Anda di halaman 1dari 10

PEREDUKSIAN MULTIPEL DATA SEISMIK OFFSHORE MENGGUNAKAN METODE RADON *Ahmad Mustoin, *Widya Utama DEA, **Wawan Satriawan,

***Nurudin Mahmud *Laboratorium Geofisika Fisika FMIPA ITS ** PT.Premier Oil Indonesia *** PT.Fairfield Indonesia Abstract Multipel merupakan fenomena perulangan refleksi akibat sinyal seismik yang teperangkap pada suatu lapisan yang cukup kontras. Data multipel terbentuk akibat adanya gelombang seismik yang tertangkap oleh receiver dan gelombang tersebut adalah gelombang yang tidak langsung berasal dari lapisan reflector target. Data multipel merupakan data pengganggu yang ada dalam data rekaman seismik. Akibatnya data multipel memberikan informasi yang salah tentang perlapisan batuan bawah permukaan dan tentunya data seismik yang mengandung data multipel akan menjadi data yang kurang tepat dalam pengolahan data seismik lebih lanjut, misalnya inversi maupun migrasi, yang pada akhirnya memperngaruhi kualitas interpretasi. Metode Radon merupakan salah-satu metode yang digunakan untuk mereduksi multipel data seismik. Dalam proses demultiple, metode ini merubah domain data seismik dari domain time-offset (waktu-jarak) menjadi domain tau-p (intercept time-ray parameter). Hal ini dilakukan karena pada domain tau-p suatu multipel akan mudah dibedakan terhadap data primernya, sehingga nantinya akan mudah juga dibuat suatu desain filter untuk menghilangkan multipel tersebuT. Lebih lanjut, data demultipel akan dikembalikan kembali ke dalam domain awal time-offset. Hasilmya menunjukkan adanya perbaikan kualitas data penampang sesimik yang bersih dari efek multipel. Kecepatan rms dari analisa velocity yang sebelumnya telah dilakukan, diperlukan untuk merubah domain data seismik. Keywords: offshore seismic, multiple; Radon Method; tau p domain 1. Pendahuluan Dalam akuisisi data di lepas pantai, multipel disebabkan oleh adanya gelombang yang terperangkap dalam lapisan air laut maupun

lapisan batuan. Pada eksplorasi lepas pantai, ketika proses pemantulan ke atas gelombang seismik, gelombang ini tidak hanya di tangkap oleh hidrophone, akan tetapi ada juga gelombang yang terlebih dahulu terpantulkan oleh batas muka air dan dasar laut serta terperangkap dalam lapisan batuan bawah permukaan, sehingga ketika gelombang ini ditangkap oleh hidrophone akan memberikan informasi waktu rambat gelombang yang lebih lama dari pada ketika gelombang tersebut langsung di tangkap oleh hidrophone (Daryn Voss, S. Hearn, 2003). Dari informasi waktu rambat gelombang yang lebih lama ini, ada efek yang ditimbulkan oleh seolah-olah lapisan baru, yang disebut multipel. Radon demultipel merupakan salah satu metode yang dikembangkan untuk meminimalisir multipel. Metode ini menerapkan prinsip merubah domain dari data seismik yang berupa time-offset (waktu jarak) kedalam domain tau - p ( p). Pada domain p, multiple event akan mudah dibedakan terhadap kejadian event primernya. Dengan demikian, melalui filter muting, multipel di data seismik dapat dihilangkan untuk memperoleh data seismik yang hanya berisi kejadian event primer. 2. Tinjauan Pustaka 2.1.Multipel Gelombang Seismik Multipel merupakan salah-satu bagian dari gangguan koheren (coherent noise). Ciri-ciri dari gangguan koheren adalah gangguan tersebut tidak dapat diprediksi ketika pengambilan data seismik di lapangan serta memiliki suatu keteraturan dalam keberadaan di data seismik. Multipel dapat dibagi menjadi dua jenis berdasarkan lama waktu penjalaran gelombang, yaitu short period multiple dan long period multiple. Short period multiple memiliki waktu tiba gelombang yang tidak terlalu jauh dari waktu tiba gelombang event primer, sehingga multipel dalam data seismik tergambarkan tidak jauh dari event primer. Long period multiple memiliki waktu tiba gelombang yang sangat besar dari pada waktu tiba gelombang primer, sehingga multipel jenis long period multiple akan tergambarkan jauh dari event primer. Pada pengambilan data seismik di lepas pantai, multipel timbul karena penerima (hidrophone)

