabkan kesehihannya berasal dari nabi, ataukah tidak.Hal ini sangat penting mengingat kedudukan kualitas hadis erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidaknya dijadikan sebagai hujjah agama.Perawi hadis sebagai manusia , yang adakalnya melakukan kesalahan , baik karena lupa maupun karena didorong oleh kapentingan tertentu.Keberadaan perawi hadis sangat menentukan kualitas hadis, baik kualitas sanad maupun kualitas mantan hadis. Objek terpenting dalam rangka penelitian hadis adalah ada dua, yaitu: (1) materi hadis itu sendiri ( mantn al-hadis) dan (2)rangkaian terhadap sejumlah periwayat yang menyampaikan rieayat hadis (sanad al-hadis) Bila kritik adalah usaha untuk membedakan yang benar dari yang salah, dapat dikatakan bahwa kritik hadis sudah ada semenjak masa hidup Nabi Muhammad SAW.Dalam arti pengecekan kebenaran kepada Nabi Muhammad SAW.Apabila ada khabar yang disandarkan kepada beliau . Metodologi kritik hadis yang dibahas dalam buku ini mencangkup metodelogi kritik sanad, metodelogi kritik matan dan metodelogi penelitian hadis konterporer . Menejemen informasi merupakan praktik yang telah diejawantahkan oleh komunitas Muslim . Bahkan sebenarnya, sebagaian besaryang kita amati sebagai budaya islam , secara luas di bentuk oleh tingkat akurasi dan ketelitian ,yang dengannya ,masi. Dalam kultur muslim , informasi bukan merupakan komoditi yang dipaketkan dan lantas diperjual belikan .Sebaliknya , ia merupakan link kehidupan atu sarana yang membentuk mileu kebudayaan ini diperoleh dari pandangan dunia Islam.Uniknya ,kebudayaan ini diperoleh dari spirit al-Quran

dan fenomena sejarah Nabi SAW,yang pengaruhnya kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia . Setelah Rasulullah SAW wafat, komunitas Muslim yang belum lama lahir itu merasa sangat perlu menjaga keseimbangan wahyu dan detail-detail fenomena sejarah Nabi itu. Tentu tugas signifikan ini, terpenuhi tidaknya tergantung dari tarap kesungguhan dan ketulusan dalam memanage informasi tersebut.Suatu fakta yang menunjukan kea rah pemikiran itu adalah proses tranmisi periwayatan naskah al-Quran hingga tahap kodifikasinya .Al-Quran telah diperiksa dan disatukan oleh Nabi sendiri , dan Hafsah ( isteri beliau ) kemudian menyarahkan kepada Abu Bakar , dan seterusnya. Ini bukti yang tidak terbantahkan bahwa naskah al-Quran telah dikumpulkan akstra hati-hati akan pernah tertandingi . Wacana yang sangat terlihat juga dapat metodologi penulisan hadi. Sejarah penulisan dan pembukuan hadis dan ilmu hadis telah melewati serangkaian fase historis yang sangat panjang , semenjak Nabi SAW, sahabat tabiin dan seterusnya hingga mencapai puncak pada kurun abad ketiga hijriyah .Perjuangan para ulama ( hadis ) yang telah berusaha dengan keras dalam melakukan penelitian dan penyeleksian terhadap hadis , mana yang sahih dan mana yang dhaif,telah menghasilkan metode-metode yang cukup kaya, mulai dari metode penyusunan dalam berbagai bentuknya ( musnad, sunah , jamidan lain -lainya), hingga kaidah-kaidah penelusuran hadis. Kaidah-kaidah tersebut pada akhirnya berkembang menjadi disiplin ilmu sendiri yang kemudian disebut dengan ilmu hadis . Mereka telah menyumbangkan kejeniusan intelektualnya, tidak hanya memilah- memilih antara hadis Nabi dengan fatwa-fatwa sahabat tapi juga berusaha membatasi ruang gerak maraknya penyebaran hadis-hadis palsu yang jumlahnya ratusan ribu buah . Pada saat itu , perkembangan keilmuan benar-benar mengalami puncak kejayaannya.Maka tidaklah anehperkembangan ilmu pengetahuan periode selanjutnya , terutama yang berkaitan dengan ilmu hadis ini lebih banyak mengacu dan bersandar pada metode-metode yang dipergunakan pada abad ke tiga tersebut.Dengan demikian , kita mengetahui bahwa hadis sebagai sumber ajaran islam kedua menempati posisi sangat penting dan strategi di dalam kajiankajian keislaman , setidaknya dengan hanya melihat lika-liku perjalanan histori usaha para ulama itu dalam mencari dan menelusuri hadis-hadis yang dipandang otentik .

Namun, karna pembukuan hadis baru bisa dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama (hamper seratus tahun) setelah Nbi Muhammad SAW wafat, di tambah lagi dengan kenyataan sejarah bahwa banyak hadis yang dipalsukan , maka keabsahan hadis-hadis yang beredar di kalangan kaum Muslimin menjadi debatable, meskipun mereka telah meneliti dengan seksama . Dan jauhnya jarak antara masa hidup Nabi SAW sebagai sumber hadis dengan masa kodifikasi (pembukuan)hadis tersebut sering dijadikan yang paling ampuh untuk mendeskreditkan hadis itu sendiri danmengrongrongkeyakinan umat islam pada umumnya . Lebih-lebih diketahui bahwa lingkungan Nabi SAW hidup tersebut miskin dari budaya baca tulis .Meskipun mereka dikenal sebagai komunitas yang mempunyai hafalan kuat , tetapi itu sifatnya sangat subyektif .Oleh karna itu sekali lagi mempelajari ilmu hadis sebagai sebuah metodologi sangatlah penting . Tetapi sebenarnya , setelah para ulama berhasil menyusun kitab-kitab hadis seperti shahih Al-Bukhori,Shahih Muslim dan lain-lainya , terutama yang termasuk ke dalam Al-Kutub Al-Sittah, kajian terhadap system periwayatan hadis sudah berakhir.Meskipun demikian, ilmu hadis tetap menduduki posisi yang penting.Apalagi saat ini yang sedang terjadi kecenderungan studi matam , mengkaji keontetikan matan ( meskipun dari sudut penyandarannya telah diketahui shahih). Di sinilah bekal pengetahuan ilmu hadis menjadi sangat bermanfaat bagi para peneliti dan pengkaji hadis. Karna untuk mempelajari dan mengkaji hadis-hadis nabi, seseorang tidak bisa dapat mengetahui kualitas hadis, apakah ia shahih hasan , atau dhaif.Dengan ilmu ini dapat di bedakan jenis dan bentuk hadis, apakah mutawatir atau ahad, masyhur ,aziz atau gharib ,qudusi atau maqthu, dan sebagainya . Dengan ilmu pula ia dapat mengetahui apakah hadis itu benarbenar berasal dari nabi atau bukan (palsu,maudhu). Yang di maksud dengan ilmu Hadis menurut ulama-ulama qaddimin adalah: ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan Hadis sampai kepada Rosul SAW dari segi hal ihwal para perawinya , kedabitan, keadilandan dari bersambung tidaknya sanad , dan sebagainya. Pada perkembangan selanjutnya , oleh ulama mutakhirin , ilmu hadis ini dipecah menjadi dua yaiyu ilmu hadis riwayah dan ilmu hadis dirayah. Pengertian yang di ajukan oleh ulama Mutaqaddimin itu sendiri , oleh ulama Mutaakhirin dimasukkan ke dalam pengertian ilmu Hadis Dirayah.

