Anda di halaman 1dari 11

seminarnasional

lsBN g7g-g7g-1 g 529- 1 -4

Laboratorium Sistem dan Proses Produksi Jurusan Teknik Mesin dan lndustri U n iversitas Gadiah Mada

Seminar on Applicatian and Researdt in lrdustrial

Yogyakarta, 22 Juli

Tdrnolqy, SIIURT ?AN


039

E-7 E-8

PERBAIKAN KUALTTAS KAIN DENTM DEfiIGAN MENGURAI{GI CACAT NDAK MERATA DI PT"X'" BANDUNG Christina Wimwan dan Teddy Mahendra

PAKAN METODE

USAHA PENINGKATAT{ KUALITAS I-AYANAN DI STARBUCKS DENGAN zoNE oF TOLEBANCE (SrUU KAST S Dl STAREUCIG DAN COFFEE BEAN, BSM,
BATTTDUNGI

O45

Ceicalia Tesavrita, Yogi Yusuf W, dan,Andrew Steven

E.9

U'ULAT{ PEI{IT{GKATAfl XEPUASATI PEI.AI{GGAT{ DEilGAil SERVqUAI DI Pt'SAT I.AYAITIATI PERUSAI{AAI{ TELEKOMUNIKASI M. Dochyor dqn Halida Destiani Moeis

METODE

051

F. ENERGY

F-1

-AT{AIISIS DAMFAK IODITT FRAIGI REITDAH TER}IADAP XESTAEIIAN REAI$I BUIISEN Sumijanto, Nurul Huda, Tumpol Pandiangan, Suwoto
ANAUSIS KARAKIER|SNKS|STET9ITENAGA USTRIKSAAT MANWER SIMUI.AI|I ELECTRICAT TRANSIEI{T AEIATYSIS PROGRAM (TAP}

FRODUK OENGAN

OO1

F.2 F-3

gAV

Pordameon Sinurat Mahrizol Masri, don Hermansyah Alam

APLIIGSIJARINGANSITARAFTIRUAT{UNruI(rcflDAUKECEPATANTURBIN
PADA PEMBAilGKIT TISTRIK TENAGA AIR Nazrul Effendy, Arstiyon Rdsmiarso, Luthft Adhi Priambodo, ddn Octarina

016

lndiarti

F-4 T-5 F F.7

rOMpiOSrT PCTL|MER KONDUKnF SEEAGAI MATERIAL EilERGr UtrrTUK B|PO|-AR PADA POIIMER ETECTROUT MEMERAI{ FUEI CE[t (PEMFC] A. Zulfia, MH. Adom, dan V. Warga Dalom
PENGARUH CAMPURAN BEITISIN DAN ETHANOTTERHADAP KINERJA BENSIN EMPATTAf{GI(AH PADA PUTARAil RENDAH

PIAT

422

MOTOR PRODUK

028

Slometo, Arya Wulung dan Bambang Puguh pENGARUH KOMPOS|SIAWALH|, HzO DAi{WAKTU REAtGt PADA REAI(SI SAMPIIIIG REAIGI BUIISEN Tumpal Pondiangan
034

SIMUI.ASIEUMINASII{ARMONISAMENGGUNAI(AITI TEORI (lntantaneous Power p q $aoryl PADA BEBAN SEIMBANG DEflGAN MATTAB
SIMULINK

DAYASESMTPq

@O

Setiyono

F-8 F-9

SIMUI.ASI NUNilERIX KARAKTERISNN AilRAI{ UDARA METINTASI VENTURI PADA KARBURATOR TIPE SINGIFBARREL DOWTTIDRAFT Arya Wulung don Bqmbang Puguh

BOOST IS

046

STUDI PROSPEK MASA DEPAN PROOUIGI HIDROGEN TERMOKTMIA

052

(loDlNE-suLFuRl DENGAN REAI(TOR NUKUR Sur*oto, Tumpal P., Sum$anto, Nurul lluda, dan M. Dhandhang

P.,

A. Woris

Junrsan Teknik Mesin dan lndustri FT UGM


ISBN 9787$'1852&14

fi

funinr st,4Nfutbn

and

Rawrch n Mtptral

f*m@y

SrtmRT

Yogyal<arta, 22 Juli 20Og

ANALISIS KARAKTERISTIK SISTEM TENAGA LISTRIK SAAT MAITTIVER DENGAN SIMULASI ELECTMCAL TRANSIENT ANALT,S/S PRO G RAM (ETAP)
Pardamean Sinurat, Mahrizrl Masri, dan Hermansyah Alam Jtrusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri Irstitut Tekrrclogi Medan JL Gedung Medan 202t7

