Anda di halaman 1dari 129

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA DINI MELALUI BERCERITA DI TAMAN KANAK-KANAK HARAPAN SILAING BAWAH PADANGPANJANG

SKRIPSI untuk memenuhi sebagai persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

ELYZA FATRI 2008 / 08379

JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2012

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang

Nama Nim Program studi Jurusan Fakultas

: Elyza Fatri 2008/08379 Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini : Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini

: Ilmu Pendidikan

Padang, Disetujui oleh : Pembimbing I,

Januari 2012

Pembimbing II,

Dr. Rakimahwati, M.Pd. NIP 195803051980032003

Asdi Wirman, S.Pd.I NIP 197911182005011002

Ketua Jurusan,

Dra. Hj. Yulsyofriend, M. Pd. NIP 196207301988032002

i

ii

HALAMAN PENGESAHAN LULUS UJIAN SKRIPSI Dinyatakan lulus setelah dipertahankan di depan Tim Penguji Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita di Tk Harapan Silaing Bawah Padangpanjang

Nama Nim Program studi Jurusan Fakultas

:

Elyza Fatri

: 2008/08379 : : : Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Ilmu Pendidikan

Padang, Tim Penguji Nama

Januari 2012

Tanda tangan

1. Ketua

: Dr. Hj. Rakimahwati, M.Pd.

1.

2. sekretaris

: Asdi Wirman, S.Pd.I

2.

3. Anggota

: Drs. Amril Amir, M. Pd.

3.

4. Anggota

: Serli Marlina, S. Pd

4.

5. Anggota

: Dra. Rivda Yetti

5.

do’a dan kesabarannya Apapun tidak akan pernah bisa merubah apa yang telah ada . kasih sayang.iii HALAMAN PERSEMBAHAN "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" Skripsi ini saya persembahkan pada: Allah SWT Tuhan Pencipta Alam Allhamdulilah telah memberikan kelancaran dan banyak pelajaran dalam hidup Kedua Orang Tuaku Terima kasih telah memberi semangat dan kasih sayang yang tak pernah putus untuk semangat dan dukungannya Keluargaku Suamiku tercinta dan anak-anakku Terima kasih dukungan.

iv PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa: 1. 3. kecuali secara tertulis dan jelas dicantumkan sebagai acuan didalam naskah dengan menyebutkan pengarang dan dicantumkan pada daftar pustaka. rumusan dan penelitian saya sendiri yang dibantu dan diarahkan oleh pembimbing. Elyza Fatri NIM 2008/08379 . saya bersedia menerima sangsi akademik dan sangsi lainnya sesuai dengan norma dan ketentuan hukum yang berlaku. Dalam karya tulis ini. Padang. tidak terdapat karya tulis atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain. Karya tulis ini murni gagasan. Karya tulis saya. Januari 2012 Yang menyatakan pernyataan. 2. baik Universitas Negeri Padang maupun di Perguruan Tinggi lainnya. tugas akhir berupa skripsi dengan judul “Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang” adalah asli belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila pada kemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran di dalam pernyataan ini. 4.

Hasil persentase nilai anak menunjukkan bahwa Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah dicapai melebihi tujuh puluh lima persen. tetapi setelah penelitian dilakukan. karena faktor kebiasaan berbicara dalam bahasa daerah maka membuat anak merasa aneh dan kikuk saat diminta untuk berbicara didepan kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia. Peningkatan kemampuan berbicara anak pada siklus I sebesar tujuh koma lima persen dan peningkatan kemampuan berbicara anak pada siklus II mencapai tujuh puluh enam perse. Universitas Negeri Padang. masing-masing terdiri dari tiga kali pertemuan. “Peningkatan Kemampuan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Di Tk Harapan Silaing Bawah Padangpanjang”. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus. . Kebiasaan anak dalam menggunakan bahasa daerah disekolah merupakan salah satu kendala dalam pembelajaran berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. 2011. maka kemampuan berbicara anak meningkat melalui bercerita dengan menggunakan buku cerita bergambar dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak. Fakultas Ilmu Pendidikan.v ABSTRAK ELYZA FATRI. dapat disimpulkan bahwa kemampuan berbicara melalui kegiatan bercerita dengan menggunakan buku cerita bergambar di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang sebelumnya masih rendah. Berdasarkan hasil penelitian. Subyek dalam penelitian ini adalah anak di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 18 anak yang terdiri dari 10 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. Skripsi. Data dikumpulkan melalui observasi. dan dokumentasi. wawancara. setiap siklus dilakukan 3 kali pertemuan. Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Penelitian ini bersifat kolaboratif antara peneliti dan guru kelas pendamping.

Ibu Dra. sebagai Dekan FIP UNP yang telah memberikan berbagai fasilitas. Yulsyofriend. S. Padang.I sebagai pembimbing yang banyak memberikan arahan. Akhirnya dipersembahkan penelitian ini kepada tim penguji serta pembaca yang budiman agar dapat memberikan saran-saran demi kesempurnaan penelitian ini. Fakultas Ilmu Pendidikan. penulisan skripsi ini telah selesai.S. motivasi. H. Mudah-mudahan penelitian ini bermanfaat bagi kita semua.Pd.Kons. baik moral maupun material. Rakimahwati. Ibu Nurmi J.vi KATA PENGANTAR Alhamdulillah. M. Ibu Evita sebagai Kepala Taman Kanakkanak Harapan Padangpanjang yang telah memberi izin untuk melakukan PTK di sekolah yang dipimpinnya. 14 Januari 2012 Peneliti .Pd. dan kemudahan. dan Ibu Dr. Skripsi yang berbentuk penelitian tindakan kelas ini mencermati dan menganalisis peningkatan kemampuan berbicara anak usia dini melalui bercerita di TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang.Pd. Dr. Semoga segala budi baik bapak. dan teman-teman menjadi amal di sisi Allah SWT. M.Pd dan Bapak Asdi wirman. Prof. M. Untuk itu. M. Penyusunan skripsi ini mendapat bantuan dari berbagai pihak. Firman. Universitas Negeri Padang. Hj. sebagai kolaborator dalam penelitian ini. Hj. ibu. sebagai Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Rakimahwati. diucapkan terima kasih yang tulus kepada Ibu Dr. Skripsi ini diajukan sebagai tugas akhir dalam mengikuti pendidikan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendididkan Guru Pendidikan Anak Usia Dini..

........… F........... DAFTAR GRAFIK ................ Rancangan pemecahan masalah ………………………………............ Keterampilan berbicara …………………………………. Fungsi dan manfaat bercerita …………………………….... c.............. Tujuan keterampilan berbicara …………………………… e. Hambatan-hambatan dalam keterampilan berbicara anak ... Rumusan masalah ……………………………………………….......... b............................. DAFTAR TABEL ........ Media cerita bergambar ……………………………………… a......... Pengertian bahasa ………………………………………… b.............. 3...... DAFTAR BAGAN DAN GAMBAR ............. Landasan teori ………………………………………………… 1..................... i ii iii iv v vi vii ix xi xii 1 5 6 6 6 7 7 7 9 9 9 10 12 16 16 17 18 19 21 23 26 26 27 28 29 30 30 33 vii . BAB I PENDAHULUAN A. Tahap-tahap perkembangan berbicara …………………… d.................................................. c........................ SURAT PERNYATAAN .............................. 2...... Fungsi bahasa bagi anak ………………………………… c. Tahap-tahap perkembangan bahasa anak ………………. Defenisi operasional ……………………………………………… BAB II KAJIAN PUSTAKA A.............. Bahasa ……………………………………………………….. a.....… f.... D... Metode bercerita …………………………………………......................... Identifikasi masalah ……………………………………………… C.................... 4..............................................................… B......... HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………… HALAMAN PERSEMBAHAN .............DAFTAR ISI Halaman PERSETUJUAN PEMBIMBING .... Pengertian berbicara ……………………………………… b. Teknik Bercerita dengan Alat Peraga Buku Bergambar …...................... Metode bercerita …………………………………………….. a. Latar belakang ………………………………………………….............. Tujuan penelitian ………………………………………………… G...... Manfaat keguanaan penelitian …………………………………… H........... ABSTRAK .......... Tahap-tahap perkembangan bicara anak ………………........... d..... Tujuan bercerita …………………………………………. E........................... KATA PENGANTAR ……………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………….......................... Berbicara ……………………………………………………......... a. Pengertian media cerita bergambar ……………………… b. Kelebihan dan kekurangan metode bercerita ……………........... Pembatasan masalah ……………………………………………..........

D... Jenis penelitian …………………………………………………… B. Pembahasan . C. 1. F. E. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. Temuan Penelitian ………………………………………………….……………………………………………………… BAB V PENUTUP A. C.. Prosedur penelitian ………………………………………………... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 2....viii c. Deskripsi Kondisi Awal ………………………………………. B... 3. Deskripsi Siklus II ……………………………………………. B. B. BAB III RANCANGAN PENELITIAN A. Saran …………………………………………………………….. Hipotesis tindakan ………………………………………………. Simpulan …………………………………………………………. LAMPIRAN . Instrumentasi Penelitian …………………………………………. Penelitian yang relevan …………………………………………. Manfaat Metode Bercerita Untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bagi Anak ……………………….LAMPIRAN ……………………………………………… 34 35 35 36 37 38 38 47 48 49 52 52 54 71 87 91 92 93 95 . Subjek penelitian …………………………………………………. Deskripsi Siklus I ……………………………………………. Kerangka konseptual …………………………………………….. Teknik analisis data ………………………………………………. Teknik pengumpulan data ……………………………………….. D.

...........ix DAFTAR TABEL Tabel 1 2 3 Format wawancara anak Halaman ......... 77 11 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan III …………… 81 12 Hasil Wawancara Anak dalam Proses Pembelajaran pada Siklus II Pertemuan III ( setelah tindakan )………………………….. 66 8 Rekapitulasi Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita pada siklus I pertemuan I.......................................................... 52 4 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan I ( setelah tindakan ) …………… 57 5 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan II ( setelah tindakan ) ……………....... 82 13 Rekapitulasi Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita ........ 63 7 Hasil Wawancara Anak dalam Proses Pembelajaran pada Siklus I Pertemuan III ( setelah tindakan )…………………………....... 50 51 Kemampuan Membaca Anak dalam Proses Pembelajaran .................... 86 14 Persentase Perkembangan Keterampilan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar pada Proses Pembelajaran (anak kategori sangat tinggi) …………………………………………………….. II.................. Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Pada Kondisi Awal ( sebelum tindakan ) ……………………………….... 73 10 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan II …………….... 69 9 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan I ……………..... 91 15 Persentase Perkembangan Keterampilan Berbicara Anak Melalui . 61 6 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan III ( setelah tindakan ) ……………...................................................................................................... dan III (Setelah Tindakan) .........

............. 92 Persentase Perkembangan Keterampilan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar pada Proses Pembelajaran (anak kategori rendah) ……………………………………….............. 93 ......x Buku Cerita Bergambar pada Proses Pembelajaran (anak kategori tinggi) 16 ……………………………………………………………..

Skema Kerangka Konseptual …………………………………… 36 2.xi DAFTAR BAGAN DAN GAMBAR Gambar Halaman 1. Siklus …………………………………………………………… 40 .

............................................................................................................................................................................ 62 4 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan III ..................................... 66 5 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan I .......................... 53 2 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan I …………………..................................................................................... 74 6 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan II ..............xii DAFTAR GRAFIK Grafik Halaman 1 Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Pada Kondisi Awal ( sebelum tindakan ) .......... 58 3 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan II .......................................................... 82 ..................................................................................... 78 7 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan III .........................

BAB I PENDAHULUAN A. peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif. Semenjak seorang bayi terlahir. ide. runtut. dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. gagasan. ia sudah belajar menyuarakan lambang-lambang bunyi bicara melalui tangisan untuk berkomunikasi dengan lingkungannya. terampil menyatakan pikiran. Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang utama dan yang pertama kali dipelajari oleh manusia dalam hidupnya. Terampil menangkap informasi-informasi 1 . Orang akan merasa terusik jika anaknya lahir tanpa suara tangisan. Suara tangisan itu baru menandakan adanya potensi dasar kemampuan berbicara dari seorang anak yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh lingkungannya melalui berbagai latihan dan pembelajaran. Latar Belakang Masalah Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas. dan perasaan. jelas. Orang akan merasa lebih sedih lagi jika anaknya tumbuh dewasa tanpa memiliki kemampuan berbicara secara lisan. kreatif. dan mudah dipahami. Dengan menguasai keterampilan berbicara. Setiap manusia dituntut terampil berkomunikasi. kritis.

Tata krama dalam pergaulan. dan adat kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat juga banyak diajarkan terlebih dahulu secara lisan. Proses transfer ilmu pengetahuan kepada subyek didik pada umumnya disampaikan secara lisan. norma-norma. dan terampil pula menyampaikan informasi-informasi yang diterimanya. Perkembangan pemakaian bahasa pada anak dipengaruhi oleh meningkatnya usia anak. antar teman sepermainan. Keterampilan berbicara juga memiliki peran penting dalam pendidikan. Pendidikan anak usia dini memegang peranan yang sangat penting dan menentukan bagi perkembangan anak selanjutnya. sebab Taman Kanakkanak merupakan fondasi bagi dasar kepribadian anak. Semua situasi tersebut menuntut agar kita mampu dan terampil berbicara. baik di lingkungan keluarga. etos kerja dan produktivitas. Anak yang mendapatkan pembinaan yang baik sejak usia dini akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar. maka akan semakin . rekan kerja. nilai-nilai. dan antara anak-anak itu sendiri. orang tua dan anak. teman perkuliahan dan sebagainya.2 yang didapat. Kehidupan manusia setiap hari dihadapkan dalam berbagai kegiatan yang menuntut keterampilan berbicara. antara ayah dan ibu. Semakin anak bertambah umur. Hal ini berlaku dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Di luar lingkungan keluarga juga terjadi pembicaraan antara tetangga dengan tetangga. serta dapat memupuk bakat dan minatnya sejak dini. sekolah maupun masyarakat luas. dialog selalu terjadi. Contohnya dalam lingkungan keluarga.

pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapat perhatian agar anak memiliki keterampilan berbicara. Selain betapa pentingnya keterampilan berbicara bagi seseorang. Keterampilan berbicara pada anak di Taman Kanak-kanak pada dasarnya perlu mendapatkan perhatian yang serius. Oleh karena itu. efektif. Bahasa yang sederhana. diketahui betapa pentingnya keterampilan berbicara bagi seseorang. sehingga mampu berkomunikasi untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang lain dengan baik. Untuk dapat berbicara dengan baik diperlukan keterampilan berbicara. Selain pentingnya keterampilan berbicara untuk berkomunikasi. pembelajaran keterampilan berbicara perlu mendapatkan perhatian karena keterampilan berbicara tidak bisa diperoleh secara otomatis. sedangkan hakikat bahasa adalah ucapan. tidak berdasarkan pada kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar serta bahasa sehari-hari yang masih banyak digunakan dalam berbicara anak perlu mendapatkan perhatian yang serius agar mampu memberikan pemahaman yang lebih mendalam sejak dini tentang bagaimana berbicara . dan efisien adalah tuntutan. komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan efisien dengan menggunakan bahasa. Hal ini dilakukan agar mampu memberikan pengetahuan dan dasar keterampilan dalam berkomunikasi yang lebih baik bagi anak di kemudian hari. Kemampuan berkomunikasi dengan baik. melainkan harus belajar dan berlatih. Dari uraian di atas. benar. Proses pengucapan bunyi-bunyi bahasa itu tidak lain adalah berbicara.3 banyak kosa kata yang dikuasai dan semakin jelas pelafalan atau pengucapan katanya.

