Anda di halaman 1dari 13

OVERALL AUDIT PLAN AND AUDIT PROGRAM

KELOMPOK: GITA AYU FARANI PRECILIA PRIMA Q. VONNY MARLEN 12030112220041 12030112220044 12030112220051

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO 2013

I.

LATAR BELAKANG
PT. Tri Plastik Indonesia telah menjadi klien audit KAP Bima, Rian, Sunardi & Badri

(BRS&B) selama beberapa tahun. PT. Tri Plastik Indonesia telah berkembang dari sebuah perusahaan kecil, yang hanya memproduksi dua jenis barang, ketika mereka pertama kali melakukan kontrak kerja dengan BRS&B, hingga kini menjadi perusahaan sukses dengan produk yang beragam. Pendekatan audit BRS&B yang selalu diterapkan pada PT. Tri Plastik Indonesia adalah pnedekatan audit substantif. Dalam pendekatan ini, auditor yang betugas mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal sebagai bagian dari prosedur pengukuran risiko, namun risiko pengendalian dinilai pad tingkat maksimum (100%). Dalam mengevaluasi pendekatan audit untuk PT. Tri Plastik Indonesia untuk audit berjalan, Roni Hartono selaku manajer audit dari BRS&B yakin bahwa pendekatan substantif hanya tepat untuk audit pada perusahaan-perusahaan kecil. Dalam penilaiannya, PT. Tri Plastik Indonesia, dengan penjualan Rp20 miliar dan 46 pegawai, telah memenuhi ukuran yang tidak ekonomis, dan mungkin juga tidak bijak, untuk mengkonsentrasikan semua pengujian pada neraca. Selain itu, ketentuan terkini di Pasal 404 Sarbanes Oxley Act dan Standar 2 PCAOB terkait sekaran ini mengharuskan audit atas laporan keuangan dan pengendalian internal atas laporan keuangan. Sehingga, program audit yang dirancang yang ditekankan pada identifikasi pengendalian internal di semua siklus-siklus transaksi penting dan dimasukkan dalam pengujian pengendalian. Dalam merencanakan pengujian persediaan, Roni menggunakan model risiko audit yang tercakup dalam standar audit untuk menentukan jumalah unsure persediaan yang akan diuji oleh BRS&B di akhir tahun. Karena banyaknya jenis produk, keunggulan, ukuran, dan warna, persediaan PT. Tri Plastik Indonesia terdiri dari 2.450 jenis barang yang berbeda. Semua persediaan tersebut dicatat dalam sistem manajemen persediaan perpetual yang menggunakan basis data relasional.

II.

RUMUSAN MASALAH
pendekatan substantif?

1) Apakah auditor menggunakan pendekatan pengurangan risiko pengendalian atau

2) Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan oleh auditor dalam pendekatan pengurangan risiko pengendalian dan pendekatan substantif? 3) Apa saja kelebihan dari pendekatan pengurangan risiko? 4) Apa saja kelebihan dari pendekatan substantif jika dibandingkan dengan pendekatan pengurang risiko?

III. PEMBAHASAN
A. LANDASAN TEORI Jenis Jenis Pengujian Sebagaimana dikatakan Arens & Lobbeck dalam bukunya Auditing, terdapat lima jenis pengujian dasar yang dapat digunakan dalam menentukan apakah laporan keuangan tersebut telah disajikan secara wajar, yaitu : 1) Prosedur Untuk Memperoleh Pemahaman Atas Struktur Pengendalian Intern. Sudah dibahas sebelumnya mengenai metodologi dan prosedur yang digunakan untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern. Selama proses/tahap audit tersebut, auditor harus memusatkan perhatiannya kepada rancangan dan operasi dari aspek-aspek struktur pengendalian intern sampai seluas yang diperlukan guna dapat merencanakan audit dengan efektif. Tujuan pelaksanaan prosedur selanjutnya adalah untuk memberikan pemahaman dan bahan bukti untuk mendukung hal itu. Lima jenis prosedur audit yang berhubungan dengan pemahaman auditor atas struktur pengendalian intern ialah : Pengalaman auditor pada periode sebelumnya terhadap satuan usaha tersebut Tanya jawab dengan pegawai perusahaan Pemeriksaan pedoman kebijakan dan sistem Pemeriksaan atas dokumen dan catatan Pengamatan akitivitas dan operasi satuan usaha tersebut

