Anda di halaman 1dari 11

1

DESAIN SALURAN DRAINASE BANDARA UDARA JUWATA
KOTA TARAKAN – KALIMANTAN TIMUR
Rizal Kamaruzzaman
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Gunadarma
ABSTRAK
Pada desain/perancangan saluran drainase Bandar Udara Juwata Tarakan
ini terdapat dua jenis saluran, yaitu : Saluran terbuka dan Gorong-gorong. Dimana
kedua jenis saluran tersebut dibuat berdasarkan fungsinya masing-masing. Tujuan
desain/perancangan saluran drainase ini adalah untuk mendapatkan Sistem
drainase yang memadai untuk membuang air permukaan dan air bawah
permukaan pada lapangan terbang, yang merupakan komponen vital untuk
keselamatan pesawat dan umur perkerasan. Pada perhitungan perancangan
drainase saluran, metode yang digunakan disesuaikan dengan keadaan iklim atau
kondisi curah hujan diwilayah studi. Untuk perhitungan analisa frekuensi hujan
dilakukan dengan menggunakan metode log pearson type III, sedangkan untuk
perhitungan analisa intensitas hujan digunakan rumus Mononobe. Untuk
menghitung debit banjir rancangan rumus yang digunakan dan sesuai dengan area
studi adalah metode Rasional. Debit banjir dianalisa disetiap titik pertemuan
dengan saluran, yang mana dititik tersebut akan terjadi penambahan air dengan
bertambahnya luasan Catchment Area. Berdasarkan hasil perhitungan pada
Perancangan Bandar Udara Juwata ini terdapat Tinggi air dalam drainase (h) yang
bervariasi, dengan ketinggian maksimal air dalam drainase (h) sebesar 0.32, yang
terdapat pada Chathment Area 4. Maka penulis mendesain saluran terbuka
berbentuk persegi dengan lebar dasar saluran (B) = 1.5m dan tinggi saluran (H) =
1m, dengan kemiringan talud 2 : 1. Dalam desain ini terdapat pula empat gorong-
gorong yang ada pada Chathment Area 5, 6, 8 dan 9. Gorong-gorong diperlukan
untuk mengalirkan air dari saluran drainase untuk melewati taxiway.
Kata Kunci : Debit banjir rancangan, Dimensi saluran dan Gorong-gorong.
2
PENDAHULUAN
Untuk merencanakan sistem drainase Bandar Udara diperlukan suatu
analisis Hidrologi dan Hidrolika. Pada analisis Hidrologi tujuan utamanya adalah
untuk mencari debit banjir rancangan berdasarkan data hujan pada daerah studi.
Sedangkan analisis Hidrolika dilakukan untuk merencanakan komponen struktur
drainase, seperti : Dimensi Saluran, Gorong-gorong dan Volume Storage atau
Water Pond.
Pada desain saluran Bandar Udara Juwata Tarakan menggunakan saluran
terbuka dan tertutup. Memiliki luas lahan, yaitu : 286.750 m
2
untuk Pavement dan
1.243.035 m
2
non Pavement, dan luas lahan Bandar Udara keseluruhan 238 Ha.
Dalam penulisan tugas akhir ini akan dilakukan analisis Hidrologi
dengan menggunakan metode Log Person tipe III, metode tersebut digunakan
untuk menganalisa frekuensi hujan dan metode mononobe digunakan untuk
menganalisa terhadap intensitas hujan. Untuk menghitung debit banjir rancangan
rumus yang digunakan dan sesuai dengan area studi adalah Metode Rasional.
Debit banjir dianalisa disetiap titik pertemuan dengan saluran, yang mana dititik
tersebut akan terjadi penambahan air dengan bertambahnya luasan catchment
area. Sedangkan analisis Hidrolika digunakan persamaan kontinuitas dari
Manning. Metode tersebut digunakan untuk menghitung kapasitas saluran.
PEMBAHASAN
Drainase didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari
usaha untuk mengalirkan air yang berlebihan dalam suatu konteks pemanfaatan
tertentu, baik diatas maupun dibawah permukaan tanah. Pada perancangan desain
saluran drainase diperlukan data kondisi iklim dan temperatur pada daerah
tersebut.
3
Klimatologi Kota Tarakan Tahun 2003 s/d 2006
BULAN
Curah Hujan
(mm)
Rata-rata
Temperatur (
0
C)
Rata-rata
Kelembaban (%)
Tekanan Udara
(mb)
Januari 155,2 26,8 85,0 1010,2
Februari 235,9 26,2 77,3 1010,9
Maret 335,6 27,0 85,2 1010,4
April 476,9 26,0 83,8 1010,3
Mei 368,0 27,6 84,4 1010,6
Juni 588,9 262 82,8 1010,4
Juli 409,4 27,3 83,5 1011,3
Agustus 275,4 27,5 80,3 1010,5
September 288,5 27,1 80,3 1011,1
Oktober 422,5 27,1 86,7 1012,1
November 337,5 26,6 82,5 1010,8
Desember 268,7 27,6 84,9 1010,3
Rata-rata 346,2 26,9 83,1 1010,7
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa curah hujan di Kota Tarakan
tidak merata setiap bulannya. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dan
Juni masing-masing 476,9 mm dan 588,9 mm, sedangkan curah hujan terendah
terjadi pada bulan Januari yaitu 155,2 mm. Untuk Tekanan Udara terendah terjadi
pada bulan Januari yakni 1010,2 mb dan tertinggi pada bulan Oktober yakni
1012,1 mb. Untuk curah hujan di kota Tarakan , waktu dan intensitasnya sangat
beragam dari waktu ke waktu.
