Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan elemn-elemen lain dalam suatu sistem pekerjaan yang mengaplikasikan teori , prinsip , data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal , dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya (International Ergonomic Assosiation,2002). Ergonomi menjembatani berbagai lapangan ilmu , seperti teknik ,fisik, pengalaman psikis ,anatomi (berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian ), anthropometri ,sosiologi ,fisiologi ,desain ,dan lain-lain (Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI) . Fokus utama Ergonomi adalah perencanaan tata kerja dan peralatan yang digunakan. Berdasarkan definisi ergonomi pada paragraf di atas,ergonomi dapat meningkatkan produktivitas , seperti yang dijelaskan oleh Sumamur (1989) tentang penerapan ergonomi pada berbagai bidang pekerjaan telah menyebabkan kenaikan produktivitas secara jelas .

Setiap pekerjaan memiliki risiko yang sesuai dengan tingkat pekerjaan itu sendiri. Pekerja yang pekerjaannya lebih banyak menggunakan tenaga dalam bekeja akan lebih berisiko terkena gangguan otot rangka atau musculosketal disoders (MSDs) , seperti low back pain (LBP). Pada penelitian ini , kami mengamati pekerja yang lebih banyak menggunakan tenaga dalam bekerja , yaitu kuli panggul .

Kuli panggul merupakan salah satu dari banyak jenis pekerjaan sektor informal . Pekerjaan sektor informal merupakan kegiatan ekonomi tradisional , usaha-usaha diluar sektor modern yang sederhana,skala usaha relatif kecil, dan biasanya belum terorganisir dengan baik (Suryana,2011). Sementara itu ,menurut Mikheev (ICOHIS, 1997) dalam suryana ,sulistomo , dkk., 2001, ciri-ciri industri sektor informal adalah sebagai berikut : 1) mempunyai risiko bahaya pekerjaan yang tinggi , 2) keterbatasan sumber daya untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan pengadaan pelayanan kesehatan kerja yang adekuat ,3) rendahnya kesadaran terhadap faktor-faktor risiko kesehatan kerja , 4) kondisi MAKALAH ERGONOMI
1

pekerjaan yang tidak ergonomis , kerja fisik yang berat ,dan jam kerja yang panjang , 5) struktur kerja yang beraneka ragam disertai dengan rendahnya pengawasan manajemen dan pengawasan bahaya-bahaya pekerjaan , 6) anggota keluarga sering terpajan bahaya-bahaya akibat pekerjaan , 7) masalah perlindungan lingkungan tidak terpecahkan dengan baik , 8) kurangnya pemeliharaan kesehatan kerja , jaminan sosial (asuransi kesehatan), dan fasilitas kesejahteraan. Pekerjaan sebagai kuli panggul termasuk dalam kegiatan manual handling (mengangkat , menarik ,mendorong , membawa , dll) . Kegiatan manual handling mengambil porsi yang cukup besar yaitu sebesar 30% (Straker , 2000) untuk menimbulkan low back pain . Cidera yang dialami biasanya mengenai bagian punggung yaitu sekitar 60 % dari seluruh cidera akibat manual handling . Di Amerika sekitar 500.000 pekerja menderita cedera akibat kelebihan kerja (overexertion injury) setiap tahunnya . Sekitar 60% dari sakit punggung yang dilaporkan pekerja disebabkan oleh overexertion dimana 60% dari overexertion tersebut 40% disebabkan oleh kegiatan mengangkat (lifting), dan 20% karena mendorong (pushing) dan menarik (pulling) (NIOSH 1981). Oleh karena itu, dalam makalah ini kami membahas informasi tentang Identifikasi Hubungan Ergonomi dengan Pekerjaan Manual Handling Pada Kuli Panggul.

1.2 Perumusan Masalah 1. Menjelaskan hubungan antara ergonomi dengan pekerjaan manual handling pada kuli panggul? 2. Apa saja faktor risiko yang ada dalam pekerjaan sebagai kuli panggul? 3. Apa saja kelainan atau gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada pekerja kuli panggul? 4. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pekerja kuli panggul ?

MAKALAH ERGONOMI

1.3 Tujuan Penulisan 1. Mengidentifikasi hubungan antara ergonomi dengan pekerjaan manual handling pada kuli panggul. 2. Mengidentifikasi faktor risiko yang ada dalam pekerjaan sebagai kuli panggul. 3. Mengidentifikasi kelainan atau gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada pekerja kuli panggul. 4. Mengetahui bagaimana cara atau upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pekerja kuli panggul.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Sebagai aplikasi keilmuan untuk memenuhi tugas matakuliah Ergonomi . 2. Sebagai bahan masukan dalam rangka memperkaya pembendaharaan ilmu dan pengetahuan di bidang K3 , khususnya mengenai faktor-faktor risiko pekerjaan manual handling pada kuli panggul. 3. Sebagai referensi dan informasi bagi mahasiswa lainnya yang akan melakukan kegiatan serupa.

MAKALAH ERGONOMI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ergonomi Ergonomi berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum/aturan. Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat, istilah ergonomi dikenal dengan istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomic dan human factor) sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama. Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi berawal saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. 2.1.1 Definisi Ergonomi Mc Coinick, 1993, menjelaskan ergonomi secara fokus, tujuan, dan pendekatan ergonomi: a. Secara fokus Fokus ergonomi terletak pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja. b. Secara tujuan Tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya. c. Secara pendekatan Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari. Berdasarkan ketiga pendekatan diatas, definisi ergonomi dapat dirangkum dalam definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.

