Anda di halaman 1dari 3

Diuretik Golongan Thiazid Meskipun diuretik golongan thiazid jarang digunakan dalam prosedur anestesi, pada operasi untuk

pasien-pasien yang mendapatkan obat-obat hipertensi kronik dan gagal jantung, diberikan obat golongan thiazid dengan dosis dan efek yang sama dengan penggunakan sebagai diuretik. Bendroflumethiazid, cholorothiazid, hydrocholorothiazid dan chlortalidone adalah beberapa contoh diuretik golongan thiazid. Pada umumnya memiliki masa kerja antara 6 12 jam. Dibandingkan dengan loop diuretik, thiazid memiliki waktu kerja yang lebih lama, bekerja pada tempat yang berbeda, memiliki efek langit-langit yang rendah dan kurang efektif pada gagal ginjal. Penggunaan diuretik golongan thiazid umumnya peroral, di absorbsi dengan cepat oleh saluran pencernaan dan menginisisiasi diuresis dalam 1-2 jam. Perbedaan utama antara thiazid yang tersedia adalah kecepatan eliminasinya. Thiazid di distribusikan ke ekstraseluler dan di eliminasi di tubulus proksimal dengan metode sekresi aktif. Thiazid menghambat pompa aktif reabsorbsi natrium dan klorida pada kortikal ascending lengkung henle dan tubulus kontortus distal. Karena itu, kemampuan mempengaruhi konsentrasi elektrolit urine oleh ginjal tidak terganggu, normalnya area ini bertanggungjawab untuk reabsorbsi natrium sebesar kurang dari 5%. Dalam kemampuan diuresis, golongan thiazid kurang efektif dibandingkan dengan loop diuretik, Kontras dengan loop diuretik, Thiazid dapat menurunkan eksresi kalsium menurun dan hiperkalemia menjadi masalah pada thiazid. Pada aktivitas aldosteron, peningkatan pengiriman ke tubulus distal berhubungan dengan peningkatan kehilangan kalium, seperti pada loop diuretik. Penurunan eksresi asam urea karena thiazid menyebabkan hiperurisemia. Thiazid biasanya digunakan dalam dosis rendah dan sering dikombinasikan dengan diet rendah natrium, pada manajemen hipertensi esensial. Penurunan volume cairan ekstraseluler dan vasodilatasi perifer adalah respon dari efek antihipertensi yang terus menerus. Efek antihipertensi penuh mungkin bertahan selama 12 minggu dan menjadi stabil. Dosis thiazid yang lebih besar dapat digunakan pada gagal jantung kongestif dan kondisi edematous lainnya seperti sindrom nefrotik dan sirosis hepatis. Efek samping yang sering dijumpai pada penggunaan thiazid adalah dehidrasi dan hipovolemi. Dapat juga terjadi hipotensi ortostatik. Pada kondisi kronis, obat ini menyebabkan hipokalemia, hipokloremik, metabolik alkalosis. Kombinasi dengan obat deplesi magnesium, hipokalemia mungkin dapat memicu aritmia jantung yang serius. Selanjutnya keracunan digitalis, kelemahan otot dan potensi relaksan otot nondepolarisasi. Thiazid menurunkan sekresi ureum di tubulus, yang mungkin menyebabkan hiperurisemia dan gout. Contohnya derivat sulfonamid dan mungkin pada kasus ini menginhibisi produksi insulin dari pankreas dan memblokade penggunaan glukosa di perifer. Hal ini

menyebabkan hiperglikemia atau peningkatan kebutuhan insulin pada pasien diabetes mellitus. Thiazid juga meningkatkan konsentrasi total kolesterol darah. Diuretik Hemat Kalium Hanya sebagian kecil natrium yang di reabsorbsi kembali di tubulus distal. Diuretik yang mempertahankan kalium berkerja di tubulus kontortus distal dan dustus koledokus sehingga hanya mengakibatkan diuresis yang terbatas. Terdapat dua macam diuretik hemat kalium yaitu obat-obatan yang berkerja secara langsung pada mekanisme kerja aldosteron (misalnya triamteren dan amilorid) dan antagonis aldosteron (misalna Spironolakton). Diuretik hemat kalium dapat meningkatkan eksresi natrium, klorida dan bikarbonat dan menyebabkan peningkatan Ph urin. Obat ini mencegah eksresi kalium yang berlebihan seperti pada loop diuretik dan thiazid diuretik melalui reduksi pertukaran ion natrium-kalium. Diuretik golongan hemat kalium dapat digunakan sebagai terapi tunggal, namun apabila dikombinasikan dengan diuretik golongan lain maka respon diuresisnya akan meningkat. Amiloride dan Triamteren Amiloride bekerja pada tubulus distal dan duktus koledokus secara langsung. Obat ini menyebabkan retensi kalium dan meningkatkan eksresi natrium. Setelah pemberian peroral, hampir 25% diabsorbsi, onset hingga efek puncak kira-kira dalam 6 jam dan eksresinya tidak menyebabkan perubahan pada urine. Amilorid sering digunakan sebagi terapi kombinasi dengan loop diuretik dan thiazid. Kerjanya sinergis dalam proses diuresis, namun sedikit berbeda karena golongan ini menekan eksresi kalium. Amiloride memiliki efek samping minimal, hiperkalemia dan asidosis mungkin saja terjadi dan menjadi kontraindikasi pada pasien dengan gagal ginjal. Triamteren mempunyai karakteristik yang sama dengan amilorid. Spironolakton Aldosteron menyebabkan reabsorbsi natrium and kalium berkurang pada tubulus distal. Spironolakton mempunyai sturktur molekular steroid, bekerja sebagai antagonis kompetitif pada reseptor aldosteron dan menginhibisi reabsorbsi natrium dan kalium. Pada kondisi tidak ada aldosteron, obat ini tidak memiliki efek. Setelah absorbsi peroral, spironolakton di metabolisme segera menjadi beberapa metabolit. Beberapa diantaranya aktif dan bekerja selama 15 jam. Spironolakton menjadi pilihan yang tepat untuk pasien sirosis hepatis, asitesis dan hiperaldosteron sekunder. Gagal jantung atau hipertensi dengan kondisi mineralocorticoid yang tinggi (Sindrom Conns atau terapi prednisolon) juga merupakan indikasi. Spironolakton sering dikombinasikan dengan thiazid untuk memaksimalkan efek diuretik dan mencegah kehilangan kalium.

Hiperkalemia mungkin terjadi jika spironolakton digunakan pada pasien dengan disfungsi renal. Jika digunakan dalam dosis tinggi dapat menyebabkan ginecomastia dan impotensi. Ketika diuretik diresepkan untuk pasien dengan retensi cairan dan edema, 3 hal yang penting yang harus diperhatikan. Pertama, walaupun efek diuretik sangat diperlukan dalam terapi edema paru dan gagal jantung akut, diuresis dalam jumlah yang kecil dan perlahan lebih tepat digunakan pada pasien utama dengan kebutuhan diuretik. Cara ini akan menurunkan efek samping diuretik. Kedua, konsentrasi kalium plasma dan status hidrasi harus selalu diawasi ketika diuretik sedang digunakan. Terakhir, diuretik terapi hanya menhilangkan gejala tetapi tidak dapat mengatasi penyebab utama atau mengubah outcome pasien dengan edema.