Anda di halaman 1dari 38

BAB I LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini perkembangan negara semakin cepat, tidak terkecuali dengan Indonesia. Pertumbuhan di segala sektor antara lain ekonomi, pendidikan, industri menjadi bukti otentik. Pada sektor industri khususnya otomotif pertumbuhan tidak terkendali terbukti dengan banyaknya pemakaian kendaraan bermotor yang memberikan sumbangsih terbesar atas terjadinya pemanasan global dan pencemaran udara. Seluruh aspek kehidupan menjadi terpengaruh oleh karena keadaan ini. Banyak yang di untungkan dan di rugikan. Para pekerja yang berada atau lebih lama berada di lingkungan terbuka lebih sering terkena dampak langsung. Salah satu contohnya adalah satpam pengatur lalu lintas keluar masuknya kendaraan bermotor yang sehari-hari terpapar oleh debu dan asap dari kendaraan bermotor. Dari hasil wawancara di dapatkan jumlah satpam yang berada di Universitas YARSI berjumlah sebanyak 74 orang dengan rentang usia 19-50 tahun. Jika para satpam yang terpapar oleh polusi udara ini ditambah dengan kebiasaannya yang merokok dapat meningkatkan kemungkinan untuk menderita ISPA. Lingkungan di sekitar tempat kerja yaitu di Universitas YARSI, khususnya satpam yang bekerja sebagai petugas pemberi karcis dan pengatur keluar dan masuknya kendaraan bermotor. Dilihat dari sekeliling tempat kerja yang terletak di pinggir jalan utama yang besar dan padat memudahkan terkena paparan polusi, serta terlihat juga sarana pos satpam yang kurang memadai, hal ini dapat mengakibatkan timbulnya gejala-gejala ISPA yang diawali dengan gejala awal seperti batuk.

Data Awal

Identitas narasumber : 1. Nama Umur Status : : : Saiful Hajat 21 tahun Belum menikah 61 kg

Berat badan :

Pend. Terakhir : Alamat :

SMA Sumur batu

2. Nama Status Umur

: : :

Refiansyah Belum menikah 24 tahun 58 kg SMA Sumur batu

Berat badan : Pend. Terakhir : Alamat :

3. Nama Umur Status

: : :

Reinald Alfa 26 tahun Menikah 60kg SMA Senen raya

Berat badan : Pend. Terakhir : Alamat :

Pertanyaan : 1. Apakah pekerjaan bapak sebelumnya ? 2. Sudah berapa lama bekerja di yarsi? 3. Berapa lamakah waktu bekerja bapak setiap hari ? 4. Apakah pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain, selain menjadi satpam? 5. Adakah permasalahan yang sering bapak alami selama bekerja atau yang sedang bapak rasakan saat ini ? 6. Adakah penyakit yang pernah bapak derita akibat pekerjaan ? 7. Selain keluhan di atas, adakah keluhan lain yang dirasakan ? 8. Apakah di tempat kerja sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini? 9. Usaha pengobatan apa yang bapak lakukan jika sakit? 10. Keluhan seperti ini dalam Hal ini terutama batuk lebih sering dirasakan jika bapak bertugas di dalam atau diluar?

11. Apakah batuk ini bapak rasakan mulai timbul saat di lingkungan kerja ? 12. Apakah keluhan ini timbul selama bapak di YARSI atau di tempat kerja sebelumnya juga mengalami Hal demikian ? 13. Bagaimana riwayat imunisasi pada saat kecil ? 14. Kalau punya istri/anak tertular dengan penyakit bapak tidak ? 15. Apakah bapak mempunyai alergi ? 16. Adakah riwayat alergi dalam keluarga? 17. Apakah bapak merokok? 18. Jika iya, berapa banyak rokok yang bapak hisap setiap harinya ? 19. Sudah berapa lamakah bapak merokok? 20. Apakah bapak mengetahui bahaya dari merokok? 21. Jika iya, Mengapa bapak tidak berhenti merokok? 22. Seberapa pedulikah bapak terhadap kesehatan ? 23. Apakah bapak diberikan masker selama bekerja? 24. Jika tidak, apakah bapak masih tetap menggunakan masker selama bekerja? Kenapa? 25. Bagaimana dengan kebiasaan olahraga? Seberapa seringkah bapak olahraga ? 26. Apakah bapak suka mengkonsumsi vitamin ? Seberapa sering ? 27. Apakah Bapak suka begadang ? 28. Menurut bapak bagaimana Kepadatan lingkungan di sekitar tempat tinggal bapak? 29. Bagaimana ventilasi di tempat bapak tinggal? 30. Bagaimana Kebersihan tempat tinggal bapak ? 31. Dalam jangka waktu berapa lama biasanya bapak mengganti sprei ? 32. Bahan Kasur bapak terbuat dari kapuk atau busa? 33. Adakah pengaruh cuaca terhadap timbulnya keluhan bapak,misalnya kalau cuacanya sedang buruk, lebih gampang sakit atau tidak ? 34. Apakah di sekitar tempat tinggal bapak ada sarana kesehatan terdekat ? 35. Sebelum berangkat kerja, apakah bapak terbiasa sarapan ? 36. Makanan apa yang sering bapak konsumsi? 37. Apakah Bapak Suka jajan makanan di luar? 38. Penghasilan sebagai satpam, mencukupi biaya hidup sehari-hari atau tidak ?

Pertanyaan Pekerjaan sebelumnya

Saiful Hajat Satpam di pabrik

Refiansyah Wiraswasta

Reinald Alfa Satpam di RS, Hotel, Apartment

Lama bekerja di yarsi Waktu bekerja

1 tahun lebih 7 pagi 6 sore

1 tahun 8 pagi 5 sore

1 tahun 1 bulan 7 pagi 5 sore atau 8 pagi 8 malam

Pengalaman

yang Bisa

menambah Bisa

menambah Bisa

menambah

mengesankan selama teman, kenal dengan teman, kenal dengan teman, kenal dengan bekerja menjadi dosen-dosen dokter dan dosen-dosen dokter dan dosen-dosen dokter dan

satpam di yarsi

Pernah berfikir untuk Pernah mencari pekerjaan

Sering, ingin mencari Pernah pekerjaan yang lebih baik daripada ini

lain, selain menjadi satpam?

