Anda di halaman 1dari 31

CANDI SUKUH DAN CETO DI KAWASAN GUNUNG LAWU: PERANANNYA PADA ABAD 14 – 15 MASEHI

Sukuh and Ceto temple on the mount Lawu teritory: Fungtional concern at 14 – 15 C

Oleh: Etty Saringendyanti

Makalah Hasil Penelitian

FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN 2008

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

: Candi Sukuh dan Ceto di Kawasan Gunung Lawu: Peranannya pada abad 14-15 Masehi

Oleh

: Etty Saringendyanti, Dra., M.Hum. NIP. 131573160

Evaluator,

H. Maman Sutirman, Drs., M.Hum. NIP. 131472326

Dr. Wahya, M.Hum. NIP. 131832049

Mengetahui Ketua Program Studi Ilmu Sejarah,

Awaludin Nugraha, Drs., M.Hum. NIP 132102926

CANDI SUKUH DAN CETO DI KAWASAN GUNUNG LAWU: PERANANNYA PADA ABAD 14 – 15 MASEHI Sukuh and Ceto temple on the mount Lawu teritory: Fungtional concern at 14 – 15 C Oleh: Etty Saringendyanti1

ABSTRAK
Candi Sukuh dan Ceto terletak di lereng barat Gunung Lawu, yang secara administratif terletak di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah dengan Kabupaten Magetan, Propinsi Jawa Timur. Gunung Lawu saat ini merupakan salah satu gunung yang terkenal sebagai tempat meditasi bagi sebagian masyarakat penganut aliran kepercayaan, dan biasanya pada setiap tanggal 1 Suro dilakukan upacara Labuhan. Candi Sukuh dan Ceto berbentuk bangunan teras berundak. Teras-terasnya berupa susunan teras halaman. Bangunan induk candi Sukuh dan Ceto berbentuk piramid terpancung. Arca dan relief yang ditemukan, menggambarkan bentuk manusia, binatang, dan simbol, antara lain sepasang arca penjaga, arca lembu, gajah, garuda, dan kura-kura, yoni, lingga berbentuk phallus dalam ukuran besar dan kecil, serta lingga berbentuk phallus yang digambarkan berhadapan d engan vagina, penggalan cerita Sudamala, Garudeya, Samudrama nthana, pandai besi, dan Nawaruci. Dari artefak yang ditemukan ke dua candi itu merupakan candi yang diperuntukan bagi penganut agama Hindu Saiwa dalam menjalani upacara diksa. Kata Kunci: Candi Sukuh dan Ceto, Gunung Lawu, percandian

ABSTRACT
Sukuh and Ceto temple were located at the western of mount Lawu, exactly between on district Karanganyar of central Java and district Magetan of east Java. In this time, mount Lawu is very popular as a meditation centre for the part of Javanese traditional believed, and usually on 1st Suro is the Labuan event. The style of Sukuh and Ceto is the terracering buildings, the terraces are the yard of building. The main temple of Sukuh and Ceto like a cutted pyramid, and the statues and reliefs were found as symbolic of human and animal being, and others symbolic too. For example a pair of guard statue (dwarapala), holy cow (nandi), elephant, hawk, turtle, yoni, and lingga were described on big and small phallus, and
1

Penulis adalah staf pengajar Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Satra Universitas Padjadjaran, Bandung.
2

Samudramanthana. and Nawaruci tale. Mount Lawu. the temple 3 . Based on the artefactual remains we know both of Sukuh and Ceto are the temple dedicated for the ascentic of Hindu Saiwaism on diksa celebration. Garudeya.very specific described is a natural lingga in front of a vagina. Key Word: Sukuh and Ceto temple. the iron workshop. Reliefs were found like a part of Sudamala.

