Anda di halaman 1dari 17

Dampak Keputihan Keputihan merupakan keluhan yang paling sering ditemukan pada perempuan yang datang berkonsultasi untuk

masalah penyakit kandungan. Sebenarnya, setelah dilakukan pemeriksaan, penderita yang datang dengan keluhan ini tidak semuanya menunjukkan adanya penyakit atau kelainan. Memang keputihan dapat terjadi pada keadaan normal, tetapi dapat juga merupakan gejala dari suatu kelainan yang harus diobati. dr. Siti Dhyanti Wishnuwardhani, SpOG, spesialis kebidanan dan penyakit kandungan mengatakan penyebab paling sering dari dampak keputihan abnormal adalah infeksi. Bila diperiksa dengan mikroskop, sekret (cairan/ lendir) yang berlebihan akibat infeksi mengandung banyak sel darah putih atau lekosit.Keputihan yang abnormal bisa menyebabkan gangguan kesuburan katanya. Gangguan Kesuburan banyak terjadi akibat infeksi pada organ reproduksi khususnya saluran telur. Infeksi umumnya terjadi karena penyakit menular seksual (PMS), misalnya infeksi klamidia gonore. Namun bisa kesuburan bisa juga dipengaruhi oleh infeksi keputihan. Pengaruh keputihan terhadap kesuburan terjadi pada keputihan akibat inveksi bakteri atau jamur. WHO memperkirakan satu dari 20 remaja di dunia terjangkit PMS setiap tahunnya, bahkan di AS 1 dari 8 remaja. Penelitian di Bagian Obstetri Ginekologi RSCM (Sianturi, 1990-1995) mendapatkan data dua% (usia 11-15 tahun), 12% (usia 16-20 tahun) dari 223 remaja terinfeksi di daerah kemaluan (vulvo-vaginitis), mikroorganisme yang tergolong PMS. Faktor-faktor yang memicu berkembangnya PMS antara lain karena pengetahuan tentang PMS rendah, hubungan seksualnya cenderung lebih dari satu pasangan atau pasangannya punya lebih dari satu mitra seksual, hubungan seksual tidak aman misalnya tidak memakai kondom. Selain itu, karena anatomi organ reproduksinya perempuan lebih mudah tertular PMS dari pria, apalagi remaja yang secara biologik serviksnya belum matang dan lebih mudah kena infeksi. Kanker serviks merupakan keganasan yang paling sering terjadi pada organ reproduksi. Kanker ini lebih sering terjadi pada wanita usia 35-55 tahun. Namun demikian, karena risiko terjadinya kanker ini berhubungan dengan usia pertama kali berhubungan seksual, kekerapan berganti pasangan dan adanya infeksi PMS, sementara itu remaja kini lebih dini aktif seksual dan kejadian PMS-nya meningkat, maka kecenderungan usia kejadian kanker ini menjadi lebih dini dari 35 tahun. Kejadian kanker serviks berkaitan dengan riwayat infeksi HPV (virus Human Papiloma) yang termasuk PMS dan biasanya menampilkan gejala keputihan pula. Siti menjelaskan pencegahan yang terpenting adalah menghindari terjadinya PMS dengan tidak berhubungan seksual sebelum menikah. Selain itu, lanjut Siti lakukan beberapa hal mudah seperti berikut. 1. Kebersihan daerah vagina perlu diperhatikan.

Kebiasaan membersihkan daerah vital ini setelah buang air kecil atau buang air besar harus benar. Cara bilas yang aman adalah mengalirkan air dari depan ke arah belakang. Demikian pula saat mengeringkannya, bila arah ini salah maka kuman dari daerah anus dapat mencemari sekitar vagina yang lebih sensitif untuk mengalami infeksi. 2.Dalam keadaan haid atau menggunakan pembalut wanita, pakailah celana dalam yang pas sehingga pembalut tidak bergeser dari belakang ke depan. 3. Hati-hati menggunakan kloset duduk umum yang basah. 4. Jangan gunakan handuk bersama orang lain, dan hindari penggunaan pakaian renang basah bergantian. 5. Selain itu, keputihan atau dampak keputihan sering terjadi bersamaan dengan reaksi alergi pada daerah genital terhadap bahan sintetis dari pakaian dalam atau pembalut wanita. Sebaiknya gunakan pakaian dalam dari katun. 6. Hindari pula penggunaan celana panjang yang ketat dan tebal seperti jeans terus-menerus, karena dapat mengganggu sirkulasi atau peredaran darah, sehingga menimbulkan sekret berlebihan. 7. Buang air besar yang tidak setiap hari juga merangsang sekresi lendir dari vagina, karena adanya massa berupa kotoran di saluran poros usus yang berada di belakang vagina. 8. Jangan merutinkan penggunaan cairan pencuci (douche) vagina, deodoran vagina, dan menyabuni daerah kemaluan berlebihan sehingga kelembaban daerah tersebut terganggu. Selain itu, penggunaan Crystal X secara teratur akan menghindarkan Anda dari keputihan dan masalah-masalah kewanitaan lainnya, mencegak tumbuhnya kanker serviks, kista dan mioma.