MAKALAH ERGONOMI

Iftikar Z. Sutalaksana (1979) dalam Milson (2010) mendefinisikan ergonomi sebagai suatu suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman dan nyaman. Kroemer dan Grandjean (1997) dalam Anies (2005), menyatakan ergonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya. Dengan kata lain, sebagai suatu usaha dalam bentuk ilmu, teknologi, dan seni untuk menyerasikan peralatan, mesin, pekerjaan, sistem, organisasi dan lingkungan dengan kemampuan, keahlian, dan keterbatasan manusia sehingga tercapai kondisi dan lingkungan yang aman, nyaman, sehat, efisien dan produktif melalui pemanfaatan tubuh manusia secara optimal dan maksimal. Ergonomi adalah disiplin ilmu yang berorientasi pada sistem yang berlaku untuk semua aspek kegiatan manusia. Ergonomi memiliki pemahaman yang luas dari ruang lingkup disiplin ilmu dan mempertimbangkan kondisi fisik, kognitif, social, organisasi, lingkungan dan faktor relevan lainnya (Internasional Ergonomics Association, 2011).

2.1.2 Pengendalian Risiko Ergonomi Kurniawidjaja (2011) menyatakan bahwa perbaikan ergonomi pun dilaksanakan menggunakan siklus Antisipasi, Rekognisi, Evaluasi dan Pengendalian (AREP) sama seperti manajemen risiko perbaikan lingkungan kerja. a. Antisipasi Kegiatan antisipasi dilakukan sebelum dampak kesehatan terjadi. Hal ini bertujuan supaya langkah perbaikan dapat berjalan sesuai dengan rencana sehingga dapat terhindar musculoskeletal disorders. Hazard ergonomi yang perlu diantisipasi di tempat kerja yaitu postur janggal, frekuensi, durasi, dan beban kerja akibat tata ruang dan alat kerja yang tidak ergonomis, serta bagian tubuh yang dapat mengalami CTDs. b. Rekognisi Dilakukan dengan survei jalan selintas, observasi, wawancara, atau menggunakan data dari ergonomis dan rekam medis. Bila memungkinkan, melakukan pengukuran dengan cara sederhana, misalnya membuat foto untuk mengidentifikasi postur janggal, dan membuat video untuk mendapatkan gerakan yang statis selama kerja c. Evaluasi Evaluasi dimulai dengan melakukan pengukuran terhadap hazard secara lebih spesifik dan sistematis, dengan menggunakan metode terpilih seperti rapid upper limb assessment (RULA), rapid Entire Body Assessment (REBA), Norlic Body Map (NBM), dan lain sebagainya. Penggunaannya disesuaikan dengan jenis hazard yang ada. Langkah selanjutnya dibandingkan dengan kondisi fisiologis normal tubuh (misalnya posisi MAKALAH ERGONOMI
5

normal tubuh) dan dibandingkan dengan nilai yang telah distandardisasi pada masingmasing metode pengukuran yang dipergunakan. d. Pengendalian Setelah kita mengetahui tingkat resiko ergonomi pada pekerja serta penilaiannya, selanjutnya dilakukan tindakan pengendalian. Pengendalian tersebut dapat didasarkan pada masing-masing faktor resiko yang ada : 1. Postur janggal. Misalnya meletakkan persendian pada posisi netral, hindari bekerja dengan tangan diatas kepala atau bahu, hindari membungkuk, hindari perputaran tulang belakang, hindari pergerakan dan kekuatan mendadak, hindari posisi yang sama dalam waktu yang lama, pengaturan perlengkapan kerja, agar berada pada jarak terjangkau, modifikasi tinggi tempat kerja dan tinggi monitor, penggunaan platforms. 2. Frekuensi. Misalnya pengaturan pekerjaan untuk menghindari gerakan yang tidak perlu, bekerja bergantian jika memungkinkan, hindari pergerakan sama dalam waktu lama, dan modifikasi pola kerja. 3. Durasi. Misalnya dengan pengaturan jam kerja, stretchin, istirahat pendek. 4. Beban kerja. Misalnya dengan mendekatkan beban atau pekerjaan pada tubuh pekerja, penggunaan alat bantu mekanik, penggunaan tangga untuk meraih objek di tempat yang tinggi, penyimpanan objek yang sedang tidak digunakan, cegah kelelahan otot baik besar atau kecil.

2.2 Manual Handling Manual handling merupakan suatu aktifitas dimana manusia mengerahkan tenaga besar untuk melakukan kegiatan seperti mengangkat, mengangkut, mendorong, menarik atau gerakangerakan lain seperti memegang dan mengendalikan beberapa objek yang bergerak maupun yang tidak bergerak, mencakup menarik tuas, menahan, atau mengoperasikan perkakas mesin (Occupational Health and Safety Commission, 1990, 11). Sebuah benda dapat menjadi bahaya karena beberapa faktor, yaitu berat, ukuran, bentuk (berpengaruh pada pegangan), pegangan yang tidak memadai, memiliki permukaan yang licin ataupun berbahaya/merusak, dan tidak seimbang. Sedangkan sebuah pekerjaan/metode dapat menjadi berbahaya jika pekerjaan/metode tersebut termasuk kegiatan mengangkat, tidak memungkinkan untuk mendekati benda, benda yang akan ditangani terlalu rendah atau tinggi, menyebabkan terjadinya postur berbahaya atau perpindahan yang berbahaya(twisting, bending, dan reaching). Menurut Ridley 2008, permasalahan umum yang dihadapi dengan beban meliputi bobot, bentuk, ukuran, kepadatan atau kelonggaran kemasan, dan kedudukan beban yang tidak di tengah.

