Anda di halaman 1dari 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stroke Nonhemoragik 2.1.1Definisi Stroke adalah suatu tanda klinis yang ditandai defisit neurologi fokal atau global yang berlangsung mendadak selama 24 jam atau lebih yang dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah. Stroke dapat dibagi menjadi dua, yaitu stroke non hemoragik dan stroke hemoragik. Sebagian besar (80%) disebabkan oleh stroke non hemoragik. Stroke non hemoragik dapat disebabkan oleh trombus dan emboli. Stroke non hemoragik akibat trombus terjadi karena penurunan aliran darah pada tempat tertentu di otak melalui proses stenosis.

2.1.2 Faktor Resiko Kelompok faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi merupakan kelompok faktor risiko yang ditentukan secara genetik atau berhubungan dengan fungsi tubuh yang normal sehingga tidak dapat dimodifikasi. Yang termasuk kelompok ini antara lain usia, jenis kelamin, ras, riwayat stroke dalam keluarga, serta riwayat serangan transient ischemic attack atau stroke sebelumnya. Kelompok faktor risiko yang dapat dimodifikasi merupakan akibat dari gaya hidup seseorang dan dapat dimodifikasi, yang meliputi hipertensi, diabetes mellitus, dislipidemia, penyakit jantung, merokok, alkohol, obesitas, dan penggunaan kontrasepsi oral.

karena tingginya ion H. Pada endotel yang mengalami kerusakan.2. Akibat adanya reseptor pada trombosit menyebabkan perlekatan trombosit dengan jaringan kolagen pembuluh darah. Saat awal depolarisasi membran sel masih reversibel. kemudian akan merangsang trombosit dan agregasi trombosit dan merangsang trombosit mengeluarkan zat-zat yang terdapat di dalam granula-granula di dalam trombosit dan zat-zat yang berasal dari makrofag yang mengandung lemak. Bila aliran darah jaringan otak berhenti maka oksigen dan glukosa yang diperlukan untuk pembentukan ATP akan menurun. akibat adanya kerusakan endotel pembuluh darah. Proses trombosis terjadi akibat adanya interaksi antara trombosit dan dinding pembuluh darah. tetapi bila menetap terjadi perubahan struktural ruang menyebabkan kematian jaringan otak. Akibat kekurangan oksigen terjadi asidosis yang menyebabkan gangguan fungsi enzim-enzim. Trombus ini bisa terlepas dari dinding pembuluh darah dan disebut tromboemboli. yaitu bila aliran darah berkurang hingga dibawah 10 ml / 100 gram / menit.3 Patofisiologi Stroke Nonhemoragik akibat Trombus Trombus adalah pembentukan bekuan platelet atau fibrin di dalam darah yang dapat menyumbat pembuluh vena atau arteri dan menyebabkan iskemia dan nekrosis jaringan lokal.13 K+ berpindah ke ruang ekstraselular. Keadaan ini terjadi segera apabila perfusi menurun dibawah ambang batas kematian jaringan. Trombosis diawali dengan adanya kerusakan endotel. Tempat terjadinya trombosis yang paling sering adalah titik percabangan arteri serebral utamanya pada daerah distribusi dari arteri karotis interna. sehingga tampak jaringan kolagen dibawahnya.1. darah akan berhubungan dengan serat-serat kolagen pembuluh darah. sehingga membran potensial akan menurun. sementara ion Na dan Ca berkumpul di dalam sel. Trombosis dan tromboemboli memegang peranan penting dalam patogenesis stroke iskemik.8 Adanya stenosis arteri dapat menyebabkan terjadinya turbulensi aliran darah. akan terjadi penurunan Na+ K+ ATP-ase. . Hal ini menyebabkan permukaan sel menjadi lebih negative sehingga terjadi membran depolarisasi.