Arga Dalem Barat.000 dari daerah Karangpandan (Jawa Tengah) pada lembar peta 50/XI. atau melalui Cemo ro Sewu (Kecamatan Tawangmangu) pada l intasan selatan. Pasar Kebo. Digambar oleh Kartografi Direktorat Geologi tahun 1978. Arga Dumilah Timur.2 Puncak Lawu dapat didaki melalui beberapa lintasan antara lain melalui candi Ceto (Kecamatan Jenawi) pada intasan l barat. Gunung Lawu saat ini merupakan salah satu gunung yang terkenal sebagai tempat meditasi bagi sebagian masyarakat penganut aliran kepercayaan. Arga Dalem Timur. Arga Dumilah Atas. Lintasan lain melalui arah Ngrambi (Kabupaten Ngawi). Arga Tiling. Gua Si Golo-golo.I. dan dari bangunan yang masih dapat diam ati antara lain adalah candi S ukuh. P ropinsi Jawa Timur. 3 Kawasan Gunung Lawu sampai saa t ini memiliki komplek percandian berbentuk bangunan teras berundak. Pembesaran skala 1 : 50. Biasanya pada setiap tanggal 1 Suro dilakukan upacara Labuhan. dan Sarangan (Kabupaten Magetan). Arga Dumilah Utara. Puncak Lawu diukur dari Greenwich terletak pada 1110 9’ dan 70 39’. I-C. Cokrosuryo. Propinsi Jawa Tengah dengan Kabupaten Magetan. PEMBUKA Gunung Lawu secara administratif terletak di perbatasan antara Kabupaten Karanganyar. dan Lumbung Selayur. Arga Dalem Selatan. dan candi Kethek. Sumur Jalatunda. Dari percandian itu akan dibahas dua 2 Peta topografi lembar 50/XLI-n (93-n) dalam skala 1 : 25.000 yang merupakan revisi AMS tahun 1943. 3 Data diperoleh melalui wawancara dengan penduduk setempat pada bulan Mei tahun 2001. Pasar Dieng. Ceto. Beberapa di antaranya tel ah rusak. Adakalanya penda-kian sampai ke puncak Lawu menuju bangunan Arg a Dumilah atau bangunan Arga Dalem yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya Eyang Sunan Lawu. Rangkaian ziarah dimulai dari Sendang Drajat. 4 . Menggung.

5 . yaitu candi Sukuh dan Ceto II. Bentuk Percandian 1. yang dibangun pada sebuah lahan miring dengan sudut kemiringan 120.candi yang terletak di lereng Gunung Lawu yang menjadi ikon Sex Education di Jawa pada abad ke 14-15 Masehi. Bangunan candi berorientasi ke arah timur.. Candi Sukuh Candi Sukuh dan Ceto terletak di lereng barat Gunung Lawu (Lihat foto peta berikut). Candi Sukuh terletak pada ketinggian 910 m dpl.

Di dinding bagian belakang terdapat kala yang terletak di dalam relung 3. Pipi gapura sebelah utara terdapat relief yang melukiskan raksasa sedang menelan orang. masuk candi di terletak sebelah barat berbentuk trapesium dan merupakan gapura terlengkap dibandingkan dengan gapura lain. di bawahnya terdapat seekor anjing. Pada pipi gapura terdapat beberapa relief yang diduga sebagai sengkalan memet. 6 . berupa Pintu gapura. 7. 4. yaitu: 1. diperkirakan sebagai sengkalan memet yang berbunyi gapura bh uta mangan wong = 1359 saka (Musses 1923: 269). 5. Di atas pintu masuk terdapat kala. Pipi gapura sebelah selatan terdap at relief yang melukiskan raks asa sedang menggigit ekor ular. Selain itu terdapat juga relief yang melukiskan sepasang burung yang hinggap di atas sebatang pohon. dan terasterasnya berupa susunan teras halaman. Dinding gapura sebelah utara dan selatan terdapat relief yang melukiskan se-ekor garuda dengan sayap terbuka se dang mencengkeram dua ekor ula r naga. 2. berjumlah tiga teras. Pada lantai gapura terdapat re lief phalus dan vagina yang di lukiskan secara naturalistic (Foto 3).Candi bangunan Sukuh teras berbentuk be rundak. diperkirakan sebagai cerita Garudeya. diperkirakan berbunyi gapura bhuta anahut buntut = 1359 saka (Crucq 1929: 269). 6.

Empat ekor sapi. Pada halaman teras terdapat tiga panil relief. Sisi yang lain menggambarkan 4 ekor gajah. 3. Seorang laki-laki menunggang kuda dikawal oleh lima orang bersenjata tombak dan seorang lagi yang berdiri di depan sedang membawa payung. 2. yaitu: 1.Teras I berbentuk empatpersegipanjang. 7 . Dua sisi batu pertama terdapat relief yang melukiskan seorang laki-laki sedang menunggang seekor gajah dikawal oleh pengiring yang membawa tombak.

demikian pula pada pintu masuk teras II dan teras III (Foto 4). Pintu masuk teras II terletak di sisi barat. dihiasi oleh pahatan relief yang menggambarkan seorang lakilaki sedang memegang trisula. Di sudu t tenggara terdapat obelisk. dan tangan lainnya memegangi ular yang meliliti tubuhnya. Di bagian selatan batur terdap at relief pandai besi (Foto 6). Teras III berbentuk empat - persegipanjang dan dibatasi oleh talud di sisi barat dan selatan. Pada halaman teras III sisi selatan terdapat sebu ah batur berbentuk persegipanjang mem-bujur ke arah barat-timur. Relief ini dikelilingi oleh lingkaran sinar (Foto 5). dijaga oleh sepasang arca dwarapala. Di sebelah utara obelisk di atas lantai terdapat sebuah parit dengan pancuran berbentuk seorang laki-laki yang sedang membongkok karena beratnya mendukung sesuatu. 8 .Talud-talud sebagai pembatas teras I terletak pada sisi barat dan t imur. Relief ini menggambarkan kegiatan pandai besi di bawah bangunan terbuka beratap genting.