Bagaimana cara kalian menjaga kebersihan organ reproduksi? Di bawah ini akan dijelaskan cara menjaga kebersihan organ reproduksi baik pada laki-laki maupun perempuan. Tips menjaga kesehatan organ reproduksi laki-laki yaitu

1. Gunakan celana dalam bersih higienis. Ganti celana dalam yang kalian (laki-laki) pakai minimal dua kali dalam satu hari, jika penggunanya mudah berkeringat agar tidak mudah ditumbuhi kuman. Celana dalam yang tidak higienis atau kotor terkena keringat dan daki, serta lembab, akan memudahkan bakteri berkembang biak yang bisa mengundang penyakit, bau tidak sedap, biang keringat, dan lain-lain. 2. Cuci bersih secara rutin alat kelamin. Siram dan bilas dengan air bersih hingga bersih setelah buang air kecil dan air besar agar tidak ada sisa air seni atau air kencing yang menempel pada kulit kelamin. Untuk laki-laki yang tidak disunat dan penis masih memiliki kulup penutup, maka wajib membersihkan bagian dalam kulup (kepala penis dalam) hingga bersih setiap hari untuk menghindari kanker. 3. Cukur rambut kemaluan secara berkala. Bagi yang memiliki rambut kemaluan panjang sebaiknya melakukan pangkas rambut kemaluan untuk menjaga tetap pendek agar tidak banyak ditumbuhi bakteri. Di samping itu, ada bakteri baik yang tumbuh di rambut sekitar kemaluan, sehingga tidak baik untuk dicukur habis hingga habis. 4. Hindari ancaman bahaya. Alat kelamin cukup sensitif dengan sinar x rontgen, sehingga perlu diwaspadai untuk tidak sering melakukan rontgen. Usahakan rontgen satu kali saja dalam tenggat waktu enam bulan. Hindari pula makanan, minuman dan kebiasaan yang merusak kesehatan alat reproduksi seperti minum minuman mengandung alkohol, merokok, menggunakan narkoba, dan sebagainya. 5. Jaga kelembapan. Jika alat kelamin kamu berada dalam lingkungan panas, maka sperma yang dihasilkan akan menurun kualitasnya. Sehingga bisa jadi tidak akan mampu untuk membuahi sel telur. Oleh sebab itu hindarilah menggunakan pakaian yang ketat yang berbahan panas kurang ventilasi, serta jauhi kebiasaan yang meningkatkan suhu alat kelamin seperti memangku laptop di paha dekat alat kelamin. Tips menjaga dan merawat kesehatan organ intim perempuan antara lain: 1. Biasakan kalian (perempuan)membilas vulva setiap kali selesai buang urin atau air besar. Kalian harus membilasnya sampai bersih, yaitu dengan membasuh menggunakan air bersih dari arah depan ke belakang. Banyak perempuan yang tidak memahami itu, karena selama ini, banyak yang cenderung membasuh organ intim dari anus ke arah vagina. Hal ini justru akan membuat bakteri yang bersarang di daerah anus masuk ke liang vagina. Akibatnya, timbul rasa gatal di daerah vulva. Kemudian basuh dengan tissu sekali usap sebelum mengenakan celana dalam. Karena jika sekitar organ dibiarkan lembap, maka jamur akan tumbuh dengan mudah. 2. Perhatikan jenis kertas tissu yang digunakan untuk membersihkan daerah vagina. Lendir dan air memang terserap dengan baik oleh tissu. Namun tissu yang digunakan bisa saja tercemar oleh kuman dan bakteri penyebab infeksi. 3. Gantilah celana dalam paling tidak 2x dalam sehari, apalagi saat udara panas. Pastikan memilih celana dalam yang mudah menyerap keringat, misalnya katun. 4. Hindari celana dalam yang terlalu ketat. Celana dalam yang terlalu ketat akan menekan otot vagina dan membuat suasana lembab, misalnya celana jeans, karena dapat memicu kelembapan dan memberi peluang jamur tumbuh subur pada area ini. 5. Sebaiknya menggunakan air yang berasal dari kran jika berada di toilet umum, hindari penggunaan air yang berasal dari tempat penampungan karena menurut penelitian air yang ditampung di toilet umum dapat mengandung bakteri dan jamur.