*r?*hl2

dameland03@yahoo.com, nrasrim afuin@yahoo.com, hermans_itn@yahoo.com

Abstrak
Pertumbuhan beban listrik yong tidak diimbmgi dmgan peningkatot
kapasitas pembangkitan daya listrik dapd menyebabkmt sistem tenaga tidak

stabil begitu juga seringnya gangguan dan pemelilnraan yang terjadi dalam sistem Tenaga Listrik Maka dari itu, sistem lwrus diusalnkan
terhindqr dari lmndisi-kondisi ymg dapot mengakibatkan sistem tidak stabil. teSadinya momrver dalam sistem. Dalam bidwtg ketmagatistrtkai proiu twnruver telah menjadi kebutultot yottg sfrrgd pentW dalam opera# sistem te-nagg, kwena setiap sad dapa brjadi perubalwn status operasi peralatot dqi kandisi tidak operasi (NO) kekn disi operasi QvIC) atau'sebalifutya. Khwusnya dalam sistem interkonelrsi pelaksutaan nqnuver sering terjadi. Perubahan stotus operasi ini, dapat menyebabkan perubalun p"ibebor*t isring?n dan tegangan bus dalam sistem yang merup&an salai satu operasi yeng lnrus diperlntikan secara seritn. salah satu kajian untak menfaahui kondisi sistem tenaga listrik sqd manaver ialah dengan mengpgtnakan program knmputer ETAP, yang dapat mensimulasikon kondisi sebelum dur sesudah mcmuver itu terjadi. (lntuk nendapatknr informasi tentong manuver dalam sistem tenaga listrik dengan mmggunakan pragram arlp, matra pengamatan akan difohuskan pada sistem Tenaga Listrik &nmn NAD s e bagai obj ek pene I i t ian Stmdmd teganget dari PLN ( 10%o, + 5g6 dari tegangan tST kn adatqh acuan dilalxanakannya mcvttMet pda penelitiat ini, dengan melahiian menuver beban pada brc R.Prapat, Kisaran da, Lhoksemrrwe yang merupakan bus yang mengalami tegangan bitis, sefta peleposan ,oiuroo pda sirkit 2 BLwIl cc - sei Roton. Dari penelitiwt-ini -diperoteh data tegangan sistem saat sebelum dan sesudah terjadinya memuver (pelepwan) yang akan menjadi bahm penting rmtak berbagai informasi -seperti perenc(macm sistem tenago listrik kedepanryn juga sebagai penentatm prioritas dalam skenario pemadoman.

salgh sata dampak dori ketidakstabilan tersebut dalah

Kata

hrni

ETAP.

: Maruner, Karakteristik, pelepasan bebun, Inad sheMing, pele2nsan salaraq

1. Pendahuluan

mencapai sistem

Dalam pengoperasian sistem tenaga listrik harus selalu diusahakarr agar daya yang dibangkitkan sama dengan qe1mint1a1 daya beban, begitu juga dengan tegangan"sisterr, namun kondisi tersebut tidak mungkin terjadi dikarenakan proses transmiJi OaVa firi.it adanya rugr-rugi daya dan tegangan. Pemakaian tenaga listrik oleh konsumen berubah-ubah setiap waktu, oleh karenanya dalam penyediaan enrgr listrik yang kontinu kepada konsumen harus didukung dengan penyediaan dan pemakaian daya listrik seimbang dan tentunya dengan infrastruktur yang baik Sehingga sistem ketenagalisnikan mimiliki tnitr, krt*O.tu., yang baik serta ekonomis. Misahya pada pertumbuhan beban listrik yang tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas daya sistem tenaga listrik dapat menyebabkan sistem teo"g" tiaal statif. iehingga-untuk

fng

yang seimbang mal<a diperlukan


lndusili FT IJGM

kehandalan

yan;-

tinggi,

&rrsn Telq{k M$n &n


FBN 9787$185*1.{

F{07

Seninar on,W,fuoon and Rcseauh r7r lMusffil TMr@]i Stl{ART Pardamean Sinurat, Mahrizd Masri, dan Hetmansyah Alam

sistem harus diusahakan terhindar dari kondisi-kondisi yang dapat mengakibatkan sistem terlepas (tripped). Baik yang disebakan oleh kesalahan ffait), kegagalan operasi suatu peralatan atau gangguan lingkungan. Dalam studi kestabilan sistem tenaga perlu diperhatikan sistem pada saat bermanuver

yakni kondisi mengubah posisi jaringan dari kondisi tidak beroperasi (ffO) atau keluar dari sistem kekodisi operasi (NC) atau sebaliknya, se,perti penambahan dan pelepasan pembangkit, pelepasan beban (load shedding) dan terlepasnya saluran fransrnisi sebagai media penghantar daya kekonsumen. Perubahan beban yang mengakibatkan tegangan dalam saluran-saluran transmisi berubah-ubah sepanjang wakfu perubahan beban konsumeg perubahan tersebut dapat kita lihat dengan hasil simulasi komputer dCIrgan menggunakan program ETAP (Elecnical
Transient Analys is Program) 2. Tujuan Penulben
.

