Anda di halaman 1dari 26

Resume Sedimentologi dan Stratigrafi Sedimen Klastik Terrigenous

Dosen Pengampu : Bapak Adi Susilo, Ph.D.

Oleh : Bella Dinna Safitri 115090700111002

Jurusan Fisika Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya Malang 2013

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang Sedimen dan batuasn sedimen klastik terrigenous tersusun dari fragmen yang dihasilkan dari proses pelapukan dan erosi batuan sebelumnya. Hal ini diklasifikasikan berdasarkan ukuran klastik yang ada dan komposisi material. Analisis gravel dan konglomerat dapat dilakukan di lapangan dan dapat menunjukkan dari mana material itu berasal dan bagaimana cara transportasinya. Pasir dan batupasir dapat juga dideskripsikan di lapangan berdasarkan jenis mineral penyusun. Sedimen berbutir paling halus, lanau dan clay, dapat dianalisis secara penuh menggunakan scanning electron microscopes dan X-ray diffractometers. Proporsi ukuran klastik yang berbeda dan tekstur dari sedimen dan batuan sedimen klastik terrigenous dapat menyediakan informasi mengenai sejarah transportasi dari material dan lingkungan pengendapan. 1.2 Tujuan Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memahami lebih detail mengenai batuan sedimen, terutama sedimen klastik terrigenous. 1.3 Manfaat Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat mempermudah pembaca dalam memahami perbedaan tiap jenis batuan sedimen, terutama batuan sedimen klastik terrigenous.

Bab II Pembahasan
2.1 Definisi Batuan Sedimen Batuan sedimen atau sering disebut sedimentary rocks (gambar 2.1) adalah batuan yang terbentuk dari aktivitas kimia dan mekanik yaitu material asal yang mengalami proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan terendapkan (sedimen) selanjutnya mengalami proses pembatuan (lithification) dari endapan-endapan tersebut. Menurut Tucker (1991), 70% batuan di permukaan bumi berupa batuan sedimen, tetapi batuan itu hanya 2% dari volume seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis. Beberapa ahli memberikan pengertian batuan sedimen yang berbeda, seperti: 1. Pettijohn, 1995 Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sedah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi kemudian mengalami pembatuan. 2. Hutton, 1875 (dalam Sanders, 1981) Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh perubahan menjadi batuan oleh sedimen dan sedimen tersebut terbentuk oleh pecahan batuan sebelumnya. 3. ODunn & Sill, 1986 Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah longsor. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat, silika, garam dan material lain).

Gambar 2.1 Contoh-Contoh Batuan Sedimen

2.2 Proses Pembentukan Batuan Sedimen Pembentukan batuan sedimen diawali dengan adanya proses pelapukan, transportasi, deposisi dan kemudian mengalami proses diagenesis yang meliputi kompaksi, sementasi, rekristalisasi, autigenesis, dan metasomatis.

2.2.1.1 Pelapukan (Weathering) Pelapukan (gambar 2.2) adalah proses disintegrasi dan dekomposisi material atau batuan (batuan beku maupun batuan metamorf). Pelapukan dapat juga diartikan sebagai proses alterasi dan fragsinasi batuan dan material tanah pada dan/atau dekat permukaan bumi yang disebabkan karena proses fisik, kimia dan/atau biologi. Hasil dari pelapukan ini merupakan asal (source) dari batuan sedimen dan tanah. Proses pelapukan akan menghacurkan batuan atau bahkan melarutkan sebagian dari mineral untuk kemudian menjadi tanah kemudian diangkut dan diendapkan sebagai batuan sedimen klastik. Sebagian dari mineral mungkin larut secara menyeluruh dan membentuk mineral baru. Inilah sebabnya dalam studi tanah atau batuan klastika mempunyai komposisi yang sangat berbeda dengan batuan asalnya. Komposisi tanah tidak hanya tergantung pada batuan induk, tetapi juga dipengaruhi oleh alam, intensitas, dan lama pelapukan serta proses jenis pembentukan tanah itu sendiri (Boggs, 1995). Pelapukan disebabkan oleh: 1. Pelapukan Secara Fisika Perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi. 2. Pelapukan Secara Kimia Pelapukan kimia membuat komposisi kimia dan mineralogi suatu batuan dapat berubah. Mineral dalam batuan yang dirusak oleh air kemudian bereaksi dengan udara (O2 ataupun CO2), menyebabkan sebagian dari mineral itu menjadi larutan. Selain itu, bagian unsur mineral yang lain dapat bergabung dengan unsur setempat membentuk kristal mineral baru.

