Anda di halaman 1dari 25

BAB 1 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDER SATU

1.1. PENDAHULUAN
Persamaan Diferensial adalah salah satu cabang ilmu matematika yang banyak digunakan dalam memahami permasalahan-permasalahan di bidang fisika dan teknik. Persamaan Diferensial merupakan alat yang ampuh dalam menyelesaikan berbagai macam masalah praktis yang sering muncul di dunia nyata. Pada pembahasan berikut, pertama akan diberikan pengertian Persamaan Diferensial, order dan derajat serta penyelesaian Persamaan Diferensial. Selanjutnya dibahas berbagai teknik penyelesaian Persamaan Diferensial order satu. Tujuan Instruksional : Setelah mempelajari bab ini, saudara harus dapat Membedakan Persamaan Diferensial Biasa dengan Persamaan Diferensial Parsial, serta membedakan order dan derajat

Persamaan Diferensial Mengidentifikasi dan menentukan penyelesaian Persamaan

Diferensial dengan peubah terpisah, Persamaan Diferensial eksak, serta Persamaan Diferensial Linier order satu. Menentukan faktor integral dan mengubah Persamaan Diferensial menjadi Eksak. Mengidentifikasi dan menentukan penyelesaian Persamaan

Diferensial tipe homogen, Riccati, dan Bernoulli. Mereduksi Persamaan Diferensial nonhomogen ke bentuk

Persamaan Diferensial Homogen.

1.2. PENGERTIAN PERSAMAAN DIFERENSIAL

Pada kuliah kalkulus, kita telah belajar bagaimana menentukan derivatif (turunan)

dy = y' = f ' ( x ) dari suatu fungsi y = f ( x) . Misalnya, jika dx


y = 2e x + cos 3 x ,

maka

dy = 2e x 3 sin 3 x . dx

(1.1)

Atau jika diberikan persamaan dalam bentuk g ( x, y ) = C dengan C konstanta, kita dapat mendiferensialkan secara implisit untuk memperoleh

dy . Misalkan dipunyai fungsi implisit dx

x2 + y2 = 9
maka akan diperoleh

2x + 2 y
atau

dy =0 dx

dy x = . dx y

(1.2)

Persamaan (1.1) dan (1.2) di atas merupakan contoh persamaan diferensial.

Definisi : Suatu persamaan diferensial adalah suatu persamaan yang menyatakan hubungan fungsi yang tidak diketahui dan mengandung turunan-turunan pada persamaan tersebut.

Jika hanya ada satu peubah bebas, maka disebut

Persamaan

Diferensial Biasa (PDB), sebagai contoh adalah persamaan (1.1) dan (1.2). Contoh PDB lainya adalah sebagai berikut :
dy + 4 xy = 2e 2 x dx d 2 y dy 3 y = sin x dx 2 dx y dy xy dx = 0.

Sedangkan jika persamaan memuat dua atau lebih peubah bebas, maka disebut Persamaan Diferensial Parsial (PDP). Misalkan :

v v + 2v = o x t 2u u = x 2 t 2u 2u 2 u + + = 0. x 2 y 2 z 2
Pembahasan tentang PDP akan dibicarakan dalam bab tersendiri.

1.2.1. Bentuk Umum dan Order PDB Bentuk umum PDB order n adalah

y ( n ) = f ( x, y , y' , y' ' ,..., y ( n 1) )

(1.3)

yang menyatakan adanya keterkaitan antara peubah bebas x dan peubah tak bebas y beserta turunan-turunannya dalam bentuk persamaan yang identik nol. Beberapa buku menulis persamaan ini dalam bentuk

f ( x, y , y' , y' ' ,..., y ( n ) ) = 0 .


Order dari Persamaan diferensial adalah order tertinggi dari turunan yang ada dalam persamaan. Misalkan

dy + 2 xy = sin x dx
adalah persamaan diferensial order satu, sedangkan

d2y dx 2

+y=0

merupakan persamaan diferensial order dua.

1.2.2. Penyelesaian PDB Masalah kita selanjutnya adalah bagaimana menemukan

penyelesaian PDB, yaitu suatu fungsi y( x) yang memenuhi PDB tersebut.

Definisi : Suatu fungsi y( x) yang didefinisikan pada suatu interval disebut penyelesaian PDB jika secara identik memenuhi persamaan (1.3) pada interval yang diberikan.

