Anda di halaman 1dari 12

Nama NIM Kelas

: Keke Karisma B : 1401083626 : 07 PAZ

Soal
Hai Tugas perorangan Chapter 2 adalah sbb : 1. Mengerjakan Learning Check No. 2-9, 2-12 2. Mengerjakan Comprehensive Question No. 2-23, 2-27, 2-29 3. Jelaskan kondisi yang memungkinkan diberikannya opini Unqualified, Qualified, Disclaimer dan Adverse sesuai SPAP (agar disebutkan nomor sectionnya) 4. Jelaskan kode etik Akuntan Publik Indonesia (IAPI) 5. Jelaskan isi materi section 404 dari Sarbanes Oxley Act of 2002

Selamat mengerjakan

Salam iswandi

Jawaban :
1. Learning Check 29 a. Implied dari Konsep dari reasonable assurance( konsep keyakinan) terhadap financial statement yang bebas dari misstatement material artinya adalah seorang auditor bertanggung jawab dalam perencanaan dan pelaksanaannya walaupun demikian seorang auditor hanya melakukan tes atau sampling saja yang dimana seorang auditor sangat jarang melakukan tes 100%, oleh sebab itu seorang auditor tidak dapat menjamin atau memberikan garansi keakuratan yang ada di dalam financial statement yang di auditnya tersebut. Seorang auditor juga harus memiliki pengalaman dalam pengaplikasian keahlian dan penilaian sebelum melakukan pengambilan keputusan yang berhubungan dengan bukti bukti yang ada dan terlihat. Seorang auditor memberikan komentar atau menyimpulkan tentang data yang ada di financial statement tersebut berdasarkan GAAP.

b. (1) biaya kontrol internal tidak seharusnya melebihi manfaat yang diharapkan akan diperoleh (2) manfaat termasuk mengurangi risiko terkait dengan gagal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan 2 12 a. Sebuah opini atau pendapat terhadap Financial Statement Sebuah opini atau pendapat dari penafsiran management yang berkaitan dengan internal kontrol dari financial reportingnya. Sebuah opini tentang keefektifan sebuah sistem internal kontrol pada financial reportingnya.

b. Tanggung jawab atau responsibility seorang auditor di perusahaan swasta atau private company hanya melakukan pelaporan atau reportingnya hanya pada financial statementnya saja.

2. Comprehensive Question 2-23 a. Diagram of relationship between accounting and auditing in the preparation

and audit of financial statement

b.

Pernyataan tentang pembagian tanggung jawab yang dilakukan oleh pihak

management dan independent auditor yang berhubungan dengan pernyataan yang terkandung dalam financial statement atau laporan keuangan hal ini kurang begitu tepat karena keduanya memiliki tanggung jawab yang berbeda dan tidak dapat di sama ratakan, managemen memiliki tanggung jawab dalam membuat laporan keuangan atau financial statement untuk perusahaannya tersebut dan bertanggung jawab juga dengan hasil laporan keuangan atau financial statement yang dibuatnya, sedangkan seorang auditor memiliki tanggung jawab atas opini yang di berikan atas hasil sampling atau tes yang telah dilakukan terhadap laporan keuangan atau financial statementnya tersebut, akan tetapi seorang auditor tidak memiliki tanggung jawab

atau memberikan garansi atas kebenaran laporan keuangan yang telah diaudit atau di tesnya tersebut.

c.

Alasan perusahaan publik merekrut auditor selain karena untuk mematuhi

peraturan dari SEC adalah perusahaan public membutuhkan seorang auditor untuk melaporkan pernyataan manajemen tentang pengendalian internal dab melaporkan efektivitas sistem entitas pengendalian internal yang ada, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab yang harus di miliki oleh seorang auditor. Dan seorang auditor yang bekerja di perusahaan public juga memiliki tanggung jawab untuk melaporkan kekurangan yang signifikan dalam sistem pengendalian internal kepada manajemen dan komite audit , hanya kelemahan material dilaporkan ke public.