MAKALAH ERGONOMI

Jenis-jenis kegiatan manual handling dan cara mengurangi risiko MSDs yang dapat ditimbulkan dari kegiatan tersebut menurut Industrial Accident Prevention Association, 2006: 1. Mengangkat dan menurunkan Cara mengurangi risiko dari kegiataan mengangkat dan menurunkan ini adalah dengan menghilangkan keharusan melakukan kegiatan mengangkat atau menurunkan secara manual dengan menyediakan dan memastikan penggunaan alat bantu secara tepat, contoh truk pngangkat, crames, lift barang, hoist, handlift, dll. 2. Membawa dan Menahan Cara untuk mengurangi risiko kegiatan membawa dan menahan adalah dengan menggunakan slings atau trolley, membawa barang secara bertahap apabila barang tersebut overload, serta membatasi jarak perpindahan barang tersebut. Pada saat seseorang melakukan kegiatan mengangkat, menurunkan, menarik, mendorong, menahan, dan membawa barang, perlu dilakukan dengan baik dan benar karena jika terjadi kesalahan dapet menyebabkan slipped disks. Ketika batang tubuh tertekuk saat membungkuk untuk mengangkat beban, lumbal disk invertebralis mengalami penekanan dari atas dan bawahnya, pergerakan yang mendadak ataupun berat badan yang melebihi kapasitas normal manusia harus dihindari untuk mencegah terjadinya penekanan dan oergeseran pada disks. Aktifitas yang dilakukan dengan postur terlalu membungkuk, gerakan memutar (twisting), beban yang berlebihan yang dilakukan secra berulang-ulang ini sangat beresiko terhadap kerussakan disk. Sepuluh pedoman pelaksanaan kegiatan manual handling menurut corlett, 1998 adalah : 1. Sedapat mungkin hindari kegiatan mengangkat. Apabila mengharuskan melakukan kegiatan mengangkat, pastikan menggunakan cara dan peralatan yang benar. 2. Tidak mengangkat beban diluar kemampuan tanpa bantuan yang sesuai 3. Jumlah gerakan fleksi pada punggung untuk melakukan tugas, kisaran rotasi, side bending harus diminumkan 4. Persyaratan untuk beban harus didukung oleh kekuatan yang digunakan diatas bagian penting dari siklus kerja harus diminimalkan. 5. Penanganan beban pada ketinggian di bawah lutut atau di atas bahu harus dihilangkan 6. Hindari menggenggam yang tidak menggunakan kekuatan merata antara kedua tangan/lengan. 7. Memastikan ruang yang cukup untuk digunakan dalam melakukan tugas. 8. Pilihlah rekan dengan ketinggian yang hampir sama dalam melakukan kegiatan mengangkat. 9. Hindari gerakan menyentak secara tiba-tiba. 10. Sedapat mungkin gunakan punggung dan otot uper limb untuk menstabilkan beban.

MAKALAH ERGONOMI

2.3 Kuli Panggul Kuli panggul merupakan orang yg bekerja dengan mengandalkan kekuatan fisiknya (seperti membongkar muatan kapal, mengangkut barang dari stasiun satu tempat ke tempat lain) pekerja kasar. Kuli panggul merupakan salah satu dari banyak jenis pekerjaan sektor informal . Pekerjaan sektor informal merupakan kegiatan ekonomi tradisional , usaha-usaha diluar sektor modern yang sederhana,skala usaha relatif kecil, dan biasanya belum terorganisir dengan baik (Suryana,2011).

MAKALAH ERGONOMI

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Faktor-faktor Risiko Pekerjaan Kuli Panggul 1.Stress Kerja Pekerjaan seperti kuli panggul dipasar dapat menyebabkan kebosanan karena kesehariannya mereka hanya bekerja mengangkat barang berat dari satu tempat ketempat lainnya dan itu dilakukan secara berulang-ulang. Selain melakukan pekerjaan yang berulang-ulang dan monoton seperti itu, kuli panggul pun harus mengangkat barang-barang yang berat sehingga mereka pun mengalami kelelahan secara fisik. Hal ini dapat menyebabkan kemunduran dalam produktifitas kerjanya. Biasanya apabila kuli panggul ini mengalami kebosanan, kebanyakan dari mereka suka melamun saat bekerja. Hal ini dikarenakan konsentrasi kuli panggul itu menurun yang diakibatkan dari rasa bosan pada pekerjaannya dan juga akibat dari kelelahan yang timbul karena pekerjaan berat yang dilakukannya, sehingga hal tersebut mempengaruhi kuli panggul menjadi lebih sering melamun. Ada juga kuli panggul yang mengalami kebosanan yaitu sering mengajak temannya mengobrol sehingga sama-sama tidak fokus dalam pekerjaannya dan memperlambat waktu bekerja, contohnya saja, tanpa mengobrol kuli panggul di suatu pasar dapat mengangkut 10 barang yang di angkut secara bergantian dalam satu jam, tetapi karena sambil mengobrol, kuli tersebut hanya bisa mengangkut 8 barang secara bergantian dalam waktu satu jam. Biasanya karena kebosanan ini, kuli panggul lebih sering frustasi yang dapat dilihat tandanya antara lain, lebih cepat marah. Hal ini disebabkan karena dia bosan dengan pekerjaannya yang kemudian timbul kejenuhan dan kejenuhan tersebut akan mempengaruhi mood kuli panggul itu menjadi lebih sensitif sehingga mereka akan lebih cepat marah.

