Anda di halaman 1dari 19

Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

P- TREATMENT

EPILEPSI
Dipresentasikan pada tanggal: 3 Januari 2012

Oleh:

Fitrie Widyastuti NIM 0708015016

Pembimbing:

dr. Ika Fikriah, M.Kes

Dibawakan dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik pada Lab/SMF Farmakologi Klinik RSUD A. Wahab Sjahranie

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2011

BAB I PENDAHULUAN
Epilepsi adalah suatu jenis gangguan saraf yang menyerang manusia di setiap negara di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai dengan kecenderungan pengulangan 'serangan' yang dimulai dengan dua atau lebih serangan tiba-tiba. Secara umum dapat dikatakan bahwa serangan epilepsi dapat timbul jika terjadinya pelepasan aktivitas energi yang berlebihan dan mendadak dalam otak, sehingga menyebabkan terganggunya kerja otak. Otak segera cepat dapat mengkoreksinya dan segera bekerja normal kembali, sehingga gejalanya hilang. Itulah sebabnya epilepsi disebut kelainan yang khas, karena di luar serangan penyandang epilepsi adalah individu yang normal (Harsono, 2005). Di Indonesia walaupun belum pernah dilakukan penyelidikan

epidemiologik tentang epilepsi dapat dikatakan, bahwa epilepsi tidak jarang dijumpai dalam masyarakat. Jika dipakai angka-angka prevalensi dan insiden epilepsi yang didapatkan dalam kepustakaan, yakni untuk prevalensi 5-10% dan insiden 0,5%, maka dapat diperkirakan, bahwa di Indonesia yang berpenduduk hampir 200 juta, sedikitnya terdapat 1.000.000-2.000.000 orang penyandang epilepsi (Harsono, 2005).

Pengertian epilepsi Epilepsi adalah ekspresi dari disfungsi otak dan ditegakkannya diagnosis ini mengharuskan dicarinya penyebab, walaupun dua pertiga kasus idiopatik, jadi penyebabnya tak dapat ditentukan. Sebagian besar memiliki kecenderungan untuk terus-menerus mengalami episode perubahan gerakan, fenomena sensoris, dan perilaku ganjil, biasanya disertai dengan perubahan kesadaran. Adanya episode tunggal tanpa pemicu tidak cukup untuk menegakkan diagnosis epilepsi. Pasien dengan kecenderungan epilepsi cenderung mengalami serangan stereotipik (Rubenstein, dkk, 2007). Bangkitan epilepsi merupakan fenomena klinis yang berkaitan dengan letupan listrik atau depolarisasi abnormal dan eksesif, terjadi di suatu dalam otak yang menyebabkan bangkitan paroksismal. Fokus ini merupakan neuron epileptik

yang sensitif terhadap rangsang. Neuron inilah yang menjadi sumber bangkitan epilepsi (Gunawan, 2008).

