Anda di halaman 1dari 50

KORELASI KEHILANGAN TEKANAN ALIR FLUIDA DUA FASA

DALAM PIPA
1. Pendahuluan
Setiap penelitian menghasilkan korelasi atau persamaan untuk menghitung kehilangan
tekanan alir dalam pipa. Sampai saat ini lebih dari 10 korelasi yang tersedia, untuk
memperkirakan kehilangan tekanan alir fluida dua fasa dalam pipa. Korelasi-korelasi
tersebut, jika disusun berdasarkan urutan tahun publikasinya adalah sebagai berikut :
1. Poettmann & Carpenter 1952
2. Gilbert 1954
3. Baxendall & Thomas 1961
4. Duns & Ros 1961
5. Fancher & Brown 1963
6. Hagedorn & Brown 1965
7. Eaton 1966
8. Orkiszewski 1967
9. Dukler 1969
10. Aziz, Govier & Fogarasi 1972
11. Beggs & Brill 1973
12. Chierici, Ciucci & Sciocchi 1973
13. Gray 1974
14. Mukherjee & Brill 1979
15. Hasan & Kabir 1988
Sedangkan untuk aliran gas dalam pipa, telah dikembangkan metoda-
metoda perhitungan kehilangan tekanan alir, untuk aliran tegak dan
datar, masing-masing sebagai berikut :
Untuk Aliran Tegak
1. Cullender & Smith
2. Peffer, et.al
3. Tsifeng dan Adewoumi

Untuk Aliran Datar
1. Wyemouth
2. Panhandle A
3. Panhandle B
Masing-masing korelasi mempunyai kelebihan dan
kekurangan, sesuai dengan kondisi dimana penelitian
tersebut dilaksanakan.
2. Korelasi Hagedorn and Brown
Hagedorn dan Brown menurunkan 4 (empat) bilangan tak berdimensi, yaitu Liquid Velocity Number,
Gas Velocity Number, Pipe Diameter Number dan Liquid Viscosity Number, masing-masing,
didefinisikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut :
1. Liquid Velocity Number
25 . 0
L
L
sL Lv
) ( v 938 . 1 N
o

=
(1)
2. Gas Velocity Number
25 . 0
L
L
sg gv
) ( v 938 . 1 N
o

= (2)
3. Pipe Diameter Number
5 . 0
L
L
D
) ( d 872 . 120 N
o

=
(3)
4. Liquid Viscosity Number
}
) (
{ 15726 . 0 N
25 . 0 3
L
L
L
L
o

=
(4)
Korelasi Liquid Hold-up

Prosedur perhitungan liquid hold-up, yL adalah sebagai berikut :
1. Hitung keempat bilangan tak berdimensi, berdasarkan persamaan (1) sampai dengan
persamaan (4).
2. Hitung harga sumbu-X, pada Gambar 1, yaitu :
14 . 2
38 . 0
D
L gv
N
N N
(5)
Berdasarkan harga sumbu-X tersebut, tentukan harga .
Gambar 1. Grafik
3. Berdasarkan harga NL yang dihitung pada langkah 1, tentukan harga CNL dengan
menggunakan Gambar 2.
D
1 . 0
a
575 . 0
vg
L
1 . 0
vl
N N
) CN ( N

(6)
Berdasarkan harga sumbu-X tersebut, tentukan harga (yL/) dengan
menggunakan Gambar 3.
4. Hitung harga sumbu-X pada Gambar 3, yaitu :
Gambar 2. Grafik koefisien bilangan viskositas, CNL.
5. Berdasarkan harga dari langkah 2 dan harga yL/ dari langkah 4,
maka dapat dihitung yL, yaitu :
yL = (yL/)
(7)
Berdasarkan harga yL dari persamaan (8), maka gradien tekanan akibat
elevasi dihitung dengan persamaan berikut :
)} y 1 ( y {
g
g
dz
dp
L g L L
c
+ = (8)
Gambar 3. Grafik liquid hold-up.
3. Korelasi Beggs and Brill
Berdasarkan pengamatan terhadap pola aliran pada saat pipa mempunyai
kedudukan horizontal, Beggs dan Brill membagi pola aliran sebagai berikut :

