Anda di halaman 1dari 1

17 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal seseorang yang dekat di hati kita, tetapi bukan pula

waktu yang lama untuk melupakan mereka. Hari ini genap 17 tahun sudah aku mengenalnya, tapi selama itu pula tak ada bedanya antara 17 tahun dengan 10 tahun atau bahkan 1 tahun lebih-lebih 1 hari. Antara aku dan dia seperti selalu terpisah sejauh mungkin sekalipun malam ini kami duduk bersebelahan. Dia yang kumaksud adalah laki-laki itu, sebut saja dia abangku, satu dari sekian juta laki-laki yang tak bisa kusentuh, hatinya. Kami hidup, senegara, sekampung, serumah, bahkan pernah juga seruangan. Tapi hatinya tidak disitu. Mungkin di negara ini, di kampung ini juga, tetapi tidak di rumah, entah kemana perginya, tapi hatinya memang tak pernah ada di rumah. Aku pernah mendapatkan hatinya, waktu tidak ada seorangpun yang dimilikinya sebagai teman kecuali aku. Dan aku juga menyerahkan hatiku untuknya. Aku tidak kecewa, aku tidak sedih, dan aku tidak marah, aku benar-benar menyayanginya. Dan dia juga begitu. Kami hidup dalam kepercayaan satu sama lain. Semua berubah, bagai petir menyambar sebatang pohon yang gagah berdiri, yang tentu membuatnya tak berarti kecuali ia semakin mudah untuk dipanjat setelahnya. Tidak ada yang pernah tahu sejak kapan hatinya itu ia tarik kembali. Tapi yang pasti ia jauh berbeda dari sebelumnya, dia bukan dia.