2) Pengujian Atas Pengendalian Penggunaan utama dari pemahaman auditor atas struktur pengendalian intern ialah untuk menetapkan resiko pengendalian relatif terhadap barbagai tujuan audit berkait-transaksi. jika auditor merasa yakin dan percaya bahwa kebijakan dan prosedur pengendalian dirancang dengan efektif, dan dijalankan dengan efisien, dia dapat menetapkan resiko pengendalian pada tingkat yang dapat mencerminkan evaluasi tersebut. Meskipun demikian, tingkat resiko pengendalian

yang ditetapkan harus dibatasi sampai tingkat yang didukung oleh bahan bukti yang diperoleh. Dan prosedur yang digunakan guna memeroleh bahan bukti semacam ini disebut pengujian atas pengendalian. Pengujian ini mencakup jenis bahan bukti berikut : Tanya jawab dengan pegawai klien Pemeriksaan dokumen dan catatan Pengamatan aktifitas-akifitas berhubungan dengan pengendalian Pelaksanaan ulang oleh auditor terhadap prosedur-prosedur klien

3) Pengujian Substantif Atas Transaksi Pengujian substantif merupakan suatu prosedur yang dirancang untuk menguji kekeliruan atau ketidakberesan dalam bentuk uang yang langsung memengaruhi kebenaran saldo laporan keuangan. Terdapat tiga jenis pengujian substantif : pengujian atas transaksi, prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo. Sedangka tujuan pengujian substantif atas transaksi adalah untuk menentukan apakah transaksi akuntansi klien telah diotorisasi dengan pantas, dicatat dan diikhtisarkan dalam jurnal dengan benar dan diposting ke buku besar dan buku tambahan dengan benar. 4) Prosedur Analitis Prosedur analitis mencakup perbandingan jumlah yang dicatat dengan ekspektasi yang dikembangkan oleh auditor. Ada empat tujuan penggunaan prosedur analitis yaitu : memahami bidang klien, menetapkan kemampuan kelangsungan hidup suatu satuan usaha, indikasi timbulnya kemungkinan salah saji dlam laporan keuangan, dan mengurangi pengujian audit yang lebih rinci. 5) Pengujian Terinci Atas Saldo (Test of Details of Balances) Pengujian ini menitik-beratkan atau memfokuskan pada saldo akhir buku besar baik untuk akun-akun neraca maupun laba rugi, namun penekanan utama pada kebanyakan pengujian terinci atas saldo adalah neraca. Pengujian terinci atas saldo akhir ini penting dalam pelaksanaan audit, karena dalam kebanyakan bagiannnya bahan bukti diperoleh dari sumber yang independen dari klien dan dengan demikian dinilai berkualitas tinggi. Sementara itu pengujian terinci atas saldo ini bertujuan untuk memberikan kebenaran moneter atas akun akun yang berkaitan dan dengan demikian pengujian substantif. Sebagai contoh, konfirmasi menguji salah saji dan ketidakberesan moneter dan dengan demikian merupakan

pengujian substantif. Demikian pula, perhitungan persediaan dan kas di tangan juga merupakan pengujian substantif. Memilih jenis pengujian yang tepat untuk dilakukan Biasanya auditor menggunakan kelima jenis pengujian ketika melakukan audit atas laporan keuangan, namun beberapa jenis pengujian mendapat penekanan yang lebih dibandingkan dengan yang lain, bergantung pada kondisi. Prosedur analitis diharuskan dalam semua audit untuk menilai risiko salah saji material sementara keempat jenis pengujian lainnya dilakukan untuk menghadapi risiko yang teridentifikasi untuk meberikan dasar bagi opini auditor. Perlu dicatat bahwa hanya prosedur penilaian risiko, khusunya prosedur utntuk mendapatkan pemahaman pengendalian, dan pengujian pengendalian digunakan dalam audit pengendalian internal laporan keuangan. Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi pilihan auditor terhadap jenis pengujian yang dipilih: 1) Ketersediaan jenis bukti prosedur audit lanjutan 2) Biaya-biaya relatif Ketika auditor harus memutuskan jenis pengujian apakah yang harus dipilih untuk mendapatkan bukti yang tepat, biaya bukti tersebut penting untuk dipertimbangkan. Jenis-jenis pengujian yang disusun dalam daftar berikut berdasarkan urutan biaya yang terendah ke yang tinggi Prosedur analitis Prosedur penilaian risiko, termasuk prosedur untuk mendapatkan pemahaman atas pengendalian internal Pengujian pengendalian Pengujian subtantif transaksi Pengujian terperinci saldo 3) Hubungan pengujian pengendalian dengan pengujian substantif Suatu pengecualian dalam pengujian pengendalian hanya mengindikasikan