Permasalahan selama Lebih banyak duduk Paparan debu / asap Kepanasan, bekerja? dibandingkan dengan kendaraan bermotor aktivitasnya, jadi kehujanan, kedinginan

gampang pegal-pegal Penyakit yang pernah ISPA di derita akibat Batuk, Pilek Batuk, Demam, angin, pusing kepala, Pusing, gatal, gatal tenggorokan Pusing, panas dalam Pilek, Flu, Masuk

bekerja? Selain keluhan di atas, Sakit adakah keluhan lain tenggorokan yang dirasakan ? Di tempat batuk kerja Tidak pernah sakit Pernah

Pernah

sebelumnya mengalami seperti ini?

Pengobatan jika sakit? Lebih sering

diobati Lebih sering pergi ke Lebih sering diobati sendiri

sendiri selama masih dokter bisa sembuh

dibandingkan pergi ke dokter

Keluhan seperti ini Luar lebih sering dirasakan jika bertugas di dalam atau luar gedung? Riwayat pada gimana? Kalau punya istri/anak tertular dengan imunisasi Tidak ingat saat kecil

Luar

Dalam

Waktu kecil lengkap

Lengkap

Kalau saya sakit. Saya jauh-jauh dengan anak

penyakit bapak atau tidak? Riwayat alergi? Riwayat keluarga? Apakah merokok? Jika iya, berapa 9 batang /hari 1 bungkus /hari 10 batang /hari bapak Ya Ya Ya Ada, alergi debu alergi Tidak ada Tidak ada Ada Tidak ada Tidak ada

banyak? Sudah berapa lama 3 tahun bapak merokok? Apakah mengetahui dari merokok? bapak Ya bahaya Ya Ya 5 tahun 9 tahun

Jika

iya,

Mengapa Iya, saya pelan-pelan Susah, ya habisnya Susah, karena sudah mau gimana lagi ketergantungan

bapak tidak berhenti mau kurangin merokok? Seberapa bapak kesehatan ? pedulikah Peduli terhadap

Sangat peduli. Kalau Peduli. badan langsung dokter tidak check

Minum

fit suplemen setiap hari ke sering makan buahbuahan Tidak

Apakah diberikan

bapak Tidak masker

Tidak

selama bekerja? Jika bapak tidak, masih apakah Tidak, karena susah Tidak, karena ribet tetap kalo sedang Tidak, menggunakan sedang tidak fit saya ketika

menggunakan masker menggunakan pluit selama Kenapa? Olahraga bekerja?

Rutin 1 minggu sekali Rutin 1 minggu sekali Rutin 2 kali sebulan futsal jogging minumnya Ya, sering setiap hari mau olahraga Ya, Setiap hari

Sering minum vitamin Tidak, atau tidak? kalo saja Apakah bapak suka Tidak begadang atau tidak?

Kadang

Kadang

Kepadatan lingkungan Padat sekali, sekarang Padat, ruangan sering Padat di sekitar tempat nge-kos 1 kamar 2 pengap

tinggal bapak gimana? orang Bagaimana di tempat ventilasi Kurang, pengap bapak Kurang Bagus

tinggal?

Sinar matahari yang Kurang masuk bapak tidak? Kebersihan tinggal bagaimana? Berapa lama sekali 1 minggu sekali dalam seprai? Kasur yang bapak Kapuk mengganti ke cukup kamar atau

Kurang

cukup

tempat Saya bersihkan setiap Di bersihkan setiap Dibersihkan bapak hari hari hari

setiap

Kalau sudah kotor di Ga tentu ganti

Busa

Busa

gunakan terbuat dari kapuk atau busa? Kalau cuacanya Iya, apa lagi kalau Jarang Ya sakit. Seperti flu, meriang

sedang buruk, lebih musim hujan sering gampang sakit atau tidak? Di sekitar tempat Ada, klink ada

Ada, klinik dan dokter Ada, puskesmas umum

tinggal sarana

bapak

kesehatan

terdekat atau tidak?

Sebelum

berangkat Tidak,

sarapannya Iya,

pasti

sarapan Jarang. Cuma ngopi sebelum aja

kerja, sarapan dulu kalau sudah sampai di setiap atau tidak? tempat kerja berangkat

Makanan yang sering Ikan, bapak konsumsi

sayur-sayuran. Makan nasi 3x sehari. Makan nasi 2x sehari. Suka makan sayur-an Sayur-an dan buah jarang.

Kalau buah jarang

Buah-buahan sering Ya sering seperti

Suka jajan makanan Gorengan, tapi jarang di luar

Jarang

gorengan

Penghasilan satpam,

sebagai Lebih dari cukup

Lebih dari cukup

Lebih dari cukup

mencukupi

biaya hidup seharihari atau tidak?

Dari data di atas, diketahui keluhan utama dari komunitas satpam Universitas YARSI yang khususnya bekerja di luar gedung adalah batuk yang terjadi akibat terkena paparan debu dan asap kendaraan bermotor yang hampir di rasakan oleh semua satpam khususnya yang bekerja di luar gedung. Serta dapat juga terjadi akibat dari perilaku yang tidak menggunakan masker dan kebiasaan merokok dari komunitas satpam Universitas YARSI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perilaku Menurut teori lawrence green (1980) disitasi Notoatmodjo, 2003 bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, dan tradisi sebagai faktor predisposisi disamping faktor pendukung seperti lingkungan fisik, prasarana dan faktor pendorong yaitu sikap dan perilakupetugas kesehatan atau petugas lainnya. Dalam sebuah buku yang berjudul Perilaku Manusia Drs. Leonard F. Polhauspessy, Psi. menguraikan perilaku adalah sebuah gerakan yang dapat diamati dari luar, seperti orang berjalan, naik sepeda, dan mengendarai motor atau mobil. Sehingga yang dimaksudperilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas manusia darimanusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati pihak luar. (Notoatmodjo 2003 hal 114) Berdasarkab berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus berdasarkan pengetahuan seseorang dan sikap seseorang

Bentuk Perilaku Ada beberapa jenis perilaku yang ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda, antara lain: a. Perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Perilaku tertutup artinya perilaku itu tidak dapat ditangkap melalui indera, melainkan harus menggunakan alat pengukuran tertentu, seperti psikotes. Contohnya: berpikir; berfantasi, kreatifitas, dll. Sedangkan perilaku terbuka yaitu perilaku yang bisa langsung dapat diobservasi melalui alat indera manusia, seperti tertawa, berjalan, berbaring, dan lain-lain. b. Perilaku reflektif dan perilaku non reflektif. Perilaku reflektif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme. Misal reaksi kedip mata bila kena sinar, menarik jari bila kena panas, dan sebagainya. Perilaku reflektif

ini terjadi dengan sendirinya secara otomatis tanpa perintah atau kehendak orang yang bersangkutan, sehingga di luar kendali manusia. Lain halnya dengan perilaku non reflektif. Perilaku ini dikendalikan atau diatur oleh pusat kesadaran atau otak. Proses perilaku ini disebut proses psikologis. c. Perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perilaku kognitif atau perilaku yang melibatkan proses pengenalan yang dilakukan oleh otak, yang terarah kepada obyektif, faktual, dan logis, seperti berpikir dan mengingat. Perilaku afektif adalah perilaku yang berkaitan dengan perasaan atau emosi manusia yang biasanya bersifat subyektif. Perilaku motorik yaitu perilaku yang melibatkan gerak fisik seperti memukul, menulis, lari, dan lain sebagainya.