menangkap gelombang seismik yang menjalar lebih lama dari pada semestinya. Setelah terpantulkan oleh reflektor utama, gelombang ini tidak langsung ditangkap oleh penerima, akan tetapi terlebih dahulu terperangkap oleh suatu lapisan dibawah permukaan. Hal ini diperlihatkan oleh gambar 1 yang merupakan kinematika dari suatu multipel. Multipel dapat katagorikan dalam beberapa jenis akibat proses pembentukannya. Pada gambar 1 diperlihatkan jenis-jenis multipel berdasarkan proses pembentukannya.

suatu multipel terkadang tergambar berulang setiap selang waktu tertentu. 2.2.Koreksi NMO

secara

Koreksi normal moveout (NMO) dilakukan untuk menghilangkan efek jarak (offset) pada data seismik, sehingga sumber peledak dan penerima (receiver) di bawa pada satu sumbu garis vertikal. Hal ini dilakukan karena pada pengambilan data seismik dilapangan digunakan satu buah sumber peledak dan beberapa penerima sampai pada jarak tertentu. Ketika peledak di aktifkan, maka penerima akan menangkap gelombang seismik dari sumber, yang telah dipantulkan oleh lapisan batuan bawah permukaan. Semakin jauh penerima, maka waktu penangkapan gelombang seismik akan semakin lama, sehingga event yang tergambarkan pada data seismik berupa bentuk hiperbola seperti yang ditunjukkan pada gambar 2 (a). Tentunya event yang tergambarkan dalam bentuk hiperbola ini tidak mewakili kondisi struktur sebenarnya, sehingga informasi waktu gelombang yang ditangkap oleh penerima, khususnya yang memiliki posisi jauh terhadap sumber perlu dilakukan koreksi NMO. Dengan koreksi NMO maka sumber dan penerima dibawa seakan-akan pada posisi yang sama, sehingga gelombang seismik dari sumber ke penerima bergerak dalam arah vertikal dan informasi yang dibawa oleh gelombang seismik akan merepresentasikan kondisi struktur yang sebenarnya. Gambar 3 merupakan suatu contoh lapisan batuan satu lapis. Suatu gelombang yang terpantulkan pada titik refleksi D, bergerak sari sumber (S) menuju penerima (G) menempuh waktu lintasan selama t(x). Dengan menggunakan teorema pitagoras, persamaan waktu tempuh gelombang ini dapat ditulis dalam fungsi jarak dapat ditulis seperti pada persamaan 1 x2 (1) t 2 ( x) t 2 (0) 2 v Dimana x adalah jarak antara posisi sumber dan penerima, v adalah kecepatan penjalaran gelombang pada medium di atas bidang pemantul, t(0) adalah two way time (twt) pada lintasan vertikal MD, M adalah proyeksi vertikal titik pantul D.

Gambar 1. Sketsa pembentukan multipel oleh gelombang seismik. (a). Multipel dasar laut dari orde pertama dan kedua, (b). Multipel permukaan bebas dari orde pertama dan kedua, (c). Peg-leg multipel dari orde pertama dan kedua, (d). Multipel dalam lapisan dari orde pertama dan kedua, (e). Multipel antar lapisan dari orde pertama dan kedua (O.Yilmaz, 2001). Untuk dapat mengidentifikasi keberadaan multipel dalam suatu data seismik, dapat dilihat dari parameter event seismik, seperti nilai kecepatan dan perulangannya. Untuk dapat melihat kedua parameter tersebut dapat digunakan beberapa tampilan domain seismik, seperti domain shot record gather, CDP gather, CMP stack gather. Suatu multipel akan memiliki kecepatan yang lebih kecil dibandingkan dengan event primer pada kedalaman waktu yang sama. Selain itu