Contoh 1.3.1 : Fungsi y = ke x adalah penyelesaian persamaan diferensial interval < x < , karena

dy = y pada dx

d ( ke x ) = ke x . Jadi jika disubstitusikan ke dx

dalam persamaan diperoleh kex = kex , yang berlaku untuk semua x.

Tidak semua penyelesaian PDB dapat disajikan secara eksplisit seperti Contoh 1.3.1. Beberapa kasus ditemukan penyelesaian yang disajikan dalam bentuk implisit, seperti contoh berikut.

Contoh 1.3.2 : Persamaan x 2 + y 2 = C , untuk suatu konstanta C > 0, merupakan penyelesaian bentuk implisit dari
dy x = . dx y

Contoh 1.3.3 : Persamaan xy + e x sin y = 1 , merupakan penyelesaian bentuk implisit dari

dy y + e x sin y = . dx x + e x cos y
1.2.3. Masalah Nilai Awal Misalkan akan dicari penyelesaian y = y( x) dari PDB order satu

y' = f ( x, y ).
yang memenuhi
y( x0 ) = y 0 .

(1.4)

(1.5)

Persamaan (1.5) disebut kondisi awal dari PDB order satu. PDB (1.4) dengan kondisi awal (1.5) disebut Masalah Nilai Awal (MNA). Penyelesaian yang memenuhi kondisi awal ini disebut penyelesaian khusus, sedangkan jika tidak diberikan kondisi awal dinamakan

penyelesaian umum, seperti Contoh 1.1.2. Jadi pada penyelesaian umum masih memuat konstanta sebarang C, sedangkan pada penyelesaian khusus sudah tidak memuat konstanta sebarang. Contoh 1.4.1 : Persamaan y =
x2 + x adalah penyelesaian khusus dari MNA 2

y' x = 1, y(0) = 0.
Latihan 1.2 : Tunjukkan bahwa fungsi yang diberikan merupakan penyelesaian dari Persamaan diferensial 1. y ' = 2 y, y = Ce 2 x . 2. y ' '+2 y '+ y = 0, y = (c1 + c 2 x)e x . 3. y ' '+ y = sec 3 x, y =

1 sec x . 2

4. y ' '3 y '+2 y = sin e x , y = c1e x + (c 2 sin e x )e 2 x . 5. y ' =


x , x 2 4 y 2 = 16, y ( 4) = 0 . 4y

1.3. PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA ORDER SATU


Pada Bagian ini, kita akan membahas teknik-teknik penyelesaian PDB order satu. Untuk PDB order satu yang berbentuk y' = f ( x) , dimana f fungsi kontinu dari satu peubah bebas x, maka kita dapat mengintegralkan secara langsung kedua ruas untuk memperoleh penyelesaiannya. Selanjutnya akan dicari penyelesaian PDB order satu

y' =

dy = f ( x, y ) dx

(1.6)

dimana f fungsi kontinu dari dua peubah bebas x dan y. Penyelesaian (1.6) tidak dapat diperoleh dengan mengintegralkan secara langsung. Untuk memperoleh penyelesaiannya dapat dilakukan dengan pemisahan peubah, seperti dibahas dalam bagian berikut.

1.3.1 PD dengan Peubah terpisah Untuk mencari penyelesaian umum dari persamaan (1.6), terlebih dahulu kita pisahkan peubah x dan y , sehingga kita peroleh fungsi

f ( x, y) = p( x)q( y) .
Persamaan (6) berubah menjadi

dy = p ( x ) q( y ) dx
atau dapat ditulis
dy = p( x )dx . q( y )

(1.7)

Dengan asumsi bahwa y adalah fungsi dari x, maka kita punya


dy y' ( x ) = dx , sehingga persamaan (1.7) menjadi q( y ) q( y ( x )) y' ( x ) dx = p( x )dx . q( y( x ))

Selanjutnya dengan menuliskan u = y( x) dan du = y' ( x) , maka dengan mengintegralkan kedua ruas kita peroleh penyelesaian umum persamaan (1.7), yaitu

q(u ) = p( x)dx + C
dengan C konstanta sebarang.

du

(1.8)

Berikut ini beberapa contoh PDB dengan peubah yang dapat dipisahkan.