Permasalahan tersebut di atas disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya media pembelajaran yang kurang menarik. Keterampilan anak perlu ditingkatkan. Kebiasaan anak dalam menggunakan bahasa ibu disekolah merupakan salah satu kendala dalam pembelajaran berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik pada anak di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. Buku cerita non fiksi menstimulasi pembacanya berpikir mengenai jawaban dari plot cerita dan membuat pembacanya bertanya-tanya sehubungan plot yang disajikan.4 dengan bahasa yang baik. Anak-anak akan merasa terlibat dalam petualangan dan konflik-konflik yang dialami karakterkarakter di dalamnya. sehingga membaca pun akan semakin menyenangkan. Tetapi sedikit banyak harus mampu memberikan dasar pembelajaran berbahasa yang baik dan benar. tidak harus sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam proses pembelajaran tingkat Taman KanakKanak keterampilan berbicara ditekankan pada kemampuan untuk berbicara dengan baik. Salah satu cara untuk meningkatkan keterampilan adalah melalui cerita bergambar. pembelajaran yang . karena faktor kebiasaan berbicara dalam bahasa daerah maka membuat anak merasa aneh dan kikuk saat diminta untuk berbicara didepan kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia. oleh karena itu pembelajaran harus menarik dan menyenangkan. Buku cerita disukai hampir semua anak apa lagi kalau buku cerita tersebut berupa cerita dengan ilustrasi bagus dengan sedikit permainan yang melibatkan mereka.

2. Guru kurang bisa menerapkan strategi dan pendekatan yang tepat dalam proses belajar mengajar. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukan di atas dapat diidentifikasi beberapa masalah yang di hadapi dalam peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia dini melalui cerita bergambar pada anak Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang sebagai berikut : 1. maka dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk mengangkat permasalahan yang berkaitan dengan proses pembelajaran dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara pada anak yang ada di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang dengan menggunakan metode cerita bergambar khususnya untuk anak kelompok B1. Berdasarkan uraian di atas.” B.5 hanya menitik beratkan pada membaca dan berhitung saja dan penggunaan metode yang statis sehingga membuat anak bosan dan kurang dapat memunculkan ide kreatifnya. Kurangnya tingkat keaktifan anak untuk menceritakan pengalamannya di depan kelas. Untuk itu dalam penelitian ini peneliti memberikan judul penelitian ini : “Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini melalui Cerita Bergambar pada Anak Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. .

maka pada penelitian ini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : bagaimanakah peningkatan keterampilan berbicara anak melalui cerita bergambar pada anak Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang? E. dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. Sebelum bercerita guru menyiapkan dan mendalami bahan cerita yang akan dipaparkan .6 3. Rancangan Pemecahan Masalah Berdasarkan indentifikasi masalah yang dikemukakan diatas maka untuk mengatasi masalah tersebut peneliti melaksanakan sebuah metode bercerita di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang khususnya di kelompok B1 untuk meningkatkan keterampilan pada anak. C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas. Oleh sebab itu peneliti berharap semoga dengan teknik bercerita yang bervariasi dan pendalaman guru terhadap cerita yang ditampilkan. Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. D. Kurangnya media pembelajaran dan penggunaan metode pembelajaran yang tidak tepat pada anak. maka pembatasan masalah dibatasi tentang : menghilangkan kebiasaan anak berbicara menggunakan bahasa daerah dan memberikan kepercayaan diri anak agar tidak kaku berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia.

serta sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Manfaat Kegunaaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. G. 2. Bagi TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan optimal dan keterampilan anak dalam berbicara dapat berkembang dengan baik. Berbicara merupakan salah satu cara yang efektif bagi kita untuk . Tujuan Penelitian Berkaitan dengan rumusan masalah di atas. Bagi akademis diharapkan menjadi bahan masukan bagi mahasiswa dalam pembelajaran. H.7 kepada anak sehingga dapat memberikan dampak pada peningkatan keterampilan anak dalam berbahasa. F. Defenisi Operasional Keterampilan berbicara adalah kebutuhan kita sebagai manusia. 4. Bagi peneliti sendiri menambah wawasan dan pengalaman dalam kegiatan pembelajaran terutama pada pembelajaran meningkatkan keterampilan berbicara anak. Bagi Taman Kanak–kanak. diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pembelajaran. maka tujuan penelitian adalah untuk peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia dini melalui becerita di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. 3.

sebagai media yang sanggup menarik perhatian semua orang dari segala usia. nilai dan sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. yaitu ilustrasi yang terdapat dalam buku cerita bergambar sangat mudah dipahami dan diingat oleh anak. maka ia akan terlatih untuk menjadi pendengar yang baik. kreatif. Dengan berbicara kita bisa menyampaikan maksud dan tujuan serta buah pikiran kita dengan cepat. . menggabungkan teks dan gambar dalam bentuk yang kreatif. afektif. Memberikan pengalaman belajar dengan menggunakan metode bercerita memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif.8 berkomunikasi. maupun psikomotor masing-masing anak. Bercerita memberikan pengalaman belajar untuk berlatih mendengarkan. Melalui mendengarkan anak memperoleh bermacam-macam informasi tentang pengetahuan. karena memiliki kelebihan. dan ritis. Cerita bergambar merupakan suatu media yang unik. Bila anak terlatih untuk mendengarkan dengan baik.

Berbahasa berarti menggunakan bahasa berdasarkan pengetahuan individu tentang adat sopan santun. Pengertian Bahasa Bahasa sebagai fungsi dari komunikasi memungkinkan dua individu atau lebih mengekspresikan berbagai ide. Menurut Bromley dalam Dhieni (2008:1. perasaan dan pengalaman.BAB II KAJIAN PUSTAKA A.11) mendefenisikan bahasa sebagai sistem simbol yang teratur untuk mentransfer berbagai ide maupun informasi yang terdiri dari simbol-simbol visual maupun verbal. Simbol-simbol visual tersebut dapat dilihat. berinteraksi dan mengindentifikakan diri. ditulis dan dibaca. 9 . Menurut Badudu dalam Dhieni (2008:1. perasaan dan keinginannya. Landasan Teori 1. Sedangkan simbol-simbol verbal dapat diucapkan dan didengar. Anak dapat memanipulasi simbol-simbol tersebut dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan berfikirnya. Bahasa a. arti. Bahasa sebagai suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer (manasuka) digunakan masyarakat dalam rangka untuk bekerja sama.11) menyatakan bahwa bahasa adalah alat penghubung atau komunikasi antara anggota masyarakat yang terdiri dari individu-individu yang menyatakan pikiran.

Bromley dalam Dhieni (2008:1. Anak menerima dan mengekspresikan bahasa dengan berbagai cara. Bahasa terdiri dari kata-kata yang digunakan oleh masyarakat beserta aturan-aturan untuk menyusun berbagai variasi dan mengkombinasikannya. Penguasaan bahasa sendiri dapat terjadi melalui dua proses. berupa kemampuan yang dipelajari. b. Kegiatan bahasa ini dialami oleh anak-anak dan orang-orang yang cukup lama dalam interaksi sosial. tertulis atau isyarat yang berdasarkan pada suatu sistem dan simbol-simbol. bahasa adalah suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi kepada orang lain dalam bentuk simbol baik dalam bahasa tertulis ataupun isyarat.10 Santrock (2007:353) memaparkan bahwa bahasa adalah bentuk komunikasi. Pemerolehan bahasa terjadi secara tidak disadari karena sebagai akibat dari komunikasi alami.19) menyebutkan empat macam bentuk bahasa yaitu menyimak. Tujuan utama dari sebuah pembelajaran bahasa adalah untuk berkomunikasi. entah itu lisan. dan bukan kemampuan yang diperoleh. membaca dan menulis. yaitu pemerolehan dan pembelajaran. Cara anak . Berbeda dengan pemerolehan bahasa. Fungsi Bahasa bagi anak Kemampuan bahasa dipelajari dan diperoleh anak usia dini secara alamiah untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan pendapat di atas. berbicara. pembelajaran bahasa mengacu pada pengumpulan pengetahuan bahasa melalui sesuatu yang disadari.

fisik dan kognitif. Hal ini dengan jelas dapat terlihat dari cara anak usia dini yang sering kali mengkomunikasikan pengetahuan.20) menyebutkan 5 macam fungsi bahasa sebagai berikut. Anda mengemukakan pendapat dan perasaan pribadi dengan cara yang berbeda dari orang lain. 5) Bahasa mengekspresikan keunikan individu.11 dalam menggunakan bahasa akan berpengaruh pada perkembangan sosial. Bahasa berperan dalam memelihara hubungan anda dengan orang sekitar anda. Bahasa juga berperan dalam membuat suatu kesimpulan tentang masa lalu. 1) Bahasa menjelaskan keinginan dan kebutuhan individu. Bahasa merupakan sistem dimana kita menambah pengetahuan yang kita akumulasikan melalui pengalaman dan belajar. emosional. 4) Bahasa membantu mempererat interaksi dengan orang lain. Bahasa berperan untuk kesuksesan sosialisasi individu. perasaan dan prilaku melalui bahasa. Anak usia dini belajar kata-kata yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan utama mereka. Bahasa digunakan untuk mengekspresikan keunikan individu. Bahasa membantu kita untuk mengetahui informasi secara lebih mendalam. Bahasa memudahkan kita untuk mengingat suatu informasi dan menghubungkannya dengan informasi yang baru diperoleh. Perkembangan bahasa awal anak seperti yang diidentifikasi oleh Haliday dalam Eriamsyah (2007:104) yaitu : . Anda dapat menjelaskan pikiran. 2) Bahasa dapat mengubah dan mengontrol prilaku. Secara simbolik bahasa menjelaskan hal yang nyata dan tidak nyata. Bahasa memudahkan kita untuk menyimpan dan menyeleksi informasi yang akan kita gunakan untuk menganalisis dan memecahkan masalah. 3) Bahasa membantu perkembangan kognitif. pemahaman dan pendapatnya denga cara mereka yang khas yang merupakan refleksi perkembangan kepribadian mereka. saat ini dan masa yang akan datang. Anak belajar bahwa mereka dapat mempengaruhi lingkungan dan mengarahkan prilaku orang dewasa dengan menggunakan bahasa. Kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam kelompok dan berpartisipasi dalam masyarakat. Bromley dalam Dhieni (2008:1.

perkembangan sintaksis atau penyusunan kalimat. Menurut Piaget dalam Musfiroh (2005:9) perkembangan bahasa anak TK masih bersifat egosentrik dan self-expressive. Untuk mengekspresikan keunikan pendapat dengan cara yang khas yang merupakan perkembangan dari kepribadian anak.12 1) Bahasa sebagai instrumen yaitu anak menggunakan bahasa untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan memperoleh sesuatu yang mereka inginkan. Perkembangan bahasa dapat dipakai sebagai tolak ukur kecerdasannya dikemudian hari. 2) Regulatory yaitu anak menggunakan bahasa untuk mengontrol tingkah laku orang lain. c. perkembangan semantik atau makna kata. 5) Heuristik yaitu anak menggunakan bahasa untuk menemukan tentang sesuatu atau memuaskan rasa ingin tahunya. Secara garis besar fungsi bahasa bagi anak adalah untuk menjelaskan keinginan dan kebutuhan individu anak. Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Anak Perkembangan bahasa anak meliputi perkembangan fonologi (yakni mengenal dan memproduksi suara). Pada . perkembangan kosa kata. 7) Informatif yaitu menkomunikasikan suatu informasi kepasda orang lain. 3) Personal yaitu anak menggunakan bahasa untuk menceritakan tentang diri mereka sendiri. dan perkembangan pragmatik atau penggunaan bahasa untuk keperluan komunikasi ( sesuai dengan norma konvensi ). 6) Imaginasi yaitu anak menggunakan bahasa untuk menganggap imajinasi menjadi kenyataan. yaitu segala sesuatu masih berorientasi pada dirinya sendiri. 4) Interaksional yaitu anak menggunakan bahasa untuk memperoleh sesuatu dari orang lain.