6. Hindari penggunaan pantyliner beraroma (parfum) atau secara terus menerus setiap hari karena dapat menyebabkan iritasi kulit. Pantyliner hanya digunakan saat mengalami keputihan saja, selalu mempersiapkan celana dalam lebih untuk ganti. 7. Gunakan pembalut dengan permukaan yang lembut dan kering sehingga tidak menimbulkan iritasi ketika anda menstruasi. Selain itu gantilah pembalut sesering mungkin. Pada saat aliran darah banyak, minimal 5-6 jam sekali. Darah yang tertampung pada pembalut bisa menjadi media tumbuhnya kuman penyebab infeksi. 8. Hindari penggunaan cairan khusus pembersih organ intim secara rutin karena akan mengganggu keseimbangan pH dalam vagina. Bila terlalu sering dipakai, justru akan membunuh bakteri baik dalam vagina, yang selanjutnya akan memicu tumbuhnya jamur. Akibatnya, muncul gatal-gatal di area organ intim. 9. Cukur rambut kemaluan secara berkala. Bagi yang memiliki rambut kemaluan panjang sebaiknya melakukan pangkas rambut kemaluan untuk menjaga tetap pendek agar tidak banyak ditumbuhi bakteri. Di samping itu, ada bakteri baik yang tumbuh di rambut sekitar kemaluan, sehingga tidak baik untuk dicukur habis hingga plontos. 10. Hindari stres berlebihan dan beralihlah ke gaya hidup aktif dengan teratur berolahraga dan konsumsi makanan seimbang. Selain tips menjaga organ reproduksi, juga ada cara pemeriksaan organ ke dokter/petugas kesehatan (ginekolog). Pemeriksaan khusus ada 3 macam yaitu : a.Pemeriksaan laboratorium biasa Pemeriksaan laboratorium biasa tidak selalu dilakukan. Apabila dianggap perlu,dilakukan pemeriksaan darah dan urine. Kadar Hb diperiksa pada wanita yang tampak pucat mengalami perdarahan, pada wanita hamil, dan pada persangkaan kehamilan ekstra uterin terganggu. Urine dapat diperiksa pada setiap wanita hamil (proteinuria) dan pada persangka kelainan saluran kencing (sedimen). b.Pemeriksaan getah vulva dan vagina Pemeriksaan yang sering diperlukan di poliklinik ialah pemeriksaan getah uretra/serviks dan getah vagina, terutama pada keluhan leukorea. Getah uretra diambil dari orifisium uretra eksternum dan getah serviks dari ostium uteri eksternum. c.Pemeriksaan sitologi vagina Untuk pemeriksaan sitologik, bahan diambil dari dinding vagina atau dari serviks dengan spatel ayre (dari kayu atau plastik). Selain untuk diagnosis dini tumor ganas ,pemeriksaan ini dapat dipakai juga untuk secara tidak langsung mengetahui fungsi hormonal. Hal itu karena pengaruh esterogen dan progesteron yang menyebabkan perubahan-perubahan khas pada sel-sel selaput lendir vulva.

Kesehatan reproduksi merupakan tanggung jawab diri sendiri. Dimulai dari menjaga kebersihan celana dalam. Sebaiknya gunakan celana dalam yang terbuat dari kain katun dan gantilah minimal satu kali dalam satu hari. Celana dalam yang tidak diganti akan menciptakan kondisi lembab yang menjadi sumber munculnya bakteri berbahaya dan bisa menimbulkan penyakit. Alat reproduksi juga harus sering dibersihkan terutama jika mengeluarkan cairan tertentu. Setelah buang air kecil atau besar, organ kelamin harus dicuci dengan air bersih. Sisa kotoran buang air bisa menyebabkan iritasi dan bahkan infeksi. Untuk wanita, perlu diingat bahwa membersihkan organ reproduksi itu dari depan ke belakang dan bukan sebaliknya. Jika terasa gatal, jangan selalu digaruk karena bisa menyebabkan iritasi. Gunakanlah kain atau tisu yang dibasahi dengan air hangat dan basuhlah. Bagi wanita atau pria dewasa, menjaga kesehatan reproduksi dilakukan dengan rajin mencukur bulu kemaluan. Bulu kemaluan yang panjang membuat area reproduksi jadi lembab dan banyak bakteri. Sedangkan jika dicukur habis malahan bisa menghilangkan bakteri yang sifatnya baik. Oleh sebab itu, cukurlah bulu reproduksi yang panjang tapi jangan dicukur habis. Pastikan juga alat pencukurnya bersih.

