Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu sejarah kesehatan yang paling menarik dan membangkitkan semangat pada akhir abad ini ialah adanya acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sindrom ini pertama dikenali pada tahun 19 1 di Amerika Serikat. Saat dilaporkan ditemukannya Pneumocystis carinii pneumonia yang tidak dapat dijelaskan pada lima laki!laki homoseksual yang sehat di Los Angeles dan Sarkoma "aposi pada #$ laki!laki homoseksual yang sehat di Los Angeles dan New York. Semenjak itu dalam %aktu hanya beberapa bulan kemudian didapatkan penemuan!penemuan lain yang berkaitan dengan sindrom ini. &erdasarkan perspekti' para dokter( salah satu aspek unik dari epideminya ialah bah%a kita mampu melihat sebuah penyakit yang serius yang terjadi dalam suatu periode yang singkat. AIDS mendapat lebih banyak perhatian karena penyakit ini hampir selalu 'atal dan menimbulkan kerugian se)ara sosial dan ekonomi. *stimasi terkini dari jumlah orang yang terin'eksi oleh HIV adalah +, juta orang diseluruh dunia dan merupakan pembunuh nomor satu pada pria berusia #- hingga .. tahun di Amerika Serikat. AIDS( seperti semua penyakit pada umumnya( tidak hanya akan mempengaruhi 'isik tapi juga mental penderitanya. Seseorang yang dalam tes darahnya ternyata positi' untuk in'eksi HIV akan merasa sangat depresi' dan gelisah. In'eksi HIV merupakan in'eksi yang sekaligus menakutkan dan men)emaskan karena ketiadaan obat yang e'ekti' dan mematikan. /idak hanya itu( pada saat itu ia harus mempertanggung ja%abkan dirinya telah terin'eksi HIV dan tidak akan menulari orang!orang lain di sekitarnya. Dalam perjalanan penyakit selanjutnya terdapat banyak stresor yang menimbulkan ketakutan dan depresi seperti diisolasi lingkungan( kehilangan pekerjaan( tempat tinggal dan orang!orang yang dikasihinya. Dari sudut penyakitnya ia makin dekat kepada stadium akhir yang pasti akan sangat menakutkan. 0ada stadium terminal kondisi keji%aan ini makin nyata. 1aka dari itu diperlukan dampingan konselor dari a%al

penyakit hingga stadium terminal. /ak lepasnya in'eksi 2irus ini dari gejala psikiatrik menyebabkan pasien selalu perlu bantuan psikiatrik( dalam bentuk terapi psiko'armaka( psikoterapi maupun konseling.

BAB II AIDS DAN PSIKIATRI


DEFINISI Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena sistem kekebalan tubuh seseorang rusak atau menurun. 0enyakit ini termasuk dalam kelompok penyakit kelamin dan disebabkan oleh 2irus human immunodeficiency virus (HIV). enters for !isease ontrol and Prevention (3D3) Amerika Serikat membuat suatu sistem klasi'ikasi untuk kategori remaja dan de%asa yang terin'eksi HIV berdasarkan kondisi klinis yang berkaitan dengan in'eksi HIV dan hitung lim'osit / 3D." 1enurut sistem ini( setiap indi2idual yang terin'eksi HIV yang mempunyai hitung lim'osit / 3D. kurang dari #44567 sudah terkena AIDS se)ara de'inisi( %alau belum ditemukan gejala!gejala dan in'eksi oportunistik yang berkaitan dengan in'eksi HIV. EPIDEMIOLOGI In'eksi HIV5 AIDS merupakan pandemik diseluruh dunia dengan adanya pelaporan mengenai kasus ini di berbagai negara di dunia ini. *stimasi terkini mengenai jumlah kasus in'eksi HIV pada orang de%asa di seluruh dunia men)apai +, juta orang( dimana duapertiganya adalah dari sub Saharan A'rika dan -48 adalah %anita. Sebagai tambahan diperkirakan #(- juta anak kurang dari 1- tahun telah terin'eksi HIV. 1enurut #oint $nited Nations Programme on HIV AI!S (9:AIDS)( di tahun #44+ sendiri( diperkirakan terdapat - juta kasus baru setiap tahunnya (lebih dari 1..444 in'eksi baru setiap hari) di seluruh dunia dan + juta orang meninggal karena AIDS( menjadikan AIDS penyebab kematian keempat terbesar diseluruh dunia. *pidemi) di negara!negara Asia belum sebanyak di A'rika namun sedang berkembang pesat. 0ada a%alnya in'eksi ini sebagian banyak ditularkan dari hubungan seks antar pria homoseksual. :amun sejak akhir

19 4an( gambaran epidemi HIV telah berubah karena persentase gay dan pria biseksual yang terin'eksi HIV telah menurun dan jumlah treansmisi heteroseksual mengalami peningkatan. 0ada tahun 199 ( penderita gay hanya merupakan +-8 kasus baru dan 2irus menular dengan )epat di antara %anita( A'rika( Amerika( 7atin pemakai obat suntik. Se)ara global persentase populasi yang hidup dengan HIV5 AIDS yang juga mengunakan ;at psikoakti' melalui suntikan adalah sebesar - 8 men)akup #(1 juta orang dilebih dari 144 negara. 1eskipun angka ber2ariasi se)ara signi'ikan dari %ilayah ke %ilayah( yaitu -4!948 di *ropa /imur( Asia /imur dan daerah 0asi'ik( dan #-!-48 di Amerika 9tara dan *ropa &arat. Sedang di Indonesia sendiri( dari data &::( dikatakan di daerah <akarta sendiri khususnya di daerah "ampung &ali dari 1#.444 penduduknya( - 8 adalah pemakai narkoba dan 9+8 dari pemakai( mengidap HIV5AIDS. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS HIV merupakan retro2irus yang se)ara khusus berikatan dengan sejumlah reseptor pada permukaan sel dari sistem imun. Saat terikat( 2irus berusaha masuk ke dalam sel( dimana en;im reverse transcri%tase menggandakan 2irus =:A menjadi D:A yang kemudian akan masuk ke dalam kromosom D:A dari sel manusia. HIV mengin'eksi beberapa sel manusia( ditandai dengan adanya destruksi progresi' dari cell hel%er atau 3D.( lim'osit /. HIV dapat bersi'at laten selama berbulan!bulan setelah masuk dalam genom sel manusia. Selama ini( sel yang terin'eksi tidak akan memproduksi protein 2irus dan mampu untuk menghindari dari deteksi imunologi. Setelah satu periode latensi( 2irus akan menjadi akti'( menggandakan diri dengan )epat dan menyebar ke seluruh tubuh. &erbagai jaringan target yang terin'eksi melalui kontak sel ke sel atau 'usi sel yang merupakan salah satu mekanisme dimana HIV dapat mele%ati sistem imun. Saat jumlah 3D. menurun( sistem imun akan mengalami paralysis dan pasien akan menjadi lebih rentan terhadap in'eksi oportunistik seperti Pneumocystis carinii dan toksoplasmosis dan beberapa jenis

kanker seperti Sarkoma "aposi. Disamping e'ek merusak pada sistem imun HIV bersi'at neurotropik. A%alnya HIV akan memasuki sistem sara' pusat (SS0) yang mungkin diba%a oleh makro'ag yang berhasil mele%ati sa%ar darah otak. Virus ini ditransmisikan baik melalui kontak homoseksual maupun heteroseksual > dari darah maupun produk darah seperti trans'usi dan jarum bekas yang terkontaminasi> serta dari ibu yang terin'eksi kepada bayinya baik intrapartum( perinatal maupun 2ia menyusui. Setelah penelitian lebih dari #4 tahun( tidak terdapat bukti bah%a 2irus ini ditransmisikan dari kontak kasual seperti bersentuhan dan tidak dapat pula disebarkan oleh serangga( misalkan melalui gigitan nyamuk. /es serum yang digunakan untuk mendeteksi HIV ialah en&yme linked immunosor'ent assay (*7ISA). <ika hasilnya positi'( akan dilakukan uji yang lebih akurat dengan tes western 'lot" "arena banyaknya hasil false %ositif yang sering terjadi pada pemeriksaan *7ISA( maka indi2idu tersebut harus dia%asi hingga tes western 'lot dilakukan. "edua tes assay itu untuk memeriksa antibodi HIV( banyak pasien yang terin'eksi mempunyai hasil tes yang negati' saat mereka telah mensintesis antibodi terhadap HIV. &ukti antibodi ini akan mun)ul pada 948 pasien dalam %aktu enam bulan setelah in'eksi. Saat diagnosis tidak sepenuhnya ditegakkan( pemeriksaan %olymerase chain reaction untuk dapat segera mendeteksi adanya HIV dalam sirkulasi dan beberapa laboratorium menggunakan kultur 2irus sebagai uji pendukung.

DIAGNOSIS Diagnosis AIDS ditegakkan saat pasien dengan seropositi' HIV mengalami in'eksi oportunistik seperti Pneumocystis carinii( )o*o%lasma gondii atau sarkoma +a%osi. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya( 3D3 mende'inisikan semua pasien yang mempunyai hitung sel 3D. kurang dari #44567 atau presentase kurang dari 1.8 sudah dapat dikatakan menderita AIDS. Sistem yang dibuat oleh 3D3 berdasarkan tiga batasan hitung sel lim'osit 3D. dan tiga kategori klinis. Seperti yang dilihat pada tabel di ba%ah ini?
Kategori Kli is 1 Kategori sel CD4+
@-44567 #44A.995 67 B#44567 A Asi!"to!atis A#$t %Pri!er& HI' ata$ PGL B Si!"to!atis( B$#a Ko )isi A ata$ C C I )i#ator Ko )isi AIDS

A1 A# A+

&1 &# &+

31 3# 3+

Kategori Kli is )ari I *e#si HI'#


+ategori A, /ermasuk satu atau lebih kondisi di ba%ah ini pada remaja dan de%asa ( @1+ tahun) dengan in'eksi HI. "ondisi yang terda'tar tidak boleh disertai oleh kategori & dan 3. In'eksi HIV asimptomatik 7im'adenopati umum yang persisten In'eksi HIV akut (primer) +ategori -, /erdiri dari kondisi yang simptomatik pada remaja dan de%asa yang terin'eksi HIV yang tidak termasuk kondisi yang terda'tar pada kategori klinis 3 dan memenuhi satu atau lebih kriteria? (1) "ondisi ini menyertai in'eksi HIV atau merupakan indikasi adanya de'ek pada sistem kekebalan sel> atau (#) kondisi yang diperkirakan oleh dokter sebagai suatu perjalanan penyakit atau memerlukan tindakan akibat komplikasi dari in'eksi HIV. 3ontoh dikemukaan( namun tidak terbatas ini dari yang disebutkan( antara lain? &a)illary angiomatosis 3andidiasis( oropharyngeal 3andidiasis( 2ul2o2aginal> persisten( sering( atau tidak mempan oleh pengobatan 3er2i)al dysplasia (moderat hingga berat)5)er2i)al )ar)inoma insitu 3onstitutional symptoms( seperti demam ( @+ (-C3) diare lebih dari 1
1 #

11D= .# (:o. ==!1,)( Desember 1 (199# 11D= .# (:o. ==!1,)( Desember 1 (199#

bulan Hairy leuplakia( oral Herpes ;oster Idiopathi) thrombo)ytopeni) purpura 7isteriosis 0el2i) in'lammatory disease( terutama bila disertai oleh tubo2arian abs)ess 0eripheral neuropathty +ategori , "ondisi yang terdajtar dalam kasus de'inisi sur2aeilens AIDS 3andidiasis pada bron)hi( tra)hea( atau paru 3andidiasis( esophageal 3er2i)al )an)er( in2asi2e 3o))idioidomy)osis( menyeluruh atau ekstrapulmonar 3rypto)o))osis( ekstrapulmonar 3ryptosporidiosis( kronik intestinal ( durasi @1 bulan) 0enyakit 3ytomegalo2irus (other than li2er( spleen( atau nodes) 3ytomegalo2irus retinitis (dengan kehilangan penglihatan) *n)ephalopathy HIV Herpes simpleks? ul)us kronis ( durasi @1 bulan)> bron)hitis( pneumonia( atau eso'agitis Histoplasmosis menyeluruh atau ekstrapulmonar Isosporiasis( kronik intestinal (durasi @1 bulan) Sarkoma "aposi 7ymphoma( &urkittEs 7ymphoma primer pada otak .yco'acterium avium )ompleF atau ." kansaii( menyeluruh atau ekstrapulmonar .yco'acterium tu'erculosis( dimana saja (pulmonar atau ekstrapulmonar .yco'acterium( atau spesies lain yang tidak teridenti'ikasi( menyeluruh atau ekstrapulmonar Pneumocystis carinii pneumonia 0neumonia( rekuren 0rogresi' multi'aktorial leuko)ephalopathy Salmonella septi)emia( rekuren /oFoplasmosis pada otak Dasting syndrome karena HIV

9ntuk keperluan sur2eilans epidemiologi seorang de%asa dianggap menderita AIDS apabila menunjukkan tes HIV positi' dengan strategi pemeriksaan yang sesuai dan sekurang!kurangnya didapatkan dua gejala mayor yang berkaitan dan satu gejala minor( gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang berkaitan dengan in'eksi HIV. Ge+ala !a,or 1enurunnya berat badan lebih dari 148 dalam satu bulan #. Diare kronis lebih dari satu Ge+ala !i or 1. &atuk menetap lebih dari satu bulan lamanya #. Dermatitis generalisata

1.

bulan +. .. -. Demam satu bulan 0enurunan kesadaran dan gangguan neurologis Demensia5 HIV ense'alopati berkepanjangan lebih

+. Herpes Goster berulang .. "andidiasis oro'aringeal -. 7im'oadenopati generalisata $. In'eksi jamur berulang pada alat kelamin %anita

GAMBARAN KLINIS "onsekuensi klinis in'eksi HIV meliputi spektrum yang luas. &erkisar dari sindroma akut yang terkait dengan in'eksi primer hingga stadium asimptomatik yang lama sampai penyakit berat yang menimbulkan gejala. =eplikasi 2irus akut dan pelumpuhan sistem imun yang progresi' terus terjadi selama berjalannya in'eksi HIV pada sebagian banyak penderitanya. 0enyakit HIV pada pasien yang tidak diobati akan sangat sulit untuk dihentikan bahkan dalam stadium laten. :amun terapi anti2irus mempunyai pengaruh yang besar dalam menghentikan atau memperlambat jalannya penyakit selama beberapa %aktu pada sebagian pasien yang berobat se)ara adekuat. A-$te HI' S, )ro!e Diperkirakan -48 sampai ,48 orang indi2idu yang terin'eksi HIV mengalami sindrom ini + sampai $ minggu setelah terkena in'eksi primer. Diba%ah ini adalah beberapa gejala khas yang terdapat dalam sindroma ini?
Heneral Ie2er 0haryngitis 7ymphadenopathy Heada)he5retroorbital pain Arthralgias5 myalgias 7ethargy5malaise AnoreFia5%eight loss :ausea52omit5diarrhea :eurologi) :eurologi) 1eningitis 1eningitis *n)ephalitis *n)ephalitis 0eripheral neuropathy 0eripheral neuropathy 1yelopathy 1yelopathy Dermatologi) Dermatologi) *rythematous ma)ulopapular rash *rythematous ma)ulopapular rash 1u)o)utaneous ul)eration 1u)o)utaneous ul)eration

Sta)i$! Asi!"to!ati# 1erupakan periode antara onset seropositi2itas dan onset gejala klinis( biasanya berakhir dalam - hingga , tahun. 0asien sangat in'eksius pada stadium ini namun tidak mengalami masalah medis yang berhubungan dengan HIV. Sta)i$! Si!"to!ati# Iase ini merupakan periode antar gejala klinis dan kematian. &erakhir dalam beberapa bulan hingga tahun( tergantung pada komplikasi spesi'ik yang berkembang dan respinnya terhadap terapi. Hejala AIDS pada umumnya merupakan gejala in'eksi oportunistik atau kanker yang terkait dengan AIDS. "anker yang terkait dengan AIDS adalah sarkoma "aposi( lim'oma malignum( dan karsinoma ser2iks in2asi'. In'eksi oportunistik antara lain adalah kandidiasis mulut( tuberkulosis( sitomegalo2irus pneumonia P"carinii( dan organisme lain yang tidak biasa mun)ul dalam keadaan sistem imun yang kuat. Hampir $48 dari kematian pasien dengan HIV tidak disebabkan oleh in'eksi HIV itu sendiri tapi dari P"carinii( hepatitis 2irus dan in'eksi bakteri lain yang tidak berkaitan dengan AIDS. 0entingnya mengetahui gejala klinis ini di bidang psikiatri adalah untuk melihat komplikasi nonpsikiatri yang dapat timbul dalam bentuk e'ek biologis pada 'ungsi otak dan e'ek psikologi pada suasana perasaan dan rasa )emas. 7alu untuk lebih lanjutnya( pada kondisi ini telah mendapat berbagai terapi tambahan( maka harus dipikirkan dampak SS0 terhadap banyaknya obat yang diberikan. MANIFESTASI NEUROPSIKIATRI 0enjelasan a%al morbiditas psikiatrik pada pasien seropositi' HIV dan AIDS menekankan pada reaksi emosional pada AIDS yang berkembang. Iokus ini diarahkan pada e'ek destruksi dari HIV itu sendiri karena akan menjadi jelas bah%a SS0 merupakan target utama dari 2irus( terutama pada area diba%ah dan berhubungan dengan korteks serebral. Derajat kerusakan kogniti' berbanding lurus banyaknya 2irus. 0asien serum 2irus sebanyak J +4(444 )opies5m7 +( (- lebih mudah menderita dementia. 0enelitan lain menyebutkan bah%a 73S yang mengandung 2irus sebanyak
+

3hilds et al.( 1999

@ #44 )opies5m7( dapat dipastikan akan mengalami kerusakan neuropsikiatr yang progresi' .. /erdapat beberapa penyakit lain dan komplikasi dari terapi yang harus didiagnosis banding pada pasien dengan in'eksi HIV dengan simptom neuropsikiatri. Simptom seperti 'oto'obia( nyeri kepala( rasa kaku pada leher( kelemahan motorik( kehilangan 'ungsi sensoris( dan perubahan tingkat kesadaran harusnya membuat kita ber'ikir untuk melakukan pemeriksaan demi men)ari kemungkinan adanya in'eksi oportunistik yang berkembang dalam SS0 atau kemungkinan adanya neoplasma dalam SS0. In'eksi HIV juga dapat menyebabkan berbagai neuropati peri'er yang menggambarkan adanya keterlibatan SS0 yang luas. 0enemuan pada otak post mortem dari pasien terin'eksi HIV ber2ariasi dan men)erminkan adanya perbedaan presentasi klinis yang terjadi. Hampir pada sekitar satu pertiga pasien( keberadaan HIV ditemukan dalam jaringan SS0. Daerah yang paling sering terkena ialah subkortek meliputi daerah substansia grisea yaitu basal ganglia( thalamus dan sumsum otak (dinamakan demensia subkortikal). Substansia alba dapat disertai dengan adanya reaksi atro'i dan atrositik. Hilangnya oligodendroglia dan neuron bukanlah karakteristiknya. 1edula spinalis dapat terlibat dan menunjukkan adanya 2akuolisasi yang disebabkan oleh pembengkaknan diantara dua lapisan sarung myelin. &anyak orang yang terin'eksi HIV mengalami perubahan dalam SS0 yang signi'ikan yang disebut sebagai AIDS dementia com%le*" "arena tidak ada proses patologis tunggal yang mendasari demensia dan karena gejalanya terjadi sebelum AIDS berkembang( maka lebih tepat untuk menggunakan istilah HIV/related 'rain disease" Demensia ini juga disebabkan oleh sekuele dari delirium seperti halnya in'eksi primer HIV( e'ek dari in'eksi sekunder seperti ry%tococcus atau e'ek dari terapi. Seperti yang dikatakan dalam DS1!IV/1 (lihat table di ba%ah). Iitur yang esensial pada demensia yang disebabkan oleh in'eksi HIV adalah adanya demensia yang dipastikan merupakan pato'isiologik langsung dari penyakit HIV. /anda neuropatologik yang paling sering antara lain( destruksi multi'okal yang di'us pada struktur subkortikal dan substansia grisea. 0ada pemeriksaan neurologi dapat
.

*llis et al.( #44#

14

ditemukan tremor( im%aired ra%id re%etitive movements( ketidakseimbangan( ataFia( meningkatnya tonus( hiperre'leksia( tanda positi' dari pelepasan 'rontal( dan gerakkan mata yang abnormal seperti saccadic dan %ursuit. 73S bisa menunjukkan jumlah protein yang normal atau sedikit meningkat serta lim'ositosis yang ringan. HIV dapat segera diisolasi di dalam 73S. Hambaran 3/s)an menunjukkan bukti adanya atro'i kortikal atau pelebaran 2entrikel. Sedangkan pada pemeriksaan **H didapat adanya gambaran yang abnormal meliputi pelambatan kortikal di'us. Dementia yang disebabkan langsung karena in'eksi HIV pada SS0 ditandai dengan daya ingat yang terganggu( lamban( sulit untuk berkonsentrasi dan juga kesulitan dalam meme)ahkan masalah. 1ani'estasi perilaku umumnya berupa apatis( penarikan diri dari masyarakat( dan terkadang disertai oleh delirium( delusi( atau halusinasi.
DSM.I'TM Kriteria Diag osti# $ t$# De!e sia #are a Pe ,e/a/ M$lti"el 0
A. 0erkembangan de'isit kogniti' multipel yang dimani'estasikan oleh baik (1) gangguan daya ingat (gangguan kemampuan untuk mempelajari in'ormasi baru dan untuk mempelajari in'ormasi baru dan untuk mengingat in'ormasi yang telah dipelajari sebelumnya) (#) satu (atau lebih) gangguan kogniti' berikut? (a) a'asia (gangguan bahasa) (b) apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan akti2itas motorik %alaupun 'ungsi motorik adalah utuh) ()) agnosia (kegagalan untuk mengenali atau mengidenti'ikasi benda %alaupun 'ungsi sensorik adalah utuh) (d) gangguan dalam 'ungsi eksekuti' (yaitu( meren)anakan( mengorganisasi( mengurutkan( dan abstrak) &. De'isit kogniti' dalam kriteia A1 dan A# masing! masing menyebabkan gangguan yang bermakna dalam 'ungsi sosial atau pekerjaan dan menunjukkan suatu penurunan bermakna dari tingkat 'ungsi sebelumnya. 3. /erdapat bukti dari ri%ayat penyakit( pemeriksaan 'isik( atau temuan laboratorium bah%a gangguan memiliki lebih dari satu penyebab (misalnya( trauma kepala ditambah penggunaan alkohol kronis( demensia tipe Al;heimer dengan perkembangan demensia 2askular selanjutnya). D. De'isit tidak terjadi semata!mata selama perjalanan delirium. Catata "e $lisa 1 Hunakan kode multipel berdasarkan demensia spesi'ik dan etiologi spesi'ik(

Dari Ameri)a 0sy)hiatri) Asso)iation" !iagnostic and Statistical .anual of .ental !isorders" .th ed.

11

misalnya( demensia tipe Al;heimer( dengan onset lanjut tanpa penyulit> demesia 2askular( tanpa penyulit.

ASPEK PSIKOLOGI AIDS Aspek psikologi penyakit HIV dapat mempengaruhi kaum homoseksual( biseksual dan orang!orang dalam kelompok risiko tinggi yang tidak menunjukkan gejala AIDS namun mempunyai risiko untuk mendapat penyakit ini. &anyak Kkekha%atiranL merupakan tanda adanya tekanan psikologi( dari yang ringan yaitu gangguan tidur( )emas( depresi hingga yang berat yaitu sindroma %aham organik dan sindroma halusinasi organik. Si )ro! 2a3a! orga i#$ (7ir!ski;o'renia) adalah gangguan yang gambaran klinisnya didominasi oleh %aham se)ara menetap atau berulang. Daham tersebut dapat disertai oleh halusinasi( tetapi tidak tergantung isinya. Hambaran yang mengingatkan ski;o'renia seperti %aham bi;arre( halusinasi atau gangguan alam pikiran( mungkin terdapat juga. Sedangkan si )ro! 3al$si asi orga i#, adalah suatu gangguan halusinasi yang menetap atau berulang( biasanya 2isual dan auditorik( yang terjadi pada kesadaran yang penuh dan mungkin disadari atau tidak oleh yang bersangkutan. /imbulnya %aham akibat halusinasi itu mungkin terjadi( tetapi daya tilikan diri sering masih utuh. "arena risiko penyakit tersebut( beberapa orang sangat memperhatikan keadaan 'isik mereka. Seperti halnya orang hipokondriakal( pasien ini sering salah menginterpretasikan sensasi tubuh. 0ada stadium ini dokter dapat sangat membantu dengan menyediakan kontak yang teratur dengan pasien untuk memeriksa adanya tanda baru akan penyakitnya untuk menjelaskan gejala dan mena%arkan jaminan. &aik hetero maupun homoseksual membutuhkan perhatian. 0raktek seks bebas harus dibahas pada setiap kesempatan seperti halnya penggunaan kondom. Dalam kesempatan ini( seorang dokter dapat memperbaiki in'ormasi yang salah mengenai AIDS dan membahas tes

$ ,

00DH< III 00DH< III

1#

AIDS yang sesuai( transmisi HIV dan derajat kerentanan HIV dalam kaitannya dengan beragamnya praktek seks Mrang dengan risiko rendah akan penyakit HIV kadang!kadang tidak perlu takut atau menjadi 'obia akan HIV( pandangan irasional ini akan menyebabkan diskriminasi terhadap penderita HIV atau mereka yang termasuk dalam katergori risiko tinggi. Adanya penyakit ini di a%al tahun 19 4an telah mengakibatkan pandangan publik yang men)ela kebebasan kaum gay karena banyak orang yang memper)ayai bah%a epidemi ini merupakan kutukan dari /uhan karena perilaku yang tidak sesuai dengan moral. Salah satu sur2ei menunjukkan bah%a #,8 responden tidak setuju dengan pernyataan bah%a AIDS harus diterpai dengan belas kasihan. 0ada studi yang lain( hanya 198 responden mengatakan bah%a kelompok pasien AIDS harus diterima sebagai tetangga mereka. *'ek pemeriksaan HIV itu sendiri dapat menjadi traumatik karena implikasi hasil yang positi' ini sangat berpotensial untuk menghan)urkan hidup seseorang. 0ada berbagai negara( pasien harus diberikan informed consent sebelum diperiksa dan mendapat pemeriksaan konseling. "onseling pretes ini meliputi pembahasan pada tes yang berbeda( man'aat dan batasannya. Sesi ini juga memberikan kesempatan pada dokter untuk menilai moti' pasien dalam mendapat tes dan bagaimana responsnya terhadap tes ini. "onseling post test ini perlu untuk memperkuat hasil pemeriksaan HIV( prosedur pemeriksaan dan implikasi dengan hal positi' seperti halnya menjelaskan )ara pen)egahan transmisi. 0asien yang mendapat hasil negati' umumnya menunjukkan rasa lega sedangkan mereka yang mendapat hasil seropositi' seringkali menunjukkan berbagai ma)am emosi> ketakutan( penarikan diri( kemarahan( sedih( dis'oria( dan anFietas. &eberapa orang merasa bersalah mengenai orientasi seksualnya( adiksi obat dan mengin'eksi yang lainnya. Mrang lain akan menghadapi kenyataan atau mengalami kehilangan dukungan orang tua( keluarga( ka%an dan karya%an. &eberapa orang akan mengalami gangguan kepribadian yang untuk menyangkal hasil positi' tersebut dan meningkatkan pemakaian obat atau alkohol. Dalaupun sebagian besar orang dapat menerima berita tersebut( ada juga yang apatis dan menolak kenyataan tersebut.

1+

=isiko depresi dan perilaku bunuh diri meningkat setelah mendapat syok a%al dengan menyadari bah%a dirinya seropositi' HIV. Depresi merupakan kondisi medis yang sangat serius yang dapat melumpuhkan menderitanya. Ditemukan dua kali lebih banyak pada orang yang menderita HIV dibanding populasi pada umumnya. Depresi di)irikan dengan adanya satu atau lebih simptom ini( yaitu apatis( 'atigue( tidak dapat berkonsentrasi( tidak bergairah untuk melakukan hobi( perubahan pada selera makan dan berat badan( gangguan tidur( merasa tidak berharga( dan mungkin pikiran untuk bunuh diri. Selain depresi terdapat anFietas yaitu perasaan panik atau )emas. Seringkali ditandai dengan adanya gejala!gejala 'isik( antara lain berkeringat( rasa sesak di dada( denyut jantung yang )epat( agitasi( sakit kepala( dan panik. AnFietas dapat berbarengan dengan depresi namun dapat pula merupakan suatu penyakit tersendiri yang merupakan buah dari suatu ketakutan( ketidakpastian( dan rasa tidak nyaman. 0ada sebagian besar kelainan anFietas yang mun)ul akibat reaksi akut dalam menerima diagnosis( dimana dalam DS1 IV/1 disebut ad0ustment disorder with an*iety" Seperti yang tertera pada tabel diba%ah ini.
Kriteria Diag osti# $ t$# Ga gg$a Pe ,es$aia
terjadi dalam + bulan onset stresor. &. Hejala atau perilaku tersebut adalah bermakna se)ara klinis seperti yang ditunjukkan oleh salah satu berikut? (1) penderitaan yang jelas melebihi apa yang diperkiraan dari pemaparan stresor (#) gangguan bermakna dalam 'ungsi sosial atau pekerjaan (akademik) 3. Hangguan berhubungan stres tidak memenuhi kriteria untuk gangguan Aksis I spesi'ik lain dan tidak semata!mata suatu eksaserbasi gangguan Aksis I atau Aksis II yang telah ada sebelumnya. D. Hejala tidak men)erminkan kehilangan. *. <ika stesor (dan akibatnya) telah berhenti( gejala tidak menetap selama lebih dari $ bulan lagi. Se'utkan jika? A#$t1 jika gangguan berlangsung kurang $ bulan. Kro is1 jika gangguan berlangsung selama $ bulan atau lebih Hangguan penyesuaian dituliskan berdasarkan subtipe( yang dipilih menurut gejala yang menonjol. Dari Ameri)a 0sy)hiatri) Asso)iation" !iagnostic and Statistical .anual of .ental !isorders" .th ed
4

A. 0erkembangan gejala emosional atau perilaku sebagai respon stresor yang dapat dikenali yang

1.

Stresor spesi'ik dapat dituliskan pada Aksis IV. De ga !oo) ter)e"resi De ga #e-e!asa De ga -a!"$ra #e-e!asa )a !oo) ter)e"resi De ga ga gg$a #o )$#si De ga -a!"$ra ga gg$a e!osi )a #o )$#si Ti)a# )ite t$#a

Hangguan psikiatrik lainnya pada pasien HIV jarang dijumpai dan lebih jarang pada populasi umum ()ontoh ski;o'renia( gangguan ski;oa'ekti' dan gangguan bipolar). Salah satu aspek %aham dari epidemi AIDS yang telah dilaporkan( dimana pada orang dengan bebas mengarang diagnosis untuk memperoleh tindakan medis. PENATALAKSANAAN KLINIS Pe go/ata Me)is 0asien yang mengalami sindrom psikiatrik akan dapat memetik man'aat pemberian medikasi. &en;odia;epin dapat berman'aat bagi pasien dengan gangguan anFietas atau gangguan penyesuaian dengan anFietas. 0asien dengan depresi mayor atau gangguan panik bisa mendapat man'aat dari pemberian serotonin reu%take inhi'itor antide%ressants( yang sangat e'ekti' dan dapat ditoleransi dengan baik. 0emberian antidepresi trisiklik dan .ono Amine 1*ydase Inhi'itor (1AMI) dengan banyak e'ek samping tidak ditoleransi pada pasien dengan HIV related illness. 1AMI mempunyai masalah lain akan interaksi obat sehingga memerlukan restriksi diet. &eberapa peneliti menggunakan psikostimulan dosis rendah untuk menangani depresi pad pasien AIDS (mis? meti'enidat 14!.4 mg5hari dalam bagian dosis). 0sikostimulan khususnya berman'aat saat terjadi letargi atau perlambatan kogniti' pada komponen depresi mayor. Mbat antipsikotik juga disukai karena )ukup ditoleransi (mis? resperidon 4(- mg5hari). /erapi elektrokon2ulsi berman'aat pada pasien AIDS yang depresi atau manik jika gejala tersebut tidak memberikan respons terhadap medikasi. 0ara klinisi harus me%aspadai e'ek merugikan diri interaksi obat saat memberikan agen psikotropik pada pasien dengan HIV related disease yang mendapat satu atau lebih obat anti2irus. =espons ber2ariasi terhadap medikasi sangat umum

1-

ditemukan. 0asien yang menderita in'eksi HIV mempunyai sensiti2itas primer yang lebih tinggi bahkan sebelum adanya obat sekunder yang ter'ikir. Ini disebabkan oleh karena adanya in'eksi pada sistem sara' pusat dan adanya peningkatkan konsentrasi plasma yang disebabkan oleh karena penyakit hati seperti hepatitis 3. /anpa disertai oleh penyesuaian dosis( obat psikotropik dapat menyebabkan e'ek tosik pada penderita HIV. 1isalkan( terjadinya sedasi yang berat dan e'ek samping berupa peningkatan gejala ekstrapiramidalis dari haloperidol dapat diminimaliskan dengan dosis 4(- sampai 1 mg tiga kali sehari dan ditingkatkan pelan!pelan. 0asien dengan HIV biasanya mengkonsumsi banyak obat!obatan( beberapa bahkan mempunyai pro'ik 'armakologi yang mirip yang dapat menyebabkan e'ek samping adiksi dan toksik. 1isalnya( amitriptilin diberikan untuk neuropati peri'er dapat menyebabkan e'ek samping berupa peningkatan antikolinergik dan hipotensi postural bila diberikan bersama )lorproma;in> sele)ti2e serotonin reuptake inhibitors (SS=Is) dapat menyebabkan nausea yang berat bila diberikan bersama anti2irus yang juga menyebabkan nausea> hepatotoksisitas dapat meningkat bila pemakaian bersama anti2irus( obat untuk in'eksi lain (mis? ri'ampisin) beserta obat psikotropik> lipodistropi dan gangguan metabolisme glukosa karena anti2irus dapat dipi)u oleh beberapa obat antipsikosis. Sangat penting untuk mempertimbangkan resiko dan keuntungan dalam pemberian obat!obatan psikotropik pada pasien dengan HIV karena dapat menyebabkan diskariasis darah. Mbat!obatan itu adalah 'enotia;in( lamotrigin( mianserin( dan juga )lo;apin.

1$

Psi#otera"i /ema psikodinamik utama pada pasien terin'eksi HIV adalah menyalahkan diri sendiri( harga diri( dan masalah tentang kematian. Dokter psikiatrik dapat membantu pasien menghadapi perasaan bersalah tentang perilaku yang telah menyebabkan perkembangan AIDS. &eberapa pasien AIDS merasa bah%a mereka adalah dihukum karena gaya hidup yang menyimpang. "eputusan pera%atan kesehatan yang sulit( seperti apakah akan berperan serta dalam per)obaan obat eksperimental dan sistem pera%atan terminal dan penunjang kehidupan harus digali. /ema praktis utama untuk pasien adalah pekerjaan( man'aat medis( asuransi ji%a( dan hubungan dengan keluarga dan teman!teman. &aik terapi indi2idual dan terapi kelompok dapat e'ekti'. /erapi indi2idual dapat jangka pendek atau jangka panjang dan dapat berupa suporti'( kogniti'( perilaku atau psikodinamika. /eknik terapi kelompok dapat terentang dari psikodinamika sampai yang seluruhnya bersi'at menunjang. 0enatalaksanaan stres meliputi latihan relaksasi dan teknik peme)ahan masalah juga berman'aat bagi pasien. /erapi kogniti' perilaku dapat membantu memperbaiki distorsi pikiran pada pasien dengan penyakit AIDS yang sering berkembang. 0emeriksaan pasien terin'eksi HIV harus termasuk ri%ayat seksual dan penyalahgunaan ;at yang lengkap( suatu ri%ayat psikiatrik( dan suatu penilaian sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Suatu rasa keper)ayaan dan empati seringkali dapat diperkuat dengan pertanyaan dari ahli terapi se)ara spesi'ik( jelas( dan langsung tentang kultur homoseksual atau menggunakan ;at. 0enga%asan status mental dan e2aluasi tanda gangguan kogniti' merupakan bagian penting dari penatalaksanaan AIDS dalam pandangan psikiatiri dan sekuele SS0. Saat mun)ul dugaan HIV related demensia( perlu dilakukan pemeriksaan neuropsikologi. Hasil ini dapat menunjukkan adanya gangguan yang diamati se)ara subyekti' dan akan sangat membantu dalam peren)anaan terapi. 0emeriksaan neuropsikologi ini membantu untuk membedakan demensia dengan depresi atau anFietas. Hejala depresi dan risiko bunuh diri perlu dinilai pada setiap kunjungan( khususnya karena tingkat bunuh diri pada pasien AIDS tujuh kali lebih tinggi dari populasi umum.

1,

Disamping seorang ahli terapi( penting sekali dukungan orang!orang terdekat dari pasien( mengingat apa yang akan dialami penderita AIDS semenjak ia mendengar bah%a ia positi' terin'eksi HIV hingga menjelang stadium akhir ini. 1ereka seringkali merasa hilang sehingga mudah mengalami gangguan psikologik dari yang ringan hingga berat. "edekatan a'ekti' dari orang yang dikasihi akan senantiasa membangkitkan semangat untuk menjalani hidup dan dapat menerima keadaan dirinya. "edekatan itu dapat diberikan siapa saja. /erdapat suatu kisah mengenai seorang penderita AIDS yang telah dibuang oleh keluarga intinya. Akhirnya selama ini ia menerima kasih sayang dari neneknya yang tinggal di panti jompo. "asih sayang dan kedekatan dari neneknya itu sangat berarti untuk kelangsung hidupnya yang mungkin akan menghadapi banyak rintangan. "asih sayang yang diterima itu merupakan suatu bentuk dari pen)arian manusia kepada kesempurnaan dan men)ari suatu kontemplati' siapa diri manusia itu. 0enatalaksanaan pasien harus meliputi edukasi mengenai HIV dan AIDS( in'ormasi mengenai bentuk transmisi dan pen)egahan. "elompok pendukung yang diorganisasi oleh AI!S outreach ogani&ation dapat membantu memperkuat dukungan sosial. 0ara dokter perlu bekerja dengan agen kesehatan masyarakat untuk membantu pasien memperoleh bantuan 'inansial dan 'isik.

BAB III PENUTUP


AIDS mendapat lebih banyak perhatian karena penyakit ini hampir selalu 'atal dan menimbulkan kerugian se)ara sosial dan ekonomi. *stimasi terkini dari jumlah orang yang terin'eksi oleh HIV adalah +, juta orang diseluruh dunia dan merupakan pembunuh nomor satu pada pria berusia #- hingga .. tahun di Amerika Serikat. AIDS( seperti semua penyakit pada umumnya( tidak hanya akan mempengaruhi 'isik tapi juga mental penderitanya. /ak lepasnya in'eksi 2irus ini dari gejala psikiatrik menyebabkan pasien selalu perlu bantuan psikiatrik( dalam bentuk terapi psiko'armaka( psikoterapi maupun konseling. "eterlibatan susunan sara' pusat merupakan mani'estasi klinis yang sering ditemukan( berupa dementia yang disebabkan oleh karena HIV yang disertai de'isit 'ungsi kogniti'( perilaku( dan motorik. Hal ini seringkali diperburuk oleh adanya e'ek samping terapi anti2irus( juga stres psikososial berkaitan dengan status sebagai orang yang terin'eksi HIV5 AIDS. /atalaksana yang komprehensi' amat diperlukan dalam menangani orang yang menderita AIDS( baik 'armakoterapi maupun psikoterapi. Dibutuhkan pendekatan multi disiplin dan kerja tim yang mampu berkerjasama dengan baik. /atalaksana terhadap keluarga atau orang terdekat pasien juga amat dibutuhkan. Diperlukan penilaian psikososial dan pelayanan kesehatan berupa konseling indi2idual maupun konseling pasangan atau keluarga pasien( adanya dukungan kelompok( juga memperhatikan aspek spiritualis.

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Adikusuma( A. HIV2 AI!S dan Psikiatri( dalam <i%a 1ajalah 0sikiatri( Nayasan "esehatan <i%a Dharma%angsa( <akarta( #44+> +? 2ii #. Djau;i( Samsuridjal. AI!S( dalam &uku Ajar Ilmu 0enyakit Dalam <ilid II ed +( &alai 0enerbit I"9I( <akarta( #441( 1! . +. Iau)i( Anthony S and H. 3li''ord 7ane. Human Immunodeficiency Virus !isease, AI!S and 3elated !isorders( in HarrisonEs 0rin)iples o' Internal 1edi)ine Vol I 1$th ed.( 1)Hra%!Hill( 9SA( #44-( 14,,!14 $ .. Sado)k( &.< and Virginia Al)ott Sado)k. Neuro%sychiatric As%ect of HIV Infection and AI!S( in Synopsis o' 0sy)hiatry 9th ed( 7ippin)ott Dilliams and Dilkins( 9SA( #44#( +,1!+,9 -. Sara)eno( &enedetto. Penggunaan 4at Psikoaktif di Seluruh !unia dan -e'an terhada% +esehatan( dalam 0enggunaan dan "etergantungan Gat 0sikoakti' dari Sudut 0andang :eurosains( Mrganisasi "esehatan Dunia( <e%ena( #44.( 11 $. !elirium( !ementia and Amnestic and 1ther Asso)iation( Dashington( D3( #444( 1. ,. )ira.%ebmasterOyale.edu . %%%.aidsOpsy)h.org 9. %%%.psy)h.org. ognitive !isorders( in Diagnosti) and Statisti)al 1anual o' 1ental Disorders .th ed.( Ameri)an 0sy)hiatri)

#4

REFERAT PSIKIATRI

Pe!/i!/i g1

Dr5 Elli,ati D5 Rosa)i S"5K6 %KAR&


Dis$s$ ole3 1

Citra A )ia i
787599570:

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN 6I;A RUMAH SAKIT 6I;A Dr5 SOEHARTO HEERD6AN PERIODE <= 6UNI . <9 6ULI :774 UNI'ERSITAS TRISAKTI 6AKARTA

#1

KATA PENGANTAR
0uji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SD/ karena berkat rahmat dan ijin!:ya maka tugas pembuatan re'erat dengan judul KAIDS )a Psi#iatriL dapat diselesaikan. =e'erat ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas kepaniteraan ilmu kedokteran <i%a di =umah Sakit Dr. Soeharto Heerdjan. Dalam penyusunan re'erat ini saya mendapat bantuan yang tidak ternilai harganya dari berbagai pihak. 9ntuk itu saya mengu)apkan banyak terima kasih( khususnya kepada Dr5 Elli,ati D5 Rosa)i S"5K6 %KAR& selaku pembimbing re'erat dan Dr5 I Ma)e ;ig$ a( S5MM selaku 0roje)t 1anager serta kepada dokter!dokter spesialis kesehatan ji%a lainnya. Akhir kata( saya menyadari bah%a re'erat yang saya susun ini memang masih jauh dari sempurna. Mleh karena itu( saya sangat terbuka untuk menerma segala saran dan kritik yang diberikan demi kesempurnaan re'erat ini. Semoga re'erat yang telah saya susun ini dapat berguna bagi kita semua.

<akarta( <uni #44

0enulis

i ##

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTARPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP..i DAFTAR ISIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP. BAB I ii

PENDAHULUANPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP. 1

BAB II ISI D*II:ISI PPPPP..............................................................................+ *0ID*1IM7MHIPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP + */IM7MHI DA: 0A/MH*:*SISPPPPPPPPPPPPPP. . DIAH:MSISPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP.. $ HA1&A=A: "7I:IS PPPPPPPPPPPPPPPPPP.. 1A:II*S/ASI :*9=M0SI"IA/=I 0ASI*: AIDS PPPPPPP.14 AS0*" 0SI"M7MHI AIDS PPPPPPPPPPPPPPPPP..1+ 0*:A/A7A"SA:AA: "7I:IS PPPPPPPPPPPPPP....1$ BAB III PENUTUP PPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP... #4 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................#1

ii #+