Anda di halaman 1dari 16

KEPEMIMPINAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN KHUSUS WANITA

Tugas Semester 4 Mata Kuliah Management SDM Dosen Pembimbing : Al-Ustadz Dzakwan, MA

Oleh: IMA ANTASARY

PROGRAM STUDI S1 JURUSAN TARBIYAH FAKULTAS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MASJID SYUHADA YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Taala, karena atas berkat rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas untuk memenuhi mata kuliah Management SDM. Dalam penulisan karya tulis ini penulis membahas tentang Kepemimpinan Dalam Lembaga Pendidikan Khusus Wanita sesuai dengan tujuan instruksional khusus mata kuliah Management SDM, Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam Mahad Aly ICBB. Dengan menyelesaikan karya tulis ini, tidak jarang penulis menemui kesulitan. Namun penulis sudah berusaha sebaik mungkin untuk

menyelesaikannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang membaca yang sifatnya membangun untuk dijadikan bahan masukan guna penulisan yang akan datang sehingga menjadi lebih baik lagi. Semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. 2. 3. 4. Al Ustadz Dzakwan selaku dosen pembimbing kami Kedua orang tua yang telah memberikan dukungan serta doanya Suami tercinta Salman Suratno,S.Pd.I Teman-teman S1 Mahad Aly ICBB sebagai tempat untuk berdiskusi dan bertukar pikiran Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Yogyakarta,Desember 2013

Ima Antasary

DAFTAR ISI

Kata pengantar .. i Daftar Isi ... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang.. B. Tujuan .. C. Rumusan Masalah BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kepemimpinan ....... 2 B. Yang Harus Dimiliki Pemimpin. 2 C. Sebelas Rambu Bagi Pemimpin. 4 D. Kepemimpinan Dalam Lembaga Pendidikan Khusus Wanita ... E. Batasan Apabila Wanita Diberi Tangung Jawab Dalam Lembaga Pendidikan. BAB III PENUTUP Kesimpulan . DAFTAR PUSTAKA.. 11 9 6 1 1 1

13

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Berbekal pengetahuan tentang Islam yang tipis, tak sedikit kalangan yang dengan lancangnya menghakimi agama ini, untuk kemudian menelorkan kesimpulan-kesimpulan tak berdasar yang menyudutkan Islam. Salah satunya, Islam dianggap merendahkan wanita atau dalam ungkapan sekarang bias jender. Benarkah? Sudah kita maklumi keberadaan wanita dalam Islam demikian dimuliakan, terlalu banyak bukti yang menunjukkan kenyataan ini. Sampai-sampai ada satu surah dalam Al-Qur`anul Karim dinamakan surah An-Nisa`, artinya wanitawanita, karena hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita lebih banyak disebutkan dalam surah ini daripada dalam surah yang lain. (MahasinutTa`wil, 3/6) Maraknya lembaga pendidikan yang dikhususkan untuk kaum wanita, menjadi wacana tersendiri untuk melihat lebih jauh kemashlahatan yang diraih dalam kepemimpinan seorang wanita dalam lembaga tersebut.

B. Tujuan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas semester empat Mata Kuliah Management SDM, juga diharapkan mampu untuk memberikan kontribusi positif untuk kemajuan lembaga pendidikan khusus wanita dalam lingkup pondok pesantren. C. Rumusan Masalah 1. Pengertian Pemimpin 2. Yang harus dimiliki pemimpin 3. Sebelas rambu bagi seorang pemimpin 4. Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan khusus wanita