Etiologi epilepsi Pada epilepsi tidak ada penyebab tunggal. Banyak faktor yang dapat mencederai sel-sel saraf otak atau lintasan komunikasi antarsel otak. Lebih kurang 65% dari seluruh kasus epilepsi tidak diketahui faktor penyebabnya. Beberapa faktor penyebab maupun faktor resiko yang sudah diketahui antara lain: trauma kepala, demam tinggi, stroke, intoksikasi (termasuk obat-obatan tertentu), tumor otak, masalah kardiovaskular tertentu, gangguan keseimbangan elektrolit, infeksi (ensefalitis, meningitis), dan infestasi parasit terutama cacing pita (Harsono, 2005). Ditinjau dari penyebab tersebut epilepsi dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu: 1) epilepsi primer atau epilepsi idiopatik yang hingga kini tidak ditemukan penyebabnya, dan 2) epilepsi sekunder yaitu yang penyebabnya diketahui (Harsono, 2005). Selain etiologi, adapula yang disebut sebagai faktor presipitasi atau yang memudahkan timbulnya bangkitan, yaitu (Mansjoer, dkk, 2000 & Harsono, 2005): 1). Faktor sensoris: cahaya yang berkedip-kedip, bunyi-bunyi yang mengejutkan, air panas. Ada sebagian kecil penyandang epilepsi yang sensitif terhadap kerlipan/kilatan sinar (flashing light) pada kisaran 10-15 Hz, seperti diskotik, pada pesawat TV yang dapat merupakan pencetus serangan. 2). Faktor sistemik: demam, penyakit infeksi, obat-obat tertentu misalnya golongan fenotiazin, isoniazid, chlorpropamide, hipoglikemia karena makan yang tidak teratur, lelah fisik yang menyebabkan hiperventilasi. 3). Faktor mental: stress, gangguan emosi. 4). Faktor makan dan minum: makan dan minum harus teratur, jangan sampai terlalu lapar, terlalu haus, terlalu kenyang, terutama terlalu banyak minum. 5). Suara tertentu: suara dengan nada tinggi atau berkualitas keras dapat menimbulkan bangkitan. Epilepsi jenis ini disebut epilepsi audiogenik atau epilepsi musikogenik. 6). Lupa dan/atau enggan minum obat

7). Faktor-faktor yang dapat memudahkan terjadinya serangan lainnya bisa juga berupa kurang tidur karena dapat menganggu aktivitas dari sel-sel otak sehingga dapat mencetuskan serangan, alkohol karena dapat menghilangkan faktor penghambat terjadinya serangan serta pada perubahan hormonal

(pada masa haid dimana dapat terjadi perubahan siklus hormon yang berupa peningkatan kadar estrogen dan stress serta pada kehamilan dimana terjadi perubahan siklus hormonal yang dapat mencetuskan serangan).

Yang juga perlu diketahui dan tidak kalah pentingnya adalah setiap orang memiliki ambang rangsang tertentu, yang sebagian besar ditentukan oleh faktor keturunan. Artinya ialah bila ada sejumlah orang diberikan rangsang kejang yang sama, hanya satu dua orang yang mengalami rangsangan, sedangkan sebagian lain tidak. Mereka yang tidak mengalami serangan karena mempunyai ambang rangsang serangan yang cukup tinggi (Harsono, 2005).

Klasifikasi epilepsi Klasifikasi yang disusun oleh komisi ILAE (International League Against Epilepsi), masih banyak pakar epileptologi yang tidak menyetujuinya. Maka dari itu akhir-akhir ini sudah disiapkan revisi terbaru dari klasifikasi sindrom epilepsi itu. Adapun klasifikasi sindrom epilepsi itu ialah sebagai berikut: 1. Epilepsi umum: Bangkitan ini menunjukkan terlibatnya kedua belah hemisferum secara sinkron sejak awal. Mula bangkitan berupa hilangnya kesadaran, kemudian diikuti gejala lainnya yang bervariasi. Jenis-jenis bangkitan epilepsi umum dibedakan oleh ada atau tidak adanya aktivitas motorik yang khas (Harsono, 2005). a. Epilepsi umum primer (yang berarti idiopatik, kriptogenik, fungsional atau jinak) pada masa anak dan remaja (Mardjono, 2006). 1). Epilepsi absens atau petit mal Serangan-serangan ini berupa kehilangan kesadaran yang pendek tibatiba dan sembuh sendiri. 2). Epilepsi absens mioklonik

