Anda di halaman 1dari 18

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1.

Anatomi Tractus Urinarius Tractus urinarius adalah suatu sistem pembentukan urin mulai dari ginjal, sampai dengan uretra. Selain sebagai sistem pembentukan urine traktus urinaria juga menyaring darah, sehingga darah bersih terpisah dari zat – zat yang tidak diperlukan oleh tubuh . Sistem organ dari tractus urinarius terdiri atas ginjal, ureter, kandung kencing dan uretra (menurut pearce, 1999).

Gambar 2.1. Tractus Urinari

5

Panjang setiap ginjal 10-12 cm. renal pelvis. terutama didaerah lumbal sebelah kanan dan kiri tulang belakang. tubulus nefron. Ginjal Ginjal terletak pada retroperitoneal. korteks.1.5-3 cm. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan. Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan duabelas. Struktur dari ginjal itu sendiri terdiri dari kapsula renalis. 6 . b) Ekskresi produk sisa. caliks mayor dan minor. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri karena hati menduduki ruang banyak disebelah kanan. papilla renalis. c) Pengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.1. tebalnya 2. Fungsi ginjal : a) Pengatur kosentrasi garam dalam darah.Ginjal berbentuk bean shape dan ada 2 buah. lebarnya 5-6 cm.medulla. Kedudukan Ginjal dapat diperkirakan mulai dari ketinggian Th XII – L III.2.

Panjangnya 35 sampai 40 cm.Gambar 2. 7 . Letak dan Struktur Ginjal 2. diameter 1mm-1cm. Letaknya retroperitoneal sama seperti ginjal.1.1.2. Ureter Terdapat dua ureter berupa dua saluran yang masing-masing bersambung dari ginjal berjalan ke kandung kencing.1.

lapisan tengah (otot polos) dan lapisan dalam (mukosa).a. yaitu ujung ureter dan masuk ke dalam vesika urinaria.2.Ureter mempunyai tiga penyempitan : a) Uretropelvic junction. b) Pelvic brim. yaitu ureter yang bermula dari sisi pelvis yang berpotongan antara pembuluh darah iliaka dengan uterus. Lapisan dinding ureter terdiri dari lapisan luar (jaringan ikat/ fibrosa).1. Lapisan dinding ureter terjadi gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang mendorong urine melalui ureter. Gambar 2. c) Uretrovesical junction. Ureter 8 . yaitu ureter bagian proksimal mulai dari renal pelvis sampai bagian ureter yang mengecil. Fungsi ureter adalah menyalurkan urine dari ginjal ke vesika urinaria.

2. ukuran dan posisi. lapisan otot (Tunika Muskularis). 9 . Secara umum volume dari vesika urinaria adalah 350-500 ml. Tunika Submukosa dan Lapisan dalam (mukosa). Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan luar (peritoneum). Vesika Urinaria (Blass) Adalah muskulus membran yang berbentuk kantong yang merupakan tempat penampungan dari urine yang dihasilkan oleh ginjal. Kandung kemih bervariasi dalam bentuk.1.3. tergantung dari volume urine yang ada di dalamnya.2.b Lapisan Ureter 2. Bagian fundus (bagian inferoposterior dari viskus) berhubungan dengan rektal ampula pada laki-laki. serta uterus bagian atas dari kanalis vagina pada wanita.1. Letaknya sekitar bagian posterior dan superior dari simpisis pubis.

Gambar 2.75 cm) pada pria.1.4. berfungsi dalam sistem reproduksi sebagai saluran pengeluaran air mani. Uretra wanita berjalan melalui sepanjang dinding yang tebal pada vagina menuju ke bagian 10 . Uretra Uretra merupakan saluran yang berjalan dari leher kandung kencing ke lubang luar. 1999).(Pearce.5 inchi (3. Letaknya agak ke atas orifisium interna dari uretra pada kandung kemih dan terbentang sepanjang 1.1999). Selain sebagai saluran pembuang baik pada sistem kemih .1. Dalam anatomi. Vesika Urinaria (Blass) 2. Fungsi dari uretra adalah untuk transport urine dari kandung kemih ke meatus eksterna.75 cm) pada wanita dan 7-8 inchi (18.3.Uretra juga berfungsi saluran pembuang pada sistem seksual. Pada pria. dilapisi mimbran mukosa yang bersambung dengan membran yang melapisi kandung kencing (Pearce.