2-27 a. Bukti tanggung jawab yang harus dilakukan oleh Reed yang dimana menemukan

kesalahan dan kecurangan atau fraud yang dilakukan oleh Smith adalah Reed harus melakukan uji sampling terhadap kesalahan, kecurangan atau fraud dan tindakan illegal yang dilakukan oleh Smith dalam laporan keuangan atau financial statement yang telah dibuatnya. Setelah itu Reed harus memberikan bukti yang cukup dari hasil sampling yang telah dilakukan dengan cara mendesain audit, dan tahapan terakhir yang harus dilakukan oleh Reed adalah cara pelaksanaan dan pengevaluasian dari hasil tahapan audit yang telah ia buat agar dapat membuktikan bahwa telah terjadi kesalahan, kecurangan / fraud dan tindakan illegal yang dilakukan oleh Smith.

b.

Bentuk tanggung jawab yang harus dilakukan oleh Reed dalam menangani kesalahan dan kecurangan atau fraud yang dilakukan oleh Smith berdasarkan AICPA adalah sebagai seorang auditor Reed harus memberitahukan kepada komite audit bahwa Smith telah melakukan kesalahan dan kecurangan atau fraud, pernyataan yang berguna atau bermanfaat maupun pendapat yang merugikan tentang laporan keuangan sangat berpengaruh, pendapat yang tidak memenuhi persyaratan atau pun memenuhi persyaratan atas financial reportingnya dan memberitahukannya kepada komite audit atau dewan direksi jika lingkup audit telah dibatasi dengan adanya kemungkinan kesalahan, fraud dan tindakan illegal yang telah dilakukan, dan pertimbangan tentang pemberitahuan kepada pihak luar tentang kesalahan, fraud atau tindakan ilegal dalam keadaan tertentu.

2-29 a. GAAS ( Generally Accepted Auditing Standard) didefinisikan dalam paragraf

lingkup. Sedangkan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) didefinisikan dalam paragraf pendapat atau opini.

b.

Dua cara yang di sepakati dalam GAAS (Generally Accepted Auditing

Standard), adalah : - GAAS untuk seorang auditor di perusahaan publik yang disepakati oleh PCAOB - GAAS untuk seorang auditor di perusahaan swasta disepakati oleh Dewan Standar Auditing (ASB), yang merupakan bagian dari AICPA. GAAP merupakan suatu standard yang harus diikuti dalam pembuatan laporan keuangan. Pernyataan FASB dan GASB diakui sebagai GAAP.

c.

Mengapa pada saat melakukan pengauditan laporan keuangan yang dilakukan

oleh seorang auditor harus sesuai dengan GAAP (Generally Accepted Accounting Principles) karena GAAP merupakan suatu standard yang digunakan untuk

menentukan apakah laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material.

d.

Hubungan antara Statement on Auditing Standard dengan GAAS adalah

adanya laporan tentang Standar Audit dan Standar Audit PCAOB yang menjelaskan adanya sepuluh GAAS.

3.

Di dalam SPAP terdapat empat kategori opini yang mungkin diberikan atau dikeluarkan oleh seorang auditor, yaitu: Standar Unqualified, Qualified, Adverse Disclaimer

1. Wajar tanpa syarat (Unqualified) Auditor akan memberikan opini wajar tanpa syarat, bila kondisi-kondisi dibawah ini udah terpenuhi, yaitu: a. Seluruh laporan keuangan (neraca, laba rugi,perubahan ekuitas, arus kas dan catatan atas laporan keuangan) telah lengkap. b. Semua aspek dari ketiga standar umum SPAP telah dipatuhi dalam penugasan audit tersebut. c. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul dan sang auditor telah melaksanakan penugasan audit dengan sedemikian rupa sehingga mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah ter penuhi. d. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Hal tersebut berarti pula bahwa pengungkapan informasi yang telah cukup telah tercantum dalam catatan atas laporan keuangan serta bagian-bagian lainnya dalam laporan keuangan tersebut. e. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambah sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam laporan audit. Jika salah satu dari kelima kondisi laporan audit bentuk baku tidak dapat dipenuhi, maka auditor tidak dapat memberikan clean opinion atau opini audit wajar taanpa pengecualian.

2. Wajar dengan pengecualian (Qualified opinion) Laporan wajar dengan pengecualian dapat diterbitkan apabila adannya pembatasan linkup audit atau kegagalan dalam mematuhi prinsip akuntansi yang berlaku secara umum. Pembatasan ruanglingkup audit terjadi pada saat auditor tidak dapat mengumpulkan bukti audit yang memadai untuk menyimpulkan apakah laporan keuangan telah disajikan sesuai standar akuntansi keuangan (PSAK), maka terdapat pembatasan atas lingkup audit, baik oleh kllien maupun karena kondisi-kondisi diluar kendali klien atau auditor. Laporan wajar dengan pengecualian dapat berbentuk pengecualian baik atas lingkup maupun pendapat audit maupun pengecualian atas pendapat saja. Suatu pengecualian atas lingkup dan pendapat audit dinyatakan hanya pada saat auditor merasa tidak mampu mengumpulkan semua bukti audit yang diwajibkan dalam standar profesional akuntan publik dikarenakan adanya pembatasan lingkup audit. Sedangkan pengecualian atas pendapat saja terbatas pada situasi dimana laporan keuangan disajikan tidak sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku secara umum (Standar Akuntansi Keuangan).

Ketika auditor menerbitkan pendapat wajar dengan pengecualian, ia harus menggunakan istilah kecuali (expect for) dalam pendapat paragraf. Sebagai implikasinya, auditor merasa puas bahwa laporan keuangan telah disajikan secara benar kecuali pada aspek tertentu laporan keuangan saja.

3. Tidak wajar (Adverse opinion) atau Menolak memberikan pendapat (Disclaimer opinion) Pendapat tidaak wajar digunakan pada saat auditor percaya bahwa secara material keseluruhan laporan keuangan telah disajikan secara tidak wajar, sehingga laporan keuangan tersebut tidak menyajikan posisi keuangan atau hasil usaha dan arus kas yang wajar sesuai dengan prinsip akuntasi yang berlaku secara umun. Laporan pendapat tidak wajar hanya dapat diterbitkan jika auditor memilki pengetahuan, yang diperoleh setelah melakukan suatu investigasi mendalam, bahwa terdapat ketidak sesuaian dengan PSAK. Hal ini jarang sekali terjadi sehingga pendapat tidak wajar jarang sekali diterbitkan. Sedangkan pernyataan tidak atau menolak memberi pendapat (Disclaimer opinion) diterbitkan pada saat auditor tidak dapat meyakinkan dirinya sendiri bahwa laopran keuangan yang diauditnya telah disajikan secara wajar. Kewajiban untuk menolak memberikan pendapat akan mencul jika terdapat pembatasan lingup audit atau terdapat hubungan yang tidak independen menurut Kode Etik Profesional antara auditor dengan kliennya. Kedua situasi tersebut mecegah auditor untuk mengeluarkan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan. Auditor pun memiliki pilihan untuk menolak memberikan pendapat pada suatu masalah kelangsungan hidup perusahaan.

4.

Kode Etik Akuntan Publik Indonesia ( IAPI ) Sebenarnya selama ini belum ada aturan baku yang membahas mengenai kode etik

untuk profesi Akuntan Publik. Namun demikian, baru-baru ini salah satu badan yang memiliki fungsi untuk menyusun dan mengembangkan standar profesi dan kode etik profesi akuntan publik yang berkualitas dengan mengacu pada standar internasional yaitu Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) telah mengembangkan dan menetapkan suatu standar profesi dan kode etik profesi yang berkualitas yang berlaku bagi profesi akuntan publik di Indonesia. Kode Etik Profesi Akuntan Publik (sebelumnya disebut Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik) adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh anggota Institut Akuntan

