Anda di halaman 1dari 6

This is the sample page, please buy the book. Thank you.

Ini adalah halaman preview novel, jangan lupa beli novelnya. Terima kasih. Katrin Lee

PAGE 114-115 Sebaiknya kamu duduk dulu. Atau kamu mau kita kembali saja sekarang? tanya Revan. Ia masih memeluk pinggang Nayla. Entah kenapa Nayla menggeleng pelan. Ia meyakinkan Revan bahwa dirinya baik-baik saja. Sejenak Nayla mengatur nafas dan keseimbangannya. Revan tetap memegangnya dengan erat agar Nayla tidak terjatuh. Tapi keduanya seolah lupa dengan kedekatan mereka. Nayla seperti tidak ingin melepaskan tubuhya dari dekapan Revan. Tak lama kemudian ia sudah menyederkan kepalanya ke dada Revan. Ada rasa nyaman yang ia dapatkan dalam pelukkan Revan dan ia tidak ingin rasa nyaman itu cepat berlalu. Jantung Revan berdetak tidak karuan. Mendapat pelukkan hangat seperti itu tentu sangat mengejutkannya. Ia merasa dilemma untuk melepas pelukkan itu yang juga sebenarnya, sangat ia inginkan. Nayla kini semakin erat memeluk Revan. Begitu juga dengan Revan. Entah kondisi apa yang membuat romansa ini terjadi pada mereka berdua. Mereka berdua seakan lupa, siapa orang yang sekarang mereka peluk erat. Dan lagi-lagi, saat mata mereka bertemu. Ada kekuatan dahsyat yang menarik wajah mereka untuk semakin dekat bertemu. Nayla seakan lupa akan rasa pusing dan panas tubuhnya. Ia sudah tidak bisa lagi membedakan mana panas tubuh karena sakitnya dan mana panas tubuh karena letupan perasaannya. Dekapan ini seolah

mengingatkannya dengan kejadian yang dulu pernah terjadi. Di tempatnya berdiri. Revan seolah lupa diri. Lupa bahwa gadis di depannya ini adalah calon istri sahabatnya. Logika dan hatinya seolah berperang dalam menentukan langkah selanjutnya. Apakah ia akan melanjutkan pelukan ini atau melepaskannya... Nayla menatap Revan lekat, begitu juga Revan. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Sepertinya daya magnetis keduanya terlalu kuat untuk bisa di tolak. Mereka mensejajarkan wajahnya. Ketika dahi dan hidung mereka bertemu. Ada kelegaan di situ. Nafas mereka satu sama lain memadu dalam kerinduan masing-masing. Keduanya memejamkan mata, seolah menikmati moment itu sejenak, sebelum mereka memutuskan hal yang akan terjadi selanjutnya... Revan membuka mata, begitu juga Nayla. Mereka saling memandang. Seolah bertukar isi pikiran lewat tatapan mata. Hidung mereka masih bertemu. Jantung keduanya berdegup lebih cepat dan semakin cepat. Hingga Nayla mengambil keputusan yang entah di sadarinya atau tidak, akan merubah seluruh jalan hidupnya.

PAGE 205-206 Nayla... aku tahu semestinya sejak awal aku melamarmu dengan cara yang lebih romantis. Maka dari itu aku menyiapkan semua ini... Adit berusaha mengatur nafasnya yang di rasanya sedikit tersengal oleh karena ketegangan dan grogi yang melanda sekujur tubuhnya. Wajah Nayla seketika berubah. Ia merasa begitu bersalah kepada Adit saat ini. Lelaki ini terlalu baik untuk dipermainkan dan dikecewakan seperti ini. Adit pantas mendapat yang lebih baik dari sekedar ini. Nayla menjerit dalam hatinya. Adit... ujar Nayla pelan. Matanya terlihat mulai nanar, dan wajahnya diliputi kegelisahan. Biar aku selesaikan kalimatku dulu, potong Adit begitu ia bisa menguasai ketegangannya sendiri. Nayla... I believe that if we're lucky enough to have found each other in the first place... I know we're meant to be together.. ujar Adit perlahan dan penuh keyakinan. Kalimat yang sudah seharian ia siapkan. Will you spent the rest of your life with me? pinta Adit dengan penuh keyakinan dan ketulusan. Mendengar kalimat lamaran yang penuh romansa seperti itu, rasanya tidak akan mungkin sanggup untuk di tolak oleh wanita manapun. Tubuh Nayla bergetar mendengar lamaran yang begitu indah itu. Ia tak kuasa menahan emosinya sendiri. hingga airmata kini mengalir di kedua pipinya. I do.. ujar Nayla di penuhi isak tangis. If I could.. tambahnya dengan sedih. Jawaban itu tentu saja membuat tanda tanya besar di kepala Adit.

Nayla, ada apa? tanya Adit sambil bangkit mensejajarkan diri dengan Nayla. Ia dapat menyadari tangisan Nayla bukan karena terharu oleh lamarannya ini, tapi karena hal lainnya. Kamu kenapa? Adit semakin khawatir. Aku... aku... Nayla masih terisak. Aku sudah mengkhianatimu... Maafkan aku... ujar Nayla sedih bersamaan dengan mengalir airmatanya

PAGE 219-220 Sedang apa kamu disini? ujar Revan sedatar mungkin tanpa mengubah ekspresinya. Ia sedang membohongi perasaannya sendiri. Itulah kebiasaan yang timbul semenjak mengenal Nayla. Nayla melangkah maju, mensejajarkan diri dengan Revan. Ketika tepat berada dua langkah di depan Revan, ia menatap lelaki itu dalam-dalam. Wajahnya menyiratkan keletihan, kepasrahan dan pengharapan. Sejenak ia mengatur nafasnya. Kamu bilang hal di antara kita tidak nyata? suara Nayla bergetar seperti menahan tangis. Pembohong! nada suara Nayla terdengar sedikit tinggi. Ia sedang mendesak Revan saat ini. Wajah Revan mulai berubah sedih. Apa sih yang sedang kamu lakukan? Revan mencoba mengelak. Ia terlalu pengecut mengakui hal tersebut, dan dilema ini membuat batinnya bergejolak. Mendengar ucapan Revan membuat Nayla menjadi semakin frustasi. Matanya nanar melihat lelaki di depannya, ia mencoba maju selangkah, membuat jarak di antara mereka semakin dekat. Revan harus berusaha menahan diri untuk tidak memeluk dan mencium Nayla yang sekarang hanya berjarak sekali rangkul saja. Ingin sekali ia mengatakan betapa ia sangat mencintai gadis itu, tapi ia hanya bisa terdiam membisu. Pengecut memang.