Yang di maksud ilmu hadis riwayah ialah : ilmu pengetahuan yang mempelajari hadis-hadis yang di sadarkan kepada Nabi SAW , baik berupa perkataan ,perbuatan ,taqrir,tabiat maupun tingkah laku nya . Ibn al- Akfani, sebagaimana dikutip oleh Al- Suyuthi mengatakan bahwa yang di maksud dengan ilmu Hadis Riwayat ialah:ilku pengetahuan yang mencangkup perkataan dan perbuatan Nabi SAW . Baik peristiwanya, pemeliharaan ya , maupun penulisan atau pembukuan lafaz-lafaznya. Objek ilmu hadis riwayah ialah bagaimana cara menerima , menyampaikan kepada orang lain, dan memindahkan atau mendewankan .Demikian menurut pendapat Al- Suyuthi. Dalam menyampaikan dan membukukan hadis hanya disebutkan apa adanya, baik yang berkaitan dengan mantan maupun sanadnya .Ilmu ini tidak membicarakan tentang syadz ( kejanggalan ) dan ilat (kecacatan) matan hadis.Demikian pula ilmu ini tidak membahas tentang kualitas para perawi, baik keadilan , kedabitan , atau fasikannya,. Adapun faedah mempelajari ilmu Hadis riwayah adalah untuk menghindari adanya penukilan yang salah dari sumbernya yang pertama . yaitu Nabi SAW. Ilmu hadis dirayah bisa juga disebut sebagai ilmu Musthalah AL- hadis , ilmu ushul al-hadis ,ulum al- hadits, dan qawa id Al- tahdits .AL- tirmisi definisi ilmu ini dengan:undang-undang atau kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan ,cara menerima dan meriwayatkan ,sifat-sifat perawi, dan lain-lain . Ibnu al- Akfani mendefinisikan ilmu ini sebagai berikut:ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakikat periwayat syarat-syarat ,macam-macam , dan hukumhukumnya serta untuk mengetahui keadaan para perawi, baik syarat-syarat macam-macam hadis yang diriwayatkan dan segala yang berkaitan dengannya . Yang di maksud dengan hakiatnya , hakikat periwayat adalah enukilan hadis dan peyadrannya kepada sumber hadis atau sumber berita .syarat-syarat periwayatan ialah penerimaan perawi terhadap hadis yang akan di riwayatkan dengn bermacam- macam cara penerimaan seperti melalui al- sama (pendengaran)al-qiraah (pembacaan )al-washihah (berwasiat)alijazah(pemberian izin dari perawi). Macam-macam periwayatan ialah membicarakan sekitar bersambung dan terputusnya periwayatan dan lain-lain .hukum-hukum periwayatan ialah pembicaraan sekitar diterima atau ditolaknya suatu hadis.Keadan para perawi ialah pembicaraan sekitar keadilan kecacatan para perawi , dan syarat-syarat

mereka dalam menerima dan meriwayatkan hadis.Macam-macam hadis yang diriwayatkan meliputi hadis-hadis yang dapat dihimoun pada kitab-kitab tanshnif, kitab tasnid, dan kitab mujam. Ada pula ulama yang menjelaskan, bahwa ilmu hadis dirayah yaitu:ilmu pengetahuan membahas tentang kaidah-kaidah ,dasar-dasar ,peraturanperaturan , yang denganya kami dapat membedakan antara hadis yang sahih yang disandarkan kepada Rosul SAW dan hadis yang diragukan penyadarannya kepadanya

B. Rumusan Masalah

Dari uraian tersebut dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Apa sumber ajaran islam yang kedua setelah Al-Quran ? Apa perbedaan Hadis dengan Al-Quran ? Apakah ada perbedaan di dalam isi Hadis dengan Al-Quran ? Hadis apa saja yang menjadi objek penelitian oleh para ulama ? Apa tujuan utama penelitian Hadis ? Objek apa sajakah yang terpenting dalam rangka penelitian Hadis ? Bagaimana cara Nabi Muhammad SAW menyelesaikan masalah yang di hadapinya ? 8. Apakah yang di maksud dengn Hadis Ahad ? 9. Apakah yang di maksud Hadis mutawatir ? 10. Apakah ada perbandingan Hadis Ahad dengan Hadis Mutawatir ? C. Tujuan dan manfaat Tujuan makalah penamatan ini adalah untuk mengetahui apa perbedaan Hadis dengan Al-Quran dan macam macam hadis ,Hadis selain memuat bahasa agama ,yakni pesan-pesan ilahi ,tetapi hadis juga mengandung bahasa insane .Membedakan yang benar dari yang salah atas kritikan Hadis sudah ada semenjak Nabi Mmuhammad SAW. Manfaat penyusunan makalah ini adalah sumber untuk informasi tambahan pembandingan penelitian,serta untuk menambah ilmu pengetahuan kita, dan bahan untuk perkuliahan .

BAB II PEMBAHASAN

A.Takhrij Al-Hadis dan metode-metodenya Menurut Mahmud al-Tahhan, pada mulanya ilmu Takhrij al-Hadis tidak dibutuhkan oleh para ulama dan peneliti hadis, karena pengetahuan mereka tentang sumber hadis ketika itu sangat luas dan baik. Hubungan mereka dengan sumber hadis juga kuat sekali, sehingga apabila mereka hendak membuktikan ke sahih-an sebuah hadis, mereka dapat menjelaskan sumber hadis tersebut dalam berbagai kitab hadis, yang metode dan cara-cara penulisan kitab-kitab hadis tersebut mereka ketahui.Namun ketika para Ulama mulai merasa kesulitan untuk mengetahui sumber dari suatu hadis, yaitu setelah berjalan beberapa periode tertentu, dan setelah berkembangnya karya-karya Ulama dalam bidang Fiqh, Tafsir dan Sejarah, yang memuat hadis-hadis Nabi Saw yang kadang-kadang tidak menyebutkan sumbernya, maka Ulama Hadis terdorong untuk melakukan Takhrij terhadap karya-karya tersebut.Mereka menjelaskan dan menunjukkan sumber asli dari hadis-hadis yang ada, menjelaskan metodenya dan menetapkan kualitas hadis sesuai dengan statusnya, apakah sahih atau daif. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan Kutub at-Takhrij (Buku-buku Takhrij).Kitab-kitab induk Hadis yang ada mempunyai susunan tertentu, dan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Yang hal ini memerlukan cara tertentu secara ilmiah agar penelitian dan pencarian hadisnya dapat dilakukan dengan mudah. Cara praktis dan ilmiah inilah yang merupakan kajian pokok ilmu Takhrij. Pengertian Takhrij Hadis Takhrij menurut bahasa mengandung pengertian bermacam-macam, dan yang populer diantaranya adalah al-istibath (mengeluarkan),al-tadrib (melatih atau membiasakan) al-tawjih (memperhadap) Sedangkan secara terminologi, tajhrij berarti :

Mengembalikan (menelusuri kembali ke asalnya) hadis-hadis yang terdapat di dalam berbagai kitab yang tidak memakai sanad kepada kitab-kitab musnad,

baik disertai dengan pembicaraan tentang status hadis-hadis tersebut dari segi sahih atau daif, ditolak atau diterima, dan penjelasan tentang kemungkinan illat yang ada padanya, atau hanya sekedar mengembalikannya kepada kitab-kitab asal (sumbernya)nya.

Para muhadisin mengartikan takhrij hadis sebagai berikut: 1. Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para periwayatnya dalam sanad yang telah menyampaikan hadis itu dengan metode periwayatan yang mereka tempuh. 2. Ulama mengemukakan berbagai hadis yang telah dikemukakan oleh para guru hadis, atau berbagai kitab lain yang susunannya dikemukakan berdasarkan riwayat sendiri, atau para gurunya, siapa periwayatnya dari para penyususn kitab atau karya tulis yang dijadikan sumber pengambilan. 3. Mengeluarkan, yaitu mengeluarkan hadis dari dalam kitab dan meriwayatkannya. Al-Sakhawy mengatakan dalam kitab Fathul Mugis sebagai berikut, Takhrij adalah seorang muhadis mengeluarkan hadishadisdari dalam ajza, al-masikhat, atau kitab-kitab lainnya. Kemudian hadis tersebut disusun gurunya atau teman-temannya dan sebagainya, dan dibicarakan kemudian disandarkan kepada pengarang atau penyusun kitab itu. 4. Dalalah, yaitu menunjukkan pada sumber hadis asli dan menyandarkan hadis tersebut pada kitab sumber asli dengan menyebutkan perawi penyusunnya. 5. Menunjukkan atau mengemukakan letak asal hadis pada sumber yang asli, yakni kitab yang di dalamnya dikemukakan secara lengkap dengan sanadnya masing-masing, lalu untuk kepentingan penelitian. Dari uraian defenisi di atas, takhrij Hadis dapat dijelaskan sebagai berikut: Mengemukakan hadis pada orang banyak dengan menyebutkan para rawinya yang ada dalam sanad hadis itu. Mengemukakan asal usul hadis sambil dijelaskan sumber pengambilannya dari berbagai kitab hadis yang diperoleh oleh penulis kitab tersebut dari para gurunya, lengkap dengan sanadnya sampai kepada Nabi Saw. Kitab-kitab tersebut seperti; Al-Kutub al-Sittah, Muwaththa Malik, Musnad Ahmad, Mustadrak Al-hakim.