Perbedaan antara twt pada jarak tertentu (t(x)) dengan twt pada jarak nol (t(0)) merupakan normal moveout. Dengan menggunakan persamaan 1 dan dengan menggunakan parameter x, t(x) serta t(0) yang sudah diketahui maka diperoleh : x2 (2) t ( x) t (0) 2 2v t 0 Dari persamaan 2 diketahui bahwa selisih waktu NMO (tNMO) dipengaruhi oleh kecepatan penjalaran gelombang seismik pada medium batuan. Dari persamaan 2 juga diketahui bahwa semakin besar jarak sumber-penerima, maka moveout semakin besar. Selain itu semakin besar kedalaman lapisan pada jarak sumber-penerima yang tetap, maka moveout semakin kecil.

sudah tepat. Koreksi NMO dilakukan semaksimal mungkin hingga diperoleh event reflektor yang lurus horisontal, sehingga apabila data hasil koreksi NMO dilakukan stack maka akan menghasilkan event dengan amplitudo yang saling menguatkan. 2.3.Parameter Sinar Gambar 2.8 merupakan penggambaran suatu berkas sinar yang melewati medium berlapis. Apabila setiap lapisan medium memiliki karakteristik densitas yang berbeda, maka kecepatan berkas sinar disetiap lapisan akan bernilai berbeda pula. Akan tetapi secara umum suatu sinar akan memiliki kecepatan gelombang yang lebih besar pada lapisan yang memiliki densitas yang lebih besar pula.

Gambar 2. Koreksi NMO pada suatu CMP gather, (a) Sebelum dilakukannya koreksi NMO, (b) Setelah dilakukannya koreksi NMO (Tricahyono, wahyu, 2000).

Gambar 4. Berkas sinar yang melewati beberapa lapisan medium tertentu (O.Yilmaz, 2001). Pada penjalaran berkas sinar seperti yang ditunjukkan pada gambar 4 berlaku hokum snellius, yaitu: sin n sin 1 sin 2 ....... kons tan p (3) v1 v2 vn Pada gambar 4 merupakan penggambaran suatu berkas sinar yang merambat pada suatu medium tertentu. Berkas sinar tersebut merambat dengan sudut terhadap sumbu vertikal dan dengan kecepatan sebesar v.

Gambar 3. Geometri penjalaran gelombang pada horisontal tunggal lapisan (Tricahyono, wahyu, 2000). Suatu gambaran data seismik sebelum dan sesudah dilakukannya koreksi NMO dapat dilihat pada gambar 2. Gambar tersebut merupakan data seismik pada CMP gather, gambar 2 (b) merupakan data sesudah dilakukannya koreksi NMO menggunakan kecepatan yang dianggap

Gambar 5. Geometri penjalaran berkas sinar pada suatu medium (O.Yilmaz, 2001).. Pada titik S1, A dan S2 membentuk segitiga sikusiku, sehingga pada segitiga tersebut berlaku teorema pitagoras dan dapat ditulis sebagai berikut : vt sin x Dari persamaan tersebut dapat diketahui jeda waktu suatu berkas sinar bergerak dari titik S1 ke titik A adalah sebagai berikut: x sin t v Apabila meninjau persamaan 3, maka persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut: (4) t px P merupakan konstanta dari penjalaran sinar, yang sering disebut juga sebagai parameter sinar. Nilai parameter sinar tersebut dipengaruhi oleh besarnya sudut datang sinar terhadap sumbu vertikal dan kecepatan sinar tersebut dalam merambat dalam medium. 2.4.Metode Radon Metode radon merupakan metode untuk mereduksi multipel dalam data seismik. Prinsip yang digunakan dalam metode ini adalah merubah domain data seismik menggunakan pendekatan moveout parabola. Dengan menggunakan pendekatan moveout parabola, domain waktujarak (t-x) dirubah menjadi domain tau-p (intercept time-parameter sinar). Hal ini dilakukan karena pada domain tau-p suatu multipel akan mudah dibedakan terhadap data primernya.