Perkembangan kognitif berhubungan erat dengan perkembangan bahasa karena awal perkembangan bahasa berada pada stadium sensori motorik yaitu ketika anak berusia 18 bulan. Menurut Vygotsky dalam Dhieni (2008:2. penolakannya maupun pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan.15) mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan erat denga kebudayaan dan masyarakat tempat anak dibesarkan.13 masa itu anak menguasai kemampuan bicara. Kosa kata yang diperoleh anak pada awal masuk Taman Kanak-kanak kira kira berjumlah 2000 kata. Bahasa lisan sudah dapat digunakan anak sebagai alat berkomunikasi. Hal ini berarti bahwa anak telah dapat mengungkapkan keinginanya. Perkembangan bahasa tidak terlepas dari konteks sosial dan perkembangan anak. Anak-anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase perkembangan bahasa secara ekspresif. tetapi mereka harus lebih banyak belajar sebelum mereka mencapai kemampuan bahasa orang dewasa. Aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan bahasa anak tersebut adalah sebagai berikut: . Pada tahap ini anak sudah memiliki pemahaman terhadap objek-objek tertentu.

walaupun mereka sudah dapat mengeluarkan bunyi-bunyi. Anak pada usia ini oleh para ahli dianggap belum dapat berbahasa.14 1) Kosa Kata Seiring dengan perkembangan anak dan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Tarigan dalam Masitoh (2002:36). penolakan dan pendapatnya dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang tepat. 2) Sintaksis (tata bahasa) Walaupun anak belum mempelajari tata bahasa. anak lebih dapat menggunakan bahasa lisan dengan susunan kalimat yang baik. Anak di taman kanak-kanak sudah dapat mengekspresikan keinginan. u menjadi ibu. 4) Fonem (satuan bunyi terkecil yang membedakan kata) Anak di taman kanak-kanak sudah memiliki kemampuan untuk merangkaikan bunyi yang didengarnya menjadi satu kata yang mengandung arti. 3) Semantik Semantik maksudnya penggunaan kata sesuai dengan tujuannya. Maksudnya adalah anak belum . Misalnya: i. akan tetapi melalui contohcontoh berbahasa yang didengar dan dilihat anak dilingkungannya. tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut: 1) Tahap Pralinguistik Tahap pralinguisik umumnya dialami oleh anak berusia 0-1 tahun. b. kosakata anak berkembang dengan pesat.

mendekut. a) Tahap holofrastik (tahap linguistik pertama 1-2 tahun). mendenguk. Pada tahap ini anak mulai aktif arena aspek fisik anak sudah jauh lebih baik seperti untuk mampu melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda. Tahap perkembangan pada bahasa anak usia dini yang berawal dari berkenaan dengan fonologi. b) Tahap meraban kedua (6-12) bulan. Para ahli pada tahap ini membagi ke dalam empat bagian. menjerit. Tahap ini adalah tahap di mana anak sudah mulai mengucapkan suku kata. b) Ucapan-ucapan dua kata. d) Tata bahasa menjelang dewasa. Tahap linguistik kedua ini biasanya mulai menjelang tahun ke dua. Anak sudah mulai dianggap dapat mengucapkan bahasa ucapan yang menyerupai orang dewasa. Ketiga. berkenaan dengan sintaksis bahwa anak belajar dan menerapkan secara aktif aturan-aturan yang dapat ditemukan pada tingkat sintaksis. Kedua yang berkaitan dengan morfologi bahwa pada kenyataannya anak-anak itu juga dapat mengembangkan ungkapannya lebih dari dua kata setiap kalimatnya. Pada tahap ini selama bulan-bulan awal kehidupan. Keempat berkenaan dengan semantic. Pada tahap ini anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa yang rumit. hal ini bergantung pada perkembangan-perkembangan sebelumnya yang dialami anak. a) Tahap meraban pertama (0-6) bulan. bahwa begitu . 2) Tahap Linguistik Tahap linguistik umumnya dialami anak mulai umur 15 tahun. dan tertawa. bayi dengan menangis. Perkembangan bahasa pada tahap ini bervariasi. c) Pengembangan tata bahasa (2.5-5 tahun). Komunikasi yang ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. beberapa anak memiliki kesulitan dalam mengucapkan kelompok konsonan.15 dapat mengucapkan “bahasa ucapan” seperti ucapan oleh orang dewasa. Tahap perkembangan bahasa anak yang ke empat ini biasaya dialami oleh anak yang sudah berumur antara 5-10 tahun.

Dalam Tarigan (1981:15) mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspesikan. Menurut Suhartono (2005: 23) yang dimaksud dengan bicara anak adalah suatu penyampaian maksud tertentu dengan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa supaya bunyi tersebut dapat dipahami oleh orang yang ada dan mendengar disekitarnya. gagasan dan perasaan. sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain. Berbicara a. Pengertian berbicara Secara umum berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian ide. karena berbicara merupakan bentuk komunikasi yang paling epektif. gagasan atau isi hati kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan. menyatakan serta menyampaikan pikiran. pikiran. anak-anak sudah mulai mampu mengembangkan pengetahuan tentang makna dengan cepatnya. . Senada dengan pendapat di atas. 2.16 sudah mampu menggunakan kalimat lebih dari kata. Hurlock (1978: 176) menyatakan bahwa “berbicara adalah suatu bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud. penggunaannya paling luas dan penting.

Sedangkan Tarigan (1981: 15) mengemukakan bahwa keterampilan berbicara merupakan kemampuan dalam mengucapkan bunyi-bunyi menyatakan. dan perasaan.17 Berdasarkan beberapa pengertian di atas mengenai pengertian berbicara. artikulasi dari kata-kata pikiran. sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang-orang yang berada disekitar anak. maka yang dimaksud dengan keterampilan berbicara anak adalah kemampuan anak dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan. maka yang dimaksud dengan keterampilan berbicara anak adalah kemampuan anak dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan. gagasan dan perasaan yang digunakan untuk menyampaikan maksud tertentu pada orang lain. gagasan dan perasaan yang digunakan untuk menyampaikan maksud tertentu pada orang lain. menyampaikan Berdasarkan beberapa pengertian di atas mengenai pengertian berbicara. mengekspresikan. menyatakan serta menyampaikan pikiran. sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang-orang yang berada disekitar anak. b. menyatakan serta menyampaikan pikiran. . Keterampilan berbicara Menurut Suhartono (2005: 23) yang dimaksud dengan bicara anak adalah suatu penyampaian maksud tertentu dengan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa supaya bunyi tersebut dapat dipahami oleh orang yang ada dan mendengar disekitarnya. untuk gagasan.

pada tahap ini anak mencoba berbicara secara eksternal.18 c. Merupakan suatu tahapan yang terjadi ketika semua sumber berpikir anak berasal dari luar diri anak. yaitu: 1) Tahap Eksternal.7) mengemukakan bahwa terdapat tiga tahapan perkembangan bicara anak yang berkaitan erat dengan perkembangan berpikir anak. ia sudah mulai bisa berbicara sesuai dengan keinginannya sendiri. Vygotsky dalam Dhieni (2005: 3. 2) Tahap egosentris. informasi kepada anak. yaitu tahap penamaan. Pateda dalam Suhartono (2005: 49) menjelaskan tahapan perkembangan awal ujaran anak. tahap telegrafis dan tahap transformasional. ia sudah mulai bisa menghayati sepenuhnya proses berpikirnya. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak tergantung lagi dengan orang dewasa. Ke tiga tahap ujaran anak tersebut sebelum anak sekolah dapat diuraikan sebagai berikut: . Biasanya pada tahap ini sumbernya sebagian besar diperoleh dari orang dewasa yang memberikan pengarahan. Tahap-tahap perkembangan berbicara Bicara merupakan kemampuan penting dalam berkomunikasi. Dalam tahapan ini anak sudah bisa memproses pikirannya sendiri. 3) Tahap internal.

menghibur. Anak mungkin saja mampu mengucapkan kata tersebut tetapi tidak mampu mengenal kata itu.19 1) Tahap Penamaan Pada tahap penamaan. menyanggah dan menginformasikan sesuatu. Biasanya tahap ini dialami pada anak yang berusia sekitar lima tahun. Misalnya. Tujuan keterampilan berbicara Menurut Tarigan (1981:15) tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. karena adanya proses peniruan bunyi yang pernah didengarnya (dari ibunya sendiri atau kakak-kakaknya atau anggota keluarga. Pengucapan kata “mama” atau “papa”. anak mengucapkan kata “mama” atau “papa”. melaporkan. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif. 3) Tahap Transformasional Anak sudah mulai memberanikan diri untuk bertanya. Di sini anak sudah mulai berani mentransformasikan idenya kepada orang lain dalam bentuk kalimat yang beragam. memberitahukan. 2) Tahap Telegrafis Menurut Steinbergh dalam Suhartono (2005: 51). menyuruh. Urutan bunyi yang diucapkan biasanya terbatas dalam satu kata. pada tahap ini anak sudah mulai dapat menyampaikan pesan yang diinginkannya dalam bentuk urutan bunyi yang berwujud dua atau tiga kata. membujuk dan . d. anak baru mulai mampu mengucapkan urutan bunyi kata tertentu dan belum mampu untuk memaknai.

2) Anak yang pandai berbicara akan memperoleh perhatian dari orang lain atau menjadi pusat perhatian. (2) kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang lain. (3) pilihan kata. Menurut Hurlock dalam Musfiroh (2005:102) kemampuan berbicara anak sangat mempengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi anak. pandangan. (4) ketepatan sasaran pembicaraan. Aspek non kebahasaan meliputi (1) sikap tubuh. (3) kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara. bahasa tubuh dan mimik yang tepat. terutama setelah mendengar komentar orang tentang dirinya. (2) penempatan tekanan nada. (4) relevansi. sendi dan durasi sesuai. Aspek kebahasaan dalam Dhieni (2008:3.6). Memacu kemampuan anak berbicara merupakan sesuatu yang penting. Ada beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran kemampuan berbicara seseorang yang terdiri dari aspek kebahasaan dan non kebahasaan. 3) Anak yang pandai berbicara akan mampu membina hubungan dengan orang lain dan dapat memerankan kepemimpinannya dari pada anak yang tidak pandai berbicara. penalaran dan penguasaan terhadap topik tertentu. . 4) Anak yang pandai berbicara akan memperoleh penilaian baik. Meliputi faktor-faktor sebagai berikut : (1) ketepatan ucapan. kaitannya dengan isi dan cara berbicara. 5) Anak yang pandai berbicara akan memiliki kepercayaan diri dan penilaian diri yang positif. 6) Ajak yang pandai berbicara biasanya memiliki kemampuan akademis yang lebih baik.20 meyakinkan seseorang. yaitu : 1) Anak yang pandai bicara akan memperoleh pemuasan kebutuhan dan keinginan.

. papa. menggunakan bahasa yang baik untuk mendapatkan informasi dan untuk komunikasi yang efektif dan interaksi sosial dengan orang lain. Tujuan pengembangan kemampuan berbicara dilakukan agar anak dapat berbicara dengan penuh percaya diri. minum dan sebagainya. Berbicara bukan hanya sekedar pengucapan bunyi – bunyi atau kata – kata. 8) Anak yang pandai berbicara cendrung pandai mempengaruhi dan meyakinkan teman sebayanya. Hal ini mendukung posisi anak sebagai pemimpin.21 7) Anak yang pandai berbicara lebih mampu memberikan komentar positif dan menyampaikan hal – hal yang baik kepada lawan bicara. Misalnya seorang anak menangis.kata yang didengar dari orang tua atau lingkungan sekitarnya . Menurut Dickinson dalam Seefeldt (2008:354) untuk belajar bahasa anak memerlukan kesempatan untk bicara dan didengarkan. mengoceh. makan. e. seperti kata mama. Dialog efektif antara orang dewasa dan anak termasuk orang dewasa yang mendengarkan ketika anak itu berbicara. Tahap-tahap perkembangan bicara Anak Sebelum mampu berbicara umumnya seorang anak memiliki perilaku untuk mengeluarkan suara-suara yang bersifat sederhana kemudian berkembang secara kompleks dan mengandung arti. kemudian dia akan mampu menirukan kata. mengajukan pertanyaan yang mendorong anak itu bicara lebih banyak.

Perkembangan semantik terjadi dengan kecepatan yang lebih lambat dan lama dibandingkan perkembangan anak dalam memahami fonologi. Dalam Dhieni (2008:3. dimana anak berbicara kepada dirinya sendiri (monolog). yang dihasilkan sejak bayi lahir hingga satu tahun.22 Sekalipun terdapat perbedaan kecepatan dalam berbahasa pada anak. 4) Semantik berkaitan dengan kemampuan anak membedakan berbagai arti kata. Bagian terkecil dari sistem bunyi tersebut dikenal dengan istilah fonem. terjadi ketika anak berinteraksi dengan temannya ataupun lingkungannya. Bagian terkecil dari arti bahasa tersebut dikenal dengan istilah morfem. namun komponen-komponen dalam bahasa tidak berubah.6) komponen tersebut terdiri dari : 1) Perkembangan fonologi berkenaan dengan adanya pertumbuhan dan produksi sistem bunyi dalam bahasa. Seseorang dapat dikatakan memiliki kompetensi berkomunikasi ketika ia telah memahami penggunaan bahasa tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Perkembangan sintaksis merupakan produksi kata-kata yang bermakna sesuai dengan aturan yang menghasilkan pemikiran dan kalimat yang utuh. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan kemampuan adaptasi sosial anak. morfologi maupun sintaksis. 5) Pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam mengekspresikan minat dan maksud seseorang untuk mencapai tujuan yang diharapkan. yaitu ketika anak menggunakan kata benda. 2) Socialized speech. terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun. kata sifat maupun kata keterangan. Berkenaan dengan hal tersebut.6) ada dua tipe perkembangan berbicara anak : 1) Egosentric speech. Perkembangan anak dalam hal ini sangat berperan dalam mengembangkan kemampuan berpikirnya. Perkembangan semantik bermula saat anak berusia 9-12 bulan. terdapat 5 bentuk socialized speech yaitu (1) saling tukar informasi untuk tujuan . 2) Perkembangan morfologi berkenaan dengan pertumbuhan dan produksi arti bahasa. 3) Sintaksis berkenaan dengan aturan bahasa meliputi keteraturan dan fungsi kata. Menurut Hildayani (2005:11.

Serta sikap tubuh. . khususnya dalam kelompoknya. yang melibatkan 4 faktor yang mempengaruhinya. Anak pada umumnya terampil dalam berbahasa. gangguan serta kesulitan yang pemecahannya kadang-kadang memerlukan bantuan orang lain. mimik yang tepat. dan durasi yang sesuai dengan pelihan kata dan ketepatan sasaran pembicaraan. pandangan.23 bersama. (4) pertanyaan dan (5) jawaban. yaitu : 1) Berbedanya cara bagaimana si anak mempelajari bahasa tersebut. Sebagian besar dari mereka senang berbicara. ancaman. penempatan tekanan kata. Masalah . permintaan. Menurut Petty dalam Hildayani (2005:11. Hambatan-hambatan dalam keterampilan berbicara anak Setiap orang yang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan (termasuk anak TK) mengalami berbagai hambatan. (2) penilaian terhadap ucapat atau tingkah laku orang lain. (3) perintah. Beberapa faktor yang dapat dijadikan ukuran berbicara seseorang antara lain: ketepatan ucapan.masalah yang tidak terentaskan secara tepat bisa menimbulkan hambatan dan masalah pada anak dimasa sekarang. maupun setelah anak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.11) perkembangan bahasa merupakan suatu proses yang kompleks. nada. f. kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara dan penalaran serta penguasaan terhadap topik tertentu. Mereka juga perlu dilatih untuk menjadi pendengar yang baik.

setting sosial atau lingkungan budaya. Rasa grogi dan gugup dapat muncul karena keidaksiapan dengan bahan pembicaraan. kondisi ekonomi. Rasa grogi dan gugup biasa dialami oleh sebagian orang pada saat berbicara. 3) Berbedanya karakteristik kepribadian anak.24 2) Berbedanya jenis bahasa yang dipelajari anak. yaitu kecerdasan. 2) Rasa grogi. . lingkungan keluarga. terlebih berbicara di depan umum. terdapat perbedaan individual yang dapat mendukung dan menghambat perkembangan bahasa seseorang. kalau dia mempunyai rasa percaya diri dan sebuah ide yang mendidih dan membara di dalam dirinya. 4) Berbedanya lingkungan tempat proses pembelajaran tersebut. Menurut Aminah (2006:19) hambatan-hambatan yang ditemui ketika seseorang akan berbicara adalah sebagai berikut. kondisi fisik. Dalam hubungannya dengan karakteristik kepribadian anak. 1) Keberanian. gugup. Hambatan berbicara dapat diatasi dengan adanya pemaksaan dan pelatihan yang dilakukan terus menerus. Cara mengembangkan rasa percaya diri adalah dengan mengerjakan hal yang kita takutkan dan memperoleh satu catatan dari pengalaman orangorang yang sukses. bilingualism ( penggunaan 2 bahasa). jenis kelamin. percaya diri Dale Carnagie menyatakan bahwa hampir semua orang mampu berbicara dengan cara yang dapat diterima oleh publik.

