Anda di halaman 1dari 1

Kekerasan sepertinya kian akrab dengan kalangan muda.

Otot dengan mudah dipakai ketimbang otak atau nurani. Pelakunya pun sudah tidak bisa lagi dibedakan, mana yang berpendidikan dan mana yang bukan. Tengok saja isi-isi berita di koran dan televisi, tidak pernah sepi dari tawuran pemuda: mahasiswa, pelajar, pemuda kota/desa. mbil !ontoh dalam dua bulan terakhir ini saja, tawuran antarmahasiswa terjadi di beberapa tempat terpisah, dengan berbagai alasan yang melatarinya namun ber!irikan sama: rendahnya kontrol diri. "iri yang sama itu tampaknya juga ada pada masalah lain: narkoba. #erita di koran dan televisi pun lagi-lagi masih mengin$ormasikan keterlibatan kalangan muda, bahkan sering kali dari kalangan berpendidikan tinggi. kibatnya, mun!ul penilaian bahwa di mana ada kampus, di sana akan ada peredaran narkoba. %eski penilaian ini tidak sepenuhnya berlaku di setiap kampus di tanah air, penilaian ini !ukup mengindikasikan luasnya peredaran narkoba. Karena mahasiswa/pelajar jumlahnya banyak, mereka pun menjadi segmen pasar yang basah. &alam !atatan #adan 'arkotika 'asional saja, tidak kurang ada (,) juta penduduk kita adalah pengguna narkoba. &ari angka ini bisa dikira-kira berapa di antaranya adalah kalangan muda. palagi pemakai narkoba dari kalangan muda tidak hanya mereka yang masih menempuh pendidikan, tapi juga mereka yang sering dikenal sebagai pro$esional muda. Tidak heran jika kepolisian kita menemukan *++ kilogram sabu-sabu dalam satu kasus, atau pabrik pemroduksi ekstasi terbesar ketiga di dunia. Temuan ini akan menjadi ilusi saja, andai pemakai di dalam negeri hanya sedikit sekali. #erhubungan langsung atau tidak, baik tawuran maupun pemakaian narkoba ternyata berlangsung simultan dengan terpaan budaya hidup glamor pada kalangan muda. Tidak sekedar tempat hiburan yang peri,inannya makin dipermudah pemerintah, tetapi juga lewat industri media massa, khususnya televisi. Kontes-kontes idola kian marak, semarak perkembangan model dan gaya hidup kontemporer yang terus berubah !epat. Pada sisi ini, selera atau gaya hidup kaum muda ini identik dengan selera atau gaya yang datang dari luar -ba!a: #arat., di antaranya lewat televisi. /lobalisasi yang termuat dalam siaran televisi ternyata sekaligus memuat homogenisasi budaya. %aka, !ara berbusana, model rambut, hingga par$um sebagian -besar0. kalangan muda kita tidak akan jauh berbeda dari kiblatnya di #arat. &ikatakan dalam sebuah ungkapan bijak, masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas kaum mudanya pada hari ini. 1alu, apa yang bisa mereka perbuat bagi bangsa jika mereka lebih menyukai dirinya sebagai !lubber atau $etisis telepon genggam, mobil, dan busana terbaru0 Karena keadaannya seperti itu, bisa dimengerti jika ada sebagian pihak yang pesimis, atau bahkan skeptis, dengan peran pemuda dalam kurang dari dua dasawarsa ke depan: )2)2. &alam imajinasi mereka yang pesimis ini 3ndonesia )2)2 adalah tetap negeri yang korup, boros, kondusi$ dengan kekerasan, miskin keterampilan mengelola kekayaan alam, tidak menghargai pendidikan4 atau kalaupun tidak, semua keadaannya malah lebih parah lagi. %eski demikian, menyatakan keadaan hari sebagai keadaan yang akan persis sama untuk masa depan bukan berarti keadaan hari adalah keadaan yang tidak bisa diubah sama sekali. %ende$iniskan 3ndonesia hari ini sebagai sesuatu yang $inal dan akan persis sama untuk masa depan, menurut 5ep 6ae$ulloh 7atah adalah sebuah anggapan keliru. 8%enerima anggapan ini sebetulnya sama artinya dengan menerima 93ndonesia9 sebagai hasil bentukan masa lampau yang kelam8 -8Kesabaran :evolusioner: %erebut %asa &epan Politik 3ndonesia8, %edia 3ndonesia, )2/;)/)22).. Karena itu, letak terpenting dari kesamaan masa depan dan hari ini adalah kemauan untuk mengatasi masalah hari ini. 6eperti dikatakan &aniel #ell, yang dikutip 5ep, masa depan sebetulnya telah hadir di masa kini4 masa depan adalah konsekuensi dari !ara kita mengelola masa kini. %aka, tidak sulit untuk menebak wajah 3ndonesia di masa depan, jika kaum mudanya memilih tawuran, narkoba, dan glamorisme, daripada bergulat dengan masalah bangsa. <ntuk itulah, yang harus dilakukan sekarang adalah, bagaimana segenap komponen bangsa=terlebih lagi kaum muda=bersama-sama menghadapi berbagai masalah bangsa.