Anda di halaman 1dari 2

Jamu Prabayar I

Suatu malam, seorang penjual jamu yang telah lima tahun menjanda karena ditinggal mati suaminya didatangi oleh anak perempuannya yang sulung. Anak ini menyampaikan bahwa besok adalah hari terakhir pembayaran uang bangunan dan SPP. Jika sampai besok tunggakan uang bangunan dan uang sekolah tidak dilunasi, dia akan dikeluarkan dari sekolah. Ibu penjual jamu ini terkejut mendengarnya. Sesaat, seolahdunia menjadi gelap. Dia kebingungan dan tak tahu harus berbuat apa. Ketika keterkejutan mulai mereda, dia diempaskan lagi oleh gelombang kekagetan berikutnya ketika si anak menyebutkan sejumlah angka sebagai total tunggakannya. Napas sang Ibu segera saja menderu, keringat dingin mulai meleleh di keningnya, tangannya gemetar, dan suaranya menjadi lirih terputus putus. !ang dapat dia u"apkan hanya mengulang nilai uang yang sudah disebutkan anaknya. #anpa bisa memberikan janji muluk muluk kepada anak nya, wanita penjual jamu itu beranjak ke tempat tidur untuk beristirahat sejenak. Akan tetapi, alih alih dapat tidurdengan nyenyak, semakin dia men"oba memejamkan mata, semakin gelisah pula dia dibuatnya. Ketika matanya rapat menutup, silih berganti bayangan yang menakutkan dan lintasan kejadian pada masa depan yang suram tergambar di benaknya bak sebuah $ilm horor yang terus menerus menghantui. Dia pun berusaha menenangkan diri dengan membetulkan posisi tubuhnya dan berkali kali dia menarik napas dalam dan mengembuskannya panjang panjang. Sedikit demi sedikit otak nya mulai dapat diajak berpikir. %alangnya, setiap kali otaknya mengalkulasi, setiap kali itu pula dia merasa kepalanya dibenturkan ke sebuah dinding baja. Dengan segala ma"am tunggakan, utang di warung sebelah, bahan baku jamu yang belum terbayar semuanya, keter"ukupan kebutuhan pangan hanya untuk sehari saja, dan beban harus membayar uang sekolah anaknya seolah melengkapi seluruh penderitaannya. &ampir semalaman, dia takdapat memi"ingkan matanya, kasur yang tipis terasa semakin tipis. Kamar yang pengap kini terasa semakin membekap. %emang, dunia tak pernah memberikan ampun kepada mereka mereka yang kalah. Sepertiga malam yang penghujung pun terlalui. 'asa letih pun pada akhirnya mengalahkan semuanya. Setelah gelombang kekalutannya beranjak surut, akhirnya dia sampai pada sebuah kesadaran bahwa kepasrahan adalah satu satunya jalan untuk meringankan beban perasaan.