lutut gemetar atau sulit berdiri dengan tenang di muka pendengar. Namun apabila guru dapat secara tepat memilih topik pembicaraan sesuai dengan tingkat kemampuan anak. b) Gejala mental. Faktor lain yang penting dalam menghidupkan kegiatan berbicara ialah keberanian anak dan perasaan tidak takut salah. Kegiatan berbicara sebenarnya merupakan kegiatan yang menarik didalam kelas. suara yang bergemetar. Gejala ini timbul seperti tidak menyadari mengulang kata. suasana menjadi kaku dan akhirnya macet. tidak merangsang partisipasi siswa. atau perasaan seperti akan pingsan. dan mata berair atau hidung berlendir.25 3) Gejala-gejala tertekan a) Gejala fisik ditunjukan seperti detak jantung yang semakin cepat. Oleh karena itu guru harus dapat memberikan dorongan kepada anak agar berani .model pengajaran berbicara yang banyak sekali variasinya. kegiatan berbicara sering tidak manarik. dan memiliki kreativitas dalam mengembangkan model . gelombang hawa panas. kesulitan untuk bernafas. Ini mungkin terjadi karena penguasaan kosa kata dan pola kalimat oleh anak yang masih sangat terbatas. Akan tetapi sering terjadi sebaliknya. kalimat atau pesan. tentu kemacetan tidak akan terjadi. dan ketidakmampuan mengingat isi pembicaraan dan melupakan hal-hal penting.

sejak lahir hingga dewasa pikiran anak terus berkembang melalui jenjang-jenjang berpriode sesuai dengan tingkatan kematangan anak itu secara keseluruhan dengan interaksi-interaksinya dengan lingkungannya. Metode bercerita Bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang harus disampaikan dalam bentuk pesan.5). Metode bercerita a. dilaksanakan memperkenalkan. Metode bercerita adalah cara penyampaian atau penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dari guru kepada anak didik Taman Kanak-kanak. Kepada anak hendaknya ditekankan bahwa takut salah adalah kesalahan yang paling besar. informasi atau hanya sebuah dongeng yang untuk didengarkan dengan rasa menyenangkan. metode bercerita Dalam pelaksanaan dalam kegiatan upaya pembelajaran. oleh karena itu orang menyajikan cerita tersebut menyampaikannya dengan menarik.26 berbicara kendati dengan resiko salah. menurut Moeslichatoen (2004:158) yaitu : . memberikan keterangan atau penjelasan tentang hal baru dalam rangka menyampaikan pembelajaran kepada anak. Menurut Piaget dalam Dhieni (2008:6. 3. Ada beberapa macam teknik bercerita.

Dengan kata lain cerita dapat mendorong anak untuk senang bercerita atau berbicara. Persiapan yang dilakukan antara lain penguasaan isi cerita serta keterampilan menceritakan. maka diperlukan persiapan dan latihan. Tujuan bercerita bagi anak usia 4-6 tahun adalah agar anak mampu mendengarkan dengan seksama terhadap apa yang . Anak akan belajar bagaimana bunyi – bunyian yang bermakna diujarkan dengan benar. Dan juga harus diperhatikan dalam pemilihan tema cerita yang baik dan cocok dengan kehidupan sehari – hari anak. untuk itu diperlukan latihan dalam irama modulasi suara secara terus menerus dan intensif agar dapat menarik perhatian anak. semantik dan pragmatik. sama dengan melakukan serangkaian kegiatan fonologis. 5) Bermain peran dalam suatu cerita. bagaimana kata – kata disusun secara logis dan mudah dipahami. 2) Bercerita denga menggunakan ilustrasi gambar dari buku. 3) Menggunakan papan flanel. b. Mendengar cerita yang bagus bagi anak. Untuk dapat menerapkan metode bercerita dengan baik. Tujuan bercerita Cerita yang bagus tidak hanya sekedar menghibur tapi juga sekaligus mendidik dan merangsang berkembangnya komponen kecerdasan anak. sintaksis.27 1) Membaca langsung dari buku cerita. 4) Menggunakan boneka.

Menurut Tampubolon dalam Dhieni (2008:6.7) bahasa berpengaruh besar pada perkembangan pikiran anak. Burner dalam Dhieni (2008:6. Dalam kegiatan bercerita anak dibimbing untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan cerita yang bertujuan untuk memberikan informasi atau menanamkan nilai sosial. Mendidik anak melalui cerita memberikan efek pemuasan terhadap kebutuhan akan imajinasi dan fantasi. Anak dapat bertanya apabila tidak memahaminya. oleh karena itu memberikan pelajaran dan nasihat melalui cerita adalah cara mendidik yang bijak dan cerdas.28 disampaikan orang lain. Karena menurut Jerome S.7). selanjutnya anakdapat menceritakan dan mengekspresikan terhadap apa yang didengarkan dan diceritakannya sehingga hikmah dari isi cerita dapat dipahami dan lambat laun didengarkan. Dengan demikian. dilaksanakan dan diceritakannya pada orang lain. Fungsi dan manfaat bercerita Menyimak cerita bagi anak adalah aktivitas yang mengasyikkan. Dengan bercerita pendengaran anak dapat . diperhatikan. pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan sosial. fungsi kegiatan bercerita bagi anak usia 4-6 tahun adalah membantu perkembangan bahasa anak. moral dan keagamaan. bercerita kepada anak memainkan peranan penting bukan saja dalam menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca. tapi juga dalam mengembangkan bahasa dan pikiran anak. anak dapat menjawab pertanyaan. c.

d. 2) Waktu tersedia dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efesien. 4) Guru dapat menguasai kelas dengan mudah. 3) Daya serap atau daya tangkap anak didik berbeda dan masih lemah sehingga sukar memahami tujuan isi pokok cerita tersebut. 5) Secara relatif tidak banyak memerlukan biaya. Kelebihannya antara lain : 1) Dapat menjangkau jumlah anak yang relatif lebih banyak. 2) Kurang merangsang perkembangan kreativitas dan kemampuan siswa untuk mengutarakan pendapatnya. Kelebihan dan kekurangan metode bercerita Bentuk penyajian proses pembelajaran di Taman Kanak-kanak adalah terpadu antara Bidang Pengembangan satu dengan yang lainnya. dengan menambah perbendaharaan kosa kata. karena lebih banyak mendengarkan atau menerima penjelasan dari guru. melatih merangkai kalimat sesuai dengan tahap perkembangannya. Dan setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. 3) Pengaturan kelas menjadi lebih sederhana. .29 difungsikan dengan baik untuk membantu kemampuan berbicara. Kekurangannya antara lain : 1) Anak didik menjadi pasif. kemampuan mengucapkan kata-kata.

Buku bergambar dapat memotivasi anak-anak untuk belajar. anak akan terbantu dalam proses memahami dan memperkaya pengalaman dari cerita. namun juga materi penting yang memiliki fungsi yang cukup kompleks. Persiapan yang dilakukan antara lain penguasaan isi cerita serta keterampilan menceritakan isi cerita. maka diperlukan persiapan dan latihan. Kedua elemen ini bekerjasama untuk menghasilkan cerita dengan ilustrasi . Dan juga harus diperhatikan dalam pemilihan tema cerita yang baik dan cocok dengan kehidupan sehari – hari anak. 4. Yang harus disadari dalam penerapan metode bercerita adalah bahwa cerita bukanlah materi pengisi waktu luang. Untuk dapat menerapkan metode bercerita dengan baik sehingga segala kekurangan dalam metode bercerita dapat diminimalkan. maka untuk itu diperlukan latihan dalam irama modulasi suara secara terus menerus dan intensif agar dapat menarik perhatian anak. Dengan buku bergambar. Pengertian media cerita bergambar Buku bergambar adalah buku cerita yang disajikan dengan menggunakan teks dan ilustrasi atau gambar. Media cerita bergambar a. Menurut Stewing dalam Abu (2002:2) buku cerita bergambar adalah suatu buku yang menjajarkan cerita dengan gambar.30 4) Cepat menumbuhkan rasa bosan terutama apabila penyajiannya tidak menarik.

31

dan gambar. Selain ceritanya secara verbal harus menarik, buku harus mengandung gambar sehingga mempengaruhi minat siswa untuk membaca cerita. Oleh karena itu gambar dalam cerita anakanak harus hidup dan komunikatif. William Joyce dalam Hong (2008:152) mengatakan bahwa gambar selalu berinteraksi isi cerita dengan 50% tulisan begitupun sehingga gambar tulisan dapat

menyampaikan

menyampaikan isi cerita 50% juga sehingga buku cerita bergambar adalah bahasa visual. Machei Datasi dalam Hong (2008:149) mendefinisikan bahwa buku cerita bergambar adalah buku yang dibaca oleh orang dewasa kepada anak dan bukan yang dibaca sendiri oleh anak. Dalam dunia buku cerita bergambar, anak dapat melihat gambar dengan matanya sambil mendengarkan dengan telinganya sehingga akan memberikan pengalaman yang penuh dengan imajinasi dan khayalan yang luas dan dalam. Orang dewasa membaca buku cerita bergambar hanya dengan sekilas mata, namun bagi anak membaca buku cerita bergambar sangat dalam karena anak dapat terlibat didalamnya dan akhirnya anak akan menjadi satu kesatuan dengan buku cerita bergambar. Hong (2008:150) mengatakan bahwa pada saat anak membaca buku cerita bergambar sendiri, maka akan ada penyekat waktu sehingga tidak dapat menjadi satu kesatuan dalam cerita, tetapi

32

berbeda dengan kalau anak hanya mendengarkan cerita dengan telinganya dari yang dibacakan oleh orang, maka anak akan menjadi satu kesatuan dalam buku cerita bergambar. Biasanya orang tua atau guru hanya membaca tulisan yang tertera dalam buku cerita bergambar dan anak biasanya hanya melihat gambar dalam buku. Pembaca harus dapat mulai membaca gambar tidak hanya membaca tulisan saja karena gambar merupakan karya seni yang nyata bagi anak. Dari gambar yang dilihat oleh anak secara perlahan akan menumbuhkan rasa cinta terhadap seni. Yonagida dalam Hong (2008:154) menekankan bahwa buku cerita bergambar dalam kehidupan manusia dibaca tiga kali yaitu pada saat anak masih kecil, orang dewasa, dan orang yang sudah tua. jadi intinya adalah buku cerita bergambar tidak hanya diperuntukan bagi anak saja. Cerita bergambar merupakan sebuah kesatuan cerita disertai dengan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias dan pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi cerita tersebut. Menurut wikipedia the free encylopedia dalam Ardianto (2007: 6) cerita bergambar adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambar-gambar tidak bergerak yang disusun

sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Gambar adalah suatu bentuk ekspresi komunikasi universal yang dikenal khayalak luas. Melalui cerita bergambar diharapkan pembaca dapat dengan

33

mudah menerima informasi dan diskripsi cerita yang hendak disampaikan. b. Teknik Bercerita dengan Alat Peraga Buku Bergambar Bercerita dengan alat peraga buku bergambar dikategorikan sebagai reading aloud (membaca nyaring). Bercerita dengan media buku bergambar dipilih apabila guru memiliki keterbatasan

pengalaman (guru belum berpengalaman bercerita), guru memiliki kekhawatiran kehilangan detail cerita, dan memiliki keterbatasan sarana cerita, serta takut salah berbahasa. Priyono dalam Musfiroh (2005: 142) menyatakan teknik-teknik membacakan cerita dengan alat peraga buku cerita bergambar adalah sebagai berikut : 1) Pencerita sebaiknya membaca terlebih dahulu buku yang hendak dibacakan didepan anak. 2) Pencerita tidak terpaku pada buku, sebaiknya guru menperhatikan reaksi anak saat membacakan buku tersebut. 3) Pencerita membacakan cerita dengan lambat (slowly) dengan kalimat ujaran yang lebih dramatik daripada urutan biasa. 4) Pada bagian-bagian tertentu, pencerita berhenti sejenak untuk memberikan komentar, atau meminta anak-anak memberikan komentar mereka. 5) Pencerita memperhatikan semua anak dan berusaha untuk menjalin kontak mata. 6) Pencerita sebaiknya sering berhenti untuk menunjukan gambargambar dalam buku, dan pastikan semua anak dapat melihat gambar tersebut. 7) Pastikan bahwa jari selalu siap dalam posisi untuk membuka halaman selanjutnya. Anak-anak yang kreatif mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, mereka akan selalu bertanya-tanya khususnya tentang kelanjutan cerita yang dibacakan guru 8) Pencerita sebaiknya malakukan pembacaan sesuai rentang atensi anak dan tidak bercerita lebih dari 10 menit (Wright dalam Musfiroh, 2005: 143). Hal ini bertujuan agar anak tidak bosan terhadap cerita yang disampaikan oleh peneliti.

Dengan guru memahami tema dan makna dari cerita yang disajikan kepada anak. c. sintaksis. seperti judul buku dan pengarang supaya anak-anak belajar menghargai karya orang lain. 12) Pencerita melibatkan anak dalam cerita supaya terjalin komunikasi multiarah. semantik dan pragmatik. 13) Pencerita tetap bercerita pada saat tangan membuka halaman buku. dengan sendirinya kosa kata anak menjadi bertambah. 11) Pencerita memposisikan tempat duduk ditengah agar anak bisa melihat dari berbagai arah sehingga anak dapat melihat gambar secara keseluruhan.34 9) Pecerita sebaiknya memegang buku disamping kiri bahu bersikap tegak lurus kedepan. arah perhatian disesuaikan dengan urutan cerita. 14) Pencerita sebaiknya menyebutkan identitas buku. Selain menyimak cerita. Manfaat Metode Bercerita Untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bagi Anak Cerita yang bagus tidak sekedar menghibur tapi juga mendidik sekaligus merangsang berkembangnya komponen kecerdasan linguistik yang paling penting yakni kemampuan menggunakan bahasa untuk mencapai sasaran praktis. 10) Saat tangan kanan pencerita menunjukan gambar. Mendengar cerita yang bagus bagi anak sama artinya dengan melakukan serangkaian kegiatan fonologis. anak belajar bagaimana bunyi-bunyian yang bermakna diujarkan . Kosa kata tersebut yang akan mendorong anak untuk mengembangakan imajinasi dalam cerita yang dibuat oleh anak itu sendiri berdasarkan cerita yang disajikan oleh guru sehingga mendorong anak untuk menceritakan kembali cerita yang didengarnya menurut versinya sendiri.