Publik Indonesia atau IAPI (sebelumnya Ikatan Akuntan Indonesia - Kompartemen Akuntan Publik atau IAI-KAP) dan staf profesional (baik yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja pada satu Kantor Akuntan Publik (KAP). Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A dan Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar etika profesi dan memberikan kerangka konseptual untuk penerapan prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini memberikan ilustrasi mengenai penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu. Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP) atau Jaringan KAP, baik yang merupakan anggota IAPI maupun yang bukan merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa profesional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum dalam standar profesi dan kode etik profesi. Untuk tujuan Kode Etik ini, individu tersebut di atas selanjutnya disebut Praktisi. Anggota IAPI yang tidak berada dalam KAP atau Jaringan KAP dan tidak memberikan jasa profesional seperti tersebut di atas tetap harus mematuhi dan menerapkan Bagian A dari Kode Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan KAP tidak boleh menetapkan kode etik profesi dengan ketentuan yang lebih ringan daripada ketentuan yang diatur dalam Kode Etik ini. Setiap Praktisi wajib mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar dan aturan etika profesi yang diatur dalam Kode Etik ini, kecuali bila prinsip dasar dan aturan etika profesi yang diatur oleh perundang-undangan, ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku ternyata berbeda dari Kode Etik ini. Dalam kondisi tersebut, seluruh prinsip dasar dan aturan etika profesi yang diatur dalam perundang-undangan, ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku tersebut wajib dipatuhi, selain tetap mematuhi prinsip dasar dan aturan etika profesi lainnya yang diatur dalam Kode Etik ini. Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan keuangan perusahaan-perusahaan, sehingga masyarakat keuangan memperoleh informasi keuangan yang handal sebagai dasar untuk memutuskan alokasi sumber-sumber ekonomi. Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI

merasa adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan dan pemutakhiran standar profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi International. Sebagai langkah awal IAPI telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik, yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan Publik, Dewan Standar Profesi sedang dalam proses adoption terhadap International Standar on Auditing yang direncanakan akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011. Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5 prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu: 1. Prinsip Integritas 2. Prinsip Objektivitas 3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional 4. Prinsip Kerahasiaan 5. Prinsip Perilaku Profesional Selain itu, Kode Etik Profesi Akuntan Publik juga merinci aturan mengenai hal-hal berikut ini: 1. Seksi 200 Ancaman dan Pencegahan 2. Seksi 210 Penunjukan Praktisi, KAP, atau Jaringan KAP 3. Seksi 220 Benturan Kepentingan 4. Seksi 230 Pendapat Kedua 5. Seksi 240 Imbalan Jasa Profesional dan Bentuk Remunerasi Lainnya 6. Seksi 250 Pemasaran Jasa Profesional 7. Seksi 260 Penerimaan Hadiah atau Bentuk Keramah-Tamahan Lainnya 8. Seksi 270 Penyimpanaan Aset Milik Klien 9. Seksi 280 Objektivitas Semua Jasa Profesional

10. Seksi 290 Independensi dalam Perikatan Assurance Kewajiban Bagi Seorang Akuntan Publik (AP) Dan (KAP) Terdapat 5 (Lima) Kewajiban Akuntan Publik Dan KAP Yaitu: 1. Bebas dari kecurangan (fraud), ketidakjujuran dan kelalaian serta menggunakan kemahiran jabatannya (due professional care) dalam menjalankan tugas profesinya.

2.

Menjaga kerahasiaan informasi / data yang diperoleh dan tidak dibenarkan memberikan informasi rahasia tersebut kepada yang tidak berhak. Pembocoran rahasia data / informasi klien kepada pihak ketiga secara sepihak merupakan tindakan tercela.

3.

Menjalankan PSPM04-2008 tentang Pernyataan Beragam (Omnibus Statement) Standar Pengendalian Mutu (SPM) 2008 yang telah ditetapkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik (DSPAP) Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), terutama SPM Seksi 100 tentang Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (SPM-KAP).

4.

Mempunyai staf / tenaga auditor yang profesional dan memiliki pengalaman yang cukup. Para auditor tersebut harus mengikuti Pendidikan Profesi berkelanjutan (Continuing Profesion education) sebagai upaya untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang audit dan proses bisnis (business process). Dalam rangka peningkatan kapabilitas auditor, organisasi profesi mensyaratkan pencapaian poin (SKP) tertentu dalam kurun / periode waktu tertentu. Hal ini menjadi penting, karena auditor harus senantiasa mengikuti perkembangan bisnis dan profesi audit secara terus menerus.

5.

