Anda di halaman 1dari 51
PENGARUH PROFESIONALISME AUDITOR, TINGKAT MATERIALITAS DAN INDEPENDENSI TERHADAP PEMBERIAN OPINI AUDIT DI YOGYAKARTA BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan- pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil- hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan (Mulyadi, 2002). Tujuan akhir dari proses auditing ini adalah menghasilkan laporan audit. Laporan audit inilah yang digunakan oleh auditor untuk menyampaikan pernyataan atau pendapatnya kepada para pemakai laporan keuangan, sehingga bisa dijadikan acuan bagi pemakai laporan keuangan. Audit atas laporan keuangan merupakan jasa yang dilakukan oleh auditor (Kushasyandita, 2012). Auditor adalah seseorang yang menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia (Arens, 1995). Auditor harus dapat melaksanakan tugas pemeriksaan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan pedoman yang telah ditetapkan dalam Standar Profesional Akuntan Publik sehingga dapat menghasilkan opini auditor yang tepat dan dapat dipercaya oleh para pemakai (Permatasari, 2010). Opini audit merupakan final report atas audit yang dilakukan dan merupakan kemampuan profesional dan keberanian diri auditor untuk mengumpulkan secara benar. Dengan pemberian opini oleh auditor sesuai kode etik yang berlaku, tentu ini akan membawa citra positif bagi masyarakat dan dunia usaha (Permatasari, 2011). Auditor sebagai profesi yang dituntut atas opini atas laporan keuangan perlu menjaga sikap profesionalnya. Masyarakat sangat menghargai profesi yang menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan anggota profesi, karena dengan demikian masyarakat akan merasa terjamin untuk memperoleh jasa yang dapat diandalkan dari profesi yang bersangkutan. Dalam Standar Profesi Akuntan Publik SA Seksi 200 PSA No. 04 (2001) menyatakan bahwa “Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapat, auditor harus senantiasa bertindak sebagai seorang profesional dalam bidang akuntansi dan bidang auditing. Profesionalisme telah menjadi isu yang kritis untuk profesi akuntan karena dapat menggambarkan kinerja akuntan tersebut. Gambaran terhadap profesionalisme dalam profesi akuntan publik seperti yang dikemukakan oleh Hastuti et al. (2003) dicerminkan melalui lima dimensi, yaitu pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan terhadap profesi dan hubungan dengan rekan seprofesi. Auditor harus memiliki sikap profesionalisme dan juga harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam profesinya untuk mendukung pekerjaannya dalam melakukan setiap pemeriksaan. Setiap akuntan publik juga diharapkan memegang teguh etika profesi yang sudah ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Selain menyangkut masalah professional tersebut, para pengguna jasa KAP sangat mengharapkan agar para auditor dapat memberikan opini yang tepat, namun dalam praktiknya masih kerap sekali terjadi pemberian opini akuntan yang tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dalam SPAP. Sehingga patut diduga ketidaksesuaian ini antara lain oleh belum optimalnya tingkat keprofesionalan auditor dalam mengumpulkan bukti audit dan banyakanya materialitas yang terdapat dalam laporan keuangan klien tersebut, yang pada gilirannya berdampak pada ketidaktepatan pemberian opini akuntan (Ida Suraida, 2005). Pertimbangan materialitas merupakan pertimbangan profesional yang dipengaruhi persepsi auditor atas kebutuhan orang yang memiliki pengetahuan memadai dan yang meletakkan kepercayaan pada laporan keuangan (SPAP 2001, SA Seksi 312 : para 10). Menurut Knapp (1985) dalam Mayangsari (2003) kemampuan auditor untuk tetap independen akan mempengaruhi pemberian pendapat audit, meskipun ada tekanan dan intervensi dari pihak manajemen. Faktor independensi ini merupakan salah satu faktor yang sangat sensitif terhadap profesi akuntan publik, karena banyak kasus manipulasi bisnis yang melibatkan profesi akuntan publik. Hal tersebut membuat kepercayaan publik terhadap profesi akuntan publik menjadi luntur. Dapat disimpulkan bahwa keahlian dan independensi yang dimiliki auditor sangat mempengaruhi kinerja auditor dalam memberikan pendapat audit. Berdasarkan penelitian sebelumnya (Permatasari, 2010) yang menghasilkan kesimpulan, bahwa profesionalisme auditor dan tingkat materialitas berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap ketepatan pemberian opini, peneliti tertarik untuk membuktikan apakah ketepatan pemberian opini oleh auditor akan berubah jika peneliti menambahkan variabel independensi sebagai variable independen baru diluar variabel yang telah diteliti sebelumnya. Alasan peneliti menambahkan variabel baru diluar variabel yang telah diteliti adalah karena peneliti akan melakukan generalisasi dari penelitian sebelumnya. Berdasarkan uraian diatas mengenai faktor apa saja yang bisa mempengaruhi ketepatan pemberian opini auditor, peneliti merumuskan judul penelitian sebagai berikut: “Pengaruh Profesionalisme Auditor, Tingkat Materialitas dan Independensi terhadap Ketepatan Pemberian Opini Audit di Yogyakarta”. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan, kami mengidentifikasi masalah sebagai berikut : 1. Apakah profesionalisme auditor berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Kota Yogyakarta? 2. Apakah tingkat materialitas berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Kota Yogyakarta? 3. Apakah tingkat independensi berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Kota Yogyakarta? 4. Apakah profesionalisme auditor, tingkat materialitas, dan tingkat independensi berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini secara simultan pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Kota Yogyakarta? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan generalisasi berdasarkan penelitian sebelumnya dengan menambahkan variable independen baru diluar variable yang telah diteliti sebelumnya. 