1. Pola Aliran Segregated
2. Pola Aliran Transisi
3. Pola Aliran Intermittent
4. Pola Aliran Distributed
Parameter-parameter yang diperlukan untuk mendefnisikan masing-masing
pola aliran tersebut adalah sebagai berikut :
gd
v
N
2
m
FR
=
(10)
(9)
m
sL
L
v
v
=
302 . 0
L
1
316 L =
(11)
4684 . 2
L
2
0009252 . 0 L

=
(12)
4516 . 1
L
3
10 . 0 L

=
(13)
738 . 6
L
4
50 . 0 L

=
(14)
Berdasarkan parameter pola aliran tersebut, batas-batas pola aliran
dapat ditentukan dengan menggunakan persyaratan-persyaratan
sebagai berikut :
1. Pola Aliran Segregated :
01 . 0
L
<
N L
FR
<
1

L
> 0 01 . N L
FR
<
2
dan atau
dan
2. Pola Aliran Transisi :

L
> 0 01 .
L N L
FR 2 3
s s
dan
3. Pola Aliran Intermittent :
0 01 0 4 . . s s
L
L N L
FR 3 1
s s
L N L
FR 3 1
s s L N L
FR 3 4
s s
dan atau
dan
4. Pola Aliran Distributed :

L
< 0 4 . N L
FR
>
1

L
> 0 4 . N L
FR
>
4
dan atau
dan
1. Korelasi Liquid Hold-Up

Beggs dan Brill menurunkan persamaan yang digunakan untuk
memperkirakan harga liquid hold-up, yaitu sebagai berikut :
) 0 ( y ) ( ) ( y
L L
= o
(15)
dimana :
yL(o) = liquid hold-up pada sudut kemiringan pipa sebesar o
yL(0) = liquid hold-up pada posisi pipa horizontal
= faktor koreksi terhadap kemiringan pipa
Harga yL(0) ditentukan berdasarkan persamaan berikut :
c
FR
b
L
L
N
ay
) 0 ( y =
dimana : a, b dan c adalah konstanta-konstanta yang tergantung
pada pola aliran dan ditunjukkan pada Tabel 1.
(16)
Faktor koreksi untuk sudut kemiringan pipa ditentukan berdasarkan
persamaan berikut :
)} 8 . 1 ( sin 333 . 0 ) 8 . 1 {sin( C 1
3
o o + =
(17)
dimana o adalah sudut kemiringan pipa terhadap bidang horizontal.
Tabel 1
Konstanta a, b dan c Persamaan (16)

Pola Aliran

A


B

C
Segregated 0.9800 0.4846 0.0868
Intermittent 0.8450 0.5351 0.0173
Distributed 1.0650 0.5824 0.0609
Untuk aliran vertikal, dimana o sebesar 90o, maka persamaan (17)
dapat disederhanakan menjadi :
C 3 . 0 1+ =
(18)
dimana :
C adalah konstanta persamaan yang dihitung dengan persamaan
berikut :
} N N dy ln{ ) y 1 ( C
g
FR
f
FR
e
L
L
=
(19)
dimana konstanta d, e, f dan g ditentukan berdasarkan Tabel 2,
sesuai dengan pola aliran yang diperkirakan.
Pola Aliran D E f G
Segregated up-hill 0.011 -3.7680 3.5390 -1.6140
Intermittent up-hill 2.960 0.3050 -0.4473 0.0978
Distributed up-hill
Tidak Perlu dikoreksi, C = 0
Semua Pola Aliran
Down-hill
4.700 -0.3692 0.1244 -0.5056
Tabel 2
Konstanta d, e, f dan g untuk Persamaan (19)
Untuk pola aliran transisi, harga liquid hold-up ditentukan berdasarkan
hasil interpolasi antara harga liquid hold-up pada pola aliran segregated
dan intermittent, berdasarkan persamaan berikut :
) (int ) ( ermittent L segregated L L
By Ay y + =
(20)
dimana :
2 3
FR 3
L L
N L
A

