Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Integrasi ekonomi global pada era modern secara paralel juga menyebabkan terjadinya harmonisasi hukum pada masyarakat global, salah satunya dengan terbentuknya World Trade Organization (selanjutnya disingkat dengan WTO) yang merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan internasional dan telah memberikan konsep liberalisasi perdagangan kepada dunia khususnya kepada negara-negara anggota. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui seperangkat persetujuan/perjanjian yang berisikan aturan-aturan dasar perdagangan internasional termasuk didalamnya GATT, yang dihasilkan oleh para negara anggota melalui proses perundingan yang panjang, untuk mencapai tujuan utamanya yakni mengurangi hambatan dalam perdagangan internasional. Persetujuan tersebut merupakan perjanjian antar negara anggota yang mengikat pemerintah negara anggota untuk mematuhi dan menyesuaikan pelaksanaan kebijakan perdaganganya sesuai dengan ketentuan WTO.1 Sengketa dapat muncul ketika suatu negara yang merupakan anggota WTO menetapkan suatu kebijakan perdagangan tertentu yang bertentangan dengan komitmennya di WTO, atau mengambil kebijakan yang merugikan negara lain.2 Salah satunya adalah sengketa antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait dengan larangan peredaran rokok kretek di Amerika Serikat. Kasus ini berawal dari disahkannya Pasal 907 (a) (1) (A) ―Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act‖ (selanjutnya disingkat dengan Tobacco Control Act) oleh Presiden Obama pada tanggal 22 Juni 2009 yang kemudian
1

Departemen Luar Negeri, Sekilas WTO (World Trade Organization), Ed.4, (Jakarta:Direktorat Perdagangan, Perindustrian,Investasi dan Hak Kekayaan Intelektual , 2007), hlm. 1. Freddy Josep Pelawi, “Penyelesaian Sengketa WTO dan Indonesia”, Jurnal Departemen Perdagangan Republik Indonesia, 2006, di akses dari http://ditjenkpi.depdag.go.id, pada tanggal 6 November 2013 pukul 14:33 WIB.
2

diberlakukan pada bulan September 2009. Peraturan tersebut melarang peredaran semua rokok yang mengandung aroma dan rasa (flavored cigarettes), termasuk rokok kretek, di Amerika Serikat. Meski demikian, peraturan tersebut tidak melarang rokok yang mengandung aroma dan rasa menthol. Pengesahan tersebut berdampak terhadap kegiatan perdagangan Indonesia, karena sebesar 99% (sembilan puluh sembilan persen) rokok kretek yang di jual di Amerika Serikat merupakan produk impor.3 Kerugian yang di alami Indonesia yang diperkirakan timbul akibat dari larangan ekspor rokok kretek mencapai US$ 200.000.000 (dua ratus juta dolar) per tahun, selain itu, pelarangan ekspor rokok kretek juga akan dirasakan oleh para petani tembakau.4 Amerika mengatakan bahwa tujuan utama dari disahkannya Tobacco Control Act tersebut adalah, untuk mengatasi masalah kesehatan terkait dengan rokok yaitu dengan mengurangi konsumsi rokok pada anak muda. Akan tetapi, dari data yang diperoleh oleh Indonesia, bahwa konsumsi rokok menthol di kalangan anak muda Amerika Serikat adalah sebesar 43% (empat puluh tiga persen), atau sekitar ¼ (seperempat) dari keseluruhan rokok yang dikonsumsi di Amerika Serikat. Sebaliknya, konsumsi rokok kretek hanya mencapai kurang dari satu persen, lebih tepatnya 0,09% (nol koma nol sembilan persen) dari keseluruhan konsumsi rokok di Amerika Serikat.5 Dilatarbelakangi oleh hal tersebut, maka Indonesia pada tanggal 9 Juni 2010 secara resmi menggugat Amerika Serikat ke Dispute Settlement Body (selanjutnya disebut DSB) WTO. Dalam gugatannya, Indonesia menggunakan peraturan Technical Barriers to Trade Agreement (selanjutnya di singkat dengan TBT Agreement), dimana Indonesia berkeyakinan Amerika Serikat sebagai salah satu anggota WTO telah melanggar ketentuan yang diatur dalam TBT Agreement.
“Diplomasi Perdagangan RI dalam Tatanan Perdagangan Dunia: WTO Setuju Bentuk Panel Sengketa mengenai Larangan Perdagangan Rokok Kretek di Amerika Serikat” , Publikasi Siaran Pers Kementrian Perdagangan Dalam Negeri Republik Indonesia pada tanggal 6 November 2013. 4 ―Ekspor Rokok ke AS Dilarang, RI Rugi US$ 200 Juta Per Tahun” , di akses dari http://www.neraca.co.id/2011/09/05/ekspor-rokok-ke-as-dilarang-ri-rugi-us-200-juta-per-tahun/, pada tanggal 6 November 2013 pukul 09:26 WIB. 5 Ibid.
3

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam ―Tinjauan Yuridis terhadap Penyelesaian Sengketa Rokok Kretek antara Indonesia dan Amerika Serikat oleh World Trade Organization‖ adalah sebagai berikut : 1. Apakah Sec. 907(a)(1)(A) Tobacco Control Act telah melanggar prinsip nondiskriminasi (national treatment) yang terdapat dalam Article 2.1 dari TBT Agreement? 2. Apakah Amerika Serikat telah memberikan reasonable interval dalam memberlakukan Sec. 907(a)(1)(A) Tobacco Control Act yang telah diatur dalam Article 2.12 dari TBT Agreement?

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui apakah keberlakukan Sec. 907(a)(1)(A) Tobacco Control Act telah melanggar prinsip nondiskriminasi (national treatment) yang terdapat dalam Article 2.1 dari TBT Agreement. 2. Untuk mengetahui apakah Amerika Serikat telah memberikan reasonable interval dalam memberlakukan Sec. 907(a)(1)(A) Tobacco Control Act yang telah diatur dalam Article 2.12 dari TBT Agreement. Kegiatan penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan pemahaman yang cukup jelas mengenai bagaimana peranan TBT Agreement dalam praktek perdagangan internasional khususnya terkait hambatan non-tarif (hambatan teknis) terkait TBT Agreement. Selain itu, secara praktis penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat, terutama para pelaku perdagangan internasional, sehingga dapat memahami persoalan hukum perdagangan internasional khususnya terkait hambatan non-tarif (hambatan teknis).

Sri Mamudji.D. Disebut juga bentuk penelitian yuridis normatif dimana "peneliti mengarahkan penelitian pada hukum positif dan norma tertulis". Data-data dari studi kepustakaan tersebut terutama di peroleh dari buku-buku. yang ditinjau dari TBT Agreement. Sedangkan data yang bersumber dari kepustakaan. al. Data yang dipergunakan dalam penulisan ini bersumber dari perundang-undangan dan studi kepustakaan. makalah. Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan. data yang bersumber dari berbagai regulasi terkait dengan penulisan ―Tinjauan Yuridis terhadap Penyelesaian Sengketa Rokok Kretek antara Indonesia dan Amerika Serikat oleh World Trade Organization‖. (Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia: Jakarta. dan website E. Identifikasi Masalah. Metode Penelitian dan Penulisan Hukum. Prinsip-prinsip Dasar WTO.6 Dalam hal ini penulis meninjau bagaimana pengaturan umum hambatan teknis yang terdapat dalam TBT Agreement dan mengkaji aspekaspek yuridis terkait keberlakuan larangan peredaran rokok kretek Indonesia di Amerika Serikat. maka pembahasan dan penulisannya 4 (empat) bab. 6 . et.. diantaranya Family Smoking Prevention and Tobacco Act. yaitu: Bab I merupakan bab pendahuluan. 2005) hlm. data yang berhubungan dengan Teori dan Asas khususnya yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa di WTO. sebagai dampak keberlakuan Sec. Sistematika Penulisan Untuk mempermudah dalam pemahaman terhadap pembahasan yang dibahas dalam makalah ini. Bab II berkaitan dengan Tinjauan Umum Terhadap Penyelesaian Sengketa Dagang di WTO.907(a)(1)(A) Tobacco Control Act . 10. Tujuan Penelitian. Metode Penelitian Penulisan ini dikaji dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif untuk menambah wawasan penulis mengenai teori-teori dasar yang berhubungan dengan penelitian. yang berisikan tentang Latar Belakang. Agreement on technical Barriers to Trade dan peraturan lainnya yang terkait. sub bab TBT Agreement dalam Ketentuan WTO dan Penyelesaian Sengketa Dagang di WTO. jurnal. Terdiri dari sub bab Latar Belakang Pembentukan WTO.