Klasifikasi Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok : 1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintanance). Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. 2. Perilaku pencarian atau penggunaan sistem atau fasilitas kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. 3. Perilaku kesehatan lingkungan Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya.

Pembentukan Perilaku Ada beberapa cara pembentukan perilaku, antara lain sebagai berikut. a. Melalui conditioning atau pembiasaan, yaitu dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, yang akhirnya terbentuklah perilaku tersebut. Misalnya membuang sampah pada tempatnya, anak dibiasakan bangun pagi, atau menggosok gigi

sebelum tidur, mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu oleh orang lain, membiasakan diri untuk tidak terlambat datang ke sekolah, dan sebagainya. Cara ini didasarkan pada teori behaviorism, terutama teori conditioning Pavlov, Thorndike, dan Skinner. b. Melalui pengertian (insight), yaitu memberikan dasar pemahaman atas alasan tentang perilaku yang akan dibentuk, misalnya datang kuliah jangan terlambat, karena hal tersebut dapat mengganggu teman-teman yang lain. Bila naik sepeda motor pakai helm, karena helm tersebut untuk keamanan diri. Salah seorang tokoh yang menganut teori ini adalah Kohler, yang juga merupakan tokoh psikologi Gestalt. Dia menemukan dalam eksperimennya

bahwa dalam belajar yang penting adalah pengertian atau insight. Melalui penggunaan model, yaitu pembentukan perilaku melaui model atau contoh teladan.Orang mengatakan bahwa orang tua sebagai contoh anak-anaknya, pemimpin

sebagai panutan yang dipimpinnya, hal tersebut menunjukkan pembentukan perilaku dengan menggunakan model. Cara ini disarakan atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura.

Teori Perilaku Teori Lawrence Green (1980) Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : a. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. b. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat steril dan sebagainya. c. Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat

Perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungannya. Perilaku itu didorong oleh motif tertentu sehingga manusia itu berperilaku. Dalam hal ini ada beberapa teori. Di antara teori tersebut sebagai berikut: a. Teori Insting Teori ini dikemukakan oleh McDougall, sebagai pelopor dari psikologi sosial, yang menerbitkan buku psikologi sosial pertama kali. Menurutnya, perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan perilaku innate, yaitu perilaku bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman. Pendapat ini mendapat tanggapan yang cukup tajam dari Allport yang berpendapat bahwa perilaku manusia itu disebabkan karena banyak faktor, termasuk orangorang yang ada di sekitarnya dengan perilakunya. b. Teori dorongan (drive theory) Teori ini bertitik tolak pada pandangan bahwa organisme itu mempunyai dorongandorongan atau drive tertentu. Dorongan-dorongan itu berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan organisme yang mendorong organisme berperilaku. Bila organisme itu mempunyai kebutuhan, dan organisme ingin memenuhi kebutuhannya maka akan terjadi ketegangan dalam diri organisme itu. Bila organisme berperilaku dan dapat memenuhi kebutuhan itu, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan tersebut. Oleh karena itu, menurut Hull, teori ini disebut juga teori drive reduction. c. Teori Insentif (incentive theory) Teori ini bertitik tolak pada pendapat bahwa perilaku organisme itu disebabkan karena adanya insentif. Dengan insentif akan mendorong organisme itu berbuat atau berperilaku. Insentif atau bisa disebut reinforcement ada yang positif ada yang negatif. Reinforcement yang positif berkaitan dengan hadiah, sedangkan reinforcement yang negatif berkaitan dengan hukuman. Reinforcement yang positif akan mendorong organisme dalam berbuat, sedangkan reinforcement negatif akan dapat menghambat dalam organisme berperilaku. Ini berarti bahwa perilaku timbul karena adanya insentif atau reinforcement. Perilaku semacam ini dikupas secara tajam dalam psikologi belajar. d. Teori Atribusi Teori ini ingin menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku orang. Apakah perilaku itu disebabkan oleh disposisi internal (misal motif, sikap, dan sebagainya) atau oleh keadaan eksternal. Teori ini dikemukan oleh Fritz Heider dan teori ini menyangkut lapangan psikologi

sosial. Pada dasarnya perilaku manusia itu dapat atribusi internal, tetapi juga dapat atribusi eksternal. Mengenal hal ini lebih lanjut akan dibicakan dalam psikologi sosial. e. Teori Kognitif Apabila seseorang harus memilih perilaku mana yang mesti dilakukan, maka pada umumnya yang bersangkutan akan mnemilih alternatif perilaku yang akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan. Ini yang disebut sebagai model subjective

expected utility (SEU). Dengan kemampuan memilih ini berarti faktor berpikir berperan dalam mementukan pilihannya. Dengan kemampuan berpikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya di samping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat ke depan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak. Dalam model SEU kepentingan pribadi yang menonjol. Tetapi dalam seseorang berperilaku kadang-kadang kepentingan pribadi dapat disingkirkan. Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi perilaku itu didalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif (kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah psikomotor (psicomotor domain). Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.

