Anda di halaman 1dari 23

LONG TERM EVOLUTION - LTE

Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik Elektro

Di susun oleh : Adi Maulana Nafis Qurtubi 41411120038 41411120008

PROGRAM KELAS KARYAWAN - UNIVERSITAS MERCU BUANA Kampus Meruya Jl. Meruya Selatan, Kebun Jeruk - Jakarta Barat Telepon : 021-5857722 (hunting), 5840816 ext. 2600, Fax : 021-5857733, http://kk.mercubuana.ac.id

KATA PENGANTAR Penulis ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat selesai pada waktu nya. Makalah ini diajukan untuk melengkapi salah satu tugas Mata Kuliah Dasar Telekomunkasi pada Semester 4. Judul dari makalah ini yaitu Long Term Evolution - LTE. Dalam penulisan makalah penulis tidak sedikit mengalami kesulitan, namun dengan kemauan dan kemampuan, serta mendapat dorongan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. Sehubungan itu, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini. Semoga kebaikan-kebaikannya mendapat rahmat-Nya, ucapan terima kasih penulis ajukan kepada : 1. Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat sehat dan nikmat lainnya yang diberikan kepada penulis. 2. Orang Tua penulis, kakak penulis, atas doa dan dukungannya. 3. Ibu Dian W. A. selaku Dosen Mata Kuliah Dasar Telekomunikasi yang telah memberikan bimbingan dan membuka wawasan mengenai Long Term Evolution LTE. 4. Teman-teman Fakultas Teknik Elektro yang telah mengisi suasana dengan kehangatan dan keakraban dalam berbagi ilmu. 5. dan semua pihak yang telah memberikan dorongan yang tak bisa disebutkan satu persatu. Penulis menyadari, makalah ini belum sempurna, oleh sebab itu, penulis menerima kritik dan saran dari para pembaca. Penulis berharap, makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. Terutama bermanfaat bagi para pembaca yang ingin mengetahui secara lanjut mengenai Long Term Evolution.

Jakarta,

Desember 2013

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) i

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN................................................................................................... 1.1 Latar Belakang........................................................................................................... 1.2 Rumusan Masalah...................................................................................................... 1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................................... 1.4 Sistematika Penulisan................................................................................................ 1.5 Metodologi Penulisan................................................................................................ BAB II LONG TERM EVOLUTION.............................................................................. 2.1. Pengenalan Long Term Evolution.............................................................................. 2.2. Fitur Long Term Evolution........................................................................................ 2.3. Arsitektur Long Term Evolution................................................................................ 2.4. Aspek Interface Radio Long Term Evolution............................................................. 2.5. Layanan-Layanan Long Term Evolution.................................................................... 1 1 2 2 2 3 4 4 4 5 7 11

BAB III IMPLEMENTASI LONG TERM EVOLUTION............................................ 13 3.1. Implementasi Long Term Evolution di Indonesia...................................................... 16 BAB IV PENUTUP............................................................................................................. 18 4.1 Kesimpulan.................................................................................................................. 18 4.2 Saran............................................................................................................................ 19 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 20

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang demikian cepat, masyarakat modern memerlukan adanya sarana komunikasi yang handal dan canggih. Kebutuhan perangkat telekomunikasi dewasa ini tidak hanya untuk komunikasi suara, tetapi sudah merupakan tuntutan untuk komunikasi data, gambar dan video membentuk komunikasi multimedia. Komunikasi multimedia sudah menjadi keharusan dan ini dimungkinkan karena telah terjadinya konvergensi beberapa layanan seperti voice, data, gambar dan video. Telah banyak aplikasi layanan telekomunikasi yang banyak dinikmati user akibat dari konvergensi layanan yang terjadi. Aplikasi layanan telekomunikasi yang pada awalnya hanya layanan fixed sekarang ini telah dituntut untuk dapat dinikmati menggunakan perangkat bergerak seperti PDA atau Laptop. Beberapa aplikasi layanan multimedia yang sekarang banyak dinikamati antara lain adalah m-learning, m-banking, m-shopping dan lain-lain. kemajuan teknologi telekomunikasi dan informatika biasa disebut Informatics, Communication Technology (ICT) telah banyak membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari. (Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hutomo, 2010; 3). Dengan melihat perkembangan teknologi informasi pada saat ini dan perkembangan teknologi dibidang telekomunikasi yang berkembang pesat serta layanan komunikasi yang bergerak di dunia mobile evolutions memungkinkan penggunanya dapat saling berinteraksi satu sama lain. Perkembngan teknologi ini sendiri berkembang secara cepat dari generasi ke generasi. Dimulai dari generasi Fixed Wireline sampai kepada generasi Broadband, ini bisa dilihat dari pertumbuhan pengguna teknologi Wireless di Indonesia. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Next Generation Network (NGN) harus mampu mendukung karakteristik sistem komunikasi bergerak, dengan terminal yang portable dan memenuhi persyaratan komunikasi bergerak yang ada. Untuk saat ini sendiri terdapat 3 kandidat pengusung teknologi 4G , yaitu Long Term Evolution (LTE), Ultra Mobile Broadband (UMB) dan Wimax II (Worldwide Interoperability for Microwive Access II). Namun dari ketiganya LTE adalah kandidate terkuat yang dipercaya akan memberikan keuntungan baik bagi operator maupun kepada pengguna. Long Term Evolution (LTE) adalah bentuk kemajuan dalam layanan seluler 3G. LTE adalah sebuah nama yang diberikan kepada suatu proyek dalam The Third Generation Partnership Project (3GPP) untuk mengembangkan standar komunikasi bergerak Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) dalam mengatasi kebutuhan mendatang. Tujuannya meliputi peningkatan efisiensi, peningkatan servis, marking use of new spectrum opportunities, dan integrasi yang lebih baik dengan standar terbuka lainnya. Dalam teknologi terbarunya, LTE menawarkan berbagai kelebihan dibandingkan sistem sebelumnya. Antara lain kecepatan akses data yang tinggi, peningkatan jumlah kapasitas kanal dan dapat melayani komunikasi bergerak dengan performasi yang baik serta dapat menunjang kerjasama antar teknologi dalam standar 3GPP. Untuk itu diperlukan pengkajian mendalam mengenai perkembangan teknologi telekomunikasi ini sehingga dapat dijadikan sebagai komunikasi unggulan yang dapat mengatasi kebutuhan teknologi komunikasi di masa depan.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 1