Contoh 1.5.1: Selesaikan

dy = 2e y cos x. dx

Penyelesaian : Dengan melakukan pemisahan peubah diperoleh


e y dy = 2 cos x dx .

Integralkan kedua ruas

e y = 2 sin x + C.
Sehingga kita peroleh Penyelesaian umumnya adalah

y = ln(2 sin x + C).


Untuk mengecek kebenaran penyelesaian ini, perhatikan bahwa

y' =

1 (2 cos x). 2 sin x + C

Substitusikan ke PDB, kita peroleh

1 (2 cos x) = 2e ln( 2 sin x + C ) cos x 2 sin x + C


Karena e ln( 2 sin x + C ) =

1 , persamaan di atas terpenuhi 2 sin x + C

untuk setiap 2 sin x + C > 0 . Dengan demikian y adalah penyelesaian PDB tersebut.

Contoh 1.5.2

Selesaikan

dy = 2( xy + y ). dx

Penyelesaian : PDB dapat kita tulis dalam bentuk

dy = 2 y( x + 1). dx
Pemisahan peubah memberikan
dy = 2( x + 1)dx. y

Integralkan kedua ruas diperoleh


ln y = x 2 + 2 x + C

atau
2 y = e x + 2x +C .

Dalam beberapa kasus akan kita jumpai persamaan diferensial dalam bentuk
M ( x , y )dx + N ( x , y )dy = 0.

(1.9)

Contoh 1.5.3 : Selesaikan ye x dy + xdx = 0. Penyelesaian : Persamaan dapat kita bawa ke bentuk

ydy = xe x dx.
Integralkan keuda ruas, diperoleh

1 2 y = (1 x )e x + C . 2
atau
y = 2(1 x )e x + C .

Contoh 1.5.4 : Selesaikan


dy 3 x 2 = 2 dx y

Penyelesaian.

PD
dy 3 x 2 = 2 dx y

Dapat ditulis dalam bentuk


y2 dy = 3x 2 dx

atau,
y 2 dy = 3 x 2 dx

Integralkan kedua ruas, diperoleh

atau,

y 2 dy =

3 x 2 dx + c

y3 = x3 + c , 3

y 3 = 3 x 3 + c1 ,

. Dalam hal ini c1 = 3c konstanta. Jadi penyelesaian umumnya adalah


y = [3x + c1
3 1 ]3 .

Contoh 1.5.5 : Selesaikan Penyelesaian


dy = t3 y2 + y2 dt

PD dapat ditulis dalam bentuk


dy (t 3 + 1) = (t 3 + 1) y 2 = , dt y2

atau
1 y2 dy = (t 3 + 1) dt

Integralkan kedua ruas, diperoleh

atau, . atau

1 y2

dy =

(t 3 + 1) dt + c

1 1 4 = t + t + c, y 4

y=

4 t 4 + 4t + c1

, dengan c 1 = 4 c ,

Latihan 1.3.1 : Selesaikan soal berikut dengan pemisahan peubah. 1. 3. 5. 7. 9.


dy x = . x dx e + y dy 3 y( x + 1) . = ( y 1) dx
y cos 2 x dy + sin x dx = 0.
sec(2 x + 1)dy + 2 xy 1 dx = 0.

2. 4.

dy = x(1 y 2 ). dx
2 dy = xye x . dx

6. e x dy + ( y 3 y 2 )dx = 0. 8.

2 xy

dy = 1. dx

(ln x)

dx = xy. dy

10. x 2 dy + y( x 1)dx = 0.

Selesaikan MNA berikut : 11.

y2

dy e 2 x + 1 = , dx ex

y(0) = 1.

12.

dy + xy x = 0, dx
dp p 2 p = , dq q

y(1) = 2.
p (1) = 2.

13.

dP + P = Pte t , P(0) = 1. dt

14.

15. t dy ( y +

y ) dt = 0 ,

y (1) = 1 .

1.3.2. Persamaan Diferensial Linier Order Satu Persamaan linier order satu adalah persamaan yang berbentuk

a1 ( x )

dy + a 2 ( x ) y = b( x ) dx

(1.10)

dimana a1 ( x ), a 2 ( x ), dan b( x) hanya bergantung pada peubah bebas x. Misalnya,


dy y = xe x , dx dy ( x + 1) + xy = x, dx dy + (sin x) y = tan x. dx 2x

Persamaan dapat

dy x 2 e y = 0 bukan persamaan linier, meskipun peubah dx


Sedangkan persamaan

dipisahkan.