Pengukuran Perilaku Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Pengukuran dan indikator perilaku kesehatan : 1. Health Knowledges pengetahuan tentang cara-cara memelihara kesehatan

2. Health Attitude pendapat atau penilaian terhadap hal-hal yang berkaitan pemeliharaan kesehatan 3. Health Practice kegiatan atau aktivitas dlm rangka memelihara kesehatannya

Pendidikan Kesehatan Konsep kesehatan masyarakat sebagai cara yang tepat untuk meningkatkan derajat kesehatan tidak mungkin tercapai sempurna, Jika masyarakat itu sendiri tidak diikutsertakan dan tidak disertai oleh pendidikan kesehatan. Ada beberapa pengertian pendidikan kesehatan, di antaranya adalah: 1) Pendidikan kesehatan adalah upaya menterjemahkan apa yang telah diketahui tentang kesehatan ke dalam perilaku yang diinginkan dari perseorangan ataupun masyarakat melalui proses pendidikan (Grout, 1958). 2) Pendidikan kesehatan adalah suatu proses penyediaan pengalaman belajar yang bertujuan untuk mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku yang ada hubungannya

dengankesehatan perseorangan ataupun kelompok (A Joint Committee on Terrminology in Health Education of United States, 1951). 3) Pendidikan kesehatan adalah unsur program kesehatan yang di dalamnya terkandung rencana untuk mengubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu tercapainya program, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan (Stewart, 1968). WHO (1954) telah menetapkan bahwa tujuan pendidikan kesehatan lingkungan dan pemukiman adalah untuk merubah prilaku perseorangan dan masyarakat. Tujuan tersebut merupakn tujuan yang cukup mendasar, karena banyak masalah kesehatan yang ditemukan, disebabkan antara lain karena prilaku perseorangan atau masyarakat yang belum sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan. Perubahan-perubahan perilaku ditujukan untuk: 1) Menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat. 2) Menolong perseorangan agar mampu berdiri sendiri dalam mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat 3) Mendorong berkembangnya penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang ada.

Terbentuknya perilaku tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain dipengaruhi oleh keadaan sosial budaya seseorang. Oleh karena itu pendidikan kesehatan harus dilakukan pada berbagai faktor atau keadaan yang memungkinkan terbentuknya sosial budaya tersebut. Pelaksanaan pendidikan kesehatan ditujukan tidak hanya masyarakat sekolah, masyarakat pekerja, tetapi juga semua lapisan masyarakat. Ruang lingkup pendidikan kesehatan terbagi atas : 1) sasaran (masyarakat) 2) materi pendidikan atau pesan yang disampaikan 3) metoda yang digunakan. Selanjutnya perkembangan pendidikan kesehatan, ternyata dipengaruhi oleh: 1) Perkembargan ilmu pengetahuan dan teknologi lingkungan pemukiman, yang pengaruhnya terutama pada pesan-pesan yang disampaikan 2) Perkembangan dalam teknik pendidikan, termasuk komunikasi yang berpengaruh pada teknik atau metoda pendidikan kesehatan yang dilakukan 3) perkembangan ilmu perilaku manusia yang perananya amat besar pada cara-cara pendekatan pendidikan kesehatan. Oleh karena itu seorang pelaksana penyuluhan kesehatan di samping memerlukan ilmu komunikasi juga dituntut pemahamannya yang lengkap tentang pesan yang ingin disampaikan. Untuk melaksanakan pendidikan kesehatan masyarakat yang mencakup lingkungan dan pemukiman, perlu perencanaan yang sebaik-baiknya. Hanlon (1964) merencanakan kegiatan pendidikan kesehatan menjadi empat tahap yaitu: 1) Tahap sensitisasi, ini ditujukan untuk menimbulkan kesadaran peserta didik (masyarakat), misalnya kesadaran akan adanya pelayanan kesehatan. 2) Tahap publisitas, tahap untuk melengkapkan keterangan dari apa yang telah disampaikan pada tahap sensitisasi. Bentuk dari publisitas misalnya press releases yang dikeluarkan oleh instansi kesehatan untuk menjelaskan macam pelayanan yang dapat diberikan, atau untuk menjelaskan betapa gawatnya masalah penyakit yang sedang dihadapi. 3) Tahap edukasi, tahap ini untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan mengarahkan perilaku sesuai dengan yang diinginkan. Cara-cara yang dilakukan di sini adalah cara-cara belajar mengajar.

4) Tahap motivasi, tahap ini adalah untuk menimbulkan motivasi seseorang agar mau berperilaku sebagaimana yang diharapkan, dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Hasil yang diharapkan Terjadinya perubahan sikap dan perilaku dari individu, keluarga, kelompok khusus, dan masyarakat untuk dapat menanamkan prinsip prinsip hidup sehat dalam kehidupan sehari hari untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal Penyuluhan Kesehatan Kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak hanya sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Azwar, 1983 dalam Ircham Machfoedz, dkk ; 2005) Kegagalan dalam penyuluhan 1. Kurang lengkap info tentang audiens 2. Kurang mengenali kultur dan budaya setempat 3. Komunikasi searah 4. Tehnik penyampaian kurang variatif 5. Kurang melibatkan peserta 6. Bahasa yang digunakan teknis dan formal Prinsip-prinsip penyuluhan yang menyenangkan 1. Paham kebutuhan peserta 2. Peserta terlibat dalam satu atau lebih aktivitas 3. Berbagi pengalaman 4. Menggunakan banyak contoh

PERILAKU MEROKOK 1. Pengertian Perilaku Merokok Rokok adalah hasil olahan tembakau yang terbungkus, sejenis cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan sejenisnya. Asap rokok mengandung sekitar 4000 bahan kimia, 43 diantaranya bersifat karsinogen. Pengaruh asap rokok dapat mengakibatkan infeksi pada paru dan telinga serta kanker paru.

Merokok berarti membakar tembakau dan daun tar, dan menghisap asap yang dihasilkannya. Menurut Oskamp 1984 mengatakan perilaku merokok adalah kegiatan menghisap asap tembakau yang telah menjadi cerutu kemudian disulut api. Tembakau berasal dari tanaman nicotiana tabacum. Menurutnya ada dua tipe merokok, pertama adalah menghisap rokok secara langsung yang disebut perokok aktif, dan yang kedua mereka yang secara tidak langsung menghisap rokok, namun turut menghisap asap rokok disebut perokok pasif. Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahanbahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Kandungan racun pada rokok antara lain seperti: a. Tar Tar terbentuk selama pemanasan tembakau. Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambahkan dalam proses pertanian dan industri sigaret. Tar adalah hidrokarbon aromatik polisiklik yang ada dalam asap rokok, tergolong dalam zat karsinogen, yaitu zat yang dapat menumbuhkan kanker. Kadar zat yang terkandung dalam asap rokok inilah yang berhubungan dengan resiko timbulnya kanker.

b. Nikotin Nikotin adalah alkolid toksis yang terdapat dalam tembakau. Sebatang rokok umumnya berisi 1-3mg nikotin. Nikotin diserap melalui paruparu dan kecepatan absorbsinya hampir sama dengan masuknya nikotin secara intravena. Nikotin masuk kedalam otak dengan cepat dalam waktu kurang lebih 10 detik. Dapat melewati barrier otak dan diedarkan keseluruh bagian otak, kemudian menurun secara cepat, setelah beredar keseluruh bagian tubuh dalam waktu 15-20 menit pada waktu penghisapan terakhir. Efek bifasik dari nikotin pada dosis rendah menyebabkan rangsangan ganglionik yang eksitasi. Tetapi pada dosis tinggi yang menyebabkan blokade gangbionik setelah eksitasi sepintas.