MAKALAH ERGONOMI

2. MSDs MSDs adalah gangguan yang terjadi ketika terdapat ketidaksesuaian antara kebutuhan fisik pekerjaan dan kapasitas fisik dari tubuh manusia (Safety and Health Assessment and Research for Prevention). Nama lain dari MSDs adalah repreritivi motion injuries, repreritive strain injuries, cumulative trauma disorders, ovense syndrome, dan lain-lain (Canadian Center for Occupational Health and Safety). Jenis-jenis MSDs

Canadian Center for Occupational Health and Safety menyatakan bahwa MSDs terjadi secara bertahap sebagai akibat dari trauma berulang, bukan terjadi akibat dari kecelakaan tunggal atau cedera. Peregangan otot dan tendon yang berlebihan dapat menyebabkan cedera yang berlangsung dalam waktu singkat. Tapi jika hal ini terus berulang maka lama kelamaan dapat menyebabkan MSDs. mSDs mencakup tiga jenis cedera, yaitu : 1. Cedera Otot Kontraksi otot yang berlangsung lama dapat mengurangi aliran darah. Akibatnya, zat-zat yang dihasilkan oleh otot tidak dapat dibuang dengan cepat sehingga terjadi penumpukkan. Akumulasi zat ini mengganggu otot dan menyebabkan nyeri. Tingkat keparahan nyeri tergantung pada durasi kontraksi dan kerja otot. 2. Cedera Tendon Tendon terdiri dari kumpulan berbagai serat otot yang melekat ke tulang. Cedera tendon berhubungan dengan aktivitas kerja yang berulang dan postur janggal. Cedera ini umumnya ditemukan terutama pada tangan dan pergelangan tangan, sekitar bahu, siku, dan lengan bawah. 3. Cedera Saraf Saraf berfungsi membawa sinyal dari otak untuk mengendalikan aktivitas otot. Saraf dikelilingi oleh otot-otot, tendon, dan ligmen. Dengan adanya gerakan berulang dan postur janggal, jaringan di sekitar saraf menjadi bengkak, dan peras atau kompresi saraf. Kompresi saraf menyebabkan kelemahan otot, sensasi kesemutan dan mati rasa. Kekeringan pada kulit, dan sirkulasi yang buruk ke kaki, juga dapat terjadi. Gejala MSDs

Nyeri adalah gejala yang paling umum yang terjadi dalam MSDs. Dalam beberapa kasus mungkin terjadi kekakuan sendi, kekakuan otot, kemerahan, dan pembengkakan pada daerah yang terkena, seperti kesemutan, mati rasa, perubahan warna kulit, dan penurunan keringat tangan. MSDs berkembang secara bertahap dari ringan sampai parah. MAKALAH ERGONOMI
10

1. Tahap awal : Sakit dan kelelahan dari anggota badan yang terkena, terjadi selama shift kerja, tetapi hilang pada malam hari dan selama hari-hari libur kerja. Tidak terjadi penurunan kinerja 2. Tahap peralihan : Sakit dan kelelahan terjadi di awal shift kerja dan bertahan di malam hari dan mengurangi kapasitas untuk pekerjaan beruang-ulang. 3. Tahap akhir : Sakit, kelelahan, dan kelemahan bertahan saat istirahat. Ketidakmampuan untuk tidur dan melakukan tugas ringan. Tidak semua orang melewati tahapan ini dengan cara yang sama. Bahkan, mungkin sulit untuk mengatakan kapan tepatnya suatu tahap berakhir dan mulai tahap berikutnya. Rasa sakit merupakan sinyal bahwa otot-otot dan tendon harus beristirahat dan dipulihkan. Jika dibiarkan, cedera dapat berkembang dan menjadi irreversible. Semakin cepat gejala awal dikenali, semakin cepat tindakan yang dapat diputuskan dan dilakukan (Canadian Cenr=ter for Occupational Health and Safety). 3. Penyakit hernia Penyakit Hernia artinya adalah penyakit yang terjadi karena organ tubuh yang keluar dari ruangan aslinya (biasanya adalah usus) dan berpindah ke ruangan organ tubuh yang lain melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding ruangan. Akan terlihat berupa benjolan pada daerah lipatan paha pada penderita. Selain lipatan paha, usus dapat berpindah ke bagian pusar, atau area diafragma.

MAKALAH ERGONOMI

11

Sedangkan pada orang dewasa, penyakit ini sering terjadi pada kulit panggul yang sering mengangkat beban-beban berat, pemain saksofon, atau orang yang sudah berusia lanjut. Pada orang dewasa penyakit ini disebabkan adanya tekanan yang tinggi dan terus-menerus pada rongga perut atau melemahnya otot dinding perut dan jaringan penyangga usus yang bisa terjadi karena faktor usia. Tekanan pada rongga perut itu dapat terjadi karena memiliki masalah kesehatan konstipasi (susah buang air besar) sehingga seringkali mengejan, hampir sama dengan pemain saksofon, dan penderita batuk kronis. Gejala-gejala Penyakit Hernia

Berikut ini adalah gejala penyakit hernia. 1. Penderita penyakit hernia sering mengeluhkan rasa tidak nyaman hingga nyeri di daerah bawah perut dan pangkal atau lipatan paha. 2. Akan timbul benjolan yang mengeras lalu kadang menghilang dan muncul kembali. 3. Apabila batuk, bersin, mengejan, atau mengangkat beban yang berat, gejala nyeri dapat semakin parah. 4. Pada penyakit hernia akut yang menimbulkan penyumbatan pada usus, dapat juga terjadi gejala mual dan muntah. Selain itu pertanda jika penyakit hernia semakin parah dapat dilihat dari semakin membesarnya benjolan dan semakin bertambahnya rasa sakit. Hal ini terjadi karena berkurangnya suplay darah ke bagian yang keluar akibat terjepit. Penyakit ini bisa menjadi berbahaya apabila terjadi infeksi karena dapat menjalar ke seluruh tubuh dan menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa. Jika sudah seperti ini maka penanganan medis dengan pembedahan tidak dapat ditawar lagi. Saat ini satu-satunya tindakan medis yang efektif untuk menyembuhkan penyakit hernia adalah dengan operasi. Tips mencegah Penyakit Hernia

