Anda di halaman 1dari 4

Abses peritonsilar dan tonsillitis

Latar Belakang Pada jaman dahulu Celsus AD menjelaskan pelaksanaan tonsilectomi dengan peralatan tajam dan diikuti dengan pembilasan menggunakan cuka dan obat – obatan lain. Sejak saat itu, para dokter telah menyimpan bagaimana penatalaksanaan dari tonsillitis. Tonsillitis mendapatkan perhatian tambahan dalam penanganan medis di akhir abad ke 19. Pertimbangan quinsy dalam membedakan penyakit yang terjadi pada kematian presiden George Washington dan pembahasan mengenai tonsillitis pada materi kuliah kedokteran Kean, sebuah buku panduan mengenai tonsillitis dipublikasikan pada akhir abad 19, sebagai cermin dari tingkatan tonsillitis sebagai masalah medis. Saat ini Pemahaman tentang proses penyakit dan management dari penyakit ini masih sangat penting. Artikel ini merangkum tentang berbagai penanganan terkini dari tonsillitis dan memantau perkembangan terbaru dalam bidan patofisiologi dan imunologi dari kondisi ini dan beberapa variasinya seperti tonsillitis akut, tonsillitis berulang, dan tonsillitis kronis dan peritonsilitis abses (PTA)

Definisi Tonsillitis didefinisikan sebagai peradangan tonsil di daerah faring. Peradangan biasanya menyebar hingga ke adenoid (amandel) dan lidah (lingual); oleh karena itu istilah pharingitis dapat juga digunakan. Dalam artikel ini Pharingotonsilitis dan adenotonsilitis dipertimbangkan setara penggunaannya. Tonsillitis lingual lebih mengacu kepada peradangan yang terisolir pada jaringan limfoid di daerah basal lidah. Sebuah “Sifat pembawa” di definisikan sebagai kultur positif daerah faring dari grup A beta hemoliticus Streptococus pyogenes (GABHS), tanpa bukti adanya respon immunologic antistreptococcal.

Patofisiologi dan etiologi Infeksi bakteri atau virus dan faktor imunologi dapat menyebabkan tonsillitis dan komplikasi – komplikasinya. Kondisi – kondisi padat penduduk dan kekurangan gizi (malnutrisi) dapat mencetuskan terjadinya tonsillitis. Kebanyakan episode serangan dari tonsillitis akut dan faringitis akut disebabkan oleh virus – virus sebagai berikut : 1. Herpes simplex virus 2. Epstein – barr virus (EBV)

Pada dewasa muda lebih ditunjukkan kepada bakteri yang terisolasi. corynebacterium dphtheriaem. S Pyogenes melekat hingga ke reseptor adhesion yang terletak di epitel tonsilar. stapilococus aureus dan haemopilus influenza adalah bakteri penyebab umum yang banyak terjadi pada tonsillitis berulang. Neisseria gonorrhea dapat sebagai penyebab faringitis pada seseorang yang aktif melakukan hubungan sex. Mycoplasma pneumonia. 6. 4. Dan juga. Arcanobacterium haemolyticum berperan penting terhadap kejadian faringitis di Scandinavia dan UK tetapi di Amerika bakteri jenis ini tidak ditemukan. 15 – 30 % kasus faringotonsilitis disebabkan oleh bakteri. bertanggung jawab terjadinya tonsillitis untuk 19% kasus dari tipe tonsillitis eksudatif pada anak. dan Chlamydia pneumonia jarang menjadi penyebab dari faringitis akut. Selaput immunoglobulin patogen penting dalam induksi awal dari tonsillitis bakteri. Mikrobiologi dari terjadinya tonsillitis berulang pada anak dan dewasa muda berbeda . 5. pada dewasa muda sering terdapat bakteri yang memproduksi beta-lactamase. sedangkan pada anak – anak lebih menunjukkan kepada jenis GABHS. dan organism B fragilis. Dengan persaingan bakteri lain dikurangi. Kebanyakan kasus yang terjadi dari tonsillitis bakteri disebabkan oleh grup A beta hemolytic streptococcus pyogense (GABHS). dan anak – anak dengan tonsillitis GABHS berulang memliki populasi bakterial yang berbeda dibandingkan anak – anak yang tidak memiliki beragam infeksi. spesies porphyromonas. dan dengan memberikan sedikit interfensi terhadap infeksi GABHS. Ruam kulit yang terjadi terlihat mirip seperti pada penderita demam scarlet yang berhubungan dengan faringitis A haemolyticum. Streptococcus pneumonia. dan bakteriodes fragilis adalah jenis bakteri anaerob yang terisolasi yang paling banyak menjadi penyebab terhadap tonsillitis berulang.3.beda. Cytomegalovirus Virus herpes jenis lain Adenovirus Measles virus Dalam sebuah studi menunjukkan bahwa EBV dapat menyebabkan tonsillitis tanpa adanya sistemik mononucleosis. dengan kecepatan laju penyembuhan yang tinggi dari spesies prevotella. Bakteri anaerob berperan penting dalam peranan terjadinya penyakit tonsilar. Tonsilitis berulang Flora polymikrobial mengandung jenis bakteri anaerob dan aerob yang telah diamati melalui kultur tonsilar inti dalam kasus faringitis berulang. .