Cerita mendorong anak bukan saja senang menyimak cerita tetapi juga senang bercerita atau berbicara. menuangkan kembali gagasan yang didengarkannya dengan gayanya sendiri. dalam penelitian tindakan kelas yang berjudul “Meningkatkan keterampilan berbicara anak usia dini melalui cerita bergambar di TK Aisyiyah Malalo” menemukan peningkatan keterampilan berbicara anak melalui cerita bergambar.35 dengan benar. Cerita membuat anak menyadari arti pentingnya berdialog dan menuangkan gagasan melalui kata-kata yang baik. 2010. B. Disini anak belajar berbicara. Belajar bagi anak usia TK lebih menarik bila menggunakan alat peraga. . Penelitian yang Relevan Marnilis. Anak menyusun kata-kata menjadi kalimat dan menyampaikannya dengan segenap kemampuaannya. bagaimana kata-kata disusun secara logis dan mudah dipahami. C. Kemampuan verbal anak lebih terstimulasi secara efektif pada saat guru melakukan semacam tes pada anak untuk menceritakan kembali isi cerita. Kerangka Konseptual Untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak usia dini yang dilakukan melalui metode bercerita melalui cerita bergambar. dengan menggunakan buku cerita bergambar didalam belajar akan memberikan motivasi dan nuansa baru bagi anak.

D. TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang 2011/2012.36 Bagan 1 Skema Kerangka Berpikir Keterampilan berbicara anak rendah Metode : bercerita Alat yang digunakan : Buku cerita bergambar Anak Kelompok B1 Keterampilan berbicara anak meningkat. Hipotesis Tindakan Melalui cerita bergambar dapat meningkatkan keterampilan berbicara pada anak didik kelompok B. .

Tindakan. Kelas adalah sekelompok anak dalam waktu yang sama. 3. sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan. mengamati dan merefleksikan tindakan melalui beberapa siklus secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu proses pembelajaran dikelasnya.37 BAB III RANCANGAN PENELITIAN C. kegiatan mencermati suatu objek. 2. Penelitian tindakan kelas ini pada hakikatnya adalah untuk meningkatkan mutu. menerima pelajaran yang sama dari seorang guru. dengan melaksanakan 37 . menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Menurut Kunandar (2010:46) PTK adalah: PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan guru dikelas sendiri dengan jalan merancang. Penelitian tindakan kelas yang selanjutnya disebut dengan PTK. Menurut Suharsimi ( 2006:91 ) berdasarkan rangkaian ketiga kata tersebut dapat dijelaskan tiga pengertian. melaksanakan. yaitu : 1. Jenis Penelitian Berdasarkan rencana penelitian. Penelitian. maka peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). proses dan hasil pembelajaran dikelas.

Menurut Mahyuddin (2008: 69) proses penelitian tindakan adalah: Proses daur ulang atau siklus yang dimulai dari aspek mengembangkan perencanaan tindakan. dilaksanakan dan di evaluasi. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan oleh seorang guru atau kolaborasi dengan guru lain melibat anaknya sendiri dengan tujuan memperbaiki kinerja guru sehingga tercapai tujuan pembelajaran. . sehingga guru memperoleh umpan balik yang sistematis. peneliti mengamati masih banyaknya anak yang takut atau malu saat diminta berbicara didepan guru dan teman-temannya ataupun didepan kelas. dan kesuksesan hasil yang diperoleh. perenungan terhadap perencanaan. Sesuai dengan prinsip umum Penelitian kelas setiap tahap dan siklus selalu kolaborasi antara peneliti dengan praktisi (guru dan anak) dalam proses pembelajaran. Prosedur Penelitian 1. D. guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul dikelasnya sendiri. E. Penelitian Tindakan Kelas dilakukan melaui tindakan yang direncanakan. kegiatan tindakan. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah anak kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang Tahun Ajaran 2011/2012 dengan jumah anak 18 orang terdiri dari 10 anak perempuan dan 8 anak laki-laki. pengamatan. Kondisi awal Selama mengajar di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang Tahun Ajaran 2011/2012.38 tahapan – tahapan penelitian tindakan kelas.

peneliti langsung menjadi peneliti dan bekerja sama dengan teman sejawat dalam melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran berlangsung. menurut Kunandar ( 2010:71 ) penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses yang dinamis dan komplementari yang terdiri dari empat “momentum” esensial yaitu : a. Siklus akan terus dilanjutkan dengan siklus berikutnya sampai masalah terpecahkan. Tindakan ( Acting ) c. Siklus I Siklus merupakan ciri khas penelitian tindakan kelas. Refleksi ( Reflecting ) Penelitian yang dilakukan ini terdiri dari beberapa siklus. Perencanaan ( Planing ) b. Perlakuan pada setiap siklus harus berbeda dari siklus sebelumnya. Dalam penelitian ini.39 2. Sebaiknya siklus berikutnya didasarkan pada hasil siklus sebelumnya. Observasi ( Observing ) d. .

a. peneliti mengamati banyaknya anak yang berdiam diri ketika guru meminta anak untuk mau bercerita .40 Bagan 1 Siklus Kondisi awal Hasil dan laporan Keterangan: P1: Perencanaan siklus 1 P2: Perencanaan siklus 2 T. Kondisi awal Selama mengajar di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang Tahun Ajaran 2011/2012. peneliti langsung menjadi peneliti dan bekerja sama dengan teman sejawat dalam melakukan penelitian terhadap proses pembelajaran berlangsung. Tindakan O: Observasi R: Refleksi Dalam penelitian ini.

2) Guru menyiapkan media pembelajaran dan buku . kegiatan tindakan. pengamatan. Kegiatan perencanaan Perencanaan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah : 1) Membuat rencana pembelajaran berupa Rencana Kegiatan Mingguan (RKM) dan Rencana Kegiatan Harian ( SKH ) yang berhubungan dengan peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia dini. lembaran wawancara dan dokumentasi. 5) Membuat dan menyiapkan format penilaian awal dan akhir yang akan dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak. Siklus 1 a. 3) Guru menerangkan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan bersama anak. b. perenungan terhadap perencanaan.41 tentang pengalamannya. . 4) Menyiapakan lembaran observasi. Menurut Mahyiddin (2008: 69) proses penelitian tindakan adalah: Proses daur ulang atau siklus yang dimulai dari aspek mengembangkan perencanaan tindakan. dan kesuksesan hasil yang diperoleh. dikarenakan kemampuan dan penguasaan kosa kata anak yang masih minim. Sesuai dengan prinsip umum Penelitian kelas setiap tahap dan siklus selalu kolaborasi antara peneliti dengan praktisi (guru dan anak) dalam prses pembelajaran.buku cerita yang akan diberikan kepada anak.

Pelaksanaan tindakan terdiri dari tiga bagian utama yaitu kegiatan awal. . c) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. Tindakan Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan menilai kemampuan anak menunjukkan perbuatan yang benar dan salah sesuai dengan satuan kegiatan harian yang telah disusun. dan kegiatan akhir. Pertemuan pertama Pertemuan pertama terdiri dari tiga bagian yaitu kegiatan awal. b) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau bu guru akan bercerita. kegiatan inti. c) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut.42 b. 2) Kegiatan inti ± 60 menit a) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. Untuk lebih jelas akan dikemukan sebagai berikut ini: a. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Untuk lebih jelas dikemukan sebagai berikut ini: 1) Kegiatan awal ± 30 menit a) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. kegiatan inti dan kegiatan akhir. b) Apersepsi.

b. Kemudian peneliti menyebutkan nama tokohtokoh yang ada dalam cerita. f) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. peneliti melakukan review kegiatan anak selama proses kegiatan tanya bercerita dan berlangsung. b) Diskusi kegiatan hari ini dan informasi untuk kegiatan pembelajaran besok. Peneliti melakukan jawab mengobservasi kreativitas anak yang dibantu kepala sekolah dan guru kelas.43 d) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. kegiatan inti dan kegiatan akhir. h) Di akhir kegiatan peneliti ini. 3) Kegiatan akhir ± 30 menit a) Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. Untuk lebih jelasnya dikemukan sebagai berikut ini: . Pertemuan kedua Pertemuan kedua juga terdiri dari tiga bagian yaitu kegiatan awal. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. untuk evaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. e) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar. g) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita.

Pertama kali guru memperkenalkan tema hari kepada anak. e. c. Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan.44 1. c. dan bervariasi. b. Apersepsi. d. . Guru mempersilahkan anak untuk berceritakan kembali cerita. b. Guru mulai bercerita. 2. dengan intonasi yang baik. Kegiatan inti ± 60 menit a. tepuk tangan kepada anak yang berhasil dan bagi anak yang berani untuk maju bercerita. sedangkan yang belum mau diberikan bimbingan dan motivasi. Kegiatan awal ± 30 menit a. Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. Guru memperlihatkan cerita bergambarnya dan memberikan kesempatan kepada anak untuk memberi tahu judul cerita tersebut. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Guru memberikan penghargaan dengan pujian.

b. b. c. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. Apersepsi. dan bertanya tentang cerita yang kemaren yang sudah diceritakan guru. tentang cerita yang telah diceritakan guru. 2.45 3. kesimpulan dan makna cerita. Kegiatan akhir ± 30 menit a. Kegiatan inti ± 60 menit a. Mengucapkan syukur ”Hamdallah” dan informasi besok. . Guru memperkenalkan sebuah cerita kepada anak. Kegiatan awal ± 30 menit a. c. sehingga anak mampu . c. Pertemuan ketiga Pertemuan ketiga juga terdiri dari tiga bagian yaitu kegiatan awal. Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. Guru menyimpulkan cerita dan makna dari cerita. Guru berdiskusi bersama anaka dengan mengadakan tanya jawab kepada anak. kegiatan inti dan kegiatan akhir. Untuk lebih jelasnya dikemukan sebagai berikut ini: 1.

Guru mempersilahkan anak untuk menceritakan kembali cerita yang sudah didengarkan anak f. cerita baru.46 b. dengan gaya baru. Guru memberikan kesempatan kembali kepada anak untuk mnceritakan kembali isi cerita yang telah diceritakan oleh guru pada pertemuan sebelumnya. baik secara individu maupun secara berkelompok. Guru menyimpulkan cerita dan makna dari cerita. e. Observasi Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati aktifitas dan perilaku anak dalam proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Guru memberikan penghargaan kepada anak yang maju kedepan untuk bercerita. keaktifan anak. Mengucapkan syukur ”Hamdallah” dan informasi besok. 3. . Guru memberikan apresiasi dengan tepuk tangan dan pujian kepada anak yang berani maju untuk bercerita. guru dan kolaborator memantau proses pembelajaran seperti interaksi belajar anak. Selama kegiatan berlangsung. b. d. c. c. Kegiatan akhir ± 30 menit a. Guru mengadakan tanya jawab seputar cerita yang telah didengar anak. c. sehingga benar-benar berkesan bagi anak. Guru mulai bercerita.

peneliti akan melakukan perbaikan kegiatan pembelajaran yang belum tercapai pada siklus I berdasarkan hal-hal yang ditemukan pada siklus I. c. Agar observasi lebih terarah.47 Observer yang memantau kegiatan guru dan anak dengan menggunakan panduan observasi dan membuat catatan yang diperlukan tentang kejadian penting selama proses pembelajaran berlangsung setiap kali pertemuan. Dari catatan tersebut diadakan refleksi sehingga kelemahan yang terdapat pada siklus I akan diperbaiki dan lebih disempurnakan pada siklus berikutnya. b. Langkah – langkah pada siklus II ini. Format observasi Lembaran observasi merupakan cara mengumpulkan data untuk mendapatkan informasi dengan cara pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran. Siklus II Dalam siklus II ini. Instrumentasi Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan instrumen antara lain : 1. F. sama urutannya dengan siklus I yang terdiri dari perencanaan. tindakan observasi. maka diperlukan pedoman observasi yang dikembangkan oleh guru dengan mengacu pada . Refleksi Semua pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator didiskusikan bersama dengan peneliti. dan refleksi. Siklus I dan siklus II akan dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan.

Teknik Pengumpulan Data Cara yang peneliti lakukan untuk mendapatkan data adalah sebagai berikut : 1. Format wawancara Format wawancara dilakukan untuk mengamati anak.48 indikator yang telah ditetapkan. . 2. 4. 3. Dokumentasi Dokumentasi berupa penelitian dan kamera yang digunakan untuk merekam pembelajaran yang sedang berlangsung. G. Teknik observasi Observasi dilakukan selama proses pembelajaran dari kegiatan awal sampai kegiatan akhir Observasi ini dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dan hasil observasi ditulis pada lembaran observasi. Dimana pedoman observasi digunakan untuk mengecek kegiatan yang dilakukan berdasarkan indikator yang sudah ditentukan sebelumnya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. sejauh mana anak memahami tentang permainan menulis dengan menjawab beberapa pertanyaan terhadap proses pembelajaran menulis yang telah berlangsung. Format penilaian hasil belajar anak Format ini berisikan tentang penilaian pembelajaran yang telah dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung.

1. Cara menganalisa hasil observasi Data yang dikumpulkan dengan teknik persentasi. Teknik Analisa Data Data yang diperoleh dari hasil observasi belajar mengajar akan dianalisis. 3. Data yang diperoleh dari anak adalah : hasil pengamatan anak dari lembar observasi. Data diperoleh selama proses pembelajaran diolah dengan teknik persentase yang dikemukakan oleh Anas Sudijono ( 2009:43 ) sebagai berikut : P = F X 100% N Keterangan P = Persentase aktivitas F = Frekuensi aktivitas yang dilakukan anak . Teknik dokumentasi Peneliti menggunakan dokumentasi berupa fortofolio. yaitu membandingkan yang muncul dari keseluruhan anak yang hadir dikalikan 100% untuk melihat kecendrungan data. data ditampilkan dalam bentuk tabel dan diolah secara deskriptif. Disamping itu juga seluruh data digunakan untuk mengambil kesimpulan dan tindakan yang dilakukan. Teknik wawancara Dilakukan untuk mengetahui keaktifan anak terhadap kegiatan yang sudah dilakukan H. setiap kegiatan mengajar yang dilakukan merupakan sebagian untuk menentukan tindakan berikutnya.49 2. format penilaian dan hasil rekaman dalam pembelajaran.

50 N = Jumlah anak dalam satu kelas 2.41%dan rendah ( R ) rentang persentasenya 0% . Data tentang aktivitas anak yang diamati Untuk menentukan bahwa aktivitas anak meningkat. Dengan demikian dapat dikategorikan : anak yang berkategori bernilai sangat tinggi berarti anak sudah dikatakan mampu. 3.40% dengan kriteria masih perlu bimbingan dan masih terdapat banyak kesalahan.100% dengan kriteria berkerja mandiri tapi masih ada sedikit kesalahan tinggi (T) rentang 74% . Cara menganalisis hasil wawancara Tabel 1 Format wawancara anak No 1 2 3 Pertanyaan Apakah kamu bisa menyebutkan nama binatang yang terdapat pada cerita ? Menirukan kembali 4 – 5 urutan kata yang didengar Coba kamu lanjutkan kembali isi cerita yang telah didengar ? Jawaban . maka intervestasi aktivitas belajar anak adalah sebagai berikut : Suharsimi (2006:241) melambangkan dengan sangat tinggi (ST) rentang persentasenya antara 75% . anak yang kategori tinggi berarti anak masih berkembang dan anak yang kategori rendah berarti anak perlu bimbingan.