Terdiri dari sub bab kasus posisi dan sub bab analisis.Bab III merupakan hasil analisis dan pembahasannya. . Bab IV adalah penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

System GATT 1947 bukan merupakan organisasi. Tiap-tiap perjanjian mempunyai instrument hukum sendiri sendiri. 2. yaitu negara . Gagasan awal pada Uruguay Round muncul pada akhir tahun 1989 dan awal tahun 1990 yang disampaikan oleh delegasi Kanada untuk membentuk suatu organisasi yang bertugas mengefektikan perjanjian perjanjian hasil Putaran Urugyay. Latar Belakang Pembentukan WTO Pembentukan WTO ini merupakan perwujudan cita-cita lama semenjak perundingan GATT pertama kali (1948). WTO. tetapi hanya merupakan sekumpulan perjanjian. merupakan satu-satunya organisasi antar bangsa. 3. struktur dan sistem pengambilan keputusan yang berlaku di GATT juga turut disesuaikan dengan ketentuan dalam perjanjian tersebut. Keikutsertaan negara-negara terhadap hasil perjanjian perjanjian hasil Putaran Tokyo didasarkan pada prinsip "A La Carte". Menurut skretariat GATT terdapat lebih dan 200 instrumen hukum yang melengkapi system GATT 1947. Alasan Umum diusulkannya pembentukan organisasi perdagangan dunia (WTO) dan termasuk kepada system penyelesaian sengketa terpadu adalah sebagai berikut : 1. Organisasi ini memiliki kedudukan yang unik karena organisasi ini berdiri sendiri dan terlepas dan badan kekhususan PBB. yaitu perjanjian GATT itu sendiri dan beberapa perjanjian khusus. Dengan disetujuinya hasil perundingan Uruguay Round dan dibentuknya WTO sebagai lembaga penerus GATT. Organisasi ini berupaka kerangka institusi permanen untuk mengatur sistem perdagangan dunia yang baru dan mengatur sistem penyelesaian sengketa terpadu untuk menangani perselisihan yang terjadi. seperti misalnya hasil Putaran Tokyo. tetapi khusus menangani permasalahan yang berkaitan dengan perdagangan dunia.BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP PENYELESAIAN SENGKETA DAGANG DI WORLD TRADE ORGANIZATION A.

4. 126 7 . GATT dan WTO . Akhirnya WTO mulai efektif beroperasi sejak tanggal 1 januari 1995 mempunya tempat domisili di Geneva (Swiss). Baik GATT 1947 maupun perjanjian perjanjian putaran Tokyo masing masing memiliki mekanisme penyelesaian sengketa.7 Latar belakang lainnya adalah semakin banyaknya permasalahan yang harus dihadapi dalam penerapannya. peranan WTO akan lebih kuat daripada GATT. Hak milik Intelektual (TRIPs) dll. WTO adalah suatu lembaga perdagangan multilateral yang permanen. Para peserta setuju bahwa perjanjian perjanjian hasil putaran Uruguay harus diterima sebagai satu paket. sistem forum dan pembangunan internasional dibidang perdagangan. Sehingga pada akhirnya peserta perundingan sepakat bahwa diperlukan suatu kerangka kelembagaan Organisasi Perdagangan Internasional yang lebih kuat untuk mengatur system perdagangan di masa datang yang dapat menjadi wadah dang mengefektifkan perjanjian perjanjian yang telah ada. Apabila mereka tidak merasa berkepentingan atauu dianggap merugikan. dan disepakatilah suatu prinsip "satu paket" (single undertaking). Maka pada pertemuan di Brussel bulan desember 1990 diputuskan lagi untuk tidak menggunakan prinsip "A La Carte" . Sebagai suatu organisasi permanen. Sepertti misalnya perjanjian mengenai perdagangan jasa (GATS). Sehingga rasanya system GATT 1947 tidak mungkin lagi dapat dipertahankan untuk dapat menjadi wadah perjanjian-perjanjian tersebut. peserta tidak diperkenankan hanya memilih salah satu perjanjian yang diinginkannya. maka boleh meninggalkannya.. contohnya adalah Agreement on Technical Barriers to Trade hanya ditandatangani oleh 32 negara . Bahkan peserta GATT 1947 meningkat drastis dalam beberapa tahun. Hal ini secara langsung H.peserta boleh memilih perjanjian mana yang cocok untuk kepentingan negaranya. hlm.S.. Maka kemungkinan dapat terjadi "forum shopping" karena masing masing mekanisme itu mengatur hak dan kewajiban yang berbeda.. padahal pada saat itu negara peserta GATT sudah mencapai 118 negara.. Terdapat pula beberapa persetujuan lain yang merupakan bagian yang terintegrasi dengan GATT 147. Kartadjoemana.

Fungsi kedua sebagai badan peninjau kebijakan perdagangannegara negara anggota GATT (Trade Policy Review Mechanism). tuduhan anti subsidi dalam hal ini yaitu pengenaan bea masuk imbalan dan tindakan safeguard berupa pengenaan tarif. Indonesia sebagai anggota WTO juga memiliki kewenangan untuk melakukan tuduhan anti dumping berupa pengenaan biaya masuk anti dumping. badan ini juga bertugas mengamati masalah masalah perdagangan yang akan dicakup oleh WTO. . Masalah Masalah Hukum Perdagangan Internasional. 10 8 Ibid. Ia akan menetapkan badan-badan subsider seperti good council. kuota atau keduanya. (Jakarta: PT Raja Grafiindo Persada . Struktur WTO dikepalai oleh suatu badan yang disebut pertemuan tingkat menteri (Ministrial Meeting). harus menyesuaikan peraturan nasionalnya dengan ketetnuan-ketentuan yang ada dalam persetujuan-persetujuan WTO. Prinsip-Prinsip Dasar WTO 1.9 Selain itu.8 Dewan jenderal ini memiliki dua fungsi lainnya. Huala adolf dan A.1994..) Hal. service council.. TRIPs council. dan lain-lain. Badan ini akan bersidang sediktinya sekali dalam dua tahun. Chandrawulan. cet 1 .10 Indonesia telah meratifikasi persetujuan pembentukan WTO melalui Undang-undang No 7 Tahun 1994 dengan ratifikasi tersebut maka negaraneraga anggota WTO dalam hal ini juga Indonesia. Prinsip Most Favored Nation Prinsip Most favoured nations ini adalah bahwa suatu perdagangan. sebagai suatu badan penyelesaian sengketa (dispute settlement body). Pertama.tercermin dalam struktur organisasi dan sistem pengambilan keputusan. WTO akan berfungsi sebagai alat untuk memastikan suatu pedekatan tunggal terhadap pelaksanaan perjanjian Putaran Uruguay. B. Perjanjian ini juga menetapkan suatu dewan jenderal (general council) yang akan mengawasi atau mengamati pelaksanaan keputusan keputusan yang dikeluarkan oleh pertemuan tingkat menteri (ministrial decisions) secara reguler. 42 9 Ibid.

12 Prinsip national treatment ini biasanya dilakukan dengan mengenakan pajak pada barang impor yang melebihi pajak terhadap barang domestik yang sejenis. menurut prinsip ini semua negara anggota terikat untuk memberikan negaranegara lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor dan ekspor serta menyangkut biaya-biaya lannya. Dengan demikian prinsip most favoured nation ini memberikan kesempatan kepada pihak ketiga untuk menikmati konsensi yang diperjanjikan antara 2 negara. Prinsip ini sifatnya berlaku luas. Prinsip National Treatment Menurut prinsip ini .11 Prinsip MFN ini terdapat dalam pasal 1 GATT yang pada intinya menyatakan bahwa semua negara harus diperlakukan atas dasar yang sama dan semua negara menikmati keuntungan dan suatu kebijaksanaan perdagangan. Para anggota tersebut tidak boleh memberikan kemudahan hanya kepada negara tertentu saja terhadap tindakan yang berkenaan dengan tarif dan perdagangan. yakni tidak boleh membeda bedakan antara satu anggota General Agreement on Tariffs' and Trade!WTO dengan anggota lainnya.harus dijalankan berdasarkan asas nondiskriminasi... hlm. dalam pelaksanaannya prinsip ini mendapat pengecualian pengecualiannya khususnya dalam menyangkut kepentingan negara sedang berkembang. 8 — 11 12 Oliver Long. produk dan suatu negara anggota yang diimpor ke dalam suatu negara harus diperlakukan sama seperti hal nya produk dalam negeri. Prinsip ini berlaku juga terhadap semua macam pajak dan pungutan pungutan launnya. 2. Law and its Limitiations in the GATT Multilateral Trade System.distribusi atau penggunaan produk dipasar dalam negeri.pengangkutan. Namun demikian. pengaturan dan persyaratan persyaratan hukum yang mempengaruhi penjualan.. hlm. Prinsip perlindungan melalui tarif (tariff binding) Tarif yang dimaksudkan di sini adalah suatu pajak yang ditarik oleh 11 Cf. 3. 9 . pembelian.. Law and its Limitiations in the GATT Multilateral Trade System.. Oliver Long. Dengan demikian .. Ia berlaku pula terhadap perundang undangan..