=
B = 1 - A
2. Korelasi Faktor Gesekan
Untuk aliran dua fasa, Beggs dan Brill mendefinisikan faktor
gesekan seperti pada persamaan berikut :
) f (
f
f
f
n
n
tp
tp
=
(21)
dimana fn adalah faktor gesekan "no-slip" yang ditentukan
berdasarkan diagram Moody untuk "smooth" pipe atau dengan
menggunakan persamaan berikut :
2
n Re
n Re
n
)}
8215 . 3 ) N log( 5223 . 4
N
log( 2 { f

=
(22)
Bilangan Reynold pada kondisi no-slip ditentukan berdasarkan
persamaan berikut :
n
m n
n Re
d v
88 14 N

=
(23)
) 1 (
L g L L n
+ =
(24)
Sedangkan harga ftp/fn dihitung dengan persamaan berikut :
S
n
tp
e
f
f
= (25)
dimana :
4 2
)} y {ln( 01853 . 0 )} y {ln( 8725 . 0 ) y ln( 182 . 3 0523 . 0
) y ln(
S
+ +
=
(26)
2
L
L
)} ( y {
y
o

=
(27)
Apabila harga 1 < y < 1.2, maka harga S dihitung dengan persamaan :
1.2) ln(2.2y S =
(28)
Gradien tekanan akibat gesekan, menurut Beggs dan Brill dihitung
dengan menggunakan persamaan berikut :
d g 2
v f
)
dL
dp
(
c
2
m n tp
f

=
(29)
dimana n adalah no-slip density.
4. Korelasi Eaton
1. Pengembangan Korelasi

Eaton melakukan mengembangkan korelasinya berdasarkan pengamatan aliran
fluida dalam pipa horizontal di laboratorium. Ukuran pipa yang digunakan
adalah 2 dan 4, sepanjang 1700 ft. Selang harga parameter-parameter aliran
yang lain adalah sebagai berikut :

Laju alir gas, MMscf/hari : 0 - 10
Laju alir cairan, bbl/hari : 50 - 5500
Viscositas cairan, cp : 1 - 13.5
Tekanan sistim pipa rata-rata : 70 - 950
Liquid hold-up : 0 - 1

Berdasarkan hasil pengamatannya, Eaton menurunkan korelasi liquid hold-up
dan faktor gesekan, yang dapat digunakan untuk menghitung kehilangan tekanan
alir dalam pipa. Eaton menggunakan empat bilangan tak berdimensi, yaitu Liquid
Velocity Number, NLv, Gas Viscosoty Number, Ngv, Pipe Diameter Number, Nd
dan Liquid Viscosity Number, NL, seperti yang digunakan oleh Hagedorn
dan Brown.
2. Korelasi Liquid Hold-Up

Eaton mengembangkan korelasi liquid hold-up sebagai fungsi dari
kelompok bilangan tak berdimensi, sebagai berikut :
05 . 0
b
0277 . 0
d
gv
1 . 0
L
05 . 0 575 . 0
Lv
L
P N N
N P N 84 . 1
y ~
(30)
Harga Pb pada persamaan diatas adalah tekanan standard, yang dalam
hal ini dapat diambil harga tekanan atmosfir, yaitu sebesar 14.65 psi.
Fungsi yL tersebut secara grafis ditunjukkan pada Gambar 4.
Pada waktu menggunakan Gambar 4. perlu diperhatikan bahwa garis
putus-putus merupakan garis ekstrapolasi yang dilakukan pada harga
kelompok bilangan tak berdimensi 0.9. Dengan demikian hasil perhitungan
mungkin akan memberikan kesalahan pada harga kelompok
bilangan tak berdimensi lebih besar dari 0.9.
Gambar 4.
Grafik korelasi liquid hold up menurut Eaton.
3. Korelasi Gradien Akibat Gesekan.