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemimpin Kepemimpnan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.1 Maka dengan demikian pemimpin dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki sifat kepemimpinan. B. Yang Harus Dimiliki Pemimpin2 Al-Mawardi rahimahullah dalam kitab al-Ahkm ash-Shulthaniyah

menyebutkan syarat-syarat seorang pemimpin, di antaranya: Pertama, adil dengan ketentuan-ketentuannya. Kedua, ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad dalam menetapkan permasalahan kontemporer dan hukum-hukum. Ketiga, sehat jasmani, berupa pendengaran, penglihatan dan lisan, agar ia dapat langsung menangani tugas kepemimpinan. Keempat, normal (tidak cacat), yang tidak menghalanginya untuk bergerak dan bereaksi. Kelima, bijak, yang bisa digunakan untuk mengurus rakyat dan mengatur kepentingan negara. Keenam, keberanian, yang bisa digunakan untuk melindungi wilayah dan memerangi musuh. Nilai lebih dalam hal kebijakan, kesabaran, keberanian, sehat jasmani dan rohani serta kecerdikan merupakan kriteria yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa memiliki kriteria itu, seorang pemimpin akan kesulitan dalam mengatur dan mengurus negara dan rakyatnya. Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menjelaskan, "Pemimpin haruslah seseorang yang mampu menjadi Qadhi (hakim) bagi rakyatnya (kaum muslimin). Haruslah seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada

http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/ diakses pada tanggal 24 November 2013. 2 http://almanhaj.or.id/content/2728/slash/0/pemimpin-ideal/ diakses pada tanal 24 November 2013 .

orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakatnya!" Ibnul-Muqaffa' dalam kitab al-Adabul-Kabir wa Adabush-Shaghir

menyebutkan pilar-pilar penting yang harus diketahui seorang pemimpin: "Tanggung jawab kepemimpinan merupakan sebuah bala` yang besar. Seorang pemimpin harus memiliki empat kriteria yang merupakan pilar dan rukun kepemimpinan. Di atas keempat kriteria inilah sebuah kepemimpinan akan tegak, (yaitu): tepat dalam memilih, keberanian dalam bertindak, pengawasan yang ketat, dan keberanian dalam menjalankan hukum". Lebih lanjut ia mengatakan: "Pemimpin tidak akan bisa berjalan tanpa menteri dan para pembantu. Dan para menteri tidak akan bermanfaat tanpa kasih sayang dan nasihat. Dan tidak ada kasih sayang tanpa akal yang bijaksana dan kehormatan diri". Dia menambahkan: "Para pemimipin hendaklah selalu mengawasi para bawahannya dan menanyakan keadaan mereka. Sehingga keadaan bawahan tidak ada yang tersamar baginya, yang baik maupun yang buruk. Setelah itu, janganlah ia membiarkan pegawai yang baik tanpa memberikan balasan, dan janganlah membiarkan pegawai yang nakal dan yang lemah tanpa memberikan hukuman ataupun tindakan atas kenakalan dan kelemahannya itu. Jika dibiarkan, maka pegawai yang baik akan bermalas-malasan dan pegawai yang nakal akan semakin berani. Jika demikian, kacaulah urusan dan rusaklah pekerjaan". Ath-Thurthusyi dalam Sirjul-Mulk mengatakan: "Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebagaian yang lain, pasti rusaklah bumi ini" [al-Baqarah/2:251]. Yakni, seandainya Allah tidak menegakkan pemimpin di muka bumi untuk menolak kesemena-menaan yang kuat terhadap yang lemah dan membela orang yang dizhalimi atas yang menzhalimi, niscaya hancurlah orang-orang yang lemah. Manusia akan saling memangsa. Segala urusan menjadi tidak akan teratur, dan hiduppun tidak akan tenang. Rusaklah kehidupan di atas muka bumi. Kemudian Allah menurunkan karunia kepada umat manusia dengan menegakkan