(a) (b) (c) Gambar 6. Pemetaan domain CMP gather (a) menjadi domain slant-stack (b) dan domain radon (c) (O.Yilmaz, 2001) Pada gambar 6 (a) merupakan data seismik dalam domain CMP gather. Data ini dapat ditransformasikan domainnya menjadi domain slant-stack (b) dan radon (c). Pada transformasi slant-stack melibatkan proses koreksi linear moveout,sedangkan pada transformasi radon menggunakan koreksi parabolik moveout. Secara matematis hubungan transformasi timeoffset menjadi slant-stack adalah sebagai berikut: (5) t px p adalah parameter sinar, t adalah two-way travel time, adalah two-way intercept time dan x adalah jarak sumber-penerima. Gambar 6 (c) merupakan domain radon. Untuk merubah domain data seiamik dari waktu-jarak (tx) menjadi domain tau-p, terlebih dahulu data seismik dilakukan koreksi NMO. Hal ini dilakukan untuk membawa posisi sumber dan penerima pada titik yang sama, sehingga suatu sinar dari gelombang seismik tergambarkan menjadi suatu sinar yang merambat secara vertikal. Indikasi bahwa sinar seismik bergerak secara vertikal adalah diperolehnya bentuk reflektor yang lurus horisontal, sehingga apabila kita meninjau persamaan 3, maka sinar tersebut akan memiliki nilai p sebesar nol. Hal ini karena sinar yang bergerak vertikal sejajar dengan sumbu vertikal, sehingga sudut nya adalah nol. Akan tetapi pada data yang telah dikoreksi NMO masih ada event yang berbentuk hiperbolik. Pada data yang berbentuk hiperbolik dapat dikatakan banwa event tersebut berasal dari suatu berkas

sinar yang mengalami penjalaran gelombang dengan geometri seperti pada gambar 3. Pada gambar 3 dapat dikatankan bahwa suatu sinar bergerak dengan sudut terhadap sumbu vertikal, sehingga penjalaran sinar tersebut dapat didekati dengan persamaan sebagai beriku : x2 t ( x) t (0) 2 2v t 0

kondisi yang diinginkan yaitu membentuk event horisontal lurus. Pada pelaksanaannya, koreksi NMO seismik refleksi tidak menggunakan moveout hiperbola, akan tetapi persamaan koreksi moveout hiperbola dimodifikasi mendekati persamaan parabola. Hal ini dilakukan karena koreksi moveout hiperbola bersifat rumit dalam penyelesaiannya, sehingga digunakan pendekatan parabola untuk mempermudah penyelesaian sehingga koreksi NMO pada event seismik refleksi lebih efisien. 3. Metodologi Proses demutipel dengan metode Radon dapat disajikan dalam bagan sederhana:
Masukan Radon (waktujarak) Forward NMO Correction Transformasi Domain Masukan Radon( p) Filter Muting Multipel Keluaran Radon ( p) Transformasi Domain Keluaran Radon (waktujarak) Inverse NMO Correction

t ( x) t (0) px 2 dan moveout adalah , maka pada persamaan parabola: moveout (6) p x2 moveout adalah selisih waktu seperti ditunjukkan pada tNMO pada gambar 2 dan x adalah jarak suatu titik reflektor (garis merah) terhadap titik x nol secara horisontal seperti pada gambar 2.
Dari persamaan 6 diketahui bahwa event yang berbentuk hiperbola memiliki nilai p tertentu. Dari perbedaan nilai p, maka dapat dilakukan pemisahaan antara event primer dengan multipe. 2.5.Jenis-Jenis Moveout Moveout juga dapat didefinisikan sebagai pergeseran waktu pada jarak sumber-penerima tertentu. Berdasarkan sifatnya moveout dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu : 1. 2. Moveout linier : p adalah 1/v dimana v berasal dari persamaan: moveout = x/v. Moveout parabola : nilai p berasal dari moveout=px2, dimana moveout adalah pada jarak x. Moveout hiperbola : p adalah 1/v , dimana v adalah kecepatan yang digunakan untuk perhitungan moveout pada waktu referensi untuk moveout hiperbolik tersebut.
2

Gambar 7. Alur pengolahan data pereduksian multiple. 4. Analisa Data dan Pembahasan 4.1.Input Radon Gambar 8 (a) merupakan data masukan sebelum dilakukan koreksi NMO dan pada gambar 8 (b) merupakan data masukan yang telah dikenai oleh koreksi NMO menggunakan kecepatan NMO. Pada gambar 8 (a) secara kasat mata masih sulit untuk dibedakan antara data primer dan multipel, akan tetapi setelah data masukan tersebut telah diberikan koreksi NMO, maka secara kasat mata sudah dapat dibedakan antara event primer dan multipel. Pada gambar 8 (b) terlihat bahwa data masih memiliki banyak multipel, hal dibuktikan dengan dengan terlihatnya banyaknya event yang berbentuk hiperbola. Event yang berbetuk

3.