kemungkinan salah saji yang mempengaruhi nilai rupiah dari laporan keuangan, sedangkan suatu pengecualian dalam pengujian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo merupakan suatu salah saji dalam laporan keuangan. 4) Hubungan prosedur analitis dan pengujian substantif

Seperti halnya pengujian pengendlaian, prosedur analitis hanya mengindikasikan kemungkinan salah saji yang berpengaruh pada nilai rupiah laporan keuangan. Fluktuasi yang tidak biasa dalam hubungan-hubungan sebuah akun dengan akun lainnya, atau dengan informasi nonkeuangan, dapat mengindikasikan adanya peningkatan kemungkinan terjadinya salah saji tanpa perlu memberikan bukti langsung atas salah saji material tersebut. Ketika prosedur analitis

mengidentifikasikan fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus melakukan pengujian substantif transaksi atau pengujian terperinci saldo untuk menetukan apakah salah saji rupiah benar-benar telah terjadi. 5) Dilema antara pengujian pengendalian dan pengujian substantif Terdapat dilema antara pengujian pengendalian dengan pengujian substantif. Selama perencanaan, auditor harus memutuskan apakah akan menilai risiko pengendalian di bawah maksimum. Jika auditor melakukannya, auditor kemudian harus melakukan pengujian pengendalian untuk menentukan apakah tingkat risiko pengendalian yang dinilai tersebut dapat dibenarkan. Empat langkah dalam merancang pengujian pengendalian dan pengujian substantif transaksi Menerapkan tujuan audit terkait transaksi pada suatu kelompok transaksi (langkah 1) Mengidentifikasi pengendalianpengendalian kunci dan membaut penilaian awal pengendalian (langkah 2) Merancang pengujian pengendalian (langkah 3) Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilh Waktu

Merancang pengujian substantif transaksi (langkah 4) Prosedur audit Ukuran sampel Unsur yang dipilih Waktu

B. TEORI KHUSUS SA seksi 313 (PSA No.05) Pengujian Substantif Sebelum Tanggal Neraca 03 Penerapan pengujian substantif utama atas rincian aktiva atau kewajiban pada

tanggal interim, dan bukan pada tanggal neraca, akan secara potensial meningkatkan risiko tidak terdeteksinya salah-saji yang ada pada tanggal neraca oleh auditor. Potensi adanya kenaikan risiko audit cenderung meningkat sejalan dengan semakin panjangnya sisa periode. Namun, tambahan potensial risiko audit dapat dikendalikan, jika pengujian substantif yang digunakan untuk mengungkapkan sisa periode dapat dirancang sedemikian rupa sehingga akan memberikan dasar memadai untuk memberikan perpanjangan kesimpulan audit dari tanggal interim ke tanggal neraca. 05 Penentuan risiko pengendalian pada tingkat di bawah maksimum tidak disyaratkan

