Anda di halaman 1dari 13

skep Jiwa Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Penglihatan

TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN 2.1.1 Pengertian Gangguan Jiwa. Gangguan Jiwa adalah kondisi terganggunya fungsi mental, emosi, pikiran, kemauan, perilaku psikomotorik dan verbal, yang menjelma dalam kelompok gejala klinis yang disertai oleh penderitaan dan mengakibatkan terganggunya fungsi humanistik individu. C PPDGJ III atau ICD X. 2.1.2 Pengertian Skhizofrenia. - Skhizofrenia merupakan suatu bentuk psikis fungsional dengan gangguan utama pada proses berpikir serta disharmoni (perpecahan, peretakkan) antara proses berpikir, afek / emosi, kemauan dan psikomotor, terutama karena waham dan halusinasi (Maramis, 1998). - Skhizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik pemikaran konkret dan kesulitan dalam memproses Informasi, hubungan interpersonal, serta memecahkan masalah. (Gail W. Stuart).

Bagan Rentang Respon Neurobiologis


Respon Adaptif - Pikiran Logis - Persepsi Akurat - Emosi Konsisten dengan Pengalaman - Perilaku sesuai - Hubungan Sosial Respon Maladaptif Gangguan Pikiran / Waham Halusinasi Kesulitan Untuk Memproses Emosi Ketidakteraturan Perilaku Isolasi Sosial

Pikiran kadang menyimpan Ilusi Reaksi Emosional berlebihan/kurang

Perilaku Aneh / Tak Lazim Menarik Diri

- Skizofrenia Paranoid. Skizofrenia Paranoid agak berlainan dari jenis yang lain dalam jalannya penyakit Hebrefeni dan Katatonia. Sering lama kelamaan menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplek. Gejala yang menyolok adalah waham primer disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. 2.1.3 Psikodinamika Skizofrenia. - Proses terjadinya Skizofrenia. Stres dapat terjadi pada jiwa seperti kecemasan, kekecewaan, dan rasa bersalah yang menimbulkan mekanisme penyesuaian psikologik. Ketidakmampuan individu dalam

penyesuaian tersebut dapat menimbulkan gangguan jiwa, diantaranya Skizofrenia yang dapat disebabkan oleh tekanan jiwa, penyakit fisik seperti arterosklerosis otak dan lain-lain. Skizofrenia tidak diduga sebagai suatu penyakit tunggal tetapi sebagai kelompok penyakit dengan ciri-ciri klinik umum. Menurut riset terakhir proses terjadi dan ekspresi gangguan Skizofrenia yaitu memusatkan diri disekitar berbagai kelainan neurotransmiter yang ditemukan pada penderita Skizofrenia dan berpusat pada sistem energik sebagai suatu lesi atau ketidakseimbangan serta memperlihatkan adanya kelebihan reseptor dopamenergik dalam sistem saraf pusat. Selain itu, neuroleptik juga diduga efektif dan turut berperan karena kemampuan memblokir reseptor dopamenergik pada otak penderita Skizofrenia. - Tanda dan Gejala. Gejala-gejala Skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu; gejala primer (gangguan proses pikir, gangguan afek dan emosi, gangguan kemauan, gangguan psikomotor) dan gejala sekunder (waham halusinasi). Gejala dan tanda utama yang timbul pada Skizofrenia adalah : 1. Kelainan pikiran lebih mengarah pada bentuk ketimbang isi pikiran, berbelit-belit, mengalami block pikiran mendadak. 2. Kelainan Emosi. 3. Kemampuan Kemauan.

4. Katatonia. 5. Halusinasi. 6. Waham. 7. Gangguan Ekspresi. 8. Menarik Diri. 2.1.4 Perubahan persepsi sensori adalah ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi stimulus sesuai dengan informasi yang diterima melalui panca indera. (Dep. Kes. RI. 2000). 2.1.5 Pengertian Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar) dimana klien memberi persepsi atau pendapat tentang sesuatu yang tanpa objek atau rangsangan dari luar yang nyata. (Budi Anna Keliat, Proses Keperawatan Jiwa, 1992). 2.1.6 Halusinasi Penglihatan adalah klien melihat hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan stimulus yang nyata / lingkungan dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak melihat. Rentang Respon Neurobiogenik hal-hal yang dilihat klien. Rentang Respon Emosional

Respon adaptif

Respon maladaptf

Respon emosional

Reaksi berduka tak terkomplikasi

Supresi emosi

Penundaan reaksi berduka

Depresi/ mania

2.1.7 Proses Terjadinya Halusinasi. 1. Fase comforting / fase pertama. Klien mengalami stres, cemas, perasaan perpisahan, kesepian yang progresif dan tidak dapat dipecahkan, klien mulai melamun dan memikirkan yang menyenangkan. 2. Fase Condemning / fase kedua. Kecemasan meningkat, melamun sendiri, menjadi dominan mulai dirasakan yang tidak jelas. Klien tidak ingin ada orang yang tahu apa yang dirasakannya dan klien tetap mengontrolnya. 3. Fase Controling / fase ketiga.