Merawat Kesehatan Reproduksi dengan Kebiasaan yang Baik


Kebiasaan yang baik bisa menjaga kesehatan reproduksi. Misalnya tidak bermain laptop, ipad, handphone di paha atau di dekat organ reproduksi. Alat elektronik atau gadget yang panas akan membuat suhu area reproduksi juga sperma menjadi tinggi, akibatnya kualitas sperma akan berkurang. Begitupula dengan penggunaan celana yang ketat akan membuat panas organ reproduksi. Biasakanlah untuk berprinsip tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Hubungan seks pranikah memungkinkan hubungan intim dengan lebih dari satu pasangan. Hal ini meningkatkan peluang penularan penyakit kelamin. Penyakit kelamin saat ini banyak yang berbahaya dan beresiko tinggi merusak organ reproduksi. Biasakanlah merawat kesehatan reproduksi dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Lakukanlah minimal satu tahun sekali untuk mendeteksi penyakit kelamin yang muncul. Deteksi dini akan mempermudah penanganan. Pemeriksaan yang bisa dilakukan seperti pap smear, mamografi maupun pengecekan umum menjadi cara ampuh menjaga kesehatan reproduksi.

Menjaga dan merawat kesehatan organ reproduksi


Khususnya organ intim wanita, memang tidak mudah. Padahal, jika tidak dirawat dengan baik bisa muncul berbagai penyakit organ reproduksi yang berbahaya. Menurut dr. Inneke Sirowanto, SpOG Spesialis Kebidanan & Kandungan, Banyak masalah yang dapat mengganggu kesehatan organ reproduksi wanita, misalnya infeksi yang disebabkan oleh jamur, virus, atau bakteri, yang dapat menyebabkan radang panggul atau ada kelainan pada struktur organ reproduksi wanita. Tips menjaga dan merawat kesehatan organ intim wanita antara lain: 1. Biasakan untuk membilas vagina setiap kali selesai buang urin atau air besar, harus membilasnya sampai bersi, yaitu dengan membasuh menggunakan air bersih dari arah depan ke belakang setiap kali usai buang air kecil atau buang air besar. Banyak wanita yang tidak memahami hak itu, karena selama ini, banyak yang cenderung membasuh organ intim dari anus ke arah vagina. Hal ini malah akan membuat bakteri yang bersarang di daerah anus masuk ke liang vagina. Akibatnya, timbul rasa gatal di daerah vagina. Kemudian basuh dengan tissu sekali usap sebelum mengenakan celana dalam. Karena jika sekitar organ dibiarkan lembap, maka jamur akan tumbuh dengan mudah. 2. Perhatikan jenis kertas tissu yang digunakan untuk membersihkan daerah vagina. Lendir dan air memang terserap dengan baik oleh tissu. Namun tissu yang digunakan bisa saja tercemar oleh kuman dan bakteri penyebab infeksi. 3. Gantilah celana dalam paling tidak 2x dalam sehari, apalagi saat udara panas. Pastikan memilih celana dalam yang mudah menyerap keringat, misalnya katun. 4. Hindari celana dalam yang terlalu ketat. Celana dalam yang terlalu ketat akan menekan otot vagina dan membuat suasana lembab, misalnya celana jeans, karena dapat memicu kelembapan dan memberi peluang jamur tumbuh subur pada area ini.