1.2. Rumusan Masalah Makalah ini akan mengupas dan mengkaji lebih dalam mengenai perkembangan teknologi long term evolution dan arsitektur nya. 1.3. Tujuan Penulisan Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas Mata Kuliah Dasar Telekomunikasi pada Semester 4 yang bertujuan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengetahui long term evolution secara umum Mengetahui fitur long term evolution Mengetahui arsitektur long term evolution Mengetahui aspek interface radio long term evolution Mengetahui layanan-layanan long term evolution Mengetahui penerapan long term evolution di Indonesia

1.4. Sistematika Penulisan Sistematika penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut : A. BAB I Pendahuluan, berisi tentang : 1.1. Latar Belakang 1.2. Rumusan Masalah 1.3. Tujuan Penulisan 1.4. Sistematika Penulisan 1.5. Metodologi Penulisan B. BAB II Long Term Evolution, berisi tentang : 2.1. Pengenalan Long Term Evolution 2.2. Fitur Long Term Evolution 2.3. Arsitektur Long Term Evolution 2.4. Aspek Interface Radio Long Term Evolution 2.5. Layanan-Layanan Long Term Evolution C. BAB III Implementasi Long Term Evolution, berisi tentang : 3.1. Implementasi Long Term Evolution di Indonesia D. BAB IV Penutup, berisi tentang : 4.1 Kesimpulan 4.2 Saran

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 2

1.5. Metodologi Penulisan Dalam makalah ini penulis menggunakan beberapa metode penulisan yaitu : Metode deduktif : Suatu metode penulisan dengan menempatkan pokok atau inti masalah di awal dan dijelaskan oleh beberapa kalimat penjelas. Metode induktif : Suatu metode penulisan dengan menempatkan pokok atau inti masalah di akhir paragraf dimana telah didahului kalimat penjelas. Metode komparatif : Suatu metode yang membandingkan dari buku yang satu dengan buku yang lain untuk mencari keserasian.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 3

BAB II LONG TERM EVOLUTION 2.1. Pengenalan Long Term Evolution

Gambar 1. Evolusi 3GPP LTE merupakan evolusi lanjutan dalam standar jaringan bergerak yang ditentukan oleh 3GPP (Third Generation Partnership Project) dan mendukung kegiatan operasional baik dalam spektrum yang dipasangkan maupun yang tidak dipasangkan. LTE adalah teknologi lanjutan dari generasi 1xEV-DO. Berbeda dengan Wimax yang awalnya dikembangkan untuk komunikasi data. Teknologi ini bekerja di spektrum yang selama ini digunakan oleh telepon seluler, yaitu spektrum 450/850/900/1800/1900/2100 MHz. Tapi bisa juga bekerja di spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz. Menurut standar, LTE memberikan kecepatan uplink hingga 50 Mbps dan kecepatan downlink hingga 100 Mbps. Bandwidth LTE adalah dari 1,4 MHz hingga 20 MHz. LTE menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) pada downlink dan Single Carrier-Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) pada uplink nya. SC-FDMA secara teknis serupa dengan OFDMA tetapi lebih cocok diaplikasikan pada device handheld karena lebih sedikit dalam konsumsi baterai. 2.2. Fitur Long Term Evolution Objektif utama LTE dibandingkan 3.5G adalah peningkatan efisiensi spektral dan penggunaan terbaik spektrum baru, permeabilitas yang lebih baik, rata-rata responsif jaringan yang lebih tinggi untuk layanan yang lebih rumit, biaya (CAPEX dan OPEX) dengan menghindari pembangunan arsitektur jaringan yang kompleks dan antarmuka yang tidak perlu, dan optimisasi protokol jaringan serta lingkungan multi-vendor. LTE menghasilkan peningkatan dan pengkayaan layanan, implementasi layanan plug and play, dan diharapkan dapat berintegrasi dengan standar terbuka yang sudah ada, seperti dapat melakukan koneksi transparan dengan standar GSM dan WCDMA, dan juga dengan WLAN dan WiMAX. Arsitektur jaringan yang lahir dari persyaratan-persyaratan tersebut disebut EPS (Evolved Packet System), EPS sebenarnya menyatukan E-UTRAN pada sisi akses dan EPC (Evolved Packet Core). Inti ini juga diketahui sebagai SAE (System Architecture Evolution), dan untuk bagian akses lebih cenderung dengan istilah LTE. Standar 3GPP Rel-8 termasuk fitur-fitur dan persyaratan jaringan LTE/SAE sebagai berikut :
AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 4