Hubungan ini berdasarkan kepada jenis bakteri aerob bawaan dan jumlah total limfosit B dan T. Sebuah penelitian yang berdasarkan pada bakteriologi dari permukaan dan inti tonsilar pada 30 anak yang dianjurkan menjalani tonsillectomy bahwa pada pemberian antibiotic selama 6 bulan sebelum pembedahan tidak mengubah bakteriologi tonsilar pada saat tonsilektomi. fusobacterium. Epidemiologi Tonsillitis paling sering terjadi pada anak – anak. Dengan menganggap bahwa telah terjadi resistensi penisilin atau produksi beta laktamase. porphyromonas. dan jenis bacteriodes yang sudah dikenali. kondisi tersebut jarang terjadi pada anak – anak kurang dari 2 tahun. Organism yang paling mendominasi adalah bakteri anaerob jenis preyotella. Seperti marker pada sebuah penelitian yang mengindikasikan bahwa pada anak lebih sering mengalami tonsillitis berulang. Paparan radiasi dapat berhubungan terhadap perkembangan tonsillitis kronik. meskipun begitu. Abses peritonsilar Flora polimicrobial adalah isolasi dari abses peritonsilar.15 tahun. sedangkan pada dewasa muda yang membutuhkan tonsillectomy lebih sering mengalami tonsillitis kronik. Mekanisme imunologi local berperan penting dalam tonsillitis kronik. Penyebaran dari sel dendritic dan antigen presenting sel dirubah selama kejadian. H influenza adalah jenis bakteri yang paling banyak terisolir di bagian hipertropi tonsil dan adenoid. dan H influenza. prevalensi tertinggi dari tonsillitis kronik tercatat setelah terjadi kecelakaan reactor nuklir chaernobyl di Uni Soviet. dengan sedikit sel dendrite pada permukaan epithelium dan lebih banyak di daerah crypt dan area diluar folikular. Sedangkan Jenis organism aerob yang paling banyak adalah jenis GABHS. dan peptostreptococus. jenis streptococcus merupakan penyebab tonsillitis yang diciri khas kan terjadi pada anak – anak usia 5 . Dipercaya terdapat Hubungan antara ukuran tonsil dan tonsillitis kronik akibat bakteri. mikrobiologi tonsil disingkirkan dari pasien dengan faringitis GABHS berulang yang tidak lagi menunjukkan perbedaan signifikan dari microbiologi tonsillitis yang disingkirkan dari pasien dengan hipertropi tonsilar. dengan jenis alpha dan beta hemolytic streptococcus. sedangkan tonsillitis virus sering menyerang anak – anak yang lebih muda. H influenza. Penelitian dari marker immunologi dapat membenarkan perbedaan antara tonsillitis berulang dan tonsillitis kronik. S aureus. PTA biasanya terjadi pada remaja atau dewasa muda tetapi dapat juga menyerang kepada yang lebih muda. . S aureus.Tonsillitis kronik Populasi bakterial polimicrobial telah diamati pada sebagaian besar kasus dari tonsillitis kronik.

. komplikasi yang berhubungan dengan tonsillitis.1% anak di turki.9% dari anak – anak menetapkan sebagai pembawa.Faringitis berhubungan dengan banyak infeksi saluran pernafasan bagian atas. Dalam sebuah penelitian Tonsillitis berulang dilaporkan 11. dan demam rematik adalah penyebab utama dari penyakit jantung dan kematian (mortalitas).5% dan 10. kasus yang terjadi di tahun 1980 dan awal 1990 an mendukung atas kebangkitan dari kondisi ini. Dahulu kala. Prognosis Dikarenakan terjadi peningkatan dalam pengobatan dan pembedahan.9%. Antara 2. demam scarlet adalah penyebab kematian utama pada awal abad ke-20. Herzon et al beranggapan keseluruhan jumlah anak di amerika rata – rata sepertiga nya terdapat PTA. Dalam sebuah penelitian. termasuk kematian masih jarang terjadi.7% terjadi pada anak di Norwegia dan perkiraan dari penelitian lain mempengaruhi hingga 12. Meskipun insiden terjadinya demam rematik telah berkurang secara signifikan. rata-rata kejadian dari status pembawa pada anak SD untuk jenis A streptococcus sebagai penyebab tonsillitis adalah 15.