PERANCANGAN DESAIN SALURAN DRAINASE
- Analisa Hidrologi
A. Analisa Frekuensi Hujan
Analisa frekuensi hujan dilakukan dengan menggunakan metode log
pearson tipe III yang telah teruji hasil perhitungannya dibandingkan
metode lainnya yang ada.
{ } ( ) ( )
) 1 (
log / 1 ) (log
2
2
÷
÷
=
¿ ¿
n
R x n R
S
t
x
) ( log
x t
KxS R R + =
4
Dimana :
R = Anti log R
t
Log R = Harga rata-rata log R
K = koefisien dari table pearson, sesuai angka dari koefisien asimetri (C
s
)
S
x
= Penyimpangan standar
B. Intensitas Hujan
Analisa intensitas hujan digunakan rumus Mononobe seperti tertulis
dibawah ini :
3
2
24
24
24
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
c
t
t
x
R
I
Dimana :
I = intensitas curah hujan (mm/jam)
t
c
= lamanya curah hujan (menit)
R
24
= curah hujan maksimum dalam 24 jam (mm)
C. Analisa Debit Banjir
Untuk menghitung debit banjir rancangan rumus yang digunakan dan
sesuai dengan area studi adalah Metode Rasional. Debit banjir dianalisa
disetiap titik pertemuan dengan saluran, yang mana dititik tersebut akan
terjadi penambahan air dengan bertambahnya luasan catchment area .
Adapun rumus banjir rancangan metode rasional adalah sebagai berikut :
A I C Q . . =
Dimana :
Q = debit aliran (m
3
/det)
C = koefisien pengaliran
5
I = rata-rata intensitas hujan (mm/jam), untuk durasi yang sama dengan
waktu konsentrasi (t
c
) dan periode ulang tertentu.
A = luas catchment area (Ha)
D. Waktu Konsentrasi (t
c
)
Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan air hujan untuk mengalir
dari titik terjauh sampai dengan titik yang ditinjau pada daerah pengaliran
atau diperolehnya debit maksimum. Dimana waktu konsentrasi adalah
jumlah dari waktu yang diperlukan oleh air untuk mengalir menuju saluran
terdekat (t
o
) dan waktu yang diperlukan air yang mengalir dalam saluran
sampai menuju titik yang ditinjau (t
d
). dan ditulis sebagai berikut :
d o c
t t t + =
E. Overlandf time of flow (t
o
)
Adalah waktu yang dibutuhkan air untuk mengalir dari tanah menuju
saluran terdekat. Dalam perhitungan, t
o
dihitung berdasarkan rumus :
- Untuk daerah pengaliran sangat kecil, dengan tali air sepanjang ± 300
m.
3
1
2
1
) (
) ).( 1 . 1 .( 26 . 3
o
o
o
S
L C
t =
- Untuk daerah pengairan kecil, dengan panjang tali air sampai dengan
1000 m
5
1
3
1
) (
) .( . 108
o
o
o
S
L n
t =
Dimana :
t
o
= waktu limpasan (menit)
n = harga koefisien kekasaran permukaan tanah (tabel)
L
o
= panjang limpasan (m)
S
o
= kemiringan medan limpasan (%)
6
Tabel harga koefisien kekasaran (n) untuk persamaan Manning
Jenis Permukaan n
Permukaan yang diperkeras (paved surface) 0,015
Permukaan tanah terbuka (bare soil surface) 0,0275
Permukaan berumput sedikit 0,035
Permukaan berumput sedang 0,045
Permukaan berumput tebal 0,060
F. Time of drain (t
d
)
Adalah waktu yang dibutuhkan air untuk mengalir dalam saluran menuju
titik yang ditinjau. T
d
sangat ditentukan oleh karakteristik hidrolis didalam
saluran dimana rumus pendekatannya adalah sebagai berikut :
d
d
d
V
L
t =
Dimana :
L
d
= panjang saluran (m)
V
d
= kecepatan rata-rata dalam saluran (m/s)
Untuk menghitung t
d
dalam kapasitas saluran yang direncanakan,
kecepatan dihitung berdasarkan rumus kecepatan dari manning :
2
1
3
2
. .
1
S R
n
V =
Dimana :
V = kecepatan (m/s)
n = koefisien kekasaran manning
R = jari-jari hidrolis
S = kemiringan
7
Rumus diatas sebaiknya digunakan dalam saluran buatan dengan atau tanpa
pasangan (lining).