Untuk melakukan koreksi NMO secara tepat maka harus digunakan koreksi NMO yang sesuai dengan bentuk event yang akan di koreksi. Event seismik refleksi yang tergambarkan pada data seismik memiliki bentuk hiperbola, tentunya kalau ingin melakukan koreksi NMO terhadap event ini harus menggunakan moveout hiperbola. Apabila seismik refleksi dikoreksi menggunakan koreksi moveout linear, maka tidak akan diperoleh

hiperbola tersebut dapat digunakan indikasi awal dari keberadaan multipel.

sebagai

pada kecepatan primer pada kedalaman yang sama. Pada gambar 8 (b) terlihat primer tidaklah tampak secara jelas karena terganggu oleh multipel yang melengkung ke bawah. Hal inilah yang kemudian akan dibenahi menggunakan metode radon. Hasil koreksi NMO menggunakan kecepatan NMO kemudian diterjemahkan kedalam data domain tau-p (-p), tau adalah waktu tiba gelombang seismik pada jarak sumber-penerima bernilai nol dan p adalah parameter sinar. Event primer yang telah dikenai koreksi NMO tentunya membentuk event yang lurus horisontal dan hal ini mengindikasikan bahwa data primer memiliki nilai p sebesar nol. Sedangkan multipel yang telah dikenai koreksi NMO masih berbentuk hiperbola melengkung, sehingga nilai p pada multipel tersebut tidak nol. Hasil transformasi domain waktu-jarak ke domain tau-p pada metode radon ini diperlihatkan pada gambar 9. Pada gambar 8 (b) memperlihatkan data seismik domain waktu-jarak (t-x) yang telah dilakukan koreksi NMO dan selanjutnya domain data tersebut ditransformasikan menjadi data dengan domain tau-p ( gambar 9). Hasil transformasi data dalam bentuk tau-p selanjutnya dibuat desain muting yang diperlihatkan pada gambar 9 juga. Garis warna merah merupakan garis bantu yang memperlihatkan p nol, sehingga data yang memiliki p nol merupakan data yang dianggap sebagai event primer dan data tersebut berada pada daerah di garis merah. Sedangkan data-data yang memiliki p jauh dari nilai nol di indikasikan sebagai multipel. Selain parameter besar-sempitnya desain, dalam proses metode radon juga di perlukan beberapa parameter lain yang juga dianggap penting, yaitu jarak maksimum (xmax), p paling positif, p paling negatif, frekwensi minimum dan frekwensi maksimum. xmax, p paling positif dan p paling negatif merupakan bentuk-bentuk parameter yang akan di bawa ke pemodelan data di domain tau-p. Sedangkan frekwensi minimum dan maksimum merupakan frekwensi event yang akan di transformasikan kedalam domain tau-p. Jadi apabila ada frekwensi masukan yang tidak ada diantara parameter frekwensi minimum dan

(a)

(b) Gambar 8. (a) data input sebelum koreksi NMO (b) data input setelah koreksi NMO. Koreksi NMO dengan menggunakan velocity RMS. 4.2.Pembuatan Desain Muting Multipel Proses awal dalam pelaksanaan motode radon adalah mentransformasi domain data masukan dari waktu-jarak (t-x) menjadi domain tau-p (-p) dan untuk mentransformasi domain data masukan tersebut diperlukan koreksi NMO. Koreksi NMO yang dilakukan pada tahapan radon ini menggunakan kecepatan NMO yang ditunjukkan seperti pada gambar 8 (b). Setelah dilakukan koreksi NMO maka event primer pada daerah dengan jarak sumber-penerima yang jauh akan terangkat dan event primer ini membentuk event horisontal lurus, sedangkan event multipel masih dalam kondisi melengkung kebawah. Hal ini terjadi karena kecepatan multipel lebih kecil dari