terutama jaringan glia. dan etiologi. namun dengan adanya pemeriksaan penunjang dengan CT-Scan. maka diagnosis topic menjadi lebih mudah. Sedangkan diagnosis topik dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda yang timbul. 2. gejala dan tanda klinis serta pemeriksaan penunjang CT-Scan. dan berakibat terhadap mikrosirkulasi.1.Selanjutnya asidosis menimbulkan edema serebral yang ditandai pembengkakan sel. Diagnosis klinis dibuat berdasarkan batasan stroke. dan penegakan diagnosisnya dilakukan dengan pemeriksaan klinis yang meliputi anamnesis. . Transcranial Doppler Ultrasonography. MRI. Oleh karena itu terjadi peningkatan resistensi vaskuler dan kemudian penurunan dari tekanan perfusi sehingga terjadi perluasan daerah iskemik. topic.4 Diagnosis Gejala neurologis yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak tergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya. Diagnosis etiologi ditegakkan dengan anamnesis. Diagnosis stroke mencakup diagnosis klinis. pemeriksaan neurologis dimana akan didapatkan gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah pembuluh darah otak tertentu.

Inkontinensia urin dan inkontinensia alvi. Apraksia g. Gangguan koordinasi motorik dan keseimbangan c. Spastisitas d.1.Sindrom Stroke Iskemik 2. Gangguan kontrol motorik dan kekuatan b. . Gangguan tersebut adalah sebagai berikut: a. Gangguan bahasa dan bicara f. Disfasia h. Gangguan sensasi e.5 Gangguan yang timbul setelah stroke Gangguan-gangguan spesifik akan muncul apabila suatu region fokal dan sistem saraf di dalam otak mengalami kerusakan karena kerusakan vaskuler.

dan rehabilitasi medik. Pengobatan secara umum Untuk pengobatan umum ini dipakai patokan 5 B. Pengobatan secara khusus Tujuan pengobatan pada fase akut terutama bertujuan untuk membatasi kerusakan otak semaksimal mungkin agar kecacatan yang ditimbulkan seminimal mungkin.2.satunya obat yang diakui FDA sebagai standar adalah pemakaian r-TPA (Recombinant .v maupun arterial dalam waktu kurang dari 3 jam setelah onset stroke.Tissue Plasminogen Activator) yang diberikan pada penderita stroke iskemik dengan syarat tertentu baik i.1. Bladder Miksi dan balance cairan harus diperhatikan.6 Tatalaksana Penatalaksanaan penderita stroke nonhemoragik terdiri atas pengobatan secara umum. Hindari terjadinya obstipasi karena akan membuat pasien gelisah dan nutrisi harus cukup. yaitu Breathing Harus dijaga agar jalan nafas bebas dan fungsi paru-paru cukup baik) Blood Tekanan darah dijaga agar tetap cukup tinggi untuk mengalirkan darah ke otak dan kadar Hb dan glukosa harus dijaga cukup baik untuk metabolisme otak. a. Bowel Defekasi dan nutrisi harus diperhatikan. Brain Edema otak dan kejang harus dicegah dan diatasi. Obat-obat yang diberikan adalah: Trombolisis Satu. . Tujuan pengobatan stroke iskemik adalah untuk memperbaiki aliran darah dan metabolism di daerah otak yang mengalami iskemik. pengobatan secara khusus. b.

2 Rehabilitasi Medik pada Stroke 2. 2. Efek antikoagulan heparin adalah inhibisi terhadap faktor koagulasi dan mencegah atau memperkecil pembentukkan fibrin dan propagasi trombus. nimodipin. citikolin. interaksi sosial dan perilaku lain yang dibutuhkan Aktivitas seharihari yang perlu dinilai adalah kemampuan dasar dalam melakukan aktivitas perawatan diri sendiri yaitu makan-minum.- Antikoagulan Obat yang diberikan adalah heparin atau heparinoid (fraxiparine). berhias. aktivitas hiburan atau hobi. Obat-obat ini misalnya piracetam.1 Gangguan Fungsi akibat Stroke Dalam rehabilitasi medis. Pembatasan cairan juga dapat membantu. Disabilities and Handicaps (ICIDH) sebagai model rehabilitasi. istilah fungsi merujuk pada kemampuan/ ketrampilan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari. - Anti edema Obat anti edema otak adalah cairan hiperosmolar. dan menggunakan tangga. kontrol buang air kecil dan besar.2. Dapat pula menggunakan kortikosteroid. . - Anti agregasi trombosit Obat yang banyak digunakan adalah asetosal (aspirin) dengan dosis 40 mg – 1. pentoksifilin. larutan gliserol 10%. Akhir-akhir ini digunakan tiklopidin dengan dosis 2 x 250 mg. World Health Organization (WHO) pada tahun 1980 memperkenalkan The International Classification of Impairments.3 gram/hari. misalnya manitol 20%. berpindah tempat (transfer). pekerjaan. mobilitas-jalan. berpakaian. - Neuroprotektan Berperan dalam menginhibisi dan mengubah reversibilitas neuronal yang terganggu akibat ischemic cascade. mandi. menggunakan toilet.