(2 x y )

dy + 2 y = x bukan dx

persamaan linier dan peubah tidak dapat dipisah. Pada persamaan (1.10), diasumsikan bahwa a1 ( x ), a 2 ( x ), dan b( x) kontinu pada suatu interval tertentu dengan a1 ( x ) 0 . Maka persamaan dapat kita bawa ke bentuk
b( x ) dy a 2 ( x ) + y= a1 ( x ) dx a1 ( x )

atau

dy + P ( x ) y = Q( x ) dx
yang merupakan Bentuk Standar PDB linier order satu.

(1.11)

Penyelesaian PDB Linier Langkah-langkah penyelesaian PDB Linier order satu adalah sebagai berikut :

Langkah 1. Tuliskan PDB dalam bentuk standar

dy + P( x ) y = Q( x ) . dx
Langkah 2. Tentukan faktor integral
( x ) = e
P ( x )dx

Langkah 3. Kalikan Q( x) dengan dan integralkan


( x)Q ( x) dx + C.

Langkah 4. Tuliskan penyelesaian umum

( x) y = ( x)Q ( x) + C.
atau

( x)Q( x) + C y= . ( x)

Contoh 1.6.1 : Tentukan penyelesaian umum dari

x2
Penyelesaian.

dy + xy = 2. dx

Langkah 1. Tulis persamaan dalam bentuk standar:


dy 1 2 + y= . dx x x2

Jadi P( x ) =

1 2 dan Q( x ) = . x x2

Langkah 2. Tentukan faktor integral

( x ) = e

P( x )dx

= e x

dx

= e ln x = x.
Langkah 3. Kalikan Q( x ) = diperoleh
2 x2

dengan = x dan integralkan, sehigga

2 ( x)Q ( x)dx = x 2 dx x 2 = dx = 2 ln x + C. x

Langkah 4. Penyelesaian umumnya adalah

xy = 2 ln x + C
atau

y=
Contoh 1.6.2 : Selesaikan PD

2 ln x + C . x

cos x
Penyelesaian.

dy + y sin x = 1 dx

PD dapat dinyatakan dalam


dy sin x 1 + y = dx cos x cos x

atau
dy + y tan x = sec x dx

Yang merupakan bentuk PD linier


dy + p ( x) y = q ( x) , dx

dengan

p (x) = tan x , q (x) = sec x .

Selanjutnya diperoleh faktor integral


e
pdx

= e

tan x dx

= e ln sec x = sec x

Kalikan PD dengan faktor integral, diperoleh

sec x

dy + y sec x tan x = sec 2 x dx

atau
d ( y sec x) = sec 2 x dx

. Integralkan kedua ruas,


y sec x =

sec 2 x dx + c

Jadi penyelesaian PD adalah,


y sec x = tan x + c

atau,
y= tan x 1 + c = sin x + c cos x sec x sec x

Contoh 1.6.3 : Selesaikan PD


(x + 2 y 3 ) dy =y dx

Penyelesaian. Perhatikan bahwa PD memuat y 3 ,jadi ini bkan PD linier, tetapi jika kita lihat x sebagai fungsi y , dan PD dapat kita tulis dalam bentuk
y dx = x + 2 y3 dy

Atau
dx x = 2 y2 dy y

Maka diperoleh bentuk PD linear dengan x sebagai fungsi y ,

dx 1 + p (y) x = q (y) dengan p (y) = d an q (y) = 2 y 2 dy y

Selanjutnya dapat kita selesaikan dengan langkah-langkah seperti pada contoh sebelumnya. Faktor integralnya adalah
e
p (y ) dy

=e

1 dy y

=e

ln y

= y 1 =

1 y

Kalikan PD dengan

1 , y

1 dx x = 2y y dy y

Atau
d 1 x . = 2 y dy y

Dengan mengintegralkan kedua ruas diperoleh


x 1 = y2 + c , y

Jadi penyelesaian PD adalah,


x = y (c + y 2 ) .

Ada dan tunggalnya penyelesaian PDB linier order satu yang memenuhi syarat awal tertentu diberikan dalam sifat berikut.