Namun jangan cemas, Anda masih dapat mencegah terjadinya penyakit ini dengan cara: 1. Berolahragalah secara teratur sejak dini untuk memperkuat otot. Hal ini dapat mengantisipasi melemahnya otot akibat usia lanjut. 2. Banyaklah makan buah dan sayur terutama yang mengandung serat agar Anda tidak mengalami konstipasi. 3. Jangan menggunakan otot punggung untuk mengangkat beban berat. Gunakan kekuatan kaki untuk membantu mengangkat beban. 4. Segeralah mengunjungi dokter jika mendapat masalah dalam buang air kecil, karena dapat memicu penyakit hernia.

MAKALAH ERGONOMI

12

3.2 Desain Penanggulangan Faktor Risiko Bahaya Pekerjaan Kuli Panggul Quick Exposure Checlist (QEC) Menurut Li dan Buckle, 1999, dalam Stanton, Hedge, et al., 2005, QEC merupakan metode penilaian pajanan risiko secara cepat dari suatu pekerjaan yang berhubungan dengan penyakit musculoskeletal (MSDs). Metode ini diciptakan berdasarkan keinginan para praktisi dan penulis untuk melihat penyebab utama terjadinya MSDs (Bernard, 1997) QEC memiliki sensitivitas yang tinggi (kemampuanuntuk mengidentifikasi perubahan dalam pajanan sebelum dan setelah intervensi ergonomi), baik keandalan interobserver yang dapat diterima (Li dan Buckle, 1999). Langkah-langkah penilaian denagan men menggunakan QEC adalah : 1. Self Training (latihan mandiri) Untuk pengguna baru, panduan pada QEC Users Guide harus terlebih dahulu dipahami. Tools ini didesain untuk melihat perubahan yang berisiko terhadap musculoskeletal, baik sebelum mauupun setelah dilakukan intervensi. Observers Assesment Checklist (Checklist penilaian oleh pengamat) Menggunakan checklist observers assessment Jika suatu pekerjaan terdiri dari beberapa sub task, sebaiknya dibagi menjadi beberapa task dan dapat dilakukan QEC pada masing-masing task Jika pekerjaan tersebut sulit untuk dibagi menjadi sub task, maka lihatlah worst even dalam pekerjaannya Bisa menggunakan observasi langsung atau video Pada Table of Exposure Scores, hasil checklist oleh pengamat dilambangkan dengan huruf capital. 3. Workers Assessment Checklist (Checklis penilaian pekerja) Setelah melakukan observasi pekerjaan tersebut, kemudian lakukan wawancara berdasarkan daftar pertanyaan QEC untuk mengetahui berat badan, waktu kerja/durasi, getaran, pencahayaan, kesulitan dan stress yang dirasakan pekerja Berbentuk sama dengan wawncar terstruktur Pada table of exposure scores, hasil checklist oleh pekerja dilambangkan dengan huruf kecil. 2. 4. Calculation of Exposure Scores (penghitungan nilai pajanan) Untuk menggabungkan hasil dari observers assessment dan workers assessment, digunakan Table of Exposure Scores untuk menghitung skor pada MAKALAH ERGONOMI
13

setiap tugas yang dinilai. Tahapan penghitungan skor dengan Table of Exposure Scores adalah : a. Tandai kode yang sesuai dengan jawaban dari observers assessment dan workers assessment b. Tandai nomor pada titik persimpangan setiap pasang nilai dan tandai, lalu tuliskan nilai skornya pada kotak skor c. Hitung total skor untuk setiap bagian tubuh. d. Hitung total skor QEC menggunakan rumus penghitungan E% E% = X . 100% max X Keterangan : E = skor EP X = Total Skor Xmax = untuk manual handling ( Xmax 176) dan selain manual handling (Xmax 162) 5. Consideration of action (tidak lanjut) Metode QEC secara cepat dapat mengidentifikasi tingkat pajanan untuk bahu, punggung/lengan, pergelangan tangan/tangan, dan leher, dan juga sebagai metodeevaluasi untuk melihat apakah intervensi ergonomic secara efektif dapat mengurangi tingkat pajanan tersebut. Preliminary action levels QEC juga mengacu pada RULA (McAtamney dan Corlett, 1993) seperti ditunjukkan pada table dibawah ini. Sama seperti metode analisis tingkat risiko lainnya, QEC juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut adalah table kelebihan dan kelemahan QEC. Kelebihan Mencakup beberapa faktor risiko Dapat digunakan untuk para pengguna yang berpengalaman Mempertimbangkan kombinasi dan interaksi berbagai faktor risiko di tempat kerja Tingkat sensitivitas dan pengguna yang baik Mudah dipelajari dan cepat digunakan Kekurangan 1. Metode hanya menfokuskan pada faktor fisik ditempat kerja 2. Hasil pengamatan kurang valid 3. Latihan tambahan dan praktek mungkin diperlukan untuk meningkatkan penilaian pengamat
14

1. 2. 3.

4. 5.