dan sebagainya. diabetes mellitus. Contoh handicap adalah ketidakmampuan berperan sebagai ayah bermain dengan anaknya (karena hemiparesis yang menyebabkannya sulit bergerak atau berjalan). afasia. tidak dapat bekerja (karena kesulitan berjalan ke tempat kerja. Handicap (keterbatasan dalam peran) Handicap atau kecacatan merupakan suatu konsekuensi sosial dari penyakit. ekonomi dalam keluarga dan lingkungan bagi individual tertentu akibat impairment dan disability yang dideritanya. . atau psikologis tubuh.melakukan pekerjaan sebelumnya) dan lain sebagainya. b. disatria) atau ketidakmampuan melakukan perawatan diri sendiri seperti berpakaian (akibat hemiparesis. Contoh disability: adalah ketidak mampuan berjalan (akibat hemiparesis). disartria. disfagia. gangguan sensoris dan lain-lain). didefinisikan sebagai hilang atau terganggunya struktur atau fungsi anatomis. Disability (ketidakmampuan) Disability didefinisikan sebagai keterbatasan atau hilangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas yang umum dapat dilakukan oleh orang lain yang normal karena impairment yang dideritanya. hipertensi. Patologi (penyakit) Patologi sinonim dengan penyakit atau diagnosis. ketidakmampuan berkomunikasi (akibat afasia. didefinisikan sebagai terganggu atau terbatasnya kemampuan aktualisasi diri dan untuk berperan secara sosial. didefinisikan sebagai kerusakan atau proses abnormal yang terjadi di dalam organ atau sistem organ tubuh. Contoh impairment adalah hemiparesis. d. depresi dan lain sebagainya. gangguan kognitif. Contoh patologi: stroke non-hemoragik yang disebabkan oleh trombosis. fisiologis. Impairment (gangguan organ atau fungsi organ) Impairments merupakan akibat langsung dari patologi. budaya. c.Model ini membagi kondisi sakit dalam 4 level berbeda yaitu: a.

2. pemulihan fungsional masih dapat terus terjadi sampai batas-batas tertentu terutama dalam 3-6 bulan pertama setelah stroke. alih baring. Sasaran adalah untuk mencegah disabilitas sekunder dan deformitas. atau perubahan lingkungan. Pemulihan neurologis terjadi awal setelah stroke. visual dan proprioseptif. yaitu untuk mengembalikan kemandirian pasien mencapai kemampuan fungsional yang optimal. 2. Proses Kompensasi Proses ini membantu menyeimbangkan keinginan aktivitas fungsional pasien dan kemampuan fungsi pasien yang masih ada.2 Proses Pemulihan setelah Stroke Proses pemulihan setelah stroke dibedakan atas pemulihan neurologis (fungsi saraf otak) dan pemulihan fungsional (kemampuan melakukan aktivitas fungsional). 2.2. yang membantu terbentuknya proses belajar dan plastisitas otak. Hal itulah yang menjadi fokus utama rehabilitasi medis. dan mempertahankan lingkup gerak sendi. Proses Substitusi Proses ini sangat tergantung pada stimuli eksternal yang diberikan melalui terapi latihan menggunakan berbagai metode terapi. Proses pemulihan fungsional terjadi berdasarkan pada proses reorganisasi atau plastisitas otak melalui: 1.3 Intervensi Rehabilitasi Medik pada Stroke Rehabilitasi medik pada penderita stroke pada prinsipnya dilakukan seawal mungkin. Pencapaian hasilnya sangat tergantung pada intaknya jaringan kognitif. serta untuk memelihara fungsi yang masih ada. Setelah lesi otak menetap. Pada fase awal atau akut. Prosedur ini . Kemampuan fungsional pulih sejalan dengan pemulihan neurologis yang terjadi. pulihnya diaschisis dan atau terbukanya kembali sirkuit saraf yang sebelumnya tertutup atau tidak digunakan lagi. perhatian ditujukan pada posisi. Mekanisme yang mendasari adalah pulihnya fungsi sel otak pada area penumbra yang berada di sekitar area infark yang sesungguhnya. perubahan perilaku. Hasil dicapai melalui latihan berulangulang untuk suatu fungsi tertentu. pemberian alat bantu dan atau ortosis.2.