Bisikan suara, isi halusinasi makin menonjol, menguasai dan mengontrol klien, klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap halusinasinya. 4. Fase Conguering / fase keempat. Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi. Klien menjadi takut, tak berdaya, hilang kontrol dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang yang berada di lingkungannya secara umum. 2.1.8 Teori-teori Terjadinya Halusinasi. 1. Teori Psikofisiologi. Kerusakan fungsi kognitif akibat keracunan atau penyakit. 2. Teori Psikodinamika. Halusinasi menggambarkan kekacauan alam prasadar dan tak sadar. 3. Teori Interpersonal. Lamunan terjadi berulang-ulang sehingga mengakibatkan perilakunya tidak sesuai maka terjadilah halusinasi. 4. Teori Biokimia. Halusinasi terjadi sebagai respon metabolic terhadap stres yang menyebabkan dilepaskannya zat halusinogenik. 5. Teori Psikoanalisa. Halusinasi merupakan perlahanan ego untuk melawan rangsangan diluar yang ditekan tetapi mengancam dan muncul dalam alam sadar. 2.1.9 Macam-macam Halusinasi. Menurut Kneils dan Wilson dalam psyjhiatreic nursing (1998) halusinasi terdiri dari : 1. Halusinasi akustik / auditorik (dengar). Individu itu mendengar suara yang membicarakan, mengejek, menertawakan atau mengancam padahal tidak ada suara di sekitarnya.

2. Halusinasi visual / lihat. Individu melihat pemandangan orang, binatang, sesuatu yang tidak ada. Terjadi pada klien dengan gangguan mental organik. 3. Halusinasi olvaktorius (penciuman).

Halusinasi ini jarang didapatkan, individu mencium bau-bauan seperti bau bunga, kemenyan atau mayat yang tidak ada sumbernya. 4. Halusinasi gustatorik (rasa). Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi hirup / bau. Halusinasi ini merasa seperti mengecap sesuatu di mulutnya. 5. Halusinasi Taktile (raba). Individu merasa ada orang yang meraba dan memukul bila rabaan ini merupakan rangsangan seksual, halusinasi ini disebut Haptik.

2.1.10 Karakteristik Halusinasi. Tanda dan gejala. Individu dengan halusinasi biasanya menunjukkan perilaku yang cenderung lebih banyak menyendiri, tatapan mata menuju ke satu arah, seolah-olah kontak dengan sesuatu dan asik mendengar sesuatu. Individu akan melakukan kegiatan aneh mungkin tertawa, diam, bicara sendiri dengan bereaksi sesuai dengan isi halusinasi, namun akan bertentangan dengan isi lingkungan sosial yang nyata, juga akan tampak bingung serta tidak peduli dengan lingkungan. Gejala-gejala. Bicara, senyum, tertawa sendiri. Mengatakan mendengar sesuatu / suara, melihat, mengecap, menghirup dan merasa sesuatu yang tidak nyata. Merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan Tidak dapat melakukan perawatan mandiri, mandi, gosok gigi, berpakaian yang rapi. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata. Sikap curiga dan bermusuhan. Menarik diri dari orang lain. Sulit membuat keputusan. Ketakutan. Mudah tersinggung, jengkel, dan marah. Ekspresi wajah tegang.

Akibat dari Halusinasi.

1. Waham. 2. Kerusakan komunikasi verbal. 3. Menarik diri. 4. Perilaku kekerasan. 5. Harga diri rendah. 6. Kerusakan interaksi social. Etiologi.

1. Faktor Predisposisi. Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau susunan saraf pusat ini merupakan faktor biologis. Faktor Psikologis : Sikap menolak dan adanya kekerasan dalam keluarga dan lingkungan yang sangat mempengaruhi respon psikologis klien. Faktor Sosial / budaya : Kehidupan sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi klien yang realistis seperti kekayaan, kemiskinan dan konflik sosial budaya lainnya. 2. Faktor Presipitasi. Faktor pencetus sebelum timbul tanda dan gejala klien bermusuhan, tekanan isolasi dan perasaan dan perasaan tidak berguna. Pohon Masalah Resiko perilaku mencederai diri