biasanya ditetapkan berdasarkan jumlah tapi kadang-kadang berdasarkan nilai barang tersebut. dan lainnnya. hlm. 78-79 . itupun sedapat mungkin direndahkan tariffnya. Restriksi kuantitatif terhadap ekspor impor dalam bentuk apapun (misalnya penetapan kuota impor atau ekspor. haruslah dengan cara perlindungan tarif.. 3 Munir Fuady. hal. Prinsip Non Tariff Barriers Prinsip non tariff barriers adalah tindakan dri negara negara tertentu anggota WTO yang dengan maksud melindungi industri dalam negerinya. misalnya sistem kuota (restriksi kuantitatif). Hukum Perdagangan Internasional (Aspek Hukum dari WTO)...13 4. sehingga masih dimungkinkan untuk terjadinya kompetisi. yang menyebabkan menjadi semakin tinggi nya harga barang tersebut dipasar domestik. Prinsip larangan restriksi (pembatasan) kuantitatif Kuota atau pembatasan sejumlah barang adalah jumlah fisik tertentu yang boleh diimpor atau diekspor selama jangka waktu yang telah ditentukan. Sekilas WTO ( World Trade Organisastion). melakukan perlindungan perlindungan tertentu yang dilakukan tidak dengan cara yang termasuk kepada tariff measures. Tindakan non tariff barriers ini merupakan tindakan yang dilarang. tax incentive. Jika pun suatu negara ingin memberikan perlindungan untuk produk dalam negeri maupun dengan tujuan apapun.. Dalam hal ini.. dumping. yang menjadi ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi kuantitatif yang merupakan rintangan terbesar terhadap GATT. subsidi ekspor. Model-model perlindungan non tariff sifatnya sangat beragam . restriksi penggunaan lisensi impor atau ekspor. Perlindungan melalui tarif ini menunjukkan dengan jelas tingkat perlindungan yang diberikan dan masih memungkinkan adanya kompetisi yang sehat. Pada prinsipnya GATT/WTO hanya memperkenankan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui tariff (menaikkan tingkat tarif bea masuk) dan tidak melalui upaya upaya perdagangang lainnya (nontariff commercial measures).14 5.pemerintah atas barang barang impor. credit guarantee.. pengawasan pembayaran produk 13 14 Departemen Luar Negeri. custom inspection.

perlindungan.pdf pada tanggal 6 November 2013 pukul 22:13 WIB.16 Pada tahun 1994. 90 16 . C.. hlm.perundingan tarif yang didasarkan atas dasar timbal balik dan saling menguntungkan kedua belah pihak. Hal ini disebabkan karena praktek demikian mengganggu praktek perdagangan yang normal. Perjanjian WTO yang baru memasukkan TBT Agreement yang telah dimodifikasi dan diperkuat.. yang mana TBT Agreement itulah yang kita kenal sekarang ini. TBT Agreement dalam Ketentuan WTO TBT Agreement merupakan salah satu perjanjian WTO yang berhasil disepakati pada saat Tokyo Round tahun 1970-an. Law and its Limitiations in the GATT Multilateral Trade System. yang berarti bahwa suatu negara yang memutuskan untuk menjadi anggota WTO. hubungan yang tidak timbal balik dan sebagainya. “Technical Barriers to Trade in the WTO”. TBT Agreement merupakan salah satu perjanjian yang termasuk ke dalam covered agreements.wto.org/admin/files/Course_243/CourseContents/TBT-R4-E-Print. timbal balik serta persamaan di muka hukum.15 Pengcualian terhadap prinsip ini terlihat dan Pasal XXXVI serta preambule GATT. maka negara yang bersangkutan 15 Oliver Long. pada umumnya dilarang (pasal IX). dengan pembentukan WTO.10 WTO E-Learning. kesempatan khusus (prefential rights) . Dimana untuk negara berkembang diakui prinsip non resiporitas. Prinsip resiprositas Prinsip ini merupakan prinsip fundamental dalam GATT. di akses dari http://etraining. Sejalan dengan tujuan GATT sendiri bahwa demi keadilan Negara berkembang (pihak yang lemah) maka keadilan tidak dicapai dengan kesempatan yang sama. 6.. hlm. Prinsip ini tampak pada prambule GATT dan berlaku dalam perundingan. Akan tetapi khusus untuk negara berkembang diakui bahwa keadilan dicapai melalui kesempatan yang tidak sama .produk impor atau ekspor ).

Dengan kata lain tiga hal pokok yang menjadi pengaturan dalam TBT ini adalah hambatan dalam perdagangan yang terkait dengan peraturan teknis (technical regulation).ac. Adapun yang termasuk dalam TBT yaitu peraturan teknis dan standar yang tidak harmonis. dan persyaratan keamanan dimana penerapannya dilakukan sedemikian rupa sehigga menimbulkan suatu hambatan perdagangan. dan conformity assessment procedure adalah sebagai berikut: 1. prosedur penilaian kesesuaian yang rangkap dan rumit. yang untuk penggunaan umum dan berulang. standar (standard). simbol. penandaan atau pelabelan yang Dma Widyaputri Kariodimedjo.id/index. "Prinsip Transparansi dalam Perjanjian TBT dan SPY' httn://mimbar. standard.php/jmh/article/view/359. penandaan. 2. Regulasi teknis dapat juga meliputi atau berkaitan secara khusus dengan persyaratan terminologi.89 TBT sendiri mempunyai beberapa bentuk. simbol pengepakan. prosedur birokratis yang rumit. termasuk aturan administrasi yang berlaku dimana pemenuhannya bersifat wajib.hukum. menyediakan aturan. dan prosedur penilaian kesesuaian (conformity assessment procedure). Technical barrier to trade (untuk selanjutnya disebut sebagai TBT) atau hambatan teknis dalam perdagangan adalah hambatan-hambatan yang diakibatkan oleh hal-hal teknis seperti kualitas produk.ugm. penandaan atau pelabelan yang diterapkan untuk suatu produk. pengepakan. proses atau metoda produksi. Standar (Standard) adalah dokumen yang dikeluarkan oleh suatu badan resmi. standar. penerapan hukum dan peraturan teknis yang tidak transparan. 17 . Standar dapat juga meliputi atau berkaitan secara khusus dengan persyaratan terminologi.secara otomatis terikat kepada perjanjian -perjanjian yang ada di dalam covered agreements tersebut. Peraturan Teknis (Technical Regulation) adalah dokumen yang mengatur sifat produk atau proses dan metoda produksi terkait. diskses 6 November 2013. pedoman. pengepakan.17 Secara baku berdasarkan Perjanjian TBT. atau sifat untuk suatu produk atau proses dan metoda produksi terkait yang pemenuhannya bersifat tidak wajib (sukarela). pengertian mengenai technical regulation.

Namun demikian. terdapat beberapa produk yang mendapatkan pengecualian dalam penerapan TBT karena telah terikat peraturan lain yakni produk-produk yang berkaitan dengan: 1. 2004). hal. Pada dasarnya Perjanjian TBT diterapkan untuk semua jenis produk. mutual recognition dan transparansi. Beberapa prinsip prinsip yang dikenal dalam TBT Agreement adalah non-diskriminasi. ekuivalensi.diterapkan untuk suatu produk. baik produk industri maupun produk-produk pertanian serta produk-produk yang berkaitan dengan lingkungan/ kelestarian sumberdaya alam. pencegahan hambatan yang tidak perlu. Spesifikasi pembelian yang dilakukan oleh pemerintah atau Pengadaan pemerintah (Government Procurement). ( Oxford & Portland : Hart Publishing. harmonisasisi. 3. Catherine Button . Sanitary dan phitosanitary (SPS measures) 2. standar dan penilaian kesesuaian. Prinsip Non Diskriminasi Prinsip Non Diskriminasi dalam WTO berlaku terhadap peraturan teknis. product imported from territory of any member shall be accorded treatment no less favorable than that accorded to like product of national origin and to like products originating in any other country”. and Uncertainty in the WTO.18 Adapun prinsip-prinsip dan aturan yang berlaku dalam Perjanjian TBT yaitu: 1. a.1 untuk peraturan teknis yang menyatakan bahwa: “Member shall ensure that in respect of technical regulation. Produk yang berkaitan dengan sektor jasa (hal ini karena mengenai jasa telah diatur khusus dalam GATS) 3. Prinsip non diskriminasi ini tercantum dalam Perjanjian TBT pada pasal 2. proses atau metoda produksi. Khusus untuk pengadaan pemerintah terdapat ketentuan Agreement on Government Procurement (GPA) yang bersifat plurilateral. 79-80 18 . The Power to Protect: Trade. Health. Prosedur Penilaian Kesesuaian (Conformity Assessment Procedure) adalah: Prosedur yang dipakai langsung atau tidak langsung untuk menetapkan bahwa persyaratan yang relevan dalam regulasi teknis atau standar telah terpenuhi.