Mengemukakan hadis-hadis berdasarkan sumber pengambilannya dari kitab-kitab yang didalamnya dijelaskan metode periwayatannya dan sanad hadis-hadis tersebut, dengan metode dan kualitas para rawi sekaligus hadisnya. Dari berbagai pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa hakikat dari takhrij hadis adalah penelusuran atau pencarian hadis pada berbagai kitab hadis sebagai sumbernya yang asli yang didalamnya dikemukakan secara lengkap matan dan sanadnya. Penelusuran dan pencarian hadis pada sumber aslinya ini memeliki beberapa urgensi yakni; 1. Secara metodologis pengutipan hadis pada sumber primer adalah suatu keharusan. 2. Syarat untuk penelitian sanad. 3. Menghindari kesalahan redaksi. 4. Menghindari kesalahan nilai hadis karena membangsakan kualitas hadis secara tidak benar. Seperti menempatkan hadis daif kepada hadis sahih atau sebaliknya.

Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis Ilmu takhrij merupakan bagian dari ilmu agama yang harus mendapat perhatian serius karena di dalamnya dibicarakan berbagai kaidah untuk mengetahui sumber hadis itu berasal. Disamping itu, didalamnya ditemukan banyak kegunaan dan hasil yang diperoleh, khususnya dalam menentukan kualitas sanad hadis. Penguasaan tentang ilmu Takhrij sangat penting, bahkan merupakan suatu keharusan bagi setiap ilmuwan yang berkecimpung di bidang ilmu-ilmu kasyariahan, khususnya yang menekuni bidang hadis dan ilmu hadis. Dengan mempelajari kaidah-kaidah dan metode takhrij, seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara untuk sampai kepada suatu hadis di dalam sumbersumbernya yang asli yang pertama kali disusun oleh para Ulama pengkodifikasi hadis. Dengan mengetahui hadis tersebut dari sumber aslinya, maka akan dapat diketahui sanad-sanadnya. Dan hal ini akan memudahkan untuk melakukan penelitian sanad dalam rangka untuk mengetahui status dan kualitasnya.

Dengan demikian Takhrij hadis bertujuan mengetahui sumber asal hadis yang di takhrij. Tujuan lainnya adalah mengetahui ditolak atau diterimanya hadis-hadis tersebut. Dengan cara ini, kita akan mengetahui hadis-hadis yang pengutipannya memperhatikan kaidah-kaidah ulumul hadis yang berlaku. Sehingga hadis tersebut menjadi jelas, baik asal-usul maupun kualitasnya. Adapun manfaat takhrij Hadis antara lain sebagai berikut: 1. Dapat diketahui banyak sedikitnya jalur periwayatan suatu hadis yang sedang menjadi topik kajian. 2. Dapat diketahui status hadis sahih li zatih atau sahih li ghairih, hasan li zatih, atau hasan li ghairi. Demikian pula akan dapat diketahui istilah hadis mutawatir, masyhur, aziz, dan gharibnya. 3. Memperjelas hukum hadis dengan banyaknya riwayatnya, seperti hadis da`if melalui satu riwayat. Maka dengan takhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain yang dapat mengangkat status hadis tersebut kepada derajat yang lebih tinggi. 4. Memperjelas perawi yang samar, karena dengan adanya takhrij, dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap. 5. Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat. 6. Memperjelas perawi hadis yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan di antara sanad-sanadnya. 7. Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena mungkin saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain, maka nama perawi itu akan menjadi jelas. 8. Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis melalui perbandingan sanad-sanad yang ada. 9. Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan sanad yang ada. 10. Memberikan kemudahan bagi orang yang hendak mengamalkan setelah mengetahui bahwa hadis tersebut adalah makbul (dapat diterima). Sebaliknya, orang tidak akan mengamalkannya apabila mengetahui bahwa hadis tersebut mardud (ditolak). 11. Menguatkan keyakinan bahwa suatu hadis adalah benar-benar berasal dari Rasulullah Saw yang harus diikuti karena adanya bukti-bukti yang kuat tentang kebenaran hadis tersebut, baik dari segi sanad maupun matan. Kitab-Kitab yang Diperlukan dalam Men-takhrij Dalam melakukan takhrij, seseorang memerlukan kitab-kitab tertentu yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman sehingga dapat melakukan kegiatan takhrij secara mudah dan mencapai sasaran yang dituju. Diantara kitab-kitab yang dapat

dijadikan pedoman dalam men-takhrij adalah: Usul al- Takhrij wa Dirasat alAsanid oleh Muhammad Al-Tahhan, Husul al-Tafrij bi Usul al-Takhrij oleh Ahmad ibn Muhammad al-Siddiq al- Gharami, Turuq Takhrij Hadis Rasul Allah Saw karya Abu Muhammad al-Mahdi ibn `Abd al-Qadir ibn `Abd al Hadi, Metodologi Penelitian Hadis Nabi oleh Syuhudi Ismail, dan lain-lain. Selain kitab-kitab di atas, di dalam men-takhrij diperlukan juga bantuan dari kitab-kitab kamus atau mujam hadis dan mujam para perawi hadis, diantaranya seperti: AL-Mu`jam Al-Mufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi. Kitab ini memuat hadis-hadis dari Sembilan kitab induk hadis seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmidzi, Sunan abu Daud, Sunan Nasai, Sunan ibn Majah, Sunan Darimi, Muwaththa Imam Malik dan Musnad Imam Ahmad. Miftah Kunuz al- Sunna. Kitab ini memuat hadis-hadis yang terdapat dalam empat belas buah kitab, baik mengenai Sunnah maupun biografi Nabi. Yaitu selain dari Sembilan kitab induk hadis yakni; musnad alTayalisi, Musnad Zaid ibn Ali ibn Husein ibn Ali ibn Abi Talib, Al-Tabaqat al-Kubra, Sirah ibn Hisyam, Al- Magazi. Sedangkan kitab yang memuat biografi para perawi hadis diantaranya adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Thahhan sebagai berikut: a) Kitab yang memuat biografi sahabat 1. Al-Isti ab fi Ma`rifat al Asahab, oleh ibn abd al-Barr al-Andalusi (w. 463 H/1071 M). 2. Usud al-Ghabah fi Ma`rifat al-Sahabah, oleh Iz al-Din Abi al-Hasan Ali ibn Muhammadibn Al-asir al-Jazari (w. 630 H/ 1232 M) 3. Al-Ishabah fi Tamyizal-Sahabah, oleh Al-Hafiz ibn Hajar al-asqalani (w. 852 H/ 1449). b) Kitab-kitab Tabaqat yaitu kitab-kitab yang membahas biografi para perawi hadis berdasarkan tingkatan para perawi (tabaqat al-ruwat), seperti: 1. Al-Tabaqat al-Kubra, oleh `Abdullah Muhammad ibn Sa`ad KhatibalWaqidi (w. 230 H). 2. Tazkirat al-Huffaz, karangan Abu `Abdullah Muhammad ibn Ahmad ibn Usman al-Zahabi (w. 748 H/ 1348 M). c) Kitab-kitab yang memuat para perawi hadis secara umum;