51 Tabel 2 Kemampuan Membaca Anak dalam Proses Pembelajaran Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar Persentase rata . .rata ST % F T % F R % Keterangan : ST : sangat tinggi T : Tinggi R : Rendah Setelah selesai dilakukan wawancara terhadap anak. maka hasil wawancara direkapitulasi langsung dengan setiap aktivitas anak.

7 F = Frekuensi aktivitas yang dilakukan anak .rata Keterangan : ST : sangat tinggi T : Tinggi R : Rendah 0 0 0 ST R % 89 94.5 94.5 5.5 92. keterampilan anak dalam berbicara di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang masih rendah.3 F 16 17 17 No 1 2 3 Aspek yang dinilai F Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel dibawah ini. Temuan Penelitian 1. Tabel 3 Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Pada Kondisi Awal ( sebelum tindakan ) Nilai T % 0 0 0 0 F 2 1 1 % 11 5. hal ini terbukti sebagian besar anak di kelas mengalami kesulitan ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan kosa kata yang benar dan berbicara dengan lafal yang baik.5 7.52 BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Kondisi Awal Pada kondisi awal sebelum penelitian ini dilakukan.

persentase tinggi 5. persentase jumlah anak sangat tinggi 0 %.5 %. Sedangkan pada aspek ke tiga yaitu menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan.53 Berdasarkan tabel 3 diatas. anak yang rendah 89 %. persentase sangat tinggi 0 %.5 %.5 %. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Grafik 1 Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Pada Kondisi Awal ( sebelum tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah Pada penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam dua siklus sebagai berikut : . persentase sangat tinggi 0 %. persentase anak yang rendah 94. persentase anak yang tinggi 5. persentase rendah 94. Sedangkan pada aspek ke dua yaitu dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. persentase jumlah anak tinggi 11 %.5 %. terlihat rata-rata persentase dalam peningkatan kemampuan berbicara sebelum tindakan ( kondisi awal ) yaitu pada aspek pertama yakni mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar.

Siklus I Pertemuan Pertama Siklus pertama dilakukan sebanyak 3 kali pertemuan.54 2. perintah. Pada penelitian ini pembelajaran dilakukan dalam dua siklus. mampu melafalkan kosa kata dengan baik dan benar serta memiliki perbendaharaan kata. Pada tanggal 6 Desember 2011 diadakan pertemuan untuk mengetahui kondisi awal dari anak di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. yaitu : a. 1) Perencanaan Guru melakukan Analisis Kurikulum untuk menentukan kompetensi dasar dan indikator yang akan disampaikan kepada anak dalam kegiatan bercerita dengan media cerita bergambar. Dengan indikatornya adalah mampu mengucapkan kosa kata dengan benar. . pertemuan ke tiga dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2011. Kompetensi dasarnya adalah anak mampu memahami konsep sederhana berkomunikasi secara lisan. Deskripsi Siklus I Deskrips hasil penelitian diuraikan dalam tahapan yang berupa siklus-siklus yang dilakukan. mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar. Setelah itu dilanjutkan pada pertemuan pertama yang dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2011. pertemuan ke dua dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 2011. dan cerita yang dilisankan. mampu memahami bunyi bahasa.

f) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. selanjutnya menentukan metode yang akan digunakan yaitu. guru mempersiapkan media yang akan digunakan di dalam pelaksanaan pembelajaran yaitu buku cerita bergambar. Pada awal pembelajaran. 2) Tindakan Guru melaksanakan proses pembelajaran membaca sesuai dengan SKH yang telah disusun dan guru menggunakan buku cerita bergambar sebagai alat peraganya sesuai dengan satuan kegiatan yang telah dirancang. . e) Apersepsi. Siklus I Pertemuan Pertama Kamis/8 Desember 2011 Tema Sub Tema : : Binatang Nama-nama Binatang 4) Kegiatan awal ± 30 menit d) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. guru melakukan diskusi dengan anak tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. Kemudian. praktek langsung dan memberikan tugas. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak.55 Perencanaan yang dilakukan adalah membuat persiapan mengajar seperti Satuan Kegiatan Harian ( SKH ) yang akan dilaksanakan.

untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. . Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. serta mengucapkan Alhamdulillah. l) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak. m) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar.56 5) Kegiatan inti ± 60 menit i) j) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. 6) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran. n) o) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. k) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut. Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. Kemudian peneliti menyebutkan nama tokohtokoh yang ada dalam cerita.

5 0 0 2 F 3 2 1 T % 17 11 5.5 87 . peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi.rata 1 0 0 ST % 5. Pada tahap penelitian ini. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini. keterampilan anak dalam berbicara di kelompok B1 di Taman Kanakkanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang masih rendah hal ini terbukti sebagian besar anak di kelas mengalami kesulitan ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan kosa kata yang benar dan berbicara dengan lafal yang baik. Tabel 4 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan I ( setelah tindakan ) Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata .5 11 F 14 16 17 R % 77.5 89 94.57 3) Observasi Dari tahap awal pengamatan pada siklus I pertemuan pertama.

persentase anak yang rendah 89 %.5 %. Grafik 2 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan I ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah . terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. persentase sangat tinggi 0 %.5 %.58 Berdasarkan tabel 4 diatas. persentase tinggi 5.5 %. persentase jumlah anak sangat tinggi yaitu. anak yang rendah 77. persentase jumlah anak tinggi 17 %. Rata-rata persentase menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan . persentase sangat tinggi 0 %.5 %. Rata-rata persentase dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. persentase rendah 94. persentase anak yang tinggi 11 %. persentase jumlah anak sangat tinggi 5. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

. Pada pertemuan kedua ini. Dengan indikatornya adalah mampu mengucapkan kosa kata dengan benar. Pada awal mula pembelajaran.59 b. Untuk lebih jelasnya dikemukan sebagai berikut ini: Siklus I Pertemuan ke dua Sabtu/10 Desember 2011 Tema Sub Tema : : Binatang Nama-nama dan jenis-jenis Binatang a) Kegiatan awal ± 30 menit (1) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. Siklus I Pertemuan Kedua 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan oleh guru adalah membuat persiapan mengajar seperti Satuan Kegiatan Harian (SKH) yang akan dilaksanakan pada pertemuan ini. perintah. mampu memahami bunyi bahasa. guru melakukan diskusi dengan anak tentang kegiatan yang akan dilaksanakan. guru mengadakan apersepsi pada pertemuan yang lalu (pertama) setelah itu melanjutkan kegiatan yang telah dirancang. 2) Tindakan Guru melaksanakan proses pembelajaran membaca sesuai dengan SKH yang telah disusun dan guru menggunakan buku cerita bergambar sesuai dengan satuan kegiatan yang telah dirancang. mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar. dan cerita yang dilisankan.

(4) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. (6) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. .60 (2) Apersepsi. untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. (5) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. (7) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. Kemudian peneliti menyebutkan nama tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. (3) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. b) Kegiatan inti ± 60 menit (1) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. (3) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut. (2) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. c) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran.

telah muncul beberapa anak yang yang mendapatkan nilai sangat tinggi.5 5.5 F 4 4 2 T % 22 22 11 18. minat dan perhatian anak terhadap tema pembelajaran mulai ada peningkatan. serta mengucapkan Alhamdulillah.61 (3) Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak. peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. Dari aspek yang dinilai.5 F 12 14 15 R % 67 78 83. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. Pada penelitian ini.5 76 .rata 2 0 1 ST % 11 0 5. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi. Tabel 5 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan II ( setelah tindakan ) Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . 3) Observasi Pada siklus I pertemuan kedua ini. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini.

Rata-rata persentase menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini. persentase anak yang rendah 78 %. persentase sangat tinggi 0 %.5 %. terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. Siklus I Pertemuan Ketiga 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan oleh guru adalah membuat persiapan mengajar seperti Satuan Kegiatan Harian (SKH) yang akan . persentase anak yang tinggi 22 %. persentase sangat tinggi 5. Rata-rata persentase dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. anak yang rendah 67 %. persentase jumlah anak sangat tinggi 11 %. persentase tinggi 11 %.62 Berdasarkan tabel 5 diatas. Grafik 3 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan II ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah c. persentase rendah 83. yaitu.5 %. persentase jumlah anak tinggi 22 %.

Untuk lebih jelasnya dikemukan sebagai berikut ini: Pertemuan ke tiga Selasa/13 Desember 2011 Tema Sub Tema : : Binatang Nama dan jenis Binatang a) Kegiatan awal ± 30 menit (1) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. perintah.63 dilaksanakan pada pertemuan ini. b) Kegiatan inti ± 60 menit (1) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. 2) Tindakan Pertemuan ketiga juga terdiri dari tiga bagian yaitu kegiatan awal. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. (2) Apersepsi. (3) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut. Dengan indikatornya adalah mampu mengucapkan kosa kata dengan benar. kegiatan inti dan kegiatan akhir . mampu memahami bunyi bahasa. mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar. (3) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. dan cerita yang dilisankan. (2) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. .

Kemudian peneliti menyebutkan nama tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. (3) Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak. untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. keaktifan dan perhatian anak terhadap tema pembelajaran mulai ada peningkatan. Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. 3) Observasi Pada siklus I pertemuan ketiga ini. (7) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. Untuk lebih jelas dapat di lihat . serta mengucapkan Alhamdulillah. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi. (5) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar. minat.64 (4) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. c) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran. (6) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. Pada penelitian ini.

persentase jumlah anak sangat tinggi 11 %. Tabel 6 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Siklus I Pertemuan III ( setelah tindakan ) Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . persentase tinggi 17 %.5 2 1 ST % 11 5. persentase sangat tinggi 5. Rata-rata persentase dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu.5 3 17 14 77.5 66.5 %.65 pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini. terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar yaitu. persentase jumlah anak tinggi 33. persentase anak yang rendah 66.5 26 66. persentase .5 %.5 Berdasarkan tabel 6 diatas. anak yang rendah 55.5 3 1 5.5 %. Rata-rata persentase kemampuan menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan.5 28 F 10 12 R % 55. persentase sangat tinggi 5.5 F 6 5 T % 33.5 %.rata 7. persentase anak yang tinggi 28 %.5 %.

5 No 1 Pertanyaan Apakah kamu bisa menyebutkan nama binatang yang terdapat pada cerita ? Jawaban 3 anak menjawab bisa 15 anak menjawab tidak bisa 2 anak menjawab bisa 16 anak menjawab tidak bisa 2 anak menjawab bisa 16 anak menjawab tidak bisa Alasan Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar Mau bercerita kembali tetapi masih malumalu Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar Tidak mau bersuara sama sekali Bercerita kembali Menirukan kembali cerita dengan raguragu 83.5 2 Menirukan kembali 4 – 5 urutan kata yang didengar 11 89 11 89 3 Coba kamu lanjutkan kembali isi cerita yang telah didengar ? . Grafik 4 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus I Pertemuan III ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah Tabel 7 Hasil Wawancara Anak dalam Proses Pembelajaran pada Siklus I Pertemuan III ( setelah tindakan ) % Jml Anak 16.66 rendah 77.5 %. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

dan 16 anak tidak bisa dengan persentase 89%.5%. hal ini terbukti sebagian besar anak di kelas mengalami kesulitan ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan kosa kata yang benar dan berbicara dengan lafal yang baik.5%. Refleksi Siklus I Pada kondisi awal sebelum penelitian dilakukan dan Siklus I. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I sudah sesuai dengan rencana. 15 anak menjawab tidak mampu dengan persentase 83. berdasarkan hasil pengamatan dampak pembelajaran belum cukup berhasil. Untuk pertanyaan kedua.67 Pada pertanyaan pertama dibahas tentang Apakah kamu bisa menyebutkan nama binatang yang terdapat pada cerita ? Dinyatakan 3 anak menjawab bisa dengan persentase 16. coba kamu lanjutkan kembali isi cerita yang tadi telah didengar? 2 anak menjawab bisa menceritakan kembali dengan persentase 11%. apakah kamu bisa menirukan kembali urutan kalimat yang didengar? 2 anak menjawab bisa dengan persentase 11%. . 16 anak menjawab tidak bisa dengan persentase 89%. peneliti bersama dengan kolaborator mengamati keterampilan anak dalam berbicara di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang masih rendah. d. Pada pertanyaan ketiga.

2) Ditinjau dari aktifitas guru dalam pembelajaran Siklus I sudah berjalan baik dan berhasil.5%. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 5. 2) Semua indikator yang dinilai pada Siklus I belum mencapai persentase rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%.68 1) Peningkatan keterampilan berbicara bercerita. hal ini bisa dilihat dari persentase kemampuan anak yang semakin meningkat selain hal positif yang telah dicapai. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 11%. adapula hal-hal yang harus menjadi perhatian guru. sehingga kegiatan berbicara belum berkembang dengan baik. c) Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan. yaitu : 1) Masih banyak anak yang perlu bimbingan dalam melakukan kegiatan berbicara. . anak yang mencapai persentase sangat tinggi memporeh nilai dari 0% menjadi 5. 3) Anak masih ada yang malas dan tidak tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.5%. b) Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan. yaitu : anak usia dini melalui a) Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar.

5 28 R 55.5 T 17 R 77. 5 2 0 11 0 22 78 83.69 Untuk mengatasi hal tersebut diatas. 2) Merancang pembelajaran dengan memperhatikan kondisi anak dengan cara mengurangi rentang waktu kegiatan bercerita.5 7. dan III (Setelah Tindakan) Siklus I No Aspek yang dinilai Pertemuan I ST 1 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar Persentase rata . Tabel 8 Rekapitulasi Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita pada siklus I pertemuan I.5 26 3. Deskripsi Siklus II Dari hasil pelaksanaan Siklus I.5 5. 5 77. 5 87 5. 5 11 22 67 Pertemuan II ST T R Pertemuan III ST 11 T 33.rata 5. II. 5 66.5 3 0 5. 3) Merevisi kembali semua indikator yang belum tercapai pada Siklus I. Sebab tingkat keterampilan . 5 76 5.5 17 2 11 5. ternyata belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). 5 89 94. Melihat hasil pengamatan siklus I masih sangat rendah maka penilitian ini dilanjutkan pada siklus II. maka peneliti melakukan hal sebagai berikut : 1) Mendampingi dan memperhatikan anak secara individual terutama bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan dalam berbicara. 5 66.5 11 18.