Masalah utama Gangguan persepsi sensori halusinasi penglihatan

Koping individu tak efektif

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN. 1. Pengertian Keperawatan. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan / asuhan yang bersifat humanistik, profesional dan holistik berdasarkan ilmu dan kiat, memiliki standar asuhan dan menggunakan kode etik, serta dilandasi oleh profesionalisme yang mendiri dan / atau kolaborasi (Lokakarya, 1983). 2. Pengertian Asuhan Keperawatan. Asuhan Keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan pada praktek keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien / pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. 3. Pengertian Proses Keperawatan. Proses keperawatan adalah suatu proses penilaian masalah yang dinamis dalam usaha memperbaiki atau memelihara pasien sampai ke taraf optimum melalui suatu pendekatan yang sistematika untuk mengenal dan membantu memenuhi kebutuhan khusus pasien. (Dep. Kes. RI. Dan JICA 1982). 4. Tujuan Proses Keperawatan. Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan menjadi optimal. Kebutuhan dan masalah klien dapat diidentifikasi, diprioritaskan untuk dipenuhi serta diselesaikan. Dengan menggunakan proses keperawatan perawat dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang bersifat rutin, intuisi dan tidak unik bagi individu klien. Keperawatan Jiwa merupakan proses interpersonal yang berusaha untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku sehingga klien dapat berfungsi utuh sebagai manusia. 5. Manfaat Proses Keperawatan. Bagi Perawat. a. Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.

b. Tersedia pola pikir / kerja yang logis, ilmiah, sistematis dan terorganisir.

c.

Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat bertanggung jawab dan bertanggung gugat.

d. Peningkatan kepuasan kerja. e. f. Sarana / wahana desiminasi IPTEK keperawatan. Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian.

Bagi Klien. a. Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah b. Partisipasi meningkat dalam menuju perawatan mandiri (Independent Care) c. Terhindar dari malpraktek 6. Tahap-tahap Proses Keperawatan. a. Pengkajian Keperawatan. Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian keperawatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart dan Larai 2001). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 dimensi yaitu fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual kemampuan perawat yang diharapkan dalam melakukan pengkajian adalah mempunyai kesadaran / titik diri (self-awareness), kemampuan mengobservasi dengan akurat, kemampuan komunikasi terapeutik dan senantiasa mampu berespon secara efektif (Stuart dan L) 2001. Perilaku yang perlu dilakukan perawat-perawat adalah membina hubungan saling percaya dengan melakukan kontrak, mengkaji data dari klien dan keluarga, memvalidasi data dengan klien, mengorganisir atau mengelompokkan data, serta menetapkan kebutuhan atau masalah klien. b. Diagnosa Keperawatan. Pengertian diagnosa keperawatan adalah identifikasi / peniliaian terhadap pola respon klien baik aktual maupun potensial (Stuart dan Laraia, 2001)

Tipe-tipe diagnosa keperawatan dalam rencana asuhan keperawatan dan dokumentasi oleh Carpenito adalah..... a. Diagnosa aktual; fokus intervensi yaitu mengurangi atau menghilangkan masalah b. Diagnosa resti; fokus intervensi untuk mengurangi faktor resiko untuk mencegah terjadinya masalah aktual c. Diagnosa kemungkinan; fokus intervensi mengumpulkan data tambahan untuk / atau menetapkan tanda gejala / faktor resiko d. Masalah kolaboratif; fokus intervensi menentukan awitan atau status masalah penatalaksanaan status c. Perencanaan Keperawatan. Perencanaan keperawatan terdiri dari 3 aspek yaitu, tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus kepada penyelesaian permasalahan sedangkan tujuan umum dapat dicapai apabila serangkaian tujuan khusus telah tercapai. Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi sehingga tujuan ini perlu dicapai atau dimiliki klien. Umumnya kemampuan klien pada tujuan khusus dapat menjadi 3 aspek yaitu kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif. Rencana tindakan ini disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan jiwa di Indonesia atau standar keperawatan Amerika. Tindakan keperawatan yang telah direncanakan dicatat dalam formulir dokument keperawatan. d. Implementasi Keperawatan. Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Pada siatuasi nyata implementasi sering kali jauh berbeda dengan rencana. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini. Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mampu melaksanakan, perawat harus menilai kembali, apakah tindakan tersebut aman bagi klien. Pada saat akan melaksanakan tindakan keperawatan, perawat membuat kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan apa yang akan dikerjakan dan peran serta yang diharapkan dari klien. Dokumentasikan semua tindakan yang dilakukan.

e.

Evaluasi Keperawatan. Evaluasi keperawatan merupakan proses berkelanjutan menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Evaluasi dibagi dua, yaitu evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan antara respon klien dan tujuan khusus serta umum yang telah ditentukan. Evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan SOAP yaitu.....

Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan Analisa ulang atas data subjektif dan data objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap / muncul masalah baru

O : A :

Perencanaan atau tindakan lanjut berdasarkan hasil analisis pada respon klien yang terdiri dari lanjut klien dari perawat.