Uretra laki-laki dibagi menjadi 2 bagian : 1.bagian uretra yang melewati bulbus penis. Pars glandis : bagian uretra di glands penis. Pars prostatika panjangnya 2. 1997).5 cm bermula dari kandung kemih sampai dasar pelvis dan diselubungi oleh prostate. Uretra anterior a. Pars membranacea yang berupa saluran berjalan melalui dasar pelvis dan panjangnya 0. Uretra posterior a. panjang sekitar 2. b. Pars cavernosa : bagian uretra yang melewati yang melewati corpus spongiosum penis c. Uretra pria terbentang dari kandung kemih sampai ujung penis dan dibagi atas pars prostatika.eksternal dari orifise uretral yang terletak pada vestibula sekitar 1 inchi (2.5 inchi (1. panjang sekitar 2 cm. Pars kavernosa berjalan melalui pertengahan pelvis dan terbentang menuju bagian orifisium uretra. b. 11 . Pars prostatika : bagian uretra yang melewati prostat. Pars bulbaris : terletak diproksimal. Pars membranecea : bagian uretra setinggi musculus sphrincter uretra (diafragma pelvis). pars membranacea dan pars kavernosa. 2.5 cm) dari bagian depan vagina.5 cm. Pars membranacea dan pars kavernosa pada uretra laki-laki juga berfungsi sebagai saluran ekskresi dari sistem reproduksi (Syaifuddin.25 cm).

A.1.4a.d. Pars membranosa dan pars kavernosa pada uretra laki-laki juga berfungsi sebagai saluran ekskresi dari sistem reproduksi. Uretra Pria 12 .4b. Uretra Pria Gambar 2. B. Uretra wanita. Gambar 2.1.

com/2009/10/24/striktur-urethra/) 13 .2011. Gambar 2. Striktur Uretra adalah suatu kondisi penyempitan lumen uretra. (Nursalam. Penyempitan lumen ini disebabkan karena dinding uretra mengalami fibrosis dan pada tingkat yang lebih parah terjadi fibrosis korpus spongiosum.hal 85).wordpress. mulai dari aliran berkemih yang kecil sampai tidak dapat mengelurkan urine keluar dari tubuh (Muttaqin. retensi urine. Striktur Uretra (http://dokmud. Striktur Uretra adalah penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat pembentukkan jaringan fibrotic (jaringan parut pada uretra dan atau pada daerah peri uretra).salah satu kelainan yang terjadi pada uretra adalah striktur uretra.2008. Patologi Striktur Uretra Pemeriksaan uretrografi dilakukan karena terjadi kelainan pada uretra yang mengganggu fisiologi dari uretra.hal 232).A. mixi kecil. Striktur Uretra adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis (pembentukkan jaringan fibrin) pada dindingnya. Gejala yang biasa terjadi adalah nyeri pada saat mixi. Striktur uretra menyebakan gangguan dalam berkemih.2.2.2.

4. 2. Dilatasi uretra di proksimal uretra yang striktura. Urin naik ke renal (refluks) kemudian ascending infection yang menimbulkan : gangguan nadi aorta. Setiap proses (infeksi. Hal ini akan menyebabkan fibrosis (apalagi jika ada infeksi). 3. uretra yang striktur (oleh karena aliran turbulensi atau aliran balik). Gangguan renal (renal failure). Infeksi uretra yang paling sering menimbulkan striktur uretra adalah infeksi kuman gonokokus. Mukosa terjulur dan terjadi diverkulum (sesudah melewati serosa) 2. Etiologi Striktur Uretra Striktura dapat disebabkan karena suatu infeksi. fraktur tulang pelvis. dan distal. 4. Sedangkan trauma yang menyebabkan striktur uretra adalah trauma tumpul pada selangkangan (straddle injuri).3. Striktura menyebabkan buli-buli bekerja lebih keras sehingga otot-otot akan hipertropi. oleh karena statis uretro maka akan menyebabkan fistula mudah terjadi infeksi dan mudah terjadi batu.2. dan instrumentasi pada uretra yang kurang hati-hati. 14 . trauma pada uretra. dan kelainan kongenital. sehingga akan menimbulkan perdarahan sub mukosa atau kelenjar parauretra tertutup. Fistula (urethro cutaneus fistel atau urethro perineal fistel ataupun uretro rektal fistel . trauma) akan menyebabkan mukosa uretra rusak (terjadi laserasi). Komplikasi Striktur Uretra 1.

Pars Bulbosa biasanya disebabkan karena cedera pada selangkangan / pasca uretritis. b. Pars Bulbo membranecea disebabkan perawatan / fiksasi kateter yang salah.5. 15 . Berat : Jika oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra. Derajat Penyempitan Striktur Uretra Striktura dibagi menjadi 3 tingkatan : 1. Sedang : Jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan ½ diameter lumen uretra 3. Pars Membranecea biasanya disebabkan karena trauma pelvis / kesalahan melakukan kateterisasi. Meatus Uretra Eksternum disebabkan pasca meatitis / balanitis. d. c. Letak striktura kadang kala dapat menjadi petunjuk penyebab striktura antara lain : a. Ringan : Jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen uretra 2.2.