c. Karbon Monoksida Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna. Kandungannya didalam asap rokok 2-6%. Karbon monoksida pada paru-paru mempunyai daya pengikat (afinitas) dengan hemoglobin (Hb) sekitar 200 kali lebih kuat dari pada daya ikat oksigen (O2)

dengan Hb. Dalam waktu paruh 4-7 jam sebanyak 10% dari Hb dapat terisi oleh karbon monoksida (CO) dalam bentuk COHb (Carboly Haemoglobin), dan akibatnya sel darah merah akan kekurangan oksigen, yang akhirnya sel tubuh akan kekurangan oksigen. Pengurangan oksigen dalam jangka panjang dapat mengakibatkan pembuluh darah akan terganggu karena menyempit dan mengeras. Bila menyerang pembuluh darah jantung, maka akan terjadi serangan jantung.

Penelitian terakhir oleh United State Surgeon General, AS, menunjukan ada 10 tipe kanker yang disebabkan rokok. Mereka juga menemukan, pria merokok akan meninggal 13,2 tahun lebih muda dibandingkan dengan bukan perokok. Sedangkan wanita perokok meninggal 14,5 tahun lebih muda. Berikut daftar penyakit yang mengancam perokok: a. Mata: perokok beresiko 3 kali lebih tinggi menderita katarak yang menyebabkan kebutaan. b. Mulut, tenggorokan, pita suara, dan esofagus : mengakibatkan kanker mulut, tenggorokan, pita suara, dan esofagus. Juga penyakit gusi, pilek, dan kerongkongan kering. c. Gigi: perokok beresiko 10 kali lebih tinggi menderita periodontitis (gusi terbakar yang mengarah ke infeksi) yang akan merusak jaringan halus dan tulang. d. Paru-paru: wanita perokok 13 kali lebih besar kemungkinan terkena kanker paru-paru, sedangkan pria 23 kali lebih besar. Akibat lain: pneumonia, bronkitis, asma, batuk kronis dan bengek. e. Jantung: gagal jantung, serangan jantung, hipertensi, stroke. f. Perut: kanker perut dan kanker lambung. g. Ginjal: kanker ginjal. h. Pankreas: kanker pankreas. i. Kantung kemih: kanker kantung kemih. j. Leher rahim: kanker leher rahim. k. Kehamilan: kemandulan, bayi lahir prematur, bobot kurang, keguguran. l. Tulang: tulang rapuh. m. Darah: leukemia atau kanker darah.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok Perilaku sebagai faktor penentu manusia merupakan resultansi dari berbagai faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal dalam hal ini adalah keyakinan, niat, percaya diri. Sedangkan faktor ekternal atau faktor lingkungan yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok anak diantaranya:

a. Pengaruh Orang Tua Orang tua sangat berpengaruh sekali dalam pembinaan perilaku anakanaknya. Anak akan mudah terpengaruh untuk berperilaku merokok jika melihat orang tua mereka merokok. Anak yang berasal dari keluarga yang kurang bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya juga dapat memicu anak untuk berperilaku merokok, dibanding anak-anak yang berasal dari keluarga yang bahagia. b. Pengaruh Teman Semakin banyak anak-anak merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok dengan alasan agar anak tersebut dapat diterima dilingkungannya dan tidak dikatakan benci oleh sebagian anak lainnya.

c. Faktor Kepribadian Perilaku merokok pada remaja berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya, yaitu masa ketika mereka sedang mencari jati dirinya. d. Pengaruh Iklan Anak akan mudah terpengaruh untuk berperilaku merokok jika melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour.

3. Tahap-tahap perilaku merokok Terdapat 4 tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok yaitu: 1. Tahap Preparatory. Seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai perokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. yang menyebabkann minat untuk merokok.

2. Tahap Innitiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap apakah seseorang akan meneruskan ataukah tidak terhadap perilaku merokok. 3. Tahap becoming a smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang per hari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok. 4. Tahap maintenance of smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA)

1. Definisi ISPA Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut: Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. 2. Etiologi ISPA Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococcus, Stafilococcus, Pnemococcus,

3. Gejala ISPA Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa panas, kering dan gatal dalam hidung, yang kemudian diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru). 4. Cara Penularan Penyakit ISPA Penularan penyakit ISPA dapat terjadi melalui udara yang telah tercemar, bibit penyakit masuk kedalam tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu maka penyakit ISPA ini termasuk golongan Air Borne Disease. Penularan melalui udara dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda terkontaminasi. Sebagian besar penularan melalui udara dapat pula menular melalui kontak langsung, namun tidak jarang penyakit yang sebagian besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung unsur penyebab atau mikroorganisme penyebab.

5. Diagnosa ISPA Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pnemonia, hanya biakan spesimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia. Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan menentukan jenis bakteri penyebab pnemonia pada balita, namun disisi lain dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika (terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Dengan pertimbangan tersebut, diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi WHO), bahwa Streptococcus, Pnemonia dan Hemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara berkembang. Di negara maju pnemonia pada balita disebabkan oleh virus. Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound timer. Batas nafas cepat adalah : a. Pada anak usia kurang 2 bulan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih. b. Pada anak usia 2 bulan - <1 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih. c. Pada anak usia 1 tahun - <5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali per menit atau lebih. Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang 2 bulan ditandai dengan adanya nafas cepat, yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam. Rujukan penderita pnemonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. Pada klasifikasi bukan pneumonia maka diagnosisnya adalah batuk pilek

biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis, otitis atau penyakit non-pnemonia lainnya. 6. Klasifikasi ISPA a. Infeksi Saluran Pernafasan atas Akut (ISPaA) Infeksi yang menyerang hidung sampai bagian faring, seperti pilek, otitis media, faringitis.