3. Terapi Latihan Terapi latihan adalah salah satu alat yang mempercepat pemulihan pasien dari cedera dan penyakit yang dalam pelaksanaannya menggunakan gerakan-gerakan aktif maupun pasif 2. Tujuan rehabilitasi medik pada penderita stroke adalah mengusahakan agar kecacatan akibat stroke seminimal mungkin dan dengan sisa-sisa kemampuan fungsional yang masih ada. Latihan koordinasi. Penderita stroke karena perdarahan mulai mobilisasi setelah hari ke10-14 saat awitan. Sedangkan penderita stroke akut dengan infark miokard akut mulai mobilisasi setelah 21 hari istirahat di tempat tidur.1 Latihan Pasif Gerak pasif dihasilkan oleh kekuatan “eksternal” ketika otot-otot tidak bisa berkontraksi atau otot berelaksasi secara volunter untuk melakukan pergerakan. Latihan pasif pada penderita stroke adalah: 2. Aktivitas mobilisasi dimulai dengan aktivitas di tempat tidur.diteruskan sampai keadaan medik telah stabil dan penderita dapat mengikuti program aktif. Dengan kata lain gerak pasif adalah gerak yang digerakkan oleh orang lain.3. Latihan pasif dilakukan sedini mungkin walaupun pasien belum sadar.1 Latihan Pasif Anggota Gerak Atas 1) Gerakan menekuk dan meluruskan sendi bahu 2) Gerakan menekuk dan meluruskan siku .1. 2. dan ambulansi. Latihan mobilisasi penderita nonhemoragik dapat dimulai pada hari ke-2 atau ke-3 saat awitan. ketahanan. Pada fase aktif ini sasarannya adalah untuk mencapai kemandirian fungsional dalam hal mobilisasi dan aktivitas sehari-hari. berdiri. penderita dapat dilatih untuk meningkatkan kualitas hidupnya.3. berlanjut ke duduk. Pada latihan gerak pasif dibantu oleh Fisioterapis maupun oleh keluarga atau pengasuh penderita. dan keseimbangan juga diberikan bila perlu.

1.3) Gerakan memutar pergelangan 4) Gerakan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan 5) Gerakan memutar ibu jari 6) Gerakan menekuk dan meluruskan jari tangan 2.3. 2) Letakkan kedua tangan di atas kepala. Latihan III: 1) Anjurkan penderita mengangkat tangan yang lemah/ lumpuh ke atas kepala. 2) Kembalikan ke posisi semula.2 Latihan Aktif Gerak aktif adalah gerak yang dihasilkan oleh kontraksi otot sendiri. Latihan II: 1) Anjurkan penderita mengangkat tangan yang lemah/ lumpuh melewat dada ke arah tangan yang sehat.2 Latihan Pasif Anggota Gerak Bawah 1) Gerakan menekuk dan meluruskan pangkal paha 2) Gerakan menekuk dan meluruskan lutut 3) Gerakan latihan pangkal paha 4) Gerakan memutar pergelangan kaki 2. Latihan aktif dilakukan bila kondisi pasien telah stabil dan kooperatif.3. Latihan aktif pada penderita stroke meliputi. 3) Kembalikan tangan ke posisi semua (ke bawah). Latihan I: 1) Anjurkan penderita mengangkat tangan yang lemah/ lumpuh menggunakan tangan yang sehat ke arah atas. .