Di tengah-tengah bangunan utama terdapat sebuah yoni berukuran kecil. kudi. Pada teras III terdapat bangunan utama yang terletak di bagian belakang teras ketiga. berbentuk piramid terpancung dengan tangga masuk bersayap dan beratap. 9 . Bidang kiri menggambarkan seseorang duduk sambil memegang tangkai ububan.Adegan yang digambarkan dari kiri ke kanan adalah: 1. 3. dan cangkul. tombak. antara lain keris. 2. Tokoh berkepala gajah dapat dibaca sebagai sengkalan memet: gajah wiku hanaut buntut = 1378 saka (Darmosoetopo 1984: 81). memakai sorban dan sedang menari. Bidang kanan menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk menghadap sebuah meja penuh dengan berbagai alat senjata. Bidang tengah menggambarkan seseorang berkepala gajah. tangannya memegang ekor seekor binatang seperti anjing. Dia dengan kaki terbuka sedang menempa sebuah pedang.

4 x 2. umpak. Arca-arca itu sebagai berikut: 1.4 m dan mempunyai relung. Kepala ular di sud ut baratlaut dan baratdaya berlubang di bagian tengahnya. Selain itu juga ditemukan dua arca garuda. Di depan sisa gapura menuju te ras II terdapat sepasang arca dwarapa la berukuran kecil dan di belakang a gpura ditemukan fragmen arca (bagian kaki) yang berbentuk silendris. Disamping banguna n utama terdapat beberapa buah arca. sebuah arca laki -laki membawa tulang dan kapak serta sebuah arca yang digambarkan dalam posisi berdiri. tiga arca kura -kura. sebuah tugu batu. 10 . sebuah arca dwarapala. berisi arca yang dikenal dengan Kyai Sukuh. tangan kiri memegang kemaluan dan tangan kanan memegang senjata (Foto 8). 2. obelisk. dan dua buah batur. tatanan batu segitiga berpola kura-kura (Foto 7) dan sebuah candi kecil berdenah bujursangkar berukuraan 2. digamba rkan seperti mulut yang berfungsi sebagai saluran air. sejumlah panil relief. inskripsi.Pada keempat sudut atap terdapat hiasan kepala ular yang tub uhnya saling berlilitan.

4. menggambarkan relief seekor kera sedang pertapa. 11 bersama seorang tokoh yan g berhadapan dengan seora ng . menggambarkan relief seorang laki-laki dengan punakawan yang membawa gong. Jakarta). Tiang III. arca Nandi dan lingga natural (koleksi Museum Nasional. Sejumlah panil relief terletak di batur utara teras III. Tiang IV. 2. menggambarkan: 1. 5.Arca lain yang berasal dari candi Sukuh dan kini berada di luar candi Sukuh adalah arca babi hutan (d i Tawangmangu). Tiang II. arca Bhima (ko leksi Hardjonegoro. pada obelisk ini terdapat kala mrga. menggamb arkan relief seekor garuda sedang te rbang dengan mencengkeram seekor gajah dan seekor kura-kura pada kedua kakinya (Foto 10). Relief ini merupakan adegan cerita Garudeya (Foto 9). Surakarta). 3. Tiang I. Obelisk. Sisi lainnya terdapat relief beberapa ular. pada satu sisinya terdapat relief dua orang wanita.

Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Dewi Durga. cakra. Sebuah bangunan tertutup dengan gambar cakra dan lima ujung tombak di sebelah kiri dan tujuh ujung tombak di sebelah kanan. 12 . Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebel ah kanan terdapat dua ekor burung hantu. Di belakangnya terlihat antara lain Semar. 7. antara lain relief binatang yang menyerupai babi. 9.6. dan beberapa relief penggalan cerita Sudamala yang digambarkan sebagai berikut: 1. Tapal kuda dengan kepala kala di bagian atas dan dua kijang di ujung bawah. 11. Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan mem bunuh Sadewa (Foto 11). 10. Berbagai jenis senjata (anak panah. Adegan ini tampaknya berada di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari surga karena pelanggaran. di atas tubuh raksasa digambarkan para punakawan. Relief gajah memegang genta. masing-masing membawa senjata. Sebuah rumah. sebatang pohon dan dua tokoh. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai raksasa ber wajah buruk. Sebuah rumah panggung dan seorang pertapa dengan anak kecil. Pada halaman bagian utara terdapat panil relief. Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksa sa wanita) berwajah mengerikan. 8. pedang). bertanduk dan memegang genta. Dua orang raksasa mengerikan. Dua orang tokoh di hadapan rak sasa yang terlentang.