5. Sebaiknya menggunakan air yang berasal dari kran jika berada di toilet umum, hindari penggunaan air yang berasal dari tempat penampungan karena menurut penelitian air yang ditampung di toilet umum dapat mengandung bakteri dan jamur. 6. Hindari penggunaan pantyliner beraroma (parfum) atau secara terus menerus setiap hari karena dapat menyebabkan iritasi kulit. Pantyliner hanya digunakan saat mengalami keputihan saja, selalu mempersiapkan celana dalam lebih untuk ganti. 7. Gunakan pembalut dengan permukaan yang lembut dan kering sehingga tidak menimbulkan iritasi ketika anda menstruasi. Selain itu gantilah pembalut sesering mungkin. Pada saat aliran darah banyak, minimal 5-6 jam sekali. Darah yang tertampung pada pembalut bisa menjadi media tumbuhnya kuman penyebab infeksi. 8. Hindari penggunaan cairan khusus pembersih organ intim secara rutin karena akan mengganggu keseimbangan flora dalam vagina. Bila terlalu sering dipakai, justru akan membunuh bakteri baik dalam vagina, yang selanjutnya akan memicu tumbuhnya jamur. Akibatnya, muncul gatal-gatal di area organ intim. 9. Hindari hubungan seks saat haid. Karena saat menstruasi dinding rahim cenderung lebih lunak sehingga dapat menyebabkan luka. 10. Hindari stres berlebihan dan beralihlah ke gaya hidup aktif dengan teratur berolahraga dan konsumsi makanan seimbang. 11. Cara Menjaga Kesehatan Penis 12. Penis merupakan organ intim pria yang sangat penting yang merupakan simbol kejantanan sehinga kesehatan penis pria harus selalau dijaga agar berfungsi dengan baik. Nah bagi pria terkadang banyak yang mengabaikan kesehatan penis mereka sehinga banyak masalah yang timbul seperti impotensi, enjakulasi dini dan masalah lainya. Nah bagi kamu yang saat ini masih bingung dengan cara merawat kesehatan penis berikut ini ada beberapa cara menjaga kesehatan penis mau tahu apa aja itu simak 5 Cara Menjaga kesehatan Penis berikut ini. 1. Gunakan celana dalam bersih higienis Ganti celana dalam yang kita pakai minimal dua kali dalam satu hari, jika penggunanya mudah berkeringat agar tidak mudah ditumbuhi kuman. Celana dalam yang tidak higienis atau kotor terkena keringat dan daki, serta lembab, akan memudahkan bakteri berkembang biak yang bisa mengundang penyakit, bau tak sedap, biang keringat, dll.

2. Cuci bersih secara rutin alat kelamin Siram dan bilas dengan air bersih hingga bersih setelah buang air kecil dan air besar agar tidak ada sisa air seni atau air kencing yang menempel pada kulit kelamin. Untuk lakilaki yang tidak disunat dan penis masih memiliki kulup penutup, maka wajib membersihkan bagian dalam kulup (kepala penis dalam) hingga bersih setiap hari untuk menghindari kanker. 3. Cukur rambut kemaluan secara berkala Bagi yang memiliki rambut kemaluan panjang sebaiknya melakukan pangkas rambut kemaluan untuk menjaga tetap pendek agar tidak banyak ditumbuhi bakteri. Di samping itu, ada bakteri baik yang tumbuh di rambut sekitar kemaluan, sehingga tidak baik untuk dicukur habis hingga plontos. 4. Hindari ancaman bahaya Alat kelamin cukup sensitif dengan sinar x rontgen, sehingga perlu diwaspadai untuk tidak sering melakukan rontgen. Usahakan rontgen satu kali saja dalam tenggat waktu enam bulan. Hindari pula makanan, minuman dan kebiasaan yang merusak kesehatan alat reproduksi seperti minum minuman mengandung alkohol, merokok, menggunakan narkoba, dsb. 5. Jaga kelembapan Jika alat kelamin pria/laki-laki berada dalam lingkungan panas, maka sperma yang dihasilkan akan menurun kualitasnya. Sehingga bisa jadi tidak akan mampu untuk membuahi sel telur istri. Oleh sebab itu hindarilah menggunakan pakaian yang ketat yang berbahan panas kurang ventilasi serta jauhi kebiasaan yang meningkatkan suhu alat kelamin seperti memangku laptop di paha dekat alat kelamin.

LONDON, (PRLM).- Mencuci menggunakan mesin cuci ternyata bisa menyebabkan penyakit. Hasil penelitian ahli mikrobiologi asal Inggris, Dr Lisa Ackerley, seperti dilansir Daily Mail

menyebutkan kalau bakteri berkembang biak saat cucian dibilas dalam mesin cuci dengan temperatur 30 derajat celcius. Dalam hal ini, bakteri yang ada dalam pakain dalam dan handuk bisa berkembang biak dengan pesat selama proses pencucian dengan suhu rendah 30 derajat celsius itu. Peneliti menemukan kalau pakaian dalam dan handuk mengandung materi feses (kotoran manusia) sebanyak 0,1 gram sehingga kalau saat mencuci, celana dalam dan handuk disatukan dengan pakaian lainya, maka ini bisa menimbulkan "sup bakteri" . Sejumlah bakteri yang ditemukan peneliti dalam sup bakteri tersbeut diantaranya, Salmonella dan E.coli. (A-133/A-108)***