Eaton menurunkan persamaan gradien tekanan sebagai akibat gesekan
adalah sebagai berikut :
n
2
c
2
m
c
2
m
f
dA g 2
fw
d g 2
v f
dL
dp

=
|
.
|

\
|
(31)
dimana : n = no-slip densitas, lbm/cuft
= LL + g(1-L)
vm = kecepatan campuran, ft/det
wm = kecepatan massa campuran, lbm/det
A = luas penampang pipa, ft2
d = diameter pipa, ft
Faktor gesekan, f, ditentukan berdasarkan korelasi antara dua kelompok
tak berdimensi, yaitu :
1 . 0
m
L
W
W
f
)
`

( )

25 . 2
g
5 . 0
m g
d
W W 057 . 0
VS (32)
Hubungan kedua kelompok variable tak berdimensi tersebut dinyatakan dalam
bentuk grafis, seperti ditunjukkan pada Gambar 5. Pada waktu menggunakan
Gambar 5 tersebut perlu diperhatikan bahwa pada harga
( )
4
25 . 2
g
5 . 0
g m
10 x 5
d
W W 057 . 0
>
|
|
|
.
|

\
|

(33)
pembacaan harga faktor gesekan untuk pipa berukuran 2 dan 4 digunakan
kurva yang berbeda. Hal yang sama untuk pipa berukuran 4 dan 17,
ekstrapolasi kurva dilakukan pada harga kelompok tak berdimensi
sebagai berikut :
Untuk pipa 4 :
( )
5
25 . 2
g
5 . 0
m g
10 x 9
d
W W 057 . 0
>
|
|
|
.
|

\
|

(34)
Untuk pipa 17 :
( )
5
25 . 2
g
5 . 0
m g
10 x 4
d
W W 057 . 0
>
|
|
|
.
|

\
|

(35)
Dengan demikian perlu diperhatikan jika harga kelompok tak berdimensi
yang diperoleh lebih besar dari harga tersebut.
Kehilangan tekanan sebagai akibat akselerasi (percepatan), dihitung dengan
persamaan berikut :
dL q g 2
dv W dv W
dL
dP
m c
2
g g
2
L
L
acc
+
=
|
.
|

\
|
(36)
dimana :
) , ( ) , (
2 2 1 1
T P v T P v dv
L L L
=
(37)
) , ( ) , (
2 2 1 1
T P v T P v dv
g g g
=
(38)
Apabila Ek adalah (dP/dL)acc, maka kehilangan tekanan aliran total dalam
pipa horizontal adalah sebagai berikut :
k
f
acc
E 1
dL
dP
dL
dP

|
.
|

\
|
=
)
`

(39)

Gambar 5
Korelasi faktor gesekan menurut Eaton.
5. Korelasi Hasan and Kabir
Berbeda dengan korelasi sebelumnya,
korelasi ini memprediksi empat pola
aliran gas atau cairan yang ada dalam
aliran vertikal, sebagaimana pada gambar 6.
Keempat pola aliran tersebut adalah
bubbly, slug, churn dan annular.
Gambar 6.
Pola aliran dalam sumur minyak vertikal.
1. Pola Aliran Transisi

1.1 Aliran Bubbly/Slug-Aliran Transisi
Pola aliran transisi (aliran bubbly menjadi aliran slug) terjadi ketika
gelembung dengan ukuran kecil yang terpisah melalui aliran
bubbly masuk ke aliran slug yang memerlukan penggabungan
gelembung dengan ukuran kecil. Hal ini berakibat terjadi tabrakan
antara penggabungan gelembung dan gelembung formasi yang
sangat besar, akan meningkat dengan betambahnya laju alir gas
v
gs
= 0.429v
Ls
+ 0.357v


v
g
= v
gs
/f
g
= 1.2 v
M
+ v


Hasan dan Kabir mendapatkan fraksi kehampaan pada aliran
transisi sekitar 0.25 yang dalam geometri annular (casing/tubing).
Hubungan antara void fraksi (fg) dengan kecepatan superficial gas
dalam aliran bubbly dapat dituliskan :
(40)
(41)
Menggunakan fg = 0.25 diperoleh
(42)
v
gs
= (1.2v
Ls
f
g
+ v

f
g
)/(1 1.2f
g
)
v
T
= 0.35
Dengan memakai korelasi Harmathy untuk v , dapat dituliskan :
(43)
Dengan persamaan 43 diprediksi bahwa aliran slug akan terjadi pada
kecepatan superficial gas melebihi 0.29 ft/sec atau 0.088 m/s.
Aspek transisi antara aliran bubbly dan aliran slug mempengaruhi
diameter pipa. Kenaikan gelembung dengan ukuran terkecil tergantung
jenis fluid tetapi tidak tergantung diameter pipa. Kenaikan kecepatan
taylor bubblydapat dituliskan :
L g L
/ ) ( gd
gd
(44)
dan tergantung diameter pipa, ketika :
v
T
> v

, gelembung taylor terkecil paling ujung


v
T
< v

, terjadi dalam pipa dengan ukuran kecil.


