Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN Dalam beberapa saat terakhir, kita banyak dikejutkan oleh terjadinya bencana massal yang menyebabkan kematian

n banyak orang, seperti tsunami di mentawai, banjir bandang di wasior yang menyebabkan kematian banyak orang, dsb. Selain itu kasus kejahatan yang memakan banyak korban jiwa juga cenderung tidak berkurang dari waktu ke waktu. Pada kasus-kasus semacam ini, tidak jarang kita jumpai banyak korban tidak dikenal dan karenanya perlu diidentifikasi.

Jika diketahui bahwa korban adalah A, maka didapatkan kepastian bahwa si A telah meninggal dan karenanya, maka : Si A dapat diserahkan kepada keluarganya dan dapat dikuburkan dengan baik (aspek budaya). Terjadinya perubahan status pada setiap anggota keluarganya (istri/suami serta anak-anaknya) dengan dampak hukum dan sosialnya (aspek sosial dan hukum). Warisan dapat dibagikan kepada ahli warisnya (aspek hukum). Asuransi, jika ada, dapat diklaim oleh ahli warisnya (aspek hukum dan ekonomi). Ahli warisnya mendapatkan hak atas pensiun (aspek ekonomi). Pada kasus kriminal, identifikasi korban dapat dijadikan sebagai titik awal untuk pengungkapan kasus (aspek hukum).

DEFINISI ODONTOLOGI FORENSIK Menurut Pederson, odontologi forensik adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.

Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sbb :


1.

2.

3.

Gigi dan restorasinya merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrem. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan dimungkinkannya identifikasi dengan ketepatan yang tinggi (1:1050). Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis.

SEJARAH ODONTOLOGI FORENSIK

Sejarah odontologi forensik telah ada sejak jaman prasejarah, akan tetapi baru mulai mendapatkan perhatian pada akhir abad 19 ketika banyak artikel tentang odontologi forensik ditulis dalam jurnal kedokteran gigi pada saat itu. Masa setelah itu adalah kekosongan, sampai sekitar tahun 1960 ketika program instruksional formal kedokteran gigi forensik pertama dibuat oleh Armed Force Institute of Pathology. Sejak saat itu banyak kasus penerapan odontologi forensik dilaporkan dalam literatur sehingga nama odontologi forensik mulai banyak dikenal bukan saja di kalangan dokter gigi, tetapi juga di kalangan penegak hukum dan ahli-ahli forensik.

Catatan tertulis mengenai sejarah odontologi forensik telah ada sejak Sebelum Masehi (SM). Tidak lama setelah perkawinannya dengan Kaisar Roma Claudius, pada tahun 49 SM, Agrippina ( yang kelak akan menjadi ibu Kaisar Nero) mulai membuat rencana untuk mengamankan posisinya. Karena takut janda kaya Lollia Paulina masih merupakan saingannya dalam menarik perhatian Kaisar, maka ia membujuk Kaisar untuk mengusir wanita tersebut dari Roma. Akan tetapi hal itu rupanya masih dianggapnya kurang dan ia menginginkan kematian wanita tersebut. Tanpa setahu Kaisar, ia mengirim seorang serdadu untuk membunuh wanita tersebut. Sebagai bukti telah melaksanakan perintahnya, kepala Lollia dibawa dan ditunjukkan kepada Arippina. Karena kepala tersebut telah rusak parah mukanya, maka Agrippina tidak dapat mengenalinya lagi dari bentuk mukanya. Untuk mengenalinya Agrippina kemudian menyingkap bibir mayat tersebut dan memeriksa giginya yang mempunyai ciri khas, yaitu gigi depan yang berwarna kehitaman. Adanya ciri tersebut pada gigi mayat membuat Agrippina yakin bahwa kepala tersebut adalah benar kepala Lollia.