kepemimpinan. Allah l mengatakan, tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. -Qs. al-Baqarah/2 ayat 251- yaitu dengan mengadakan pemerintahan di muka bumi, sehingga kehidupan manusia menjadi aman. C. Sebelas Rambu Bagi Seorang Pemimpin3 Ketika seseorang dipercaya menjadi pemimpin ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar langkah-lankah yang ditempuhnya menuai keberhasilan bukan kecelakaan karena pada asalnya jabatan dan kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertangungjawabannya di hadapan Allah 1. Niat Ikhlas. Seorang pemimpin dalam memegang jabatannya itu harus diniatkan sematamata hanya untuk menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ia akan memperoleh yang dijanjikan Allah kepadanya, jika melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik. Karena setiap amal tergantung niat pelakunya, dan keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada niatnya dalam memegang kepemimpinan itu; apakah untuk memperkaya diri atau semata-mata Lillahi Ta'ala. 2. Pemimpin Harus Dari Kaum Laki-Laki. Seorang wanita tidak boleh diangkat menjadi pemimpin, baik untuk komunitas tertentu, skala kecil, apalagi untuk masyarakat yang lebih luas. 3. Tidak Meminta Jabatan. Secara syar'i, meminta jabatan adalah dilarang kecuali dalam kondisi tertentu. Seseorang yang menginginkan suatu jabatan dan berusaha dengan sungguh untuk mendapatkan jabatan atau kedudukan terhormat dalam pemerintahan, kemungkinan besar ia akan mengorbankan agamanya demi mencapai keinginannya itu. Dia pun rela melakukan apa saja, meskipun merupakan perbuatan maksiat demi mendapatkan atau untuk mempertahankan

kedudukan yang telah ia raih. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kita meminta jabatan
3

Diringkas dari http://almanhaj.or.id/content/2727/slash/0/sebelas-rambu-bagi-seorangpemimpin/ yan diakses pada tanggal 24 November 2013.

4. Berhukum dengan Hukum Allah. Ini merupakan kewajiban terbesar yang harus dilaksanakan oleh seorang pemimpin dan penguasa. Memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah merupakan tugas pokok yang harus dilaksanakan seorang pemimpin. Jika ternyata ia menyimpang dari hukum Allah, maka ia bukanlah orang yang pantas untuk mengemban jabatan itu. 5. Menjatuhkan Hukum Secara Adil Diantara Manusia. Ini juga termasuk kewajiban terbesar yang harus diemban oleh seorang penguasa 6. Siap Memenuhi Kebutuhan Rakyat dan Mendengar Keluhannya.

Seorang pemimpin harus membuka pintunya untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat, mendengarkan pengaduan orang-orang yang teraniaya dan keluhan mereka. 7. Memberi Nasihat Kepada Rakyatnya dan Tidak Mengkhianatinya. Seorang pemimpin harus selalu memberi nasihat yang baik kepada rakyatnya tentang segala perkara berkaitan dengan urusan dunia maupun agama. 8. Pemimpin Jangan Menerima Hadiah. Jika ada rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin, hampir bisa dipastikan, dibalik itu mereka ingin agar sang pemimpin dekat dengannya dan menyukai dirinya. Maka seorang pemimpin janganlah menerima hadiah-hadiah semacam ini. Demikian juga, semua orang yang bertugas melayani urusan kaum muslimin, ia tidak boleh menerima hadiah dan jangan ada sedikitpun yang disembunyikannya. Berapapun hadiah yang diterimanya, harus ia serahkan kepada pemerintah. Jangan ada sedikitpun yang dijadikan sebagai milik pribadi. 9. Seorang Pemimpin Harus Mengambil Penasihat dari Kalangan Orang-Orang Shlih. Seorang pemimpin harus mengambil penasihat dari kalangan orang-orang shlih yang mampu mengingatkannya saat ia lupa, dan membantunya saat teringat, selalu mengawasinya agar bersikap baik dan berlaku adil, memberinya nasihat dan pengarahan, serta mendorongnya untuk berbuat baik dan menjaga ketakwaan. Dengan cara ini, maka semua urusan pasti lurus.

Adapun penasihat yang buruk, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan darinya. Karena mereka tidak dapat membantu untuk berbuat kebajikan, bahkan akan membantu setan untuk menggelincirkan si pemimpin. 10. Seorang Pemimpin Harus Bersikap Ramah Terhadap Rakyat.