3. 13 . Dewi Durga telah bebas dari kutukan (dan menjadi Dewi Uma Lagi). Dewi tersebut berdiri di atas padmasana (Foto 12).2. Pertemuan Sadewa dengan bagawan Pambapetra dari Prangalas dan putrinya yang bernama Padapa (Padapa akhirnya menjadi istri sadewa). Sadewa berlutut memuji Dewi Uma diikuti oleh punakawan.

2. dan dua inskripsi berada di Museum Nasional. adalah: 1. 14 . Pada relief ini terdapat prasasti yang berbunyi padamel rikang buku ( r ) tirta sunya 1361 Saka Semua inskripsi berada di tera s 3. Inskripsi lingga Sukuh bertuliskan Biseka yang bagawan gangga suding laksana purusa sorning rat. Inskripsi-inskripsi tersebut.4. Perkelahian Bima dengan raksasa Kalantaka. wuku tumpek kaliwon ing wayang 1362. Inskripsi pada relief yang menggambarkan adegan ketika Bhima mengalahkan raksasa Kalantaka. bertuliskan padamel rikang buku ( r ) tirta sunya 1361 Saka (Subroto 1971: 234---7). dan katon karungu brahmana purusa (Darmosoetopo 1984: 82).

Inskripsi di depan arca Garuda berbunyi: sagara muni murub kutuk ing akasa 1364 (Darmosoetopo 1984: 82). 6. 5. 15 .3. 4. oleh Musses dibaca sebagai angka tahun 1365 saka (Stutterheim 1956: 108). Inskripsi pada arca Bhima berbunyi: Bhima gana rama taru. Inskripsi pada arca lembu berbunyi: peling duk kili ri katan gan duk anungkul marang arga pawitra saka kalanya goh wiku hanaut bu ( n ) tut 1379 (Soebroto 1971: 238). Inskripsi di belakang arca Garuda berbunyi: lawase rajeg wesi duk pinerp kapeteg dene wong medang ki hempu rama karubuh alabuh geni harbut bumi kacaritane babajang mara mari setra hanang tang bango 1363 (Darmosoetopo 1984: 77).

Candi Ceto Candi Ceto terletak pada ketinggian 1470 m dpl. baratlaut.5 m seukuran dengan fondasi bangunan Kyai Ageng Krinjing Wesi. 16 . berjumlah tigabelas teras. Di sisi utara h alaman teras terdapat altar yang berada di atas fondasi berdenah bujursangkar. Pada masingmasing sudut altar terdapat pahatan berbentuk burung garuda. Bangunan itu disebut Kyai Ageng Krinjing Wesi. Teras VII berdenah empat persegipanjang dengan pintu masuk di sebelah. Bangunan berorientasi ke arah timur.Talud berupa susunan batu berada di sisi barat. dan teras-terasnya berupa susunan teras halaman. utara dan selatan.2. Candi Ceto berbentuk bangunan teras berundak. Candi ini di bangun pada sebuah lahan miring dengan sudut kemiringan 150. Teras I sampai dengan teras VI tidak ditemukan sisa bangunan. Di sebelah selatan terdapat gundukan setinggi 0.

Pada halaman teras VIII ditemu kan dua gundukan tanah. dua tatanan ba tu yang membentuk pola segitiga sama sisi dan seekor arca garuda bersama seekor kura-kura.Teras VIII berbentuk empat per segipanjang. serta tiga batu bundar yang di atasnya dipahatkan lambang matahari (Foto 16) dan di sisi lain susunan batu menggambarkan vagina dan phallus (Foto 17) serta sebuah lingga berbentuk phallus sebagai objek pemujaan bagi pemujanya (Foto 18) 17 . Pada dinding gapura terdapat inskripsi bertuliskan peling padamel iri kang buku tirtasunya hawaki ra ya hilang kalanya wiku goh anahut iku (Darmosoetopo 1 984: 117). Pintu masuk teras VII I berupa gapura.

namun demikian arca tersebut masih dijadikan sebagai objek pemujaan bagi para pemujannya. 18 . Kedua tangan mengepal.Selain itu ditemukan beberapa arca Bhima dan arca-arca yang belum dapat diidentifikasikan sebagai tokoh dewa tertentu. ibujari terbuka menghadap ke atas dan diletakkan berhadapan di depan perut. Salah satu arca dari arca--arca tersebut digambarkan berjenggot dengan garis rahang menonjol.

ditempatkan di halaman tepa t sebelum tangga menuju halaman teras IX (Foto 20). Di antara gundukan tanah ditemukan bekas fondasi berdenah bujursangkar.Sementara itu sebuah arca toko h dalam posisi berdiri dengan kedua lutut sedemikian rupa. 19 . tangan kiri lurus ke bawah dan tangan kanan terlipat di atas pusar serta kepala sedikit menengadah. Pada pinggiran fondasi terdapat panil-panil relief. Pada halaman teras IX terdapat gundukan tanah berdenah empat persegipanjang dan berbentuk huruf L.