angkat ke atas dada. Kembali ke posisi semula dan ulangi lagi. 2) Ayunkan kaki sejauh mungkin ke arah ke kanan dan ke kiri. 2) Luruskan siku. 2) Turunkan kaki yang sehat sehingga punggung kaki yang sehat bersentuhan dengan pergelangan kaki yang lemah. 3) Letakkan kembali tangan yang lemah di tempat tidur. kemudian angkat ke atas. Latihan IV: 1) Tekuk siku yang lemah/ lumpuh menggunakan tangan yang sehat. Latihan VII: 1) Anjurkan penderita meletakkan kaki yang sehat di bawah lutut yang lemah. 3) Angkat kedua kaki ke atas dengan bantuan kaki yang sehat.2) Kembalikan ke posisi semula. 2) Lakukan gerakan memutar ibu jari yang lemah dengan tangan yang sehat. Latihan VIII: 1) Angkat kaki yang lemah menggunakan kaki yang sehat ke atas sekitar 3 cm. 2) Putar pergelangan tangan ke arah dalam dan ke arah luar. Latihan VI: 1) Tekuk dan luruskan jari-jari yang lemah dengan tangan yang sehat. . Latihan V: 1) Pegang pergelangan tangan yang lemah/ lumpuh menggunakan tangan yang sehat. kemudian turunkan pelan-pelan. 3) Kembalikan ke posisi semula.

metode latihan ini diarahkan pada kedua sisi tubuh. Hal ini bertujuan agar sisi yang sakit mendapatkan stimulasi dengan sentuhan atau pijatan pengunjung.3. pola gerak semakin tidak normal. atau tenaga medis lain. selanjutnya dilatih berdiri dan berjalan 2. Pendekatan latihan ditujukan pada sisi yang sehat supaya dapat mengkompensasi sisi yang sakit. Pendekatan Unilateral Pendekatan unilateral disebut juga pola tradisional atau compensatory rehabilitation (Hamid dan Wahani. hilangnya reaksi keseimbangan (Soeparman. pada hari ketiga posisi kepala tempat tidur ditinggikan secara bertahap. saudara. hilangnya gerak tunggal. Pengaturan posisi di ruangan harus diatur sedemikian rupa sehingga bagian yang sakit jangan berada di dekat dinding. baik sisi yang sakit maupun sisi yang sehat. .3 Pelaksanaan Terapi latihan pada Stadium Dini (Akut) Stadium dini adalah stadium awal terjadinya stroke. 1992). Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul pada stadium dini. mulai dari 45°. sedangkan sisi yang sakit dibiarkan karena dianggap sudah tidak berfungsi lagi. dan akhirnya pasien berlatih duduk bersandar di tempat tidur. dikenal dua metode latihan: 1. penurunan tonus otot (hipotonus). 1992). fisioterapis. dan timbul kondisi asimetri (hemiplegic gait) 2. Akibatnya otot yang sehat menjadi hipertonus. 2004).Bila tidak ada komplikasi dan memungkinkan. 60°. Prinsipnya. dan bila pasien telah mampu duduk minimal 30 menit pada hari berikutnya pasien dilatih duduk di kursi roda. Permasalahan yang timbul pada stadium dini antara lain: kelemahan otot (flaksid). Pendekatan Bilateral Pendekatan bilateral disebut juga neurodevelopmental approach (NDA) (Hamid dan Wahani. Hari berikutnya penderita berlatih duduk berjuntai tanpa bersandar di tempat tidur.

i. miring. merangkak. dan sebaliknya. g. duduk. tekanan darah sudah tidak naik-turun. f.3. Latihan keseimbangan duduk. c. Bergeser ke atas dan ke bawah. Di . Bangkit duduk di tepi tempat tidur. Gerak aktif. dan sebaliknya. Perubahan posisi telentang ke miring.4 Pelaksanaan Terapi latihan pada Stadium Lanjut (Pemulihan) Pada stadium ini. h. b. ada beberapa metode yang dapat diterapkan: 1. Latihan di atas sangat berguna jika diberikan setiap hari. tengkurap. Latihan pindah dari tempat tidur ke kursi. kondisinya sudah lebih stabil. dua atau tiga kali. Gerak pasif. dari kiri ke kanan. Menurut Soeparman (2004). dan berjalan secara berurutan. serta peningkatan tonus otot sudah mulai tampak. Setiap latihan sepuluh menit dan progresivitas latihan disesuaikan dengan kondisi penderita 2. e. Oleh karena itu. Latihan berdiri. dilanjutkan latihan keseimbangan berdiri. d.Berikut bentuk terapi latihan gerak yang diberikan pada stadium dini: a. Bergeser ke kiri dan ke kanan. Metode Bobath Metode ini berasumsi bahwa penderita stroke seolah-olah kembali pada usia bayi sehingga pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan pertumbuhan bayi normal. berdiri. pasien stroke harus dilatih mulai dari posisi berbaring.