1. Al-Tarikh al-Kabir, oleh Imam Al-Bukhari (w 256 H/870 M) 2. Al-Jarh wa al-Ta`dil, karya ibn Abi Hatim (w 327 H).

Cara Pelaksanaan dan Metode Takhrij Di dalam melakukan takhrij, ada lima metode yang dapat dijadikan sebagai pedoman, yaitu; 1. Takhrij Melalui Lafaz Pertama Matan Hadis Metode ini sangat tergantung pada lafaz pertama matan hadis. Hadis-hadis dengan metode ini dikodifikasi berdasarkan lafaz pertamanya menurut urutan huruf hijaiyah. Misalnya, apabila akan men-takhrij hadis yang berbunyi;

Untuk mengetahui lafaz lengkap dari penggalan matan tersebut, langkah yang harus dilakukan adalah menelusuri penggalan matan itu pada urutan awal matan yang memuat penggalan matan yang dimaksud. Dalam kamus yang disusun oleh Muhammad fuad Abdul Baqi, penggalan hadis tersebut terdapat di halaman 2014. Bearti, lafaz yang dicari berada pada halaman 2014 juz IV. Setelah diperiksa, bunyi lengkap matan hadis yang dicari adalah; :

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, (Ukuran) orang yang kuat (perkasa) itu bukanlah dari kekuatan orang itu dalam berkelahi, tetapi yang disebut sebagai orang yang kuat adalh orang yang mampu menguasai dirinya tatkala dia marah. Metode ini mempunyai kelebihan dalam hal memberikan kemungkinan yang besar bagi seorang mukharrij untuk menemukan hadis-hadis yang dicari dengan cepat. Akan tetapi, metode ini juga mempunyai kelemahan yaitu, apabila terdapat kelainan atau perbedaan lafaz pertamanya sedikit saja, mak akan sulit unruk menemukan hadis yang dimaksud. Sebagai contoh ;

Berdasarkan teks di atas, maka lafaz pertama dari hadis tersebut adalah iza atakum ( ). Namun, apabila yang diingat oleh mukharrij sebagai lafaz

pertamanya adalah law atakum ( ) atau iza jaakum ( ), maka hal tersebut tentu akan menyebabkan sulitnya menemukan hadis yang sedang dicari, karena adanya perbedaan lafaz pertamanya, meskipun ketiga lafaz tersebut mengandung arti yang sama.

Takhrij Melalui Kata-Kata dalam Matan Hadis Metode ini adalah metode yang berdasarkan pada kata-kata yang terdapat dalam matan hadis, baik berupa kata benda ataupun kata kerja. Dalam metode ini tidak digunakan huruf-huruf, tetapi yang dicantumkan adalah bagian hadisnya sehingga pencarian hadis-hadis yang dimaksud dapat diperoleh lebih cepat. Penggunaan metode ini akan lebih mudah manakala menitikberatkan pencarian hadis berdasarkan lafaz-lafaznya yang asing dan jarang penggunaanya.

Kitab yang berdasarkan metode ini di antaranya adalah kitab Al-Mu`jam AlMufahras li Al-faz Al-Hadis An-Nabawi. Kitab ini mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di dalam Sembilan kitab induk hadis sebagaimana yaitu; Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Turmizi, Sunan Abu Daud, Sunan Nasai, Sunan Ibn Majah, Sunan Darimi, Muwaththa malik, dan Musnad Imam Ahmad. Contohnya pencarian hadis berikut;

Dalam pencarian hadis di atas, pada dasrnya dapat ditelusuri melalui kata-kata naha ( ) taam ( ), yukal ( ) al-mutabariyaini ( ). Akan tetapi dari sekian kata yang dapat dipergunakan, lebih dianjurkan untuk menggunakan kata al-mutabariyaini ( ) karena kata tersebut jarang adanya. Menurut penelitian para ulama hadis, penggunaan kata tabara ( ) di dalam kitab induk hadis (yang berjumlah Sembilan) hanya dua kali. Penggunaan metode ini dalam mentakhrij suatu hadis dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. menentukan kata kuncinya yaitu kata yang akan dipergunakan sebagai alatuntuk mencari hadis. Sebaiknya kata kunci yang dipilih adalah kata yang jarang dipakai, karena semakin bertambah asing kata tersebut akan semakin mudah proses pencarian hadis. Setelah itu, kata tersebut

dikembalikan kepada bentuk dasarnya. Dan berdasarkan bentuk dasar tersebutdicarilah kata-kata itu di dalam kitab Mujammenurut urutannya secara abjad (huruf hijaiyah). 2. mencari bentuk kata kunci tadi sebagaimana yang terdapat di dalam hadis yang akan kita temukan melalui Mujam ini. Di bawah kata kunci tersebut akan ditemukan hadis yang sedang dicari dalam bentuk potongan-potongan hadis (tidak lengkap). Mengiringi hadis tersebut turut dicantumkan kitab-kitab yang menjadi sumber hadis itu yang dituliskan dalm bentuk kode-kode sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Metode ini memiliki beberapa kelebihan yaitu; Metode ini mempercepat pencarian hadis dan memungkinkan pencarian hadis melalui kata-kata apa saja yang terdapat dalam matan hadis. Selain itu, metode ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu; Terkadang suatu hadis tidak didapatkan dengan satu kata sehingga orang yang mencarinya harus menggunakan kata-kata lain. Takhrij Berdasarkan Perawi Sahabat Metode ini dikhususkan jika kita mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis, lalu kita mnecari bantuan dari tiga macam karya hadis yakni; Al-Masanid (musnad-musnad). Dalam kitab ini disebutkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh setiap sahabat secara tersendiri. Selama kita sudah mengetahui nama sahabat yang meriwayatkan hadis, maka kita mencari hadis tersebut dalam kitab ini hingga mendapatkan petunjuk dalam satu musnad dari kumpulan musnad tersebut. Al- ma`ajim (mu`jam-mu`jam). Susunan hadis di dalamnya berdasarkan urutan musnad para sahabat atau syuyukh (guru-guru) sesuai huruf kamus hijaiyah. Dengan mengetahui nama sahabat dapat memudahkan untuk merujuk hadisnya. Kitab-kitab Al-Atraf. Kebanyakan kitab al-atraf disusun berdasarkan musnad-musnad para sahabat dengan urutan nama mereka sesuai huruf kamus. Jika seorang peneliti mengetahui bagian dari hadis itu, maka dapat merujuk pada sumber-sumber yang ditunjukkan oleh kitab-kitab alatraf tadi untuk kemudian mengambil hadis secara lengkap. Kelebihan metode ini adalah bahwa proses takhrij dapat diperpendek. Akan tetapi, kelemahan dari metode ini adalah ia tidak dapat digunakan dengan baik, apabila perawih yang hendak diteliti itu tidak diketahui.

Takhrij Berdasarkan Tema Hadis Metode ini berdasrkan pada tema dari suatu hadis. Oleh karena itu untuk melakukan takhrij dengan metode ini, perlu terlebih dahulu disimpulkan tema dari suatu hadis yang akan ditakhrij dan kemudian baru mencarinya melalui tema itu pada kitab-kitab yang disusun menggunkan metode ini. Seringkali suatu hadis memiliki lebih dari satu tema. Dalam kasus yang demikian seorang mekharrij harus mencarinya pada tema-tema yang mungkin dikandung oleh hadis tersebut. Contoh :