Pada teras ini terdapat fondasi tanah yang ditinggikan. Konsep Dewa Gunung (Parwatarajadewa) Sumber-sumber agama Hindu India mengga mbarkan bahwa alam semesta terdiri dari sebuah benua berbentuk lingkaran. berdenah trapesium dengan delapan buah umpak batu di atasnya. Jambudwipa ini di-kelilingi oleh tujuh rangkaian samudra dan tujuh rangkaian pegunungan secara berselang- 20 . Pada teras ini sekarang dibangun bangunan baru hasil renovasi pihak tertentu yang tidak semestinya. yang merupakan tempat tinggal manusia dan berbagai hewan lainnya. III. yang diinterpretasikan sebagai bentuk menhir. disebut Jambudwipa. Bernet Kempers (1959: 104) mencatat adanya sejumlah batu berbentuk lancip di teras tersebut.Teras XIII merupakan teras teratas. berdenah empat persegipanjang.

Dalam pada itu. Pada lereng Gunung Mahameru terletak surga terendah. Poros barat-timur berturut-turut setelah terdapat gunung Gandhamadana. Sementara di ketiga benua lainnya hidup berbagai makhluk ajaib. menurut Budhisme pun gambaran alam semesta hampir sama dengan uraian kosmos pada Hinduisme. Pada poros utara-selatan terdapat enam gunung besar lainnya. gambaran alam semesta terdapat dalam karya sastra Bhismaparwa dan Brahmandapurana (abad 10 M). Gunung Mahameru menjadi pusat dari alam semesta. Di sela-sela ketujuh gunung itu terdapat daerah-daerah tempat tinggal. Alam semesta itu dikelilingi pula oleh barisan cakrawala. dan Srngawan di s ebelah utara. Perbedaannya adalah di luar rantai pegunungan ketujuh terdapat samudra. 1936: 1521 . Jambudwipa dikelilingi oleh Lawanasagara dan di tengahnya menjulang Gun ung Mahameru sebagai titik pusat alam semesta. dan Tasik Kulwan di sebelah barat. Benua yang terletak di selatan adalah Jambudwipa. bulan. Lingkaran alam semesta itu berpusat pada Gunung Maha meru (Meru). Di puncak Gunung Mahameru terletak kota tempat tinggal para dewa. dan gunung Malyawan. Pada masa Jawa kuna. dan bintang-bintang. Bhadraswa. Ketuman. Pada dasarnya gambaran kosmos dalam kedua karya sastra itu tidak jauh berbeda dengan sumber Hindu India. tempat tinggal keempat Raja besar sebagai penjaga dunia (HeineGeldern 1982: 4-5). dan Nisadha. Swetagiri. yaitu Nilawarsa. lalu Purwasagara (Gonda 1932: 129—39. Dunia dalam kedua karya sastra ini digambarkan berpusat pada Jambu-dwipa. dan di keempat arah mata anginnya terdapat empat benua. dan Himawan di sebelah selatan. Sementara di kedelapan arah Gunung Mahameru dijaga oleh dewa-dewa Asta-dikpalaka. gunung kosmis yang diedari oleh matahari. Hemakuta. tempat tinggal manusia dan berbagai binatang lainnya.seling.

Lawanasagara/Tasik As in. Sagara:. bersifat serba emas (Bhismapar wa. tempat pa ra kinari serta para widyadara dan widyadari bersenandung dan bercengkrama (Kirtya No. Gonedadwipa. yang dikelilingi oleh anak-anak gunung Kailasa (Gonda 1932: 146-147). Swadu(udaka) Samudra (Gonda 1932: 153161.000 Yojana dan besarnya 15 Yojana menghasilkan buah yang airnya dapat membuat penduduk sekitarnya tidak terkena jara-marana (sakit dan mati). Kailasa adalah puncak di tengah gunung Hima wan. Tasik Susu/Tasik Minak/Dad hi. 2. Sementara dalam Brahmandapurana. Letaknya di antara gunung Nila dan Nisadha. 22 . Air yang turun dari pohon itu menjadi sungai yang mengelilingi Mahameru bagaikan pradaksina (Gonda 1932: 21. Sem entara dalam Adipaewa (Yuynboll 1906: 1). Dwipa: Jambudwipa. dan Puskaradwipa. 1936: 28—9). 317: 29). Gonda 1936: 18). Tasik Kilang/Tasik Madira. Tasik Pehan/Tasik Puter. Berturut-turut dari tengah. Ghrtasagara/Tasik Pehan. Tasik Sura /Tasik Airtebu/Iksu. ketujuh dwipa dan sagara itu sebagai berikut: 1. Sakadwipa. Kailasa adalah leher gunung Himawan. antara lain Kailasa dan pohon Sudarsana. terdapat pula tujuh dwipa dan tujuh sagara yang terletak berselang-seling di antaranya. Iva. Disamping gunung-gunung itu. Tempat-tempat penting lainnya yang disebutkan oleh kedua karya sastra itu.23). Kailasa adalah tempat dewa Sangkara/Siwa. 1932: 145). Pohon Sudarsana yang tingginya 100. Gunung Kailasa juga digambarkan sebagai tem pat yang indah dalam Uttarakandaprakreta. Salmalidwipa. Kronca dwipa. Kusadwipa.