Serangan ini terdiri atas episode-episode kontraksi otot yang singkat yang bisa berulang-ulang untuk beberapa menit. 3). Konvulsi (=kejang) tonik klonik umum dan grand mal Serangan menyebabkan kehilangan kesadaran. Diikuti oleh kejang tonik kemudian oleh fase kejang klonik. Serangan tersebut diikuti oleh suatu periode kebingungan dan kelelahan. 4). Epilepsi absens yang berkombinasi dengan grand mal. b. Epilepsi umum sekunder (yang berarti simtomatik, lesional, atau ganas) pada masa bayi, anak, dan remaja (Mardjono, 2006). 1). Berbagai jenis epilepsi umum akibat ensefalopatia spesifik 2). Berbagai jenis epilepsi umum akibat ensefalopatia non-spesifik: Sindrom West. Sindrom Lennox-Gastaut. Sindrom-sindrom variasi sindrom Lennox-Gastaut 2. Epilepsi parsial a. Epilepsi parsial primer (yang berarti idiopatik, kriptogenik, fungsional atau jinak) pada masa anak berusia lebih dari 10 tahun dan masa remaja: 1). Epilepsi motorik parsial primer dengan spikes sentro-mid-temporal 2). Epilepsi sensomotorik parsial primer dengan spikes parietal 3). Epilepsi visual parsial primer dengan spike-wave oksipital b. Epilepsi parsial sekunder (yang berarti simtomatik, lesional, atau ganas) pada semua golongan usia, tetapi terutama pada orang dewasa: 1). Epilepsi parsial sekunder dengan simtomatologi yang sederhana (elementer). 2). Epilepsi parsial sekunder dengan simtomatologi yang kompleks. (Mardjono, 2006).

Diagnosis Epilepsi 1). Anamnesis. Dalam anamnesa kasus epilepsi autoanamnesa perlu dilengkapi dengan aloanamnesa, yaitu anamnesa yang diceritakan oleh orang-orang yang pernah menyaksikan dengan mandiri kejadian-kejadian sekitar penyakit yang diderita pasien epileptic.

2). Pemeriksaan fisik. Penilaian neurologik meliputi status mental, gait, koordinasi, saraf kranialis, fungsi motorik dan sensorik, serta refleks tendon. Penderita yang menunjukkan tanda-tanda kelainan neurologik yang tidak jelas perlu diperiksa lebih teliti. Harus diingat bahwa kelainan neurologik yang samar-samar atau ringan dapat menunjukkan lesi otak; hal demikian ini harus dimengerti dengan sebaik-baiknya. 3). Pemeriksaan laboratorium. Dari pemeriksaan darah harus di khususkan: pemeriksaan kadar gula (untuk menentukan apakah tidak ada hipoglikemia), pemeriksaan kadar kalsium (untuk menentukan apakah tidak ada

hipokalsemia), pemeriksaan ureum/B.U.N (untuk menetukan apakah tidak ada uremia). 4). EEG (elektroensefalografi). EEG dapat mendeteksi berbagai jenis

abnormalitas baik yang bersifat fokal maupun difus. 5). Pemeriksaan pencitraan otak. Pemeriksaan yang dikenal dengan istilah pencitraan otak (neuroimaging studies) bertujuan untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. Diagnosis Banding Sinkop, penyakit serebrovaskular, gangguan jantung, gangguan

metabolik, hipotensi postural, keracunan alkohol, obat tidur, penenang, breath holding spells, psikiatrik (hysteria), narkolepsi, pavor nokturnus, paralisis tidur, migren (Rubenstein, dkk, 2007)

Penatalaksanaan Tujuan pengobatan adalah menyembuhkan atau bila tidak mampu menyembuhkan, paling tidak membatasi gejala-gejala dan mengurangi efek samping pengobatan. Pada sindrom epileptik atau penyakit epilepsi, bila kelainan structural, metabolik, atau endokrin yang dapat disembuhkan tidak dijumpai, maka tujuan pengobatan adalah memperbaiki kualitas hidup penderita dengan menghilangkan atau mengurangi frekuensi tanpa menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki (Harsono, 2005). Beberapa prinsip dasar yang perlu dipertimbangkan dalam terapi epilepsi:

1. Pada kejang yang sangat jarang dan dapat dihilangkan faktor pencetusnya, pemberian obat harus dipertimbangkan. 2. Pengobatan diberikan setelah diagnosis ditegakkan, ini berarti pasien mengalami lebih dari 2 kali kejang yang sama. 3. Obat yang digunakan disesuaikan dengan jenis kejang 4. Sebaiknya menggunakan monoterapi karena dengan cara ini toksisitas akan berkurang, mempermudah pemantauan dan menghindari interaksi obat. 5. Dosis obat disesuaikan secara individual. 6. Evaluasi hasilnya 7. Pengobatan dihentikan setelah kejang hilang selama minimal 2-3 tahun. Pengobatan dihentikan secara berangsur dengan menurunkan dosisnya (Mansjoer, dkk, 2000).

Tabel 1. Obat pilihan berdasarkan jenis kejang (Mansjoer, dkk, 2000) Bangkitan Fokal/parsial Sederhana Kompleks Tonik-klonik umum Karbamazepine, Fenobarbital, Fenitoin Karbamazepine, Fenobarbital, Fenitoin, Asam valproat Karbamazepine, Fenobarbital, Fenitoin, Asam valproat Jenis obat

Umum Tonik-klonik Mioklonik Absens/petit mal Karbamazepine, Fenobarbital, Fenitoin, Asam valproat Klonazepam, Asam valproat Klonazepam, Asam valproat

Prognosis Prognosis epilepsi tergantung pada beberapa hal, di antaranya jenis epilepsi, faktor penyebab, saat pengobatan dimulai dan ketaatan minum obat. Pada umumnya prognosis epilepsi cukup menggembirakan. Pada 50-70% penderita epilepsi serangan dapat dicegah dengan obat-obat, sedangkan sekitar 50% pada suatu waktu akan dapat berhenti minum obat. Mengenai prognosis sosial dapat

dikatakan, bahwa sebagian terbesar penderita epilepsi dapat bekerja sesuai dengan bakat, pendidikan dan keterampilannya. (Harsono, 2005).

BAB II KASUS
Kasus Seorang wanita berumur 15 tahun dibawa oleh orang tua nya ke IGD karena mengalami keluhan seluruh tubuh kaku, kedua tangan dan kaki tesentaksentak yang tejadi selama kurang lebih 7 menit. Selama keluhan tersebut pasien tidak sadarkan diri. Setelah sadar, pasien ngompol di celana dan kebingungan. Keluhan serupa berulang 5 kali sejak usia 9 tahun. Riwayat benturan kepala, infeksi otak dan selaput otak sebelumnya disangkal. Selama ini pasien belum pernah berobat ke dokter karena keluhan tersebut. Pada pemeriksaan fisik di dapatkan keadaan umum baik, tekanan darah 110/70 mmHg, pernapasan 18 kali/menit, nadi 80 kali/menit, suhu aksiler 36,60C. Pada pemeriksaan neurologi tidak didapatkan kelainan. Jawaban: Tahapan penentuan P-treatment: 1) problem pasien, 2) tujuan terapi, 3) pemilihan terapi, 4) pemberian terapi (resep jika ada), 5) komunikasi terapi, 6) monitoring dan evaluasi. Keluhan utama : seluruh tubuh kaku, kedua tangan dan kaki tersentak-

sentak, disertai dengan penurunan kesadaran yang terjadi selama kurang lebih 7 menit Pemeriksaan fisik : Tanda-tanda vital dalam batas normal. Tidak didapatkan kelainan neurologis Pemeriksaan lab. Diagnosis :: Epilepsi Genealisata (Umum) Tonik Klonik (Grand Mal)