- 0.35
v
gs =
0.429

v
Ls
+ 0.546 [g o (
L
-
g
) /
L
2
]
0.25

1.2. Transisi ke Aliran Dispersed Bubbly
Persamaan (42) mengaplikasikan hanya untuk aliran transisi dari aliran
bubbly ke aliran slug pada laju alir rendah atau sedang. Pada laju alir
tinggi, kerusakan terpelihara sampai dengan terpecahnya gumpalan
gelembung, kemudian mengubah transisi ke aliran slug. Dalam kasus
ini aliran bubbly terjadi ketika void fraction sekitar 0.25. Tipe aliran
bubbly ini yang dihasilkan dari pecahnya dan menyebarnya gelembung
yang terkumpul dalam cairan dikenal sebagai aliran dispersed bubbly.
Persamaan diameter maksimum gelembung yang mungkin dibawah
kondisi aliran turbulen. Taitle menggambarkan mixture velocity sebagai
berikut :
v
(45)
v
M
1.12
= 4.68(d)
0.48
[g(
L

g
)/o]
0.5
(o/
L
)
0.6
(
M
/
L
)
0.08

v
M
= 0.3v

= 0.103
1.3. Slug/Churn-Aliran Transisi
Dari persamaan (45) dengan menggunakan hubungan antara
gelembung Taylor dan kenaikan kecepatan vT menjadi
mixture velocity, vM :
g L
/
g
/ ) g L
( gd


(46)
Pemetaan kurva slug/churn-transition dapat diperkirakan
dengan persamaan :
(47)
dan
(48)

g
v
gs
2
= 17.1 log
10
(
L
v
Ls
2
)-23.2 , apabila 50<
L
v
Ls
2
<3300

g
v
gs
2
= 0.00673(
L
v
Ls
2
)
1.7
, apabila
L
v
Ls
2
< 50

1.4. Transisi ke Aliran Annular
Pada laju alir yang tinggi, transisi dari aliran churn atau slug ke aliran
annular. Kecepatan minimum yang diperlukan untuk untuk menangkap
droplet dalam suspensi dapat ditentukan dari kesetimbangan gaya drag
pada droplet dan gaya gravitasi, dituliskan sebagai berikut :
atau
v
g
= (2/ 3 )[g(
L
-
g
)/
g
2
]
0.5

(50)
(1/2)C
d
(d
d
2
/4)
g
v
g
2
= (d
d
3
/6)g(
L
-
g
)
(49)
Untuk diameter droplet, dd, Taitel memakai korelasi yang diperbaiki
oleh Hinze untuk ukuran droplet yang stabil :
(51)
Subtitusi persamaan 51 ke dalam 49 :
(52)
Persamaan 52 disederhanakan apabila terjadi dalam aliran annular,
vgs ~ vg :
(53)
v
gs
= 3.1[og(
L
-
g
)/
g
2
]
0.25

v
d
= (N
Wec
)3C
d
)
0.25
[og(
L
-
g
)/
g
2
)
0.25


d
d
= (N
Wec
)o/
g
)/
g
v
g
2

(dp/dz) = (dp/dz)
H
+ (dp/dz)
F
+ (dp/dz)
A

2. Gradien Tekanan
Gradien tekanan total, dp/dz selama aliran multifasa adalah
jumlah gravitasi (static head, [(dp/dz)
H
], frictional
[(dp/dz)
F
] dan acceleration [kinetic head (dp/dz)
A
]), yang
dituliskan sebagai berikut :

Untuk produksi minyak, bentuk akselerasi sangat kecil
dan biasanya diabaikan.
(54)
= (-1/g
c
)[(
M
g) + (2f
M
v
M
2