Setiap Negara memiliki badan standarisasi sebagai badan pemerintah yang nantinya akan menerapkan dan mengawasi keberlakuan standarisasi barang. adopted and applied so as to grant access for suppliers of like products originating in the territories of other member under conditions no less favorable than those accorded to suppliers of like products of national origin or originating in any other country. the standardizing body shall accord treatment to products originating in the territory of any other member of the WTO no less favourable than that accorded to like product of national origin and to like products originating in any other country”. Prinsip non diskriminasi juga berlaku terhadap standar . prinsip non diskriminasi diatur dalam Article 5. Sedangkan untuk prosedur penilaian kesesuaian.1. Adoption and Application of Standard) TBT Agreement. yaitu: “Conformity assessment procedures are prepared. produk yang diimpor dari wilayah setiap anggota harus diberikan perlakuan yang tidak kurang menguntungkan / mendapatkan perlakuan yang sama dibanding perlakuan yang diberikan kepada produk nasional serupa dan produk serupa yang berasal dari negara lain b. c. É. Adoption and Application of Standard) TBT Agreement yaitu: “In respect of standard. Hal ini diatur dalam Annex 3 (D) (Code of Good Practice For The Preparation. dengan kondisi yang tidak kurang menguntungkan dibanding . Annex 3 (D) (Code of Good Practice For The Preparation. ” Dalam hal ini disebutkan bahwa prosedur penilaian kesesuaian disusun.1 TBT Agreement.Dalam hal ini disebutkan bahwa anggota harus menjamin berkenaan dengan peraturan teknis. menyebutkan bahwa badan standardisasi harus memberikan perlakuan atas produk yang berasal dari wilayah anggota WTO lainnya tidak kurang menguntungkan /(perlakuan yang sama) dari yang diberikan atas produk nasional serupa dan atas produk serupa yang berasal dari negara lain. ditetapkan dan diterapkan sedemikian rupa untuk memberikan akses kepada pemasok produk yang serupa yang berasal dari wilayah anggota lain.

kebijakan. melakukan publikasi terhadap semua standar. Transparansi dalam hal ini berarti bahwa setiap negara anggota ketika membuat atau menerapkan suatu peraturan teknis. dan peraturan menyangkut perdagangan baik yang akan . melakukan notifikasi. Prinsip transparansi ini juga terdapat dalam GATT. peraturan teknis dan prosedur penilaian kesesuaian. 2. serta membentuk enquiry point.. menyebarluaskan. hal ini diatur dalam Pasal X TBT Agreement yang menyatakan bahwa yang lain hal ini diatur dalam pasal X yang menyatakan bahwa: 19 TBT Agreement. standar dan prosedur penilaian kesesuaian yang dikeluarkan. Transparansi Prinsip lainnya dari TBT Agreement adalah prinsip transparansi." Dalam penerapan perjanjian TBT ini untuk menjamin terlaksana prinsip transparansi setiap negara anggota diwajibkan untuk membuat enquiry point. atau telah diterapkan dan/atau diubah. yang dimaksudkan dengan transparansi adalah kewajiban negara anggota WTO untuk menyampaikan pemberitahuan ke Sekretariat WTO mengenai administrasi penerapan TBT Agreement. perundang undangan. Member shall: publish a notice in a publication at an early appropriate stage ..19 Dalam TBT Agreement. sedang. mengumumkan dan memmpublikasikan setiap tindakan. Transparansi merupakan hal yang penting dalam TBT Agreement.prosedur yang ditujukan.9 . and if the technical regulation may have significant effect on trade of other Member. Prinsip transparansi merupakan kewajiban dan pembuatan kebijakan perdagangan yang ditempuh melalui kegiatan notifikasi yakni kewajiban untuk menyampaikan..9 untuk peraturan teknis yang menyatakan bahwa: "Whenever a relevant international standard does not exist or the technical content of a proposed technical regulation is not in accordance with the technical content of relevant international standard. Article 2. standar maupun penilaian kesesuaian harus diumumkan dan memberikan kesempatan kepada publik untuk memberikan tanggapan terhadap peraturan teknis. Mengenai prinsip transparansi dalam TBT Agreement diatur dalam pasal 2.

Sebenarnya prinsip ini terdapat dalam seluruh perstujuan persetujuan WTO. 20 ..2 : "Members shall ensure that technical regulations are not prepared.bsn. For this purpose."Each Member shall ensure that an enquiry point exists which is able to answer all reasonable enquiries from other Member and interested parties in other Member. In assessing such risks. relevant elements of consideration are. peraturan teknis dan prosedur penilaian kesesuaian untuk kemudian membentuk enquiry point. namun khusus dalam ruang lingkup TBT Agreement ini juga diatur secara tegas bahwa Peraturan teknis. melakukan publikasi terhadap semua standar. standar dan prosedur penilaian kesesuaian haruslah tidak boleh dibuat atau dilaksanakan dengan maksud menciptakan hambatan-hambatan yang tidak perlu dalam perdagangan internasional.id/faci_detail." Dengan demikian dalam penerapan TBT Agreement ini untuk menjamin terlaksana prinsip transparansi secara khusus diatur bahwa setiap negara anggota diwajibkan untuk melakukan notifikasi.. diakses 29 April 2012. the prevention of deceptive practices. or the environment. Such legitimate objectives are. related processing technology or intended end-uses of products. "Salah Satu Prinsip dalam Perjanjian TBT WTO Adalah Transparansi.. taking account of the risks non fulfilment would create. technical regulations shall not be more trade-restrictive than necessary to fulfil a legitimate objective. inter alias available scientific and technical information.go. " Hambatan-hambatan yang tidak perlu dalam peraturan teknis maksudnya yaitu peraturan teknis tersebut tidak boleh menciptakan hambatan lebih dan pada yang diperlukan untuk memenuhi tujuan yang sah. Apa Maksudnya?". http:/www. protection of human health or safety. . dengan mempertimbangkan resiko yang akan timbul seandainya ketentuan Badan Syandarisasi Nasional (BSN). adopted or applied with a view to or with the effect of creating unnecessary obstacles to international trade. Pencegahan terhadap hambatan yang tidak perlu dalam perdagangan intenasional Prinsip berikutnya dalam TBT Agreement adalah pencegahan terhadap hambatan yang tidak perlu dalam perdagangan Internasional. Untuk aturan mengenai pencegahan terhadap hambatan yang ridak perlu ini dapat dilihat dalam TBT Agreement pasal 2.php?facLid=89. animal or plant life or health. inter alias national security requirements.20 3.

elemen terkait yang perlu dipertimbangkan antara lain tersedianya informasi ilmiah dan teknis. perlindungan kesehatan atau keselamatan manusia. Di Indonesia yang bertindak sebagai Notification Body dalam lingkup TBT Agreement adalah Badan Standarisasi Nasional (BSN).2 .21 Dalam rangka untuk menegakkan transparansi. Materi yang diatur dalam rancangan peraturan teknis. Tujuan sah tersebut antara lain persyaratan keamanan nasional. menyimpang atau berbeda dengan standar internasional. standard dan prosedur penilaian kesesuaian yang akan ditetapkan. standar dan prosedur penilaian kesesuaian. Rancangan peraturan teknis. melakukan publikasi.tersebut tidak dipenuhi. dalam TBT Agreement setiap anggota diwajibkan untuk menyampaikan pemberitahan kepada sekretaria WTO mengenai administrasi penerapan TBT Agreement melakukan notifikasi. kehidupan atau kesehatan hewan atau tanaman atau lingkungannya. Notifikasi yang merupakan penyampaian informasi kepada Negara Negara anggota WTO lainnya tentang rencana pemberlakuan regulasi teknis yang berpotensi menimbulkan hambatan perdagangan internasional yang diperlukan apabila: a. Tidak ada standar internasional berkenaan dengan materi yang diatur dalam rancangan peraturan teknis.124 21 TBT Agreement pasal 2. dan enquiery point. pencegahan praktek penyesatan. c. terhadap semua peraturan teknis dan prosedur penilaian kesesuaian. Untuk itu setiap anggota WTO diharuskan untuk menunjuk satu lembaga atau institusi yang berfungsi sebagai notification and enquiry point yang bertugas untuk menotifikasikan setiap rancangan regulasi teknis dan menjawab semua pertanyaan terkait standar. teknologi pemprosesan terkait atau kegunaan akhir tujuan dan produk. b. Dalam mengkaji risiko semacam ini. dan sistem penilaian kesesuaian yang berlaku masing-masing di negaranya. standar dan prosedur penilaian kesuaian yang berpotensi mempengaruhi kepentingan perdagangan Negaranegara anggota WTO lainnya. regulasi teknis.