2.6.scribd.penyempitan lumen ini disebabkan karena dinding uretra mengalami fibrosis dan pada tingkat yang lebih parah terjadi fibrosis korpus spongiosum. 2. Definisi Uretrografi adalah pemeriksaan radiografi pada uretra dengan menggunakan media kontras positif untuk melihat anatomi dan kelainan pada uretra.5. Teknik Pemeriksaan Uretrografi 2. Lokasi Striktur Uretra (http://www. Striktur Striktur Uretra adalah penyempitan lumen uretra karena fibrosis pada dindingnya.Gambar 2.com/doc/6254234/Striktur-uretra) 2.6. 16 . Indikasi a.6.1.

hal ini jarang terjadi d. b. tetapi sesudah operasi akan terjadi atau pasca tindakan. Kontra Indikasi a. Kelainan kongenital Kelainan bawaan dari lahir. c. Tumor Tumor tidak menimbulkan striktura. Radang prostat. d. Pesawat sinar x b. Sarung tangan 17 . 2.1.3.4. Fistule Saluran abnormal yang terbentuk antara dua buah organ yang seharusnya tidak berhubungan. Retensi urine Kesulitan dalam berkemih c.b. 2. e. Radang uretritis akut. Kateter d. Penderita terdapat riwayat alergi kontras.6. Kaset dan film c.6.4. Gliserin e. Prosedur Pemeriksaan Uretrografi 2.6. Infeksi akut. Persiapan Alat a.

Kassa steril g. Prosedur Pemeriksaan a) Pasien tidur telentang di atas meja pemeriksaan.2.6. b) Daerah orifisium uretra diolesi dengan gliserin. Persiapan Pasien a) Tidak ada persiapan khusus. sebanyak 12 cc.4. bengkok atau mangkuk steril k. plester 2.3.6.4.6. Media kontras 1:1 i. d) Lakukan pemotretan dengan beberapa proyeksi. setelah disuruh buang air kecil.4.4. fungsinya agar kontras tidak bercampur dengan urine → densitas tinggi. 2.Dilakukan plain foto 18 . Teknik Radiografi Pasien buang air kecil terlebih dahulu kemudian tidur (supine) di atas meja pemeriksaan . Baju pasien j. b) Pasien disuruh kencing sebelum pemeriksaan.f.kapas alkohol l. Spuit 20 cc h. 2. kontras rendah → gambaran lusent → VU tidak dapat dinilai. c) Masukkan media kontras melalui kateter.

Tampak rongga pelvis. ilium. kedua kaki direnggangkan. ischium.terlebih dahulu dengan proyeksi Anteroposterior (AP) dengan tujuan untuk mengetahui struktur mengetahui persiapan pasien. masukkan kateter dilanjutkan pemasukan kontras dan pengambilan foto dengan proyeksi lainnya. mengetahui ketepatan posisi dan menentukan faktor eksposi selanjutnya. yaitu : 1. tampak kandung kemih dan uretra yang terisi media kontras 19 . sacrum dan symphisis pubis. batas bawah kaset sympisis pubis. Central Ray : 15º ke caudal Central Point : 5 cm diatas Sympisis Pubis FFD : 100 cm Kaset : 24 x 30 cm Kriteria Gambar : Tampak tulang pelvis. Kemudian daerah orifisium uretra di olesi gliserin. AP (Antero posterior) Posisi pasien : Tidur terlentang diatas meja pemeriksaan Posisi objek : Daerah pelvis dan uretra ditempatkan persis diatas kaset. keseluruhan organ sebelum dimasukkan media kontras. Batas atas kaset krista iliaka.

4. Gambar 2.4a. Posisi Proyeksi Antero Posterior Gambar 2. Radiograf Proyeksi Antero Posterior 20 .4b.6.6.dengan kandung kemih tidak superposisi dengan symphisis pubis.4.

daerah panggul diatur miring kira-kira 35–40 derajat. tampak kandung kemih dan uretra yang terisi media kontras dengan kandung kemih superposisi dengan symphisis pubis. Batas atas kaset pada krista iliaka. ilium. FFD : 100 cm Kaset : 24 x 30 cm Kriteria Gambar : Tampak tulang pelvis. kekanan/kekiri sesuai dengan posisi oblik yang dimaksud. 21 . Right dan Left Posterior Obliq (RPO/LPO ) Posisi pasien: Tidur terlentang diatas meja pemeriksaan Posisi objek: Daerah pelvis dan uretra ditempatkan persis diatas kaset. sacrum dan symphisis pubis. Salah satu tangan berada di samping tubuh. lengan lainnya di tempatkan menyilang sambil berpegangan pada tepi meja pemeriksaan. Tampak rongga pelvis. batas bawah kaset 2 cm di bawah simpisis pubis Central Ray : Tegak lurus kaset Central Point : 5 cm diatas sympisis pubis dan 5 cm medial SIAS. ischium.2.

6.6.4d.4. Posisi Proyeksi Right Posterior Oblique (RPO) Gambar 2.4. Radiograf Proyeksi RPO 22 .4c.Gambar 2.