BAB III P-TREATMENT

1. Menentukan Problem Pasien Kejang

2. Menentukan Tujuan Terapi Megontrol gejala atau tanda secara adekuat dengan penggunaan obat yang minimal Membantu penyandang epilepsy untuk menjalankan aktivitas dan kehidupan sosialnya. 3. Pemilihan Terapi a. Terapi Non Farmakologis i. Menghindari factor pencetus suatu bangkitan, seperti minum alcohol, emosi, kelelahan fisik maupun mental ii. Hindakan barang-barang berbahaya di sekitar pasien ketika serangan dating iii. Hindarkan tindakan yang salah seperti member minum air saat tidak sadar atau menahan kejang atau menyiram air b. Terapi Farmakologis Pilihan obat farmakologis adalah sebagai berikut: TERAPI EPILEPSI OBAT PILIHAN DAN OBAT ALTERNAYIVE SEIZURE DISORDER Drugs of Choice TONIC-CLONIC (Grand Mal) Alternatives Phenobarbital Primidone Carbamazepine Phenytoin Valproic acid . Gabapentin Phenobarbital DRUGS Carbamazepine phenytoin . Valproat

Drugs of Choice PARTIAL SEIZURES Alternatives

.Lamotrigin Primidone ABSENCE (Petit Mal) Drugs of Choice Alternative ATYPICAL ABSENCE, MYOCLONIC, TONIC Drug of Choice Alternative Ethosuximide Valproate Clonazepam. Lamotrigine Valproate Clonazepam

Golongan

Efficacy +++ Farmakodinamik : Sebagai anti konvulsi tanpa menyebabkan depesi umum SSP, menghambat penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak, mempengaruhi perpindahan ion melintasi membran sel Farmakokinetik: A: absorbsi per oral berlangsung lambat, sesekali tidak lengkap. D: Kadar puncak dicapai 3-12 jam. M: di hati. E: diekskresi bersama tinja dalam bentuk utuh. ++ Farmakodinamik : Membatasi penjalaran aktivitas

Safety ++ Efek samping : CNS : Diplopia,ataksia,vertigo,nis tagmus,sukar bicara,disertai gangguan lain seperti : tremor,gugup,kantuk dan rasa lelah GIT : oedem gusi, anoreksi, nyeri ulu hati, mual,muntah Kulit : ruam morbiliformis,keratosis Lain-lain : hepatosisitas,anemia megaloblastik

Suitability +++ Kontraindikasi : pasien dgn penyakit gangguan ginjal, ibu hamil

Cost +++ Rp 9001500

Hidantion

+ Efek samping : Mengantuk, penurunan kesadaran, distrasia,

Barbiturat

++ Kontraindikasi : Pophiria, depresi sistem pernapasan,


10

++ Rp. 5000

bangkitan dan menaikkan ambang rangsang, menghambat efek gaba. Menekan letupan di fokus epilepsi, efektif untuk serangan epilepsi berulang Farmakokinetik : Diabsorbsi dengan baik peroral, dapat penetrasi ke otak, 75% diinaktivasi oleh system mikrosom hepar. Eksresi secara utuh oleh ginjal. +++ Farmakodinamik : Menurunkan influks ion natrium dan kalsium ke membran neuron, mengurangi aktivitas kejang. Efektif untuk semua serangan epilepsi parsial dan sangat efektif untuk serrangan tonik klonik Farmakokinetik : A: lengkap dan lambat, disaluran cerna berikatan dengan protein 75%. M: di hati. E:urin. Waktu paruh 2565 jam. ++

ataksia, stimulasi paradoksal yang disebabkan oleh disinhibisi tingkah laku, depresi SSP sampe koma dan henti pernapasan,laringospasme

gangguan hati berat

+++ Efek samping : Pusing, vertigo, ataksia, mual, muntah, reaksi alergi berupa dermatitis, leucopenia.

+++ Kontraindikasi : Apabila digunakan bersama MAO Inhibitor, riwayat mielosupresi, hipersensitif terhadap antidepresan trisiklik.