2). Negara berkembang yang mengajukan permintaan berhak mendapatkan perpanjangan waktu pemberian tanggapan sampai 90 hari. Jadi dalam hal ini DSB mempunya otoritas untuk menentukan Panel Adopts dan Appelete Reports. akan tetapi perlu disertakan alasan utama/legimatice objective pemberlakuan tersebut dan bukti ilmiah untuk mengantisipasi pertanyaan pertanyaan yang akan diterima dari Negara-negara anggota terkait notifikasi tersebut. rancangan peraturan teknis tersebut dapat ditetapkan terlebih dahulu kemudian dinotifikasikan ke Sekretariat WTO. Dalam pemeriksaan perkara . ― Kapan Kita Melakukan Notifikasi ?‖. Dibawah WTO hanya ada satu badan penyelesaian sengketa DSB yang mengatur persengketaan yang timbul dan persetujuan yang terdapat pada final act.22 D. http://www.9. disebutkan bahwa kewajiban negara anggota terkait dengan Regulasi Teknis adalah melakukan notifikasi dilakukan pada saat rancangan regulasi teknis tersebut akan diberlakukan secara wajib oleh regulator (Article 2.php?Faq id=92. mempertahankan pengawasan dalam penerapan peraturan dan rekomendasi dan memberi kuasa dala aturan pembalasan dalam hal hal non implementation of recommendation.bsn. WTO Badan Standarisasi Nasional (BSN). Terhadap notifikasi ini diberikan waktu 60 hari bagi anggota WTO untuk memberikan tanggapan. 22 . Lembaga ini merupakan badan yang berada dibawah Ministerial conference yang menyelanggarakan forum penyelesaian sengketa perdagangan saja yang timbul diantara negara-negara anggota.go. Mekanisme penyelesaian sengketa WTO sangat penting dalam rangka penerapakan dan fungsi WTO secara efektif.id/faq detail.Dalam TBT Agreement. Terkecuali dalam keadaan mendesak / urgent matter. Penyelesaian Sengketa Dagang di WTO Salah satu badan yang terdapat dalam struktur WTO adalah Dispute Settlement Body (DSB) atau badan penyelesaiang sengketa WTO. Sistem penyelesaian persengketaan WTO merupakan elemen pokok dalam menjamin keamanan dan kepastian terhadap perdagangan multilateral. diakses 6 November 2013.

yang disebut dengan understanding on rules and procedures governing the settlement of disputes. yakni yang terdapat dalam suatu agreement yang dibuat dalam Uruguay Round .. Pembentukan panels (Establishment of panels) Jika suatu anggota tidak dapat memberikan jawaban untuk meminta diadakan konsultasi dalam waktu 10 hari atau jika konsultasi gagal untuk diselesaikan dalam waktu 60 hari.. penggugat dapat meminta ke DSB untuk membentuk suatu panel untuk menyelesaikan masalah pembentukan panel. Bila konsultasi gagal dan kedua pihak setuju makamaslah ini dapat diajukan ke Direktur Jenderal WTO yang akan siap menawarkan good offices. Prosedur ini menuntut DSB untuk segera mebentuk panel. Panel harus segera disusun dalam waktu 30 hari pembentukan. hlm. kemudian disebutkan alasan alasan permohonan konsultasi termasuk dasar dasar hukum pengaduan. atau mediasi dalam menyelesaikan sengketa b. Sekretariat WTO akan 23 Syahmin AK.mempunyai seperangkat aturan main . 250 . konsiliasi.. Untuk memastikan kejelasannya. selambatlambatnya pada sidang kedua dari permintaan panel. Dalam hal ini penentuan term of reference dan komposisi panel juga diajukan. setiap permohonan untuk konsultasi harus diberitahukan kepada DSB secara tertulis. "Peranan hukum kontrak internasional pada era pasar bebas". Konsultasi Tujuan dari mekanisme penyelesaian sengketa dagang di WTO adalah untuk menguatkan solusi yang positif terhadap sengketa. Tahap pertama adalah konsultasi antara pihak-pihak yang bersengketa. Hal ini dimaksudkan adalah negara yang digugat tidak boleh menghalangi pembentukan panel. Setiap anggota harus menjawab secara tepat dalam waktu sepuluh hari untuk meminta diadakan konsultasi dan memasuki periode konsultasi selama tiga puluh hari stelah waktu permohonan.. Jika tidak maka diputuskan secara konsensus. Berikut ini adalah tahap tahap dalam penyelesaian sengketa dagang dalam WT0:23 a.

Para panelis akan melayani sesuai dengan kapasitasnya dan tidak berpegang pada instruksi-instruksi dan negara yang bersangkutan. DSB tidak dapat mempertimbangkan laporan panel lebih cepat dan 20 hari setelah laporan tersebut disirkulasikan kepada para anggota. kemudian panel memberikan laporan kepada para pihak yang bersengketa tidak boleh lebih dari 6 bulan. direktur jenderal melakukan konsultasi kepada ketua DSB dan ketua dewan akan menunjuk panelis. Prosedur-prosedur panel (Panels procedures) Pengertian ini menunjukkan bahwa periode dimana panel melaksanakan pengujian masalah. Apabila tidak ada masalah .menyarankan tiga orang panelis yang potensial pada pihak-pihak yang bersengketa. Jika pihak-pihak tersebut tidak setuju terhadap panelis dalam waktu 20 hari dan pembentukan panel. termasuk untuk barang-barang yang mudah rusak. Peninjauan kembali (Appellate review) Suatu gambaran baru dalam mekanisme penyelesaian sengketa WTO memberikan kemungkinan penarikan terhadap salah satu pihak dalam berlangsungnya suatu panel. selanjutnya term of reference dan komposisi panel disetujui. satu pihak dapat memberitahukan keputusannya untuk menarik atau konsensus terhadap pengesahan laporan. Badan ini terdiri dari tujuh orang yang merupakan perwakilan dari keanggotan WTO yang akan melayani dalam kurun waktu 4 tahun. Semua permohonan akan didengar oleh suatu badan peninjau (appellate body) yang dibentuk oleh DSB. d. e. c. waktu pembentukan panel ke sirkulasi laporan kepada anggota tidak boleh lebih dan 9 bulan. waktu dapat dipercepat menjadi 3 bulan. Para anggota yang merasa keberatan atas laporan itu diwajibkan untuk menyatakan alasan-alasan secara tertulis untuk disirkulasikan sebelum diadakan pertemuan DSB dimana laporan panel akan dipertimbangkan. Penerimaan laporan panel ke DSB (Adoption of Panels Reports) Prosedur WTO menunjukkan bahwa laporan panel harus diterima oleh DSB dalam waktu 60 hari. Mereka harus merupakan orang yang ahli di bidang hukum dan perdagangan internasional/ dan tidak . Dalam hal-hal yang penting . Jika tidak .

Prosedur menentukan bahwa DSB menjamin otorisasi ini dalam waktu tiga puluh hari dari batas waktu "Reasonable period of time" . pihak yang bersengketa harus menyatakan niat untuk menghargai implementasi dari rekomendasirekomendasi. Jika tidak konsensus akan diberlakukan terhadap pengesahan ini. Pada pertemuan DSB berlangsung dalam waktu tiga puluh hari dari adopsi Panel. atau membatalkan hasil kesimpulan panel sesuai aturan. DSB selanjutnya . laporan dari appellate body harus diterima oleh DSB dan tanpa syarat diterima oleh pihak-pihak yang bersengketa. Implementasi (Implementation) Kebijaksanaan menekankan bahwa peraturan dari DSB sangat penting agar mencapai resolusi yang efektif dari persengketaan-persengketaan yang bermanfaat untuk semua anggota. mengubah. Bila hal ini tidak mungkin dilakukan oleh arbitrator yang ditunjuk oleh direktor Jenderal WTO. namun pengajuan permohonan tidak lebih dari 60 sampai 90 hari. Tiga puluh hari setelah pengeluaran. Jika Konsensus akan diberlakukan. dan hasil keputusan harus diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan secara final dan tidak diteruskan kepada arbitrase lainnya. hal tersebut diteruskan pada arbitrase. penggugat dapat mohon otorisasi DSB untuk menangguhkan konsesi-konsesi atau obligasi-obligasi terhadap pihak penggugat.terafiliasi dengan negara manapun. Tiga orang anggota dari appellate body mendengarkan permohonan mereka serta dapat membela. Jika anggota yang bersangkutan menolak/berkeberatan terhadap tingkat suspensi. Arbitrase harus selesai dalam waktu enam puluh hari dan batas waktu "reasonable period of time". f. Hal ini akan diselesaikan oleh anggota-anggota panel yang asli. Bila hal itu tidak dilaksanakan. Bila hal itu gagal dalam waktu yang telah ditentukan itu. Jika dalam waktu dua puluh hari tidak ada kompensasi yang memuaskan yang dapat disetujui. maka anggota akan diberikan suatu periode waktu yang beralasan yang ditentukan oleh DSB. diwajibkan untuk mengadakan negoisasi dengan penggugat untuk menentukan kompensasi yang dapat diterima kedua belah pihak yang bersengketa.