dalam upaya memperoleh dasar untuk perluasan kesimpulan audit dari tanggal interim ke tanggal neraca; namun, jika auditor menentukan risiko pengendalian pada tingkat maksimum selama sisa periode, is wajib mempertimbangkan apakah efektivitas pengujian substantif tertentu dalam mengungkapkan periode tersebut akan menurun. Sebagai contoh, pengendalian intern mungkin kurang efektif pada dokumen intern memberikan indikasi tentang bagaimana penanganan transaksi selama ini. Pengujian substantif yang didasarkan pada dokumen semacam itu dan menghubungkannya dengan kelengkapan pernyataan untuk sisa periode mungkin tidak efektif karena dokumen tersebut tidak lengkap. Demikian juga, pengujian substantif atas sisa periode yang berhubungan dengan asersi keberadaan pada neraca mungkin tidak efektif jika pengendalian terhadap pengamanan dan pemindahan fisik aktiva tidak efektif. Dalam kedua contoh di atas, jika auditor menyimpulkan bahwa efektivitas pengujian substantif telah menurun, maka tambahan keyakinan harus diperoleh atau akun harus diperiksa oleh auditor pada tanggal neraca.
06 Auditor harus mempertimbangkan apakah terdapat perubahan pesat dalam kondisi bisnis atau lingkungan yang mungkin berpengaruh terhadap manajemen dalam melakukan salah-saji atas laporan keuangan untuk sisa periode.2 Jika kondisi atau lingkungan semacam ini muncul, auditor mungkin akan menyimpulkan bahwa pengujian substantif untuk mengungkapkan sisa periode tidak akan efektif dalam mengendalikan tambahan risiko yang berkaitan dengannya. Dalam situasi demikian, akun aktiva dan kewajiban yang terpengaruh biasanya akan diperiksa oleh auditor pada tanggal neraca.

07

Auditor harus mempertimbangkan apakah saldo akhir tahun akun aktiva

atau kewajiban tertentu yang terpilih untuk diperiksa dalam audit interim dapat diprediksi jumlahnya, materialitas relatif, dan komposisinya secara memadai. la harus juga mempertimbangkan apakah prosedur yang diusulkan oleh entitas untuk analisis dan penyesuaian akun tersebut pada tanggal interim dan penetapan pisah batas akuntansi semestinya telah memadai. Di samping itu, auditor harus

mempertimbangkan apakah sistem akuntansi akan memberikan informasi mengenai saldo pada tanggal neraca dan transaksi dalam sisa periode yang cukup untuk melakukan penyelidikan atas (a) transaksi luar biasa yang signifikan (termasuk transaksi pada atau mendekati tanggal neraca); (b) penyebab fluktuasi signifikan yang lain, atau fluktuasi yang diharapkan tetapi tidak terjadi; dan (c) perubahan dalam komposisi akun neraca. Jika auditor menyimpulkan bahwa bukti audit yang berhubungan dengan hal-hal tersebut di atas tidak memadai untuk tujuan pengendalian risiko audit, maka akun tersebut harus diperiksa oleh auditor pada tanggal neraca.

SA seksi 312 (PSA No.25) Risiko Audit dan Materialitas dalam Pelaksanaan Audit
26 Auditor perlu mempertimbangkan risiko audit pada tingkat akun atau golongan transaksi secara individual, karena pertimbangan yang demikian secara langsung membantunya dalam menentukan lingkup prosedur audit untuk saldo akun atau golongan transaksi tersebut. Auditor harus berusaha membatasi risiko audit pada tingkat saldo atau golongan transaksi individual sedemikian rupa, sehingga memungkinkannya, pada saat penyelesaian audit, untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan secara keseluruhan dengan tingkat risiko audit yang cukup rendah. Auditor menggunakan berbagai pendekatan untuk mencapai tujuan tersebut. 27 Pada tingkat saldo akun atau golongan transaksi, risiko audit terdiri dari (a)

risiko [yang meliputi risiko bawaan (inherent risk) dan risiko pengendalian (control risk)] bahwa saldo akun atau golongan transaksi mengandung salah saji (disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan) yang dapat menjadi material terhadap laporan keuangan apabila digabungkan dengan salah saji pada saldo akun atau golongan transaksi lainnya, dan (b) risiko [risiko deteksi (detection risk)] bahwa auditor tidak akan mendeteksi salah saji tersebut. Pembahasan berikut menjelaskan risiko audit dalam konteks tiga komponen risiko di atas. Cara yang digunakan oleh auditor untuk