b. Infeksi Saluran Pernafasan bawah Akut (ISPbA) Infeksi yang menyerang mulai dari bagian epiglotis atau laring sampai dengan alveoli, dinamakan sesuai dengan organ saluran nafas, seperti epiglotitis, laringitis,

laringotrakeitis, bronkitis, bronkiolitis, pneumonia. 7. Epidemiologi Penyakit ISPA Distribusi Penyakit ISPA a. Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Host Penyakit ISPA lebih sering diderita oleh anak-anak. Daya tahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistim pertahanan tubuhnya belum kuat. Kalau di dalam satu rumah seluruh anggota keluarga terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi tubuh anak yang masih lemah, proses penyebaran penyakit pun menjadi lebih cepat. Dalam setahun seorang anak rata-rata bisa mengalami 6-8 kali penyakit ISPA. Berdasarkan hasil penelitian Djaja, dkk dengan menganalisa data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1998, didapatkan bahwa prevalensi penyakit ISPA berdasarkan umur balita adalah untuk usia <6 bulan (4,5%), 6-11 bulan (11,5%), 12-23 bulan (11,8%), 24-35 bulan (9,9%), 36-47 bulan (9,2%), 48-59 bulan (8,0%). Berdasarkan hasil penelitian Ridwan Daulay di Medan pada tahun 1999 mendapatkan bahwa kejadian ISPA atas tidak ada bedanya antara laki-laki dan perempuan, sedangkan ISPA bawah pada umur < 6 tahun lebih sering pada anak laki- laki. Sesuai dengan penelitian Djaja, dkk (2001) prevalensi ISPA pada anak laki- laki (9,4%) hampir sama dengan perempuan (9,3%).

b. Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Tempat ISPA, diare dan kurang gizi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di negara maju dan berkembang. ISPA merupakan penyebab morbiditas utama pada negara maju sedangkan di negara berkembang morbiditasnya relatif lebih kecil tetapi mortalitasnya lebih tinggi terutama disebabkan oleh ISPA bagian bawah atau pneumonia. Menurut penelitian Djaja, dkk (2001) didapatkan bahwa prevalensi ISPA di perkotaan (11,2%), sementara di pedesaan (8,4%); di Jawa-Bali (10,7%), sementara di luar Jawa-bali (7,8%). Berdasarkan klasifikasi daerah prevalensi ISPA untuk daerah tidak tertinggal (9,7%), sementara di daerah tertinggal (8,4%). c. Distribusi Penyakit ISPA Berdasarkan Waktu Berdasarkan hasil kesepakatan Declaration of the World Summit for Children pada 30 desember 1999 di New York, AS ditargetkan bahwa penurunan kematian akibat pneumonia balita sampai 33% pada tahun 1994-1999. Sedangkan di Indonesia sendiri oleh Dirjen PPM & PL menargetkan bahwa angka kematian balita akibat penyakit ISPA 5 per 1000 pada tahun 2000 akan diturunkan menjadi 3 per 1000 pada akhir tahun 2005. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2005, terlihat bahwa cakupan pneumonia penderita dan pengobatan dari target (perkiraan penderita) masih relatif rendah, tahun 2000 ada 30,1%; tahun 2001 ada 25%; tahun 2002 ada 22,1%; tahun 2003 ada 30%; tahun 2004 ada 36%; tahun 2005 ada 27,7%. Hasil pantauan yang dilakukan ini belum menggambarkan kondisi yang sebenarnya oleh karena masih ada beberapa wilayah yang belum menyampaikan laporannya. Penelitian Septri Anti (2007), dari catatan bulanan program P2 ISPA Kota Medan tahun 20022006 didapatkan bahwa berdasarkan hasil uji regresi linier terdapat nilai signifikan sebesar 0,552 (>0,05), tidak terdapat hubungan yang signifikan antara waktu dengan jumlah penderita ISPA pada balita, hal ini berarti bahwa adanya kecenderungan peningkatan jumlah balita penderita ISPA, dimana penderita penyakit ISPA pada tahun 2002 berjumlah 8.836 orang dan pada tahun 2007 mencapai 9.412 orang.

Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA a. Agent Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru-paru. Kejadiannya bisa secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. Rinitis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma/common cold/koriza/flu/pilek, merupakan penyakit virus yang paling sering terjadi pada manusia. Penyebabnya adalah virus Myxovirus, Coxsackie, dan Echo. Berdasarkan hasil penelitian Isbagio (2003), mendapatkan bahwa bakteri Streptococcus pneumonie adalah bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian 4 juta balita setiap tahun di negara berkembang. Isbagio ini mengutip penelitian WHO dan UNICEF tahun 1996, di Pakistan didapatkan bahwa 95% S.pneumococcus kehilangan sensitivitas paling sedikit pada satu antibiotika, hampir 50% dari bakteri yang diperiksa resisten terhadap kotrimoksasol yang merupakan pilihan untuk mengobati infeksi pernafasan akut. Demikian pula di Arab Saudi dan Spanyol 60% S. pneumonie ditemukan resisten terhadap antibiotika. Berdasarkan hasil penelitian Parhusip (2004), yang meneliti spektrum dari 101 penderita infeksi saluran pernafasan bagian bawah di BP4 Medan didapatkan bahwa semua penderita terlihat hasil biakan positif, pada dua penderita dijumpai tumbuh dua galur bakteri sedangkan yang lainnya hanya tumbuh satu galur. Bakteri gram positif dijumpai sebanyak 54 galur (52,4%) dan bakteri gram negatif 49 galur (47,6%). Dari hasil biakan terlihat bahwa yang terbanyak adalah bakteri Streptococcus viridans 38 galur sebesar 36,89%, diikuti oleh Enterobacter aerogens 19 galur sebesar 18,45%, Pseudomonas aureginosa 16 galur sebesar 15,53%, Klebsiella sp 14 galur sebesar 13,59%, Stapilococcus aureus 13 galur sebesar 12,62%, Pneumococcus 2 galur sebesar 1,94%, dan Sreptococcus pneumonie 1 galur sebesar 0,97%. b. Manusia b.1. Umur Berdasarkan hasil penelitian Daulay (1999) di Medan, anak berusia dibawah 2 tahun mempunyai

risiko mendapat ISPA 1,4 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua. Keadaan ini terjadi karena anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit. Berdasarkan hasil penelitian Maya di RS Haji Medan (2004), didapatkan bahwa proporsi balita penderita pneumonia yang rawat inap dari tahun 1998 sampai tahun 2002 terbesar pada kelompok umur 2 bulan - <5 tahun adalah 91,1%, 22 demikian juga penelitian Maafdi di RS