Tantu Panggelaran menguraikan bagaimana Mahameru. Nagarakrtagama. Mahameru sebagai tempat kediaman Bhattara Guru mempunyai gerbang-gerbang tertentu yang dijaga oleh para dewa tertentu pula. Sri Parwwatanatha. Wisnu di sebelah utara. Dalam pada itu. Umapati di sebelah timur. sedangkan pada karya sastra yang lebih muda terentang pada poros barat-timur. yang juga disebut Mandaraparwata dan disamakan dengan Kailas a. Demikian pula dalam Korawasrama yang menjelaskan tentang pager ing bhuwana yang kemudian dikenal dengan kelompok nawasanga. Mahadewa di sebelah barat. dan Sangkara di sebelah baratlaut (Swellengrebel 1936: 48). bukan dalam artian perpaduan antara Siwa-Budha. Kakawin-kakawin ini. yaitu Siwa berada di tengah. tapi lebih kepada Siwa atau Budha sebagai “superhuman beings”. Sambhu di sebelah timurlaut.Gambaran kosmos dalam karya sastra Jawa kuna yang lebih muda (abad 14-15 M) mengalami perubahan. Rudra di sebelah baratdaya. Kakawin Arjunawijaya. Perbedaan lainnya adalah dalam karya sastra Jawa kuna sebelumnya gununggunung besar di Jambudwipa terentang pada poros utara-selatan. Maheswara di sebelah tenggara. dan Sutasoma menyebutkan Sri Parwatarajadewa. Korawasrama menyebut Mahameru dengan Sanghyang Rajaparwata dan dinyatakan sebagai kedudukan Bhattara Caturbhuja dan Bhattara Umapati (Swellengrebel 1936: 60). dalam ceritanya menguraikan adanya p ersamaan antara Siwa dan Budha sebagai “Superhuman beings”. Penghormatan terhadap Mahameru sebagai gunung suci di pulau Jawa mengantar kita pada identitas tokoh yang berada di puncak gu nung. Brahma di sebelah selatan. sehingga terkesan bahwa Pulau Jawa adalah pusat dunia. dan Bhatar anatha Girinatha. Pemujaan atau ritual bisa 23 . merupakan lingganing bhuwana yang dipindahkan dari Jambudwipa ke Jawa-dwipa (Pigeaud 1924: 65).

seperti sepasang arca penjaga. dan Kidung Witaraga (Robson 1979) meng-hubungkan dengan sangat jelas antara Siwa dengan gunung. Bangunan induk candi Sukuh dan Ceto berbentuk piramid terpancung Arca dan re lief yang ditemukan. yaitu candi Sukuh. sebagian tidak berada di tempatnya semula. baik karya sastra yang disebutkan ter-dahulu maupun karya sastra lainnya seperti Parthajajna (Adiwimarta 1993: 54. Kidung Margasmara. Sumber-sumber tertulis di Jawa. namun hakekat keduanya sama sebagai “superhuman beings” (Pigeaud 1960. gajah. binatang. Teras-terasnya berupa susunan teras halaman. sampai 1470 m dpl. Candi Sukuh dan Ceto. arca lembu. Demikian pula karya sastra Wrhaspati-tattwa (Devi 1957) yang menyebutkan Bhatara Iswara berdiam di puncak gunung Kailasa (Mahameru). terkesan lebih raya dan kaya ornamen dibandingkan dengan candi-candi yang terletak jauh di atasnya. IV. Peranan candi Sukuh dan Ceto pada abad 14-15 M Keempatbelas candi di kawasan gunung Lawu membentang dari lereng sampai puncak gunung. Soepomo 1977. Ceto. 127---9). dan simbol. Arca-arca digambarkan dalam bentuk manusia. Dari sumber-sumber tertulis itu diketahui bahwa puncak gunung (dalam artian gunung suci) diy akini sebagai tempat bersemayamnya dewa Siwa dalam bentuknya sebagai Paramasiwa yang bersifat “niskala”.saja berbeda. Soewito 1968). garuda. 24 . Bangunan-bangunan candi yang terletak di antara ketinggian 910 m dpl. I:3. sehingga tokoh yang berdiam di puncak gunung tidak lain adalah Parameswara. dan kura-kura. berbentuk bangunan teras berundak. Bangunan-bangunan suci itu sebagian besar berorientasi ke puncak gunung atau bukit.

