Anda di halaman 1dari 5

REZQWAN WAWAN

Pemuda Akhir Zaman


When The Words Become Weapon

PENERBIT

MOGERSTUDIO
2

Pemuda Akhir Zaman


When The Words Become Weapon Oleh: Rezqwan Wawan Copyright 2013 by Rezqwan

Penerbit MOGERSTUDIO rezqwan@gmail.com

Desain Sampul: Rezqwan

Diterbitkan Melalui

PRO.LO.GUE

Kota Machazhar, jauh dari bayangan langit dan awan oleh sebuah kota yang berdiri tegak dan angkuh diatas pulau bernama Celebes. Sebuah pulau hasil penyatuan dari lempeng tektonik dan vulkanik ini kokoh bertahan diantara terjangan dua arah angin dan dua arus samudera. Kota ini juga merupakan penyatuan dari dua suku yang terkenal rival dimasa lalu, Macha dan Azhar. Perjuangan dua suku yang bersatu demi melawan penjajahan bangsa Helland tahun 1945 ingin menjadikan kota ini sebagai koloni. Walaupun penjajahan mereka telah berhenti semenjak puluhan tahun, namun Helland masih menyisahkan benih-benih jahat dikota ini. Pemadangan indah terlihat dari setiap sisi-sisi kota yang dibagi menjadi 13 distrik ini. Ada gedung-gedung pencakar langit, museum sejarah, kebun botanis, galeri seni, obsevatori, swalayan, taman bermain, anjungan pantai, universitas dan semua itu dapat ditemukan di Machazhar. Sebuah kota yang begitu megah.

Namun langit dan bumi takkan mungkin berdusta karena dibalik keindahan dan megahnya kota ini, juga tersimpan banyak kebusukan dan kemunafikan. Seperti kriminal senyap, psikopat gila dan pengkhianat, sekumpulan manusia tak bermoral, anak-anak pemuda-pemudi yang menjadi korban gaya hidup sindrom fantasi modern, membuat iman dihati mereka menjadi lemah, diperbudak oleh segalanya yang bernama kebebasan. Tapi kehadiran itu semua pasti ada penyebabnya, organisasi pemerintahan berwajah damai namun berhati kotor dan berjiwa busuk, mengendalikan kota ini dari belakang layar, konspirasi, mereka adalah Nukes. Kota ini seperti hitam dan putih, dimana ada kejahatan disitu pula ada kebaikan. Namun kebenaran terkadang juga selalu mendapat penindasan dan selalu mendapat cobaan. Salah satu dari sekian banyak orang itu adalah MOGERS Bersaudara, enam pemuda yang kini menjadi yatim piatu, adalah salah satu dari sekian dari korban penindasan Nukes. Hanya karena, enam orang mahasiswa yang memprotes teori evolusi, mereka di D.O dari kampus. Karena dicurigai adalah sekelompok orang radikal. Keenam bersaudara ini membentuk sebuah band beraliran heavy metal dengan lirik-lirik keras perlawanan kepada pemerintah yang korup namun mereka dihentikan paksa setelah vokalisnya menjadi pengkhianat, tergiur akan harta dan bergabung dengan Nukes dan sekejap band mereka hancur. Orang tua mereka adalah pemuka agama yang berhati baik, namun mereka difitnah sebagai teroris dan nyawa mereka berakhir dimana keduanya terbunuh secara mengenaskan oleh Nukes. Kini MOGERS bersaudara hanya bisa menunggu, dimana suatu hari nanti akan datang harapan untuk mereka.

Di sisi lain, ada seseorang yang tidak pernah merasa sulit dengan keadaan saat ini. Seorang yang selalu bahagia bila melihat orang-orang yang berada disekitarnya tersenyum. Gadis tersebut bernama Althea Dewina, seorang mantan vokalis dan kibordis dari idolband Disenir, yang beralih profesi menjadi pemilik sebuah kafe restoran, Althea Burger Cafe & Diner. Terkadang dia datang pagi menuju kafenya untuk membukanya saat matahari terbit. Tapi dia tidak pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti dia akan terlibat dalam sebuah peristiwa yang tidak pernah diharapakannya hanya karena mengenal cinta. Cinta yang sesungguhnya. Anti mainstream, selalu merasa dirinya berwajah ganteng padahal itu benar. Kacamata, penyuka musik cadas, pecinta burger dan juga gak pernah pacaran. Mahasiswa geografi pemimpi yang selalu mengkhayal bisa bertemu dengan gadis impiannya. Terlelap nyaman dalam tidurnya. Dengkuran menggerutu, seperti cerobong asap pabrik di wilayah distrik 6. Guling dipeluknya erat seakan jadi pertanda didalam mimpinya dia sedang memeluk gadis impiannya. Dan tidak lupa dia juga membuat peta pulau Celebes dibantalnya. Matahari sudah terbit tapi dia belum bangun. Hingga seekor ayam jago milik tetangganya lepas dari kandangnya dan berlari menuju kedepan rumahnya. Rumah sang pemuda.

10