Sebagaimana dikatakan para ulama salaf, seorang pemimpin harus bersikap sebagai anak terhadap orang-orang tua, sebagai saudara untuk yang sebaya, dan sebagai orang tua terhadap anak-anak. Ia harus bersikap lembut, ramah serta menyayangi mereka, dan tidak membebaninya dengan urusan yang tidak mereka sanggupi. 11. Jujur Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum

Muslimin. Dalam hal ini, seorang pemimpin harus membantu ahli sunnah serta membasmi ahli bid'ah dan pelaku kerusakan, mengibarkan panji amr ma'ruf nahi mungkar serta panji-panji jihad fi sabilillah, berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan, agama, harta kaum muslimin dan lainlain. Ia juga harus mengevaluasi kinerja para pejabat dan pegawainya secara kontinyu, memperhatikan cara mereka menjalankan tugas, dan sikap mereka terhadap rakyat. Ia juga harus memilih jalan terbaik dalam menyelesaikan semua problem masyarakat. Para bawahan juga diharuskan memberi laporanlaporan secara jujur dan rinci mengenai tugas yang telah dilakukan. Sesungguhnya ia akan mempertangungjawabkan semua tugas dan

kewajibannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

D. Kepemimpinan Dalam Lembaga Pendidikan Khusus Wanita Fakta di lapangan ditemui banyak lembaga khusus perempuan untuk pemberdayaan masyarakat terutama di kalangan wanita. Terlebih untuk lembaga pendidikan yang khusus dan lebih banyak ditangani oleh wanita. Dari sebelas rambu yang telah diuraikan pada poin ke dua diberikan ramburambu yang jelas bahwa pemimpin harus dari kaum laki-Laki. Seorang wanita tidak boleh diangkat menjadi pemimpin, baik untuk komunitas tertentu, skala kecil, apalagi untuk masyarakat yang lebih luas.

Tentunya rambu tersebut bukan hanya wacana tapi lebih kepada sebab-sebab syarI yang mendasarinya. Berikut beberapa sebab bahwa pemimpin harus dari kalangan laki-laki:4 1. Pemimpin wanita pasti merugikan Abu Bakrah berkata, Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu alaihi wa sallam lantas bersabda, Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita. (HR. Bukhari no. 4425) 2. Wanita kurang akal dan agama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita. (HR. Bukhari no. 304) Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kurang akalnya adalah dari sisi penjagaan dirinya dan persaksian tidak bisa sendirian, harus bersama wanita lainnya. Inilah kekurangannya, seringkali wanita itu lupa. Akhirnya dia pun sering menambah-nambah dan mengurang-ngurangi dalam persaksiannya Yang dimaksud dengan kurangnya agama adalah ketika wanita tersebut dalam kondisi haidh dan nifas, dia pun meninggalkan shalat dan puasa, juga dia tidak mengqodho shalatnya. Inilah yang dimaksud kurang agamanya. 3. Wanita ketika shalat berjamaah menduduki shaf paling belakang. 4. Wanita tidak dapat menikahkan dirinya sendiri, tetapi harus dengan wali.

http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/alasan-wanita-tidak-pantas-jadi-pemimpin-949 diakses pada tanggal 27 November 2013.

5. Wanita menurut tabiatnya cenderung pada kerusakan 6. Wanita mengalami haidh, hamil, melahirkan, dan menyusui 7. Wanita mudah putus asa dan tidak sabar Kita telah menyaksikan pada saat kematian dan datangnya musibah, seringnya para wanita melakukan perbuatan yang terlarang dan melampaui batas seperti menampar pipi, memecah barang-barang, dan membanting badan. Padahal seorang pemimpin haruslah memiliki sifat sabar dan tabah.