Dengan latihan akan timbul saluran-saluran baru di dalam sel-sel otak. Metode ini dilandasi dengan teori bahwa otak mempunyai kemampuan mengungkap kembali kejadian yang pernah dialami jika diberikan latihan gerak yang berulang-ulang. komponen yang salah pada aktivitas itu dianalisis. berlutut.samping itu untuk mengatasi tonus otot yang yang berlebihan. Senam stroke didasari oleh perpaduan ketiga metode latihan di atas. 2. dan sebaliknya. berdiri. Metode Janet Roberta S. metode latihan dilakukan dengan cara melakukan aktivitas tertentu. berbaring. Misalnya. berjalan. Hal ini bertujuan agar penderita dapat mengikuti setiap gerakan senam berdasarkan kemampuan fisiknya. Berikut pembagian tiga kelas tersebut: . Contoh gerak refleks primitif. dan sebaliknya. Metode Brunnstrom Metode ini dilandasi dengan gerakan asosiasi dan refleks-refleks primitif yang ada pada bayi. gerak asosiasi yang paling sederhana pada lengan dan gerak fleksi lebih mudah dilakukan bersama-sama dengan adduksi. Soeparman (2004) menggunakan latihan “Senam stroke” pada penderita stroke stadium lanjut (pemulihan). Implikasinya dapat dilihat dari pengaturan posisi. dan melatih kembali (relearning) gerakan-gerakan terkoordinasi dan terarah. Setelah diketahui harus dikoreksi sampai hilang atau berkurang. Oleh karena itu. 3. berikan posisi inhibisi (menghambat reaksi postural abnormal). dan memanfaatkan gravitasi dalam mengembangkan reaksi sensasi yang ada pada sendi dan otot (proprioseptif). gerakan lengan maupun tungkai yang simetris/ asimetris. fasilitasi reaksi postural yang normal. seperti kepala menunduk diikuti kedua siku fleksi. Selanjutnya. Tahap-tahap senam stroke dikelompokkan dalam tiga kelas yang disesuaikan dengan kondisi penderita. merangkak.

iii. Hal ini baik dilakukan agar: i. Penderita stroke yang sudah berjalan mendapat program latihan sejak dini dengan posisi maupun pola gerak yang benar. Kelas 3: bagi penderita yang mampu berdiri stabil tanpa alat bantu.Kelas 1: bagi penderita yang belum mampu duduk stabil. ii. Kelas 2: bagi penderita yang mampu duduk stabil di kursi dengan sandaran. iv. Bagi yang sudah dapat berjalan. Memotivasi penderita yang ingin mengejar ketinggalan dari rekan-rekan yang sudah lebih maju. tidak tertutup kemungkinan untuk mengikuti program senam dari kelas satu. . Mudah melakukan pengawasan. Dapat membantu proses pengembalian aktivitas motorik atau relearning motor activity.

usu.id/14435/1/2000FK515.unud. Maj Kedikt Indon. Wirawan RP.org/index. Wijaya AK. Kariadi Semarang.ac. SMF Rehabilitasi Medis RS Fatmawati Jakarta. tt. 2. (www. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Kariadi Semarang. Diunduh tanggal 24 Desember 2013). Yulinda W. 2009. Diunduh tanggal 25 Desember 2013). Pengaruh Empat Minggu Terapi Latihan pada Kemampuan Motorik Penderita Stroke Iskemia di RSUP H.ojs. Hasil Latihan Bobath terhadap Spastisitas Penderita Hemiparesis Pasca Stroke di RSUP Dr.eprints. 2000.indonesia.digitaljournals.pdf. Sulistiwi. . (www. 4. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.id.php/idnmed/article/download.ac.Adam Malik Medan. Patofisiologi Stroke Non-Hemoragik akibat Trombus.id/index. 59(2): 2009.ac.DAFTAR PUSTAKA 1. Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer.undip. Diunduh tanggal 24 Desember 2013). 3. (www. Diunduh tanggal 24 Desember 2013).php/eum/article/viewFile/6694/5103. (www. Hal. Program Studi/Instalasi Rehabilitasi Medik FK UNDIP/RSUP Dr. 61-71.