Dibangun Islam atas lima pondasi yaitu : Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasulullah, mendirikan shalat, membayarkan zakat, berpuasa bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Hadis diatas mengandung beberapa tema yaitu iman, tauhid, shalat, zakat, puasa dan haji. Berdasarkan tema-tema tersebut maka hadis diatas harus dicari didalam kitab-kitab hadis dibawah tema-tema tersebut. Cara ini banyak dibantu dengan kitab Miftah Kunuz As-Sunnah yang berisi daftar isi hadis yang disusun berdasarkan judul-judul pembahasan. Dari keterangan diatas jelaslah bahwa takhrij dengan metode ini sangat tergantung kepada pengenalan terhadap tema hadis. Untuk itu seorang mukharrij harus memiliki beberapa pengetahuan tentang kajian Islam secara umum dan kajian fiqih secara khusus. Metode ini memiliki kelebihan yaitu : Hanya menuntut pengetahuan akan kandungan hadis, tanpa memerlukan pengetahuan tentang lafaz pertamanya. Akan tetapi metode ini juga memiliki berbagai kelemahan, terutama apabila kandungan hadis sulit disimpulkan oleh seorang peneliti, sehingga dia tidak dapat menentukan temanya, maka metode ini tidak mungkin diterapkan. Takhrij Berdasarkan Status Hadis Metode ini memperkenalkan suatu upaya baru yang telah dilakukan para ulama hadis dalam menyusun hadis-hadis, yaitu penghimpunan hadis berdasarkan statusnya. Karya-karya tersebut sangat membantu sekali dalam proses pencarian

hadis berdasarkan statusnya, seperti hadis qudsi, hadis masyhur, hadis mursal dan lainnya. Seorang peneliti hadis dengan membuka kitab-kitab seperti diatas dia telah melakukan takhrij al hadis. Kelebihan metode ini dapat dilihat dari segi mudahnya proses takhrij. Hal ini karena sebagian besar hadis-hadis yang dimuat dalam kitab yang berdasarkan sifat-sifat hadis sangat sedikit, sehingga tidak memerlukan upaya yang rumit. Namun, karena cakupannya sangat terbatas, dengan sedikitnya hadis-hadis yang dimuat dalam karya-karya sejenis, hal ini sekaligus menjadi kelemahan dari metode ini. Kitab kitab yang disusun berdasarkan metode ini : Al-Azhar al-Mutanasirah fi al-Akbar al-Mutawatirah karangan Al-Suyuthi. Al-Ittihafat al-Saniyyat fi al-Ahadis al-Qadsiyyah oleh al-Madani. Al-Marasil oleh Abu Dawud, dan kitab-kitab sejenis lainnya.

B. Sejarah Takhrij Hadits Penguasaan para ulama terdahulu terhadap sumber-sumber As-Sunnah begitu luas, sehingga mereka tidakmerasa sulit jika disebutkan suatu hadits untuk mengetahuinya dalam kitab-kitab As-Sunnah. Ketika semangat belajar sudah melemah, mereka kesulitan untuk mengetahui tempat-tempat hadits yang dijadikan sebagai rujukan para ulama dalam ilmu-ilmu syari. Maka sebagian dari ulama bangkit dan memperlihatkan hadits-hadits yang ada pada sebagian kitab dan menjelaskan sumbernya dari kitab-kitab As-Sunnah yang asli, menjelaskan metodenya, dan menerangkan hukumnya dari yang shahih atas yang dlaif. Lalu muncullah apa yang dinamakan dengan Kutub At-Takhrij (buku-buku takhrij), yang diantaranya adalah : Takhrij Ahaadits Al-Muhadzdzab; karya Muhammad bin Musa Al-Hazimi Asy-SyafiI (wafat 548 H). Dan kitab Al-Muhadzdzab ini adalah kitab mengenai fiqih madzhab Asy-SyafiI karya Abu Ishaq Asy-Syairazi. Takhrij Ahaadits Al-Mukhtashar Al-Kabir li Ibni Al-Hajib; karya Muhammad bin Ahmad Abdul-Hadi Al-Maqdisi (wafat 744 H). Nashbur-Rayah li Ahaadits Al-Hidyah li Al-Marghinani; karya Abdullah bin Yusuf Az-ZailaI (wafat 762 H). Takhrij Ahaadits Al-Kasyaf li Az-Zamakhsyari; karya Al-Hafidh Az-ZailaI juga. [Ibnu Hajar juga menulis takhrij untuk kitab ini dengan judul Al-Kafi Asy-Syaafi fii Takhrij Ahaadits Asy-Syaafi ]

Al-Badrul-Munir fii Takhrijil-Ahaadits wal-Atsar Al-Waqiah fisy-SyarhilKabir li Ar-RafiI; karya Umar bin Ali bin Mulaqqin (wafat 804 H). Al-Mughni an Hamlil-Asfaar fil-Asfaar fii Takhriji maa fil-Ihyaa minalAkhbar; karya Abdurrahman bin Al-Husain Al-Iraqi (wafat tahun 806 H). Takhrij Al-Ahaadits allati Yusyiiru ilaihat-Tirmidzi fii Kulli Baab; karya AlHafidh Al-Iraqi juga. At-Talkhiisul-Habiir fii Takhriji Ahaaditsi Syarh Al-Wajiz Al-Kabir li ArRafiI; karya Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H). Ad-Dirayah fii Takhriji Ahaaditsil-Hidayah; karya Al-Hafidh Ibnu Hajar juga. Tuhfatur-Rawi fii Takhriji Ahaaditsil-Baidlawi; karya Abdurrauf Ali AlManawi (wafat 1031 H). Contoh : Berikut ini contoh takhrij dari kitab At-Talkhiisul-Habiir (karya Ibnu Hajar) : Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,Hadits Ali bahwasannya Al-Abbas meminta kepada Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tentang mempercepat pembayaran zakat sebelum sampai tiba haul-nya. Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam memberikan keringanan untuknya. Diriwayatkan oleh Ahmad, para penyusun kitab Sunan, Al-Hakim, Ad-Daruquthni, dan Al-Baihaqi; dari hadits Al-Hajjaj bin Dinar, dari Al-Hakam, dari Hajiyah bin Adi, dari Ali. Dan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari riwayat Israil, dari Al-Hakam, dari Hajar AlAdawi, dari Ali. Ad-Daruquthni menyebutkan adanya perbedaan tentang riwayat dari Al-Hakam. Dia menguatkan riwayat Manshur dari Al-Hakam dari AlHasan bin Muslim bin Yanaq dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam dengan derajat mursal. Begitu juga Abu Dawud menguatkannya. Al-Baihaqi berkata,Imam Asy-SyafiI berkata : Diriwayatkan dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam bahwasannya beliau mendahulukan zakat harta Al-Abbas sebelum tiba masa haul (setahun), dan aku tidak mengetahui apakah ini benar atau tidak?. Al Baihaqi berkata,Demikianlah riwayat hadits ini dari saya. Dan diperkuat dengan hadits Abi Al-Bakhtari dari Ali, bahwasannya Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda,Kami sedang membutuhkan lalu kami minta Al-Abbas untuk mendahulukan zakatnya untuk dua tahun. Para perawinya tsiqah, hanya saja dalam sanadnya terdapat inqitha. Dan sebagian lafadh menyatakan bahwa Nabi shallallaahu alaihi wasallam bersabda kepada Umar,Kami pernah mempercepat harta Al-Abbas pada awal tahun. Diriwayatkan oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi dari hadits Abi Rafi *At-Talkhiisul-Habiir halaman 162-163]

C.Pengertian dan Sejarah Kritik Hadis Kritik yang di maksud disini adalah sebagai upaya mengkaji hadis Rosullulah SAW.Untuk menentukan hadis yang benar-benar datang dari Nabi Mmuhammad SAW.Menurut bahas kata (sanad)mengandung kesamaan menurut istilah hadis , sanad ialah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadis. Kata hadis berasal dari bahasa arab (al-hadis) jamaknya adalah (alahadist).Dari segi bahasa , kata ini memiliki banyak arti , diantaranya : (al-jadid) yang berarti ini semua yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.Itu adalah hadis (baru) sebagai lawan dari wahyu Allah (kalam Allah) yang bersifat qadim.Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Muhammad Ajjaj al -khathib, beliau mengatakan istilah, hadis diberi pengertian yang berbeda-beda oleh ulama.Menurut Ibn al-subki (wafat 771H= 1370 M), hadis adalah segala sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.Beliau tidak memasukkan taqrir Nabi Muhamad SAW.Sebagai bagin dari rumusan definisi hadis . Sementara pendapat masyhur ulama mengatakan hadis adalah segala sabda , perbuatan,taqrir ,dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhamad SAW.Hadis dalam katagori yang keempat , yaitu hal ihwali Nabi Muhammad SAW.Di luar jazira arab lebih banyak di tinggalkan di pandang sebagai pengaruh budaya arab bukan bagian dari ajaran islam, sehingga meninggalkan hal tersebut bukan berarti meninggalkan ajaran islam tetapi hanya meninggalkan budaya arab. Jadi, kritik sanad hadis ialah penelitian , dan penelusuran sanad hadis tentang individu perawi dan proses penerimaan hadis dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan dan kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran , yaitu kualitas hadis( shahih, hasan , dan dhaif) Kegiatan kritik atau penelitian hadis bertujuan untuk mengetahui kualitas hadis yang terdapat dalam rangkaian sanad hadis yang di teliti.Apabila Hadia yang diteliti memenuhi kriteria kesahihan sanat , hadis tersebut di golongkan sebagai hadis sahis dari segi sanat . Penelitian atau kritik sanat hadis, pada masa hidup Rosullulah SAW. Dan masa khulafaurrasydin belum di temukan .Hal itu dapat di pahami, karna para periwayat hadis pada dua masa tersebut di sepakati Muhaddisin sebagai masa kumpulnya periwayat hadis yang adil ( semua sahabat Nabi Muhammad SAW. Adalah adil ).