1.4 Manfaat Penelitian Kontribusi teori : Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan, sebagai referensi tambahan, dan diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan teori yang berkaitan dengan profesionalisme auditor, tingkat materialitas, dan tingkat independensi terhadap ketepatan pemberian opini. BAB II DASAR TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Auditing 2.1.1 Pengertian Auditing Auditing berasal dari bahasa latin, yaitu “audrie” yang berarti mendengar atau memperhatikan. Menurut Mulyadi (1990), auditing merupakan suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif mengenai pernyataan – pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil – hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan. Adapun definisi lain auditing yaitu 2.1.2 Jenis – jenis Auditing Auditing umumnya digolongkan menjadi tiga golongan (Arna, 2009) 1. Audit laporan keuangan Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam audit laporan keuangan ini, auditor independen menilai kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi berterima umum. Hasil auditing terhadap laporan keuangan tersebut disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan audit, laporan audit ini dibagikan kepada para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, kreditur, dan kantor pelayanan pajak. 2. Audit Kepatuhan Kepatuhan adalah asudit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat kriteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan. 3. Audit Operasional Operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk :mengevaluasi kinerja, mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan, membuat rekomendasi untuk perbaikan. Pihak yang memerlukan audit operasional adalah manajemen atau pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut. 2.2 Auditor 2.2.1 Pengertian Auditor Auditor adalah seseorang yang menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia (Arens, 1995). Ditinjaui dari sudut profesi akuntan public, auditor adalah pemeriksaan (examination) secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut (Mulyadi, 2002). 2.2.2 Jenis – jenis Auditor Pada umumnya auditor dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : 1. Auditor Independen (Akuntan Publik) Auditor professional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya dan akuntan public bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan. 2. Auditor Pemerintah Auditor professional yang bekerja di instansi pemerintah yang tugas pokoknya melakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit – unit organisasi atau entitas pemerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pemerintah. 3. Auditor Intern Auditor yang bekerja dalam perusahaan (negara maupun swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadapp kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi. 2.3 Opini Audit 2.3.1 Pengertian Opini Audit Opini audit merupakan opini yang diberikan oleh auditor tentang kewajaran penyajian laporan keuangan perusahaan tempat auditor melakukan audit. Ikatan Akuntan Indonesia (2001) menyatakan bahwa laporan audit harus memuar suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam semua hal jika nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan audit harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor, jika ada, dan tingkat tanggung jawab auditor bersangkutan. Auditor menyatakan pendapatnya mengenai kewajaran laporan keuangan auditan, dalam semua hal yang material yang didasarkan atas kesesuaian penyusunan laporan keuangan tersebut dengan prinsip akuntansi berterima umum (Mulyadi, 2002). Jika auditor tidak dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup atau jika hasil pengujian auditor menunjukkan bahwa laporan keuangan yang diauditnya disajikan tidak wajar, maka auditor perlu menerbitkan laporan audit selain laporan yang berisi pendapat wajar tanpa pengecualian. 2.3.2 Jenis Opini Audit Auditor sebagai pihak yang independen di dalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, akan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diauditnya. Ada lima kemungkinan pernyataan pendapat auditor independen (Mulyadi, 2002 : 19) yaitu : a. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion) Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia jika memenuhi kondisi berikut ini : 1. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia digunakan untuk menyusun laporan keuangan. 2. Perubahan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dari periode ke periode telah cukup dijelaskan. 3. Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. b. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified Opinion Report With Explanatory Language) Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menambahkan laporan hasil auditnya dengan bahasa penjelas. Berbagai penyebab paling penting adanya tambahan bahasa penjelas (Arens, 1995 :50) : 1. Adanya ketidakpastian yang material. 2. Adanya keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan. 3. Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. c. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion) Pendapat wajar dengan pengecualian akan diberikan oleh auditor jika dijumpai hal-hal sebagai berikut : 1. Lingkup audit dibatasi oleh klien. 2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor. 3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 4. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten. d. Pendapat tidak wajar (Adverse Opinion) Auditor akan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien. Selain auditor memberikan pendapat tidak wajar jika ia tidak dibatasi lingkup auditnya, sehingga auditor dapat mengumpulkan bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi untuk pengambilan keputusan. e. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Disclaimer Opinion) Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, maka laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah : 1. Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit. 2. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit. 2.4 Profesionalisme Auditor 2.4.1 Pengertian Profesionalisme Menurut pengertian umum, seseorang dikatakan profesional jika memenuhi tiga kriteria, yaitu mempunyai keahlian untuk melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya, melaksanakan suatu tugas atau profesi dengan menetapkan standard baku dibidang profesi yang bersangkutan dan menjalankan tugas profesinya dengan mematuhi Etika Profesi yang telah ditetapkan. Profesi dan profesionalisme dapat dibedakan secara konseptual. Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme adalah suatu atribut individul yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak (Lekatompessy, 2003 dalam Herawati dan Susanto, 2009:3). Profesi adalah pekerjaan dimana dari pekerjaan tersebut diperoleh nafkah untuk hidup, sedangkan profesionalisme dapat diartikan bersifat profesi atau memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan (Badudu dan Sutan, 2002:848). Secara sederhana, profesionalisme berarti bahwa auditor wajib melaksanakan tugas-tugasnya dengan kesungguhan dan kecermatan. Sebagai seorang yang professional, auditor harus menghindari kelalaian dan ketidakjujuran. Arens et al. (2003). Sebagai profesional, auditor mengakui tanggung jawabnya terhadap masyarakat, terhadap klien, dan terhadap rekan seprofesi, termasuk untuk berperilaku yang terhormat, sekalipun ini merupakan pengorbanan pribadi. Seorang auditor dapat dikatakan profesional apabila telah memenuhi dan mematuhi standar-standar kode etik yang telah ditetapkan oleh IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), antara lain (Wahyudi dan Aida, 2006:28). 2.4.2 Konsep Profesionalisme Perilaku profesionalisme merupakan cerminan dari sikap profesionalisme, demikian pula sebaliknya sikap profesional tercermin dari perilaku yang profesional. Hall R (Syahrir, 2002:23) mengembangkan konsep profesionalisme dari level individual yang digunakan untuk profesionalisme eksternal auditor, meliputi lima dimensi : 1. Pengabdian pada profesi (dedication), yang tercermin dalam dedikasi profesional melalui penggunaan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Sikap ini adalah ekspresi dari penyerahan diri secara total terhadap pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan hidup dan bukan sekadar sebagai alat untuk mencapai tujuan. Penyerahan diri secara total merupakan komitmen pribadi, dan sebagai kompensasi utama yang diharapkan adalah kepuasan rohaniah dan kemudian kepuasan material. 2. Kewajiban sosial (Sosial obligation), yaitu pandangan tentang pentingnya peran profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat ataupun oleh professional karena adanya pekerjaan tersebut. 3. Kemandirian (autonomy demands), yaitu suatu pandangan bahwa seorang professional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak yang lain. 4. Keyakinan terhadap peraturan profesi (belief in self-regulation), yaitu suatu keyakinan bahwa yang berwenang untuk menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesame profesi, dan bukan pihak luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. 5. Hubungan dengan sesama profesi (Professional community affiliation), berarti menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk organisasi formal dan kelompok-kelompok kolega informal sebagai sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesinya. Penelitian dengan menggunakan dimensi profesionalisme seperti tersebut diatas belum diteliti secara lebih luas, tetapi beberapa penelitian empiris mendukung bahwa profesionalisme adalah bersifat multidemensi walaupun tidak selalu identik bila diterapkan pada anggota kelompok yang berbeda. Belum diperoleh pengertian yang memadai mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada seorang auditor professional pada saat mereka menggunakan pertimbangan mereka dalam membuat keputusan yang penting, ditengah tengah tekanan, hambatan , dan kesempatan dalam lingkungan kehidupan mereka sehari-hari. 2.5 Materialitas 2.5.2 Pengertian Materialitas Pengertian materialitas dapat berarti signifikan atau esensial. Dalam pengertian akuntansi, materialitas tidak dapat diartikan begitu saja. Banyak definisi yang telah dikembangkan oleh para ahli atau badan yang berwenang untuk memberikan pengertian yang tepat mengenai materialitas. Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) SA Seksi 312 materialitas merupakan besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaaan yang melingkupinya, dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut. Dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan (KDPPLK) paragraf 30 materialitas dianggap sebagai ambang batas atau titik pemisah daripada suatu karakteristik kualitatif pokok yang dimiliki informasi agar dianggap berguna. Informasi dianggap material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil oleh pemakai laporan keuangan. FASB (The Financial Accounting Standard Board) menjelaskan konsep materialitas sebagai penghilangan atau salah saji suatu item dalam laporan keuangan adalah material jika, dalam keadaan yang tertentu, besarnya item tersebut mungkin menyebabkan pertimbangan orang yang reasonable berdasarkan laporan keuangan tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh adanya pencantuman atau peniadaan informasi akuntansi tersebut. 2.6 Independensi 2.6.1 Pengertian Independensi Menurut Standar Profesi Akuntan Publik 2001 seksi 220 PSA No.04 Alinea 2, independensi itu berarti tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru paling penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya. Menurut Kasidi (2007) sikap tidak memihak ini dapat dibentuk dalam dua sudut pandang yaitu : 1. Independensi dalam sikap mental (Independence in fact) yang berarti akuntan dapat menjaga sikap yang tidak memihak dalam melaksanakan pemeriksaan. 2. Independensi dalam penampilan (Independence in appearance) yang berarti akuntan bersikap tidak memihak menurut persepsi pemakai laporan keuangan. 