yang mengalami tegangan tritis. Mengetahui karakteristik sistem tenap listrik dalam kondisi: Pelepasan be,ban (load slrcdding) disimulasikan pada lepasnya beban bus RPrapat KisararL dan Lhokse,rrawe sebesar 25 % dari beban total yang terpasang dengan membuka CB (Cirxuit Breaker) sampai didapat tegangan yang memenuhi standard PLN (- l0yo, + 5% daitegangan 150 kV, tegangan nominal) . Pelepasan saluran tansmisi disimulasikan pada saluran sirkit 2 BLWN CC Sei Rotan dan melihat efeknya terhadap tegangan melalui karaktristik pada bus Sei Rotan, Titi Kuning dan Denai. Dalam pcnelitian ini dibatasi dengan tetap mqrgacu pada hrjuan penulisan yakni mengenai analisis karakteristik tegangan (kV) melalui simulasi perbandingan sebelum dan setelflh sistem 5o/o dari 150 kV) sebagai acuan bermanuver dengan standard tegangan PLN G l0yo pelaksanaan nulnuvr srta pnggunaan program ETAP sebagai simulator pada sistern tenaga

l-

Adapun tujuan dari penelitian fiti adalah : Merrgetahui karakteristik tegangan sistem tenaga listrik dalam keadaan normal pada bus

2.

a.

b.

,*

listrik Sumut-NAD.

Listrik Pada Gardu Indulr Gardu induk sebagai suatu tempat terpasangnya beberapa peralatan lisFilq pada hakekatnya peralatan-peralatan tersebut terangkai sedemikian rupa dengan sistem jaringn tegangan tinggi. Sehingga peralatan menjadi bagian dari sistem atau sub siste,m. $ebagai suatu sub sistenu maka rangkaian peralatan gardu induk harus diatur sdemikian rupa sehingga
mendukung stabilitas sistern.

3. Landasan Teori 3.1. Pengoperasian Jaringan

Berdasarkan hal tersebut diatag maka operasional peralafan gardu induk dapat terjadi dalam beberapa kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap sisterr, kondisi.kondisi tssebut antara lain: 1. Kondisi normal. Dalam keadaan normal maka operasi gardu induk mernpunyai kondisi melayani beban konsumen pada kondisi mampu dan segala kondisi sistem drjaga masih dalam batas yang diijinkan. 2. Kondisi tidak normal. Kondisi tidak normal adalah suatu kondisi dimana salah satu atau lebih peralatan yang

beroperasi dikeluarkan (oaage) dari jaringan karena gangguadksusakan atauptm pemeliharaan, sehingga kemampuan gardu induk dalam berope,rasi kurang dari normalnya. a. Keluar (outage).Ketuar adalah pembukaan atau penrutusan pe,ralatan dari operasinya di jaringan sistem. b. Keluar terpalaa {ftoed oatage).Keluar terpaksa adalah pemutusan peralatan oleh bekerjanya relai proteksi pada peralatan sebagai indikasi adanya gangguan pada

c.
3.

peralatan.

Keluar yang direncanakan {planed o*age),Keluar yang direncanakan adalah pembukaan peralatan untuk keperluan pemeliharaan atau lain hal yang bersifat di
rencanakan/dikehendaki.

Kondisi gilngguan (distwbance).Kondisi gangguan adalah kondisi dimana salah satu atau lebih peralatan beroperasi tidak sesuai dengan fungsi dan kemampuanny4 karena
JunsanTels$kMesin dan lndusfri FT UGlt
ISBN 9787S1852&1-{

F{XI8

funimrmr4pilMan M&eswch n lndwttal nwn?o@y, stlAnr


Hxntmsyah Atam

terjadinya sesuatu pada pe,ralatan. Kondisi gangguan dapat mengakibatkan terjadinya pemutusan dan pemadaman pada peralatan itu r*Oiri atau dengin jaringan tain yang terkait tergantung dari sifat gangguan dan keandalan proteksi
[7].

3.2. Manuver Jaringan Listrik


merupakan kegiatan rutin yang dilakukan dengan mengubah posisi jaringar/instalasi dari kondisi tidak operasi (,a/O) atau keluar dari sistern kefondisi operasi -(I/C) atau sebatiknya [8J. Adapun tujuan dari kegiatan."r""o l"i bertujuan untot , Manuver

ja.ingT

filrft

a'

Untuk meminimalkan daerah pemadaman bila terjadi gangguan pada sistem tenaga

b' - c'

listrik

Menjaga keamanan/keselamatan personel pada saat mengadakan perbaikan atau pemeliharaan.

Menjaga keamanan/keselamatan instalasi peralatan pada saat pemeliharaan. 3.2.1. lilacam-Macam M*nuver jaringan
Manuver jaringan listrik dapat dibagi: 1. Manuver pembebasan tegangan pada line 150 kV Manuver pemberian t"gangun p"O" tinu 150 kV Manuver pemberian dan pembebasan tegangan pada trafo daya dan pada busbar 20

2.

3'

4.

kV diparalel. Manuver pemindahan operasi dari bus I ke bus rI atau dari bus II ke bus I.
8U$
8US

t150

kv

ll 1SO Kv

PMS BUS

O
Pil T !'NE P M S L IN
E

rll-'.