Downlink Transmisi Rate : Min 100 Mb/s, 3-4 kali lebih dari HSDPA Rel-6, nilai puncak 326.4 Mb/s untuk 4x4 sistem antena, 172.8 Mb/s untuk 2x2 sistem antena, untuk tiap 20 MHz spektrum. Rate Transmisi Uplink : 50 Mb/s, 2-3 kali lebih besar dari HSUPA Rel-6, nilai puncak untuk upload : 86.4 Mb/s untuk tiap 20 MHz spektrum. Lima kelas berbeda untuk terminal, dari kelas untuk pemprosesan suara dan transmisi hingga kelas pemprosesan data pada rata-rata transmisi setinggi mungkin. Tiap kelas dapat melakukan proses sinyal pada jangkauan 20 MHz. Kapasitas : sekitar 200 pengguna aktif secara stimultan tiap 5 MHz cell. Rata-rata respon untuk subsistem RAN < 20 msec Fleksibilitas penggunaan spektrum yang tinggi, dari 1.4 MHz, 1.6 MHz, 3 MHz, 3.2 MHz, 5 MHz, 10 MHz, 15 MHz, ke jangkauan 20 MHz untuk Time Division Duplex (TDD) juga Frequency Division Duplex (FDD). Radius sel yang optimal, 5 km untuk performa yang relatif bagus, 30 km dengan penurunan kualitas yang diperbolehkan, dan 100 km untuk performa yang dapat diterima. Mobilitas tinggi : jaringan LTE harus dioptimisasi untuk penggunaan berkecepatan 0-15 kmph, mendapatkan performa yang terbaik pada kecepatan 15-120 kmph, dan juga mendukung layanan pada 120-350 kmph. Ko-eksistansi dengan standar yang ada seperti 2G dan 3G, pelanggan dapat melakukan inisiasi panggilan atau transmisi data pada area standar LTE, dan secara transparan melanjutkan layanan pada area GSM atau WCDMA/UMTS. Mendukung MBSFN (Multicast Broadcast Single Frequency Network) ketika melakukan layanan seperti Mobile TV pada infrastruktur LTE, yang menjadi kompetisi langsung terhadap DVB-H (Digital Video BroadcastingHandheld/Terrestial) berbasis penyiaran TV. PU2RC (Per-User Unitary Rate Control) sebagai solusi praktis untuk sistem antena multi-user MIMO, yang menjadi awal pengembangan LTE-Advanced.

Tugas utama implementasi SAE termasuk penyederhanaan total dari arsitektur sistem dalam transisi dari UMTS (kombinasi jaringan circuit+packet switched) menuju arsitektur allIP. 2.3. Arsitektur Long Term Evolution Arsitektur jaringan LTE dirancang untuk tujuan mendukung trafik packet switching dengan mobilitas tinggi, quality of service (QOS), dan latency yang kecil. Pendekatan packet switching ini memperbolehkan semua layanan termasuk layanan voice menggunakan koneksi paket. Oleh karena itu pada arsitektur jaringan LTE dirancang sesederhana mungkin, yaitu hanya terdiri dari dua node yaitu eNodeB dan mobility management entity/gateway (MME/GW). Hal ini sangat berbeda dengan arsitektur teknologi GSM dan UMTS yang memiliki struktur lebih kompleks dengan adanya radio network controller (RNC). Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan hanya adanya single node pada jaringan akses adalah pengurangan latency dan distribusi beban proses RNC untuk beberapa eNodeB.
AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 5

Pengeliminasian RNC pada jaringan akses LTE memungkinkan, karena LTE tidak mendukung soft handover.

Gambar 2. Arsitektur LTE Semua interface jaringan pada LTE adalah berbasis internet protocol (IP). eNodeB saling terkoneksi dengan interface X2 dan terhubung dengan MME/SGW melalui interface S1. Pada LTE terdapat 2 logical gateway, yaitu serving gateway (S-GW) dan packet data network gateway (P-GW). S-GW bertugas untuk melanjutkan dan menerima paket ke dan dari eNodeB yang melayani user equipment (UE). P-GW menyediakan interface dengan jaringan packet data network (PDN), seperti internet dan IMS. Selain itu P-GW juga melakukan beberapa fungsi lainnya, seperti alokasi alamat, packet filtering, dan routing. 2.3.1. eNodeB Jaringan akses pada LTE terdiri dari satu elemen, yaitu eNodeB. eNodeB (eNB) merupakan interface dengan UE (User Equipment). eNodeB berfungsi untuk Radio Resurce Management (RRM) dan sebagai transceiver. Sebagai RRM, fungsi eNodeB adalah untuk mengontrol dan mengawasi pengiriman sinyal yang dibawa oleh sinyal radio, berperan dalam autentikasi atau mengontrol kelayakan data yang akan melewati eNodeB, dan untuk mengatur scheduling. eNodeB juga mempunyai resource management dan fungsi pengontrolan yang pada mulanya terdapat pada Base Station Controller (BSC) atau Radio Network Controller (RNC). Hal ini menyebabkan eNodeB mempunyai kapabilitas untuk dapat berkomunikasi satu sama lain, yang pada akhirnya dapat mengeliminasi adanya Mobile Switching Center (MSC), BSC/RNC.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 6