Dalam vagina wanita memang terdapat bakteri. Tapi bila pertumbuhannya berlebihan, hal tersebut dapat menimbulkan masalah yang menjengkelkan. Apa saja yang terjadi bila bakteri normal vagina tumbuh berlebih? Pertumbuhan berlebih dari bakteri normal dalam vagina disebut bakterial vaginosis. Dulu, kondisi ini disebut Gardnerella vaginitis, setelah bakteri Gardnerella dicurigai sebagai penyebab kondisi ini. Namun, nama baru bakterial vaginosis, mencerminkan kenyataan bahwa ada beberapa jenis bakteri yang secara alami hidup di vagina dan dapat tumbuh berlebihan. Organisme Gardnerella bukan satu-satunya penyebab bakterial vaginosis. Bila beberapa jenis bakteri menjadi tidak seimbang, seorang wanita dapat mengalami bakterial vaginosis. Meskipun tidak berbahaya, tetapi kondisi ini dapat mengganggu dan menjengkelkan. Gejala Seperti dilansir dari MedicineNet, Sabtu (19/6/2010), gejala bakterial vaginosis adalah vagina mengeluarkan cairan dan berbau, biasanya tidak disertai gejala lain. Banyak wanita dengan bakterial vaginosis sebenarnya tidak memiliki gejala sama sekali, tapi yang lain mengalami bau amis yang tidak menyenangkan dengan vagina. Jumlah cairan vagina yang normal dapat bervariasi antara wanita satu dan lainnya. Cairan dari bakterial vaginosis biasanya tipis dan berwarna putih keabu-abuan, yang sering terjadi setelah hubungan seksual. Dalam kehamilan, bakterial vaginosis dapat menyebabkan kelahiran prematur, infeksi cairan ketuban, dan infeksi rahim setelah melahirkan.

Penyebab Peneliti mengalami kesulitan menentukan penyebab dari bakterial vaginosis. Bakterial vaginosis umumnya terjadi karena pengurangan jumlah hidrogen peroksida normal yang memproduksi lactobacilli dalam vagina. Secara bersamaan, ada peningkatan konsentrasi bakteri jenis lain, terutama bakteri anaerob (bakteri yang bisa tumbuh tanpa oksigen). Akibatnya, diagnosis dan pengobatan tidak sesederhana seperti mengidentifikasi dan menghilangkan salah satu jenis bakteri. Penggabungan bakteri menyebabkan infeksi yang tidak diketahui. Beberapa faktor telah diidentifikasi dapat meningkatkan peluang terjadinya bakterial vaginosis, seperti berhubungan dengan banyak pria, merokok, pola makan tak sehat, kelelahan, menggunakan bahan kimia (cairan pembersih), atau obat-obatan tertentu. Namun, peran aktivitas seksual dalam pengembangan kondisi ini tidak sepenuhnya dipahami, karena bakterial vaginosis juga dapat terjadi pada wanita yang belum pernah melakukan hubungan seksual. Pengobatan yang umum untuk bakterial vaginosis biasanya menggunakan antibiotik. Tapi bila Anda mengalami gejala-gejala seperti tersebut di atas, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter maupun ke laboratorium untuk dapat memastikannya

Keputihan adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan berbagai kondisi yang menyebabkan infeksi atau peradangan pada vaginanya . Vulvovaginitis mengacu pada peradangan dari kedua vagina dan vulva (alat kelamin wanita eksternal). Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi vagina disebabkan oleh organisme seperti bakteri, ragi, atau virus, maupun oleh iritasi dari bahan kimia dalam krim, semprotan, atau bahkan pakaian yang kontak dengan daerah ini. Dalam beberapa kasus, hasil vaginitis dari organisme yang lewat di antara pasangan seksual. Apa Gejala Infeksi Vagina? Gejala dari infeksi vagina dapat bervariasi tergantung pada apa yang menyebabkan itu. Beberapa wanita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Beberapa gejala yang lebih umum dari keputihan meliputi:

Keputihan abnormal dengan bau yang tidak menyenangkan.

Terbakar saat buang air kecil. Gatal di sekitar bagian luar vagina. Ketidaknyamanan selama hubungan seksual.

Apakah Keputihan Normal? Vagina seorang wanita biasanya menghasilkan debit yang biasanya digambarkan sebagai jelas atau sedikit berawan, tidak menyebabkan iritasi, dan bebas bau. Selama yang normal siklus menstruasi , jumlah dan konsistensi dari debit dapat bervariasi. Pada suatu waktu bulan mungkin ada sedikit cairan yang sangat tipis atau encer, dan di lain waktu, debit lebih tebal lebih luas mungkin muncul. Semua penjelasan ini bisa dianggap normal. Cairan vagina yang memiliki bau atau yang menjengkelkan biasanya dianggap keluar cairan yang abnormal. Iritasi mungkin gatal atau terbakar, atau keduanya. Gatal dapat hadir pada setiap saat sepanjang hari, tetapi sering paling mengganggu di malam hari. Gejala ini sering diperparah dengan hubungan seksual. Penting untuk menemui dokter Anda jika telah terjadi perubahan dalam jumlah, warna, atau bau debit. Apa Jenis Infeksi vagina? Keenam jenis paling umum infeksi vagina adalah:

Candida atau ragi infeksi. Bakteri vaginosis . Trikomoniasis vaginitis . Chlamydia vaginitis . Viral vaginitis. Non infeksi vaginitis.

