Anda di halaman 1dari 6

3.

Bagaimana pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dapat memanajemen nutrisi dan melakukan skrining perkembangan dengan Kuesioner PraSkrining Perkembangan (KPSP) dapat mendeteksi keterlambatan perkembangan?

I.

MTBS telah diadaptasi pada tahun 1997 atas kerjasama antara Kementerian Kesehatan RI, WHO, Unicef dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia). Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan terpadu dalam tata laksana balita sakit. MTBS bukan merupakan program kesehatan, tetapi suatu standar pelayanan dan tata laksana balita sakit secara terpadu di fasilitas kesehatan tingkat dasar. WHO memperkenalkan konsep pendekatan MTBS dimana merupakan strategi upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan bayi dan anak balita di negara-negara berkembang. Ada 3 komponen dalam penerapan strategi MTBS yaitu: 1. Komponen I : meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (dokter, perawat, bidan, petugas kesehatan) 2. Komponen II : memperbaiki sistem kesehatan agar penanganan penyakit pada balita lebih efektif 3. Komponen III : Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang dikenal sebagai “Manajemen Terpadu Balita Sakit berbasis masyarakat”). Untuk keberhasilan penerapan MTBS, proporsi penekanan pada ketiga komponen harus sama besar. Tujuan MTBS : - Menurunkan secara bermakna angka kematian dan kesakitan yang terkait penyakit tersering pada balita. - Memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan kesehatan anak. Menurut data Riskesdas tahun 2007, penyebab kematian perinatal 0 – 7 hari terbanyak adalah gangguan/kelainan pernapasan (35,9 %), prematuritas (32,4 %), sepsis (12,0 %).Kematian neonatal 7 – 29 hari disebabkan oleh sepsis (20,5 %), malformasi kongenital (18,1 %) dan pneumonia (15,4 %). Kematian bayi terbanyak karena diare (42 %) dan pneumonia (24 %), penyebab kematian balita disebabkan diare (25,2 %), pneumonia (15,5 %) dan DBD (6,8 %).

Penyakit-penyakit terbanyak pada balita yang dapat di tata laksana dengan MTBS adalah penyakit yang menjadi penyebab utama kematian antara lain pneumonia, diare, malaria, campak, dan kondisi

Namun. yaitu suatu aplikasi inovatifsoftware berbasis komputer untuk MTBS yang mempunyai 2 tujuan: a). Sudah banyak fasilitator dilatih MTBS dan para fasilitator ini sudah melatih banyak tenaga kesehatan. bimbingan teknis dan lain-lain. Mengingat MTBS telah diterapkan di Indonesia sejak 1997 dan banyak pihak yang telah berkontribusi dalam pelatihan MTBS. menunjukkan bahwa kematian neonatal mendominasi penyebab kematian bayi dan balita. MTBS mengkombinasikan perbaikan tata laksana kasus pada balita sakit (kuratif) dengan aspek gizi. penjaminan ketersediaan formulir MTBS. Dari kedua survey di atas. Langkah pendekatan pada MTBS adalah dengan menggunakan algoritma sederhana yang digunakan oleh perawat dan bidan untuk mengatasi masalah kesakitan pada Balita. diare. campak malaria. kurang gizi. Puskesmas dikatakan sudah menerapkan MTBS apabila memenuhi kriteria melaksanakan/melakukan pendekatan MTBS minimal 60% dari jumlah kunjungan balita sakit di puskesmas tersebut. Polindes. Bank Dunia. ketersediaan obat dan alat. 1993. dll). maka diperlukan langkahlangkah secara sistematis dan menyeluruh. imunisasi dan konseling ( promotif dan preventif) Agar penerapan MTBS dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut. sehingga diperlukan suatu metode lain untuk meningkatkan ketrampilan bidan dan perawat serta dokter akan MTBS melalui komputerisasi atau yang lebih dikenal dengan ICATT (IMCI Computerize Adaptation Training Tools). meliputi pengembangan sistem pelatihan. pelatihan berjenjang. . pemantauan pasca pelatihan. melaporkan bahwa MTBS merupakan intervensi yang cost effectiveuntuk mengatasi masalah kematian balita yang disebabkan oleh Infeksi Pernapasan Akut (ISPA). Pendekatan MTBS di Indonesia pada awalnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu. Poskesdes. hal tersebut seringkali dihadapkan pada keterbatasan alokasi dana. baik di tingkat desa dan puskesmas. bimbingan teknis bagi perawat dan bidan. Untuk pelatihan MTBS melalui komputer. kelengkapan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan MTB termasuk kecukupan obat-obatan. tentunya banyak tenaga kesehatan yang telah dilatih MTBS dan banyak insitusi yang terlibat di dalamnya.yang diperberat oleh masalah gizi (malnutrisi dan anemia). Keberhasilan penerapan MTBS tidak terlepas dari adanya monitoring pasca pelatihan. Untuk adaptasi pedomanMTBS b).