. maka diadakan konsesus. Jika tidak.memberi kuasa suspensi dan konsesi-konsesi secara konsisten dan hasil penyelesaian arbitrator.

DSB tidak hanya berpedoman kepada aturan – aturan yang ada di dalam WTO. tetapi juga beberapa sumber hukum yang lain. . hal tersebut berarti DSB dapat dan harus menggunakan prinsip – prinsip tersebut dalam membantu menyelesaikan suatu sengketa. peraturan tersebut dibuat tanpa disertai bukti ilmiah yang menyatakan bahwa rokok menthol lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok kretek. dimana ia menyatakan bahwa. dan menguasakan penangguhan konsesi serta kewajiban-kewajiban lain dalam perjanjian yang terkait. tidak adanya peraturan di dalam DSU yang mengatur bahwa prinsip – prinsip hukum umum internasional tidak dapat digunakan dalam penyelesaian sengketa WTO. Indonesia mengatakan bahwa regulasi yang dibuat oleh Amerika Serikat merupakan tindakan yang bersifat diskriminatif. Dalam menyelesaikan suatu sengketa perdagangan.BAB III PEMBAHASAN Diterbitkannya Tobacco Control Act oleh Amerika Serikat dilakukan dengan dalih untuk melindungi generasi muda Amerika Serikat dari bahaya rokok. Penyelesaian sengketa WTO di atur di dalam Dispute Settlement Understanding (selanjutnya disingkat dengan DSU). karena menurut Amerika Serikat rasa dan aroma rokok yang dilarang tersebut dapat merangsang generasi muda untuk mulai merokok Amerika Serikat menyatakan bahwa setiap negara memiliki hak untuk membuat regulasi demi kesehatan masyarakat. menerima laporan Panel. Hal tersebut dikarenakan. mengawasi implementasi putusan dan rekomendasi. laporan dari Appellete Body yang merupakan lembaga banding dalam penyelesaian sengketa WTO. dengan Dispute Settlement Body (selanjutnya disingkat dengan DSB) sebagai lembaga penyelesaian sengketa WTO. Dalam hal ini. dimana salah satunya adalah prinsip hukum internasional. Amerika Serikat mengatakan bahwa tujuan dari disahkannya Tobacco Control Act adalah untuk mengurangi jumlah perokok di bawah umur. Hal tersebut seperti yang dikemukakan oleh Pauwelyn. Sebagai lembaga penyelesaian sengketa. serta melindungi mereka dari dampak bahaya rokok. DSB memiliki kewenangan untuk membentuk Panel.

sesuai dengan putusan Panel dalam EC – Trademarks and Geographical Indications (Australia). Peninjauan Terhadap Sec. Perjanjian TBT ini adalah salah satu perjanjian WTO yang mengatur mengenai hambatan non-tarif. yang terdapat dalam standar. 907(a)(1)(A) Apakah Telah Melanggar Prinsip Non Diskriminasi (National Treatment) Yang Terdapat Dalam Article 2. Bahwa yang menjadi sengketa antara produk impor dengan produk domestik. dan prosedur penilaian kesesuaiaian seperti kualitas produk. yaitu: 1. Pasal 2. merupakan produk yang ―sejenis‖ 3. regulasi teknis. danPelaksanaan dan penyelenggaraan rekomendasi dan ketentuan yang disahkan oleh DSB. danBatas waktu yang sangat ketat bagi setiap langkah di proses persidangan.Sidang panel. Kebijakan tersebut merupakan suatu regulasi teknis 2.Proses penyelesaian sengketa WTO terdiri dari empat langkah utama:Konsultasi wajib antara pihak yang bersengketa untuk mencapai penyelesaian yang disetujui oleh para pihak. pengepakan. Panel memutuskan bahwa ada 3 (tiga) elemen yang terdapat dalam Pasal tersebut.1 TBT Agreement. Karakteristik acara penyelesaian sengketa WTO adalah: Bersifat rahasia (rapat panel dan sidang Appellate Body hampir selalu tertutup untuk umum). agar keberlakuannya tidak menjadi hambatan dalam perdagangan internasional. khususnya hambatan teknis.Tinjauan banding. Agreement on Technical Barriers To Trade atau yang disebut dengan Perjanjian TBT adalah salah satu perjanjian yang berada dibawah naungan World Trade Organization. A. Bahwa produk impor diperlakukan kurang menguntungkan dibandingkan dengan produk domestik yang ―sejenis‖ . Inti dari perjanjian ini adalah mengatur sedemikian rupa mengenai penerapan hal-hal teknis terhadap suatu produk.1 Perjanjian TBT.1 TBT Agreement mengatur bahwa suatu regulasi teknis yang di buat oleh suatu negara tidak boleh memperlakukan produk domestik negara tersebut lebih menguntungkan dibandingkan dengan produk impor sejenis. dan persyaratan keamanan. yang harus terpenuhi. Untuk menentukan apakah telah terjadi suatu pelanggaran terhadap Pasal 2.

produk yang diimpor dari wilayah setiap anggota harus diberikan perlakuan yang tidak kurang menguntungkan / mendapatkan perlakuan yang sama dibanding perlakuan yang diberikan kepada produk nasional serupa (National Treatment) dan produk serupa yang berasal dari negara lain (Most-Favoured Nation). Prinsip non diskriminasi ini sendiri dapat dibagi kedalam Prinsip National Treatment dan Prinsip Most Favoured Nation. Article 2. Karena jika ternyata produk domestic dan produk impor ini bukanlah like products seperti yang dimaksud dalam Article 2. Indonesia menyatakan Rokok beraroma/characterized flavor ciggarates. yakni prinsip Non Diskriminasi.1 Perjanjian TBT ini tidak dapat diterapkan. Negara anggota harus menjamin berkenaan dengan peraturan teknis. seperti yang disebutkan Article 2. apakah kedua produk ini merupakan ―like product‖ / produk serupa seperti yang disyaratkan secara explicit pada Article 2. harus dibuktikan terlebih dahulu. 907 (a)(1)(A) merupakan produk domestic. khususnya rokok kretek (clove ciggarate) diimpor dari Indonesia sehingga rokok kretek adalah produk impor. Namun dalam hal ini Indonesia hanya berpendapat bahwa Sec. 907 (a)(1)(A) sebagai sebuah regulasi teknis telah melanggar prinsip National Treatment ini. 907(a)(1)(A) yang melarang peredaran rokok beraroma di Amerika Serikat namun mengecualikan produk rokok mentol dan tembakau biasa. Dalam hal ini menurut pendapat penulis dalam meninjau gugatan Indonesia ini.1 Perjanjian TBT. sebaliknya. Article 2. Indonesia berpendapat bahwa tindakan non diskriminasi tersebut terlihat dari bunyi Sec.1 Perjanjian TBT ini merupakan penerapan dan Prinsip dasar WTO. maka ketentuan mengenai prinsip national treatment atau perlakuan yang sama terhadap kedua produk.1 Perjanjian TBT mensyaratkan dalam hal perdagangan internasional.1 Perjanjian TBT. merupakan hal yang problematik. . Jadi dalam hal ini Indonesia berpendapat bahwa Amerika Serikat telah melakukan praktek diskriminasi antara produk rokok Impor (khususnya Indonesia) dengan produk rokok Domestik Amerika Serikat. 907(a)(1)(A) karena bertentangan Article 2.Indonesia juga menggugat Sec.1 Perjanjian TBT. Konsep 'barang sejenis'. Sedangkan menthol dan regular tobacco yang dikecualikan dalam Sec.