MAKALAH ERGONOMI

Rapid Uper Limb Assessment (RULA) RULA merupakan metode assessment untuk menginvestigasi faktor risiko ergonomi di tempat kerja, yang memungkinkan terjadinya gangguan musculoskeletal. RULA mengkaji risiko ergonomi pada leher, punggung, lengan atas, lengan bawah, dan pergelangan tangan yang termasuk dalam anggota tubuh bagian atas. RULA juga memperhitungkan faktor lain seperti penggunaan otot dan berat badan. RULA digunakan untuk mengkaji pekerjaan yang menetap atau tidak berpindah-pindah, seperti pekerjaan komputer, manufaktur atau kasir. Manfaat RULA adalah : 1. 2. 3. 4. Menghitung risiko pada musculoskeletal Membandingkan beban musculoskeletal yang ada dan modifikasi desain kerja Mengevaluasi output, seperti produktivitas atau keserasian alat Mendidik pekerja tentang risiko pada musculoskeletal akibat postur kerja

Sedangkan kelemahan RULA adalah : 1. Tidak dapat mengkaji kegiatan manual material handling, atau pekerjaan dengan pergerakan yang signifikan 2. Tidak sesuai untuk mengkaji pekerjaan dengan postur yang tidak beraturan, atau dengan variasi task yang berbeda jauh 3. Digunakan untuk mengkaji postur bagian kiri atau kanan tubuh secara terpisah, dan tidak ada metode untuk menggabungkan hasil keduanya 4. Digunakan untuk mengamati postur kerja pada suatu waktu dan pada kondisi terburuk saja 5. Tidak memperhitungkan efek kumulatif dari rangkaian task secara keseluruhan 6. Tidak memperhitungkan durasi waktu task yang diamati 7. Hasil berupa tingkatan risiko secaraumum, tidak dapat memastikan injuri pada pekerja 8. Tidak memperhitungkan faktor risiko individu, seperti umur, jenis kelamin dan riwayat kesehatan pekerja Rapid Entire Body Assessment (REBA) Rapid Entire Body Assessment merupakan kajian ergonomi yang dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang terkait dengan postur pada saat bekerja. REBA dikembangkan untuk mengkaji postur kerja di industry pelayanan kesehatan. Berbagai metode kajian, berdasarkan kategori metode checklist, manual materian handling, kombinasi seluruh tubuh dan computer based.

MAKALAH ERGONOMI

15

REBA dapat digunakan bila : a. b. c. d. Seluruh tubuh yang sedang digunakan Postur statis, dinamis, kecepatan perubahan, atau postur yang tidak stabil Pengangkatan yang sedang dilakukan, dan seberapa sering frekuensinya Modifikasi tempat kerja, peralatan, pelatihan atau perilaku pekerja

REBA tidak secara khusus dirancang untuk memenuhi standar tertentu, tetapi telah digunakan di Inggris untuk penilaian yang berhubungan dengan Manual Handling Operation. REBA juga telah banyak digunakan secara internasional dan termasuk dalam Standar Program Ergonomi US. Penilaian REBA dilakukan melalui enam tahap. Tahap-tahap tersebut adalah : 1. Observasi pekerjaan, yang meliputi : a. Identifikasi faktor risiko ergonomic b. Desain tempat kerja c. Lingkungan kerja d. Penggunaan peralatan kerja e. Perilaku atau sikap kerja 2. Menilih postur yang akan dikaji, yang meliputi : a. Postur yang sering dilakukan b. Postur dimana pekerja lama dengan posisi tersebut c. Postur yang membutuhkan banyak tenaga atau aktivitas otot d. Postur yang menyebabkan tidak nyaman e. Postur ekstrim, janggal, dan tidak stabil f. Postur yang mungkin dapat diperbaiki oleh intervensi, control, atau perubahan lainnya. 3. Penilaian postur, dengan menggunakan kertas penilaian dan menghitung skor postur 4. Penilaian menggunakan tabel 5. Penghitungan nilai REBA 6. Menentukan nilai tingkat aktivitas untuk melakukan pengkajian lanjutan. Penentuan tingkatan aktivitas berdasarkan criteria sebagai berikut : 1 = Risiko dapat ditiadakan / diabaikan 2 3 = Risiko rendah, perubahan mungkin dibutuhkan 4 7 = Risiko menengah, investigasi lebih lanjut, perubahan segera 8 10 = Risiko tinggi, investigasi dan lakukan perubahan 11+ = Risiko sanagat tinggi dan lakukan perubahan

MAKALAH ERGONOMI

16

Table dibawah ini akan menjelaskan kelebihan dan kelemahan REBA. 1. 2. Kelebihan Untuk menilai tipe postur kerja yang tidak dapat diprediksi Hasil skor REBA dapat menunjukkan tingkat risiko danpentingnya tindakan yang perlu dilakukan Diaplikasikan untuk seluruh tubuh yang bekerja Dapat digunakan untuk pekerjaan dengan postur statis dinamis, cepat berubah atau tidak stabil Dapat dibuat animasi komputer Kelemahan 1. REBA hanya alat analisis untuk menilai animasi load handling

3. 4.

5.