Pertanyaan dijawab berurutan satu persatu. 2011) II. . 12. 9. 18. Cara menggunakan KPSP : Link KPSP usia 3. 6. 60. Setiap pertanyaan hanya mempunyai satu jawaban YA atau TIDAK. yaitu : o Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak. 72 bulan : Bila anak berusia diantaranya maka KPSP yang digunakan adalah yang lebih kecil dari usia anak.  Tentukan umur anak dengan menjadikannya dalam bulan. 48.(Sumber : Direktorat Bina Kesehatan Anak. Contoh : “dapatkah bayi makan kue sendiri?” o Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP. Bila anak ini kemudian sudah berumur 9 bulan yang diberikan adalah KPSP 9 bulan. KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan. 54. 15. 21. tariklah bayi pada pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi duduk” Baca dulu dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang ada. 24. Bila umur anak lebih dari 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan Contoh : bayi umur 3 bulan 16 hari dibulatkan menjadi 4 bulan bila umur bayi 3 bulan 15 hari dibulatkan menjadi 3 bulan. 42. 66.      Setelah menentukan umur anak pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak. 30. Contoh : “pada posisi bayi anda terlentang. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) Formulir KPSP adalah alat/instrumen yang digunakan untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. 36. Contoh : bayi umur umur 7 bulan maka yang digunakan adalah KPSP 6 bulan. Bila tidak jelas atau ragu-ragu tanyakan lebih lanjut agar mengerti sebelum melaksanakan.

Konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau ke rumah sakit dengan fasilitas klinik tumbuh kembang.   Lakukan skrining rutin. kemungkinan ada penyimpangan (P). Bila setelah 2 minggu intensif stimulasi. Tanyakan adakah penyakit pada anak tersebut yang menghambat perkembangannya. dan ia hanya bisa 7-8 YA. Pada saat menilai KPSP kembali gunakan dulu KPSP 6 bulan. Untuk Anak dengan Perkembangan SESUAI (S)     Orangtua/pengasuh anak sudah mengasuh anak dengan baik. karena anak sudah berusia 9 bulan. Ikutkan anak setiap ada kegiatan Posyandu. Bila anak sakit lakukan pemeriksaan kesehatan pada dokter/dokter anak. mintalah jenis stimulasi apa yang diberikan lebih sering . Untuk Anak dengan Perkembangan MERAGUKAN (M)      Konsultasikan nomer jawaban tidak. Interpretasi Hasil KPSP       Hitung jawaban Ya (bila dijawab bisa atau sering atau kadang-kadang) Hitung jawabab Tidak (bila jawaban belum pernah atau tidak pernah) Bila jawaban YA = 9-10. Kuesioner Praskrining untuk Bayi 12 Bulan . Laksanakan stimulasi sebagai kegiatan sehari-hari yang terarah. jawaban masih (M) = 7-8 jawaban YA. Pola asuh anak selanjutnya terus lakukan sesuai dengan bagan stimulasi sesuaikan dengan umur dan kesiapan anak. Lakukan lagi untuk KPSP yang sesuai umur anak. Teliti kembali semua pertanyaan dan jawaban. Lakukan KPSP ulang setelah 2 minggu menggunakan daftar KPSP yang sama pada saat anak pertama dinilai. Rincilah jawaban TIDAK pada nomer berapa saja. perkembangan anak sesuai dengan tahapan perkembangan (S) Bila jawaban YA = 7 atau 8. Keterlibatan orangtua sangat baik dalam tiap kesempatan stimulasi. Bila usia anak sudah berpindah golongan dan KPSP yang pertama sudah bisa semua dilakukan. Bila semua bisa. Lakukan stimulasi selama 2 minggu. bisa dilaksanakan KPSP 9 bulan. Tidak usah mengambil momen khusus. perkembangan anak meragukan (M) Bila jawaban YA = 6 atau kurang. pastikan anak tidak mengalami ketertinggalan lagi. Misalnya umur anak sekarang adalah 8 bulan 2 minggu. Lakukan stimulasi intensif selama 2 minggu untuk mengejar ketertinggalan anak.