Kecepatan pelapukan kimia tergantung dari iklim, komposisi mineral dan ukuran butir dari batuan yang mengalami pelapukan. Pelapukan akan berjalan cepat pada daerah yang lembab atau panas dari pada di daerah kering atau sangat dingin. Pelapukan secara kimia dapat disebabkan oleh : a. Hidrolisis, adalah reaksi antara mineral silikat dan asam (larutan mengandung ion (H+) dimana memungkinkan pelarut mineral silikat dan membebaskan kation logam dan silika. Mineral lempung seperti kaolin, ilit dan smektit besar kemungkinan hasil dari proses pelapukan kimia jenis ini

(Boggs, 1995). Pelapukan jenis ini memegang peran terpenting dalam pelapukan kimia. b. Hidrasi, adalah proses penambahan air pada suatu mineral sehingga membentuk mineral baru. Lawan dari hidrasi adalah dehidrasi, dimana mineral kehilangan air sehingga berbentuk anhydrous. Proses terakhir ini sangat jarang terjadi pada pelapukan, karena pada proses pelapukan selalu ada air. Contoh yang umum dari proses ini adalah penambahan air pada mineral hematit sehingga membentuk gutit. c. Oksidasi, berlangsung pada besi atau mangan yang pada umumnya terbentuk pada mineral silikat seperti biotit dan piroksen. Elemen lain yang mudah teroksidasi pada proses pelapukan adalah sulfur, contohnya pada pirit (Fe2S). d. Reduksi, terjadi dimana kebutuhan oksigen (umumnya oleh jasad hidup) lebih banyak dari pada oksigen yang tersedia. Kondisi seperti ini membuat besi menambah elektron dari Fe3+ menjadi Fe2+ yang lebih mudah larut sehingga lebih mobil, sedangkan Fe3+ mungkin hilang pada sistem pelapukan dalam pelarutan. e. Pelarutan mineral yang mudah larut seperti kalsit, dolomit dan gipsum oleh air hujan selama pelapukan akan cenderung terbentuk komposisi yang baru. f. Pergantian ion adalah proses dalam pelapukan dimana ion dalam larutan seperti pergantian Na oleh Ca. Umumnya terjadi pada mineral lempung. 3. Pelapukan Secara Biologis Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisika dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahanrekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.

Gambar 2.2 Skema Proses Pelapukan Batuan

2.2.1.2 Transportasi (Transportation) Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Inilah yang disebut dengan proses transportasi. Transportasi dapat terjadi melalui media air, udara, es, ataupun oleh pengaruh gravitasi. 1. Akibat Air Air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada transportasi partikel oleh air, partikel dan air akan bergerak secara bersama-sama. Sifat fisik fluida yang berpengaruh terutama adalah densitas dan viskositas atau kekentalan. Transportasi partikel di dalam air sejauh ini merupakan mekanisme transportasi yang paling signifikan. Air mengalir di permukaan lahan di dalam channel dan sebagai aliran permukaan (overland flow). Arus-arus di laut digerakkan oleh angin, tidal dan sirkulasi samudra. Aliran-aliran ini mungkin cukup kuat untuk membawa material kasar di sepanjang dasarnya dan material yang lebih halus dalam suspensi. Material dapat terbawa di dalam air sejauh ratusan atau ribuan kilometer sebelum terendapkan sebagai sedimen. 2. Akibat Udara Selain air, anginpun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun. Kapasitas angin untuk mentransportasikan material dibatasi oleh densitas rendah dari udara.

Mekanisme pengangkutan sedimen oleh air dan angin sangatlah berbeda. Pertama, karena berat jenis angin relatif lebih kecil dari air maka angin sangat susah mengangkut sedimen yang ukurannya sangat besar. Besar maksimum dari ukuran sedimen yang mampu terangkut oleh angin umumnya sebesar ukuran pasir. Kedua, karena sistem yang ada pada angin bukanlah sistem yang terbatasi (confined) seperti layaknya channel atau sungai maka sedimen cenderung tersebar di daerah yang sangat luas bahkan sampai menuju atmosfer. 3. Akibat Es Air dan udara adalah media fluida yang jelas, tapi kita juga dapat mempertimbangkan es sebagai media fluida karena selama periode yang panjang es bergerak melintasi permukaan bumi, meskipun sangat lambat. Es adalah fluida berviskositas tinggi yang mampu mentransportasikan sejumlah besar debris klastik. Pergerakan detritus oleh es penting pada daerah didalam dan disekitar tudung es kutub dan daerah pegunungan dengan gletser semipermanen atau permanen. Volume material yang digerakkan es sangat besar ketika meluasnya es (glaciation). 4. Akibat Gravitasi (Sediment Gravity Flow) Pada transportasi ini partikel sedimen tertranspor langsung oleh pengaruh grafitasi, disini material akan bergerak lebih dulu kemudian medianya. Yang termasuk dalam sistem sedimen gravity flow antara lain adalah debris flow, grain flow dan arus turbid. Karena pengaruh gravitasi bumi tersebut maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah. Sedimen yang di angkut oleh media di atas dapat diangkut dengan cara sebagai berikut: 1. Suspension, umumnya terjadi pada sedimen-sedimen yang sangat kecil ukurannya (seperti lempung) sehingga mampu diangkut oleh aliran air atau angin yang ada. 2. Bed load, terjadi pada sedimen yang relatif lebih besar (seperti pasir, kerikil, kerakal, dan bongkah) sehingga gaya yang ada pada aliran yang bergerak dapat berfungsi memindahkan pertikel-partikel yang besar di dasar. Pergerakan dari butiran pasir dimulai pada saat kekuatan gaya aliran melebihi kekuatan inertia butiran pasir tersebut pada saat diam. Gerakan-gerakan sedimen tersebut bisa menggelundung, menggeser, atau bahkan bisa mendorong sedimen yang satu dengan lainnya.