Pada tahun 1775 Paul Revere, seorang dokter gigi yang juga perajin perak telah membuat kawat perak (wire) dan ivory bridge (hippopotomus tusk) untuk mengganti gigi seri dan premolar pertama atas kiri Dr. Joseph Warren yang tanggal. Di kemudian hari pada masa revolusi, Warren masuk tentara dan telah menjadi Jenderal pada milisia Massachusetts. Dalam peperangan Bunker Hill di Breeds Hill, Warren tertembak dan dikuburkan ditempat tersebut tanpa nisan Pada tahun 1776, sekitar 10 bulan setelah kematian Warren, atas permintaan saudara dan kawankawannya, dokter Revere dipanggil ke Breeds Hill untuk mengidentifikasi mayat yang diduga Warren. Berdasarkan adanya bridge dan wire yang ditemukan pada mayat tersebut yang dikenalinya sebagai buatannya sendiri, Revere menyatakan bahwa mayat tersebut adalah jendral Warren Pelopor Odontologi Forensik.

PERANAN DOKTER GIGI FORENSIK Sebagaimana telah diterangkan diatas, benda bukti gigi sudah sejak lama disadari mempunyai peran yang besar dalam identifikasi personal dan pengungkapan kasus kejahatan. Bagi para aparat penegak hukum dan pengadilan, pembuktian melalui gigi merupakan metode yang valid dan terpercaya (reliable), sebanding dengan nilai pembuktian sidik jari dan penentuan golongan darah.

Seorang dokter gigi forensik harus memiliki beberapa kualifikasi sbb :


1.

2.

Kualifikasi terpenting yang harus dimiliki oleh seorang dokter gigi forensik adalah latar belakang kedokteran gigi umum yang luas, meliputi semua spesialisasi kedokteran gigi. Sebagai seorang dokter gigi umum, kadang-kadang ia perlu memanggil dokter gigi spesialis untuk membantunya memecahkan kasus. Pengetahuan tentang bidang forensik terkait. Seorang dokter gigi forensik harus mengerti sedikit banyak tentang kualifikasi dan bidang keahlian forensik lainnya yang berkaitan dengan tugasnya, seperti penguasaan akan konsep peran dokter spesialis forensik, cara otopsi, dsb.

3. Pengetahuan tentang hukum.Seorang dokter gigi forensik harus memiliki pengetahuan tentang aspek legal dari odontologi forensik, karena ia akan banyak berhubungan dengan para petugas penegak hukum, dokter forensik dan juga pengadilan. Dalam hal kasus kriminal ia juga harus paham mengenai tata cara penanganan benda bukti yang merupakan hal yang amat menentukan untuk dapat diterima atau tidaknya suatu bukti di pengadilan

RUANG LINGKUP ODONTOLOGI FORENSIK Secara garis besar odontologi forensik membahas beberapa topik sbb: 1. Identifikasi benda bukti manusia. 2. Penentuan umur dari gigi. 3. Penentuan jenis kelamin dari gigi. 4. Penentuan ras dari gigi. 5. Penentuan etnik dari gigi. 6. Analisis jejas gigit (bite marks). 7. Peran dokter gigi forensik dalam kecelanaan massal. 8. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.

ODONTOLOGI FORENSIK DI INDONESIA Di Indonesia dapat dikatakan saat ini belum ada pakar odontologi forensik yang sesungguhnya, dalam arti yang memang mendapatkan pendidikan khusus tentang itu. Hal ini disebaban karena bidang ini masih kurang peminatnya dan untuk memperdalamnya diperlukan pendidikan khusus di luar negeri. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti tidak ada dokter gigi yang berperan sebagai dokter gigi forensik dan membantu pengungkapan identitas korban.

Berbeda dengan penerapan odontologi forensik di luar negeri, peranan pemeriksaan gigi di Indonesia memiliki banyak keterbatasan. Hal yang menjadi masalah utama adalah masih kurang membudayanya perilaku berobat ke dokter gigi sehingga hanya sedikit masyarakat yang pernah ke dokter gigi. Dari antara yang berobat ke dokter gigipun, hanya sedikit saja yang mempunyai rekam medis yang baik dan lengkap. Hal ini menyebabkan identifikasi personal berdasarkan ciri khas susunan gigi, adanya restorasi gigi dsb sulit dilakukan karena ketiadaan data antemortem. Dengan demikian, sebagai pemecahannya, terhadap material gigi dilakukan pemeriksaan untuk mendapatkan data lain, antara lain ras, jenis kelamin, umur, golongan darah, profil DNA dsb.

Thanks for the attention