Perjalanan Garuda mencari air amrta digambarkan dalam adegan ketik a Garuda terbang dengan kedua cakarnya mencengkeram seekor gajah dan kura-kura.yoni. dan Nawaruci. naga berfungsi sebagai pengikat gunung Mandara yang ditarik oleh para dewa dan daitya. Garudeya. Atas bantuan Dewa Siwa. cerita Garudeya mengisahkan usaha Garuda memb ebaskan ibunya Winata dari kutukan. dalam rangkaian mencari air amrta. 25 . Cerita lainnya yang menggambarkan kura-kura dan naga berhubungan dengan kisah Samudramanthana. Cerita Sudamala mengisahkan usaha Dewi Durga membebaskan dirinya dari kutukan Dewa Siwa karena ia telah berselingkuh dengan lelaki lain. serta lingga berbentuk phallus yang digambarkan berhadapan dengan vagina. Sementara itu. akhirnya ia dapat meruwat ibunya lepas dari budak Kadru dan para Naga. gajah dan kurakura merupakan penjelmaan Supratika dan Wibhawasu. Sementara itu. Pada candi Ceto. relief cerita yang dipahatkan merupakan penggalan cerita Sudamala. relief cerita yang dipahatkan pada candi Suk uh. sehingga ia disebut Sudamala. Sadewa berhasil meruwat Dewi Durga. Tokoh yang dapat mengembalikan dirinya dalam wujud semula sebagai Dewi Uma adalah Sadewa. Samudramanthana. Dengan adanya air amrta. lingga berbentuk phallus dalam ukuran besar dan kecil. Dalam pengadukan samudra. merupakan penggalan cerita Sudamala. Dalam cerita Garudeya. pandai besi. dan relief yang belum teridentifikasi.

Cerita pandai besi. yang biasa dilakukan dalam upacara diksa dalam rangka mencari kalepasan jiwa. sejalan dengan upaya pemaknaan maka kosmologi menja di landasan pemikiran. Parwati. Maha meru merupakan gunung kosmis y ang menjadi pusat alam semesta. Logam. Dalam suatu ritus upacara. tetapi lebih dimaksudkan sebagai lambang keabadian setelah seseorang menjalani berbagai tingkatan dal am ajaran agama (Saiwa). dalam hal ini dianggap sebagai sesuatu yang kekal (tidak berubah) dalam berbagai perubahan (O’ Connor 1985: 53-70).phallus dan vagina melambangkan sumber kekuatan bersatunya Dewa Siwa dan saktinya. sedangkan . Sebagai penutup tulisan. arca. semata -mata bukan dimaksudkan sebagai adanya pertukangan logam di Jawa pada abad itu. Menurut konsep kosmologi. mendaki candi sama dengan melakukan perjalanan ke pusat dunia. dalam hal ini dapat berupa Dewi Uma. Air dianggap sebagai lintasan (siddhayatra) atau media untuk mencapai tuju an. Kali. kedua can di itu lebih diperuntukkan sebagai sarana untuk melakukan upacara diksa. maupun relief candi Sukuh dan Ceto menggambarkan simbol pendakian gunung dalam mencapai kesucian jiwa untuk bersatu dengan ista dewata (Dewa Siwa). atau Durga. Bentuk bangunan. Dengan demikian. Apa yang teramati dari tinggalan-tinggalan candi Sukuh dan Ceto sebagaimana diurai di atas tentu saja dapat dirunut dari berbagai sudut pandang. selalu berada di antara gambaran yang mengungkapkan hubungan antara langit dan bumi.Lingga berbentuk phalus melambangkan kekuatan Dewa Siwa. Candi sebagai simbol gunung kosmis. Tema cerit a yang digambarkan pada kedua candi itu melambangkan pensucian diri dari mala. Dengan mendaki 26 .

27 .kedua candi itu dimaksudkan untuk merenungkan hakekat hidup sebelum mencapai tingkatan selanjutnya.