3. Saltation, yang dalam bahasa latin artinya meloncat, umumnya terjadi pada sedimen berukuran pasir dimana aliran fluida yang ada mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya grafitasi yang ada mampu mengembalikan sedimen pasir tersebut ke dasar. 2.2.1.3 Pengendapan (Deposition) Pecahan-pecahan batuan tidak dapat tertransportasikan selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibatnya, pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini. Deposisi sedimen oleh gravity flow akan menghasilkan produk yang berbeda dengan deposisi sedimen oleh fluida flow karena pada gravity flow transportasi dan deposisi terjadi sangat cepat sekali akibat gravitasi. 2.2.1.4 Litifikasi (Lithification) Litifikasi adalah proses perubahan material sediment menjadi batuan sediment yang kompak. Misalnya, pasir mengalami litifikasi menjadi batupasir. 2.2.1.5 Diagenesis Seluruh proses yang menyebabkan perubahan pada sedimen selama terpendam dan terlitifikasi disebut sebagai diagenesis. Diagenesis terjadi pada temperatur dan tekanan yang lebih tinggi daripada kondisi selama proses pelapukan, namun lebih rendah daripada proses metamorfisme. Proses diagenesis dapat dibedakan menjadi tiga macam berdasarkan proses yang mengontrolnya, yaitu proses fisik, kimia, dan biologi. Proses diagenesis sangat berperan dalam menentukan bentuk dan karakter akhir batuan sedimen yang dihasilkannya. Proses diagenesis akan menyebabkan perubahan material sedimen. Perubahan yang terjadi adalah perubahan fisik, mineralogi dan kimia. Proses diagenesis dapat terjadi pada suhu 300oC dan tekanan atmosferik 12 kilobar, berlangsung mulai sedimen mengalami penguburan hingga terangkat dan tersingkap kembali di permukaan. Berdasarkan hal tersebut, ada 3 macam diagenesis yaitu : 1. 2. Diagenesis eogenik, yaitu diagenesis awal pada sedimen di bawah muka air. Diagenesis mesogenik, yaitu diagenesis pada waktu sedimen mengalami penguburan semakin dalam.

3.

Diagenesis telogenik, yaitu diagenesis pada saat batuan sedimen tersingkap kembali di permukaan oleh karena pengangkatan dan erosi. Proses diagenesis terdiri dari 4 tahapan, yaitu :

1. Kompaksi (gambar 2.3 dan 2.4) adalah proses termampatnya butiran sedimen yang satu terhadap sedimen yang lain. Pada waktu material sedimen diendapkan terus menerus pada suatu cekungan, berat endapan yang berada di atas akan membebani endapan yang berada di bawahnya. Akibatnya butiran sedimen akan semakin rapat, dan rongga antara butiran akan semakin kecil. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Sebagai contoh lempung yang tertimbun dibawah material sedimen lain beberapa ribu meter tablanya, volume dari lempung tersebut akan mengalami penyusutan sebanyak 40%. Karena pasir dan sedimen lain yang berbutir kasar dapat mengalami pemadatan, maka proses kompaksi merupakan proses yang signifikan untuk proses litifikasi batuan sedimen yang berbutir halus seperti shale. 2. Sementasi (gambar 2.3) adalah proses pengisian rongga yang semula ditempati oleh cairan pori oleh kristal-kristal baru. Sementasi dapat juga diartikan turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain. Material yang menjadi semen diangkut sebagai larutan oleh air yang meresap melalui rongga antar butiran kemudian larutan tersebut akan mengalami presipitasi di dalam rongga antar butir, dan akan mengikat butiran-butiran sedimen. Material yang umum menjadi semen adalah kalsit, silika dan oksida besi. Untuk mengetahui macam semen pada batuan sedimen relatif cukup sederhana. Kalsit dapat diketahui dengan larutan HCl. Silika merupakan semen yang sangat keras dan akan menghasilkan batuan sedimen yang sangat keras. Apabila batuan sedimen berwarna orange atau merah gelap, maka batuan sedimen tersebut tersemenkan oleh oksida besi. Kadangkadang semen pada batuan sedimen dapat memberi nilai ekonomis batuan tersebut. Sebagai contoh batupasir yang tersemenkan oleh oksida besi dapat menjadikan batupasir menjadi bijih besi (iron ore). Sementasi makin efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.

Gambar 2.3 Kompaksi dan Semntasi

Gambar 2.4 Skema Proses Kompaksi Pada Lempung

3.

Rekristalisasi, adalah proses pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan, contoh rekristalisasi pada batuan karbonat yaitu pengkristalan kembali kristal-kristal kalsit yang telah ada sebelumnya.