2.3.2. Mobility Management Entity (MME) MME dapat dianalogikan sebagai MSC pada jaringan GSM. MME adalah nodekontrol utama pada jaringan akses LTE. Ia bertanggung jawab untuk prosedur paging untuk idlemode UE termasuk retransmisi. MME juga bertanggung jawab dalam proses aktivasi/deaktivasi dan autentikasi user (dengan bantuan HSS). MME juga berfungsi untuk mengatur handover, yaitu memilih MME lain untuk handover dengan MME lain, atau memilih SGSN untuk handover dengan jaringan akses 2G/3G. 2.3.3. Serving Gateway (SGW) SGW terdiri dari dua bagian, yaitu 3GPP Anchor dan SAE Anchor. 3GPP Anchor berfungsi sebagai gateway paket data yang berasal dari jaringan 3GPP, sedangkan SAE Anchor berfungsi sebagai gateway jaringan non-3GPP. SGW merutekan dan memforward paket data user, sambil juga berfungsi sebagai mobility anchor saat handover antar eNodeB dan untuk menghubungkan LTE dengan jaringan lain yang sudah ada. 2.3.4. Home Subscriber Server (HSS) HSS adalah database utama yang ada pada jaringan LTE. HSS adalah sebuah super HLR yang mengkombinasikan fungsi HLR sebagai database dan AuC sebagai autentikasi. 2.4. Aspek Interface Radio Long Term Evolution 2.4.1. Teknik Akses Teknik akses yang digunakan LTE pada transmisi arah downlink dan uplink berbeda. Arah downlink adalah arah komunikasi dari eNodeB ke UE, sementara arah uplink adalah arah dari UE menuju eNodeB. Pada arah downlink teknik akses yang digunakan adalah orthogonal frequency division modulation access (OFDMA) dan pada arah uplink teknik akses yang digunakan adalah single carrier frequency division multiple access (SC-FDMA). OFDMA adalah variasi dari orthogonal frequency division modulation (OFDM). Pada teknik OFDM setiap subcarrier adalah orthogonal sehingga akan menghemat spektrum frekuensi dan setiap subcarrier tidak akan saling mempengaruhi. Akan tetapi salah satu kelemahan teknik akses ini adalah tingginya peak average power ratio (PAPR) yang dibutuhkan. Tingginya PAPR dalam OFDM membuat 3GPP melihat skema teknik akses yang berbeda pada arah uplink karena akan sangat mempengaruhi konsumsi daya pada UE sehingga pada arah uplink LTE menggunakan teknik SCFDMA. SC-FDMA dipilih karena teknik ini mengkombinasikan keunggulan PAPR yang rendah dengan daya tahan terhadap gangguan lintasan jamak dan alokasi frekuensi yang fleksibel dari OFDMA.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 7

Gambar 3. Teknik Akses LTE 2.4.2. Mode Akses Radio Pada komunikasi seluler sangat penting untuk mempertimbangkan kemampuan jaringan untuk melakukan komunikasi dalam dua arah secara simultan atau dikenal dengan istilah komunikasi full duplex. Oleh karena itu untuk dapat melakukan komunikasi dua arah secara simultan, maka dibutuhkan suatu teknik duplex. Pada umumnya terdapat dua teknik duplex yang biasanya digunakan, yaitu frequency division duplex (FDD) dan time division duplex (TDD). FDD merupakan teknik duplex yang menggunakan dua frekuensi yang berbeda untuk melakukan komunikasi dalam dua arah. Dengan menggunakan FDD dimungkinkan untuk mengirim dan menerima sinyal secara simultan dengan frekuensi yang berbeda-beda. Dengan teknik ini dibutuhkan guard frequency untuk memisahkan frekuensi pengiriman dan penerimaan secara simultan, serta dibutuhkan proses filtering frekuensi yang harus akurat. Sedangkan TDD menggunakan frekuensi tunggal dan frekuensi tersebut digunakan oleh semua kanal untuk melakukan pengiriman dan penerimaan data. Setiap kanal tersebut di-multiplexing dengan menggunakan basis waktu sehingga setiap kanal memiliki time slot yang berbeda. Dalam teknik FDD lebih banyak menggunakan spektrum frekuensi yang tersedia. FDD lebih unggul dalam menangani latency dibandingkan TDD karena kanal harus lebih lama menunggu waktu pemprosesan dalam multiplexing. Interface radio LTE mendukung frequency divison duplex (FDD) dan time divison duplex (TDD), yang masing-masing memiliki struktur frame yang berbedabeda. Pada LTE terdapat 15 band operasi FDD dan 8 band operasi TDD. LTE juga dapat menggunakan fasilitas half-duplex FDD yang mengizinkan sharing hardware diantara uplink dan downlink dimana koneksi uplink dan downlink tidak digunakan secara simultan. LTE dapat menggunakan kembali semua band frekuensi yang digunakan pada UMTS.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 8

2.4.3. Konfigurasi Antena pada Long Term Evolution Terdapat beberapa konfigurasi antena yang digunakan LTE untuk mengoptimasikan kinerja pada arah downlink dalam kondisi linkradio yang bervariasi. Konfigurasi ini mengkombinasikan jumlah antena, baik dibagian pengirim maupun di penerima sesuai dengan tujuan sistem jaringan yang diinginkan, seperti untuk memperbaiki kinerja penerimaan sinyal pada kondisi link radio yang buruk. 2.4.3.1. Single Input Multiple Output (SIMO) Pada konfigurasi ini hanya digunakan satu buah antena pada eNodeB dan user equipment (UE) harus memiliki minimal dua antena penerima. Konfigurasi ini disebut single input multiple output (SIMO) atau receive diversity. Konfigurasi ini diimplementasikan menggunakan teknik maximum ratio combining (MRC) pada aliran data yang diterima untuk memperbaiki SNR pada kondisi propagasi yang buruk, sehingga sinyal yang akan diproses selanjutnya adalah sinyal dengan kualitas SNR terbaik.