Meskipun masing-masing infeksi vagina dapat memiliki gejala yang berbeda, tidak selalu mudah bagi seorang wanita untuk mengetahui jenis dia. Bahkan, diagnosis bahkan bisa rumit untuk seorang dokter berpengalaman. Sebagian dari masalah adalah bahwa kadang-kadang lebih dari satu jenis infeksi dapat hadir pada saat yang sama. Dan, infeksi bahkan mungkin hadir tanpa gejala sama sekali. Untuk membantu Anda lebih memahami enam penyebab utama vaginitis, mari kita melihat sebentar di masing-masing dari mereka dan bagaimana mereka diperlakukan. Apa itu Candida atau Infeksi Vagina? Infeksi jamur vagina adalah apa yang kebanyakan wanita pikirkan ketika mereka mendengar istilah vaginitis. Infeksi jamur vagina yang disebabkan oleh salah satu dari banyak spesies jamur yang disebut Candida. Candida biasanya tinggal dalam jumlah kecil di vagina, serta di mulut dan saluran pencernaan, baik pria dan wanita.

Infeksi jamur dapat menghasilkan debit, tebal vagina putih dengan konsistensi keju cottage meskipun keputihan tidak selalu hadir. Infeksi jamur biasanya menyebabkan vagina dan vulva sangat gatal dan merah. Apakah Infeksi Vagina Menyebar Melalui Seks? Infeksi jamur biasanya tidak ditularkan melalui hubungan seksual dan tidak dianggap sebagai penyakit menular seksual. Apa yang Meningkatkan Risiko Infeksi Vagina? Beberapa hal yang akan meningkatkan risiko terkena infeksi jamur, termasuk:

Pengobatan dengan antibiotik. Sebagai contoh, seorang wanita dapat mengambil antibiotik untuk mengobati infeksi, dan antibiotik membunuh bakteri baik tubuhnya yang biasanya menjaga ragi seimbang. Akibatnya, ragi overgrows dan menyebabkan infeksi. Diabetes tidak terkontrol. Hal ini memungkinkan untuk terlalu banyak gula dalam urin dan vagina. Kehamilan yang mengubah tingkat hormon.

Faktor lain meliputi:


Oral kontrasepsi ( pil KB ). Gangguan yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Tiroid atau gangguan endokrin. Kortikosteroid terapi.

Apakah Infeksi Vagina Diobati? Infeksi jamur yang paling sering diobati dengan obat yang Anda masukkan ke dalam vagina Anda. Obat ini mungkin dalam bentuk krim atau supositoria dan banyak yang tersedia over-thecounter. Pengobatan dalam bentuk pil yang Anda ambil melalui mulut juga tersedia dengan resep. Apa yang Harus Saya Lakukan untuk Mencegah Infeksi Vagina? Untuk mencegah infeksi jamur, Anda harus:

Kenakan pakaian longgar terbuat dari serat alami (katun, linen, sutra). Hindari memakai celana ketat. Batasi penggunaan deodoran feminin. Mengganti pakaian basah, secepat Anda bisa. Hindari sering mandi dengan air hangat. Cuci pakaian dalam air panas. Makan dengan baik diet seimbang . Makan yogurt.

Jika Anda memiliki diabetes, jaga tingkat gula darah hingga mendekati normal mungkin.

Jika Anda mendapatkan infeksi jamur sering, beritahu dokter Anda. Ia mungkin perlu melakukan tes tertentu untuk menyingkirkan kondisi medis lainnya. Apa itu Bakteri Vaginosis? Meskipun jamur adalah nama sebagian besar wanita pikirkan ketika mereka berpikir tentang infeksi vagina, bakteri vaginosis (BV) adalah jenis yang paling umum infeksi vagina pada wanita usia reproduksi. BV disebabkan oleh kombinasi beberapa bakteri. Bakteri ini tampaknya tumbuh terlalu cepat dalam banyak cara yang sama seperti Candida ketika keseimbangan vagina terganggu. Alasan yang tepat untuk pertumbuhan berlebih ini tidak diketahui. Apakah Vaginosis Bakteri Menyebar Melalui Seks? Bakteri vaginosis tidak ditularkan melalui hubungan seksual tetapi lebih sering terjadi pada wanita yang aktif secara seksual. Hal ini juga tidak masalah kesehatan serius tapi dapat meningkatkan risiko wanita terkena penyakit menular seksual lainnya dan dapat meningkatkan risiko penyakit radang panggul (PID) mengikuti prosedur bedah seperti aborsi dan histerektomi . Beberapa penelitian telah menunjukkan peningkatan risiko persalinan dini dan kelahiran prematur pada wanita yang memiliki infeksi selama kehamilan. Namun, penyelidikan yang lebih baru tidak mendukung hubungan ini.