4. Autigenesis, adalah terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenetik, dan mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. 5. Metasomatisme, adalah proses pergantian mineral sedimen oleh berbagai mineral autigenik tanpa pengurangan volume asal.

2.3 Sifat Batuan Sedimen Sifat-sifat utama batuan sedimen yaitu: 1. Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan adanya proses sedimentasi. 2. Sifat klastik yang menandakan bahwa butir-butir pernah lepas, terutama pada golongan detritus. 3. Sifat jejak adanya bekas-bekas tanda kehidupan (fosil). Jika bersifat hablur dan selalu monomineralik, misalnya gipsum, kalsit, dolomit dan rijang.

2.4 Klasifikasi Sedimen dan Batuan Sedimen Salah satu klasifikasi batuan sedimen ditunjukkan pada gambar 2.5.

Gambar 2.5 Klasifikasi sedimen dan batuan sedimen

Material klastik terrigenous Material ini merupakan material yang terbentuk dari partikel atau clasts batuan sebelumnya. Clasts tererosi dari bedrock dan umumnya terbentuk dari mineral silika. Clasts berukuran mulai dari partikel clay mikron hingga ukuran partikel boulders. Batupasir dan konglomerat terbentuk 20 25 % dari batuan sedimen dalam rekaman stratigrafi dan mudrock hampir berjumlah 60% dari keseluruhan. Karbonat Secara definisi, batugamping adalah batuan sedimen yang memiliki lebih dari 50% kandungan kalsium karbonat (CaCO3). Dalam lingkungan pengendapan, sumber kalsium karbonat berasal dari bagian keras organisme, biasanya invertebrata seperti moluska. Batugamping berjumlah 10 15 % dair batuan sedimen yang ada dalam rekaman stratigrafi. Evaporit Material evaporit terdeposit akibat adanya presipitasi dari kandungan garam dari air yang tersisa akibat evaporasi. Sedimen Volkaniklastik

Material volkaniklastik merupakan hasil dari erupsi volkanik atau hasil dari pecahan batuan volkanik. Others Sedimen dan batuan sedimen lainnya adalah batubesi, sedimen fosfat, endapan organik (batubara dan oil shale) dan cherts (batuan sedimen silika). Secara volumetri, material ini menyusun sekitar 5% dari rekaman stratigrafi. 2.4.1 Sedimen dan Batuan Sedimen klastik terrigenous Perbedaan yang jelas antara sedimen dan batuan sedimen adalah adalah proses lithifikasi. Lempung, lanau, dan pasir adalah agregat lepas; penambahan awalan batu (batulempung, batulanau, dan batupasir) mengindikasikan bahwa material tersebut telah mengalami lithifikasi dan telah menjadi batuan padat. Lebih kasar lagi, material gravel yang lepas dinamakan berdasarkan ukurannya, seperti granule, pebble, cobble, dan boulder, yang mana telah mengalami lithifikasi menjadi konglomerat (terkadang ditambahkan juga awalan, seperti pebble konglomerat). Pembagian berdasarkan ukuran butir digunakan sebagai titik awal untuk mengklasifikasikan dan menamakan sedimen klastik terrigenous dan batuan sedimen : gravel dan konglomerat terdiri dari klastik yang berdiameter lebih besar dari 2 mm; ukuran butir pasir antara 2 mm dan 1/16 mm (63 mikron); lempung (termasuk clay dan lanau) terbentuk dari partikel yang berdiameter lebih kecil dari 63 mm. Terdapat beberapa aturan dalam pembagian batuan sedimen klastik, tetapi sedimentologis secara umum menggunakan Skala Wentworth (gambar 2.6) untuk menentukan dan menamakan endapan klastik terrigenous. 2.4.2 Skala ukuran butir UddenWentworth Telah diketahui secara umum bahwa Skala Wentworth adalah aturan paling umum dalam mengklasifikasikan partikel agregat (Udden 1914; Wentworth 1922). Pembagian pada skala tersebut dibuat berdasarkan faktor dua: sebagai contoh, butir pasir medium berdiameter 0,25 hingga 0,5 mm, butir pasir yang lebih kasar berdiameter 0,5 hingga 1,0 mm, butir pasir sangat kasar berdiameter 1,0 higga 2,0 mm. Hal ini merupakan pola dengan kecenderungan secara logaritma basis dua, berlawanan dengan basis sepuluh dari skala log pada umumnya. Skala ini dipilih karena pembagiannya dan secara sederhana dapat dihubungkan dengan permulaannya sebagai suatu blok besar dan secara terus-menerus akan terbagi menjadi beberapa bagian. Empat bagian dasar yang diketahui adalah :

1. 2. 3. 4.

lempung (<4 mm), lanau (4 mm hingga 63mm), pasir (63 mm atau 0,063mm hingga 2,0 mm), dan gravel/agregat (>2,0 mm). Skala phi adalah simbol numeris dari Skala Wentworth. Huruf f (phi)

terkadang digunakan sebagai unit untuk skala ini. Menggunakan logaritma basis dya, ukutan butir dapat disimbolkan dengan skala phi sebagai = -log2 (diameter butir dalam mm)

Gambar 2.6 Skala ukuran butir Udden-Wentworth

2.4.3 GRAVEL DAN KONGLOMERAT

Klastik yang berdiameter lebih dari 2 mm diklasifikasikan menjadi granules, pebbles, cobbles, dan boulders (gambar 2.6). Gravel terkonsolidasi disebut konglomerat (gambar 2.7) dan saat dideskripsikan secara umum dinamakan berdasarkan ukuran klastik dominan : jika klastik terbanyak berukuran diameter antara 64 mm dan 256 mm, batuan dinamakan cobble konglomerat. Penamaan breksi digunakan saat klastik berbentuk angular (gambar 2.8).