Sifat 1.6.1 : Misalkan P(x) dan Q (x) fungsi kontinu pada interval < x < . Maka terdapat satu dan hanya satu fungsi

y = y( x) yang

memenuhi

dy + P ( x ) y = Q( x ) dx
y( x0 ) = y 0 ,

pada

interval

tersebut

dengan

kondisi

awal

dimana < x0 < .

Latihan 1.3.2 : Selesaikan PDB linier order satu berikut 1. x 3.

dy + y = e x , x > 0. dx

2. 2 4. x 6.

x dy y = xe 2 . dx

dy + (tan x) y = cos 2 x, 2 < x < 2. dx

dy y = 2 x ln x. dx

5. x 2 dy + xydx = ( x 1) 2 dx. Selesaikan MNA berikut 7. 3x 9.

dy 2 y = + x 3e x 1. dx x

dy y = ln x + 1, x > 0, y (1) = 2. dx y(0) = 1.

8. 2

dy + 4 y = 1, y(0) = 1. dx

dy + 3x 2 y = x 2 , dx

10. xdy + ( y cos x )dx = 0, y = 0.

(2 )

1.3.3 Persamaan Diferensial Eksak Perhatikan kembali persamaan diferensial order satu yang dituliskan dalam bentuk diferensial
M ( x , y )dx + N ( x , y )dy = 0.

Definisi : Persamaan M ( x, y )dx + N ( x, y )dy = 0 dikatakan PD Eksak jika terdapat fungsi Q( x, y ) sedemikian sehingga
Q = N ( x, y ) . y

Q = M ( x, y ) dan x

Dengan mengingat diferensial total dari fungsi Q( x, y ) , maka dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
M N . = x y

persamaan

M ( x, y)dx + N ( x, y)dy = 0 eksak jika dan hanya jika

Adapun langkah-langkah untuk menyelesaikan PD Eksak adalah sebagai berikut. Langkah 1. Tuliskan PD dalam bentuk diferensial :
M ( x , y )dx + N ( x , y )dy = 0.

Langkah 2. Tes ke-eksak-an PD; Apakah


M N = ? y x

Langkah 3. Jika eksak, integralkan M terhadap x atau N terhadap y. Misal dipilih M, maka :

Q( x, y ) = M dx + g ( y ) .
Langkah 4. Turunkan Q terhadap y dan samakan hasilnya dengan N
N= y

( M dx ) + g' ( y ).

Langkah 5. Integralkan g' ( y ) untuk memperoleh g. Langkah 6. Tuliskan penyelesaian umum dalam bentuk implisit:

Q( x, y ) = C .
Langkah 7. Tentukan C jika diberikan kondisi awal tertentu.

Contoh 1.7.1 : Selesaikan PD Penyelesaian : Langkah 1. Bentuk diferensial PD adalah :

dy x 2y = , y(0) = 3. dx y 2 2x

( x 2 y )dx + ( y 2 2 x )dy = 0.
Langkah 2. PD ini eksak, karena

M N = 2 = . x y

Langkah 3. Misal dipilih M untuk diintegralkan, maka : Q( x, y ) = M dx + g ( y )

= ( x 2 y )dx + g ( y ) = 1 x 2 2 xy + g ( y ).
2

Langkah 4. Samakan

Q dengan N, maka : y 0 2x + dg = y 2 2x dy

atau

g' ( y) = y 2 .
Langkah 5. Integralkan g' ( y ) , diperoleh :
g( y) = 1 y 3 .
3

Langkah 6. Penyelesaian umum dalam bentuk implisit: . 1 x 2 2 xy + 1 y 3 = C .


2 3

Langkah 7. Dengan kondisi awal y(0) = 3 , diperoleh C = 9, sehingga penyelesaian khususnya adalah :
1 x2 2

2 xy + 1 y 3 = 9.
3

Contoh 1.7.2 : Selesaikan persamaan ( x 2 2 xy )dy ( y 2 2 xy + 1)dx = 0. Penyelesaian : Akan kita selesaikan mengikuti langkah-langkah di atas, tanpa menuliskan masing-masing item. Persamaan sudah dalam bentuk diferensial, selanjutnya tes ke-eksak-an:
M ( y 2 2 xy + 1) ( x 2 2 xy ) N = = 2 y + 2 x = = . y y x x

Jadi persamaan tersebut eksak. Selanjutnya

Q( x, y ) = ( y 2 + 2 xy 1)dx + g ( y ) = xy 2 + x 2 y x + g ( y ).
Untuk memperoleh g( y) , gunakan fakta
Q =N: y

Q = 2 xy + x 2 + g ' ( y ) = x 2 2 xy . y

Jadi g' ( y ) = 4 xy , atau

g ( y ) = 2 xy 2 .
Sehingga penyelesaian umumnya adalah

xy 2 + x 2 y x 2 xy 2 = C .