Tanpa bantuan. Apakah anak dapat jalan sendiri atau jalan dengan berpegangan? 3. menarik atau mengeluarkan suara yang menyenangkan 9. apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup panel tidak ikut dinilai. atau mengatakan “mama” jika memanggil/melihat ibunya? Jawab YA bila anak mengatakan salah satu diantaranya. Tanpa bantuan.1. apakah ia mencari anda atau mengharapkan anda muncul kembali? 2. apakah anak dapat membungkuk untuk memungut mainan di lantai dan kemudian berdiri kembali? 8. Apakah ia mencoba meniru menyebutkan kata-kata tadi ? 10. 7. Tanpa berpegangan atau menyentuh lantai. 5. 5. Letakkan pensil di telapak tangan bayi. 4. Apakah anak dapat membedakan anda dengan orang yang belum ia kenal? la akan menunjukkan sikap malu-malu atau ragu-ragu pada saat permulaan bertemu dengan orang yang belum dikenalnya. Dapatkan anak berdiri sendiri tanpa berpegangan selama 30 detik atau lebih? 7. apakah anak dapat mempertemukan dua kubus kecil yang ia pegang? Kerincingan bertangkai dan tutup. dengan meremas di antara ibu jari dan jarinya seperti pada gambar? 8. Jika anda bersembunyi di belakang sesuatu/di pojok. Sebut 2-3 kata yang dapat ditiru oleh anak (tidak perlu kata-kata yang lengkap). “da-da” atau “pa-pa”. misalnya: “ma-ma”. Apakah anak dapat duduk sendiri tanpa bantuan? 9. Kuesioner Praskrining untuk 15 bulan 1. Apakah anak dapat mengatakan 2 suku kata yang sama. panci tidak ikut dinilai 2. Apakah anak dapat berjalan di sepanjang ruangan tanpa jatuh atau terhuyung-huyung? . Coba ambil pensil tersebut dengan perlahan-lahan. Dapatkah anak berdiri sendiri tanpa berpegangan selama kira-kira 5 detik? 6. Jawab YA bila ia mengeluarkan salah—satu suara tadi. Apakah anak dapat mengangkat badannya ke posisi berdiri tanpa bantuan anda? 6. Apakah anak dapat berdiri selama 30 detik atau lebih dengan berpegangan pada kursi/meja? 4. Sulitkah anda mendapatkan pensil itu kembali? 3. Apakah anak dapat menunjukkan apa yang diinginkannya tanpa menangis atau merengek? Jawab YA bila ia menunjuk. Apakah anak dapat mengambil Benda kecil seperti kacang atau kismis. apakah anak dapat bertepuk tangan atau melambai-lambai? Jawab TIDAK bila ia membutuh kemandirian kaq bantuan. Apakah anak dapat mengatakan “papa” ketika ia memanggil/melihat ayahnya. Tanpa bantuan. kemudian muncui dan menghilang secara berulang-ulang di hadapan anak.

kismis. . Dan KPSP dapat membantu mendeteksi keterlambatan perkembangan pada anak karena anak di uji dengan beberapa poin sesuai usia perkembangan pada anak tersebut. sehingga dapat dihitung berapa dan bagaimana pemenuhan nutrisi pada anak tersebut. Apakah anak dapat mengambil benda kecil seperti kacang.10. atau potongan biskuit dengan menggunakan ibu seperti pada gambar ini Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa MTBS dapat membantu memanajemen nutrisi karena dalam pendekatan pada MTBS adalah dengan menggunakan algoritma sederhana yang digunakan oleh perawat dan bidan untuk mengatasi masalah kesakitan pada Balita.