Gambar 2.7 Konglomerat yang tersusun oleh pebble well rounded

Gambar 2.8 Breksi yang tersusun oleh partikel menyudut

2.4.3.1 Komposisi gravel dan konglomerat Deskripsi lengkap mengenai gravel atau konglomerat dapat berdasarkan jenis klastik yang ditunjukkan dengan keberadaan klastik. Jika semua klastik dari material yang sama (semua dari granit, sebagai contoh), konglomerat ditentukan sebaagai monomik. Konglomerat polimik adalah salah satu klastik yang terdiri dari banyak litologi

berbeda dan oligomik digunakan saat hanya ada dua atau tiga jenis klastik. Hampir semua litologi dapat ditemukan sebagai klastik dalam gravel dan konglomerat. Litologi yang resistan, yang memiliki suseptiblitas lebih rendah untuk dipecah secara fisik dan kimia, memiliki kesempatan yang lebih besar sebagai klastik dalam konglomerat. Faktor yang mengontrol resistan dari jenis batuan termasuk mineral yang terdapat pada batuan tersebut dan kemudahan untuk dipecah secara fisik dan kimiawi di lapangan. Faktor paling penting yang mengontrol jenis dari klastik yang ditemukan adalah bedrock yang tererosi di lingkungan tersebut. Gravel akan tersusun secara utuh oleh klastik batugamping jika lingkungan sumber terbentuk hanya oleh bedrock batugamping. Pengenalan jenis klastik sumber batuan sedimen konglomerat. 2.4.3.2 Tekstur konglomerat dapat ditentukan dari penentuan

Gambar 2.9 Penamaan yang tersusund dari gravel, mud, dan pasir dalam sedimen dan batuan sedimen

Lapisan konglomerat jarang tersusun secara utuh oleh material berukuran gravel. Di antara granules, pebbles, cobbles, dan boulders, pasir yang lebih halus dan/atau lempung terkadang juga muncul : material yang lebih halus antara klastik yang besar dinamakan sebagai matriks dari endapan. Jika terdapat proporsi yang lebih besar (lebih dari 20%) oleh matriks, batuan dinamakan konglomerat pasiran atau konglomerat lempungan, tergantung berdasarkan ukuran partikel dari kehadiran matriks (gambar 2.9). Konglomerat intraformasional tersusun dari klastik oleh material sama sebagai matriks dan terbentuk sebagai hasil dari reworking sedimen yang terlitifikasi kemudian setelah adanya pengendapan. Proporsi dari kehadiran matriks adalah faktor penting dalam tekstur batuan sedimen konglomeratik yang tersusun dari ukuran partikel berbeda di dalamnya. Perbedaan yang jelas seringkali dibuat antara konglomerat yang clast-supported (gambar 2.10), yang mana klastik bersentuhan satu sama lain di dalam batu, dan yang matrix-supported (gambar 2.11) dengan klastik yang secara menyeluruh diliputi oleh matriks. Penamaan ortokonglomerat terkadang digunakan untuk mengindikasikan batuan clast-supported, dan parakonglomerat untuk tekstur matrix-supported.

Gambar 2.10 Konglomerat clast supported Gambar 2.11 Konglomerat matrix supported dengan pebble yang saling berhubungan dengan pebble yang dikelilingi oleh matriks 2.4.3.3 Bentuk klastik Bentuk klastik dalam gravel dan konglomerat ditentukan oleh sifat rekahan dari bedrock. Batuan dengan bidang rekahan yang memiliki jarak rekahan secara merata dalam semua arah membentuk kubik atau equant blocks yang membentuk klastik sferis saat sudut-sudutnya diputar (gambar 2.12). Litologi bedcrock yang terpecah

menjadi slab, seperti batugamping atau batupasir yang terlapiskan dengan sudut membundar (gambar 2.12). Litologi bedrock yang memecah menjadi slab, seprti batugamping atau batupasir well bedded, membentuk klastik dengan satu sumbu yang lebih kecil dari dua lainnya (Krumbein & Sloss 1951). Hal ini dinamakan sebagai bentuk oblate atau discoid. Rod-shaped atau prolate clasts yang jarak ditemukan, terbentuk secara utama dari batuan metamorfik dengan adanya fabrik linear yang jelas. Ketika discoid clasts berpindah dalam aliran air, klastik tersebut akan terorientasi dan tidak lagi berpindah dalam bentuk yang dinamakan imbrikasi (gambar 2.13 & 2.14).