nature and quality of the products. 54 — . para. Panel report (WT/DS2/R). Konsep 'barang sejenis' tidak hanya dipergunakan dalam Pasal I:1 GATT 1994. Nature. GATT 1991 tidak menyediakan definisi dari istilah ini. Japan-Taxes on Alcoholic Beverages (DS8. and Quality of the product) Dari bukti yang diberikan oleh kedua pihak. (c) consumers' tastes and habits – more comprehensively termed consumers' perceptions and behaviour – in respect of the products. ”25 Selanjutnya pembahasan mengenai apakah produk rokok kretek (Indonesia) dan produk rokok menthol (Amerika Serikat) ini memenuhi keempat criteria diatas agar dapat digolongkan sebagai ‗like products’. Karakteristik. rokok kretek juga berada pada kelas A dalam U. (b) the end-uses of the products.S. dan Kualitas produk (The Properties. 220 and (d) the tariff classification of the products. Pertama diketahui rokok kretek terdiri dari tembakau yang ditambah dengan bahan-bahan tambahan perasa/aroma. 'X' ataupun istilah 'barang sejenis' adalah kunci dalam penerapan aturan-aturan non-diskriminasi dalam GATT 1994. 1.Pelanggaran kewajiban perlakuan MFN dapat terjadi hanya ketika barang-barang yang menjadi sengketa adalah merupakan 'barang sejenis'. WT/DS1 1/AB/R).8 26 WTO DSB. yang didiskusikan pada bagian 2. United States – Standards for remulated and Conventional Gasoline (DS2). Persamaan Sifat. yang kemudian dijual dengan bentuk gulungan kertas dengan filter. para 19 25 WTO DSB. Empat criteria Criteria umum untuk menginterpretasikan sifat likeness ini adalah: 24 ―(a)The properties. Selama bertahun-tahun.DS1 1). Appellate Body Report (WT/DS8/AB/R.DS10. para 6.4. Tax Purposes dan rokok kretek juga memnuhi unsure unsure definisi rokok 24 DSB. tapi tidak menghasilkan definisi yang jelas. tetapi juga dalam Pasal III:2 dan III:4 GATT 1994.26 Sama halnya dengan rokok mentol. maka ada beberapa hal yang akan diperbandingkan dalam menganalisa karakteristik dari kedua produk ini. United States – Measures Affecting The Production and Sale of Clove Ciggarate DS406. Indonesia first written submission. Case Law pada masa GATT dan WTO mengenai 'barang sejenis' telah mengklarifikasi konsep ini sedemikian rupa. WT/DS10/AB/R.

permen. Jadi dalam hal ini penulis berpendapat bahwa baik rokok mentol maupun rokok kretek memiliki karakteristik produk yang sama.27 Kenyataannya bahwa kedua produk ini. WTO DSB. Karena pada intinya kedua rokok ini mengandung bahan tambahan yang membuat rokok tersebut memiliki rasa/aroma khusus (characterized flavoured). Adanya perbedaan bahwa rokok mentol mengandung bahan tambahannya tidak sebanyak rokok kretek. Hal ini diperkuat dengan WHO Study yang berjudul ―The Scientific Basic of Tobacco Product Regulation‖ yang menegaskan bahwa kandungan bahan tambahan pada rokok kretek dan mentol ditujukan untuk menimbulkan anggapan bahwa kedua jenis rokok ini tidak seberbahaya rokok pada umumnya. Indonesia first written submission. dan minuman. 55 — 27 . kedua produk rokok ini juga sama sama mengandung bahan tambahan (minyak cengkeh dan minyak mentol). Amerika Serikat berpendapat bahwa cengkeh yang dikeringkan memiliki rasa manis pedas atau aroma yang biasa digunakan untuk membuat roti. tidak berarti apa apa.menurut pemerintah Amerika serikat. Bahan bahan tambahan inilah yang kemudian membuat adanya rasa/aroma khas (characterized flavoured) dan menimbulkan rasa additives terhadap penggunanya. termasuk menyamarkan rasa tidak enak pada rokok. selain dari bahan pokoknya (tembakau). sehingga rokok kretek ini sering menjadi rokok pemula.para.231 Sehingga ‗candy-flavoured‘ ini yang digunakan untuk menyamarkan rasa tidak enak pada rokok. Amerika Serikat berpendapat bahwa kandungan bahan tambahan mentol dan cengkeh ini berbeda satu sama lain. United States – Measures Affecting The Production and Sale of Clove Ciggarate DS406. Adanya tambahan rasa/aroma tertentu (termasuk mentol dan cengkeh) pada characterized flavoured ciggarates adalah untuk membuat rasa/aroma rokok tersebut menarik dan meruoakan zat additives bagi penggunanya. Kedua . Hal ini karena kedua bahan tambahan ini (mentol dan cengkeh) menyamarkan rasa yang tidak enak pada rokok.

The Tariff Classification of the Products Didalam Chapter 24 Harmonised System Tariff Classification . memiliki fungsi/end-uses yang sama (to be smoked). Kegunaan Akhir/fungsi dari Produk (The end-uses of the products) Indonesia menyatakan bahwa kegunaan akhir/end-use daripada rokok kretek adalah sama dengan rokok mentol ataupun rokok. yang . Untuk mencari tahu apakah kedua produk ini dapat menjadi substitusi antara satu dan lainnya. Sedangkan Amerika Serikat berpendapat bahwa kegunaan akhir rokok tidak hanya untuk smoke tobacco. 3. yakni memiliki kemiripan. Oleh karena itu. Sejauh mana produk yang satu dapat menggantikan produk yang lainnya. tapi juga (i) untuk memuaskan rasa ketagihan/addiction akibat nicotine (ii) untuk mendapat kesenangan melalui rasa atau aroma rokok tersebut. Rasa / aroma khas ini kemudian menyamarkan rasa tidak enak pada rokok dan menyebabkan addiction bagi para perokok usia muda tersebut. Consumers' tastes and habits in respect of the products.rokok tembakau lainnya. Jadi kegunaan akhir produk rokok kretek ini sama dengan produk produk rokok lainnya. sehingga menimbulkan aroma/rasa khas tertentu (characterized flavour). Criteria Consumers' taste and habits ini meninjau sifat substitusi dan competitive dan kedua produk ini. Rokok kretek dan rokok mentol sama-sama menarik dan disukai oleh perokok usia muda karena kehadiran kandungan bahan tambahan (mentol dan cengkeh) yang terdapat dalam kedua rokok ini. penulis berpendapat bahwa baik rokok kretek maupun rokok mentol.dan mengandung rasa/aroma menarik bagi perokok usia muda 4. yakni digunakan untuk menghisap/merokok aroma tembakau yang dibakar.2. maka dapat dilihat apakah produk produk ini memiliki pasar atau kelompok konsumen yang sama. yakni “they are used to smoke tobacco . Atas persamaan ini maka kedua produk ini dapat menjadi produk substitusi bagi perokok usia muda. akhirnya penulis berpendapat bahwa kedua produk ini memiliki persamaan terkait criteria ‗consumer preference‘.

maka jelaslah baik rokok kretek maupun rokok mentol berada dalam klasifikasi tariff yang sama dengan nomor 240220. sesuai dengan bunyi pasal Article 2. dan rokok tembakau regular berada dalam klasifikasi tariff yang sama (6 digit). diatas maka jelaslah dalam hal ini penulis berpendapat sama dengan rekomendasi panel. rokok kretek. Dan untuk itu penulis berpendapat bahwa Sec. Dengan demikian tindakan Amerika Serikat yang melarang peredaran rokok kretek.12 Perjanjian TBT. B.1 Perjanjian TBT. Peninjauan Apakah Amerika Serikat Telah Melanggar Article 2. merupakan tindakan `less favourable treatment'. .berjudul "Tobacco and Manufactured Tobacco Substitutes" . Indonesia menilai bahwa waktu 3 bulan yang diberikan Amerika Serikat sampai FSPTCA berlaku secara efektif ini bukanlah 'reasonable interval' seperti yang disyaratkan pada Article 2. sementara itu mengecualikan rokok mentol dari larangan perederan ini. FSPTCA mulai ditandatangani pada 22 Juni 2009. Dalam hal ini Indonesia berpendapat bahwa Amerika Serikat tidak menerapkan "reasonable interval' dalam pemberlakuan Sec 907(a)(1)(A) .1 Perjanjian TBT. 907 yang melarang perederan rokok beraroma khususnya rokok kretek. tapi mengecualikan rokok mentol ini.12 Perjanjian TBT Karena Tidak Memberikan Reasonable Interval Dalam Memberlakukan Sec 907(a)(1)(A) Article 2.12 Perjanjian TBT mensyaratkan bahwa Negara anggota harus memberikan waktu yang wajar (reasonable interval) antara waktu publikasi sebuah regulasi teknis sampai dengan waktu mulai berlaku secara efektifnya regulasi teknis tersebut. Dalam hal ini. dan mulai diberlakukan secara efektif 3 bulan setelah penandatangan FSPTCA. bahwa rokok kretek dan rokok mentol memenuhi keempat criteria 'likeness'. Pembahasan. dengan nama 240220 ciggarates (containing tobacco). bertentangan dan telah melanggar kewajiban National Treatment Negara anggota WTO yang terdapat dalam Article 2. baik rokok mentol. Waktu yang wajar tersebut diperuntukkan agar Negara pengekspor yang terkena dampak pemberlakuan regulasi teknis tersebut dapat menyesuaikan produk mereka dengan apa yang disyaratkan dalam regulasi teknis. Sehingga kedua produk ini merupakan 'like products'.