4'

tidak timbul kecelakaan terutama dalani sistem interkonelesi. Adapun prosedur Manuver pembebasan tegangan dari gambar diatas iarah: l. Leas PMT line 2. Lepas PMS Bus I. 3' rrpas PMS Line (saat pelepasan PMS cek apakah PMS tersebut sudah terbuka dengan sempurna).
Masuktran PMS Tanah (sebelum memasukkan PMs tanah cek apakah tegangan pada,, meter " menunjukkan nol) [S].

Ganbar t. Manuv[f;AdJd.HrL]lJ.** r50 kv saluran kelyr yang menyalurkan daya keluar dari sebuah pusat listrik umu*nya dikelo-la oleh manajemen yung berbeda *G;; pusat listrik. oleh karena itu 9""g"" prosedur pembebasan tegangannya memerlukin koordinasi *a*j"_* yang baik agar

kv

_ 2.

3-2.2. Manuver operasi dan pembebasan peraratan dijaringan Gardu rndulc Dalam pengoperasian gardu induk dipsrlukan r*tu fii."a*, yaitu suatu ketentuan atau pedoman peru4iuk tenta^ng tata cxrra pengaturaa peraksanaan d"" suatu peralatan agar dapat berfrrngsi denganbeiar, baik dalam kondisi kondisi tidak normal, kondisi gangguan, tonaisi pemeriharaan aan mnJiri operasi baru. Prosedur manuverl yaitu prosedur jTt"ng mengubah poriri;a.ingi ouri tidak beroperasi atau keluar dari slstem kekondisi opdasi p.Jr"a* *"""ver dapat rJir*"v.i. mempunyai dua pengertian yaitu: "6" urutan pengoperasian dan pembebasan peraratan dijaringarL yaitu : Urutan pengqperasian : dari sumber kebebai. Urutan pembebasan : dari beban kesurnber.

;;;;ddb;;;si d-"i;il;;i;*

t*oiri

1'

Urutan bukaltutup pMT dan pMS. vaitu: Pengoperasian : pMS mas"k diranjutkan pMT masuk. hr ,Ppl1rl9.?Frsa{r : PMT buka dilanjutkan pMS membuka.

a. b.

l.

Junsan Tetxtk Mdn dil lndusfi FT ttGM tsBN 97&97$1952&1-4

FSIB

Senimr

m,*plffian aN Researclr in lndrM TMrn@y eW4Rf


Pardamean Sinurat, frlahrizal Masri, dan Hermansyah Nam

Perintah manuver digardu induk diberikan oleh petugas piket pengaturan jaringan tegangan tinggi (UPB), sedangkan penerima perintah manuver adalah operator gardu induk sebagai pelaksana perintah. Perintah rnanuve,r harus dapat diterima oleh operator dengan jelas dan dimengerti. Maka untuk menghindari kesalahan pelaksanaan perintatr, operator harus mencata! mengkoreksi perintah dan mengulangi dengan menyebutkart nama jaringan yang akan dimanuva, je,nis manuver [7J.
3.2.3. Akibat dari Manuver. Proses terjadinya manuver jaringan listrik dapat menyebabkan beberapa perubahan pada sistem secara keseluruhan diantaranya :

a. b.

c.

Mengingat bahwa penyediaan tenaga lishik bagi masyarakat merupakan hal yang mernpengaruhi hajat hidup orang banyat maka kegiatan rnanuvr sangat dibutuhkan mtuk meminimalkan pemadaman konsum,n terttarna bila terjadi gangguan pada jaringan listrilc

Perubahan pembebanan dan perubalran sumber daya sementara atau permanen. Sumber supply ini akan meqiadi bahan penting untuk berbagai informasi sebagai prioritas dalam skenario pemadaman. Perubahan beban jariopn. Perubahan beban akan terjadi untuk beban yang terpasang dan beban yang terukur. Informasi ini sangat penting untuk mengetahui profil beban pada setiap level jaringan mulai dari transmisi utama sampai kesetiap pencabangan dan mencegah terjadinya kegagalan operasi karena beban pmcak berlebih diluar prdiksiPerubahan rugi-rugi, perubahan rugi-rugi ini harus selalu dikontrol uutuk mencegah rugr-rug yang sernakin meningkat. Salah satu cara sederhana adalah dengan mempertahankan keseimbangan pembebanan anar jaringan [5].

1.