Gambar 2.12 Bentuk klastik

Gambar 2.13 Lapisan konglomerat yang menunjukkan imbrikasi klastik selama pengendapan dengan arah dari kiri ke kanan

Gambar 2.14 Hubungan imbrikasi dan arah aliran saat klastik pada kondisi stabil

2.4.4 PASIR DAN BATUPASIR Butir pasir terbentuk oleh pemecahan dari batuan sebelumnya oleh pelapukan dan erosi dan membentuk meterial dalam suatu lingkungan pengendapan. Hasil pemecahan mengalami jatuhan dalam dua kategori : butir mineral detritus, tererosi dari batuan sebelumnya dan butir berukuran pasir dari batuan atau fragmen litik. Butir yang terbentuk pada lingkungan pengendapan merupakan material yang secara prinsip adalah biogenik yang tersusun dari tumbuhan atau hewan, tetapi beberapa lainnya terbentuk oleh reaksi kimiawi. Pasir merupakan sedimen dengan ukuran butir 63 mm hingga 2 mm dan batupasir merupakan batuan sedimen dengan ukuran butir seperti pasir. Jangkauan ukuran tersebut dibagi menjadi lima interval : sangat halus, halus, medium, lebih kasar, dan sangat kasar. 2.4.4.1 Butir mineral detritus dalam pasir dan batupasir Sejumlah besar dari mineral berbeda dapat terkumpul dalam pasir dan batupasir. Kuarsa Kuarsa adalah jenis mineral paling umum yang ditemukan sebagai butiran dalam batupasir dan batulanau. Sebagai mineral utama, mineral ini merupakan mineral paling banyak menyusun batu granit, terjadi dalam beberapa batu beku intermediet, dan tidak terdapat pada jenis batuan beku basa. Batu metamorfik seperti Gneiss terbentuk dari material granitik dan banyak batuan metasedimen yang berukuran butir kasar memiliki proporsi tinggi untuk kuarsa. Kuarsa adalah mineral yang sangat stabil dan tahan terhadap pemecahan secara kimia pada permukaan bumi. Butiran kuarsa dapat dipecah atau diabrasi selama masa transportasi, tetapi dengan kekerasan skala Mohs 7.

Feldspar Batuan beku paling banyak memiliki felspar sebagai komponen utama. Felspar sangat umum dalam jumlah besar di granit, andesit, dan gabbro. Namun, felspar mudah terkena alterasi kimia selama pelapukan dan lebih mudah kuarsa untuk mengalami abrasi dan pemecahan selama transportasi. Felspar secara umum ditemukan pada daerah dengan pelapukan kimia bedrock yang tidak terlalu intens dan jarak transportasi ke lingkungan pengendapan tidak terlalu jauh. Mika Dua mineral mika paling umum adalah biotit dan muskovit, yang sangat jarang ditemukan sebagai butir detritus dalam batupasir. Mika terbentuk pada komposisi batuan beku granit hingga intermediet dan dari sekis dan gneis saat membentuk mineral metamorfik. Bentuk pipih dari butir mika menyebabkan mika dapat dengan mudah dikenali pada pengamatan menggunakan mikroskop. Heavy minerals Mineral yang secara umum ditemukan dalam pasir memiliki massajenis sekitar 2,6 atau 2,7 g/cm3 : kuarsa memiliki densitas 2,65 g/cm3. Batupasir paling banyak memiliki proporsi rendah, kurang dari 1% untuk mineral yang memiliki densitas yang lebih besar. Heavy minerals tersebut memiliki densitas lebih dari 2,85 g/cm3 dan biasanya terpisah dari mineral bulk yang lebih ringan. Mineral ini penting untuk studi mengenai karakteristik sumber detritus. Heavy minerals yang umum adalah zirkon, turmalin, rutil, apatit, garnit, dan beberaa mineral tambahan pada metamorfik dan beku. Miscellaneous minerals Mineral lain akan secara jarang terdapat dalam jumlah besar dalam batupasir. Mineral yang paling umum dan paling banyak dalam batuan beku silika (contoh : olivin, piroksin, dan amfibol) sangat mudah dipecah oleh pelapukan kimia. 2.3.3 Penamaan dan klasifikasi batupasir Deskripsi lengkap mengenai batupasir biasanya termasuk informasi yang menunjukkan jenis butir yang ada. Penamaan informal, seperti batupasir mika digunakan saat batuan secara jelas memiliki jumlah yang signifikan dari mineral yang dapat dilihat dengan jelas, seperti mika. Penamaan batupasir akan berguna dan dapat digunakaan saat di lapangan, tetapi saat terdapat analisis petrografi yang memungkinkan menggunakan sayatan tipis dari batuan di bawah mikroskop, penamaan secara formal digunakan. Klasifikasi Pettijohn menggabungkan kriteria tekstur, proporsi matriks, muddy, dengan