Advent Medan tahun 2006, didapatkan bahwa proporsi balita penderita pneumonia terbesar pada kelompok umur 2 bulan - <5 tahun sebesar 82,1%, sementara kelompok umur <2 bulan sebesar 17,9%. b.2. Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian Kartasasmita (1993), menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prevalensi, insiden maupun lama ISPA pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Namun menurut beberapa penelitian kejadian ISPA lebih sering didapatkan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan, terutama anak usia muda, dibawah 6 tahun. Menurut Glenzen dan Deeny, anak laki-laki lebih rentan terhadap ISPA yang lebih berat, dibandingkan dengan anak perempuan. Berdasarkan hasil penelitian Dewi, dkk di Kabupaten Klaten (1996), didapatkan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada anak laki-laki sebesar 58,97%, sementara untuk anak perempuan sebesar 41,03% b.3. Status Gizi Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama kematian terutama pada anak dibawah usia 5 tahun. Akan tetapi anak-anak yang meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gizi yang kurang memuaskan. Rendahnya daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh. Hasil penelitian Dewi, dkk (1996) di Kabupaten Klaten, dengan desain cross sectional didapatkan bahwa anak yang berstatus gizi kurang/buruk mempunyai risiko pneumonia 2,5 kali

lebih besar dibandingkan dengan anak yang berstatus gizi baik/normal. Hasil penelitian Mustafa di Kota Banda Aceh (2006), dengan desai cross sectional, berdasarkan hasil analisis bivariat antara penyakit ISPA dengan status gizi anak balita menunjukkan bahwa anak balita yang menderita penyakit ISPA didapatkan 2,19 kali mempunyai status gizi tidak baik dibandingkan dengan anak balita yang tidak menderita penyakit ISPA (p = 0.038). Salah satu penentuan status gizi adalah klasifikasi menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 920/Menkes/SK/VIII/2002 untuk keperluan Pemantauan Status Gizi (PSG) anak balita dengan mengukur berat badan terhadap umur. Status gizi diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: 1. Gizi lebih : bila Z_Skor terletak > +2 SD 30 2. Gizi Baik 3. Gizi kurang 4. Gizi Buruk : bila Z_Skor terletak diantara -2 SD s/d +2 SD : bila Z_Skor terletak pada < -2 SD s/d - 3 SD: bila Z_Skor terletak < -3 SD.

b.4. Berat Badan Lahir Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ditetapkan sebagai suatu berat lahir <2.500 gram. Menurut Tuminah (1999), bayi dengan BBLR mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi dengan berat 2500 gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada bayi baru lahir. Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006), didapatkan bahwa proporsi anak balita yang menderita pneumonia dengan berat badan lahir <2.500 gram sebesar 62,2%. Hasil uji statistik diperoleh bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian pneumonia dengan balita BBLR (p <0,05). Nilai OR 2,2 (CI 95%; 1,481-4,751), artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2,2 kali lebih besar pada anak balita yang BBLR b.5. Status ASI Eksklusif Air Susu Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor antibodi untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama minggu pertama (4-6 hari)

payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus factor dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi. Bayi (0-12 bulan) memerlukan jenis makanan ASI, susu formula, dan makanan padat. Pada enam bulan pertama, bayi lebih baik hanya mendapatkan ASI saja (ASI Eksklusif) tanpa diberikan susu formula. Usia lebih dari enam bulan baru diberikan makanan pendamping ASI atau susu formula, kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika anak tidak bisa mendapatkan ASI, seperti ibu dengan komplikasi postnatal. Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006), didapatkan bahwa proporsi balita yang tidak mendapat ASI eksklusif menderita pneumonia sebesar 56,2%, sedang yang tidak menderita pneumonia 38,8%. Hasil uji statistik diperoleh bahwa anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2 kali lebih besar pada anak balita yang tidak mendapat ASI eksklusif. b.6. Status Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bahwa pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak. Imunisasi bermanfaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit seperti, POLIO (lumpuh layu), TBC (batuk berdarah), difteri, liver (hati), tetanus, pertusis. Bahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit-penyakit tersebut. Jadwal pemberian imunisasi sesuai dengan yang ada dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu BCG : 0-11 bulan, DPT 3x : 2-11 bulan, Polio 4x : 0-11 bulan, Campak 1x : 9-11 bulan, Hepatitis B 3x : 0-11 bulan. Selang waktu pemberian imunisasi yang lebih dari 1x adalah 4 minggu. Berdasarkan hasil penelitian Syahril di Kota Banda Aceh (2006), didapatkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian pneumonia pada balita dengan status imunisasi. Hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 2,5 (CI 95%; 2.929 4.413), artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2,5 kali lebih besar pada anak yang status imunisasinya tidak lengkap.Berbeda dengan hasil penelitian Afrida di Medan (2007), hasil uji chi square

menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status imunisasi bayi dengan kejadian penyakit ISPA (p>0,05). c. Lingkungan c.1. Kelembaban Ruangan Berdasarkan KepMenKes RI No. 829 tahun 1999 tentang kesehatan perumahan menetapkan bahwa kelembaban yang sesuai untuk rumah sehat adalah 40- 70%, optimum 60%. Hasil penelitian Chahaya, dkk di Perumnas Mandala Medan (2004), dengan desain cross sectional didapatkan bahwa kelembaban ruangan berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada balita. Berdasarkan hasil uji regresi, diperoleh bahwa faktor kelembaban ruangan mempunyai exp (B) 28,097, yang artinya kelembaban ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 28 kali. c.2. Suhu Ruangan
o

Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum 18- 30 C. Hal ini berarti,
o o

jika suhu ruangan rumah dibawah 18 C atau diatas 30 C keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISPA pada balita sebesar 4 kali. c.3. Ventilasi Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya O2 di dalam rumah yang berarti kadar CO2 yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai ventilasi minimal 10% dari luas lantai. Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan bahwa prevalens rate ISPA pada bayi yang memiliki ventilasi kamar tidur yang tidak memenuhi syarat kesehatan sebesar 69,9%,

sedangkan untuk yang memenuhi syarat kesehatan sebesar 30,1%. Hasil uji statistik diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara kondisi ventilasi dengan kejadian penyakit ISPA (p <0,05). c.4. Kepadatan Hunian Rumah
2

Kepadatan penghuni dalam rumah dibedakan atas 5 kategori yaitu, 3,9 m /orang, 4-4,9
2 2 2 2

m /orang, 5-6,9 m /orang, 7-8 m /orang, 9 m /orang. Dikatakan padat jika luas lantai rumah
2 2

3,9 m /orang, dan tidak padat jika luas lantai rumah 4 m /orang. Menurut Gani dalam penelitiannya di Sumatera Selatan (2004) menemukan proses kejadian pneumonia pada anak balita lebih besar pada anak yang tinggal di rumah yang padat dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah yang tidak padat. Berdasarkan hasil penelitian Chahaya tahun 2004, kepadatan hunian rumah dapat memberikan risiko terjadinya ISPA sebesar 9 kali. c.5. Penggunaan Anti Nyamuk Penggunaan Anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan. Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara penggunaan anti nyamuk dengan kejadian penyakit ISPA (p <0,05). c.6. Bahan Bakar Untuk Memasak Bahan bakar yang digunakan untuk memasak sehari-hari dapat menyebabkan kualitas udara menjadi rusak. Kualitas udara di 74% wilayah pedesaan di China tidak memenuhi standar nasional pada tahun 2002, hal ini menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit paru dan penyakit paru ini telah menyebabkan 1,3 juta kematian.