Al Baghowiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah (10/77) pada Bab Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin: Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim haruslah bisa menyelesaikan sengketa. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak diperkenankan berhias (apabila keluar rumah). Wanita itu lemah, tidak mampu menyelesaikan setiap urusan karena mereka kurang (akal dan agamanya). Kepemimpinan dan masalah memutuskan suatu perkara adalah tanggung jawab yang begitu urgent. Oleh karena itu yang menyelesaikannya adalah orang yang tidak memiliki kekurangan (seperti wanita) yaitu kaum pria-lah yang pantas menyelesaikannya.5 Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, Masing-masing wajib mengimani dan menerima bahwa harus ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, baik dari segi lahir dan batin, menurut tinjauan syariat Islam. Masing-masing harus ridho dengan taqdir Alloh dan syariat Islam. Perbedaan ini adalah semata-mata menuju keadilan, dengan perbedaan ini kehidupan bermasyarakat menjadi teratur. Tidak boleh masing-masing berharap memiliki kekhususan yang lain, sebab akan mengundang kemarahan Allah, karena masing-masing tidak menerima ketentuan Allah dan tidak ridho dengan hukum dan syariat-Nya. Seorang hamba hendaknya memohon karunia kepada Rabbnya. Inilah adab syariat Islam untuk menghilangkan kedengkian dan agar orang mukmin ridha dengan pemberian Allah. Oleh karena itu, Allah berfirman di dalam surat An Nisaa ayat 32 yang maksudnya adalah kita dilarang iri dengan kedudukan orang lain. Selanjutnya, jika hanya berharap ingin meraih sifat lain jenis dilarang di dalam Al Quran, maka bagaimana apabila mengingkari syariat Islam yang membedakan antara laki-laki dan wanita, menyeru manusia untuk menghapusnya, dan menuntut
5

ibid

supaya ada kesamaan antara laki-laki dan wanita, yang sering disebut dengan istilah emansipasi wanita. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah teori sekuler, karena menentang taqdir Allah . (Hirosatul Fadhilah)6 Ketika jelas rambu ini, lalu dimanakah letak kepemimpinan wanita? Wanita hanya diperbolehkan menjadi pemimpin di rumahnya, itu pun di bawah pengawasan suaminya, atau orang yang sederajat dengannya. Ketika itu berhubungan dengan lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi wanita, maka wanita tidak diberikan kedudukan tertinggi dalam lembaga tersebut. Dalam artian sebagai pemegang otoritas lembaga dan pengambil keputusan tetap harus diberikan pada kaum laki-laki karena beberapa sebab yang telah disebutkan di atas. Dimana ketika berhubungan dengan sebuah lembaga pendidikan, maka terdapat aktivitas dan kegiatan yang berhubungan dengan pemerintah dan masyarakat yang tentu saja hal tersebut dilakukan oleh pemimpin sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Semisal mengambil keputusan, kegiatan diklat dan juga seminar-seminar atau kegiatan lainnya yang menyita waktu tentunya dan terkadang harus menempuh perjalanan untuk menghadiri undangan dari kegiatan dan program-program pemerintah. Maka pemimpinlah yang melakukan dan memenuhi undangan-undangan tersebut. Seorang wanita sangat dimuliakan dan dijaga dari hal-hal yang bias memadharatkan dirinya, maka untuk tuas besar dan penting seperti di atas sepantasnya untuk dilakukan oleh seorang laki-laki sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Imam Al Baghowiy.

E. Batasan Apabila Wanita Diberi Tangung Jawab Dalam Lembaga Pendidikan7 Jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja atau untuk melaksanakan suatu amanah diluar rumahnya, maka hal-hal berikut yang mesti diperhatikan:

Mendapatkan izin dari walinya Wali adalah kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyah (garis

6 7

ibid http://muslimah.or.id/keluarga/perempuan-bekerja-boleh-saja-asal.html diakses pada tanggal 18 Desember 2013.

keturunan, seperti dalam An Nuur:31), sisi sababiyah (tali pernikahan, yaitu suami), sisi ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya), dan sisi pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim). Jika wanita tersebut sudah menikah, maka harus mendapat izin dari suaminya.

Berpakaian secara syari Syarat pakaian syari yaitu menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan, -ed), tebal dan tidak transparan, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok (yang menggoda), dan tidak memakai wewangian.