+++ Rp. 12001600

Karbamazepin

+++

+++

+++

11

Farmakodinamik Benzodiazepine : Mensupresi penyebaran kejang dari fokus epileptogenik, mencegah kejang berulang pada status epileptikus. Farmakokinetik : Absorbsi sempurna dan cepat, kecuali klorazepat. Terikat kuat pada protein plasma. Metabolisme di hati. Ekskresi di urin. +++ Farmakodinamik : Mamblokade kanal natrium dan menyebabkan hiperpolarisasi potensial istirahat membran neuron akibat peningkatan daya konduksi membran untuk Asam valproat kalium. Memiliki efek anti konvulsi dengan meningkatkan GABA di otak Farmakokinetik : diabsorbsi cepat. Kadar maksimum dicapai setelah 1-3 jam dengan waktu paruh 8-10 jam. Metabolisme di hati. Ekskresi di urin suksinamid +

Efek samping : pusing, vertigo, ataksia, diplopia, pandangan kabur, mual, muntah, reaksi alergi.

Kontraindikasi: pada wanita hamil Penyakit hati dan glaucoma

Rp.25 004000

++ Efek samping : Mual,muntah dan gangguan pencernaan lain seperti nyeri perut,kantuk,ataksia dan tremor, hepatotoksik

+++ Kontraindikasi : Penyakit hepar aktif

+++ Rp. 7003000

+++

++

12

Efektif untuk obat ES: mual. Sakit kepala, KI: hipersensitif antiepilepsi tipe kantuk, ruam kulit, suksinamid absence, tidak agranulositosis dan efektif untuk pansitopenia serangan tonik klonik umum, bangkitan parsial kompleks & pasial kejang dgn kerusakan organik otak yang berat Efektif untuk obat antiepilepsi tipe oksazolidindio absence tetapi n sekarang sudah jarang digunakan Berdasakan table diatas, maka terpilihlah golongan obat karbamazepine sebagai terapi dari kasus ini.

Golongan

Efficacy

Safety +++ Efek samping : Pusing, vertigo, ataksia, mual, muntah, reaksi alergi berupa dermatitis, leucopenia.

Suitability

Cost

+++ Farmakodinamik : Menurunkan influks ion natrium dan kalsium ke membran neuron, mengurangi aktivitas kejang. Efektif untuk semua serangan parsial Karbamazepin epilepsi dan sangat efektif untuk serrangan tonik klonik Farmakokinetik : A: lengkap dan lambat, disaluran cerna berikatan dengan protein 75%. M: di hati. E:urin.

Dosis: dewasa: awal 100-200 mg 1-2 x/hari, dosis ditingkatkan bertahap s/d 1600-2000 mg/hari. Anak:10Indikasi: epilepsi 20mg/kgBB/hari (bangkitan parsial, bangkitan umum pimer atau sekunder dengan komponen tonik klonik, jenis epilepsi campuran). Pengobatan manik-depresif. Neuralgia trigemial
13

+++ +++ Kontraindikasi : Rp. 1200Apabila 1600 digunakan bersama MAO Inhibitor, riwayat mielosupresi, hipersensitif terhadap antidepresan trisiklik.

Waktu paruh 25idiopatik atau 65 jam. karena MM Golongan obat yang dipilih yaitu Carbamazepine, karena ditinjau dari Efficacy, cost, dan suitability-nya hampir sama dengan obat lainnya, namun safety nya cukup baik. Dan juga obat ini merupakan terapi lini pertama dalam pengobatan epilepsy grand mal 4. Pemberian Terapi a. Terapi Non Farmakologis i. Menghindari factor pencetus suatu bangkitan, seperti minum alcohol. ii. Menghindari kelelahan fisik maupun mental. iii. pasien dirujuk ke bagian neurologi untuk dilakukan pemeriksaan EEG b. Terapi Farmakologis Carbamazepine 200 mg 2 x 1 Penulisan Resep
PRAKTER DOKTER BERSAMA dr. Fitrie Widyastuti, Sp.S
Jl. Pramuka 6 No.122 Telp.0541-242048 SIP. 0708015016

Samarinda, 3 Januari 2012

/
S

Teril tab 200 mg No. LX

2dd1 tab

Pro Umur Alamat

: Nn. X : 15 thn : Jl. X No.X

5. Komunikasi Terapi a. Informasi Penyakit :

14

i.