M
/d) + (
M
v
M
dv
M
/dz)]
2.1. Aliran Bubbly (Void Fraction Dalam Tubing)
Apabila didesain pusat mixture velocity menjadi C0 kali
rata-rata mixture velocity, VM :
(55)
Karena kecepatan fasa gas merupakan persamaan
kecepatan superficial gas dibagi dengan gas void fraction,
maka persamaan 55 dapat ditulis :
(56)
atau
(57)
f
g
= v
gs
/(C
0
v
M
+ v

)
v
gs
/v
g
= C
0
v
M
+ v


v
g
= C
0
v
M
+ v


f
g
= v
gs
/{1.2v
M
+ 1.50[g(
L
-
g
)o/
L
2
]
1/4

Untuk aliran turbulen mixture velocity pada axis pipa
sebesar 1.2 kali rata-rata mixture velocity. Dan jika
gelembung gas diasumsikan sebagian besar aliran melalui
pusat pipa, sebagaimana terlihat pada kasus aliran vertikal,
kemudian nilai C0 adalah 1.2., maka untuk gas void
fraction selama aliran vertikal bubbly, persamaan 57 dapat
dituliskan :
(58)
Void fraction dalam Tubing/Casing Annulus. Hasan
mendapatkan parameter C0 untuk kenaikkan secara linear
dengan perbandingan diameter tubing terhadap diameter
casing (d
t
/d
c
) sebesar 0.371 (d
t
/d
c
).
(59)
C
0
= 1.20 + 0.371(d
t
/d
c
)
Untuk memperkirakan gradien tekanan total, persamaan 54 dapat
digunakan dengan densitas mixture dihitung dari void fraction yang
diperkirakan dengan persamaan 58, maka dapat dituliskan :
(-dp/dz) = (2f
M
v
M
2

M
/g
c
d) + (g/g
c
)
M
+ [(
M
v
M
(dv
M
/dz)],
dimana

M
=
g
f
g
+
L
(1 f
g
)
(60)
(61)
dan
f
g
= v
gs
/{(1.2 + 0.371d
t
/d
c
)v
M
+ 1.5[g(
L
-
g
)o/
L
2
]
1/4
}
(62)
v
T
= C
2
[gd(
L
-
g
)/
L
]
0.5

2.2. Aliran Slug (Void Fraction Dalam Tubing)
f
g
= v
gs
/(C
1
v
M
+ v
T
)
(63)
(64)
dimana
C
2
= 0.345
(

|
.
|

\
|

|
.
|

\
|

m
N 37 . 3
exp 1
345 . 0
N 01 . 0
exp 1
Eo f

(65)
N
f
= [d
3
g(
L
-
g
)
L
]
0.5
/
L

(66)
N
Eo
= gd
2
(
L
-
g
)/o (67)
m = 10, untuk N
f
> 250
(68)
m = 69N
f
0.35
, untuk 18<N
f
<250
(69)
dan
m = 25, untuk N
f
< 18
(70)
Untuk nilai Nf yang besar (>300) dan NEo (>100), persamaan 65
disederhanakan menjadi :
C
2
= 0.345
(71)
Untuk aliran udara/air melalui pipa 2 in (5 cm) pada kondisi
standar, N
f
= 35000 dan N
Eo
= 322.
Viskositas minyak 100 cp (100 mPa.s), o = 30 dynes/cm (30 mN/m),
N
f
= 350 dan N
Eo
= 817, C
2
= 0.345, maka persamaan 6-63 menjadi
f
g
= v
gs
/[1.2v
M
+ 0.345
L
/ ) ( gd
g L
]
(72)
Void Fraction dalam Tubing/Casing Annulus. Seperti pada kasus aliran bubbly,
void fraction selama slug flow dalam annular geometry drepresentasikan pada
persamaan 63. C
1
dan C
2
linear tergantung pada perbandingan diameter tubing ke
casing dan menganjurkan memakai diameter equivalen (d
e
= d
t
- d
c
) yang
dimasukkan pada diameter (d) persamaan 6-44 untuk menghitung v
T
. Korelasi yang
sesuai untuk C
1
dan v
T
adalah :
C
1
= 1.182 + 0.90(d
t
/d
c
)
(73)
v
T
= [0.30+0.22(d
t
/d
c
)] | |
L g L c t
/ ) )( d / d ( g
(74)
dan
Sedangkan gradien tekanan total :
(-dp/dz) = (2f
M
v
M
2