CANDIDIASIS VAGINALIS A. Pengertian

jamur Candidasp Kandidiasis Vaginalis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur, yang terjadi disekitar vagina. Umumnya menyerang orang-orang yang imunnya lemah. Kandidiasis dapat menyerang wanita disegala usia, terutama usia pubertas. Keparahannya berbeda antara satu wanita dengan wanita lain dan dari waktu ke waktu pada wanita yang sama. Candidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies candida, biasanya oleh spesies candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis. Nama lain dari candidiasis adalah kandidosis, dermatocandidiasis, bronchomycosis, mycotic vulvovaginitis, muguet, dan moniliasis. Istilah candidiasis banyak digunakan di Amerika, sedangkan di Kanada, dan negara-negara di Eropa seperti Italia, Perancis, dan Inggris menggunakan istilah Kandidosis, konsisten dengan akhiran osis seperti pada histoplasmosis dan lain-lain. B. Penyebab Kandidiasis Vaginalis disebabkan oleh jamur candida albicans. Selain di vagina dapat menyerang organ lain yaitu kulit, mukosa oral, bronkus, paru-paru, usus dll. Candida biasanya tidak ditularkan melalui hubungan seksual. Kandidiasis vagina lebih sering terjadi terutama karena meningkatnya pemakaian antibiotik, pil KB, dan obat-obatan lainnya yang menyebabkan perubahan suasana vagina sehingga memungkinkan pertumbuhan Candida. Kandidiasis vagina sering

ditemukan pada wanita hamil atau wanita dalam siklus menstruasi dan pada penderita kencing manis. C. Gejala Klinis 1. Mengenai mukosa vulva (labia minora) dan vagina. 2. Bercak putih, kekuningan, heperemia, leukore seperti susu 3. pecah, dan gatal hebat. 4. Dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih.

D. Diagnosa Secret encer, berwarna kuning keabu-abuan, berbau amis yang melekat pada daerah vagina. Selain itu diagnisis dapat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroscopis menggunakan sediaan apus dari secret yang dihasilkan vagina.

E.

Patogenesis Infeksi Kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen. a. Faktor endogen meliputi perubahan fisiologi, umur dan imonologi. Perubahan fisiologi seperti kehamilan (karena perubahan pH dalam vagina): kegemukan (karena banyak keringat); debilitas; latrogenik; endokrinopati (gangguan gula darah kulit); penyakit kronik seperti : tuberculosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk. Umur contohnya : orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologinya tidak sempurna. Imunologi contohnya penyakit genetik. b. Faktor eksogen meliputi : iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan respirasi meningkat, kebersihan kulit. F. Pengobatan 1. Instatin : berupa cream, salep, emulsi.

2. Grup azol : mikonazol 2% berupa cream atau bedak, klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan cream, tiokonazol, bufonazol, isokonazol, siklopiroksolamin 1% larutan, cream, antimikotin yang laen yang berspektrum luas. 3. Untuk kandidiasis vaginalis dapat diberiakan kontrimazol 500mg pervaginam dosis tunggal, sistemik diberikan ketokonazol 2x200mg selam 5 hari atau dengan intrakonazol 2x200mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150mg dosis tunggal. 4. Intrakonazol : bila dipakai untuk kandidiasis vulvovaginalis dosis orang dewasa 2x100mg sehari, selama 3 hari. G. Pencegahan Obat-obatan tidak biasa dipakai untuk mencegah kandidiasis. Ada beberapa alasan : a. Penyakit tersebut tidak begitu bahaya. b. Ada obat-obatan yang efektif untuk mengobati penyakit tersebut. c. Ragi dapat menjadi kebal ( resistan ) terhadap obat-obatan. Memperkuat sistem kekebalan tubuh adalah cara terbaik untuk mencegah jangkitan kandidiasis. Sumber: : http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/candidiasisvaginalis.html#ixzz2ijfE32Xv