Anda di halaman 1dari 8

W-5 GEOMETRI PELEDAKAN SURFACE BLASTING

5.1

Tujuan
Tujuan dari materi ini adalah agar praktikan mengetahui geometri

peledakan pada surface blasting dan cara menentukan geometri peledakan berdasarkan perhitungan.

5.2

Peledakan Tambang
Terdapat perbedaan antara teknik peledakan pada sistem penambangan

terbuka dengan sistem penambangan bawah tanah, perbedaan itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti luas area, volume hasil ledakan, suplai udara segar, dan keselamatan kerja.
Tabel 5.1 Penyebab yang membedakan pola pengeboran di tambang terbuka dan bawah tanah.

Faktor Luas area

Tambang bawah tanah Terbatas, sesuai dimensi bukaan luasnya dipengaruhi oleh kestabilan bukaan tersebut Terbatas karena dibatasi luas permukaan bukaan, diameter mata bor dan kedalaman pengeboran Tergantung pada ventilasi yang baik

Tambang terbuka

Volume hasil peledakan

Suplai udara segar

Lebih luas karena terdapat di permukaan bumi dan dapat memilih area yang cocok Lebih besar bisa mencapai ratusan ribu meter kubik per peledakan, sehingga dapat direncanakan target yang besar system Tidak bermasalah karena dilakukan pada udara terbuka Relative lebih aman karena seluruh pekerjaan dilakukan pada area terbuka

Keselamatan kerja

Kritis, diakibatkan oleh ruang yang terbatas, guguran batu dari atap , tempat penyelamatan diri terbatas

5.3

Geometri Peledakan
Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam mendesain geometri

peledakan antara lain : Diameter lubang bor Ketinggian jenjang (bench hight) Burden dan spasing Struktur batuan Fragmentasi Arah lemparan Kestabilan jenjang Perlindungan terhadap lingkungan sekitar Jenis bahan peledak yang akan digunakan, termasuk energinya

B J T S H L PC

: Burden : Subdrilling : Stemming : Spacing : Hole Depth : Tinggi Jenjang : Powder Coulumn

Gambar 5.1 Geometri Peledakan Sistem Jenjang

5.3.1

Diameter Lubang Bor Diameter lubang tembak yang biasanya dipilih disesuaikan dengan sifat-

sifatfisik batuan yang akan diledakkan. Apabila batuan yang akan diledakkan sukar pecahmaka penggunaan diameter lubang tembak yang kecil akan dapat menghasilkan energy peledakan yang lebih baik Pemilihan diameter lubang bor tergantung pada tingkat produksi yang diinginkan. Dengan lubang bor yang lebih besar, lebih besar pula tingkat produksi yang dihasilkan. Untuk kontrol desain dengan hasil fragmentasi yang bagus, menurut pengalaman, diameter lubang bor harus berkisar antar 0,5 1% dari tinggi jenjang.

D = 5 10 K

Dimana : d = diameter lubang bor (mm) K = tinggi jenjang (m) Pemakaian lubang bor kecil pada kondisi batuan yang sangat berjoint akan menghasilkan fragmentasi yang baik dari pada lubang bor yang besar. Pada permukaan tiap-tiap joint terdapat reflaksi gelombang ledak yang dihasilkan oleh proses peledakan, karena bisa berfungsi sebagai free face (Gambar 3.2).

Gambar 5.2 Efek Joint pada Fragmentasi bila Menggunakan Diameter Lubang Bor Besar dan Kecil (atas bawah). Daerah yang diarsir menunjukan fragmentasi kurang (insufficient fragmentation)

5.3.2 Ketinggian Jenjang (L) dan Kedalaman Lubang Bor (H) Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh peralatan lubang bor dan alat muat yang tersedia. Ketinggian jenjang disesuaikan dengan kemampuan alat bor dan diameter lubang. Lebih tepatnya, jenjang yang rendah dipakai diameter lubang kecil, sedangkan diameter bor besar untuk jenjang yang tinggi (Gambar 3.3) memberikan ilustrasi tentang beberapa faktor dalam penentuan tinggi jenjang sehubungan dengan diameter lubang bor.

BENCH HEIGHT

HOLE DIAMETER

Gambar 5.3 Hubungan Diameter Lubang Bor dengan Ketinggian Jenjang

Secara praktis hubungan diantara lubang bor dengan ketinggian jenjang dapat diformulasikan sbb : K = 0.1 0.2 d

Dimana : K = Tinggi Jenjang (m) d = diameter Lubang Bor (mm) 5.3.3 Burden, Spasing, Subdrilling dan Stemming a) Burden (B) Burden dapat didefinisikan sebagai jarak dari lubang bor ke bidang bebas (free face) yang terdekat pada saat terjadi peledakan. Peledakan dengan jumlah baris (row) yang banyak, true burden tergantung penggunaan bentuk pola peledakan yang digunakan. Bila peledakan digunakan delay detonator dari tiaptiap baris delay yang berdekatan akan menghasilkan free face yang baru. Burden merupakan variabel yang sangat penting dan dalam mendesain peledakan. Dengan jenis bahan peledak yang dipakai dan batuan yang dihadapi, terdapat jarak maksimum burden agar peledakan sukses (Gambar 3.4) memberikan ilustrasi efek variasi jarak dengan jumlah bahan peledak formasi yang sama

(a). B = 15 Completetely contained, only failure is pulverisation near the charge and radial tensile failure running out from it.

(b). B = 12 Start of surface faillure. Burden not broken. Some doming of the surface.

(c). B = 9 Surface and subsurface faillure almost meet. There will be a shell of unbroken rock between the two. Domming or surface buiging.

(d). B = 8 Full Crater, burden com-pletely broken out. Surface and subsurface faillures run through to the surface.

(e). B = 3 Full Crater, lower vo-lume than optimum fine fragmentation. Noise, flyrock, bowl shaped crater.

Gambar 5.4 Schematic Efek Jarak Burden

Jarak burden juga sangat erat hubungannya dengan besar kecilnya diameter lubang bor yang digunakan. Secara garis besar jarak burden optimum biasanya terletak diantara 25 40 diameter lubang, atau B = 25 40 d Dimana : B = Burden (mm) d = Diamater Lubang Bor (mm) Bila karakteristik batuan dan bahan peledak diketahui, jarak burden dapat dihitung menurut formula Konya sebagai berikut :

B = 3.15 De

SGe SGr

Dimana : B = Burden (ft) Sge = Spesific Gravity Bahan Peledak De = Diameter Bahan Peledak (in) SGr= Spesific Gravity Batuan

b) Spasing (S) Spasing adalah jarak diantara lubang tembak dalam suatu row. Spasing merupakan fungsi dari pada burden dan dihitung setelah burden ditetapkan terlebih dahulu. Secara teoritis, optimum spasing (S) berkisar antar 1,1 1,4 burden (B) atau : S = 1,1 1,8 B

Jika spacing lebih kecil dari pada burden cenderung mengakibatkan steaming ejection yang lebih dini. Akibatnya gas hasil ledakan dihamburkan ke atmosfer dibarengi dengan noise dan air blast. Sebaliknya jika spacing terlalu besar diantara lubang tembak fragmentasi yang dihasilkan tidak sempurna. Biasanya rata-rata S = 1,25 B. c) Subdrilling (J) Subdrilling adalah tambahan kedalaman dari pada lubang bor dibawah rencana lantai jenjang. Subdrilling perlu untuk menghindari problem tonjolan pada lantai, karena dibagian ini merupakan tempat yang paling sukar diledakkan. Dengan demikian, gelombang ledak yang ditimbulkan pada lantai dasar jenjang akan bekerja secara maksimum. Bila subdrilling berlebih akan menghasilkan excessive ground vibration. Bila subdrilling tidak cukup dapat mengakibatkan problem tonjolan pada lantai. Secara praktis subdrilling (J) dibuat antara 20 40% burden (B), atau J = (0,2 0,4) X B

d)

Stemming (S)

Stemming adalah tempat materail penuntup di dalam lubang bor diatas. Kolom isian, bahan peledak. Stemming berfungsi untuk mengurung gas ledakkan. Ukuran stemming (S) yang diperlukan tergantung jarak burden (B) dan biasanya dibuat : S = (0,7 1) X B

1. Lubang Tembak Vertikal Suatu jenjang dengan arah lubang tembak vertikal diledakkan, maka bagianlantai jenjang akan menerima gelombang tekan terbesar. Gelombang tekan tersebutsebagian akan dipantulkan pada bidang bebas dan sebagian lagi diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang (lihat gambar dibawah).

Gambar 5.5 Lubang tembak vertical

2. Lubang Tembak Miring Pada lubang tembak miring, bidang bebas akan menerima gelombang tekanuntuk dipantulkan lebih besar dan gelombang tekan yang diteruskan pada bagian bawah lantai jenjang lebih kecil (lihat gambar dibawah). Dengan demikian sebagian besar gelombang tekan yang dihasilkan oleh bahan peledak digunakan untuk membongkar batuan.

Gambar 5.6 Lubang tembak vertical

DAFTAR PUSTAKA
Laboratorium Tambang, Staff Assisten. 2011. Penuntun Praktikum Teknik Peledakan. Bandung : Universitas Islam Bandung Anonimous. 2010. Makalah Teknik Peledakan Scribd. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2013. www.scribd.com/doc/42119480/MAKALAH-TEKNIK-

PELEDAKAN Panjah, Arangi. 2012. Peledakan Tambang Blogspot. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2013. http://tambangunsri.blogspot.com/2011/05/peledakan-

tambang.html