mempertimbangkan

komponen

tersebut

dan

kombinasinya

melibatkan

pertimbangan profesional auditor dan tergantung pada pendekatan audit yang dilakukannya. (a) Risiko bawaan Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat pengendalian yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain. Sebagai contoh, perhitungan yang rumit lebih mungkin disajikan salah jika dibandingkan dengan perhitungan yang sederhana. Uang tunai lebih mudah dicuri daripada sediaan batu bara. Akun yang terdiri dart jumlah yang berasal dart estimasi akuntansi cenderung mengandung risiko lebih besar dibandingkan dengan akun yang sifatnya relatif rutin dan berisi data berupa fakta. Faktor ekstern juga mempengaruhi risiko bawaan. Sebagai contoh, perkembangan teknologi mungkin menyebabkan produk tertentu menjadi usang, sehingga mengakibatkan sediaan cenderung dilaporkan lebih besar. Di samping itu, terhadap faktor-faktor tersebut yang khusus menyangkut saldo akun atau golongan transaksi tertentu, faktor-faktor yang berhubungan dengan beberapa atau seluruh saldo akun atau golongan transaksi mungkin mempengaruhi risiko bawaan yang berhubungan dengan saldo akun atau golongan transaksi tertentu. Faktor yang terakhir ini mencakup, misalnya kekurangan modal kerja untuk melanjutkan usaha atau penurunan aktivitas industri yang ditandai oleh banyaknya kegagalan usaha. Lihat SA Seksi 316 [PSA No. 32 dan PSA No. 70] Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan Keuangan, paragraf 10 (b) Risiko pengendalian Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji material yang dapat terjadi dalam suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian in-tern entitas. Risiko ini merupakan fungsi efektivitas desain dan operasi pengendalian in-tern untuk mencapai tujuan entitas yang relevan dengan penyusunan laporan keuangan entitas. Beberapa risiko pengendalian akan selalu ada karena keterbatasan bawaan dalam setiap pengendalian intern.

(c) Risiko deteksi

Risiko deteksi adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi merupakan fungsi efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor. Risiko ini timbul sebagian karena ketidakpastian yang ada pada waktu auditor tidak memeriksa 100% saldo akun atau golongan transaksi, dan sebagian lagi karena ketidakpastian lain yang ada, walaupun saldo akun atau golongan transaksi tersebut diperiksa 100%. Ketidakpastian lain semacam itu timbul karena audi-tor mungkin memilih suatu prosedur audit yang tidak sesuai, menerapkan secara keliru prosedur yang semestinya, atau menafsirkan secara keliru hasil audit. Ketidakpastian lain ini dapat dikurangi sampai pada tingkat yang dapat diabaikan melalui perencanaan dan supervisi memadai dan pelaksanaan praktik audit yang sesuai dengan standar pengendalian mutu. SA seksi 326 (PSA No.07) Bukti Audit
11 Dalam memilih pengujian substantif tertentu untuk mencapai tujuan audit yang telah ditetapkan, auditor independen mempertimbangkan, antara lain, risiko salah saji mate-rial dalam laporan keuangan, termasuk tingkat risiko pengendalian taksiran, serta efisiensi dan efektivitas pengujian yang diharapkan dari pengujian tersebut. Pertimbangan auditor independen meliputi sifat dan materialitas unsur-unsur yang diuji, jenis dan kompetensi bukti audit yang tersedia, dan sifat tujuan audit yang hendak dicapai. Sebagai contoh, dalam merancang pengujian substantif untuk mencapai suatu tujuan yang berhubungan dengan asersi tentang keberadaan atau keterjadian, auditor memilih unsur yang ada dalam jumlah yang tercantum dalam laporan keuangan dan mencari bukti audit yang relevan. Di lain pihak, dalam merancang prosedur audit untuk mencapai suatu tujuan yang berhubungan dengan asersi tentang kelengkapan, auditor memilih bukti audit yang menunjukkan bahwa suatu unsur harus dimasukkan dalam jumlah yang relevan dalam laporan keuangan dan menyelidiki apakah unsur tersebut telah dimasukkan secara lengkap. 12 Tujuan audit spesifik yang dirumuskan oleh auditor tidak mengalami

perubahan apakah diterapkan dalam pengolahan data dengan manual maupun dengan komputer. Namun, metode penerapan prosedur audit untuk mengumpulkan bukti dapat