M*nuver pada pmbangkitan


LAEUTt-l'a't.r ;IP,r1Strq*1 PFAgtt-z

Kete,rAngan

* * *
r t+*rt-r_ r'L" !l
a ! r I!\-l!-r_'-, \-i c(q | -6* I t.t\i|-r_-'? v: T! f -E
I lD'.ll-2fra <-f t't! t --

Pmt

Nomd

Close

Pmttrp
Prnt Normal open

Gambar 2. Lepasnya pernbangkit

udt

3 dan 4 pada PLTU belawan

Lepasnya unit penrbangkit yang besar menyebabkan beban yang sebelumnya diambil oleh unit yang le,pas dimanuver keunit pembangkit lain sehingga unit pembangkit lain mengalami beban lebih, dan juga memungkinkan unit perrbangkit lain ikut terlepas. Hal ini
trutama terjadi apabila cadangan berputar dalam sistem lebih kecil dibandingkan dengan daya

yang dibangkitkan oleh unit pembangkit yang mengalami gangguan. Proses manuver ini mungkin juga menyebabkan ada saluran transmisi mengalami beban lebih dan ikut terlepas, trgantung situasi aliran daya dalam sistem [2]. 2. IVlanuver Jaringan Traremisi.
Kfrngwsi Jaringao Sub sialtgm seDer{rm Gangiguan
TART'TI'HG

l(+tpr?noan

i
s
t<6nttgura$t Jaff )Ear? sria st$fFn? sretafi GanriJAll
TAFTUTIJ!.GT

Frnt Norrnal Cloge


Prnt trip Frrrt

Norrnrl o,par

Gambar 3. Irpasnya saluran transmisi sirklt?.

JrsrreanTffiktlein dan lrdusfri FT ttGM sBN 97&S1S1852&14

FO010

funinarm,@rfufron andfrw*dt fn lmfustral fffirffilogy SiUABf Pardamean flrym|, Mahrizal hdasrL dan Hermaisyah Nam
Lepasnya saluran transmisi yang tinggi bebannya mempunyai dampak yang serupa seperti le'pasnya unit yang besar, *lrususnya untuk bagian sistem yang menerima _pembangkit dari saluran transmisi tersebut. Misalkan saluran yang lepas adalah sirkit 2, mat daya y*g mengalir pada sirkit 2 harus dimanuver ke sirkit I, ini menyebabkan penyaluran daya hdat< maksimal dan akan menyebablcan bertambahnya besarnya jatuh tegangan (voltage drop) dt sisi

penerima.

VR:

Vs

Vn:
t4l

- Vn

(2.20)

Iu X Zor

(2.2t)

dimana i Vs= Tegangan penerirna (receiving) Vs : Tegangan pengirim (sending) Vp: Jatuh tegangan (Yoltage drop) Is Arus beban Zs: Impedansi saluran Dengan trputusnya sirkit 2 diiaringan menyebabkan arus yang tadinya terbagi dua dengan sirkit I terpaksa dipikul oleh sikrit l. Dengan arus beban yang besar dipikul oleh satu saluran menyebabkan jatuh tegangan disisi penerima bertambah besar pula 3. Manuver Beban, Keterangan:

I A E

Pff

Normdy cbse

Pmt Normaty opetr

PmtTnp

20 KV

Jr*or" c]p*eurit*" *ul'ror. rTrrr r. pada Gr siborga


Untuk mengimbangi berkurangnya pembangkitan tenaga listrik yang disebabkan oleh adan_Va gngguan dari suafu sistem, maka sebahagian beban sistem harus dilepas supaya pembangkit yang masih bekerja tidak mengalami beban lebih dan frekuensi sistem^tidak turun dibawah harga yang diizinkan, narnun apabila pembangkitan masih sanggup merrikul beban

walaupun ada beberapa pembangkit yang terlepas maka pelepasan beban Oupai AininO"ti dengan proses pernindahan beban (manuva beban).

Tetapi apabila terjadi gangguan yang besar, maka turunnya frekuensi akan semakin cepat sehingga dapat turun hingga dibawah harga yang diizinkan hanya dalam waktu yang singkat. Untuk menjage-sistem dari kegagalan atau kerusakan dikarenakan turunnya frekuensi, rnaka sebahagian beban harus ditepas untuk mengurangi beban yang di pikul peilrbangkit hingga frekuensi kembali ke keadaan norrnal.
3

3. Eledrical Trons ient AnflIytb Progron (ETAP}

ETAP (Electrical Trqnsimt Analysis Program) adalah suatu program yang terintegrasi yang mendesain urtuk mrnyelesaikan permasalatran Analysis Homontc, eiaWis Transient Stability, Analysis Loqd FI(nr (Aliran daw), Shon4ircait (ANSI and IEC), Opti*ot power Flow Ground Grid Systems, Manuver Jaringan sistem Transmisi dan oisitbusi, Mengurangr Losses pado sistem Transmisi dan Distribusi, Pemasangan Kopasitor pada sistem Transmbi dan Distribusi. Program ini pertarna kali dikembangkan oleh Brown,I! Shokooh, F, Abcede, H, dan Donner, G, pada oper. Technology. Inc, Irvine cA. usA,l990 pada paper ,, Interactive simulatian of Power system: ETAP Application and Teclmiqares"- Program ETAp kemudian digunakan untuk studi analbis stabilitas transient dalam sistem tenaga tistrit oleh Ramasudha, Il Pnakastr, V V S, 2003 pada rr1per "Power System Simulaion UtW Electrical Transient Analysis Program (ETAP) ".