Berdasarkan hasil penelitian Afrida (2007), prevalens rate ISPA pada bayi yang dirumahnya menggunakan bahan bakar untuk memasak adalah minyak tanah sebesar 76,6%, sedangkan gas elpiji sebesar 33,3%. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara penggunaan bahan bakar memasak dengan kejadian penyakit ISPA (p < 0,05). c.7. Keberadaan Perokok Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok pasif. Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian Pradono dan Kristanti (2003), secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua umur di Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002 penduduk. Prevalensi perokok pasif pada laki-laki 32,67% atau 31.879.188 penduduk dan pada perempuan 67,33% atau 65.680.814 penduduk. Sedangkan prevalensi perokok aktif pada laki-laki umur 10 tahun ke atas adalah sebesar 54,5%, pada perempuan 1,2%. Prevalensi perokok pasif pada balita sebesar 69,5%, pada kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70,6% dan kelompok umur muda 10-14 tahun sebesar 70,5%. Tingginya prevalensi perokok pasif pada balita dan umur muda disebabkan karena mereka masih tinggal serumah dengan orang tua ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah. Berdasarkan hasil penelitian Syahril (2006), dari hasil uji statistik diperoleh nilai OR = 2,7 (CI 95%; 1.481 4.751) artinya anak balita yang menderita pneumonia risikonya 2,7 kali lebih besar pada anak balita yang terpapar asap rokok dibandingkan dengan yang tidak terpapar. c.8. Status Ekonomi dan Pendidikan Persepsi masyarakat mengenai keadaan sehat dan sakit berbeda dari satu individu dengan individu lainnya. Bagi seseorang yang sakit, persepsi terhadap penyakitnya merupakan hal yang penting dalam menangani penyakit tersebut. Untuk bayi dan anak balita persepsi ibu sangat menentukan tindakan pengobatan yang akan diterima oleh anaknya. Berdasarkan hasil penelitian Djaja, dkk (2001), didapatkan bahwa bila rasio pengeluaran makanan dibagi pengeluaran total perbulan bertambah besar, maka jumlah ibu yang membawa

anaknya berobat ke dukun ketika sakit lebih banyak. Bedasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa ibu dengan status ekonomi tinggi 1,8 kali lebih banyak pergi berobat ke pelayanan kesehatan dibandingkan dengan ibu yang status ekonominya rendah. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi, akan lebih banyak membawa anak berobat ke fasilitas kesehatan, sedangkan ibu dengan pendidikan rendah lebih banyak mengobati sendiri ketika anak sakit ataupun berobat ke dukun. Ibu yang berpendidikan minimal tamat SLTP 2,2 kali lebih banyak membawa anaknya ke pelayanan kesehatan ketika sakit dibandingkan dengan ibu yang tidak bersekolah, hal ini disebabkan karena ibu yang tamat SLTP ke atas lebih mengenal gejala penyakit yang diderita oleh balitanya. 8. Pencegahan Penyakit ISPA Penyelenggaraan Program P2 ISPA dititikberatkan pada penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat terutama kader, dengan dukungan pelayanan kesehatan dan rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait. a. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. Termasuk disini ialah : a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok. b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan (insiden) pneumonia. c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi vitamin A. d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah. e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.

b. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. Upaya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu : a. Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi : a.1. Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin. a.2 Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi ASI secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan. b. Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi : b.1 Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari. b.2 Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari, obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai ulang setiap hari. b.3 Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2 hari. b.4. Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam, nasihati ibu untuk memberikan perawatan di rumah.

b.5. Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik, perawatan suportif, penilaian ulang. c. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian. a. Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloram fenikol selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus. b. Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48 jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi. c. Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tandatanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan membaik. Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat. 9. Penanganan Penyakit ISPA Hampir seluruh kematian karena ISPA pada anak kecil disebabkan oleh ISPbA, paling sering adalah pneumonia. Bayi baru lahir dan bayi berusia satu bulan atau disebut bayi muda yang menderita pneumonia dapat tidak mengalami batuk dan frekuensi pernfasannya secara normal sering melebihi 50 kali permenit. Infeksi bakteri pada kelompok usia ini dapat hanya menampakkan tanda klinis yang spesifik, sehingga sulit untuk membedakan pneumonia dari sepsis dan meningitis. Infeksi ini dapat cepat fatal pada bayi muda yang telah diobati dengan

sebaik-baiknya di rumah sakit dengan antibiotik parenteral. Cara yang paling efektif untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia adalah dengan memperbaiki manajemen kasus dan memastikan adanya penyediaan antibiotik yang tepat secara teratur melalui fasilitas perawatan tingkat pertama dokter praktik umum. Langkah selanjutnya untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia dapat dicapai dengan menyediakan perawatan rujukan untuk anak yang mengalami ISPbA berat memerlukan oksigen, antibiotik lini II, serta keahlian klinis yang lebih hebat. Teori Lawrence Green (1980) Green mencoba menganalisis perilaku manusia berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan seseorang dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes). Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh : d. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. e. Faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan, misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat steril dan sebagainya. f. Faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat

KERANGKA TEORI

predisposing

Sikap Kepercayaan Pengetahuan Keyakinan Nilai-nilai Lingkungan fisik Fasilitas Sarana Keadaan petugas kesehatan

PERILAKU

enabling

reinforcing

KERANGKA KONSEP
Predisposisi:

o Kebiasaan merokok o Kurang istirahat

Meningkatnya kejadian ISPA

Enabling:

o Paparan asap kendaraan bermotor dan debu jalanan o Ventilasi tempat tinggal yang kurang o Tidak tersedianya APD

Reinforcing:

o Tidak ada penyuluhan tentang pentingnya penggunaan APD

DAFTAR PUSTAKA