M
/g
c
d) + (g/g
c
)
M
+ [(
M
v
M
(dv
M
/dz)], (75)
2.3. Churn Flow
Pola aliran churn agak sulit dianalisis dan tidak banyak yang melakukan
penelitian. Persamaan yang dikembangkan untuk aliran slug 72 untuk
memprediksi void fraction dan 75 untuk memprediksi pressure drop dipakai
untuk pola aliran churn.
2.4. Annular Flow
Pada aliran annular, aliran gas melalui pusat tubing sedangkan aliran cairan
melalui dinding tubing sebagai film. Apabila diasumsikan aliran annular ideal,
liquid yang terbawa sebagai droplet dalam fasa gas dan permukaan gas/liquid
licin, masalah tersebut dapat mengurangi perkiraan pressure drop dalam aliran
single-phase gas. Dalam kasus ini tidak diperlukan perkiraan void fraction.
Ketebalan liquid film kurang dari 5% diameter tubing, sehingga perhitungan
diameter tubing diabaikan. Sehingga total gradien tekanan selama aliran
annular dapat ditulis :
/dz)] d ( /d) (2f )[g (1/g (-dp/dz)
g g c
2
g c c c c
v v + v + =
(76)
Masalah ini akan mengurangi perkiraan perhitungan densitas fluid dalam core,
c
,
dan friction factor, f
c
, untuk aliran gas yang melalui pipa kasar. Dengan memakai
hukum gas, persamaan 76 dapat dituliskan dalam bentuk dp/dz :
| |
| |
c
2
g c
2
g c c c
c pg / ( 1
) d / f 2 ( g
g
1
dz
dp
v
v +
=
(77)
Perkiraan Entertainment.
Untuk menentukan densitas fluida yang mengalir melalui core, diperlukan
perkiraan fraksi liquid total, E, yang masuk didalam gas core. Steen dan
Wallis menemukan bahwa ketika liquid film semuanya turbulen
( ) 3000 ) x 1 ( d
L M M
< v , masuknya liquid (fraksi E) secara cepat dalam
vapor core merupakan fungsi kecepatan kritik uap, ( )
c
gs
v , didefinisikan
sebagai :
( )
c
gs
v = o v / ) / (
5 . 0
L g g gs

(78)
( )
g L g M M
x o v / =
Korelesi Steen dan Wallis untuk E dengan kecepatan kritik uap
terlihat pada gambar berikut
Gambar 7. Entrainment sebagai fungsi kecepatan gas
Kurva dalam gambar di atas direpresentasikan oleh persamaan :
E = 0.0055[(v
gs
)
c
x 10
4
)
2.86
, jika (v
gs
)
c
x 10
4
< 4 (79)
E = 0.857 log
10
[(v
gs
)
c
x 10
4
)]-0.20 , jika (v
gs
)
c
x 10
4
> 4
dan
(80)
Faktor Friksi Film. Jumlah korelasi yang diperlukan untuk
memprediksi kekasaran liquid film atau faktor friksi film , f
c
, :
f
c
= f
fg
(1 + 300 d / o )
(81)
Yang akan berkurang untuk :
f
c
= f
fg
[1 + 75(1 f
g
)]
(82)
Ketebalan film, o, atau void fraction gas, f
g
, perlu diperkirakan
karena friksi faktor film tergantung pada kualitas. Korelasi
Lockhart-Martinelli mengekspresikan void fraction dalam bentuk
parameter Lockhart-Martinelli, X. Hubungan antara f
g
dan X dapat
dituliskan :
f
g
= (1 + X
0.8
)
-0.378

(83)
Parameter Lockhart-Martinelli, X, didefinisikan dalam bentuk
perbandingan gradien tekanan friksi untuk liquid, mengalir dalam
channel, ke aliran dalam fasa gas :
X =
F g F L
) dz / dp /( ) dz / dp (
(84)
Untuk aliran turbulen kedua fasa gas dan liquid, X dapat ditulis
dalam bentuk fraksi masa gas, x, sebagaimana dalam hubungan :
X = [(1 x)/x]
0.9
) / (
L g

1 . 0
g L
) / (
(85)