Perhatian ulama terhadap sanat hadis dipicu oleh ditemukannya hadis palsu yang di ciptakan oleh orang-orang zindik dan orang yang mempunyai kepentingan khusus , baik karna kepentingan politis , bisnis , maupun karna kefanatikan paham,aliran, dan mazhab . Muhadditsin sangat besar perhatiannya kepada sanat hadis , disamping juga pada matannya.Pernyatan tersebut dapat dilihat pada tiga hal .Pertama, pernyataan pernyatan mereka yng menyatakan bahwa sanat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari agama dan pengetahuan hadis .Berikut ini dikemukakan pendapat para muhaddits Sanad hadis mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan validitas suatu hadis.Oleh karna itu, mereka sepakat bahwa apabila suatu hadis sanatnya benar-benar telah dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya, pastilah hadis itu berkualitas sahih .Hal ini dapat nianlogkan kedalam kehidupan sehari-hari , bahwa kalau ada berita yang dibawa oleh orang-orang yang dapat dipercaya, penerima berita tidak memiliki alas an untuk menolak kebenaran berita itu. Kedua, banyaknya karya tulis Muhadditsin, yang berkenaan sanat hadis .Kitab-kitab tentang rijal al-hadis, muncul dalam berbagai bentuk dan sifatnya , mulai dri yang bersifat umum sampai kepada yang bersifat khusus. Kitab rijal alhadis yang bersifat umum , diantaranya siyar alam Al-nubala,karya Imam Syamsyuddin Muhamad bin Ahmad bin Usman al-zahabiy (w.748H/1348M) ,alTarikh al-Kabir, karya Al- Bukhari (w 256 H/870M)dan al-jarh wa al- tadil , karya ibnu abu khatim al-Rizi(w.328 H). Dari data di atas menunjukan keseriusan Muhaddidsin melakukan penelitian hadis , khususnya terhadap periwayatnya ,sehingga melahirkan karya yang luar biasa . Kitab-kitab rijal al- hadits merupakan hasil penelitian yang belum ada tandingan nya , baik di lihat dari segi kualitas dan kualifikasinya maupun kuantitasnya . Ketiga, apa bila mereka menghadapi hadis , maka sand hdis merupakan salah satu bagian yang mendapatkan perhatian khusus. Ada beberapa factor yang menyebabkan kajian sanad hadis menjadi penting , pertama , pada zaman Nabi Muhammad SAW.Tidak seluruh hadis tertulis ;kedua, sesudah zaman Nabi Muhammad SAW. Sering terjadi pemalsuan hadis ; dan ketiga , pen-tadwin-an hadis secara resmi dan masal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan hadis.

Untuk membersihkan hadis-hadis Nabi Muhamman SAW. Dari hadis palsu, maka ulama hadis telah menetapkan syarat kesahihan hadis , seperti yang di jelaskan oleh Ibn al-shalah (w.643 H=1245M) Hadis sahih harus memenuhi lima syarat: pertama bersmbung sanadnya; kedua, di riwayatkan oleh periwayat yang adil: ketiga, diriwayatkan oleh periwayat yang dhabith; keempat, terhindar dari syaz;dan kelima,terhindar dariillat. Seperti yang telah di jelaskan di atas, ada tiga peristiwa penting yang mengharuskan adanya penelitian sanad hadis: pertama, pada zaman Nabi Muhammad SAW. Tidak seluruh hadis tertulis ; kedua, sesudah zaman Nabi Muhammad SAW. Terjadi pemalsuan hadis ; ketiga , penghimpunan hadis secara resmi dan masal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan-pemalsuan hadis. Padahal hadis adlah salah satu sumber ajaran islam .Hadis sebagai sumber ajaran islam meniscayakan adanya kepastin validitas bersumber dari Nabi Muhammad SAW.

Muhammad Subhi Al- SalihKritik Hadis Bustamin M. Isa H.A. Salam, (D,PT.RajaGrafindo Persada)Jakarta2005 hal:5

D. Upaya penyelamatan hadis


Untuk menyelamatkan hadis Nabi SAW di tengah-tengah gencarnya pembuatan hadis palsu , ulama hadis menyusun berbagai kaidah penelitian hadis .Lebih rinci langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut. Pertama, meneliti system penyandaran hadis.Para sahabat dan tabiin tidak sembarangan mengambil hadis dari seseorang . Mereka meneliti dengan seksama proses penukilan dan periwayatan hadis. Pada masa sahabat memang hampir tidak ada penyelewengan dalam periwayatan hadis, sehingga ketika mereka mendapatkan dari sahabat lain mereka tidak akan menanyakan al-kubra mereka mulai menyeleksi hadis-hadis yang didapat dari orang lain . Kedua, memilih perawi-perawi hadis yang terpercaya. Para ulama menanyakan hadis-hadis yang dipandang kabur atau tidak jelas asal-usulnya kepada para sahabat, tabiin dan pihak-pihak yang menekuni bidang ini .Mereka tidak akan sembarangan untuk meriwayatkan hadis.Mereka akan memilih dari orang-orang tertentu yang dipandang menguasai dan mengetahui persoalan ini. Ketiga, studi kritik rawi, yang tampaknya lebih dikonsentrasiman pada sifat kejujuran atau kebohongannya. Oleh karna itu, mereka tidak akan mengambil dari orang-orang yang dikenal suka berbohong baik di dalam kehidupan umumnya;suka berbuat bidah dan mengikuti hawa nafsunya ;orang-orang fisik,zindiq, dan orang-orang yang tidak menguasai apa yang disampaikannya ; dan lain-lainnya. Keempat , menyusun kaidah-kaidah umum untuk meneliti hadis-hadis tersebut .Misalnya saja dengan pengetahui batas-batasan hadis sahih , hasan dan dhaif. Mulai saat itu perkembangan ilmu hadis melaju begitu cepat , demi menyelamatkan hadis-hadis rosul ini .Jadi pada akhirnya , tujuan penyusunan kaidah-kaidah tersebut untuk mengetahui keadaan matan hadis.Maka di sususnlah kaidah-kaidah kesahihan sangat hadis beserta matannya.Bersamaan dengan ini munculah berbagai macam ilmu hadis. Khusus ilmu hadis yang dikaitkan dengan penelitian sanat hadis , antara lain ialah ilmu Rijal al- hadis dan ilmu al- jarh wa al- tadil Dengan berbagai kaidah dan ilmu hadis, disamping telah dibukukannya hadi, mengakibatkan ruang gerak para pembuat hadis palsu yang sangat sempit .Selain itu, hadis-hadis yang berkembang di masyarakat dan termasuk dalam kitab-kitab

dapat di teliti dan diketahui kualitasnya .Dengan menggunakan berbagai kaidah dan ilmu hadis itu, ulam telah berhasil menghimpun berbagai hadis palsu dalam kitab-kitab khusus. Seperti al-khalas al- kubra, karangan Abu al-fari Abd al- rahman bin al-jauzi (508-5 97H) dalam empat jilid ;al-baits ala al-khalas min hawadits al-qishas, oleh al-hafidz zain al-din abd al- rahman al-iraqi(725-806H)tanzih al-syaiah almafuah(w.963H).