Pada bagian sebelumnya, kita mencari faktor integral

( x ) = e

P ( x )dx

untuk menyelesaikan persamaan diferensial linier order satu dalam bentuk standar

dy + P( x ) y = Q( x ) . dx
Ternyata faktor integral diferensial linier order
( x ) = e
P ( x )dx

akan membawa persamaan PD eksak

satu

dy + P( x ) y = Q( x ) menjadi dx

(Tunjukkan!). Secara umum suatu faktor integral adalah faktor ( x, y) yang membawa persamaan diferensial tidak eksak menjadi persamaan

diferensial eksak.

Contoh 1.7.3 :

Tunjukkan bahwa x dy + ( 2 y xe x )dx = 0 tidak eksak, tetapi dengan mengalikan dengan faktor = x PD tersebut menjadi eksak. Kemudian selesaikan. Penyelesaian : Tes ke-eksak-an, kita punyai
( 2 y xe x ) = 2 dan y

( x ) = 1. x

Jadi persamaan tidak eksak. Dengan mengalikan dengan faktor integral x diperoleh

x 2 dy + ( 2 xy x 2 e x )dx = 0 .
Persamaan menjadi eksak, karena
2 ( 2 xy x 2 e x ) = 2 x = ( x ). y x

Selanjutnya kita punyai

Q( x, y ) = x 2 y x 2 e x + 2 xe x 2e x + g ( y ) .
dan
Q = x 2 + g' ( y) = x 2 . y

Jadi g' ( y ) = 0 sehingga g ( y) = C. Dengan demikian penyelesaian umumnya adalah

x 2 y x 2 e x + 2 xe x 2e x = C .

Menemukan faktor integral Seperti terlihat pada contoh 3, faktor integral adalah suatu fungsi yang jika dikalikan dengan PD non eksak, maka PD tersebut menjadi PD eksak. Bagaimana menemukan foaktor integral tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: Misal M ( x, y)dx + N ( x, y)dy = 0 PD non eksak dan ( x, y) faktor integral, maka Mdx + Ndy = 0 adalah PD eksak, sehingga

M N = y x

atau
M N M+ N+ = y y x x

M N y x = x N y M
y M x N . = M N y x
Ada beberapa kasus, yaitu (i). ( x, y) = ( x) ( Faktor integral hanya merupakan fungsi x saja) Pada kasus ini dipunyai

N 0 x = M N y x
M N M = y x x M N y x = dx N M N y x ln = dx N M N y x dx N =e
M N y x Jadi jika menghasilkan fungsi x saja maka = ( x) N
(ii). ( x, y) = ( y) ( Faktor integral hanya merupakan fungsi y saja)

Pada kasus ini dipunyai secara sama akan dipunyai

M N y x dy M =e .
M N y x Jadi jika menghasilkan fungsi y saja , maka = ( y) M
M N y x (iii) Jika menghasilkan fungsi xy, maka = ( xy) yN xM M N y x menghasilkan fungsi (x+y), maka = ( x + y) (iv) Jika N M

M N y x (v) Jika menghasilkan fungsi (x - y), maka = ( x y) N+M


M N y x (vi) Jika menghasilkan fungsi ( x2 + y 2 ) , maka = ( x2 + y 2 ) 2 xN 2 yM

Jadi untuk mencari faktor integral kita harus menghitung terlebih dahulu
M N , kemudian kita tentukan pembaginya ( pembaginya apa) y x

sehingga diperoleh fungsi yang mandiri.