C. Konsep Analisa Proses Interaksi (API). 1. Pengertian. Analisa Proses Interaksi adalah merupakan alat kerja yang dipakai perawat (mahasiswa) untuk memahami interaksi yang terjadi antara perawat dan klien. Analisa Proses Interaksi meliputi: - Catatan hubungan perawat klien. Resume Interaksi yang terjadi selama perawat berhubungan individual dengan klien. Kelompok klien pada terapi modalitas keperawatan.

2. Tujuan Analisa Proses Interaksi (API). a. Meningkatkan kemampuan mendengar b. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi c. Memberi dasar belajar; artinya berupa alat untuk mengkaji kemampuan perawat / mahasiswa

dalam berinteraksi dengan klien dan data bagi CI /supervisor pembimbing untuk memberi arahan. d. Meningkatkan kepekaan perawat terhadap kebutuhan klien, serta mempermudah perkembangan dan perubahan pendekatan perawat. e. Membantu perawat merencanakan tindakan keperawatan. 3. Data Dalam Format (API). a. Inisial klien; tulis inisial bukan nama lengkap. b. Status interaksi; pertemuan beberapa fase berhubungan. c. Lingkungan; tempat interaksi, situasi tempat interaksi, posisi mahasiswa dan klien. d. Deskripsi klien; Penampilan umum klien. e. Tujuan; tujuan yang akan dicapai dalam interaksi selama 20-30 menit - Tujuan berpusat pada klien. - Tujuan terkait dengan proses keperawatan klien. f. g. Komunikasi verbal Ucapan verbal Perawat Klien. Komunikasi non-verbal non verbal klien dan perawat saat bicara / saat mendengar. h. Analisa berpusat pada perawat. Pusat analisa proses yang berhubungan dengan komponen sebagai berikut : a. Perasaan Sendiri. Perawat waspada tentang respon perasaan sendiri dan menunjukkan peningkatan kemampuan untuk menjelaskan riwayat / latarbelakang bagaimana perasaan perawat dan bagaimana perasaan perawat dipengaruhi oleh tingkah laku non verbal klien. b. Tingkah Laku non-verbal. Cari / kenali, diskusikanlah analisa tingkah laku non verbal diri sendiri. c. Isi Pembicaraan yang muncul dan terselubung.

Cari / kenali, bedakan dan diskusikanlah tehnik komunikasi yang digunakan.

d. Tujuan Interaksi. Perawat berperan sebagai apa? Pasien sebagai apa? Apa anggapan perawat tentang kejadian yang telah terjadi? Bagaimana seharusnya berinteraksi. Bagaimana pengaruh proses interaksi pada mereka. Apakah mereka perlu berubah? Dan jika perlu berubah, mengapa? Apakah interaksi ini mempengaruhi tujuan dan rencana interaksi yang akan datang? i. Analisa berpusat pada klien. Analisa; pusatkan analisa proses interaksi pada komponen sebagai berikut : a. Tingkah laku non verbal. Cari / kenali, diskusikan dan analisa tingkah laku non verbal klien. b. Isi pembicaraan yang muncul dan terselubung. Cari / kenali, bedakan dan diskusikan keadaan perasaan klien. c. Perasaan klien.

d. Temukan, cari arti tingkah lakuklien. e. f. g. Identifikasi dan diskusikan keadaan perasaan klien. Bagaimana perasaan klien mempengaruhi / dipengaruhi oleh perawat. Kebutuhan klien dengan menggunakan data dari interaksi, yang terjadi interaksi sebelumnya, riwayat klien dan teori. j. a. Analisa Teoritis (rasional). Sintesa dan terapan teori pada proses interpersonal: Berikan alasan teoritis, intervensi anda atau intervensi lain. Tunjukkan peningkatan kemampuan dalam mendiskusikan tingkah klien dalam

rangka teori psikodinamika, teori adaptasi, setiap sumber-sumber teori lain yang dikenal. b. Perawat diharapkan menggunakan teori komunikasi, teori komunikasi terapeutik, teori interpersonal dan setiap pembelajaran dasar ilmu pengetahuan tingkah laku yang telah diperoleh disamping itu juga digunakan teori perawatan psikiatri yang didapat dari bacaan dan kuliah.

2.4.5 Contoh Format (API). Analisa Proses Interaksi Inisial Klien Status Interaksi Lingkungan : .................................... : .................................... : .................................... Nama Mahasiswa :................................ Tanggal Jam Bangsal :................................ :................................ :................................

Deskripsi Klien : ....................................

Tinjauan (orientasi pada klien) : ..............................................

Komunikasi Verbal

Komunikasi Non verbal

Analisa Berpusat Pada Perawat

Analisa Berpusat Pada Klien

Rasional

P ...............

P ................... K ..................

K .............. K ..................

P ................... Dst.

Read more: http://yayannerz.blogspot.com/2012/02/vbehaviorurldefaultvmlo.html#ixzz2xTUl7FwF