Gambar 4. SIMO 2.4.3.2. Multiple Input Single Ouput (MISO) Pada mode ini jumlah antena yang digunakan pada sisi pengirim lebih dari satu. Konfigurasi antena ini digunakan untuk skema transmit diversity dan tipe beamforming yang berbeda. Tujuan utama beam forming adalah untuk memperbaiki SNR dan tentunya memperbaiki kapasitas sistem dan daerah layanan.

Gambar 5. MISO

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 9

2.4.3.3. Multiple Input Multiple Output (MIMO) Teknik ini menggunakan antena lebih dari satu, baik pada sisi penerima maupun pada sisi pengirim. Teknik ini dapat digunakan untuk meningkatkan bit rate dan perbaikan BER. Transmisi dengan teknik MIMO mendukung konfigurasi dua atau empat antena pengirim dan dua atau empat antena penerima. Konfigurasi MIMO yang mungkin pada arah downlink adalah MIMO 2x2, MIMO2x4, MIMO 4x2, dan MIMO 4x4. Akan tetapi UE dengan 4 antena penerima yang dibutuhkan untuk konfigurasi MIMO 4x4 hingga saat ini masih belum diimplementasikan.

Gambar 6. MIMO : (a) Spatial Multiplexing (b) Transmit Diversity Teknik spatial multiplexing mengirimkan data yang berbeda pada masing-masing antena pemancar, sedangkan teknik transmit diversity mengirimkan data yang sama pada masing-masing antena pemancar. Masingmasing teknik ini memiliki keuntungan tersendiri tergantung dari skenario yang ada. Misalnya, pada beban jaringan yang tinggi atau pada tepi sel, teknik spatial multiplexing memiliki keuntungan yang terbatas karena pada kondisi ini kondisi SNR cukup buruk. Sebaliknya teknik transmit diversity seharusnya digunakan
AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 10

untuk memperbaiki SNR dengan beamforming. Selanjutnya pada skenario dimana kondisi SNR tinggi, misalnya pada sel yang kecil, maka spatial multiplexing lebih baik digunakan untuk memberika n bit rate yang tinggi. 2.5. Layanan-Layanan Long Term Evolution Melalui kombinasi downlinkdan kecepatan transmisi (uplink) yang sangat tinggi, lebih fleksibel, efisien dalam penggunaan spektrum dan dapat mengurangi paket latensi, LTE menjanjikan untuk peningkatan pada layanan mobile broadband serta menambahkan layanan value-added baru yang menarik. Manfaat besar bagi pengguna antara lain streaming skala besar, download dan berbagi video, musik dan konten multimedia yang semakin lengkap Untuk pelanggan bisnis LTE dapat memberikan transfer file besar dengan kecepatan tinggi, video conference berkualitas tinggi dan nomadic access yang aman ke jaringan korporat. Semua layanan ini memerlukan throughput yang signifikan lebih besar untuk dapat memberikan quality of service. KATEGORI SAAT INI LAYANAN Layanan Real-time audio Suara SMS, MMS, e-mail prioritas Pesan P2F rendah Akses ke layanan informasi online dimana pengguna membayar tarif Browsing jaringan standar. Saat ini terbatas untuk browsing WAP melalui Jaringan GPRS dan 3G Informasi Informasi berbasis teks Pembayaran Didominasi ringtones, termasuk Personalisasi screensaver dan ringbacks

LTE VoIP, konferensi video berkualitas tinggi Pesan foto, IM, Mobile e-mail, Pesan video Browsing super-cepat, meng upload konten ke social situs jaringan

E-newspapers , streaming audio berkualitas tinggi Realtones (asli artis rekaman), situs Web mobile pribadi Permainan game online secara Games Didownload dan online game konsisten pada jaringan fixed maupun mobile Layanan siaran televisi, true onTV / Video Video streaming dan konten video demand television, streaming on Demand hasil download video kualitas tinggi Full track downloads, layanan Download musik berkualitas Musik radio analog tinggi Konten Pesan peer-to-peer serta interaksi Distribusi klip video, layanan Pesan dan dengan media lainnya karaoke, video berbasis iklan Lintas Media menggunakan konten pihak ketiga mobile dengan skala yang luas

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 11

M-commerce

Fasilitas pembayaran dilakukan melalui jaringan selular

Mobile Data Networking

Akses ke intranet perusahaan dan database

Mobile handset sebagai alat pembayaran, rincian pembayaran dibawa melalui jaringan kecepatan tinggi untuk memungkinkan penyelesaian transaksi secara cepat Transfer file P2P, aplikasi bisnis, application sharing, komunikasi M2M, mobile intranet / ekstranet

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 12

BAB III IMPLEMENTASI LONG TERM EVOLUTION Aplikasi LTE dapat di temukan pada mobile cellular terbaru yang dapat dilihat dari Technical details mobile cellular tersebut.

Gambar 7. Aplikasi 4G LTE pada Mobile Cellular Untuk Mobile cellular yang tidak memiliki support 4G LTE, sayangnya tidak dapat di upgrade untuk dapat menikmati layanan tersebut dikarenakan tidak tertanamnya chip yang dapat mensupport LTE. Oleh karenanya selektiflah dalam membeli mobile cellular/Smart Phone.