Contoh 1.7.4: Tunjukkan faktor integral dari PD x dy + (2 y xe x ) dx = 0 sehingga menjadi PD eksak. Penyelesaian:

Pada contoh 1.7.3. telah ditunjukkan bahwa PD ini tidak eksak, kemudian dengan mengalikan PD dengan x, PD menjadi eksak ( Jadi x adalah faktor integral). Disini kita akan mengetahui dari mana x itu didapat.
M ( x, y ) = (2 y xe x ) dan

N ( x, y ) = x = 1. N = ( x) = 1. x x

M = (2 y xe x ) = 2 dan y y

Sehingga diperoleh

M N 1 M N y x = 1 dan = fungsi dari x saja. N x y x


Maka faktor integralnya adalah

M N 1 y x dx dx N ( x) = e =e x = eln x = x .

Contoh 1.7.5. : Tentukan solusi umum PD (4x2 + 2xy + 2 y)dx + (2x2 + x + 3 y)dy = 0. Penyelesaian :
M ( x, y ) = 4 x 2 + 2 xy + 2 y dan N ( x, y ) = 2 x 2 + x + 3 y.

M = 2 x + 2 dan y

N = 4 x + 1. x

Sehingga diperoleh
M N = 2 x + 1 . y x

Selanjutnya kita pilih pembaginya, yaitu N M , sehingga diperoleh

M N 2x + 1 y x = 2 2 x + x 2 xy + y N M (2 x + 1) = (2 x + 1) x + (2 x + 1) y

= =

(2 x + 1) (2 x + 1)( x + y ) 1 fungsi dari (x + y) saja. ( x + y)

Selanjutnya misalkan z = x + y
M N 1 z y x = z = z = z N M x + y

Integralkan, diperoleh

ln = ln z = z = x + y
Faktor integralnya adalah

= x+ y
PD menjadi
( x + y)(4x2 + 2xy + 2 y)dx + ( x + y)(2x2 + x + 3 y)dy = 0.

atau
(4x3 + 6x2 y + 2xy + y + 2xy2 + 2 y 2 )dx + (2x3 + x2 + 4xy + 2x2 y + 3 y 2 )dy = 0.

Bukti bahwa PD ini eksak:


M ( x, y ) = 4 x 3 + 6 x 2 y + 2 xy + 2 xy 2 + 2 y 2

M = 6 x 2 + 2 x + 4 xy + 4 y y

N ( x, y ) = 2 x 3 + x 2 + 4 xy + 2 x 2 y + 3 y 2

Jadi

N = 6 x 2 + 2 x + 4 xy + 4 y x M N = . terbukti Eksak. x x

Solusi PD adalah

Q( x, y ) = M dx + g ( y ) = (4 x 3 + 6 x 2 y + 2 xy + 2 xy 2 + 2 y 2 ) dx + g ( y )
= x 4 + 2 x 3 y + x 2 y + 2 x 2 y + 2 xy 2 + g ( y )

Q = 2 x 3 + x 2 + 2 x 2 + 4 xy + g ' ( y ) = N ( x, y ) = 2 x 3 + x 2 + 4 xy + 2 x 2 y + 3 y 2 y

Diperoleh g ' ( y ) = 3 y 2 g ( y ) = y 3 Dengan demikian penyelesaian umum PD adalah


x 4 + 2 x 3 y + x 2 y + 2 x 2 y + 2 xy 2 + y 3 = C .

Latihan 1.3.3 : Selesaikan PD eksak berikut 1.

dy x + 2y . = dx y 2 + 2x

2.

dy 3x 2 + 4 xy = , y(0) = 3. dx 2x 2 + 2 y
cos y dy = . dx x sin y y 2

3. ( yex + y)dx + (e x + x + y)dy = 0, y(0) = 1. 4. 5. ( xe y e 2 y )dy + (e y + x )dx = 0.

6. ( y sin xy)dx + ( x sin xy)dx = 0.

7. Tentukan N ( x, y ) sehingga ( xy y 2 + x )dx + N ( x, y )dy = 0 eksak. 8. Tentukan M ( x, y) sehingga M ( x, y ) dx + ( x sin y + ln y ye x ) dy = 0 eksak.

Tunjukkan bahwa PD berikut adalah non eksak, kemudian tentukan faktor integralnya sehigga PD tersebut menjadi eksak dan selesaikan. 9. 2 xy dy + (3 x + 2 y 2 ) dx = 0 11. ( x2 + 3x + 2)dx + ( x2 + x + 1)dy = 0. 10. (3 2 y ) dx + ( x 2 1) dy = 0 11. (y 2 x 3 ) dx x ( 1 xy) dy = 0