Siklus II Pertemuan Pertama Kamis/15 Desember 2011 Tema : Binatang . mampu memahami bunyi bahasa. Siklus II Pertemuan Pertama 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan oleh guru adalah membuat persiapan mengajar seperti Satuan Kegiatan Harian (SKH) yang akan dilaksanakan pada pertemuan ini. mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar. Sebagaimana dinyatakan Alwen (2005: 10) apabila indikator tingkat keberhasilan anak belum mencapai 75% berarti belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Proses pembelajaran pada Siklus II lebih baik dan lebih lancar dibandingkan Siklus I. Dengan indikatornya adalah mampu mengucapkan kosa kata dengan benar. dan cerita yang dilisankan. Untuk lebih jelas dikemukan sebagai berikut ini: a. 2) Tindakan Anak yang sudah meningkat keterampilan berbicaranya dipisah dari anak yang masih belum bisa memaksimalkan keterampilan berbicaranya agar lebih mudah untuk membimbing dan mengarahkan kelompok anak tersebut untuk meningkatkan keterampilan berbicara.70 berbicara anak pada Siklus I masih dibawah 75%. perintah. maka peneliti melanjutkan penelitian pada Siklus II yang dilaksanakan sebanyak 3 kali pertemuan.

yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. (2) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. (2) Apersepsi. Kemudian peneliti menyebutkan nama tokohtokoh yang ada dalam cerita. (5) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar.71 Sub Tema : Nama dan jenis Binatang a) Kegiatan awal ± 30 menit (1) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. . (7) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. b) Kegiatan inti ± 60 menit (1) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. (6) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. (3) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. (4) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. (3) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut.

Dari aspek yang dinilai. Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini. minat dan perhatian anak terhadap tema pembelajaran mulai ada peningkatan. 3) Observasi Pada siklus II pertemuan satu ini. peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. . serta mengucapkan Alhamdulillah. telah muncul beberapa anak yang yang mendapatkan nilai sangat tinggi. untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. (3) Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak.72 c) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi. Pada penelitian ini.

yaitu. persentase sangat tinggi 22%. persentase jumlah anak sangat tinggi 28%. . persentase tinggi 22%.rata 5 4 4 ST % 28 22 22 24 F 7 6 4 T % 39 33 22 31 F 6 8 10 R % 33 45 56 45 Berdasarkan tabel 10 diatas. terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. persentase sangat tinggi 22%. persentase rendah 56%. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Rata-rata persentase dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. anak yang rendah 33 %. Rata-rata persentase kemampuan menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan.73 Tabel 9 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan I Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . persentase jumlah anak tinggi 39%. persentase anak yang tinggi 33%. persentase anak yang rendah 45%.

perintah. Dengan indikatornya adalah mampu mengucapkan kosa kata dengan benar.74 Grafik 5 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan I ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah b. mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar. dan cerita yang dilisankan. . 2) Tindakan Anak yang sudah meningkat keterampilan berbicaranya dipisah dari anak yang masih belum bisa memaksimalkan keterampilan berbicaranya agar lebih mudah untuk membimbing dan mengarahkan kelompok anak tersebut untuk meningkatkan keterampilan. mampu memahami bunyi bahasa. Siklus II Pertemuan Kedua 1) Perencanaan Perencanaan yang dilakukan oleh guru adalah membuat persiapan mengajar seperti Satuan Kegiatan Harian (SKH) yang akan dilaksanakan pada pertemuan ini.

(3) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. (6) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. (3) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut. (2) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. . Kemudian peneliti menyebutkan nama tokohtokoh yang ada dalam cerita. (4) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita.75 Siklus II Pertemuan Kedua Sabtu/17 Desember 2011 Tema Sub Tema : : Binatang Nama dan jenis Binatang a) Kegiatan awal ± 30 menit (1) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. (2) Apersepsi. b) Kegiatan inti ± 60 menit (1) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak. (5) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar.

serta mengucapkan Alhamdulillah. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. Dari aspek yang dinilai. minat dan perhatian anak terhadap tema pembelajaran mulai ada peningkatan. (3) Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak.76 (7) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. . Pada penelitian ini. c) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran. peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. 3) Observasi Pada siklus II pertemuan II ini. untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi. telah muncul beberapa anak yang yang mendapatkan nilai sangat tinggi. Guru mengadakan tanya jawab kepada anak.

persentase rendah 44%. Rata-rata persentase kemampuan menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan. persentase jumlah anak sangat tinggi 39%.rata 7 6 5 ST % 39 33 28 33 F 6 7 5 T % 33 39 28 33 F 5 5 8 R % 28 28 44 34 Berdasarkan tabel 10 diatas. . Rata-rata persentase Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. persentase sangat tinggi 33%. Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini. anak yang rendah 28 %. persentase anak yang rendah 28%. persentase tinggi 28%.77 Tabel 10 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan II Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. yaitu. persentase anak yang tinggi 39%. persentase jumlah anak tinggi 33 %. persentase sangat tinggi 28%.

Siklus II Pertemuan Ketiga 1) Perencanaan Tahap perencanaan pada Siklus II ini sama seperti pada Siklus I yaitu peneliti membuat persiapan mengajar seperti membuat SKH yang akan dilaksanakan dengan kegiatan bercerita yang lebih membangun motivasi anak sehingga anak merasa lebih tertarik dan lebih memahami arti dan makna cerita yang disampaikan.78 Grafik 6 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan II ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah c. maka peneliti mengadakan proses bercerita diluar. 2) Tindakan Anak yang sudah meningkat keterampilan berbicaranya dipisah dari anak yang masih belum bisa memaksimalkan keterampilan berbicaranya agar lebih mudah untuk membimbing dan mengarahkan kelompok anak tersebut untuk meningkatkan .

79 keterampilan berbicara. . (3) Menciptakan kegiatan pembelajaran yang menarik melalui tanya jawab dan percakapan. Kemudian peneliti menyebutkan nama tokohtokoh yang ada dalam cerita. (4) Guru menyebutkan judul buku yang akan dipakai buat bercerita. (2) Guru menginformasikan kepada anak-anak kalau guru akan bercerita. Proses pembelajaran pada Siklus II lebih baik dan lebih lancar dibandingkan Siklus. (3) Guru memperlihatkan buku cerita bergambarnya tersebut. penerbit dan nama pengarang buku cerita bergambar. Siklus II Pertemuan Ketiga Senin/19 Desember 2011 Tema Sub Tema : : Binatang Nama dan jenis Binatang a) Kegiatan awal ± 30 menit (1) Mencek kehadiran anak dan mengkondisikan tempat duduk anak. yaitu memberikan kaitan pembelajaran yang akan diberikan kepada anak. (2) Apersepsi. (5) Guru memulai bercerita dengan buku cerita bergambar. b) Kegiatan inti ± 60 menit (1) Pertama kali guru memperkenalkan tema kepada anak.

80 (6) Guru mengulas tentang isi cerita bergambar. peneliti bekerja sama dengan teman sejawat. . Guru mengadakan tanya jawab kepada anak. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada tabel dan grafik dari pengamatan peneliti dan hasil wawancara sebagai berikut ini. Dari aspek yang dinilai. (3) Guru mengakhiri pembelajaran dengan memberikan tepuk tangan dan pujian kepada anak-anak. Pada penelitian ini. c) Kegiatan akhir ± 30 menit (1) (2) Guru menyimpulkan kegiatan pembelajaran. serta mengucapkan Alhamdulillah. (7) Guru mengulas ulang isi cerita bergambar untuk mengetahui sejauh mana anak merespon isi cerita. minat dan perhatian anak terhadap tema pembelajaran mulai ada peningkatan. dalam mengamati dan mencatat pembelajaran yang telah dilakukan dengan mengisi format observasi. format wawancara serta format penilaian pada pertemuan pertama ini. 3) Observasi Pada siklus II pertemuan III ini. telah muncul beberapa anak yang yang mendapatkan nilai sangat tinggi. untuk mengevaluasi terhadap cerita bergambar yang telah didengar anak.

persentase jumlah anak tinggi 22 %. terlihat rata-rata persentase kemampuan mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. yaitu. persentase anak yang tinggi 17%.81 Tabel 11 Hasil Observasi Peningkatan Berbicara Anak Melalui Buku Cerita Bergambar Melalui Bercerita Siklus II Pertemuan III Nilai No Aspek yang dinilai F 1 2 3 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan Persentase rata . persentase sangat tinggi 83%. anak yang rendah 0%. Rata-rata persentase Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan rata-rata persentase anak yaitu. persentase sangat tinggi 67%. . Sesuai tabel diatas dapat dilihat pada grafik dibawah ini. persentase anak yang rendah 0%. persentase tinggi 33%. persentase rendah 0%. persentase jumlah anak sangat tinggi 78%.rata 14 15 12 ST % 78 83 67 76 F 4 3 6 T % 22 17 33 24 F 0 0 0 R % 0 0 0 0 Berdasarkan tabel 11 diatas. Rata-rata persentase kemampuan menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan.

82 Grafik 7 Peningkatan Berbicara Anak dalam Proses Pembelajaran Siklus II Pertemuan III ( setelah tindakan ) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 Sangat Tinggi Tinggi Rendah Tabel 12 Hasil Wawancara Anak dalam Proses Pembelajaran pada Siklus II Pertemuan III ( setelah tindakan ) No Pertanyaan Apakah kamu bisa menyebutkan nama 1 binatang yang terdapat pada cerita ? 1 anak menjawab tidak bisa Menirukan kembali 4 2 – 5 urutan kata yang didengar 18 anak menjawab bisa 0 anak menjawab tidak bisa Coba kamu lanjutkan 3 kembali isi cerita yang telah didengar ? 16 anak menjawab bisa 2 anak menjawab tidak bisa Menirukan kembali cerita dengan raguragu Mau bercerita kembali tetapi masih malumalu Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar Tidak mau bersuara sama sekali Bercerita kembali 5.5 Jawaban 17 anak menjawab bisa Alasan Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar % Jml Anak 94.5 100 0 89 11 .

yaitu : . 0 anak menjawab tidak bisa dengan persentase 0%. coba kamu lanjutkan kembali isi cerita yang tadi telah didengar? 16 anak menjawab bisa menceritakan kembali dengan persentase 89%. 1 anak menjawab tidak mampu dengan persentase 5. a. Pada pertanyaan ketiga. dan 2 anak tidak bisa dengan persentase 11%. Untuk pertanyaan kedua. Peningkatan keterampilan berbicara anak usia dini melalui bercerita. pembelajaran pada Siklus II sudah berjalan dengan baik dan berhasil.83 Pada pertanyaan pertama dibahas tentang Apakah kamu bisa menyebutkan nama binatang yang terdapat pada cerita ? Dinyatakan 17 anak menjawab bisa dengan persentase 94. d. apakah kamu bisa menirukan kembali urutan kalimat yang didengar? 18 anak menjawab bisa dengan persentase 100%.5 persen. Hal ini terlihat dari persentase rata-rata pertemuan III Siklus II 76% .5 %. Hal ini berarti metode bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%. Ditinjau dari aktifitas guru. Refleksi Siklus II Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Siklus II Jumlah anak yang memperoleh rata-rata mampu meningkat dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 83%. Ditinjau dari aktifitas guru dalam pembelajaran Siklus II sudah berjalan dengan baik dan berhasil. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 78%. Pada paparan diatas menunjukkan bahwa pembelajaran dengan teknik bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak. 2) Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan. sehingga kegiatan berbicara dapat berkembang dengan baik. 3) Walaupun masih malu-malu.84 1) Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. hal ini bisa dilihat dari persentase kemampuan anak yang semakin meningkat terlihat selama Siklus II sebagai berikut : 1) Anak tidak memerlukan bimbingan dalam melakukan kegiatan berbicara. 2) Semua indikator yang dinilai pada Siklus II sudah mencapai persentase rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%. b. 3) Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memporeh nilai dari 0% menjadi 67%. nilai . anak sudah mampu berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Peningkatan keterampilan berbicara anak melalui bercerita di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang terjadi peningkatan mulai dari kondisi awal.85 rata-rata yang diperoleh dari pencapaian keseluruhan sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). dan Siklus II. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : . Siklus I.

86

Tabel 13 Rekapitulasi Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita

Siklus I N o Kondisi Awal Aspek yang dinilai ST 1 Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan Mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar Persentase rata - rata 0 T 11 R 89 94, 5 94, 5 92, 7 Pertemuan I ST 5,5 T 17 R 77, 5 89 94, 5 87 5,5 11 18, 5 11 22 67 Pertemuan II ST T R Pertemuan III ST 11 T 33, 5 28 R 55, 5 66, 5 77, 5 66, 5 Pertemuan I ST 28 T 39 R 33

Siklus II Pertemuan II ST 39 T 33 R 28 Pertemuan III ST 78 T 22 R 0

2

0

5,5

0

11

0

22

78 83, 5 76

5,5

22

33

45

33

39

28

83

17

0

3

0

5,5

0

5,5

5,5

17

22

22

56

28

28

44

67

33

0

0

7,3

2

11

5,5

7,5

26

24

31

45

33

33

34

76

24

0

87

B. Pembahasan Hasil penelitian Peningkatan Kemampuan berbicara Anak usia dini melalui bercerita di TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang khususnya pada kelas B1, diperlukan pembahasan guna menjelaskan dan memperdalam kajian dalam penelitian ini. Pada kondisi awal diperoleh gambaran kemampuan berbicara anak masih rendah dimana sebagian anak di TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang mengalami kesulitan ketika diminta untuk bercerita dengan menggunakan kosa kata yang benar dan berbicara dengan lafal yang baik. Setelah melihat kondisi awal tentang kemampuan berbicara anak di TK Harapan Silaing Bawah Padangpanjang, peneliti melakukan tindakan untuk memperbaiki kemampuan berbicara melalui bercerita dengan menggunakan media buku cerita bergambar. Penelitian ini terdiri dari dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari tiga kali pertemuan. 1. Analisis Siklus I Pelaksanaan pembelajaran pada Siklus I sudah sesuai dengan rencana, berdasarkan hasil pengamatan dampak pembelajaran belum cukup berhasil ini terlihat dari : a. Peningkatan keterampilan berbicara anak usia dini melalui bercerita, yaitu : 1) Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar, anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 11%.

88

2) Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan, anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 5,5%. 3) Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan, anak yang mencapai persentase sangat tinggi memporeh nilai dari 0% menjadi 5,5%. b. Ditinjau dari aktifitas guru dalam pembelajaran Siklus I sudah berjalan baik dan berhasil, hal ini bisa dilihat dari persentase kemampuan anak yang semakin meningkat selain hal positif yang telah dicapai, adapula hal-hal yang harus menjadi perhatian guru, yaitu : 1) Masih banyak anak yang perlu bimbingan dalam melakukan kegiatan berbicara, sehingga kegiatan berbicara belum

berkembang dengan baik. 2) Semua indikator yang dinilai pada Siklus I belum mencapai persentase rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%. 3) Anak masih ada yang malas dan tidak tertarik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut diatas, maka peneliti melakukan hal sebagai berikut : 1) Mendampingi dan memperhatikan anak secara individual terutama bagi anak-anak yang masih mengalami kesulitan dalam berbicara.

