Anda di halaman 1dari 11

BAB 8 SUDUT PANDANG SEBAGAI UNSUR FIKSI

Hakikat Sudut Pandang Sudut pandang, pointof view, merupakan pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar, dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca (Abrams, 181: 142). Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja diplih pengarang utuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Genette (1981 : 89) menawarkan istilah fokalisasi, focalisaion, yang lebih dekat berhubungan dengan pengisahan. Istilah fokalisasi tersebut oleh Gennte dimaksudkan untuk merangkum sekaligus menghindari adanya konotasi-konotasi spesifik istilah-istilah visi, vission, (seperti dipergunakan Pouillon dan Todorov), field, (Blin), dan sudut pandang, point of view (Lubbock). Visi atau aspek itu sendiri oleh Pouillon dan Todorov dibedakan ke dalam tiga kategori : vision from behind, vission with, dan vission from whitout, yang masing-masing menyaran pada pengertian narator lebih tahu dari pada tokoh, narator sama tahunya dengan tokoh, dan

narator kurang tahu dibanding tokoh. Sudut pandang (Lubbock) dan field (Blin) sama artinya dengan vission whit. Fokalisasi itu sendiri menyaran pada pengertian adanya hubungan antara unsur-unsur peristiwa dengan visi yang disajikan kepada pembaca (Luxemburg dkk, 1992:131) Sudut pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam dua macam : persona pertama, first-person, gaya aku, dan persona ketiga, third-person, gaya dia. Jadi, dari sudut pandang aku atau dia, dengan berbagai variasinya, sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang dianggap sebagai salah satu unsur fiksi yang penting dan menentukan. Teknik penyajian sudut pandang tertentu akan lebih efektif jika diikuti oleh pemilihan bentuk gramatika dan retorika yang sesuai. Sudut pandang, kata Lubbock (Friedman, dalam Stevick, 1967 : 86). sudut pandang tak hanya dianggap cara pembatasan dramatik saja, melainkan secara lebih khusus sebagai penyajian definisi tematik. Ia dapat berupa ide, gagasan, nilai-nilai, sikap dan pandangan hidup, kritik, pelukisan, penjelasan, dan penginformasian, namun juga demi kebagusan cerita, yang kesemuanya dipertimbangkan dapat mencapai tujuan artistik.

Sudut Pandang sebagai Penonjolan Penyimpangan sudut pandang bukan hanya menyangkut masalah persona pertama atau ketiga, melainkan lebih berupa pemilihan siapa tokoh dia atau aku itu, siapa yang menceritakan itu, anak-anak, dewasa, orang desa yang tak tahu apa-apa, orang modern, politikus, pelajar, atau yang lain. Demikianlah misalnya, untuk melukiskan dan mengemukakan pandangan hidup dan jagad kehidupan masyarakatJawa, dalam Pengakuan Pariyem, Linus Suryadi justru memilihnya dari sudut pandang seorang babu, bukan tokoh atasan.

Macam-macam Sudut Pandang Friedman (dalam stevick, 1967 : 118) mengemukakan adanya sejumlah pemertanyaan yang jawabnya dipergunakan untuk

membedakan sudut pandang. Pemertanyaan yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1. 2. Siapa yang berbicara kepada pembaca dari posisi mana cerita itu dikisahkan

3.

Saluran informasi apa yang digunaka operator untuk

menyampaikan ceritanya kepada pembaca. 4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya

Sudut Pandang Persona Ketiga : Dia Pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona ketiga, gaya dia, narator adalah seseorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantiya; ia, dia, mereka. Sudut pandang dia dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak pengarang, narator, dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh dia tadi bersifat mahatahu. Dia Mahatahu Dia melihat segala betapa Maria sekuat tenaga menjaga dirinya jangan menangis trisak-isak kareena ada ibunya, dan karena ibunya telah mengatakan padanya, bahwa semua ini akan terjadi, dan Maria mengatakan pada ibunya dia akan kuat menahannya.

1)

Apa yang dilakukan Maria kini? Tanya Sadeli pada dirinya sendiri. Dan sadeli tak tahu, bahwa saat itu Maria sedang terbaring di bantalnya, air mata mengalir membasahi pipinya, membasahi bantalnya, dan dia mencoba menghidupkan kemabli dalam ingatannya, dalam seluruh badannya apa yang pernah terjadi di tempat tidur dia dengan Sadeli.

(Maut dan Cinta, 1977: 254-6)

Kita melihat dalam teknik mahatahu tersebut bahwa narator mampu menceritakan sesuatu baik yang bersifat fisik, dapat diindera, maupun sesuatu yang hanya terjadi dalam hati da pikiran tokoh, bahkan lebih dari seorang tokoh. Lebih dari itu, ia tak hanya mampu melapor dan menceritakan kisah tentang tokoh-tokoh saja, melainkan juga dapat mengomentari dan menilai secara bebas dengan penuh otoritas, seolah-olah tak ada satu rahasia pun tentang tokoh yang tidak diketahuinya. Ia dapat memasukkan berbagai informasi tanpa

haris menerangkan cara memperolehnya. Ia dapat bergerak ke seluruh arena untuk memberikan kepada pembaca detil-deil cerita secara lengkap seperti tak ubahnya gambar tiga dimensi (Altenberd & Lewis: 1966: 62) Dia Terbatas, Dia sebagai Pengamat Dalam sudut pandang dia terbatas, seperti halnya dalam dia mahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja (Stanton, 1965: 26). Dalam teknik dia terbatas sering juga dipergunakan teknik narasi aliran kesadaran, stream of consciousness, yang menyajikan kepada pembaca pengamatan-pengamatan luar yang berpengaruh terhadap pikiran, ingatan, dan perasaan yang membentuk kesadaran total pengamatan. Sudut pandang