kriteria komposisi, persentase komponen paling umum pada batupasir : kuarsa, felspar, dan fragmen litik. Plot trianguler dari ketiga komponen tersebut sebagai segitiga Q,F,L secara umum digunakan dalam sedimentologi klastik. Menggunakan klasifikasi ini untuk batupasir, proporsi relatif kuarsa, felspar, dan fragmen litik harus ditentukan melalui estimasi visual atau melalui perhitungan butir menggunakan mikroskop. Klasifikasi 3D digunakan untuk menunjukkan tekstur batuan, proporsi relatif dari klastik dan matriks. Dalam suatu batupasir, matriks adalah material lanau dan lempung yang diendapkan dengan butir pasir. Tahap kedua adalah menghitung atau mengestimasi jumlah matriks lempungan : jika jumlah matriks lempungan kurang dari 15% dari batuan dinamakan arenit, antara 15% dan 75% dinamakan wacke dan jika volume paling banyak dari batuan adalah matriks berukuran butir halus diklasifikasikan sebagai batulempung. 2.5 LEMPUNG, LANAU, DAN BATULEMPUNG Batuan sedimen klastik terrigenous berbutir halus cenderung mendapat perhatian rendah daripada kelompok endapan lainnya walaupun kenyataannya kelompok ini secara volumetri merupakan jenis batuan sedimen paling umum. Ukuran butirnya terlalu kecil untuk teknik optikal dari penentuan mineral, hingga adanya scanning electron microscopes dan analisis difraksi X-ray dikembangkan. Di lapangan, batulempung terkadang tidak menunjukkan struktur sedimen dan biogenik yang jelas. 2.5.1 Definisi dalam aturan pada batulempung Lanau merupakan material berukuran butir dengan diameter antara 4 hingga 62 mikron. Rentang ukuran dibagi lagi menjadi kasar, medium, halus, dan sangat halus. Butir yang lebih kasar dari lanau dapat dilihat menggunakan mata telanjang atau dengan sentuhan tangan. Lanaur yang lebih halus dengan mudah dapat dibedakan dari lempung melalui sentuhan. Clay merupakan aturan tekstur untuk menentukan kelas paling rendah dari pertikal sedimen klastik, berdiameter kurang dari 4 mikron. Partikel individu tidak dapat diamati dengan mata telanjang dan hanya dapat diamati menggunakan mikroskop optik berdaya tinggi. Kelompok mineral clay merupakan mineral filosilikat yang merupakan bagian utama dalam partikel berukuran clay. Saat partikel berukuran clay dan lanau bercampur dalam proporsi yang tidak jelas dalam material unkonsolidasi dinamakan material mud. Aturan umum dalam mudrock dapat diaplikasikan ke berbagai sedimen yang terbentuk dari lanau dan/atau clay. 2.5.2 Lanau dan batulanau

Parameter mineralogi dan tekstural dari lanau lebih sulit untuk ditentukan daripada batupasir karena ukuran partikelnya yang kecil. Hanya butir lanau yang lebih kasar yang dapat dengan mudah dianalisis menggunakan teknik mikroskop optik. Mineral yang resistan adalah mineral paling umum pada ukuran ini karena mineral lain akan sering mengalami pemecahan secara kimia sebelum mengalami pemecahan secara fisik apda ukurannya. Kuarsa adalah mineral paling umum yang dapat diamati pada endapan lanau. Mineral lain yang terjadi dalam kejadian ini adalah felspar, muskovit, kalsit, dan oksida besi di antara komponen minor lainnya. Fragmen litik berukuran lanau hanya melimpah dalam rock flour yang dibentuk oleh erosi glasial. Dalam arus aqueous lanau tertinggal dalam suspensi hingga aliran sangat lambat dan hasil endapannya berkarakteristik aliran dengan kecepatan rendah atau standing water dengan gerak gelombang yang kecil. Partikel berukuran lanau dapat tersisa dalam suspensi dalam udara sebagai debu untuk periode panjang dan dapat terbawa hingga atmosfer yang tinggi. 2.5.3 Mineral Clay Merupakan kelompok mineral, kristalnya sangat kecil, hanya dapat dilihat dan dibedakan dengan mikroskop, biasanya dengan mikroskop elektron. Berdasarkan struktur kristal dan variasi komposisinya dapat dibedakan menjadi belasan jenis mineral lempung. Mineral lempung merupakan koloid dengan ukuran sangat kecil (kurang dari 1 mikron). Masing-masing koloid terlihat seperti lempengan-lempengan kecil yang terdiri dari lembaran-lembaran kristal yang memiliki struktur atom yang berulang. Lembaran-lembaran kristal yang memliki struktur atom yang berulang tersebut adalah: 1. Tetrahedron / Silica sheet Merupakan gabungan dari Silica Tetrahedron