4. Deta
4.1, Prosedur Umum Ruang lingkup materi penelitian ini mengkaji tentang manuvtr sistem tnaga listrik dari beban maksimum (tvfVA) dan melihat kondisi tegengan kritis di tiap-tiap gardu i"dut disaluran transmisi 150 kV sistem Sbmut - NAD. Dengan demikian materi kajian terdiri atas : JwnanTds{kfJhsin

ISBN 9787$1S52&1-{

dil

lndusfit FT t}6iM

F{tl1

funinar

on

r4ry{faton aN Resesefi in thotrstbl TWno/ql+ fitt/4RT Pardamean Sinurat Mahrizal Masri, dan Hennansyah Nam

1.

2. 3. 4.

Pembuatan model pembangkit saluran transmisi 150 kV dan beban masing-masing gardu induk (Bus-GI) yang berada dalam naungan PT . PLN (persero) Sumatera Utara. Penentuan nilai setiap parameter pembangkit, saluran, dan beban.Penerapan pemodelan kedalam pemogreman ETAP Power Station 4.0 (Electrical Transient Anatysis Program). Mengamati tegangan tiap bus serta mendata bus yang tegangannya kritis. Pemodelan manuver beban listrik kedalam program ETAP dan mensimulasikannya sampai tegangan kitis naik dalam batasan standard PLN (-10 Yo , +5 %o) tegangan

nominal 150 kV.

Masukm data pembangkitan data saluran dan data beban

Kondisi tegmgan sudah merneruhi

stardard PLN
I-lnoA +
5oA1

SELESAI

Gambar 5. Diagram Alir Simulasi ETAP

Sunber Data Peralatan Data yaag akan dianalisa adalah data 36 bus yang bcr'ada dalam naungan PT.PLN(Persero) P3B Sumatera Utara Wilayah SUMUT - NAD, pada bulan Juni 2008 pada saat beban puneak ditiaptiap bus.

4.2.

Gambnr 6. One line diagram sistern Sumut

- NAD.

Jurusan Telmik Medn dan lndusfri FT treil,| lstsN g7sg79-1852&,1-4

F-ml2

turt inar *

Rrery rb /notsttd eddqy, slw4q r Hyly T Pardpln?gr sin,urat, llahizat Masi, da, i;*;nsyah Alam
7
-v/, v.ru .t t ,

5. Analisis
5.1. Kasus

Manwer

terlepas dari sistem.

dilengkapi dengan peralatan proteksi yang berfungsi tib terjadi 6nggo* puda siste,mt.4udi dulurn sistet kehstrikan su.iuiuli inl karena gangguan atau pemeliharaan pada sistem yang menyebabkan ftaai :Tng peralatan
Pelaksanaan manuver sangat sering

sistem tenag-a listrik yang ada datam naungan PT. PLN (persero) Sumbagut memiliki pembangkitan yang banyak yang terhubung itrterk6neksi, dari pembangkiton ,arripui kebeban

harus

CC

Kondisi manuver yang akan diteliti difokuskan pada lepasnya beban sebesar 25 % pada bus tegangan kritis (Kisaraq dan rtl"gg" diperoleh tegangan yang f.Prapat -Lhoksema*"i memenuhi standard PLN (-10% + syo dari tegangan tso tfr pua* uur te"iiut dengan membuka circuit Breaker- untuk pelepasan saluran disimulasikan pada saluran sirkit 2 BLryN

Sei Rotan.

5.1.1. Untuk kondisi Normal

unruk
134.685

k*ti

normar diperoreh
^bus

Bus Kisaran 133.065

kv, Bus R.Prapat

kV

133.455

yang mengarami tegangan kritis yaitu: ki, Bdih;ilsemawe 134.040 kv, Bus Birun

5'1'2' simulasi Pelepasan beban R.Prapat 12,08 MvA" Kisaran lz,gLs MVA, Lhs.Mawe I l,2g

MVA

untuk menghindari pernadaman total pada suatu bus maka beban yang dilepas sebesar 25 o/o dan beban totalnya- Pelepasan beban aiukukan di bus nprapat, Kisaran dan Lhoksemawe dan untuk karakteristik teqangan yang akln diperhatikan.aahh pada bus Rprryat, Kisaran, Lhoksemowe dan Biran- serta membanoinstal tegangan uu* puou saat kondisi normalnya dengan kondisi sEtelah rnanuver beban dilaksanakan.t
s

PM BAN DIIYGAT{ TEGANGAN


rzz Lt6

i
q

, t
'.