Aman dari fitnah Yang dimaksud aman dari fitnah adalah wanita tersebut sejak menginjakkan kaki keluar rumah sampai kembali lagi ke rumah, mereka terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya.Untuk menjaga hal-hal tersebut, Islam memerintahkan wanita yang keluar rumah untuk menghindari khalwat (berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya), ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir), menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan sewajarnya, tidak berlenggak-lenggok).

Adanya mahram ketika melakukan safar Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya. [HR. Bukhari dalan Shahihnya (no. 1862), Kitab Jazaa-ush Shaid, Bab Hajjun Nisaa; Muslim (no. 1341), Kitab al-Hajj, Bab Safarul Mar-ah maa Mahramin ilal hajji wa Ghairihi, dari Ibnu Abbas]

10

BAB III PENUTUP

Kesimpulan 1. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok. 2. Yang harus dimiliki oleh pemimpin diantaranya yang harus berperan dominan: a. adil dengan ketentuan-ketentuannya. b. ilmu yang bisa mengantar kepada ijtihad c. sehat jasmani, normal (tidak cacat) d. bijak, e. keberanian dalam bertindak dan menjalankan hukum f. kecerdikan g. tepat dalam memilih h. pengawasan yang ketat. 3. Rambu-rambu bagi seorang pemimpin a. Niat ikhlas. b. Pemimpin harus dari kaum laki-laki. c. Tidak meminta jabatan d. Berhukum dengan hukum allah e. Menjatuhkan hukum secara adil diantara manusia. f. Siap memenuhi kebutuhan rakyat dan mendengar keluhannya. g. Memberi nasihat kepada rakyatnya dan tidak mengkhianatinya. h. Pemimpin jangan menerima hadiah. i. Seorang pemimpin harus mengambil penasihat dari kalangan orang-orang shlih. j. Seorang pemimpin harus bersikap ramah terhadap rakyat. k. Jujur Menjalankan Semua Urusan yang Berkaitan dengan Kaum Muslimin

11

4. Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan khusus wanita Dari sebelas rambu yang telah diuraikan pada poin ke dua diberikan ramburambu yang jelas bahwa pemimpin harus dari kaum laki-Laki. Seorang

wanita tidak boleh diangkat menjadi pemimpin, baik untuk komunitas tertentu, skala kecil, apalagi untuk masyarakat yang lebih luas. Tentunya rambu tersebut bukan hanya wacana tapi lebih kepada sebab-sebab syarI yang mendasarinya. Ketika jelas rambu ini, lalu dimanakah letak kepemimpinan wanita?
Wanita hanya diperbolehkan menjadi pemimpin di rumahnya, itu pun di bawah pengawasan suaminya, atau orang yang sederajat dengannya. Ketika itu berhubungan dengan lembaga pendidikan yang dikhususkan bagi wanita, maka wanita tidak diberikan kedudukan tertinggi dalam lembaga tersebut. Dalam artian sebagai pemegang otoritas lembaga dan pengambil keputusan tetap harus diberikan pada kaum laki-laki karena beberapa sebab yang telah disebutkan di atas.

5. Jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja atau untuk melaksanakan suatu amanah diluar rumahnya, maka hal-hal berikut yang mesti diperhatikan: Mendapatkan izin dari walinya Berpakaian secara syari Aman dari fitnah Adanya mahram ketika melakukan safar.

12

DAFTAR PUSTAKA

1. http://almanhaj.or.id/content/2727/slash/0/sebelas-rambu-bagi-seorang-pemimpin/ yang diakses pada tanggal 24 November 2013.. 2. http://almanhaj.or.id/content/2728/slash/0/pemimpin-ideal/ diakses pada tanggal 24 November 2013 3. http://belajarpsikologi.com/pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli/ diakses pada tanggal 24 November 2013. 4. http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/alasan-wanita-tidak-pantas-jadi-pemimpin949 diakses pada tanggal 27 November 2013. 5. http://muslimah.or.id/keluarga/perempuan-bekerja-boleh-saja-asal.html Pada Tanggal 18 Desember 2013. Diakses

13