dipengaruhi oleh metode pengolahan data yang digunakan oleh klien. Auditor dapat menggunakan prosedur audit manual, teknik audit berbantuan komputer (computerassisted audit techniques), atau kombinasi kedua metode tersebut untuk memperoleh bukti audit kompeten yang cukup. Oleh karena pertumbuhan penggunaan komputer dan teknologi informasi yang lain, banyak perusahaan mengolah informasi signifikan secara elektronik. Oleh karena itu, adalah sulit atau tidak mungkin bagi auditor untuk memperoleh data tertentu dengan cara inspeksi, permintan keterangan, atau konfirmasi tanpa bantuan teknologi informasi. 18 Dalam entitas tertentu, beberapa data akuntansi dan bukti penguat tersedia

dalam bentuk elektronik. Dokumen sumber seperti order pembelian, surat muat, faktor, dan cek digantikan dengan pesan elektronik. Sebagai contoh, entitas dapat menggunakan Electronic Data Interchange (EDI) atau sistem pengolahan citra (image processing systems) Dalam EDI, entitas dan pelanggannya atau pemasok

menggunakan hubungan komunikasi untuk melakukan transaksi bisnis secara elektronik. Transaksi pembelian, pengiriman, penagihan, penerimaan kas, dan pengeluaran kas seringkali dilaksanakan seluruhnya dengan pertukaran pesan elektronik di antara pihak-pihak yang terkait. Dalam sistem pengolahan citra, dokumen di-scan dan diubah menjadi citra elektronik untuk memfasilitasi penyimpanan dan pengacuan, dan dokumen sumber dapat tidak disimpan setelah diubah ke dalam citra tersebut. Bukti audit tertentu dapat ada pada titik waktu tertentu. Namun, bukti tersebut mungkin tidak dapat diambil setelah periode waktu tertentu jika file diubah dan jika backup file tidak ada. Oleh karena itu, auditor harus

mempertimbangkan waktu yang pada saat itu informasi ada atau tersedia dalam menentukan sifat, saat, dan luasnya pengujian substantif, dan jika berlaku, pengujian pengendalian yang akan dilaksanakan. 19 Auditor menguji data akuntansi yang mendasari laporan keuangan dengan

(a) menganalisis dan me-review, (b) menelusuri kembali langkah-langkah prosedur yang diikuti dalam proses akuntansi dan dalam proses pembuatan alokasi yang bersangkutan, (c) penghitungan kembali dan (d) rekonsiliasi tipe-tipe dan aplikasi yang berkaitan dengan informasi yang sama. Melalui pelaksanaan prosedur seperti itu, auditor dapat menentukan bahwa catatan akuntansi konsisten secara intern.

Konsistensi intern semacam itu biasanya memberikan bukti tentang kewajaran penyajian laporan keuangan. PSAK 14 (REVISI 2008)

34 Laporan keuangan harus mengungkapkan: 1. kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan; 2. total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas; 3. jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilaI wajar dikurangi biaya untuk menjual; 4. jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan; 5. jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; 6. jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; 7. kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemulihan nilai persediaan yang diturunkan sebagaimana dijelaskan pada paragraf 32; dan 8. nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban. Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan. Klasifikasi persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan, barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut pekerjaan dalam penyelesaian. C. PENYELESAIAN Kelebihan dari pendekatan pengurangan risiko pengendalian yang direncanakan akan digunakan oleh Roni dibandingkan dengan pendekatan yang sebelumnya digunakan dalam mengaudit PT. Tri Plastik Indonesia adalah memberikan efisiensi waktu dalam melakukan audit tersebut. Waktu yang dibutuhkan dalam melakukan audit tersebut lebih cepat dibanding dengan

pendekatan audit substantif yang sebelumnya digunakan oleh PT. Tri Plastik Indonesia. Selain itu juga dengan menggunakan pendekatan pengurangan risiko pengendalian, lebih ditekankan pada identifikasi pengendalian internal disemua siklus-siklus transaksi penting Kelebihan pendekatan substantif adalah menghasilkan bukti tentang kewajaran setiap asersi laporan keuangan yang signifikan, dan di sisi lain pengujian substantif juga bisa menghasilkan bukti yang menunjukkan adanya kekeliruan jumlah rupiah atau salah saji dalam pencatatan atau pelaporan transaksi dan saldo-saldo

IV. KESIMPULAN

V.

DAFTAR PUSTAKA