E. PENERIMAAN DAN PERIWAYATAN DADIS


1. Penerimaan Anak-anak ,orang Kafir dan orang Fasik Jumhur ualama ahli hadis berpendapat , bahwanpenerimaan periwayatan suatu hadis oleh anak yang belum sampai umur (belum mukallaf) dianggap sah bila perwayatan hadis tersebut di sampaikan kepada orang lain pada waktu sudah mukallaf.Hal ini di dasarkan kepada keadaan para sahabat, tabiIn ,dan ahli ilmu setelah yang menerima periwayatan hadis seperti Hasan, Abdullah, bin Zubeir , ibnu abbas,Numan bin basyir, Salib bin Yazid dan lain -lain dengan tanpa mempermasalahkan apakah mereka telah di baligh atau belum.Namun mereka berbeda pendapat mengenai batas minimal usia anak yang di perolehkan bertahammul, sebab permasalahan ini tidak terlepas dari ketamyizan anak tersebut. Al-Qadhi Iyad menetapkan, bahwa batas minimal usia anak diperbolehkan bertahammul tidak sudah berusia lima tahun , karena pada usia ini anak sudah mamapu menghafal apa yang di dengar dan mengingat-ngingat yang dihafal. Pendapat ini di dasari pada hadis riwayat Bukhari dari sahabat Mahmud bin AlRubai; Abu Abdullah AL-Zubai mengatakan, bahwa sebaiknya anak siperbolehkan menulis hadis pada saat usia mereka telah mencapai umur sepuluh tahun , sebab pada usia ini akal mereka telah dianggap sempurna, dalam arti bahwa mereka telah mempunyai kemampuan untuk menghafal dan mengingat hafalanya dan mulai menginjak dewasa.Yahya bin MaIn menetapkan usia lima belas tahun , berdasarkan Hadis Ibnu Umar:Saya dihadapkan kepada Rosulullah SAWpada waktu perang uhud , disaat itu saya baru berusia empat belas tahun beliau tidak memperkenankan aku. Sementara ulama Syam mandang usia yang ideal bagi orang yang untuk meriwayatkan hadis setelah berusia 30 tahun, dan ulam Kufah berpendapat

minimal berusia 20 tahun.Kebanyakan ulama ahli Hadis tidak menetapkan batasan usia tentu bagi anak yang diperbolehkan bertahammul , akan tetapi lebih menitik beratkan pada ke-tamyiz-an mereka.Namun mereka juga berbeda pendapat tentang ke-tamyiz-an tersebut.Ada yang mengatakan bahwa anak sudah dikatagorikan tamyiz apabila anak tersebut sudah mampu membedakan antara Al-Hafidz binMusa binHarun Al-Hammal.Menurut Imam Ahmad, bahwaukuran tamyiz ingat yang dihafal .Ada juga yang mengatahan , bahwa yang dijadikan ukuran ke-tamyiz-an seseorang itu bukan berdasarkan usia mereka,akan tetapi dilihat dariapakah anak itu memahami pembicaraan dan mampu menjawab pertanyaan dengan benar atau tidak . Terjadinya perbedaan pendapat ulama mengenai ke-tamyiz-an seseorang tidak terlepas dari kondisi yang mempengaruhi kepadanya dan bukan berdasarkan pada usianya ,sebab bisa saja seseorang pada usianya tertentu, karna situasi dan kondisi yang mempengaruhi, dia sudah mumayiz, sementara seseorang pada usia tang sama , krna situasi dan kondisi mempengaruhi berbeda , dia belum mumayiz.Oleh karnanya, ke-tamyiz-an seseorang bukan diukur dari usia, tetapi didasarkan pada tingkat kemampuan menangkap dan memahami pembicaraan dan mampu menjawab pertanyaan dengan benar serta adanya kemampuan menghafal dan mengingat-ingat hafalanya. Mengenai penerimaan hadis bagi orang kafir dan orang fasik, diriwayatkan kepada orang lain pada saat mereka telah masuk islam dan bertobat.Alasan yang mereka kemukakanadalah banyaknya kejadian yang meraka saksikan dan banyaknya sahabat yang mendengar sabda Nabi SAW sebelum mereka masuk islam. Di antara sahabat yang mendengar sabda Rasul SAW pada waktu belum masuk islam adalah sahabat Zubair.Dia pernah mendengar Rosul SAW.Membaca surat al- thur pada waktu sembahyang magrib , ketika dia tiba di Madinah untuk menyelesaikan urusan perang Badar , dalam keadaan masih kafir.Akhirnya dia masuk islam. Bila penerima oleh orang kafir yang kemudian di sampaikan setelah memeluk islam dapat diterima maka sudah barang tentu dianggap sah penerimaan hadis oleh orang fasik yang diriwayatkan setelah dia bertaubat.

Ulama Kufah dalam kehidupan sehari-hari tidak menginginkan putra putrinya untuk belajar hadis sebelum mencapai usia 30 tahun,(Beirut: Dar ALfikr,1988)hlm,5.(Jakarta PT Paja Grafindo Persada)

2. Cara Penerimaan Hadis Para ulam hadis menggolongkan metode menerima suatu periwayatan hadis menjadi delapan macam: Al-Sima, Al-Qiraah,Al-Ijazah,Al-Munawalah,AlMutakabah ,Al-IIlam,Al-Wasiyah,Al-Wijadah A. Al-Sima Yakni suatu cara penerimaan hadis dengan cara mendengarkan sendiri dari perkataan gurunya dengan cara dikatakan baik dari hafalan maupun dari tulisan .Sehingga yang menghadirinya mendengar apa yang disampaikan tersebut.Menurut jumhul ahli dari hadis bahwa cara ini merupakan cara penerimaan hadis yang paling tinggi tingkatannya .Sebagai mereka ada yang menyatakan bahwa al-sama yang dibarengi dengan al-kitabah mempunyai nilai lebih tinggi dari paling kuat. Karana terjamin kebenarannya dan terhindar dari kesalahan disbanding dengan cara-cara lainnya, di samping para sahabat juga menerima hadis dari Nabi SAW dengan cra seperti ini. Termasuk dalam kategori sama juga seseorang yang mendengarkan hadis dari syeikh dari sattar (semacam kainpembatas/penghalang).Jumhul ulama membolehkannya dengan berdasa pada para sahabat yang juga pernah melakukan hal demikian ketika meriwayatkan hadis-hadis Rosulullah melalui ummahat al-muminin (para istri nabi). Menurut Al- Qadhi ,Iyad , yang dikutip oleh Al- Suyuthi , di dalam cara (sama)ini, para ulama tidakmemperselisihkan kebolehan rawy dalam meriwayatkan ,menggunakan kata-kata . B. Al-Qiraah Yakni suatu cara penerimaan hadis dengan cara seseorang membacakan hadis di hadapan gurunya, baik dia sendiri yang membacakan mampu orang lain , sedang sang guru mendengarkan atau menyimaknya , baik sang guru menghafal maupun tidak tetepi dia memegang kitabnya atau mengetahui tulisannya atau dia tergolong tsiqqah. Ajjaj Al-Khatib dengan mengutib pendapat Imam Ahad mensyaratkan orang yang membaca (qari) itu mengetahui dan memahami apa yang dibaca.Sementara syarat bagi Syeikh dengan mengutib pendapat Imam Haramain hendaknya yang ahli dan teliti ketika mendengar atau menyimak dari pada yang dibacakan oleh

qari;sehingga tahrif mampu tashif dapat terhindarkan. Jika tidak demikian maka proses tahammul tidak sah. Para ulama sepakat bahwa cara seperti ini dianggap sah, namun mereka berbeda pendapat mengenai derajat al-qiraah.Di antara mereka, seperti Al-Lais bin Saad ,Syuban Ibnu Juraih,Sufyan Al-Tsauri,Abu Hanifah, menganggap bahwa al-qiraah lebih baik jika dibandingkan al-sama , sebab dalam al-sama bila bacaan guru salah, murid tidak leluasa menolak kesalahan,tetapi dalam al-qiraah,bila bacaan murid salah , guru segera membenarkan .Imam Malik ,Bukhari, sebagai besar ulama Hijaz dan Kufah menganggap bahwa antara al-qiraah dengan alsama, mempunyai derajat yang sama .Ibnu Abbas mengatakan (kepada muridnya)Bacakanlah kepada ku , sebab bacaan kaluian kepadaku seperti bacaanku kepada kalian . Sementara Ibnu Al-Shalah, Imam Nawawi dan Jumhur ulama memandang bahwa al-sam lebih tinggi derajatnya disbanding dengan cara al-qiraah.