Gambar 8. Tingkatan kebutuhan Bandwidth dengan Tingkatan Latency


AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 13

Perkembangan layanan pengguna berimbas pada bandwidth yang digunakan serta latency jaringannya. Kebutuhan tersebut menjadi salah satu sebab implementasi LTE untuk operator mencapai pendapatan pada layanan konten. Operator membutuhkan teknologi yang dapat menurunkan biaya jaringan. Jaringan suara mendominasi pendapatan yang proporsional dengan peningkatan volume lalu lintas komunikasi. Pada jaringan data, yang diharapkan adalah peningkatan volume lalu lintas data yang meningkat secara eksponensial. Namun pendapatan hanya meningkat sedikit, konstan, atau bahkan tidak diterima pada pangsa pasar. Untuk menjaga keuntungan dari jaringan data, operator harus menggunakan teknologi yang menawarkan biaya rendah yang tidak mengikuti volume lalu lintas data. LTE diharapkan mengurangi biaya operasional dan meningkatkan pelanggan data. LTE memiliki keunggulan teknologi dengan perkembangan algoritma pemrosesan sinyal digital yang dioptimasikan dan keunggulan dari perkembangan teknologi antena yang dapat menekan efisiensi spektrum interface udara mendekati batas teoritisnya. IP transport yang terimprovisasi, jaminan QoS (Quality of Service) meningkatkan paket jaringan data dan performa suara, efisiensi dan reliabilitas tingkat carrier. Keseluruhannya dengan kemajuan pada integrasi IP dalam perangkat jaringan dan implementasi teknik VoIP dengan efisiensi spektrum, akan membuat visi jaringan berbasis IP menjadi nyata. LTE/SAE memungkinkan untuk digunakan operator untuk mengimplemetasikan seluruh layanannya pada IP-sentris tunggal, yang berbasis jaringan paket (packet based). Hal tersebut akan membuat aplikasi IP seperti mobile sebagai jaringan suara pada jaringan mobile. Dengan kelebihan tersebut dan arsitektur yang lebih sederhana, akan memberi pengurangan pengeluaran operasional dan juga pengurangan biaya sirkulasi jaringan.

Gambar 8. Perbandingan LTE dengan metode akses lainnya

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 14

Umumnya konsumen tidak memiliki ketertarikan pada teknologi, namun mereka mengharapkan akses internet dan layanan personalisasi, saat kapanpun dan dimanapun. Akses pita-lebar saat ini memenuhi kebutuhan konsumen untuk akses internet dan persepsi atas performa jaringan. Performa jaringan ini dibentuk dengan percampuran pengguna data rate, average user throughput, cell throughput, signaling delay, dan user data latency. Dimana perkembangan teknologi ini menuntut improvisasi performa mobile pita-lebar. Dimana LTE memiliki maksimum peak data rate, throughput, dan kapasitas VoIP yang lebih tinggi dari HSPA, serta latency yang lebih baik. Ko-eksistensi, interoperabilitas, roaming dan handover antar LTE/SAE dengan jaringan 2G/3G yang sudah ada serta layananlayanan adalah tujuan rancangan teknologi ini dan teknologi sebelumnya, maka dukungan mobilitas penuh harus dipenuhi untuk keuntungan pengguna. Keuntungan pengguna diperhitungkan oleh penyelenggara jaringan selular sebagai potensi pendapatan. Untuk mendatangkan keuntungan, operator harus mengoptimisasikan pendapatan dengan biaya operasional. Untuk meningkatkan efisiensi biaya adalah peningkatan lalu lintas data dengan harga per-MB yang diturunkan. Operator-operator memformulasikan ekspetasi performa interface udara LTE : Efisiensi spektral tinggi (3-4 kali DL HSPA rel. 6 2-4 kali UP HSPA) dan performa cell edge. Peak data rate >100 Mbps DL, >50 Mbps UL untuk bandwidth 20 MHz Low Latency (<20 ms) Flexibel dan skalabilitas bandwidth pada seluruh spektrum IMT2000

Gambar 9. 1.) Peningkatan performa LTE terhadap HSPA. 2.) Perbandingan biaya jaringan LTE dapat menjadi teknologi pilihan untuk operator-operator mobile Third Generation Partnership Project (3GPP) dan 3GPP2. LTE memberi keuntungan ekonomi dan penggunaan ulang spektrum. LTE menawarkan integrasi dan handover dan dari jaringan 3GPP dan 3GPP2 yang ada, mendukung mobilitas penuh dan roaming yang global, dan memastikan operatoroperator dapat menerapkan LTE secara bertahap dengan menaikkan jaringan sebelumnya untuk kelanjutan layanan. LTE juga membawa subscriber jaringan pita-lebar mobile yang sebenarnya (~5-10 Mbps/~15 ms latency) yang memberi kualitas video dan mobilitas media.
AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 15