Memiliki Kertas Kerja Audit (KKA) dan mendokumentasikannya dengan baik. KKA tersebut merupakan perwujudan dari langkah-langkah audit yang telah dilakukan oleh auditor dan sekaligus berfungsi sebagai pendukung (supporting) dari temuan-temuan audit (audit evidence) dan opini laporan audit (audit report). KKA sewaktu-waktu juga diperlukan dalam pembuktian suatu kasus di sidang pengadilan. Larangan Bagi Seorang Akuntan Publik ( AP ) Dan ( KAP ) Akuntan Publik Dilarang

Melakukan 3 (Tiga) Hal :

1. dilarang memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan (general audit) untuk klien yang sama berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 3 tahun. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kolusi antara Akuntan Publik dengan klien yang merugikan pihak lain. 2. apabila Akuntan Publik tidak dapat bertindak independen terhadap pemberi penugasan (klien), maka dilarang untuk memberikan jasa. 3. Akuntan Publik juga dilarang merangkap jabatan yang tidak diperbolehkan oleh ketentuan perundang-undangan / organisasi profesi seperti sebagai pejabat negara, pimpinan atau pegawai pada instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau swasta, atau badan hukum lainnya, kecuali yang diperbolehkan seperti jabatan sebagai dosen perguruan tinggi yang tidak menduduki jabatan struktural dan atau komisaris atau komite yang bertanggung jawab kepada komisaris atau pimpinan usaha konsultansi manajemen. Sedangkan, KAP harus menjauhi Ada 4 larangan yaitu, 1. memberikan jasa kepada suatu pihak, apabila KAP tidak dapat bertindak independen. 2. memberikan jasa audit umum (general audit) atas laporan keuangan untuk klien yang sama berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 5 (lima) tahun. 3. memberikan jasa yang tidak berkaitan dengan akuntansi, keuangan dan manajemen. 4. mempekerjakan atau menggunakan jasa Pihak Terasosiasi yang menolak atau tidak bersedia memberikan keterangan yang diperlukan dalam rangka pemeriksaan terhadap Akuntan Publik dan KAP.

5.

Isi materi section 404 dari Sarbanes Oxley Act of 2002 : Sarbanes Oxley terdiri dari 11 judul atau bagian dan dijabarkan lagi dalam section 66

yang menetapkan hal-hal mulai dari tanggung jawab tambahan Dewan Perusahaan hingga hukuman pidana, sebagai berikut: . TITLE I : PUBLIC COMPANY ACCOUNTING OVERSIGHT BOARD (9 section) TITLE II : AUDITOR INDEPENDENCE (9 section)

TITLE III : CORPORATE RESPONSIBILITY (8 section) TITLE IV : ENHANCED FINANCIAL DISCLOSURES (9 section) TITLE V : ANALYST CONFLICTS OF INTEREST (1 section) TITLE VI : COMMISSION RESOURCES AND AUTHORITY (4 section) TITLE VII : STUDIES AND REPORTS (5 section) TITLE VIII : CORPORATE AND CRIMINAL FRAUD ACCOUNTABILITY (7 section) TITLE IX : WHITE-COLLAR CRIME PENALTY ENHANCEMENTS (6 section) TITLE X : CORPORATE TAX RETURNS (1 section) TITLE XI : CORPORATE FRAUD AND ACCOUNTABILITY (7 section) Dalam Sarbanes-Oxley Act diatur tentang akuntansi, pengungkapan dan pembaharuan governance; yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di bidang keuangan, pembatasan kompensasi eksekutif, dan pembentukan komite audit yang independen. Selain itu diatur pula mengenai hal-hal sebagai berikut: Mendirikan the Public Company Accounting Oversight Board, sebuah dewan yang independen dan bekerja full-time bagi pelaku pasar modal Menetapkan beberapa tanggung jawab baru kepada dewan komisaris, komite audit dan pihak manajemen Penambahan tanggung jawab dan anggaran SEC secara signifikan Mendefinisikan jasa non-audit yang tidak boleh diberikan oleh KAP kepada klien Memperbesar hukuman bagi terjadinya corporate fraud Mensyaratkan adanya aturan mengenai cara menghadapi conflicts of interest Menetapkan beberapa persyaratan pelaporan yang baru.