Ovako Working Posture Analysis System (OWAS) OWAS (OWAS, 2009) merupakan sebuah prosedur untuk menilai kualitas sebuah postur terutama ketika sedang menerapkan kekuatan. Pada tahun 1992, OWAS dikembangkan bersama dengan pabrik baja Oako pada pertengahan tahun 1970-an. OWAS mengidentisi bagian-bagian tubuh, seperti tulang belakang (4 postur), lengan (3 postur), dan kaki (7 postur). Hasil pengamatan melalui OWA dikategorikan ke dalam empat kategori, yaitu : 1. Action Categories 1 = tidak ada/tidak perlu tindakan koreksi 2. Action Categories 2 = tindakan koreksi dalam waktu dekat 3. Action Categories 3 = tindakan koreksi sesegera mungkin 4. Action Categories 4 =segera lakukan perbaikan/tindakan koreksi Manual Handling Chart Assessment (MAC Tools) Manual Handling Assessment Chart adalah alat baru yang dirancang untuk membantu Inspektur Kesehatan dan Keselamatan menilai faktor risiko yang paling umum dalam mengangkat dan menurunkan, membawa dan tim penanganan operasi. MAC Tools merupakan alat skrining awal untuk mengidentifikasi kegiatan penanganan manual yang beresiko tinggi dengan menggabungkan system penilaian numeric untuk membantu dengan memprioritaskan intervensi dan menggunakan skema warna yang menunjukkan unsure mana dari tugas manual handling yang beresiko tinggi. Ada tiga jenis penilaian yang dapat dilakukan dengan MAC, yaitu lifting operations (mengangkat), carrying operations (membawa), dan team handling operations (teim penanganan). Langkahlangkah menyelesaikan penilaian menggunakan MAC adalah : MAKALAH ERGONOMI
17

a. Luangkan waktu mengamati tugas untuk memastikan bahwa apa yang diamati adalah perwakilan dari prosedur kerja normal b. Konsultasikan dengan pekerja dan perwakilan keselamatan selama proses penilaian c. Ketika beberapa pekerja melakukan tugas yang sama, pengamat harus memilih beberapa wawasan kedalam tuntutan pekerjaan dari perspkektif semua pekerja yang bertujuan untuk membantu merekam tugas sehingga anda dapat melihatnyalagi, bila perlu jauh dari tempat kerja d. Pilih jenis yang sesuai penilaian. Jika tugas tersebut melibatkan lifting dan carrying, maka harus dipertimbangkan secara baik e. Pengamat harus memahami panduan dengan jelas sebelum melakukan penilaian f. Ikuti panduan penilaian yang tepat dan diagram alur dalam menentukan t ingkat risiko untuk masing-masing faktor risiko 3.3 Aturan Penanggulangan Faktor Risiko Bahaya Pekerjaan Kuli Panggul

1. Cara-Cara Memindahkan Barang yang Benar dan Aman : Langkah I 1. Posisi jongkok, tumpuan pada tengah badan dan salah satu kaki menjadi pengungkit. 2. Benda yang diangkat harus dekat dengan tubuh. 3. Kedua tangan memegang sisi barang yang akan diangkat. 4. Punggung tegak lurus. Langkah II 1. Benda diangkat pelan-pelan. 2. Punggung tetap tegak lurus. Langkah III 1. Benda diangkat setinggi perut dan siap dipindahkan. 2. Badan tetap tegak. 3. Kaki melangkah menuju tempat barang akan dipindahkan.

MAKALAH ERGONOMI

18

Posisi sebelah kiri bukan cara yang tepat untuk mengankut barang dari lantai, posisi yang benar adalah yang sebelah kanan. Analisisnya adalah sebagai berikut: posisi sebelah kiri menyebabkan beban tumpuan berada pada daerah pinggang dimana pada daerah tersebut sangat memungkinkan terjadi pergeseran otot yang menyebabkan rasa sakit pada pinggang (bahasa jawanya sakit encok), sebaliknya posisi sebelah kanan mengalihkan beban tumpuan ke daerah kaki (betis, lutut, dan paha) yang notabene lebih kuat daripada daerah pinggang. Bukan berarti bahwa kita tidak bisa mengangkut barang dengan posisi sebelah kiri, namun karena kemungkinan besar terjadinya resiko sakit tersebut (apalagi jika barang yang diangkut punya beban yang sangat berat) jadi sebaiknya gunakanlah posisi sebelah kanan.

2. Penggunaan Forklift Forklift adalah suatu alat/kendaraan yang menggunakan garpu atau clamp dipasang pada mast untuk mengangkat, menurunkan dan memindahkan suatu benda dari suatu tempat ke tempat lain. sistem pengangkat adalah gabungan dari dua batang rail vertikal sebagai penuntun disebut mast, garpu (media pengangkat lain) bergerak naik/turun pada mast dan sistem hydraulic yang menggerakkannya.Mast dihubungkan ke badan forklift oleh hydraulic silinder yang menggerakkan mast ke depan dan ke belakang. Badan forklift mempunyai banyak keutamaan seperti mobil: sebuah tenaga penggerak (dengan mesin, kopling, transmisi dan gardan) axle depan dan belakang rem dan chassis.

MAKALAH ERGONOMI

19

sedangkan dalam forklift battery tenaga berupa penggerak battery, controller dan motor listrik. umumnya roda depan sebagai roda penggerak, sedangkan belakang sebagai kemudi.