C. Al-Ijazah Yakni seorang guru memberikan izin kepada muridnya untuk meriwayatkan hadis atau kitab kepada seseorang atau orang-orang tertentu ,sekalipun murid tidak membacakan kepada gurunya atau tidak mendengar bacaan gurunya . Para ulama berbeda pendapat mengenai pengguna izasah sebagai cara untuk meriwayatkan hadis .Ibnu Hazam mengatakan bahwa cara meriwayatkan hadis dengan menggunakan ijazah ini dianggap bidah dan tidak diperbolehkandan bahkan ada sebagian ulama yang menambahkan bahwa ijazah ini menetapkan syarat hendaknya sang guru benar-benar mengerti tentang apa yang di izasahkan dan naskah muridnya menyamai dengan yang lain , sehingga seolah-olah naskh tersebut adalah aslinya serta hendaknya guru yang member ijazah itu benarbenar ahli ilmu. Al-Qadhi iyad membagi ijazah ini menjadi enam macam , sedang Ibnu AlShalah menambah satu macam lagi, sehingga menjadi tujuh macam .Ketujuh macam al-ijazah tersebut sebagai berikut: Seorang guru mengijazahkan kepada seseorang tertentu atau kepada beberapa orang tertentu sebuah kitab atau beberapa kitab yang dia sebutkan kepada mereka.Al-Ijazah seperti ini diperbolehkan menurut jumhur.

Bentuk ijazah kepada orang tertentu untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu, seperti saya ijazahkan dariku. Cara seperti ini menurut jumhur juga tergolonng yang diperbolehkan Bentuk ijazah seara umum , seperti ungkapan saya ijazahkan kepada kaum Muslimin atau kepada orang orang yang ada (hadir ). Bentuk al-ijazah kepada orang yang tidak tertentu untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu.Cara seperti ini dianggap fasid( rusuk) Bentuk ijazah kepada orang yang tidak ada, seperti bentuk ijazah seperti ini tidak sah. Bentuk al- ijazah mengenai sesuatu yang belum diperdengarkan atau dibacakan kepada penerima ijazah , seperti ungkapan saya ijazah kepadamu untuk kamu riwayatku dari sesuatu yang akan kudengarkannya. Cara seperti ini dianggap batal. Bentuk al-ijazah al-mujazah , seperti perkataan guru saya ijazahkan kepadamu ijazahku. Bentuk ini termasuk yang diperbolehkan

Ajjaj Al-Khathib,Ushul Al-HaditsUlumuhuwa Mushthalahuhu,penerimaan Hadia(Beirut:Dar Al-Fkir,1981)Editor: Imam Al- Rofii,cet Ke-4,hlm234.( Jakarta PT Rajawali Pers)

B.Periwayatan Hadis Sebagai mana telah disebutkan , bahwa al- adaialah menyampaikan atau meriwayatkan hadis kepada orang lain.Oleh karnanya ,ia mempunyai peranan yang sangat penting dan sudah barang tentu menurut pertanggung jawaban yang cukup berat, sebab sah atau tihaknya suatu hadis juga sangat tergantung padanya.Mengingat hal-hal seperti ini , jumhur ahli Hadis , ahli ushul dan ahli fiqih menetapkan beberapa syarat bagi periwayat hadis, yakni sebagai berikut: a. Islam Pad waktu meriwayatkan suatu hadis , maka seseorang perawi harus muslim ,dan menurut Ijma , periwayatan kafir ridaksah.Seandainya perawinya seoran fasik saja kita di suruh bertawakuf,maka lebih- lebih perawi yang kafir.Kaitannya dengan masalah ini bisa kita bandingkan dengan firma Allah sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman , apabila datang kepadamu orang-orang fasik membawa suatu berita , maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu.(QS.Al-hujarat(49):6)

b. Baligh Yang di maksud dengan baligh , ialah perawinya cukup usia ketika ia meriwayatkan hadis , walau penerimanya sebelum baligh .Hal ini di dasarkan pada hadis Rosull:

Hilang kewajiban menjalankan syriat islam dari tiga golongan , yaitu orang gila,sampai ia sembuh, orang yang tidur sampai bangun dan anak-anak ia mimpi.(HR.Abudaud dan Nasai)

c. Adil Yang di maksud dengan adil adalah suatu sifat yang melekat pada jiwa seeorang yang menyebabkan orang yang mempunyai sifat tersebut, tetap taqwa, menjaga kepribadian dan percaya pada dirisendiri dengan kebenarannya, menjauhkan diri dari dosa besar dan sebagian dosa kecil, dan menjauhkan diri dari hal-hal yang mubah , tetapi tergolong kurang baik dan selalu menjaga kepribadian .

d. Dhabid

Teringat kembali perawis saat penerimaan dan pemahaman suatu hadis yang ia dengar dan hafal sejak waktu menerima dan menyampaikannya . Jalannya mengetahui ke-dhabi-an perawi dengan jalan Itibar terhadap beritaberitanya dengan berita-berita yang tsiqat dan memberikan keyakinan . Ada yang menyatakan , bahwa di samping syarat-syarat,sebagai mana di sebutkan di atas , antara satu perawi dengan perawi lan harus bersambung,hadis yang di sampaikan itu tidak syadz, tidak ganjil dan tidak bertentangan dengan hadis hadis yang lebih kuat ayt-ayat al-quran . Dari uraian di atas dapatlah di tarik kesimpulan bahwa altahamul dan al-ada merupakan masalah yang cukup berat, baik beraitan dengan cara bertahamul maupun syarat-syarat yang harus di penuhi dalam al- ada .

Abu Daud, Sunan Daud, juz 4( SURIYAH: Dar Hadis,1974)cet ke-1 hlm 559. Hadis nomor 4.4-2.(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada)

BAB III KESIMPULAN


Setelah di adakan penelitian , penulis menemukan bahwa metodologi penelitian sanad hadis haruslah terpenuh lima langkah: pertama, menentukan kesambungan sanad;kedua , menentukan kualitas pribadi periwayat;ketiga ,meneliti kualitas intelektual periwayat;keempat , sanad terhindar dari syaz;kelima,terhindar dari illat. Sementara langkah-langkah penelitian matan hadis menurut para ahli hadis terdiri dari enam langkah : pertama, sanad nya sahih;kedua ,tidak bertentangan dengan hadis mutawatir;ketiga, tidak bertentangan dengan petunjuk al-quran ; keempat, sejalan dengan alur dan akal sehat ;kelima,tidak bertentangan dengan sejarah ;dam ke enam ,susunan katanya mencerminkan cirri-ciri bahasa kenabian. Sebagai perwakilan dari tokoh kontenporer pengkaji hadis, dalam buku ini hanya di bahas dua tokoh, yaitu Yusuf Qardhawi dan Muhammad alghazali.Pemikiran Yusuf Qardawi tentang penentuan kesahihan hadis tidah jauh berbeda dengan criteria yang dikemukakan oleh para ahli hadis terdahulu , namun ia lebih menekankan pada pendekatan sejarah dan kajian bahasa .Sementara Muhammad al-ghazali , dalam melakukan penelitian hadis , ia hanya mengfokuskan pada kajian atan hadis .

DAFTAR PUSTAKA
Bustamin M.Isa H.A.Salam,Metodologi Kritik hadis /Bustamin (Jakarta :PT RajaGrafindo Persada 2004) Dr.H.Munzier Suparta M.A, Ilmu Hadis/Munizer Suparta( Jakarta;Rajawali Pers,2011) Al-Nukkatala Kitab Ibn Shalah,Pengertian Hadis( Bogo;Granda sarana) Maliki, Pembagian Hadis,( Semarang ,Taha Putra2002) Masyur Hakim dan Ubaidillsh,Urgensi penelitian Hadis(Bandung,1999)