't
t

iut 1 U
,
1

134

t^

Z t

1J3 132

i*
t t

2rn
t

I.PRAPAT

LI{OKSMAWE

Ig SETEIAI{ PEIAKSAT.IAAil MAN

t,vN

Gambar 7' Grafik perbandingan tegangan sebelum dan setelah pelepasan beban sebesar zs %. a" Pada bus Kisaran b. Pada bus RPrapat
ru --

Gambar 8' Karakteristik tegangan bus Kisaran dan bus-R.Parapat sebelum dan setelah pelepasan
beban.

detik ke 0,123 dari total simulasi ETAP

Lhoksemawe 11,28 MvA-dilepas pada detit ke

Pada pengamatan saat beban

R.hapat 12,08 -0,1 MVA" beban Kisaran lz,gl5 MVA dan

l}:Frr: ::,1:-y:,01p::_r*j*k-u,.b,l , bJ; fi''ik'kiffi;f'#ffiff o


Jurusan Telafk lileein dan hdus*i FT UGM

karakteristik atau mengalami kenaikan sebesar r,7 dafitegangan nominar Pada pengamatan saat beben R.Prapat 12,08 MvA., beban Kisamn 12,g15 MVA dan dimuna-tqsangan mendekati stabir pada
l$BN g7&g7g'-t&2&14

s dJik, b;h;'unruk kondisi regangan dari terlihat pada bus Kisaran mengalami kenaikan o*i t::,oes kv men3aji 135,60 kv yo

oi*un"-t"g*g"n

mendekati stabil pada

F{013

&ntfur

on

.@/r&tm and fusesclr in lndptral Tedrnlqy STtlAR Pardamean Sinunt, llahrizal fllasri, dan Hermansyah Nam

karakteristik terlihat pada bus R.Prapat mengalami kenaikan dari 133,455 kV meqiadi 136.17 kV atau mengalami kenaikan sebesar I,8l o dari tegangan nominal.
e. Pada bus Lhoksemawe

d. Pada bus Birun

Gambar 9. Karakteristik tegangan bus Lho.Mawe dan bus Birun sebelum dan setelah pelepasan
beban

Kisaran 12,815 MVA dan MVA dilepas pada detik ke 0,1 dimana tegangan mendekati stabil pada detik ke 0,123 dari total simulasi ETAP 5 detilq bahwa Untuk kondisi tegangan dari karakteristik terlihat pada bus Lhoksemawe mengalami kenaikan dafi 134,04 kV menjadi
Pada pengamatan saat beban R.Prapat 12,08 MVAb beban

Lhoksemawe 11,28

136,305 kV ar,au mengzlami kenaftan sebesar

l,5l

yo dari tegangan nominal.

Pada penganr:rtan saat beban R.Prapat 12,08 MVA, beban Kisaran 12,815 MVA dan Lhoksemawe 11,28 MVA dilepas pada detik ke 0,1 dimana tegangan mendekati stabil pada detik ke 0,123 dari total simulasi ETAP 5 detih bahwa tlntuk kondisi tegangan dari karakteristik terlihat pada bus Birun mengalami kenaikan dari 134,685 kV menjadi 136,635 kV atau mengalami kenaikan sebesar 1,3 yo dafi tqgangan nominal.

5.13. Simulasi Pelepasan saluran sirkit 2 BLWI{ CC - Sei Rotan. Untuk pelepasan saluran sirkit 2 BLWN CC - Sei Rotan, lqrakteristik tgangan yang akan diperhatikan adalah pada bus Sei Rotan, Titi Kming dan Denai, Serta membandingkan tegangan bus sebelum terjadi pelepasan saluran dengan kondisi sesudah pelepasan saluran akibar gangguan pada detik ke 4,02 dari total simulasi ETAP 5 detik.
148,5 148

!47,5
147

f rass
ltq
,

z 7
z

14s,s 145
Lqq,5
z

BUS

Sei Rotan

T-

Kuning

Denai

1 t

i
?" "".,..""_^_"

x KONDISIN$MAL

sSETEIAH PFTAKSANAAN MANUVEh


,

'-'"""-""-"--"-2

Gambar 10. Perbandingan tegangan sebelum dan setelah pelepasan saluran


a. Pada bus Sef Rotan

Pada pengamatan saat saluran sirkit 2 BLWN CC Sei Rotan dilepas pada detik ke 4 dimana tegangan mendekati stabil pada detik ke 4,W dari total simulasi ETAP 5 d*ilq bahwa Untuk

kondisi tegangan dari karakteristik terlihat pada bus Sei Rotan mengalami penurunan dari 148,095 kV menjadi 146,70 kV atau mengalami peilrunan sebesar 0,9 yo dari tegangan nominal sehingga tidak diperlukan tindakan pelepasan beba{Load Slrcdding). b. Pada bus Titi Kuning Pada pengamatan saat saluran sirkit 2 BLWN CC - Sei Rotan dilepas pada detik ke 4 dimana tegangan mendekati stabil pada dstik ke 404 dari total simulasi ETAP 5 detilq bahwa Untuk kondisi tegangan dari karakteristik tedihat pada bus Titi Kuning mengalami penurunan dari 146.91 kV me,njadi 145.875 kV atau mengalami penunman sebesar 0,7 yo dari tegangan
nominal sehingga tidak diperlukan tindakan pelepasan bebanQoad Shedding). c. Pada bus Denai Pada pengamatan saat saluran sirkit 2 BLWN CC Sei Rotan dilepas pada detik ke 4 dimana

Junrsan Telfiik hlesin dan lndusfil FT UGM


ISBN 97&97S1852&1-,f

FSl4

&mlnaron,4friatun

and Resardr in ldusW Mnolqll, S/uA4RT Pardamean Sinurat, fi{ahrizal Masrl dan Hetmansyah AIam

tegangan mendekati stabil pada detik ke 4,02 dari total simulasi ETAP 5 detih bahwa Untuk kondisi tegangan dari karakteristik terlihat pada bus Demi mengalami penurunan dari 147.405 kV menjadi 146.01 kV atau mengalami penurunan sebesar O,g yo dari tegangan nominal sehingga tfulrak diperlukan tindakan pelepasan beban (Load Shedding.