maksimum maka data input tersebut tidak akan tergambarkan dalam domain tau-p. Secara umum gambaran fisis ketiga parameter desain muting tersebut diperlihatkan pada gambar 9. Garis warna biru tebal pada gambar 9 merupakan batas desain muting. Daerah diantara kedua garis tebal warna biru adalah data event yang tetap di jaga, sedangkan data event diluar garis tebal warna biru adalah event yang akan dihilangkan. Pada pembuatan desain muting yang ditunjukkan dengan garis tebal warna biru memepertlihatkan bahwa desain yang dibuat memiliki taper dari 50 sampai 100, hal ini menunjukkan bahwa proses muting dilakukan secara halus (smooth). Parameter masukan lain yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah jarak maksimum (xmax), moveout maksimum (pmax), moveout minimum (pmin), frekwensi maksimum dan frekwensi minimum. pmax dan pmin merupakan jangkauan moveout yang akan di gambarkan pada data domain tau-p, sedangkan xmax adalah batasan keberadaan dari pmax dan pmin. Parameter xmax yang digunakan pada metode ini sebesar 3200m. Penentuan nilai parameter tersebut mengacu pada jarak maksimum sumberpenerima (panjang streamer). Jarak maksimum sumber-penerima di lapangan adalah 3000m, akan tetapi parameter masukan yang digunakan pada metode radon ini adalah 3200m. Hal ini dilakukan untuk memastikan semua event tergambarkan dalam domain tau-p. Nilai parameter pmax dan pmin yang digunakan untuk masukan adalah 2000ms dan -1500ms, nilai tersebut diperoleh dari analisa langsung pada gambar data seismik di domain CDP gather. pmax dan pmin yang digunakan untuk masukan merupakan nilai p maksimum dan p minimum data pada jangkauan jarak 0 sampai 3000m. Proses Pereduksian multipel pada kedalaman 0500ms dilakukan dengan hati-hati, hal ini diperlihatkan dengan desain muting yang lebih lebar (gambar 9). Pada kedalaman yang semakin besar, pereduksian multipel dilakukan semakin kuat, hal ini diperlihatkan dengan desain muting yang semakin sempit. Penguatan pereduksian multipel pada daerah yang semakin dalam dilakukan karena pada daerah tersebut memiliki perbedaan moveout event primer dan multipel

yang cukup besar, sehingga kepastian posisi primer dan multipel di domain tau-p semakin besar pula. Secara ideal data primer yang ditransformasikan ke domain tau-p akan memiliki p nol. Akan tetapi pada pembuatan desain muting multipel tidak di tepatkan di samping nilai p nol, melainkan data yang memiliki p disekitar nol tetap dijaga. Hal ini karena kecepatan RMS yang diperoleh dari proses analisa kecepatan tidaklah seratus persen benar, akan tetapi kecepatan tersebut adalah kecepatan pendekatan yang diusahakan mendekati nilai yang paling benar. Apabila kecepatan yang diperoleh dari proses analisa kecepatan yang kebenarannya masih belum 100 persen digunakan masukan pada metode radon, maka tidak akan diperoleh p primer tepat di nilai nol, melainkan masih mendekati nol. Dari kondisi inilah data yang nilai p mendekati nol tetap di jaga dan pembuatan desain muting tidaklah di tepatkan tepat di samping nilai p nol.

Gambar 9. Desain muting pada metode Radon. 4.3.Selisih Input-output Metode Radon Hasil pengaplikasian metode radon dapat dilihat pada gambar hasil (output) metode radon, seperti yang diperlihatkan pada gambar 10. Akan tetapi pada awal pembuatan desain muting multipel tidaklah selalu diperoleh hasil yang tepat, oleh karena itu pembuatan desain muting dilakukan secara coba-coba (try and error). Selain dengan melihat secara langsung gambar hasil radon, kualitas metode radon juga dapat dilihat pada data yang dibuang, yaitu data multipel. Data yang dibuang (multiple) dapat didefinisikan sebagai selisih (different) antara masukan dengan hasil metode radon. Dengan cara melihat data selisih tentunya kita juga dapat memastikan bahwa data

yang terbuang adalah data primer tetap di jaga. Pada gambar selisih dari proses dapat disebut pula multipel data seismik.