Epilepsy bukan suatu penyakit menular, bukan pula penyakit keturunan, dapat terjadi pada setiap orang, dan dapat diobati serta dapat dikendalikan.

ii.

Penyakit ini adalah bentuk epilepsy yang paling sering ditemukan. Serangan meyebabkan hilangnya kesadaran, jadi merupakan suatu hal yang wajar jika pasien mengalami kehilangan kesadaran saat serangan berlangsung.

iii. iv.

Tidak perlu panic karena kejang akan mereda sendiri Hindarkan barang-barang yang berbahaya di sekitar pasien ketika seranga dating

v.

Hindarkan tindakan yang salah seperti member minum saat tidak sadar atau menahan kejang serta disiram air.

vi. vii.

Ketika kejang pasien ditidurkan, pakaian dilonggarkan Cegah orang-orang menonton pasien.

b. Informasi Terapi Non Farmakologis i. Menjelaskan kepada pasien bahwa harus menghindari factor-faktor yang dapat mencetuskan bangkitan kejang, seperti minum alcohol, emosi ataupun kelelahan fisik dan mental ii. Pasien penyandang epilepsy dianjurkan untuk secepatnya

menghubungi dokter dan mengikuti nasehat serta disiplin minum obat yang diberikan iii. Pasien tidak boleh putus obat dan mengurangi sendiri dosis obat.

c. Informasi Terapi Farmakologis i. Indikasi : epilepsi (bangkitan parsial, bangkitan umum pimer atau sekunder dengan komponen tonik klonik, jenis epilepsi campuran). ii. Kontraindikasi : Apabila digunakan bersama MAO Inhibitor, riwayat mielosupresi, hipersensitif terhadap antidepresan trisiklik. iii. Dosis : 1 tablet Karbamazepine 200 mg diminum dua kali sehari iv. Cara pemakaian : oral v. Efek samping obat : Pusing, vertigo, ataksia, mual, muntah, reaksi alergi berupa dermatitis, leucopenia.

15

6. Monitoring dan Evaluasi a. Kontrol pengobatan Pasien diharuskan dating kembali untuk control beserta meminta obat lagi sebelum obat habis karena penyakit ini tidak boleh putus obat b. Obat dihentikan minimal setelah dua tahun bebas serangan dan tidak dijumpai retardasi psikomotorik dan deficit neurologis, secara bertahap. Dengan cara mengurangi dosis sebesar 25% tiap dua atau empat minggu c. Monitoring obat anti epilepsy dalam serum .

16

BAB IV KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari kasus pasien di atas antara lain: 1. 2. Pasien menderita epilepsy bangkitan umum tonik klonik (grand-mal) Terapi farmakologis yang diberikan adalah golongan karbamazepine, dosis yang diberikan adalah 200 mg 2 x 1. 3. Terapi tidak boleh putus ditengah jalan, karena dapat menyebabkan hal-hal yang lebih parah, seperti status epileptikus.

17

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, S. (2008). Farmakologi & Terapi. Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI. Harsono. (2005). Kapita Selekta Neurologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Harsono. (2005). Buku Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Mansjoer, A., Suprohaita., Wardhani, WI., Setiowulan, W. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius. Mardjono, M., Sidharta P. (2006). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. (2008/2009). Edisi 8. Jakarta: PT. Infomaster Lisensi dari CMP Medica. Mycek, M. (2001). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi II. Jakarta: Widya Medika. Rubenstein, D., Wayne, D., Bradley, J. (2007). Lecture Notes Kedokteran Klinis Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.

18