2. Octahedron / Alumina sheet Merupakan gabungan dari Alumina Octahedron.

Pembentukan Mineral Lempung Mineral lempung terbentuk di atas permukaan bumi dimana udara dan air berinteraksi dengan mineral silikat, memecahnya menjadi lempung dan produk lain (sapiie, 2006). Mineral lempung adalah mineral sekunder yang terbentuk karena proses pengerusakan atau pemecahan dikarenakan iklim dan alterasi air (hidrous alteration) pada suatu batuan induk dan mineral yang terkandung dalam batuan itu. Jenis Jenis dan Kegunaan Mineral Lempung Jenis mineral lempung yang utama ialah:

- Kaolinit - Illit - Smektit - Klorit

1:1 2:1 2:2 2:1:1

Al2 (Si2O5 (H2O)) KAl2 (AlSi3O10 (OH)2) (AlMg)4 Si8 O20 (OH)10) (MgFe)6-x (AlFe)x Si4-x Alx (OH)10

Ortoklas, apabila lapuk dan terubah menjadi illit, manakala Kplagioklas, amphibol dan piroksin pula selalunya menjadi smektit. Berdasarkan struktur kristal dan variasi komposisinya dapat dibedakan menjadi belasan jenis mineral lempung dan diantaranya: kaolinit halloysite momtmorillonite (bentonites) illite smectite vermiculite chlorite attapulgite allophone Metode Penentuan Jenis Mineral Lempung Dalam penentuan jenis mineral lempung baik secara kimia maupun secara fisik telah dikembangkan berbagai metode dengan menggunakan alat mulai dari yang sederhana sampai penggunaan alat yang modern. Menurut Sastiono (1997) dan Sjarif (1991), penentuan mineral lempung secara kualitatif dan kuantitatif dapat dibagi atas dua kelompok besar, yaitu : 1. metode berdasarkan sifat kimia 2. metode berdasarkan sifat fisik. Salah satu metode berdasarkan sifat fisik adalah penggunaan sinar X. Penggunaan sinar X untuk analisis mineral lempung mempunyai kemampuan untuk mengetahui jenis mineral lempung secara kualitatif dan kuantitatif bahkan juga untuk menentukan sifat-sifat khas dari suatu mineral lempung (Sjarif, 1991). Penggunaan sinar x terutama untuk mineral yang bersifat kristalin, sedangkan untuk mineral yang sulit diidentifikasi dengan sinar X digunakan analisis thermal (Sastiono, 1997). Setiap metode mempunyai kelemahan dan kelebihan, sehingga kombinasi beberapa metode perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Proses Interkalasi dalam Mineral Lempung

Kelemahan dari lempung di alam adalah rusaknya struktur lapis dan hilangnya porositas karena pemanasan pada suhu tinggi (Cool dan Vansant, 1998). Hal ini dapat diatasi dengan melakukan proses penyisipan ion atau molekul ke dalam interlayer yang dikenal dengan proses interkalasi. Pemanasan interkalat akan menghasilkan pilar, sehingga proses ini lebih dikenal dengan sebutan proses pilarisasi. Pilarisasi dapat dilakukan dengan menginterkalasikan polikation hidroksi terhadap lempung. Selanjutnya dikalsinasi sehingga membentuk pilar-pilar oksida logam (Yang dkk., 1992). Berbagai macam kation dapat digunakan sebagai agen pemilar, antara lain ion-ion alkil ammonium, kation amina bisiklis, dan beberapa kation kompleks seperti kelat serta kation hidroksi logam polinuklir dari Al, Zr, Ti, Fe, dan lain-lain (Clearfield, Yang dkk., 1992). Lempung terpilar memiliki beberapa kelebihan, antara lain stabilitas termal yang lebih tinggi, volume pori dan luas permukaan yang lebih besar. Adanya sifat unggul dari lempung terpilar menjadikan material tersebut potensial untuk digunakan sebagai adsorben. Penelitian terus berlanjut sampai ditemukan metode baru dalam sintesis lempung terpilar, yaitu interkalasi surfaktan ionik ke dalam rongga antarlapis lempung. Penambahan surfaktan bertujuan untuk membuka rongga pada antarlapis lempung sehingga mudah untuk diinterkalasi lebih lanjut dengan kation logam. Dengan adanya surfaktan diharapkan akan mampu meningkatkan porositas serta luas permukaan dibandingkan dengan lempung terpilar tanpa surfaktan.

Bab III Penutup


3.1 Simpulan Klastik terrigenous gravel, pasir, dan lempung tersebar luas dalam sedimen modern dan ditemukan secara melimpah dalam konglomerat, batupasir, dan batulempung dalam suksesi batuan sedimen. Hal tersebut secara utama disusun dari hasil pemecahan bedrock dan ditransportasikan melalui berbagai proses dalam lingkungan pengendapan. Tekstur utama dan komposisi dari pasir dan gravel dapat dengan mudah ditentukan di lapangan. Bentuk struktur sedimen dalam sedimen klastik menyediakan informasi yang lebih jauh mengenai kondisi selama material diendapkan dan menyediakan kunci untuk analisis paleoenvironmental. 3.2 Saran Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat mempermudah pembaca dalam memahami perbedaan tiap sedimen klastik yang berbeda dan dapat menjadi acuan dalam analisis penentuan lingkungan pengendapan.