multipel dan data gambar 10 adalah metode radon atau yang tereduksi dari

dijadikan data dengan moveout menjauhi nilai nol. Unsur manusia sangatlah dominan pada metode radon, oleh karena itu diperlukan kehati-hatian yang ekstra pada metode ini dan pengalaman sangatlah berpengaruh. Pada gambar 11 diperlihatkan perbandingan energi event antara data masukan dan data hasil prosesing data seismik dalam domain semblance. Gambar 11(a) merupakan data masukan pada CDP 1020, sedangkan pada gambar 11(b) merupakan hasil metode radon pada CDP 1020. Untuk membuktikan perubahan kualitas data tidak dilakukan display pada semua CDP data seismik, akan tetapi hanya pada CDP tertentu. Hal ini karena secara umum semua data CDP mengalami perubahan kualitas yang sama, oleh karena itu sebagai bagian effisiensi hanya dilakukan display pada CDP tertentu dan pada tugas akhir ini dilakukan display pada CDP 1020. Event yang berada didalam lingkaran warna merah pada gambar 11(a) merupakan energi event yang dianggap sebagai multipel. pada gambar 11(b), terlihat bahwa event yang awalnya berada di dalam garis lingkaran warna merah telah hilang, hal ini mengindikasikan bahwa multipel telah tereduksi setelah proses radon. Pada gambar 11 (b) terlihat energi event hanya pada daerah kecepatan kecepatan NMO (garis warna kuning), hal ini tentunya searah dengan kecepatan NMO yang merupakan kecepatan dari event primer. Pada gambar tersebut juga terlihat bahwa event primer semakin terlihat, hal ini karena event primer yang sebelumnya tertutup oleh event multipel telah terlihat.

Gambar 10. Data difference metode Radon pada CDP 700, 860, 1020 dan 1180 (kiri ke kanan). 4.4.Output Metode Radon Setelah proses aplikasi desain muting multipel, maka domain data seismik yang berupa tau-p (-p) di transformasi kembali ke domain waktu-jarak (tx). Akan tetapi tidak semua event di dalam domain tau-p (-p) di transformasikan kembali ke domain waktu-jarak (t-x), melainkan hanya event yang berada di dalam desain muting saja yang di transformaikan (event diantara garis tebal warna biru). Dengan mentransformasi data yang berada di dalam desain muting maka secara tidak langsung juga dilakukan proses pereduksian multipel yang di dasarkan pada perbedaan moveout. Data diluar desain muting yang memiliki nilai moveout besar di hilangkan, sedangkan event yang berada didalam desain muting yang memiliki moveout kecil tetap di jaga keberadaannya. Nilai kecepatan merupakan salah satu unsur yang terpenting dalam metode radon. Apabila nilai kecepatan memiliki kualitas yang buruk, maka hasil transformasi domain waktu jarak menjadi tau-p akan memiliki kualitas yang buruk pula. Dengan buruknya kualitas transformasi domain maka event primer pada data tidak akan tergambarkan sebagai event dengan moveout nol, melainkan sebagai event dengan moveout jauh dari nol. Dari fenomena ini, maka akan memberikan konsekuensi data primer dapat

(a)

(b) Gambar 11. (a) dan (b). Perbandingan data sebelum dan sesudah proses radon dalam domain semblance di CDP 1020. Pada gambar 12 (a) merupakan masukan metode radon dalam domain CDP gather, sedangkan gambar 12 (b) merupakan hasil dari metode radon dalam domain CDP gather. Pada gambar keluaran perlihat bahwa banyak multipel yang teredusi, hal ini dibuktikan dengan banyaknya event yang berbentuk hiperbolik yang hilang dan hanya menyisakan event yang berbentuk horisontal lurus. Tanda lingkaran warna merah pada gamar 12 (a) merupakan petunjuk posisi multipel di data input setelah dilakukannya koreksi NMO. Pada gambar tersebut multipel diperlihatkan dalam bentuk event hiperbolik. Akan tetapi pada gambar 12 (b) event hiperbolik tersebut telah hilang. Hasil metode radon yang telah bersih dari multipel apabila dilakukan stack maka akan menghasilkan data yang amplitudonya semakin kuat, sehingga nantinya akan dihasilkan satu jejak seismik yang mewakili satu CDP yang baik pula.