Qatar pada tanggal 914 November 2001. Hal ini karena keputusan Komite TBT tidak bersifat mandatory/wajib bagi Negara anggota. menurut pendapat penulis. Indonesia menyebutkan 6 bulan sebagai `reasonable interval' ini diperuntukkan agar Negara Negara berkembang seperti Indonesia mepunyai waktu beradaptasi dan menyesuaikan produknya sesuai dengan regulasi teknis tersebut. Amerika Serikat berpendapat bahwa hasil interpretasi The Doha Ministerial Decision ini hanya 'supplementary means of interpretation' seperti yang diatur dalam Article 32 VCLT. The Doha Ministerial Decision ini merupakan hasil keputusan dan deklarasi dan 4th Ministerial Conference WTO. unsur yang harus diperiksa adalah bagaimanakah kekuatan mengikat (legal binding) interpretasi reasonable interval yang terdapat dalam Paragraf 3. Dalam paragraph 5. untuk menginterpretasikan reasonable interval ini. bahwa argumentasi Indonesia yang mendasarkan reasonable interval pada interpretasi The Doha Ministerial Decision ini tidak dapat diterima.negara anggota WTO tersebut. Lebih jauh Amerika Serikat juga berpendapat bahwa baik 6 bulan atau 3 bulan .Indonesia menggunakan The Doha Ministerial Decision on Implementation. Karena menurut amerika serikat . Oleh karena itu Amerika Serikat berpendapat bahwa interpretasi The Doha Ministerial Decission yang mensyaratkan reasonable interval untuk tidak kurang dari 6 bulan. Hal ini karena The Doha Ministerial Decision bukan interpretasi seperti yang diartikan pada Article IX:2 WTO Marrakesh Agreement. bahkan 16 bulan setelah diberlakukan mereka sesuai dengan FSPTCA. tidak mengikat Negara negara anggota.related issues and concerns yang kemudian diadopsi oleh Komite TBT. Sebagai badan tertinggi WTO. waktu ini tidak berpengaruh banyak.2 The Doha Ministerial Desicion terhadap negara . Namun Amerika Serikat dalam pembelaanya menyebutkan. yang diadakan di Doha . bahwa standard dari reasonable interval yang terdapat dalam Article 2.12 Perjanjian TBT adalah tidak kurang dari 6 bulan. Oleh karena itu. Ministerial Conference merupakan WTO's highest level decision-making body.2 The Doha Minesterial Decision ini menginterpretasikan. yang dapat mengambil .

Salah satunya adalah pembahasan terkait interpretasi reasonable interval yang terdapat dalam Article 2. dalam hal menjalankan otoritas yang ia miliki berdasarkan Article XI: WTO Agreement. Tetapi kemudian Amerika Serikat menyebutkan bahwa The Doha Ministerial Decision ini tidak mengikat negara — negara anggota WTO. Dalam paragraph 5. yakni dalam keadaan normal.kurangnya sekali dalam dua tahun. The Ministerial Conference. Selain itu pada first preambule recital The Doha Ministerial Conference juga menyebutkan "having regard to" inter alia. dimuat mengenai interpretasi terhadap reasonable interval dalam Article 2. dan harus diadakan sekurang . menunjukkan bahwa Negara anggota tidak diwajibkan untuk .12 Perjanjian TBT." Hal ini menunjukkan bahwa di adopsinya The Doha Minesterial Conference ini merupakan tindakan Minesterial Conference WTO.2 ini.perjanjian WTO. tidak kurang dari 6 bulan. The Doha Minesterial Decision ini diadopsi oleh Ministerial Conference melalui cara consensus. Amerika Serikat berpendapat bahwa hasil interpretasi The Doha Ministerial Decision ini hanya 'supplementary means of interpretation' seperti yang diatur dalam Article 32 VCLT. membahas mengenai interpretasi dan penerapan terhadap beberapa permasalahan dalam perjanjian-perjanjian WTO. Article XI WTO Agreement. kecuali jika dengan jangka waktu 6 bulan ini menjadi tidak efektif untuk mencapai tujuan yang diinginkan.keputusan terhadap semua permasalahan terkait perjanjian — perjanjian WTO. sebagai badan tertinggi WTO memiliki otoritas untuk mengadopsi interpretasi perjanjian . Dengan demikian argumentasi Amerika Serikat tidak dapat diterima. Amerika Serikat menyebutkan bahwa The Doha Ministerial.2 Perjanjian TBT. Hal ini karena The Doha Ministerial Decision bukan interpretasi seperti yang diartikan pada Article IX:2 WTO Marrakesh Agreement. Selain itu panel juga berpendapat penggunaan `shall be ' dalam paragraph 5. dan bukan 'should' atau `may'.menunjukkan bahwa ketentuan ini bersifat wajib dan mengikat 311 Mengenai pembelaan Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa adanya kutipan kata "normally" be not less than six months.2 The Doha Ministrial Decision ini. Agenda Doha Ministerial Conference ini.

907(a)(1)(A). dimungkinkan untuk kurang dan 6 bulan. Dari pembahasan diatas. Sedangkan pada urgent circumstances.2 ini diberikan dua kondisi. Penulis beranggapan bahwa Amerika Serikat mengartikan kata "normally" ini secara sepenggal penggal.mengikuti periode 6 bulan ini.12 Perjanjian TBT. diikuti dengan kata "normally" dan "except when this would be ineffective in fulfilling the legitimate objectives pursue". penulis menyimpulkan bahwa Amerika Serikat telah melanggar Article 2. maka sejalan dengan pendapat panel.2 ini. Jadi dalam pasal 5. . dimana pada kondisi normal . reasonable interval tidak kurang dari 6 bulan. dan dimungkinkan untuk kurang dan 6 bulan. karena jika kita melihat bunyi kesuluruhan paragraph 5. Oleh karena itu pembelaan Amerika Serikat tidak dapat diterima. adalah tidak benar. karena tidak memberikan reasonable interval dalam memberlakukan Sec.

Amerika Serikat mengartikan kata "normally" ini secara sepenggal penggal. karena tidak memberikan reasonable interval/jangka waktu yang wajar. 907(a)(1)(A) FSPTCA. B. Sedangkan pada urgent circumstances. Salah satu sengketa perdagangan internasional yang pernah ada menyangkut perjanjian TBT ini adalah sengketa larangan peredaran rokok kretek Indonesia di Amerika Serikat akibat pemberlakuan Sec.907 (a)(1)(A) FSPTCA hingga berlakunys secara efektif regulasi teknis ini.12 Perjanjian TBT. diikuti dengan kata "normally" dan "except when this would be ineffective in fulfilling the legitimate objectives pursue". reasonable interval tidak kurang dari 6 bulan. antara waktu publikasi Sec. dimana pada kondisi normal .2 ini diberikan dua kondisi. Oleh karena itu pembelaan Amerika Serikat tidak dapat diterima. Maka jelaslah bahwa Amerika Serikat telah melanggar Article 2.1 Perjanjian TBT. Kesimpulan 1. agar membuat adendum yang berisikan interpretasi terhadap istilah-istilah yang membutuhkan penafsiran lebih jauh seperti like products.BAB IV PENUTUP A.2 ini. Saran Penulis menyarankan kepada WTO. maka Amerika Serikat telah memberikan perlakuan yang berbeda (diskriminasi) antara Produk Impor yakni Rokok Kretek (Imported Clove Ciggarates) dan Produk Domestik yakni Rokok Mentol (Domestic Menthol Ciggarates) 2. khususnya Dispute Settlement Body WTO. Hal ini berguna agar seluruh Negara Anggota yang terikat dengan perjanjian ini dapat mengerti secara baik maksud istilah-istilah yang terdapat dalam . karena dengan melarang peredaran rokok kretek dan mengecualikan rokok mentol dan larangan ini. reasonable interval ataupun membuat pedoman bagi Panel atau Appellate Body dalam melakukan penafsiran ini. Bahwa Amerika Serikat telah melanggar Prinsip Non-Diskriminasi khususnya Prinsip National Treatment yang terdapat dalam Article 2. dimungkinkan untuk kurang dan 6 bulan. Jadi dalam pasal 5. karena jika kita melihat bunyi kesuluruhan paragraph 5.