2)

cerita,dengan demikian, menjadi bersifat objektif, objektive point of view, atau narasi objektif, objektivenarration. Pengarang tidak mengganggu dengan memberikan komentar dan penilaian yang bersifat subjektiveterhadap peristiwa, tindakan, ataupun tokoh-

tokoh yang diceritakanny. Ia hanya berlaku sebagai pengamat, obsever, melaporkan sesuatu yang dialami dan dijalani oleh seorang tokoh yang sebagai pusat kesadaran. Ia sama halnya dengan pembaca, adalah seorang yeng berdiri diluar cerita. Novel Indonesia yang secara mutlak bersudut pandang dia terbatas dan atau sebagai pengamat saja, barangkali amat jarang untuk tak dikatakan tidak ada. Namun, dalam bagian-bagian tertentu, sering dijumpai adanya deskripsi dan cerita yang lebih merupakan laporan pengamat. Novel Ronggeng Dukuh Paruk pun tampak diawali, pada bagian pertama, dengan sudut pandang dia sebagai pengamat, walau pada bagian-bagian (dan serial) berikutnya bersifat campuran antara dia dan aku Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah payah mencabut sebatang singking. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak ditengahnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal.

Cari sebatang cungkil, kata rasus kepada dua temannya. Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini. (Ronggen g Dukuh Paruk, 1986: 7-8) Sudut Pandang Persona Pertama : Aku Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama, first-person point of view,aku jadi : gaya aku, narator adalah seseorang ikut terlibatdalam cerita . ia adalah si akutokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiiri, self-consciousness, mengisahkan peristiwa dan tindakan, yang diketahui, dilihat, didengar,dialami, dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Sudut pandang persona pertama dapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan peran dan kedudukan si aku dalam cerita. Si aku mungkin menduduki peran utama, jadi tokoh utama protagonis, mungkin hanya menduduki peran tambahan, jadi tokoh tambahan protagonis, atau berlaku sebagai saksi. 1) Aku Tokoh Utama

Si aku yang menjadi tokoh utama cerita praktis menjadi tokoh protagonis. Hal itu amat memungkinka pembaca menjadi merasa benar-benar terlibat. Pembaca akan mengidentifikasikan diri terhadap tokoh aku, dan karenanya akan memberikan empati secara penuh. Kita, walau hanya imajinatif, akan ikut mengalami dan merasakan semua petualangan dan pengalaman si aku. Pegangan moral si aku adalah ideal bagi kita. Efek terhadap pembaca yang demikian, memang, dapat juga dicapai dengan sudut pandang lain, namun ia tidak akan sedemikian meyakinkan seperti yang dilakukan oleh si aku protagonis (Altenbernd & Lewis, 1966: 63-4). 2) Aku Tokoh Tambahan Tokoh ceritayang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyaktampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si aku tambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah.

Sudut Pandang Campuran

Penggunaan sudut pandang yang bersifat campuran itu di dalam sebuah novel, mungkin berupa penggunaan sudut pandang persona ketiga dengan teknik dia mahatahu dan dia sebagai pengamat, persona pertama dengan teknik aku sebagai tokoh utama dan aku tambahan atau sebagai saksi, bahkan dapat berupa campuran abtara persona pertama dan ketiga, antara aku dan dia sekaligus. Campuran aku dan dia. Dewasa ini dapat kita jumpai beberapa novel Indonesia yang mempergunakan dua sudut pandang aku dan dia secara bergantian. Mula-mula cerita dikisahkan dari sudut aku, namun kemudian terjadi pergantian ke dia, dan kembali lagi ke aku. Hal ini misalnya, kita jumpai pada Burungburung Manyar, Dan Senja pun Turun, dan Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini hari, dan Jantera Bianglala jika ketiganya dianggap sebagai satu kesatuan. Teknik Kau. Penggunaan teknik kau untuk menyebut dan melihat dirinya sendiri, baik oleh tokoh yang disudutpandangi aku maupun dia, seperti sedikit terlihat dalam Burung-burung Manyar di atas, ternyata belakangan dipergunakan secara lebih

intensif dalam novel Suami-nya Eddy Suhendro yang mula-mula muncul secara bersambung di Kompas pada awal 1989. Ternyata untuk jenis sastra fiksi, teknik penyudut pandangan tersebut terasa memberikan efek kebaruan, angin segar yang tak membosankan bagi pencerrapan indera kita suatu bentuk

pengucapan yang oleh kaum formalis disebut sebagai sifat deotomatisasi sastra. Namun, apakah dengan demikian hal itu dapat dipandang sebagai adanya (baca: mulai munculnya) jenis sudut pandang bergaya kau?. Hal itu disebabkan di samping contoh karya-karya konkret yang bersudut pandang kau masih jarang ditemui, juga pada hakikatnya teknik kau tersebut hanya merupakan variasi teknik aku atau dia untuk mengungangap atau mengemukakan sesuatu secara lain. Si kau tak lain adalah si aku atau si dia yang sengaja dibuat mahatahu secara dramatik, artinya dalam bentuk dialog seperti halnya dalam drama. Namun, bagaimanapun, hal itu merupakan sbuah fenomena menarik dalam perkembangan teori sudut pandang karya fiksi.