Standar LTE telah ditentukan dengan sebanyak mungkin fleksibilitas sehingga operatoroperator dapat mengembannya pada seluruh frekuensi-frekuensi yang ada maupun spektrum baru. Operator dapat mengemban teknologi ini dengan spektrum sekecil 1.4 MHz atau sebanyak 20 MHz dan menumbuhkan jaringan sebagai tuntutan untuk tumbuhnya layanan data. LTE juga muncul dalam sejumlah spektrum pita, termasuk pita baru 2.6 GHz, yang berarti sempurna sebagai pita kapasitas karena operator dapat menggunakan spektrum 2x20 MHz. LTE juga dapat diluncurkan pada pita GSM 900 MHz dan 1800 MHz dan spektrum digital dividend (seperti 700 MHz dalam Amerika Serikat), menyediakan cakupan superior dan roaming global pada pasar 3GPP. Dengan peningkatan pada kapasitas, kecepatan, dan latency, LTE tidak hanya membuat akses aplikasi lebih cepat, namun akan memberi keuntungan dari aplikasi-aplikasi baru yang sebelumnya hanya didapati pada koneksi internet kabel. Global Mobile Supplier Association (GSA) mengumumkan perkembangan terbaru adopsi LTE di seluruh dunia. Dalam laporannya, disebutkan bahwa 81 negara sudah mengadopsi LTE. Dan mayoritas, menggunakan frekuensi 1800 MHz. Dijelaskan GSA, dari 81 negara tersebut, sudah ada 213 operator yang mengkomersialkan teknologi generasi ke-4 (4G). Diprediksi GSA, hingga akhir 2013, akan ada 260 operator memanfaatkan 4G LTE di 90 negara. Sementara itu, untuk device sudah ada 1064 device hingga saat ini. Untuk pengguna 4G LTE nya sendiri, hingga Q2 di seluruh dunia, sudah ada 126,1 juta pengguna LTE. Untu penggunaan spektrum, mayoritas sekitar 43% menggunakan 1800 MHz, kemudian peringkat kedua adalah 2,6 GHZ dan peringkat ke-3 ditempati 700 MHz. 3.1. Implementasi Long Term Evolution di Indonesia

Gambar 10. Pita Spektrum yang diidentifikasi untuk Layanan Pita Lebar
AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008 TeknikElektro(2013) 16

Regulasi memegang peranan yang paling dalam bisnis telekomunikasi. Ada banyak aspek regulasi yang mempengaruhi pertumbuhan bisnis telekomunikasi bergerak pita lebar seperti ketersedian spektrum frekuensi, tarif, interkoneksi, konten, dan penomoran. (Gunawan Wibisono dan Gunadi Dwi Hutomo, 2010; 196). Regulasi yang berkaitan dengan masalah pengadaan jaringan LTE ini ialah berkaitan dengan regulasi frekuensi. Frekuensi merupakan sumber daya yang terbatas, oleh karena itu pemanfaatannya harus untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Lima operator seluler GSM pemegang lisensi 3G di Indonesia telah menyelesaikan tata ulang blok 3G di frekuensi 2.100MHz, Senin (21/10/2013). Kelima operator tersebut adalah Telkomsel, Indosat, XL, Axis, dan Tri (Hutchison CP Telecommunications/HCPT). Kini, pemerintah sedang bersiap menyusun regulasi tentang penyelenggaraan jaringan 4G Long Term Evolution (LTE). Dari sisi operator, adopsi LTE di Indonesia boleh dibilang siap. Telkomsel dan XL telah melakukan uji coba sejak tahun 2010. Pada beberapa kesempatan, kedua operator ini juga telah menyatakan kesiapannya. Bahkan, bulan ini mereka unjuk kehebatan LTE pada gelaran KTT APEC 2013 di Bali. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, mengatakan, pihaknya akan membuka peluang bisnis 4G LTE pada akhir 2013. "Kita akan buka regulasinya, termasuk memberi tahu memakai frekuensi berapa, dan bagaimana cara mendaftarkannya," ujar Tifatul di sela acara Internet Governance Forum di Nusa Dua, Bali, Senin (21/10/2013). Akhir tahun ini, Kemenkominfo akan melakukan uji publik Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang penyelenggaraan 4G LTE. Bagi sejumlah pihak, frekuensi 700MHz dinilai sebagai "frekuensi emas" untuk menyelenggarakan 4G LTE. Namun, saat ini frekuensi tersebut penuh digunakan untuk siaran televisi analog. Kemenkomifo sedang melakukan program digitalisasi televisi yang akan menghapus siaran televisi analog dan diharapkan ada frekuensi bebas di frekuensi 700MHz untuk alokasi jaringan 4G LTE. Namun, program digitalisasi televisi tersebut baru selesai paling cepat pada 2017. Sehingga, Kemenkominfo harus mencari frekuensi lain untuk menyelenggarakan 4G LTE. Dalam ekosistem global, frekuensi favorit untuk penyelenggaraan LTE di berbagai negara adalah 700MHz, 1.800MHz, 2.100MHz, dan 2.600MHz. General Manager Technology Roadmap & Acquisition Telkomsel, Edyson B. Tamba, berpendapat, pemerintah harus memilih frekuensi yang terbaik untuk kondisi Indonesia dan harus mengikuti ekosistem global. Jika negara memilih frekuensi yang tidak populer, maka konsumen dan perusahaan telekomunikasi harus berinvestasi lebih banyak. Di Indonesia hardware berupa teknologi dari LTE sendiri yang telah di uji coba oleh beberapa operator di Indonesia bukanlah merupakan teknologi standard dari LTE 4G yang sebenarnya. Teknologi yang telah diuji coba di Indonesia merupakan LTE release 8 yang mana teknologi tersebut hanya masih memenuhi spesifikasi 3GPP (Third Generation Partneurship Project) dan belum memenuhi spesifikasi standar IMT-andvanced. Selain itu, menurut Division Head Public Relation Indosat Bapak Djarot Handoko pada salah satu media cetak mengatakan perluasan teknologi 4G di Indonesia masih terkendala terbatasnya modem pendukungnya. "Modem untuk 4G masih sangat terbatas dan infrastruktur yang mendukung 4G belum merata di seluruh Indonesia. "Seperti 3G, saat awal belum banyak perangkat yang mendukung, seiring bertambahnya permintaan maka perangkat itu akan muncul dengan sendirinya, tambahnya.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 17