2.7 Penelitian Terdahulu No . Peneliti/ Tahun Judul Penelitian Variabel Hasil 1 Permatasar i/ 2010 PENGARUH PROFESIONALISM E AUDITOR DAN TINGKAT MATERIALITAS TRHADAP KETEPATAN PEMBERIAN OPINI Profesionalis me Auditor ( X 1 ), Tingkat Materialitas (X 2 ), Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik (Y) 1. Terdapat pengaruh signifikan antara variabel Profesionalisme Auditor (X 1 ) dan Tingkat Materialitas (X 2 ) terhadap variabel Ketepat an Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik(Y) secara simultan. 2. Terdapat pengaruh positif (+) signifikan antara variabel Profesionalisme Auditor (X 1 ) terhadap variabelKetepat an Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik (Y) secara parsial. 3. Terdapat pengaruh negatif (-) signifikan antara variabel Tingkat Materialitas (X 2 ) terhadap variabel Ketepatan Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik (Y). 2 Ariyanto / 2007 PENGARUH PEMERIKSAAN INTERIM, LINGKUP AUDIT, DAN INDEPENDENSI TERHADAP PERTIMBANGAN OPINI AUDITOR Pemeriksaan Interen (X 1 ), Lingkup audit (X 2 ) ,Independensi (X 3 )dan Pertimbangan Pemberian Opini (Y) variabel pemeriksaan interim, lingkup audit dan independensi baik secara simultan maupun parsial berpengaruh terhadap pertimbangan pemberian opini auditor pada BPK RI Perwakilan (STUDI KASUS PADA BPK RI PERWAKILAN PROVINSI BALI) Provinsi Bali. 3 Suraida / 2005 PENGARUH ETIKA, KOMPETENSI, PENGALAMAN AUDIT DAN RISIKO AUDIT TERHADAP SKEPTISISME PROFESIONAL AUDITOR DAN KETEPATAN PEMBERIAN OPINI AKUNTAN PUBLIK 1. Variabel Etika (ξ1) 2. Variabel Kompetensi (ξ2) 3. Variabel Pengalaman Audit (ξ3) 4. Variabel Tingkat Risiko Audit yang direncanakan (ξ4) 5. Variabel Skeptisisme Profesional 1. Etika, kompetensi, pengalaman audit dan risiko audit berpengaruh terhadap skeptisisme profesional auditor baik secara parsial maupun secara simultan. Secara parsial pengaruh etika, kompetensi, pengalaman audit dan risiko audit terhadap skeptisisme profesional auditor. 2. Etika, kompetensi, pengalaman audit, risiko audit dan skeptisisme Auditor (η1) 6. Variabel Ketepatan pemberian opini akuntan publik(η2) profesional auditor berpengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik baik secara parsial maupun secara simultan. 4 Dian / 2012 PENGARUH PROFESIONALISM E, INDEPENDENSI, KOMPETENSI, ETIKA PROFESI, DAN PENGETAHUAN AUDITOR DALAM MENDETEKSI KEKELIRUAN TERHADAP KETEPATAN PEMBERIAN OPINI OLEH Profesionalis me (X1), Independensi (X2), Kompetensi (X3), Etika profesi (X4), Pengetahuan Auditor (X5) , Ketepatan pemberian opini (Y) Hasil uji regresi ditemukan bahwa profesionalisme, independensi, kompetensi, pengetahuan auditor dalam mendeteksi kekeliruan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit oleh auditor. Sedangkan etika profesi memiliki pengaruh AUDITOR negatif signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit oleh auditor. Kompetensi merupakan variabel independen yang paling dominan terhadap ketepatan pemberian opini audit oleh auditor. 5 Aulia / 2012 PENGARUH INDEPENDENSI DAN PENGALAMAN KERJA AUDITOR TERHADAP PEMBERIAN OPINI AUDIT DENGAN AUDIT FEE SEBAGAI VARIABEL Independesi (X1), pengalaman kerja (X2), audit fee (Z),pemberian opini (Y) Independensi dan Pengalaman kerja masing-masing berpengaruh secara signifikan terhadap pemberian opini audit dan audit fee merupakan variabel moderating yang melemahkan pada variabel independensi, sedangkan untuk MODERATING ; STUDI EMPIRIS PADA KANTOR AKUNTAN PUBLIK DI WILAYAH JAKARTA variabel Pengalamn kerja audit fee bukan merupakan variabel moderating. 6 Kusuma / 2012 PENGARUH PROFESIONALISM E AUDITOR, ETIKA PROFESI DAN PENGALAMAN AUDITOR TERHADAP PERTIMBANGAN TINGKAT MATERIALITAS Profesionalis me (X1), Etika profesi (X2), Pengalaman auditor (X3), Tingkat Materialitas (Y) Profesionalisme Auditor, Etika Profesi dan Pengalaman secara bersama sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas. 2.8 Pengembangan Hipotesis Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah : H1 : Profesionalisme auditor memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. H2 : Tingkat materialitas memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. H3 : Independensi memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. H4 : Profesionalisme auditor, tingkat materialitas, dan independensi memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. Keempat hipotesis di atas didasarkan pada perkiraan sementara peneliti yang menyatakan bahwa profesionalisme auditor, tingkat materialitas dan independensi memiliki pengaruh terhadap ketepatan pemberian opini. 2.8.1 Profesionalisme Auditor Profesi auditor diharapkan oleh banyak orang untuk dapat meletakkan kepercayaan pada pemeriksaan dan pendapat yang diberikan sehingga profesionalisme menjadi tuntutan utama seseorang yang bekerja sebagai auditor eksternal. Penelitian sebelumnya oleh Permatasari (2012), Dian (2012), serta Kusuma (2012) menyatakan bahwa profesionalisme auditor berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini. H1 : Profesionalisme auditor memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. 2.8.2 Tingkat Materialitas Auditor yang mempunyai pengalaman yang berbeda, akan berbeda pula dalam memandang dan menanggapi informasi yang diperoleh selama melakukan pemeriksaan dan juga dalam memberi kesimpulan audit terhadap obyek yang diperiksa berupa pemberian pendapat. Pada saat auditor mempertimbangkan keputusan mengenai pendapat apa yang akan dinyatakan dalam laporan audit, material atau tidaknya informasi, mempengaruhi jenis pendapat yang akan diberikan oleh auditor. Informasi yang tidak material atau tidak penting biasanya diabaikan oleh auditor dan dianggap tidak pernah ada. Tetapi jika informasi tersebut melampaui batas materialitas (materiality), pendapat auditor akan terpengaruh. Pertimbangan auditor tentang materialitas adalah suatu masalah kebijakan profesional dan dipengaruhi oleh persepsi auditor tentang kebutuhan yang beralasan dari laporan keuangan (Kusuma, 2012). Pernyataan diatas didukung oleh penelitian yang dilakukan Permatasari (2010) yang menyatakan bahwa tingkat materialitas berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut : H2 : Tingkat materialitas memiliki pengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini. 2.8.3 Independensi Menurut Taylor 1997 dalam Susiana & Arleen(2007) ada dua aspek independensi yaitu independensi sikap mental dan independensi penampilan, penelitian ini menguji pengaruh dari independensi terhadap integritas laporan keuangan yang dinyatakan melalui berapa besar fee audit yang dibayarkan klien kepada auditor, jika KAP menerima fee audit yang tinggi maka KAP akan menghadapi tekanan ekonomis untuk memberikan opini bersih. Penelitian diatas mencerminkan bahwa independensi berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini, pernyataan ini didukung juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Ariyanto (2007), Dian (2012) serta Aulia (2012) yang menyatakan bahwa independensi berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut : H3 : Independensi memiliki pengaruh terhadap ketepatan pemberian opini. 2.8.4 Profesionalisme Auditor, Tingkat Materialitas, dan Independensi Profesionalisme Auditor paling berpengaruh terhadap Ketepatan Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik. Hal ini dikarenakan variabel Profesionalisme Auditor dinilai dengan menggunakan kode etik yang telah disusun oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), dimana menurut Sukrisno Agoes (2004: 43) kode etik adalah pedoman bagi para anggota Ikatan Akuntan Indonesia untuk bertugas secara bertanggung jawab dan objektif. Auditor yang manjalankan etika profesi dengan baik adalah yang mampu memahami dan mengamalkan kode etik profesi akuntan publik yang berupa prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan oleh setiap individu dalam Kantor Akuntan Publik (KAP), yang memberikan jasa professional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam standar profesi dan kode etik profesi. Berdasarkan penelitian Permatasari (2010) hasil dari pengujian hipotesis yang diajukan yakni terdapat pengaruh Profesionalisme Auditor dan Tingkat Materialitas terhadap Ketepatan Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik secara simultan maupun parsial hasilnya adalah signifikan. Artinya perubahan yang terjadi pada pengaruh Profesionalisme Auditor dan Tingkat Materialitas akan mempengaruhi Ketepatan Pemberian Opini. Walaupun variabel Tingkat Materialitas lebih kecil nilainya dibandingkan variabel Profesionalisme Auditor, bukan berarti variabel Tingkat Materialitas tidak memberi pengaruh terhadap Ketepatan Pemberian Opini. Bahwa dalam menentukan Ketepatan Pemberian Jenis Opini Akuntan Publik hingga menerbitkan suatu pernyataan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan, auditor haruslah selalu menggunakan keahliannya. Hal ini sesuai dengan Alvin A. Arens, Elder, dan Mark S. Beasley (2003:81), mengemukakan bahwa dalam konsepnya, tingkat materialitas berpengaruh langsung terhadap ketepatan opini yang diterbitkan. Seorang auditor selain memiliki keahlian teknis yang sempurna, apabila tidak disertai dengan sikap independen, maka auditor tersebut akan kehilangan sikap tidak memihak yang justru sangat penting dalam mempertahankan pendapatnya. Independensi adalah salah satu faktor yang menentukan kredibilitas pendapat auditor. Dua kata kunci dalam pengertian independensi adalah : (1) objektivitas, yaitu suatu kondisi yang tidak bias, adil, dan tidak memihak, dan (2) integritas, yaitu prinsip moral yang tidak memihak, jujur, memandang dan mengemukakan fakta apa adanya (Iz Irene, 2004:35). Independensi auditor dibedakan menjadi dua, yaitu independen dalam kenyataan (independence in fact) dan independen dalam penampilan (independence in appearance). Independen dalam kenyataan merupakan suatu kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan berbagai fakta yang dijumpai dalam pemeriksaannya (Mulyadi, 2002:62). Independen dalam penampilan merupakan keyakinan dari pemakai laporan keuangan atau masyaraka bahwa independen dalam kenyataan telah dicapai (Sanyoto G, 2002:60). Independensi yang merupakan variabel independen baru diluar variable independen yang telah diteliti sebelumnya juga memiliki pengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini. Pernyataan diatas didukung oleh penelitian yang dilakukan Dian (2012) juga Aulia (2012) yang menyatakan bahwa Independensi berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini. Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut : H4 : Profesionalisme auditor, tingkat materialitas dan indenpendensi secara simultan berpengaruh terhadap ketepatan pemberian opini. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Obyek, Populasi, dan Sampel a. Obyek Obyek merupakan suatu entitas yang akan diteliti (Jogiyanto, 2010). Obyek dari penelitian ini adalah KAP di Yogyakarta, dimana Yogyakarta memiliki 12 KAP. penulis ingin ketahui apakah auditor di KAP Yogyakarta memberikan opini dengan tepat. b. Populasi penelitian Populasi adalah seluruh item yang ada ( Jogiyanto, 2005). Dengan mengacu pada definisi tersebut, maka yang menjadi populasi didalam penelitian ini adalah seluruh auditor atau akuntan publik pada KAP di Yogyakarta. c. Sampel penelitian Sampel adalah pemilihan sejumlah item tertentu dari seluruh item yang ada dengan tujuan mempelajari sebagian item tersebut untuk mewakili seluruh itemnya (Jogiyanto, 2005). Sampel yang dipilih dari populasi dianggap mewakili keberadaan populasi. Adapun teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik Purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu. Dalam penelitian ini, kriteria penentuan sampel meliputi akuntan publik dengan jabatan rekan/partner di 12 KAP di Yogyakarta yang memiliki rata – rata pengalaman bekerja selama lebih dari 10 tahun. 3.2 Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan dua jenis variabel, yaitu variabel dependen dan variabel independen. Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel independen (bebas). Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel lain . Dalam penelitian ini, peneliti menguji variabel independen, yaitu profesionalisme auditor, tingkat materialitas, dan independensi terhadap variabel dependen yaitu ketepatan pemberian opini audit. 3.3 Operasionalisasi Variabel No Variabel Konsep Dimensi Elemen 1 Profesionalisme auditor (X1) Seperangkat prinsip – prinsip moral yang mengatur tentang perilaku professional (Agoes, 2004) 1.Pengabdian terhadap profesi 2.Kewajiban social 3.Kemandirian 4.Keyakinan terhadap profesi 5.Hubungan dengan sesama profesi Interval dalam wujud skala likert. 2 Tingkat materialitas (X2) Besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi dilihat dari 1.Seberapa penting tingkat materialitas 2.Pengetahuan tentang tingkat materialitas 3.Risiko audit Interval dalam wujud skala likert. keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu (Mulyadi, 2002). 4.Materialitas menentukan kewajaran laporan keuangan 5.Penentuan tingkat materialitas 6.Ketepatan tingkat materialitas 3 Independensi (X3) Menurut SPAP 2001 seksi 220, independensi itu berarti tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum. 1.Besarnya fee audit 2.Pengungkapan kecurangan klien 3.Pemberian fasilitas dari klien 4.Penggantian auditor oleh klien 5.Lama mengaudit klien 6.Hubungan baik dengan klien Interval dalam wujud skala likert. 4 Ketepatan pemberian opini (Y) Laporan audit yang menjelaskan ruang lingkup dan temuan audit yang diekspresikan dalam bentuk opini mengenai kewajaran laporan keuangan (Agoes, 2004). 1.Pengalaman 2.Skeptisme audit Interval dalam wujud skala likert. 3.4 Model Penelitian Variabel independen (X1 – X3) Keterangan : X = Independen Y = Dependen Profesionalisme auditPpPor (X1) Tingkat materialitas (X2) Independensi (X3) Ketepatan Pemberian Opini (Y) Profesionalisme Auditor (X1) Tingkat Materialitas (X2) Independensi (X3) 3.5 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh dari responden secara langsung. 3.6 Teknik Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan teknik kuesioner. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya ( Sugiyono, 2008 ). Adapun teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kuesioner secara personal dimana kuesioner disampaikan dan dikumpulkan langsung oleh peneliti dari auditor KAP di kota Yogyakarta. | | ¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ¿ ÷ ÷ ÷ = 2 2 2 2 ) ( ) ( ) ( ) ( ) )( ( ) ( Y Y n X X n Y X XY n r xy BAB IV ANALISA DATA 4.1 Uji Pendahuluan 4.1.1 Uji Alat 1. Uji Validitas Jogiyanto (2010), mengemukakan bahwa validitas menunjukkan seberapa nyata suatu pengujian mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur untuk melakukan tugasnya mencapai sasaranya. Pengukuran dikatakan valid jika mengukur tujuannya dengan nyata atau benar. Pada penerapannya uji validitas dalam penelitian ini menggunakan validitas isi ( content validity). Keterangan : r = koefisien korelasi XY = jumlah perkalian item dengan total item X = tingkat skor indikator yang diuji / nilai dari setiap pertanyaan Y = total skor indikator n = jumlah sampel Kriteria: Nilai r kemudian dihubungkan dengan r tabel (r kritis ). Bila r hitung dari rumus di atas lebih besar dari r tabel maka butir tersebut valid, dan sebaliknya. 2. Uji Reliabilitas Reliabilitas menunjukkan akurasi dan ketepatan dari pengukurannya. Reliabilitas berhubungan dengan akurasi dari pengukurannya. Suatu pengukur dikatakan reliable (dapat diandalkan) jika dapat dipercaya. Supaya dapat dipercaya, maka hasil dari pengukurannya harus akurat dan konsisten, dikatakan konsisten jika beberapa pengukuran terhadap subyek yang sama diperoleh hasil yang tidak berbeda (Jogiyanto, 2010). Pada penelitian ini ). Reliabilitas instrumen penelitian ini diuji dengan Cronbach’s coefficient alpha. ( ( ¸ ( ¸ ÷ ( ¸ ( ¸ ÷ = ¿ 2 2 11 1 1 t b V k k r o Dimana: r 11 = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal ¿ 2 b o = jumlah varian butir/item 2 t V = varian total Kriteria suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel dengan menggunakan teknik ini, bila koefisien reliabilitas (r 11 ) > 0,6. 4.1.2 Uji Asumsi 1. Uji Normalitas Pengujian normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov (Jogiyanto,2010). Rumus uji Kolmogorov-Smirnov : D n = sup x | F n (x) – F (x) | Keterangan : Sup x = supremum dari himpunan jarak Menurut Ghozali (2005), distribusi data dapat dilihat dengan membandingkan Z-hitung dengan tabel Z-tabel dengan criteria sebagai berikut : - Jika nilai probabilitas (Kolmogorov Smirnov) < taraf signifikansi 5% (0,05) maka distribusi data dikatakan tidak normal. - Jika nilai probabilitas (Kolmogorov Smirnov) > taraf signifikansi 5% (0,05), maka distribusi data dikatakan normal. 2. Uji Multikolineritas Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Multikolinearitas adalah situasi adanya korelasi variabel –variabel bebas antara satu dengan lainnya. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Santoso (2000). Kriteria: Jika VIF lebih besar dari 5, maka antar variabel bebas (independent variable) terjadi persoalan multikolinearitas Ghozali, (2005). 3. Uji Heteroskedastisitas Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastistas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengujian dilakukan dengan uji Glejser. Dimana: Xi : variabel independen yang diperkirakan mempunyai hubungan erat dengan variance (δi²) Vi : unsur kesalahan VIF = 1 / Tolerance [ ei ] = B1Xi +vi Kriteria: Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka ada indikasi terjadi heteroskedastisistas dengan probabilitas signifikansinya dibawah tingkat kepercayaan 5% (Ghozali, 2005). 4. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi yang digunakan terjadi korelasi antar kesalahan pengganggu. Uji autokorelasi pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW-test). Gejala tidak terjadinya korelasi antar kesalahan pengganggu pada model regresi yang digunakan jika nilai Durbin-Watson terletak antara batas atas atau upper bound (du) dan (4-du). Ghozali (2005) Dimana: d = nilai Durbin Watson Σe i = jumlah kuadrat sisa Nilai Durbin Watson kemudian dibandingkan dengan nilai d- tabel . Hasil perbandingan akan menghasilkan kesimpulan seperti kriteria sebagai berikut: Jika d < dl, berarti terdapat autokorelasi positif Jika d > (4 – dl), berarti terdapat autokorelasi negatif Jika du < d < (4 – dl), berarti tidak terdapat autokorelasi Jika dl < d < du atau (4 – du), berarti tidak dapat disimpulkan 4.2 Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh profesionalisme auditor, tingkat materialitas, dan independensi terhadap ketepatan pemberian opini. Persamaan regresi dalam penelitian ini adalah : Y = a + b1.X1 + b2.X2 + b3.X3 + e Dimana : Y = Ketepatan pemberian opini a = konstanta X1 = Profesionalisme auditor X2 = Tingkat materialitas X3 = Independensi e = error 4.2.1 Uji T Uji t diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara variabel independen dan variabel dependen secara individual. Langkah – langkah menguji hipotesis dengan uji T : a. Merumuskan hipotesis Ha = Xn > 0 Artinya variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Ha (Hipotesis alternarif) adalah suatu pernyataan yang diterima jika data sampel memberikan cukup bukti bahwa hipotesis nol adalah salah. b. Menentukan taraf signifikansi Taraf signifikansi yang digunakan sebesar α = 10%, karena hipotesis penelitian menunjukkan pengaruh positif. c. Merumuskan t hitung dan pengambilan keputusan Rumus t hitung : (Gujarati, 1997) Dimana : b : nilai parameter Sb : standard error dari masing – masing nilai parameter t = Pembuatan keputusan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut ini : Ha : X1, X2, X3 > 0 Keterangan : - Ha diterima jika t-hitung > t-tabel - Ha ditolak jika t-hitung < t-tabel 4.2.2 Uji F Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama – sama. Langkah – langkah untuk menguji hipotesis dengan uji F adalah : Ha diterima α = 0,1 t-hitung Ha ditolak t-tabel a. Merumuskan hipotesis Ha : X1 : X2 : X3 > 0 Artinya variabel independen berpengaruh positif terhadap variabel dependen secara bersama – sama. Ha adalah suatu pernyataan yang diterima jika data sampel memberikan cukup bukti bahwa hipotesis nol adalah salah. b. Menentukan taraf signifikansi Taraf signifikansi yang digunakan sebesar α = 10%, karena hipotesis penelitian menunjukkan pengaruh positif. c. Merumuskan F hitung dan pengambilan keputusan Rumus F-hitung : (Sunyoto, 2011) F-hitung Dimana : R = koefisien determinasi k = banyaknya variabel bebas n = banyaknya sampel F - hitung Ha diterima Ha ditolak F - tabel Maka dengan derajat keyakinan tertentu : 1. Ha diterima jika F-hitung > F-tabel, yang berarti secara bersama – sama variabel independen secara signifikan memepengaruhi variabel dependen. 2. Ha ditolak jika F-hitung < F-tabel, yang berarti secara bersama – sama variabel independen secara signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen. 4.3 Rencana Pembahasan Pembahasan hasil penelitian akan membandingkan antara hipotesis penelitian yang ada dengan hasil – hasil penelitian sebelulmnya yang diulas secara akuntansi. DAFTAR PUSTAKA Asih, Dwi AnaningTyas. 2006. “ Pengaruh Pengalaman Terhadap Peningkatan Keahlian Auditor dalam Bidang Auditing ”. Skripsi. Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta. Arens dan Loebbecke. 1995. Auditing Englewood Cliffs. New Jersey: Prentice Hall. Badudu, J.S dan Sutan Mohammad Zain. (2002). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan. Boynton, Johnson, Kell. 2002. Modern Auditing. Erlangga : Jakarta. Elfarini, Eunike Christina. 2007. “ Pengaruh Kompetensi dan Independensi Auditor Terhadap Kualitas Audit ”. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS, Badan. Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang. Gibbins, Michael. Propositions About The Psychology of Professional Judgment in Public Accounting. Journal of Accounting Research. Spring Vol. 22 No. 1, 1984. Hastuti et al. 2003. “Pengaruh Profesionalisme Auditor Terhadap Tingkat Materialitas Dalam Pemeriksaan Laporan Keuangan”. Simposium Nasional Akuntansi. Padang. Holmes, W Arthur, David E Burns (Moh. Badjuri). Auditing Norma dan Prosedur Ed 9. http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2011-1-00020-AK%202.pdf . Diakses 16 Maret 2013. http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?submit.x=15&submit.y=29&submit=prev&page =2&qual=high&submitval=prev&fname=%2Fjiunkpe%2Fs1%2Feakt%2F200 3%2Fjiunkpe-ns-s1-2003-32499042-2104-penugasan_audit-chapter2.pdf . Diakses 16 Maret 2013. Ikatan Akuntan Indonesia. 2001. Standar Profesional Akuntan Publik. IAI. Jakarta. Penerbit Salemba Empat. Ikatan Akuntan Indonesia. 2006. Standar Profesional Akuntan Publik + Suplemen Interpretasi. 2002 – 2006. Salemba Empat. Jakarta. Jogiyanto. 2007. Metodologi Penelitian Bisnis : Salah Kaprah dan Pengalaman- Pengalaman. BPFE. Yogyakarta. Kasidi. 2007. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Independensi Auditor Persepsi Manajer Keuangan Perusahaan Manufaktur Di Jawa Tengah”. Tesis S2. Universitas Diponegoro. Semarang. Knapp, M. C. 1985. Audit conflict: An empirical study of the perceived ability of auditors to resist management pressure. The Accounting Review 60 (April): 202-211. Kushasyandita, Sabrhina. 2012. “Pengaruh Pengalaman, Keahlian, Situasi Audit, Etika, dan Gender Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Auditor Melalui Skeptisisme Profesional Auditor”. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang. Lekatompessy. 2003. “Analisis Variabel-Variabel Anteseden dan Konsekuensi Organisasional Profesional Akuntan di KAP dan Industri”. Tesis S2. Universitas Diponegoro. Semarang. Mayangsari, Sekar. 2003. “ Pengaruh Keahlian Audit dan Independensi Terhadap Pendapat Audit : Sebuah Kuasieksperimen ”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.6, No.1, 1-22. Jakarta. Mulyadi. 1990. Pemeriksaan Akuntan (Edisi Ke-3). Badan Penerbitan STIE YKPN. Yogyakarta. Mulyadi. 2008. Auditing. Salemba Empat. Jakarta. Permatasari, Carolina. 2010. “ Pengaruh Faktor Keahlian Dan Independensi Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik di Kota Semarang “. Jurnal. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. 95 h. Permatasari, Carolina. 2011. “ Pengaruh Faktor Keahlian dan Independensi Terhadap Kualitas Audit”. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametik. PT Elex Media Komputindo Gramedia. Jakarta Standar Profesional Akuntan Pubik (SPAP). 2001. Salemba Empat. Jakarta. Suraida, Ida. 2005. “ Pengaruh Etika, Kompetensi, Pengalaman Audit dan Risiko Audit Terhadap Skeptisisme Profesional Auditor dan Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik ”. Sosiohumaniora. Vol.7, No.3, 186-202. Universitas Padjadjaran Bandung. Syahrir. 2002. “Analisis Hubungan Antara Profesionalisme Akuntan Publik Dengan Kinerja, Kepuasan Kerja, Komitmen, dan Keinginan Berpindah”. Tesis S2. Fakultas Ekonomi. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. KUESIONER PENELITIAN Data Responden 1. Nama : 2. Umur : tahun 3. Jenis Kelamin : (a) Pria (b) Wanita 4. Masa Kerja : tahun 5. Golongan : 6. Pendidikan terakhir : 7. Pendidikan dan pelatihan tentang audit yang pernah diikuti: ……kali Petunjuk Pengisian Silahkan memberikan jawaban anda dengan memberikan tanda silang (X) pada pilihan jawaban yang tersedia: - SS : SANGAT SETUJU - S : SETUJU - N : NETRAL - TS : TIDAK SETUJU - STS : SANGAT TIDAK SETUJU Profesionalisme auditor (X1) NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Profesionalisme Auditor Dimensi Pengabdian Terhadap Profesi STS TS N S SS 1 Saya menggunakan segenap pengetahuan, kemampuan dan pengalaman saya dalam melaksanakan proses pengauditan. 2 Saya akan tetap teguh pada profesi sebagai auditor meskipun saya mendapatkan tawaran pekerjaan lain dengan imbalan yang lebih besar. 3 Saya mendapatkan kepuasan batin dengan berprofesi sebagai auditor. 4 Pekerjaan sebagai auditor sudah menjadi cita- cita saya sejak dulu sampai nanti. 5 Saya berlangganan dan membaca secara rutin majalah dan jurnal tentang eksternal audit dan publikasi profesi lainnya. NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Profesionalisme Auditor Dimensi Kewajiban Sosial STS TS N S SS 1 Profesi eksternal auditor adalah profesi yang penting di masyarakat. 2 Profesi eksternal auditor mampu menjaga kekayaan negara atau masyarakat. 3 Profesi eksternal auditor merupakan profesi yang dapat dijadikan dasar kepercayaan masyarakat terhadap pengelola kekayaan negara. NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Profesionalisme Auditor Dimensi Kemandirian STS TS N S SS 1 Saya merencanakan dan memutuskan hasil abora saya berdasarkan abor yang saya temui dalam proses pemeriksaan. 2 Dalam menyatakan pendapat atas aboran keuangan saya tidak berada dibawah tekanan manajemen. 3 Dalam menentukan pendapat atas aboran keuangan saya tidak mendapatkan tekanan dari siapapun. NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Profesionalisme Auditor Dimensi Keyakinan Terhadap Profesi STS TS N S SS 1 Pemeriksaan atas laporan keuangan untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan hanya dapat dilakukan oleh eksternal auditor. 2 Eksternal auditor mempunyai cara yang dapat diandalkan untuk menilai kompetensi eksternal auditor lain. 3 Ikatan eksternal auditor harus mempunyai cara dan kekuatan untuk pelaksanaan standar untuk eksternal auditor. NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Profesionalisme Auditor Dimensi Hubungan Dengan Sesama Profesi STS TS N S SS 1 Saya ikut memiliki organisasi dimana saya bekerja. 2 Saya selalu berpartisipasi dalam pertemuan para eksternal auditor. 3 Saya sering mengajak rekan – rekan seprofesi untuk bertukar pendapat tentang masalah yang ada baik dalam satu organisasi maupun oraganisasi lain. 4 Saya mendukung adanya organisasi ikatan eksternal auditor. Tingkat Materialitas (X2) NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Materialitas STS TS N S SS 1 Materialitas adalah suatu konsep yang vital dalam proses pengauditan. 2 Materialitas berhubungan dengan karakteristik suatu statement, fakta, item yang diungkapkan atau metode berekspresi yang berpengaruh pada judgment seorang auditor. 3 Dalam menyusun rencana audit saya akan mempertimbangkan resiko yang akan ditemui selama proses audit. 4 Materialitas suatu rekening akuntansi salah saji menjadi faktor pertimbangan utama dalam menentukan kewajaran laporan keuangan. 5 Dalam menentukan suatu transaksi itu material atau tidak saya menggunakan dasar pengalaman dalam proses audit. 6 Dalam menentukan ketepatan tingkat materialitas saya menggunakan dasar pengetahuan dan kecakapan dalam melaksanakan pekerjaan audit. 7 Ketepatan dalam menentukan tingkat materialitas ditentukan oleh kemampuan auditor membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain. 8 Ketepatan dalam menentukan tingkat materialitas ditentukan oleh komitmen auditor terhadap pekerjaannya. Independensi (X3) NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Independensi STS TS N S SS 1 Besarnya fee audit yang saya terima tidak akan mempengaruhi saya dalam melaporkan kesalahan klien. 2 Saya mengungkapkan semua kesalahan atau kecurangan klien. 3 Saya menemukan beberapa kesalahan pencatatan yang disengaja oleh auditee, semua kesalahan tersebut saya laporkan meskipun saya memperoleh fasilitas yang cukup baik dari auditee. 4 Saya melaporkan kesalahan klien meskipun klien dapat mengganti posisi saya dengan mudah. 5 Masa kerja dengan klien yang sama tidak akan mempengaruhi saya dalam menyatakan pendapat. 6 Auditee meminta temuan yang ada tidak dicantumkan dalam laporan audit. Saya akan menolak permintaan auditee tersebut meskipun yang bersangkutan adalah kenalan baik saya. 7 Saya tidak akan membatasi lingkup pertanyaan pada auditee, meskipun yang bersangkutan adalah kenalan baik saya. Ketepatan Pemberian Opini (Y) NO Pernyataan Dibawah Ini Berhubungan Dengan Ketepatan Pemberian Opini STS TS N S SS 1 Sikap independensi auditor terhadap klien akan memengaruhi ketepatan pemberian opini auditor 2 Besarnya tingkat materialitas akan mempengaruhi pemberian opini auditor 3 Profesionalisme auditor mempengaruhi pemberian opini auditor