Peraturan terkait mengoperasikan forklift perlu digalakkan di tempat kerja agar hal-hal di atas tidak terjadi di tempat kerja kita. perhatikan peraturan keselamatan di bawah ini! PERATURAN DASAR KESELAMATAN Forklift hanya dikendarai oleh operator yang sudah kompeten dan sudah detraining Operator harus mempunyai fisik dan mental yang sehat Operator harus mempunyai penglihatan yang baik dan tidak buta warna Operator harus mempunyai perhitungan yang baik Buatlah peraturan tentang kecepatan maksimum didalam gudang 5 Km/jam dan di luar gudang 15 Km/jam 6. Hanya orang yang ditunjuk dan diberi tanggung jawab saja sserta telah mendapatkan training dan sertifikasi yang boleh mengendarai forklift. 1. 2. 3. 4. 5. BERKENDARALAH DENGAN AMAN DAN BENAR:

1. Sebelum mengendarai , periksa kondisi forklift 2. Segera laporkan jika ada kerusakan pada forklift kepada atasan anda 3. Mengetahu Tabel beban kerja aman(Load Chart) 4. Gunakan ukuran pallet yang baik dan benar 5. Atur posisi garpu sesuai dengan lebar pallet 6. Perhatikan barang yang bisa merugikan 7. Bila akan mengangkat barang yang lebar harus dititik tengahkan 8. Jangan diperbolehkan orang lain melintas dibawah garpu(Fork) pada saat garpu di naikkan 9. Biasakanlah tangan dan kaki jauh dari system pengangkat 10. Gunakanlah Backrest yang tinggi dan kanopi harus terpasang 11. Jangan mengangkat beban terlalu tinggi ketika tiang(Mast) miring kedepan 12. Saat membawa beban jangan terlalu tinggi jarak yang aman sekitar 10 30 cm 13. Pada saat menaruh barang posisi tiang miring kebelakang 14. Lakukan pengamatan pada daerah sekitar yang akan dilalui sebelum menjalankan forklift MAKALAH ERGONOMI
20

15. Jalankan dan berhentikan forklift secara bertahap dan perlahan-lahan 16. Selau tetap kontrol pada forklift anda setiap saat pada saat menjalankan forklift 17. Jaga jarak forklift dengan jarak forklift lainnya jarak yang direkomendasikan adalah 3 kali panjang forklift 18. Jangan kebut-kebutan,ceroboh ,melamun dan waspadalah 19. Kurangi kecepatan jika melewati jalan basah atau licin serta bunyikan klakson disetiap persimpangan jalan atau tempat ramai 20. Perhatikan selalu ketinggian barang yang anda angkat 21. Perhatikan selalu sisi kiri dan kanan pada saat membawa barang panjang dan lebar 22. Jangan menggunakan ujung garpu untuk mengangkat objek 23. Lihat dan perhatikan kondisi landasan dan jika mengangkat barang yang menghalangi pandangan Operasikan Forklift dengan cara berjalan mundur 24. Pastikan rem forklift anda berfungsi dengan baik dan periksa apakah roda truk container sudah diganjal 25. Jika membawa barang pada jalan menurun Operasikan forklift dengan berjalan mundur 26. Gunakan pemandu pada saat anda membawa barang pada jalan menanjak 27. Jangan mengangkat manusia dengan forklift, dilarang membawa penumpang 28. Jangan menggunakan forklift untuk menarik atau mendorong kendaraan besar 29. Jangan mendorong barang dengan ujung garpu 30. Jangan menempatkan tali penarik pada tiang(Mast) untuk menarik atau menyeret barang 31. Matikan mesin pada saat mengisi bahan bakar dan dilarang merokok 32. Parkirlah kendaraan jika sudah selesai mengoperasikan pada tempat parker yang telah disediakan dan turunkanlah garpu serendah mungkin hingga menempel permukaan tanah atau lantai agar tidak tersandung oleh manusia dan membuat laporan harian operasi.

CEGAH CEDERA PUNGGUNG ANDA! RINGAN SAMA DIJINJING, BERAT MINTA BANTUAN SAMA TEMAN ATAU GUNAKAN FORKLIFT !

MAKALAH ERGONOMI

21

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan 1. Tingkat resiko bahaya kerja seperti MSDs ,Hernia, Stress kerja pada kuli panggul sangatlah tinggi. Hal ini dapat dilihat dari : a. Proses menurunkan barang dari atas mobil b. Proses mengangkan barang ke dalam gudang penyimpanan c. Proses menyusun barang didalam gudang penyimpanan 2. Tingginya tingkat resiko MSDs ,Hernia, Stress kerja pada kuli panggul disebabkan oleh faktor pekerjaan yang sulit dan tidak disediakanya alat bantu sehingga mengharuskan pekerja melakukan postur janggal dalam melakukan kegiatanya, adanya gerakan betulang yang dilakukan dalam melakukan pekerjaan, berat yag harus diangku dan dipindahkan, serta durasi kerja yang melebihi jam kerja.

4.2 Saran 1. Untuk pengusaha/pemilik toko a. Memberikan gerobak dorong/forklift kepada pekerja untuk mempermudah proses pengngkutan barang b. Memberikan waktu istrahat kepada kuli panggul yang cukup 2. Untuk kuli panggul a. Mengguakan grobak/forklift untuk memindahakan barang dari mobil ke gudang b. Melakukan streching sebelum bekerja, disela-sela waktu kerja, dan setelah selesai bekerja

MAKALAH ERGONOMI

22

DAFTAR PUSTAKA

Anies.2005. Seri Kesehatan Umum Penyakit Akibat Kerja Berbagai Penyakit Akibat Lingkungan Kerja dan Upaya Penanggulangannya . Jakarta: PT.Elex Media Komputindo.

Ridley, John. 2008. Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Edisi Ketiga (Soni Astranto, Penerjemah) . Jakarta : Penerbit Erlangga.

Santoso, Gempur.2004. Ergonom: Manusia,Peralatan dan Lingkungan. Jakarta :Prestasi Pustaka.

Setiadi.Anatomi dan Fisiologi Manusia. Graha Ilmu.

Suryana, Sulistomo .dkk.. 2001. Pedoman Tekhnologi Tepat Guna Ergonomi Bagi Pekerja Sektor Informal. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia

MAKALAH ERGONOMI

23