Peningkatan keterampilan berbicara anak usia dini melalui bercerita. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 83%. Hal ini terlihat dari persentase rata-rata pertemuan III Siklus II 76% . Hal ini berarti metode bercerita dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang melebihi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75%. pembelajaran pada Siklus II sudah berjalan dengan baik dan berhasil.89 2) Merancang pembelajaran dengan memperhatikan kondisi anak dengan cara mengurangi rentang waktu kegiatan bercerita. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memperoleh nilai dari 0% menjadi 78%. Ditinjau dari aktifitas guru. . yaitu : 1) Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar. Melihat hasil pengamatan siklus I masih sangat rendah maka penilitian ini dilanjutkan pada siklus II 2. 2) Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan. 3) Merevisi kembali semua indikator yang belum tercapai pada Siklus I. Analisis Siklus II Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada Siklus II Jumlah anak yang memperoleh rata-rata mampu meningkat dan mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

Siklus I. Peningkatan keterampilan berbicara anak melalui bercerita di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang terjadi peningkatan mulai dari kondisi awal. anak yang mencapai persentase sangat tinggi memporeh nilai dari 0% menjadi 67%. . dan Siklus II. Teknik bercerita untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak nilai rata-rata yang diperoleh dari pencapaian keseluruhan sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).90 3) Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan.

2. Simpulan Berdasarkan temuan dan pembahasan pada Bab IV sebelum ini. Kegiatan bercerita dengan menggunakan buku cerita bergambar dapat memberikan pengaruh yang cukup nyata untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak. Tujuan peningkatan keterampilan berbicara dapat tercapai secara optimal. Siklus I ke Siklus II.91 BAB V PENUTUP A. Keterampilan berbicara anak dalam proses pembelajaran dapat meningkat dengan menggunakan kegiatan bercerita dengan menggunakan buku cerita bergambar pada anak di kelompok B1 di Taman Kanak-kanak Harapan Silaing Bawah Padangpanjang. Bercerita dengan buku cerita bergambar dapat meningkatkan keterampilan anak dalam mengucapkan kosa kata dengan benar.mampu memahami bunyi bahasa. perintah. dengan adanya peningkatan persentase dari sebelum tindakan. diperlukan strategi dan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran di TK. yaitu melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk meningkatkan keterampilan berbicara serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberikan berbagai pengalaman bagi anak. dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. dan cerita yang dilisankan dan mampu berbicara lancar dengan lafal yang benar . 3. 4.

2.92 B. tema-tema cerita yang disampaiakan kepada anak jangan monoton. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas. Agar pembelajaran berjalan lebih kondusif dan menarik bagi anak sebaiknya guru mampu mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media buku cerita bergambar yang menarik. olah vokal dan mimik wajah dalam bercerita perlu juga diperhatikan dan durasi cerita yang disampaikan kepada anak hendaknya jangan tidak terlalu panjang 3. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru. 4. . Diharapkan agar peneliti lebih jauh yang lain dapat melakukan dan mengungkapkan tentang peningkatan keterampilan berbicara anak melalui metode dan media yang lainnya. Diharapkan pembaca dapat menggunakan skripsi ini sebagai sumber ilmu pengetahuan guna menambah wawasan. Dalam menggunakan metode bercerita untuk meningkatkan keterampilan berbicara anak. diantaranya adalah: cerita yang dibawakan harus menarik. maka peneliti memberikan saran untuk peningkatan keterampilan berbicara pada anak sebagai berikut : 1. menyenangkan dan bervariasi agar dapat membuat anak berminat dan antusias terhadap proses pembelajaran.

Jakarta : Depdiknas. Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak Usia Dini. Dkk. Metode Pengembangan Bahasa. Dkk.2008.93 DAFTAR PUSTAKA Aisyah. 2007. Jakarta : Erlangga Jamaris. 2002. Nurbiana.2004. Jakarta : Universitas Terbuka Arikunto. Martini. Elizabeth. Prosedur Penelitian. Bercerita Untuk Anak Usia Dini. Rini. Rineka Cipta _________. Siti. Psikologi Perkembangan Anak Usia Taman Kanak Kanak. Jakarta Djamarah. Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak – Kanak. 2005. 2010. Metode Pengajaran di Taman Kanak. Penelitian Tindakan Kelas. 2007. Dkk. Jakarta : PT. Jakarta : PT. 2005. 2006. 2007. Kurikulum TK. Jakarta : PT. Grasindo Kunandar. Jakarta : Universitas Terbuka _________. Pembelajaran Terpadu. 2004. Bahri. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas . Jakarta : Universitas Terbuka Hurlock. Rineka Cipta _________. Pengembangan Kemampuan Motorik Halus di Taman Kanak – Kanak. Jakarta : PT. Jakarta : Depdiknas Eriamsyah. Strategi Pembelajaran TK. 2007. Psikologi Perkembangan Anak. Bunga Rampai Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran atau Bimbingan dan Konseling. Dkk. Jakarta : Universitas Terbuka Depdiknas 2003. Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak – Kanak. Jakarta : Universitas Terbuka Moeslichatoen. Raja Grafindo Persada Masitoh. Suharsimi. Padang : UNP Hildayani.Kanak. 1978. Strategi Belajar Mengajar. 2008. Jakarta : PT Rineka Cipta Dhieni. Jakarta : Dirjen Dikti Depdiknas Masitoh. Dkk. 2006. 2006. Psikologi Perkembangan Jilid 1. S. _________.

94

PG-PAUD. 2010. Panduan Penulisan Skripsi. Padang : UNP Seefeldt, Carol. 2008. Pendidikan anak usia dini menyiapkan anak usia tiga, empat, dan lima tahun masuk sekolah. Jakarta. PT. Indeks Sudono, Anggani. 1995. Alat Permaianan dan Sumber Belajar. Jakarta : Depdikbud Dirjen Proyek Pendidikan Tenaga Kependidikan Sisdiknas. 2003. Undang Undang RI No. 20. Jakarta : PT. Sinar Grafika Syafril. 2003. Media Pengajaran TK. Padang : UNP Solehuddin, Dkk. 2008. Pembaharuan Pendidikan TK. Jakarta : Universitas Terbuka Sudijono, Anas. 2009. Statistik Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada Tarigan, Guntur, H. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : PT. Angkasa Yulsyofriend. 2011. Pengembangan Baca Tulis ( Literacy ) Anak Usia Dini. Padang : UNP Zaman, Badru, Dkk. 2007. Media dan sumber Belajar TK. Jakarta : Universitas Terbuka

95

LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS I PERTEMUAN I Semester/Minggu : I/XVI Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Sabtu/10 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi

Indikator - Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) - Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) - Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) - Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) - Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) - Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui, Kepala sekolah

Kegiatan Pembelajaran
I. Pembukaan ± 30 menit

- Berbaris, ikrar, nyanyi, salam, do’a

Anak

II. Inti ± 60 menit

Sentra Persiapan - Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. Istirahat ± 30 menit - Cuci tangan, doa makan , makan dan cuci piring IV. Penutupan ± 30 menit - Diskusi - Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar

Penugasan

Observasi

Observasi

Padangpanjang, 10 Desember 2011 Guru Kelompok B1

Evita
NIP. 195906021986032002

Elyza Fatri

96

LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS I PERTEMUAN II Semester/Minggu : I/XVI Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Senin/12 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi

Indikator - Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) - Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) - Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) - Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) - Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bhs) - Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) - Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui, Kepala sekolah

Kegiatan Pembelajaran
I. Pembukaan ± 30 menit

- Berbaris, ikrar, nyanyi, salam, do’a

Anak

II. Inti ± 60 menit

Sentra Persiapan - Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. Istirahat ± 30 menit - Cuci tangan, doa makan , makan dan cuci piring IV. Penutupan ± 30 menit - Diskusi - Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar

Penugasan

Observasi

Observasi

Padangpanjang, 12 Desember 2011 Guru Kelompok B1

Evita
NIP. 195906021986032002

Elyza Fatri

Kepala sekolah Kegiatan Pembelajaran I. Pembukaan ± 30 menit . ikrar. nyanyi.Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar Penugasan Observasi Observasi Padangpanjang.97 LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS I PERTEMUAN III Semester/Minggu : I/XVII Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Rabu/14 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi Indikator .Diskusi .Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui.Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) .Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) .Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) .Cuci tangan.Berbaris.Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. 14 Desember 2011 Guru Kelompok B1 Evita NIP. doa makan . 195906021986032002 Elyza Fatri .Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) .Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) . Istirahat ± 30 menit . Inti ± 60 menit Sentra Persiapan . Penutupan ± 30 menit . do’a Anak II. makan dan cuci piring IV. salam.Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bhs) .

Penutupan ± 30 menit . Istirahat ± 30 menit .Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bhs) .Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) . 16 Desember 2011 Guru Kelompok B1 Evita NIP. Kepala sekolah Kegiatan Pembelajaran I. ikrar.Berbaris.98 LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS II PERTEMUAN I Semester/Minggu : I/XVII Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Jum. makan dan cuci piring IV. Pembukaan ± 30 menit . nyanyi.at/16 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi Indikator .Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) . 195906021986032002 Elyza Fatri .Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) .Diskusi .Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui.Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar Penugasan Observasi Observasi Padangpanjang.Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) . salam. doa makan . do’a Anak II.Cuci tangan.Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. Inti ± 60 menit Sentra Persiapan .Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) .

Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) . makan dan cuci piring IV. 195906021986032002 Elyza Fatri . Kepala sekolah Kegiatan Pembelajaran I.Cuci tangan. doa makan . nyanyi.Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bhs) . Penutupan ± 30 menit . Inti ± 60 menit Sentra Persiapan . ikrar.Berbaris.Diskusi .Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) .99 LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS II PERTEMUAN II Semester/Minggu : I/XVII Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Senin/19 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi Indikator . 19 Desember 2011 Guru Kelompok B1 Evita NIP.Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. Istirahat ± 30 menit .Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui. do’a Anak II. salam.Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) .Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) .Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar Penugasan Observasi Observasi Padangpanjang.Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) . Pembukaan ± 30 menit .

Diskusi .Melaksanakan kegiatan ibadah sesuai aturan menurut keyakinannya (Pb) .Berbaris. Inti ± 60 menit Sentra Persiapan .Mendengarkan dan menceritakan kembali cerita secara urut (Bhs) .Bercerita tentang nama-nama binatang dengan buku cerita bergambar III. doa makan .Membersihklan peralatan makan setelah digunakan (Pb) . Pembukaan ± 30 menit .Doa pulang dan salam Buku cerita bergambar Penugasan Observasi Observasi Padangpanjang.100 LAMPIRAN SATUAN KEGIATAN HARIAN UNTUK SIKLUS II PERTEMUAN III Semester/Minggu : I/XVII Tema/Subtema : Binatang/Nama-nama Binatang Hari/Tanggal : Rabu/21 Desember 2011 Waktu : 08:00 – 11:00 wib Sumber Belajar Penilaian Perkembangan Anak Alat Anak Observasi Indikator .Membedakan dan menirukan kembali bunyi/suara tertentu (Bhs) . Kepala sekolah Kegiatan Pembelajaran I.Menirukan kembali 4-5 urutan kata (Bhs) .Berbicara dengan suara yang ramah dan teratur (Pb) Mengetahui. salam. ikrar.Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dengan lebih tertib (Pb) . makan dan cuci piring IV. 195906021986032002 Elyza Fatri . 21 Desember 2011 Guru Kelompok B1 Evita NIP. nyanyi. Istirahat ± 30 menit . do’a Anak II. Penutupan ± 30 menit .Cuci tangan.

101 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada kondisi awal Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 R R R R R R R R R R R T R R R R R R 1 R R R R R R R T R R R R R R R R T R 3 R R R R R R R R R R R R R T R R R R Aspek yang di nilai: 1. Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan . Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3.

Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan . Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2.102 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus I Pertemuan I Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 R R R R T R R R R R R T R R R R R R 1 R R R T R R R ST R R R T R R R R T R 3 R R R R R R R R R R R R R T R R R R Aspek yang di nilai: 1.

103 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus I Pertemuan II Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 R R R R T R R T R R R T R R R R R T 1 T R R T R R R ST R R R ST R R T R T R 3 R R R R T R R R R R R R R T R R R R Aspek yang di nilai: 1. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan . Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3. Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2.

104 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus I Pertemuan II Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 R T R R T R R T R R R T R R R T R ST 1 T R R T R T R ST R T R ST R R T R T R 3 R R T R ST R R R R T R R R T R R R R Aspek yang di nilai: 1. Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3. Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan .

Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3. Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2.105 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus II Pertemuan I Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 T ST T R ST T R ST R R R T R T R T R ST 1 T T R ST R T R ST R T T ST R T ST R ST T 3 R T ST R ST R R T R ST R R R ST T T R R Aspek yang di nilai: 1. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan .

Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3. Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan .106 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus II Pertemuan II Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 T ST T R ST T R ST T R T ST R T T ST R ST 1 T ST R ST R T R ST R T T ST R T ST T ST ST 3 R T ST R ST R R T R ST R R R ST T ST T T Aspek yang di nilai: 1.

Mampu mengucapkan kosa kata melalui cerita bergambar Bhs) 2.107 Lampiran Lembaran Penilaian Peningkatan Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini Melalui Bercerita Pada Siklus II Pertemuan III Keterangan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Nama Anak Alfin Adit Aditia Agustra Aulia Dinda Ferdi Nabila Nisa Nila Rani Ratu Regina Rita Roni Sergi Vira Viola Yudi Aspek yang Nilai 2 ST ST ST T ST ST R ST ST T ST ST ST ST ST ST T ST 1 ST ST T ST ST ST T ST T ST ST ST T ST ST ST ST ST 3 R ST ST ST ST T T ST T ST T T T ST ST ST ST ST Aspek yang di nilai: 1. Menceritakan kembali cerita yang sudah diceritakan (Bhs) Kriteria Penilaian: Sangat Tinggi (ST)  Menirukan kembali bunyi/suara dengan benar  Bercerita kembali Tinggi (T)  Menirukan kembali cerita dengan ragu-ragu  Mau bercerita kembali tetapi masih malu-malu Rendah (R)  Tidak mau bersuara sama sekali  Perlu bimbingan . Dapat bercerita dengan gambar yang disediakan (Bhs) 3.

108 Lampiran Lembar Wawancara Anak 1. Apakah kamu bisa menyebutkan nama binatang yang terdapat pada cerita ? 2. Menirukan kembali 4 – 5 urutan kata yang didengar 3. Coba kamu lanjutkan kembali isi cerita yang telah didengar ? .

Pengenalan cerita oleh peneliti dengan media buku cerita bergambar .109 Gambar 1.

Penyampaian cerita oleh peneliti dengan media buku cerita bergambar .110 Gambar 2.

Penyampaian cerita oleh peneliti dengan media buku cerita bergambar .111 Gambar 3.

112 Gambar 4.Aktivitas anak ketika tampil didepan kelas untuk bercerita .

Penyampaian cerita oleh peneliti dengan media buku cerita bergambar .113 Gambar 5.

114 .

115 .

116 .