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan 4.1.1. Umum LTE merupakan evolusi lanjutan dalam standar jaringan bergerak yang ditentukan oleh 3GPP (Third Generation Partnership Project) dan mendukung kegiatan operasional baik dalam spektrum yang dipasangkan maupun yang tidak dipasangkan. LTE adalah teknologi lanjutan dari generasi 1xEV-DO. Berbeda dengan Wimax yang awalnya dikembangkan untuk komunikasi data. Teknologi ini bekerja di spektrum yang selama ini digunakan oleh telepon seluler, yaitu spektrum 450/850/900/1800/1900/2100 MHz. Tapi bisa juga bekerja di spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz. Menurut standar, LTE memberikan kecepatan uplink hingga 50 megabit per detik (Mbps) dan kecepatan downlink hingga 100 Mbps. Bandwidth LTE adalah dari 1,4 MHz hingga 20 MHz. LTE menggunakan Orthogonal Frequency Division Multiple Access (OFDMA) pada downlink dan Single Carrier-Frequency Division Multiple Access (SC-FDMA) pada uplink nya. SC-FDMA secara teknis serupa dengan OFDMA tetapi lebih cocok diaplikasikan pada device handheld karena lebih sedikit dalam konsumsi baterai. Jaringan akses pada LTE terdiri dari satu elemen, yaitu eNodeB. eNodeB (eNB) merupakan interface dengan UE (User Equipment). eNodeB berfungsi untuk Radio Resurce Management (RRM) dan sebagai transceiver. Sebagai RRM, fungsi eNodeB adalah untuk mengontrol dan mengawasi pengiriman sinyal yang dibawa oleh sinyal radio, berperan dalam autentikasi atau mengontrol kelayakan data yang akan melewati eNodeB, dan untuk mengatur scheduling. eNodeB juga mempunyai resource management dan fungsi pengontrolan yang pada mulanya terdapat pada Base Station Controller (BSC) atau Radio Network Controller (RNC). Hal ini menyebabkan eNodeB mempunyai kapabilitas untuk dapat berkomunikasi satu sama lain, yang pada akhirnya dapat mengeliminasi adanya Mobile Switching Center (MSC), BSC/RNC. 4.1.2. Khusus Beberapa pertimbangan untuk menerapkan LTE adalah memerlukan sejumlah prosedur terlebih dulu, termasuk merancang regulasinya, aturan konten lokal, kompetisi tarif yang akan berlaku. Disisi Pemerintah, dalam pengaturan spektrum masih terdapat kendala untuk implementasi LTE. Dan pemantapan regulasi dan konten lokal yang harus dikaji membuat pemerintah masih mempertimbangkan implementasi LTE. Tingkat kebutuhan LTE masih belum layak menjadi prioritas utama dari Pemerintah. Pemerintah harus dengan bijak memberi prioritas telekomunikasi untuk perkembangan Indonesia dalam segi telekomunikasi, yaitu mencakup seluruh kawasan nusantara. Sementara saat ini hanya kota-kota besar yang baru menikmati teknologi pita-lebar, sedangkan daerah-daerah terpencil masih terbatas untuk jaringan informasi.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 18

4.2. Saran Dari hasil analisis yang dilakukan bersumber dari berbagai bahan pustaka mengenai Penerapan Teknologi Jaringan LTE di Indonesia, maka sebaiknya pemerintah segera mengatur regulasi tentang penetapan jaringan teknologi LTE, agar dapat diimplementasikan secepatnya di Indonesia, dan masyarakat Indonesia pun dapat merasakannya, terutama bagi yang telah memiliki gadget berbasis 4G. Sejalan dengan menunggu kepastian pemerintah dalam mengatur regulasi tentang penetapan jaringan teknologi LTE, pihak operator diharapkan aktif melakukan penelitian dan pengembangan mengenai LTE (pengujian dan persiapan infrastruktur) guna mendukung layanan LTE yang baik.

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 19

DAFTAR PUSTAKA http://www.4gamericas.org/index.cfm?fuseaction=page&sectionid=249 http://www.freescale.com/files/wireless_comm/doc/white_paper/LTEPTCLOVWWP.p df http://www.ericsson.com/res/docs/2011/lte_an_introduction.pdf http://ikabuh.files.wordpress.com/2013/10/makalah-klmpok-3-tja_lte.pdf http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/133043-T%2027830-Analisa%20kelayakanTinjauan%20literatur.pdf http://xa.yimg.com/kq/groups/51615199/749477656/name/Jurnal-PPETMengenal+Teknologi+LTE-Uke+IT+Telkom.doc http://www.majalahict.com/berita-2598-sudah-81-negara-komersialkan-lte-1800-mhzjadi-frekuensi-utama.html http://tekno.kompas.com/read/2013/10/23/1136407/3G.Rampung.Indonesia.Sambut.4G. LTE http://tekno.kompas.com/read/2013/10/22/0928465/tata.ulang.internet.3g.rampung http://techno.okezone.com/read/2013/07/17/54/838192/redirect http://jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/volume-10-2/11-miu-102-fadli.pdf/pdf/11-miu102-fadli.pdf/ http://www.mastel.or.id/files/Materi%20Dirjen%20SDPPI%2010%20Des%202013024. pdf http://www.scribd.com/document_downloads/direct/100369336?extension=pdf&ft=138 6953705&lt=1386957315&user_id=92548091&uahk=0qb0hoA4n+PIhmyyJ7QgF6V5S Ko http://www.elektro.undip.ac.id/el_kpta/wpcontent/uploads/2012/05/L2F007081_MKP.p df

AdiMaulanaNIM:41411120038 NafisQurtubiNIM:41411120008

TeknikElektro(2013) 20