Nix & Co. Gen van Kunsten en W etwnschappen. “Het Oud-javaansche Bhismaparwa”. Jakarta: D epartemen Pendidikan dan Kebudayaan. R. Riboet Devi. A. halaman 269. Volume 23. Soekarto K. No. J. Kakawin Par thayajna.Von Heine 1982 Gonda. Bat. Herman 1978 Mabbett. 1983 Munandar. 1982/’83 ”Punden Cemoro Bulus di Lereng Barat Gunung Lawu”. Sudarshana 1957 Geldern. 1929 1975/’76 Darmosoetopo. Bidang Studi Crucq. Disertasi.DAFTAR PUSTAKA Adiwimarta. 6. dalam History of Religions: An International Journal for Comparative Historical Studies. halaman 123--8. Diindonesiakan oleh Deliar Noer. No. Bandoeng. OV: I. New York: Cornell University. Sri Sukesi 1993 Unsur-Unsur Ajaran dalam Universitas Indonesia. Bat. Atmodjo. “Het Oud-javaansche Brahmanda Purana.1. Kegiatan Keagamaan di Pawitra: Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14--15 M. Laporan Peninggalan-peninggalan Kebudayaan di Lereng Gunung Lawu. Jakarta. Prosa-tekst en Kakawin”. dalam Analisis Kebudayaan. Kon. Gen van Kunsten en Wetwnschappen. Yogyakarta: Proyek PPPT UGM Wrhaspatitattwa an Old Javanese Philosophical Taxt. Konsepsi tentang Negara dan Ke dudukan Raja di Asia Tenggara. K. The Dewaraja Cult. Chicago: The University Chicago Press. International Academi of Indian Culture. Tahun III. Kon. I.W. Jakarta: Rajawali. 2. Nix & Co. Agus Aris 1990 28 . 1932 1936 Kulke.C. “Inscriptie van Soekoeh en Tjeta”. Bandoeng.M. A. 5 . Bibliotheca Javanica No. Bibliotheca Javanica No. M. “The Symbolism of Mount Meru”.. Tesis Magister Program Pascasarjana UI.C.C.

” dalam PIA V. 1960. Vertald en Toegeli cht. De Tantu Panggelaran: Een Oud -Javaansch Proza-geschrift Uitgegeven. IIA. Nasional University. III. Literature of Java. Musses. Jawa Barat. H. Vol. Vol.Th. Canberra. Koniklijk Instituut voor Taa l-. Smits. “Candi-candi Masa Majapahit: Struktur Bangunan dan Fungsi”. The Hague: Martinus Nijhoff. Disertasi. Di Mojokerto.thesis.” dalam PIA VII. 1963). 1365 A. The Hague: Martinus Nijhoff “Mandala (Kadewaguruan) pada Masyarakat Majapahit. Juli 1993. “Bangunan Berundak Teras Masa Majapahit.Ilmu Pengetahuan Budaya. Landen Pigeaud. TBG: LXII. II. Jnanasiddhantha. Vol.D. Jawa Timur. Java in the Fourteenth Century: A Study in Cultural History. 1960 1986 1986 1989 1990 1993 Santiko. Haryati 1971 Soewito. Jakarta: Puslitarkenas. The Nagarakertagama by Rakawi Prapanca of Majapahit. 29 .” dalam MONUMEN: Karya Persembahan Untuk Prof. Th. “Kehidupan Beragama Golongan Rsi Di Jawa. R.D. IIb. halaman 496-515. Soekmono. 1960. Vol. Hariani 1996 1998 Soebadio.I. Volkenkunde. 1962. a Study in The A ustralian Javanese Wajrayana. “Dinamika Masyarakat Masa Maja pahit dan Dampaknya pada Kehidupan Beragama: Sebuah Studi Kasus. Jakarta pada tanggal 1 8 November.L. “Penelitian Awal Agama Hindu-Saiwa pada Masa Majapahit. 's-Gravenhage:Nederlandsche Boeken Steendrukerij vh. IV. dalam Simposium Peringatan 700 Tahun Majapahit. Martha 1923 1924 “De Soekoeh-opscriften”. 5 volumes (Vol. Dr. Rijksuniversiteit te Leiden. 1960.G. Santoso 1968 Boddhakawya-Sutasomaa. V. naskah diceramahkan di Puslita rkenas. 12--16 Maret 1996 di Cipanas. unpublished Ph. A. Depok: FSUI. Diketik ulang berupa buku tahun 1994 (belum diterbitkan). Jakarta: Puslitarkenas.” dalam PIA IV.

Subroto. “S-Gravehage . Swellengrebel. “Beberapa Relief pada Candi Sukuh dan Fungsinya”. The Kings of The Mountain: An Indian Contribution to Statecraft in Southeast Asia. Paul 1980 30 . 1972 1977 1936 1969 “Lord of The Mountains In The Fourteenth Century Kakawin” BKI. A. Ltd.G. S. Siwaratrikalpa of Mpu Tanakun. 4. Ph. Deel 128. Santpoort. Teeuw. Quaritch 1953 Wheatley. II. dalam Pekan Kegiatan Fakultas Sastra UGM. London: Bernard Quaritch. een Oud-Javaansch Proza-geschrift.. 1971 Supomo. Nijhoof. Bibliotheca Indonesia 3.L. an Old Javanese Poem. J. I.Martinus Nijhoff. Kuala Lumpur: University of Malaya. dkk. Arjunawijaya of Mpu Tantular. Korawasrama. H. No. Martinus Nijhoff. Wales. Its Indian Source and Balinese illustrati ons. Vol. The Mountain Of God: A Study I n Early Religion and Kingship. halaman 223-238. The Hague M. The Hague.