6. Kesimpulan Dnn Saran


6.1. Kesimpulan

Karers tidak seimbangnya antara pmbanglitan dan keburuhan bebaru maka sering terjadi perrnasalahan dalam sistem tenaga listrik di Sumbagut baik itu karena gangguan ataupun

pemeliharaan berkala yang dapat mengganggu kontinuias pelayanan da,va G konsumen Berdasarkan hasil analisis melalui karakteristik dengan simulasi ETAP dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pada kondisi normal hasil simulasi ETAP diperoleh bus yang tegangan kritis yaitu pada bus Kisaran, RPrapat Lhoksemawg dan Birun. Perubahan tegangan tiap bus setelah pelaksanaan nunuve,r akan menjadi bahan penting untuk berbagai informasi seperti penentuan prioritas dalam skenario penradaman. 2. Perubahan rugi-rugi yang terjadi saat manuver saluran (pelepasan) saluran BLWN CC Sei Rotaru ini menyebabkan tegangan penoima lsih kecil dari tegangan pengiriman (Vn < itti disebab'kan semakfoi besariiya jatuh tegangan (VD) akibat terlqiasnya sirkit saluran. Penrbahan ini harus selalu dikontrol untuk mencegah rugi-rugi yang semakin meningkat dengan mempertahankan kaeimbangan pembebanan antar saluran.

%}

3.

Sebelum pelaksaman manuvr benar-benar trjadi baik karena gangguan rrurupun


pemeliharaan, ada baikrrya Sistern didemokan terlebih dahulu melalui simulasi komputer, misalnya untuk mengetahui efek dari nianuver terhadap kondisi tegangan yang didistribusikan pada sistem.

1.

6l-

Saren Dari hasil Riset dilapangan sangat dibutuhkan sifat kooperatif dari pihak yang berkaitan yaitu pegawai PT.PLN (persero) Sumut -- NAD dalam memberiftan ro**ri du:n dutr r*t
dilapangan.

2. Unt$ para peneliti diharapkan agar melakukan riset tanjutan, dengan menganalisa
pelaksanaan lnanuver dengan memperhatikan kestabilan melalui batasan-6aasan frikuensi 5rang diiiinkan standard PLN dalam melakukan manuver. Sehingga diharapkan analisis pelaksanaan rnanuver dengan bantuan program komputer khususnya ETAP mendapa*an

hasil yang terbaik Dan merliadi program ETAP lebih familiar untk menganalisa kasus dalam sistern tenaga listrik.

DATTAR PUSTAKA 1. Cekmas Cekdi4 2AA7, " Sistem Tenaga Iistrik., Andi yograka*4yogyakaru.. 2. Djiteng Marsudi, 20o6.,o Aperasi Sistem Tenaga Listrik", Graha Itmg, ]at<arta3. ETAP PowerStation 4.0., 2001, uPowerStation [Jser Guide l/olume I (Jser Intedace, Yolume IlAnalysis Modules", OperationTechnology,Inc., SouthernCalifornia 4. Hutaunrk T.S., .2005, "Tronsmisi Dayo Elektri? ,Erlangga, Jakarta. 5. I Made Sukars4 2007, "Peraneongan model network pada mesin database non spatial untut manuver imingan listrik sefuor distrihtst dengan PL SQ", Vol.6 No. I . Januafi Juni, Universitas Udayana Bali. 6. Kundut, P., dkk., 2964,*Definttion md Classification of Powr System Stabiliry",IEEE Transactions on Power SystenU Vol.l9, No.2, pp.13ET-1401. l- Ngamsanroaj, K., and rayati w.,2003, "An anolysis of switching ovemoltages in the EGAT 500 kll Transmission System",IEEE Transactions on Po*er Delivery, pp.l49153.

PT. PLN @ersero) Unit Pendidikan dan Pelatihan Tuntungan. "Kursus Operasi dan Pemeliharaan Gmdu In&tk". Medan. 9. PT. PLN (Pesero) Kitlur Sumbagut. "in house Training PEMLATAN GARDU INDUK". Langsa. 10. \Milliam D. stwenson,h."analisa sistem Tenagd'. Erlangga. 1993. Jakarta.

8.

Jurusan

Tefqikttldn&t lrdtffii

FT

t GM

FSl5