(b) Gambar 12. Perbandingan data sebelum (a) dan sesudah (b) proses radon di CDP 700, 860, 1020 dan 1180 Gambar 13 merupakan penampang stack seismik sebelum dan sesudah proses radon. Untuk memudahkan analisa dari perubahan kualitas, maka data diberikan tanda kotak hitam pada daerah-daerah yang mengalami perubahan kualitas data. Pada gambar 13 (b) terlihat data hasil metode radon lebih bersih dari pada data masukan. Pada gambar tersebut, di daerah kotak hitam yaitu di antara CDP 750 sampai 1900 dan kedalaman 1000ms sampai 2600ms terlihat batas perlapisan batuan lebih jelas dari pada data sebelum dilakukannya metode radon seperti pada gambar 13 (a), hal ini karena multipel yang sebelumnya menutupi data primer telah hilang sehingga event primer lebih terlihat. Pada data hasil metode radon dalam domain stack gather terlihat lebih bersih. Multipel pada kondisi ini tentunya sudah mengalami proses reduksi, sehingga dapat dikatakan kualitas data seismik mengalami peningkatan.

(a) (a)

Pada gambar 13 (b), daerah CDP 1072 1402 dan kedalaman 1150ms terlihat adanya suatu lapisan reflektor yang lebih jelas setelah dilakukan metode radon. Sebelum dilakukan metode radon, lapisan tersebut terlihat agak kabur, sehingga batas perlapisan tidak terlihat jelas. Setelah dilakukan metode radon, multipel yang menutup event primer tereduksi dan reflector terlihat lebih jelas. Kondisi yang sama juga terlihat pada daerah CDP 1402 di kedalaman 2500ms sampai 2600ms. Pada daerah tersebut reflector terlihat lebih jelas setelah dilakukan metode radon.

multipel, akan tetapi resiko ikut tereduksinya data primer juga akan semakin besar. Sebaliknya, semakin lebar maka resiko event primer ikut tereduksi semakin kecil, akan tetapi multipel yang tereduksi semakin kecil pula. Ucapan Terimakasih Penelitian ini dibantu sepenuhnya oleh PT Fairfiled Indonesia yang menyediakan fasilitas komputasi dan modeling serta data seismik. Salah satu bentuk hasil penelitian ini adalah tugas akhir untuk mahasiswa Jurusan Fsika ITS. Daftar Pustaka Hargreaves Neil dan Cooper Nick,2001, HighResolution Radon Demultiple, ASEG 15th Geophysical Conference and Exhibition, Brisbane. Nurdin, MF, 2005, Analisa Kecepatan Dalam Domain TAU-P (Studi Kasus ; Lintasan Beta_ITS1), Surabaya: Jurusan Fisika FMIPA ITS Tricahyono, wahyu, 2000, Eliminasi Multipel Dengan Menggunakan Transformasi Radon Parabola, Surabaya: Jurusan Fisika FMIPA ITS Seismic Data Processing User Manual. Fairfield Inc. West, Ver B, 2002, Suppressing Peg-leg Multiples with Parabolic Radon Demultiple, EAGE 64th Conference and Exhibition, Florence. Yilmaz, 2001, Seismic Data Analysis Volume 1, Tulsa: Society of Exploration Geophysics.

(b) Gambar 13. (a).Penampang stack data seismik sebelum proses radon, (b).Penampang stack data seismik sesudah proses metode radon. 5. Kesimpulan Multipel pada data seismik banyak yang tereduksi, hal ini dibuktikan pada tampilan keluaran data dalam domain CDP gather seperti pada gambar 12 (b), stack gather seperti pada gambar 413 (b) di daerah CDP 742 sampai 1732 pada kedalaman 1100 ms sampai 3000 ms, serta pada domain spektrum analisa kecepatan seperti pada gambar 11 (b) dan (d). Rasio sinyal terhadap gangguan (signal to noise ration) data keluaran (output) lebih besar dari pada data masukan (input), hal ini karena nilai multipel dalam data seismik berkurang setelah dikenai metode radon. Semakin sempit desain muting multipel maka semakin besar pula kemampuan untuk mereduksi