G. Koefisien Pengaliran
Koefisien pengaliran merupakan hasil perbandingan antara jumlah hujan
yang jatuh dengan yang mengalir sebagai limpasan. Pada suatu tata guna
lahan koefisien pengaliran ditetapkan dengan mengambil harga rata-rata
berdasarkan besarnya luas area. Adapaun rumus yang digunakan untuk
menghitung koefisien pengaliran adalah :
¿
¿
=
i
i i
r
A
A C
C
.
Dimana :
C
r
= rata-rata koefisien pengaliran
C
i
= koefisien pengaliran individu
A
i
= luas daerah individu (ha)
H. Daerah Pengaliran
Daerah pengaliran merupakan kontribusi untuk jumlah volume limpasan
pada metode Rasional yang digunakan. Luas ini dihitung berdasarkan area
yang masuk menjadi beban pada saluran.
Pertimbangan untuk daerah aliran antara lain meliputi :
- Tata guna lahan pada saat sekarang dan perencanaan pada masa
mendatang
- Karakteristik tanah dan bangunan diatasnya
- Kemiringan tanah dan bentuk daerah pengaliran
8
- Analisa Hidrolika
A. Kapasitas Saluran
Untuk menghitung kapasitas saluran, digunakan persamaan kontinuitas
dari manning.
Q = V . A
Dimana :
Q = debit aliran (m
3
/det)
A = luas penampang basah (m
2
)
V = kecepatan aliran (m/det)
Tabel harga koefisien kekasaran (n) untuk persamaan Manning
Jenis Saluran n
Lapisan beton 0.015
Pasangan batu kali 0.025
Tanpa perkerasan (teratur) 0.030
Saluran alami (tidak teratur) 0.046
Untuk menghtiung kedalaman aliran saluran yang berbentuk segi empat,
dapat digunakan rumus:
Y = 0,7071.A
Dimana :
Y = kedalaman aliran (m)
A = luas penampang basah (m)
9
B. Gorong-gorong
Merupakan bangunan perlintasan karena adanya bangunan yang melintas
jalan. Perencanaan gorong-gorong didasarkan atas besarnya debit
pengaliran sesuai dengan keadaan saluran dan sifat-sifat hidrolisnya.
Dan untuk menghitung debit digunakan rumus
A I C Q . . =
Dimana :
Q = debit aliran (m
3
/det)
C = koefisien pengaliran
I = rata-rata intensitas hujan (mm/jam), untuk durasi yang sama
dengan waktu konsentrasi (t
c
) dan periode ulang tertentu.
A = luas catchment area (Ha)
Jari-jari gorong-gorong dengan bentuk lingkaran dapat dicari dengan
rumus :
375 , 0
. 513 , 2
.
S
Q n
R =
Dimana :
R = jari-jari penampang (m)
Q = debit aliran (m
3
/det)
S = slope saluran/gorong-gorong (m/m)
C. Tinggi Jagaan (Free board)
Tinggi jagaan minimum untuk saluran dengan pasangan direncanakan =
0,50. Untuk saluran dengan debit.
10
Tabel Tinggi Jagaan (Free board)
Debit (Q) F (m) Polder (m)
Q < 5 m
3
/det
10 m
3
/det > Q > 5 m
3
/det
Q > 10 m
3
/det
0,20 – 0,30
0,30 – 0,50
0,70 – 1,00
0,75 – 1,00
1,00 – 1,25
1,25 – 1,50
PENUTUP
Pada hasil perhitungan perancangan desain saluran drainase dengan
menganalisa disetiap Chatment Area, dengan menggunakan jenis saluran terbuka
dan tertutup. Hal ini dapat diuraikan, sebagai berikut :
1. Dimensi drainase untuk Catchment 1,2 ,3, 7, dan 4 mengacu pada dimensi
Catchment 4, ini dikarenakan pada Catchment 4 terjadi akumulasi debit dari
Catchment 1, 2, 3, dan 7. Sehingga desain dimensi rencana berdasarkan debit
terbesar yaitu di catchment 4.
2. Demikian pula pada Catchment 5,6,8 dan 9, dimana debit terbesar
terakumulasi di Catchment 9, sehingga desain dimensi yang direncanakan
berdasarkan pada debit Catchment 9.
3. Untuk desain gorong-gorong dimensi yang digunakan adalah dimensi yang
terdapat pada Catchment 9 yaitu dameter 1 m. Ini dilakukan guna keperluan
maintenace dan keperluan lain dikemudian hari.
11
DAFTAR PUSTAKA
Horonjeff Robert dan MckKelvey, Francis X, Perencanaan dan
Perancanagan Bandar Udara jilid 2, Penerbit Erlangga, 1993.
Soemarto, CD, Analisa Hidrolika, Erlangga, Jakarta, 1995
Sosrodarsono, Suyono dan Takeda, Kensaku, Hidrologi Untuk
Pengairaan, PT.Pradnya Paramita, Jakarta, cetakan 7, 1993.
Tim Dikti, 1997, Drainase Perkantoran, Universitas Gunadarma, Jakarta.
Triatmodjo Bambang. Prof Dr.Ir., 2008, Hidrologi Terapan, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta.